Parameter Air Minum menurut PERMENKES 492/MENKES/PER/IV/2010
NO PARAMETER SATUAN BAKU MUTU METODE
1 BAU - Tidak berbau Organoleptis
2 RASA - Tidak berasa Organoleptis
3 Fe mg/L 0.3 APHA 3030,22nd ed.2010
4 Mn mg/L 0.4 APHA 3030,22nd ed.2010
5 Zn mg/L 3 APHA 3030,22nd ed.2010
6 Cd mg/L 0.003 APHA 3030,22nd ed.2010
7 Pb mg/L 0.01 APHA 3030,22nd ed.2010
8 Hg mg/L 0.001 APHA 3030,22nd ed.2010
9 As mg/L 0.01 APHA 3030,22nd ed.2010
10 Ba mg/L 0.7 APHA 3030,22nd ed.2010
11 Cu mg/L 2 APHA 3030,22nd ed.2010
12 Ni mg/L 0.07 APHA 3030,22nd ed.2010
13 Se mg/L 0.01 APHA 3030,22nd ed.2010
14 Al mg/L 0.2 APHA 3030,22nd ed.2010
15 Na mg/L 200 APHA 3030,22nd ed.2010
16 NITRIT mg/L 3 SNI 06.6989.9.2004
17 FLUORIDA mg/L 1.5 Spektrofotometri
18 SIANIDA mg/L 0.07 Spektrofotometri
19 pH - 6.5-8.5 IKM/BTKL-MDN/KI
20 NITRAT mg/L 50 Spektrofotometri
21 AMONIAK mg/L 1.5 Spektrofotometri
22 SUHU OC DEVIASI 3OC IKM/BTKL-MDN/K3
23 KLORIDA mg/L 250 SNI 6989.19:2009
24 KROMIUM mg/L 0.05 Spektrofotometri
25 WARNA TCU 15 Spektrofotometri
26 TDS mg/L 500 Elektroda
27 SULFAT mg/L 250 Spektrofotometer
28 KESADAHAN mg/L 500 SNI 06-6989.12-2004
29 KEKERUHAN NTU 5 Spektrofotometri
30 KMnO4 mg/L 10 SNI 06-6989.22-2004
DAFTAR PUSTAKA
Achmad, R. 2004. Kimia Lingkungan. Edisi I. Jakarta : Universitas Negeri Jakarta.
Chandra, B. 2007. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Cetakan Pertama.
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Effendi, H. 2002. Telaah Kualitas Air.Yogyakarta : Kanisius.
Gandjar, I.B. 2007. Kimia Farmasi Analisis.Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Ginting, P. 2006. Sistem Pengelolaan Lingkungan dan Limbah Industri. Jakarta :
Wrama Widya.
Montaser, A. 1992. Inductively Coupled Plasma In Atomic Spectrometry. 2nd Edition. New York : VCH Publiher.
Mulia, R.M. 2005. Kesehatan Lingkungan. Jakarta : Penerbit Graha Ilmu.
Mulyanto, H.R. 2007. Prinsip Dasar Kesehatan Lingkungan. Edisi kedua. Surabaya :
AirlanggaUniversity Press.
Mukono, H. J. 2006. Prinsip Dasar Kesehatan Lingkungan. Surabaya: Airlangga
University Press.
Palar, H. 2008. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. Jakarta : Penerbit Rineka
Cipta.
Sukandarrumidi. 2009. Geologi Mineral Logam Untuk Eksplorer Muda. Yogyakarta :
Gadjah Mada University Press.
Underwood, A.L. 1998. Analisa Kimia Kuantitatif. Edisi keempat. Jakarta :
Widowati, W., Sastiono, A., dan Jusuf, R. 2008. Efek Toksik Logam. Yogyakarta :
Penerbit ANDI.
Vogel, A.I. 1994. Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Edisi keempat. Jakarta :
BAB 3
BAHAN DAN METODE
3.1. Metode ICP (Inductively Coupled Plasma)
3.1.1. Alat dan Bahan
3.1.1.1. Alat
1. Inducktively coupled Plasma (ICP)
2. Pemanas Listrik
3. Pipet Volume pyrex 3, 5, 10, 25 ml
4. Labu ukur pyrex 100, 500 ml
5. Corong
6. Erlenmeyer pyrex 250 ml
3.1.1.2. Bahan
1. Larutan standar Ni 1000 mg/L
2. Air suling
3. HNO3 pekat
4. Kertas saring
5. Gas argon
3.1.2. Prosedur Kerja
3.1.2.1. Pembuatan Larutan Baku Nikel
A. Pembuatan Larutan Baku Nikel 5 mg/L
1. Pipet 5 mL larutan baku Ni 1000 mg/L ke dalam labu ukur 1000 mL
2. Tambahkan air suling sampai tepat tanda tera
B. Pembuatan Larutan Kerja Nikel
1. Pipet 0, 3, 5, 10, 15, 25 mL larutan baku Ni 5 mg/L ke dalam labu ukur 1000
mL
2. Tambahkan air suling sampai tepat tanda tera sehingga diperoleh kadar Nikel
0 ; 0.015 ; 0.025 ; 0.050 ; 0.075 ; 0.125 mg/L
3. Masukkan masing-masing larutan kerja tersebut ke dalam erlenmeyer 250 mL
3.1.2.2. Prosedur Analisa
1. Atur alat ICP dan optimalkan sesuai dengan petunjuk penggunaan alat untuk
pengujian kadar Nikel
2. Alirkan gas argon, tunggu 5 menit untuk purging
3. Hidupkan exhaust system
4. Hidupkan instrumen ICP, tunggu 10 menit untuk warming up
5. Hidupkan water chiller, tunggu 5 menit sampai termperatur stabil
(sekitar 23oC -24 oC)
6. Buka ICP software, klik instrument icon
7. Klik W/L Calib, tunggu sampai ICP selesai wavelength calibration
9. Klik worksheet icon
10.Buat worksheet baru, klik New (jika sudah ada metode yang dibuat,
langsung klik Open)
11.Klik edit method
12.Pilih elemen dan wavelength yang akan dianalisa
13.Kilk condition
14.Hidupkan plasma, tunggu 5 menit sampai stabil
15.Setting semua parameter yang diperlukan, sampai dihasilkan SBR terbesar.
Setiap ada peribahan angka setting, klik read spectrum
16.Klik standard dan masukkan jumlah standard, nilai standard dan unit (satuan)
17.Tutup method editor dan update semua method setting yang telah dilakukan
18.Kilk sequence page
19.Klik sequence editor
20.Masukkan sampel number dan calibration solution
21.Setelah klik OK, tutup sequence editor
22.Klik manual sampel source
23.Klik analysis page
24.Isapkan larutan baku dan larutan sampel satu per satu ke dalam alat ICP
melalui pipa injeksi alat.
3.2. Metode Titrasi Kompleksiometri
3.2.1. Alat dan Bahan
3.2.1.1. Alat
1. Erlenmeyer 250 mL
2. Pipet volume 5, 10 mL
3. Matt pipet 5, 10 mL
4. Timbangan analitik
5. Gelas ukur 25, 50 mL
6. Beaker glass 50, 250 mL
7. Bola karet
8. Buret 25 mL skala 0.1 mL
9. Statif dan Klem
10.Pipet tetes
11.Botol aquadest
12.Spatula
13.Alu dan Lumpang
3.2.1.2. Bahan
1. Indikator Eriochrome Black T (EBT)
2. Larutan Penyangga pH 10 ± 0.1
3. Larutan Standar Kalsium Karbonat (CaCO3) 0.01 M
5. Larutan standar Magnesium Sulfat (MgSO4 ) 0.1 M
6. Aquadest
3.2.2. Prosedur
3.2.2.1. Pembuatan Bahan
a) Indikator Eriochrome Black T (EBT)
1. Timbang 200 mg EBT dan 100 g kristal NaCl, kemudian dicampur
2. Gerus campuran tersebut hingga mempunyai ukuran 40 s/d 50 mesh
3. Simpan dalam botol yang tertutup rapat
b) Larutan Penyangga pH 10 ± 0.1
1. Larutkan 1.179 g Na2EDTA dihidrat dan 780 mg magnesium sulfat penta
hidrat (MgSO4.7H2O) dalam 50 mL air suling
2. Tambahkan larutan tersebut ke dalam 16.9 g NH4Cl dan 143 mL NH4OH
pekat, sambil dilakukan pengadukan
3. Encerkan dengan air suling hingga volumenya menjadi 250 mL
Catatan:
1. Larutan penyangga ini disimpan dalam botol bertutup rapat dengan
penyimpanan tidak boleh lebih dari 1 bulan.
2. Buang larutan penyangga ini jika 1 mL s/d 2 mL larutan tsb ditambahkan ke
dalam larutan sampel tidak menghasilkan pH 10 ± 0.1 pada titik akhir titrasi.
c) Larutan Standar Kalsium Karbonat (CaCO3) 0.1 M
2. Larutkan dengan sedikit asam klorida (HCl) 1 : 1, tambah dengan 200 mL air
suling
3. Didihkan beberapa menit untuk menghilangkan CO2, lalu dinginkan
4. Setelah dingin, tambahkan beberapa tetes inidikator metil merah
5. Tambahkan NH4OH 3 N atau HCl 1 : 1 sampai terbentuk warna orange
6. Pindahkan secara kuantitatif ke dalam labu ukur 1000 mL, kemudian tepatkan
sampai tanda tera.
d) Larutan baku Dinatrium Etilen Tetra Asetat Dihidrat (Na2EDTA.2H2O
= C10H14N2Na2O8.2H2O = tritiplek) 0.1 M
1. Larutkan 9,3075 g Na2EDTA.2H2O dengan air suling di dalam labu ukur 250
mL, tepatkan sampai garis tanda.
e) Larutan standar Magnesium Sulfat Pentahidrat (MgSO4.5H2O ) 0.1 M
2. Larutkan 2,4648 g MgSO4.5H2O dengan air suling di dalam labu ukur 100
mL, tepatkan sampai garis tanda.
