PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG
3. Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman
Pengendalian organisme pengganggu tanaman dibagi menjadi tiga yaitu pengendalian gulma, pengendalian hama dan penyakit tanaman. Pengendalian gulma dilakukan secara manual oleh pekerja wanita. Gulma yang tumbuh di dalam bedengan dicabut dengan menggunakan tangan maupun dengan alat yang dimodifikasi dari bambu yang diberi seng tipis diujungnya. Gulma merupakan organisme yang merugikan pertumbuhan tanaman karena merupakan pesaing dalam memperebutkan hara, nutrisi dan air. Selain itu gulma juga dapat menjadi inang bagi hama dan penyakit yang akan merugikan tanaman apabila tertular. Jenis gulma yang terdapat di kebun produksi Cibodas adalah Elausine indica, Digitaria adscendens, Entella asiatica, Chromolaena odorata dan Ageratum conizoides
Pengendalian hama dan penyakit tanaman dilakukan dengan melakukan penyemprotan pestisida pada tanaman liliy. Penyemprotan pestisida ini dilakukan sekali setiap minggunya yaitu pada hari Rabu. Penyemprotan pestisida dimaksudkan untuk mencegah dan melindungi tanaman dari serangan hama baik serangga, jamur, maupun penyakit. Pestisida yang digunakan dibagi menjadi tiga
yaitu insektisida, fungisida dan akarisida. Insektisida berfungsi melindungi tanaman dari hama yang menyerang tanaman lily dari jenis serangga seperti aphid, kumbang, ulat dan lain sebagainya. Fungisida berfungsi melindungi tanaman dari serangan hama berjenis jamur seperti penicilium, fusarium, rhizoctonia, phytopthora, phytium dan botrytis. Akarisida berfungsi untuk melindungi tanaman dari serangan tungau. Jenis pestisida beserta bahan aktif yang digunakan di kebun produksi Cibodas terdapat pada (Tabel 3).
Tabel 3. Jenis dan Bahan Aktif Pestisida yang Digunakan di Kebun Produksi Cibodas
Jenis Pestisida Bahan Aktif
Insektisida sipermetrin 50 g/l abamektin 18.4 g/l imidakloprid 100 g/l
Fungisida propamokarb hidroklorida 722 g/l propineb 70%
difenokonazol 250 g/l
mefenoksam 4% dan mankozeb 64% Akarisida abamektin 18.4 g/l
heksitiazok 50 g/l
Pengaplikasian pestisida dilakukan bersamaan dengan pemberian pupuk cair pada tanaman lily (Gambar 16a). Jenis pestisida yang digunakan tergantung pada gejala dan kerusakan yang diperlihatkan pada tanaman. Aplikasi pestisida dari satu merek dagang tidak boleh diaplikasikan secara terus menerus. Pestisida dari satu merek dagang harus diselingi dengan merek dagang lainnya untuk mengurangi resiko resistensi hama dan penyakit. Aplikasi penyemprotan pestisida menggunakan sprayer stick pada ujungnya dan dibantu oleh mesin compressor (Gambar 16b). Pekerja yang ditugaskan untuk menyemprot membawa alat sprayer dan selang dan pekerja lainnya menghidupkan mesin penyedot untuk menyalurkan pestisida dari dalam wadah air menuju sprayer.
Gambar 16. (a) Aplikasi Pestisida dan (b) Mesin Compressor
Jenis hama yang menyerang tanaman lily di kebun produksi Cibodas adalah aphid (Aphis gossypii Glov.), siput (Limax maximus) dan ulat. Aphid biasa menyerang tanaman lily saat kuntum masih muda (Gambar 17a). Daun lily yang berada dipucuk dekat calon kuntum akan menjadi keriting dan penuh dengan aphids bersarang di lekukan daun yang mengeriting. Cara menghilangkan aphid cukup mudah yaitu dengan mencuci/menyiram tanaman yang terkena aphid menggunakan selang. Aphid akan ikut hanyut dan mengalir bersama air yang disiramkan tersebut.
