Anastesi Infiltrasi Pada Episiotomi

Teks penuh

(1)

AN ASTESI I N FI LTRASI PAD A EPI SI OTOM I

M UH AM M AD RUSD A

Ba gia n Obst e t r i D a n Gin e k ologi Fa k u lt a s Ke dok t e r a n Un iv e r sit a s Sum a t e r a Ut a r a

PEN DAHULUAN

Prinsip tindakan episiotom i adalah pencegahan kerusakan yang lebih hebat pada j aringan lunak akibat daya regang yang m elebihi kapasitas adaptasi atau elastisitas j aringan t ersebut . Oleh sebab itu, pert im bangan untuk m elakukan episiot om i harus m engacu pada pert im bangan klinik yang t epat dan t ehnik yang paling sesuai dengan kondisi yang sedang dihadapi.1

Berdasarkan em piris, banyak kasus- kasus yang dilakukan episiot om i, karena nyeri wakt u m enjahit luka m enyulit kan petugas, sehingga t indakan yang seharusnya dapat diselesaikan dalam wakt u singkat akan m em akan wakt u yang lebih lam a dan kem ungkinan kej adian infeksi akan lebih t inggi. Disam ping it u aproksim asi anat om i luka akan lebih sulit dilakukan karena pasien dalam keadaan gelisah, hal ini j uga akan ikut m engganggu penyem buhan luka.

Berdasarkan hal t ersebut diatas penulis ingin m enyusun suatu t ulisan t ent ang anast esi infilt rasi lokal pada episiot om i.

DEFI N I SI2

Episiot om i adalah suat u t indakan operat if berupa sayat an pada perineum m eliput i selaput lendir vagina, cincin selaput dara, j aringan pada septum rekt ovaginal, ot ot -ot -ot dan fascia perineum dan kulit depan perineum .

I N DI KASI

I ndikasi episiot om i dapat berasal dari fakt or ibu m aupun fakt or j anin.1,2 I ndikasi ibu ant ara lain adalah:

a. Prim igravida um um nya

b. Perineum kaku dan riwayat robekan perineum pada persalinan yang lalu

c. Apabila t erj adi peregangan perineum yang berlebihan m isalnya pada persalinan sungsang, persalinan dengan cunam , ekst raksi vakum dan anak besar

d. Arkus pubis yang sem pit

I ndikasi j anin ant ara lain adalah:

a. Sewaktu m elahirkan j anin prem atur. Tuj uannya untuk m encegah t erj adinya t raum a yang berlebihan pada kepala j anin.

b. Sewaktu m elahirkan j anin let ak sungsang, let ak defleksi, j anin besar.

c. Pada keadaan dim ana ada indikasi unt uk m em persingkat kala I I seperti pada gawat j anin, tali pusat m enum bung.

Kont ra indikasi episiot om i antara lain adalah:

(2)

b. Bila t erdapat kondisi untuk t erjadinya perdarahan yang banyak sepert i penyakit kelainan darah m aupun t erdapatnya varises yang luas pada vulva dan vagina.

JEN I S EPI SI OTOMI3 ,4

Sayat an episiot om i um um nya m enggunakan gunt ing khusus, t etapi dapat j uga sayatan dilakukan dengan pisau. Berdasarkan lokasi sayatan m aka dikenal 4 j enis episiot om i yait u:

a. Episiot om i m edialis.

Sayat an dim ulai pada garis t engah kom issura post erior lurus ke bawah t et api t idak sam pai m engenai serabut sfingt er ani.

Keunt ungan dari episiot om i m edialis ini adalah:

ª perdarahan yang t im bul dari luka episiot om i lebih sedikit oleh karena m erupakan daerah yang relat if sedikit m engandung pem buluh darah. ª sayat an bersifat sim et ris dan anat om is sehingga penj ahit an kem bali lebih

m udah dan penyem buhan lebih m em uaskan.

