• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRES KERJA PADA KARYAWAN DI CV. RIVA GARMENT PROBOLINGGO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "STRES KERJA PADA KARYAWAN DI CV. RIVA GARMENT PROBOLINGGO"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

STRES KERJA PADA KARYAWAN

DI CV. RIVA GARMENT

PROBOLINGGO

SKRIPSI

Oleh:

Sri Uliyana

08810233

FAKULTAS PSIKOLOGI

(2)

STRES KERJA PADA KARYAWAN

DI CV. RIVA GARMENT

PROBOLINGGO

SKRIPSI

Diajukan Kepada Universitas Muhammadiyah Malang

sebagai salah satu persyaratan untuk Memperoleh

Gelar Sarjana Psikologi

Oleh :

Sri Uliyana

08810233

FAKULTAS PSIKOLOGI

(3)
(4)
(5)
(6)

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah, dengan segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah

SWT atas segala rahmat dan karunia, kasih sayang, keikhlasan kesabaran serta

kemudahan yang diberikan kepada penulis. Sholawat serta salam semoga tetap

tercurahkan kepada junjungan, suri tauladan kita Nabi Muhammad SAW, yang telah

membawa umat Islam dari kegelapan menuju cahaya terang. Hanya dengan

seizin-Nya lah akhirnya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul “Stres

Kerja Kada Karyawan di CV. Riva Garment Probol

inggo”. Penyusunan skripsi ini

dimaksudkan untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana

psikologi di Universitas Muhammadiyah Malang. Di samping itu penulis juga

mencoba untuk menyumbangkan pikiran dalam usaha mengembangkan ilmu

pengetahuan di bidang psikologi Industri dan Organisasi.

Pada kesempatan ini penulis juga menyampaikan ucapan terima kasih dan

penghargaan yang sebesar-besarnya kepada berbagai pihak yang telah membantu

dalam penyusunan skripsi ini. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati ucapan

terima kasih dan penghargaan penulis sampaikan kepada :

1.

Dra. Cahyaning Suryaningrum, M.Si, selaku dekan Fakultas Psikologi

Universitas Muhammadiyah Malang.

2.

Dra. Djudiyah, M.Si dan M. Salis Yuniardi, S.Psi., M.Si selaku pembimbing I

dan pembimbing II yang telah banyak meluangkan waktu untuk memberikan

bimbingan dan arahan yang sangat berguna, hingga penulis dapat menyelesaikan

skripsi ini dengan baik.

3.

Mohammad Shohib, S.Psi., M.Si selaku dosen wali yang telah mendukung dan

memberi pengarahan sejak awal perkuliahan hingga selesainya skripsi ini.

4.

Seluruh Dosen Fakultas Psikologi yang telah sabar dan ikhlas mengajarkan

banyak ilmu pengetahuan kepada penulis selama duduk di bangku perkuliahan.

5.

Manager CV. Riva Garment Probolinggo yang telah memberikan ijin dan

fasilitas bagi penulis untuk melakukan penelitian.

(7)

7.

Teman-teman kuliahku kelas D yang telah banyak membantu dan selalu

memberiku semangat dan segala keadaan yang telah mempertemukan kita untuk

meraih cita-cita.

8.

Semua pihak yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu, yang telah banyak

memberikan bantuan pada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

Dengan kerendahan hati, penulis persembahkan skripsi ini. Penulis

menyadari tiada satupun karya manusia yang sempurna, sehingga kritik dan saran

demi perbaikan karya skripsi ini sangat penulis harapkan. Semoga karya ini dapat

bermanfaat. Amien.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Malang, 27 Juli 2012

Penulis

(8)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR ... i

INTISARI ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR LAMPIRAN ... vii

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah ... 1

B.

Rumusan Masalah ... 7

C.

Tujuan Penelitian ... 7

D.

Manfaat Penelitian ... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A.

Stres Kerja ... 8

B.

Stres Kerja pada Karyawan ... 23

C.

Kerangka Pemikiran Penelitian ... 25

BAB III METODE PENELITIAN

A.

Rancangan Penelitian ... 26

B.

Variabel Penelitian ... 26

1.

Identifikasi variabel penelitian ... 26

2.

Definisi operasional variabel penelitian ... 26

C.

