• Tidak ada hasil yang ditemukan

bahan aditif [ada beton

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "bahan aditif [ada beton"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah B. Rumusan Masalah

BAB II ISI

Secara umum material beton yang digunakan pada konstruksi terdiri atas semen, air, pasir (agregat halus) dan kerikil (agregat kasar) yang dicampur dengan perbandingan tertentu dan untuk menghasilkan kekuatan tertentu pula. Kekuatan yang diukur pun biasanya hanya kuat tekannya saja yang diuji pada standar umur 28 hari. Beton yang dibuat secara konvensional umumnya mempunyai kuat tekan antara 18 - 32 MPa. (N/mm2) dan berat 2,4 ton/m3, biasanya disebut sebagai beton norma/konvensional, sedangkan beton yang mempunyai kuat tekan di atas 35 MPa biasanya disebut dengan beton mutu tinggi.

Selain kualitas dan gradasi agregat halus dan kasar, kualitas beton yang dibuat juga bergantung pada nilai perbandingan berat penggunaan air dengan semen, yang disebut sebagai Faktor Air Semen (FAS). Nilai FAS ini juga akan mempengaruhi tingkat kemudahan pengerjaan (workability) dari beton yang dibuat.

Disamping itu, untuk keperluan tertentu terkadang campuran beton tersebut masih ditambahkan bahan tambah berupa zat-zat kimia tambahan dan mineral/material tambahan. Zat kimia tambahan tersebut biasanya berupa serbuk atau cairan yang secara kimiawi langsung mempengaruhi kondisi campuran beton. Sedangkan mineral/material tambahan berupa agregat yang mempunyai karakteristik tertentu. Penambahan zat-zat kimia atau mineral tambahan ini diharapkan dapat merubah performa dan sifat-sifat campuran beton sesuai dengan kondisi dan tujuan yang diinginkan, serta dapat pula sebagai bahan pengganti sebagian dari material utama penyusun beton. Standar pemberian bahan tambahan beton ini pun sudah diatur dalam SNI S-18-1990-03 tentang Spesifikasi Bahan Tambahan pada Beton.

(2)

mengubah sifat adukan atau betonnya. (Spesifikasi Bahan Tambahan untuk Beton, SK SNI S-18-1990-03).

Penambahan bahan tambah dalam sebuah campuran beton atau mortar tidak mengubah komposisi yang besar dari bahan lainnya, karena penggunaan bahan tambah ini cenderung merupakan pengganti atau susbtitusi dari dalam campuran beton itu sendiri. Karena tujuannya memperbaiki atau mengubah sifat dan karakteristik tertentu dari beton atau mortar yang akan dihasilkan, maka kecenderungan perubahan komposisi dalam berat-volume tidak terasa secara langsung dibandingkan dengan komposisi awal beton tanpa bahan tambah. Penggunaan bahan tambah dalam sebuah campuran beton harus memperhatikan standar yang berlaku seperti SNI (Standar Nasional Indonesia), ASTM (American Society for Testing and Materials) atau ACI (American Concrete Institute) dan yang paling utama memperhatikan petunjuk dalam manual produk dagang.

Berdasarkan tujuan yang diharapkan terdapat beberapa tujuan penggunaan zat kimia diantaranya yaitu:

a) Zat kimia untuk mengurangi penggunaan air pada beton (water reduction). Hal ini dimaksudkan agar diperoleh adukan dengan nilai FAS yang tetap dengan kekentalan yang sama atau dengan FAS tetap, tapi didapatkan adukan beton yang lebih encer. Hal ini dimaksudkan agar diperoleh kuat tekan yang lebih tinggi, dengan tidak mengurangi kekentalannya, atau diperoleh beton dengan kuat tekan yang sama, tapi adukan dibuat menjadi lebih encer agar lebih memudahkan dalam penuangan.