Kerugiannya adalah dapat t erj adi r upt ur perinei t ingkat I I I inkom plet ( laserasi m .sfingt er ani) at au kom plet ( laser asi dinding rekt um ) .

b. Episiot om i m ediolat eralis

Sayat an disini dim ulai dari bagian belakang int roit us vagina m enuj u ke arah belakang dan sam ping. Arah sayat an dapat dilakukan ke arah kanan at aupun kiri, t ergant ung pada kebiasaan orang yang m elakukannya. Panj ang sayat an kira- kira 4 cm .

Sayat an disini sengaj a dilakukan m enj auhi ot ot sfingt er ani unt uk m encegah rupt ura perinei t ingkat I I I . Perdarahan luka lebih banyak oleh karena m elibat kan daerah yang banyak pem buluh darahnya. Ot ot - ot ot perineum t erpot ong sehingga penj ahit an luka lebih sukar. Penj ahit an dilakukan sedem ikian rupa sehingga set elah penj ahit an selesai hasilnya harus sim et ris.

c. Episiot om i lat eralis

Sayat an disini dilakukan ke arah lat eral m ulai dari kira- kira j am 3 at au 9 m enurut arah j arum j am . Jenis episiot om i ini sekarang t idak dilakukan lagi, oleh karena banyak m enim bulkan kom plikasi. Luka sayat an dapat m elebar k e arah dim ana t erdapat pem buluh darah pudendal int erna, sehingga dapat m enim bulkan perdarahan yang banyak. Selain it u parut yang t erj adi dapat m enim bulkan rasa nyeri yang m engganggu penderit a.

d. I nsisi Schuchardt .

(3)

Gam bar 1. Jenis episiot om ( dikut ip dari Benson3)

SAAT MELAKUKAN EPI SI OTOMI5 ,6 ,7

Bila episiot om i dilakukan t erlalu cepat , m aka perdarahan yang t im bul dari luka episiot om i bisa t er lalu banyak, sedangkan bila episiot om i dilakukan t erlalu lam bat m aka ot ot - ot ot dasar panggul sudah sangat t eregang sehingga salah sat u t uj uan episiot om i it u sendiri t idak akan t ercapai.

Berdasarkan hal- hal t ersebut diat as banyak penulis m enganj urkan episiot om i dilakukan pada saat kepala j anin sudah t erlihat dengan diam et er 3 - 4 cm pada w akt u his.

Pada penggunaan cunam beberapa penulis m elakukan episiot om i set elah cunam t erpasang t et api sebelum t raksi dilakukan, dengan alasan bahwa bila dilakukan sebelum pem asangan, akan m em perbanyak perdarahan sert a m em perbesar resiko perluasan luka episiot om i yang t idak t erkont rol selam a pem asangan cunam .

Pada persalinan let ak sungsang, episiot om i sebaiknya dilakukan sebelum bokong lahir, dengan dem ikian luasnya episiot om i dapat disesuaikan dengan kebut uhan.

PEN JAH I TAN ( REPAI R) LUKA EPI SI OTOM I4

Tehnik penj ahit an luka episiot om i sangat m enent ukan hasil penyem buhan luka episiot om i, bahkan lebih pent ing dari j enis episiot om i it u sendiri. Penj ahit an biasanya dilakukan set elah plasent a lahir, kecuali bila t im bul perdarahan yang banyak dari luka episiot om i m aka dilakukan dahulu hem ost asis dengan m engklem at au m engikat pem buluh darah yang t erbuka.

Beberapa prinsip dalam penj ahit an luka episiot om i y ang harus diperhat ik an adalah sebgai berikut :

1. Penyingkapan luka episiot om i yang adekwat dengan penerangan yang baik, sehingga rest orasi anat om i luka dapat dilakukan dengan baik.

