KESESUAIAN DESAIN OPERASIONAL KAPAL INKAMINA 163 BERBASIS DI PPP SADENG YOGYAKARTA
PADUARTAMA TANDIPUANG
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Kesesuaian Desain Operasional Kapal Inkamina 163 Berbasis di PPP Sadeng Yogyakarta adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
RINGKASAN
PADUARTAMA TANDIPUANG. Kesesuaian Desain Operasional Kapal Inkamina 163 Berbasis di PPP Sadeng Yogyakarta. Dibimbing oleh YOPI NOVITA dan BUDHI HASCARYO ISKANDAR.
Nelayan di Pelabuhan Perikanan Pantai Sadeng, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ragu untuk mengoperasikan kapal ikan bantuan sampai batas maksimum ZEEI. Keraguan nelayan terletak pada kemampuan operasional kapal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian kapasitas muat yang tersedia di atas kapal dengan rencana target operasional kapal, dan menganalisis kesesuaian tata letak muatan di lantai dek kapal. Metode yang digunakan adalah metode studi kasus. Kapal Inkamina 163 menjadi objek penelitian. Data dianalisis dengan cara comparative-numeric untuk mengkaji kesesuaian desain kapal dan untuk mengetahui area kerja pada dek kapal. Analisis kesesuaian desain juga dilakukan dengan mengacu pada KEPMEN KKP No. 21/2004.
Hasil kajian menunjukkan bahwa Kapal Inkamina 163 memiliki kapasitas muat yang sebagian besar sudah dapat memenuhi rencana target operasional kapal di ZEEI. Luas area kerja utama tidak mencukupi untuk ABK yang bertugas menurunkan dan menarik jaring. Desain dan peralatan kapal Inkamina 163 sebagai kapal penangkap ikan memenuhi 7 syarat dari 8 syarat yang ada di KEPMEN KKP No. 21/2004. Kualitas stabilitas statis kapal Inkamina 163 dengan kondisi un-intact tidak memenuhi kriteria stabilitas minimum untuk kapal penangkap ikan yang dikeluarkan oleh IMO. Upaya redesain kapal Inkamina 163 meningkatkan kualitas stabilitas statis.
SUMMARY
PADUARTAMA TANDIPUANG. Operational Design Sustainability of an Inkamina 163 Fishing Vessel Based in Sadeng Fishing Port, Yogyakarta. Supervised by YOPI NOVITA and BUDHI HASCARYO ISKANDAR.
Fishermen in Sadeng still in doubt to operate an Inkamina fishing vessel until ZEEI area in the Indian Ocean. Fishermen doubt about the ability of fishing vessels operational. This research aimed to analyze suitability of loading capacity available on board with its operational plan, and analyze suitability of deck arrangement with its loading plan. Case study method was applied in this research. Data were analyzed by comparative-numeric approach to assess the suitability of design and to know sutability ofworking area on deck. In addition, KEPMEN KKP No.21/2004 was used as well to assess design suitabity.
The results showed that most of loading capacity of this vessel had been able to agreed plan targets to be operated in ZEEI. The main area on the deck is not sufficient for all crew who set and pull the net. This vessel had agreed 7 from 8 requirements hat mentioned in the regulation reffered. Quality of static stability this vessel with un - intact condition does not suffient the minimum stability criteria for fishing vessels issued by IMO. Redesign of this ship increased the quality of static stability
© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2015
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB
Tesis
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains
Pada
Program Studi Teknologi Perikanan Laut
KESESUAIAN DESAIN OPERASIONAL KAPAL INKAMINA 163 BERBASIS DI PPP SADENG YOGYAKARTA
PADUARTAMA TANDIPUANG
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Judul Tesis : Kesesuaian Desain Operasional Kapal Inkamina 163 Berbasis di PPP Sadeng Yogyakarta
Nama : Paduartama Tandipuang
NRP : C451120061
Disetujui oleh Komisi Pembimbing
Dr Yopi Novita, SPi, MSi Ketua
Dr Ir Budhi Hascaryo Iskandar, MSi Anggota
Diketahui oleh
Ketua Program Studi Teknologi Perikanan Laut
Prof Dr Ir Mulyono S Baskoro, MSc
Dekan Sekolah Pascasarjana
Dr Ir Dahrul Syah, MScAgr
PRAKATA
Salam sejahtera bagi kita semua. Terpujilah Tuhan Yang Maha Esa yang telah memampukan penulis untuk menyelesaikan penelitian serta penulisan karya ilmiah ini. Penelitian yang dilakukan berdasarkan permasalahan yang dihadapi oleh nelayan pengguna kapal ikan bantuan pemerintah di Yogyakarta. Penelitian yang dilakukan pada bulan April hingga Mei 2014 ini berjudul Kesesuaian Desain Operasional Kapal Inkamina 163 Berbasis di PPP Sadeng Yogyakarta.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada Dr Yopi Novita, SPi, MSi dan Dr Ir Budhi Hascaryo Iskandar, MSi selaku dosen pembimbing. Adapun penulis memberikan apresiasi kepada pihak-pihak di luar kampus yang turut membantu penelitian ini. Bapak Untung Leksono selaku kepala PPP Sadeng, Bapak Ngatno selaku pendamping teknis di pelabuhan, Bapak Agrip Madi selaku pengelola kapal Inkamina 163 dan teman-teman seangkatan penulis di SD Bobkrigondolayu Yogyakarta yang telah membantu pengambilan data. Penelitian ini didukung atas bantuan dana penyelesaian studi dari Bupati Kabupaten Mamasa, Provinsi Sulawesi Barat. Rasa terima kasih juga dihaturkan oleh penulis kepada kedua orang tua dan kedua adik atas kasih sayang serta dukungan doa.
Semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, secara khusus untuk nelayan yang mengoperasikan kapal ikan bantuan di Yogyakarta.
Bogor, Maret 2015
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL xii
DAFTAR GAMBAR xii
1 PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 2
Tujuan Penelitian 4
Manfaat Penelitian 4
Kerangka Pemikiran Penelitian 4
2 METODE 6
Waktu dan Tempat 6
Alat 6
Jenis dan Metode Pengumpulan Data 6
Analisis Data 7
3 HASIL DAN PEMBAHASAN 11
Dimensi Kapal Inkamina 163 13
General Arrangement Kapal Inkamina 163 14
Parameter Hidrostatis Kapal Inkamina 163 21
Kapasitas Internal Kapal Inkamina 163 27
Kesesuaian desain kapal Inkamina 163 menurut KEPMEN KKP
No.21/2004 33
Stabilitas Kapal Inkamina 163 35
4 KESIMPULAN DAN SARAN 48
Kesimpulan 48
Saran 48
DAFTAR PUSTAKA 49
LAMPIRAN 52
DAFTAR TABEL
1. Jenis dan Metode pengumpulan data 6
2. Kisaran ukuran kapal ikan di Indonesia 7
3. Variasi kondisi muatan 8
4. Spesifikasi teknis kapal Inkamina 163 13
5. Perbandingan ukuran dimensi utama 13
6. Volume tiap ruang di Kapal Inkamina 163 15
7. Bangunan dan muatan di dek kapal Inkamina 163 16
8. Parameter hidrostatis kapal Inkamina 163 23
9. Perbandingan kisaran nilai coefficient of fineness kapal Inkamina 163
dengan kapal ikan di Indonesia 26
10. Persentase perbandingan volume terpasang terhadap volume estimasi
pada DPI yang berbeda 29
11. Syarat desain dan peralatan kapal penangkap ikan 33 12. Distribusi dan berat muatan pada Kapal Inkamina 163 kondisi K0 35 13. Distribusi dan berat muatan pada Kapal Inkamina 163 kondisi K1 36 14. Distribusi dan berat muatan pada Kapal Inkamina 163 kondisi K2 37 15. Distribusi dan berat muatan pada Kapal Inkamina 163 kondisi K3 38 16. Distribusi dan berat muatan pada Kapal Inkamina 163 kondisi K4 39 17. Perbandingan kualitas stabilitas Inkamina 163 terhadap kriteria IMO 41 18. Perbandingan kualitas stabilitas Inkamina 163 dengan batasan FA
terhadap kriteria IMO 42
DAFTAR GAMBAR
1. Kapal Inkamina 163 (kiri) dan Kapal Inkamina 401 (kanan). 3
2. Kerangka pemikiran penelitian 5
3. Area kerja yang dibutuhkan tiap ABK. Rata-rata lebar bahu nelayan (LB) dan rata-rata panjang pangkal lengan nelayan (PL) 8 4. Kapal Inkamina 163. (A) Tampak depan, (B) tampak belakang, dan (C)
tampak samping. 12
5. Operational General arrangement Kapal Inkamina 163. (A) tampak 14 6. Pembagian area kerja di atas dek kapal Inkamina 163. (1) Dek buritan,
(2) Dek samping, (3) Rumah kemudi, (4) Dek kerja utama, dan (5) Dek
haluan 16
7. Area kerja pada dek keseluruhan kapal Inkamina 163 17 8. Area kerja pada dek utama kapal Inkamina 163 17 9. Perbandingan luas area tutupan dan area bebas pada dek utama 18 10. Perbandingan luas area tutupan dan area bebas pada dek kerja utama
(main working deck) 19
12. Kurva hidrostatis kapal Inkamina 163 25 13. Perbandingan volume ruang terpasang terhadap volume ruang estimasi
pada DPI yang berbeda 29
14. Kurva stabilitas statis kapal 5 kondisi berbeda 40 15. Kondisi operasional kapal Inkamina 163 tampak samping. (A) sebelum
redesain dan (B) sesudah diredesain 44
16. Perbandingan kurva stabilitas kondisi eksisting dengan kondisi redesain. (a) K1 Vs K1R, (b) K2 Vs K2R, (c) K3 Vs K3R, dan (d) K4 Vs K4R 46 17. Perubahan nilai kualitas stabilitas pada seluruh kondisi redesain 47
DAFTAR LAMPIRAN
1. Tabel offset kapal Inkamina 163 52
DAFTAR SIMBOL DAN ISTILAH
After perpendicular (AP); garis tegak pada linggi buritan atau pada poros daun kemudi yang memotong base line secara vertikal.
