• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I akuntansi ijarah dan hawalah.docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "BAB I akuntansi ijarah dan hawalah.docx"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang beragam, manusia dapat membeli atau melakukan barter untuk memperoleh aset yang dibutuhkan. Selain itu manusia juga dapat menyewa aset yang diperlukan, untuk dapat menggunakan atau mengambil manfaat dari aset yang disewanya. Akad sewa-menyewa seperti ini merupakan salah satu contoh dari akad Ijarah. Ijarah adalah akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu aset atau jasa sementara hak kepemilikan aset tetap pada pemberi sewa. Sebaliknya penyewa atau pengguna jasa memiliki kewajiban membayar sewa atau upah.

Pengalihan kontrak atau aset yang disewa kemudian disewakan kembali pada pihak lain boleh dilakukan baik dengan harga sama, lebih tinggi atau lebih rendah asalkan pemberi sewa mengizinkannya. Namun bila disewakan kembali pada pemberi sewa, maka syaratnya adalah kedua akad (yaitu dari pemberi sewa ke penyewa pertama atau dari penyewa pertama ke penyewa berikutnya yang tidak lain memberi sewa sendiri) harus tunai.

B. Rumusan Masalah

1. Apakah yang dimaksud dengan ijarah? 2. Apa saja sumber hukumnya ?

3. Bagaimana sistem pencatatan akuntansi dalam ijarah ? 4. Apakah yang dimaksud dengan hawalah?

5. Apasajakah jenis – jenis hawalah? 6. Apa yang menjadi dasar dari hawalah? 7. Apasajakah rukun dan syarat dari hawalah? 8. Kapan dilakukannya pengakuan pada hawalah? C. Tujuan Pembelajaran

1. Dapat mengetahui dan memehami yang dimaksud dengan ijarah

2. Dapat mengetahui dan memehami lebih jelas dasar dan sumber hukum akad ijarah 3. Dapat mengetahui dan memehami sistem pencatatan akuntansi dalam akad ijarah 4. Dapat mengetahui dan memehami yang dimaksud dengan hawalah

5. Dapat mengetahui dan memehami, serta membedakan jenis – jenis hawalah 6. Dapat mengetahui dan memehami yang menjadi dasar dari hawalah

7. Dapat mengetahui dan memehami rukun dan syarat dari hawalah

8. Dapat mengetahui dan memahami kapan dilakukannya pengakuan dalam hawalah

BAB II

PEMBAHASAN

a. Pengertian Ijarah

(2)

kebutuhan hidup manusia, seperti sewa – menyewa dan mengontrak atau menjual jasa, dan lain – lain.

Ijarah adalah akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu aset dalam waktu tertentu dengan pembayaran sewa (ujrah) tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan aset itu sendiri. Transaksi ijarah dilandasi adanya perpindahan manfaat, jadi pada dasarnya prinsip ijarah sama dengan prinsip jual – beli. Perbedaannya terletak pada obyek transaksinya, bila pada jual-beli transaksinya barang maka pada ijarah bisa berupa jasa, baik manfaat atas barang maupun manfaat atas tenaga kerja. Setelah kontrak berakhir, penyewa mengembalikan barang tersebut kepada pemilik.

Perlu diketahui juga bahwa ijarah di bagi atas tiga macam yaitu:

1. Berdasarkan Objek Yang Disewakan, berdasarkan obyek yang disewakan, Ijarah dibagi 2, yaitu:

a. Manfaat atas aset yang tidak bergerak seperti rumah atau aset bergerak seperti mobil, motor, pakaian dan sebagainya.

b. Manfaat atas jasa berasal dari hasil karya atau dari pekerjaan seseorang.

2. Berdasarkan Exposure Draft PSAK 107, berdasarkan Exposure Draft PSAK 107, Ijarah dibagi menjadi 2, yaitu:

a. Ijarah adalah akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu aset atau jasa, dalam waktu tertentu dengan pembayaran upah atau sewa (ujrah), tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan atas aset itu sendiri.

b. Ijarah Muntahiya Bit Tamlik (IMBT) merupakan Ijarah dengan wa’ad (janji) dari pemberi sewa berupa perpindahan kepemilikan objek Ijarah pada saat tertentu (ED PSAK 107).