3.2.2.2. Standarisasi Larutan Na2EDTA ± 0.1 M
1. Pipet 10 mL larutan standar CaCO3 0.1 M, masukkan ke dalam labu
erlenmeyer 250 mL
2. Tambahkan 40 mL air suling dan 1 mL larutan penyangga pH 10 ± 0.1
3. Tambahkan seujung spatula 30 mg sampai dengan 50 mg indikator EBT
4. Titrasi dengan larutan Na2EDTA 0.1 M sampai terjadi perubahan warna dari
merah keunguan menjadi biru
6. Hitung molaritas larutan baku Na2EDTA dengan menggunakan rumus sbb
MCaCO3 X VCaCO3
MEDTA =
VEDTA
Dengan pengertian :
MEDTA adalah molaritas larutan baku Na2EDTA (mmol/mL)
VEDTA adalah volume rata-rata larutan baku Na2EDTA (mL)
VCaCO3 adalah volume rata-rata larutan CaCO3 yang digunakan (mL)
MCaCO3 adalah molaritas larutan CaCO3 yang digunakan (mmol/mL)
3.2.2.3. Prosedur Analisa
1. dimasukkan 25 ml sampel kedalam labu Erlenmeyer 250ml
2. ditambahkan 32 ml Na2EDTA 0,1 M
3. ditambahkan aquades hingga 200 ml
4. ditambahkan 4 ml larutan buffer pH 10
5. ditambahkan seujung spatula indikator EBT
6. dititrasi dengan menggunakan larutan standar MgSO4 0,1M hingga terjadi
perubahan warna dari biru menjadi merah anggur
7. dilakukan prosedur yang sama sebanyak 3 kali
8. dicatat hasilnya
9. dihitung kadar Nikel dalam satuan ppm dengan persamaan
Dimana :
Vol.A = Volume larutan MgSO4 0.1 M yang terpakai (mL)
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
Data hasil penentuan kadar Ni pada salah satu air minum dipaparkan pada
Tabel dibawah ini :
Tabel 4.1. Hasil Analisa Kadar Ni dengan metode ICP (Inductively Coupled Plasma)
No. Sampel Kadar (ppm)
1 1278/am/04/13 0.33658
2 1278/am/04/13 0.33675
3 1278/am/04/13 0.33680
Rata-rata 0.33671
Tabel 4.2. Hasil Analisa Ni dengan menggunakan Metode Titrasi Kompleksiometri
Secara Titrasi Balik, dengan menggunakan Na2EDTA 0.1 M sebagai larutan standar
dan MgSO4 0.1 M sebagai larutan ion logam.
No. Sampel Volume Na2EDTA
0.1 M (mL)
Volume MgSO4
0.1 M (mL)
1 1278/am/04/13 32 31.5
2 1278/am/04/13 32 31.6
3 1278/am/04/13 32 31.5
4.2. Perhitungan
4.2.1. Metode ICP (Inductively Coupled Plasma)
_______________________
4.2.2. Metode Titrasi Kompleksiometri
4.2.2.1. Standarisasi Na2EDTA 0.1 M
Tabel 4.3. Volume Na2EDTA 0.1 M (mL)
No. Volume Na2EDTA 0.1 M (mL)
1 11.6
2 11.5
3 11.5
Rata-rata 11.53
MCaCO3 X VCaCO3
MEDTA =
VEDTA
Dengan pengertian :
MEDTA adalah molaritas larutan baku Na2EDTA (mmol/mL)
VEDTA adalah volume rata-rata larutan baku Na2EDTA (mL)
VCaCO3 adalah volume rata-rata larutan CaCO3 yang digunakan (mL)
MCaCO3 adalah molaritas larutan CaCO3 yang digunakan (mmol/mL)
MCaCO3 X VCaCO3
MEDTA =
0.1 M X 10 mL MEDTA =
11.53 mL = 0.087 M
4.2.2.2. Kadar Nikel
1 mL (Vol.A – Vol.B) = 5.871 mg Ni
Dimana :
Vol.A = Volume larutan MgSO4 0.1 M yang terpakai (mL)
Vol.B = Volume larutan Na2EDTA 0,1 yang terpakai (mL)
1 mL (Vol.A – Vol.B) = 5.871 mg Ni
(32 mL – 31.53 mL) = 5.871 mg Ni
mg Ni = 0.5 X 5.871
mg Ni = 2.9355 mg
maka dalam satuan ppm, kadar Ni adalah
mg Ni 2.9355 mg
4.3. Pembahasan
Dari hasil pemeriksaan sampel air badan air yang sudah tersedia di laboratorium yang
dilaksanakan dilaboratorium BTKLPP (Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan
Pengendalian Penyakit) pada bulan April 2013, diperoleh hasil analisa kadar nikel
dengan metode ICP (Inductively Coupled Plasma) telah melewati batas normal
berdasarkan baku mutu air menurut PERMENKES 492/MENKES/PER/IV/2010.
Dimana standar baku mutu air menurut PERMENKES 492/MENKES/PER/IV/2010
untuk nikel adalah 0.07 ppm (mg/L).
Namun pada analisa kuantitatif dengan menggunakan metode titrasi
kompleksiometri diperoleh kadar sebesar 2935.5 ppm, dimana angka ini sangat jauh
dibandingkan dengan hasil yang diperoleh dengan alat ICP (Inductively Coupled
Plasma).
Dalam melakukan analisa kuantitatif beberapa gangguan dan kesalahannya,
antara lain :
1. Penimbangan yang tidak benar, demikian juga pemindahan analit dan baku
yang sesuai
2. Ektraksi analit dari suatu matriks
3. Penggunaan buret, pipet, dan labu takar yang tidak benar
4. Pengukuran meggunakan alat yang tidak terkalibrasi
5. Kegagalan dalam melakukan analisis blanko
7. Kegagalan untuk menghilangkan gangguan oleh bahan tambahan dalam
pengukuran analit (Gandjar, 2007).
Ada beberapa kesalahan yang mungkin terjadi dalam pengerjaan percobaan
dengan metode titrasi komplesiometri ini, antara lain :
1. Adanya senyawa-senyawa lain yang mungkin ada dalam larutan on logam
dapat membentuk kompleks dengan logamnya dan dengan demikian
bersaing dengan reaksi titrasi yang diinginkan.(Underwood, 1998). Dimana
kemungkinan dalam sampel air minum juga terdapat logam-logam
bervalensi 2 seperti Zn2+, Cu2+, Mg2+, dan Ca2+, yang jika bereaksi dengan EDTA akan membentuk kompleks yang hampir mirip dengan kompleks
yang dibentuk EDTA dengan logam nikel yang nantinya akan terhitung
sebagai kadar nikel.
2. Tidak adanya upaya pemakaian masking agent untuk mengurangi efek
gangguan pembentukan senyawa logam kompleks yang mirip dengan logam
nikel. Karena pembentukan kompleks kadang-kadang dengan pertimbangan
digunakan untuk mengatasi interferensi, yang dalam hal ini efek dari
pengompleks disebut penutupan (‘masking”) (Underwood, 1998).
3. Hidrolisa ion logam mungkin bersaing dengan proses titran khelometrik.
Peningkatan pH membuat efek ini lebih jelek dengan penggeseran ke
kesitimbangan yang benar (Underwood, 1998). Dimana dalam percobaan ini
digunakan penggunaan pH 10 dalam preparasi sampelnya, dan untuk analisa
magnesium maupun kalsium juga digunakan pH 10 dalam preparasi
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Dari hasil analisa yang telah dilakukan pada sampel air minum dengan menggunakan
metode Inductively Couple Plasma (ICP) diperoleh kadar nikel : 0.33671 mg/L dan
analisis menggunakan metode Titrasi Kompleksiometri diperoleh kadar nikel : 2935.5
mg/L. Kadar ini telah melebihi nilai ambang batas yang telah ditetapkan dalam
PERMENKES 492/MENKES/PER/IV/2010.
5.2. Saran
a) Sebaiknya hasil yang telah diperoleh dari penelitian ini dapat diketahui oleh
masyarakat dan juga dilakukan penyuluhan mengenai bahaya logam jika
sampaii melebihi ambang batas yang telah ditentukan.
b) Sebaiknya dilakukan pemeriksaan berkala untuk air minum yang biasa
dikonsumsi oleh warga untuk mengurangi efek-efek buruk yang dapat timbul
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Air
Air bersih merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia yang diperoleh dari
berbagai sumber, tergantung pada kondisi daerah setempat. Saat ini, masalah yang
dihadapi oleh sumber daya air meliputi kuantitas air yang sudah tidak mampu
memenuhi kebutuhan yang terus meningkat dan kualitas air untuk kebutuhan
domestik yang semakin menurun. Kegiatan industri, domestik dan kegiatan lain
berdampak negatif terhadap sumber daya air, antara lain menyebabkan penurunan
kualitas air. Kondisi ini dapat menimbulkan gangguan, kerusakan dan bahaya bagi
semua mahluk hidup yang bergantung pada sumber daya air. Oleh karena itu,
diperlukan pengelolahan dan perlindungan sumber daya air saksama.
Adapun penggolongan air menurut peruntukannya adalah sebagai berikut :
a. Golongan A, yaitu air yang dapat digunakan sebagai air minum secara
langsung, tanpa pengolohan terlebih dahulu
b. Golongan B, yaitu air yang dapat digunakan sebagai air baku air minum
c. Golongan C, yaitu air dapat digunakan keperluan perikanan dan peternakan
d. Golongan D, yaitu air yang dapat digunakan untuk keperluan pertanian, usaha
Pengelolahan sumber daya air sangat penting, agar dapat dimanfaatkan
secara berkelanjutan dengan tingkat mutu yang diinginkan. Salah satu langkah
pengelolaan yang dilakukan adalah pemantauan dan interpretasi data kualitas air.