Populasi dan Sampel ... 27

D.

Jenis Data dan Metode Pengumpulan Data ... 28

1.

Jenis data ... 28

2.

Metode pengumpulan data ... 29

3.

Validitas dan reliabilitas ... 30

a.

Validitas ... 30

b.

Reliabilitas ... 31

E.

Prosedur Penelitian ... 32

F.

Teknik Analisa Data ... 33

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.

Deskripsi Subyek ... 34

B.

Analisa Data ... 35

C.

Pembahasan ... 38

BAB V PENUTUP

A.

Kesimpulan ... 42

B.

Saran-saran ... 42

DAFTAR PUSTAKA ... 44

(9)

DAFTAR TABEL

Nomor tabel

halaman

Tabel 1 Ciri-ciri Kepribadian Tipe A dan Tipe B ... 14

Tabel 2 Skor Stres Kerja ... 28

Tabel 3 Blue Print Stres Kerja ... 30

Tabel 4 Uji Validitas Skala Stres Kerja ... 31

Tabel 5 Uji Reliabilitas Stres kerja ... 32

Tabel 6 Masa Kerja ... 34

Tabel 7 Usia Karyawan ... 35

Tabel 8 Jenis Kelamin Subyek ... 35

Tabel 9 Stres Kerja ... 36

Tabel 10 Stres Kerja Peraspek ... 36

Tabel 11 Stres Kerja Ditinjau dari Masa Kerja ... 37

(10)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1

a.

Petunjuk pengisian skala

b.

Skala stres kerja

Lampiran 2

a.

Hasil uji validitas reliabilitas

b.

Hasil uji Z

score

Lampiran 3

a.

Bukti konsultasi

(11)

DAFTAR PUSTAKA

Anoraga, Pandji. (2009).

Psikologi kerja

. Jakarta: Rineka Cipta.

Arikunto, S. (1986).

Prosedur penelitian-suatu pendekatan praktik.

Jakarta: PT Bina

Aksara.

Azwar, S. (1997).

Reliabilitas dan validitas.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Azwar, S. (1998).

Metode penelitian.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Fraser, T.M. (1992).

Stres dan kepuasan kerja.

Jakarta: PT. Pustaka Binaman

Presindo.

Gibson, Ivancevich, & Donnelly. (1996).

Organisasi, perilaku, struktur, proses (jilid

1).

Jakarta: Binarupa Aksara.

http://health.kompas.com.

10 Persen kasus stroke dipicu stres pekerjaan

. Diakses 13

mei 2012.

Iqbal, T., Khan, K., & Iqbal, N. (2012). Job stress & employee engagement.

European Journal of Social Scienses, 28,

1, 109-118. Diperoleh dari:

http://www.europeanjournalofsocialsciences.com/ISSUES/EJSS_28_1_12.pd

f.

Mansoor, M., Fida, S., Nasir, S., & Ahmad, Z. (2011). The impact of job stress on

employee job satisfaction A study on telecommunication sector of Pakistan.

Journal of Business Studies Quarterly, 2,

3, 50-56. Diperoleh dari:

http://jbsq.org/wp-content/uploads/2011/06/June-2011-E.pdf..

Munandar, A.S. (2001).

Psikologi industri dan organisasi.

Jakarta: UI-Press.

Nazir, M. (1988).

Metode penelitian.

Jakarta: Ghalia Indonesia.

Poerwanti, E. (1998).

Dimensi-dimensi riset ilmiah.

Malang: UMM-Press.

Radyanto, M.R. ( ).

Kompensasi dan benefit untukindustri garmen.

Diperoleh

dari:

http://rizaradyanto.files.wordpress.com/2008/04/kompensasi-dan

benefit-industri-garmen.pdf

Reserch-reserch on-work-related stres.

(2000). Loxembourg: (http://europa.eu.int).

Rini, J. F. (2002).

Stres kerja.

Diperoleh dari: www.baliusada.com/content/view/333/2/

(12)

Sanusi, A. (2003).

Metodologi penelitian praktis-untuk ilmu sosial dan ekonomi.

Malang: Buntara Media.

Sharma, M., Raina, R, L., & Sharma, R. (2011). job stress of call centre employees.

International Conference on Technology and Business Management.

601-607.

Diperoleh

dari:

http://www.trikal.org/ictbm11/pdf/HRM/D1111-done.pdf

Sugiyono. (2009).

Statistika untuk penelitian.

Bandung: Alfabeta.

Supranto, J. (2009).

Statistik-teori dan aplikasi Jilid 2.

Jakarta: Erlangga.

Tunjungsari, P. (2011).

Pengaruh stres kerja terhadap kepuasan kerja karyawan

Pada Kantor Pusat PT. Pos Indonesia (Persero) Bandung.

(No. 1). Fakultas

Ekonomi

Universitas

Komputer

Indonesia.

Diperoleh

dari:

dir.unikom.ac.id/s1-final-project/fakultas...gdl.../7-jurnal.pdf

Waluyo, M. (2009).

Psikologi teknik industri.

Yogyakarta: Graha Ilmu

Wijono, S. (2010).

Psikologi industri & organisasi.

Jakarta: Kencana Prenada Media

Group.

(13)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa dalam perusahaan, karyawan merupakan motor penggerak perusahaan bisa dikatakan bahwa manajer atau pimpinan perusahaan adalah orang yang memperoleh atau mencapai hasil secara tidak langsung dari karyawan. Penanganan karyawan harus dilakukan secara serius dan menyeluruh, artinya mengupayakan agar pendayagunaan potensi sumber daya manusia diiringi dengan perhatian pada kondisi dengan keadaan sosial karyawan.

Berpangkal pada peran sumber daya manusia yang sangat penting bagi perkembangan perusahaan. Menjaga dan meningkatkan peran aktif karyawan dalam pengoperasian perusahaan sebagai team pelaksana, semuanya kembali pada keseriusan pihak menager dalam mengantisipasi maupun mencari solusi pemecahan atas berbagai permasalahan yang menimpa karyawan.

Keberhasilan atau ketidakberhasilan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan tersebut memang semuanya kembali pada keseriusan dan kemauan karyawan dengan dipandu oleh menager yang bersangkutan untuk memunculkan berbagai kondisi yang mampu menetralisir keadaan yang tidak mendukung operasi perusahaan.Kejadian-kejadian yang dimaksud anatara lain: a).Turunnya atau rendahnya produktivitas, b).Tingkat absensi yang naik atau tinggi, c).Labour turnover (tingkat perputaran yang tinggi), d).Penurunan kualitas produk, e).Kegelisahan karyawan, f).Tuntutan karyawan sering terjadi, g).Pemogokan

Dalam kehidupan yang modern yang makin kompleks, manusia akan cenderung mengalami stress apabila kurang mampu mengadaptasikan kegiatan-kegiatan dengan kenyataan-kenyataan yang ada, baik kenyataan yang ada diluar maupun di luar dirinya.

(14)

2

Sebuah riset terbaru dalam Journal of Occupational and Environmental

Medicine menunjukkan bahwa stress psikologis akibat pekerjaan bisa meningkatkan

risiko stroke 1,4 kali pada pria dari kalangan ekonomi menengah dan atas. Jika

dihitung, sekitar 10 persen kasus stroke dalam penelitian ini telah dikaitkan dengan

stres mental pada pekerjaan. Tekanan psikologis pekerjaan yang berlangsung

terus-menerus merupakan faktor resiko yang paling umum memicu stroke pada pria yang

berada di kelas sosial tinggi. Dalam risetnya, para peneliti menganalisis informasi

kesehatan 5.000 pria yang berusia 40-59 tahun yang tinggal di Kopenhagen, dan

diikuti selama 30 tahun. Dan juga penelitian di Swedia dalam jurnal BMC

Medicine menunjukkan bahwa orang-orang yang mengalami stres dalam jangka

waktu panjang, pada akhirnya akan terkena serangan stroke. Tampaknya ada korelasi

antara stres dan stroke. Dalam jurnal BMC Public Health menunjukkan bahwa stres kerja mungkin akan berdampak pada kesehatan lainnya. Bahkan para peneliti dari

Concordia University mencatat bahwa orang dengan stres tinggi pekerjaan cenderung

lebih sering berobat ke dokter ketimbang mereka yang tidak mengalami stres.

(Kompas, 2011, 28 Desember)

Brenner (dalam Gibson, et al 1996:336). memperkirakan bahwa untuk setiap

kenaikan satu persen dalam tingkat pengangguran, ada peningkatan sebesar lima

persen dalam jumlah pasien rumah sakit jiwa, enam persen dalam tahanan dan

sebanyak delapan persen dalam jumlah penderita serangan jantung fatal.

(15)

3

ruangan kerja tidak nyaman, panas, sirkulasi udara kurang memadai, ruangan kerja terlalu padat, lingkungan kerja kurang bersih, berisik, tentu besar pengaruhnya pada kenyamanan kerja karyawan, b).Overload. Sebenarnya overload ini dapat dibedakan secara kuantitatif dan kualitatif. Dikatakan overload secara kuantitatif jika banyaknya pekerjaan yang ditargetkan melebihi kapasitas karyawan tersebut. Akibatnya karyawan tersebut mudah lelah dan berada dalam "tegangan tinggi". Overload secara kualitatif bila pekerjaan tersebut sangat kompleks dan sulit, sehingga menyita kemampuan teknis dan kognitif karyawan, c).Deprivational stress. George Everly dan Daniel Girdano, dua orang ahli dari Amerika memperkenalkan istilah deprivational stress untuk menjelaskan kondisi pekerjaan yang tidak lagi menantang, atau tidak lagi menarik bagi karyawan. Biasanya keluhan yang muncul adalah kebosanan, ketidakpuasan, atau pekerjaan tersebut kurang mengandung unsur sosial (kurangnya komunikasi sosial), d)Pekerjaan Berisiko Tinggi. Ada jenis pekerjaan yang beresiko tinggi, atau berbahaya bagi keselamatan, seperti pekerjaan di pertambangan minyak lepas pantai, tentara, pemadam kebakaran, pekerja tambang, bahkan pekerja cleaning service yang biasa menggunakan gondola untuk membersihkan gedung-gedung bertingkat. Pekerjaan-pekerjaan ini sangat berpotensi menimbulkan stress kerja karena mereka setiap saat dihadapkan pada kemungkinan terjadinya kecelakaan.

Selain itu juga ada masalah peran. Konflik Peran. Ada sebuah penelitian menarik tentang stress kerja menemukan bahwa sebagian besar karyawan yang bekerja di perusahaan yang sangat besar, atau yang kurang memiliki struktur yang jelas, mengalami stress karena konflik peran. Mereka stress karena ketidakjelasan peran dalam bekerja dan tidak tahu apa yang diharapkan oleh manajemen.(Rice dalam Rini). Kenyataan seperti ini mungkin banyak dialami pekerja di Indonesia, dimana perusahaan atau organisasi tidak punya garis-garis haluan yang jelas, aturan main, visi dan misi yang seringkali tidak dikomunikasikan pada seluruh karyawannya. Akibatnya, sering muncul rasa ketidakpuasan kerja, ketegangan, menurunnya prestasi hingga akhirnya timbul keinginan untuk meninggalkan pekerjaan.

(16)

4

konflik peran sebagai wanita karir sekaligus ibu rumah tangga. Terutama dalam alam kebudayaan Indonesia, wanita sangat dituntut perannya sebagai ibu rumah tangga yang baik dan benar sehingga banyak wanita karir yang merasa bersalah ketika harus bekerja. Perasaan bersalah ditambah dengan tuntutan dari dua sisi, yaitu pekerjaan dan ekonomi rumah tangga, sangat berpotensi menyebabkan wanita bekerja mengalami stress.

Kemudian ada kesempatan pengembangan karir. Pengembangan Karir, setiap orang pasti punya harapan-harapan ketika mulai bekerja di suatu perusahaan atau organisasi. Bayangan akan kesuksesan karir, menjadi fokus perhatian dan penantian dari hari ke hari. Namun pada kenyataannya, impian dan cita-cita mereka untuk mencapai prestasi dan karir yang baik seringkali tidak terlaksana. Alasannya bisa bermacam-macam seperti ketidakjelasan sistem pengembangan karir dan penilaian prestasi kerja, budaya nepotisme dalam manajemen perusahaan, atau karena sudah “mentok” alias tidak ada kesempatan lagi untuk naik jabatan.

