• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Kadar HbA1c Dengan Kadar Glukosa Darah Puasa Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II di Klinik Insani

N/A
N/A
Siti Nurjanah

Academic year: 2024

Membagikan "Hubungan Kadar HbA1c Dengan Kadar Glukosa Darah Puasa Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II di Klinik Insani"

Copied!
54
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN HbA1c DENGAN GLUKOSA DARAH PUASA PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE II DI KLINIK INSANI

PROPOSAL TUGAS AKHIR

OLEH:

SITI NURJANAH 062011008

PROGRAM STUDI D-IV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS FAKULTAS ILMU KESEHATAN DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS BINAWAN JAKARTA

2024

(2)

HUBUNGAN HbA1c DENGAN GLUKOSA DARAH PUASA PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE II DI KLINIK INSANI

PROPOSAL TUGAS AKHIR

OLEH:

SITI NURJANAH 062011

008

PROGRAM STUDI D-IV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS FAKULTAS ILMU KESEHATAN DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS BINAWAN JAKARTA

2024

(3)

HALAMAN PERSETUJUAN

(4)

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya serta shalawat dan salam tidak lupa penulis sampaikan kepada junjungan nabi besar Muhammad SAW, beserta para sahabat dan para pengikut beliau sampai akhir zaman, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir dengan judul Hubungan HbA1c Dengan Glukosa Darah Puasa Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe Ii Di Klinik Insani.

Penulisan tugas akhir ini dilakukan untuk memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Terapan Kesehatan (S.Tr.Kes) pada program DIV-Teknologi Laboratorium Medis, Fakultas Ilmu Kesehatan dan Teknologi Universitas Binawan.

Selama proses penyusunan laporan proposal ini, Alhamdulillah peneliti bannyak mendapatkan bantuan serta dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini peneliti mengucapkan terimakasih kepada:

1. Rektor Univeristas Binawan : Prof. Henny Suzana Medini, S.Kp., M.Ng., PhD 2. Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan dan Teknologi Universitas Binawan : Dr. Mia

Srimiati, S.Gz., M.Gz., M. Si

3. Kepala Prodi Program Studi Teknologi Laboratorium Medis : Nicolaus Sri Widodo, S.Pd., M.Kes.

4. Dosen Pembimbing 1 : Aturut Yansen, AMAK, S.KM, M.Kes yang telah meluangkan waktu untuk membimbing dan mengarahkan penyusunan proposal tugas akhir ini hingga selesai.

5. Dosen Pembimbing 2 : Nicolaus Sri Widodo, A.Pd., M.Kes yang telah meluangkan waktu untuk membimbing dan mengarahkan penyusunan proposal tugas akhir ini hingga selesai.

6. Suami tercinta dan tersayang yang senantiasa menyemangati, memberikan motivasi, mendoakan serta membimbing saya dan juga selalu mengingatkan saya untuk selalu bersyukur dan berdoa kepada Allah. Semoga Allah selalu senantiasa memberikan sukacita dan damai untuk kita semua.

7. Kepada diri sendiri yang telah berjuang sampai di titik ini menyelesaikan tugas akhir.

(5)

8. Sahabat terdekat dan seluruh teman-teman seperjuangan yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, yang telah membantu dalam penyelesaian laporan proposal ini sehingga dapat diselesaikan dengan tepat waktu.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan tugas akhir ini masih jauh dari kata sempurna.

Oleh karena itu penulis mengucapkan mohon maaf atas kekurangannya, penulis menerima kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca. Semoga tugas akhir ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu dan pengetahuan dalam bidang Teknologi Laboratorium Medis.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Jakarta, 07 Maret 2024

Siti Nurjanah NIM. 062011008

(6)

DAFTAR ISI

HALAMAN PERSETUJUAN ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

BAB 1... 11

1.1 LATAR BELAKANG... 11

1.2 IDENTIFIKASI MASALAH ... 13

1.3 PEMBATASAN MASALAH ... 13

1.4 RUMUSAN MASALAH ... 13

1.5 TUJUAN PENELITIAN ... 14

1.6 MANFAAT PENELITIAN ... 14

BAB II ... 15

1.7 DIABETES MELITUS ... 15

2.1.1 Patofisiologi ... 16

2.1.2 Klasifikasi Diabetes melitus ... 16

2.1.3 Gejala khas Diabetes melitus ... 17

2.1.4 Komplikasi Diabetes melitus ... 17

2.1.5 Penatalaksanaan Diabetes Melitus ... 18

2.2 GLUKOSA DARAH... 19

2.3 HEMOGLOBIN TERGLIKASI HbA1c) ... 21

2.3.1 Sejarah HbA1c ... 22

2.3.3 Kreteria pengendalian Diabetes Melitus Berdasarkan Nilai HbA1c ... 23

2.4 PENELITIAN RELEVAN ... 23

2.5 KERANGKA TEORI ... 25

BAB III... 26

3.1 DESAIN PENELITIAN ... 26

(7)

3.2 KERANGAKA KONSEP DAN VARIABEL PENELITIAN ... 26

3.2.1. Kerangka konsep ... 26

3.2.2. Variabel penelitian ... 26

3.3 DEFINISI OPERASIONAL ... 28

3.4 POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN ... 29

3.4.1 Populasi ... 29

3.4.2 Sampel Penelitian ... 29

3.5 TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN ... 29

3.5.1. Tempat Penelitian ... 29

3.5.2. Waktu Penelitian ... 29

3.6 ALUR PENELITIAN ... 30

3.7 TEKNIK PENGUMPULAN DATA ... 31

3.8 Teknik Analisis Data ... 35

BAB IV ... 36

4.1 DISKRIPSI TEMPAT PENELITIAN ... 36

4.2 HASIL ... 37

4.2.1 Analisis univariat... 37

4.2.2 Analisis bivariat... 37

4.3 PEMBAHASAN ... 38

BAB V ... 39

5.1 KESIMPULAN ... 39

5.2 SARAN ... 39

DAFTAR LAMPIRAN ... 42

(8)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kerangka teori ... 25 Gambar 3.2 Alur penelitian ... 30 Gambar 4.4 Diskripsi tempat penelitian ... 36

(9)

DAFTAR TABEL

Tabel 2. 1 Kadar Glukosa darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring

diagnosis DM ... 18

Tabel 2. 2 Kreteria Pengendalian DM dan HbA1c ... 23

Table 3.1 Definisi operasional ... 28

Table 3.2 Waktu penelitian ... 29

(10)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat Izin Penelitian Dari Universitas Binawan ... 42

Lampiran 2. Surat Jawaban Dari Tempat Penelitian ... 43

Lampiran 3. Form Rekapitulasi Data Penelitian ... 44

Lampiran 4. Kode Etik ... 45

Lampiran 5. Data Penelitian ... 46

Lampiran 6. Kartu Bimbinagan ... 48

Lampiran 7. Analisis Statistik ... 49

Lampiran 8. Curriculum Vintae ... 54

(11)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit kronis yang paling umum ditandai dengan gangguan metabolisme yang diawali dengan peningkatan kadar gula darah yang tinggi melebihi batas normal. Seperti penyakit lain yang tidak menular, diabetes melitus memiliki faktor pencetus yang berbeda seperti masalah berat badan, kurang berolahraga, dislipemia, hipertensi, dan diet yang tidak sehat.

Diabetes melitus penyakit yang mempunyai resiko komplikasi dan menyebabkan kematian karena tubuh tidak dapat menghasilkan atau menggunakan insulin yang cukup kadar glukosa dalam darah tinggi. Pankreas menghasilkan hormon insulin yang bertanggung jawab untuk menjaga kadar gula darah. Insulin memasukkan gula ke dalam sel sehingga mereka dapat menghasilkan energi atau menyimpannya sebagai cadangan energi1.

Di seluruh dunia terdapat 463 juta orang yang menderita diabetes melitus di kisaran usia 20 hingga 70 tahun pada tahun 2019 atau 9,3% dari total populasi.

Organisasi International Diabetes Federation (IDF) memperkirakan angka tersebut akan terus meningkat hingga mencapai 587 pada tahun 2030 dan 700 juta pada tahun 2045. Saat ini, wilayah ASEAN menempati peringkat ke-3 dengan 11% orang yang menderita diabetes dan indonesia adalah negara yang paling bertanggung jawab atas peningkatan kasus diabetes di Asia Tenggara2.

Pasien DM dapat menunjukkan gejala akut atau kronik. Gejala akut termasuk peningkatan jumlah urin (poliura), rasa lapar yang meningkat (polifagi), rasa haus yang meningkat (polidipsi), dan kenaikan berat badan. Apabila gejala ini tidak ditangani dengan segera akan muncul gejala lain seperti mudah lelah, mulai berkurangnya nafsu makan, dan penurunan berat badan yang mencapai 5–10 kg dalam waktu 2-4 minggu. Hasil pemeriksaan Glukosa darah ssewaktu (GDS) lebih dari 200 mg/dl dan pemeriksaan Glukosa darah puasa (GDP) lebih dari 126 mg/dl dapat digunakan sebagai pedoman untuk diagnosis DM. Pasien tanpa gejala khas DM, hasil gula darah abnormal satu kali saja belum cukup untuk menegakkan diagnosis DM.

(12)

Studi lebih lanjut yaitu GDP lebih dari 126 mg/dl, GDS lebih dari 200 mg/dl, dan pemeriksaan Glukosa darah sewaktu 3.

Glukosa plasma, baik Glukosa sewaktu atau Glukosa puasa setelah makan, dapat digunakan untuk mendiagnosis Diabetes melitus. Saat ini, Komite Eksekutif Internasional memutuskan bahwa pemeriksaan HbA1c dapat menjadi pilihan ketiga untuk mendiagnosa diabetes. Karena ketiga untuk mendignosa diabetes pemeriksaan diperlukan jumlah glukosa dan protein dalam aliran darah secara alami menempel pada hemoglobin saat tubuh memproses gula yang merupakan dasar dari pemeriksaan ini. Mengukur hemoglobin terglikasi atau Hb1Ac, dapat menunjukkan kadar glukosa darah rata-rata selama 8–12 minggu sebelum pembaharuan4.

Pemeriksaan HbA1c perlu dilakukan untuk mengetahui kadar glukosa darah rata-rata selama satu hingga tiga bulan sebelumnya. Pasien dapat menilai pengendalian diabetes mereka untuk menghindari komplikasi. Selain itu, setelah dua sampai tiga bulan terakhir pemeriksaan HbA1c dilakukan untuk mengevaluasi efektivitas perubahan terapi. Sangat penting untuk memeriksa kadar HbA1c karena dapat menunjukkan rata-rata konsentrasi glukosa darah selama tiga bulan, yang menunjukkan pengendalian diabetes yang lebih baik daripada glukosa darah. Kadar HbA1c akan meningkat pada individu yang memiliki pengendalian diabetes yang buruk. Untuk mencegah komplikasi jangka panjang pengendalian DM yang baik diperlukan. Sasaran pengendalian DM dengan kreteria yang baik termasuk glukosa darah puasa 80–144 mg/dl, HbA1c kurang dari 6,5 persen, kolestrol total kurang dari 200 mg/dl, trigliserid kurang dari 150 mg/dl, dan indeks5.

Penelitiaan yang dilakukan oleh Yulizabirman pada 2021 terdapat hubungan antara kadar gula darah dengan kadar HbA1c pasien Diabetes melitus dengan hasil (p=0,001) Jenis kelamin terbanyak adalah perempuan, usia terbanyak adalah 56-65 tahun, tingkat pendidikan terbanyak adalah SMA, kadar gula darah terbanyak adalah kategori tinggi, kadar HbA1c terbanyak adalah kategori tinggi, dan terdapat hubungan antara kadar gula darah dengan kadar HbA1c pasien Diabetes melitus Tipe II di RSI Siti Rahmah Padang6. Menurut Supono pada tahun 2022 terdapat hubungan antara kadar HBA1c terhadap kadar Gula darah puasa(GDP) dan Gula darah sewaktu (GDS) dengan nilai p-Value 0,01<0,05. Kenaikan kadar HBA1c akan mempengaruhi

(13)

kadar Glukosa darah puasa dan sewaktu. HbA1c dapat dikovensi menggunakan kadar glukosa plasma. Didapatkan korelasi positif antara kadar GDP dengan HbA1c.

Semakin tinggi kadar GDP semakin tinggi pula HbA1c7. Menurut Rahayu tahun 2020 terdapat hubungan yang signifikan antara kadar GDP dengan HBA1c. Hasil HBA1c (>6,5%) dapat digunakan untuk diagnosis DM, sedangkan kadar GDP hanya untuk mengetahui penderita diabetes sudah merubah pola hidup atau tidak dan didapat wanita lebih mudah merubah pola hidup dari pada pria, dikarenakan hasil GDP (<125 mg/dl) sebesar 11,8% lebih tinggi daripada hasil HBA1c (<6,5%) sebesar 5,9%8.

Klinik insani adalah perusahaan pelayanan kesehatan dengan konsep islami yang kompetitif dan fokus memberikan kualitas pelayanan terbaik kepada seluruh masyratakat. Klinik insani merupakan klinik terakreditasi paripurna dan yang memiliki kapitasi pasien BPJS terbanyak sekabupaten bogor yang berkonsentrasi dalam pelayanan kesehatan peserta BPJS. Berdasarkan urian latar belakang yang ada peneliti melakukan penelitian ”Hubungan HbA1c dengan Glukosa darah puasa Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II Klinik insani”.

1.2 IDENTIFIKASI MASALAH

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka diambil kesimpulan masalah dari penelitian ini :

1. Terjadinya peningkatan penderita DM di Indonesia.

2. Diabetes melitus penyakit yang mempunyai resiko komplikasi dan menyebabkan kematian.

3. Gula darah abnormal tidak cukup untuk menegakkan diagnosis DM.

4. Diperlukan pemeriksaan HbA1c untuk mengetahui nilai gula darah 3 terakhir tetapi banyak masyarakat yang belum mengetahui pemeriksaan HbA1c.

1.3 PEMBATASAN MASALAH

Penelitian ini dibatasi pada pemeriksaan HbA1c dan glukosa darah puasa pada pasien penderita Diabetes melitus tipe II di Klinik insani.

1.4 RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, yang menjadi rumusan masalah adalah sebagai berikut :

Bagaimana hubungan HbA1c dengan glukosa darah puasa pada penderita Diabetes melitus tipe II di Klinik insani?

(14)

1.5 TUJUAN PENELITIAN 1.5.1 Tujuan umum

Mengetahui hubungan antara HbA1c dengan glukosa darah puasa pada penderita Diabetes melitus tipe II di Klinik insani.

1.5.2 Tujuan khusus

a. Untuk mengetahui kadar HbA1c pada penderita Diabetes melitus tipe II di klinik insani.

b. Untuk mengetahui kadar glukosa darah puasa pada penderita Diabetes melitus tipe II di klinik insani.

1.6 MANFAAT PENELITIAN

1.6.1 Manfaat bagi laboratorium

Menambah pengetahuan dan keterampilan melakukan pemeriksaan HbA1c dan glukosa darah puasa.

1.6.2 Manfaat bagi penderita diabetes melitus

Menambah pengetahauan pentingnya mengendalikan kadar HbA1c dan glukosa darah puasa dengan pemeriksaan laboratorium teratur.

1.6.3 Manfaat bagi akademis

Manfaat penelitian bagi akademis adalah dapat menjadi sumber rujukan, sumber informasi dan bahan acuan untuk penelitian selanjutnya, sehingga dapat dikembangkan lebih lanjut pada materi-materi yang lain untuk meningkatkan mutu pembelajaran.

(15)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DIABETES MELITUS

Dalam istilah kedokteran Diabetes melitus adalah penyakit gula atau kencing manis. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani "Diabetes" yang berarti mengalir terus, dan "melitus" yang berarti madu atau manis. Oleh karena itu menunjukkan keadaan tubuh penderita yang memiliki cairan manis yang mengalir terus-menerus. hiperglikemia dan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang disertai dengan kekurangan sekresi insulin secara total atau sebagian. Penderita diabetes melitus menunjukkan gejala seperti polidipsia, poliuria, polifagia, penurunan berat badan dan kesemutan.

Diabetes melitus (DM) adalah penyakit jangka panjang yang disebabkan oleh ketidakmampuan pankreas atau tubuh memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup, dan insulin yang dihasilkan tidak digunakan secara efektif. Hormon yang mengatur gula darah adalah insulin. Diabetes yang tidak terkontrol dapat menyebabkan hiperglikemia, atau gula darah yang meningkat, yang pada akhirnya merusak banyak sistem tubuh, terutama saraf dan pembuluh darah. Hiperglikemia kronis yang disertai berbagai gangguan metabolisme akibat gangguan hormonal menyebabkan berbagai komplikasi kronis pada ginjal, mata, dan pembuluh darah. Saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan DM, namun gejalanya dapat dicegah dengan mengurangi gejalanya9.

Seseorang dianggap menderita diabetes jika kadar gula darahnya di atas 126 mg/dL saat puasa dan di atas 200 mg/dL saat tes menurut kriteria diagnostik Perkeni. Setelah makan atau minum, kadar gula darah meningkat dan kembali normal dalam dua jam. Ini disebabkan oleh dorongan pankreas untuk memproduksi insulin yang mencegah peningkatan kadar gula darah lebih lanjut dan menyebabkan penurunan kadar gula darah secara bertahap.

Penderita DM dapat menunjukkan gejala akut maupun kronis. Gejala akut

(16)

termasuk peningkatan jumlah urin (poliuria), rasa lapar (polifagia), rasa haus (polidipsia) dan penambahan berat badan. Jika gejala tersebut tidak segera ditangani maka akan muncul gejala lain seperti kelelahan, penurunan nafsu makan, dan penurunan berat badan yang mencapai 5–10 kg dalam waktu 2-4 minggu. Jika insulin mulai berkurang dan gula darah mencapai lebih dari 500 mg/dl, maka akan timbul rasa mual dan beresiko mengalami koma diabetik.

Koma diabetik adalah koma yang terjadi pada pasien DM karena kadar gula darah mereka terlalu tinggi (melebihi 600 mg/dl)10.

2.1.1 Patofisiologi

Dalam patofisiologi Diabetes melitus tipe II terdapat beberapa keadaan yang berperan yaitu, resistensi insulin, suatu kondisi di mana sel-sel sasaran insulin gagal atau tidak dapat merespon insulin secara normal, adalah penyebab utama diabetes mellitus tipe II, bukan kekurangan sekresi insulin. Resistensi banyak terjadi akibat dari obesitas, kurangnya aktivitas fisik, dan penuaan. Sel B menunjukkan kegagalan langkah pertama sekresi insulin pada tahap awal diabetes tipe 2, yang berarti sekresi insulin tidak dapat mengkompensasi resistensi insulin. Jika sel B pankreas tidak ditangani dengan baik, sel B pankreas lambat laun akan rusak sering menyebabkan defisiensi insulin, sehingga pasien memerlukan insulin eksogen. Penderita diabetes tipe 2 biasanya memiliki dua faktor berikut: resistensi insulin dan defisiensi insulin11

2.1.2 Klasifikasi Diabetes melitus

WHO telah menetapkan bahawa ada beberapa tipe diataranya:

1. Diabetes tipe 1 (Diabetes melitus yang bergantung pada insulin, IDDM); disebabkan oleh kekurangan insulin yang disebabkan oleh kerusakan autoimun sel B pankreas.

2. Diabetes tipe 2 (Diabetes melitus tidak tergantung insulin, NIDDM);

disebabkan oleh resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin.

Penderita penyakit ini biasanya berusia 40.

3. Diabetes melitus gestasional (Diabetes melitus yang terjadi selama

(17)

kehamilan); diabetes ini biasanya muncul selama masa kehamilan, menyebabkan hiperglikemia,dan memerlukan pengobatan tambahan.

4. Diabetes melitus tipe lainnya

Diabetes melitus tipe ini adalah penderita yang mengalami diabetes dideritanya, misalnya penderita mengidap penyakit pankreas sehingga fungsi organ tersebut terganggu dan tidak mampu menghasilkan hormon insulin akibatknya kadar gula darahnya meningkat3.

2.1.3 Gejala khas Diabetes melitus

Terdapat beberapa keluhan yang sangat dikenal atau dianggap keluhan yang khas yaitu :

a. Buang air kecil atau kencing berlebihan (poliuria): Gula darah tinggi menyebabkan sering buang air kecil dalam jumlah banyak.

b. Banyak minum (polidipsia): pasien banyak minum (sering haus) untuk mengimbangi jumlah urin.

c. Banyak makan (polifagia): kekurangan glukosa menyebabkan keinginan untuk makan banyak.

d. Penurunan berat badan yang cepat: Karena insulin tidak cukup untuk mengubah gula menjadi energi, tubuh menggunakan lemak dan protein, sehingga mengakibatkan penurunan berat badan12.

2.1.4 Komplikasi Diabetes melitus

Diabetes yang tidak terkontrol dengan baik akan menimbulkan komplikasi akut dan kronis. Menurut PERKENI komplikasi DM dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu:

a. Komplikasi akut

• Hipoglikemia, adalah kadar glukosa darah seseorang di bawahnilai normal (< 50 mg/dl). Hipoglikemia lebih sering terjadi pada penderita DM tipe 1 yang dapat dialami 1-2 kali per minggu, Kadar gula darah yang terlalu rendah menyebabkan sel-sel otak tidak

(18)

mendapat pasokan energi sehingga tidak berfungsi bahkan dapat mengalami kerusakan.

• Hiperglikemia, hiperglikemia adalah apabila kadar gula darah meningkat secara tiba-tiba, dapat berkembang menjadi keadaan metabolisme yang berbahaya, antara lain ketoasidosis diabetik, Koma Hiperosmoler Non Ketotik (KHNK) dan kemolakto asidosis.

b. Komplikasi Kronis

• Komplikasi makrovaskuler, komplikasi makrovaskuler yang umum berkembang pada penderita DM adalah trombosit otak (pembekuan darah pada sebagian otak), mengalami penyakit jantung koroner (PJK), gagal jantung kongetif, dan stroke.

• Komplikasi mikrovaskuler, komplikasi mikrovaskuler terutama terjadi pada penderita DM tipe 1 seperti nefropati, diabetik retinopati (kebutaan), neuropati, dan amputasi13.

2.1.5 Penatalaksanaan Diabetes Melitus

Tujuan utama pengobatan diabetes adalah mencoba menormalkan kerja insulin dan gula darah untuk mengurangi komplikasi vaskular dan neuropati. Tujuan pengobatan semua jenis diabetes adalah mencapai gula darah normal. Ada 5 bagian dalam penatalaksanaan penyakit diabetes yaitu : Diet, Latihan, pola makan, olah raga, pemantauan, pengobatan (jika diperlukan) dan edukasi14.

Tabel 2. 1 Kadar Glukosa darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring diagnosis DM

Bukan Dm

Belum pasti DM (mg/dL)

DM (mg/dL) Kadar Glukosa Sewaktu

Plasma Vena <100 100-199 ≤200

Darah Kapiler <90 90-199 ≥200

Bukan Dm

Belum pasti DM (mg/dL)

DM (mg/dL) Kadar Glukosa Puasa

Plasma Vena <100 100-126 ≤126

(19)

Darah Kapiler <90 90-99 ≥100

2.2 GLUKOSA DARAH

Gula darah merupakan gula sederhana dalam makanan, biasanya dalam bentuk disakarida atau ikatan molekul lainnya. Pada pembuluh darah vena penderita diabetes atau orang normal, konsentrasi glukosa biasanya 75-115 ml/dl15. Gula darah adalah gula darah yang berasal dari karbohidrat makanan dan disimpan sebagai glikogen di hati dan otot rangka. Gula darah berperan sebagai pemasok energi bagi tubuh dan jaringan tubuh.

Kadar glukosa darah adalah istilah yang mengacu pada kadar glukosa dalam darah yang konsentrasinya diatur secara ketat oleh tubuh. Glukosa yang mengalir melalui darah merupakan sumber energi utama bagi sel-sel tubuh.

Umumnya kadar glukosa dalam darah tetap dalam batas 4-8 mmol/L/hari (70- 150 mg/dl), kadar ini meningkat setelah makan dan biasanya berada pada titik terendah pada pagi hari sebelum orang mengonsumsi makanan.

Kadar glukosa darah adalah istilah yang mengacu pada kadar glukosa dalam darah yang konsentrasinya diatur secara ketat oleh tubuh. Glukosa yang mengalir melalui darah merupakan sumber energi utama bagi sel-sel tubuh.

Umumnya kadar glukosa darah tetap berada pada kisaran 4-8 mmol/L/hari (70-150 mg/dl), kadar tersebut meningkat setelah makan dan biasanya berada pada titik terendah pada pagi hari sebelum orang mengonsumsi makanan.

2.2.1 Macam-macam pemeriksaan glukosa darah : 1. Glukosa darah sewaktu

Gula darah sewaktu merupakan pemeriksaan kadar glukosa darah yang dapat dilakukan setiap hari tanpa syarat pantangan makanan ataupun puasa16.

2. Glukosa darah puasa

Gula darah puasa adalah merupakan pemeriksaan kadar glukosa darah yang dilakukan setelah pasien berpuasa selama 8-10 jam.

Persyaratan pemeriksaan Glukosa darah puasa:

1. Tidak makan dan minum

(20)

2. Puasa selama 8-10 jam

3. Glukosa 2 jam setelah makan (Postprandial)

Glukosa 2 jam pp merupakan pemeriksaan kadar glukosa darah yang dilakukan 2 jam dihitung sesudah pasien selesai makan. Tujuan dari tes ini adalah untuk mendeteksi adanya diabetes atau reaksi hipoglikemik. Standarnya, pemeriksaan ini dilakukan minimal 3 bulan sekali. Gula darah mencapai puncaknya dua jam setelah makan.

Normalnya, gula darah tidak melebihi 180 mg/100 cc darah. Kadar gula darah 190mg/dL disebut ambang ginjal. Ketika kadar gula melebihi ambang batas ginjal, kelebihan gula akan dikeluarkan melalui urin.

4. Pemeriksaan Penyaring

Skrining dapat dilakukan dengan pemeriksaan kadar glukosa darah sementara atau kadar glukosa darah puasa. Jika hasil tes skrining positif, harus dikonfirmasi dengan tes glukosa plasma puasa atau tes glukosa oral biasa (OGTT)17.

5. HbA1c

HbA1c adalah zat yang terbentuk dari reaksi antara glukosa dan hemoglobin (bagian sel darah merah yang bertugas membawa oksigen ke seluruh bagian tubuh). Semakin tinggi gula darah, semakin banyak molekul hemoglobin yang berikatan dengan gula. Jika seorang pasien sudah pasti terdiagnosis DM, maka penting bagi pasien untuk menjalani pemeriksaan ini setiap 3 bulan sekali. Banyaknya HbA1c yang terbentuk bergantung pada konsentrasi gula darah, sehingga hasil penelitian HbA1c menggambarkan rata-rata kadar gula pasien DM selama 3 bulan. Selain itu, tes HbA1c juga dapat mengevaluasi kualitas pengendalian DM, karena hasil tes HbA1c tidak dipengaruhi oleh makanan, obat-obatan, atau aktivitas fisik, sehingga dapat dilakukan kapan saja tanpa persiapan khusus18.

(21)

2.3 HEMOGLOBIN TERGLIKASI HbA1c)

HbA1c merupakan ikatan molekul glukosa pada hemoglobin, jika glukosa darah menumpuk, maka akan mengikat hemoglobin pada sel darah merah, dan test A1c dilakukan untuk mengukur seberapa banyak glukosa yang terikat pada hemoglobin. Hemoglobin “hidup” sekitar 3 bulan; karennya, hasil test menunjukan kadar glukosa rata-rata di dalam darah pada kurun waktu 3 bulan sebelumnya. Umunya, seseorang yang kadar glukosanya sudah tinggi selama beberapa minggu terakhir akan menunjukan hasil tes A1c yang tinggi.

Normalnya, hemoglobin tidak mengandung glukosa ketika sel darah merah pertama kali meninggalkan sumsum tulang, namun setelah 120 hari kehidupan, hemoglobin berikatan dengan glukosa. Hemoglobin terglikasi, atau HbA1c, adalah fraksi hemoglobin yang berikatan langsung dengan glukosa dan menunjukkan kadar gula darah selama 8-12 minggu. Tes HbA1c merupakan tes standar untuk menilai status glikemik jangka panjang dan efektif pada pasien dengan semua jenis diabetes. (Tes HbA1c sangat berhasil dalam mengendalikan diabetes. Tes ini menunjukkan rata-rata kadar gula darah selama 2-3 bulan, sehingga dianjurkan bagi penderita diabetes untuk melakukan pemeriksaan kecil rutin dua kali setahun.

HbA1c adalah zat yang terbentuk dari reaksi kimia antara glukosa dan hemoglobin (bagian dari sel darah merah). Tes HbA1c digunakan sebagai indikator dalam pengendalian jangka panjang, diagnosis, prognosis dan pengobatan gula darah pada pasien DM. Dengan mengukur glikohemoglobin, Anda bisa mengetahui berapa persentase hemoglobin yang mengandung gula.

Jika gula darah tinggi selama beberapa minggu, maka kadar HbA1c juga tinggi. Ikatan HbA1c yang terbentuk bersifat stabil dan dapat bertahan hingga 2-3 bulan. Nilai HbA1c mencerminkan indikator rata-rata 2-3 bulan sebelum penelitian. Dengan mengukur kadar HbA1c, kualitas pengobatan penyakit DM dapat diketahui dalam jangka panjang, jika pasien diketahui mengikuti pola makan dan perencanaan pengobatan19.

(22)

2.3.1 Sejarah HbA1c

Hemoglobin A1c pertama kali ditemukan pada tahun 1960-an melalui elektroforesis hemoglobin. Pada tahun 1962, Huisman dan Dozy melaporkan peningkatan satu fraksi kecil hemoglobin pada 4 pasien diabetes. Lima tahun kemudian, Rahbar menemukan kembali fraksi tersebut pada dua pasien diabetes yang dites hemoglobinnya abnormal.

Pada tahun 1968, dilaporkan bahwa pasien diabetes yang tidak terkontrol memiliki komponen hemoglobin diabetes. Komponen diabetes ini segera ditemukan memiliki karakteristik kromatografi yang sama dengan HbA1c, komponen minor hemoglobin yang dijelaskan oleh Schnek dan Schroeder pada tahun 1961. Penggunaan HbA1c untuk memantau tingkat kontrol glikemik pada pasien diabetes pertama kali diusulkan pada tahun 1976 dan kemudian diperkenalkan ke dalam praktik klinis pada tahun 1990-an dalam Diabetes Control and Complications Trial (DCCT) dan UK Prospective Diabetes Study (UKPDS). sebagai sarana pemantauan tingkat pengendalian diabetes. Komite ahli dari American Diabetes Association (ADA) dan European Association for the Study of Diabetes (EASD) merekomendasikan penggunaan HbA1c dalam diagnosis diabetes, dan pada tahun 2010, ADA memasukkan HbA1c dalam kriteria diagnostik diabetes.

Kadar HbA1c yang normal adalah 3,5-5%. Rata-rata gula darah selama 30 hari terakhir merupakan penentu utama HbA1c. Rata-rata persentase gula HbA1c bulanan adalah: 50% dalam 30 hari terakhir, 25%

dalam 30-60 hari sebelumnya, dan 25% dalam 60-120 hari sebelumnya20. 2.3.2 Manfaat pemeriksaan HbA1c

1. Menilai kualitas perawatan diabetes.

2. Evaluasi efek pengobatan atau perubahan terapeutik setelah 8-12 minggu penerapan.

3. Menghindari berkembangnya komplikasi (kronis) Diabetes melitus karena:

(23)

a. HbA1c dapat menggambarkan risiko terjadinya komplikasi diabetes.

b. Komplikasi diabetes dapat terjadi jika kadar gula darah tinggi secara konsisten dalam jangka panjang.

4. Nilai rata-rata gula darah dalam jangka waktu lama (2-3 bulan) dapat dinilai dengan tes Glukosa darah dan HbA1c.

2.3.3 Kreteria pengendalian Diabetes Melitus Berdasarkan Nilai HbA1c Pengendalian DM dapat dinilai berdasarkan tabel berikut:

Tabel 2. 2 Kreteria Pengendalian DM dan HbA1c

2.3 PENELITIAN RELEVAN

Penelitian yang relevan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Pada penelitian Yulizabirman pada 2021 mengenai hubungan kadar gula darah dengan kadar HbA1c pada pasien diabetes melitus tipe II di rumah sakit islam siti rahmah padang tahun 2021 terdapat hubungan antara kadar gula darah dengan kadar HbA1c pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di RSI Siti Rahmah Padang (p=0,001).

2. Pada penelitian Supono pada tahun 2022 menegenai korelasi kadar Gula darah plasma dengan nilai HbA1c pada pasien Diabetes melitus di rumah sakit umum pusat sanglah denpasar bali HbA1c dapat dikovensi menggunakan kadar glukosa plasma. Didapatkan korelasi positif antara kadar GDP dengan HbA1c. Semakin tinggi kadar GDP semakin tinggi pula HbA1c.

3. Pada penelitian Rahayu tahun 2020 mengenai hubungan HbA1c dengan Glukosa darah puasa terhadap nilai diagnostik dan pola hidup pada penderita Diabetes melitus Tipe II terdapat hubungan yang signifikan antara kadar GDP dengan HBA1c. Hasil HBA1c (>6,5%) dapat digunakan

Kreteria Pengendalian Kadar HbA1c (%)

HbA1c Baik <4,8

HbA1c Sedang 4,8 – 5,9

HbA1c Buruk >5,9

(24)

untuk diagnosis DM, sedangkan kadar GDP hanya untuk mengetahui penderita diabetes sudah merubah pola hidup atau tidak dan didapat wanita lebih mudah merubah pola hidup dari pada pria, dikarenakan hasil GDP (<125 mg/dl) sebesar 11,8% lebih tinggi daripada hasil HBA1c (<6,5%) sebesar 5,9%.

(25)

2.4 KERANGKA TEORI

Gambar 2.1 Kerangka teori

Keterangan

: Variabel yang diteliti

: Variabel yang tidak diteliti Diabetes melitus

Glukosa darah sewaktu DM Tipe I

Glukosa darah puasa

Glukosa darah

postprandial HbA1c

DM Gestasional DM Tipe Lain DM Tipe II

HASIL HASIL

Hubungan HbA1C Dengan Gluksosa Darah Puasa

(26)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 DESAIN PENELITIAN

Desain penelitian yang digunakan adalah analitik observasional merupakan penelitian yang meneliti mengkaji hubungan antara dua variabel ataupun lebih dengan menggukanan desain cross sectional.

3.2 KERANGAKA KONSEP DAN VARIABEL PENELITIAN Kerangka konsep

Kerangka konsep dari penelitian ini dapat diterangkan dengan bagan di bawah ini:

Gambar 3.1 Kerangka konsep Variabel Terikat Variabel Bebas

Variabel penelitian

1. Variabel terikat (dipengaruhi)

Variabel ini disebut juga sebagai kondisi yang mengalami perubahan setelah variabel independent mempengaruhi variabel ini. Variabel yang digunakan penelitian ini adalah Diabetes melitus tipe II.

2. Variabel bebas (Mempengaruhi) Diabetes Melitus

Tipe II

HbA1c

Glukosa Darah Puasa

(27)

Variabel ini disebut juga sebagai kondisi yang akan memberikan pengaruh dan membuat variabel lainnya menjadi berubah. Variabel yang digunakan peneliti ini yaitu HbA1c dan Glukosa darah puasa.

(28)

3.3 DEFINISI OPERASIONAL

Table 3.1 Definisi operasional

Variabel Definisi

Operasional

Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala

Ukur Pasien Diabetes

Melitus tipe II

Pasien yang telah didiagnosa oleh dokter menderita Diabetes melitus di

Klinik insani

Catatan stastus rekam medis

dan hasil laboratorium

Rekam Medis

1. Hasil gula darah 2. Hasil HbA1c

Nominal

HbA1C HbA1c disebut juga hemoglobin terglikasi adalah zat

yang terbentuk dari reaksi antara glukosa dengan

hemoglobin.

HbA1c diukur dari bahan darah EDTA

di Klinik insani

Immunofloresce nce Analyzer

Hasil laboratoriu

m

1. Terkontorol apabila kadar

HbA1c ≤7%

2.Tidak Terkontrol apabila

>7%

Rasio

Gula Darah Puasa

Gula darah merupakan gula sederhana dalam makanan, biasanya

dalam bentuk disakarida atau ikatan molekul lainnya Kadar glukosa darah penderita diabetes melitus tipe II yang

diperiksa dari pasien dalam keadaan puasa diukur dari bahan

serum di Klinik insani

Spektrofotometer BM-SP 7000 S.

Hasil laboratoriu

m

1.Terkontrol apabila <126

mg/dl 2.Tidak Terkontol

apabila >126 mg/dl

Rasio

(29)

3.4 POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN 3.4.1 Populasi

Populasi diambil dari seluruh penderita diabetes melitus tipe II di klinik insani yang diperiksa kadar HbA1c dan glukosa darah puasanya selama 3 bulan.

3.4.2 Sampel Penelitian

Sampel yang digunakan untuk penelitian adalah penderita diabetes melitus tipe II di klinik insani bulan Oktober - Desember 2023.

1. Kriteria Inklusi :

Penderita diabetes melitus tipe II dan melakukan pemeriksaan HbA1c dan glukosa darah puasa.

2. Kreteria Eksklusi :

Bukan penderita diabetes melitus tipe II yang sudah melakukan pengobatan dan belum melakukan pengobatan Diabetes melitus tidak melakukan pemeriksaan HbA1c dan glukosa darah puasa.

3.5 TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN 3.5.1. Tempat Penelitian

Tempat dilaksanakannya penelitian ini ialah di Klinik Insani yang berlokasi di Jl. Pahlawan No. 80-81 RT. 08 RW. 05 Karang Asem Barat, Citeureup-Bogor.

3.5.2. Waktu Penelitian

Waktu penelitian ini dilakukan mulai dari bulan Februari 2024 sampai dengan bulan Juni 2024.

Table 3.2 Waktu penelitian

Urian Kegiatan Tahun 2023 Tahun 2024

Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr

Studi Literatur Pembuatan Proposal Seminar Proposal Mengurus Izin Penelitian

Mengurus Ethical Clearance

Pengumpulan Data

(30)

3.6 ALUR PENELITIAN

Gambar 2.2 Alur penelitian

Analisis Data

Kesimpulan Studi literatur

Identifikasi masalah

Studi Pustaka

Menentukan variabel Menentukan sumber data

Populasi

Sampel

Pengambilan sampel

Subjek penelitian Mengumpulkan data

Data sekunder Rekam medis dan Hasil laboratorium

Pengolahan Data

(31)

3.7 TEKNIK PENGUMPULAN DATA

Teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti adalah data sekunder yang diperoleh dari bagian catatan medis berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium terhadap pemeriksaan HbA1c dan glukosa darah puasa pada penderita diabetes melitus tipe II selama 3 bulan sekali di klinik insani.

a. Tahap Persiapan

1. Peneliti mengajukan dan mempresentasikan proposal peneliti kepada pembimbing 1 dan pembimbing 2 untuk memperoleh persetujuan penelitian.

2. Peneliti mengajukan surat izin studi pendahuluan dan surat izin penelitian dari Universitas dengan melampirkan rangkuman proposal penelitian yang diserahkan kepada penanggung jawab klinik.

3. Peneliti mengajukan surat pengantaar etik dan protokol ke penangung jawab klinik.

b. Tahap pelaksanaan

1. Peneliti mengidentifikasi memilah data sampel yang memenuhi status Diabetes melitus tipe 2.

2. Penederita telah melakukan pemeriksaan HbA1c dan Glukosa darah puasa.

3. Selanjutnya peneliti mencatat data tentang nomor rekam medis, jenis kelamin,usia, lamanya menderita, HbA1c, kadar gula darah puasa dicatat dalam tabel berikut.

(32)

Gambar 3. 1 Form rekapitulasi data penelitian

(33)

4. Kemudian selanjutnya peneliti melakukan pengolahan data.

c. Tahap pemeriksaan

Pemeriksaan HbA1c - Metode Pemeriksaan

Metode pemeriksaan yang dilakukan dalam penelitian adalah metode Sandwich Immunodetection.

- Prinsip pemeriksaan

Tes kuantitatif cepat HbA1c didasarkan pada teknologi immunoassay flouresensi. Tes kuantitatif cepat HbA1c menggunakan metode Sandwich Immunodetection untuk mengukur persentase HbA1c dalam darah manusia. Setelah dicampur dengan sampel dan buffer, campuran sampel ditambahkan ke sumur kartrid uji, antibodi HbA1c detector berlabel flouresensi mengikat HbA1c dalam specimen darah.

Saat campuran sampel berimigrasi pada matriks nitroselulosa strip uji dengan aksi kapiler, kompleks antibodi detektor dan HbA1c ditangkap ke antibodi HbA1c yang telah dimobilisasi pada strip uji.

Detektor flouresinsi berlabel antibodi Hb mengikat Hb dalam specimen darah; kompleks tersebut ditangkap oleh antibodi Hb yang telah dimobilisasi pada strip tes. Intensitas sinyal flouresensi sebanding dengan konsentrasi HbA1c dan Hb dalam spesimen darah.

- Bahan dan Reagensia 1. Darah EDTA

2. Larutan Buffer HbA1C - Cara Kerja

1. Pengukuran kadar HbA1c dilakukan dengan alat Immunofloresensi yaitu Lamuno-X dengan pengerjaan sesuai dengan kartu IC yang digunakan.

2. Tekan tombol ON/OFF dibelakang alat ke bagian ON, kemudian digesekan kartu IC ke alat imunofloresensi.

(34)

ke tabung buffer. Tabung buffer dihomogenkan selama 1 menit dengan mengetuk atau membolak-balik tabung.

4. Lalu diambil 100 µL campuran sampel tersebut dan dimasukkan kedalam sumur sampel kaset uji.

5. Kemudian dilanjutkan dengan menginkubasi selama 5 menit, setelah selesai masukkan ke dalam alat imunoflurosensi, klik tombol “UJI” pada halaman “UJI CEPAT”. Lalu dimasukan identitas pasien dan memilih item “HbA1c” dan klik “UJI” lalu alat akan membaca secara otomatis, hasil akan keluar pada printer dibelakang alat. Setalah selesai digunakan alat kembali dimatikan dengan menekan tombol ON/OFF dibelakang alat.

Pemeriksaan Glukosa darah puasa - Metode pemeriksaan

Metode pemeriksaan yang dilakukan adalah metode GOD-PAP Enzymatik Oxidase dengan menggunakan spektrofotometer BM-SP 7000 S.

- Prinsip Pemeriksaaan

Metode GOD-PAP adalah suatu cara penetapan glukosa darah dari sampel serum atau plasma secara enzimatik menggunakan Glukosa Oksidase-Para-Amino-Phenazone menghasilkan warna merah, yang diukur dengan fotometer pada panjang gelombang 546 nm.

- Bahan dan Reagensia 1. Serum

2. Reagen Sclavo Glukosa - Cara Kerja

1. Pengukuran kadar Glukosa Darah dilakukan dengan alat Spektrofotometer yaitu BM-SP 7000 S dengan metode GOD- PAP Enzymatik Oxidase.

2. Pastikan Alat dalam posisi Grup 1 atau tampilan parameter.

3. Pilih jenis parameter Gluc-Scl dengan Tekan MEASURE ( angka 1,2 dan 5). Dihisapkan aquadest (please pump distilled water) sebanyak 2 kali kemudian alat akan memperoses.

Selanjutnya tekan MEASURE (angka 2) ‘NO’ untuk blanko dan

(35)

5. Dipipet pada tabung 1000 μ reagen glukosa dan 10 μ serum atau plasma. Homogenkan, inkubasi selama 10’ dalam suhu 37°C.

6. Dihisap reagen yang sudah dicampur dengan bahan sampel, dengan cara ditekan bagian pump, berwarna abu-abu sampai berbunyi ‘beep’. Alat akan memproses kemudian hasil akan diprint melalui belakang alat.

3.8 Teknik Analisis Data

Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analisa Univariat dan Analisa Bivariat yaitu :

1. Analisa Univariat, yaitu bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik penderita DM berdasarkan usia, jenis kelamin serta hasil tertinggi dan terendah kadar HbA1c dan kadar glukosa darah puasa.

2. Analisa Bivariat, yaitu Analisa yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar HbA1c dengan kadar glukosa puasa penderita diabetes melitus tipe II di klinik insani dengan analisis Uji Kolarasi person.

(36)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 DISKRIPSI TEMPAT PENELITIAN

Gambar 4.3 Diskripsi tempat penelitian

Penelitian ini dilakukan pemeriksaan HbA1c dan Glukosa darah puasa di laboratotium Klinik insani dengan menggunakan data sekunder yang didapat ari rekam medis yang terdiagnosa diabetes melitus tipe 2 dan catatan hasil laboratoriuim di Klinik insani dengan jumlah sampel 72. Klinik insani didirikan oleh Dr. Kornadi, SpJp FIHA dan Dr. Dian Wisnuwardhani, SpP pada tanggal 03 Agustus 2005 dibawah bimbingan H. Miftah Mardani Oetomo, S.E. (alm) dan Dra. Hj. Titiek Sugiarti, MM. Yang beralamat di Jl.

Pahlawan No. 73 B Karang Asem Timur Kecamatan Citeureup Kabupaten Bogor 16810.

Klinik Insani mulai resmi beroperasi sejak Agustus 2005, selalu berkomitmen untuk berinovasi dan memberikan pelayanan terbaik kepada pasien. Dilengkapi dengan teknologi dan metode modern di bidang kedokteran yang didukung oleh tim Dokter, Perawat, Paramedis dan Staf profesional yang berdedikasi tinggi untuk memberikan pelayanan terbaik kepada semua pasien yang menjadikan Klinik Insani sebagai klinik pilihan terpercaya bagi masyarakat.

(37)

4.2 HASIL

4.2.1 Analisis univariat

Table 4.1 Frequensi hasil pemeriksaan HbA1c dan Glukosa darah puasa

No Variabel frekunsi Persentase%

1 HbA1c

a. Terkontrol b. Tidak terkontrol

47 25

65.3%

34.7%

2 Glukosa darah puasa a. Terkontrol

b. Tidak terkontrol

12 60

16.7%

83.3%

Berdasarkan tabel 4.1 diketahui bahwa frekuensi HbA1c terkontrol didapatkan hasil 47 (65.3%) dan frekuensi HbA1c Tidak terkontrol didapatkan hasil 25 (34.7%). Sedangkan Glukosa darah puasa terkontrol didapatkan hasil 12 (16.7%) dan Glukosa darah puasa Tidak terkontrol didapatkan hasil 60 (83.3%).

4.2.2 Analisis bivariat

Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji chi-square untuk mencari hubungan antara HbA1c dengan Glukosa darah puasa.

Tabel 4. 2 Berdasarkan hasil uji Shi-Square

No Variabel Total P value

Terkontrol Tidak terkontrol

n % n % n %

1 HbA1c

a. Terkontrol b. Tidak terkontrol total

38 2 40

80.9 8.0 55.6

9 23 32

19.1 92.0 44.4

47 25 72

100.0 100.0 100.0

0.000

2 Glukosa darah puasa a. Terkontrol b. Tidak terkontrol total

12 28 40

100.

0 46.7 55.6

0 32 32

0 53.3 44.4

12 60 72

100.0 100.0 100.0

0.000

Berdasarkan tabel 4.2 diatas diketahui bahwa pemeriksaan HbA1c nilai terkontol

(38)

(0%), tidak terkontrol 28 (46.7%) dan 32 (53.3%). Total dari kedua pemeriksaan tersebut adalah HbA1c terkontrol 38 (80.9%) dan Glukosa darah puasa 12 (100.0%).

4.3 PEMBAHASAN

Hasil penelitian diperoleh dari 72 sampel, dimana peneliti ini menggunakan data sekunder dari rekam medis, hasil pemeriksaan HbA1c dan Glukosa darah puasa pada penderita Diabetes melitus tipe 2 yang melakukan pemeriksaan Laboratorium di Klinik insani pada bulan oktober sampai dengan desember. Pengolahan dan analisis data dilakukan dengan menggunakan SPSS 21 for windows.

Berdasarkan table 4.1 bahwa dapat dijelaskan hasil HbA1c terkontrol 47 sampel dengan presentase 65,3% dan yang tidak terkontrol 25 orang dengan prenstase 34.7%

sedangkan hasil Glukosa darah puasa terkontrol 12 dengan presentase 16.7% dan tidak terkontrol 60 orang dengan presentase 83.3%. Hasil ini menjelaskan bahwa, pengendalian kadar glukosa darah pada pasien diabetes melitus masih kurang dikarenakan dalam pemeriksaan Glukosa darah puasa yang digunakan sebagai salah satu penanganan dalam mengurangi masalah diabetes melitus masih memiliki nilai yang tinggi dan memerlukan perhatian khusus agar penanganan kasus diabetes melitus dapat diatasi segera mungkin.

Namun pada hasil uji bivaraiat didapatkan nilai HbA1c terkontol yaitu 38 (80.9%) dan 9 (19.1%), nilai tidak terkontrol yaitu 2 (8.0%) dan 23 (92.0%). Sedangakn pemeriksaan Glukosa darah puasa nilai terkontrol yaitu 12 (100.0%) dan 0 (0%), tidak terkontrol 28 (46.7%) dan 32 (53.3%). Total dari kedua pemeriksaan tersebut adalah HbA1c terkontrol 38 (80.9%) dan Glukosa darah puasa 12 (100.0%). yang artinya menandakan bahwa korelasi antara HbA1c dengan Glukosa darah puasa terdapat hubungan yang signifikan antara HbA1c dengan glukosa darah puasa.

Sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh yuliza birman (2023) tentang hubungan kadar gula darah dengan kadar HbA1c pada penderita diabetes melitus di Rumah Sakit islam siti rahmah padang pada tahun 2021 terdapat hubungan antara kadar guladarah dengan kadar HbA1c pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di RSI Siti Rahmah Padang (p=0,001). (yuliza birman) dan Hartini Supri (2016) tentang Hubungan HBA1c Terhadap Kadar Glukosa Darah Pada Penderita Diabetes Mellitus Di RSUD.

Abdul Wahab Syahranie Samarinda Tahun 2016. Terdapat hubungan antara kadar HBA1c terhadap kadar gula darah puasa (GDP) dan gula darah sewaktu (GDS) dengan nilai p-Value 0,01<0,05. Kenaikan kadar HBA1c akan mempengaruhi kadar

(39)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada 72 sampel didapatkan hasil dengan nilai p value = 0.000 < 0.05 yang dimana terdapat hubungan yang signifikan antara HbA1c dan Glukosa darah puasa .

5.2 SARAN

1. Pada penderita sebaiknya dilakukan pemeriksaan HbA1c secara berkala minimal 1 kali dalam setahaun atau 6 bulan sekali.

2. Pasien harus disiplin mengkontrol pola makan ( Jumlah, jenis makanan, jadwal).

(40)

DAFTAR PUSTAKA

1. Masruroh E. Hubungan Umur Dan Status Gizi Dengan Kadar Gula Darah Penderita Diabetes Melitus Tipe Ii. Jurnal Ilmu Kesehatan. 2018;6(2):153.

2. Diabetes DOF. Diagnosis and classification of diabetes mellitus. Diabetes Care.

2010;33(SUPPL. 1).

3. Suzanna Ndraha. Diabetes Melitus Tipe 2 Dan Tatalaksana Terkini. Medicinus. 2014;27(2):9–

16.

4. Of D, Mellitus D. Diagnosis and classification of diabetes mellitus. Diabetes Care.

2014;37(SUPPL.1):81–90.

5. Muhlisin M. No Title. Pengertian HBA1C, Pemeriksaan dan Nilai Normal. 2019;

6. Birman Y, Harahap IN, Triansyah I. HUBUNGAN KADAR GULA DARAH DENGAN KADAR HbA1c PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE II DI RUMAH SAKIT ISLAM SITI RAHMAH PADANG TAHUN 2021 Relationship Blood Sugar Levels With Hba1c Levels In Type II Diabetes Mellitus Patients In Hospital Islam Siti Rahmah Pada.

Nusantara Hasana Journaly. 2023 Jun;3(1):10–7.

7. Supono B, Putu Sutirta Yasa IW. Korelasi Kadar Gula Darah Plasma Dengan Nilai Hba1C Pada Pasien Diabetes Mellitus Di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar Bali. E-Jurnal Medika Udayana. 2021;10(9):107.

8. Anggraini R, Nadatein I, Astuti P. Relationship of HbA1c with Fasting Blood Glucose on Diagnostic Values and Lifestyle in Type II Diabetes Mellitus Patients. Medicra (Journal of Medical Laboratory Science/Technology). 2020;3(1):5–11.

9. Jurusan SH, Kesehatan A, Kemenkes P, Timur K. Hubungan HBA1c Terhadap Kadar Glukosa Darah Pada Penderita Diabetes Mellitus Di RSUD. Abdul Wahab Syahranie Samarinda Tahun 2016. Vol. IV, Jurnal Husada Mahakam. 2023; 2016.

10. Petersmann A, Nauck M, Müller-Wieland D, Kerner W, Müller UA, Landgraf R, et al.

Definition, classification and diagnostics of diabetes mellitus. Journal of Laboratory Medicine.

2018;42(3):73–9.

11. Bhatt H, Saklani S, Upadhayay K. ANTI-OXIDANT AND ANTI-DIABETIC ACTIVITIES OF ETHANOLIC EXTRACT OF Primula denticulata FLOWERS. INDONESIAN JOURNAL OF PHARMACY. 2016 Mar 1;27(2):74.

12. Lestari, Zulkarnain, Sijid SA. Diabetes Melitus: Review Etiologi, Patofisiologi, Gejala, Penyebab, Cara Pemeriksaan, Cara Pengobatan dan Cara Pencegahan. UIN Alauddin Makassar. 2021;(November):237–41.

13. Basri TH. Type 2 Diabetes Mellitus With Diabetic Ulcers on. Jurnal Agromed Unila.

2014;1(2):167–9.

14. Hasdianah, & Suprapto SI (2014). P dan PPenyakit, Medika YN. Penatalaksaan diabetes. 2014;

15. HUTAGALUNG SS. Glukosa darah. 2019;

16. Agustina V, Irma M, Fanisa T, Arum C, Wulandari D, Weya A, et al. Deteksi Dini Penyakit Diabetes Melitus. Pengabdian Masyarakat. 2021;02(02):300–9.

17. 2020 M. No Title [Internet]. Available from:

file:///C:/Users/Jannah/Downloads/17001182206555becc967274.44607200 (1).pdf

(41)

Kecamatan Pasar Rebo. Higeia Journal Of Public Health Research And Development.

2022;6(3):350–61.

19. Destiani S, Maksum IP, Hartati YW. Biosensor Elektrokimia untuk Memonitor Level Hemoglobin Terglikasi (HbA1c) pada Penyakit Diabetes Melitus. ALCHEMY Jurnal Penelitian Kimia. 2023;19(1):94.

20. Saputra I, Esfandiari F, Marhayuni E, Nur M. Indeks Massa Tubuh dengan Kadar Hb-A1c pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II. Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada. 2020;12(2):597–603.

(42)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat Izin Penelitian Dari Universitas Binawan

(43)

Lampiran 2. Surat Jawaban Dari Tempat Penelitian

(44)

Lampiran 3. Form Rekapitulasi Data Penelitian

(45)

Lampiran 4. Kode Etik

(46)

Lampiran 5. Data Penelitian

FORM REKAPITULASI DATA PENELITIAN

No No.RM

Jenis Kelamin

Usia ( Tahun)

Lamanya Menderita

Diabetes HbA1c(%)

Glukosa Darah Puasa (mg/dl)

1 11033 P 47 6 7,13 169

2 78302 P 58 4 5,09 84

3 12077 P 51 6 7,15 174

4 57550 P 45 5 8,37 372

5 20820 P 56 6 7,84 260

6 23200 P 56 3 5,76 143

7 7030 P 58 2 5,14 104

8 69938 L 56 2 5,92 199

9 7699 P 66 2 5,59 144

10 46942 P 49 5 5,66 169

11 66784 P 60 5 6,09 220

12 30652 P 67 5 6,46 136

13 12506 P 65 6 6,45 271

14 17857 P 73 6 5,37 172

15 79374 P 49 3 6,22 190

16 12121 P 61 6 7,34 186

17 59213 P 61 4 6,34 162

18 5591 P 60 5 6,05 124

19 4677 P 55 3 7,31 184

20 8663 P 47 6 5,99 214

21 13098 P 59 3 5,59 206

22 14366 P 58 4 7,01 250

23 51337 P 45 5 6,39 263

24 8321 P 45 6 6,15 306

25 15379 L 48 2 6,09 167

26 9020 P 46 6 6,56 129

27 5440 L 45 2 6,55 207

28 23848 P 52 5 5,21 158

29 94711 P 49 2 5,36 112

30 16961 L 59 3 7,37 179

31 15574 P 68 2 7,69 301

32 6174 L 56 6 6,73 180

33 22164 L 60 6 7,36 200

34 39928 L 50 5 6,65 318

35 4179 L 63 2 5,43 147

36 5930 P 48 6 5,83 196

(47)

39 73870 P 50 4 5,17 172

40 23899 L 55 3 5,87 130

41 30790 P 52 5 5,51 120

42 51155 P 49 3 6,44 188

43 68700 P 68 5 5,28 234

44 13083 P 72 6 5,09 129

45 30026 P 48 4 6,92 220

46 28754 P 49 3 7,03 254

47 30944 L 49 5 6,52 222

48 3213 P 52 3 5,78 129

49 18771 P 59 3 5,49 143

50 9131 P 61 2 9,36 118

51 30778 L 72 5 6,53 191

52 15952 P 50 3 6,81 209

53 9663 P 50 2 6,99 136

54 14272 L 53 2 6,18 141

55 33227 P 61 6 7,09 260

56 5708 P 48 1 10,01 350

57 26931 P 62 4 6,75 175

58 98242 P 62 2 6,35 163

59 50305 L 64 5 5,65 115

60 92974 P 55 2 5,47 162

61 18732 P 67 4 5,29 135

62 56795 L 57 4 5,46 99

63 15513 L 71 4 5,52 140

64 84111 L 57 6 5,38 103

65 21591 P 56 2 5,21 81

66 10075 P 56 5 5,46 180

67 3414 L 58 6 5,41 151

68 23337 P 54 2 6,77 128

69 39360 L 53 4 5,12 127

70 79405 P 45 1 6,68 240

71 10909 P 54 6 7,98 345

72 7444 P 66 6 5,79 88

(48)

Lampiran 6. Kartu Bimbinagan

(49)

Lampiran 7. Analisis Statistik Hasil HbA1c

Hasil Glukosa darah puasa Glukosa darah puasa

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid

Terkontrol 12 16.7 16.7 16.7

Tidak terkontrol 60 83.3 83.3 100.0

Total 72 100.0 100.0

Test Normality Pemeriksaan HbA1c

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk

Statistic df Sig. Statistic df Sig.

HbA1c .418 72 .000 .602 72 .000

Pemeriksaan Glukosa darah puasa

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk

Statistic df Sig. Statistic df Sig.

Glukosa darah puasa .505 72 .000 .450 72 .000

HbA1c

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid

Terkontrol 47 65.3 65.3 65.3

Terkontrol 25 34.7 34.7 100.0

Total 72 100.0 100.0

(50)

Crosstab

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent

HbA1c 72 100.0% 0 0.0% 72 100.0%

HbA1c * DM tipe 2 Crosstabulation

DM tipe 2 Total

Terkontrol Tidak terkontrol

HbA1c

Terkontrol

Count 38 9 47

% within HbA1c 80.9% 19.1% 100.0%

% within DM tipe 2 95.0% 28.1% 65.3%

% of Total 52.8% 12.5% 65.3%

Terkontrol

Count 2 23 25

% within HbA1c 8.0% 92.0% 100.0%

% within DM tipe 2 5.0% 71.9% 34.7%

% of Total 2.8% 31.9% 34.7%

Total

Count 40 32 72

% within HbA1c 55.6% 44.4% 100.0%

% within DM tipe 2 100.0% 100.0% 100.0%

% of Total 55.6% 44.4% 100.0%

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent

Glukosa darah puasa * DM tipe 2 72 100.0% 0 0.0% 72 100.0%

(51)

Glukosa darah puasa * DM tipe 2 Crosstabulation

DM tipe 2 Total

Terkontrol Tidak terkontrol

Glukosa darah puasa

Terkontrol

Count 12 0 12

% within Glukosa darah puasa

100.0% 0.0% 100.0%

% within DM tipe 2 30.0% 0.0% 16.7%

% of Total 16.7% 0.0% 16.7%

Tidak terkontrol

Count 28 32 60

% within Glukosa darah puasa

46.7% 53.3% 100.0%

% within DM tipe 2 70.0% 100.0% 83.3%

% of Total 38.9% 44.4% 83.3%

Total

Count 40 32 72

% within Glukosa darah puasa

55.6% 44.4% 100.0%

% within DM tipe 2 100.0% 100.0% 100.0%

% of Total 55.6% 44.4% 100.0%

(52)

Chi- Square

Chi-Square Tests HbA1c

Value df Asymp. Sig. (2-

sided)

Exact Sig. (2- sided)

Exact Sig. (1- sided)

Pearson Chi-Square 35.078a 1 .000

Continuity Correctionb 32.189 1 .000

Likelihood Ratio 39.077 1 .000

Fisher's Exact Test .000 .000

Linear-by-Linear Association 34.591 1 .000

N of Valid Cases 72

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent

Glukosa darah puasa * DM tipe 2

72 100.0% 0 0.0% 72 100.0%

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2-

sided)

Exact Sig. (2- sided)

Exact Sig. (1- sided)

Pearson Chi-Square 11.520a 1 .001

Continuity Correctionb 9.461 1 .002

Likelihood Ratio 16.012 1 .000

Fisher's Exact Test .001 .000

Linear-by-Linear Association 11.360 1 .001

N of Valid Cases 72

(53)

Risk Estimate Risk Estimate

Value 95% Confidence Interval

Lower Upper

Odds Ratio for HbA1c (Terkontrol / Terkontrol)

48.556 9.635 244.695

For cohort DM tipe 2 = Terkontrol 10.106 2.655 38.465

For cohort DM tipe 2 = Tidak terkontrol .208 .114 .379

N of Valid Cases 72

Risk Estimate

Value 95% Confidence Interval

Lower Upper

For cohort DM tipe 2 = Terkontrol 2.143 1.635 2.808

N of Valid Cases 72

(54)

Lampiran 8. Curriculum Vintae

CURRIVULUM VITAE DATA PRIBADI

Nama Lengkap : Siti Nurjanah Nama Panggilan : Janah

Tempat, Tanggal Lahir : Bogor, 01 Juni 1999 Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Kewarganegaraan : Indonesia

Status : Kawin

Alamat : Kp Curug RT 03 RW 04 Kel. Pakansari Kec.

Cibinong Kab. Bogor Prov. Jawa Barat

Email : [email protected]

Telpon : 081210687936

RIWAYAT PENDIDIKAN

2005 - 2011 MI AL-Hidayah I

2011 - 2014 MTS Al Kinanah

2014 - 2017 SMK Kesehatan Tunas Bangsa

2020-Sekarang D IV Teknologi Laboratorium Medik Universitas Binawan

Gambar

Tabel 2. 1 Kadar Glukosa darah sewaktu dan puasa sebagai patokan  penyaring diagnosis DM
Tabel 2. 2 Kreteria Pengendalian DM  dan HbA1c
Gambar 2.1 Kerangka teori
Gambar 3.1 Kerangka konsep Variabel Terikat   Variabel Bebas
+7

Referensi

Dokumen terkait

Diabetes Melitus (DM) terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah pada Penderita. DM

Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara aktivitas fisik dengan kadar gula darah puasa pada pasien diabetes melitus tipe 2. Kata kunci: Aktivitas Fisik, Kadar Gula

Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan pengetahuan tentang perawatan diabetes melitus tipe II dengan kadar gula darah puasa pada klien DM yang berada di

“ Hubungan kadar HbA1c dengan Morfologi Katarak pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2 “.. Dengan selesainya penelitian ini, perkenankanlah saya

9 Hasil penelitian mengenai hubungan antara HbA1c dengan kadar HDL pada pasien diabetes melitus tipe 2 menunjukkan bahwa ada hubungan negatif dengan korelasi sedang antara

Kesimpulan : Beban glikemik buah tidak memiliki hubungan dengan kadar glukosa darah pada pasien diabetes mellitus tipe II di Klinik Jasmine 2 Surakarta.. Kata Kunci :

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara asupan serat terhadap kadar glukosa darah pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Klinik Jasmine

Kesimpulan : Beban glikemik buah tidak memiliki hubungan dengan kadar glukosa darah pada pasien diabetes mellitus tipe II di Klinik Jasmine 2 Surakarta.. Kata Kunci :