Mencakup kualitas fisika, kimia, dan biologi. Namun, sebelum melangkah pada tahap
pengelolaan, diperlukan pemahaman yang baik tentang terminology, karakteristik,
dan interkoneksi parameter – parameter kualitas air (Effendi, 2003).
Air merupakan senyawa kimia yang sangat penting bagi kehidupan umat
manusia dan makhluk hidup lainnya dan fungsinya bagi kehidupan tersebut tidak
akan dapat digantikan oleh senyawa lainnya. Hampir semua kegiatan yang dilakukan
manusia membutuhkan air, mulai dari menyiapkan diri (mandi), membersihkan
ruangan tempat tinggalnya, menyiapkan makanan, dan minuman sampai dengan
aktivitas – aktivitas lainnya.
Dalam jaringan hidup, air merupakan medium untuk berbagai reaksi dan
proses ekskresi. Air merupakan komponen utama baik dalam tanaman maupun hewan
termasuk manusia. Tubuh manusia terdiri dari 60-70% air. Transportasi zat – zat
makanan dalam tubuh semuanya dalam bentuk larutan dengan pelarut air. Juga hara –
hara dalam tanah hanya dapat diserap oleh akar dalam bentuk larutannya (Achmad,
2004).
2.1.1. Sifat Air
Air memiliki karakteristik yang khas yang tidak memiliki oleh senyawa kimia yang
1. Pada kisaran suhu yang sesuai bagi kehidupan, yakni 0°C (32°F) - 100°C, air
berwujud cair. Suhu 0°C merupakan titik beku (freezing point) dan suhu 100°C
merupakan titik didih (boiling point) air. Tanpa sifat tersebut, air yang terdapat
didalam jaringan tubuh makhluk hidup maupun air yang terdapat dilaut, sungai,
danau, dan badan air yang lain akan berada dalam bentuk gas atau padatan ; sehingga
tidak akan terdapat kehidupan di muka bumi, karena sekitar 60 % - 90 % bagian sel
makhluk hidup adalah air.
2. Perubahan suhu air berlangsung lambat sehingga air memiliki sifat sebagai
penyimpan panas yang sangat baik. Sifat ini memungkinkan air tidak menjadi panas
atau pun dingin seketika. Perubahan suhu air yang lambat mencegah terjadinya stress
pada makhluk hidup karena adanya perubahan suhu yang mendadak dan memelihara
suhu bumi agar sesuai bagi makhluk hidup. Sifat ini juga menyebabkan air sangat
baik sebagai pendingin mesin.
3. Air memerlukan panas yang tinggi dalam proses penguapan. Penguapan
(evaporasi) adalah proses perubahan air menjadi uap air. Proses ini memerlukan
energi panas dalam jumlah yang besar. Sebaliknya, proses perubahan uap air menjadi
cairan (kondensasi) melepaskan energi panas yang besar. Pelepasan energi ini
merupakan salah satu penyebab mengapa kita merasa sejuk pada saat berkeringat.
Sifat ini juga merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan terjadinya
penyebaran panas secara baik di bumi.
4. Air merupakan pelarut yang baik. Air mampu melarutkan berbagai jenis senyawa
kimia. Air hujan mengandung senyawa kimia dalam jumlah yang sangat sedikit,
memungkinkan unsur hara (nutrient) terlarut diangkut ke seluruh jaringan tubuh
makhluk hidup dan memungkinkan bahan – bahan toksik yang masuk kedalam
jaringan tubuh makhluk hidup dilarutkan untuk dikeluarkan kembali. Sifat ini juga
memungkinkan air digunakan sebagai pencuci yang baik dan pengencer bahan
pencemar (polutan) yang masuk kebadan air.
5. Air memiliki tegangan permukaan yang tinggi. Suatu cairan dikatakan memiliki
tegangan permukaan yang tinggi jika tekanan antar molekul cairan tersebut tinggi.
Tegangan permukaan yang tinggi menyebabkan air memiliki sifat membasahi suatu
bahan secara baik. Tegangan permukaan yang tinggi juga memungkinkan terjadinya
sistem kapiler, yaitu kemampuan untuk bergerak dalam pipa kapiler (pipa dengan
lubang yang kecil). Dengan adanya sistem kapiler dan sifat pelarut yang baik, air
dapat membawa nutrient dari dalam tanah ke jaringan tumbuhan (akar, batang, dan
daun). Adanya tegangan permukaan memungkinkan beberapa organisme, misalnya
jenis – jenis insekta, dapat merayap di permukaan air.
6. Air merupakan satu – satunya senyawa yang merenggang ketika membeku. Pada
saat membeku, air merenggang sehingga es memiliki nilai densitas (massa/volume)
yang lebih rendah daripada air. Dengan demikian, es akan mengapung di air. Sifat ini
mengakibatkan danau –danau didaerah yang beriklim dingin hanya membeku pada
bagian permukaan (bagian di bawah pemukaan masih berupa cairan) sehingga
kehidupan organisme akuatik tetap berlangsung. Sifat ini juga dapat mengakibatkan
pecahnya pipa air pada saat air di dalam pipa membeku. Densitas (berat jenis) air
maksimum sebesar 1 g/cm3 terjadinya pada suhu 3,95 °C. Pada suhu lebih besar
2.1.2. Masalah Pencemaran Air
Sesuai dengan sifat dan proses produksi terdapat pabrik-pabrik yang menggunakan
bahan-bahan beracun dan berbahaya, baik dalam bentuk bahan baku, hasil produksi
maupun hasil sampingan. Sifat bahaya dan racun yang ditimbulkannya dapat karena
sentuhan, penyimpanan yang kurang baik maupun penggunannya melebihi lethal
dosis. Bahan-bahan beracun dan bahaya timbul dalam proses ekstraksi, proses kimia.
Bahan-bahan ini juga harus dijaga dalam sistem pengangkutan, maupun sistem
penyimpanan serta penggunaannya. Bahan-bahan beracun dan berbahaya tergabung
sebagai limbah karenaa tumpahan atau kebocoran. Suatu bahan tergolong beracun
dan berbahaya dapat diketahui antara lain : mudah terbakar, sifat korosif, menyengat
sifat oxidator, sifat membunuh serta menimbulkan luka-luka bila tersentuh. Bahan-
bahan yang termasuk golongan ini adalah obat-obatan, insektisida, herbisida,
pelarut-perlarut seperti aseton, karbon tetra khlorida, bahan-bahan pembersih detergent,
amoiak, lem, cat dengan elemen dasar timbal.
Sifat-sifat beracun menunjukkan efek biologis, misalnya kemampuan bahan
menciptakan luka bila tersentuh tubuh dan menimbulkan ancaman terhadap
lingkungan hidup bila konsentrasinya melebihi nilai ambang batas. Sifat racun bahan
kimia belum tentu menimbulkan bahaya, apabila penggunaan bahan dilakukan secara
tepat dalam dosis yang tepat (Ginting, 2007).
Hampir sekitar 1,5 milyard penduduk bumi mengalami kekurangan air
minum, sehingga paling sedikit menyebabkan 5 juta kematian setiap tahun karena
membawa pencemaran dari lokasi – lokasi khusus seperti pabrik – pabrik, instalasi
pengolahan limbah dan tanker minyak, ddan sumber tak terpusat, yang ditimbulkan
jika hujan dan salju cair mengalir melewati lahan dan menghanyutkan pencemar –
pencemar diatasnya seperti pestisida dan pupuk dan mengendapkannya dalam danau,
telaga, rawa, perairan, pantai, dan air bawah tanah.
Polusi air berasal dari aktivitas manusia : dari industri dibuang melewati pipa
– pipa atau bocoran dari pipa – pipa itu dan tangki penyimpanannya. Air tercemar
dapat juga berasal dari pertambangan ketika rembesan air melarutkan dan tercemar
zat – zat kimia sisa proses produksi dan sisa galian.
Beberapa jenis bahan kimia beracun yang dijumpai manusia secara teratur
dapat menimbulkan resiko – resiko kesehatan. Sisa pestisida pada sayur – mayur,
merkuri dalam ikan dan banyak bahan kimia hasil industri dapat menimbulkan
kanker, cacat bawaan, mutasi genetika atau bahan kematian (Mulyanto, 2007).
2.1.3. Sumber Pencemaran Air
Beberapa sumber pencemaran air, antara lain :
a. Domestik (Rumah Tangga)
Yaitu yang berasal dari pembuangan air kotor dari kamar mandi, kakus, dan
dapur.
b. Industri
Secara umum jenis polutan air dari industri dapat dikelompokkan sebagai
1. Fisik
Pasir atau lumpur yang tercampur dengan limbah air.
2. Kimia
Bahan pencemar yang berbahaya: Merkuri (Hg), Cadmium (Cd),
Timah Hitam (Pb), pestisida, dan jenis logam berat lainnya.
3. Mikrobiologi
Berbagai macam bakteri, virus, parasit, dan lain – lainnya. Misalnya
yang berasal dari pabrik yang mengolah hasil ternak, rumah potong,
dan tempat pemerahan susu sapi.
4. Radioaktif
Beberapa bahan radioaktif yang dihasilkan oleh Pembangkit Listrik
Tenaga Nuklir (PLTN) dapat pula menimbulkan pencemaran air.
c. Pertanian dan Perkebunan
Polutan air dari pertanian/perkebunan dapat berupa:
1. Zat Kimia
Misalnya: berasal dari penggunaan pupuk, pestisida seperti (DDT,
Dieldrin, dan lain-lain).