(4)

4. Pencegahan penem busan kulit oleh j ahit an dan m encegah t egangan yang berlebihan.

5. Jum lah j ahit an dan sim pul j ahit an diusahakan sem inim al m ungkin. 6. Hat i- hat i agar j ahit an t idak m enem bus rekt um .

7. Unt uk m encegah kerusakan j aringan, sebaiknya dipakai j arum at raum at ik.

AN ASTESI LOKAL PAD A EPI SI OTOM I SEJARAH8

Penggunaan anast esi lokal unt uk pencegahan rasa sakit selam a operasi, dim ulai lebih dari 100 t ahun yang lalu sewakt u Kaller ( 1884) seorang opt halm ologist di Wina, m encat at kegunaan dari kokain suat u est er dari asam para am ino benzoat ( PABA) , dalam m enghasilkan anst esi korneal.

Penerim aan anast esi lokal sangat cepat dan anast esi lokal yang baru segera m uncul m engikut i dit em ukannya kokain.

Anast esi inj eksi yang pert am a adalah est er lain dari PABA yait u Procaine yang disint esa oleh Einhorn pada t ahun 1905. Obat ini t erbukt i t idak ber sifat addiksi dan j auh kurang t oksik dibanding kokain. Est er- est er lain t elah dibuat t erm asuk Benzocaine, Dibucaine, Tet racaine dan Chloroprocaine, dan sem uanya t erbukt i sedikit t oksisit asnya, t et api kadang- kadang m enunj ukkan sensit isasi dan reaksi alergi.

Penelit ian unt uk anast esi lokal t erus berlangsung sehingga banyak obat - obat dengan berbagai keunt ungan dapat digunakan pada saat ini.

AN ATOM I D AN PERSYARAFAN PERI N EUM9

Perineum m erupakan bagian perm ukaan dari pint u baw ah panggul, t erlet ak ant ara vulva dan anus. Perineum t erdir i dari ot ot dan fascia urogenit alis sert a diafragm a pelvis. Diafragm a urogenit alis t erlet ak m enyilang arkus pubis diat as fascia superfisialis perinei dan t erdiri dari ot ot - ot ot t ransversus perinealis profunda. Diafragm a pelvis dibent uk oleh ot ot - ot ot koksigis dan levat or ani yang t erdir i dari 3 ot ot pent ing yait u: m .puborekt alis, m .pubokoksigis, dan m .iliokoksigis. Susunan ot ot t ersebut m erupakan penyangga dari st rukt ur pelvis, diant aranya lewat uret hra, vagina dan rekt um .

Perineum berbat as sebagai berikut :

1. Ligam ent um arkuat a dibagian depan t engah.

2. Arkus iskiopubik dan t uber iskii dibagian lat eral depan. 3. Ligam ent um sakrot uberosum dibagian lat eral belakang. 4. Tulang koksigis dibagian belakang t engah.

Daerah perineum t erdiri dari 2 bagian, yait u:

1. Regio anal disebelah belakang. Disini t er dapat m . sfingt er ani ekst erna yang m elingkari anus.

2. Regio urogenit alis. Disini t erdapat m . bulbokavernosus, m . t ransversus perinealis superfisialis dan m . iskiokavernosus.

Perineal body m erupakan st rukt ur perineum yang t erdiri dari t endon dan sebagai t em pat bert em unya serabut - serabut ot ot t ersebut diat as.

(5)

m eninggalkan pelvis m elalui foram en sciat ic m ayor dan m elalui lat er al ligam ent um sakrospinosum , kem bali m em asuki pelv is m elalui foram en sciat ic m inor dan kem udian lew at sepanj ang dinding sam ping fossa ilior ekt al dalam suat u ruang fasial yang disebut kanalis Alcock. Begit u m em asuki kanalis Alcock, n. pudendus t erbagi m enj adi 3 bagian / cabang ut am a, yait u: n. hem orrhoidalis inferior diregio anal, n. perinealis yang j uga m em bagi diri m enj adi n. labialis post erior dan n. perinealis profunda ke bagian ant erior dari dasar pelvis dan diafragm a urogenit al; dan cabang ket iga adalah n. dorsalis klit oris.