Anak buah kapal (ABK); orang yang berada di kapal ikan untuk melakukan operasi penangkapan ikan.
Base line; garis dasar terendah yang berada tepat di atas lunas (upper keel).
Beamseas; gelombang yang datang dari arah samping kapal.
Breadth (B); lebar kapal yang diukur melintang antara kulit lambung yang satu dengan sisi kulit lambung lainnya.
Breadth maximum (Bmax); lebar terbesar kapal yang diukur dari jarak yang
paling jauh antara kulit lambung terluar sisi yang satu dengan kulit lambung sisi terluar lainnya.
Breadth moulded (Bmoulded); lebar kapal yang diukur antara kulit lambung bagian
dalam ke kulit lambung bagian dalam sisi lainnya.
Bulk; salah satu jenis sistem penyimpanan ikan di dalam palka dimana terjadi kontak langsung antara ikan dan es curah yang disatukan di dalam palka. Buritan; bagian di belakang midship kapal.
Capsize; kondisi kapal yang kehilangan tenaga pembalik ke posisi tegak sehingga sudut kemiringan kapal semakin besar.
Centre line (CL); garis yang berada di tengah, yang membagi dua bagian kapal secara membujur pada gambar kapal tampak atas dan membagi dua bagian kapal secara vertikal pada gambar kapal tampak depan.
Coefficient of block (Cb); perbandingan antara volume badan kapal yang terbenam di air terhadap volume balok yang dibentuk oleh dimensi utama kapal (panjang, lebar, dan dalam).
Coefficient of fineness; nilai-nilai koefisien yang menggambarkan bentuk badan kapal yang terbenam di air.
Coefficient of prismatic (Cp); nilai perbandingan antara volume badan kapal yang terbenam di air dengan volume prisma yang dibentuk oleh luas penampang gading terlebar dan panjang kapal.
Coefficient of vertical prismatic (Cvp); nilai perbandingan antara volume badan kapal di bagian midship yang terbenam di air dengan luas prisma yang dibentuk oleh penampang garis air dan draft kapal.
Coefficient of waterplan (Cw); nilai perbandingan antara luas penampang garis air dengan luas persegi empat yang dibentuk pada ketinggian garis air (water line) yang sama.
Comparative numeric; analisa data dengan membandingkan nilai-nilai yang diperoleh dengan nilai standar atau nilai kisaran tertentu.
Deck; disebut juga geladak yang merupakan lantai tempat berpijak di atas kapal. Depth (D); tinggi kapal yang diukur secara vertikal dari bagian kapal yang paling
bawah ( di atas lunas) sampai geladak utama yang terendah.
Draught atau Draft (d); tinggi kapal yang diukur secara vertikal dari bagian bawah kapal di atas lunas (upper keel) atau base line ke water line saat kapal sarat muatan.
Drifting; aktifitas kapal saat mengapung bebas di air tanpa adanya kerja dari mesin penggerak.
Encircling gear; golongan atau kelompok alat tangkap yang dioperasikan dengan cara melingkari gerombolan ikan.
Even keel; kondisi kapal dimana garis air sama tinggi di bagian haluan dan buritan.
Fishing base; pangkalan penangkapan dimana dilakukan aktifitas tambat, labuh, bongkar dan muat kapal ikan.
Fishing ground; daerah perairan dimana terdapat sumberdaya ikan yang dapat dimanfaatkan dengan melakukan operasi penangkapan ikan.
Flat stern; tipe buritan kapal dimana buritan kapal tersebut tegak vertikal.
Fore perpendicular (FP); garis tegak yang memotong titik pertemuan antara garis air (water line) di bagian haluan dengan linggi saat sarat muatan terhadap garis base line secara vertikal.
Free surface; zat cair yang dapat bergerak bebas dalam suatu ruang.
General arrangement (GA); gambar desain kapal yang menunjukkan jenis dan posisi ruang yang ada di kapal.
GM; tinggi garis khayal yang diukur dari jarak antara titik metacentre (M) ke titik berat (G).
Gross ton (GT); berat kotor. GT dalam arti satuan merupakan satuan volume displacement kapal dalam ton register
Half breadth plan; teknik gambar rencana kapal dalam bentuk dua dimensi kapal tampak atas yang digambar dari centre line ke kulit lambung terluar beserta dengan garis air (water plan) dan ordinat.
Haluan; bagian depan midship kapal.
Houling; aktifitas saat mengoperasikan alat tangkap setelah setting dimana alat tangkap tersebut telah menangkap ikan dan siap untuk diangkat kembali ke atas kapal.
Human error; faktor kesalahan yang berasal dari manusia.
Hydrolic; cara kerja suatu jenis alat dengan tenaga penggerak yang berasal dari udara yang dimampatkan.
Inkamina; merupakan nama kapal bantuan yang berasal dari program 1000 kapal di atas 30 GT berdasarkan instruksi Presiden No. 1/2010.
Intact; kondisi kapal yang kedap udara dan air.
International Maritime Organization (IMO); organisasi atau badan khusus PBB internasional yang mengatur keselamatan maritim.
Kapasitas internal (loading capacity); disebut juga kapasitas muat yang merupakan daya tampung kapal untuk berbagai jenis muatan.
Kasko; lambung atau badan kapal.
KB; jarak antara titik apung (B) dengan keel (K) kapal.
Kurva GZ; kurva yang menyatakan nilai kualitas stabilitas kapal dimana nilai GZ dinyatakan saat kapal oleng pada sudut tertentu.
Kurva hidrostatis; kurva yang menunjukkan perubahan nilai parameter hidrostatis kapal tiap garis air (water line).
Length of deck (Ldeck); panjang kapal yang diukur membujur dari ujung geladak
di bagian haluan hingga ujung geladak di bagian buritan.
Length of water line (Lwl); panjang kapal yang diukur membujur sepanjang batas
ketinggian air maksimum (draugth).
Length over all (LoA); panjang terbesar kapal yang diukur secara membujur (longitudinal) dari ujung buritan terluar hingga ujung haluan kapal terluar. Length perpendicular (Lpp); panjang kapal yang diukur membujur antara garis
tegak after perpendicular (AP) di buritan dengan garis tegak fore perpendicular (FP) di haluan pada ketinggian air maksimum.
Life buoy; pelampung yang dipakai saat keadaan darurat sebagai perlengkapan keselamatan.
Life jacket; jaket pelampung yang dapat dipakai saat keadaan darurat sebagai perlengkapan keselamatan di atas kapal.
Lines plan; teknik gambar rencana garis kapal dalam bentuk dua dimensi. Kapal digambar secara membujur (tampak samping), melintang (tampak atas), dan tampak depan sehingga diperoleh tiga buah gambar yaitu profile plan, half breadth plan, dan body plan.
Linggi; bagian kapal yang kokoh di ujung haluan dan di ujung buritan.
Liquid; zat cair.
Maneuver; kemampuan kapal untuk merubah arah haluan pada olah gerak kapal.
Marine engine; mesin yang didesain khusus sebagai tenaga penggerak kapal.
Midship; bagian tengah kapal.
Millimeter block; lembaran kertas bergaris kotak-kotak dengan ketelitian 1 milimeter.
NT; berat bersih. NT dalam arti satuan merupakan satuan volume displacement bersih kapal dalam ton register.
Phi (π); bilangan irrasional yang digunakan sebagai konstanta untuk perhitungan bangun datar lingkaran (dua dimensi).
Pitch; salah satu jenis gerak kapal dimana kapal berputar pada poros sumbu y.
Propeller atau baling-baling; bagian kapal yang digerakkan oleh mesin kapal yang dihubungkan dengan poros yang berputar sehingga menghasilkan daya dorong untuk menggerakkan kapal.
Purse seine; Jenis alat tangkap berupa jaring yang memiliki pelampung di atasnya serta pemberat dan cincin yang berfungsi sebagai jalur tali kolur di bagian bawah jaring . Alat tangkap ini dioperasikan dengan cara melingkari gerombolan ikan lalu mengerucutkan cincin-cincin di bagian bawah untuk memerangkap.
Purse seiner; kapal yang mengoperasikan alat tangkap purse seine.
Racked bow; tipe haluan kapal dimana haluan kapal tersebut miring sehingga ujung atas haluan melebihi ujung bawah haluan.
Radian (rad); satuan besaran sudut dimana 1 radian = π/ 8 0.
Rasio dimensi utama; perbandingan antara 3 dimensi utama kapal yang meliputi panjang (L), lebar (B), dan tinggi (D) kapal.
Ratio B/D; nilai perbandingan antara lebar kapal (B) dengan tinggi kapal (D).
Ratio L/B; nilai perbandingan antara panjang kapal (L) dengan lebar kapal (B).
Ratio L/D ; nilai perbandingan antara panjang kapal (L) dengan tinggi kapal (D).
Righting arm (GZ); jarak antara titik berat (G) saat kondisi awal dengan saat kapal mengalami oleng atau berada dalam kondisi miring. GZ memiliki satuan meter radian (m.rad).
Roll meter; alat untuk mengukur panjang. Berupa lempengan besi dimana terdapat skala satuan untuk ukuran panjang yang dapat digulung.
Roll; salah satu jenis gerak kapal dimana kapal berputar pada poros sumbu x.
Rudder; daun kemudi yang berada di buritan kapal untuk membelokkan arah haluan kapal.
Rumpon; alat bantu dalam operasi penangkapan ikan yang berfungsi sebagai atractor sehingga ikan-ikan berkumpul disekitar alat tersebut. Rumpon terdiri dari empat bagian utama yaitu pelampung, tali utama, atractor, dan pemberat.
Setting; aktifitas mengoperasikan alat tangkap dimana alat tangkap tersebut di keluarkan dari kapal untuk menangkap ikan.
Sheer; bagian lambung kapal yang lebih tinggi dari permukaan geladak utama.
Statical stability curve atau kurva stabilitas statis; kurva yang menunjukkan kemampuan kapal untuk kembali ke posisi tegak setelah oleng pada sudut tertentu dimana gerak kapal hanya dipengaruhi oleh gaya yang berasal dari air dan badan kapal yang terbenam di air.
Stowage factor; nilai koefisien perbandingan antara berat ikan dan es di dalam palka.
Streering gear; bagian kapal yang berfungsi mengendalikan kapal untuk olah gerak kapal atau melakukan perubahan haluan saat kapal beroperasi.
Tanda selar; merupakan identitas kapal dimana terdapat angka dan huruf yang menunjukkan tonase kapal (GT), nomor surat ukur, serta kode pengukuran yang dibuat dan dipasang di kapal.
Ton displacement; berat badan kapal yang terbenam di air.
Ton per centimeter immertion (TPC); berat yang diperlukan untuk membenamkan kapal sehingga merubah draft kapal sebesar 1 cm.
Trim by bow; kondisi kapal dengan ketinggian garis air bagian haluan lebih tinggi dari bagian buritan. Bagian haluan kapal lebih banyak terbenam.
Trim by stern; kondisi kapal dengan ketinggian garis air bagian buritan lebih tinggi dari haluan. Bagian buritan kapal lebih banyak terbenam.
Un-intact; kondisi kapal yang tidak kedap udara dan air.
Vanishing angle; sudut kemuringan kapal pada saat nilai GZ kembali menjadi nol.
Water ballast; media zat air yang yang digunakan untuk membantu menyeimbangkan kapal secara melintang.
Water line (WL); garis air.
Waterpass; alat untuk mengukur kemiringan.
Wetted area; area basah pada lambung kapal.
Wheelhouse; ruang di atas geladak yang ditempati oleh nahkoda saat mengemudikan kapal.
Winch; alat bantu saat operasi penangkapan ikan berlangsung. Alat tersebut berupa roller yang digerakkan oleh garden sehingga dapat berputar untuk menarik alat tangkap.
Yaw; salah satu jenis gerak kapal dimana kapal berputar pada poros sumbu z.
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berada di bagian selatan Pulau Jawa. Perairan selatan Pulau Jawa berhubungan langsung dengan Samudera Hindia. Keadaan ini mengakibatkan perairan tersebut memiliki karakteristik yang lebih ekstrim dibandingkan dengan perairan bagian dalam Indonesia seperti Laut Jawa, Selat Karimata, Selat Makassar, dan lainnya. Rata-rata ketinggian gelombang air laut di perairan selatan DIY berkisar antara 2-3 meter, berada di atas rata-rata ketinggian gelombang air laut di perairan pedalaman Indonesia yang hanya berkisar antara 0,5 – 1 meter (BMKG 2004). Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jakarta dan Stasiun Meteorologi Maritim Kelas III Cilacap, ketinggian gelombang air laut di perairan selatan Pulau Jawa dapat mencapai 3-5 meter.
Pemanfaatan perairan yang luas di DIY belum didukung oleh armada penangkapan yang mampu dioperasikan hingga memasuki ZEEI (Pustek Kelautan UGM 2000). Wilayah perairan DIY merupakan perairan yang masuk dalam Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 537 di Indonesia. Provinsi DIY memiliki potensi perikanan tangkap yang besar, namun tingkat pemanfaatannya masih tergolong rendah. Menurut KKP (2010), volume produksi perikanan tangkap pada perairan tersebut adalah sebesar 2,44% (KKP). Volume produksi tersebut merupakan volume produksi perikanan tangkap yang terkecil di antara seluruh WPP di Indonesia pada tahun 2010. Persentase jumlah kapal penangkap ikan di laut Selatan Jawa sebesar 4,86%, adalah yang persentase jumlah kapal penangkap ikan terkecil di wilayah perairan Indonesia tahun 2010 (KKP 2010).
Pemanfaatan potensi perikanan tangkap di Provinsi DIY masih tergolong rendah dibandingkan dengan provinsi lainnya di Indonesia. Hal tersebut dinyatakan oleh KKP sebagai berikut (KKP 2010):
a) Jumlah kapal penangkap ikan di Provinsi DIY adalah sebanyak 476 unit, dimana 423 unit kapal motor tempel 2-20 GT dan 1 unit kapal motor 50-100 GT. Provinsi DIY memiliki jumlah kapal penangkap ikan yang paling sedikit dibandingkan dengan provinsi lainnya di Indonesia.
b) Jumlah produksi perikanan tangkap di Provinsi DIY adalah sebesar 4239 ton pada tahun 2010. Jumlah produksi tersebut merupakan jumlah produksi perikanan tangkap yang terkecil dibandingkan dengan provinsi lainnya di Indonesia.
Mayoritas nelayan masih menggunakan kapal ikan berukuran kecil. Kondisi ini mengakibatkan pemanfaatan sumberdaya ikan di perairan DIY hanya terpusat di perairan pantai hingga 60 mil dari garis pantai. Padahal potensi sumberdaya ikan di DIY meliputi perairan pantai hingga Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI).
2
berbagai provinsi di Indonesia agar dapat memanfaatkan potensi perikanan laut dengan optimal di daerah masing-masing. Inka merupakan akronim dari Instruksi Presiden Kapal dan kata Mina yang berarti ikan. Kapal Inkamina berarti kapal penangkap ikan yang merupakan bagian dari program revitalisasi armada kapal perikanan melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan. Provinsi DIY memperoleh bantuan kapal Inkamina berukuran > 30 GT jenis purse seine sebanyak 11 unit mulai tahun 2011 hingga tahun 2014. Seluruh Kapal Inkamina tersebut ditempatkan di Pelabuhan Perikanan Pantai Sadeng, Kabupaten Gunung Kidul.
Seluruh kapal Inkamina yang berbasis di PPP Sadeng belum optimum dioperasikan di perairan ZEE. Nelayan mengoperasikan kapal-kapal tersebut sekitar 47-60 mil dari garis pantai. Kapal Inkamina didesain sebagai kapal penangkap ikan dengan alat tangkap jaring purse seine dan wilayah operasi penangkapan hingga di ZEEI. Kapal Inkamina yang diserahkan ke nelayan Sadeng terdiri dari 2 tipe, yaitu Inkamina 163 dan Inkamina 401. Angka 163 dan 401 merupakan nomor kapal untuk jenis kapal inkamina di Indonesia. Dari kedua tipe kapal Inkamina tersebut, kapal Inkamina 163 merupakan tipe kapal yang terbanyak diberikan, yaitu sebanyak 9 unit. Hingga saat ini, kapal Inkamina 163 masih banyak yang belum dioperasikan oleh nelayan setempat. Jika pun ada yang dioperasikan, hanya dioperasikan di perairan yang berjarak sekitar 60 mil dari garis pantai. Berdasarkan hasil wawancara dengan nelayan setempat, mereka meragukan kemampuan operasional kapal tersebut untuk dapat dioperasikan lebih dari 60 mil di ZEEI. Faktor kenyamanan menjadi salah satu penyebab nelayan enggan mengoperasikan kapal Inkamina.
Menurut Fyson (1985), desain yang tepat bagi sebuah kapal penangkap ikan, akan menentukan kesuksesan suatu operasi penangkapan ikan. Lebih lanjut dikatakan bahwa salah satu faktor yang menentukan ketepatan desain kapal adalah kesesuaian kapasitas internal serta tata letak muatan di kapal. Selain itu, kualitas stabilitas yang tinggi turut menentukan keberhasilan operasi penangkapan. Oleh karena itu, untuk menjawab keraguan nelayan akan kemampuan operasional kapal Inkamina 163, maka kajian ini dilakukan untuk menganalisis kesesuaian desain kapal Inkamina 163 secara operasional
Perumusan Masalah
4 unit kapal Inkamina 163 yang beroperasi, tidak dioperasikan rutin dan hanya dioperasikan di perairan yang berjarak 60 mil dari garis pantai. Kondisi ini menjadikan kapal Inkamina 163 dioperasikan tidak sesuai dengan rancangan awal kapal tersebut, yaitu kapal penangkap ikan dengan wilayah operasi di perairan ZEEI. Kenyataan ini terjadi dikarenakan nelayan setempat ragu akan kemampuan kapal Inkamina 163 untuk dapat dioperasikan hingga ke ZEEI yang berjarak 200 mil dari garis pantai. Kapal Inkamina 163 dianggap terlalu kecil untuk dioperasikan di perairan ZEEI yang merupakan perairan samudera dengan karakteristik gelombang dengan ketinggian gelombang yang cukup berisiko bagi sebuah kapal, terlebih jika kapal tersebut tidak memiliki stabilitas yang baik.
Gambar 1 Kapal Inkamina 163 (kiri) dan Kapal Inkamina 401 (kanan).
Berdasarkan pemaparan di atas, maka penelitian ini dilakukan untuk menganalisis kemampuan operasional kapal Inkamina 163 baik dari segi desain maupun stabilitas kapal. Kajian ini diharapkan dapat menjawab keraguan nelayan akan kemampuan operasional kapal Inkamina 163, sekaligus membantu pemerintah dengan memberikan informasi yang terkait dengan berhasil atau tidaknya program 1.000 kapal melalui kajian terhadap salah satu kapal bantuan yang dioperasikan di perairan Samudera Hindia. Tahapan untuk mencapai suatu kesimpulan sebagai solusi alternatif tersebut dilakukan dengan merumuskan permasalahan pokok yang ada. Perumusan permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah :
4
2) Bagaimana kualitas stabilitas kapal Inkamina dengan variasi bobot muatan di kapal sesuai dengan kondisi operasionalnya?
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah :
1) Menganalisis kesesuaian desain operasional kapal Inkamina 163 sebagai kapal penangkap ikan yang dioperasikan di ZEEI.
2) Menentukan kualitas stabilitas kapal Inkamina.
3) Menentukan tingkat kelayakan operasional kapal Inkamina 163.
Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut : 1) Memberikan informasi kepada nelayan pengelola kapal Inkamina kondisi
operasional kapal yang ideal agar memenuhi batas minimum stabilitas kapal. Diharapkan informasi ini dapat mengurangi keraguan nelayan sehingga dapat kembali mengoperasikan kapal Inkamina dengan optimal di ZEE.
2) Menjadi masukan bagi pemerintah dalam perancangan desain kapal penangkap ikan untuk daerah-daerah dengan karakteristik perairan yang tidak sama.
3) Menjadi acuan dan pembanding untuk setiap pihak yang akan melakukan penelitian lanjutan dalam lingkup operasional kapal dan pertimbangan untuk melakukan redesain suatu kapal penangkap ikan.
Kerangka Pemikiran Penelitian
Kapal Inkamina
Permasalahan
Kemampuan operasional kapal Inkamina 163 diragukan oleh nelayan setempat
Analisis Kesesuaian Desain Analisis Stabilitas
Evaluasi kelayakan desain dan kualitas stabilitas kapal Inkamina 163
2
METODE
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus. Metode ini digunakan berdasarkan kasus atau permasalahan kapal Inkamina 163 yang terdapat di PPP Sadeng, Provinsi Yogyakarta.
Gambar 2 Kerangka pemikiran penelitian Analisis
Kapasitas Internal
Analisis Rasio Dimensi
Utama
Analisis Parameter Hidrostatik
6 Kelurahan Pucung, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Alat
Alat yang digunakan untuk penelitian ini yaitu : roll meter (20 m), tali kenur, tali rafia, pemberat (bandul), waterpass, senter, penggaris 20 dan 60 cm, senter, digital camera, alat tulis, kertas millimeter block (1x1 m), dan laptop.
Jenis dan Metode Pengumpulan Data
Jenis data dan metode pengumpulan data disajikan pada Tabel 1. Jenis data dikelompokkan berdasarkan pencapaian tujuan penelitian.
Tabel 1 Jenis dan Metode pengumpulan data
No. Input Data yang digunakan Metode pengumpulan
1 Tujuan 1
a Analisis dimensi utama LoA, B, dan D Pengukuran langsung b Analisis parameter
hidrostatis
Gambar lines plan kapal Penggambaran manual pada kertas millimeter block lalu penggambaran menggunakan bantuan perangkat lunak lunak naval architecture dan desain grafis d Ketersediaan area kerja Luas area pada dek Pengukuran berdasarkan
gambar kapal
2 Tujuan 2
Analisis stabilitas statis 5 variasi kondisi muatan dan kondisi redesainnya
t Lanjut Tabel 1
1. Data tersebut dianalisa secara comparative numeric dan deskriptif. Analisis data dilakukan dengan cara membandingkan rasio dimensi utama kapal Inkamina 163 dengan rasio dimensi utama kapal kelompok encircling gear yang dikemukakan oleh Iskandar dan Pujiati (1995). Nilai kisaran ukuran kapal ikan di Indonesia disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2 Kisaran ukuran kapal ikan di Indonesia Rasio dimensi
utama
Kelompok kisaran ukuran kapal ikan encircling gear di Indonesia*)
L/B 2,06-9,30
L/D 4,55-17,43
B/D 0,5-5,00
Keterangan : Iskandar dan Pujiati, 1995.
2. Membandingkan kapasitas internal kapal kondisi eksisting dengan estimasi secara teori.
3. Membandingkan desain kapal dengan KEPMEN KKP No.21/2004.
4. Membandingkan kualitas stabilitas kapal pada empat variasi kondisi muatan. Nurdin (2014) melakukan modifikasi kondisi kapal purse seine dengan menggunakan simulasi distribusi muatan secara vertikal dan longitudinal. Dalam penelitian ini dilakukan simulasi kondisi berat muatan kapal Inkamina 163. Simulasi menggunakan 5 variasi kondisi dimana terdapat 4 kondisi variasi berat muatan (K1, K2, K3, dan K4) dan 1 kondisi yang menjadi faktor kontrol (K0). K0 merupakan kondisi kapal Inkamina 163 tanpa muatan. Simulasi kondisi muatan ini mengacu pada aturan dari IMO (1995). Aturan tersebut meliputi :
a) Kondisi 1 (K1) adalah kondisi kapal pada saat akan berangkat dari fishing base (FB) menuju fishing ground (FG).
b) Kondisi 2 (K2) adalah kondisi kapal setelah melakukan operasi penangkapan dan akan pulang ke FB.
c) Kondisi 3 (K3) adalah kondisi kapal saat tiba di FB dengan palka penuh ikan hasil tangkapan.
d) Kondisi 4 (K4) adalah kondisi kapal tiba di FB dengan palka terisi ikan dengan jumlah yang minim.
8
Tabel 3 Variasi kondisi muatan
Jenis Muatan K 0 K 1 K 2 K 3 K 4
Bahan bakar - 100% 60% 10% 10%
Es dan lelehan es - 100% 100% 80% 80%
Ikan hasil tangkapan - 0 100% 100% 20%
Perbekalan ABK - 100% 25% 10% 10%
Alat tangkap 100% 100% 100% 100% 100%
Mesin 100% 100% 100% 100% 100%
ABK 13 0rang - 100% 100% 100% 100%
Kasko 100% 100% 100% 100% 100%
Berat total (ton) 15,707 32,739 41,750 37,713 28,11
5. Mengkaji ketersediaan area kerja di lantai dek kapal
Kajian dilakukan dengan mengestimasi area kerja ABK berdasarkan asumsi bahwa setiap ABK melakukan aktifitas di kapal idealnya membutuhkan ruang gerak untuk bahu dan kedua lengan yang terlentang maksimal. Lengan yang terlentang maksimal ini dimaksutkan ketika posisi lengan adalah 900 terhadap posisi badan nelayan saat berdiri tegak. Ilustrasi dimensi area kerja tiap ABK disajikan pada Gambar 3. Analisa area kerja untuk ABK dilakukan di dek utama (main deck) dan di dek kerja utama (main working deck) kapal Inkamina 163.
LB
PL
PL
Gambar 3 Area kerja yang dibutuhkan tiap ABK. Rata-rata lebar bahu nelayan (LB) dan rata-rata panjang pangkal lengan nelayan (PL)
menghitung luas lingkaran dengan diameter yang terbentuk dari rata-rata lebar bahu nelayan ditambah dengan 2 kali panjang pangkal lengan (LB + 2PL). Pemaparan perhitungan luas area kerja yang diperlukan oleh tiap ABK (LAABK) ini disajikan pada persamaan sebagai berikut :
LA ABK = Luas lingkaran..……… (1)
Dengan demikian jika persamaan (3) disubstitusikan ke dalam persamaan (1), maka persamaan untuk luas area kerja untuk 1 orang ABK adalah :
LA ABK =
LA ABK = (½ LB + PL)2 ………(4)
6. Mengkaji stabilitas kapal Inkamina 163
Analisa stabilitas dilakukan berdasarkan tujuan penelitian yang kedua melalui simulasi kualitas stabilitas. Terdapat 2 jenis tahapan analisa kualitas stabilitas kapal Inkamina 163 yang dilakukan pada penelitian ini. Tahap pertama adalah analisa kualitas stabilitas kondisi operasional kapal. Pada tahap ini dilakukan perbandingan kualitas stabilitas kapal dengan variasi berat muatan. Marjoni (2009) dan Susanto (2010) melakukan simulasi stabilitas kapal menggunakan 5 variasi kondisi muatan yang mengacu pada ketentuan IMO. Tahap yang kedua adalah analisa kualitas stabilitas kapal yang telah diredesain. Pada tahap ini dilakukan perbandingan antara kualitas stabilitas operasional kapal dengan kualitas stabilitas kapal yang telah mengalami redesain. Redesain kapal yang dilakukan, diharapkan dapat meningkatkan kualitas stabilitas operasional kapal tersebut menjadi lebih baik.
Standar nilai stabilitas minimum pada kriteria stabilitas yang dikeluarkan oleh IMO (International Maritime Organization) dijadikan pembanding terhadap kualitas stabilitas operasional kapal Inkamina 163. Kriteria stabilitas minimum yang dikeluarkan oleh IMO untuk kapal ikan harus menjadi acuan oleh setiap kapal ikan agar dapat melakukan operasi penangkapan dengan aman. Kriteria tersebut adalah sebagai berikut (IMO 1995):
A. Luas area di bawah kurva GZ statis pada kemiringan 00 sampai 300 harus melebihi 0,055 m.rad;
10
C. Luas area di bawah kurva GZ statis pada kemiringan 300 sampai 400 harus melebihi 0,03 m.rad;
D. Pada saat mencapai nilai maksimum righting arm (GZ), tinggi kurva GZ minimal pada 0,2 m dan sudut harus melebihi 300;
3
HASIL DAN PEMBAHASAN
Program Kapal Inkamina adalah program pengadaan 1000 unit kapal ikan bertonase minimal 30 GT oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kepada kelompok nelayan di Indonesia. Program ini merupakan realisasi dari Instruksi Presiden Susilo Bambang Yudoyono Nomor 1 tahun 2010. Tujuan utama diadakannya program bantuan kapal ikan ini adalah untuk menigkatkan kesejahteraan nelayan tradisional. Peningkatan kesejahteraan ini dimulai dengan meningkatkan produktifitas nelayan karena dapat melakukan operasi penangkapan ikan sampai ke ZEE.
Berdasarkan tujuan dari program kapal Inkamina, wilayah operasi penangkapan ikan kapal bantuan tersebut berada di ZEEI. Wilayah operasi penangkapan ikan menggunakan kapal Inkamina yakni mulai dari 12 hingga 200 mil. Jalur I dan jalur II menjadi daerah terlarang untuk pengoperasian alat tangkap menggunakan kapal Inkamina. Kapal Inkaimina 163 merupakan salah satu kapal ikan bantuan dari pemerintah untuk Provinsi DIY yang berbasis di PPP Sadeng. Daerah operasi penangkapan ikan menggunakan kapal ini berada di 12 mil hingga 200 mil perairan selatan Pulau Jawa. Kapal Inkamina 163 harus memiliki spesifikasi tertentu agar dapat dioperasikan di perairan tersebut.
Kapal Inkamina 163 dan seluruh kapal Inkamina lainnya yang berbasis di PPP Sadeng merupakan kapal penangkap ikan yang mengoperasikan alat tangkap jaring purse seine. Ikan yang menjadi target penangkapan adalah ikan tongkol, cakalang, tuna, dan jenis ikan pelagis lainnya. Sistem operasi penangkapan menggunakan alat tangkap ini adalah memerangkap gerombolan ikan dengan cara melingkari dengan jaring. Operasi penangkapan ikan dapat dilakukan pada siang dan malam hari. Kapal Inkamina 163 melakukan operasi penangkapan ikan di malam hari menggunakan alat bantu rumpon dan lampu. Rumpon telah terpasang di perairan yang menjadi daerah penangkapan, sedangkan lampu diletakkan di kapal. Rumpon-rumpon dipasang pada jarak 47 mil hingga 60 mil di perairan selatan DIY sehingga daerah ini menjadi daerah operasi penangkapan kapal Inkamina 163. Jumlah anak buah kapal (ABK) yang terdaftar di Sertifikat Kelaikan dan Pengawakan Kapal Ikan Inkamina 163 (terlampir) berjumlah 13. Jumlah ABK ini terdiri dari nahkoda, KKM, 4 orang ABK Kelas I, dan 7 orang ABK pengikut. Kapal Inkamina 163 memiliki alat-alat keselamatan untuk para ABK yang terdiri 10 buah life jacket dan 3 buah life buoy. Foto kapal Inkamina 163 disajikan pada Gambar 4 dan spesifikasi teknis kapal Ikamina 163 disajikan pada Tabel 4.
12
(A)
(A) (B)
(C)
Tabel 4 Spesifikasi teknis kapal Inkamina 163 No. Keterangan
1 Nama Inkamina Makmur 163
2 Tempat pembuatan Batang, Provinsi Jawa Tengah
3 Tanda selar GT.32 No.215/Fr
15 Tenaga Penggerak Marine engine (Yuchai YC6A 170 C) 16 Jenis kapal Purse seiner (pukat cincin) pelagis kecil
Dimensi Kapal Inkamina 163
Menurut Muhammad dan Iskandar (2007) perhatian utama mendesain kapal ikan yang terbuat dari bahan kayu adalah rasio antara ketiga dimensi utama kapal yaitu panjang kapal (L), lebar kapal (B), dan tinggi kapal (D). Perbandingan dimensi tersebut merupakan parameter awal menggambarkan bentuk dan jenis kapal. Fyson (1985) menyatakan bahwa nilai perbandingan dimensi utama kapal, dapat menggambarkan bentuk kapal yang menyerupai balok tetapi tidak menggambarkan bentuk lambung dari kapal tersebut.
Perbandingan ukuran dimensi utama kapal Inkamina 163 disajikan pada Tabel 5. Kisaran nilai perbandingan dimensi utama kapal ikan tipe encircling gear di Indonesia yang telah dilakukan oleh Iskandar dan Pujiati (1995) dijadikan sebagai pembanding rasio dimensi utama kapal Inkamina 163.
Tabel 5 Perbandingan ukuran dimensi utama Rasio dimensi
14
Berdasarkan data pada Tabel 5, dimensi utama kapal Inkamina 163 masuk dalam rentang kisaran nilai kelompok encircling gear. Hasil perbandingan ini menyatakan bahwa dimensi kapal Inkamina 163 merupakan dimensi kapal ikan yang umumnya digunakan oleh nelayan di Indonesia untuk mengoperasikan alat tangkap dengan cara dilingkarkan seperti purse seine.
General Arrangement Kapal Inkamina 163
Tata letak ruang dan muatan di kapal Inkamina 163
General arrangement (GA) adalah rencana umum kapal yang menunjukkan jenis ruang dan posisi ruang di kapal. Akan tetapi dalam pengoperasiannya, seringkali nelayan meletakkan benda/muatan di tempat yang tidak sesuai dengan rencana desain. Penempatan ruang dan muatan pada Kapal Inkamina 163 saat kondisi operasional disajikan pada Gambar 5.
(A)
(B) Keterangan :
1. Gudang 6. Ruang mesin 11. Kursi nahkoda
2. Palka ikan 7. Mesin 12. Tempat ABK
3. Pelampung lampu 8. Tangki BBM 13. Tempat memasak 4. Jaring purse seine 9. Tangki air tawar
5. Roller 10. Ruang perbekalan
Pada Gambar 3 terlihat bahwa di atas lantai dek Kapal Inkamina 163 terdapat 3 ruang yang terdiri ruang perbekalan, ruang kemudi, dan tempat memasak. Adapun di bawah lantai dek Kapal Inkamina 163 terdapat 13 ruang. Ruang tersebut terdiri dari ruang palka gudang, 10 ruang palka ikan, ruang mesin, dan ruang streering gear. Kapal Inkamina 163 memiliki 11 ruang palka yang terdiri dari 1 ruang palka gudang dan 10 ruang palka ikan. Seluruh palka terletak di area midship hingga ke haluan kapal. Secara rinci, volume tiap ruang disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6 Volume tiap ruang di Kapal Inkamina 163
No. Jenis ruang Volume (m3)
4 Ruang streering gear 24,182
Sub total 106,359
Total 120,995
Berdasarkan volume ruang yang ada, dapat diketahui bahwa total volume ruang di atas lantai dek adalah sebesar 14,636 m3, dan di bawah lantai dek adalah sebesar 106,359 m3. Volume ruang di bawah lantai dek lebih besar dibandingkan dengan volume ruang di atas lantai dek. Kondisi ini memungkinkan muatan dapat lebih banyak disimpan di bawah lantai dek.