2. Mikrobiologi
Misalnya: virus, bakteri, parasit yang berasal dari kotoran ternak, dan
3. Zat radioaktif
Berasal dari penggunaan zat radioaktif yang dipakai dalam proses
pematangan buah, mendapatkan bibit unggul, dan mempercepat
pertumuhan tanaman (Mukono, 2000).
2.1.4. Persyaratan Air Minum
Agar air minum tidak menyebabkan gangguan kesehatan, maka air tersebut haruslah
memenuhi persyaratan-persyaratan kesehatan. Di Indonesia, standar air minum yang
berlaku dapat dilihat pada Peraturan Menteri Kesehatan RI
No.416/MENKES/IX/1990.
Di dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No.416/MENKES/IX/1990,
persyaratan air minum dapat ditinjau dari parameter fisika, parameter kimia,
parameter mikrobiologi, dan parameter radioaktivitas yang terdapat didalam air
minum tersebut.
1. Parameter Fisika
Parameter fisika umumnya dapat diidentifikasi dari kondisi fisik air tersebut.
Parameter fisika meliputi bau, kekeruhan, rasa, suhu, warna, dan jumlah zat padat
terlarut (TDS). Air yang baik idealnya tidak berbau. Air yang berbau busuk tidaak
menarik dipandang dari sudut estetika. Selain itu, bau busuk juga bisa disebabkan
proses penguraian bahan organik yang terdapat di dalam air.
Air yang baik idealnya harus jernh. Air yang keruh mengandung partikel
itu, air yang keruh sulit didesinfeksi, karena mikroba patogen dapat terlindung oleh
partikel.
Air idelanya juga tidak memiliki rasa/tawar. Air yang tidak tawar
mengindikasikan adanya zat-zat tertentu di dalam air tersebut. Rasa asin disebabkan
adanya garam-garam tertentu di dalam air, begitu juga rasa asam disebabkan adanya
asam di dalam air dan rasa pahit disebabkan oleh adanya basa di dalam air tersebut.
Selain itu juga, air yang baik tidak boleh memiliki perbedaan suhu yang
mencolok dengan udara sekitar. Di Indonesia, suhu air idealnya ±3oC dari suhu udara. Air secara mencolokmempunyai suhu diatas atau dibawaah suhu udara berarti
mengandung zat-zat tertentu (misalnya fenol yang terlarut) atau sedang terjadi proses
biokimia yang mengeluarkan atau menyerap energi di dalam air.
Padatan terlarut total (Total Dissolved Solid-TDS) adalah bahan-bahan
terlarut (diameter < 10-6) dan kloid (diameter 106-103mm) yang berupa senyawa-senyawa kimia dan bahan-bahan lain. Bila TDS bertambah maka kesadahan akan
naik. Kesadahan yang tinggi dapat mengakibatkan terjadinya endaapan/kerak pada
sistem perpipaan.
2. Parameter Kimiawi
Parameter kimiawi dikelompokkanmenjadi kimia anorganik dan kimia
organik. Dalam standar air minum di Indonesia zat kimia anorganik dapat berupa
logam, zat reaktif, zat-zat berbahaya, dan beracun serta derajat keasaman (pH).
Sedangkan zat kimia organik dapat berupa insektisida dan herbisida, volatile organic
chemical (zat kimia organik mudah menguap) zat-zatt berbahaya dan beracun
Sumber logam dalam air dapat berasal dari industri, pertambangan ataupun
proses pelapukan secara alamiah. Korosi dari pipa penyalur air minum dapat juga
menyebabkan kehadiran logam dalam air minum.
Bahan kimia organik dalam air minum dapat dibedakan menjadi 3 kategori.
Kategori 1 adalah bahan kimia yang mungkin bersifat karsinogenik bagi manusia.
Kategori 2 adalah bahan kimia yang tidak bersifat karsinogenik bagi manusia.
Kategori 3 adalah bahan kimia yang dapat menyebabkan penyakit kronis tanpa ada
fakta karsinogenik.
3. Parameter Mikrobiologi
Parameter mikrobiologi menggunakan bakteri koliform sebagai organisme
petunjuk (indicator organism). Dalam laboratorium, istilah total coliform
menunjukkan bakteri coliform dari tinja, tanah, atau sumber alamiah lainnya. Istilah
fecal coliform (koliform tinja) menunjukkan bakteri koliform berasal dari tinja
manusia atau hewan berdarah panas lainnya. Penetuan parameter mikrobiologi
dimaksudkan untuk mencegah adanya patogen di dalam air minum.
4. Parameter Radioaktivitas
Apapun bentuk radio aktivitas efeknya sama, yakni menimbulkan kerusakan
pada sel yang terpapar. Kerusakan dapat berupa kematian dan perubahan komposisi
genetik. Kematian sel-sel dapat diganti kembali apabila sel dapat beregenerasi dan
apabila tidak seluruhnya sel mati. Perubahan genetis dapat menimbulkan penyakit
seperti kanker dan mutasi.
Sinar alpha, beta, dan gamma berbeda dalam kemampuan menembus jaringan
dalam. Kerusakan yang terjadi ditentukan oleh intensits serta frekuensi dan luasnya
pemaparan (Mulia, 2005).
2.2. Nikel
Nikel adalah logam berwarna putih perak dengan berat jenis 8,5 dan berat atom 58,71
g/mol. Ni merupakan logam yang resistensi terhadap korosi dan oksidasi pada
temperatur tinggi sehingga bisa digunakan untuk memproduksi stainless steel. Bijih
nickel lateric (nickel ore) mengandung kadar Ni tinggi, sedangkan ferronikel adalah
paduan logam antara nikel dan besi. Logam nikel memiliki sifat kuat, dapat ditempa,
serta tahan terhadap karat dan tahan terhadap oksidasi (Widowaty, 2008).
Nikel adalah logam yang cukup keras putih mengkilat terdapat didalam kerak
bumi sebanyak kurang lebih 0.002%. Nikel terdapat pada batuan ultrabasa seperti
dunit dan peridotit yang mengalami serpentinisasi dan lapuk yang menghasilkan
mineral sekunder bijih nikel garnierit.
Nikel digunakan untuk membuat campuran logam (non-ferros alloy),misal
alloy nikel-besi dengan kandungan nikel antara 50-80 %, sisanya besi. Alloy alni
yaitu campuran alluminium, nikel, dan besi, yang dalam penggunaannya sama dengan
penggunaan baja karbon. Alloy ferrit yang mengandung nikel oksida (NiO) dan
oksida seng. Alloy tersebut biasanya dimanfaatkan untuk peralatan elektronika
(Sukandarrumidi, 2009).
Pembuangan limbah yang mengandung Ni mengakibatkan pencemaran Ni
sedangkan kadar Ni pada air tanah mencapai 0,005-0,05 ppm dan kadar Ni pada
tumbuhan tidak lebih dari 1 ppm (Sukandarrumidi, 2009).
Pada kondisi pH < 9, nikel membentuk senyawa kompleks dengan hidroksida,
karbonat, dan sulfat. Pada pH > 9, nikel akan membentuk senyawa kompleks dengan
hidroksida dan karbonat, dan selanjutnya mengalami presipitasi. Demikian juga pada
kondisi anaerob, nikel bersifat tidak larut.
Sumber nikel di perairan adalah niccolite (NiAs), pentladite [(Fe3Ni)9S8],
garnierite [(Ni,Mg)6(OH)6(Si4O11).H2O], limonite [(Ni,Fe)O(OH).nH2O], dan
pyrhotile. Nikel banyak digunakan dalam industri metalurgi, pelapisan logam,
industri kimia, pembakaran minyak, dan pembakaran limbah.
Nikel merupakan unsur yang memiliki toksisitas rendah. Toksisitas nikel
(EC50) terhadap Lemma minor adalah 0,45 mg/L. nilai LC50 nikel terhadap Daphina
magna adalah 19.5 mg/L, terhadap beberapa jenis ikan tawar dan ikan air laut
berkisar antara 1-100 mg/L. Bersama-sama dengan Cu dan Zn, nikel memiliki sifat
aditif. Urutan toksisitas beberapa logam dari yang sangat rendah sampai yang sangat
tinggi berturut adalah: Sn<Ni<Pb<Cr<Co<Cd<Zn<Cu<Ag<Hg (Effendi, 2003).
2.2.1. Manfaat Nikel
Nikel digunakan antara lain dalam produk-produk industry dan konsumen,
temasuk stainless steel, magnet, mata uang, baterai isi ulang, string gitar listrik dan
alloy khusus. Nikel digunakan secara besar-besaran untuk pembuatan baja tahab karat
Alloy tembaga-nikel berbentuk tabung banyak digunakan untuk pembuatan instalasi
proses penghilangan garam untuk mengubah air laut menjadi air segar. Nikel
digunakan pula dalam industri keramik. Nikel yang sangat halus, digunakan sebagai
katalis untuk menghidrogenasi minyak sayur (menjadikannya padat). Pembuatan
magnet elnico. Baterai Penyimpanan Edison®. Koin 5 sen Amerika mengandung 75% Cu dan 25% Ni, di kanada Nikel digunakan antara 1922-1981 dengan kandungan
99,99% dan magnetik lain, di Negara lain ada juga yang menggunakan nikel untuk
mata uang koin.
Nikel (Ni) merupakan zat gizi esensial untuk beberapa jenis hewan dan
manusia. Ni terdapat pada DNA dan RNA. Ni berfungsi menstabilisasi struktur asam
nukleat serta protein, dan sebagai kofaktor berbagai enzim. Defisiensi Ni bisa
mengakibatkan kerusakan hati dan alat tubuh lain. Ni merupakan nonspesifik akifator
enzim. Enzim yang mengandung Ni telah diidentifikasi dalam tanaman dan
mikroorganisme, tetapi belum terdapat bukti mengenai enzim hewan yang diaktivasi
oleh Ni. Ni spesifik untuk enzim urease dalam rumen sebagai Ni-metalloenzyme. Ni
berperan dalam metabolisme tubuh bersama dengan vitamin B-12. Ni mengatur kadar
lipid dalam jaringan dan Ni juga berperan dalam sintesis fosfolipid.
Pemberian suplemen Ni akan bermanfaat bagi ternak ruminansia yang diberi
makanan tinggi konsentrat, tetapi rendah kadar protein. Ni juga bermanfaat untuk
meningkatkan recycle Ni dalam rumen hewan dengan cara meningkatkan aktivitas
urease dalam rumen. Ni merupakan komponen faktor F340 dan dibutuhkan dalam
pertumbuhan bakteri metanogenik dalam rumen, yang secara in vitro Ni merangsang
Kadar Ni dalam jaringan akan dijaga dan diatur oleh mekanisme kontrol
homeostatik. Sebagai contoh, anak sapi membutuhkan Ni dalam makanan sejumlah
lebih dari 250 ppm. Kebutuhan Ni untuk hewan nonruminansia lebih besarr
dibandingkan hewan ruminansia sebesar < 200 µg/kg makanan. Kebutuhan Ni hewan
ruminansia adalah sebesar 1 ppm. Hewan ruminansia akan mengalami defisiensi Ni
apabila makanan mengandung 100 ppb. Manusia ada umumnya mengkonsumsi Ni
dari makanan sebesar 150 µg/hari, sedangkan intake Ni makanan pada orang dewasa
rata-rata sebesar 100-300 µg/hari (Widowati, 2008).
2.2.2. Bahaya Nikel
Daya racun yang dimiliki oleh kelas-kelas logam sebagai berikut :
1. Ion kelas B merupakan golongan ion-ion logam yang mempunyai daya racun
besar (atau ion logam sangat beracun) karena :
a) Paling efektif untuk berikatan dengan gugus sulfihidril (-SH),
seperti dalam sistein: dengan struktur molekul yang memiliki
gugus nitrogen (N), seperti yang terdapat dalam lisin dan
hstidin. Gugus sulfur dan nitrogen merupakan gugus aktif dari
enzim-enzim logam (metalloenzim).
b) Dapat menggantikan posisi dari ion-ion logam kelas antara,
seperti ion seng (Zn++) dari enzim logam (metalloenzim). c) Bersama dengan ion-ion logam kelas antara, ion-ion logam
dalam lemak (lipid soluble). Ion-ion logam yang dapat larut
dalam lemak mampu melakukan penetrasi pada membran sel,
sehingga akhirnya ion-ion logam tersebut akan menumpuk
(terakumulasi) di dalam sel dan organ-organ lain. Sebagai
contoh ion-ion logam Hg, Pb, dan Sn.
d) Beberapa ion logam dari golongan ion-ion logam kelas B,
dalam metallo-protein menunjukkan kemampuan oksidasi
reduksi (redoks), seperti Cu2+ Cu+. Ion logam tembaga (Cu) ini akan mengubah kesatuan fungsional dari protein terkait.
2. Ion-ion logam kelas antara, merupakan golongan ion logam dimana daya
racun yang ada lebih disebabkan oleh kemampuan dari ion-ion logam ini
untuk menggantikan ion-ion logam yang sudah ada secara alamiah pada
molekulnya. Salah satu contoh dari kelompok ion-ion logam kelas antara ini
adalah ion logam Nikel (Ni2+). Ion tersebut dapat menggeser gugus Zn2+ yang merupakan faktor aktif pada enzim karbonat anhidrase.
3. Ion-ion logam kelas A dapat dikatakan sebagai kelompok logam beracun yang
daya racunnya rendah. Daya racun yang dibawa atau yang terdapat pada
logam kelas A cenderung disebabkan oleh kemampuannya dalam
menggantikan posisi ion-ion lain, tetapi masih dari satu golongan yang
Pada umumnya, orang bisa terpapar Ni ditempak kerja daalam produksi atau
proses yang menggunakan bahan Ni atau bisa juga melalui kontak dengan perhiasan
dengan perhiasan yang mengandung Ni, stainless steel, serta peralatan masak yang
mengandung Ni atau berbahan asam tembakau.
Paparan nikel (Ni) bisa terjadi melalui inhalasi, oral, dan kontak kulit. Reaksi
Ni dan karbonmonoksida (CO) menghasilkan nikel karbonil (Ni[CO]4) yang bisa
terurai menjadi Ni dan CO pada pemanasan 200oC. Proses tersebut merupakan metode yang mudah untuk pemurnian Ni. Nikel karbonil bersifat lebih toksik dan
bisa mengganggu kesehatan masyarakat dibandingkan senyawa nikel lainnya
dikarenakan nikel karbonil berbentuk cairan yang mudah menguap (volatile liquid)
dan banyak digunakan dalam berbagai industri sehingga resiko manusia
terkontaminasi nikel karbonil sangat tinggi. Gejala awal dari paparan (Ni[CO]4)
berupa sakit kepala, mual, muntah, epigatrik, sakit dada, yang disertai gejala
batuk-batuk, hiperne, sianosis, sakit lambung dan usus, serta keadaan lemah. Gejala-gejala
tersebut bisa disertai berbagai gejala demam, leukosistosis, dan pneumonia yang
parah, kegagalan pernafasan, kadang-kadang edema sereberal, yang kemudian dapat
mengakibatkan kematian. Berdasarkan hasil autopsi terhadap korban yang meninggal
akibat paparan (Ni[CO]4) diketahui bahwa kadar Ni tertinggi adalah di paru-paru,
selanjutnya dalam jumlah rendah terdapat di ginjal, hati, dan otak.
Orang yang minum air terkontaminasi nikel sulfat atau nikel klorida akan
mengalami gangguan neurologis. Paparan akut nikel klorida bisa mengakibatkan
Paparan Ni lewat kulit secara kronis bisa menimbulkan gejala, antara lain
dermatitis nikel berupa eksema (kulit kemerahan, gatal) pada jari-jari, tangan
pergelangan tangan, serta lengan. Paparan kronis Ni secara inhalasi bisa
mengakibatkan gangguan pada alat pernafasan, berupa asma, penurunan fungsi
paru-paru, serta bronkitis.
Tingginya kadar Ni dalam jaringan tubuh manusia bisa mengakibatkan
munculnya berbagai efek samping, yaitu akumulaasi Ni pada kelenjar pituitari yang
bisa mengakibatkan depresi sehingga mengurangi sekresi hormon prolaktin di bawah
normal. Akumulasi Ni pada pankreas dapat menghambat sekresi hormon insulin
(Widowati, 2008).
2.2.3. Penanggulangan Toksisitas Nikel
Untuk mengurangi dan menanggulangi pencemaran Ni, bisa dilakukan metode
fitomidiasi atau bioremoval yang menggunakan mikroorganisme dan menggunakan
modul membran.
Sodium dietilditiokarbamat, chelating agent seperti d-penicillamine, dan
triethylenetraamine mampu mengurangi toksisitas Ni. British Anti Lewisite (BAL)
atau 2,3-dimerkaptopropanol sebagai chelating agent bisa mengurangi toksisitas
nikel, sedangkan dithicarb (dietilditiocarbanat) atau DDC bermanfaat sebagai obat
2.3. ICP (Inductively Coupled Plasma)
ICP adalah sebuah teknik analisis yang digunakan untuk mendeteksi jejak logam
dalam sampel. ICP digunakan untuk menganalisis kadar unsur-unsur logam dari suatu
sampel dengan menggunakan metode yang didasarkan pada pengukuran intensitas
emisi pada panjang gelombang yang khas untuk setiap unsur.
Inductively Coupled Plasma pada saat ini banyak sekali digunakan untuk
oprikal emisi spektrofotometri seperti yang sama dikemukakan oleh Valmer Fassel
pada awal-awal tahun 1970-an. Gas argon diarahkan melalui obor yang terdiri dari
tiga tabung konsentris yang terbuat dari kuarsa atau bahan lain yang cocok, seperti
[image:36.612.131.503.394.599.2]yang ditunjukkan oleh gambar 2.1 sebagai berikut :
Gambar 2.1. Penampang sebuah obor ICP dan kumparan beban yang
menggambarkan urutan pengapian. A. argon gas yang berputar-putar melalui obor. B.
daya RF diterapkan pada kumaran beban. C. percikan memproduksi beberapa
menyebabkan ionisasi lebih lanjut daan membentuk plasma. E. sampel aerosol
membawa aliran ke nebulizer melalui lubang plasma.
Sebuah kumparan tembaga, disebut kumparan beban, mengelilingi ujung
atas obor dan dihubungkan ke generator frekuensi radio (RF). Ketika daya RF
(biasanya 700-1500 watt) diterapkan ke kumparan, atau berisolasi, pada tingkat yang
sesuai dengan frekuensi generator. Dalam instrumen ICP paling frekuensi ini adalah
baik 20 atau 40 megaherzt (MHz). Osilasi RF ini dari arus dalam kumparan
menyebabkan medan listrik RF dan magnetik yang akan dibentuk di daerah pada
bagian atas obor. Dengan gas argon yang berputar-putar melalui obor, percikan
digunakan ke gas yang menyebabkan beberapa elektron akan dilucuti dari atom
argonnya. Elektron ini kemudian akan tertangkap dalam medan magnet dan
dipercepat oleh medan magnetnya. Menambah energi ke elektron dengan
menggunakan kumparan dengan cara ini dikenal sebagai kopling induktif. Elektron
berenergi tinggi ini pada gilirannya bertabrakan dengan atom argon lain, masih
melepaskan elektron yang berlebih. Tumbukan ionisasi dari gas argon berlanjut
dalam sebuah reaksi rantai, perpecahan gas menjadi plasma yang terdiri dari atom
argon, elektron, dan argon ion, membentuk apa yang diketahui sebagai pengeluaran
Induktif Coupled Plasma (ICP). Pengeluaran ICP kemudian dipertahankan dalam
obor dan kumparan beban sebagai energi RF kemudian ditransfer melalui proses
kopling induktif.
