Pola Asuh Orang Tua dan Tingkat Kebiasaan Remaja dalam Mengkonsumsi Alkohol di Desa Sirajaoloan Kecamatan Tarutung Kabupaten Tapanuli Utara

69  11  Download (0)

Teks penuh

(1)

i

POLA ASUH ORANG TUA DAN TINGKAT KEBIASAAN REMAJA DALAM MENGKONSUMSI ALKOHOL DI DESA SIRAJAOLOAN

KEC. TARUTUNG, KAB. TAPANULI UTARA

SKRIPSI

Oleh

Armando Sipahutar 081121046

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN, 2009

(2)

ii

LEMBAR PERSETUJUAN SKRIPSI

Judul : Pola Asuh Orang Tua dan Tingkat Kebiasaan Remaja dalam Mengkonsumsi Alkohol di Desa Sirajaoloan Kecamatan Tarutung Kabupaten Tapanuli Utara

Nama Mahasiswa : Armando Sipahutar

NIM : 081121046

Jurusan : Sarjana Keperawatan (S.Kep)

Tahun : 2009

============================================================= Tanggal Lulus : 30 Desember 2009

Pembimbing Penguji I

... ... M. Sukri Tanjung, S.Kep. Ns. Iwan Rusdi, S.Kp. MNS

NIP. 19730909 200003 1 001

Penguji II

... Lufthiani, S.Kep, Ns

Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara telah menyetujui Skripsi ini sebagai bagian dari persyaratan kelulusan Sarjana Keperawatan (S.Kep).

Medan, Desember 2009 Pembantu Dekan I

Erniyati, S.Kp. MNS

NIP.196712008 199903 2 001

(3)

iii

Judul : Pola Asuh Orang Tua dan Tingkat Kebiasaan Remaja dalam Mengkonsumsi Alkohol

Nama : Armando Sipahutar

Jurusan : Keperawatan

Tahun Akademik : 2008/2009

Abstrak

Pola asuh orang tua adalah merupakan suatu bentuk atau struktur, sistem dalam menjaga, merawat, mendidik dan membimbing anak kecil. Membimbing atau mendidik merupakan suatu kewajiban dari setiap orang tua dalam usaha membentuk pribadi anak yang sesuai dengan harapan masyarakat pada umumnya. Pola asuh orang tua sangat berpengaruh terhadap tingkat kebiasaan remaja dalam mengkonsumsi alkohol yang mempunyai tingkatan kebiasaan coba-coba, pengguna tetap, dan kecanduan. Populasi penelitian adalah orang tua yang mempunyai anak remaja dengan kebiasaan mengkonsumsi alkohol, dan remaja yang mempunyai kebiasaan mengkonsumsi alkohol yaitu sebanyak 42 KK. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif eksploratif yang bertujuan untuk mengidentifikasi pola asuh yang diterapkan orang tua dan tingkat kebiasaan remaja dalam mengkonsumsi alkohol di Desa Sirajaoloan Kecamatan Tarutung.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tipe pola asuh orang tua demokratis dengan tingkat persentase sebanyak 71,43% dan pola asuh orang tua permisif 19,05% dan pola asuh orang tua otoriter sebanyak 9,52%. Untuk tingkat kebiasaan remaja mengkonsumsi alkohol yaitu 66,67% untuk tingkat coba-coba, 30,95% untuk tingkat pengguna tetap, dan 2,38% untuk tingkat kecanduan. Jadi dapat disimpulkan bahwa remaja pada tingkat coba-coba dalam mengkonsumsi alkohol lebih cenderung menerapkan pola asuh orang tua demokratis, tingkat pengguna tetap dalam mengkonsumsi alkohol lebih cenderung menerapkan pola asuh orang tua otoriter, dan tingkat kecanduan dalam mengkonsumsi alkohol lebih cenderung menerapkan pola asuh orang tua permisif.

Kata Kunci : Pola Asuh Orang Tua, Kebiasaan Remaja dalam Mengkonsumsi Alkohol

(4)

iv

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat-Nya, sehingga dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pola Asuh Orang Tua dan Tingkat Kebiasaan Remaja dalam Mengkonsumsi Alkohol di Desa Sirajaoloan Kecamatan Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara”.

Pada kesempatan kali ini, penulis mengucapkan terimakasih kepada Bapak dr. Dedi Ardinata, M.Kes selaku Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada Bapak M. Sukri Tanjung, SKep. NS selaku Dosen Pembimbing, yang selama ini telah membimbing saya dalam menyelesaikan skripsi ini, juga kepada seluruh Dosen dan Staff Pegawai di Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Terimakasih atas saran, kritikan, dan dorongan semangat yang diberikan kepada saya.

Dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis juga mendapat banyak masukan, bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Terimakasih kepada Kepala Desa Sirajaoloan atas bantuannya dalam pengambilan data, juga kepada seluruh sampel penelitian atas kesediaannya memberikan data yang diperlukan. Terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Ayahanda tercinta E. Sipahutar dan Ibunda tercinta N. Br. Manullang, adik-adik saya Eben, Ika, Ana, Roy, dan keluarga lainnya yang telah memberikan dukungan moril dan material serta semangat yang tak ternilai yang diberikan kepada saya, juga buat doa dan kasih sayang yang diberikan. Terimakasih juga kepada teman-teman seperjuangan di Fakultas Keperawatan Program B 2008 Universitas Sumatera Utara atas dorongan dan bantuan yang diberikan dalam penyelesaian skripsi ini. Buat orang yang sangat spesial dalam hidup saya Handra Hutauruk yang telah banyak membantu dalam penyelesaian skripsi ini,

(5)

v

terimakasih atas bantuan, semangat, doa dan kasih sayang yang diberikan kepada saya.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis mengharapkan masukan, kritikan, dan saran yang dapat membantu kesempurnaan skripsi ini

Medan, Desember 2009

Armando Sipahutar

(6)

vi DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL……… i

LEMBAR PERSETUJUAN………. ii

ABSTRAK... iii

KATA PENGANTAR……….………. iv

DAFTAR ISI….……….... vi

2. Tujuan Penelitian……….……... 6

3. Pertanyaan Penelitian………. 6

4. Manfaat Penelitian……….. 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA………... 8

1. Pola Asuh Orang Tua………. 8

Pengertian Pola Asuh Orang Tua……… 8

Tipe Pola ASuh Orang Tua………. 9

2. Kebiasaan Remaja dalam Mengkonsumsi Alkohol……… 12

Alkohol……… 12

Faktor-faktor Penyebab Remaja Mengkonsumsi Alkohol.. 15

Efek yang Ditimbulkan Mengkonsumsi Alkohol………… 15

Pengaruh/Dampak Mengkonsumsi Alkohol……… 16

Tingkatan Pengkonsumsi Alkohol……….. 17

Pola Asuh Orang Tua dan Kebiasaan Remaja dalam Mengkonsumsi Alkohol……… 19

BAB III KERANGKA PENELITIAN……… 20

1. Kerangka Konsep Penelitian………. 20

2. Defenisi Operasional………. 21

BAB IV METODOLOGI PENELITIA N……… 23

1. Desain Penelitian……… 24

2. Populasi dan Sampel Penelitian………. 24

3. Lokasi dan Waktu Penelitian………. 24

4. Pertimbangan Etik………. 25

5. Instrumen Penelitian……….. 25

6. Uji Validitas dan Reliabilitas………. 26

(7)

vii

7. Prosedur Pengumpulan Data……….. 27

8. Analisa Data………... 28

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN……….. 29

1. Hasil……… 29

Karakteristik Responden………... 29

Tipe Pola Asuh Orangtua……….. 31

Tingkat Kebiasaan Remaja Mengkonsumsi Alkohol… 31 2. Pembahasan……… 32

Tipe Pola Asuh Orangtua………. 32

Pola Asuh Demokratis………. 32

Pola Asuh Permisif……….. 33

Pola Asuh Otoriter………... 35

Tingkat Kebiasaan Remaja Mengkonsumsi Alkohol... 36

Coba-coba……… 36

Pengguna Tetap……… 37

Kecanduan………39

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN………... 41

1. Kesimpulan……….. 41

2. Saran……… 42 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(8)

viii

DAFTAR LAMPIRAN

1. Lembar Persetujuan Menjadi Responden 2. Jadwal Penelitian

3. Taksasi Dana Penelitian 4. Kuesioner Penelitian

5. Surat Izin Penelitian dari Fakultas Keperawatan USU 6. Surat Keterangan dari Kepala Desa Sirajaoloan 7. Jadwal Konsul

8. Lembar Olahan Reliabilitas Analisis 9. Curiculum Vitae

10.Skor Pola Asuh Orang Tua dan Tipe Pola Asuh

11.Skor Kebiasaan Remaja dalam Mengkonsumsi Alkohol dan Tingkat Kebiasaan tiap Sampel Remaja

(9)

ix

DAFTAR TABEL

1. Distribusi Frekwensi dan Persentase Karakteristik Responden... 29 2. Distribusi Frekwensi dan Persentase Tipe Pola Asuh Orang Tua terhadap

Remaja………... 31

3. Distribusi Frekwensi dan Persentase Remaja dalam Mengkonsumsi Alkohol……….. 32

(10)

x

DAFTAR SKEMA

1. Kerangka Penelitian………..………..…….. 19

(11)

iii

Judul : Pola Asuh Orang Tua dan Tingkat Kebiasaan Remaja dalam Mengkonsumsi Alkohol

Nama : Armando Sipahutar

Jurusan : Keperawatan

Tahun Akademik : 2008/2009

Abstrak

Pola asuh orang tua adalah merupakan suatu bentuk atau struktur, sistem dalam menjaga, merawat, mendidik dan membimbing anak kecil. Membimbing atau mendidik merupakan suatu kewajiban dari setiap orang tua dalam usaha membentuk pribadi anak yang sesuai dengan harapan masyarakat pada umumnya. Pola asuh orang tua sangat berpengaruh terhadap tingkat kebiasaan remaja dalam mengkonsumsi alkohol yang mempunyai tingkatan kebiasaan coba-coba, pengguna tetap, dan kecanduan. Populasi penelitian adalah orang tua yang mempunyai anak remaja dengan kebiasaan mengkonsumsi alkohol, dan remaja yang mempunyai kebiasaan mengkonsumsi alkohol yaitu sebanyak 42 KK. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif eksploratif yang bertujuan untuk mengidentifikasi pola asuh yang diterapkan orang tua dan tingkat kebiasaan remaja dalam mengkonsumsi alkohol di Desa Sirajaoloan Kecamatan Tarutung.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tipe pola asuh orang tua demokratis dengan tingkat persentase sebanyak 71,43% dan pola asuh orang tua permisif 19,05% dan pola asuh orang tua otoriter sebanyak 9,52%. Untuk tingkat kebiasaan remaja mengkonsumsi alkohol yaitu 66,67% untuk tingkat coba-coba, 30,95% untuk tingkat pengguna tetap, dan 2,38% untuk tingkat kecanduan. Jadi dapat disimpulkan bahwa remaja pada tingkat coba-coba dalam mengkonsumsi alkohol lebih cenderung menerapkan pola asuh orang tua demokratis, tingkat pengguna tetap dalam mengkonsumsi alkohol lebih cenderung menerapkan pola asuh orang tua otoriter, dan tingkat kecanduan dalam mengkonsumsi alkohol lebih cenderung menerapkan pola asuh orang tua permisif.

Kata Kunci : Pola Asuh Orang Tua, Kebiasaan Remaja dalam Mengkonsumsi Alkohol

(12)

xi BAB 1 PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Menurut Departemen Kesehatan RI, 1988 (dalam Efendi, 1998)., keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Hisyam (1994 dalam Tarmudji, 2001), menyatakan keluarga yang ideal adalah keluarga yang dapat menjalankan peran dan fungsi dari keluarga tersebut dengan baik sehingga akan terwujud hidup yang sejahtera. Salah satu faktor dalam keluarga yang mempunyai peranan penting adalah pelaksanaan pengasuhan anak (pola asuh).

Baumrind (1978) mengklasifikasikan gaya-gaya pola asuh ke dalam gaya yang bersifat permisif, otoritatif, dan otoritarian. Gaya orang tua yang permisif dicirikan oleh sifat menerima dan tidak menghukum dalam menghadapi perilaku anak-anak. Sebaliknya, gaya otoritarian menekankan kepatuhan terhadap aturan-aturan dan otoritas orang tua dan terakhir gaya otoritatif menekankan suatu cara yang rasional, berorientasi kepada isu “memberi dan menerima.” Dari ketiga gaya tersebut, Baumrind (1978) mengusulkan yang ketiga, menegaskan bahwa gaya yang ketiga ini dapat menghasilkan persesuaian yang masuk akal tanpa kehilangan otonomi dan keasertifan.

McClelland dkk, (1978) menemukan bahwa ketika orang tua benar-benar mencintai anaknya, anak-anak ini kemungkinan besar akan mencapai kematangan sosial dan moral tingkat tinggi. Dimensi lain yang signifikan bagi adaptasi sosial selanjutnya adalah seberapa ketat orang tua mengontrol perilaku ekspresif dari

(13)

xii

anak tersebut. Seorang anak tidak mungkin matang secara sosial maupun moral jika orang tuanya tidak toleran terhadap kegaduhan, kacau, atau kekacau balauan di rumah, jika orang tua nya memberikan reaksi secara tidak bersahabat terhadap keagresifan anak mereka, atau terhadap kebutuhan-kebutuhan tergantungnya. Bahkan ketika orang tua sangat ingin menggunakan kekuasaan mereka mempertahankan suasana di rumah dimana segala sesuatu terpusat pada orang tua dewasa. Mengingat nampaknya kasih sayang orang tua lebih berhubungan dengan hasil-hasil yang bersifat dewasa. Begitu pula dengan kasih sayang orang tua yang demostratif terhadap anaknya ternyata menjadi sebuah determinan penting dari kematangan sosial dan moral.

Tujuan orang tua dalam memberikan pola asuh kepada anak bukan memberikan hukuman terhadap tindakan-tindakan yang salah, melainkan membantu anak-anak khususnya remaja untuk mengontrol perilaku mereka sendiri, mengembangkan disiplin diri, menerima tanggung jawab atas perilaku mereka sendiri, dan mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan dan perasaan dari orang lain. Pola asuh dapat bekerja sangat baik ketika pola ini diterapkan pada anak secara individu dan dalam situasi yang spesifik. Tingkat tercapainya potensi biologic seseorang remaja, merupakan hasil interaksi antara faktor genetik dan lingkungan biofisikopsikososial termasuk pola asuh orang tua terhadap anak tersebut (Soetjiningsih, 2004).

Ketika orang tua menerima remaja apa adanya, dengan segala kelemahan dan kelebihan mereka, dan ketika mereka menerima sejumlah peran mereka pada tahap perkembangan ini tanpa konflik atau sensitivitas yang tidak pantas, mereka membentuk pola untuk semacam penerimaan diri yang sama. Hubungan orang tua dan remaja seharusnya lebih mulus bila orang tua merasa produktif, puas, dan dapat

(14)

xiii

mengendalikan kehidupan mereka sendiri dan orang tua berfungsi secara fleksibel (Kidwell dkk, 1983).

Hubungan yang baik antara orang tua dan remaja akan membantu pembinaan diri remaja. Apabila ada hubungan yang baik antara kedua orang tua dan remaja, maka remaja dapat terbuka kepada orang tua, berbagai masalah yang dirasakannya dapat dicurahkan kepada orang tua. Sikap terbuka ini akan memudahkan melakukan bimbingan kepada kaum remaja. Tetapi jika hubungannya dengan orang tua kurang baik, maka remaja akan pergi keluar rumah untuk mencari jalan penyaluran dari kecemasan dan kegoncangan jiwanya kepada teman-temannya yang senasib atau para remaja yang memahaminya. Keadaan seperti itulah yang menyebabkan remaja mudah terpengaruh oleh hal-hal negative, seperti terjerumus dalam kebiasaan mengkonsumsi alkohol (Panuju, 1999).

Remaja menurut WHO (1974) yang dikemukakan oleh Muangman, 1980 (dalam Sarlito, 1997) adalah suatu masa dimana individu berkembang dari saat pertama kali menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat mencapai kematangan seksual. Individu mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa, dan terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri.

Remaja adalah harapan bangsa, karena dari remajalah muncul ide-ide yang tidak terpikirkan sebelumnya, dengan pemikiran yang visionaris dan misionaris diharapkan bisa membawa perubahan-perubahan kearah yang lebih baik bagi bangsa. Ironisnya ketika melihat generasi muda atau remaja bangsa, sudah tidak mengenal lagi keindahan budaya bangsa. Remaja sudah kehilangan arah, mudah putus asa sehingga begitu dekat dengan hukum kriminal, dan baru-baru ini masalah remaja yang

(15)

xiv

paling disorot oleh publik adalah kebiasaan remaja dalam mengkonsumsi alkohol oleh remaja

Ketersediaan alkohol yang dekat dengan masyarakat dan begitu mudah di dapat daripada zat adiktif lainnya, merupakan salah satu penyebab penyalahgunaan zat terutama pada remaja. Hawari dalam penelitiannya (1990) menyebutkan alkohol berada di urutan pertama yang paling mudah didapat, yaitu : alkohol 88%, sedativa hipnotica 44%, dan ganja 30,7% (Irwan, 1995). Alkohol dikonsumsi secara luas di Amerika Serikat hampir 90 % remaja disana mengkonsumsi alkohol. Dari data tahun 2000 sekitar 73,02 % anak sekolah setingkat sekolah menengah atas mengkonsumsi alkohol, 30 % mengkonsumsi alkohol lebih dari 5 gelas per hari dan 62 % sebagai peminum berat. Diperkirakan 4,6 juta remaja berusia 14 – 17 tahun mempunyai masalah yang berhubungan dengan penggunaan alkohol (Soetjiningsih, 2004)

Laporan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI Desember 2008 menyatakan bahwa Sumatera Utara prevalensi konsumsi alkohol 12 bulan terakhir adalah 6.1%, prevalensi konsumsi alkohol 1 bulan terakhir adalah 71.9%, dan prevalensi tidak konsumsi alkohol 12 bulan terakhir adalah 93.9%. Sedangkan di Tapanuli Utara prevalensi konsumsi alkohol 12 bulan terakhir adalah 17.8%, prevalensi konsumsi alkohol 1 bulan terakhir adalah 78.2%, dan prevalensi tidak konsumsi alkohol 12 bulan terakhir adalah 82.2%. Perilaku minum alkohol pada umur 15-24 tahun di Sumatera Utara dalam 12 bulan terakhir adalah 4.5%, konsumsi alkohol 1 bulan terakhir adalah 67.0%, tidak konsumsi alkohol 12 bulan terakhir adalah 95.5%. Berdasarkan daerah, di Sumatera Utara prevalensi peminum alkohol 12 bulan terakhir lebih tinggi pada daerah pedesaan sebesar 7.7%, konsumsi alkohol 1 bulan terakhir adalah 71.6%, tidak konsumsi alkohol 12 bulan terakhir adalah 92.3%.

(16)

xv

Penggunaan zat seperti alkohol di kalangan remaja sering terjadi, baik di negara sedang berkembang maupun di negara maju termasuk di Desa Sirajaoloan khususnya sebagai daerah penelitian. Berdasarkan hasil awal survey di lapangan, peneliti melihat kebiasaan konsumsi alkohol, khususnya remaja laki-laki, yang semakin meningkat. Peneliti belum dapat memperoleh data tentang angka kejadian remaja dalam kebiasaan mengkonsumsi alkohol tersebut. Namun peningkatan kebiasaan tersebut dapat dilihat dari perubahan perilaku yang berbeda dari sebelumnya, seperti : sering keluar malam, sering bolos, adanya skors dari sekolah, adanya pemberontakan, sering tidak pulang ke rumah dan sebagainya. Perubahan perilaku tersebut diperoleh dari penjelasan kepala desa dan masyarakat setempat. Tak jarang remaja tersebut juga mengganggu ketenangan warga dengan bertingkah laku yang tidak senonoh seperti : berteriak-teriak, melempari atap rumah dengan batu, berkelahi dengan sesama temannya, dan sebagainya yang mengundang perhatian.

Seharusnya remaja mencapai hubungan sosial yang matang dengan teman-teman sebayanya, dapat menjalankan peranan sosial, mengembangkan kecakapan intelektual serta konsep-konsep yang diperlukan dalam hidup bermasyarakat, merperlihatkan tingkah laku yang secara sosial dapat dipertanggungjawabkan, memperoleh norma-norma sebagai pedoman dalam tindakannya dan sebagai pandangan hidup (Havighurst, 1961).

Salah satu fakta yang terjadi di lapangan memperlihatkan remaja mengkonsumsi alkohol yang diperoleh dari warung, dilatarbelakangi oleh karena adanya kesenjangan dalam keluarga, yaitu : perceraian orang tua disertai dengan tidak adanya komunikasi yang baik antara orang tua dan anak, tidak memperoleh pendidikan dan bimbingan dari sekolah atau masyarakat, sehingga anak tidak terikat dan bebas dalam pergaulannya.

(17)

xvi

Dari gambaran kebiasaan-kebiasaan tersebut serta pentingnya pola asuh orang tua, maka diadakan penelitian untuk melihat pola asuh orang tua dan tingkat kebiasaan remaja dalam mengkonsumsi alkohol di Desa Sirajaoloan.

2. Pertanyaan Penelitian

1. Bagaimana pola asuh orang tua di Desa Sirajaoloan?

2. Bagaimana tingkat kebiasaan remaja dalam mengkonsumsi alkohol di Desa Sirajaoloan?

3. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengidentifikasi pola asuh orang tua di Desa Sirajaoloan

2. Untuk mengidentifikasi tingkat kebiasaan remaja dalam mengkonsumsi alkohol di Desa Sirajaoloan

4. Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai pihak yang terlibat langsung maupun tidak langsung dengan perkembangan remaja, antara lain :

1. Pendidikan Keperawatan

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi tambahan untuk persiapan materi penyuluhan yang berguna untuk meningkatkan kualitas pendidikan keperawatan anak dan keluarga.

(18)

xvii 2. Pelayanan Keperawatan

Dapat mengetahui lebih dalam mengenai perkembangan psikososial remaja khususnya perkembangan moral sehingga dapat membantu di dalam pemberian pelayanan yang tepat apabila berhadapan dengan pengguna jasa pelayanan keperawatan khususnya remaja.

3. Remaja/Orang tua

Hasil dari penelitian ini bagi remaja sebagai cermin diri dalam menguatkan kepribadiannya dengan pengetahuan dasar yang benar tentang kebiasaan mengkonsumsi alkohol dan kepada orang tua, dapat mencegah si anak untuk tidak terlibat dalam konsumsi alkohol dengan pembenahan dan fungsi keluarga yang baik.

4. Peneliti berikutnya

Dapat memberikan informasi bagi peneliti berikutnya mengenai hubungan pola asuh orang tua terhadap kebiasaan mengkonsumsi alkohol dan tipe pola asuh yang diterapkan orang tua untuk mendidik anak-anaknya di dalam keluarga.

(19)

xviii BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai konsep dari pola asuh orang tua dan perkembangan moral remaja. Dimana konsep-konsep ini akan membantu dalam menjelaskan mengenai hubungan pola asuh orang tua dengan perkembangan moral remaja.

1. Pola Asuh Orang tua

1.1.Pengertian Pola Asuh Orang tua

Pengasuhan menurut Porwadarminta (dalam Amal, 2005) adalah orang yang melaksanakan tugas membimbing, memimpin atau mengelola. Pengasuhan yang dimaksud disini adalah mengasuh anak. Menurut Darajat (dalam Amal, 2005) mengasuh anak maksudnya adalah mendidik dan memelihara anak itu, mengurus makan, minumnya, pakaiannya dan keberhasilannya dalam periode yang pertama sampai dewasa. Dengan pengertian di atas dapatlah dipahami bahwa pengasuhan anak yang dimaksud adalah kepemimpinan, bimbingan yang dilakukan terhadap anak berkaitan dengan kepentingan hidupnya.

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (2002), pengertian pola asuh adalah merupakan suatu bentuk (struktur), system dalam menjaga, merawat, mendidik dan membimbing anak kecil. Sedangkan pola asuh menurut Soetjiningsih (2004) adalah suatu model atau cara mendidik anak yang merupakan suatu kewajiban dari setiap orang tua dalam usaha membentuk pribadi anak yang sesuai dengan harapan masyarakat pada umumnya.

(20)

xix

Dalam laporan Temu Ilmiah Sistem Kesejahteraan Anak Nasional, 1998 (dalam Garliah, 2003) pola asuh orang tua dirumuskan sebagai seperangkat sikap dan perilaku yang tertata, yang diterapkan oleh orang tua dalam berinteraksi dengan anaknya.

Kohn, 1986 (dalam Tarmudji, 1991) mengatakan bahwa pola asuh merupakan sikap orang tua dalam berinteraksi dengan anak-anaknya. Sikap orang tua ini meliputi cara orang tua memberikan aturan-aturan, hadiah maupun hukuman, cara orang tua menunjukkan otoritasnya, dan cara orang tua memberikan perhatian serta tanggapan terhadap anaknya.

Ukuran keluarga mempunyai pengaruh terhadap pola asuh keluarga dan hasil-hasil yang dicapai oleh anak. Keluarga besar dan keluarga kecil secara kualitatif menggambarkan pengalaman-pengalaman perkembangan. Anak-anak yang berasal dari keluarga kecil menerima lebih banyak perhatian daripada anak-anak dari keluarga yang besar. Penelitian telah menghubungkan perbedaan ini dengan perkembangan intelektual dan penampilan prestasi di sekolah (Feiring dan Lewia, 1984).

1.2.Tipe Pola Asuh Orang tua

Baumrind (1989), mengemukakan tiga pola asuh orang tua, yaitu : a. Pola Asuh Authoritarian (Otoriter)

Pola asuh ini ditandai dengan adanya aturan-aturan yang kaku dari orang tua. Kebebasan anak sangat dibatasi dan orang tua memaksa anak untuk berperilaku seperti yang diinginkan. Bila aturan-aturan ini dilanggar, orang tua akan menghukum anak dengan hukuman yang biasanya bersifat fisik. Tapi bila anak patuh maka orang tua tidak memberikan hadiah karena sudah dianggap sewajarnya bila anak menuruti kehendak orang tua.

(21)

xx

Perilaku orang tua dalam berinteraksi dengan anak bercirikan tegas, suka menghukum, anak dipaksa untuk patuh terhadap aturan-aturan yang diberikan oleh orang tua tanpa merasa perlu menjelaskan kepada anak apa guna dan alas an dibalik aturan tersebut, serta cenderung mengekang keinginan anak. Pola asuh otoriter dapat berdampak buruk pada anak, yaitu anak merasa tidak bahagia, ketakutan, tidak terlatih untuk berinisiatif (kurang berinisiatif), selalu tegang, cenderung ragu, tidak mampu menyelesaikan masalah, kemampuan komunikasinya buruk serta mudah gugup, akibat seringnya mendapat hukuman dari orang tua. Dengan pola asuh seperti ini, anak diharuskan untuk berdisiplin karena semua keputusan dan peraturan ada di tangan orang tua.

b. Pola Asuh Authoritative (Demokratis)

Pola asuh demokratik ditandai dengan adanya sikap terbuka antara orang tua dengan anaknya. Mereka membuat aturan-aturan yang disetujui bersama. Anak diberi kebebasan untuk mengemukakan pendapat, perasaan dan keinginannya serta belajar untuk dapat menanggapi pendapat orang lain. Orang tua bersikap sebagai pemberi pendapat dan pertimbangan terhadap aktivitas anak. Dengan pola asuhan ini, anak akan mampu mengembangkan kontrol terhadap perilakunya sendiri dengan hal-hal yang dapat diterima oleh masyarakat. Hal ini akan mendorong anak untuk mampu berdiri sendiri, bertanggung jawab dan yakin terhadap diri sendiri. Daya kreativitasnya berkembang dengan baik karena orang tua selalu merangsang anaknya untuk mampu berinisiatif.

Menurut Shochib (dalam Yuniyati, 2003), orang tua menerapkan pola asuh demokratis dengan banyak memberikan kesempatan kepada anak untuk berbuat keputusan secara bebas, berkomunikasi dengan lebih baik, mendukung anak untuk memiliki kebebasan sehingga anak mempunyai kepuasan sedikit menggunakan

(22)

xxi

hukuman badan untuk mengembangkan disiplin. Pola asuh authoritative dihubungkan dengan tingkah laku anak-anak yang memperlihatkan emosional positif, sosial, dan pengembangan kognitif.

c. Pola Asuh Permessive (Permisif)

Pola asuh ini ditandai dengan adanya kebebasan tanpa batas pada anaknya untuk berperilaku sesuai dengan keinginannya sendiri. Orang tua tidak pernah memberi aturan dan pengarahan kepada anak. Semua keputusan diserahkan kepada anak tanpa pertimbangan dari orang tua. Anak tidak tahu apakah perilakunya benar atau salah karena orang tua tidak pernah membenarkan atau menyalahkan anak. Akibatnya anak akan berperilaku sesuai dengan keinginannya sendiri, tidak peduli apakah hal itu sesuai dengan norma masyarakat atau tidak.

Dengan pola asuh seperti ini, anak mendapatkan kebebasan sebanyak mungkin dari orang tua. Pola asuh permisif memuat hubungan antara anak-anak dan orang tua penuh dengan kasih sayang, tapi menjadikan anak agresif dan suka menurutkan kata hatinya. Secara lebih luas, kelemahan orang tua dan tidak konsistennya disiplin yang diterapkan membuat anak-anak tidak terkendali, tidak patuh, dan tingkah laku agresif di luar lingkungan keluarga.

Tipe pola asuh menurut Maccoby dan Martin, 1983 (dalam Parke dan Locke, 1999) terdiri dari empat tipe yaitu : authoritarian (otoriter), authoritative (demokratis), permissive dan uninvolved parenting (Neglectful), yaitu pola asuh dimana orang tua tidak mau terlibat dan tidak mau pula terlalu memedulikan kehidupan anaknya. Menurut Maccoby dan Martin, tipe pola asuh ini bercirikan orang tua yang secara aktif melupakan anak mereka dan dimotivasi untuk melakukan apapun yang dibutuhkan untuk meminimalkan biaya, dan usaha berinteraksi dengan anak. Dengan pola asuh seperti ini, akan menimbulkan serangkaian dampak buruk.

(23)

xxii

Diantaranya anak akan mempunyai harga diri yang rendah, tidak punya control diri yang baik, kemampuan sosialnya buruk, dan merasa bukan bagian yang penting untuk orang tuanya.

Tipe pola asuh menurut Hoffman, 1970 (dalam Garliah, 2003) terdiri dari tiga tipe yaitu :

a. Induction (pola asuh bina kasih)

Adalah suatu teknik disiplin dimana orang tua memberi penjelasan atau alas an mengapa anak harus mengubah perilakunya. Pada tipe pola asuh seperti ini dijumpai perilaku orang tua yang directive dan supportive tinggi.

b. Power assertion (pola asuh unjuk rasa)

Adalah perilaku orang tua tertentu yang menghasilkan tekanan-tekanan eksternal pada anak agar mereka berperilaku sesuai dengan keinginan orang tua. Pada tipe pola asuh ini dijumpai perilaku orang tua yang directive nya tinggi dan supportive rendah.

c. Love withdrawal (pola asuh lepas kasih)

Adalah pernyataan-pernyataan non fisik dari rasa dan sikap tidak setuju orang tua terhadap perilaku anak dengan implikasi tidak diberikannya lagi kasih saying sampai anak merubah perilakunya. Pada tipe pola asuh ini dijumpai perilaku orang tua yang directive dan supportive rendah.

2. Kebiasaan Remaja dalam Mengkonsumsi Alkohol 2.1. Alkohol

Alkohol adalah zat yang diperoleh atas peragian atau fermentasi madu, gula, sari buah atau umbi-umbian. Dari peragian tersebut akan diperoleh alkohol 15% tetapi

(24)

xxiii

dengan proses penyulingan atau destilasi dapat dihasilkan kadar alkohol yang lebih tinggi bahkan mencapai 100%

Etanol adalah bentuk molekul sederhana dari alkohol yang sangat mudah diserap dalam saluran pencernaan mulai dari mulut, esofagus, lambung, sampai usus halus. Daerah saluran pencernaan yang paling banyak menyerap alkohol adalah bagian proksimal usus halus, disini juga diserap vitamin B yang larut dalam air, kemudian dengan cepat beredar dalam darah. Minum minuman beralkohol berarti mengkonsumsi antara 10-12 gram etanol (Neinstein, 2002).

Ada 3 golongan minuman beralkohol yaitu golongan A : kadar etanol 1%-5%(bir, green sand), golongan B : kadar etanol 5%-20% (anggur/ wine) dan golongan C : kadar etanol 20% -45% ( Whiskey, Vodka, TKW, Mainson House, Johny Walker, Kamput, Arak atau Tuak).

Alkoholism adalah keadaan penyalahgunaan serta ketergantungan alkohol. Sedangkan menurut National Council on Alkoholism tahun 1992 mendefenisikan bahwa alkoholism adalah suatu penyakit kronis progresif yang ditandai dengan hilangnya control akibat memakai alkohol dengan konsekuensi timbulnya masalah sosial, hukum, psikologi dan juga fisik. Gangguan psikiatri acap kali timbul selama dalam keadaan keracunan alkohol maupun dalam keadaan putus alkohol (Soetjiningsih, 2004).

Mengkomsumsi alkohol dalam jumlah yang banyak akan menyebabkan ketergantungan dan toleransi terhadap jumlah dari alkohol yang dikomsumsi. Penggunaan alkohol jangka jumlah yang berlebihan bisa merusak berbagai organ di tubuh terutama hati, otak, dan jantung. Alkohol cenderung menyebabkan toleransi, teratur minum lebih dari 2 gelas alkohol per hari, bisa mengkomsumsi alkohol lebih

(25)

xxiv

banyak dari non-alkoholik tanpa mengalami intoksikasi. 2008).

Adapun penyebab seseorang menjadi alkoholik banyak faktor ikut terlibat didalamnya. Faktor psikologis bahwa alkohol dalam jumlah sedikit dapat mengatasi keadaan cemas, gelisah, ketegangan, merasa kuat dan percaya diri, mengurangi perasaan nyeri dan merasa mampu mengatasi stress kehidupan sehari-hari (Soetjiningsih, 2004).

Teori psikodinamikpsikoanalitik mengatakan mereka yang pecandu alkohol adalah mereka yang mengalami fiksasi pada fase oral sehingga mereka memuaskan serta mengatasi frustasinya dengan minum-minum seperti alkohol. Sering mereka tergolong memiliki kepribadian anti sosial. Teori tingkah laku mengatakan bahwa efek reward setelah mereka minum dan terus ingin untuk minum seterusnya. Faktor genetik ikut berperan dalam memunculkan seseorang menjadi alkoholik, orang tua peminum, saudara kembar, akan menjadikan anknya juga alkoholik (Behrman, 2000).

Kriteria diagnostik untuk keracunan alkohol adalah : 1. Gejala terjadi segera setelah minum alkohol

2. Perubahan dalam tingkah laku dan psikologis berupa : tingkah laku agresif, emosi labil, gangguan dalam pertimbangan, gangguan fungsi sosial dan pekerjaan.

3. Satu atau lebih gejala sebagai berikut : bicara pelo/cadel, nistagmus, jalan terhuyung-huyung, gangguan koordinasi, gangguan pemusatan perhatian dan memori, stupor dan koma.

(Soetjiningsih, 2004).

(26)

xxv

2.2. Faktor-faktor Penyebab Remaja Mengkonsumsi Alkohol

Ketersedian alkohol yang mudah dan dekat dengan masyarakat hanya salah satu dari beberapa faktor yang berperan pada penyalahgunaan zat, Irwan (1995) menyebutkan ada 5 faktor yang berperan dalam penyalahgunaan zat :

1. Kepribadian (antisocial/psikopatik) 2. Kondisi kejiwaan (kecemasan/depresi)

3. Kondsi keluarga (keutuhan keluarga,kesibukan orang tua, komunikasi orang tua dan anak

4. Kelompok teman sebaya

5. Zat nya itu sendiri (mudah diperoleh di pasaran, resmi/tidak resmi)

Sedangkan menurut Rutter dalam Irwan mengemukakan hal-hal berikut sebagai faktor-faktor penyebab remaja mengkomsumsi alkohol adalah :

1. Kematian orang tua (broken home by death)

2. Kedua orang tua bercerai atau berpisah (broken home by divorce/separation) 3. Hubungan orang tua kurang harmonis (poor marriage)

4. Hubungan anak-orang tua buruk (poor parent-child relationship) 5. Suasana rumah tanga yang tegang (high tension)

6. Suasana rumah tanga kurang kehangatan (low warmth) 7. Orang tua sibuk dan jarang di rumah (absent)

8. Orang tua memiliki kelainan kepribadian (personality disorder)

2.3. Efek yang Ditimbulkan Mengkonsumsi Alkohol

Efek yang ditimbulkan setelah mengkomsumsi alkohol dapat dirasakan segera dalam waktu beberapa menit saja, tetapi efeknya berbeda beda, tergantung dari jumlah atau kadar alkohol yang dikomsumsi. Alkohol merupakan depresan sistem

(27)

xxvi

SSP, namun pada dosis rendah dapat bersifat sebagai stimulan. Pada dosis sedang dapat menyebapkan sedasi, eufpori, mudah terangsang, dan koordinasi. Apabila dosis dinaikkan akan terjadi ataksia, emosi labil, dan bicara yang kacau. Sedangkan pada dosis tinggi dapat menyebapkan penurunan kesadaran, gagal nafas, koma, kematian. (Soetjiningsih, 2004).

Penggunaan jangka panjang alkohol juga dapat menimbulkan efek yang tidak baik bagi tubuh :

1. Kadar asam urat yang rendah

2. Kadar zat besi yang rendah (Anemia) 3. Kerusakan kulit, diare, dan deoresi

4. Peradangan pada kerongkongan (esopagitis) 5. Peradangan pada lambung (gastritis, ulkus) 6. Peradangan pada hati (hepatitis, sirosis, kanker) 7. Peradangan pancreas (pankreatitis)

8. Denyut jantung abnormal (aritmia, gagal jantung) 9. Tekanan darah tinggi, stroke, aterosklerosis

10.Pada otak dapat mengakibatkan berkurangnya koordinasi, ingatan jangka pendek yang buruk, psikosa, kebingungan

11.Pada saraf dapat mengakibatkan berkurangnya kemampuan untuk berjalan (kerusakan saraf di lengan dan tungkai yang mengendalikan pergerakan).

2.4. Perubahan/Dampak Mengkonsumsi Alkohol

Dampak sosial yang bisa dirasakan dalam penyalahgunaan zat termasuk alkohol yaitu kepada diri sendiri, kepada keluarga, dan kepada masyarakat.

(28)

xxvii 1 . Bagi diri sendiri :

a) Merusak syaraf dan organ tubuh lain b) Memupus IMTAQ

c) Menurunkan semangat belajar

d) Mengakibatkan perilaku menyimpang e) Memicu tindakan tidak bermoral f) Mengakibatkan pelanggaran hokum 2 . Bagi orang tua dan keluarga

- Menyebapkan beban mental dan emosional - Menyebapkan beban biaya yang tinggi

- Menimbulkan rasa malu dan penderitaan yang berkepanjangan - Merusak hubungan kasih sayang antar anggota keluarga 3 . Bagi lingkungan masyarakat

a) Menimbulkan gangguan keamanan dan ketertiban b) Mengakibatkan hilangnya kepercayaan

c) Mendorong tindak kejahatan

d) Menimbulkan beban ekonomi dan sosial yang besar

2.5. Tingkatan Pengkonsumsi Alkohol

Sejauh ini belum ada ketentuan atau standar yang menegaskan tentang tingkat keamanan peminum alkohol secara, namun Woteki dan Thomas (1992) mengelompokkan peminum alkohol secara sederhana dalam 3 kelompok :

(29)

xxviii

1. Kelompok pertama adalah “peminum ringan” (linght drinker) yaitu mereka yang mengkomsumsi antara 0,28 s/d 5,9 gram atau ekuivalen dengan minum 1 botol bir atau kurang.

2. Kelompok kedua adalah “peminum menengah” (moderate drink). Kelompok ini mengkomsumsi antara 6,2 s/d 27,7 gram alkohol atau setara dengan 1 s/d 4 botol bir per hari.

3. Kelompok ketiga adalah “peminum berat” (heavy drinker) yang mengkomsumsi lebih dari 28 gram alkohol per hari atau lebih dari 4 botol bir sehari.

( www.ristek.go.id ,2007)

Sedangkan menurut (Irwan H, 2008) perubahan perilaku tidak bisa menjadi patokan bahwa seseorang itu pecandu atau bukan. 3 tingkatan seseorang untuk menjadi pecandu yaitu : 1). Tingkat coba-coba dengan kebiasaan menyendiri, pergaulan berubah, perubahan cara berpakaian, perubahan aktivitas, mulai keluar malam, perubahan pola makan, 2). Tingkat pengguna tetap dengan kebiasaan sering bangun terlambat, semakin sering menyendiri, sering bolos, aktivitas spiritual berkurang, adanya penelpon yang aneh-aneh, mulai merokok, muncul problema keuangan, adanya skors dari sekolah, adanya pemberontakan, mulai menyenangi musik dan lirik narkoba, menggunakan istilah-istilah yang biasa digunakan pecandu, mulai sering lama di kamar mandi, 3). Tingkat kecanduan dengan kebiasaan penggunaan uang berlebihan, sering tidak pulang ke rumah, sering mengantuk, pola pikir aneh, ada keinginan bunuh diri, temannya biasanya peminum juga juga, sering marah kalau ditanya tentang kondisi kesehatannya.

(30)

xxix BAB 3

KERANGKA PENELITIAN

Pada bab ini dijelaskan secara berurutan tentang kerangka konsep dan definisi operasinal yang akan digunakan dalam penelitian ini.

3.1. Kerangka Konsep Penelitian

Berdasarkan tinjauan pustaka, pola asuh orang tua yaitu suatu orang tua dalam mendidik anaknya yang meliputi pola asuh orang tua Authoritarian bentuk perlakuan (otoriter), pola asuh orang tua Authoritative (demokratis) dan pola asuh orang tua Permessive menurut Baumrind (1989). Pada penelitian ini fokus yang akan diteliti mencakup variabel pola asuh orang tua meliputi pola asuh orang tua Authoritarian bentuk perlakuan (otoriter), pola asuh orang tua Authoritative (demokratis) dan pola asuh orang tua permissive. Sedangkan tingkat kebiasaan remaja dalam mengkomsumsi alkohol meliputi golongan alkohol yang di komsumsi, faktor-faktor penyebab remaja mengkomsumsi alkohol, efek dan dampak mengkomsumsi alkohol, tingkatan mengkomsumsi alkohol menurut Irwan (2008).

Kerangka konsep penelitian dibuat sebagai berikut:

Skema 1. Kerangka Konsep Hubungan antara Pola Asuh Orang tua dengan Tingkat Kebiasaan Remaja dalam Mengkonsumsi Alkohol

Pola Asuh Orang tua

• Otoriter

• Demokratif

• Permisif

Kebiasaan Remaja dalam Mengkonsumsi Alkohol :

• Tingkat coba-coba

• Tingkat pengguna tetap

• Tingkat kecanduan

(31)

xxx Defenisi Konseptual dan Operasional

Defenisi Konseptual

Defenisi konseptual pola asuh orang tua yang dimaksud adalah suatu model atau cara mendidik anak yang merupakan suatu kewajiban dari setiap orang tua dalam usaha membentuk pribadi anak yang sesuai dengan harapan masyarakat pada umumnya (Soetjiningsih, 2004).

Defenisi konseptual dari kebiasaan remaja dalam mengkonsumsi alkohol adalah tingkatan penggunaan zat berbahaya oleh remaja di luar tujuan dari pengobatan dan penelitian yaitu tanpa adanya pengawasan dokter, digunakan secara berkala dan terus-menerus, digunakan tanpa mengikuti aturan serta dosis yang benar (Marviana, dkk 2000).

Defenisi Operasional

Defenisi operasional pola asuh orang tua yang dimaksud dalam penelitian ini adalah :

a. Pola Asuh Authoritarian (Otoriter), yang ditandai dengan adanya aturan-aturan yang kaku dari orang tua. Kebebasan anak sangat dibatasi dan orang tua memaksa anak untuk berperilaku seperti yang diinginkan.

b. Pola Asuh Authoritative (Demokratis), yang ditandai dengan adanya sikap terbuka antara orang tua dengan anaknya. Orang tua bersikap sebagai pemberi pendapat dan pertimbangan terhadap aktivitas anak. Dengan pola asuhan ini, anak akan mampu mengembangkan kontrol terhadap perilakunya sendiri dengan hal-hal yang dapat diterima oleh masyarakat.

c. Pola Asuh Permessive (Permisif), yang ditandai dengan adanya kebebasan tanpa batas pada anaknya untuk berperilaku sesuai dengan keinginannya sendiri. Orang

(32)

xxxi

tua tidak pernah memberi aturan dan pengarahan kepada anak. Semua keputusan diserahkan kepada anak tanpa pertimbangan dari orang tua.

Defenisi operasional kebiasaan remaja dalam mengkonsumsi alkohol dalam penelitian ini adalah gambaran kebiasaan mengkonsumsi alkohol pada remaja dengan tingkatan :

a. Tingkat coba-coba dengan kebiasaan menyendiri, pergaulan berubah, perubahan cara berpakaian, perubahan aktivitas, mulai keluar malam, perubahan pola makan. b. Tingkat pengguna tetap dengan kebiasaan sering bangun terlambat, sering bolos,

aktivitas spiritual berkurang, mulai merokok, muncul problema keuangan, adanya skors dari sekolah, adanya pemberontakan, menggunakan istilah-istilah yang biasa digunakan pecandu, mulai sering lama di kamar mandi.

c. Tingkat kecanduan dengan kebiasaan penggunaan uang berlebihan, sering tidak pulang ke rumah, sering mengantuk, pola pikir aneh, temannya biasanya peminum juga juga, sering marah kalau ditanya tentang kondisi kesehatannya.

(33)

xxxii BAB 4

METODOLOGI PENELITIAN

1. Desain penelitian

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif eksploratif yang bertujuan untuk mengidentifikasi pola asuh yang diterapkan orang tua pada remaja, dan tingkat kebiasaan remaja dalam mengkomsumsi alkohol di desa Sirajaoloan Kec. Tarutung Kabupaten Tapanuli Utara.

2. Populasi dan Sampel Penelitian Populasi

Populasi penduduk di daerah penelitian adalah 1125 jiwa, dengan 150 KK. Populasi pada penelitian ini adalah orang tua yang mempunyai anak remaja dengan kebiasaan mengkonsumsi alkohol, dan remaja dengan usia 15 – 20 tahun yang mempunyai kebiasaan mengkomsumsi alkohol di desa Sirajaoloan Kec. Tarutung. Jumlah populasi adalah sebanyak 42 KK (data dari Kepala Desa)

Sampel

Pengambilan sampel menggunakan cara total sampling, oleh karena jumlah sampel tidak terlalu banyak. Sampel penelitian adalah orang tua yang mempunyai anak remaja dengan kebiasaan mengkonsumsi alkohol dan remaja dengan umur antara 15 - 20 tahun dengan kebiasaan mengkonsumsi alkohol, dan mereka bersedia untuk berpartisipasi untuk menjadi responden.

(34)

xxxiii 3. Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian adalah di Desa Sirajaoloan Kecamatan Tarutung Kabupaten Tapanuli Utara. Adapun pertimbangan pemilihan lokasi adalah belum pernah dilakukannya penelitian tentang pola asuh orang tua dan tingkat kebiasaan remaja dalam mengko msumsi alkohol di Desa Sirajaoloan. Disamping itu, lokasi ini memadai untuk mendapatkan sampel yang representatif sesuai dengan sampel penelitian serta lokasi ini juga dikenal oleh peneliti sehingga mempermudah proses penelitian. Penelitian akan diadakan pada akhir Bulan November Tahun 2009.

4. Pertimbangan Etik

Dalam penelitian ini, responden akan diberi informasi tentang sifat dan tujuan penelitian yang akan dilakukan. Kemudian diberikan lembar persetujuan yang akan ditandatangani sebagai bukti kesediaannya menjadi responden. Dalam hal ini responden berhak untuk menolak terlibat dalam penelitian ini. Semua responden akan dilindungi dari semua kerugian, baik material, nama baik dan berbagai resiko yang timbul akibat penelitian, seperti psikologis dan sosiologis. Peneliti akan merahasiakan identitas psikologis responden serta tidak akan mencampuri hal-hal yang bersifat pribadi dari responden (Mukhtar dan Widodo, 2000).

5. Instrumen Penelitian

Sesuai dengan permasalahan dan variable yang akan diungkap dalam penelitian ini, maka instrument yang digunakan adalah kuesioner, dan kuesioner tersebut disusun oleh peneliti berdasarkan tinjauan pustaka (Baumrind, 1989 ; Yuniyati, 2003) , dibagi dalam 3 macam kuesioner, yaitu : data demografi responden, kuesioner pola asuh orang tua, dan kuesioner tingkat kebiasaan remaja dalam

(35)

xxxiv

mengkonsumsi alkohol. Kuesioner data demografi orang tua yang meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, suku, agama, jumlah penghasilan, sedangkan data demografi anak remaja meliputi : nama, umur, jenis kelamin, suku, agama, status anak dalam keluarga dan tingkat pendidikan.

Kuesioner pola asuh orang tua meliputi item-item yang dikategorikan dalam pola asuh orang tua otoriter, pola asuh orang tua demokratis, dan pola asuh orang tua permisif. Pengembangan kuesioner ini dikembangkan dalam bentuk item. Banyaknya sebaran item tentang pola asuh orang tua adalah 30 pernyataan, yang terdiri dari 10 pernyataan (nomor 1 s/d nomor 10) untuk kategori pola asuh orang tua otoriter, 10 pernyataan (nomor 11 s/d nomor 20) untuk kategori pola asuh demokratis dan 10 pernyataan (nomor 21 s/d nomor 30) untuk kategori pola asuh permisif.

Kuesioner tentang tingkat kebiasaan remaja dalam mengkonsumsi alkohol meliput i item-item yang dikategorikan dalam tingkat coba-coba, tingkat pengguna tetap dan tingkat kecanduan dan ditentukan 30 pernyataan yang dibagi ke dalam 10 pernyataan (nomor 1 s/d nomor 10) untuk kategori tingkat coba-coba, 10 pernyataan (nomor 11 s/d nomor 20) untuk kategori tingkat pengguna tetap, dan 10 pernyataan (nomor 21 s/d nomor 30) untuk kategori tingkat kecanduan.

Dari jawaban para responden dapat dilihat skor atau total untuk tiap kategori kuesioner, dengan perincian : SO = skor kategori pola asuh otoriter, SD = skor kategori pola asuh demokratis, SP = skor kategori pola asuh permisif, SC = skor kategori tingkat coba-coba, SPT = skor kategori tingkat pengguna tetap, dan SK = skor kategori kecanduan.

Kuesioner disusun dalam bentuk pernyataan. Jawaban dari responden telah termuat dalam 2 (dua) pilihan yakni Ya dengan bobot 1, dan Tidak dengan bobot 0.

(36)

xxxv 6. Uji Validitas dan Reliabilitas

Kuesioner pola asuh orang tua dan tingkat kebiasaan remaja dalam mengkonsumsi alkohol dibuat sendiri oleh peneliti berdasarkan tinjauan pustaka, sehingga perlu dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Validitas (kesahihan) menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur itu mengukur apa yang ingin diukur, mendapatkan data yang relevan dengan apa yang diukur (Demsey dan Dempsey, 2002). Validitas instrumen akan diuji oleh dosen dari Departemen Keperawatan Komunitas yakni Bapak Iwan Rusdi, SKp, MNS.

Reliabilitas (keandalan) adalah tingkat konsistensi hasil yang dicapai oleh sebuah alat ukur, meskipun digunakan secara berulang-ulang pada subjek yang sama (Danim, 2004). Alat ukur yang baik adalah alat ukur yang memberikan hasil yang sama bila digunakan beberapa kali pada kelompok sampel (Ritonga, 2003)

Menurut Ary dkk (1977), pendekatan terhadap reliabilitas adalah validitas menunjukkan banyaknya variansi yang diharapkan pada seperangkat pengukuran yang dilakukan secara berulang-ulang terhadap sesuatu objek, dan reliabilitas pengukuran juga menunjukkan sejauh mana kapasitas individu mempertahankan posisi relatifnya dalam kelompok. Uji reliabilitas dilakukan sebelum pengumpulan data terhadap 10 KK yang terdiri dari 10 orang orang tua dan 10 orang remaja di Desa Sirajaoloan Kec. Tarutung, Kab. Tapanuli Utara yang bukan responden tetapi memiliki kriteria yang sesuai dengan kriteria penelitian (Azwar, 2003). Uji reliabilitas pada pola asuh orang tua dan tingkat kebiasaan remaja dalam mengkonsumsi alkohol diuji menggunakan analisis Cronbach Alpha menggunakan aplikasi komputer program versi 12.0. Pendapat Danim (2004) yang menyatakan bahwa ukuran indeks reliabilitas adalah : ≤ 0.59 adalah reliabilitas sedang, 0.60 – 0.89 adalah reliabilitas sedang, dan 0.90 – 1.00 adalah reliabilitas tinggi.

(37)

xxxvi 7. Prosedur Pengumpulan Data

Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan cara pertama sekali mengajukan permohonan izin pelaksanaan penelitian pada institusi pendidikan (Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Keperawatan USU), selanjutnya mengirimkan permohonan izin penelitian yang diperoleh kepada Kepala Desa Sirajaoloan Kecamatan Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara. Setelah mendapat izin, peneliti menjelaskan kepada Kepala Desa tentang maksud dan tujuan dari penelitian dan meminta kesediaannya agar peneliti dapat menemui calon responden.

Peneliti menjumpai calon responden (orang tua) dari rumah ke rumah dan menjelaskan kepada calon responden maksud dan tujuan penelitian, dan meminta kesediaannya untuk menjadi responden dengan meminta tanda tangan sebagai tanda kesediaan mereka. Peneliti menjumpai para remaja sebagai calon responden di warung tempat para remaja biasanya berkumpul, dan enjelaskan kepada para remaja maksud dan tujuan diadakannya penelitian, dan meminta kesediaannya untuk menjadi responden. Semua responden dikumpulkan di Kantor Kepala Desa, dan selanjuutnya peneliti membagikan kuesioner kepada responden untuk diisi dengan kurun waktu selama 30 menit.

Responden diberi kesempatan untuk bertanya selama pengisian kuesioner bila ada yang tidak dimengerti sehubungan dengan pernyataan yang ada dalam kuesioner. Setelah semua responden mengisi kuesioner, maka seluruh data dikumpulkan untuk dianalisa

(38)

xxxvii 8. Analisa Data

Setelah seluruh data terkumpul, maka analisa data akan dilakukan melalui pengolahan data yang mencakup:

Editing, pada tahap ini dilakukan pemeriksaan/meneliti data yang telah diperoleh untuk dilakukan pembetulan data yang keliru atau salah dan melengkapi data yang kurang.

Tabulating, pada tahap ini peneliti memindahkan data dari daftar pernyataan ke dalam bentuk tabel-tabel yang telah dipersiapkan.

Analisa, pada tahap ini data yang dikumpulkan akan diolah dan dianalisa berdasarkan analisa deskriptif eksploratif. Penyajian data ditentukan dalam bentuk tabel. Sehingga diperoleh skor tertinggi masing-masing kategori yang akan menentukan hasil analisa untuk masing-masing kategori, dan masing-masing kategori dapat dibandingkan.

Peneliti akan menganalisis skor tiap responden untuk kemudian dipersentasekan sesuai dengan pola asuh yang ada. Untuk skor kategori pola asuh orang tua, jika skor kategori pola asuh otoriter lebih besar dari skor kategori pola asuh demokratis dan skor kategori pola asuh permisif, maka sampel disebut dengan tipe pola asuh otoriter, jika skor kategori pola asuh demokratis lebih besar dari skor kategori pola asuh otoriter dan skor kategori pola asuh permisif, maka sampel disebut dengan tipe pola asuh demokratis, dan jika skor kategori pola asuh permisif lebih besar dari skor kategori pola asuh demokratis dan skor kategori pola asuh otoriter, maka sampel disebut dengan tipe pola asuh permisif.

Sedangkan untuk melihat tingkat kebiasaan remaja dalam mengkonsumsi alkohol dapat digunakan ketentuan panjang kelas. Diketahui rentang sebesar 30, dan banyak kelas adalah 3 (tiga), sehingga diperoleh panjang kelas (p) adalah sebesar 9.

(39)

xxxviii

Sehingga kriteria uji dikategorikan atas 3 kelas yaitu : 1 – 15 = tingkat coba-coba, 16 – 25 = tingkat pengguna tetap, 26 – 30 = tingkat kecanduan.

Dari ketentuan tersebut, data yang diperoleh dibuat dalam tabel frekwensisi yang bertujuan untuk menentukan tipe pola asuh orang tua terhadap anaknya, khususnya remaja dan menentukan tingkat kebiasaan remaja dalam mengkosumsi alkohol di Desa Sirajaoloan.

(40)

xxxix BAB 5

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil

Bab ini menguraikan tentang hasil penelitian melalui pengumpulan data terhadap 42 orang tua dan 42 remaja di Desa Sirajaoloan Kecamatan Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara dari tanggal 20 Oktober sampai dengan 2 Desember 2009. Penyajian data meliputi karakteristik responden, tipe pola asuh responden orang tua dan tingkat kebiasaan remaja dalam mengkonsumsi alkohol.

1.1.Karakteristik Responden

Karakteristik responden mencakup umur (tahun), pendidikan (tahun), suku, agama, pekerjaan, dan jumlah penghasilan/bulan yang dapat dipaparkan pada Tabel 1: Tabel 1. Distribusi Frekwensi dan Persentase Karakteristik Responden (n = 42)

Karakteristik Responden Frekwensi (f) Persentase (%)

(41)

xl

Dari Tabel 1, dapat dijelaskan bahwa hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden orang tua berada pada umur antara 50 – 54 tahun yaitu 18 responden (42,86%), sedangkan responden remaja sebagian besar berada pada kelompok umur 19 – 21 tahun yaitu 22 responden (52,38%). Berdasarkan tingkat pendidikan, sebagian besar responden orang tua berada pada tingkat pendidikan SD (66,67%), sedangkan responden remaja sebagian besar berada pada tingkat pendidikan SMU (57,14%). Berdasarkan suku dan agama, seluruh responden (100%) yaitu orangtua dan remaja, seluruhnya beragama Kristen Protestan dan bersuku Batak Toba. Berdasarkan karakteristik pekerjaan orang tua, sebagian besar orang tua mempunyai pekerjaan sebagai petani yaitu 37 responden (54.77%) dengan jumlah penghasilan responden sebagian besar berkisar > Rp. 1.000.000,-

Karakteristik Responden Frekwensi (f) Persentase (%)

Suku

(42)

xli 1.2. Tipe Pola Asuh Orang tua

Tipe pola asuh orang tua di dalam keluarga terhadap anak remaja di daerah penelitian dapat dinyatakan pada Tabel 2 :

Tabel 2. Distribusi Frekwensi dan Persentase Tipe Pola Asuh Orang tua terhadap Remaja (n = 42)

Tipe Pola Asuh Orang Tua Frekwensi (f) Persentase (%) Otoriter

Sumber : Lampiran 10

Dari Tabel 2, dapat diketahui bahwa hasil penelitian terhadap 42 responden orang tua menunjukkan kecenderungan menggunakan tipe pola asuh demokratis yaitu dengan tingkat persentase sebanyak 71,43% tetapi responden juga menggunakan tipe pola asuh permisif dengan tingkat persentase sebanyak 19,05% dan pola asuh otoriter sebanyak 9,52% . Hal ini mengambarkan bahwa dari 42 responden orang tua di Desa Sirajaoloan, sebagian besar menerapkan pola asuh orang tua demokratis terhadap anak remajanya.

1.3. Tingkat Kebiasaan Remaja dalam Mengkonsumsi Alkohol

Tingkatan kebiasaan remaja dalam mengkonsumsi alkohol mencakup tingkat coba-coba, tingkat pengguna tetap dan tingkat kecanduan. Dari hasil pengolahan data dapat diperoleh tingkat kebiasaan remaja dalam mengkonsumsi alkohol yang dinyatakan dalam Tabel 3 :

(43)

xlii

Tabel 3. Distribusi Frekwensi dan Persentase Tingkat Kebiasaan Remaja dalam Mengkonsumsi Alkohol (n = 42)

Tingkat Kebiasaan Remaja dalam Mengkonsumsi Alkohol

Frekwensi (f) Persentase (%)

Coba-coba

Sumber : Lampiran 11

Dari Tabel 3 dapat diketahui bahwa hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden remaja berada pada tingkat coba-coba dalam kebiasaannya mengkonsumsi alkohol yaitu sebanyak 28 orang remaja (66,67%),pengguna tetap sebanyak 13 orang remaja (30,95%) dan pada tingkat kecanduan sebanyak 1 orang remaja (2,38%).

2. Pembahasan

2.1. Tipe Pola Asuh Orang Tua 2.1.1. Pola asuh demokratis

Dari hasil distribusi frekwensisi dan persentase tipe pola asuh orang tua terhadap anak remajanya di Desa Sirajaoloan dapat diketahui bahwa pola asuh yang diterapkan oleh orang tua terhadap anaknya yang memiliki kebiasaan mengkonsumsi alkohol adalah pola asuh demokratis yaitu sebanyak 30 orang tua (71.43%) dengan karakteristik umur 50–64 tahun, tingkat pendidikan berada pada tingkat SD dan SMP, sebagian besar mempunyai pekerjaan sebagai petani.

Menurut Shochib (dalam Yuniyati, 2003), orang tua menerapkan pola asuh demokratis dengan banyak memberikan kesempatan kepada anak untuk berbuat keputusan secara bebas, berkomunikasi dengan lebih baik, mendukung anak untuk

(44)

xliii

memiliki kebebasan sehingga anak mempunyai kepuasan sedikit menggunakan hukuman badan untuk mengembangkan disiplin.

Dari hasil penelitian, orang tua yang menerapkan pola asuh demokratis, kecenderungan mempunyai kebiasaan mengajarkan kepada anak agar segera minta maaf jika melakukan kesalahan, mengajarkan kepada anak untuk bergaul dengan temannya yang berbeda agama, mengusahakan agar setiap pagi dan malam hari akan makan bersama, memberi hadiah kepada anak jika nilai rapor mereka meningkat, tidak melarang anak untuk bergaul dengan teman lawan jenisnya dengan batas yang sewajarnya, memberi kepercayaan kepada anak untuk menentukan cita-cita nya dengan memberi berbagai pandangan. Orangtua juga mempunyai asumsi bahwa anak itu adalah kekayaan yang sangat berharga, seperti semboyan suku Batak Toba “Anakkonki do hamoraon di au”, sehingga orangtua selalu memberi dukungan untuk menjunjung tinggi kebaikan dan kedisiplinan dalam mengasuh untuk mencapai keberhasilan tanpa melakukan pemaksaan dalam mengasuh anak.

Hal ini juga didukung berupa data yang diperoleh peneliti yang sejalan dengan teori yang menyatakan bahwa dukungan orang tua yang konsisten memiliki asosiasi positif dengan semua aspek kompetensi sosial dalam diri anak berupa peningkatan prestasi akademi, kepatuhan, kepatuhan (Rollins dan Thomas 1979). Sehingga peniliti mempunyai gambaran bahwa pola asuh orang tua demokratis terhadap remaja cenderung pada tingkat coba-coba dalam kebiasaannya mengkonsumsi alkohol.

2.1.2. Pola asuh permisif

Dari hasil distribusi frekwensisi dan persentase tipe pola asuh orang tua terhadap anak remajanya di Desa Sirajaoloan dapat diketahui bahwa pola asuh yang diterapkan oleh orang tua terhadap anaknya yang memiliki kebiasaan mengkonsumsi

(45)

xliv

alkohol adalah pola asuh permisif yaitu sebanyak 8 orang tua (19.05%) dengan karakterisik umur 40-59 tahun, dengan tingkat pendidikan SD dan SMP dan mayoritas berprofesi sebagai petani. Dapat diketahui bahwa orangtua yang menerapkan pola asuh permisif cenderung memiliki kebiasaan memberi kebebasan penuh kepada anak untuk bergaul dengan siapa saja yang mereka sukai, memberi kepercayaan penuh kepada anak untuk menentukan cita-citanya tanpa melihat bakat dan talenta anak dan tidak ingin tahu apa yang diperbuat anak diluar rumah.

Hal ini disesuaikan dengan teori Baumrind (1989) yang menyatakan pola asuh ini ditandai dengan adanya kebebasan tanpa batas pada anaknya untuk berperilaku sesuai dengan keinginannya sendiri. Orang tua tidak pernah memberi aturan dan pengarahan kepada anak. Semua keputusan diserahkan kepada anak tanpa pertimbangan dari orang tua. Anak tidak tahu apakah perilakunya benar atau salah karena orang tua tidak pernah membenarkan atau menyalahkan anak. Akibatnya anak akan berperilaku sesuai dengan keinginannya sendiri, tidak peduli apakah hal itu sesuai dengan norma masyarakat atau tidak

Keberadaan pola asuh permisif ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Baumrind (1989) jika dihubungkan dengan data yang dipeoleh oleh peneliti, karena dapat disebabkan oleh faktor pekerjaan.Adanya sebagian orangtua yang berprofesi sebagai petani dan wiraswasta tidak mempunyai waktu untuk mengasuh anak karena terlalu sibuk dengan pekerjaan. Sebagian orang tua yang berprofesi sebagai petani pada umumnya bekerja mulai dari pagi hingga sore hari sehingga ketika sudah berada dirumah, waktu yang ada kebanyakan digunakan untuk beristirahat ketimbang melakukan pengawasan dan komunikasi dengan anak, sedangkan orang tua yang berprofesi sebagai wiraswasta pada umumnya bekerja sebagai buruh bangunan yang biasanya mereka bekerja keluar kota sehingga orang

(46)

xlv

tua tersebut mempunyai waktu yang sedikit untuk berkumpul bersama anak dan keluarga.Akibatnya orang tua kurang mendapatkan waktu yang banyak untuk memberikan bimbingan kepada anak.

2.1.3. Pola asuh otoriter

Dari hasil distribusi frekwensisi dan persentase tipe pola asuh orang tua terhadap anak remajanya di Desa Sirajaoloan dapat diketahui bahwa pola asuh yang diterapkan oleh orang tua terhadap anak remaja yang memiliki kebiasaan mengkonsumsi alkohol adalah pola asuh otoriter yaitu sebanyak 4 orang tua (9.52%) dengan karaktristik umur berada pada umur 45-49 tahun, tingkat pendidikan SMU dan mayoritas bekerja sebagai PNS(Pegawai Negeri Sipil). Dalam hal ini dapat dijelaskan bahwa orangtua memiliki kebiasaan-kebiasaan yang berbeda untuk memberikan bimbingan terhadap anaknya. Dapat digambarkan bahwa orangtua di Desa Sirajaoloan sebagian kecil mempunyai kecenderungan tidak memberi kebebasan kepada anaknya untuk berperilaku seperti yang diinginkannya, membuat aturan-aturan yang mau tak mau harus dituruti anak, akan menghukum anak dengan hukuman fisik, apabila aturan-aturan yang buat dilanggar, akan melontarkan kata-kata yang menyakitkan hati jika anak mengecewakan, dengan suara yang keras, menyuruh anak untuk melakukan suatu

Hal ini dapat disesuaikan dengan teori Baumrind (1989), yang menyatakan pola asuh otoriter ditandai dengan adanya aturan-aturan yang kaku dari orang tua. Kebebasan anak sangat dibatasi dan orang tua memaksa anak untuk berperilaku seperti yang diinginkan. Bila aturan-aturan ini dilanggar, orang tua akan menghukum anak dengan hukuman yang biasanya bersifat fisik. Tapi bila anak patuh maka orang tua tidak memberikan hadiah karena sudah dianggap sewajarnya bila anak menuruti

(47)

xlvi

kehendak orang tua. Pengawasan yang ketat dan hukuman fisik yang dilakukan orang tua terhadap anak akan mendorong anak untuk melakukan perlawanan terhadap keterbatasan yang diberikan orang tua kepadanya..

Dari hasil data yang disimpulkan diatas, hal tersebut dapat dipengaruhi oleh faktor karakteristik tingkat pendidikan dan pekerjaan orang tua yang sebagian besar bekerja sebagai PNS, peneliti mempunyai asumsi bahwa orang tua yang sudah mempunyai pendidikan dan pekerjaan yang baik akan selalu memaksakan kekuasaannya kepada anak untuk berprilaku seperti mereka. Pendidikan selalu dipandang sebagai alat untuk mencapai produktifitas yang berhubungan erat dengan kemajuan, tetapi hal ini tidak sesuai dengan pendapat yang dikemukakan Besmer (1976) yang mengatakan bahwa pengasuhan anak itu seharusnya lebih menitik berat kan pada pengembangan kekuatan sendiri dan kemandirian dalam diri anak-anak.

2.2. Tingkat Kebiasaan Remaja dalam Mengkonsumsi Alkohol 2.2.1. Coba-coba

Dari hasil distribusi frekwensisi dan persentase tingkat kebiasaan remaja dalam mengkonsumsi akohol di Desa Sirajaoloan menunjukkan bahwa sebagian besar berada pada tingkat coba-coba sebanyak 28 responden (66.67%) dengan karakteristik umur berkisar antara umur 15-19 tahun dan berada pada tingkat pendidikan rata-rata SMP dan SMU. Hal ini dapat dikaitkan dengan pendapat dari Jerry dalam GloriaNet (2000) yang menyatakan bahwa alasan pertama para pengkonsumsi alkohol adalah sangat sederhana yaitu ingin mencoba karena tergiur oleh tawaran yang datang dari teman, dan pada umumnya pertama kali mengenal alkohol sejak duduk di bangku sekolah SMP dan SMU. Timbul rasa ingin tahu, dan setelah mencobanya maka akan

(48)

xlvii

timbul rasa ketagihan dan akhirnya kecanduan. Sifat rasa ingin tahu itu paling tinggi terjadi pada umur berkisar antara 15-19 tahun.

Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa remaja pada tingkat coba-coba dalam kebiasaannya mengkonsumsi alkohol, kecenderungan mempunyai kebiasaan lebih sering keluar malam dibandingkan dengan biasanya, cara berpakaian lebih cuek dari biasanya, jadwal kegiatan ekstrakurikuler berkurang, kegiatan membantu orang tua di sawah berkurang dari biasanya, senang membuat keributan ketika ada acara di lingkungan rumah, emosi lebih memuncak dari biasanya jika sedang marah, dan lebih sering berada di luar rumah di waktu malam hari. Pola asuh yang diterapkan oleh orang tua mereka cenderung kepada pola asuh demokratis. Orang tua sudah mengajarkan kepada anak agar tidak terlibat ke dalam alkohol dengan bimbingan dan arahan, akan tetapi keterlibatan ini tidak jauh dari pengaruh lingkungan.

Adapun faktor-faktor yang menyebabkan anak remaja berada pada tingkat coba-coba dalam mengomsumsi alkohol adalah umur remaja yang masih dalam tahap sekolah, didalam lingkungan itu sangat mudah untuk mendapatkan alkohol yang nantinya dapat mempertinggi tingkat kebiasaannya menjadi pengguna tetap dan kecanduan, pengaruh teman sebaya, masih kurangnya pengawasan dari orang tua walaupun pada tahap ini orang tua sudah menggunakan pola asuh demokratis. .

2.2.2. Pengguna Tetap

Hasil distribusi frekwensisi dan persentase tingkat kebiasaan remaja dalam mengkonsumsi akohol di Desa Sirajaoloan menunjukkan bahwa sebagian besar berada pada tingkat pengguna tetap sebanyak 13 responden remaja (30.95%) dengan karakteristik usia berada pada umur 20 tahun,tingkat pendidikan SMU. Remaja dengan tingkat kebiasaan pengguna tetap cenderung memiliki kebiasaan sering bolos

(49)

xlviii

dari sekolah, aktifitas spiritual berkurang, sudah mulai merokok, pernah diskors dari sekolah, sering melawan orang tua dan orang-orang yang membuat marah atau jengkel, lebih senang bermain bersama teman-teman yang peminum juga ketimbang yang lainnya dan menggunakan uang yang berlebihan dari biasanya.

Irwan (2008) menyatakan bahwa remaja dengan tingkat kebiasaan sebagai pengguna tetap mengalami perubahan perilaku dari biasanya. Remaja semakin sering keluar rumah, sering bolos sekolah dan adanya skorsing. Remaja juga mengalami problema keuangan karena penggunaan uang yang berlebihan dan mulai memberontak.

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, remaja di Desa Sirajaoloan mengkonsumsi alkohol hingga mencapai tingkat pengguna tetap disebabkan oleh masalah pekerjaan orangtua bertani dan buruh bangunan yang sibuk dan jarang di rumah yang mengakibatkan tidak adanya pengawasan terhadap anak, hubungan orangtua yang kurang harmonis sehingga anak merasa tidak diperhatikan sehingga dapat berbuat semaunya (pada tahap ini pola asuh yang digunakan pola asuh permsif), hubungan dengan orang tua kurang harmonis karena pengawasan yang berlebihan dari orang tua (pada tahap ini pola asuh yang yang digunaka pola asuh otoriter) ,alkohol (mis : tuak) juga sangat mudah diperoleh di Desa Sirajaoloan dengan harga yang murah. sesuai dengan tradisi, tuak dianggap sebagai symbol kekuatan dan persaudaraan, khususnya pria, sehingga remaja mempunyai kesempatan untuk mengkonsumsinya dan ingin meniru tradisi yang ada selama ini, tetapi kalau diminum secara tidak berlebihan dampak nya tidak akan terlalu besar bagi kesehatan.

(50)

xlix 2.2.3. Kecanduan

Hasil distribusi frekwensisi dan persentase tingkat kebiasaan remaja dalam mengkonsumsi akohol di Desa Sirajaoloan menunjukkan bahwa sebagian besar berada pada tingkat kecanduan sebanyak 1 responden remaja (2.38%) dengan data karakteristik umur 21 tahun, tingkat pendidikan SD. Remaja dengan tingkat kecanduan cenderung memiliki kebiasaan akan lebih percaya diri berbicara dengan orang lain jika sudah minum alkohol terlebih dahulu, akan mencuri uang orang tua untuk membeli alkohol, ketika ada masalah lebih senang mengkonsumsi alkohol daripada membicarakannya dengan orang tua ataupun orang lain, tidak bisa tidur di waktu malam hari jika tidak mengkonsumsi alkohol. Hal ini sesuai dengan pernyataan Irwan (2008) yang menyatakan bahwa remaja dengan tingkat kecanduan memiliki pola pikir yang aneh dengan kebiasaan yang tidak wajar. Remaja menganggap alkohol sebagai kebutuhan hidup agar dapat menjalankan kegiatannya. Pola asuh orang tua yang dialami si anak adalah pola asuh permisif karena tidak adanya komunikasi dengan orang tua akibat ketidakharmonisan dalam keluarga. Dari hasil pengamatan diperoleh bahwa terjadi perselisihan dan persaingan antara anak dan ayah, yang mengakibatkan si anak merasa tersingkirkan dan bertindak dengan sesuka hatinya. Soetjiningsih (2004) menyatakan bahwa remaja menganggap dengan alkohol dapat mengatasi keadaan cemas, gelisah, ketegangan, merasa kuat dan percaya diri, mengurangi perasaan nyeri dan merasa mampu mengatasi stress kehidupan sehari-hari.

Remaja di Desa Sirajaoloan cenderung sebagai alkoholik dengan tingkat kecanduan disebabkan oleh faktor masalah pribadi yang berkepanjangan dan tidak ada penyelesaian, juga disebabkan oleh keadaan fisik yang tidak mendukung. Remaja akan merasa lebih percaya diri jika sudah mengkonsumsi alkohol. Berhman (2000)

(51)

l

mengatakan bahwa efek reward (penghargaan) adalah setelah minum alkohol dan mereka akan terus ingin mengkonsumsinya. Faktor genetik juga memunculkan remaja di Desa Sirajaoloan sebagai pengkonsumsi alkohol. Jika orangtua peminum, cenderung akan menjadikan anaknya sebagai peminum. Tidak adanya lagi perhatian dari orang tua dalam mengasuh anak. Pendidikan terakhir anak yang hanya berada pada tingkat sekolah dasar, cenderung menjadikan kurangnya bimbingan dan arahan

akan dampak negative dari alkohol.

(52)

li BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil analisa dan pembahasan dapat diambil kesimpulan dan saran mengenai tipe pola asuh orangtua terhadap kebiasaan remaja dalam mengkonsumsi alkohol di Desa Sirajaoloan Kecamatan Tarutung Kabupaten Tapanuli Utara.

1. Kesimpulan

- Sebagian besar responden orang tua berada pada umur antara 50 – 54 tahun yaitu 18 responden (42.86%), sedangkan responden remaja sebagian besar berada pada kelompok umur 19 – 21 tahun yaitu 22 responden (52,38%). Berdasarkan tingkat pendidikan, sebagian besar responden orang tua berada pada tingkat pendidikan SD (66,67%), sedangkan responden remaja sebagian besar berada pada tingkat pendidikan SMU (57,14%). Berdasarkan suku dan agama, seluruh responden (100%) yaitu orangtua dan remaja, seluruhnya beragama Kristen Protestan dan bersuku Batak Toba. Berdasarkan karakteristik pekerjaan orang tua, sebagian besar orang tua mempunyai pekerjaan sebagai petani yaitu 37 responden (54.77%) dengan jumlah penghasilan responden sebagian besar berkisar > Rp. 1.000.000,- - Tipe pola asuh orangtua di Desa Sirajaoloan adalah pola asuh otoriter (9,52), pola

asuh demokratis (71,43), dan pola asuh permisif (19,05). Sebagian besar orangtua di Desa Sirajaoloan menerapkan pola asuh demokratis kepada anak remaja dalam kebiasaannya mengkonsumsi alkohol.

- Tingkat kebiasaan remaja dalam mengkonsumsi alkohol di Desa Sirajaoloan adalah tingkat coba-coba (66,67), tingkat pengguna tetap (30,95), dan tingkat

Figur

Tabel 1. Distribusi Frekwensi dan Persentase Karakteristik Responden (n = 42)

Tabel 1.

Distribusi Frekwensi dan Persentase Karakteristik Responden (n = 42) p.40
Tabel 2. Distribusi Frekwensi dan Persentase Tipe Pola Asuh Orang tua terhadap Remaja  (n = 42)

Tabel 2.

Distribusi Frekwensi dan Persentase Tipe Pola Asuh Orang tua terhadap Remaja (n = 42) p.42
Tabel 3. Distribusi Frekwensi dan Persentase Tingkat Kebiasaan Remaja dalam Mengkonsumsi Alkohol (n = 42)

Tabel 3.

Distribusi Frekwensi dan Persentase Tingkat Kebiasaan Remaja dalam Mengkonsumsi Alkohol (n = 42) p.43

Referensi

Memperbarui...