Saat pengoperasian kapal Inkamina 163, pelampung lampu yang digunakan sebagai alat bantu saat operasi penangkapan ikan, diletakkan di atas penutup palka ikan. Peletakkan yang demikian dimaksudkan agar nelayan mudah mengambilnya untuk digunakan. Jaring purse seine diletakkan di atas lantai dek sisi kanan kapal, yaitumulai dari buritan hingga ke arah haluan kapal. Rumah terletak di atas dek. Kapal ini juga dilengkapi dengan ruang untuk memasak yakni dapur yang terletak di sisi kiri buritan kapal
Area kerja di dek kapal Inkamina 163
16
2001). Berdasarkan distribusi jenis kegiatan di dek, Fyson (1985) membagi area kerja di atas dek menjadi 5 area yaitu: dek buritan (1), dek samping (2), rumah kemudi (3), dek kerja utama (4), dan dek haluan (5). Pembagian area kerja tersebut pada kapal Inkamina 163 disajikan pada Gambar 6.
1
2
3
4
5
2
Gambar 6 Pembagian area kerja di atas dek kapal Inkamina 163. (1) Dek buritan, (2) Dek samping, (3) Rumah kemudi, (4) Dek kerja utama, dan (5) Dek haluan
Selain menjadi area kerja ABK, dek juga menjadi tempat diletakkannya beberapa jenis muatan dan bangunan. Bangunan dan muatan yang berada di lantai dek kapal Inkamina 163, disajikan pada Tabel 7. Adanya peletakan bangunan dan muatan yang berada pada dek kapal tersebut mengakibatkan area kerja ABK di lantai dek menjadi berkurang.
Tabel 7 Bangunan dan muatan di dek utama kapal Inkamina 163 Bangunan dan
Muatan
Letak pada dek Inkamina 163
1 2 3 4 5
Tutup palka gudang √
Tutup palka ikan √
Ruang kemudi √
Tangki air tawar √ √
Dapur √
Pelampung lampu √
Jaring √ √ √
tangkapan. Area kerja 4 merupakan dek kerja utama (main working deck) di kapal Inkamina 163. Adanya bangunan dan muatan yang banyak pada dek utama dapat mengganggu ABK saat bekerja dikarenakan terbatasnya luas area kerja bagi ABK.
Berdasarkan adanya bangunan yang timbul dan peletakan muatan yang menutupi permukaan lantai dek kapal, maka lantai dek kapal tersebut dibagi menjadi 2 area yakni area tutupan dan area bebas. Area tutupan merupakan area yang digunakan untuk meletakkan muatan atau berdirinya bangunan. Adapun area bebas pada kapal adalah daerah sisa yang tidak ditempati oleh bangunan maupun muatan apapun. Selanjutnya analisa area kerja dilakukan terhadap luas area dek kapal secara keseluruhan disajikan pada Gambar 7 dan luas area dek utama kapal disajikan pada Gambar 8.
Keterangan :
= luas area kerja pada dek utama (main deck)
Gambar 7 Area kerja pada dek keseluruhan kapal Inkamina 163
Keterangan :
= luas area kerja pada dek kerja utama (main working deck) Gambar 8 Area kerja pada dek utama kapal Inkamina 163
18
Luas dek utama kapal Inkamina 163 mulai dari haluan hingga buritan adalah 62,98 m2. Luas area bebas terhitung sebesar 20,59 m2 atau sekitar 32,70% dari luas keseluruhan lantai dek. Luas area bebas tersebut merupakan area pada dek yang dapat dijadikan oleh ABK untuk tempat berpijak dan melakukan aktifitas.
Terdapat area tutupan dimana terdapat bangunan timbul yang menutupi permukaan dek kapal Inkamina 163. Tiap muatan maupun bangunan timbul tersebut memiliki luas area tutupan yang berbeda. Muatan dan bangunan timbul yang menutupi dek kapal Inkamina 163 mulai dari yang memiliki area tutupan terbesar hingga yang terkecil secara berurutan adalah tutup palka (23,59%), jaring purse seine (16,20%), wheelhouse (13,56%), tangki air tawar (6,0%), dek haluan (3,57%), pelampung lampu (2,23%), dan dapur (2,14%). Dengan demikian, total area tutupan di lantai dek kapal Inkamina 163 sebesar 42,39 m2 atau sekitar 67,30 % dari total luas lantai dek kapal.
Tiap muatan dan bangunan timbul yang menutupi area pada dek kapal Inkamina 163 dapat mengganggu aktifitas ABK karena mengurangi area pijakan pada lantai dek. Tutup palka merupakan bangunan timbul yang memiliki area tutupan terbesar yang menutupi dek kapal Inkamina 163. Tutup palka ini mengurangi area pijakan pada area kerja ABK di bagian dek utama. Pada saat palka ditutup, terkadang tutup palka menjadi tempat berpijak nelayan. Akan tetapi kondisi ini cukup membahayakan nelayan karena tidak tertutup kemungkinan tutup palka tersebut patah sehingga nelayan dapat terperosok ke dalam palka.
Jaring purse seine yang diletakkan di atas dek di sepanjang sisi kanan kapal, menutupi area dek untuk pijakan ABK mulai dari bagian buritan ke arah haluan kapal. Adanya wheelhouse, dapat mengurangi area pijakan ABK baik saat akan berpindah dari bagian haluan ke buritan dan dari arah sebalikknya yakni dari area buritan ke haluan. Wheelhouse pada kapal ikan pada umumnya berfungsi sebagai ruang ruang kemudi, di dalamnya juga ditempatkan alat-alat navigasi kapal, perbekalan, dan seluruh ABK. Kapal Inkamina 163 memiliki mesin dan juga tangki bahan bakar tunggal yang ditempatkan di lantai bawah wheelhouse. Ukuran
4
3 2 1
wheelhouse yang ideal selain dapat memaksimalkan fungsi wheelhouse itu sendiri, juga dapat tetap tersedia ruang di luar sebagai area untuk ABK berpindah dari arah haluan ke buritan dan sebaliknya. Terdapat 3 buah tangki air tawar yang berada di sisi kiri kapal Inkamina 163 dan 1 buah tangki air tawar lainnya di buritan. Peletakan 3 buah tangki air tawar yang berada di samping wheelhouse mengurangi pijakan yang tersedia untuk ABK saat akan berpindah dari haluan ke buritan dan sebaliknya. Pelampung lampu yang diletakkan di atas tutup palka ikan, dapat mengurangi efisiensi kinerja ABK saat akan memasukkan ikan ke dalam palka.
Pengkajian juga dilakukan pada dek kerja utama (main working deck) yang disajikan pada Gambar 7. Dek kerja utama pada umumnya merupakan dek dengan area paling luas pada suatu kapal ikan, dimana di dek utama tersebutlah proses setting, hauling, dan penanganan hasil tangkapan dilakukan. Analisa area kerja pada dek kerja utama dilakukan karena dek ini merupakan tempat ABK melakukan aktifitas meliputi pengoperasian alat tangkap, penanganan alat tangkap dan penyortiran ikan. Seluruh ABK yang bekerja di dek kerja utama memiliki tingkat risiko bahaya yang tinggi. Hal tersebut diungkapkan oleh Antao et al. (2008) yang menyatakan bahwa mayoritas pekerjaan yang dilakukan oleh ABK berada pada dek utama kapal penangkap ikan yang selalu bergerak sehingga menyebabkan kondisi ABK berada dalam keadaan yang tidak seimbang saat bekerja. Sebagian besar waktu kerja berada dalam keadaan basah dan berada pada area yang berbahaya karena terdapat berbagai peralatan untuk operasi penangkapan ikan. Juragan panggung merupakan pekerjaan paling berbahaya kemudian disusul oleh penarik jaring dan juru mudi (Suryanto 2012). Menurut Suryanto et al. (2013), kondisi pekerja yang paling berbahaya adalah ABK yang menarik jaring di kapal pukat cincin di Selat Bali. Pekerjaan menarik jaring tersebut dilakukan di dek kerja utama. Perbandingan luas area tutupan dan area bebas pada dek kerja utama disajikan pada Gambar 10.
20
Selain pada dek utama kapal Inkamina 163, terdapat area tutupan dimana terdapat bangunan timbul yang menutupi permukaan lantai dek di dek kerja utama. Muatan dan bangunan timbul yang menutupi area pada dek kerja utama meliputi tutup palka, jaring, dek haluan, dan pelampung lampu. Tutup palka menutupi 34,14% permukaan dek utama, jaring menutupi 8,03%, dek haluan menutupi 5,58%, dan pelampung lampu menutupi 3,49% permukaan dek utama. Luas pelampung lampu menutupi sebagian permukaan tutup palka dan sebagiannya lagi menutupi permukaan dek kerja utama.
Area tutupan yang menutupi lantai dek kerja utama kapal Inkamina 163 mengurangi area bebas yang tersedia. Luas area bebas yang tersisa pada dek kerja utama adalah sebesar 17,94 m2 atau sebesar 48,76% dari luas area di dek kerja utama. ABK melakukan aktifitas saat setting maupun hauling di lantai dek kerja utama (main working deck). Jumlah ABK yang melakukan aktifitas di lantai dek kerja utama saat setting maupun hauling sebanyak 12 orang. Para ABK tersebut dapat melakukan pijakan pada area bebas yang tersisa.