Kebanyakan sampel diubah sebagai cairan yang dinebulisasi menjadi
aerosol kemudian dibawa ke pusat plasma temperatur tinggi adalah untuk
memindahkan larutan, pelarut, aerosolnya, biasanya meninggalkan sampel sebagai
partikel garam mikroskopis. Langkah selanjutnya melibatkan dekomposisi partikel
garamnya menjadi sebuah gas dari molekul tunggal (vaporasi) yang kemudian
memisahkan diri menjadi atom (atomisasi). Proses-proses ini, dimana terjadi paling
utama di zina pemanasan (PHZ). Proses yang sama terjadi dalam nyala api dan
[image:38.612.200.438.315.616.2]tungku yang digunakan untuk atom spektrofotometri serapan atom.
Gambar. 2.2. Proses yang terjadi ketika tetesan sampel diperkenalkan ke dalam debit
2.3.1. Prinsip Kerja Alat ICP (Inductively Coupled Plasma)
Energi yang ditimbulkan oleh plasma pada ICP menyebabkan elektron terluar dari
atom atau ion logam akan berpindah ke lintasan energi yang lebih tinggi dengan
menyerap energi dari plasma. Saat kembali ke kondisi groundstate (kondisi energi
terendah) terjadi pelepasan energi berupa cahaya, dimana intensitas cahaya yang
dipancarkan sebanding dengan konsentrasi elemen logam yang akan di ukur.
1. Nebulizer
Nebulizer adalah perlatan yang mengubah cairan menjadi bentuk aerosol
yang dapat dipindahkan kedalam plasma. Proses nebulasi adalah salah satu langkah
yang palingpenting didalam ICP. Cara memperkenalkan sampel yang ideal akan
menjadi salah satu pengantar dari semua sampel ke plasma pada satu bentuk dimana
plasma mungkin akan kembali menghasilkan desolvate, uap, atomisasi, dan ionisasi.
untuk menghasilkan bercak kecil pada berbagai jenis sampel yang banyak tergantung
pada keperluan dari sebuah nebulizer dari ICP.
2. Pompa Peristaltik (Pumb)
Pompa peristaltik adalah jenis pompa perpindahan yang digunakan untuk
memompa berbagai cairan. Pompa ini menggunakan sebuah penggulungan yang
mendorong larutan sampel dimana tabung menggunakan proses peristaltik. Tabung
pompa peristaltik adalah satu bagian dari sitem ICP yang biasanya memerlukan
penggantian yang sering. Analis harus memeriksa tabung pompa untuk pemakaian
sehari-hari, yang umumnya ditandai dengan tekanan permanen di pipa yang dapat
dirasakan dengan menjalankan jari seorang melalui pipa. Kegagalan untuk
menggantikan tabung pompa yang aus dapat mengakibatkan kinerja instrumen
menurun, karena ini dapat mencegah aliran sampel akan disampaikan ke nebulizer.
Memakai tabung dapat dikurangi dengan melepaskan ketegangan pada pipa ketika
pompa tidak digunakan.
3. Spray Chamber
Setelah aerosol dibuat oleh nebulizer, harus diangkut ke obor sehingga dapat
disuntikkan ke dalam plasma. Karena tetesan sangat kecil hanya dalam aerosol yang
cocok untuk diinjeksikan ke dalam plasma, spray chamber ditempatkan antara
nebulizer dan obor. Fungsi utama spray chamber adalah untuk menghapus tetesan
besar dari aerosol. Tujuan kedua dari spray chamber adalah untuk menurunkan
tekanan yang terjadi selama nebulization, karena pemompaan dari larutan. Secara
umum, spray chamber untuk ICP dirancang untuk memungkinkan tetesan dengan
khas, kisaran tetesan merupakan sekitar 1-5% dari sampel yang diperkenalkan ke
nebulizer. Yang tersisa 95-99% dari sampel dikeringkan kedalam wadah buangan.
Spray chamber terbuat dari bahan tahan korosi yang memungkinkan analis untuk
menggunakan sampel yang mengandung asam fluorida yang dapat merusak kaca
ruang semprot.
4. Drains (Saluran Air)
Sementara itu adalah bagian yang tampaknya sederhana dari sistem
pengenalan sampel, drain yang membawa sampel yang lebih dari ruang semprot
untuk wadah buangan dapat berdampak pada kinerja instrumen ICP. Selain membawa
pergi sampel berlebihan, sistem pembuangan menyediakan tekanan balik yang
diperlukan untuk memaksa sampel aerosol membawa aliran gas melalui tabung
nebulizer injektor obor masuk ke debit plasma. Jika sistem pembuangan tidak
mengalr secara merata atau tidak memungkinkan gelembung untuk melewatinya,
injeksi sampel ke dalam plasma mungkin terganggu dan dapat mnyebabkan
kebisingan signal emisi. Saluran air untuk sistem pengenalan sampel ICP dapat dalam
berbagai bentuk seperti loop, blok, tabung U, atau bahkan pipa dihubungkan ke
pompa peristaltik. Untuk kinerja yang tepat, penting untuk menjaga tingkat cairan
dengan sistem pembuangan pada posisi yang dianjurkan. Juga, ketika
memperkenalkan sampel dasar organik ke dalam ICP, mungkin perlu untuk
menggunakan pipa saluran pembuangan yang ditujukan untuk digunakan dengan
5. Obor (Thorch)
Obor yang digunakan saat ini dalam ICP-OES sangat mirip dalam desain dan
fungsi dengan yang dilaporkan oleh fassel di awal-awal ICP. Obor terdiri dari tiga
tabung konsentris untuk aliran argon dan injeksi aerosol. Jarak antara dua tabung luar
dijaga bersempitan sehingga gas yang dialirkan diantara mereka muncul dengan
kecepatan tinggi. Chamber terluar seperti melanjutkan ke atas. Salah satu fungsi dari
gas ini adalah untuk menjaga dinding kuarsa aliran obor dingin dan dengan demikian
aliran gas ini awalnya disebut aliran pendingin atau aliran plasma tetapi sekarang
disebut “pengeluaran” aliran gas. Untuk argon ICP, aliran gas luar sekitar 7-15 liter
per menit.
6. Generator Frekuensi Radio
Generator Frekuensi Radio (RF) adalah perangkat yang menyediakan daya
lanjutan dan memelihara ketahanan dari debit plasma. Tenaga ini, biasanya dimulai
dari sekitar 700-1500 watt, yang sudah ditransfer ke gas plasma melalui kumparan
beban sekitar bagian atas obor. Kumparan beban, yang bertindak sebagai antena
untuk mentransfer daya RF untuk plasma, biasanya terbuat dari pipa tembaga dan
diinginkan oleh air atau gas selama operasi.
7. Transfer Optik
Sampel yang sudah berbentuk aerosol sudah diubah oleh torch, akan
dipancarkan ke transfer optik, kemudian cahaya polikromatik yang dipancarkan akan
8. Microprocesor (Detektor)
Detektor berfungsi sebagai pendeteksi kadar logam. Setelah garis emisi yang
tepat telah diisolasi dengan spektrometer, detektor, dan elektronik yang terkait
digunakan untuk mengukur intensitas garis emisi. Sejauh ini detektor paling banyak
digunakan untuk ICP adalah tabung photomultiplier atau PMT.
9. Komputer dan Prosesor
Bagian penting dari instrumen ICP adalah kontrol komputer dimasukkan ke
dalam instrumen. Mayoritas fungsi otomatis instrumen ICP secara langsung dikontrol
oleh on-board komputer. Untuk instrumen paling sederhana, analis berinteraksi
langsung dengan on-board komputer melalui tombol atau keypad yang terletak pada
instrumen. Namun, gunakan komputer eksternal, yang dihubungkan ke on-board
komputer instrumen, untuk bertindak sebagai penghubung antara analis dan
instrumen. Fungsi penting komputer ini adalah menunjukkan hasil kadar logam yang
terkandung atau terdeteksi didalam sampel (Montaser, 1992).
2.4. Titrasi
Istilah analisis titrimetri mengacu pada analisis kimia kuantitatif yang dilakukan
dengan menetapkan voleme larutan yang konsentrasinya diketahui dengan tepat, yang
diperlukan untuk bereaksi secara kuantitatif dengan larutan dari zat yang akan
ditetapkan. Larutan dengan kekuatan (konsentrasi) yang diketahui tepat itu, disebut
larutan standar. Bobot zat yang hendak ditetapkan, dihitung dari volume larutan
Larutan standar biasanya ditambahkan dari dalam sebuah buret. Proses
penambahan larutan standar sampai reaksi tepat lengkap, disebut titrasi, zat yang akan
ditetapkan, dititrasi. Titik (saat) pada mana reaksi itu tepat lengkap, disebut titik
ekuivalen (setara) atau titik-akhir teoritis (atau titik-akhir stoikiometri). Lengkapnya
titrasi, lazimnya harus terdeteksi oleh suatu perubahan, yang tidak dapat disalah-lihat
oleh mata, yang dihasilkan oleh larutan standar itu sendiri (misalnya kalium
permanganat), atau lebih lazim lagi, oleh penambahan suuatu reagensia pembantu
yang dikenal sebagai indikator. Setelah reaksi antara zat dan larutan standar praktis
lengkap, indikator harus memberikan perubahan visual yang jelas (entah suatu
perubahan warna atau pembentukan kekeruhan), dalam cairan yang sedang dititrasi.