3. Berdasarkan jual dan sewa kembali atau transaksi jual dan Ijarah

Jenis Ijarah seperti ini terjadi dimana seseorang menjual asetnya kepada pihak lain dan menyewa kembali aset tersebut. Alasan dilakukannya transaksi tersebut bisa saja si pemilik aset membutuhkan uang sementara ia masih memerlukan manfaat dari aset tersebut. Transaksi jual dan Ijarah harus merupakan transaksi yang terpisah dan tidak saling bergantung (ta’alluq) sehingga harga jual harus dilakukan pada nilai wajar dan penjual akan mengakui keuntungan atau kerugian. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari transaksi jual tidak dapat diakui sebagai pengurang atau penambah beban Ijarah yang muncul karena ia menjadi penyewa.

(3)

Ada orang berpendapat ijarah sama dengan leasing, padahal pendapat ini tidak sepenuhnya benar, Karim (2003) mencoba membandingkan ijarah dengan leasing sebagai berikut:

No

. Keterangan Ijarah Leasing

1. Objek Manfaat barang dan jasa Manfaat barang saja 2. Metode pembaaran Tergantung atau tidak

tergantung pada kondisi tidak membeli di akhir masa sewa.

Table diatas memberikan ikhtisar perbedaan dan kesamaan antara ijarah dan leasing. Sedikitnya ada empat aspek yang dapat dicermati, yakni: objek, metode pembayaran, perpindahan kepemilikanya dan jenis leasing.

1. Objek

(4)

2. Metode pembayaran

Dalam ijarah, metode pembayaran dapat dibedakan menjadi dua, yaitu ijarah yang pembayaranya tergantung pada kinerja objek yang disewa (contingent to performance). 3. Perpindahan kepemilikan

Pada dasarnya akad ijarah sama seperti operating lease, yakni dipindahkan adalah manfaat dari asset yang disewakan. Untuk jenis akad ijarah muntahiya bit tamlik (IMBT), kepemilikan asset tetap pada pemberi sewa diawal akad berjanji (wa’ad) kepada pihak penyewa. Pengalihan hak milik pada asset yang bersangkutan dapat dilakukan dengan menjual atau dengan menghibahkanya. Atas pemindahan kepemilikan tersebut akan dibuatkan akad secara terpisah.

Sementara dalam leaseing, jenis leasing tergantung pada sisi pemberi sewa dan penyewa. Dari sisi pemberi sewa, secara umum dikenal 4 jenis leasing; yaitu financial lease, sales type lease, operating lease, dan leverage lease. Sedangkan dari sisi penyewa, dikenal 2 jenis yaitu operating lease dan capital lease.

4. Jenis leasing lainya

Purchase lease

Sale and lease back (al bai’ isumma ‘iadatul ijarah atau jual dan ijarah)

c. Sumber Hukum Ijarah

 Landasan Fiqh 1) Al – Qur’an

Q.S. Al – Baqarah: 233

Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, tidak dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah Allah Maha Melihat apa yang kammu kerjakan.” 2) Al – Hadist

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa rosulullah SAW bersabda, “Berbekam kamu, kemumdian berikanlah olehmu upahnya kepada tukang bekam itu.” (Hr. Bukhari dan Muslim).

Dari Umar bahwa Rosulullah bersabda, “Berikanlah upah pekerja sebelum kering keringatnya.” (Hr. Ibu Majah).

(5)

Fatwa DSN No: 09/DSN-MUI/IV/2000 tentang IJARAH

Beberapa ketentuan yang diatur dalam fatwa ini, antara lain sebagai berikut: 1. Rukun dan Syarat Ijarah

1) Pernyataan Ijab dan Qobul.

2) Pihak – pihak yang berakad (berkontrak): pemberi sewa (lessor, pemilik aset, LKS) dan penyewa (lesse, pihak yang mengambil manfaat atas aset, pengguna aset, nasabah).

3) Obyek kontrak: pembayaran (sewa) dan manfaat dari penggunaan aset.

4) Manfaat dari penggunaan aset dalam ijarah adalah obyek kontrak yang harus dijamin, merupakan rukun yang harus dipenuhi sebagai ganti dari sewa.

5) Sighat ijarah adalah berupa pernyataan dari kedua belah pihak yang berkontrak, baik secara verbal atau dalam bentuk lain yang equivalent, dengan cara penawaran dari pemilik aset (LKS) dan penerimaan yang dinyatakan oleh penyewa (nasabah).

2. Ketentuan Obyek Ijarah

1) Obyek ijarah adalah manfaat dari penggunaan barang dan jasa.

2) Manfaat barang harus bisa dinilai dan dapat dilaksanakan dalam kontrak. 3) Pemenuhan manfaat harus yang bersifat dibolehkan.

4) Kesanggupan memenuhi manfaat harus nyata dan sesuai dengan syariah.

5) Manfaat harus dikenali secara spesifik sedemikian rupa untuk menghilangkan jahalah (ketidaktahuan) yang akan mengakibatkan sengketa.

6) Spesifikasi manfaat harus dinyatakan dengan jelas termasuk jangka waktunya. 7) Sewa adalah sesuatu (harga) yang dijanjikan dan dibayar nasabah kepada LKS

sebagai pembayaran manfaat.

8) Pembayaran sewa boleh berbentuk jasa (manfaat lain) dari jenis yang sama dengan obyek kontrak.

9) Kelenturan dalam menentukan sewa dapat diwujudkan dalam ukuran waktu, tempat dan jarak.

3. Kewajiban LKS dan Nasabah dalam Pembiayaan Ijarah

Kewajiban LKS sebagai pemberi sewa

 Menyediakan aset yang disewakan.

 Menanggung biaya pemeliharaan aset.

(6)

Kewajiban nasabah sebagai penyewa

 Membayar sewa dan bertanggung jawab untuk menjaga keutuhan aset yang disewa serta menggunakannya sesuai kontrak.

 Menanggung biaya pemeliharaan aset yang sifatnya ringan (tidak material).

 Jika aset yang disewa rusak, bukan dari penggunaan yang dibolehkan juga bukan karena kelalaian pihak penyewa dalam menjaganya, ia tidak bertanggung jawab atas kerusakan tersebut.

d. Akuntansi untuk Pemberi Sewa (PSAK 107)

1. Biaya perolehan, untuk objek ijarah baik asset berwujud maupun tidak berwujud, diakui saat objek ijarah diperoleh sebesar biaya perolehan. Asset tersebut harus memenuhi syarat sebagai berikut:

a. Kemungkinan besar perusahaan akan memperoleh manfaat ekonomis masa depan dari asset tersebut, dan

b. Biaya perolehanya dapat diukur secara andal Jurnal:

Asset ijarah xxx

Kas/utang xxx

2. Penyusutan, jika asset ijarah tersebut dapat disusutkan/diamortisasi maka penyusutan atau amortisasinya diperlakukan sama untuk asset sejenis selama umur manfaat (umur ekonomisnya). Jika asset ijarah untuk akad jenis ijarah maka masa manfaat yang digunakan untuk menghitung penyusutan adalah periode akad ijarah.

Jurnal:

Biaya penyusutan xxx

Akumulasi penyusutan xxx

3. Pendapatan sewa, diakui pada saat manfaat atas asset telah diserahkan kepada penyewa pada akhir periode pelaporan. Jika manfaat telah diserahkan tapi perusahaan belum menerima uang, maka akan diakui sebagai piutang pendapatan sewa dan diukur sebesar nilai yang dapat direalisasikan.

Jurnal:

Kas/piutang sewa xxx

Pendapatan sewa xxx

4. Biaya perbaikan objek ijarah, adalah tanggungan pemilik, tetapi pengeluaranya dapat dilakukan oleh pemilik secara langsung atau dilakukan oleh penyewa atas persetujuan pemilik.

a. Jika perbaikan rutin yang dilakukan penyewa dengan persetujuan pemilik maka diakui sebagai beban pemilik pada saat terjadinya.

Jurnal:

Biaya perbaikan xxx

(7)

b. Jika perbaikan tidak rutin atas objek ijarah yang dilakukan oleh penyewa diakui pada perbaikan objek ijarah yang dimaksut dalam huruf (a) dan (b) ditanggung pemilik maupun penyewa sebanding dengan bagian kepemilikan masing-masing atas objek ijarah.

a. Hibah, maka jumlah tercatat objek ijarah diakui sebagai beban Jurnal:

Beban ijarah xxx

Akumulasi penyusutan xxx

Kr. Asset ijarah xxx

b. Penjualan sebelum berakhirnya masa, sebesar sisa cicilan sewa atau jumlah yang disepakati, maka selisih antara harga jual dan jumlah tercatat objek ijarah diakui sebagai keuntungan atau kerugian.

*jika nilai buku lebih besar dari harga jual **jika nilai buku lebih kecil dari harga jual

c. Penjualan setelah selesai masa akad, maka selisih antara harga jual dan jumlah tercatat objek ijarah diakui sebagai keuntungan atau kerugian.

Jurnal:

*jika nilai buku lebih besar dari harga jual

**jika harga buku lebih kecil dari harga jual

(8)

 Selisih antara harga jual dan jumlah tercatat sebagian objek ijarah yang telah dijual diakui sebagai keuntungan atau kerugian.

Jurnal:

*jika nilai buku lebih besar dari harga jual **jika nilai buku lebih kecil dari harga jual

 Bagian objek ijarah yang tidak dibeli penyewa diakui sebagai asset tidak lancar atau asset lancar sesuai dengan tujuan penggunaan asset tersebut.

Jurnal:

Asset lancar/tidak lancar xxx Akumulasi penyusutan xxx

Asset ijarah xxx

e. Seluruh beban maupun keuntungan/kerugian yang timbul akibat penjualan ijarah tersebut diakui sebagai beban/keuntungan/kerugian pada periode berjalan. Keuntungan/kerugian yang timbul tidak dapat diakui sebagai pengurang atau penambah dari beban ijarah.

6. Penyajian, pendapatan ijarah disajikan secara neto setelah dikurangi beban – beban yang terkait, misalnya beban penyusutan, beban pemeliharaan dan perbaikan, dan sebagainya. 7. Pengungkapan, pemilik mengungkapkan dalam laporan keuangan terkait transaksi

ijarah dan ijarah muntahiya bit tamlik, tetapi tidak terbatas pada:

a. Penjelasan umum isi akad yang signifikan yang meliputi tetapi tidak terbatas pada:

Keberadaan wa’ad pengalihan kepemilikan dan mekanisme yang digunakan (jika ada wa’ad pengalihan kepemilikan)

Pembatasan-pembatasan, misalnya ijarah lanjut;

Agunan yang digunakan (jika ada)

b. Nilai perolehan dan akumulasi penyusutan untuk setiap kelompok asset ijarah; dan c. Keberadaan transaksi jual dan ijarah (jika ada).

e. Akuntansi untuk Penyewa (musta’jir)

1. Beban sewa, diakui selama masa akad pada saat manfaat atas aset terima diterima. Jurnal:

Beban sewa xxx

Kas/utang xxx

Untuk pengakuan sewa di ukur sebesar jumlah yang harus dibayar atas manfaat yang telah diterima.

(9)

ijarah yang menjadi beban penyewa akan meningkat sejalan dengan peningkatan kepemilikan objek ijarah.

Jurnal:

Beban pemeliharaan ijarah xxx

Kas/utang/perlengkapan xxx

Jurnal pencatatan atas biaya pemeliharaan yang menjadi tanggungan pemberi sewa tapi dibayarkan terlebih dahulu oleh penyewa.

Piutang xxx

Kas/utang/perlengkapan xxx

3. Perpindahan kepemilikan, dalam ijarah muntahiya bit tamlik dapat dilakukan dengan cara:

a. Hibah, maka penyewa mengakui aset dan keuntungan sebesar nilai wajar objek ijarah yang diterima.

Jurnal:

Aset nonkas xxx

Keuntungan xxx

b. Pembelian sebelum masa akad berakhir, maka penyewa mengakui aset sebesar pembayaran sisa cicilan sewa atau jumlah yang disepakati.

Jurnal:

4. Jika suatu entitas/penyewa menyewakan kembali aset ijarah lebih lanjut pada pihak lain atas aset yang sebelumnya disewa, maka ia harus menerapkan perlakuan akuntansi untuk pemilik dan akuntansi penyewa dalam PSAK ini.

5. Pengungkapan, penyewa mengungkapkan dalam laporan keuangan terkait transaksi ijarah dan ijarah muntahiya bit tamlik, tetapi tidak terbatas pada:

a. Penjelasn umum isi kaad yang signifikan yang meliputi tetapi tetapi tidak terbatas pada:

 Total pembayaran

 Keberadaan wa’ad pemilik untuk pengalihan kepemilikan dan mekanisme yang digunakan (jika ada wa’ad pemilik untuk pengalihan kepemilikan)

 Pembatasan-pembatasan, misalnya ijarah lanjut

(10)

b. Keberadaan transaksi jual dan ijarah dan keuntungan atau kerugian yang diakui (jika ada transaksi jual dan ijarah)

f. Definisi Hawalah

Secara bahasa hawalah atau hiwalah bermakna berpindah atau berubah. Dalam hal ini terjadi perpindahan tanggungan atau hak dari satu orang kepada orang lain. Dalam istilah para fukoha hawalah adalah pemindahan atau pengalihan penagihan hutang dari orang yang berhutang kepada orang yang menanggung hutang tersebut.Menurut ED PSAK 110, Hawalah adalah pengalihan utang dari satu pihak kepada pihak lain. Yang terdiri atas hawalah muqayyadah dan hawalah muthlaqah. Sementara menurut istilah para ulama, hal ini merupakan pemindahan beban utang dari muhil (orang yang berutang) menjadi tanggungan muhal’alaih (orang yang berkewajiban membayar utang).

Secara sederhana, hal ini dapat dijelaskan bahwa A (muhal) memberi pinjaman kepada B (muhil), sedangkan B masih mempunyai piutang kepada C (muhal’alaih). Begitu B tidak mampu membayar utang nya pada A, ia lalu mengalihkan beban utang tersebut kepada C. dengan demikian, C yang harus membayar utang B kepada A, sedangkan utang C sebelumnya pada B dianggap selesai.

g. Jenis – Jenis Hiwalah

Akad Hiwalah, dalam praktiknya dapat dibedakan ke dalam dua kelompok. Yang pertama adalah berdasarkan jenis pemindahannya. Dan yang kedua adalah berdasarkan rukun Hiwalahnya. Kelompok pertama yang berdasarkan jenis pemindahannya, terdiri dari dua jenis Hiwalah, yaitu Hiwalah Dayn dan Hiwalah Haqq.

Hiwalah Dayn adalah pemindahan kewajiban melunasi hutang kepada orang lain, sedangkan

Hiwalah Haqq adalah pemindahan kewajiban piutang kepada orang lain.

Hiwalah Dayn dan Haqq sesungguhnya sama saja, tergantung dari sisi mana melihatnya. Disebut Hiwalah Dayn jika kita memandangnya sebagai pengalihan hutang, sedangkan sebutan Haqq, jika kita memandangnya sebagai pengalihan piutang. Berdasarkan definisi ini, maka anjak piutang (factoring) yang terdapat pada praktik perbankan, termasuk ke dalam kelompok Hiwalah Haqq, bukan Hiwalah Dayn.

(11)

Hiwalah Muqayyadah adalah Hiwalah yang terjadi dimana orang yang berhutang, memindahkan hutangnya kepada Muhal Alaih, dengan mengaitkannya pada hutang Muhal alaih padanya. Maka dalam rukun Hiwalah, terdapat Muhal bih 2.

Hiwalah Muthlaqah adalah Hiwalah dimana orang yang berhutang, memindahkan hutangnya kepada Muhal alaih, tanpa mengaitkannya pada hutang Muhal alaih padanya, karena memang hutang muhal alaih tidak pernah ada padanya. Dengan demikian, Hiwalah Muthlaqah ini sesuai dengan konsep anjak piutang pada praktik Perbankan, dimana tidak ada hutang muhal alaih kepadanya sehingga didalam rukun hiwalahnya, tidak terdapat Muhal bih 2.

h. Landasan Syariah

 Al – Qur’an

Pengalihn penagihan hutang ini dibenarkan oleh syariah dan telah dipraktekkan oleh kaum Muslimin dari zaman Nabi Muhammad ZAW sampai sekarang. Dalam al-Qur'an kaum muslimin diperintahkan untuk saling tolong menolong satu sama lain, lihat al-Qur'an:5:2. Akad hawalah merupakan suatu bentuk saling tolong menolong yang merupakan manifestasi dari semangat ayat tersebut.

 As – Sunnah

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “Menunda pembayaran bagi orang yang mampu adalah suatu kezaliman. Dan jika salah seorang dari kamu diikutkan (di-hawalahkan-) kepada orang yang mampu/kaya, terimalah hawalah itu.”