Area bebas yang tersisa untuk ABK berpijak berada pada sisi kiri dan kanan tutup palka. Pijakan untuk ABK di sisi kanan tutup palka lebih sedikit dibandingkan dengan sisi kiri karena terdapat jaring yang diletakkan di sisi kanan lantai dek kerja utama. Keberadaan jaring tersebut hampir menutupi area bebas yang tersisa di sisi kanan dek kerja utama. ABK yang berada pada sisi kanan dek utama saat melakukan setting dan hauling memiliki risiko kecelakaan kerja yang lebih tinggi. Jaring dan tali-temali yang ada pada area ini dapat menjadi ancaman pada saat melakukan pekerjaan. ABK dituntut untuk lebih berhati-hati saat bekerja pada area bebas yang lebih sempit dimana terdapat alat tangkap beserta alat bantu penangkapan.
Perkiraan area kerja yang diperlukan untuk tiap ABK sangat penting untuk diketahui. Besarnya area kerja yang diperlukan oleh tiap ABK dapat dijadikan pertimbangan pada saat dilakukan perencanaan general arrangement kapal.
Perkiraan ukuran rata-rata tubuh ABK, memiliki ukuran lebar bahu sebesar 0,50 m dan panjang pangkal lengan sebesar 0,30 m. Setiap ABK membutuhkan area kerja seluas 0,785 m2 (menggunakan persamaan 4). Dengan demikian, luas area kerja yang dibutuhkan untuk 12 ABK ketika melakukan aktifitas adalah sebesar 9,428 m2. Satu orang ABK berada di sisi kiri dek utama untuk mengontrol pergerakan winch saat operasi penangkapan ikan berlangsung. ABK sebanyak 11 orang lainnya berada di salah satu sisi kapal yakni pada sebelah kanan untuk menurunkan dan menarik jaring. ABK yang bertugas menurunkan dan menarik jaring pada sisi kanan dek kerja utama tersebut memerlukan area kerja seluas 8,643 m2. Sisi kanan dek utama kapal tersedia area bebas seluas 5,98 m2. Area ini tidak mencukupi luas area yang dibutuhkan oleh 11 orang ABK yang bertugas menurunkan dan menarik jaring. Area kerja yang tidak mencukupi ini dapat mengakibatkan para ABK akan bersinggungan satu dengan yang lain saat melakukan pekerjaan. Kondisi ini dapat berpotensi sebagai faktor pemicu ketidak nyamanan saat bekerja hingga dapat menyebabkan kecelakaan kerja.
pada jenis kapal tersebut disebabkan oleh luka bakar atau kebakaran akibat minyak atau gas dari lampu.
Lincoln et al. (2006) menyatakan bahwa 23% nelayan cedera disebabkan karena terjerat atau terbentur pada perlengkapan seperti tali alat tangkap, katrol, winch, atau peralatan yang berada di atas geladak. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Dickey and Ellis (2006) tercatat selama tahun 1994-2004, 641 nelayan meninggal di Amerika Serikat. Nelayan yang meninggal tersebut, 332 nelayan (52%) meninggal karena kapal tenggelam dan 184 (29%) kematian akibat terjatuh ke laut, serta selebihnya disebabkan karena berbagai penyebab termasuk 51,8% cidera saat bekerja di dek. Wang et al. (2005) menyatakan bahwa penyebab terbesar kecelakaan kapal ikan adalah kelalaian ABK, pengangkatan peralatan, dan peralatan untuk menangkap ikan. Seluruh bangunan timbul dan peralatan yang ada pada dek kerja utama dapat menjadi ancaman terjadinya kecelakaan kerja. Kemungkinan kecelakaan yang disebabkan oleh human error dapat diminimalisir dengan cara melakukan penataan seluruh peralatan dengan benar dan rapi.
Menurut Tsai dan Su (2004) dari banyaknya tingkat kecelakaan kapal penangkap ikan yang terjadi, tidak ada hubungan yang positif antara tingkat kecelakaan dengan akibat yang ditimbulkan oleh kecelakaan tersebut. Hal ini berarti tingkat kecelakaan yang tinggi tidak berarti konsekuensi kecelakaan yang tinggi juga.
Parameter Hidrostatis Kapal Inkamina 163
Fyson (1985) menyatakan bahwa gambar lines plan kapal dapat digunakan sebagai perencanaan untuk melakukan perkiraan ukuran volume ruang. Volume ruang ini meliputi volume dari tempat penampungan, ruang mesin, dan ruang akomodasi ABK . Tempat-tempat penampungan meliputi palka ikan dan tangki-tangki. Tabel 8 menyajikan nilai parameter hidrostatis kapal Inkamina 163. Adapun gambar rencana garis (lines plan) dan kurva hidrostatis disajikan pada Gambar 11 dan Gambar 12.
22
Gambar 11 Lines plan kapal Inkamina 163
Dimensi utama : LoA = 17,18 m B = 5,04 m D = 2,04 m
Pada Gambar 11 dapat dilihat bahwa kapal Inkamina 163 memiliki tipe haluan miring (raked bow) dan tipe buritan rata (flat stern). Kapal ini memiliki bentuk kasko round bottom. Kapal dengan bentuk kasko seperti ini memiliki kemampuan maneuver yang lebih baik debandingkan dengan bentuk kasko yang lain. Kapal Inkamina 163 merupakan kapal ikan dengan tipe encircling gear. Tipe kapal ikan tersebut membutuhkan kemampuan maneuver yang baik saat melakukan setting alat tangkap. Pada tahap setting, kapal melakukan gerakan melingkar dengan kecepatan tinggi saat menurunkan jaring untuk menghadang pergerakan gerombolan ikan pelagis. Kemampuan maneuver yang baik sangat dibutuhkan oleh kapal Inkamina 163.
Tabel 8 Parameter hidrostatis kapal Inkamina 163
Parameter Hidrostatis Water Line (m)
0,326 0,652 0,978 1,304 1,63
Volume displacement (m3) 3,841 15,888 33,671 55,115 78,187
Ton displacement (ton) 3,747 15,500 32,850 53,770 76,280
Panjang garis air/ LWL (m) 12,712 14,585 16,023 16,148 16,231
Lebar pada garis air/LWL (m) 3,022 4,142 4,719 4,964 5,023
Wetted Area (m2) 25,34 48,736 66,897 80,630 92,677
Waterplan Area (m2) 23,848 44,640 58410 65,618 68,821
Prismatic Coefficient 0,574 0,614 0,643 0,698 0,734
Block Coefficient 0,292 0,384 0,434 0,502 0,560
Midship Area Coefficient 0,539 0,645 0,694 0,743 0,780
Waterpl. Area Coefficient 0,621 0,739 0,773 0,819 0,844
LCB from Amidsh. (+ve fwd) (m) 0,134 -0,269 -0,566 -0,759 -0,799
LCF from Amidsh. (+ve fwd) (m) -0,114 -0,591 -1,030 -1,020 -0,767
KB (m) 0,223 0,437 0,64 0,836 1,023
BMt (m) 3,310 3,407 2,763 2,176 1,699
BML (m) 56,161 36,243 28,823 22,094 16,937
GMt (m) 1,903 2,213 1,773 1,382 1,091
GML (m) 54,754 35,050 27,833 21,300 16,330
KMt (m) 3,533 3,843 3,403 3,012 2,721
KML (m) 56,384 36,680 29,463 22,930 17,960
TPC (ton/cm) 0,244 0,458 0,599 0,673 0,706
MTc (ton.m) 0,126 0,335 0,563 0,706 0,767
RM at 1deg = GMt.Disp.sin(1) (ton.m) 0,124 0,599 1,017 1,297 1,453
24
terendam air pada ketinggian garis air tertentu. Ton per centimeter immertion (TPC) menyatakan berat yang diperlukan untuk menambah benaman kapal dalam air setiap 1 cm pada ketinggian garis air tertentu. Hal ini didasari oleh Hukum Archimedes yang menyatakan bahwa “apabila sebuah benda, sebagian atau seluruhnya terbenam kedalam air maka benda tersebut akan mendapat gaya tekan yang mengarah ke atas yang besarnya sama dengan berat air yang dipindahkan oleh bagian benda yang terbenam tersebut”.
D
26
Menurut Gillmer dan Johnson (1982), bentuk proporsi bagian kapal yang terendam air dapat dilihat dengan jelas untuk menentukan gemuk atau langsing, atau sedang, dari hasil perbandingan dimensi atau nilai koefisien bentuk (coefficient of fineness). Iskandar dan Pujiati (1995) telah melakukan pengelompokan kisaran nilai koefisien bentuk (coefficient of fineness) kapal ikan yang ada di Indonesia. Perbandingan nilai coefficient of fineness kapal Inkamina 163 dengan kisaran nilai coefficient of fineness kapal-kapal ikan di Indonesia disajikan pada Tabel 9. Menurut Gillmer dan Johnson (1982) koefisien bentuk kapal terdiri dari koefisien balok (block coefficient; Cb), koefisien prismatik (prismatic coefficient; Cp), koefisien garis air (waterplane coefficient; CW), dan koefisien gading besar (midship coefficient; C⊗). Bentuk proporsi bagian kapal tersebut dapat dilihat dengan jelas untuk menentukan gemuk atau langsing, atau sedang, dari hasil perbandingan dimensi atau nilai koefisien bentuk.
Tabel 9 Perbandingan kisaran nilai coefficient of fineness kapal Inkamina 163 dengan kapal ikan di Indonesia
Coefficient Kapal Inkamina 163
Kisaran nilai coefficient of fineness kapal ikan di Indonesia*)
Keterangan : *) Iskandar dan Pujiati, 1995.
Jika nilai Cb=1, menyatakan bahwa bagian kapal yang terendam air berbentuk balok. Semakin besar nilai Cb maka bagian kapal yang terendam air cenderung gemuk, sedangkan semakin kecil nilai Cb maka bagian kapal yang terendam air cenderung lebih ramping. Nilai Cb kapal Inkamina 163 (0,57) cenderung berada pada batas minimum kisaran kapal tipe encircling gear di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa bagian kapal Inkamina 163 yang terendam air cenderung lebih ramping dibandingkan kapal ikan tipe encircling gear di Indonesia.
Nilai koefisien perismatik (Cp) menggambarkan besar kecilnya perubahan bentuk penampang melintang badan kapal secara longitudinal atau di sepanjang LWL. Nilai koefisien perismatik (Cp) berbanding lurus dengan nilai koefisien waterplane area (Cw) (Fyson, 1985). Kapal Inkamina 163 memiliki nilai Cp 0,75. Nilai Cp yang besar ini menunjukkan bahwa secara longitudinal bentuk kapal yang lebih lebar (gemuk) terletak pada bagian midship. Bagian ini memiliki tahanan yang lebih besar.
Kapal Inkamina 163 memiliki nilai koefisien gading besar (C⊗) sebesar 0,78. Nilai ini menunjukkan bahwa kapal tersebut memiliki penampang melintang yang besar. Bentuk penampang melintang tersebut memungkinkan tersedianya ruang di bawah dek yang lebih besar.
Vertical prismatic coefficient (Cvp) kapal Inkamina 163 sebesar 0,66, menunjukkan bahwa secara vertikal, terjadi perubahan bentuk badan kapal yang kecil. Perubahan penampang melintang secara vertikal kapal Inkamina 163 dapat dilihat lebih detail dari gambar lines plan dan pada tabel hidrostatik. Garis water plan area pada lines plan kapal Inkamina 163 yang disajkan pada Gambar 4 dan Tabel 6 menyatakan bahwa dari WL 0 ke WL 2, terjadi perubahan bentuk penampang melintang yang besar sedangkan mulai dari WL 2 ke WL 5 (draf maksimum) hanya terjadi perubahan penampang melintang yang kecil.
Berdasarkan dimensi utama (Tabel 5) dan bentuk kapal (Tabel 9), kapal Inkamina 163 memiliki kesesuaian sebagai kapal penangkap ikan yang mengoperasikan alat tangkap encircling gear, seperti alat tangkap purse seine.
Kapasitas Internal Kapal Inkamina 163
Kapasitas internal atau kapasitas muat (loading capacity) merupakan daya tampung kapal untuk berbagai jenis muatan pada setiap ruang yang ada. Pengaturan tata ruang dan muatan kapal Inkamina 163 pada saat kondisi siap beroperasi, dapat dilihat melalui gambar operational general arrangement yang disajikan pada Gambar 3.
Ukuran displacement kapal mempengaruhi daya muat (loading capacity) kapal. Penentuan daya muat menjadi perhitungan awal saat perancangan desain suatu kapal. Besarnya daya muat kapal yang dibutuhkan, menjadi acuan untuk penentuan ukuran dimensi kapal yang akan dibuat. Utomo (2010) menyatakan banyak keuntungan yang diperoleh jika displacement kapal dibuat sekecil mungkin. Displacement kapal yang dibuat sekecil mungkin dapat memperkecil tahanan kapal terhadap air sehingga tenaga mesin penggerak yang diperlukan semakin kecil. Keadaan yang demikian dapat menghemat pemakaian bahan bakar. Menurut Wijaya (2012), biaya operasional kapal ikan yang terbesar adalah berasal dari biaya untuk pembelian bahan bakar minyak dan es. Pujo et al. (2012) menyatakan bahwa dimensi kapal yang semakin besar maka kemampuan kapal untuk membawa jaring dan alat bantu penangkapan ikan lainnya serta hasil tangkapan akan semakin besar, dengan demikian jarak jangkauan daerah penangkapan ikan akan semakin luas. Desain kapal purse seine harus mempertemukan kebutuhan-kebutuhan umum seperti (Schmidt 1960):
1. Kapal dirancang dengan menggunakan tenaga yang efisien,
2. Kapal purse seine dirancang untuk penangkapan pada cuaca buruk maupun tenang,
28
Kapasitas internal kapal Inkamina 163 harus sesuai dengan kebutuhan. Kapal tersebut sebagai kapal penangkap ikan harus dapat menekan biaya operasional sekecil mungkin agar dapat memperoleh keuntungan yang lebih besar bagi nelayan yang mengoperasikannya. Kapasitas internal yang sesuai dapat menghasilkan ukuran dimensi kapal yang ideal sehingga dapat mengangkut seluruh muatan dengan optimal namun tetap memiliki kualitas stabilitas yang baik. Kondisi ini memungkinkan sehingga kapal Inkamina 163 dapat dioperasikan pada ZEEI hingga jarak terjauh yakni pada 200 mil dengan aman.
Perhitungan estimasi kapasitas internal kapal Inkamina 163 dilakukan dengan membandingkan volume terpasang dan volume estimasi. Volume terpasang adalah volume ruang eksisting di kapal. Volume estimasi adalah volume ruang yang diestimasi berdasarkan faktor-faktor desain yang ada.Perbandingan ini dilakukan untuk mengetahui keefektifan dan keefisienan dimensi ruang yang mengacu pada lama waktu dan jarak tempuh pengoperasian kapal.
Jarak pengoperasian kapal Inkamina yang berbasis di PPP Sadeng belum optimal. Hal ini disebabkan karena kapal ikan bantuan tersebut belum pernah dioperasikan pada jarak maksimal di ZEEI. Seluruh kapal Inkamina yang berbasis di PPP Sadeng belum dapat memaksimalkan usaha penangkapan ikan di wilayah ZEEI. Seluruh kapal ikan Inkamina yang ada di PPP Sadeng termasuk kapal Inkamina 163 memiliki target operasi di perairan selatan pulau Jawa, yakni pada perairan ZEEI. Wilayah perairan ZEEI ini berada mulai dari jarak 12 mil hingga 200 mil di luar garis pantai selatan pulau Jawa. Nelayan setempat mengoperasikan kapal Inkamina tersebut pada jarak 47-60 mil hingga saat ini. Operasi penangkapan dilakukan pada malam hari menggunakan bantuan rumpon yang dipasang pada jarak tersebut. Jarak 60 mil merupakan jarak terjauh pengoperasian penangkapan ikan. Berdasarkan hal ini, maka perhitungan untuk memperoleh volume estimasi dilakukan berdasarkan target operasi penangkapan ikan pada jarak 60 mil.
Dilakukan 2 kali perhitungan estimasi untuk menentukan kapasitas muat kapal Inkamina 163. Perhitungan estimasi yang pertama diasumsikan jika kapal tersebut dioperasikan pada jarak maksimum ZEEI (200 mil). Kapal Inkamina 163 harus dapat digunakan untuk memaksimalkan potensi perikanan yang ada pada wilayah tersebut. Perhitungan estimasi yang kedua diasumsikan jika kapal tersebut dioperasikan pada jarak 60 mil.
Gambar 13 Perbandingan volume ruang terpasang terhadap volume ruang estimasi pada DPI yang berbeda
Tabel 10 Persentase perbandingan volume terpasang terhadap volume estimasi pada DPI yang berbeda
Ruang mesin 60,52 21,59 >180,37 21,59 >180,37
Tangki BBM 3,11 2,43 >27,93 0,785 >296,11
Tangki air
tawar 2,27 1,14 >99,56 1,14 >99,56
Ruang ABK 9,06 m2 14,04 m2 <64,5 14,04 m2 <64,5
Palka ikan merupakan ruangan di bawah dek yang digunakan untuk tempat menyimpan hasil tangkapan (Wahyono, 2011). Ruang palka ikan yang ada pada kapal Inkamina 163 memiliki volume total 23,5 m3(Tabel 11). Berdasarkan informasi yang diperoleh dari KUB Inka Akselerasi sebagai pengelola kapal Inkamina 163, kapal tersebut memiliki sistem penyimpanan ikan secara bulk dalam palka. Ikan bercampur dengan ec curah sebagai media pendingin di dalam palka. Andarto dan Sutejo (1993) melakukan perhitungan untuk mengestimasi berat ikan yang penyimpanannya secara bulk dalam palka menggunakan stowage factor 0,5 ton/m3. Dengan menggunakan rumus estimasi tersebut, maka dapat diperkirakan bahwa kapal Inkamina 163 dengan volume palka 23,5 m3 dapat memuat ikan tuna hingga 11,75 ton .
0