(3)

Pada kenyataan di lapangan terkadang diperlukan kondisi kombinasi dari ketiga perilaku penambahan zat kimia tersebut yaitu untuk mengurangi penggunaan air dan memperlambat proses ikatan campuran beton, atau untuk mengurangi air dan mempercapat waktu pengikatan serta pengerasan campuran beton.

Zat kimia lain yang terkadang ditambahkan juga pada beton adalah pigmen, untuk memberikan warna pada beton, penghambat korosi, lem untuk ikatan dengan beton lama dan pengurang segregasi dan bleeding pada proses pengerasan beton.

Sedangkan mineral pada campuran beton biasanya berupa pozzolan dan material lain pengganti agregat, seperti agregat ringan dan berat, serat.

Pozzolan merupakan bahan alami atau buatan yang mempunyai sifat pozzolanik dengan unsur silika dan aluminat yang aktif. Silika dan aluminat aktif ini akan bereaksi dengan kapur bebas, yang merupakan sisa reaksi hidrasi air dengan semen, untuk menjadi tubermorite lagi yang sama dengan hasil hidrasi air dengan semen sebelumnya, sehingga akan meningkatkan kuat tekan beton. Jenis pozzolan diantaranya adalah fly ash (abu terbang) yang berasal dari produk sampingan pembangkit listrik tenaga batu bara, tras alam, gilingan terak dapur tinggi pada pembakaran dan peleburan biji besi, abu sekam padi (hulk ash), abu ampas tebu, bubuk bata merah, metakaolin dan silica fume.

Material tambahan yang digunakan disamping sebagai bahan tambah, terkadang menjadi pengganti sebagian atau seluruh agregat. Agar diperoleh beton ringan biasanya digunakan agregat ringan seperti batu apung, alwa (artificial light weigth aggregate), serbuk/potongan kayu, serbuk stereofoam, dan sebagainya. Untuk memperoleh beton dengan performa tarik yang meningkat ditambahkan serat-serat, seperti serat baja,serat aluminium, serat ban atau beberapa serat alami. Dan beton berat diperoleh dengan menambahkan agregat dengan berat jenis yang lebih besar dari agregat kerikil dan pasir.

Jenis jenis bahan tambah (admixture) :

Secara umum bahan tambah yang digunakan dalam beton dapat dibedakan menjadi dua yaitu bahan tambah yang bersifat kimiawi (chemical admixture) dan bahan tambah yang bersifat mineral (additive).

I. Chemical Admixtures (bahan tambah kimia)

(4)

Tipe A: Water-Reducing Admixtures Tipe B: Retarding Admixtures Tipe C: Accelerating Admixtures

Tipe D: Water Reducing and Retarding Admixtures Tipe E: Water Reducing and Accelerating Admixtures Tipe F: Water Reducing, High Range Admixtures

Tipe G: Water Reducing,High Range Retarding Admixtures A. Water-Reducing Admixtures (Plasticizer)

Water-Reducing Admixtures adalah bahan tambah yang mengurangi air pencampur yang diperlukan untuk menghasilkan beton dengan konsistensi tertentu. Bahan tambah ini biasa disebut water reducer atau plasticizer.

Plasticizer dapat digunakan dengan cara-cara sebagai berikut: 1. Kadar semen tetap, air dikurangi

Cara ini untuk memproduksi beton dengan nilai perbandingan atau FAS yang rendah. Dengan FAS yang rendah akan meningkatkan kuat tekan beton. Dengan penambahan plasticizer, walaupun FAS rendah, beton tetap memiliki sifat workabilitas yang baik. 2. Kadar semen tetap, air tetap

Cara ini untuk memproduksi beton dengan slump yang lebih tinggi. Tingginya nilai slump akan mempermudah pengadukan.

3. Kadar semen dikurangi, faktor air semen tetap

Cara ini dilakukan untuk memperoleh beton dengan penggunaan semen yang lebih sedikit, sehingga mengurangi biaya.

Komposisi dari plasticizer diklasifikasikan secara umum menjadi 5 kelas: 1. Asam lignosulfonic dan kandungan garam-garam

2. Modifikasi dan turunan asam lignosulfonic dan kandungan garam-garam 3. Hydroxylated carboxylic acids dan kandungan garamnya

(5)

5. Material lain seperti:

– Material inorganik seperti seng, garam-garam, barak, posfat, klorida – Asam amino dan turunannya

– Karbohidrat, polisakarin dan gula asam

– Campuran polimer, seperti eter, turunan melamic, naptan, silikon, hidrokarbon-sulfat.

Berdasarkan prosentase pengurangan jumlah air, plasticizer/water reducer dibedakan menjadi 3 macam:

1. Normal water reducer : Penggunaan jenis ini mampu mengurangi air antara 5 – 10%. 2. Mid-range water reducer : Penggunaan jenis ini mengurangi air antara 10 – 15%. 3. High-range water reducer : Jenis ini biasa disebut superplasicizers, mampu

mengurangi air antara 20 – 40%.

Secara mekanisme, penambahan plasticizer dapat dijelaskan sebagai berikut:

(6)
[image:6.595.184.401.235.435.2]

berpencar/dispersi dalam pasta. Hal ini membuat sebagian besar air

mampu untuk mengurangi viskositas pada semen dan beton.

Interaksi pada permukaan ini hampir pasti diketahui terjadi pada

partikel semen, dan dapat pula terjadi pada fraksi terhalus dari

agregat halus.

Gambar akibat Plasticizer : a. Pasta menggumpal , b. Pasta berpencar

Contoh produk plasticizer antara lain seperti Plastiment NS, Plastocrete 161W, Plastocrete 169, Viscocrete 4100.

B. Retarding Admixtures (Retarder)

(7)

Komposisi retarder dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

1.

Asam lignosulfonic dan kandungan garam-garam

2.

Hydroxy-carboxylic acids dan kandungan garamnya

3.

Gula dan turunannya

4.

Garam anorganik

Retarder menunda proses pengikatan semen dengan

membentuk lapisan tipis pada partikel semen sehingga

memperlambat reaksi dengan air. Cara lain dengan meningkatkan

jarak antara molekul pada silikat dan aluminat dengan molekul air

dengan membentuk senyawa sementara pada sistem. Dengan

formasi silikat dan aluminat hidrat, pengaruh retarder berkurang dan

proses hidrasi kembali normal.

Beberapa jenis retarder dapat mengurangi jumlah air yang

diperlukan pada campuran dan dapat pula menangkap udara dalam

beton. Retarder tidak memberikan pengaruh secara signifikan pada

waktu ikatan akhir (

final setting time

) semen atau tidak banyak

berpengaruh pula pada kekuatan beton umur 28 hari.

Berdasarkan penelitian tentang pengaruh retarder,

menunjukkan bahwa retarder memperlambat nilai hidrasi awal C

3

S

dengan memperpanjang dormant period (tahap 2), sehingga

berakibat waktu ikatan (setting time) bertambah panjang.

Pertambahan panjang dormant period sebanding dengan jumlah

retarder yang digunakan, dan apabila dosis melebihi kadar tertentu,

hidrasi C

3

S tidak akan berlanjut melebihi tahap 2 dan pasta semen

tidak akan mengeras. Sehingga penting untuk menghindari

overdosis penggunaan retarder.

Retarder biasa ditambahkan pada beton pada kondisi dimana

jarak antara tempat pengadukan beton dengan tempat penuangan

adukan cukup jauh. Beberapa jenis water reducer biasanya

berfungsi juga sebagai set retarder.

Contoh produk retarder seperti Pastiment dan Plastocrete

161MR.

(8)

Hardener adalah bahan tambah yang berfungsi untuk

mempercepat pengikatan dan pengembangan kekuatan awal beton.