Siput tidak hanya menyerang tanaman ketika masih kecil, namun juga menyerang kuntum yang hampir masak dan merusak penampilan kuntum. Kuntum lily yang dimakan siput akan membentuk lubang yang melebar dan berwarna kecoklatan di pinggirnya, namun lubang hanya pada kuntum lapisan atas saja tidak sampai ke bagian dalam kuntum (Gambar 17b). Hal ini tetap merugikan karena kuntum yang rusak oleh siput tidak dapat dijual meskipun kuntum yang lain masih bagus. Hama ulat akan merusak kuntum lebih ganas dibandingkan dengan siput. Ulat akan melubangi kuntum dari permukaan kuntum hingga ke bagian dalam kuntum. Lubang yang terbentuk lebih sempit namun kerusakan yang diakibatkan lebih besar (Gambar 17c dan 17d). Melalui lubang sempit tersebut ulat akan masuk dan memakan bagian dalam kuntum. Seringkali dapat ditemukan ulat yang berukuran besar di dalam kuntum dengan kerusakan kecil di luar.
b a
Gambar 17. (a) Lily yang Terserang Aphid, (b) Lily yang Terserang Siput, (c) Lily yang Terserang Ulat dan (d) Hama Ulat pada Lily Jenis penyakit yang menyerang lily di kebun produksi Cibodas adalah Penicillium, Fusarium dan Pythium. Penyakit Penicillium ini disebabkan oleh jamur Penicillium yang berkembang pada suhu yang tinggi dan RH yang sangat rendah. Jamur ini menyerang umbi dan akar lily selama masa penyimpanan. Umbi lily yang terserang jamur Penicillium akan berwarna coklat membusuk pada sisik umbi, kemudian akan tertutupi dengan lapisan tipis berwarna putih dan perlahan berubah warna menjadi biru-hijau disertai kumpulan spora. Pertumbuhan tanaman lily akan terganggu akibat penyakit ini namun penyakit tidak menjalar sampai ke batang.
Fusarium merupakan penyakit yang disebabkan oleh jamur Fusarium oxysporum dan Cylindrocarpon destructan. Jamur ini mulanya menyerang bagian tanaman yang berada di bawah. Terdapat bercak kecoklatan pada umbi dan kemudian akan membusuk. Pembusukan akan menjalar ke tanaman bagian atas dan menyebabkan busuk batang. Ciri-ciri terjadinya busuk batang adalah terjadinya penguningan pada daun paling bawah yang berubah menjadi coklat, membusuk, dan gugur. Terdapat bercak berwarna jingga kecoklatan pada batang bawah tempat daun tumbuh di bawah permukaan tanah yang kemudian akan membesar dan menyebar ke dalam batang dan menyebabkan tanaman menjadi coklat, busuk dan mati (Gambar 18a).
d c
b a
Tanaman lily yang terserang pythium tidak akan berkembang dengan baik, menjadi lebih pendek, kurus, dan daun paling bawah menguning. Daun dari tanaman yang terkena pythium berukuran kecil dan berwarna lebih pudar. Kuntum bunga akar berukuran kecil, tidak dapat mekar (Gambar 18b). Ketika tanaman diangkat beserta umbinya, maka umbi akan berwarna coklat muda karena terjadi pembusukan. Bahkan ketika dicabut, umbi akan terlepas dengan mudah dari batang tanaman. Penyakit pythium ini disebabkan oleh jamur pythium ultimum.