Perdarahan ke perineum sam a dengan perj alanan syaraf yait u berasal dar i art er i pudenda int erna yang j uga m elalui kanalis Alcock dan t erbagi m enj adi a. hem orrhoidalis inferior, a. perinealis dan a. dorsalis klit or is.

Gam bar 2. Persyarafan perineum ( dikut ip dari Bonica9)

D . SI FAT UM UM AN ESTESI LOKAL ( 1 0 ,1 1 ,1 2 )

Secara kim iaw i anest esi lokal digolongkan at as 2 senyawa : 1. Est er

2. Am ide

Adanya ikatan est er sangat m enentukan sifat anest esi lokal sebab pada degradasi dan akt ivasi dalam t ubuh gugus t ersebut akan dihidrolisis oleh plasm a cholinest erase, dengan dem ikian golongan est er um um nya kurang st abil dan m udah m engalam i m et abolism e dibandingkan golongan am ide.

M EKAN I SM E KERJA ( 1 0 ,1 1 ,1 2 ,1 3 )

Anest esi lokal m encegah pem bent ukan dan konduksi im puls syaraf. Tem pat kerj anya t erut am a pada m em bran sel, efeknya pada aksoplasm a hanya sedikit saj a. Sebagaim ana diket ahui, pot ensial aksi syaraf t erj adi karena adanya peningkat an sesaat ( sekilas) pada perm eabilit as m em bran t erhadap ion Na+ akibat depolarisasi ringan pada m em bran. Proses inilah yang diham bat anest esi lokal. I ni t erj adi akibat adanya int eraksi langsung ant ara zat anest esi lokal dengan kanal Na+ yang peka t erhadap perubahan volt ase m uat an list rik ( volt ase sensit ive Na+ channels) .

(6)

Kerj a anestesi lokal j uga dipengaruhi :(11,12,13,14) 1 . pka :

Obat anest esi lokal yang m em punyai pka m endekat i PH fisiologis m is: 7,4 akan m em punyai konsent rasi basa nonionisasi yang t inggi dan akan m udah m enem bus m em bran sel syaraf sehingga “ onset of act ion “ akan lebih cepat .

2 . Lipid Solubilit y :

Kem am puan obat anast esi lokal untuk m enem bus lingkungan hydrophobic sehingga m akin m udah larut dalam lem ak, m aka “ durat ion of act ion” sem akin panj ang.

3 . Prot ein Binding :

Obat anast esi lokal yang berikatan dengan plasm a protein (α1- acid glycoprot ein) , m aka “ duration of act ion” obat anast esi lokal m enj adi lebih panj ang.

Oleh karena it u sangat hat i- hat i pada pasien dengan plasm a prot ein yang rendah, dan obat akan bebas dalam sirkulasi darah sehingga akan t im bul efek t oksik pada pasien.

(7)

PHYSI COCHEMI CAL OBAT AN ASTESI LOKAL ( 1 1 )

(8)

I n filt r a si Lok a l

Obat anast esi disunt ikkan disekit ar daerah operasi dengan cara infilt rasi. Pada episiot om i, infilt rasi obat anast esi harus m engenai m ukosa vagina dan kulit perineum .

Te h n ik a na st e si da pa t dilih a t pa da ga m ba r

Gam bar 3. Tehnik anast esi infilt rasi lokal pada episiot om i. ( Dikut ip dari Bonica9)

KOM PLI KASI AN ASTESI LOKAL

Menurut De Jong respons yang t idak enak / t idak dapat dikendalikan dari anast esi lokal sering disebut “ reaksi” yang dibagi t erpisah dalam 2 kat egori, yait u: H reaksi sist em ik dan

H reaksi lokal.8

Reaksi sist em ik terjadi j ika obat m enyebar dalam darah dan m em ungkinkannya m encapai organ- organ yang j auh. Efek sist em ik yang disebabkan oleh zat anast esi lokal paling banyak m elibatkan susunan syaraf pusat ( SSP) dan sist em kardiovaskuler.