Bahan ini digunakan untuk mengurangi lamanya waktu pengeringan

(hidrasi) dan mempercepat pencapaian kekuatan pada beton.

Bahan hardener dapat dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu:

1.

Larutan garam anorganik

2.

Larutan campuran organik

3.

Bahan padat lainnya

Penggunaan retarder harus didasarkan pada pertimbangan

ekonomi dengan membandingkan pada penggunaan bahan lain

seperti semen Tipe III, pengggunaan semen yang lebih banyak,

penggunaan metode perawatan dan proteksi yang berbeda,

penggunaan bahan air dan agregat yang panas.

Cara kerja hardener merupakan kebalikan dari retarder,

dimana hardener meningkatkan laju hidrasi C3S. Pada umumnya,

dormant period memendek, tetapi laju hidrasi selama tahap 3 dan

tahap 4 dapat meningkat. Hal ini terutama dengan penggunaan

garam kalsium.

Sebagian besar larutan garam anorganik akan mempercepat

ikatan dan pengerasan pada beton, garam kalsium merupakan yang

paling efektif. Kalsium klorida (CaCl2) merupakan bahan yang paling

populer karena pada kandungan tertentu mampu memberikan

percepatan yang lebih dibanding tipe hardener yang lain, disamping

karena harganya yang tidak mahal. Kalsium klorida dapat digunakan

dengan dosis maksimum 2% dari berat semen yang digunakan.

Penggunaan kalsium klorida tidak boleh digunakan apabila korosi

progresif dari tulangan dapat terjadi. Perkembangan saat ini,

kalsium klorida tidak diperkenankan lagi.

(9)

Kerugian penggunaan kalsium klorida sebagai hardener adalah

kecenderungan meningkatnya laju korosi pada logam dalam beton,

dalam hal ini tulangan baja. Penambahan kalsium klorida hingga 2%

terhadap berat semen, dianggap aman untuk beton bertulang

normal. Terdapat kesepakatan bahwa klorida tidak diperkenankan

untuk digunakan pada beton prestress atau pada beton dengan

bahan aluminium atau logam galvanis. Aluminium, zinc dan baja

dengan kondisi prestress mudah terkena korosi apabila terdapat ion

klorida.

Hardener tepat digunakan untuk pengecoran beton dalam air,

pekerjaan basement kedap air, pekerjaan perbaikan di tepi laut pada

area pasang surut, dan sebagainya.

Gambar

Gambar akibat Plasticizer : a. Pasta menggumpal , b. Pasta berpencar

Referensi

Dokumen terkait

serat yang akan digunakan sebagai bahan tambah dalam campuran beton normal.. Serat tersebut dicampurkan ke dalam adukan beton dengan persentase

Dari penelitian ini lama pengadukan campuran beton juga berpengaruh terhadap kekentalan adukan beton, dengan diperolehnya nilai slump yang

Salah satu cara untuk meningkatkan kekuatan beton adalah dengan menambahkan bahan tambah Conplast SP420 ke dalam adukan beton, yang meminimalkan penggunaan air,

Berdasarkan perumusan masalah tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk merancang campuran beton mutu tinggi dengan bahan tambah superplastisizer dan silicafume,

Berdasarkan perumusan masalah tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk merancang campuran beton mutu tinggi dengan bahan tambah superplastisizer dan silicafume,

Dari gambar 3 dapat diketahui bahwa campuran beton untuk diatomae yang digunakan sebagai bahan tambah kuat tekan beton juga meningkat seiring dengan meningkatnya umur pengujian

Berdasarkan perumusan masalah tersebut, maka penelitian ini mempunyai tujuan untuk merancang campuran beton mutu tinggi dengan bahan tambah superplasticizer dan

- Lamanya waktu pengadukan beton perlu diperhatikan dengan baik karena hal ini akan berpengaruh terhadap sifat adukan beton, yaitu bila pengadukan terlalu lama,