Dan yang terakhir yaitu struktur organisasi. Gambaran perusahaan Asia dewasa ini masih diwarnai oleh kurangnya struktur organisasi yang jelas. Salah satu sebabnya karena perusahaan di Asia termasuk Indonesia, masih banyak yang berbentuk family business. Kebanyakan (family) business dan bisnis-bisnis lain di Indonesia yang masih sangat konvensional dan penuh dengan budaya nepotisme, minim akan kejelasan struktur yang menjelaskan jabatan, peran, wewenang dan tanggung jawab. Tidak hanya itu, aturan main yang terlalu kaku atau malah tidak jelas, iklim politik perusahaan yang tidak sehat serta minimnya keterlibatan atasan membuat karyawan jadi stress karena merasa seperti anak ayam kehilangan induknya segala sesuatu menjadi tidak jelas.

Menurut Iqbal (2012) menyatakan bahwa stress kerja adalah ancaman bagi kerjasama karyawan, karena persaingan yang ketat dalam lingkungan organisasi yang menempatkan lebih banyak tekanan pada karyawan untuk bekerja serta memiliki ekspektasi yang tinggi. Jadi hubungan antara karyawan sangat dibutuhkan agar meminimalkan stress kerja pada karyawan.

(17)

5

center sangat bervariasi sehingga membutuhkan pengembangan pemeriksaan stress agar bisa meminimalkan sress kerja pada karyawan.

Menurut Mansoor et al (2011) individu yang berada di bawah tekanan yang berlebihan cenderung tugasnya kurang memuaskan. Subyek dengan kepuasan kerja lebih rendah mengalami stress kerja dalam bentuk beban kerja,konflik peran dan linhgkungan fisik dibandingkan dengan kepuasan kerja yang lebih tinggi. Karena persaingan yang ketat dalam industri telekomunikasi semakin banyak organisasi yang mengerahkan menekan karyawan agar mampu bersaing satu sama lain dan bertentangan dengan kebutuhan. Beban kerja secara berlebihan dan kondisi kerja fisik menyebabkan stress kerja yag menurunkan kepuasan kerja karyawan tersebut.

Menurut Tunjungsari (2011) yang meneliti tentang Pengaruh Stres Kerja terhadap Kepuasan Kerja Karyawan Pada Kantor Pusat PT. Pos Indonesia (Persero) Bandung menyimpulkan bahwa karyawan mengalami stres kerja karena beban kerja yang banyak. Sedangkan hubugan stres kerja dan kepuasan kerja cukup kuat karena sisianya dipengaruhi oleh faktor-faktor di luar variabel stress kerja. Hal ini berarti stres kerja yang dialami karyawan tidak terlalu tinggi sehingga masih dapat diantisipasi dengan melakukan pekerjaan yang lebih baik dan menyebabkan para karyawan tetap merasa puas akan hasil pekerjaannya.

Menurut Fraser (1992:77), stres timbul setiap kali karena adanya perubahan dalam keseimbangan sebuah kompleksitas antara manusia-mesin dan lingkungan. Karena kompleksitas itu merupakan suatu sistem interaktif, maka stres yang dihasilkan tersebut ada diantara beberapa komponen sistem. Dilihat dari segi operasional dan antropometrik, manusia merupakan komponen terlemah dalam sistem itu, maka biasanya sebagian atau seluruh ketegangan yang diakibatkannya terwujud dalam tangan manusia.

Dengan demikian, stress terjadi dalam komponen-komponen fisik. Pekerjaan atau lingkungan sosial pekerjaan biasanya dapat mengakibatkan ketegangan pada manusia, baik karena sebab-sebab yang rumit ataupun yang sederhana.

(18)

6

langsung menetapkan faktor kondisi lingkungan kerja yang tidak aman adalah jalur bahaya stress.

Riva Garment merupakan layanan jasa produksi pakaian jadi, sablon, bordir dan lain. Jenis usaha berupa Jaket, Celana, Kaos, Jumpsuit, Seragam, Holster, dll. Berdiri sejaktahun 2007 Dengan pekerja kurang lebih 500 karyawan. Rata-rata perbulan kapasitas produksi 30876 perbulan dan 370,508 pcs/tahun. Para pekerja di CV. Riva Garment dituntut untuk bekerja secara teliti, harus memenuhi target jika tidak dapat memenuhi targetnya para pekerja di tuntut untuk menambah jam kerjanya. Jadi membutuhkan kondisi badan yang fit dan harus mau berada dibawah tekanan. Serta kondisi kerja dengan cuaca panas, kebisingan, dan adanya serbuk dari kain juga mesin-mesin yang cukup berbahaya menyebakan karyawan harus berkonsentrasi terhadap pekerjaannya. Di sisi lain juga di pengaruhi oleh pergaulan antar karyawan karena terdapat perbedaan umur, jenis kelamin dan jenis pekerjaannya sehingga konflik antar pekerja dapat terjadi kapan saja. Dari semua hal diatas jika para karyawan tidak dapat menanganinya dengan baik maka akan menimbulkan masalah yaitu stress kerja. dari stress kerja ini dapat mengganggu individu tersebut dan juga perusahaan. Misalnya jika pada individu yang mengalami stress kebosanan dan agresivitas, gangguan tidur, kehilangan kreativitas dll. Hal ini berdampak pada hasil produksi misalnya banyak barang yang rusak. Sedangkan untuk perusahaan tingginya tingkat absensi dan tidak tercapainya hasil produksi yang akan di capai oleh perusahaan.

Dari hasil wawancara dengan salah satu karyawan tentang bagaimana perasaan selama berada di perusahaan tersebut, ditemukan bahwa terkadang karyawan merasa bosan dan jenuh dengan setiap hari pekerjaannya seperti itu yang selalu dibawah tekanan. Apalagi ketika ada masalah dengan teman sekerjanya ia merasa malas untuk masuk kerja dan menjadi lebih pendiam.

Jika kondisi di tempat kerja nyaman dan kondusif diharapkan para karyawan

juga nyaman pada saat bekerja. Sehingga karyawan dan perusahaan sama-sama

mendapatkan hasil yang memuaskan. Karyawan mendapatkan kesehatan yang baik

dan juga dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik dan tepat waktu dari target

perusahaan. Sedangkan perusahaan dapat memenuhi target yang telah direncanakan

(19)

7

Berdasarkan latar belakang diatas berbagai kendala yang dapat dialami oleh karyawan peneliti mengambil judul: Stress Kerja pada Karyawan CV. Riva Garment di Probolinggo.

B. Rumusan Masalah

Bagaimana tingkat stress kerja karyawan di CV. Riva Garment Probolinggo?

C. Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui tingkatstress kerja karyawan di CV. Riva Garment Probolinggo.

D. Manfaat Penelitian

1. Secara teoritik

Memberikan sumbangan kepada psikologi industri dan organisasi khususnya psikologi keselamatan dan kesehatan kerjaserta memperkaya hasil penelitian tentang Stress Kerja pada Karyawan.

2. Secara praktis

Referensi

Dokumen terkait

Dengan demikian terlihat bahwa mayoritas karyawan menghayati bahwa imbalan yang diberikan perusahaan bernilai bagi karyawan, serta memiliki keyakinan bahwa imbalan

Pihak perusahaan sebaiknya selalu memperhatikan kepuasan kerja, pemberdayaan karyawan, dan stres kerja karyawan sehingga karyawan akan memiliki komitmen yang

Dengan terhindarnya konflik yang merugikan produktivitas kerja perusahaan serta pemecahan masalah yang menyebabkan stres kerja karyawan, maka akan memacu perusahaan

Skripsi yang berjudul Pengaruh “ Pengaruh Gaya Kepemimpinan dan Stres Kerja Terhadap Kinerja Karyawan di CV.. Disusun untuk memenuhi serta melengkapi syarat

Jika karyawan memiliki dorongan yang kuat dari dalam dirinya atau dorongan dari luar dirinya (misalnya dari perusahaan), maka karyawan akan terangsang atau terdorong untuk

Karyawan PT Telkomsel Branch Malang cenderung cukup setuju bahwa karyawan memiliki stres kerja dalam perusahaan. Variabel stres kerja ini terdapat 10 item pernyataan, dari

Herzberg (1966) juga menambahkan bahwa terdapat dua keadaan, yaitu kondisi saat seorang karyawan bisa menjadi termotivasi dalam waktu singkat, akan tetapi untuk

kemampuan yang dimiliki karyawan diiringi dengan pemberian motivasi kerja yang cukup dari pimpinan perusahaan, maka karyawan tersebut diharapkan dapat menggerakkan