PROFIL KADAR GULA DARAH PUASA PADA PASIEN SKIZOFRENIK
DRUG-NAIVE EPSODE PERTAMA
TESIS
MUHAMMAD YUSUF
087106004
PROGRAM MAGISTER KEDOKTERAN KLINIK –SPESIALIS KEDOKTERAN JIWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
PROFIL KADAR GULA DARAH PUASA PADA PASIEN SKIZOFRENIK
DRUG-NAIVE EPSODE PERTAMA
TESIS
Untuk Memperoleh Gelar Magister Kedokteran Klinik dalam Program Studi Spesialis Kedokteran Jiwa pada Sekolah Pasca Sarjana
Universitas Sumatera Utara
MUHAMMAD YUSUF 087106004
SEKOLAH PASCA SARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Judul Tesis : Profil Kadar Gula Darah Puasa Pada
Pasien Skizofrenik Drug-Naive Episode
Pertama
Nama Mahasiswa : Muhammad Yusuf
Nomor Induk Mahasiswa : 087106004
Program Magister : Magister Kedokteran Klinis
Konsentrasi : Ilmu Kesehatan Jiwa
Menyetujui:
Komisi Pembimbing:
dr. Elmeida Effendy, Sp.KJ
Ketua Program Studi Ketua TKP PPDS
dr. Elmeida Effendy, Sp.KJ dr. Zainuddin Amir, Sp.P(K) NIP: 19720501199903 2004 NIP : 19540620198011 1001
Telah diuji pada
Tanggal : 28 Maret 2011
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : dr. Elmeida Effendy, Sp.KJ ...
Anggota : 1. Prof.dr. Bahagia Loebis, Sp.KJ (K) ...
2. Prof.dr. Syamsir BS, Sp.KJ (K) ...
3. dr.H. Harun T. Parinduri, Sp.KJ (K) ...
4. dr. Arlinda Sari Wahyuni, M.Kes ...
PERNYATAAN
Profil Kadar Gula Darah Puasa Pada Pasien Skizofrenik Drug-Naive
Episode Pertama
TESIS
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya
yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu
Perguruan Tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat
karya atau pendapat yang pernah dituliskan atau diterbitkan oleh orang
lain, kecuali secara tertulis mengacu dalam naskah ini dan disebutkan di
dalam daftar pustaka.
Medan, Maret 2011
ABSTRAK
Profil Kadar Gula Darah Puasa Pada Pasien Skizofrenik Drug-Naive Episode Pertama
Muhammad Yusuf, Elmeida Effendy
Departemen Psikiatri
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
ABSTRAK
Latar Belakang : Kejadian diabetes mellitus lebih tinggi pada pasien dengan skizofrenia dibandingkan pada masyarakat umum. Obat antipsikotik telah terlibat dalam berkembangnya diabetes, tetapi sebagai non-medicated pasien dengan skizofrenia memiliki tingkat diabetes yang tinggi itu kemungkinan bahwa faktor lain dari pada pengobatan. Subramaniam dkk pada tahun 2003 dalam penelitian korort pada pasien skizofrenia yang dirawat dirumah melaporkan angka toleransi diabetes mellitus yang tidak terdiagnosa sebanyak 16% dan angka gangguan resistensi toleransi glukosa lebih dari 30%, tidak ada satupun yang pernah menerima obat neuroleptik atipikal, tetapi angka diabetes pada populasi umum pada usia yang sama lebih dari 22%, hal ini menunjukkan bahwa pasien dengan skizofrenia cenderung kurang didiagnosa sebagai diabetes daripada rekan-rekan mereka dengan tanpa penyakit mental.
Metode : Penelitian ini merupakan penelitian dekriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian adalah pasien skizofrenik. Jumlah sampel ditentukan secara consecutive sampling, kemudian subjek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dilakukan pemeriksaan kadar gula darah puasanya. Selanjutnya dianalisa terhadap umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan dan tempat tinggal dengan menggunakan chi-square.
Hasil : Dari 60 pasien skizofrenik episode pertama yang belum mengkonsumsi obat anti psikotik yang berobat ke poliklinik psikiatri dan Instalasi Gawat Darurat BLUD RSJ PROVSU dalam periode 1 Nopember 2010 sampai dengan 31 Desember 2010, didapati kadar gula darah puasa hipoglikemi 42%, normoglikemi 44% dan hiperglikemi 14%.
Kesimpulan : Dari hasil penelitian terhadap 60 orang kadar gula darah puasa pada pasien skizofrenik episode pertama yang belum mengkonsumsi obat anti psikotik yang datang berobat ke BLUD RSJ PROVSU didapati paling banyak kadar gula darah puasanya dalam keadaan normoglikemi sebanyak 26 orang (44%). Terdapat perbedaan bermakna berdasarkan tingkat pendidikan. Tidak terdapat perbedaan bermakna kadar gula darah puasa berdasarkan kelompok umur, jenis kelamin pekerjaan dan tempat tinggal.
UCAPAN TERIMAKASIH
Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu
penulis selama mengikuti Program Pendidikan Magister Kedokteran Klinis
Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa.
Pada umumnya dan khususnya dalam penyusunan tesis ini, yaitu :
1. Rektor Universitas Sumatera Utara, Dekan Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara, dan Ketua TKP PPDS I Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan
kepada saya kesempatan untuk mengikuti Program Pendidikan
Magister Kedokteran Klinis Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa di Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
2. dr. Mustafa Mahmud Amin, Sp.KJ, selaku Ketua Departemen Psikiatri
FK USU dan guru penulis dalam penyusunan tesis ini, yang banyak
memberikan masukan-masukan berharga kepada penulis dalam
menyelesaikan tesis ini.
3. dr. Elmeida Effendy, Sp.KJ, selaku Ketua Program Studi PPDS-I
Psikiatri FK USU dan pembimbing dalam penyusunan tesis ini, yang
dengan penuh kesabaran dan ketelitian membimbing, mengoreksi, dan
memberi masukan-masukan berharga kepada penulis sehingga tesis
4. Prof. dr. Bahagia Loebis, Sp.KJ (K), sebagai guru penulis dalam
penyusunan tesis ini yang banyak memberi masukan-masukan
berharga kepada penulis sehingga tesis ini dapat diselesaikan.
5. Dr. H. Harun Thaher Parinduri, Sp.KJ (K), selaku guru penulis, yang
banyak memberikan semangat dan dorongan kepada penulis dalam
menyelesaikan tesis ini.
6. Prof. dr. H.Syamsir BS, Sp.KJ (K), selaku guru penulis, yang banyak
memberikan semangat dan dorongan kepada penulis dalam
menyelesaikan tesis ini.
7. Prof. dr. H.M. Joesoef Simbolon, Sp.KJ (K), selaku guru penulis, yang
banyak membagikan pengetahuan dan bimbingan kepada penulis
selama mengikuti pendidikan, khususnya mengenai psikiatri anak dan
remaja.
8. dr. Vita Camelia, Sp.KJ, dan dr. M. Surya Husada, Sp.KJ, selaku
Sekretaris Departemen dan Sekretaris Program Studi PPDS I
Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran USU Medan dan sebagai
guru yang telah banyak memberikan bimbingan dan pengetahuan
selama saya mengikuti Program Pendidikan Magister Kedokteran
Klinik Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa.
9. dr. Arlinda Sari Wahyuni, M.Kes, selaku staf pengajar Ilmu Kesehatan
masyarakat/Ilmu Kedokteran Komunitas/ Ilmu Kedokteran Pencegahan
FK USU dan Konsultan Metodologi Penelitian dan Statistik penulis
dalam penelitian ini, yang banyak meluangkan waktu untuk
10. dr. Dapot P. Gultom, Sp.KJ, sebagai Direktur Badan Layanan Umum
Daerah RSJ Propinsi Sumatera Utara dan guru penulis, yang telah
memberikan izin, kesempatan dan fasilitas kepada saya mengikuti
Program Pendidikan Magister Kedokteran Klinik Spesialis Ilmu
Kedokteran Jiwa.
11. dr. Herlina Ginting, Sp.KJ, sebagai guru yang telah banyak
memberikan bimbingan, pengarahan, pengetahuan, dorongan,
dukungan dan buku-buku bacaan yang berharga selama saya
mengikuti Program Pendidikan Magister Kedokteran Klinik Spesialis
Ilmu Kedokteran Jiwa.
12. dr. Juskitar, Sp.KJ, sebagai guru yang telah banyak memberikan
bimbingan, pengarahan, pengetahuan, dorongan, dukungan dan
buku-buku bacaan yang berharga selama saya mengikuti Program
Pendidikan Magister Kedokteran Klinik Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa.
13. dr. Mawar G. Tarigan, Sp.KJ, sebagai guru yang telah banyak
memberikan bimbingan dan pengetahuan selama saya mengikuti
Program Pendidikan Magister Kedokteran Klinik Spesialis Ilmu
Kedokteran Jiwa.
14. dr. Freddy S.Nainggolan, Sp.KJ, sebagai guru yang telah banyak
memberikan bimbingan dan pengetahuan selama saya mengikuti
Program Pendidikan Magister Kedokteran Klinik Spesialis Ilmu
Kedokteran Jiwa.
Evawati Siahaan, Sp.KJ, dr. Paskawani Siregar, Sp.KJ, dr. Citra J.
Tarigan, Sp.KJ, dan dr. Vera RB. Marpaung, Sp.KJ, sebagai senior
yang telah memberikan semangat dan dorongan selama saya
mengikuti Program Pendidikan Magister Kedokteran Klinik Spesialis
Ilmu Kedokteran Jiwa.
16. dr. Adhayani Lubis, Sp.KJ, dr. Yusak P. Simanjuntak, Sp.KJ, dr. Juwita
Saragih, Sp.KJ, dr. Friedrich Lupini, Sp.KJ, dr. Rudyhard E.
Hutagalung, Sp.KJ, dr. Laila S. Sari, Sp.KJ, dr. Evalina Perangin-angin,
Sp.KJ, dr. Victor Eliezer Perangin-angin, Sp.KJ, dr. Siti Nurul Hidayati
Sp.KJ, dr. Lailan Sapinah Sp.KJ, dr. Silvy Agustina Hasibuan Sp.KJ
sebagai senior yang banyak memberikan bimbingan, dorongan dan
semangat kepada penulis selama mengikuti Program Magister
Kedokteran Klinik Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa.
17. Direktur Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan, Direktur
Rumah Sakit Tembakau Deli, Direktur Rumah Sakit Umum Daerah
Dr. Pirngadi Medan atas izin, kesempatan dan fasilitas yang diberikan
kepada penulis untuk belajar dan bekerja selama penulis mengikuti
Magister Kedokteran Klinis Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa .
18. Rekan-rekan sejawat peserta PPDS-I Psikiatri FK USU: dr. Herny T.
Tambunan, dr. Mila Astari H M.Ked (KJ), dr. Ira Aini Dania, M.Ked (KJ),
dr. Baginda Harahap, dr. Ricky Wijaya Tarigan M.Ked (KJ), dr.
Superida Ginting Suka, dr. Ferdinan Leo Sianturi M.Ked (KJ), dr. Lenni
Crisnawati Sihite, dr. Saulina Dumaria Simanjuntak M.Ked (KJ), dr.
dr.Tiodoris Siregar, dr. Endang Sutry Rahayu dan dr. Duma M.
Ratnawati, dr.Nauli Aulia Lubis, dr.Nirwan Abidin, dr.Nanda Sari. N, dr.
Wijaya Taufik Tiji, dr.Alfi Syahri Rangkuti, dr. Agussyah Putra, dr. Rini
Gussya Liza, dr. Gusri Girsang, dr. Dessi Wahyuni, dr. Hendriko
Tusandra Putra, dr. Ritha Mariati Sembiring, dr.Susiati, dr. Reny
Fransiska Barus, dr. Annisa Fransiska, dr. Dessy Mawar Zalia, yang
banyak memberikan masukan berharga kepada penulis melalui
diskusi-diskusi kritis dalam berbagai pertemuan formal maupun
informal, serta selalu memberikan dorongan-dorongan yang
membangkitkan semangat kepada penulis menyelesaikan Program
Pendidikan Magister Kedokteran Klinis Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa.
19. Para perawat dan pegawai di berbagai tempat dimana penulis pernah
bertugas selama menjalani pendidikan spesialisasi ini, serta berbagai
pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah
banyak membantu penulis dalam menjalani Program Pendidikan
Magister Kedokteran Klinis Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa.
20. Semua pasien skizofrenik beserta orang tua/wali mereka yang telah
bersedia berpartisipasi secara sukarela dalam penelitian untuk
keperluan tesis ini.
21. Teman-teman di layanan digital perpustakaan USU : Evi Yulifimar,
S.Sos, Yuli Handayani, S.Sos, Diani Hartati, S.Sos, M. Salim A.Md
yang telah membantu saya dalam menyelesaikan tugas selama
22. Kedua orang tua yang sangat penulis hormati dan sayangi Drs. Abdul
Hasyim Siregar dan Hj. Kartini yang telah bersusah payah
membesarkan, memberikan rasa aman, cinta dan doa restu kepada
penulis sejak lahir hingga saat ini, dalam menjalani segala hal.
23. Kedua mertua, (Alm) Benar Barus dan Rasita br Ginting yang banyak
memberikan semangat dan doa kepada penulis selama menjalani
Program Pendidikan Magister Kedokteran Klinis Spesialis Ilmu
Kedokteran Jiwa.
24. Seluruh saudara kandung saya, Ir. Nurhayati Siregar. (Alm) Zulkarnain
Siregar, SE, M.Si, Laili Agustina Siregar, NS, S.Kep dan (Almh) Tuti
Handayani Siregar, AMAK yang banyak memberikan semangat dan
doa kepada penulis selama menjalani Program Pendidikan Magister
Kedokteran Klinis Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa.
25. Seluruh ipar saya, Sada Ukur br Barus, S.Pd dan Ir. Ingan Pulung
Barus yang banyak memberikan semangat dan doa kepada penulis
selama menjalani Program Pendidikan Magister Kedokteran Klinis
Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa.
26. Buat istri tercinta, dr. Eli Zabarita, terima kasih atas segala doa dan
dukungan, kesabaran dan pengertian yang mendalam serta
pengorbanan atas segala waktu dan kesempatan yang tidak dapat
penulis habiskan bersama-sama dalam suka cita dan keriangan
selama penulis menjalani pendidikan Magister Kedokteran Klinik
semua itu, penulis tidak akan mampu menyelesaikan pendidikan
magister klinis dan tesis ini dengan baik.
27. Buat buah hati tersayang : Raja Daud Siregar dan Theressia Putri
Siregar terima kasih atas doa, dukungan, kesabaran dan pengertian
serta pengorbanan atas segala waktu dan kesempatan yang tidak
dapat dihabiskan bersama-sama kalian dalam sukacita dan
kegembiraan selama menjalani Program Pendidikan Magister
Kedokteran Klinis Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa.
Akhir kata, Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih membalas semua
jasa dan budi baik mereka yang telah membantu penulis tanpa pamrih
dalam mewujudkan cita-cita penulis.