Sebagian ulama berpendapat bahwa perintah untuk menerima hawalah dalam hadist tersebut menunjukkan wajib. Oleh sebab itu, wajib bagi yang mengutangkan (muhal) menerima hawalah. Adapun mayoritas ulama berpendapat bahwa perintah itu menunjukkan sunnah. Jadi, sunnah hukumnya menerima hawalah bagi muhal.

 Ijma

Ulama sepakat membolehkan hawalah.Hawalah dibolehkan pada utang yang tidak berbentuk barang/benda karena hawalah adalah perpindahan utang. Oleh sebab itu, harus pada utang atau kewajiban financial.

i. Karakteristik Hawalah

Hawalah yang dimaksud meliputi pengalihan utang syariah.

(12)

 Entitas keuangan syariah yang bertindak sebagai muhal’alaih boleh mendapatkan ujrah (fee) atas ketersediaan membayar utang muhil

 Jika hawalah telah dilakukan, maka hak pengalihan muhal berpindah kepada muhal’alaih,

j. Rukun dan Syarat Hiwalah a) Rukun Hiwalah

Menurut Syafi’iyah rukun hiwalah ada empat yaitu sebagai berikut:

 Muhil, yaitu orang yang menghiwalahkan atau orang yang memindahkan hutang

 Muhtal, yaitu orang yang dihiwalahkan yaitu orang yang mempunyai hutang kepada muhil

 Muhal ‘Alaih, yaitu orang yang menerima hiwalah

 Sighat Hiwalah, yaitu ijab dari muhil dengan kata-katanya,”aku hiwalahkan hutangku yang hak bagi engkau kepada si fulan” dan Kabul dari muhtal dengan kata-katanya “aku terimah hiwalah engkau”.1[10]

Adapun menurut ulama’ hanafiah rukun hawalah hanya satu yaitu sighah. Sedangkan menurut M. Abdul Majid, mengemukakan bahwa rukun hiwalah ialah:

 Muhil

 Muhtal

 Muhal Alaih

 Hutang Muhil kepada muhtal

 Hutang Muhal ‘Alaih kepada Muhil

 Sighat b) Syarat Hiwalah

Syarat hiwalah ada empat, yaitu :

 Ada kerelaan muhil (orag yang berhutang dan ingin memindahkan hutang)

 Ada persetujuan dari muhal (orang yang member hutang)

 Hutang yang akan dialihkan keadaannya masih tetap dalam pengakuan

 Adanya kesamaan hutang muhil dan muhal ‘alaih (orang yang menerima pemindahan hutang) dalam jenisnya, macamnya, waktu penangguhannya dan waktu pembayarannya.Dengan hiwalah hutang muhil bebas

Syarat Bagi Pihak Pertama

(13)

a) Cakap dalam melakukan tindakan hukum, dalam bentuk akad yaitu baligh, dan berakal. Hiwalah tidak sah dilakukan oleh anak kecil walaupun ia sudah mengerti (mumayyis) ataupun dilakukan oleh orang gila.

b) Ada persetujuan (ridho). Jika pihak pertama dipaksa untuk melakukan hiwalah maka akad tersebut tidak sah. Persyaratan dibuat berdasarkan pertimbangan bahwa sebagian orang merasa keberatan dan terhina harga dirinya, jik akewajibannya untuk membayar hutang dialaihkan kepada pihak lain meskipun pihak lain itu memang berhutang kepadanya.

Syarat kepada pihak kedua

a) Cakap melakukan tindakan hukum, yaitu baligh dan berakal.

b) Disyaratkan ada persetujuan dari pihak kedua terhadap pihak pertama yang melakukan hiwalah (madzhab hanafi sebagaian besar madzhab maliki dan syafi’i). persyaratan ini ditetapkan berdasarkan pertimbangan, bahwa kebiasaan orang dalam membayar hutang berbeda-beda ada yang mudah dan ada pula yang sulit, sedangkan menerima pelunasan itu merupakan hak pihak kedua. Jika hiwalah dilakukan secara sepihak saja, pihak kedua dapat saja merasa dirugikan, umpamanya apabila ternayata pihak ketiga sudah membayar hutang tersebut.

Syarat bagi pihak ketiga

a) Cakap melakukan tindakan hukum dalam bentuk akad, sebagai syarat bagi pihak pertama dan kedua.

b) Disyaratkan ada pernyataan persetujuan dari pihak ketiga (madzhab hanafi). Sedangkan madzhab lainnya tidak mensyaratkan hal ini. Sebab dalam akad hiwalah pihak ketiga dipandang sebagai obyek akad. Dengan demikian persetujuannya tidak merupakan syarat syah hiwalah.

c) Imam Abu Hanifah dan Muhammad bin hasan Asy- syaibani menambahkan, bahwa Kabul tersebut, dilakukan dengan sempurna oleh pihak ketiga didalam suatu majlis akad.

Syarat yang diperlukan terhadap hutang yang dialihkan

a) Sesuatu yang dilakukan itu adalah sesuatu yang sudah dalam bentuk hutang piutang yang sudah pasti.

(14)

kualitasnya. Jika antara kedua hutang tersebuut terdapat perbedaan jumlah (hutang dalam bentuk uang), atau perbedaan kualitas (hutang dalam bentuk barang) maka hiwalah tidak sah. Tetapi apabila pengalihan itu dalabentuk hiwalah al-muthlaqoh (madzab hanafi), maka kedua hutang tersebut tidak mesti sama, baik jumlah ataupun kualitasnya.

c) Madzab Syafi’I menambahkan, bahwa kedua hutang tersebut mesti sama pula, waktu jatuh temponya. Jika tidak sama, maka tidak sah.

k. Pengakuan dan Pengukuran

1. Akuntansi Pihak yang Mengalihkan Utang

 Pihak yang mengalihkan utang (muhil) kepada pihak yang menerima pengalihan utang (muhal ‘alaih) menghentikan pengakuan utang kepada pihak berpiutang sebelumnya (muhal) dan mengakui utang baru kepada muhal ‘alaih pada saat selesainya pengalihan utang.

 Pengalihan utang diselesaikan apabila muhal ‘alaih telah menyelesaikan seluruh utang muhil kepada muhal dan antara muhal dan muhil sudah tidak ada lagi hubungan utang piutang.

 Perlakuan akuntansi untuk transaksi antara muhal ‘alaih dengan muhil setelah pengalihan utang sesuai dengan akad yang digunakan yang diatur dalam PSAK yang relevan.

Ujrah (fee) yang dibayarkan kepada muhal ‘alaih diakui sebagai beban pada saat terjadinya pengambilalihan utang jika utang harus dilunasi dalam jangka pendek sejak pengalihan, namun diakui secara garis lurus selama periode pelunasan untuk utang jangka panjang.

 Biaya transaksi hawalah yang dikeluarkan diakui sebagai beban pada saat terjadinya.  Biaya transaksi yang harus diselesaikan atau dibayarkan kepada muhal ‘alaih,

termasuk tetapi tidak terbatas pada biaya legal dan biaya administrasi.

 Utang kepada muhal ‘alaih di hentikan pengakuannya pada saat diselesaikan.

2. Akuntansi Pihak yang Menerima Pengalihan Utang

 Pihak yang menerima pengalihan utang (muhal’alaih) mengakui piutang dari muhil

pada saat pembayaran kepada pihak muhal sebesar jumlah utang yang di ambil alih.

 Pengambilalihan diselesaikan apabila muhal’alaih telah menyelesaikan seluruh utang

muhil kepada muhal dan antara muhal dan muhil sudah tidak ada lagi hubungan utang piutang.

 Perlakuan akuntansi untuk transaksi antara muhal ‘alaih dengan muhil setelah

(15)

Ujrah (fee) yang diterima diakui sebagai pendapatan pada saat terjadinya

pengambilalihan utang, jika piutang dari muhil akan dilunasi dalam jangka pendek sejak pengalihan, namun diakui secara proporsional dengan jumlah piutang yang dapat ditagih untuk piutang jangka panjang.

 Penghasilan dalam bentuk ujrah dari pengalihan utang muhil kepada muhal diakui

sekaligus pada saat penyelesaian dan tidak diakui sesuai dengan jatuh tempo atau penerimaan angsuran dari muhil, di mana penghasilan tersebut tidak terkait dengan penyelesaian piutang dari muhil.

 Jika terdapat bukti obyektif atas penyelesaian piutang dari muhil yang

mengakibatkan jumlah yang dapat tertagih lebih rendah dari jumlah tagihan maka harus dibuat penyisihan piutang dari muhil sesuai dengan PSAK yang relevan.

 Piutang kepada muhil dihentikan – pengakuannya pada saat diselesaikan.

l. Penyajian

Entitas keuangan syariah menyajikan piutang dari muhil terpisah dari piutang lainnya dalam neraca sebesar jumlah yang belum dilunasi. Piutang dari muhil disajikan secara terpisah dari piutang lainnya atau pos lainnya untuk membedakan piutang yang timbul dari penyaluran secara internal dan piutang pihak lain yang dialihkan.

(16)

KESIMPULAN

Transaksi ijarah dilandasi adanya perpindahan manfaat, jadi pada dasarnya prinsip ijarah sama dengan prinsip jual-beli. Perbedaannya terletak pada obyek transaksinya, bila pada jual-beli transaksinya barang maka pada ijarah bisa berupa jasa, baik manfaat atas barang maupun manfaat atas tenaga kerja. Setelah kontrak berakhir, penyewa mengembalikan barang tersebut kepada pemilik.

Hiwalah/hawalah merupakan suatu akad transaksi yang mengidentifikasikan akadnya dengan pengalihan utang atau piutang kepada pihak lain. Transaksi hiwalah termasuk dalam katagori akad tabarru artinya akad yang didasari atas asas tolong-menolong dalam hal kebaikan untuk memberikan kemudahan atau membantu suatu masalah utang piutangnya dengan cara mengunakan sistem pengalihan atau pemindahan tanggung jawab pihak lain.

Dengan adanya akad hiwalah ini, seorang muhal’alaih yang diberikan amanah dalam pengalihan baik utang maupun piutang oleh seorang muhil. Maka muhal’alaih akan mendapatkan imbalan atau ujroh atas jasa yang telah dilakukannya dan besarnya ujroh sesuai dengan kesepakatan yang telah ditetapkan antara muhil dan muhal’alaih.

DAFTAR PUSTAKA

http://anthyscrub.blogspot.co.id/2014/12/makalah-tentang-akuntansi-ijarah.html

http://sriapriyantihusain.blogspot.co.id/2012/06/akuntansi-transaksi-ijarah-dan-imbt.html

(17)

https://senyummu13.wordpress.com/2012/03/25/konsep-dasar-akuntansi-ijarah/

https://viewislam.wordpress.com/2009/04/15/konsep-akad-hiwalah-dalam-fiqh-muamalah/

Gambar

Table diatas memberikan ikhtisar perbedaan dan kesamaan antara ijarah dan leasing.

Referensi

Dokumen terkait

menyewa ialah akad yang diadakan oleh pihak penyewa dan orang yang menyewakan untuk memiliki dan mengambil manfaat obyek sewa yang diketahui dengan

Ijarah Mumtahiyah Bittamlik disebut juga dengan ijarah wa iqtina adalah akad sewa menyewa antara pemilik objek sewa ( lessor ) dan penyewa ( lessee ), atas barang yang

Hak dari pihak penyewa adalah menerima barang yang disewakan dalam keadaan baik, yang menjadi kewajibannya adalah : Memakai barang sewa sebagai seorang kepala rumah

Rancangan halaman tabel daftar sewa ini akan menampilkan data penyewa yang menyewa mobil jenis apa, dari tanggal berapa, berapa lamanya dan statusnya disewa atau sudah kembali.

Kembali lagi kepada pengertian ijarah itu sendiri yang menjelaskan bahwa ijarah merupakan akad sewa-menyewa atau pemindahan hak guna manfaat barang atau jasa melalui dengan cara

Difokuskan pada perancangan aplikasi yang komplit namun simpel, sebuah akun yang telah dibuat dapat digunakan untuk menjadi penyewa dan pemberi sewa sekaligus.

disyaratkan telah baligh dan berakal. Kedua belah pihak yang berakad menyatakan kerelaannya untuk melakukan akad Ijarah.. 3) Objek sewa dalam akad Ijarah muntahiya

Rukun akad Ijarah yaitu: 1 Pernyataan ijab dan qabul, 2 Pihak-pihak yang berakad berkontrak terdiri dari pemberi sewa lessor, pemilik, asset, lembaga keuangan syariah LKS, dan penyewa