Titik (saat) pada mana ini terjadi, disebut titik akhir titrasi. Pada titrasi yang ideal,
titik akhir yang terlihat, akan terjadi berbarengan dengan titik akhir stoikiometri atau
teoritis. Namun, dalam praktek, biasanya akan terjadi perbedaan yang sangat sedikit;
ini merupakan sesatan (error) titrasi. Indikator dan kondisi-kondisi eksperimen harus
dipilih sedemikian, sehingga perbedaan antara titik-akhir dan titik ekuivalen, adalah
sekecil mungkin.
Dahulu digunakan orang analisis volumetri, tetapi sekarang, telah diganti
dengan analisis titrimetri, karena yang terakhir ini dianggap lebih baik menyatakan
proses titrasi, sedangkan yang disebut terdahulu, dapat dikacaukan dengan
pengukuran-pengukuran volume, seperti yang melibatkan gas-gas. Reagensia dengan
konsentrasi yang diketahui itu, disebut titran (titrant), dan zat yang sedang dititrasi
disebut titrand. Namun alternatif ini tak diperluas untuk peralatan yang digunakan
masih dipertahankan, (tetapi mungkin lebih baik untuk memakai istilah alat kaca
berskala dan labu berskala, seperti yang digunakan diseluruh buku ini).
Untuk digunakan dalam analisis titrimetri, suatu reaksi harus memenuhi
kondisi-kondisi berikut :
1. Harus ada suatu reaksi yang sederhana, yang dapat dinyatakan dengan suatu
persamaan kimia, zat yang akan ditetapkan harus bereaksi lengkap dengan
dengan reagensia dalam proporsi yang stoikiometri atau ekuivalen.
2. Reaksi harus praktis berlangsung dalam sekejap atau berjalan dengansangat
cepat sekali (kebanyakan reaksi ionik memenuhi kondisi ini). Dalam
beberapa keadaan, penambahan suatu katalis akan menaikkan kecepatan
reaksi itu.
3. Harus ada perubahan yang menyolok dalam energi-bebas, yang menimbulkan
perubahan dalam beberapa sifat fisika atau kimia larutan pada titik-ekuivalen.
4. Harus tersedia suatu indikator, yang oleh perubahan sifat-sifat fisika (warna
atau pembentukan endapan), harus dengan tajam menetapkan titik akhir
reaksi. Jika titik ekuivalen ini sering dapat ditetapkan dengan mengikuti
hal-hal berikut selama jalannya titrasi :
a) Potensial antara sebuah elektrode indikator dan sebuah elektrode
indikator dan sebuah elektrode pembanding (elektrode refrensi); titrasi
potensiometri.
b) Perubahan dalam konduktifitas (daya hantar jenis) listrik larutan itu
c) Arus listrikyang mengalir melalui sel titrasi antara sebuah elektrode
indikator (Vogel, 1994).
2.4.1. Titrasi Kompleksiometri
Reaksi pengkompleksan dengan suatu ion logam, melibatkan penggantian satu
molekul pelarut atau lebih yang terkoordinasi, dengan gugus-gugus nukleofilik lain.
Gugus-gugus terkait pada ion pusat, disebut ligan, dan dalam larutan air, reaksi dapat
dinyatakan oleh persamaan :
M(H2O)n + L = M(H2O)(n-1) + H2O
Disini ligan (L) dapat berupa sebuah molekul netral atau sebuah ion
bermuatan, dengan penggantian molekul-molekul air berturut-turut selanjutnya dapat
terjadi, sampai terbentuk kompleks MLn; n adalah bilangan-koordinasi dari ion logam
itu, dan menyatakan jumlah maksimum ligan monodentat yang dapat terikat padanya.
Ada beberapa jenis titrasi kompleksiometri dengan EDTA, antara lain :
1) Titrasi langsung, larutan yang mengandung ion logam yang akan ditetapkan,
dibufferkan sampai ke pH yang dikehendaki (misalnya, sampai pH = 10
dengan NH4+ larutan-air NH3), dan titrasi langsung dengan larutan langsung
dengan larutan EDTA standar.
2) Titrasi balik, karena berbagai alasan, banyak logam tidak dapat dititrasi
lansung; mereka mungkin mengendap dari dalam larutan dalam jangkau pH
yang perlu untuk dititrasi, atau mereka mungkin membentuk
hal-hal demikian, ditambahkan larutan EDTA standart berlebih, larutan yang
dihasilkan dibufferkan sampai ke pH yang dikehendaki, daan kelebihan
reagensia dititrasi-balik dengan suatu larutan ion logam standar; larutan zink
klorida atau sulfat atau magnesium klorida atau sulfat sering digunakan untuk
tujuan ini. Titik-akhir dideteksi dengan bantuan indikator logam yang
berespons terhadap ion logam yang ditambahkan pada titrasi-balik.
3) Titrasi pengganti atau titrasi substitusi, titrasi-titrasi substitusi dapat
digunakan untuk ion logam yang tidak bereaksi (atau bereaksi dengan tidak
memuaskan) dengan indikator logam, atau untuk ion logam yang membentuk
kompleks EDTA yang stabil dari pada kompleks EDTA dari logam-logam
lainnya seperti magnesium dan kalsium.
4) Titrasi alkalimetri, bila suatu larutan dinatrium etilendiamintetraasetat,
Na2H2Y, ditambahkan kepada suatu larutan yang mengandung ion-ion logam,
terbentuklah kompleks-kompleks dengan disertai pembebasan dua ekuivalen
ion hidrogen (Vogel, 1994).
2.4.2. Indikator Logam
Persyaratan untuk sebuah indiator logam untuk digunakan pada pendeteksi visual dari
titik-titik-akhir meliputi :
1) Reaksi warna harus sedemikian sehingga sebelum titik akhir, hampir semua
logam telah berkompleks dengan EDTA, larutan akan berwarna kuat.
3) Kompleks-indikator logam itu harus memiliki kestabilan yang cukup, kalau
tidak, karena disosiasi, tidak akan diperoleh perubahan warna yang tajam.
Namun, kompleks-indikator logam itu harus kurang stabil dibanding
kompleks logam-EDTA untuk menjamin agar pada titik akhir, EDTA
memindahkan ion-ion logam dari kompleks-indikator logam itu. Perubahan
dalam kesetimbangan dari kompleks-indikator logam ke kompleks
logam-EDTA harus lebih tajam dan cepat.
4) Kontras warna antara indikator bebas dan kompleks-indikator logam harus
sedemikian sehingga mudah diamati.
5) Indikator harus sangat peka terhadap ion logam (yaitu, terhadap pM) sehingga
perubahan warna terjadi sedikit mungkin dengan titik-ekuivalen.
6) Persyaratan di atas harus dipenuhi dalam jangkauan pH pada mana titrasi
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Air merupakan zat yang paling penting dalam kehidupan. Sekitar tiga per empat
bagian dari tubuh kita terdiri dari air dan tidak seorangpun dapat bertahan hidup lebih
dari 4-5 hari tanpa minum air. Selain itu, air juga dipergunakan untuk memasak,
mencuci, mandi dan membersihkan kotoran yang ada disekitar rumah. Air juga
digunakan untuk keperluan industri, petanian, pemadam kebakaran, tempat rekreasi,
transportasi dan lain-lain. Penyediaan sumber air bersih harus dapat memenuhi
kebutuhan masyarakat karena persediaan air bersih yang terbatas memudahkan
timbulnya penyakit di masyarakat (Chandra, 2006).
Saat ini, masalah utama yang dihadapi oleh sumber daya air meliputi kualitas
air yang sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan yang terus meningkat dan kualitas
air untuk keperluan domestik yang semakin menurun. Kegiatan industri, domestik,
dan kegiatan lain yang berdampak negatif terhadap sumber daya air, antara lain
menyebabkan penurunan kualitas air. Kondisi ini dapat menimbulkan gangguan,
kerusakan, dan bahaya bagi semua mahluk hidup yang bergantung pada sumber daya
air. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan dan perlindungan sumber daya air secara
Hingga saat ini, Indonesia telah memiliki Peraturan Pemerintah No. 20 tahun
1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air dan Keputusan Menteri Negara
Lingkungan Hidup No. 51 tahun 1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair bagi kegiatan
industri. Pemerintah juga telah mencanangkan program-program penataan lingkungan
yang pada dasarnya berkaitan dengan upaya pengelolaan sumber daya air dan sumber
daya alam lainnya, dalam rangka pengendalian dampak lingkungan.
Pengelolaan sumber daya air sangat penting, agar dapat dimanfaatkan secara
berkelanjutan dengan tingkat mutu yang diinginkan. Salah satu langkah pengelolaan
yang dilakukan adalah pemantauan dan interpretasi data kualitas air, mencakup
kualitas fisika, kimia, dan biologi.
Ion renik (trace) adalah ion yang terdapat di perairan dalam jumlah yang
sangat sedikit, biasanya dinyatakan dalam satuan nanogram/liter – microgram/liter.
Ion-ion renk di perairan meliputi : tembaga (Cu), seng (Zn), boron (B), flour (F),
brom (Br), kobalt (Co), air raksa (Hg), kadmium (Cd), perak (Ag), kromium (Cr),
vanadium (V), arsen (As), antimonium (Sb), timah (Sn), dan lain-lain. Beberapa dari
ion renik tersebut dibutuhkan oleh organisme akuatik. Pada perairan alami, ion-ion
tersebut terdapat dalam jumlah yang sangat kecil dan dinyatakan dalam satuan
nanogram/liter atau lebih kecil.
Kadar nikel pada perairan tawar alami adalah 0,001 – 0,003 mg/liter;
sedangkan pada perairan laut berkisar antara 0,005 – 0,007 mg/liter. Kontak langsung
dengan larutan yang mengandung garam-garam nikel dapat mengakibatkan
dermatitis, sedangkan mengisap nikel terus-menerus dapat mengakibatkan kanker
1.2. Permasalahan
Ketelitian prosedur analisis memberikan kepuasan pada hasil analisis tetapi sering
suatu prosedur sulit dilakukan karena keterbatasan sarana peralatan, karena itu
permasalahan tersebut diangkat yaitu, aplikasi analisis nikel dapat dikerjakan dengan
metode ICP (Inductively Coupled Plasma) dan metode titrasi kompleksiometri.
1.3. Tujuan
Untuk mengetahui kadar nikel pada air minum, apakah masih memenuhi syarat Baku
Mutu Air berdasarkan kelas menurut PERMENKES 492/MENKES/PER/IV/2010.
1.4. Manfaat
Dapat memberikan informasi kadar kandungan nikel yang terdapat dalam air minum
yang dihubungkan dengan syarat Baku Mutu Air berdasarkan kelas menurut
PERMENKES 492/MENKES/PER/IV/2010.
1.5. Metodologi
Air minum sebagai sampel dimasukkan kedalam erlenmeyer, kemudian diisapkan
kedalam alat ICP melalui selang pengisap, maka sampel akan dianalisa dengan alat
Air minum sebagai sampel dimasukkan kedalam erlenmeyer, ditambahkan EDTA
berlebih, ditambahkan aquadest, ditambahkan larutan buffer pH 10, ditambahkan
indikator, dititrasi dengan MgSO4 hingga terjadi perubahan warna, dilakukan
PERBANDINGAN HASIL PENGUKURAN KADAR NIKEL DENGAN METODE ICP (INDUCTIVELY COUPLE PLASMA) DAN TITRASI
KOMPLEKSIOMETRI PADA SAMPEL AIR MINUM
ABSTRAK
COMPARISON RESULT MEASURING QUANTITY OF NIKEL WITH ICP(INDUCTIVELY COUPLE PLASMA) METHOD AND TITRATION
COMPLEXIOMETRY FROM DRINKS WATER’S SAMPLE
ABSTRACT
PERBANDINGAN HASIL PENGUKURAN KADAR NIKEL DENGAN METODE ICP (INDUCTIVELY COUPLE PLASMA) DAN TITRASI
KOMPLEKSIOMETRI PADA SAMPEL AIR MINUM
TUGAS AKHIR
NOVA KRISTINA SIANTURI 102401062
PROGRAM STUDI DIPLOMA 3 KIMIA ANALIS DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
PERBANDINGAN HASIL PENGUKURAN KADAR NIKEL DENGAN METODE ICP (INDUCTIVELY COUPLE PLASMA) DAN TITRASI
KOMPLEKSIOMETRI PADA SAMPEL AIR MINUM
TUGAS AKHIR
Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat memperoleh Ahli Madya
NOVA KRISTINA SIANTURI 102401062
PROGRAM STUDI DIPLOMA 3 KIMIA ANALIS DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
PERSETUJUAN
Judul : Perbandingan Hasil Pengukuran Kadar Nikel Dengan
Metode ICP (Inductively Couple Plasma) Dan Titrasi Kompleksiometri Pada Sampel Air Minum
Kategori : Tugas Akhir
Nama : Nova Kristina Sianturi
Nim : 102401062
Program Studi : Diploma -3 Kimia Analis
Departemen : Kimia
Fakultas : Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA)
Universitas Sumatera Utara
Disetujui di Medan, Juli 2013
Disetujui Oleh
Ketua Program Studi D3 Kimia FMIPA USU Dosen Pembimbing Ketua
Dra. Emma Zaidar Nst, M.Si Dr. Nimpan Bangun, M.Sc
NIP. 195512181987012001 NIP. 195012221980031002
Depatemen Kimia FMIPA USU
PERNYATAAN
PERBANDINGAN HASIL PENGUKURAN KADAR NIKEL DENGAN METODE ICP (INDUCTIVELY COUPLE PLASMA) DAN TITRASI
KOMPLEKSIOMETRI PADA SAMPEL AIR MINUM
TUGAS AKHIR
Saya mengakui bahwa karya ilmiah ini adalah hasil kerja saya sendiri, kecuali beberapa kutipan dan ringkasan yang masing – masing disebutkan sumbernya.
Medan, Juli 2013
PENGHARGAAN
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus dengan kebaikan, anugerah, kasih setia, dan kemurahan-Nya kepada penulis sehingga kertas kajian ini berhasil diselesaikan dalam waktu yang ditetapkan.
Penulis menyadari bahwa tugas akhir ini masih sangat sederhana dan masih jauh dari kesempurnaan, hal ini tidak lain dikarenakan ilmu yang diterima penulis masih sangat terbatas, adapun judul tugas akhir ini adalah “PERBANDINGAN HASIL PENGUKURAN KADAR NIKEL DENGAN METODE ICP (INDUCTIVELY COUPLE PLASMA) DAN TITRASI KOMPLEKSIOMETRI PADA SAMPEL AIR MINUM”. Tugas akhir ini merupakan salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Diploma 3 program studi Kimia Analis FMIPA USU Medan.
Tugas akhir ini tersusun tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah banyak membantu serta memberi arahan, motivasi, maupun bimbingan, antara lain :
1. Kepada seluruh keluarga besar penulis, ayahanda S. Sianturi dan ibunda E. Lumban gaol terima kasih buat motivasi dan memberi dukungan dana pada penulis, kakak ku Marselina Sianturi, serta adik-adik ku George Sianturi dan Jonatan W.B Sianturi yang selalu memotivasi dan mendoakan penulis dalam penyelesaikan karya ilmiah ini, terima kasih buat cintanya.
2. Dr. Nimpan Bangun, M.Sc. selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan nasehat kepada penulis dalam penyelesaian karya ilmiah ini. 3. Dr. Rumodang Bulan, MS selaku ketua Departemen Kimia FMIPA USU. 4. Seluruh Dosen FMIPA USU yang telah membantu dan mendidik penulis
selama perkuliahan.
5. Pimpinan dan seluruh staff Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BTKLPP) Kelas I Medan yang telah memberi tempat untuk melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL), dan terutama bang Panji yang telah membantu dalam penelitian karya ilmiah ini.
6. Rekan-rekan di D3 Kimia Analis FMIPA USU 2010, terima kasih buat kebersamaannya selama 3 tahun ini semoga kita sukses.
8. Teman-teman dan adik-adik di IMNASKA terima kasih buat doanya, semangat buat kita.
PERBANDINGAN HASIL PENGUKURAN KADAR NIKEL DENGAN METODE ICP (INDUCTIVELY COUPLE PLASMA) DAN TITRASI
KOMPLEKSIOMETRI PADA SAMPEL AIR MINUM
ABSTRAK
COMPARISON RESULT MEASURING QUANTITY OF NIKEL WITH ICP(INDUCTIVELY COUPLE PLASMA) METHOD AND TITRATION
COMPLEXIOMETRY FROM DRINKS WATER’S SAMPLE
ABSTRACT
DAFTAR ISI
Halaman
Persetujuan i
Pernyataan ii
Penghargaan iii
Abstrak v
Abstrack vi
Daftar Isi vii
Daftar Tabel ix
Daftar Gambar x
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang 1
1.2. Permasalahan 3
1.3. Tujuan 3
1.4. Manfaat 3
1.5. Metodologi 3
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Air 5
2.1.1. Sifat Air 6
2.1.2. Masalah Pencemaran Air 9
2.1.3. Sumber Pencemaran Air 10
2.1.4. Persyaratan Air Minum 12
2.2. Nikel 15
2.2.1. Manfaat Nikel 16
2.2.2. Bahaya Nikel 18
2.2.3. Penanggulangan Toksisitas Nikel 21
2.3. ICP (Inductively Coupled Plasma) 22
2.3.1. Prinsip Kerja Alat ICP (Inductively Coupled Plasma) 25
2.4. Titrasi 29
2.4.1. Titrasi Kompleksiometri 32
2.4.2. Indikator Logam 33
BAB 3 BAHAN DAN METODE
3.1. Metode ICP (Inductively Coupled Plasma) 35
3.1.1. Alat dan Bahan 35
3.1.1.1. Alat 35
3.1.1.2. Bahan 35
3.1.2. Prosedur Kerja
3.1.2.2. Prosedur Analisa 36
3.2. Metode Titrasi Kompleksiometri 38
3.2.1. Alat dan Bahan 38
3.2.1.1. Alat 38
3.2.1.2. Bahan 38
3.2.2. Prosedur Kerja 39
3.2.2.1. Pembuatan Bahan 39
3.2.2.2. Standarisasi Larutan Na2EDTA ± 0.1 M 40
3.2.2.3. Prosedur Analisa 41
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil 43
4.2. Perhitungan 44
4.2.1. Metode ICP (Inductively Coupled Plasma) 44
4.2.2. Metode Titrasi Kompleksiometri 44
4.2.2.1. Standaarisasi Na2EDTA ± 0.1 M 44
4.2.2.2. Kadar Nikel 45
4.3. Pembahasan 46
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan 48
5.2. Saran 48
DAFTAR PUSTAKA 49
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 4.1. Hasil Analisa Kadar Ni dengan metode ICP
(Inductively Coupled Plasma) 43
Tabel 4.2. Hasil Analisa Ni dengan menggunakan Metode
Titrasi Kompleksiometri Secara Titrasi Balik,
dengan menggunakan Na2EDTA 0.1 M sebagai
larutan standar dan MgSO4 0.1 M sebagai larutan ion logam 43
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1. Penampang sebuah obor ICP dan kumparan beban 22
Gambar 2.2. Proses yang terjadi ketika tetesan sampel
diperkenalkan ke dalam debit ICP 24