Medan, Maret 2011
DAFTAR ISI
2.2. Skizofrenia Sebagai Faktor Risiko Independen
Diabetes 6 2.2.1. Faktor-faktor Genetik 6 2.2.2. Faktor-faktor Lingkungan 7
2.3. Stres Endokrinologi 7
2.4. Kerangka Konseptual 11
BAB 3. METEDOLOGI PENELITIAN 12
3.1. Desain Penelitian 12
3.2. Tempat dan Waktu 12
3.3. Populasi dan Sampel Penelitian 13
3.4. Estimasi Besar Sampel 13
3.5. Kriteria Inklusi dan Eksklusi 13
3.5.1. Kriteria Inklusi 13
3.5.2. Kriteria Eksklusi 13
3.6. Persetujuan/Informed Consent 14
3.7. Masalah Etika 14
3.8. Cara Kerja Penelitian 14
3.9. Identifikasi Variabel 16
3.10. Definisi Operasional 16
BAB 4. HASIL PENELITIAN 18
BAB 5. PEMBAHASAN 26
BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN 29
6.1. Kesimpulan 29
6.2. Saran 29
RINGKASAN 31
DAFTAR RUJUKAN 33
Lampiran 36
1. Lembaran Penjelasan Kepada Calon Subjek Penelitian 37
2. Lembar Persetujuan Setelah Penjelasan (Informed Consent) 39
3. Data Sampel Penelitian 40
4. Surat Persetujuan Komite Etik 41
5. Tabel Subjek Penelitian 42
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1. Distribusi Sampel berdasarkan Karakteristik demografi 18
Tabel 4.2. Distribusi Sampel Kadar Gula Darah Puasa pasien
skizofrenik episode pertama drug-naive 19
Tabel 4.3. Hubungan antara Kadar Gula Darah Puasa terhadap
kelompok umur 20
Tabel 4.4. Hubungan antara Kadar Gula Darah Puasa terhadap
jenis kelamin 21
Tabel 4.5. Hubungan antara Kadar Gula Darah Puasa terhadap
tingkat pendidikan 22
Tabel 4.6. Hubungan antara Kadar Gula Darah Puasa terhadap
status pekerjaan 23
Tabel 4.7. Hubungan antara Kadar Gula Darah Puasa terhadap
DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG
BLUD : Badan Layanan Umum Daerah
dkk : dan kawan-kawan
HPA : Hipothalamus-Pituitari-Adrenal
PPDG III : Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan
Jiwa di Indonesia III
SAM : Simpatik-Adrenal-Meduler
SPSS : Statistical Package for the Social Sciences
n : Besar sampel minimum
S : Simpang baku nilai rerata dalam populasi (dari
pustaka)
d : Tingkat ketepatan absolute yang diinginkan
Zα : Derivat baku normal untuk α
< : lebih kecil dari
ABSTRAK
Profil Kadar Gula Darah Puasa Pada Pasien Skizofrenik Drug-Naive Episode Pertama
Muhammad Yusuf, Elmeida Effendy
Departemen Psikiatri
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
ABSTRAK
Latar Belakang : Kejadian diabetes mellitus lebih tinggi pada pasien dengan skizofrenia dibandingkan pada masyarakat umum. Obat antipsikotik telah terlibat dalam berkembangnya diabetes, tetapi sebagai non-medicated pasien dengan skizofrenia memiliki tingkat diabetes yang tinggi itu kemungkinan bahwa faktor lain dari pada pengobatan. Subramaniam dkk pada tahun 2003 dalam penelitian korort pada pasien skizofrenia yang dirawat dirumah melaporkan angka toleransi diabetes mellitus yang tidak terdiagnosa sebanyak 16% dan angka gangguan resistensi toleransi glukosa lebih dari 30%, tidak ada satupun yang pernah menerima obat neuroleptik atipikal, tetapi angka diabetes pada populasi umum pada usia yang sama lebih dari 22%, hal ini menunjukkan bahwa pasien dengan skizofrenia cenderung kurang didiagnosa sebagai diabetes daripada rekan-rekan mereka dengan tanpa penyakit mental.
Metode : Penelitian ini merupakan penelitian dekriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian adalah pasien skizofrenik. Jumlah sampel ditentukan secara consecutive sampling, kemudian subjek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dilakukan pemeriksaan kadar gula darah puasanya. Selanjutnya dianalisa terhadap umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan dan tempat tinggal dengan menggunakan chi-square.
Hasil : Dari 60 pasien skizofrenik episode pertama yang belum mengkonsumsi obat anti psikotik yang berobat ke poliklinik psikiatri dan Instalasi Gawat Darurat BLUD RSJ PROVSU dalam periode 1 Nopember 2010 sampai dengan 31 Desember 2010, didapati kadar gula darah puasa hipoglikemi 42%, normoglikemi 44% dan hiperglikemi 14%.
Kesimpulan : Dari hasil penelitian terhadap 60 orang kadar gula darah puasa pada pasien skizofrenik episode pertama yang belum mengkonsumsi obat anti psikotik yang datang berobat ke BLUD RSJ PROVSU didapati paling banyak kadar gula darah puasanya dalam keadaan normoglikemi sebanyak 26 orang (44%). Terdapat perbedaan bermakna berdasarkan tingkat pendidikan. Tidak terdapat perbedaan bermakna kadar gula darah puasa berdasarkan kelompok umur, jenis kelamin pekerjaan dan tempat tinggal.
BAB 1. PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang Penelitian
Skizofrenia adalah masalah kesehatan umum di seluruh dunia yang
memerlukan banyak biaya personal dan ekonomi. Skizofrenia menyerang
kurang dari 1% populasi dunia.1
Puncak serangan pada pria antara usia 10 sampai 25 tahun dan 25
sampai 35 tahun pada wanita. Sembilan puluh persen pasien yang
mendapat pengobatan skizofrenia berusia antara 15 sampai 55 tahun.
Serangan di bawah 10 tahun atau diatas 60 tahun jarang dilaporkan.
Secara umum, wanita dengan skizofrenia mempunyai outcome yang lebih
baik dibanding pria.1 Dampak psikosis terhadap toleransi glukosa pada
pasien drug-naive dengan skizofrenia episode pertama telah dilaporkan
oleh Ryan dkk pada tahun 2003, yang membandingkan 26 pasien dengan
skizofrenia dan sejumlah peserta kontrol yang sama untuk usia dan jenis
kelamin.2
Subramaniam dkk pada tahun 2003 dalam penelitian korort pada
pasien skizofrenia yang dirawat dirumah melaporkan angka toleransi
diabetes mellitus yang tidak terdiagnosa sebanyak 16% dan angka
gangguan resistensi toleransi glukosa lebih dari 30%, tidak ada satupun
yang pernah menerima obat neuroleptik atipikal, tetapi angka diabetes
pada populasi umum pada usia yang sama lebih dari 22%, hal ini
didiagnosa sebagai diabetes daripada rekan-rekan mereka dengan tanpa
penyakit mental.3
Ryan dkk menunjukkan bukti bahwa hal ini bukan hanya karena
pengaruh obat-obatan, tetapi dikaitkan independen dengan penyakit
skizofrenia itu sendiri. Resistensi insulin ditunjukkan pada orang dengan
skizofrenia bahkan sebelum obat antipsikotik tersedia dan hal ini
sekarang telah dikonfirmasikan pada pasien drug-naive.4
Di Indonesia hingga saat ini belum pernah dilakukan penelitian
untuk mengetahui profil kadar gula darah puasa pada pasien skizofrenik
drug-naive episode pertama. Oleh karena itu penulis merasa perlu untuk
melakukan penelitian profil kadar gula darah puasa pada pasien
skizofrenik drug-naive episode pertama.
I.2. Perumusan masalah
1. Berapakah kadar gula darah puasa pada pasien skizofrenik episode
pertama yang belum mengkonsumsi obat anti psikotik.
2. Apakah terdapat perbedaan kadar gula darah puasa dengan
karakteristik demografik pada pasien skizofrenik episode pertama yang
belum mengkonsumsi obat anti psikotik.
I.3. Hipotesis
1. Terdapat peningkatan kadar gula darah puasa pada pasien skizofrenik
2. Terdapat hubungan perbedaan kadar gula darah puasa dengan
karakteristik demografik pada pasien skizofrenik episode pertama yang
belum mengkonsumsi obat anti psikotik.
I.4. Tujuan penelitian
A. Tujuan Umum : Untuk mengetahui kadar gula darah puasa pada
pasien skizofrenik episode pertama yang belum mengkonsumsi
obat anti psikotik.
B. Tujuan khusus :
1. Untuk mendapatkan informasi tentang kadar gula darah puasa
pada pasien skizofrenik episode pertama yang belum
mengkonsumsi obat anti psikotik.
2. Untuk mengutahui hubungan antara kadar gula darah puasa
dengan karakteristik demografik pasien skizofrenik episode
pertama yang belum mengkonsumsi obat anti psikotik.
I.5. Manfaat Penelitian
1. Hasil penelitian ini diharapkan memberikan informasi mengenai
kadar gula darah puasa pada pasien skizofrenik episode pertama
dan perbedaan kadar gula darah secara demografik terkait dengan
rencana dan penatalaksaan terapi selanjutnya pada Rumah Sakit
Jiwa Provinsi Sumatera Utara.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Skizofrenia
Skizofrenia merupakan kumpulan gejala-gejala klinik yang
melibatkan kognitif, emosi persepsi dan aspek perilaku dan bermanifestasi
pada pasien dan mempengaruhi perjalanan penyakit, biasanya berat dan
berlangsung lama. 5
Skizofrenia berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata
“schein” yang artinya retak atau pecah (split), dan “phren” yang artinya
pikiran yang terbelah dari mental dan pikiran, yang selalu dihubungkan
dengan fungsi emosi. Dengan demikian seseorang yang menderita
skizofrenia adalah seseorang yang mengalami keretakan jiwa atau
keretakan kepribadian serta emosi.6
Istilah skizofrenia pertama sekali diperkenalkan oleh pada awal
abad ke-20 oleh Eugen Bleuler (1857-1939) dan istilah tersebut
menggantikan demensia prekoks di dalam literature, istialh untuk
menandakan adanya perpecahan antara pikiran, emosi dan perilaku pada
pasien yang terkena. Blueler menggambarkan gejala fundamental spesifik
untuk skizofrenia, termasuk suatu gangguan yang ditandai dengan
gangguan asosiasi khususnya kelonggaran asosiasi, gangguan afektif,
autisme dan ambivalensi. Bleuler menggambarkan gejala pelengkap yang
termasuk waham dan halusinasi.1,7
Skizofrenia merupakan suatu bentuk gangguan psikotik berat dan
sama, namun berbeda dalam tibulnya serangan partama.9,10 Di Amerika
Serikat prevalensi seumur hidup untuk skizofrenia berkisar 1%.
Prevalensi skizofrenia sama antara pria dan wanita. Puncak usia
timbulnya serangan adalah 10-25 tahun pada pria dan 25-35 tahun pada
wanita. Sekitar 90% pasien dalam pengobatan untuk skizofrenia
berusiaantara 15-55 tahun.11
Skizofrenia adalah penyakit life-shortening, dengan tingkat
mortalitas di antara pasien skizofrenia dua kali lebih tinggi seperti pada
populasi umum. Harapan hidup antara penderita skizofrenia adalah 20%
lebih pendek daripada populasi umum , dengan penyakit peredaran darah,
pernapasan, dan gastrointestinal dicatat sebagian pada penemuan ini .
Selain itu, pasien dengan skizofrenia juga tampaknya memiliki angka yang
lebih tinggi terhadap toleransi glukosa, resistensi insulin, dan diabetes
mellitus tipe 2 dari populasi umum.12
Namun, sebagian besar bukti yang menunjukkan bahwa diabetes
mellitus tipe 2 sering terjadi pada skizofrenia telah datang dari studi di
mana pasien baik yang menerima neuroleptik atau telah terpapar
neuroleptik di masa lalu. Sulit untuk menentukan apakah skizofrenia
memiliki peran independen dalam berkembangnya metabolisme glukosa
yang abnormal, karena keduanya konvensional dan neuroleptik atipikal
telah terlibat dalam patogenesis diabetes mellitus tipe 2 dan gangguan
toleransi glukosa.12
2 pada orang dengan skizofrenia yang disetujui secara luas bahwa kondisi
tersebut dapat setidaknya dua sampai empat kali lebih menonjol dari pada
di populasi umum. Bagaimanapun, variasi yang signifikan dalam tingkat
prevalensi yang dilaporkan dari berbagai studi. Satu hal utama yang
mengacaukan ketika berupaya membuat prevalensi sejati dalam
skizofrenia dan populasi lain adalah jumlah orang yang telah di skrining
secara aktif.4
2.2. Skizofrenia sebagai faktor risiko independen untuk diabetes
Interaksi antara diabetes dan skizofrenia, meskipun relatif baik
kenyataannya, jauh dari sederhana. Mekanisme dibalik interaksi
cenderung menjadi multifaktorial, dan termasuk faktor genetika dan
lingkungan, kemungkinan efek obat antipsikotik.4
2.2.1. Faktor-faktor Genetik
Menurut Dynes dkk, Mukherjee dkk, Cheta dkk, Lamberti dkk,
Shiloah dkk, faktor genetik tampaknya memiliki peran penting dalam
hubungan antara skizofrenia dan diabetes, karena telah dilaporkan bahwa
sampai dengan 50% dari individu dengan skizofrenia memiliki riwayat
keluarga dari diabetes tipe 2, dibandingkan dengan hanya 4,6% dari
dewasa sehat. Lamberti dkk menemukan dalam salah satu bagan review
terbesar pernah dilakukan terhadap skizofrenia, riwayat keluarga diabetes
tipe 2 ditemukan 17% dari total kohort 436 pasien. Yang penting, dalam
prevalensi diabetes mellitus adalah 33%. Mereka yang tidak ada riwayat
keluarga diabetes, prevalensinya hanya 10%. Data ini menunjukkan
bahwa faktor genetik dapat menjelaskan batas tertentu angka prevalensi
lebih tinggi diabetes ditemukan pada pasien dengan skizofrenia
dibandingkan dengan populasi umum.4
2.2.2. Faktor-faktor Lingkungan
Menurut Brown dkk, banyak orang dengan skizofrenia memiliki
kebiasaan perilaku kesehatan yang buruk yang mungkin juga
berkontribusi untuk mereka berkembang menjadi diabetes, hal ini
termasuk diet yang kurang (umumnya tinggi lemak dan rendah serat),
kurang olah raga dan merokok lebih dari biasanya. Menurut Dixon dkk
kemiskinan, ketidakstabilan kondisi hidup dan pencapaian pendidikan
lebih rendah dari yang diharapkan, semua terkait dengan skizofrenia, dan
meningkatkan risiko obesitas dan hal lainnya yang merugikan kesehatan .
Lindenmeyer menambahkan faktor yang mempengaruhi individu dengan
skizofrenia dapat berkembang menjadi diabetes termasuk etnis, riwayat
disregulasi glukosa, dan pre-existing hipertensi.4
2.3. Stres Endokrinologi
Sistem endokrin stres memiliki dua komponen yang cukup luas
terhadap sentral anatomis interkoneksi. Akut respon terhadap stres, yang
simpatik-hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA). Cannon pada tahun 1932
mengusulkan konsep dari homoeostasis, dimana sistem tubuh diatur
untuk mempertahankan steady state. Pandangan seperti ini secara
signifikan telah mempengaruhi pengembangan integratif modern fisiologi.
Sumbu SAM memiliki peran penting dalam homoeostasis dan diatur pada
tingkat pontine oleh lokus coeruleus, inti noradrenergik yang menyediakan
sangat banyak jaringan simpul saraf yang mempengaruhi tingkat gairah
dan kewaspadaan. Sistem kontrol SAM reaksi akut terhadap stres dalam
apa yang digambarkan Cannon sebagai 'fight or flight' respon. Dia
menunjukkan bahwa tanpa saraf simpatik sistem binatang bisa bertahan
hidup dalam tanpa tekanan lingkungan, namun ketika mengalami stres,
binatang itu tidak bisa menjaga respon fisiologis dasar seperti mobilisasi
glukosa. Aktivasi sumbu SAM menghasilkan sekresi katekolamin
adrenalin dan noradrenalin dari medula adrenal, yang pada dasarnya
mengalami pembesaran dan sangat khusus pada ganglion simpatik.
Karena katekolamin mengatur tanggapan akut mereka memiliki half-lives
pendek (1-3 menit), dengan tinggi clearance metabolik rate dan degradasi
cepat oleh catechol O-methyltransferase, monoamine oxydase dan
oxyidase aldehida. 2
Adrenalin dan noradrenalin mengerahkan dampaknya melalui α
-dan β-adrenoceptors . Adrenalin yang paling ampuh pada β1-dan β
2-reseptor, dengan efek yang jauh lebih sedikit pada-2-reseptor, sedangkan
noradrenalin lebih kuat di α-reseptor. Dampak hiperglikemi terhadap
hormon diabetogenic. Adrenalin menghasilkan efek hiperglikemi dalam hal
itu kedua merangsang glukosa hepatik produksi dan juga membatasi
penggunaan glukosa. Efek hati sebagian besar dimediasi melalui stimulasi
β- adrenergik, meskipun stimulasi-adrenergik mungkin memiliki bagian
untuk beperan. Dampak adrenalin pada produksi glukosa bersifat
sementara dan berlangsung dalam beberapa menit. Kemampuan untuk
membatasi penggunaan glukosa terjadi terutama melalui β-reseptor.
Sebagai akibat dari hal ini berdampak pada penggunaan glukosa,
hiperadrenalisme berkelanjutan menghasilkan hiperglikemi berkelanjutan.2
Noradrenalin menekan aksi hiperglikemi ketika dirilis dari terminal
akson neuron simpatik pasca-ganglionik. Hati memiliki persarafan simpatik
yang penting, dan pada hewan pada saraf simpatik ini adalah rangsangan
elektrik sebagai penurunan kadar glikogen telah dilaporkan,
bersama-sama dengan peningkatan pelepasan glukosa di hati, mengakibatkan
hiperglikemia. Tidak ada bukti bahwa sistem yang terlibat dalam
pengaturan metabolisme karbohidrat di bawah keadaan normal , tetapi
ada secara signifikan pada situasi stres. Menariknya, Kjaer dkk pada
tahun 1995 melaporkan bahwa denervasi hati yang terjadi dengan
transplantasi tidak menyebabkan perubahan total dalam metabolisme
karbohidrat. Terutama dampak metabolik sumbu SAM mengendalikan
metabolisme lemak. Kelaparan yang berkepanjangan dan stres lainnya
secara signifikan meningkatkan lipolisis melalui respon SAM dimediasi
adiposa putih terutama persediaan pembuluh darah, di beberapa daerah
ada persarafan langsung terhadap sel adiposa. Secara keseluruhan,
jaringan adiposa coklat memiliki pembuluh darah besar pasokan dan
persarafan dari jaringan putih dan persentase yang lebih besar dari sel-sel
ini simpatik diinervasi, dengan efek metabolik dimediasi melalui β
-adrenoceptors. Stimulasi dari persarafan simpatik sel β-sel pankreas
menghasilkan penghambatan pelepasan insulin dimediasi oleh sebuah α
-adrenoceptors, mungkin dari subtipe α2. Ketika sistem SAM tetap
diaktifkan ada pengurangan efektivitas insulin untuk merangsang
penyerapan dan pemanfaatan glukosa. Dampak tersebut adalah
dihasilkan melalui β2-adrenoceptors dan ditiru oleh obat-obatan seperti
salbutamol dan terbutaline. Dosis tinggi dari β2 agonis merangsang
lipolisis jaringan adiposa dan menginduksi sekresi glukagon pankreas,
yang dapat menyebabkan peningkatan produksi keton.2
Gough dan Pelever pada tahun 2004 pada akhir tulisannya
menganjurkan bahwa penderita skizofrenik haeus dilakukan uji penyaring
untuk diabetes, psikiater bertanggung jawab untuk menurunkan risiko
diabetes pada penderita skizifrenik dengan menganjurkan pola hidup
sehat dan melakukan pemeriksaan bila ada gejala hiperglikemi,
pengobatan efektif tetap menjadi prioritas utama, tetapi pengelolaan risiko
diabetes yang baik akan menurunkan akibat diabetes pada kelompok ini.
Faktor diet yang buruk, kurangnya aktifitas fisik dan merokok
menyebabkan tingginya prevalansi sindroma metabolik atau
2.4. KERANGKA KONSEPTUAL
Pasien Skizofrenik Drug-Naive Episode Pertama
Kadar Gula Darah Puasa
Karakteristik Demografik :
‐ Usia
‐ Jenis Kelamin
‐ Pendidikan
‐ Pekerjaan
BAB 3. METODE PENELITIAN
3.1. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan deskriptif analitik dengan pendekatan
cross sectional.15
3.2. Tempat dan Waktu
Tempat Penelitian : Poliklinik dan Instalasi Gawat Darurat (IGD)
BLUD RS Jiwa Provinsi Sumatera Utara.
Waktu Penelitian : Terhitung sejak 1 Nopember 2010 sampai
dengan 31 Desember 2010.
3.3. Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi target : pasien skizofrenik episode pertama yang
datang berobat ke BLUD RS Jiwa Provinsi Sumatera Utara.
2. Populasi terjangkau : Pasien skizofrenik episode pertama yang
datang berobat periode kunjungan 1 Nopember 2010 sampai
dengan 31 Desember 2010.
3. Sampel penelitian : Pasien skizofrenia episode pertama yang
belum pernah mengkonsumsi obat anti psikotik.
4. Cara pengambilan sampel dengan non probability sampling
3.4. Estimasi Besar Sampel15
Perkiraan besar sampel pada penelitian ini berdasarkan rumus
dibawah ini :
n = Z2. S2
d2
n : Besar sampel
Z : Nilai baku normal berdasarkan nilai yang telah ditentukan
(1,96)
S : Simpang baku nilai rerata dalam populasi (186)
d : Tingkat ketepatan absolut yang didinginkan (0,05)
dengan menggunakan rumus diatas didapati jumlah sampel (n) =
53,16 atau digenapkan menjadi 60 orang.
3.5. Kriteria Inklusi dan Eksklusi
Kriteri inklusi :
1. Penderita skizofrenia yang sesuai dengan kriteria PPDGJI – III.
2. Pasien skizofrenia episode pertama yang belum penah
mengkonsumsi obat anti psikotik.
3. Usia 30 sampai dengan 45 tahun.
4. Bersedia sebagai subjek penelitian.
Kriteria Eksklusi :
2. Keadaan Hamil dan Menyusui
3.6. Persetujuan/Informed Consent
Semua subjek penelitian telah diminta persetujuan dari keluarga
setelah mendapatkan penjelasan yang terperinci dan jelas menyangkut
hal yang berhubungan dengan faktor risiko saat pengambilan sampel
darah.
3.7. Masalah Etika
Penelitian ini disetujui oleh Komite Etik penelitian dari Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara
3.8. Cara Kerja Penelitian
Seluruh pasien yang memenuhi kriteria inklusi mengisi persetujuan
secara tertulis mendapatkan penjelasan yang terperinci dan jelas untuk
ikut serta dalam penelitian . Dalam hal ini pihak keluarga diikutsertakan
dalam persetujuan.
Pasien dan kontrol diambil sampel darahnya sekitar pukul 08.00
sampai dengan pukul 09.00 pagi. Sebelum diambil sampel darahnya di
anjurkan untuk puasa terlebih dahulu selama 10 sampai 12 jam.
Selanjutnya sampel darah preiksa untuk di hitung kadar gula darah
puasanya.
3.9. Identifikasi Variabel
a. Variabel bebas : pasien skizofrenik episode pertama yang
belum mengkonsumsi obat anti psikotik dan karakteristik
demografik.
b. Variabel tergantung : Kadar gula darah puasa
3.10. Definisi Operasional
a. Pasien skizofrenik adalah pasien yang memenuhi kriteria
diagnostik Skizofrenia (F.20) berdasarkan PPDGJI III.
b. Umur adalah lamanya hidup sejak lahir yang dinyatakan dalam
satuan tahun.
c. Jenis kelamin adalah yang membedakan laki-laki dan
perempuan.
d. Tingkat pendidikan adalah jenjang pendidikan responden yang
telah diikuti atau sedang dijalani melalui pendidikan formal.
e. Pekerjaan adalah aktifitas responden sehari-hari yang dilakukan
untuk memenuhi kehidupan rumah tangga yang dapat
menghasilkan uang ataupun yang tidak menghasilkan uang.
f. Tempat tinggal adalah alamat responden berdomisili.
g. Hipoglikemi adalah kadar gula yang terdapat dalam darah
dengan rentang <6,1mmol/l (>110mg/dl).
h. Normoglikemi adalah kadar gula yang terdapat dalam darah
dengan rentang normal >6,1mmol/l (>110mg/dl) sampai <7,0
i. Hiperglikemi adalah kadar gula yang terdapat dalam darah
dengan rentang >7,0 mmol/l (>126mg/dl).
j. Berat badan dalam rentang normal yang diukur dari indeks
massa tubuh dalam rentang 18,50-24,99
Berat Badan (kg) BMI = --- Tingi badan (m)
3.11. Rencana Pengolahan dan analisa data
1. Data primer adalah data yang diperoleh melalui pemeriksaan
langsung pada sujek penelitian dan wawancara pada keluarga
setelah menandatangani surat perjanjian bersedia ikut dalam
penelitian.
2. Data sekunder meliputi data demografik pasien dan catatan
penyakit pasien yang diperoleh melalui buku status pasien.
3. Data yang diperoleh dari subjek penelitian dan keluarga
dimasukkan kedalam kelompok menurut jenisnya.
4. Data yang berhasil dikumpulkan diolah dan dianalisa dengan
menggunakan perangkat lunak Statisical for Social Sciences
BAB 4. HASIL PENELITIAN
Responden berjumlah 60 orang yang berobat ke BLUD RSJ
PROVSU adalah pasien skizofrenik episode pertama yang belum pernah
mengkonsumsi obat anti psikotik periode 1 Nopember 2010 sampai
dengan 31 Desember 2010.
Tabel 4.1 Distribusi Sampel berdasarkan karakteristik demografik
Demografik Penderita Jumlah %
Umur 31-35 21 35
36-40 24 40
41-45 15 25
Jenis kelamin Laki-laki 34 57
Perempuan 26 43
Pendidikan SD 8 14
SLTP 15 25
SLTA 31 51
PT 6 10
Pekerjaan Bekerja 22 37
Tidak Bekerja 38 63
Tempat tinggal Medan 32 53
Dari tabel 4.1 dapat diamati bahwa sampel yang paling banyak adalah
pada kelompok umur 36-40 tahun (40%), jenis kelamin laki-laki (57%),
tingkat pendidikan SLTA (51%), tidak bekerja (63%) dan bertempat tinggal
di Medan (53%).
Tabel 4.2 Distibusi sampel berdasarkan kadar gula darah puasa
Kadar gula darah puasa Jumlah %
Hipoglikemi 25 42
Normoglikemi 26 44
Hiperglikemi 9 14
Total 60 100
Dari tabel 4.2 dapat dilihat bahwa kadar gula darah puasa pasien
skizofrenik episode pertama yang belum pernah mengkonsumsi obat anti
psikotik paling banyak menunjukkan normoglikemi, yaitu sebanyak 26
Tabel 4.3 Hubungan antara kadar gula darah puasa terhadap
kelompok umur
Kelompok umur Kadar Gula Darah
p
Hipoglikemi Normoglikemi Hiperglikemi
N % N % N %
31-35 7 28 9 35 5 56
36-40 9 36 12 46 3 33
0,211
41-45 9 36 5 19 1 11
Jumlah 25 100 26 100 9 100
Dari tabel 4.3 dapat dilihat bahwa kadar gula darah puasa yang
hipoglikemi paling banyak pada kelompok umur 41-45 sebanyak 9 orang
(36%), umur 36-40 sebanyak 9 orang(36%) dan umur 31-35 sebanyak 7
orang (28%). Normoglikemi paling banyak pada kelompok umur 36-40
sebanyak 12 orang (46%), umur 31-35 sebanyak 9 orang(35%) dan umur
41-45 sebanyak 5 orang (19%). Hiperglikemi paling banyak pada
kelompok umur 31-35 sebanyak 5 orang (56%), umur 36-40 sebanyak 3
Dari uji statistik menggunakan Chi-squre test didapat hasil p=0.211
yang berarti nilai p>0.05, tidak ada perbedaan bermakna kadar gula darah
terhadap kelompok umur.
Tabel 4.4 Hubungan antara kadar gula darah puasa terhadap jenis
kelamin
Jenis Kelamin Kadar Gula Darah p
Hipoglikemi Normoglikemi Hiperglikemi
N % N % N %
Laki-laki 15 60 15 58 4 45
Perempuan 10 40 11 42 5 55 0,321
Jumlah 25 100 26 100 9 100
Dari tabel 4.4 dapat dilihat bahwa kadar gula darah puasa yang
hipoglikemi paling banyak pada laki-laki sebanyak 15 orang (60%) dan
perempuan sebanyak 10 orang (40%). Normoglikemi paling banyak pada
laki-laki sebanyak 15 orang (58%) dan perempuan 11 orang (42%).
Hiperglikemi pada perempuan sebanyak 5 orang(55%) dan laki-laki
sebanyak 4 orang (45%).
Dari uji statistik menggunakan Chi-squre test didapat hasil p=0.321
Tabel 4.5 Hubungan antara kadar gula darah puasa terhadap tingkat
pendidikan
Pendidikan Kadar Gula Darah p
Hipoglikemi Normoglikemi Hyperglycemia
N % N % N %
SD 8 32 7 27 3 33
SLTP 7 28 8 31 5 56
SLTA 4 16 7 27 0 0 0,036
PT 6 24 4 15 1 11
Jumlah 25 100 26 100 9 100
Dari tabel 4.5 dapat dilihat bahwa kadar gula darah puasa terhadap
tingkat pendidikan kadar gula darah puasa yang hipoglikemi paling banyak
pada SD sebanyak 8 orang (32%), SLTP sebanyak 7 orang (28%), PT
sebanyak 6 orang (24%) dan SLTA sebanyak 4 orang (16%).
Normoglikemi paling banyak pada SLTP sebanyak 8 orang ( 31%), SD
sebanyak 7 orang (27%), SLTA sebanyak 7 orang (27%) dan PT
sebanyak 4 orang (15%). Hiperglikemi paling banyak pada SLTP
sebanyak 5 orang (56%), SD sebanyak 3 orang (33%) dan PT sebanyak 1
Dari uji statistik menggunakan Chi-squre test didapat hasil p=0,036
yang berarti nilai p<0.05, terdapat perbedaan bermakna kadar gula darah
terhadap tingkat pendidikan.
Dalam penelitian yang dilakukan Dixon dkk kemiskinan,
ketidakstabilan kondisi hidup dan pencapaian pendidikan lebih rendah dari
yang diharapkan, semua terkait dengan skizofrenia, dan meningkatkan
risiko obesitas, diabetes dan hal lainnya yang merugikan kesehatan
Tabel 4.6 Hubungan antara kadar gula darah puasa terhadap status
pekerjaan
Pekerjaan Kadar Gula Darah p
Hipoglikemi Normoglikemi Hiperglikemi
N % N % N %
Bekerja 7 28 11 42 4 44
Tidak bekerja 18 72 15 58 5 56
0,332
Jumlah 25 100 26 100 9 100
Dari tabel 4.6 dapat dilihat bahwa kadar gula darah puasa yang
hipoglikemi paling banyak pada kelompok yang tidak bekerja sebanyak
paling banyak pada kelompok yang tidak bekerja sebayak 5 orang (56%)
dan yang bekerja sebanyak 4 orang (44%).
Dari uji statistik menggunakan Chi-squre test didapat hasil p=0,332
yang berarti nilai p>0.05, tidak terdapat perbedaan bermakna kadar gula
darah puasa terhadap status pekerjaan.
Tabel 4.7 Hubungan antara kadar gula darah puasa terhadap tempat
tinggal
Tempat tinggal Kadar Gula Darah p
Hipoglikemi Normoglikemi Hiperglikemi
N % N % N %
Medan 15 60 15 58 4 44
Luar Medan 10 40 11 42 5 56
0,067
Jumlah 25 100 26 100 9 100
Dari tabel 4.7 dapat dilihat bahwa kadar gula darah puasa yang
hipoglikemi paling banyak tinggal di Medan sebanyak 15 orang(60%) dan
diluar Medan sebanyak 10 orang (40%). Normoglikemi paling banyak
paling banyak tinggal di Medan sebanyak 15 orang (58%) dan diluar
diluar Medan sebanyak 5 orang (56%) dan di Medan sebanyak 4 orang
(44%).
Dari uji statistik menggunakan Chi-squre test didapat hasil p=0,067
yang berarti nilai p>0.05, tidak terdapat perbedaan bermakna kadar gula
BAB 5. PEMBAHASAN
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan
pendekatan cross sectional study.15 Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui bagaimana profil kadar gula darah puasa pasien skizofrenik
episode pertama yang belum mengkonsumsi obat anti psikotik di BLUD
RSJ PROVSU, dengan cara pengambilan sampel menggunakan non
probability sampling jenis consecutive sampling.15
Dari 60 pasien skizofrenik episode pertama yang belum
mengkonsumsi obat anti psikotik yang berobat ke poliklinik psikiatri dan
Instalasi Gawat Darurat BLUD RSJ PROVSU dalam periode 1 Nopember
2010 sampai dengan 31 Desember 2010, didapati kadar gula darah puasa
hipoglikemi 42%, normoglikemi 44% dan hiperglikemi 14%.
Berdasarkan kelompok umur dapat dilihat bahwa kadar gula darah
yang hipoglikemi paling banyak pada kelompok umur 41-45 sebanyak 9
orang (36%), umur 36-40 sebanyak 9 orang(36%) dan umur 31-35
sebanyak 7 orang (28%). Normoglikemi paling banyak pada kelompok
umur 36-40 sebanyak 12 orang (46%), umur 31-35 sebanyak 9
orang(35%) dan umur 41-45 sebanyak 5 orang (19%). Hiperglikemi paling
banyak pada kelompok umur 31-35 sebanyak 5 orang (56%), umur 36-40
sebanyak 3 orang (33%) dan umur 41-45 sebanyak 1 orang (11%). Tidak
terdapat perbedaan bermakna kadar gula darah puasa berdasarkan
Berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat bahwa kadar gula darah
yang hipoglikemi paling banyak pada laki-laki sebanyak 15 orang (60%)
dan perempuan sebanyak 10 orang (40%). Normoglikemi paling banyak
pada laki-laki sebanyak 15 orang (58%) dan perempuan 11 orang (42%).
Hiperglikemi pada perempuan sebanyak 5 orang(55%) dan laki-laki
sebanyak 4 orang (45%). Tidak terdapat perbedaan bermakna kadar gula
darah puasa berdasarkan jenis kelamin.
Berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat bahwa kadar dula
darah puasa yang hipoglikemi paling banyak pada SD sebanyak 8 orang
(32%), SLTP sebanyak 7 orang (28%), PT sebanyak 6 orang (24%) dan
SLTA sebanyak 4 orang (16%). Normoglikemi paling banyak pada SLTP
sebanyak 8 orang ( 31%), SD sebanyak 7 orang (27%), SLTA sebanyak 7
orang (27%) dan PT sebanyak 4 orang (15%). Hiperglikemi paling banyak
pada SLTP sebanyak 5 orang (56%), SD sebanyak 3 orang (33%) dan PT
sebanyak 1 orang (11%). Terdapat perbedaan bermakna kadar gula darah
puasa berdasarkan tingkat pendidikan.
Dalam penelitian yang dilakukan Dixon dan kawan-kawan
kemiskinan, ketidakstabilan kondisi hidup dan pencapaian pendidikan
lebih rendah dari yang diharapkan, semua terkait dengan skizofrenia, dan
meningkatkan risiko obesitas, diabetes dan hal lainnya yang merugikan
kesehatan
sebanyak 18 orang (72%), dan yang bekerja sebanyak 7 orang (28%).
Normoglikemi paling banyak pada kelompok yang tidak bekerja sebanyak
15 orang (58%) dan yang bekerja sebanyak 11 orang (42%). Hiperglikemi
yang paling banyak pada kelompok yang tidak bekerja sebayak 5 orang
(56%) dan yang bekerja sebanyak 4 orang (44%). Tidak terdapat
perbedaan bermakna kadar gula darah puasa berdasarkan pekerjaan.
Berdasarkan tempat tinggal dapat dilihat bahwa kadar gula darah
puasa yang hipoglikemi paling banyak tinggal di Medan sebanyak 15
orang(60%) dan diluar Medan sebanyak 10 orang (40%). Normoglikemi
paling banyak paling banyak tinggal di Medan sebanyak 15 orang (58%)
dan diluar Medan sebanyak 11 orang (42%). Hiperglikemi paling banyak
tinggal diluar Medan sebanyak 5 orang (56%) dan di Medan sebanyak
4orang (44%). Tidak terdapat perbedaan bermakna kadargula darah
BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Dari hasil penelitian terhadap 60 orang kadar gula darah puasa
pada pasien skizofrenik episode pertama yang belum mengkonsumsi obat
anti psikotik yang datang berobat ke BLUD RSJ PROVSU didapati paling
banyak kadar gula darah puasanya dalam keadaan normoglikemi
sebanyak 26 orang (44%). Terdapat perbedaan bermakna berdasarkan
tingkat pendidikan. Tidak terdapat perbedaan bermakna kadar gula darah
puasa berdasarkan kelompok umur, jenis kelamin pekerjaan dan tempat
tinggal.
Pada hasil penelitian ini penulis masih merasakan banyaknya
kekurangan yang ditemukan seperti tidak menghubungkan faktor masalah
kebiasaan perilaku kesehatan yang buruk, diet yang buruk, kurangnya
olah raga, kebiasaan merokok seperti yang pernah diteliti oleh Brown dkk.
Faktor etnis seperti yang dituliskan Lindenmeyer, faktor genetik seperti
yang dituliskan Dynes dkk, Mukherjee dkk, Cheta dkk, Lamberti dkk,
maupun Shiloah dkk. Kemudian faktor kemiskinan seperti yang dituliskan
Dixon dkk. Hal tersebut terjadi karena kurang mendalamnya wawancara
yang dilakukan penulis terhadap responden.
6.2. Saran
dapat membantu klinisi dalam memberikan penatalaksanaan pada pasien
skizofrenik. Perlunya dilakukan pemeriksaan kadar gula darah puasa
kepada pasien skizofrenia yang belum mengkonsumsi obat anti psikotik
yang datang berobat ke BLUD RSJ PROVSU sebagai skrining pertama
untuk mengurangi bekembangnya Diabetes Mellitus tipe 2, mengigat
banyaknya penderita skizofrenik walaupun belum mengkonsumsi obat anti
psikotik tetapi mengalami hiperglikemi sebanyak 9 orang (14%).
Perlu juga dilakukan penelitian yang lebih luas dan subjek
penelitian yang lebih besar untuk menjawab hubungan kadar gula darah
puasa dengan dan kebijakan pemberian obat-obatan yang akan diberikan
terutama pada pasien skizofrenik episode pertama yang belum pernah
BAB 7. RINGKASAN
Skizofrenia adalah masalah kesehatan umum di seluruh dunia yang
memerlukan banyak biaya personal dan ekonomi. Skizofrenia menyerang
kurang dari 1% populasi dunia
Dampak psikosis terhadap toleransi glukosa pada pasien
drug-naive dengan skizofrenia episode pertama telah dilaporkan oleh Ryan dkk
padatahun 2003, yang membandingkan 26 pasien dengan skizofrenia dan
sejumlah peserta kontrol yang sama untuk usia dan jenis kelamin.
Tujuan Umum : Untuk mengetahui kadar gula darah pada pasien
skizofrenik episode pertama yang belum mengkonsumsi obat anti psikotik.
Tujuan khusus penelitian ini adalah Untuk mendapatkan informasi tentang
kadar gula darah puasa pada pasien skizofrenik episode pertama yang
belum mengkonsumsi obat anti psikotik. Tujuan umum penelitian ini
adalah untuk mengutahui hubungan kadar gula darah puasa dengan
karakteristik demografik pada pasien skizofrenik episode pertama yang
belum mengkonsumsi obat anti psikotik. Penelitian ini merupakan
deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan
di BLUD Rumah Sakit Jiwa Provinsi Sumatera Utara periode 1 Nopember
2010 sampai dengan 31 Desember 2010. Sampel penelitian adalah
pasien skizofrenik episode pertama. Pemilihan sampel dengan cara non
eksklusi serta telah mendapat penjelasan terperinci dalam penelitian.
Selanjutnya pasien diambil sampel darahnya sekitar pukul 08.00 sampai
dengan pukul 09.00 pagi. Sebelum diambil sampel darahnya di anjurkan
untuk puasa terlebih dahulu selama 10 sampai 12 jam. Selanjutnya
sampel darahnya diperiksakan dilaboratorium untuk dihitung kadar gula
DAFTAR RUJUKAN
1. Saddock BJ, Saddock VA. Dalam Kaplan & Saddock’s Synopsys of
Psychiatry Behavioral Science/Clinical Psychiatry. Edisi
Kesepuluh. Philadelphia: Lippincott William& Wilkins: 2007.
h.467-97.
2. Dinan TG. Stress and The Genesis of Diabetes Mellitus in
Schizophrenia. British Journal of Psychiatry 2004 ; 184 (suppl.47),
s72-s75.
3. Thakore JH. Metabolic Disturbance in First-episode Schizophrenia.
British Journal of Psychiatry 2004 ; 184 (suppl.47), s76-s79.
4. Holt R, Bushe C. Prevalence of Diabetes and Impaired Glucose
Tolerance in Patients with Schizophrenia. British Journal of
Psychiatry 2004 ; 184 (suppl.47), s67-s71.
5. Meltzer HY, Fateni SH. Schizophrenia. Dalam: Elbert MH, Loosen
PT, Nurcombe B. eds. Current Diagnosis & Treatment In
Psychiatry. New York: Lange Medical Books/Mc Graw-Hill; 2000. h.
261-69.
6. Buchanan RW. Carpenter TW. Concept of Scizophrenia. Dalam:
Saddock BJ, Saddock VA. Comprehensive Textbook of Psychiatry.
Vol 1. Edisi Kedelapan Philadelphia: Lippincott William& Wilkins:
7. Gelder M, Harrison P Cowen P. Shorter Oxford Textbook of
Psychiatry. Edisi kelima, New York; Oxford University Press, 2006.
h. 268-306.
8. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman
Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III
(PPDGJ III) . Jakarta, 1993: 105-109.
9. Saddock BJ, Saddock VA. Dalam Kaplan & Saddock’s Synopsys of
Psychiatry Behavioral Science/Clinical Psychiatry. Edisi
Kesembilan. Philadelphia: Lippincott William& Wilkins: 2007.
h.467-97
10. Saddock BJ, Saddock VA. Schizophrenia. Dalam : Kaplan &
Saddock Pocket Handbook of Clinical Psychiatry. Edisi keempat.
Philadelphia: Lippincott William& Wilkins: 2005. h.117-31.
11. Joel E.D. Michael I, Francis JK, Murray B.S. Stress and Psychiatry.
Dalam Kaplan & Saddock Comprehensive Textbook of Psychiatry
Volume II, Edisi kedelapan. Philadelphia: Lippincott William&
Wilkins: 2005. h.2180-95.
12. Ryan MCM, Collin P, Thakore JH. Impaired Fasting Glucose
Tolerance in First-episode, Drug-Naïve Patients with Scizophrenia.
Am J Psyciatry 2003; 160:284-289.
13. Suastika K. Obat anti Psikotik dan Sindrom Metabolik. Udayana
University Press 2008
14. Peet M 2004. Diet, Diabetes and Schizophrenia. British Journal of
15. Sastroasmoro S, Ismael S. Dasar-dasar Metodologi penelitian
Lampiran 1:
1. Personil penelitian
Nama : dr. Muhammad Yusuf
Jabatan : Peserta PPDS-I Ilmu Kedokteran Jiwa
FK-USU/ RSHAM
2. Biaya Penelitian
1. Pemeriksaan Laboratorium : Rp. 1.200.000
2. Akomodasi dan transportasi : Rp. 3.000.000
3. Penyusunan dan penggandaan hasil : Rp. 3.000.000
4. Seminar hasil penelitian : Rp. 2.000.000
Jumlah : Rp. 9.200.000
3. Jadwal Penelitian
Bulan Nopember Desember Januari
Minggu 1 2 3 4 1 2 3 4 1
Persiapan
Persiapan Data
Analisa Data
Seminar Hasil
Lampiran 2:
LEMBAR PENJELASAN KEPADA KELUARGA
Bapak/Ibu Sdr/i Yth:
Saat ini saya akan meneliti tentang kadar gula darah pada pasien
skizofrenia episode pertama. Perlu diketahui bahwa ada dugaan bahwa
terjadi peningkatan kadar gula darah puasa pada pasien skizofrenia
episode pertama yang belum mengkonsumsi obat anti psikotik. Pada
penelitian ini saya akan melakukan pengambilan contoh darah dari
Bapak/Ibu Sdr/i yaitu dengan tahapan sebagai berikut:
- Darah akan diambil pada pembuluh darah di bagian lengan atau
tangan.
- Dilakukan oleh tenaga yang ahli yang sudah terampil dalam
mengambil contoh darah.
- Daerah lengan yang akan diambil darahnya terlebih dahulu
dibersihkan dengan bahan anti kuman agar tidak terjadi infeksi
kuman.
- Dengan menggunakan jarum suntik darah akan diambil sebanyak 1
cc/ml.
Partisipasi pasien dalam hal ini bersifat sukareladan anpa paksaan
maupun tekanan dari pihak manapun. Seandainya Bapak/Ibu Sdr/I
menolak untuk berpartisipasi dalam hal penelitian ini, maka tidak akan
kehilangan hak sebagai pasien
Setelah memahami berbagai hal yang menyangkut penelitian ini,
diharapkan Bapak/Ibu Sdr/i yang terpilih sebagai sukarelawan dalam
penelitian ini, dapat mengisi lembaran persetujuan turut serta dalam
penelitian yang telah disiapkan.
Jika selama penelitian ini terdapat hal-hal yang kurang jelas, maka
Bapak/Ibu Sdr/i dapat menghubungi saya : dr. Muhammad Yusuf,
Departemen Psikiatri, telp 061-76270684 atau 08126071291. Terimakasih
atas perhatiannya.
Medan, 2010
Hormat Saya
Lampiran 3
SURAT PERSETUJUAN IKUT DALAM PENELITIAN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama : ……….
Umur : ………..
Jenis kelamin : ………..
Alamat : ………..
Hubungan dengan pasien : ………..
Setelah mendapat keterangan secara terperinci dan jelas mengenai
penelitian “Kadar gula darah puasa pada penderita skizofrenik episode
pertama yang belum mengkonsumsi obat antipsikotik” dan setelah
mendapat kesempatan tanya jawab segala sesuatu yang berhubungan
dengan penelitian tersebut maka saya secara sukarela dan tanpa paksaan
menyatakan bersedia diikutkan dalam penelitian ini.
Medan,………2010
Lampiran 4
DATA SAMPEL PENELITIAN
Nomor : Tanggal :
No. Medical Record :
A. Data Demografik
1. Nama :
2. Umur :
3. Jenis Kelamin :
4. Pekerjaan :
5. Pendidikan :
6. Alamat :
7. Berat badan :
B. Diagnosis : Skizofrenia
RIWAYAT HIDUP PENELITI
Data Pribadi
Nama : Muhammad Yusuf
Jenis kelamin : Laki-laki
Tempat dan tanggal lahir : Medan, 12 Juni 1973
Agama : Islam
Alamat : Jl. Brigjend Zein Hamid No. 7 DD
Titi Kuning - Medan
Telepon : 061-76270684
Riwayat Pendidikan
Tahun 1980-1986 : SD Alwashliyah Medan
Tahun 1986-1989 : SMP Negeri 4 Medan
Tahun 1989-1992 : SMA Kesatria Medan
Tahun 1992-2002 : Pendidikan Dokter Umum di Fakultas
Kedokteran Universitas Methodist Indonesia
Tahun 2008 - sekarang : Pendidikan Spesialis di bidang Ilmu
Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara
Tahun 2006- Sekarang : Dokter PNS di BLUD RSJ Provinsi
Sumatera Utara.