• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Budidaya Lily Potong (Lilium Spp.) di Kebun Cibodas PT. Puri Sekar Asri Lembang-Bandung, Jawa Barat.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Studi Budidaya Lily Potong (Lilium Spp.) di Kebun Cibodas PT. Puri Sekar Asri Lembang-Bandung, Jawa Barat."

Copied!
211
0
0

Teks penuh

(1)

LEMBANG-BANDUNG, JAWA BARAT

ISTIR SYADAH

A24070141

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(2)

Cultivation Study of Lily Cut Flower at Cibodas Field PT. Puri Sekar Asri, Lembang, Bandung, West Java

Istir Syadah1, Desta Wirnas2, Surjono Hadi Sutjahjo2 1

Mahasiswa Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB 2

Staf Pengajar Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB

Abstract

Lily as cut flower is one of ornamental plant which has high price in Indonesia. High demand of lily cut flower in domestic market must be followed by good agriculture practices to decrease the lost product. The internship was implemented at PT. Puri Sekar Asri, Lembang, Bandung which supplies lily as cut flower. The purposes of this internship were to know, learn and analyze the harvest and postharvest management of lily cut flower that carried out in Cibodas field and also to increase the basic knowledge and skills of the author related to the cultivation, harvest and postharvest handling on lily cut flower. Through the observations of five lily varieties which were cultivated in Cibodas field, Crystal Blanca variety was the most widely cultivated variety. The development of lilies were based on each characteristic of the variety and its growing environment. Cool storage could be extending the vaselife of lily cut flower for 5 days. Exact Harvest and postharvest standardization and practices have not been fully implemented by workers at the company .it can be seen from the very high presentage of harvesting error at Acapulco dan Rio Negro variety which can reach over 50% and high presentage grading errors at Lake Carey variety which can reach 40%.

(3)
(4)

ISTIR SYADAH. Studi Budidaya Lily Potong (Lilium Spp.) di Kebun Cibodas PT. Puri Sekar Asri Lembang-Bandung, Jawa Barat. (Dibimbing oleh DESTA WIRNAS dan SURJONO HADI SUTJAHJO).

Kegiatan magang dilaksanakan selama empat bulan di kebun budidaya

Cibodas PT. Puri Sekar Asri dimulai pada bulan Maret hingga Juli 2011. Kegiatan

yang dilakukan penulis selama magang adalah bekerja sebagai karyawan harian

selama satu bulan, pendamping kepala bagian selama satu bulan dan pendamping

manajer kebun selama dua bulan. Kegiatan magang ini bertujuan untuk

mempelajari teknik budidaya lily khususnya aspek panen dan pasca panen bunga

potong lily secara langsung di PT. Puri Sekar Asri serta untuk meningkatkan

kemampuan, keterampilan, dan pengetahuan mahasiswa dalam kegiatan budidaya,

pengelolaan produksi maupun aspek manajerial usaha bunga potong lily.

Kebun produksi bunga potong PT. Puri Sekar Asri terletak di Desa

Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Letak

geografis PT. Puri Sekar Asri berada pada titik koordinat 6o48’42” LS-107o37’3” BT. Kebun produksi Cibodas terletak pada ketinggian 1260 m di atas permukaan

laut (dpl). Kantor pusat PT. Puri Sekar Asri beralamat di Jl. Pangkalanjati, Pondok

Labu, Jakarta Selatan, sedangkan kebun produksi bunga potong terletak di Desa

Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Suhu

harian rata-rata Desa Cibodas adalah 15 oC - 24 oC dan kelembaban relatif harian rata-rata 82%. Jenis tanah yang terdapat di kebun produksi Cibodas adalah

Andosol. Kebun produksi Cibodas dikelola oleh 1 orang manajer divisi kebun, 3

orang kepala bagian subdivisi, 3 orang tenaga kerja pria dan 5 orang tenaga kerja

wanita.

Kegiatan budidaya bunga potong lily secara keseluruhan dilaksanakan di

kebun budidaya Cibodas yang dimulai dari penanaman hingga pascapanen. Umbi

yang ditanam di kebun merupakan umbi siap tanam dan diimpor langsung dari

perusahaan bulb grower bernama jan de wit en zonen bv di Belanda. Produksi lily

(5)

Pengamatan yang dilakukan adalah pengamatan terhadap pertumbuhan

tanaman lily (vegetative dan generatif), pemanenan (kriteria panen, persentase

hasil panen dan persentase kesalahan panen), pasca panen (kriteria grading,

persentase grade dan persentase kesalahan grade) dan vase life bunga potong lily.

Pengamatan dilakukan pada lima varietas lily yang ditanam yaitu Acapulco,

Conca D’or, Rio Negro, Lake Carey dan Crystal Blanca.

Umbi lily ditanam pada bedengan berukuran ± 30 x 1 m dengan jarak

tanam ± 20 x 15 cm. Media tanam yang digunakan berupa campuran antara tanah

dengan pupuk dasar (kotoran ayam, sekam dan kotoran sapi). Kegiatan

pemeliharaan yang dilakukan adalah penyiraman, pemupukan, pengendalian

gulma, pengendalian hama dan penyakit serta pinching.

Perbedaan pertumbuhan antar varietas lily yang ditanam disebabkan oleh

perbedaan karakteristik masing-masing varietas. Kondisi screenhouse yang masih

dalam tahap perbaikan menyebabkan perlindungan tanaman lily dari lingkungan

kurang optimal sehingga mempengaruhi kondisi fisik tanaman lily. Penerapan

standar perusahaan baik saat panen maupun saat grading belum diterapkan

dengan baik. Hal ini terlihat dari persentase kesalahan panen sebesar 84 % pada

varietas Acapulco dan persentase kesalahan grading sebesar 40 % pada varietas

Lake Carey. Kurangnya jumlah pekerja yang memenuhi kualifikasi pada kegiatan

panen dan pasca panen serta pengawasan terhadap proses panen maupun pasca

panen merupakan kendala utama yang sedang dihadapi perusahaan, sehingga

diperlukannya evaluasi serta pengawasan yang lebih ketat pada proses panen

(6)

LEMBANG-BANDUNG, JAWA BARAT

Skripsi sebagai salah satu syarat

untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian

pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor

ISTIR SYADAH

A24070141

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(7)

BANDUNG, JAWA BARAT.

Nama :

ISTIR SYADAH

NIM :

A24070141

Menyetujui,

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Dr. Desta Wirnas, SP. M.Si. Prof. Dr. Ir. Surjono H. Sutjahjo, M.S. NIP. 19701228 200003 2 001 NIP. 19600204 198503 1 003

Mengetahui,

Ketua Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor

Dr. Ir. Agus Purwito, M.Sc. Agr. NIP. 19611101 198703 1 003

(8)

Penulis dilahirkan di Pontianak, Kalimantan Barat pada 1 Juni 1989 yang

merupakan anak ketiga dari Hj. Dra. Roswati A.W. dan H. A. Hasan Gaffar.

Tahun 2001 penulis lulus pendidikan Sekolah Dasar di MINT Bawamai

Pontianak, kemudian pada tahun 2004 penulis menyelesaikan studi di MTs.

Assalaam Sukoharjo, Jawa Tengah. Tahun 2007 penulis menyelesaikan studi di

SMA Assalaam Sukoharjo, Jawa Tengah. Penulis diterima di Institut Pertanian

Bogor (IPB) dengan Program Studi Agronomi dan Hortikultura melalui jalur

Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada tahun 2007.

Penulis aktif dalam kegiatan Organisasi Mahasiswa Daerah (OMDA)

Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Kalimantan Barat (KPMKB) pada tahun 2007

hingga 2010. Penulis juga mengikuti beberapa kepanitiaan di dalam organisasi

seperti Gebyar Pertanian, Agrosportment dan Festival Tanaman. Penulis

melaksanakan kegiatan magang untuk penulisan skripsi selama empat bulan pada

bulan Maret hingga Juli 2011 di kebun budidaya Cibodas PT. Puri Sekar Asri,

(9)

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat

dan hidayah-Nya penulis diberi kemudahan dan kelancaran sehingga dapat

menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Skripsi magang yang berjudul “Studi

Budidaya Lily Potong (Lilium Spp.) di Kebun Cibodas PT. Puri Sekar Asri Lembang-Bandung, Jawa Barat” merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Departemen Agronomi dan

Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah

membantu dalam penyelsaian skripsi ini. Secara khusus penulis mengucapkan

terimakasih kepada :

1. Dr. Desta Wirnas, SP. MSi. dan Prof. Dr. Ir. Surjono H. Sutjahjo, MS.

selaku pembimbing skripsi yang telah memberikan bantuan, bimbingan,

ilmu dan pengarahan selama penyelesaian skripsi.

2. Dr. Ir. Faiza C. Suwarno, MS. selaku pembimbing akademik yang telah

membantu dan membimbing penulis selama masa perkuliahan.

3. Dr. Ir. Syarifah Iis Aisyah, MSc. Agr. selaku dosen penguji yang telah

memberikan saran dan masukan yang bermanfaat dalam penyusunan

skripsi ini.

4. Ayah, Mamak, Didi, Kak La, Kak Long, Bang Agus dan seluruh keluarga

besar Abdul Wahab dan Abdul Gaffar yang telah memberikan perhatian,

kasih sayang dan dukungan yang tidak pernah habis kepada penulis.

5. Seluruh staf PT. Puri Sekar Asri dan pekerja di kebun budidaya Cibodas

yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melaksanakan

kegiatan magang dan membantu penulis selama pelaksanaan magang

berlangsung.

6. AGH 44 terutama Ephie, Okti, Tahu, Ita, Eva, Lilies, Dita, Lia Juwita,

Galuh, Ipeh, Anne Syifa, Gina, Benny, Kosmas yang telah menjadi

sahabat setia serta memberikan dukungan dan motivasi penuh bagi

(10)

motivasi dan dukungan kepada penulis.

Semoga skripsi ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi

semua pihak yang membutuhkan.

Bogor, Januari 2012

(11)
(12)

KESIMPULAN DAN SARAN ... 81

Kesimpulan ... 81

Saran ... 82

DAFTAR PUSTAKA ... 83

(13)

Nomor Halaman

1. Data Penanaman Umbi Lily Selama Tiga Bulan (Februari-Mei

2011) ... 28

2. Jenis dan Komposisi Pupuk Cair yang Digunakan di Kebun

Produksi Cibodas ... 42

3. Jenis dan Komposisi Pestisida yang Digunakan di Kebun

Produksi Cibodas ... 44

4. Standar Panen yang Digunakan sebagai Acuan Pemanenan ... 49

5. Standar Grading Lily yang Digunakan di Kebun Produksi ... 52

6. Tinggi dan Jumlah Daun berbagai Varietas Lily pada

Pengamatan Terakhir ... 63

7. Panjang Kuntum dan Diameter Kuntum berbagai Varietas Lily

pada Pengamatan Terakhir ... 64

8. Jumlah Kuntum berbagai Varietas Lily ... 67

9. Persentase Panen terhadap Populasi Tanam berbagai Varietas

Lily ... 70

10.Standar Panen dan Persentase Kesalahan Panen Aktual Lily

Potong di Kebun Produksi Cibodas ... 74

11.Persentase Grade pada berbagai Varietas Lily di Kebun

Produksi Cibodas ... 76

12.Standar Grading Lily Potong di Kebun Produksi Cibodas ... 77

13.Persentase Kesalahan Grading Aktual Lily Potong di Kebun

(14)

Nomor Halaman

1. Alur Penanganan Pasca Panen Bunga Potong ... 16

2. Peta Lokasi Kebun Produksi Cibodas PT. Puri Sekar Asri ... 25

3. Perusahaan Bulb Grower yang Memasok Umbi Lily di PT. Puri Sekar Asri ... 33

4. Umbi Lily dalam Peti Kemas yang Diimpor dari Perusahaan Bulb Grower di Belanda ... 34

5. Pembersihan dan Pengolahan Lahan untuk Persiapan Tanam Lily ... 34

6. (a) Lokasi Pencampuran Pupuk Dasar dan (b) Pengalokasian Pupuk Dasar ... 35

7. Kegiatan Penyiraman pada Pengolahan Lahan Lanjutan ... 36

8. Shading Net ... 37

9. Papan Keterangan Tanam ... 37

10.(a) Kegiatan Penanaman dan (b) Supporting Net ... 38

11.(a) Kegiatan Penyiraman yang Dilakukan Karyawan dan (b) Shower yang Digunakan pada Ujung Selang ... 40

12.Sumber Air Irigasi Kebun Produksi Cibodas ... 40

13.Sprinkler ... 41

14.Kegiatan Pemupukan ... 42

15.Aplikasi Pupuk Cair ... 43

16.(a) Aplikasi Pestisida dan (b) Mesin Compressor ... 45

17.(a) Lily yang Terserang Aphid, (b) Lily yang Terserang Siput, (c) Lily yang Terserang Ulat dan (d) Hama Ulat pada Lily ... 46

(15)

20.(a) Kuntum Layak Panen pada Lily Jenis Acapulco, (b) Crystal

Blanca, (c) Rio Negro, (d) Conca D’or dan (e) Lake Carey ... 49

21.Kegiatan Sortasi Hasil Panen Lily ... 51

22.Kegiatan Grading pada Lily ... 52

23.Kegiatan Pengemasan dan Pembagian Pesanan pada Lily ... 53

24.(a) Pengemasan dengan Menggunakan Kardus dan (b) Pengemasan dengan Memanfaatkan Peti Kemas Umbi ... 54

25.(a) Alat Transportasi Berupa Mobil Boks Perusahaan dan (b) Mobil Paket ... 55

26.Kegiatan Penjemuran Lily... 56

27.(a) Penyimpanan Lily di Ruang Pendingin dan (b) Alat Pendingin/Cooler ... 57

28.Penampilan Bunga pada berbagai Varietas Lily ... 58

29.Umur Tanaman berbagai Varietas Lily di Kebun Produksi Cibodas 68

30.Produksi Lily Potong Tahun 2010 ... 69

31.Scoring Indeks Warna Kematangan Kuntum Lily Potong di Kebun Produksi Cibodas ... 72

32.Kerusakan pada Lily Akibat Kegiatan Panen dan Pasca Panen ... 77

(16)

Nomor Halaman

1. Jurnal Harian Magang Penulis di Kebun Produksi PT. Puri

Sekar Asri, Desa Cibodas, Lembang, Bandung, Jawa Barat ... 86

2. Volume Curah Hujan dan Jumlah Hari Hujan Desa Cibodas, Lembang, Bandung Tahun 2006-2010 ... 88

3. Data Suhu (oC), Kelembaban/RH, Curah Hujan Desa Cibodas, Lembang, Bandung Tahun 2011 ... 89

4. Lay Out Tata Guna Lahan Kebun Produksi Cibodas ... 95

5. Struktur Organisasi PT. Puri Sekar Asri ... 96

(17)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Bunga potong merupakan komoditi yang khas dan dijual dalam keadaan

segar. Keunggulan bunga potong adalah bentuk dan warnanya yang secara artistik

mampu menarik calon konsumen (Longdong, 2009). Bunga potong lily adalah

salah satu komoditas tanaman hias yang memiliki nilai jual cukup tinggi karena

memiliki bentuk yang indah, bau yang harum serta warna yang bermacam-macam

(Marlina, 2009). Harga bunga lily per tangkai di pasar domestik rata-rata jauh

lebih tinggi dibandingkan harga bunga potong lainnya (Haryani,1994). Tidak

hanya di Indonesia, di Eropa bunga lily juga termasuk bunga potong yang

mempunyai pasar tertinggi bersama-sama dengan mawar, tulip, krisan, dan

gerbera (Nainggolan 1995).

Sampai dengan tahun 1996, permintaan bunga potong lily dalam negeri

mencapai 10 juta tangkai per tahun atau sekitar delapan milyar rupiah. Permintaan

tersebut diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan perbaikan ekonomi dan

pembangunan pariwisata nasional (Yursak, 2003). Menurut data dari Direktorat

budidaya tanaman hias, ekspor bunga potong di Indonesia pada 2004 senilai USD

1.538.245 dengan negara tujuan Jepang, Korea Selatan, Singapura, Australia dan

USA. Hal ini menunjukkan bahwa adanya peluang dan potensi bagi bunga potong

lily untuk diekspor ke luar negeri.

Terdapat tiga jenis lily yang dibudidayakan di Indonesia yaitu Asiatic

hibrida, Oriental Hibrida dan Lilium longiflorum atau biasa disebut dengan Easter

Lily. Jenis lily yang paling cocok ditanam di Indonesia adalah jenis Oriental

Hibrida. Lily jenis ini juga lebih disukai konsumen karena bunganya indah dan

wangi (Direktorat Tanaman Hias, 2005).

Ketersediaan dan kualitas bunga potong lily merupakan faktor penting

sebagai bunga potong yang diminati. Hal ini tidak terlepas dari teknik pemanenan

dan penanganan pasca panen yang dilakukan perusahaan budidaya bunga lily

potong tersebut. Teknik panen dan penanganan pasca panen yang tepat pada

(18)

kualitas serta nilai jual karena bunga lily merupakan komoditas hortikultura yang

bersifat mudah rusak.

PT. Puri Sekar Asri merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di

bidang florikultur terutama produksi berbagai jenis bunga potong. Salah satu

komoditas utama yang diproduksi PT. Puri Sekar Asri adalah bunga lily potong.

Pemilihan lokasi magang di PT. Puri Sekar Asri dilakukan untuk mempelajari dan

mengetahui pengusahaan bunga potong lily di perusahaan tersebut.

Tujuan

Tujuan dilaksanakannya kegiatan magang di kebun budidaya PT. Puri

Sekar Asri adalah :

1. Mempelajari teknik budidaya lily khususnya aspek panen dan pasca panen

bunga potong lily secara langsung di PT. Puri Sekar Asri.

2. Meningkatkan kemampuan, keterampilan, dan pengetahuan mahasiswa

dalam kegiatan budidaya, pengelolaan produksi maupun aspek manajerial

(19)

TINJAUAN PUSTAKA

Botani

Tanaman lily (Lilium Spp.) merupakan tanaman yang dikenal sebagai

bunga potong dan sering digunakan dalam rangkaian bunga maupun dekorasi

ruangan. Lily dapat tumbuh secara optimal pada dataran tinggi antara 400-1500 m

di atas permukaan laut. Klasifikasi botani tanaman lily adalah sebagai berikut :

Divisi : Spermatophyta

Sub divisi : Angiosperma

Kelas : Monocotyledone

Ordo : Liliales

Famili : Liliaceae

Genus : Lilium

Spesies : Lilium spp.

Easter Lily Lilium (Lilium longiflorum) pertama kali dijelaskan secara

botani oleh Carl Peter Thunberg pada tahun 1794. Easter Lily merupakan tanaman

asli dari kepulauan tropis Liukiu yang termasuk ke dalam deretan kepulauan

Okinawa dan Oshima serta Kawanabe. Menurut sebuah legenda Easter Lily tiba di

Bermuda setelah sebuah badai menghancurkan kapal yang bepergian dari Asia

Timur ke Inggris. Kapal yang sudah rusak tersebut mendarat di Bermuda, dan

seorang penumpang misionaris meninggalkan beberapa umbi yang telah

dikumpulkannya di Thailand kepada seorang penghuni pulau sebagai bayaran atas

penerimaannya selama kapal diperbaiki. Ketika tanaman Lily telah tumbuh subur

di Bermuda, seorang penanam bunga dari Philadelphia membawa umbi lily untuk

ditanam di greenhouse miliknya. Kejadian ini mengenalkan Easter Lily pada

Amerika (Miller, 1992).

Secara tradisional lily dikelompokkan pada hibrida-hibrida Asiatic,

Oriental, dan Longiflorum dengan karakteristik spesifiknya masing-masing yang

positif maupun negatif. Hibrida Asiatic dikenal dengan banyaknya pilihan warna,

biasanya berbunga banyak dan umbinya lebih kecil dibandingkan dengan umbi

dari hibrida Oriental. Sebaliknya bunga-bunga dari hibrida Asiatic berukuran

(20)

Selain itu beberapa diantara hasil persilangan hibrida Asiatic rentan terhadap

penyakit daun terbakar. Hibrida Oriental menghasilkan bunga-bunga yang lebih

besar dengan bentuk yang lebih indah dan wangi yang lebih kuat. Hibrida Oriental

tidak membutuhkan banyak cahaya namun masa produksinya lebih lama, variasi

warna yang terbatas serta rentan terhadap berbagai macam penyakit. Hibrida

Longiflorum dapat dibedakan dari ukurannya yang besar dan bentuk kelopaknya.

Kebutuhan udara dingin hibrida Longiflorum terbatas serta memiliki karakteristik

kekuatan batang yang baik, namun hibrida Longiflorum memiliki keterbatasan

pilihan warna yang ada serta sangat rentan terhadap virus.

Teknik persilangan baru telah ditemukan untuk memungkinkan

persilangan hibrida dari satu kelompok dengan kelompok hibrida lainnya. Tujuan

persilangan ini adalah untuk mengkombinasi karakter-karakter positif seperti

ketahanan terhadap penyakit yang merupakan ciri khas dari suatu kelompok.

Persilangan ini telah menghasilkan kelompok baru pada lily. Tiap kelompok

menunjukkan bentuk, warna, serta perbaikan baru dalam segala aspek.

Kelompok-kelompok yang dihasilkan dari persilangan tersebut adalah hibrida Longiflorum

Asiatic (LA), Oriental Trumpet (OT), Longiflorum Oriental (LO), dan Oriental

Asiatic (OA). Hibrida LA merupakan persilangan antara hibrida Longiflorum

dengan hibrida Asiatic dan dimulai pada tahun 1970. Hibrida OT merupakan

persilangan antara hibrida Oriental dengan lily terompet dan dimulai pada tahun

1980. Hibrida LO merupakan persilangan antara hibrida Longiflorum dengan

hibrida Oriental dan dimulai pada tahun 1990. Hibrida OA merupakan persilangan

antara hibrida Oriental dengan hibrida Asiatic dan dimulai pada tahun 1995

ditumbuhkan menjadi tunas dan tanaman baru (Crocket, 1973).

Saat tanaman berbunga, bagian tanaman yang berada di atas permukaan

tanah terdiri dari batang, daun dan bunga, sedangkan bagian tanaman yang

(21)

dalam dan sisik luar serta calon umbi baru pada tengah umbi. Hampir semua jenis

lily memiliki petal dan sepal yang berbentuk hampir serupa. Bunga lily memiliki

enam benang sari yang terdiri dari anther dan filamen serta satu putik yang terdiri

dari stigma, style dan ovary (Miller, 1992).

Syarat Tumbuh

Panjang Hari dan Intensitas Cahaya

Lily merupakan tanaman hari panjang yang hanya akan berbunga apabila

periode gelap yang dialaminya berada di bawah periode kritis (12 jam). Jumlah

jam penyinaran yang diterima tanaman lily dalam jangka waktu 24 jam

mempengaruhi pertumbuhan bunganya. Di negara subtropis untuk meningkatkan

pertumbuhan bunga maka dilakukan tambahan penyinaran pada hari-hari pendek

guna memperpanjang hari yang dibutuhkan untuk proses fotosintesis. Penyinaran

tambahan (perpanjangan fotosintesis sampai 16 jam) dilakukan pada saat tunas

sudah mulai muncul 50 %. Perlakuan ini dihentikan setelah 6 minggu atau ketika

tunas bunga mulai terlihat. Penyinaran tambahan dapat dilakukan dengan

menggunakan lampu cahaya berkapasitas 20 Watt/m2 untuk menyinari tanaman sebelum atau sesudah adanya cahaya matahari alami. Lily yang dihasilkan dengan

kondisi cahaya yang kurang akan tumbuh terlalu tinggi dan batang menjadi

lunglai. Tanaman lily juga mengalami pertambahan pertumbuhan vegetatif

tanaman dibawah periode hari panjang (16 jam). Perlakuan hari panjang pada

tanaman lily selama 10 hari meningkatkan pertambahan tinggi tanaman sebanyak

19-21 % (Miller, 1992).

Lily jenis hibrida Oriental yang membutuhkan lebih dari 100 hari untuk

panen memberikan respon paling baik pada perlakuan penyinaran tambahan

tersebut. Penambahan penyinaran merupakan cara yang baik untuk mempercepat

pemasaran hasil panen di musim semi, namun perlakuan ini akan menyebabkan

ukuran tangkai bunga lebih pendek dan persentase gugurnya bunga menjadi

sedikit tinggi (International Flower Bulb Center, 2005).

Lily memerlukan intensitas cahaya matahari yang penuh. Kekurangan

(22)

kuntum bunga per tangkainya. Lily sangat sensitif terhadap cahaya rendah

terutama ketika batang baru mencapai 10 cm. Cahaya yang kurang dari 50% pada

saat itu akan berpengaruh secara serius terhadap inisiasi bunga (Rimando,2001).

Suhu

Hasil panen yang berkualitas tinggi dapat diperoleh dengan memastikan

pengakaran yang benar pada umbi. Suhu di bawah 10-12 oC selama 2-3 minggu setelah penanaman akan menghasilkan pengakaran yang baik. Suhu awal tanam

yang rendah akan memperpanjang fase vegetatif namun suhu yang tinggi diatas

15 oC akan menurunkan kualitas produksi. Suhu greenhouse yang paling menguntungkan setelah pengakaran bagi lily jenis hibrida Oriental dan hibrida

Oriental Trumpet (OT) adalah 15 oC pada malam hari dan 17 oC pada siang hari. Tambahan sinar matahari juga penting bagi pertumbuhan lily, oleh karena itu

tidak menjadi masalah apabila suhu pada siang hari hingga 20-25 oC. Hibrida OT memiliki toleransi yang lebih tinggi terhadap suhu tinggi hingga 25 oC. Fluktuasi suhu melebihi 10-12 oC antara siang dan malam harus dihindari untuk mencegah terjadinya malformasi pada kuntum bunga. Suhu dibawah 12 oC dapat menyebabkan daun menguning dan kuntum gugur, namun suhu yang tinggi akan

menyebabkan tanaman menjadi pendek, berkurangnya jumlah bunga serta

meningkatnya resiko terkena penyakit dan kelainan fisiologis (International

Flower Bulb Center, 2005).

Suhu merupakan faktor penting yang mengatur pembungaan pada lily.

Sebelum terjadi inisiasi bunga yaitu selama inisiasi pertumbuhan batang,

perlakuan suhu rendah (vernalisasi) minimum penting untuk dilakukan. Meskipun

suhu sampai dengan 20 ºC telah dikenal sebagai suhu vernalisasi, namun suhu

optimum dan yang digunakan secara komersial digunakan adalah perlakuan suhu

rendah 5ºC selama 6-8 minggu. Umbi yang tidak divernalisasi masih bisa

berbunga tetapi perkembangannya lambat dan akan menunda antesis. Di negara

yang tidak memiliki musim dingin (Indonesia), para petani biasanya membeli

umbi dari pemasok yang sudah memberikan perlakuan vernalisasi pada umbi

sebelum umbi dikirimkan, namun tidak menutup kemungkinan petani sendiri yang

(23)

Kelembaban Relatif

Kelembaban relatif di dalam greenhouse harus terjaga tetap pada tingkat

70-80 %. Fluktuasi tajam pada RH harus dihindari dan diusahakan perubahan RH

berjalan secara perlahan dan bertahap. Perubahan RH yang terlalu cepat akan

menyebabkan stres pada tanaman dan mengakibatkan daun menjadi terbakar dan

kering. Pelaksanaan prosedur penanaman yang baik sejalan dengan perlindungan

cahaya yang cukup, ventilasi yang tepat dan pengairan yang benar harus

dijalankan untuk menghindarinya.

Ketika kondisi yang sangat panas atau dingin, RH di luar greenhouse

sangat rendah maka disarankan untuk tidak membuka ventilasi terlalu lebar.

Pengaturan ventilasi yang baik dilakukan pagi-pagi sekali ketika RH di luar

greenhouse sedang tinggi. Pemberian air terlalu banyak pada siang hari ketika RH

di dalam greenhouse rendah tidak diizinkan. Penyiraman juga disarankan untuk

dilakukan pada waktu terbaik yaitu pada pagi hari. Penggunaan layar pelindung

panas juga dapat mengendalikan suhu, RH dan intensitas cahaya dalam

greenhouse. Saat intensitas cahaya matahari tinggi yaitu pada bulan-bulan musim

panas pada negara subtropis dapat digunakan pelindung panas untuk menurunkan

intensitas cahaya sampai 70% selama 2-3 minggu pertama. Setelah 2-3 minggu

penggunaan pelindung panas maka intensitas cahaya yang dapat dikurangi

menurun hingga tidak lebih dari 50 %. Hal ini berlaku untuk penanaman jenis lily

apapun (International Flower Bulb Center, 2005).

Budidaya

Teknik Budidaya

Lily sebagai bunga potong secara komersial diperbanyak melalui umbi,

sedangkan lily untuk produksi umbi diperbanyak melalui bagian vegetatif

tanaman yaitu sisik (scale), calon umbi (bulblet) yang tumbuh pada batang bawah

tanaman serta kultur jaringan. Budidaya lily melalui benih hanya dilakukan untuk

keperluan persilangan dan pengembangan jenis baru (Miller, 1992).

Memproduksi lily sebagai bunga potong biasanya dilakukan pada tanah

(24)

lainnya. Hal ini akan mengurangi masalah sehubungan dengan kondisi iklim yang

tidak menguntungkan sehingga dapat memproduksi lily sepanjang tahun.

Menanam lily di lapangan hanya dapat dilakukan di daerah yang iklimnya

menunjang selama proses penanaman. Selain penanaman di tanah petak, terdapat

berbagai sistem penanaman antara lain penanaman pada peti kemas yang bisa

dilakukan di Nederland dan negara lainnya. Penggunaan kotak sebagai wadah

tanam dilakukan sebagai pengendalian terhadap penyakit karena penggunaan

substrat segar yang mempunyai struktur yang baik sebagai media tanam. Selain

itu penanaman menggunakan peti kemas memungkinkan untuk mengintegrasikan

penanaman menjadi sistem yang lebih bertanggung jawab pada lingkungan.

Sistem penanaman lainnya adalah penanaman lily di tempat terbuka untuk

penanaman setahun atau multi-tahun. Penanaman dalam pot juga dapat dilakukan

pada lily. Lily yang ditanam di dalam pot digunakan sebagai tanaman hias bukan

sebagai tanaman potong (International Flower Bulb Center, 2005).

Media Tumbuh

Lily dapat ditanam pada berbagai jenis tanah, namun harus tetap

berhati-hati untuk memastikan struktur tanah yang baik dan kemampuan menyerap air

selama tahap pertumbuhan tanaman terutama lapisan tanah paling atas. Tanah

berlumpur dan berat tidak cocok untuk pertumbuhan tanaman hibrida Oriental.

Bagi lily jenis lainnya tanah ini masih bisa digunakan dengan mencampurkan

subsrat pada lapisan yang mengandung humus di kedalaman 40-50 cm. Hal ini

akan memperbaiki penyerapan udara dan memungkinkan penyerapan cairan pada

lapisan tanah lapisan atas. Tanah yang berat biasanya akan mengurangi tinggi

tanaman. Adanya kecukupan oksigen pada tanah merupakan hal yang penting

untuk sistem akar yang sehat. Penambahan bahan-bahan organik pada tanah akan

meningkatkan mutu struktur tanah sekaligus keseimbangan air, penyerapan pupuk

dan aerasi pada tanah. Pemberian bahan-bahan organik seperti jerami-sekam,

pupuk sapi yang telah didekomposisikan selama 1 tahun, gambut hitam, dan kulit

pohon yang sudah menjadi kompos sangat dianjurkan pada tanah yang akan

digunakan untuk menanam lily terutama pada tanah yang berat. Bahan-bahan

(25)

Tingkat pH pada lapisan tanah harus terjaga dengan baik karena

mempengaruhi perkembangan akar dan penyerapan nutrisi pada akar. Tanah

dengan pH sangat rendah akan menyerap terlalu banyak Mg, Al, Fe, sedangkan

tanah dengan pH terlalu tinggi akan mempersulit tanah menyerap fosfor, Mg dan

Fe. Lily dengan jenis hibrida Asiatic LA dan Longiflorum akan tumbuh optimum

pada pH 6-7, sedangkan untuk hibrida Oriental OA, LO dan OT akan tumbuh

optimum pada 5-6.5. Suhu tanah sebelum penanaman yang optimum untuk

pemunculan akar adalah 10-12 oC bagi semua jenis lily (International Flower Bulb Center, 2005).

Penanaman

Umbi yang ditanam pada greenhouse biasanya digolongkan menurut

ukuran umbi. Umbi yang berukuran besar akan memproduksi bunga dalam jumlah

yang lebih banyak dan berbunga lebih awal dibandingkan dengan umbi yang

berukuran lebih kecil. Umbi ditanam sedalam 8-15 cm di bedengan, pot atau

polybag. Penanaman umbi yang terlalu dangkal akan memperlambat pembungaan

hingga 5 hari (Rimando,2001).

Setiap jenis lily memiliki kerapatan tanam yang berbeda karena ukuran

umbi maupun hasil panen yang akan dihasilkan berbeda. Kerapatan tanam juga

tergantung pada lama masa tanam dan jenis tanah yang digunakan. Penanaman

yang dilakukan ketika tersedia cahaya banyak maka kerapatan tanaman dapat

ditingkatkan sedangan penanaman pada waktu gelap atau dalam kondisi

penyinaran yang rendah maka kerapatan tanam perlu dikurangi. Pada umbi yang

berukuran 16/18 kerapatan tanam pada jenis hibrida Oriental berdaun kecil adalah

40-50 umbi/m2, hibrida Oriental berdaun besar 35-45 umbi/m2, hibrida Longiflorum 35-45 umbi/m2 dan hibrida Asiatic 40-50 umbi/m2.

Penyerapan air, oksigen dan nutrisi tanaman 3 minggu pertama setelah

tanam tergantung pada akar. Oleh karena itu perlu untuk memastikan akar sudah

tumbuh minimal 5 cm, tidak berpenyakit dan tidak kekurangan air pada saat

tanam. Tunas batang akan tumbuh di bagian atas umbi namun masih di dalam

tanah selama 3 minggu awal setelah penanaman. Tunas batang tersebut akan

(26)

tanaman. Selama musim panas penanaman dilakukan pada pagi hari. Umbi yang

akan ditanam harus dijaga agar tidak kering oleh karena itu umbi dikeluarkan

sedikit demi sedikit ke lokasi penanaman. Umbi yang mengering akan

menurunkan kualitas bunga. Umbi lily ditanam pada tanah yang lembab serta

kedalaman yang cukup ±10 cm dari atas permukaan tanah (International Flower

Bulb Center, 2005).

Pengairan

Penanaman umbi pada tanah yang kering sangat tidak dianjurkan. Tanah

yang akan digunakan harus dibasahi terlebih dahulu beberapa hari sebelum

penanaman sehingga pertumbuhan akar dapat segera terjadi. Lahan disiram

kembali setelah dilakukan penanaman untuk menghindari perusakan struktur

tanah dan memastikan tersedianya air untuk umbi agar akar basal dan akar batang

dapat tumbuh secepatnya. Air juga harus dipastikan menyentuh akar basal karena

calon batang pada beberapa jenis umbi tidak hanya tumbuh ke atas tetapi juga

tumbuh ke bawah. Kekurangan air akan menyebabkan pertumbuhan berjalan

lambat, tidak merata, batang tumbuh pendek dan tunas bunga cepat mengering.

Terlalu banyak air juga harus dihindari karena akan mengurangi oksigen yang

diperlukan akar sehingga menghambat pertumbuhan tanaman. Akar yang

melemah akan rentan terkena terhadap pythium dan pythophtora. Tanah yang

terlalu basah pada saat pertumbuhan batang akan membuat batang menjadi lemah

karena sel pertumbuhan yang meledak. Jumlah air yang harus disediakan

tergantung pada jenis tanah, iklim greenhouse, jenis lily, tahap perkembangan

tanaman serta tingkat kepekatan garam pada tanah. Pemakaian air dapat mencapai

8-9liter/m2/hari pada masa kering. Pengairan dengan menggunakan air hujan lebih disarankan sebagai pengganti air sumur. Air sumur terkadang mengandung

kalsium karbonat, magnesium karbonat atau besi. Elemen-elemen ini

meninggalkan bintik-bintik pada daun. Selain itu, air sumur mengandung garam

terbentuk dari ikatan antara logam Na, Ca, Mg dengan ion klorida.

Hal terpenting pada sistem irigasi adalah kemampuan mendistribusikan air

secara seragam dan air yang digunakan tidak merusak struktur tanah. Ukuran

(27)

banyak sekaligus untuk menghindari kerusakan struktur tanah. Penggunaan

sprinkler yang diletakkan di atas tanaman memberikan distribusi yang baik

sekaligus menjadi cara untuk membasuh tanaman. Waktu terbaik untuk mengairi

tanaman adalah pada pagi hari sebelum atau saat matahari terbit (International

Flower Bulb Center, 2005).

Sistem irigasi secara drip dan trickle semi-otomatis cocok untuk budidaya

di greenhouse. Fluktuasi tingkat kelembaban sangat berbahaya sama seperti

kekeringan pada tanah yang dapat menyebabkan kehilangan bunga. Sementara itu,

tanah yang terlalu basah dapat menyebabkan akar terserang fungi dan cendawan

(Rimando,2001).

Pemupukan

Tanaman lily sangat peka terhadap garam. Kandungan garam yang tinggi

akan menghasilkan akar yang keras, mudah pecah dan berwarna kuning sampai

coklat, serta mengurangi kemampuan akar untuk menyerap air sehingga akan

mengurangi tinggi tanaman. Kandungan garam pada tanah ditentukan oleh

kandungan garam pada pupuk kandang atau buatan. Ion-ion yang bertanggung

jawab dalam proses salinasi tanah yaitu Na+, K+, Ca2+, Mg2+, dan Cl-, kandungan garam pada air irigasi yang terbentuk dari ikatan antara logam Na, Ca, Mg dengan

ion klorida, dan nutrisi yang terdapat pada tanah. Tanah yang akan ditanami

diperiksa terlebih dahulu 6 minggu sebelum penanaman untuk mengetahui

kandungan garamnya. EC tanah tidak boleh melebihi 1.0, sedangkan klorin tidak

boleh melebihi 1.5 mmol/liter. Jika EC maupun klorin melebihi batas tersebut

maka sebelum dilakukan penanaman tanah hendaknya diaduk-aduk terlebih

dahulu dengan air yang memiliki kandungan EC kurang dari 0.5. Hal ini

dilakukan agar pemupukan dapat diaplikasikan tanpa kekhawatiran adanya

peningkatan kadar garam pada tanah yang merusak panen. Penggunaan pupuk

organik dan buatan harus dilakukan secara hati-hati karena dapat mengakibatkan

kelebihan garam.

Lily membutuhkan nutrisi baru untuk menghasilkan bunga, terutama pada

tiga minggu pertama setelah tanam. Terlalu banyak pemberian pupuk lebih

(28)

setelah penanaman, perkembangan akar telah terjadi. Nutrisi tambahan diberikan

secara bergantian untuk mencegah kerusakan pada tanaman akibat kadar garam.

Hal ini berkaitan dengan banyaknya kalsium nitrat dan potassium nitrat yang

diberikan pada 3 minggu pertama setelah tanam. Aplikasi pupuk yaitu Ca(No)

dengan komposisi 15.5% N, 26.3% CaO sebanyak 1 kg/100 m2 dan KNO dengan komposisi 13.7% N, 46.2% KO dengan jumlah 1 kg/100 m2. Penambahan segala bentuk magnesium sulfat 0.15-0.20 kg/100 m2 tergantung pada pengamatan di lapang apakah terjadi pemudaran warna pada bunga-bunga yang terletak di

bawah. Pelaksanaan pemupukan dapat dilakukan dengan menggunakan sprinkler

putar pada tanaman yang kering. Untuk menghindari daun terbakar maka aplikasi

ini harus diikuti dengan penyemprotan air yang merata pada tanaman setelahnya

(International Flower Bulb Center, 2005).

Lily sangat tidak toleran terhadap kelebihan pupuk dan salinitas yang

tinggi, oleh karena itu lakukan pemupukan seperlunya. Kelebihan pupuk dan

salinitas yang tinggi dapat menyebabkan pelukaan pada akar tanaman,

menghambat pertumbuhan tanaman selanjutnya dan mengurangi jumlah kuntum

bunga. Karena lily merupakan tanaman yang “heavy-feeder”, pemupukan yang

cukup pada awal perkembangan tanaman amat penting dan pemupukan haruslah

dimulai dengan tambahan pupuk lengkap ketika batang setinggi 2-5 cm

(Rimando, 2001).

Pemeliharaan

Penggunaan sistem penunjang tanaman terkadang dibutuhkan tergantung

dari masa penanaman dan jenis tanaman. Panen yang dihasilkan pada musim

dingin selalu membutuhkan penunjang. Tanaman yang memiliki tinggi 80-100 cm

juga membutuhkan penunjang. Apabila panen melibatkan pencabutan atau

pemotongan batang maka penunjang dibutuhkan untuk menjaga supaya tanaman

disekelilingnya tidak rebah. Cara yang biasa digunakan untuk menunjang tanaman

adalah dengan menggunakan kawat yang dibentuk menjadi kotak-kotak lebar.

Kawat ini kemudian dinaikkan seiring dengan petumbuhan tanaman. Kawat

(29)

Pengendalian gulma dengan menggunakan herbisida tidak dianjurkan

terkecuali dalam keadaan mendesak. Jauh lebih baik untuk menyingkirkan gulma

secara mekanis atau melakukan sterilisasi sebelum tanam melalui penguapan atau

menggenangi lahan. Penggunaan herbisida selalu mengahadirkan resiko rusaknya

tanaman. gulma kecil dapat dikendalikan dengan menyemprotkan herbisida yang

sesuai setelah tunas muncul ke permukaan tanah tetapi sebelum daun membuka

secara signifikan. Jika ditemukan banyak jenis rumput tahunan tumbuh maka

pengendalian jangan dilakukan dengan satu jenis herbisida tetapi dari kombinasi

dari herbisida-herbisida. Penyemprotan harus selalu dilakukan menjelang senja

pada tanaman yang kering dengan menggunakan 5 liter air/100 m2. Keesokan paginya tanaman dicuci melalui kegiatan pengairan (International Flower Bulb

Center, 2005).

Perlindungan tanaman dari penyakit dapat dilakukan dengan melakukan

perawatan terhadap tanah. Tanah yang ditanami harus bebas dari patogen dengan

menjada kondisi optimum tanaman selama penanaman atau dengan melakukan

rotasi tanaman. Apabila masih ditemukan patogen maka dianjurkan untuk

melakukan perawatan tanah yaitu penguapan, penggenangan dan solarisasi

setahun sekali. Jenis penyakit yang disebabkan oleh jamur dan sering ditemukan

pada lily adalah busuk umbi, bercak pada batang, botrytis, penicillium,

phytophthora, pythium, sclerothium, dan rhizoctonia, sedangkan hama yang

sering ditemukan pada lily adalah nematode daun dan aphids. Pengendalian

terhadap jamur dan hama ini dilakukan dengan menyemprotkan fungisida dan

insektisida seminggu sekali sebelum terjadi pembungaan dan pastikan tidak

meninggalkan residu.

Umur Tanaman

Lamanya waktu yang dibutuhkan bagi tanaman lily mulai dari penanaman

hingga panen tergantung pada jenis lily yang ditanam, musim pada saat

penanaman (daerah subtropis), lama perlakuan vernalisasi pada umbi dan suhu

greenhouse. Jumlah hari tergantung dari suhu optimum pada siang atau malam

hari. Umur tanaman lily jenis hibrida Oriental pada musim semi adalah 90-135

(30)

hari. Umur tanaman lily jenis hibrida OT pada musim semi adalah 90-125 hari,

pada musim panas 60-90 hari dan pada musim gugur 90-110 hari.

Pemanenan

Pemanenan merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengumpulkan

komoditas pada tingkat kematangan yang tepat dengan kerusakan dan kehilangan

hasil yang sedikit serta dilakukan secepat mungkin (Santoso dan Purwoko, 1995).

Bunga potong yang merupakan komoditas hortikultura adalah bagian dari

keseluruhan tanaman yang hidup dan masih melakukan aktivitas metabolisme.

Setelah bunga dipotong dari tanamannya, maka bunga beserta tangkainya akan

terpisah dari sumber-sumber alami yang diperlukan dalam proses

metabolismenya. Jika proses ini terus berlanjut maka bunga potong akan layu dan

mati lebih dini. Bunga potong harus diberi tambahan karbohidrat berupa

gula/sukrosa tepat setelah bunga dipotong dari tanamannya untuk mengurangi

proses metabolisme. Sukrosa merupakan bentuk yang paling efisien untuk

tanaman dan mudah ditransportasikan dalam sel-sel tanaman (Wiryanto,1993).

Pemanenan bunga potong dengan tingkat mekar secara komersial

bervariasi pada bunga yang berbeda-beda (tergantung komoditas dan varietas).

Hal ini dipengaruhi oleh musim, kondisi lingkungan, jarak ke tujuan distribusi,

dan kebutuhan konsumen. Umumnya bunga dipotong atau dipanen pada tahap

lebih awal dan akan membuka penuh serta berkembang dengan kualitas yang baik

di vas bunga. Pemotongan bunga pada saat kuncup lebih disukai untuk

mengurangi kerusakan karena temperatur yang tinggi dan pengaruh gas etilen,

namun terdapat beberapa bunga yang tidak dapat mekar jika dipotong atau

dipanen saat masih kuncup (Halevy dan Mayak, 1979). Saat panen yang tepat bagi

bunga potong lily adalah ketika kuntum terbawah sudah menunjukkan warnanya

(Rimando, 2001).

Kegiatan panen hanya dilakukan ketika bunga sudah cukup matang tetapi

belum terlalu matang agar bunga lily mekar dan menarik. Tahap panen paling

cepat berbeda-beda untuk tiap jenis lily, tergantung pada jumlah kuntum yang

dihasilkan dalam satu batang. Satu batang lily yang menghasilkan lebih dari 10

(31)

warnanya. Satu batang lily yang menghasilkan 5-10 kuntum dapat dipanen apabila

terdapat minimal 2 kuntum menunjukkan warnanya. Satu batang lily yang

menghasilkan kuntum kurang dari 5 dapat dipanen apabila terdapat minimal 1

kuntum menunjukkan warnanya. Pemanenan yang dilakukan sebelum itu akan

menghasilkan bunga yang tidak bagus, warnanya agak pudar dan tidak semua

kuntum akan mekar. Pemanenan yang terlalu matang juga akan menyebabkan

masalah pada pascapanen dan distribusi termasuk noda yang disebabkan oleh

serbuk sari, memar pada petal dan kuntum yang membuka sebagai akibat dari

pencemaran etilen yang disebabkan oleh bunga-bunga yang sudah mekar. Jika

diperlukan maka pemotongan terhadap bunga yang telah mekar dapat dilakukan.

Pemanenan lebih baik dilakukan dengan memotong batang dibandingkan dengan

mencabutnya dari tanah. Pencabutan menyebabkan gangguan pada akar-akar

tanaman lainnya, terlebih jika kawat penunjang tidak digunakan maka pencabutan

dapat merobohkan tanaman lainnya. Batang pada jenis hibrida Oriental dan

Longiflorum tidak dapat dicabut karena perkembangan akarnya yang kuat.

Pemanenan lily lebih dianjurkan pada pagi hari untuk membatasi pengawetan dan

untuk membatasi tanaman dalam keadaan kering maksimal selama 30 menit pada

tanaman selama di greenhouse (International Flower Bulb Center, 2005).

Pasca Panen

Komoditas hortikultura merupakan komoditas yang dimanfaatkan dalam

keadaan segar sehingga mudah rusak (Harjadi, 1989). Komoditas hortikultura

merupakan jaringan hidup yang terus melakukan perubahan fisiologi setelah

panen. Oleh karena itu diperlukan teknik penanganan pasca panen yang tepat

(Santoso dan Purwoko, 1995). Tujuan penanganan pasca panen pada bunga

potong adalah untuk mengusahakan agar kemunduran kualitas bunga potong

sekecil mungkin dan kehilangan hasil seminimal mungkin. Apabila dibandingkan

dengan produk hortikultura lainnya seperti buah dan sayuran yang hanya memiliki

unit morfologi tunggal, bunga terdiri dari unit morfologi yang banyak seperti

sepal, petal, ovary, stamen, stem, dan daun. Setiap bagian ini saling berhubungan

dengan yang lainnya dan menjadikan bunga sebagai sistem yang lebih kompleks

(32)

Terdapat faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kondisi pasca panen

bunga potong termasuk sifat bawaan yang melekat pada tanaman tersebut seperti

varietas dan tingkat kematangan ketika dipanen. Selain itu, faktor-faktor

lingkungan juga berpengaruh seperti keadaan lingkungan sebelum panen (suhu

dan cahaya matahari) dan sesudah panen (suhu, air, gas, etilen, stress dan

penyerbukan). Keadaan yang didapat dari hasil saat memanen bunga potong

(kerusakan mekanik) juga merupakan faktor yang menentukan. Penyerbukan pada

beberapa bunga potong akan memicu awal kerontokan dan kemunduran bunga

setelah panen (Rimando,2001).

Penanganan pasca panen terhadap bunga lily potong harus dilakukan

secara hati-hati karena bunga lily potong sangat mudah rusak. Alur penanganan

pasca panen pada bunga potong terdapat pada (Gambar 1). Bunga lily potong

dapat bertahan selama 2-3 hari tanpa air pada suhu yang rendah (0-2 ºC).

Penyimpanan kering yang terlalu lama akan menyebabkan pencoklatan dan

penggulungan pada ujung petal. Anter dapat dibuang dengan hati-hati sebelum

terjatuh untuk mencegah penyerbukan dan meminimalkan terjadinya penodaan

pada mahkota bunga. Bunga potong lily yang sudah dipanen akan bertahan lebih

dari seminggu didalam penyimpanan basah bersuhu rendah yaitu sekitar 0-2 ºC.

Pemekaran bunga dapat dipacu dengan suhu tinggi sekitar 10 ºC selama 24 jam

sebelum dipindahkan ke suhu yang lebih rendah (Rimando, 2001).

(33)

Sortasi/Grading dan Pengikatan

Penyortiran dan grading merupakan salah satu kegiatan penting yang

dilakukan pada penanganan pasca panen. Penyortiran dilakukan berdasarkan

parameter kualitas tertentu seperti panjang tangkai, tingkat kematangan, tingkat

kerusakan baik yang disebabkan oleh patogen, serangga maupun kerusakan

mekanis, bentuk tangkai yang tidak normal ataupun bagian dari bunga lainnya,

warna dan berat. Grading dilakukan berdasarkan parameter kualitas tertentu pula.

Panjang tangkai bunga serta ukuran bunga adalah parameter yang umum

digunakan untuk membedakan grade dari bunga yang satu dengan bunga lainnya

(Rimando, 2001).

Setelah pemanenan, batang bunga disortir menurut jumlah kuntum

(matang), panjang tangkai dan ketegaran tangkai, serta

ketidaknormalan-ketidaknormalan yang mungkin terdapat pada hasil panen yang berhubungan

dengan bunga dan daun. Daun yang berada pada 10 cm batang terbawah

kemudian dibuang dan batang lily diikat. Kegiatan pembuangan daun ini

dilakukan secara manual atau dengan mesin tertentu. Pembuangan daun membuat

penampilan tanaman lily menjadi lebih menarik karena berkurangnya daun akan

mengurangi perkembangan bakteri dalam air dan akan meningkatkan kualitas

batang bunga. Proses pembuangan daun ini juga bertujuan untuk menghilangkan

daun-daun yang kuning atau rusak. Setelah dilakukan pengikatan, batang bagian

bawah dipotong untuk menyamakan panjang batang kemudian diletakkan di air.

Tahap terakhir adalah pembungkusan yang bertujuan untuk melindungi daun

sekaligus kuntum. Kegiatan grading dan pengikatan dapat dilakukan dengan

mesin yang disebut dengan “flower bunching line”. Penggunaan mesin ini dapat

menghemat waktu penanganan pascapanen untuk mencegah kekeringan dan

menjaga proses ini selama maksimal satu jam dapat menjaga suhu tanaman agar

tidak meningkat. Jika tidak memungkinkan untuk melakukan pengikatan dan

grading tepat setelah panen maka hal terbaik yang dapat dilakukan adalah

meletakkannya di ruang pendingin di dalam air bersih (Zabo Plant Flowerbulbs

(34)

Penyimpanan

Teknik penyimpanan bunga potong ditentukan oleh jenis bunga. Teknik

penyimpanan yang dilakukan antara lain dengan merendam tangkai bunga ke

dalam air, memberi perlakuan kimiawi dan dengan cara pendinginan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi lama penyimpanan yaitu kondisi pertumbuhan

sebelum panen, tahap perkembangan, suhu, kelembaban relatif, cahaya, etilen,

perlakuan kimiawi, metode penyimpanan di lemari es secara basah maupun

kering, penyimpanan dengan atmosfer terkendali dan disesuaikan serta

penyimpanan dengan tekanan rendah (Goszczynska dan Rudnicki, 1988).

Penyimpanan dingin dapat bertahan sampai dengan 60 hari. Penyimpanan dingin

tersebut dapat diterapkan pada tingkat kemekaran awal maupun akhir, termasuk

bunga potong yang bermutu rendah (Sakai dan Kojima,1988). Biasanya perlakuan

dingin juga diterapkan bersamaan dengan perlakuan kimiawi. Telah diamati

dampak inhibitor sintesis etilen pada bunga dan jambangan dan kualitas bunga

mawar yang disimpan secara dingin. Perak tiosulfat dapat memperpanjang umur

bunga mawar segar dan mawar yang disimpan dengan pendinginan selama dua

atau tiga hari (Mor, Johnson, dan Faragher, 1989).

Lily harus diletakkan di dalam air dan disimpan di ruang pendingin setelah

mengalami proses pengikatan. Apabila suhu hangat maka disarankan untuk

menggunakan air yang telah didinginkan terlebih dahulu supaya tidak

mempercepat kematangan bunga. Perlakuan penyimpanan pada suhu 2-3 oC memiliki batas waktu minimal 4 jam dan maksimal 48 jam. Ketika lily telah

menyerap cukup air maka lily dapat disimpan kering dalam ruang pendingin,

namun lebih baik bila meneruskan penyimpanan basah dalam air bersih. Suhu

optimum ruang penyimpanan lily adalah 2-3 oC dan waktu penyimpanan hendaknya dilakukan sesingkat mungkin (Zabo Plant Flowerbulbs and Perennials,

2011).

Pengemasan

Bunga potong yang akan dipasarkan ke pasar lokal dengan jarak dekat

cukup dimasukkan ke dalam ember berisi air, namun untuk pengiriman jarak jauh

(35)

menghindari kerusakan bunga selama dalam perjalanan serta untuk

memperpanjang umur bunga. Pengemasan paling sederhana adalah membungkus

bunga dengan koran. Bunga potong dibungkus dengan koran dan kedua ujungnya

dibiarkan terbuka. Teknik pengemasan yang lebih modern yaitu bunga potong

dikemas dalam kotak berombak lalu dibungkus dengan kantong polietilen yang

diberi lubang dan dibiarkan kering pada RH 73-80 %. Tingkat RH dan jenis kotak

mempengaruhi ketahanan bunga (Ketsa dan Dadaung, 1989).

Lily dikemas ke dalam kotak yang dilubangi untuk mencegah tingginya

konsentrasi etilen yang dihasilkan dari bunga yang mekar. Gas etilen

menyebabkan percepatan kematangan yang ditunjukkan dengan kualitas tampilan

bunga yang buruk, gugurnya kuntum dan menurunkan kualitas. Batang lily harus

dipastikan dalam keadaan kering selama pengemasan dalam kotak untuk

mencegah panas berlebih dan pengembangan jamur (Zabo Plant Flowerbulbs and

Perennials, 2011).

Pengangkutan

Masalah pengangkutan memiliki peranan yang penting karena terkait erat

dengan pengemasan dan penyimpanan terutama untuk bunga ekspor. Selain itu

pengangkutan juga mempengaruhi kesegaran bunga. Pengangkutan bunga potong

bersamaan dengan buah harus dihindari karena etilen pada buah dapat membuat

kuncup bunga menjadi layu. Masalah ini dapat diatasi dengan menyemprotkan

argilena 2-4 g/L pada kuncup bunga (Schusser, 1989).

Alat angkut yang digunakan haruslah disesuaikan dengan tujuan pasar.

Apabila kota tujuan masih satu pulau, maka bunga potong dapat diangkut dengan

mobil atau kereta api, namun apabila kota tujuan berbeda pulau maka pengiriman

dapat dilakukan dengan menggunakan pesawat terbang (Sutiyoso,2003).

Penting bagi lily untuk ditransportasikan pada suhu rendah, lebih baik lagi

jika ditransportasikan dalam kendaraan berpendingin 2-3oC untuk mencegah perkembangan kuntum bunga dan bahaya etilen. Pendinginan kotak sebelum

pengangkutan dapat dilakukan pada transportasi jarak jauh dan memerlukan

(36)

METODOLOGI

Waktu dan Tempat

Kegiatan magang ini dilaksanakan selama empat bulan di kebun budidaya

PT. Puri Sekar Asri Desa Cibodas Lembang-Bandung, Jawa Barat. Kegiatan

magang dimulai dari bulan Maret sampai dengan bulan Juli 2011.

Metode Pelaksanaan

Kegiatan magang yang dilakukan penulis meliputi kegiatan yang

menyangkut seluruh aspek budidaya tanaman lily dan aspek manajerial yang

diizinkan dan sesuai dengan sistem yang dilaksanakan oleh perusahaan. Metode

pelaksanaan yang dilakukan adalah melaksanakan kegiatan yang bersifat umum

dan khusus. Kegiatan yang bersifat umum adalah bekerja sebagai karyawan harian

selama satu bulan, pendamping kepala bagian selama satu bulan dan pendamping

manajer kebun selama dua bulan, sedangkan kegiatan khusus yang dilakukan

adalah pengamatan dan pengumpulan data yang dilaksanakan selama kegiatan

magang berlangsung. Jurnal kegiatan magang terdapat pada (Lampiran 1).

Bentuk kegiatan yang dilaksanakan pada saat magang adalah :

1. Orientasi Lapang

Orientasi lapang merupakan kegiatan pertama yang dilakukan oleh

penulis. Kegiatan ini bertujuan untuk memperdalam pengetahuan penulis

mengenai perusahaan, seperti lokasi, sistem kerja yang ditetapkan dan

dijalankan perusahaan serta pengarahan mengenai semua aktivitas yang

dijalankan di perusahaan.

2. Bekerja sebagai Karyawan Harian

Kegiatan sebagai karyawan harian adalah melaksanakan budidaya

produksi tanaman lily mulai dari persiapan lahan hingga kegiatan panen

dan pascapanen.

3. Pendamping Kepala Bagian

Kegiatan sebagai pendamping mandor adalah melakukan pengawasan

(37)

Pengawasan dilakukan mulai dari penanaman, perawatan, pemanenan

hingga kegiatan pascapanen. Kegiatan pemupukan biasanya dilakukan

langsung oleh manajer kebun atau kepala produksi, namun pada akhirnya

ditugaskan kepada penulis. Selain itu penulis juga membantu pencatatan

jumlah tanam umbi lily, hasil panen dan menulis berita acara pengiriman

bunga. Penulis tetap melakukan kegiatan harian sebagai karyawan selama

menjadi pendamping kepala bagian subdivisi.

4. Asisten Manajer Kebun

Kegiatan sebagai asisten manajer kebun adalah melakukan diskusi dengan

manajer kebun mengenai manajemen produksi serta kendala-kendala yang

dihadapi di kebun produksi Cibodas selama menjadi asisten manajer divisi

produksi. Penulis ditugaskan untuk membuat perencanaan kegiatan

produksi selama dua bulan terakhir pelaksanaan magang. Kegiatan

perencanaan yang dibuat penulis meliputi perencanaan waktu pelaksanaan

kegiatan pengolahan lahan, jadwal penanaman dan jumlah tanam, jadwal

penyiraman, jadwal pemupukan, jadwal penyemprotan serta jumlah dan

jadwal panen. Penulis juga belajar melakukan perkiraan/estimasi jumlah

panen dengan melihat keadaan langsung tanaman di lapang. Seluruh

kegiatan ini dievaluasi dan dilaporkan pada manajer kebun terutama

apabila terjadi kesalahan dan kejanggalan dalam pelaksanaan produksi di

lapang. Penulis juga membantu manajer kebun melakukan rekapitulasi

data jumlah tanam umbi lily di lapang dan jumlah hasil panen lily.

5. Pengamatan

Kegiatan pengamatan khusus yang dilakukan adalah pengamatan terhadap

pertumbuhan vegetatif, generatif, umur tanaman maupun vaselife bunga

potong lily pada seluruh varietas lily yang ditanam. Pengamatan juga

dilakukan terhadap aspek yang berkaitan dengan teknik pemanenan dan

penanganan pasca panen lily. Kegiatan ini dilaksanakan dari awal hingga

(38)

Pengamatan dan Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dilakukan selama kegiatan magang terdiri

atas dua cara, yaitu pengumpulan data primer dan pengumpulan data sekunder.

Data primer diperoleh dari pengamatan dan praktek langsung di lapang terutama

mengenai aspek panen dan penanganan pasca panen lima varietas lily yaitu

Acapulco, Conca D’or, Lake Carey, Rio Negro dan Crystal Blanca. Data sekunder diperoleh melalui studi pustaka, wawancara dan diskusi dengan staf maupun

pekerja di lokasi magang. Data sekunder yang dikumpulkan meliputi kondisi

umum perusahaan seperti lokasi, luas area dan tata guna lahan, struktur organisasi

dan manajemen perusahaan, pengelolaan tenaga kerja serta hasil produksi.

Pengamatan dan pengumpulan data primer yang dilakukan berhubungan dengan :

1. Pertumbuhan Vegetatif, Generatif dan Umur Panen

Parameter pengamatan pada pertumbuhan vegetatif tanaman lily

meliputi tinggi tanaman dan jumlah daun, sedangkan parameter

pengamatan pada pertumbuhan generatif tanaman lily meliputi jumlah

kuntum, panjang kuntum dan diameter kuntum. Pengamatan pertumbuhan

tanaman lily dimulai pada 3 MST hingga panen. Umur panen adalah

jumlah hari sejak tanam hingga panen.

2. Pemanenan

Karakteristik yang diamati meliputi kriteria panen bunga lily

di PT. Puri Sekar Asri (intensitas warna, tinggi tanaman, panjang kuntum

dan diameter kuntum), persentase hasil panen terhadap populasi tanam,

persentase kesalahan panen dan teknik pemanenan. Pengamatan terhadap

persentase kesalahan panen dilakukan dengan mengambil lima tanaman

contoh terpanen secara acak sebanyak lima kali dengan jumlah total

tanaman contoh sebanyak 25 tanaman tiap varietas. Tanaman yang diambil

sebagai tanaman contoh tersebut akan dibandingkan dengan standar panen

perusahaan yang telah ditetapkan.

3. Penanganan Pasca Panen

Pengamatan yang dilakukan pada kegiatan penanganan pasca

(39)

Sortasi dan Grading

Pengamatan yang dilakukan adalah persentase jumlah bunga

potong lily yang masuk grade A, B, dan C, kriteria standar syarat mutu

bunga potong lily untuk grade A, B, dan C meliputi panjang kuntum,

diameter kuntum, intensitas warna, jumlah kuntum masak per ikat dan

tinggi tanaman. Pengamatan ini dilakukan terhadap 5 varietas tanaman lily

selama satu bulan penuh yaitu dari tanggal 7 Juni 2011 sampai dengan

tanggal 6 juli 2011. Pengamatan terhadap persentase kesalahan grading

dilakukan dengan mengambil sepuluh ikat tanaman contoh secara acak

untuk tiap varietas dan dibandingkan dengan standar grading perusahaan

yang telah ditetapkan.

Pengemasan

Pengamatan dilakukan terhadap teknik pengemasan bunga potong

serta alat dan bahan yang digunakan untuk pengemasan

Pengangkutan

Pengamatan yang dilakukan adalah jenis alat transportasi yang

digunakan, jarak pengangkutan serta kondisi alat transportasi.

Daya Simpan atau Vaselife

Pengamatan yang dilakukan adalah daya simpan bunga lily potong

meliputi warna bunga dan kondisi bunga (jumlah bunga mekar, kuncup,

terkulai, layu, patah dan gugur) pada dua lokasi yaitu pada cool storage

dan pada ruang bersuhu kamar.

Analisis Data dan Informasi

Data yang diperoleh dan dikumpulkan selama proses kegiatan magang

diolah dan dianalisis secara deskriptif maupun kuantitatif. Analisis kuantitatif

dilakukan pada data yang bersifat kuantitatif dengan menggunakan rata-rata,

persentase dan uji-t student, sedangkan data yang bersifat kualitatif dianalisis

dengan menggunakan analisis deskriptif.

Analisis kuantitatif yang dilakukan untuk menganalisis pertumbuhan

tanaman lily pada fase vegetatif dan generatif adalah menggunakan analisis uji

(40)

untuk membandingkan pertumbuhan vegetatif dan generatif antara Varietas

Crystal Blanca sebagai varietas yang paling banyak ditanam dengan varietas lily

(41)

KEADAAN UMUM

Letak Geografis dan Wilayah Administratif

PT. Puri Sekar Asri memiliki sebuah kantor pusat dan sebuah kebun

produksi yang terletak berjauhan. Kantor pusat PT. Puri Sekar Asri beralamat di

Jl. Pangkalanjati, Pondok Labu, Jakarta Selatan, sedangkan kebun produksi bunga

potong terletak di Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung

Barat, Jawa Barat. Kebun produksi PT. Puri Sekar Asri berbatasan sebelah Utara

dengan Desa Wangunharja, sebelah Selatan dengan Desa Cimenyan, sebelah

Timur dengan Desa Suntenjaya dan sebelat Barat dengan Desa langensari. Letak

geografis PT. Puri Sekar Asri berada pada titik koordinat 6o48’42” LS-107o37’3” BT. Peta lokasi kegiatan magang terdapat pada (Gambar 2).

Gambar 2. Peta Lokasi Kebun Produksi Cibodas PT. Puri Sekar Asri (Sumber : Google Map)

Keadaan Iklim dan Tanah

Kebun produksi Cibodas terletak pada ketinggian 1 260 m dpl. Jenis tanah

yang terdapat di kebun produksi Cibodas adalah jenis tanah Andosol. Curah hujan

(42)

Suhu harian rata-rata Desa Cibodas adalah 15 oC - 24 oC dan kelembaban relatif harian rata-rata 82 %. Data yang terkait dengan curah hujan, suhu, dan

kelembaban udara terdapat pada (Lampiran 2) dan (Lampiran 3).

Luas Areal dan Tata Guna Lahan

Kebun produksi Cibodas memiliki luas areal ± 1 ha. Luas areal yang

dimanfaatkan untuk budidaya ± 8 500 m2. Sisa areal dimanfaatkan untuk kegiatan operasional perusahaan yang terdiri kantor, gudang, asrama karyawan, cool

storage, packing house, lahan terbuka, sumber irigasi dan lain-lain. Lay out tata

guna lahan terdapat pada (Lampiran 4).

Kegiatan budidaya serta produksi bunga potong PT. Puri Sekar Asri hanya

dilakukan di kebun produksi Cibodas. Kebun produksi Cibodas awalnya

merupakan lahan tidur yang akhirnya disewakan pada PT. Puri Sekar Asri pada

tahun 1996 hingga sekarang. Bunga potong yang dibudidayakan di Cibodas

adalah lily, gerbera, mawar, dan lisianthus serta satu jenis daun potong yaitu

ruscus. Seluruh kegiatan budidaya dilakukan di dalam screenhouse kecuali

pencampuran pupuk ayam dan pupuk kandang dilakukan di luar screenhouse.

Screenhouse yang digunakan di kebun produksi Cibodas merupakan

bangunan semi permanen. Screenhouse berfungsi sebagai pelindung tanaman dari

kondisi iklim yang merugikan seperti angin, hujan dan intensitas cahaya matahari

yang terlalu tinggi. Screenhouse juga berfungsi sebagai pelindung tanaman dari

serangan organisme pengganggu seperti hama dan penyakit.

Screenhouse yang dibangun di kebun produksi Cibodas memiliki tipe

Piggy Back yang disatukan menjadi satu screenhouse besar (multispan). Tipe

screenhouse ini dipilih karena sesuai dengan daerah tropis yang memiliki

intensitas dan penerimaan cahaya matahari yang relatif tinggi. Selain itu, tipe

screenhouse ini juga memilki ventilasi yang diperlukan bagi sirkulasi udara agar

suhu di dalam screenhouse tetap stabil. Posisi screenhouse yang menghadap utara

dan selatan dimaksudkan agar penyinaran pada tanaman terjadi secara merata.

Screenhouse di kebun produksi Cibodas terdiri dari screenhouse lama dan

baru. Kerangka screenhouse lama terbuat dari kayu dengan pondasi bawah berupa

(43)

berdiameter 15 cm. Bahan atap screenhouse menggunakan plastik UV dengan

ketebalan ± 2 milimikron. Penggunaan plastik UV ini dikarenakan bahan ini dapat

menahan sinar matahari 15-20 % sementara sisanya dapat diteruskan ke tanaman.

Bahan yang digunakan sebagai dinding screenhouse adalah. Penggunaan kawat

nyamuk ini dimaksudkan agar hama dari jenis serangga tidak masuk ke dalam

screenhouse dan merusak tanaman. Lantai screenhouse hanya berupa tanah

mengingat screenhouse yang dibangun merupakan screenhouse semi permanen.

Screenhouse lama dibangun atas tiga tingkatan lahan yang terdiri dari

sembilan blok. Lahan paling atas terdiri dari blok A, B, dan C. Blok A

dikhususkan bagi komoditas lily, blok B komoditas lisianthus dan blok C

komoditas mawar. Satu tingkat dibawahnya terdiri dari blok D, E, dan F. Blok D

dan F dikhususkan bagi komoditas lily, sedangkan blok E sebagian diperuntukkan

bagi komoditas gerbera dan sebagian lagi bagi komoditas lily. Tingkat paling

bawah terdiri dari blok G, H, dan I. Blok G, H, dan I dikhususkan bagi komoditas

gerbera. Screenhouse lama memiliki luas 8 000 m2. Screenhouse baru berada dibawah satu tingkat dari tingkat ketiga dan berjarak ± 2 m dari screenhouse lama.

Screenhouse baru terdiri dari dua blok yaitu blok J dan K dengan luas bangunan

500 m2. Screenhouse baru ini hanya diperuntukkan bagi komoditas lily saja.

Keadaan Tanaman dan Produksi

PT. Puri Sekar Asri merupakan perusahaan yang berawal dari hobi pemilik

perusahaan dalam membudidayakan tanaman anggrek yang kemudian diikuti

dengan pembibitan tanaman hias. Seiring dengan peningkatan usaha, PT. Puri

Sekar Asri melebarkan sayap dengan menambah jenis usaha yaitu Nursery dan

Trading, Landscape dan Rental Tanaman serta Florist dan Dekorasi. Kebun

produksi Cibodas merupakan perluasan usaha dibidang Nursery dan Trading yang

merupakan bisnis utama perusahaan saat ini. Usaha Nursery dan Trading

memproduksi bunga potong dengan menanam bibit yang berasal dari daerah

setempat maupun impor. Komoditas bunga potong yang diproduksi di kebun

produksi Cibodas antara lain lily, mawar, gerbera dan lisianthus. Hampir semua

bibit awal bunga potong diimpor dari Belanda, namun dalam perkembangannya

Gambar

Gambar 1. Alur Penanganan Pasca Panen Bunga Potong (Sumber : Rimando 2001)
Gambar 2. Peta Lokasi Kebun Produksi Cibodas PT. Puri Sekar Asri
Gambar 5. Pembersihan dan Pengolahan Lahan untuk Persiapan Tanam Lily
Gambar 9. Papan Keterangan Tanam
+7

Referensi

Dokumen terkait