(9)

Epinefrin m engurangi kecepat an absorbsi anast esi lokal sehingga akan m engurangi j uga t oksisit as sist em iknya.

Dalam klinik, larut an sunt ik anast esi lokal biasanya m engandung epinefrin ( 1 dalam 200.000 bagian) , norepinefrin ( 1 dalam 100.000 bagian) . Pada um um nya zat vasokonst rikt or ini harus diberikan dalam kadar efekt if m inim al.

Reaksi lokal:

1. Nyeri pada penyunt ikan 2. Rasa t erbakar

3. Anast esia persist en 4. I nfeksi

5. Edem a

6. Toksisit as lokal

KEPUSTAKAAN

1.Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehat an Mat ernal dan Neonat al. Yayasan Bina Pust aka Sarwono Prawirohardj o, Jakart a, 2001; 455–458 .

2.Albar, E. Peraw at an Luka Jalan Lahir, I lm u Bedah Kebidanan, Edit . H. Wiknj osast ro, Yayasan Bina Pust aka Sarwono Praw irohardj o, Jakart a, 2000; 170- 187.

3.Benson RC, Pernoll ML. Hand book of Obst et ric & Gynaecology , Mc Graw- Hill, I nc, 9 t h ed, 1994; 362- 372.

4.Cunningham FG, Mac Donald PC, Gan NF et al. William s Obst et rics, 20 t h ed. Applet on and Lange, 1997; 342- 345

5.Craigo S.D, Kapernick P.S , Current Obst et ric and Gynaecology Diagnosis and Treat m ent 8t h ed.Prent ice Hall I nt ernat ional I nc.1994; 222- 223.

6.Dut t a DC,Text Book of Obst et ric.4t h Ed.New Cent ral Book Agency ( P) Lt d.,Calcut t a.I ndia.1998; 605- 608.

7.Arias F.Pract ical Guide t o High Risk Pregnancy and Delivery.2nd Ed.Mosby Year Book I nc.USA.1993; 434- 435.

8.De Jong, HR. Local anest hesia, Charles C Thom as Publisher Springfield, I llinois, USA,2nd ,1977; 247- 256

9.Bonica, John J. Principles and Pract ice of Obst et ric Analgesia and Anest hesia, FA Davis Co. Philadelphia, 2nd ed, 1995; 501- 513

10. Ganiswara SG; Farm akologi dan Terapi , ed.4, Bag. Farm akologi FK- UI , Jakart a, 1995; 234- 247.

11.Morgan G E ; Clinical Anest hesiology, 2nd ed., Prent ice- Hall I nt .I nc. ,London, 1996; 193.

12.St oelt ing R K; Pharm acology and Physiology in Anesthet ics Practice, 3rd ed. Lippincott - Raven, Publishers, New York 1996; 167

13.Miller R D ; Anesthesia, 5th ed.,Vol I , Churchill- Livingst one, Philadelphia, 2000; 491- 512.

14.Healy T J; Wylie and Churchill- Davidson’s ; A Pract ice of Anest hesia, 6th ed. Edward Arnord, London, 1993; 180.

Figur

Gambar 1. Jenis episiotom (dikutip dari Benson3)
Gambar 1 Jenis episiotom dikutip dari Benson3 . View in document p.3
Gambar 2. Persyarafan perineum (dikutip dari Bonica9)
Gambar 2 Persyarafan perineum dikutip dari Bonica9 . View in document p.5
Gambar 3. Tehnik anastesi infiltrasi lokal pada episiotomi.
Gambar 3 Tehnik anastesi infiltrasi lokal pada episiotomi . View in document p.8

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :