• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tindak tutur ilokusi pada surat-surat h.b. jassin beserta balasannya dan implikasinya terhadap pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di SMP PGRI 371 Pondok Aren

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Tindak tutur ilokusi pada surat-surat h.b. jassin beserta balasannya dan implikasinya terhadap pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di SMP PGRI 371 Pondok Aren"

Copied!
146
0
0

Teks penuh

(1)

TINDAK TUTUR ILOKUSI PADA SURAT-SURAT

H.B. JASSIN BESERTA BALASANNYA DAN IMPLIKASINYA

TERHADAP PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA

INDONESIA DI SMP PGRI 371 PONDOK AREN

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan dan Keguruan sebagai salah satu

syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.)

oleh

DEVI ARISTIYANI NIM: 1111013000074

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

(2)

JASSIN BESERTA

DAN

IMPLIKASINYA

TERHADAP PEMBELAJARAN BAHASA DAN

SASTRA

INDONESIA

DI

SMP

PGru

371

PONDOK AREN

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.)

oleh: Devi Aristiyani

1 1 1 1013000074

Mcngetahui,

w

Dosen Pembimbing Dr. Darsita Suparno, Nl[.Hum.

t{IP. 1 96108071993032001

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS IL]UU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

(3)

LEMBAR PENGESAHAN

Skripsi berjudul "Tindak Tutur Ilokusi pada Surat-surat H.B. Jassin besefia Balasannya dan Implikasinya terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia

di

sMP PGRI 371 Pondok Aren" disusun oleh Devi Aristiyani, Nomor Induk Mahasiswa: 1111013000074, diajukan kepada Fakultas

Ilmu

Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan telah dinyatakan lulus dalam ujian Munaqosah pada tanggal

8 Desember

2015, di hadapan dervan penguji.

oleh

karena

itu,

penulis berhak memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) dalam bidang Pendidikan Bahasa clan Sastra Indonesia.

Jakarta. 8 Desember 2015 Panitia Ujian Munaqosah

Ketua Panitia (Ketua Jurusan/ Prodi)

Maklrun Subuki. M. Hum. NIP. 19800305 200901 1 0ls

S ekretaris (S ekretaris Jurusary'Prodi) Dona Aii Karunia Putra. M. Hum. NIP. 1 9840409201 I 01 1 01 5 Penguji I

Drs. Jamal D. Rahman. M. Hum. Penguji II

Dr. Elvi Susanti. M. Pd. NIP. 19600801 200801 2016

Tanggal

Tanda Tangan

)1-

i2

- 2olg

t2 -

E-

auf

2/ - 12-

Zorl-71

',!',:l'w

JAKARTA

(4)

Saya yang bertanda tangan di bawah ini,

Nama

Tanpat/Tgl.Lahir

NIM

Jurusan / Prodi Judul Skripsi

Devi Aristiyani

Tegal, 19 Desember 1993

1 1 I 1013000040

Pendidikan Bahasa dan Sastra lndonesia

Tindak f'utur Ilokusi pada Surat-surat H-B. Jassin

Dosen Pembimbing

beserta Balasannya dan Implikasinya terhadap

Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP PGRI371 Pondok Aren

: Dr. Darsita Suparno, M.Hum

Dengan ini menyatakan bahrva skripsi yang saya buat benar-benar hasil karya sendiri

clan saya bertanggung jawab secara akademis atas apa yang saya tulis.

Pemyataan ini dibuat sebagai salah satu syarat menem.puh Ujian Munaqasah'

Jakarta, 30 Oktober 2015 Mahasisw Ybs.

NIM.1 1 1 1013000074

(5)

ii

ABSTRAK

Devi Aristiyani (NIM. 1111013000074): Tindak Tutur Ilokusi pada Surat-Surat H.B. Jassin beserta Balasannya dan Implikasinya terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP. Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, di bawah bimbingan Dr. Darsita Suparno, M. Hum.

Tindak tutur ilokusi merupakan aktivitas mengujarkan kata-kata yang disertai dengan maksud dan fungsi tertentu. Menurut Searle, tindak tutur terbagi menjadi tindak tutur asertif, tindak tutur direktif, tindak tutur ekspresif, tindak tutur komisif, dan tindak tutur deklarasi. Surat pribadi merupakan salah satu media komunikasi yang mengandung tindak tutur ilokusi, untuk itu peneliti merasa tertarik mengadakan penelitian mengenai tindak tutur ilokusi dalam surat pribadi H.B. Jassin beserta balasannya.

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian ini memfokuskan pada penggunaan tindak tutur ilokusi dalam surat pribadi H.B. Jassin beserta balasannya. Penelitian ini bertujuan untuk menjabarkan wujud tindak tutur ilokusi dalam surat pribadi H.B. Jassin beserta balasannya dan implikasi terhadap pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di SMP.

Adapun metode yang digunakan adalah metode simak dan teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah teknik dokumentasi, teknik simak bebas cakap, dan teknik catat, sedangkan dalam identifikasi data menggunakan metode simak dengan acuan F.X. Nandar dan analisis data menggunakan metode padan ektralingual dengan teori Searle.

Hasil penelitian yang diperoleh adalah terdapat 59 tuturan dengan berbagai kategori dan kata kunci, implikasi terhadap pembelajaran adalah surat-surat pribadi H.B. Jassin beserta balasannya dapat dijadikan alternatif media pembelajaran dalam materi menulis surat pribadi.

(6)

iii

of Indonesian Language and literature Education.Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta, under the guidance of Dr. DarsitaSuparno, M. Hum.

Illocutionary speech acts is an activity of uttering words that along with the specific intention and functions. According to Searle, speech acts are divided into assertive, directive, expressive, commissive, and declaration. Personal letter is one of the communications media which is containing illocutionary speech acts, therefore researchers are interested in conducting research on the illocutionary speech acts in H. B. Jassin personal letter along with its replies.

The study is qualitative descriptive. It is focused on the use of

illocutionary speech acts in the H. B. Jassin’s personal letters with its replies. The

aim of study is to elaborate the form of illocutionary speechs in the H. B. Jassin personal letters along with its replies and implications on Indonesian language and literature at SMP PGRI 371 Pondok Aren.

The study method is listening method and the techniques for data collecting are documentation, listening and free conversation, note taking, while in the method analysis is extralingual equivalent with Scarle theory.

The study result obtained, there are 59 utterances with many categories

and keywords, implications on learning is the H. B. Jassin’s personal letters and

its replies that can be used as an learning media alternative in the material to write a personal letter.

(7)

iv

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi Rabbil Alamin, puji dan syukur penulis panjatkan ke

hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya serta karunia lahir dan

batin sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Salawat serta salam

semoga selalu tercurahkan kepada Muhammad SAW beserta keluarga dan

sahabatnya.

Skripsi yang berjudul “Tindak Tutur Ilokusi pada Surat-surat H.B.

Jassin beserta Balasannya dan Implikasinya terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP PGRI 371 Pondok Aren”merupakan tugas akhir dan sebagai syarat untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan pada jurusan

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan,

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam proses penyusunan skripsi

ini, penulis membutuhkan bimbingan, bantuan, dukungan, dan doa dari berbagai

pihak, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Sebagai

ungkapan rasa hormat, penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, M.A. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan

Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Makyun Subuki, M. Hum. dan Dona Aji Karunia, M. Hum. selaku

ketua dan sekretaris serta segenap dosen dan staff Jurusan Pendidikan

Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah membina dan memberikan

ilmunya selama proses perkuliahan.

3. Dr. Darsita Suparno, M. Hum. selaku dosen pembimbing yang dengan

ikhlas membimbing dan memberikan wawasan serta waktunya dalam

penyusunan skripsi ini.

4. Keluarga tercinta atas motivasi yang luar biasa: Mama (Surati), Bapak

(Takzul Arifin), Adik (Dwi Afni Ariyanti) atas limpahan kasih sayang,

kesabaran, kepercayaan, motivasi, dan doa sehingga memacu saya

(8)

v

membantu dalam proses pencarian data.

7. Guru dan siswa SMP PGRI 371 Pondok Aren yang telah memberikan

dukungan yang luar biasa.

8. Semua pihak yang berjasa dalam proses pembuatan skripsi ini, semoga

Allah membalasnya dengan kebaikan yang berlipat ganda.

Akhirnya penulis berharap semoga skripsi yang jauh dari kata sempurna

ini dapat memberikan sedikit manfaat bagi penulis maupun pembaca, serta bagi

kemajuan ilmu pengetahuan khususnya dalam pendidikan Bahasa dan Sastra

Indonesia.

(9)

vi

DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING

SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI ... i

ABSTRAK ... ii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR BAGAN ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Pembatasan Masalah ... 3

C. Identifikasi Masalah ... 4

D. Rumusan Masalah ... 4

E. Tujuan Penelitian ... 4

F. Manfaat Penelitian ... 5

G. Sistematika Penulisan ... 6

BAB II KAJIAN TEORETIS A. Kajian Teori ... 7

1. Tindak Tutur ... 7

2. Jenis-jenis Tindak Tutur ... 10

3. Tindak Tutur Ilokusi ... 13

4. Surat Pribadi ... 17

5. Pembelajaran Menulis Surat Pribadi ... 21

B. Penelitian Terdahulu ... 23

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Rancangan Penelitian ... 28

B. Metodologi Penelitian ... 28

C. Ruang Lingkup Penelitian ... 30

D. Objek Penelitian ... 30

E. Pengumpulan Data ... 31

F. Jenis Data ... 33

G. Analisis Data ... 33

H. Pelaksanaan Penelitian ... 36

I. Relevansi Penelitian ... 36

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN A. Biografi H.B. Jassin ... 39

B. Analisis Identifikasi dan Klasifikasi Tindak Tutur Ilokusi ... 40

C. Pembahasan Analisis Tindak Tutur Ilokusi ... 73

(10)

vii

LAMPIRAN-LAMPIRAN

A. Lampiran I : Surat-surat pribadi H.B. Jassin dan balasannya

B. Lampiran 2 : Surat-surat pribadi H.B. Jassin beserta balasannya yang sudah siap baca

C. Lampiran 3 : Data tindak tutur ilokusi

D. Lampiran 4 : Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan implementasi pembelajaran

(11)

viii

DAFTAR TABEL

(12)
(13)

x

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran:

1. Lampiran I : Surat-surat pribadi H.B. Jassin dan balasannya

2. Lampiran 2 : Surat-surat pribadi H.B. Jassin beserta balasannya yang sudah siap baca

3. Lampiran 3 : Data tindak tutur ilokusi

4. Lampiran 4 : Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan implementasi pembelajaran

(14)

1

Pada kehidupan sehari-hari, manusia pasti saling berkomunikasi.

Komunikasi tersebut berupa adanya proses interaksi kepada sesamanya. Proses

komunikasi tersebut dilakukan melalui berbahasa. Untuk dapat berbahasa yang

baik dan benar, manusia harus menguasai berbagai keterampilan dalam berbahasa.

Terdapat dua ragam berbahasa, yaitu bahasa lisan dan bahasa tulisan. Bahasa lisan

berupa ujaran secara langsung oleh seseorang dalam kehidupan sehari-hari,

misalnya ceramah, pidato, dan obrolan. Sedangkan bahasa tulis adalah meliputi

komunikasi yang menggunakan bantuan (alat) komunikasi seperti surat, karangan,

dan pamflet.

Ragam bahasa tulis memiliki kelebihan, yaitu dapat mengatasi komunikasi

jarak jauh dan hasil komunikasi yang telah dilakukan dapat disimpan untuk waktu

lama dan dijadikan arsip. Salah satu ragam bahasa yang kerap digunakan adalah

melalui surat. Sebelum adanya alat komunikasi modern seperti telepon genggam,

surat adalah alat komunikasi yang digunakan oleh seseorang. Melalui surat,

seseorang dapat memberikan pengumuman, keterangan, dan pendapat. Surat

terbagi dalam beberapa jenis, di antaranya adalah surat berdasarkan isinya, surat

berdasarkan keamanan isinya, surat berdasarkan derajat penyelesainnya, surat

berdasarkan jangkauan penggunaannya, dan surat berdasarkan jumlah penerima

yang dituju.1

Salah satu jenis surat berdasarkan keamanan isinya adalah surat pribadi.

Surat pribadi adalah surat yang ditulis oleh seseorang yang banyak berisi

mengenai hal-hal yang bersifat pribadi untuk teman, keluarga, dan sahabat. Alat

komunikasi yang belum berkembang pada jaman dahulu membuat surat menjadi

alat komunikasi yang penting. Seseorang yang tinggal jauh dapat saling

berkorespondensi dengan sanak keluarga, teman, dan sahabat melalui media surat.

1

(15)

2

Selain itu, dibandingkan dengan alat komunikasi modern seperti telepon, teleks,

telegraf, radio, dan televisi, surat tetap mempunyai kelebihan tersendiri karena

merupakan sarana yang dapat merekam informasi secara panjang lebar, terperinci,

tetapi tetap ekonomis. Kelebihan lainnya adalah surat bersifat praktis karena dapat

menyimpan rahasia, efektif karena informasi yang disampaikan itu asli sesuai

degan sumbernya, ekomonis karena biaya pembuatan dan pengirimannya sangat

murah.2

Salah satu seseorang yang aktif berkomunikasi melalui surat adalah H.B.

Jassin. Beliau dikenal sebagai sastrawan, kritikus, dan redaktur majalah. Sosok

H.B. Jassin yang dianggap penting dalam dunia kesusastraan di Indonesia

membuatnya banyak mengenal dan berhubungan dengan banyak orang. Beliau

juga tidak membatasi pergaulannya, hal tersebut dapat dilihat pada berbagai

surat-suratnya yang tidak saja dikirimkan kepada keluarga, melainkan juga kepada para

sastrawan. H. B. Jassin juga dikenal sebagai dokumentator, ia banyak mengoleksi

berbagai tulisan-tulisan bukan hanya karya sastra tetapi yang bersifat pribadi

seperti surat-surat pribadi. Surat-surat pribadi miliknya selalu disimpan rapi.

Pembahasan yang terdapat dalam surat tersebut bervariasi, terkadang H.B. Jassin

membahas mengenai karya sastra atau terkadang membahas hal-hal yang sifatnya

sederhana. H.B. Jassin tidak hanya menyimpan surat-surat yang dikirimnya

kepada keluarga, sahabat, dan rekan kerja tetapi sebisa mungkin ia juga

menyimpan surat-surat balasan dari sahabat, keluarga, dan rekan kerjanya.

Menulis surat pribadi dianggap penting, hal tersebut terbukti dengan

adanya pembelajaran menulis surat pribadi pada Sekolah Menengah Pertama.

Namun pembelajaran menulis surat pribadi terkadang dianggap sepele sehingga

pembelajarannya cederung monoton. Para guru memberikan contoh-contoh

sederhana yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari, dan peserta didik pun

akhirnya ketika membuat surat pribadi hanya mengambil tema atau membahas

sesuatu yang sederhana. Dalam menulis surat pribadi SMP kelas VII terdapat

kompetensi dasar yaitu, menulis surat pribadi dengan memperhatikan komposisi,

2

(16)

isi, dan bahasa. Dengan menganalisis surat-surat H.B. Jassin peserta didik

diharapkan mampu mencapai indikator yang telah ditetapkan, di antaranya adalah:

1. Mampu menentukan perbedaan komposisi surat pribadi dengan surat resmi

2. Mampu menulis surat pribadi dengan bahasa yang komunikatif

3. Mampu menyunting surat pribadi

Berkenaan dengan hal tersebut, maka peneliti merasa tertarik untuk

melakukan penelitian mengenai tidak tutur yang terdapat dalam surat pribadi serta

mengkaitkan dengan pembelajaran menulis surat pribadi. Diharapkan dengan

adanya penelitian ini paling tidak peneliti memberikan referensi contoh-contoh

penulisan surat pribadi yang lebih bervariasi dan dapat diterapkan dalam

pembelajaran menulis surat pribadi di sekolah sehingga pembelajaran menulis

surat pribadi dapat dikembangkan. Dengan melihat contoh-contoh berbagai surat

menyurat H.B. Jassin dengan beberapa orang, diharapkan peserta didik bukan

hanya mengetahui tata cara dalam menulis surat pribadi, tetapi peserta didik juga

belajar menggunakan kata-kata atau kalimat yang baik agar surat pribadi maksud

yang disampaikan dalam surat tersebut dapat dimengerti dengan baik oleh lawan

tutur.

B. Pembatasan Masalah

Pembatasan masalah dilakukan agar penelitian yang dilakukan lebih

terfokus dan tidak menyimpang dari apa yang ingin dilaksanakan, selain itu

pembatasan masalah dilakukan agar penulis tidak terlalu luas menjabarkan objek

yang akan diteliti. Dalam penelitian ini, ruang lingkup yang menjadi fokus

penelitian ini adalah pemakaian tindak tutur ilokusi pada surat-surat H.B. Jassin

beserta balasannya. Setelah menjabarkan mengenai tidak tutur ilokusi, selanjutnya

mengaitkannya dengan pembelajaran menulis surat pribadi yang terdapat pada

(17)

4

Analisis surat yang dilakukan berdasarkan pada tinjauan pragmatik, dari

teori-teori dalam pragmatik, menentukan teori yang akan dijadikan acuan dalam

penelitian, kemudian surat tersebut dideskripsikan dan ditentukan jenis tindak

tuturnya.

C. Identifikasi Masalah

Dalam penelitian ini, terdapat identifikasi masalah, di antaranya adalah sebagai

berikut:

1. Surat-surat pribadi H.B. Jassin beserta balasannya dapat dianalisis

berdasarkan tindak tutur ilokusi yang terdapat dalam tuturan.

2. Analisis tindak tutur ilokusi surat-surat pribadi H.B. Jassin beserta

balasannya juga dikaitkan dengan konteks yang terkait dalam isi surat

tersebut.

3. Analisis tindak tutur ilokusi surat-surat pribadi H.B. Jassin beserta

balasannya dapat diterapkan dalam pembelajaran menulis surat pribadi di

SMP PGRI 371 Pondok Aren.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah yang telah diuraikan,

maka terdapat beberapa rumusan masalah dalam penelitian ini, perumusan

tersebut di antaranya, yaitu:

1. Bagaimanakah wujud tindak tutur ilokusi pada surat-surat H.B. Jassin

beserta balasannya?

2. Apa saja implikasi yang didapat dari tindak tutur ilokusi pada surat-surat

H.B. Jassin beserta balasannya dalam pembelajaran menulis surat pribadi

di SMP PGRI 371 Pondok Aren kelas VII?

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan pemaparan latar belakang masalah maka penelitian ini yang

akan dilakukan memiliki tujuan sebagai berikut:

1. Menjabarkan wujud tindak tutur ilokusi yang terdapat pada surat-surat

(18)

2. Menjabarkan implikasi yang didapat dari tindak tutur ilokusi pada

surat-surat H.B. Jassin beserta balasannya dalam pembelajaran menulis surat-surat

pribadi di SMP PGRI 371 Pondok Aren kelas VII.

F. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

a. Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi perkembangan

ilmu linguistik serta pengajarannya, terutama pada kajian pragmatik mengenai

tindak tutur.

b. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya pengetahuan mengenai tindak

tutur, khususnya tindak tutur ilokusi. Selain itu, memperkaya pengetahuan

mengenai pembelajaran menulis surat pribadi terutama pada pembelajaran

menulis surat pribadi di SMP PGRI 371 Pondok Aren kelas VII.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi peneliti, penelitian ini merupakan wujud aplikasi pembelajaran pragmatik,

khususnya mengenai tindak tutur.

b. Bagi guru, penelitian ini bisa dijadikan alternatif dalam menentukan metode

dan bahan ajar dalam pelajaran Bahasa Indonesia pada materi menulis surat

pribadi.

c. Bagi siswa, penelitian ini dapat mempermudah siswa dalam memahami

mengenai tuturan terkait dalam pembelajaran menulis surat pribadi.

d. Bagi masyarakat, penelitian ini juga bermanfaat sebagai upaya pelestarian

terhadap surat-surat H.B. Jassin beserta balasannya, karena peneliti bukan

hanya meneliti surat-surat H.B. Jassin tetapi juga ikut melakukan inventarisasi

dengan cara melakukan pengetikan ulang terhadap surat-surat H.B. Jassin agar

(19)

6

G. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dimaksudkan agar penelitian lebih terarah, jelas, dan

sistematis. Adapun sistematika penelitian ini adalah sebagai berikut:

Bab 1 merupakan pendahuluan. Pada bab ini, dijabarkan mengenai latar

belakang masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat

penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab 2 merupakan kajian teoretis. Kajian teoretis dimaksudkan untuk

menjabarkan teori-teori yang dapat menunjang dalam analisis. Selain kajian

teoretis terdapat pula tinjauan pustaka yang dimaksudkan untuk melihat

penelitian-penelitian terdahulu yang pernah dilakukan dengan tema yang sama.

Bab 3 berisi metodologi penelitian. Pada bab ini menjelaskan bagaimana

penelitian ini akan dilakukan. Metode apa yang akan digunakan, populasi dan

sampel, teknik pengumpulan data, dan klasifikasi data.

Bab 4 berisi analisis data. Setelah menetapkan metode penelitian, peneliti

mulai menganalisis data yang diperoleh.

Bab 5 berisi simpulan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan peneliti

(20)

7

Tindak ujar (speect act) adalah fungsi bahasa sebagai sarana penindak.

Semua kalimat atau ujaran yang diucapkan oleh penutur sebenarnya mengandung

fungsi komunikasi tertentu. Tuturan dari seseorang (penutur) tentu saja tidak

semata-mata hanya asal bicara, tetapi mengandung maksud tertentu. Fungsi inilah

yang menjadi semangat para penutur untuk „menindakkan’ sesuatu.1

Didalam mengatakan sesuatu, seseorang tidak semata-mata mengatakan

sesuatu dengan pengucapan kalimat. Di dalam pengucapan kalimat, ia juga

“menindakkan” sesuatu. Pengucapan kalimat “Mau minum apa?” si pembicara

tidak semata-mata menanyakan atau meminta jawaban tertentu; ia juga

menindakkan sesuatu, yakni menawakan minuman. Seorang ibu pondokan putri

ketika mengatakan “Sudah jam sembilan” tidak semata-mata memberitahu

keadaan jam pada waktu itu; ia juga menindakkan sesuatu, yakni memerintahkan

si lawan bicara supaya pergi meninggalkan rumah pondokannya.2

Ujaran (bahasa) tidak hanya berfungsi untuk mengungkapkan unsur

kognitif, unsur sikap pun ada dalam setiap bahasa, yaitu unsur yang

memperlihatkan maksud penutur, pikiran, kegiatan, dan sebab penuturannya.

Unsur sikap ini mungkin tidak secara eksplisit dinyatakan, tapi bisa dimengerti.

Tidak semua ujaran didahului “Saya...,” tapi segala ujaran bisa diawali oleh

kata-kata seperti Saya menginginkan, saya berharap, saya perintahkan, saya menolak,

atau kata kerja lain yang mengungkapkan maksud, harapan, dugaan, dan

sebagainya tanpa merubah arti kalimat dalam konteksnya.3

Tindak tutur dalam ujaran suatu kalimat merupakan penentu maksud

kalimat itu. Namun, makna suatu kalimat tidak ditentukan oleh satu-satunya

tindak seperti yang berlaku dalam kalimat yang sedang diujarkan itu, tetapi selalu

1

Mulyana, Kajian Wacana, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2005), h. 80. 2

Bambang Kaswanti Purwo,Pragmatik dan Pengajaran Bahasa,(Yogyakarta: Kanisius, 1990), h.19-20.

3

(21)

8

dalam prinsip adanya kemungkinan untuk menyatakan secara tepat apa yang

dimaksud oleh penuturnya. Oleh sebab itu, mungkin sekali, dalam setiap tindak

tutur, penutur menuturkan kalimat yang unik karena dia berusaha menyesuaikan

ujaran dengan konteksnya.4

Istilah dan teori tindak tutur mula-mula diperkenalkan oleh J.L. Austin,

seorang guru besar di Universitas Harvard, pada tahun 1956. Teori yang berasal

dari materi kuliah itu kemudian dibukukan oleh J.O. Urmson (1965) dengan judul

How to do Thing with Word?tetapi teori tersebut baru menjadi terkenal dalam

studi linguistik setelah Searle (1969) yang menerbitkan buku berjudul Speech Act

and Essay in The Philosophy of Language.5

Austin dalam buku Fatimah Djajasudarja, menyebutkan bahwa pada

dasarnya pada saat seseorang mengatakan sesuatu, dia juga melakukan sesuatu.

Pada saat seseorang menggunakan kata-kata kerja, seperti promise „berjanji’,

apologize „meminta maaf’, pronounce „menyatakan’ misalnya dalam tuturan I

promise I will come on time („saya berjanji saya akan datang tepat waktu’) maka

yang bersangkutan tidak hanya mengucapkan tetapi juga melakukan tindakan

berjanji. Tuturan tersebut dinamakan tuturan performatif, sedangkan kata kerjanya

disebut kata kerja performatif.6

Let us assign names to these under the general heading of speech acts:7 a. Uttering word (morphemes, sentences) = performing utterance acts. b. Referring and predicating = performating propositional acts.

c. Stating, questioning, commanding, promising, etc = performing ilocutionary acts.

Searle menjabarkan mengenai tindak tutur sebagai berikut:8

a. Tindak ujar adalah kegiatan mengujarkan kata-kata (mulai dari morfem

hingga kalimat).

b. Tindak preposisi adalah merujuk dan memprediksi.

4

Abdul Rani, Analisis Wacana,(Malang: Bayumedia Publishing, 2004), h. 159. 5

Abdul Chaer, dan Leonie Agustina,Sosiolinguistik Perkenalan Awal,(Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2010), h. 50.

6

Fatimah Djajasudarja,Wacana dan Pragmatik, (Bandung: PT. Refika Aditama, 2012),h. 60.

7

John R. Searle,Speech ActAn Essay In The Philosophy Of Language, (London: Cambrige University Press), h. 23.

8

(22)

c. Menyatakan, menanyakan, memerintah, berjanji, dll merupakan tindak

tutur ilokusi.

Tindak tutur adalah aktivitas mengujarkan atau menuturkan kalimat

dengan maksud tertentu. Pendapat lain mengungkapkan bahwa tindak tutur adalah

“apa-apa yang bisa dilakukan oleh manusia dalam bertutur”. Dari definisi ini, maka penuturlah yang sesungguhnya bertindak dengan memaksimalkan

tuturannya untuk mencapai tujuan tertentu dan tujuan dari tindak tutur dinyatakan

sukses jika apa yang diinginkan oleh penutur tercapai.9

Tindak ujar merupakan aksi (tindakan) dengan menggunakan bahasa pada

hampir semua aktivitas. Bahasa digunakan dalam kesempatan yang lebih luas,

hampir pada semua kegiatan sampai pada mimpi pun menggunakan bahasa.

Penggunaan bahasa untuk menyatakan informasi (permohonan informasi,

memerintah, mengajukan, permohonan, mengancam, mengingatkan, bertaruh,

menasihati, dsb.)10

Searle dalam Aslinda mengemukakan, bahwa dalam semua interaksi

lingual terdapat tindak tutur. Interaksi lingual bukan hanya lambang, kata, atau

kalimat, melainkan lebih tepat apabila disebut produk atau hasil lambang, kata,

atau kalimat yang berwujud perilaku tindak tutur (the performance of speech act).

Secara ringkas dapat dikatakan bahwa tindak tutur adalah produk atau hasil dari

suatu kalimat dalam kondisi tertentu dan merupakan kesatuan kecil dalam

interaksi lingual. Tindak tutur dapat berwujud pernyataan, pertanyaan, dan

perintah. Teori tindak tutur adalah teori yang lebih cenderung meneliti makna dan

maksud kalimat, bukan teori yang berusaha meneliti struktur kalimat.11Tindak

tutur terjadi oleh karena adanya partisipan minimal dua dalam komunikasi, yang

keduanya merupakan pembicara dan pendengar yang perannya bergantian.12

9

Hindun,Pragmatik untuk Perguruan Tinggi, (Depok: Nufa Citra Mandiri, 2012),h. 9-10. 10

Fatimah Djajasudarma,Wacana Pemahaman dan Hubungan Antarunsur,(Bandung: Refika Aditama, 2010), h. 60.

11

Aslinda, dan Leni Syafyahya, Pengantar Sosiolinguistik,(Bandung: PT. Refika Aditama, 2007), h. 33-34.

12

(23)

10

Searle dalam buku Tagor,mengutarakan bahwa suatu tindak tutur memiliki

makna di dalam konteks, dan makna itu dapat dikategorikan ke dalam makna

lokusi, ilokusi, dan perlokusi.13

2. Jenis-Jenis Tindak Tutur

Austin dalam buku Tagor, membedakan antara ujaran yang mengatakan

(pernyataan, pemerian, dan sebagainya) dan ujaran yang melakukan sesuatu

(misalnya berjanji, memperingatkan, minta maaf, dan sebagainya). Perbedaan ini

dimaksudkan untuk membedakan ujaran yang tidak berupa tindakan (konstantif)

dan ujaran yang berupa tindakan (performatif). Namun, dalam artikelnya How to

do thing with word , ia mengubah teori asliya itu. Ia mengemukakan bahwa dalam

artikel itu, ujaran konstantif juga terbukti bisa menjadi tindak tutur (speect act),

yaitu melakukan tindak (seperti performatif); membuat suatu pernyataan atau

memerikan sesuatu sama-sama membentuk tindak tutur.14

Austin dalam buku Ibrahim, mengembangkan teori tindak tuturnya secara

lebih umum. Ujaran bisa melakukan tiga jenis tindak. Tindak ilokusi (locutionary

acts) merupakan tindak mengatakan sesuatu; menghasilkan serangkaian bunyi

yang berarti sesuatu. Ini merupakan aspek bahasa yang merupakan pokok

penekanan linguistik tradisional. Tindak perlokusi menghasilkan efek tertentu

pada pendengar. Persuasi merupakan tindak perlokusi: orang tidak dapat

mempersuasi seseorang tentang sesuatu hanya dengan mengatakan Saya

mempersuasi anda. Contoh-contoh yang sesuai adalah meyakinkan, melukai,

menakut-nakuti, dan membuat tertawa. Tindak ilokusi dilakukan dengan

mengatakan sesuatu, dan mencakup tindak-tindak seperti bertaruh, berjanji,

menolak, dan memesan.15

John R. Searle dalam buku Alwasilah, menyatakan bahwa dalam pratik

penggunaan bahasa terdapat setidaknya tiga macam tindak tutur. Ketiga macam

tindak tindak tutur itu berturut-turut dapat disebutkan sebagai berikut: (1) tindak

lokusioner (locutionary acts), (2) tindak ilokusioner (illocutionary acts),(3) tindak

perlokusioner (perlocutionary acts).

13

Tagor Pangaribuan, Paradigma Bahasa,(Yogyakarta: Graha Ilmu, 2008), h. 117. 14

Sumarsono,Filsafat Bahasa, (Jakarta: Gramedia, 2004), h. 38-39. 15

(24)

Tindak lokusioner adalah tindak bertutur dengan kata, frasa, dan kalimat

sesuai dengan makna yang dikandung oleh kata, frasa, dan kalimat itu. Tindak

tutur ini dapat disebut sebagai the act af saying something.Dalam tindak

ilokusioner tidak dipermasalahkan maksud dan fungsi tuturan yang disampaikan

oleh si penutur.Jadi, tuturan tanganku gatal misalnya, semata-mata hanya

dimaksudkan untuk memberitahu si mitra tutur bahwa pada saat dimunculkannya

tuturan itu tangan penutur sedang dalam keadaan gatal.

Tindak ilokusioner adalah tindak melakukan sesuatu dengan maksud dan

fungsi tertentu pula. Tindak tutur ini dapat dikatakan sebagai the act of doing

something.Tuturan tanganku gatal yang diucapkan penutur bukan semata-mata

dimaksudkan untuk memberitahu si mitra tutur bahwa pada saat dituturkannya

tuturan itu rasa gatal sedang bersarang pada tangan penutur, namun lebih dari itu

bahwa penutur menginginkan mitra tutur melakukan tindakan tertentu berkaitan

dengan rasa sakit gatal pada tangannya itu.

Tindak ilokusioner adalah apa yang ingin dicapai oleh penuturnya pada

waktu menuturkan sesuatu dan dapat merupakan tindakan menyatakan, berjanji,

meminta maaf, mengancam, meramalkan, dan sebagainya.16

Tindak perlokusi adalah tindak menumbuhkan pengaruh (effect) kepada

mitra tutur. Tindak tutur ini dapat disebut dengan the act af affecting someone.

Tuturan tanganku gatal, misalnya dapat digunakan untuk menumbuhkan

pengaruh (effect) rasa takut kepada mitra tutur. Rasa takut itu muncul, misalnya,

karena yang menuturkan tuturan itu berprofesi sebagai seorang tukang pukul yang

pada kesehariannya sangat erat dengan kegiatan memukul dan melukai orang

lain.17

Setiap kali mengucapkan sesuatu, ada tiga tindak yang langsungdilakukan

secara bersamaan. Pertama adalah tindak lokusioner, yaitu menghasilkan ucapan

yang tertata baik menurut tata bahasa yang sedang digunakan. Kedua adalah

tindak ilokusioner, yaitu menyampaikan makna tertentu. Ilokusi yangdisampaikan

16

F.X Nandar, Pragmatik dan Penelitian Pragmatik, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009),h. 14.

17

(25)

12

lewat lokusi adalah makna ingindisampaikan. Ketiga adalah tindak perlokusi,

yaitu efek dari kata-kata yang diucapkan.18

Dalam bertutur, seseorang melakukan tindak lokusi, tindak ilokusi, dan

mungkin bahkan tindak perlokusi. Menurut Austin dalam buku Louise

Cummings, tindak lokusi „kira-kira sama dengan pengujaran kalimat tertentu

dengan pengertian dan acuan tertentu, yang sekali lagi kira-kira sama dengan

„makna’ dalam pengertian tradisional. Selama penutur berkata „Anjing galak itu

ada di kebun’ sedang berusaha memproduksi kalimat yang maknanya didasarkan

pada acuan pada anjing dan kebun tertentu dalam dunia luar, maka penutur ini

sedang memproduksi tindak tutur lokusi Austin. Namun demikian, dalam

memproduksi tindak ilokusi kita „juga melakukan berbagai tindak ilokusi seperti

memberitahu, memerintah, mengingatkan, melaksanakan, dan sebagainya, yakni,

ujaran-ujaran yang memiliki daya (konvensional) tertentu’. Bagi Austin, tujuan

penutur dalam bertutur bukan hanya untuk memproduksi kalimat-kalimat yang

memiliki pengertian dan acuan tertentu. Bahkan, tujuannya adalah untuk

menghasilkan kalimat-kalimat semacam ini dengan pandangan untuk memberikan

kontribusi jenis gerakan interaksional tertentu pada komunikasi.19

Wijana dalam buku Kunjana Rahardi telah menguraikan adanya dua

macam jenis tindak tutur di dalam praktik berbahasa, yakni (1) tindak tutur

langsung dan tindak tutur tidak langsung, (2) tindak tutur literal dan tindak tutur

tidak literal. Adapun yang dimaksud dengan tindak tutur langsung adalah tindak

tutur yang dinyatakan sesuai dengan modus kalimatnya. Kalimat berita atau

deklaratif adalah kalimat yang digunakan untuk menyampaikan informasi.

Kalimat tanya digunakan untuk menanyakan sesuatu, sedangkan kalimat perintah

digunakan untuk menyatakan perintah. Jadi tindak tutur itu sesungguhnya

merefleksikan fungsi konvensional dari sebuah kalimat.

Sedangkan yang dimaksud dengan tindak tutur tidak langsung adalah

tindakan yang tidak dinyatakan langsung oleh modus kalimatnya. Ada kalanya,

untuk menyampaikan maksud „memerintah’, orang akan menggunakan kalimat

18

Elizabeth Black,Stilistika Pragmatis, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), h. 38. 19

(26)

berita, atau bahkan mungkin menggunakan tanya. Ada kalanya pula, sebuah

pertanyaan harus dinyatakan secara tidak konvensional dengan sebuah kalimat

berita.Akan tetapi, perlu diketahui juga bahwa kalimat perintah mustahil dapat

digunakan secara tidak langsung untuk menyatakan maksud yang bukan perintah.

Jadi, hanya kalimat yang bermodus berita dan bermodus tanya sajalah yang bisa

digunakan untuk menyatakan tindak tutur yang tidak langsung itu.Selanjutnya,

tindak tutur literal dapat dimaknai sebagai tindak tutur yang maksudnya sama

persis dengan makna kata-kata yang menyusunnya. Tindak tutur nonliteral adalah

tindak tutur yang maksudnya tidak sama, atau bahkan berlawanan dengan makna

kata-kata yang menyusunnya itu.20

3. Tindak Tutur Ilokusi

Sebuah tuturan selain berfungsi untuk mengatakan atau menginformasikan

sesuatu, dapat juga dipergunakan untuk melakukan sesuatu. Bila hal ini terjadi,

tindak tutur yang terbentuk adalah tindak ilokusi.21

Tindak tutur ilokusi adalah suatu tindak yang dilakukan dalam

mengatakan sesuatu seperti berbuat janji, membuat pernyataan, mengeluarkan

perintah atau permintaan, menasbihkan nama kapal, dan lain-lain. Austin dalam

buku Wijana, mengatakan bahwa tindak mengatakan sesuatu (of saying) berbeda

dengan tindak dalam mengatakan sesuatu (in saying). Tindak mengatakan sesuatu

hanyalah bersifat mengungkapkan sesuatu sedangkan tindak dalam mengatakan

sesuatu mengadung tanggung jawab si penutur untuk melaksanakan sesuatu

sehubungan dengan isi ujarannya. Tindak dalam mengatakan sesuatu inilah yang

oleh Austin disebut tindak ilokusi sedangkan tindak mengatakan sesuatu lebih

dekat hubungannya dengan tindak lokusi. 22

Searle dalam buku Louise Cummings, menggunakan kaidah-kaidah

konstitutif untuk menetapkan klasifikasi tindak ilokusi berikut- asertif, direktif,

komisif, ungkapan, dan deklarasi. Tindak-tindak ini lebih luas daripada kata kerja

ilokusi yang bisa mewakilinya. Misalnya, tindak ilokusi komisif „berjanji’ dapat

20

Kunjana Rahardi, Sosiopragmatik,(Jakarta: Erlangga, 2009),h. 19-20. 21

I. Dewa Putu Wijana,Dasar-Dasar Pragmatik,(Yogyakarta: Percetakan ANDI, 1996), h. 18.

22

(27)

14

berbentuk „Saya berjanji’. Meskipun begitu, tindak ilokusi yang sama ini dapat

dilakukan melalui ujaran „Saya akan tiba di sana tepat waktu’. Menurut Searle,

dalam hal ini, kata kerja ilokusi hanya merupakan satu jenis alat yang

menunjukkan daya ilokusi (IFID ilokusi atau illocutionary force indicating device

atau piranti penunjuk daya ilokusi). Demikian juga IFID yang berkaitan dengan

satu tindak ilokusi dapat digunakan untuk melakukan tindak ilokusi yang kedua.23

Situasi-situasi yang berbeda menuntut adanya jenis-jenis dan derajat sopan

santun yang berbeda juga.Pada tingkatan yang paling umum, fungsi-fungsi ilokusi

dapat diklasifikasi menjadi empat jenis, sesuai dengan hubungan fungsi-fungsi

tersebut dengan tujuan-tujuan sosial berupa pemeliharaan perilaku yang sopan dan

terhormat.24

a) Kompetiti (competitive): tujuan ilokusi bersaing dengan tujuan sosial; misalnya,

memerintah, meminta, menuntut, mengemis.

b) Menyenangkan (convivial): tujuan ilokusi sejalan dengan tujuan sosial; misalnya

menawarkan, menyapa, mengucapkan terima kasih, mengucapkan selamat.

c) Bekerja sama (collaborative) : tujuan ilokusi tidak menghiraukan tujuan sosial,

misalnya menyatakan, melapor, mengumumkan, mengajarkan.

d) Bertentangan (conflictive) : Tujuan ilokusi bertentangan dengan tujuan sosial;

misalnya mengancam, menuduh, menyumpahi, memarahi.

I call then these classes of uttarance, classified according to their illocutionary force, by the following more- or – less rebarbative names:25 1. Verdictives

2. Exercitivies 3. Commissives

4. Behabitivies (a shocker this) 5. Expositives

We shall take them in order, but first I will give a rough idea of each. The first, verdictives, are typified by the giving of verdict, as the name implies, by a jury, arbitrator, or umpire. But they need be final; they may be, for example, an astimate, reckoning, or apparaisal. It is essentially giving a finding as to something—fact, or value –which is for different reasons hard to be certain about.

23

Louise Cummings,Pragmatik Sebuah Perspektif Multidisipliner, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), h. 11.

24

Geoffrey Leech, penerjemah M.D.D. Oka, Prinsip-Prinsip Pragmatik, (Jakarta: UI Press, 2011),h. 162.

25

(28)

The second, exercitives, are the exerciting of powers rights, or influence. Examples are appointing, voting, ordering, urging, advising, warning, &c. The third, commissives, are typified by promising or otherwise undertaking; they commit you to doing something, but include also declarations or announcements ogintention, which are not promises, and also rather vague things which we may call espousals, as for example, siding with. They have obvious connexions with verdictives and exercitives.

The fourth, behabitivies, are a very miscellaneous group, and have to do with attitudes and social behaviour. Example are apologizing, congratulating, commending, condoling, curcing, and challenging

The fifth, expositivies are difficult to define. They make plain how our utterances fit into the course of an argument or conversation, how we are using word, or in general, are expository. Example are ‗I reply’, ‗I argue’, ‗I concede’, ‗I illustrate’, ‗I assume’, ‗I postulate’. We should be clear from the start that there are still wide possibilities of marginal or awkward cases, or of overlaps.

Austin mengungkapkan ilokusi dapat dibagi menjadi lima:26

A. Verdictives, yaitu tindakan sebuah bahasa yang ditandai dengan adanya suatu

keputusan seperti yang dilakukan oleh wasit atau juri. Berikut ini contoh

tindakan bahasa yang termasuk verdictives: membebaskan, menghukum,

memutuskan, menyangka, menafsirkan, memahami, mengirakan, memerintah,

menghitung, memperkirakan, menempatkan, menetapkan tempat, menentukan

tanggal, mengukur, menilai, melukiskan, menganalisa.

B. Exercitivis, jenis ini adalah tindakan bahasa yang merupakan akibat adanya

kekuasaan, hak, atau pengaruh. Contohnya: menunjuk, memberi suara,

memerintahkan, memaksakan, menasehati, memperingati, menamai,

mengarahkan, menghukum, mewariskan, memproklamirkan.

C. Commisives, jenis ini adalah tindakan bahasa yang ditandai dengan adanya

perjanjian atau perbuatan. Tindakan bahasa ini membuat si pembicara

melakukan sesuatu. Tindakan ini berhubungan erat dengan verdictives dan

exercitivis. Contohnya: berjanji, melaksanakan, bersumpah, menyetujui,

melibatkan/memperjuangkan, mengumumkan, melawan, bertaruh,

mempertahankan, mengawinkan.

D. Behabitives, jenis ini adalah tindakan bahasa yang merupakan kelompok

campuran dan harus dilaksanakan dengan sikap dan tingkah laku sosial.

26

(29)

16

Contohnya: memaafkan, memberi selamat, menghargai, memberi salam duka,

mengutuk, menantang.

E. Expositives, jenis ini adalah tindakan bahasa yang sulit didefinisikan, karena

tindakan bahasa ini menyederhanakan ucapan-ucapan serta penggunaan

kata-kata agar selaras dengan suatu argumentasi atau percakapan. Dengan kata-kata

lain, tindakan bahasa ini digunakan dalam memberi keterangan yang

menyangkut pengurai pendapat, pengarahan, dan penjelasan mengenai adat

istiadat. Contoh: „aku menjawab’, „aku membantah’, „aku mengizinkan’, „aku

menggambarkan’, „aku mengasumsikan’, „aku mendalilkan’.

Selanjutnya Searle dalam buku Kunjana Rahardi, menggolongkan tindak

tutur ilokusi dalam aktivitas bertutur ke dalam lima macam bentuk tuturan, yakni

(1) asertif, (2) direktif, (3) ekspresif, (4) komisif, dan (5) deklarasi.Tindak tutur

ilokusi tersebut sebenarnya sama dengan tindak tutur ilokusi yang diungkapkan

oleh Austin, Searle hanya melengkapi atau menyempurnakan teori Austin.Setiap

bentuk tuturan yang disampaikan oleh Searle seperti disebutkan di atas itu dapat

dijelaskan sebagai berikut:27

a. Bentuk tutur asertif (assertive). Adapun yang dimaksud dengan bentuk tutur

asertif adalah bentuk tutur yang mengikat penutur pada kebenaran proposisi

yang sedang diungkapkannya dalam tuturan itu. Bentuk tutur asertif itu

dapat mencakup hal-hal sebagai berikut : (a) menyatakan (stating), (b)

menyarankan (suggesting), (c) membual (boasting), (d) mengeluh

(complaining), dan (e) mengklaim (claiming).

b. Bentuk tuturan direktif (directive), yang dimaksud dengan bentuk tutur

direktif adalah bentuk tuturan yang dimaksudkan oleh si penuturnya untuk

membuat pengaruh agar sang mitra tutur melakukan tindakan-tindakan yang

dikehendakinya seperti berikut ini : (a) memesan (ordering), (b) memerintah

(commanding), (c) memohon (requesting), (d) menasihati (advising), dan (e)

merekomendasi (recommending).

c. Bentuk tutur ekspresif (expressive),yang dimaksud dengan bentuk tuturan

ekspresif ini adalah bentuk tutur yang berfungsi menyatakan atau

27

(30)

menunjukkan sikap psikologis si penutur terhadap keadaan tertentu seperti

yang dapat disebutkan berikut ini: (a) berterima kasih (thaking), (b)

memberi selamat (congratulating), (c) meminta maaf (pardoning), (d)

menyalahkan (blaming), (e) memuji (praising), dan (f) berbela sungkawa

(condoling).

d. Bentuk tutur komisif (commissive), yang dimaksud dengan bentuk tutur

komisif adalah bentuk tutur yang digunakan untuk menyatakan janji atau

penawaran tertentu seperti berikut ini: (a) berjanji (promising), (b)

bersumpah, dan (c) menawarkan sesuatu (offering).

e. Bentuk tutur deklarasi (declaration). Adapun yang dimaksud dengan bentuk

tutur deklarasi adalah bentuk tutur yang menghubungankan antara isi

tuturan dengan kenyataannya seperti (a) berpasrah (resigning), (b) memecat

(dismissing). (c) membabtis(christening), (d) memberi nama (naming), (e)

mengangkat (appointing), (f) mengucilkan (excommunicating), dan (g)

menghukum (sentencing).

Satu hal sangat mendasar yang dapat dicatat dari penggolongan tindak

tutur ilokusi atau illocunary acts ini ke dalam bentuk-bentuk tuturan menurut

filsuf bahasa yang sangat ternama ini adalah bahwa satu tindak tutur, yakni tindak

tutur ilokusi, ternyata dapat memiliki bentuk-bentuk tuturan yang mencerminkan

maksud dan fungsi komunikatif yang bermacam-macam.

4. Surat Pribadi A. Pengertian Surat

Apabila berbicara arti surat maka akan ditemukan berbagai macam cara

pengungkapan rumusan surat tersebut. Di bawah ini disajikan beberapa arti surat

menurut para ahli.28

a. Samsoeri Effendi mengemukakan arti surat dapat disamakan dengan

mengutarakan pembicaraan tertulis kepada seseorang yang tidak dihadapi.

28

(31)

18

b. Adapun menurut Thomas Wiyasa, surat adalah satu sarana untuk

menyampaikan pernyataan atau informasi secara tertulis dari pihak yang satu

ke pihak yang lain.

c. Menurut TJ. Rahma M.A. Gani, surat adalah hubungan komunikasi yang

berbentuk tulisan serta berisi pernyataan sebagai bahan informasi untuk

disampaikan kepada pihak lain.

d. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka, surat

adalah kertas yang tertulis (berbagai-bagai isi dan maksudnya).

Surat adalah sehelai kertas atau lebih yang digunakan sebagai alat

komunikasi untuk menyampaikan pernyataan maupun informasi secara tertulis

dari pihak satu kepada pihak lain. Informasi tersebut bisa berupa pemberitahuan,

pernyataan, pertanyaan, permintaan, laporan, pemikiran, sanggahan, dan lain

sebagainya.29

Surat pribadi adalah surat yang berisi masalah pribadi yang ditujukan

kepada keluarga, teman, atau kenalan karena sifatnya akrab dan santai, dalam

surat pribadi biasa digunakan bahasa ragam akrab dan ragam santai.30

Ditinjau dari sifat isinya, surat adalah jenis karangan (komposisi) paparan.

Di dalam paparan pengarang mengemukakan maksud dan tujuannya, menjelaskan

apa yang dipikirkan dan dirasakannya. Ditinjau dari peraturannya, surat adalah

percakapan yang tertulis. Jadi, sejenis dengan ragam percakapan (dialog) seperti

yang biasa dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Ditinjau dari fungsinya, surat

adalah suatu alat atau sarana komunikasi tulis, surat dipandang sebagai alat

komunikasi tulis yang paling efisien, efektif, ekonomis, dan praktis.31

Dalam penulisan surat pribadi, berkaitan juga dengan penggunaan ragam

bahasa. Ragam bahasa yang paling berkaitan dengan situasi berbahasa atau

pragmatik adalah ragam fungsional. Martin Joos, linguis berkebangsaan Amerika,

29

Adlan Ali & Tanzil,Pedoman Lengkap Menulis Surat, (Tangerang: PT. Kawan Pustaka, 2006), h. 1.

30

Soedjito, dan Solchan TW,Surat Menyurat Resmi Bahasa Indonesia, (PT. Remaja Rosdakarya: Bandung, 2004), h. 14.

31

(32)

membagi ragam fungsional menjadi lima sub-ragam, yakni baku, resmi, usaha,

santai, dan akrab.32

Jadi dapat disimpulkan bahwa surat adalah salah satu media atau alat yang

dapat digunakan oleh manusia ketika tidak dapat bertatap muka secara langsung

dalam menjalin sebuah komunikasi dengan berbagai tujuan.

B. Dasar-dasar Komunikasi dengan Surat

Dasar-dasar komunikasi dengan surat yang meliputi surat sebagai media

komunikasi, surat sebagai dokumen tertulis, dan surat sebagai wakil atau duta.33

1. Surat sebagai Media Komunikasi

Komunikasi tidak hanya digunakan untuk pemenuhan kebutuhan materil,

melainkan juga untuk pengoperan ilmu pengetahuan, baik secara horizontal

maupun secara vertikal, yakni penyampaian informasi dari yang mengetahui

kepada yang tidak mengetahui, sehingga informasi itu pada akhirnya menjadi

milik bersama.34

Di dalam proses komunikasi ada tiga unsur yang sangat berperan aktif.

Pertama: komunikator yang berdiri dan memainkan model atau media komunikasi

verbal maupun non-verbal. Kedua: komunikasi (pribadi atau kelompok) adalah

pihak yang menerima hubungan dari komunikator. Ketiga: message (pesan)

adalah unsur terpenting dan inti dalam interaksi antara komunikator dengan

komunikan.35

Berkomunikasi berarti mengemukakan buah pikiran melalui media

tertentu dengan maksud untuk mendapat tanggapan sehingga diharapkan tujuan

berkomunikasi berhasil dengan sebaik-baiknya.Berkirim surat pada hakikatnya,

melakukan komunikasi sehingga tujuan utama si penulis surat yaitu, memperoleh

tanggapan dari si penerima surat. Oleh karena itu, surat merupakan media

komunikasi yang banyak dipergunakan baik oleh badan usaha maupun

perseorangan.

32

Djago Tarigan,Proses Belajar Mengajar Pragmatik,(Bandung: Angkasa, 1990), h. 33. 33

Asyraf Suryadi,Menulis Berkomunikasi dengan Surat, (Pangkal Pinang: UBB Press, 2010), h. 4-5.

34

S.M. Siahaan,Komunikasi Pemahaman dan Penerapannya, (Jakarta: PT.BPK Gunung Mulia, 1990), h. 10.

35

(33)

20

Komunikasi antarmanusia hanya bisa terjadi, jika ada seseorang yang

menyampaikan pesan kepada orang lain dengan tujuan tertentu, artinya

komunikasi hanya bisa terjadi, kalau didukung adanya sumber, pesan, media,

penerima, dan efek.36

a. Sumber

Semua peristiwa komunikasi akan melibatkan sumber sebagai pembuat

atau pengirim informasi. Dalam komunikasi antarmanusia, sumber bisa terdiri

dari satu orang, tetapi bisa juga dalam bentuk kelompok.

b. Pesan

Pesan yang dimaksud dalam proses komunikasi adalah sesuatu yang

disampaikan pengirim kepada penerima. Pesan dapat disampaikan dengan cara

tatap muka atau melalui media komunikasi. Isinya bisa berupa ilmu pengetahuan,

hiburan, informasi, nasihat, atau propaganda.

c. Media

Media yang dimaksud di sini ialah alat yang digunakan untuk

memindahkan pesan dari sumber kepada penerima. Terdapat beberapa pendapat

mengenai saluran atau media. Ada yang menilai bahwa media bisa

bermacam-macam bentuknya, misalnya dalam komunikasi antarpribadi, pancaindra dianggap

sebagai media komunikasi.Selain indra manusia, ada juga saluran komunikasi

seperti telepon, surat, telegram yang digolongkan sebagai media komuniasi

antarpribadi.

d. Penerima

Penerima adalah pihak yang menjadi sasaran pesan yang dikirim oleh

sumber. Penerima bisa terdiri dari satu orang atau lebih, bisa dalam bentuk

kelompok, partai, atau negara.

e. Pengaruh

Pengaruh atau efek adalah perbedaan antara apa yang terjadi dipikir,

dirasakan, dan dilakukan oleh penerima sebelum dan sesudah menerima pesan.

Pengaruh ini bisa terjadi pada pengetahuan, sikap, dan tingkah laku seseorang.

36

(34)

f. Tanggapan balik

Ada yang beranggapan bahwa umpan balik sebenarnya salah satu bentuk

daripada pengaruh yang berasal dari penerima.

g. Lingkungan

Lingkungan atau situasi ialah faktor-faktor tertentu yang dapat

mempengaruhi jalannya komunikasi. Faktor ini dapat digolongkan atas empat

macam, yakni lingkungan fisik, lingkungan sosial budaya, lingkungan psikologis,

dan dimensi waktu.

2. Surat sebagai Dokumen Tertulis

Surat merupakan dokumen tertulis yang memiliki kegunaan sesuai dengan

isi yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, surat berharga harus disimpan

sebaik-baiknya oleh si pemilik surat tersebut. Memang sesungguhnya surat

merupakan salah satu dokumen tertulis, bagi si penerima surat. Hal ini dikatakan

karena dokumen itu sendiri mengandung makna warkat asli yang dipergunakan

untuk alat pembuktian suatu keterangan.

3. Surat sebagai Wakil atau Duta

Salah satu contoh surat sebagai duta adalah surat kepercayaan yang

diterima kepada kepala negara tempat ia diangkat menjadi duta besar. Surat

kepercayaan ditandatangani oleh kepala negara untuk diserahkan kepada kepala

negara dengan upacara penyambutan sesuai dengan upacara kenegaraan yang

berlaku. Lebih jauh lagi peranan surat dapat menambah lebih banyak kawan,

bahkan dengan surat dapat diperoleh dan diutarakan kehangatan cinta.

5. Pembelajaran Menulis Surat Pribadi

Menulis surat pribadi menjadi salah satu materi yang terdapat dalam

pelajaran Bahasa Indonesia di SMP. Pembelajaran menulis surat pribadi terdapat

dalam kurikulum KTSP 2006, sedangkan dalam Kurikulum 2013 pembelajaran

menulis puisi memang ditiadakan. Namun karena banyak sekolah yang masih

menerapkan kurikulum KTSP 2006 dan pemerintah juga sempat menghentikan

penggunaan kurikulum 2013 maka pembelajaran menulis surat pribadi pada kelas

(35)

22

Menulis surat dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama secara terpimpin.

Dalam hal ini siswa menulis berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan. Kedua

secara bebas. Siswa menulis secara bebas, tanpa ada patokan yang harus diikuti. 37

Guru: Bacalah surat berikut baik-baik, kemudian balaslah surat tersebut.

Bogor, 21 Mei 1986

Cucunda tersayang,

Nenenda baru kelar dari RSU PMI Bogor. Penyakit maag Nenenda kumat

lagi. Rupanya Nenenda salah makan. Syukurlah sudah sembuh lagi.

Bagaimana keadaanmu di sini? Pelajarammu majukah? Tentu saja maju,

bukan? Rajin-rajinlah belajar agar engkau naik kelas.

Nenenda sangat rindu padamu. Bila sekolah libur datanglah ke Bogor.

Nenenda menantikan kedatanganmu.

Sekianlah isi surat Nenenda sekali ini. Sampaikan salamku bagi kedua orang

tuamu.

Peluk cium Nenenda bagimu dan adikmu.

Nenenda,

(R. Salim)

Siswa : Membaca surat tersebut. Mereka membayangkan surat itu dari

Neneknya, kemudian mereka membalas surat itu

Guru : Kini mari kita dengarkan jawaban surat itu. Hasan, silahkan maju ke

depan!

Hasan : Maju ke depan dengan sigap. Membacakan balasan surat Nenenda.

Hasil rekaman suara Hasan adalah sebagai berikut.

Nenenda tersayang,

Surat Nenenda telah saya terima. Saya senang karena Nenenda sehat kembali.

Saya ucapkan selamat! Jaga makanan baik-baik Nek agar penyakit Nenenda tidak

kambuh kembali.

37

(36)

Minggu depan sekolah kami bertamasya ke Kebun Raya, Bogor. Saya akan

menjenguk Nenenda.

Sekian surat saya sekali ini Nek, lain kali disambung lagi.

Peluk cium

Cucunda,

(Hasan)

B. Penelitian Terdahulu

Penelitian mengenai tindak tutur dengan menggunakan analisis secara

pragmatik memang sudah banyak dilakukan, tetapi penelitian mengenai tindak

tutur ilokusi yang terfokus pada surat pribadi tidak ditemukan. Di bawah ini

terdapat beberapa penelitian sebelumnya yang telah dilakukan terkait dengan

tindak tutur:

Skripsi Kenfitria Diah Wijayati (2009) dengan judul “Tindak Tutur

Direktif dalam Pertunjukan Wayang Lakon Dewaruci oleh Dalang Ki Manteb

Soedharsono” mendeskripsikan analisisnya sebagai berikut: (1) bentuk tindak

tutur direktif yang ditemukan sebanyak 22 macam, yaitu tindak tutur menyuruh,

menasihati, meminta izin, menguji, meminta restu, mengingatkan, memaksa,

merayu, menantang, menyarankan, memohon, memperingatkan, menganjurkan,

mengharap, mengajak, menyela/interupsi, menegur, memarahi, menagih janji,

mempersilahkan, menginterogasi, dan melarang; (2) ditemukan 22 fungsi dan

makna tuturan, hal ini bisa diketahui setelah tuturan itu digunakan dalam konteks

pemakaian tuturan dalam peristiwa tutur; (3) faktor yang menentukan sebuah jenis

tindak tutur sangat dipengaruhi oleh faktor penutur/mitra tutur, isi tuturan, tujuan

pertuturan, situasi, status sosial, jarak sosial, dan intonasi.

Perbedaan penelitian yang dilakukan oleh Kenfitria Diah Wijayati dengan

penulis terletak pada objek penelitiannya, apabila dalam skripsi Kenfitria yang

menjadi objek penelitiannya adalah tindak tutur dalam sebuah pertunjukkan

wayang, sedangkan dalam penelitian ini, yang menjadi objek penelitian adalah

tindak tutur pada surat-surat H.B. Jassin. Selain itu, dalam penelitian Kenfitria

(37)

24

sedangkan dalam penelitian ini, fokus penelitian bukan hanya pada tindak tutur

direktif tetapi semua tindak tutur ilokusi.

Skripsi Jamilatun (2011) dengan judul “Tindak Tutur Direktif dan

Ekspresif Pada Rubrik Kriing Solopos (Sebuah Tinjauan Pragmatik) dengan hasil

analisis sebagai berikut: terdapat wujud tindak tutur direktif yang terdapat dalam

RKS sebanyak 12 jenis tindak tutur. Tindak tutur direktif itu meliputi tindak tutur

mengajak, mengingatkan, melarang, menasihati, meminta, memohon,

menyarankan, menyuruh, mengharap, mengusulkan, memperingatkan, dan

mempertanyakan. Wujud tindak tutur direktif yang paling banyak ditemui adalah

tindak tutur meminta dan memohon

Wujud tindak tutur ekspresif yang terdapat dalam RKS sebanyak 43 jenis

tindak tutur. Tindak tutur ekspresif itu meliputi tindak tutur memprotes,

mengkritik, mendukung, menyetujui, menyindir, menyayangkan, berterima kasih,

mengeluh, membenarkan, memuji, mencurigai,meminta maaf, mengklarifikasi,

mengungkapkan rasa iba, mengungkapkan rasa bangga, mengungkapkan rasa

salut, mengungkapkan rasa malu, mengungkapkan rasa kecewa, mengungkapkan

rasa jengkel, mengungkapkan rasa prihatin, mengungkapkan ketidaksetujuan,

mengungkapkan rasa heran, mengungkapkan rasa khawatir, mengungkapkan rasa

ketidakpedulian, mengungkapkan rasa yakin, mengungkapkan rasa bingung,

mengungkapkan rasa sakit hati, mengungkapkan rasa senang, mengungkapkan

rasa simpati, mengungkapkan rasa marah, mengungkapkan rasa muak,

mengungkapkan rasa resah, mengungkapkan rasa ngeri, mengungkapkan rasa

sedih, mengungkapkan rasa syukur, mengucapkan selamat, mengejek,menghina,

menyesal, menolak, mengevaluasi, mengungkapkan rasa berduka cita, dan

mengumpat. Wujud tindak tutur ekspresif yang paling banyak ditemui adalah

tindak tutur berterima kasih dan mengkritik.

Penelitian yang dilakukan oleh Jamilatun terfokus pada analisis tindak

tutur direktif dan ekspresif dalam rubrik Kriiing Solopos, sedangkan penulis

melakukan penelitian yang terfokus pada tindak tutur H.B. Jassin yang mengacu

pada teori tindak tutur ilokusi Searle. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan

(38)

dengan analisis yang terfokus pada surat pribadi H.B. Jassin. Untuk itu, pada

penelitian ini, yang menjadi titik fokus penelitian, yaitu analisis tindak tutur

ilokusi pada surat-menyurat H.B. Jassin serta implementasinya terhadap

pembelajaran menulis surat pribadi pada SMP PGRI 371 Pondok Aren kelas VII.

Skripsi Edah Ajizah dengan judul “Ilokusi dalam Dialog Drama RT NOL

RW NOL Karya Iwan Simatupang dan Implikasinya terhadap Pembelajaran

Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP”. Hasil analisis dalam skripsi tersebut adalah

terdapat 289 dialog, ilokusi yang muncul, yakni ilokusi asertif sebanyak 179

tuturan, ilokusi direktif sebanyak 76 tuturan, ilokusi ekspresif sebanyak 14

tuturan, ilokusi komisif sebanyak sembilan tuturan, ilokusi deklarasi sebanyak 17

tuturan.

Terdapat perbedaan antara penelitian Enda Ajizah dengan penelitian yang

penulis lakukan. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari segi objek penelitiannya.

Apabila Enda meneliti tindak tutur ilokusi dalam naskah drama, sedangkan

penulis melakukan penelitian terhadap surat-surat H.B. Jassin beserta balasannya.

Berdasarkan penjabaran penelitian yang telah dilakukan, maka penulis

menyimpulkan penelitian terdahulu ke dalam bentuk tabel sebagai berikut:

1.1Tabel penelitian terdahulu

No Peneliti Judul Variabel Metode

Analisis

Hasil Penelitian 1. Kenfitria

Dian Wijayati (2009)

“Tindak Tutur

Direktif dalam Pertunjukan Wayang Lakon

Dewaruci oleh

Dalang Ki

Manteb

Soedharsono”

Independen: 1. Pragmatik 2. Tindak tutur 3. Situasi tutur 4. Kesantunan

berbahasa 5. Implikatur

6. Wayang

Dependent

Tindak Tutur

Direktif

Metode kontekstual dan metode padan

Bentuk tindak tutur direktif dalam Pertunjuk an Wayang Dewaruci

oleh Ki

(39)

26 restu, mengingat kan, memaksa, merayu, menantang, menyarank an, memohon, mem peringati, menganjur kan, mengharap kan, mengajak, menyela, menegur, memarahi, menangih janji, mempersila kan, mengintero

gasi dan

melarang.

2. Jamilatun

(2011)

“Tindak Tutur

Direktif dan Ekspresif pada Rubrik KRIING SOLOPOS (sebuah tinjauan pragmatik)” Independent: 1. Pragmatik 2. Situasi tutur 3. Tindak tutur 4. Rubrik

Dependent:

Tindak Tutur

Direktif

Metode padan

Wujud tindak tutur direktif yang terdapat dalam RKS sebanyak

12 jenis

tindak tutur, wujud tindak tutur ekspresif yang terdapat dalam RKS sebanyak 43 jenis.

3. Edah

Ajizah (2014)

“Ilokusi dalam

Dialog Drama RT Nol RW

Nol Karya

Independent: 1. Pragmatik 2. Tindak tutur 3. Ilokusi

Model penelitian

Miles dan

Huberman

(40)

Iwan Simatupang dan

Implikasinya Terhadap Pembelajaran

Bahasa dan

Sastra di

SMP”

4. Drama

Dependen:

Tindak Tutur Ilokusi dalam Drama

dengan tahapan reduksi data, penyajian

data, dan

kesimpulan/ verifikasi.

179 yang

termasuk

ke dalam

ilokusi asertif, 76 ilokusi komisif,

dan 17

(41)

28

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Metodologi merupakan hal yang penting dalam melakukan sebuah

penelitian, melalui metodologi penelitian, dapat dilihat proses mendapatkan

sebuah data hingga proses mengolah data tersebut.

Skema konseptual (1)

Sumber Mahsun dan Meleong, yang telah dimodifikasi peneliti

A. Rancangan Penelitian

Berdasarkan skema konseptual di atas, rancangan penelitian tersebut

berpijak pada tiga aspek, yaitu ancangan penelitian, metode penelitian, dan teknik

penelitian. Ancangan penelitian yang digunakan adalah ancangan pragmatik, hal

tersebut dikarenakan teori tindak tutur ilokusi merupakan salah satu materi yang

dibahas dalam ruang lingkup pragmatik. Metode penelitian yang digunakan

adalah kualitatif deskriptif dan menggunakan beberapa teknik dalam penelitian.

B. Metodologi Penelitian

Metode penelitian merupakan cara pemecahan masalah penelitian yang

dilaksanakan secara terencana dan cermat dengan maksud mendapatkan fakta dan

simpulan agar dapat memahami, menjelaskan, meramalkan, dan mengendalikan

keadaan. Melalui metode yang tepat, seorang peneliti tidak hanya mampu melihat

Metodologi Penelitian

Ancangan pragmatik

Metode kualitatif

Metode simak

Teknik

Teknik

dokumentasi Teknik simak

Teknik Simak

(42)

fakta sebagai kenyataan, tetapi juga mampu memperkirakan

kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi melalui fakta itu.1 Di dalam sebuah penelitian

terdapat dua metode penelitian, yaitu metode kuantitatif dan metode kualitatif.

Pengamatan kuantitatif melibatkan pengukuran tingkatan suatu ciri

tertentu. Untuk menemukan sesuatu dalam pengamatan, pengamat harus

mengetahui apa yang menjadi ciri sesuatu itu. Untuk itu pengamatan mulai

mencatat dan menghitung dari satu, dua, tiga, dan seterusnya. Berdasarkan

pertimbangan demikian, kemudian peneliti menyatakan bahwa penelitian

kuantitatif mencakup setiap jenis penelitian yang didasarkan atas perhitungan

persentase, rata-rata, chi-kuadrat, dan perhitungan statistik lainnya. Dengan kata

lain, penelitian kuantitatif melibatkan diri pada perhitungan atau angka atau

kuantitas.2

Pendapat Bogma dan Guba dalam buku Uhar Suharsaputra, Penelitian

kualitatif atau naturalistic inquiry adalah prosedur penelitian yang menghasilkan

data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang atau perilaku

yang dapat diamati, sementara itu Kirk dan Miller mendefinisikan penelitian

kualitatif sebagai tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara

fundamental bergantung pada pengamatan manusia dalam kawasannya sendiri dan

berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam

peristilahannya.3

Menurut Jane Richie, penelitian kualitatif adalah upaya untuk menyajikan

dunia sosial, dan perspektifnya di dalam dunia, dari segi konsep, perilaku,

persepsi, dan persoalan tentang manusia yang diteliti.4 Penelitian ini termasuk

jenis penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Penelitian kualitatif sifatnya

deskriptif, karena data yang dianalisis tidak untuk menerima atau menolak

hipotesis (jika ada), melainkan hasil analisis berupa deskripsi dari gejala-gejala

1

Syamsuddin AR,danVismaia S. Damaianti, MetodePenelitianPendidikanBahasa,

(Bandung: RemajaRosdakarya, 2011), h. 14. 2

Lexy J. Moleong, MetodologiPenelitianKualitatif, (Bandung: RemajaRosdakarya, 2011),h. 3.

3

Uhar Suharsaputra,Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Tindakan, (Bandung: PT. Refika Aditama, 2012), h. 181.

4

(43)

30

yang diamati, yang tidak selalu harus berbentuk angka-angk

Gambar

Tabel Penyajian Data Tindak Tutur Ilokusi
gambar-gambar

Referensi

Dokumen terkait