• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kajian Antrian Pasien Unit Rawat Jalan Di Rumah Sakit Pmi Bogor

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Kajian Antrian Pasien Unit Rawat Jalan Di Rumah Sakit Pmi Bogor"

Copied!
97
0
0

Teks penuh

(1)

KAJIAN ANTRIAN PASIEN UNIT RAWAT JALAN

DI RUMAH SAKIT PMI BOGOR

Oleh

LELY AMELIA

H24103051

DEPARTEMEN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT karena atas segala

rahmat serta karunia-Nya akhirnya skripsi yang berjudul “Kajian Antrian Pasien Unit Rawat Jalan di Rumah Sakit PMI Bogor” dapat diselesaikan. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada

Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian

Bogor.

Skripsi ini membahas antrian pasien yang terjadi di Unit Rawat Jalan

Rumah Sakit PMI Bogor. Antrian merupakan salah satu masalah operasional yang

sering terjadi dan sangat mempengaruhi kualitas pelayanan rumah sakit. Antrian

pasien pada beberapa loket di Unit Rawat Jalan menimbulkan ketidaknyamanan

dan tanpa disadari menimbulkan biaya bagi pasien berupa waktu dan tenaga. Oleh

karena itu, penelitian ini diharapkan dapat diperoleh desain loket sesuai dengan

tipe antrian yang terjadi dan pada akhirnya dapat meminimalkan waktu tunggu

pasien sehingga dapat meningkatkan kualitas pelayanan rumah sakit.

Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada :

1. Ibu Heti Mulyati, S.TP., MT sebagai dosen pembimbing yang telah

membimbing penulis dalam penyusunan skripsi ini.

2. Prof. Dr. Ir. H. Musa Hubeis MS., Dipl. Ing., DEA. dan Dr. Ir. Abdul Kohar

M. Sc. sebagai penguji dalam sidang skripsi.

3. Seluruh dosen, staf Departemen Manajemen dan Statistik atas bimbingan dan

bantuannya kepada penulis.

4. Seluruh karyawan, suster dan dokter Rumah Sakit PMI Bogor atas bimbingan

dan bantuannya kepada penulis.

5. Kedua orang tua, adik-adik dan keluarga atas doa serta dukungannya kepada

(3)

6. Seluruh JOKAMers, teman-teman Manajemen FEM angkatan 40 serta semua

pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu atas doa serta dukungannya

kepada penulis.

Penulis mengharapkan krtitik dan saran membangun untuk lebih

memperbaiki skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak.

Bogor, Juli 2007

(4)

DI RUMAH SAKIT PMI BOGOR

SKRIPSI

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

SARJANA EKONOMI

pada Departemen Manajemen

Fakultas Ekonomi dan Manajemen

Institut Pertanian Bogor

Oleh

LELY AMELIA

H24103051

DEPARTEMEN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(5)

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

DEPARTEMEN MANAJEMEN

KAJIAN ANTRIAN PASIEN UNIT RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT PMI BOGOR

SKRIPSI

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

SARJANA EKONOMI

pada Departemen Manajemen

Fakultas Ekonomi dan Manajemen

Institut Pertanian Bogor

Oleh

LELY AMELIA

H24103051

Menyetujui, Juni 2007

Heti Mulyati S.TP., MT

Dosen Pembimbing

Mengetahui,

Dr. Ir. Jono M Munandar M.Sc

Ketua Departemen

(6)

Penulis dilahirkan di Jakarta, pada tanggal 1 Juli 1985. Penulis merupakan

anak pertama dari empat bersaudara dari Bapak Nano Sumarno dan Ibu Ustiati.

Tahun 1997 penulis lulus dari SD Mutiara 17 Agustus, kemudian pada tahun 2000

penulis menyelesaikan studi di SLTP Mutiara 17 Agustus, Bekasi. Selanjutnya

penulis lulus dari SMAN 1 Bekasi pada tahun 2003. Tahun 2003 penulis diterima

di IPB melalui PMDK pada Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan

Manajemen.

Dari tahun 2005 hingga 2007 penulis menjadi asisten mata kuliah

Ekonomi Umum. Penulis juga aktif di berbagai organisasi mahasiswa. Tahun

2003/2005 sebagai anggota KLIP (Komunitas Layar IPB), tahun 2004/2005

menjadi Bendahara II BEM-FEM (Badan Eksekutif Mahsiswa Fakultas Ekonomi

dan Manajemen). Selanjutnya pada tahun 2005/2006 sebagai staf Departemen

(7)

ABSTRAK

Lely Amelia. H24103051. Kajian Antrian Pasien Unit Rawat Jalan di Rumah Sakit PMI Bogor. Di bawah bimbingan Heti Mulyati.

Antrian merupakan salah satu masalah bidang operasional yang memiliki pengaruh cukup besar bagi sebuah institusi, termasuk rumah sakit. Terjadinya antrian pasien pada Unit Rawat Jalan sebuah rumah sakit tanpa disadari dapat menimbulkan biaya. Selain itu, antrian yang terlalu lama dapat mengurangi kenyamanan pasien yang berdampak pada menurunnya citra rumah sakit. Oleh karena itu, diperlukan sebuah perancangan model antrian yang dapat menangani masalah tersebut. Model antrian yang dikembangkan merupakan model yang dapat mengurangi rata-rata waktu tunggu pasien dengan tetap memperhatikan utilitas server (orang yang melayani). Penurunan rata-rata waktu tunggu ini diharapkan dapat membuat pasien merasa lebih nyaman tanpa mengurangi produktifitas server akibat penurunan utilitas yang berlebih. Hal ini dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan serta citra rumah sakit di masyarakat.

Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mengidentifikasi model antrian yang terjadi pada Unit Rawat Jalan Rumah Sakit PMI Bogor, (2) Merancang model antrian baru sebagai bahan rekomendasi bagi RS PMI Bogor untuk memperbaiki sistem yang telah ada. Batasan penelitian ini adalah Poli Penyakit Dalam, loket pendaftaran umum dan perusahaan. Data yang digunakan berupa data primer dan data sekunder. Analisis data dilakukan melalui tahapan uji keseragaman data, kecukupan data, kesesuaian sebaran, dan rumus model antrian baku dengan menggunakan bantuan program Microsoft Excel, dan Waiting Line POM-QM for Windows 3, dan SPSSversi 13.

Model antrian aktual pasien Unit Rawat Jalan RS PMI Bogor memiliki pola antrian jalur tunggal dengan empat tahapan proses dan beberapa server

(Single channel, multiple phase). Rata-rata waktu tunggu total pasien di dalam sistem adalah sebesar 718,44 detik (11,97 menit) melalui loket pendaftaran perusahaan dan 631,90 detik (10,53 menit) melalui loket pendaftaran umum.

(8)

Halaman

ABSTRAK

RIWAYAT HIDUP ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR...viii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Perumusan Masalah ... 2

1.3. Tujuan Penelitian ... 3

1.4. Batasan Penelitian ... 3

1.5. Manfaat Penelitian ...4

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Jasa dan karakteristiknya ... 5

2.2. Kualitas Jasa ... 6

2.3. Kesenjangan Jasa ... 7

2.4. Antrian ... 8

2.5. Model-model Antrian ...13

2.6. Model Jaringan Antrian Terbuka ... 17

2.7. Penelitian Terdahulu ... 17

III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran ... 20

3.2. Tahapan Penelitian ... 21

3.3. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 23

3.4. Pengumpulan Data ... 23

3.5. Teknik Pengambilan Contoh ... 23

3.6. Metode Pengolahan dan Analisis Data ... 24

3.6.1. Uji Keseragaman Data ... 24

3.6.2. Uji Kecukupan Data ... 25

(9)

vi

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Rumah Sakit PMI Bogor ... 26

4.2. Unit Rawat Jalan Rumah Sakit PMI Bogor ... 27

4.3. Antrian Pasien Unit Rawat Jalan Rumah Sakit PMI Bogor ... 28

4.4. Rancangan Model Antrian ... 33

4.4.1. Hasil Uji Kecukupan Data ... 33

4.4.2. Hasil Uji Distribusi Data ... 34

4.4.3. Hasil Perhitungan Rumus Model Antrian Baku ………. 34

4.5. Pemilihan Model Antrian ………. 36

4.5.1. Mengubah Waktu Kerja ………. 36

4.5.2. Mengubah Komposisi Server ………. 37

4.5.3. Menggabungkan Beberapa Loket Kerja ………. 38

4.6. Rancangan Model Antrian ………..40

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ……… 46

B. Saran ……….. 46

(10)

DAFTAR TABEL

1. Penelitian terdahulu data ... 18 2. Hasil uji kecukupan data ... 34 3. Hasil pengolahan data antrian yang sudah ada dengan rumus

model antrian baku ... 35 4. Hasil perhitungan perubahan komposisi server ... 37 5. Perkiraan tambahan biaya dengan penggabungan beberapa loket ... 45

(11)

KAJIAN ANTRIAN PASIEN UNIT RAWAT JALAN

DI RUMAH SAKIT PMI BOGOR

Oleh

LELY AMELIA

H24103051

DEPARTEMEN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(12)

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT karena atas segala

rahmat serta karunia-Nya akhirnya skripsi yang berjudul “Kajian Antrian Pasien Unit Rawat Jalan di Rumah Sakit PMI Bogor” dapat diselesaikan. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada

Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian

Bogor.

Skripsi ini membahas antrian pasien yang terjadi di Unit Rawat Jalan

Rumah Sakit PMI Bogor. Antrian merupakan salah satu masalah operasional yang

sering terjadi dan sangat mempengaruhi kualitas pelayanan rumah sakit. Antrian

pasien pada beberapa loket di Unit Rawat Jalan menimbulkan ketidaknyamanan

dan tanpa disadari menimbulkan biaya bagi pasien berupa waktu dan tenaga. Oleh

karena itu, penelitian ini diharapkan dapat diperoleh desain loket sesuai dengan

tipe antrian yang terjadi dan pada akhirnya dapat meminimalkan waktu tunggu

pasien sehingga dapat meningkatkan kualitas pelayanan rumah sakit.

Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada :

1. Ibu Heti Mulyati, S.TP., MT sebagai dosen pembimbing yang telah

membimbing penulis dalam penyusunan skripsi ini.

2. Prof. Dr. Ir. H. Musa Hubeis MS., Dipl. Ing., DEA. dan Dr. Ir. Abdul Kohar

M. Sc. sebagai penguji dalam sidang skripsi.

3. Seluruh dosen, staf Departemen Manajemen dan Statistik atas bimbingan dan

bantuannya kepada penulis.

4. Seluruh karyawan, suster dan dokter Rumah Sakit PMI Bogor atas bimbingan

dan bantuannya kepada penulis.

5. Kedua orang tua, adik-adik dan keluarga atas doa serta dukungannya kepada

(13)

6. Seluruh JOKAMers, teman-teman Manajemen FEM angkatan 40 serta semua

pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu atas doa serta dukungannya

kepada penulis.

Penulis mengharapkan krtitik dan saran membangun untuk lebih

memperbaiki skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak.

Bogor, Juli 2007

(14)

DI RUMAH SAKIT PMI BOGOR

SKRIPSI

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

SARJANA EKONOMI

pada Departemen Manajemen

Fakultas Ekonomi dan Manajemen

Institut Pertanian Bogor

Oleh

LELY AMELIA

H24103051

DEPARTEMEN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(15)

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

DEPARTEMEN MANAJEMEN

KAJIAN ANTRIAN PASIEN UNIT RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT PMI BOGOR

SKRIPSI

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

SARJANA EKONOMI

pada Departemen Manajemen

Fakultas Ekonomi dan Manajemen

Institut Pertanian Bogor

Oleh

LELY AMELIA

H24103051

Menyetujui, Juni 2007

Heti Mulyati S.TP., MT

Dosen Pembimbing

Mengetahui,

Dr. Ir. Jono M Munandar M.Sc

Ketua Departemen

(16)

Penulis dilahirkan di Jakarta, pada tanggal 1 Juli 1985. Penulis merupakan

anak pertama dari empat bersaudara dari Bapak Nano Sumarno dan Ibu Ustiati.

Tahun 1997 penulis lulus dari SD Mutiara 17 Agustus, kemudian pada tahun 2000

penulis menyelesaikan studi di SLTP Mutiara 17 Agustus, Bekasi. Selanjutnya

penulis lulus dari SMAN 1 Bekasi pada tahun 2003. Tahun 2003 penulis diterima

di IPB melalui PMDK pada Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan

Manajemen.

Dari tahun 2005 hingga 2007 penulis menjadi asisten mata kuliah

Ekonomi Umum. Penulis juga aktif di berbagai organisasi mahasiswa. Tahun

2003/2005 sebagai anggota KLIP (Komunitas Layar IPB), tahun 2004/2005

menjadi Bendahara II BEM-FEM (Badan Eksekutif Mahsiswa Fakultas Ekonomi

dan Manajemen). Selanjutnya pada tahun 2005/2006 sebagai staf Departemen

(17)

ABSTRAK

Lely Amelia. H24103051. Kajian Antrian Pasien Unit Rawat Jalan di Rumah Sakit PMI Bogor. Di bawah bimbingan Heti Mulyati.

Antrian merupakan salah satu masalah bidang operasional yang memiliki pengaruh cukup besar bagi sebuah institusi, termasuk rumah sakit. Terjadinya antrian pasien pada Unit Rawat Jalan sebuah rumah sakit tanpa disadari dapat menimbulkan biaya. Selain itu, antrian yang terlalu lama dapat mengurangi kenyamanan pasien yang berdampak pada menurunnya citra rumah sakit. Oleh karena itu, diperlukan sebuah perancangan model antrian yang dapat menangani masalah tersebut. Model antrian yang dikembangkan merupakan model yang dapat mengurangi rata-rata waktu tunggu pasien dengan tetap memperhatikan utilitas server (orang yang melayani). Penurunan rata-rata waktu tunggu ini diharapkan dapat membuat pasien merasa lebih nyaman tanpa mengurangi produktifitas server akibat penurunan utilitas yang berlebih. Hal ini dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan serta citra rumah sakit di masyarakat.

Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mengidentifikasi model antrian yang terjadi pada Unit Rawat Jalan Rumah Sakit PMI Bogor, (2) Merancang model antrian baru sebagai bahan rekomendasi bagi RS PMI Bogor untuk memperbaiki sistem yang telah ada. Batasan penelitian ini adalah Poli Penyakit Dalam, loket pendaftaran umum dan perusahaan. Data yang digunakan berupa data primer dan data sekunder. Analisis data dilakukan melalui tahapan uji keseragaman data, kecukupan data, kesesuaian sebaran, dan rumus model antrian baku dengan menggunakan bantuan program Microsoft Excel, dan Waiting Line POM-QM for Windows 3, dan SPSSversi 13.

Model antrian aktual pasien Unit Rawat Jalan RS PMI Bogor memiliki pola antrian jalur tunggal dengan empat tahapan proses dan beberapa server

(Single channel, multiple phase). Rata-rata waktu tunggu total pasien di dalam sistem adalah sebesar 718,44 detik (11,97 menit) melalui loket pendaftaran perusahaan dan 631,90 detik (10,53 menit) melalui loket pendaftaran umum.

(18)

Halaman

ABSTRAK

RIWAYAT HIDUP ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR...viii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Perumusan Masalah ... 2

1.3. Tujuan Penelitian ... 3

1.4. Batasan Penelitian ... 3

1.5. Manfaat Penelitian ...4

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Jasa dan karakteristiknya ... 5

2.2. Kualitas Jasa ... 6

2.3. Kesenjangan Jasa ... 7

2.4. Antrian ... 8

2.5. Model-model Antrian ...13

2.6. Model Jaringan Antrian Terbuka ... 17

2.7. Penelitian Terdahulu ... 17

III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran ... 20

3.2. Tahapan Penelitian ... 21

3.3. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 23

3.4. Pengumpulan Data ... 23

3.5. Teknik Pengambilan Contoh ... 23

3.6. Metode Pengolahan dan Analisis Data ... 24

3.6.1. Uji Keseragaman Data ... 24

3.6.2. Uji Kecukupan Data ... 25

(19)

vi

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Rumah Sakit PMI Bogor ... 26

4.2. Unit Rawat Jalan Rumah Sakit PMI Bogor ... 27

4.3. Antrian Pasien Unit Rawat Jalan Rumah Sakit PMI Bogor ... 28

4.4. Rancangan Model Antrian ... 33

4.4.1. Hasil Uji Kecukupan Data ... 33

4.4.2. Hasil Uji Distribusi Data ... 34

4.4.3. Hasil Perhitungan Rumus Model Antrian Baku ………. 34

4.5. Pemilihan Model Antrian ………. 36

4.5.1. Mengubah Waktu Kerja ………. 36

4.5.2. Mengubah Komposisi Server ………. 37

4.5.3. Menggabungkan Beberapa Loket Kerja ………. 38

4.6. Rancangan Model Antrian ………..40

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ……… 46

B. Saran ……….. 46

(20)

DAFTAR TABEL

1. Penelitian terdahulu data ... 18 2. Hasil uji kecukupan data ... 34 3. Hasil pengolahan data antrian yang sudah ada dengan rumus

model antrian baku ... 35 4. Hasil perhitungan perubahan komposisi server ... 37 5. Perkiraan tambahan biaya dengan penggabungan beberapa loket ... 45

(21)

viii

DAFTAR GAMBAR

No. Halaman

1. Tiga komponen dari sistem antrian ... 9

2. Desain sistem antrian dasar ... 12

3. Distribusi eksponensial ... 13

4. Jaringan antrian terbuka dua simpul berpola M/M/1 ... 17

5. Kerangka pemikiran penelitian ... 21

6. Tahapan penelitian ... 22

7. Alur antrian pasien unit rawat jalan RS PMI Bogor ... 29

8. Model antrian pasien Unit Rawat Jalan RS PMI Bogor ... 32

9. Perbandingan rata-rata waktu pasien dalam sistem akibat penggabungan loket pendaftaran dan pendataan pasien ... 39

10. Perbandingan rata-rata nilai utilitas server akibat penggabungan loket... 40

11. Perbandingan rata-rata waktu tunggu total pasien dalam sistem antara kondisi antrian aktual dengan model yang dikembangkan ... 41

(22)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Halaman

(23)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pelayanan kesehatan berkualitas merupakan pelayanan kesehatan yang

memuaskan pemakai jasa pelayanan serta diselenggarakan sesuai dengan

standar dan etika pelayanan profesi (www.depkes.go.id, 2005). Hal ini dapat

berupa pemeliharaan dan peningkatan pelayanan kesehatan yang

berkualitas, merata dan terjangkau dengan mengikutsertakan peran aktif

seluruh masyarakat Salah satu contohnya adalah rumah sakit sebagai suatu

institusi penyelenggara pelayanan kesehatan.

Menurut Soeprapto dalam Primadhani (2006), rumah sakit merupakan suatu tempat yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang meliputi

kuratif, preventif dan promotif melalui pelayanan medis, rawat inap, dan

administratif. Fungsi utama rumah sakit adalah menyediakan dan

menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat penyembuhan dan

pemulihan pasien. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI

No.983/SK/MENKES/XI/92 Rumah Sakit mempunyai misi memberikan

pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau oleh masyarakat dalam

rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Pihak rumah sakit perlu melakukan upaya peningkatan kualitas

pelayanan. Hal ini dimaksudkan agar citra rumah sakit tersebut baik di mata

pasien yang pada akhirnya dapat menjaga loyalitas pasien. Peningkatan

kualitas layanan rumah sakit ini juga dilakukan dalam rangka mensukseskan

program Kesehatan Masyarakat (Kesmas) yang telah dicanangkan

pemerintah untuk Mencapai Sehat 2010. Kualitas yang terjaga dapat

memberikan suatu dorongan kepada pelanggannya untuk menjalin ikatan

yang kuat dengan perusahaan (Rumah Sakit). Dalam jangka panjang,

adanya ikatan ini memungkinkan perusahaan memahami dengan seksama

harapan pelanggan dan kebutuhannya.

Sebuah rumah sakit tidak hanya dituntut untuk menyediakan tenaga

medis yang handal tetapi juga harus mampu memberikan suatu layanan

(24)

sistem pendaftaran pasien, pengurusan administrasi yang tidak memakan

waktu lama hingga pelayanan yang diberikan oleh dokter, perawat maupun

karyawan rumah sakit lainnya. Keseluruhan elemen tersebut dapat

mempengaruhi pandangan pasien terhadap kualitas pelayanan rumah sakit.

Salah satu masalah yang sering dijumpai oleh suatu rumah sakit

berasal dari instalasi rawat jalan. Hal ini diindikasikan dengan adanya

antrian pasien maupun calon pasien yang cukup panjang dan seringkali tidak

teratur. Antrian adalah orang-orang atau barang dalam barisan yang sedang

menunggu untuk dilayani (Heizer dan Render, 2005). Lamanya prosedur

pendaftaran dan pembayaran kasir rawat jalan serta pelayanannya untuk

konsultasi dokter maupun menunggu obat di apotek seringkali menimbulkan

ketidaknyamanan bagi pasien. Jika hal ini tidak segera ditangani, maka akan

menjadi suatu masalah yang serius bagi pihak rumah sakit karena dapat

mempengaruhi kepuasan pasien rawat jalan dalam memperoleh layanan

kesehatan. Oleh karena itu, pencarian model alternatif antrian yang dapat

menggantikan model yang sudah ada sangatlah penting dalam rangka

meningkatkan kualitas pelayanan bagi pasien sehingga dapat meningkatkan

citra rumah sakit.

1.2. Perumusan Masalah

Masalah antrian merupakan masalah bidang operasional yang

memiliki pengaruh cukup besar bagi sebuah institusi, termasuk rumah sakit

dimana inti dari kegiatan operasinya adalah pelayanan jasa kesehatan.

Rumah Sakit Palang Merah Indonesia Bogor (RS PMI Bogor) yang

merupakan rumah sakit rujukan untuk pelayanan medis di wilayah Bogor

dan sekitarnya juga tidak terlepas dari masalah ini. Hal ini dapat terlihat

pada barisan calon pasien yang berada di depan loket pendaftaran serta

bangku tunggu di unit rawat jalan yang selalu terisi oleh para pasien.

Antrian yang cukup padat pada unit rawat jalan tanpa disadari menimbulkan

biaya. Diantaranya adalah biaya bagi pasien yang kehilangan sebagian

waktu dan tenaganya karena harus menunggu lama di dalam antrian.

Pemberian pelayanan terhadap pasien secara cepat dan tanggap oleh

(25)

3

tinggi (Rahmatika, 2004). Hal ini disebabkan karena tujuan utama pasien

berobat ke suatu rumah sakit adalah ingin segera memperoleh pengobatan

dengan cepat dari dokter sehingga pasien tidak ingin banyak meluangkan

waktu dalam antrian proses pendaftaran.

Lamanya waktu menunggu di dalam antrian unit rawat jalan dapat

mempengaruhi pandangan pasien terhadap kualitas pelayanan yang

diberikan oleh rumah sakit. Semakin lama waktu tunggu yang dibutuhkan

dalam antrian berarti kualitas pelayanan semakin berkurang. Jika hal ini

terus dibiarkan maka citra rumah sakit tersebut di mata masyarakat akan

semakin buruk.

Oleh karena itu, model antrian unit rawat jalan yang tepat dan efisien

menjadi suatu hal yang penting dalam usaha peningkatan kualitas pelayanan

rumah sakit. Hal ini juga ditujukan sebagai wujud peran aktif terhadap

program Kesmas yang dicanangkan oleh pemerintah.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat diambil perumusan masalah

sebagai berikut :

1. Bagaimana model antrian di Unit Rawat Jalan di Rumah Sakit PMI

Bogor ?

2. Model antrian seperti apakah yang dapat memperbaiki sistem antrian di

Unit Rawat Jalan Rumah Sakit PMI Bogor ?

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Mengidentifikasi model sistem antrian yang terjadi pada Unit Rawat

Jalan Rumah Sakit PMI Bogor.

2. Merancang model antrian baru sebagai bahan rekomendasi bagi Rumah

Sakit PMI Bogor untuk memperbaiki antrian yang telah ada.

1.4. Batasan Penelitian

Batasan-batasan dalam penelitian adalah :

1. Penelitian difokuskan pada Poli Penyakit Dalam yang memiliki

kunjungan pasien tertinggi diantara 24 poli lainnya di Unit Rawat Jalan

(26)

13 persen dari total kunjungan pasien keseluruhan setiap harinya (Data

Kunjungan Pasien Rawat Jalan RS PMI Bogor, 2007).

2. Penelitian terfokus pada antrian loket pendaftaran umum dan

perusahaan. Hal ini dilatarbelakangi kedua loket pendaftaran tersebut

dinilai kurang teratur karena kedua loket masih sering dicampur serta

letaknya yang kurang strategis di antara loket pendaftaran lainnya.

3. Penelitian menggunakan asumsi seluruh pasien yang berada dalam

antrian adalah bukan pasien gawat darurat.

1.5. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran dan

pengembangan pengetahuan bagi penulis serta aplikasi ilmu secara

langsung yang diperoleh selama kuliah.

2. Bagi pihak rumah sakit, penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan

pertimbangan serta masukan untuk meningkatkan kinerja internal

khususnya pada pelayanan unit rawat jalan.

3. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi penelitian

(27)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Jasa dan Karakteristiknya

Menurut Lovelock dan Wright (1999) terdapat dua pendekatan untuk

mendefinisikan jasa. Pertama, jasa adalah tindakan atau kinerja yang

ditawarkan suatu pihak kepada pihak lainnya. Walaupun mungkin prosesnya

tidak terkait dengan produk fisik, kinerjanya pada dasarnya tidak nyata dan

biasanya tidak menghasilkan kepemilikan atas faktor-faktor produksi.

Kedua, jasa adalah kegiatan ekonomi yang menciptakan dan memberikan

manfaat bagi pelanggan pada waktu dan tempat tertentu, sebagai hasil dari

tindakan mewujudkan perubahan yang diinginkan dalam diri atau atas nama

penerima jasa tersebut. Sementara itu menurut Kotler (2002) jasa adalah

setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh satu pihak kepada

pihak lain, yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan

kepemilikan apapun. Produksinya dapat dikaitkan atau tidak dikaitkan

dengan suatu produk fisik.

Kotler (2002) membagi empat karakteristik utama jasa yang sangat

mempengaruhi pemasaran, yaitu :

1. Tidak berwujud (intangibility)

Jasa bersifat tidak berwujud. Tidak seperti halnya produk fisik, jasa

tidak dapat dilihat, dirasa, diraba, didengar atau dicium sebelum jasa

tersebut dibeli.

2. Tidak terpisahkan (inseparability)

Umumnya jasa dihasilkan dan dikonsumsi secara bersamaan. Jika

seseorang memberikan pelayanan maka penyedianya merupakan bagian

dari jasa itu.

3. Bervariasi (variability)

Karena tergantung pada siapa yang menyediakan serta kapan dan

dimana jasa itu diberikan, jasa sangat bervariasi. Pembeli jasa

menyadari keragaman yang tinggi itu dan sering membicarakannya

(28)

4. Mudah lenyap (perishabillity)

Tidak seperti barang fisik yang diproduksi, disimpan dalam persediaan,

didistribusikan melewati berbagi penjual kemudian baru dikonsumsi,

jasa tidak dapat disimpan.

2.2. Kualitas Jasa

Manajemen kualitas dapat diterapkan pada barang maupun jasa.

Collier dalam Gaspersz (1997) mendefinisikan manajemen kualitas pelayanan sebagai suatu studi tentang bagaimana bagian pemasaran dan

operasional secara bersama melalui teknologi dan orang-orang mampu

merencanakan, menciptakan dan menyerahkan suatu paket yang bermanfaat

bagi pelanggan dan kaitannya dengan pelayanan mereka. Beberapa dimensi

atau atribut yang harus diperhatikan dalam perbaikan kualitas jasa adalah :

1. Ketepatan waktu pelayanan

Hal-hal yang perlu diperhatikan di sini berkaitan dengan waktu tunggu

dan proses.

2. Akurasi pelayanan

Berkaitan dengan reliabilitas pelayanan dan bebas kesalahan-kesalahan

3. Kesopanan dan keramahan dalam memberikan pelayanan

Terutama bagi mereka yang berinteraksi langsung dengan pelanggan

eksternal, seperti : operator telepon, staf administrasi, kasir, petugas

penerima tamu, dan lainnya. Citra pelayanan dari industri jasa sangat

ditentukan oleh orang-orang dari perusahaan yang berada di depan garis

depan dalam melayani langsung pelanggan eksternal.

4. Tanggung jawab

Berkaitan dengan penerimaan pesanan dan penanganan keluhan dari

pelanggan eksternal.

5. Kelengkapan

Menyangkut lingkup pelayanan dan ketersediaan sarana pendukung

(29)

7

6. Kemudahan mendapatkan pelayanan

Berkaitan dengan banyaknya outlet, banyaknya petugas yang melayani

seperti kasir, staf administrasi, serta banyaknya fasilitas pendukung

seperti komputer, dan lainnya.

7. Variasi model pelayanan

Berkaitan dengan inovasi untuk memberikan pola baru dalam

pelayanan, features dari pelayanan, dan lainnya. 8. Pelayanan pribadi

Berkaitan dengan fleksibilitas, penanganan permintaan khusus, dan

lainnya.

9. Kenyamanan dalam pelayanan

Berkaitan dengan lokasi, ruangan tempat pelayanan, kemudahan

menjangkau, tempat parkir, dan lainnya.

10.Atribut pendukung pelayanan lainnya

Contohnya adalah lingkungan, kebersihan, ruang tunggu, dan lainnya.

2.3. Kesenjangan Jasa

Kesenjangan jasa adalah hal yang penting karena hal tersebut

merupakan penilaian pelanggan secara keseluruhan terhadap sesuatu yang

diharapkan dibandingkan dengan yang diterima. Tujuan utama dalam

meningkatkan kualitas jasa adalah memperkecil kesenjangan ini. Menurut

Lovelock dan Wright (1999) terdapat tujuh kesenjangan dalam kualitas jasa,

yaitu :

1. Kesenjangan pengetahuan

Perbedaan antara apa yang diyakini penyedia jasa terhadap harapan

pelanggan akan kebutuhan dan harapan pelanggan yang sesungguhnya.

2. Kesenjangan standar

Perbedaan antara persepsi manajemen terhadap harapan pelanggan dan

standar kualitas yang ditetapkan untuk penyerahan jasa.

3. Kesenjangan penyerahan

Perbedaan antara standar penyerahan yang ditentukan dan kinerja

(30)

4. Kesenjangan komunikasi internal

Perbedaan antara apa yang dianggap oleh iklan dan tenaga penjual

perusahaan tersebut sebagai fitur produk, kinerja, tingkat kualitas jasa

dan apa yang sebenarnya dapat diserahkan oleh perusahaan.

5. Kesenjangan persepsi

Perbedaan antara apa yang sebenarnya diserahkan dan apa yang

dianggap pelanggan telah diterima.

6. Kesenjangan interprestasi

Perbedaan antara yang sesungguhnya dijanjikan penyedia jasa dalam

usaha komunikasinya dan apa yang pelanggan pikir telah dijanjikan

dalam komunikasi tersebut.

7. Kesenjangan jasa

Perbedaan antara apa yang diharapkan pelanggan akan mereka terima

dan persepsi mereka terhadap jasa yang benar-benar diserahkan.

2.4. Antrian

Antrian adalah orang-orang atau barang dalam barisan yang sedang

menunggu untuk dilayani (Heizer dan Render, 2005). Hal ini terjadi karena

orang-orang atau barang yang datang ke dalam sebuah fungsi pelayanan

lebih cepat daripada pelayanan itu sendiri. Menurut Heizer dan Render

(2005), terdapat tiga komponen dalam sebuah sistem antrian, yaitu :

a. Kedatangan atau masukan sistem. Kedatangan memiliki karakteristik

seperti ukuran populasi, perilaku, dan sebuah distribusi statistik.

b. Disiplin antrian, atau antrian itu sendiri. Karakteristik antrian mencakup

apakah jumlah antrian terbatas atau tidak terbatas panjangnya dan materi

atau orang-orang yang ada di dalamnya.

c. Fasilitas Pelayanan. Karakteristiknya meliputi desain dan distribusi

(31)

9

Gambar 1 menyajikan tiga komponen sistem antrian

populasi kedatangan dan antrian fasilitas keluar dari sistem populasi umum

kedatangan pada sistem berada dalam sistem keluar dari sistem

Gambar 1. Tiga komponen dari sistem antrian (Heizer dan Render, 2005)

a. Karakteristik Kedatangan

Menurut Heizer dan Render (2005), sumber input yang menghadirkan

kedatangan pelanggan bagi sebuah sistem pelayanan memiliki tiga

karakteristik utama :

1. Ukuran populasi kedatangan

2. Perilaku kedatangan

3. Pola kedatangan (distribusi statistik)

Ukuran populasi kedatangan dilihat sebagi terbatas atau tidak terbatas.

Sebuah populasi dinyatakan sebagai populasi terbatas jika antrian yang

terjadi hanya terdapat pengguna pelayanan potensial dengan jumlah

terbatas. Sementara populasi yang tidak terbatas terjadi ketika dalam antrian

terdapat materi atau orang-orang yang jumlahnya tidak terbatas dapat datang

dan meminta pelayanan.

Kedatangan dianggap sebagai kedatangan yang acak bila kedatangan

tersebut tidak terikat satu sama lain dan kejadian kedatangan tersebut tidak

dapat diramalkan secara tepat. Sering dalam permasalahan antrian,

kedatangan pada setiap unit waktu dapat diperkirakan oleh sebuah distribusi

peluang yang disebut distribusi Poisson dengan menggunakan rumus :

P(x) = , untuk x = 0, 1, 2, 3,...n ... (1)

di mana P(x) = peluang kedatangan sejumlah x x = jumlah kedatangan persatuan waktu

= tingkat kedatangan rata-rata

e = 2,7183 (dasar logaritma)

λ

!

(32)

Perilaku kedatangan menggambarkan perilaku pelanggan yang sabar

menunggu dalam antrian hingga mereka dilayani dan tidak berpindah garis

antrian dan pelanggan yang menolak untuk bergabung dalam antrian karena

merasa waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan pelayanan terlalu lama.

b. Karakteristik Antrian

Garis antrian merupakan komponen kedua pada sebuah sistem antrian.

Panjangnya sebuah baris antrian dapat bersifat terbatas dan tidak terbatas.

Sebuah baris antrian disebut terbatas jika antrian tersebut tidak dapat

ditingkatkan lagi tanpa batas. Baris antrian disebut disebut tidak terbatas

ketika ukuran antrian tidak dibatasi dan dapat terus ditingkatkan.

Karakteristik antrian yang selanjutnya berkaitan dengan aturan antrian

(disiplin antrian). Aturan antrian mengacu pada aturan urutan pelanggan

dalam barisan yang akan menerima pelayanan. Sebagian besar sistem

menggunakan aturan antrian yang disebut aturan first-in first-out (FIFO) dimana pelanggan yang datang lebih dahulu dialah yang pertama dilayani

(Heizer dan Render, 2005). Menurut Haluan dalam Rejeki (2005), dalam prakteknya, terdapat beberapa aturan antrian yang biasa digunakan, yaitu :

a. First In First Out (FIFO) atau First Come First Served (FCFS), yaitu pelayanan dimana yang lebih dahulu masuk maka lebih dahulu keluar

atau yang lebih dahulu datang maka lebih dahulu dilayani.

b. Last In First Out (LIFO) atau Last Come First Serve (LCFS), yaitu pelayanan dimana yang terakhir masuk maka lebih dahulu keluar atau

yang terakhir datang maka yang lebih dahulu dilayani.

c. Priority Service (PS), yaitu pelayanan dimana prioritas pelayanan diberikan kepada yang mempunyai prioritas lebih tinggi dibandingkan

dengan yang mempunyai prioritas lebih rendah, meskipun telah lebih

dahulu tiba.

d. Service In Random Order (SIRO), yaitu pelayanan dimana panggilan berdasarkan pada peluang secara acak, tidak masalah dengan yang

datang lebih awal.

(33)

11

c. Karakteristik Pelayanan

Karakteristik pelayanan merupakan komponen ketiga dalam sistem

antrian. Terdapat dua hal penting dalam karakteristik pelayanan, yaitu : (1)

desain sistem pelayanan dan (2) distribusi waktu pelayanan.

1. Desain dasar sistem antrian

Pelayanan umumnya digolongkan menurut jumlah saluran yang ada

(contoh : jumlah kasir) dan jumlah tahapan (contoh : jumlah

pemberhentian). Desain dasar sistem antrian dapat dikelompokkan ke

dalam empat jenis, yaitu :

a. Sistem antrian jalur tunggal yaitu sebuah sistem pelayanan yang

memiliki satu jalur dan satu titik pelayanan

b. Sistem antrian jalur berganda yaitu sebuah sistem pelayanan yang

memilki satu jalur dengan beberapa titik pelayanan

c. Sistem satu tahap yaitu sebuah sistem dimana pelanggan menerima

dari hanya satu stasiun dan kemudian pergi meninggalkan sistem

d. Sistem tahapan berganda yaitu sebuah sistem dimana pelanggan

(34)

Desain sistem antrian dasar ditunjukkan pada Gambar 2

antrian

Gambar 2. Desain sistem antrian dasar (Heizer dan Render, 2005)

2. Distribusi waktu pelayanan

Distribusi waktu pelayanan menggambarkan waktu yang dibutuhkan

untuk melayani pelanggan. Biasanya waktu pelayanan ini diasumsikan

dengan menggunakan distribusi peluang Eksponensial negatif (negative

exponential probability distribution) seperti yang ditunjukkan pada

Gambar 3.

Fasilitas pelayanan

Fasilitas

Pelayanan 1 Pelayanan 2Fasilitas

(35)

13

0 rata-rata Waktu

Gambar 3. Distribusi eksponensial (Heizer dan Render, 2005) .

2.5. Model-Model Antrian

Model didefinisikan sebagai suatu perwakilan atau abstraksi dari

situasi nyata atau situasi aktual. Secara garis besar, model antrian

dikelompokkan menjadi dua, yaitu model antrian deterministik dan model

antrian stokastik. Model antrian deterministik adalah konsep teori antrian

yang menjelaskan keadaan antrian yang tanpa menggunakan perhitungan

matematis. Tingkat kedatangan dan tingkat pelayanan pada suatu interval

waktu dianggap konstan sehingga panjang antrian dalam suatu interval

waktu tertentu dapat ditentukan dengan mudah. Model antrian stokastik

adalah konsep teori antrian yang menjelaskan keadaan dengan perhitungan

matematis. Pada keadaan nyata, sering dijumpai waktu kedatangan dan

waktu pelayanan tidak berdistribusi secara konstan tetapi terjadi secara acak

dan membentuk suatu distribusi peluang tertentu (Gottfried dalam Rejeki, 2005). Menurut Kendall, Lee dan Taha dalam Turmansah (1989) model antrian dikelompokkan berdasarkan notasi, yaitu :

( A / B / C : D / E / F ) ... (2)

Keterangan :

A = Distribusi kedatangan

B = Distribusi pelayanan

C = Jumlah pelayanan paralel

D = Disiplin antrian

E = Jumlah maksimum antrian dalam sistem

(36)

Berikut ini merupakan simbol-simbol yang digunakan untuk

menyatakan keenam hal di atas, yaitu :

Simbol A dan B :

M = Berasal dari Markovian, menyatakan kedatangan bersifat acak

dengan distribusi kedatangan poisson, distribusi waktu antar

kedatangan dan waktu pelayanan eksponensial.

Ek = Menyatakan bahwa distribusi kedatangan adalah Erlang (Gamma)

demikian juga untuk distribusi pelayanannya.

GI = Menyatakan distribusi kedatangan atau tingkat pelayanan

mempunyai distribusi khusus.

G = Distribusi waktu pelayanan umum (normal, binominal)

D = Waktu pelayanan atau waktu antar kedatangan konstan atau

deterministik

Beberapa model antrian yang umum terjadi diantaranya yaitu (Heizer

dan Reinder, 2004) :

a) Model antrian jalur tunggal dengan kedatangan berdistribusi poisson

dan waktu pelayanan eksponensial (M/M/1).

Ls =

λ μ

λ

(37)

15

b) Model antrian jalur berganda dengan kedatangan berdistribusi poisson

dan waktu pelayanan eksponensial (M/M/S).

P0 =

c) Model antrian jalur tunggal dengan kedatangan berdistribusi poisson dan

(38)

d) Model antrian jalur tunggal dengan populasi terbatas

P0 =

Ls = Jumlah pelanggan rata-rata dalam sistem (yang sedang menunggu

untuk dilayani)

Ws = Jumlah waktu rata-rata yang dihabiskan dalam sistem (waktu

menunggu ditambah waktu pelayanan)

(39)

17

Wq = Waktu rata-rata yang dihabiskan untuk menunggu dalam antrian

ρ = Faktor utilisasi sistem

P0 = Peluang terdapat 0 unit dalam sistem (yaitu unit pelanggan kosong)

Pn>k = Peluang terdapat lebih dari sejumlah k unit dalam sistem, dimana n adalah jumlah unit dalam sistem

2.6. Model Jaringan Antrian Terbuka

Jaringan antrian (queueing network) merupakan jaringan fasilitas layanan

dimana pelanggan harus menerima layanan dari beberapa atau seluruh fasilitas

tersebut keluaran dari satu fasilitas menjadi masukan bagi fasilitas yang ada di

belakangnya (Hillier dan Lieberman dalam Faz, 2006).

Jaringan antrian terbuka (open queueing network) merupakan sebuah

perluasan sistem mesin atau fasilitas tunggal. Meskipun jaringan dapat terdiri dari

m simpul, analaisis dimulai dari jaringan terbuka dua simpul dengan masing-masing simpul berpola M/M/1 (Gambar 4). Asumsikan terdapat kapasitas tak

terbatas di depan masing-masing simpul, pelanggan datang ke dalam sistem

dengan pola distribusi poisson atau waktu kedatangan mengikuti distribusi

eksponensial. Setiap komponen dilayani terlebih dulu pada mesin 1 kemudian

dilanjutkan pada mesin 2 yang memiliki waktu layanan berdistribuasi

eksponensial secara terpisah yakni masing-masingμ1danμ2(Hillier dan Lieberman dalam Faz, 2006).

Gambar 4 berikut menggambarkan jaringan antrian terbuka dua simpul

dengan pola M/M/1 :

λ Mesin 1 Mesin 2 λ

μ1 μ2

Gambar 4. Jaringan antrian terbuka dua simpul berpola M/M/1 (Hillier dan Lieberman dalam Faz, 2006).

(40)

Penelitian yang telah dilakukan terkait dengan antrian dapat dilihat

(41)
(42)

3.1. Kerangka Pemikiran

Antrian merupakan salah satu masalah operasional yang terjadi ketika

permintaan terhadap pelayanan melebihi kapasitas pelayanannya. Dalam

proses produksi barang ataupun jasa, terjadinya antrian dapat

mengakibatkan dampak yang buruk karena menimbulkan banyak biaya.

Antrian pasien yang sering kali terjadi dalam Unit Rawat Jalan sebuah

rumah sakit menimbulkan rasa ketidaknyamanan bagi para pasien. Hal ini

dikarenakan mereka adalah orang-orang sakit yang memerlukan penanganan

medis segera.

Penilaian kualitas pelayanan sebuah rumah sakit tidak terlepas dari

fungsi utamanya sebagai penyedia dan penyelenggara upaya kesehatan yang

bersifat penyembuhan dan pemulihan pasien. Hal ini meliputi pelayanan

pada Unit Rawat Jalan. Salah satu dimensi kualitas yang terpenting dari

pelayanan adalah ketepatan waktu pelayanan yang berkaitan erat dengan

waktu tunggu dan proses.

Antrian pasien yang terjadi di Unit Rawat Jalan memiliki keterkaitan

yang erat dalam dimensi kualitas pelayanan rumah sakit. Antrian pasien

pada Poli Penyakit Dalam merupakan salah satu hal yang menarik untuk

dikaji. Hal ini karena Poli Penyakit Dalam memiliki kunjungan pasien

terbanyak di Unit Rawat Jalan RS PMI Bogor dengan jumlah kunjungan

mencapai lebih dari 13 persen setiap hari.

Antrian pasien pada Poli Penyakit Dalam RS PMI Bogor ini dijadikan

bahan kajian penelitian untuk mengetahui karakteristik antrian pasien yang

terjadi. Melalui kajian tersebut kemudian dilakukan pengembangan model

antrian dari model yang ada. Selanjutnya, model antrian yang

dikembangkan ini dibandingkan dengan model antrian yang ada dari waktu

tunggu dan utilitas server (orang yang melayani). Hasil yang paling efektif diantara kedua model tersebut akan menjadi model antrian terpilih untuk

diterapkan. Hal ini dilakukan dalam rangka meningkatan kualitas pelayanan

(43)

21 utilitas server antar alternatif model

Model antrian yang dipilih

merupakan wujud peran aktif RS PMI Bogor dalam mensukseskan program

Kesehatan Masyarakat (Kesmas) yang dicanangkan oleh pemerintah.

Kerangka pemikiran penelitian ini ditunjukkan oleh Gambar 5.

Antrian sebagai masalah Operasional

Dimensi Kualitas Pelayanan (Ketepatan waktu pelayanan)

Pelayanan pada unit rawat jalan Rumah Sakit PMI Bogor

Sistem antrian rawat jalan

Gambar 5. Kerangka pemikiran penelitian

3.2. Tahapan Penelitian

Tahapan penelitian dimulai dengan pengamatan sistem secara

keseluruhan dilanjutkan dengan pendefinisian sistem yang akan diamati

yaitu antrian. Langkah selanjutnya adalah pemodelan sistem berdasarkan

(44)

diperoleh, dilakukan pengembangan model yang telah ada hingga mencapai

suatu kesimpulan dan saran.

Tahapan penelitian ditunjukkan pada Gambar 6.

Pengamatan Pendahuluan Pengamatan sistem secara keseluruhan

Perumusan Masalah

Pendefinisian sistem yang akan diamati yaitu antrian

Tidak

Ya

Tidak Ya

Tidak

Ya

Gambar 6. Tahapan penelitian Pengambilan data

Uji keseragaman data

Uji kecukupan data

Uji distribusi data

Penyelesaian dengan rumus baku Penyelesaian model simulasi

Alternatif pengembangan model antrian

Perbandingan waktu tunggu dan utilitas server antar model antrian

Seragam ?

Cukup ?

Sesuai asumsi model baku?

Model antrian terpilih

(45)

23

3.3. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari sampai Maret 2007 di

Rumah Sakit PMI Bogor di Jalan Pajajaran No. 80, Bogor dengan judul

penelitian “Kajian Antrian Pasien Unit Rawat Jalan di Rumah Sakit PMI

Bogor”.

3.4. Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan adalah data primer dan sekunder. Data primer

adalah data yang yang langsung diambil berdasarkan pengamatan di

lapangan serta wawancara. Data primer tersebut berupa kecepatan

kedatangan pasien dan kecepatan pelayanan server (orang yang melayani) pada setiap loket kerja dalam satu jam serta jumlah server pada setiap loket kerja. Pengambilan data dilakukan melalui pengamatan jarak jauh dengan

mengukur kecepatan kedatangan pasien serta lama pelayanan yang

diterimanya pada setiap loket kerja yang dilalui dengan menggunakan stop watch. Pengambilan data kecepatan kedatangan pasien dilakukan setiap hari Senin-Sabtu pada jam operasional (pukul 08.00-11.00 WIB) yaitu waktu

dimana loket kerja beroperasi dengan tiga kali pengulangan. Pengambilan

data kecepatan pelayanan server terhadap pasien dilakukan dengan mengambil kecepatan rata-rata pelayanan terhadap 40 sampai dengan 60

pasien di setiap loket kerja.

Data sekunder adalah data yang telah tersusun dalam bentuk

dokumen-dokumen tertulis yang diperoleh dari pihak Rumah Sakit PMI

Bogor dan Internet. Data sekunder juga diperoleh melalui bahan pustaka,

buku-buku, serta literatur-literatur lainnya yang terkait dalam penelitian.

3.5. Teknik Pengambilan Contoh

Data mengenai permasalahan yang terkait diperoleh melalui

pengamatan langsung di lapangan dengan subjek pengamatan ditentukan

secara purposive sampling yaitu pasien yang dipilih sebagai contoh dipilih secara khusus berdasarkan tujuan penelitian. Data diambil dengan

melakukan pengamatan jarak jauh terhadap pasien yang berada dalam

(46)

kriteria contoh adalah pasien rawat jalan, baik yang baru pertama kali

mendaftar atau yang telah terdaftar sebelumnya. Banyaknya pengambilan

contoh disesuaikan dengan pengujian kecukupan data hingga contoh yang

ada dirasakan cukup.

3.6. Pengolahan dan Analisis Data

Tahapan pengolahan data penelitian ini adalah :

1. Uji keseragaman dan kecukupan data dengan menggunakan bantuan

program Microsoft Excell.

2. Uji pola distribusi data dengan menggunakan bantuan program SPSS

(Statistical Problem and Service Solution) versi 13.

3. Pengolahan data menggunakan perhitungan berdasarkan rumus antrian

baku dengan bantuan program Waiting Line POM-QM for Windows 3

atau dengan metode simulasi.

4. Membandingkan hasil perhitungan ke dalam beberapa desain antrian

lainnya dengan metode trial and error untuk mengukur perbandingan waktu tunggu antrian dan utilitas servernya.

Berdasarkan hasil analisis pengolahan data yang diperoleh kemudian

dicari sebuah desain antrian baru yang dapat memperbaiki sistem antrian

yang sudah ada yaitu desain dengan waktu tunggu terkecil dengan tetap

memperhatikan pengaruhnya terhadap utilitas server. Sub bab berikut akan menguraikan tahapan-tahapan pengolahan data yang dilakukan.

3.6.1. Uji Keseragaman Data

Pengujian ini merupakan pengujian yang berdasarkan pada teori

statistik mengenai peta kontrol (control chart) yang biasanya digunakan

dalam melakukan pengendalian kualitas. Satu langkah yang dilakukan

sebelum melakukan pengukuran adalah merancang suatu sistem kerja

yang baik. Pada sistem kerja yang baik inilah dilakukan pengukuran

waktu dan dicari waktu penyelesaian pekerjaan. Walaupun suatu sistem

dinilai baik, seringkali pengukuran yang dilakukan tidak mengetahui

perubahan yang terjadi. Perubahan yang terjadi dapat diterima apabila

(47)

25

Batas kontrol yang dibentuk merupakan batas keseragaman data.

Sebuah data dikatakan seragam bila berasal dari sebab yang sama yaitu

berada diantara kedua batas kontrol. Jika data berada di luar batas kontrol,

maka dapat dikatakan data tidak berasal dari sistem sebab yang berbeda

atau tidak seragam (Sutalaksana, 1979).

3.6.2. Uji Kecukupan Data

Uji kecukupan data dilakukan untuk mengetahui apakah data yang

diperoleh telah cukup mewakili populasi yang diamati. Jumlah data yang

dibutuhkan (N’) secara teoritis dapat dihitung dengan rumus (Sutalaksana

, 1979) sebagai berikut.

Rumus tersebut adalah untuk tingkat keyakinan 95 persen, dimana N

adalah jumlah data dari pengukuran yang dilakukan, Xi adalah nilai dari data dan i adalah pengukuran ke-i yang telah dilakukan. Jika N > N’ maka jumlah data yang diperoleh telah cukup mewakili populasi yang diamati.

3.6.3. Uji Distribusi Data

Setelah data yang diambil sudah cukup mewakili populasi kemudian

dilakukan uji distribusi terhadap kelompok data yang sudah diambil.

Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui jenis distribusi dari kelompok

data yang diperoleh untuk disesuaikan dengan alat analisis yang akan

dipakai. Jika distribusi data yang diperoleh memenuhi asumsi model

antrian baku yaitu mengikuti distribusi poisson atau eksponensial maka

digunakan rumus antrian baku dengan bantuan program Waiting Line POM-QM for Windows 3. Namun, jika data tidak berdistribusi poisson atau eksponensial, maka permasalahan antrian yang terjadi dapat

diselesaikan dengan teknik simulasi. Uji distribusi data ini menggunakan

(48)

4.1. Gambaran Umum Rumah Sakit PMI Bogor

Rumah Sakit PMI Bogor pertama kali didirikan pada tahun 1931 di

kota Bogor atas prakarsa kelompok sosial orang-orang Belanda di kota

Bogor. Pada tahun 1938 rumah sakit ini dikelola oleh NERKAI

(Nederlansch Rode Kruis Afdeling Van Indonesie) dan kemudian pada

tahun 1942-1945 dikuasai oleh penguasa Jepang. Ketika Jepang mengalami

kekalahan dalam perang, pengelolaan rumah sakit ini kembali ke tangan

NERKAI.

Tahun 1948 rumah sakit tersebut dihibahkan kepada Pengurus PMI

Cabang Bogor dan diberi nama Rumah Sakit Kedung Halang. Pada tahun

1951 diserahkan kepada Markas Besar PMI. Pada tahun yang sama, Rumah

Sakit Kedung Halang ditunjuk sebagai Rumah Sakit Umum serta berganti

nama menjadi Rumah Sakit Umum Palang Merah Indonesia.

Rumah Sakit PMI Bogor dikelola oleh Yayasan Rumah Sakit Umum

PMI Bogor yang berinduk pada Markas Besar PMI pada tahun 1964. Tahun

1965 RS PMI Bogor bekerjasama dengan RS Cipto Mangunkusumo dan

pada tahun 1966 Yayasan Pembina Rumah Sakit Umum PMI dibubarkan.

Hingga saat ini RS PMI Bogor telah ditetapkan sebagai rumah sakit tipe B

dan menjadi rumah sakit rujukan untuk pelayanan medis di wilayah Bogor

dan sekitarnya.

Visi Rumah Sakit PMI Bogor adalah “Menjadi Rumah Sakit yang

Memberikan Pelayanan Medis Bermutu Tinggi” dengan keunggulan

dalam bidang diagnostik dan traumatik serta dapat mengantisipasi

perubahan-perubahan global. Misi RS PMI Bogor adalah senantiasa

menjunjung tinggi azas perikemanusiaan melalui pelayanan kesehatan

profesional yang selalu mengikuti perkembangan IPTEK dan alih

teknologi kedokteran aktual serta menyelenggarakan pendidikan bidang

kesehatan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, berperan sebagai

pusat rujukan, pusat diagnostik dan pusat rehabilitasi medik yang melayanii

(49)

27

pelayanan ambulance jalan raya. Selain itu, RS PMI Bogor mempunyai motto HUMAN (Hospitality, University, Man Power, Activity, Need).

Makna motto tersebut adalah memberikan pelayanan dengan

keramahtamahan tanpa membedakan sosial ekonomi pasien melalui sumber

daya manusia bermutu dan berdedikasi tinggi dalam melaksanakan tugas

yang sesuai kebutuhan masyarakat.

Beberapa pelayanan yang ada di RS PMI Bogor diantaranya adalah

pelayanan medis, pelayanan penunjang medis, pelayanan keperawatan, pelayanan

penunjang pelayanan non medis dan pelayanan administrasi manajemen. Sumber

daya manusia RS PMI Bogor terdiri atas tenaga medis, tenaga paramedis

keperawatan, tenaga paramedis non keperawatan, tenaga non medis administrasi,

tenaga non medis bukan administrasi dan lainnya seperti pelaksana rumah tangga,

satpam, tenaga umum, tenaga koperasi, dan tenaga Bank Darah. Tenaga medis

terdiri atas 9 (sembilan) orang dokter umum tetap, 12 orang dokter umum tidak

tetap, 27 orang dokter spesialis tetap, 15 orang dokter spesialis tidak tetap, 4

(empat) orang dokter gigi, dan 2 (dua) orang apoteker.

Berbagai jenis pelayanan medis RS PMI Bogor terdiri atas rawat jalan,

instalasi gawat darurat, instalasi bedah sentral, instalasi forensik dan instalasi

penunjang medis. Fasilitas penunjang medis yang ada di RS PMI Bogor cukup

lengkap yang ditunjang dengan peralatan diagnostik yang modern dan lengkap

yang terdiri atas Labolatorium Klinik, Patologi Anatomi, Radiologi dan CT Scan, Farmasi, Bank Darah dan Hemodialisa, Forensik, Ambulans, dan Instalasi Bedah

Sentral. Proses pelayanan penunjang non medis dilaksanakan oleh tenaga apoteker

dan asisten apoteker serta staf para medis non perawatan dalam berbagai fungsi di

instalasi gizi, instalasi pemeliharaan lingkungan rumah sakit, instalasi

pemeliharaan sarana rumah sakit, instalasi cuci, dan instalasi yang mengurus

jenazah pasien yang ada di lingkungan rumah sakit.

4.2. Unit Rawat Jalan Rumah Sakit PMI Bogor

Unit rawat jalan merupakan salah satu jenis pelayanan yang ditawarkan

oleh Rumah Sakit PMI Bogor. Unit yang beroperasi setiap hari Senin sampai

(50)

umum, bedah syaraf, Bedah Urologi, dan bedah ortopedi), Poliklinik Penyakit

Dalam (temasuk di dalamnya paru dan syaraf), Poliklinik Mata, Poliklinik THT

(Telinga Hidung Tenggorokan), Poliklinik Kulit dan Kelamin (termasuk di

dalamnya psikiatri), Poliklinik Anak (termasuk di dalamnya imunisasi, dan klinik

ASI), Poliklinik Kebidanan (termasuk di dalamnya kandungan, KB, senam hamil

dan penyuluhan ASI), Poliklinik Jantung dan Tread Mill, Poliklinik Rehabilitasi Medik dan Fisioterapi, Poliklinik Umum dan Medical Check Up, Poliklinik Gigi dan Mulut, Konsultasi Gizi, serta Hemodialisa.

Unit Rawat Jalan RS PMI Bogor ini memiliki sebuah instalasi farmasi dan

empat buah loket pendaftaran pasien yang dibagi berdasarkan sumber

pembayarannya. Keempat loket pendaftaran tersebut adalah Loket Perusahaan

yang melayani fasilitas Jamsostek dan Asuransi, Loket ASKES (Asuransi

Kesehatan) yang melayani fasilitas ASKES bagi pegawai negeri dan swasta,

Loket ASKESKIN (Asuransi Kesehatan Masyarakat Miskin) yang melayani

fasilitas ASKES bagi keluarga miskin, dan Loket Umum yang melayani

pembayaran tunai.

4.3. AntrianPasienUnit Rawat JalanRumah Sakit PMI Bogor

Pasien harus melewati antrian berupa serangkaian tahapan regristrasi

(pendaftaran) sebagai pasien baru ataupun pasien lama sebelum mendapatkan

pelayanan dari dokter pada poliklinik yang dituju. Pada masing-masing tahapan,

proses pengerjaan dilakukan secara manual oleh tenaga manusia (server). Setiap

pasien harus melewati dua tahap registrasi yaitu pada loket pendaftaran (loket

ASKES, ASKESKIN, Umum, atau Perusahaan) yang kemudian dilanjutkan pada

loket pendataan pasien (loket pasien lama atau pasien baru). Setelah melewati

kedua tahapan regristrasi tersebut, pasien dapat langsung menunggu di poliklinik

tujuannya sampai namanya dipanggil. Pada poliklinik, pasien akan mendapatkan

pemeriksaan awal dari suster. Setelah itu, pasien harus menunggu lagi sampai

namanya dipanggil kembali untuk diperiksa oleh dokter. Biasanya pasien merasa

bingung pada beberapa tahapan registrasi ini terutama pada bagian loket

pendaftaran dan pendataan pasien. Pada kedua loket inilah pasien sering tertukar

(51)

29

ini dikarenakan urutan atau tahapan registrasi serta penomeran loket yang tidak

terlalu jelas. Selain itu, tidak tersedianya jalur (line) antrian yang jelas, membuat

antrian pasien terlihat tidak teratur sehingga menghalangi jalan untuk

berlalu-lalang dan sering terjadi saling mendahului antar pasien yang mengantri.

Sistem antrian pasien Unit Rawat Jalan Rumah Sakit PMI Bogor terdiri

atas empat tahapan di empat loket kerja dengan sejumlah server pada tiap-tiap loket kerja tersebut. Antara loket kerja satu dengan loket kerja lainnya saling

berkaitan. Hasil (output) dari loket kerja yang satu akan menjadi masukan (input)

bagi loket kerja lainnya. Alur sistem antrian pasien Unit Rawat Jalan Rumah Sakit

PMI Bogor secara keseluruhan dapat dilihat pada Gambar 7.

Tidak

Ya

Gambar 7. Alur antrian pasienUnit Rawat Jalan Rumah Sakit PMI Bogor

Calon pasien

Pendaftaran

Pendataan pasien

Poliklinik (oleh suster)

Poliklinik (oleh dokter)

Poli sesuai keluhan?

(52)

Berikut ini akan diuraikan beberapa loket dalm antrian yang dilewati oleh

setiap pasien di Rumah Sakit PMI Bogor.

1. Loket Pendaftaran

Proses registrasi pasien diawali pada bagian loket pendaftaran. Pada loket

ini, pasien menyebutkan bagian poliklinik yang menjadi tujuannya dengan

dikenakan biaya administrasi. Loket pendaftaran dibagi menjadi empat menurut

sumber pembayaran yang akan dilakukan pasien. Keempat loket tersebut yaitu :

1. Loket ASKES yang melayani fasilitas ASKES bagi pegawai negeri dan

swasta

2. Loket ASKESKIN yang melayani fasilitas ASKES bagi keluarga miskin

3. Loket Perusahaan yang melayani fasilitas Jamsostek dan Asuransi

4. Loket Umum yang melayani pembayaran tunai.

Masing-masing loket tersebut terdapat seorang server yang siap melayani calon pasien. Loket pendaftaran ini beroperasi setiap hari Senin hingga Kamis

pukul 08.00-11.00 WIB, Jumat dan Sabtu pukul 08.00-10.30 WIB.

Masing-masing loket pendaftaran pasien ini terdiri atas seorang server.

2. Loket Pendataan Pasien

Setelah pasien membayar biaya administrasi pada loket pendaftaran,

pasien menuju loket pendataan sesuai dengan statusnya sebagai pasien lama atau

pasien baru yang juga dipisahkan loketnya. Pada loket pasien baru dan lama

masing-masing terdapat seorang server. Seorang pasien baru akan menuju ke loket pasien baru dan diwajibkan untuk mengisi formulir yang telah disediakan

yang kemudian diserahkan kepada petugas. Setelah itu, pasien akan mendapatkan

kartu pasien (kartu SIREM). Sementara itu, seorang pasien lama akan menuju ke

loket pasien lama. Pasien lama hanya cukup menyerahkan kartu pasiennya (kartu

SIREM) untuk ‘dibarcode’. Data pasien baru dan lama tersebut kemudian akan masuk ke dalam cetak data pasien secara otomatis. Masing-masing loket

(53)

31

3. Poliklinik

Pasien akan memperoleh pelayanan dari suster dan dokter yang sesuai

dengan poliklinik tujuannya. Sebelum diperiksa oleh dokter, pasien akan

mendapat pemeriksaan awal oleh suster berupa penimbangan berat badan,

pemeriksaan tekanan darah, dan pengaduan keluhan. Ketika keluhan pasien

dirasakan tidak sesuai dengan poli yang dipilih maka suster akan merujuk poli lain

sebagai poli tujuan bagi pasien dan pasien harus kembali ke loket pendaftaran

untuk registrasi ulang. Namun, jika keluhan pasien sesuai dengan poli yang dipilih

maka pasien akan diperiksa lebih lanjut oleh dokter. Suster juga bertugas untuk

menjelaskan hasil analisis pemeriksaan dokter kepada pasien. Setiap poliklinik

memiliki sejumlah dokter dan suster yang berbeda-beda. Pada Poli Penyakit

Dalam terdapat tiga orang suster yang memiliki tugas berbeda-beda. Suster

pertama bertugas memeriksa tekanan darah pasien, suster kedua bertugas

mencatat keluhan penyakit pasien, dan suster ketiga bertugas menjelaskan hasil

analisis pemeriksaan dokter.

Tahapan seorang pasien untuk mendapatkan pelayanan dari dokter pada

setiap poliklinik yang dituju dimulai dari loket pendaftaran, pendataan pasien,

pemeriksaan awal oleh suster dan berakhir dengan pemeriksaan oleh dokter di

poliklinik tujuan. Model antrian pasien Unit Rawat Jalan RS PMI Bogor

mengikuti pola antrian jalur tunggal dengan beberapa tahapan proses dan

(54)
(55)

33

Populasi pasien yang menjadi masukan (input) sistem antrian di setiap

loket kerja berasal dari populasi yang tak terbatas (infinite population). Ukuran

antrian pada setiap loket juga bersifat tak terbatas (infinite), hal ini berarti setiap

pasien yang baru datang dapat ikut bergabung dalam antrian. Disiplin antrian yang

terjadi berupa First In First Out (FIFO) yang berarti pasien yang lebih dahulu datang maka dia yang lebih dahulu memperoleh pelayanan. Kedatangan pasien di

setiap loket kerja mengikuti pola distribusi poisson (M) dan pelayanan pasien

pada setiap loket mengikuti pola distribusi eksponensial (M). Model antrian

pasien Unit Rawat Jalan RS PMI Bogor dapat dinotasikan sebagai (M/M/1) :

(FIFO/∞/∞).

Rata-rata kecepatan kedatangan pasien (λ) pada loket pendaftaran umum

sebesar 34 pasien/jam dengan rata-rata kecepatan pelayanan (μ) sebesar 60

pasien/jam. Sementara itu, rata-rata kecepatan kedatangan pasien (λ) pada loket

pendaftaran perusahaan sebesar 37 pasien/jam dengan rata-rata kecepatan

pelayanan (μ) sebesar 53 pasien/jam.

Rata-rata kecepatan kedatangan pasien (λ) pada loket pendataan pasien

baru sebesar 27 pasien/jam dengan rata-rata kecepatan pelayanan (μ) sebesar 62

pasien/jam. Sementara itu, rata-rata kecepatan kedatangan pasien (λ) pada loket

pendataan pasien lama sebesar 82 pasien/jam dengan rata-rata kecepatan

pelayanan (μ) sebesar 128 pasien/jam.

Rata-rata kecepatan kedatangan pasien (λ) pada Poli Penyakit Dalam

sebesar 18 pasien/jam dengan rata-rata kecepatan pelayanan (μ) oleh suster

sebesar 37 pasien/jam dan rata-rata kecepatan pelayanan (μ) oleh dokter sebesar

20 pasien/jam. Rata-rata kecepatan kedatangan serta pelayanan pasien ini dapat

dilihat pada Lampiran 1 dan 2.

(56)

Uji kecukupan data dilakukan untuk mengetahui apakah data yang

diperoleh sudah dapat mewakili populasi yang diamati atau belum. Hasil uji

kecukupan data yang diperoleh dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Hasil uji kecukupan data

No. Jenis Data N N'

1 Kecepatan kedatangan pasien pada loket umum 48 18 2 Kecepatan kedatangan pasien pada loket perusahaan 72 25 3 Kecepatan kedatangan pasien pada loket pasien baru 45 19 4 Kecepatan kedatangan pasien pada loket pasien lama 60 37 5 Kecepatan kedatangan pasien pada poli (Suster&Dokter) 44 14 6 Kecepatan pelayanan pasien pada loket umum 40 30 7 Kecepatan pelayanan pasien pada loket perusahaan 60 27 8 Kecepatan pelayanan pasien pada loket pasien baru 40 39 9 Kecepatan pelayanan pasien pada loket pasien lama 40 13 10 Kecepatan pelayanan pasien oleh Suster 40 30 11 Kecepatan pelayanan pasien oleh Dokter 40 35 Keterangan : N = jumlah data pengamatan

N’ = jumlah data minimum

Jumlah data minimum (N’) yang diperoleh memiliki nilai yang lebih kecil

dari jumlah data pengamatan (N) sehingga dapat disimpulkan bahwa data yang

diperoleh cukup mewakili populasinya.

4.5.2. Hasil Uji Distribusi Data

Melalui uji distribusi data, diperoleh bahwa data kecepatan kedatangan

pasien mengikuti pola distribusi poisson dan kecepatan pelayanan pasien

mengikuti pola distribusi eksponensial. Hal ini berarti permasalahan antrian

pasien yang terjadi pada Unit Rawat Jalan RS PMI Bogor dapat dianalisis dengan

menggunakan rumus model antrian baku. Hasil uji distribusi data kecepatan

kedatangan dan pelayanan pasien dapat dilihat pada Lampiran 3 dan 4.

4.5.3. Hasil Perhitungan Rumus Model Antrian Baku

Hasil pengolahan data antrian yang sudah ada dengan rumus model

(57)

35

Tabel 3. Hasil pengolahan data antrian yang sudah ada dengan rumus model antrian baku

Loket Poliklinik

Umum Perusahaan Pasien Lama Pasien Baru Suster Dokter

Pa

Wq 0,02 78,46 0,04 157,08 0,01 50,14 0,01 44,79 0,03 92,18 0,01 45,71 Ws 0,04 138,46 0,06 225 0,02 78,26 0,03 102,86 0,05 189,47 0,06 225,71

Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, rata-rata waktu menunggu

pada loket pendaftaran perusahaan cenderung lebih lama dibandingkan loket

pendaftaran umum. Hal ini dikarenakan pasien harus mengisi surat bukti

pembayaran sehingga waktu pelayanan menjadi lebih lama.

Pada loket pendataan pasien lama, antrian pasien terjadi ketika para pasien

secara bergiliran menyerahkan kartu SIREM ke dalam loket untuk di-barcode. Apabila kartu sudah diserahkan maka pasien dapat langsung menuju ke poli

tujuan tanpa melihat apakah kartu mereka sudah di-barcode atau belum.

Sementara itu, antrian pasien yang terjadi pada loket pendataan pasien

baru terjadi karena kecepatan masing-masing pasien untuk mengisi formulir

pendaftaran berbeda-beda. Pelayanan pada loket ini dapat berlangsung sangat

cepat jika pasien dapat mengisi formulir pendaftaran dengan cepat dan benar.

Namun, pelayanan akan sangat lama jika terjadi kesalahan penulisan atau

ketidaklengkapan pengisian formulir oleh pasien sendiri.

Hasil perhitungan pada Poli Penyakit Dalam di atas dengan dokter sebagai

server-nya menggunakan asumsi bahwa tidak terjadi idle time (waktu tunggu) terhadap pasien yang disebabkan oleh kegiatan visit dokter ke pasien rawat inap sebelum melayani pasien rawat jalannya. Namun, dalam kenyataannya dokter

Gambar

Gambar 1 menyajikan tiga komponen sistem antrian
Gambar 2. Desain sistem antrian dasar (Heizer dan Render, 2005)
Gambar 4 berikut menggambarkan jaringan antrian terbuka dua simpul
Gambar 7. Alur antrian pasienUnit Rawat Jalan Rumah Sakit PMI Bogor
+7

Referensi

Dokumen terkait

Lidya Andriani : Sistem Informasi Pendaftaran Pasien Rawat Jalan Di Rumah Sakit Dengan Menggunakan Program Komputer, 2009.. USU Repository

Untuk mengidentifikasi dan menganalisis variabel-variabel kualitas pelayanan yang paling berpengaruh terhadap kepuasan pasien di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit

rawat jalan memiliki interpretasi yang berbeda.Semakin tinggi angka rata – rata kunjungan rawat jalan rumah sakit, maka. semakin besar beban kerja rumah

“Jika SPM Rawat Jalan yang diterapkan di Rumah S akit Mary sudah terlaksana sesuai standar yang berlaku didaerah Bogor yaitu standar Rumah Sakit Tipe C. Standar ini

Serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh Ayu, Anneke dan Putri dalam jurnal “Analisis Alur Pelayanan Dan Antrian Di Loket Pendaftaran Pasien Rawat Jalan”

Berdasarkan hasil analisis terhadap tingkat kedatangan dan waktu pelayanan, model antrian di rumah sakit khusus mata Medan Baru adalah model antrian dengan

Dari hasil penelitian diketahui jumlah pasien rawat jalan yang memeriksakan diri di Poliklinik menebus obatnya di instalasi farmasi rawat jalan rumah sakit Ortopedi,

Revisi Halaman SPO PENDAFTARAN PASIEN BARU RAWAT JALAN Tanggal Terbit DITETAPKAN DIREKTUR RUMAH SAKIT Pengertian Suatu kegiatan pendaftaran pasien rawat jalan yang baru