Gambar 18. (a) Penyakit Fusarium pada Tanaman Lily dan (b) Penyakit Pythium pada Tanaman Lily
4. Pinching
Pinching merupakan salah satu kegiatan pemeliharaan yang dilakukan pada tanaman lily di kebun produksi Cibodas. Pinching pada lily adalah membuang atau memetik kuntum bunga lily yang masih muda yang terdapat dipucuk tanaman. Kegiatan pinching ini dilakukan hanya jika jumlah kuntum dalam satu tanaman terlalu banyak yaitu lebih dari lima kuntum. Pemetikan dilakukan pada pagi hari yaitu pada pukul 07.00-09.00. Kuntum yang dipetik haruslah kuntum yang masih kecil dan muda dengan panjang kuntum < 1 cm dan muncul sejajar. Pemetikan dilakukan pada kuntum dan tangkai kuntum hingga batas munculnya tangkai kuntum untuk menghindari rusaknya penampilan tanaman dan terlihatnya bekas pemetikan. Pinching dilakukan hanya pada tanaman lily dengan jenis Crystal Blanca. Jenis ini cenderung memiliki kuntum berjumlah 7-9 kuntum. Tujuan dilakukan pinching ini adalah agar pertumbuhan dan perkembangan kuntum lily maksimal. Jumlah kuntum yang terlalu banyak akan memperlambat pemasakan kuntum dan ukuran kuntum menjadi lebih kecil.
b a
Kegiatan pinching dilakukan oleh pekerja yang telah mengetahui teknik pinching yang benar agar tidak terjadi kesalahan dan merusak penampilan tanaman.
Panen
Pemanenan merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memetik hasil pada tingkat kematangan yang tepat dengan kerusakan dan kehilangan hasil yang sedikit serta dilakukan secepat mungkin. Kegiatan panen di kebun produksi Cibodas dilakukan setiap hari dan pada pagi hari (Gambar19) . Apabila terdapat tambahan pesanan maka panen juga dilakukan pada sore hari. Panen berlangsung selama 2-3 jam yaitu dimulai pada pukul 06.00 hingga pukul 09.00 dan dilaksanakan oleh satu orang pekerja wanita dan terkadang dibantu oleh kepala bagian subdivisi packing. Manajer produksi kebun akan membuat estimasi jumlah panen lily berdasarkan jumlah pesanan yang diterima.
Gambar 19. Kegiatan Pemanenan Lily di Kebun Produksi Cibodas
Bagian tanaman lily yang dipanen adalah seluruh tanaman, mulai dari bunga, daun beserta batang kecuali umbi. Panen dilakukan dengan memotong tanaman lily ±10 cm di atas tanah dengan menggunakan gunting panen. Tanaman lily yang siap panen dapat ditentukan dari tinggi tanaman, jumlah bunga siap panen dan kondisi fisik tanaman yang baik yaitu tidak cacat fisik maupun terserang penyakit. Perusahaan belum memiliki standar panen baku yang digunakan sebagai acuan pada saat panen, oleh karena itu penulis menetapkan standar grade terkecil yaitu grade C sebagai standar panen untuk mengukur batas minimum tanaman dapat dipanen. Standar panen yang digunakan sebagai acuan panen terdapat pada (Tabel 4).
Tabel 4. Standar Panen yang Digunakan sebagai Acuan Pemanenan Varietas Tinggi (mm) Panjang Kuntum (mm) Diameter Kuntum (mm) Warna Kuntum (Skor) Acapulco <700 <70 <10 <5 Conca D'or <700 <70 <10 <5 Rrio Negro <700 <70 <10 <5 Lake Carey <700 <70 <10 <5 Crystal Blanca <700 <70 <10 <5 Ciri-ciri kuntum yang telah masak dan siap panen dapat dilihat dari warna, panjang kuntum maupun diameter kuntum (Gambar 20). Apabila pemanenan dilakukan dengan mengukur panjang dan diameter kuntum maka akan memperlambat dan mempersulit proses pemanenan, oleh karena itu panen dilakukan hanya dengan melihat warna kuntum untuk mempercepat proses pemanenan.
Gambar 20. (a) Kuntum Layak Panen pada Lily Jenis Acapulco, (b) Crystal Blanca, (c) Rio Negro, (d) Conca D’or dan (e) Lake Carey
Kriteria panen yang terakhir adalah kondisi fisik tanaman yang baik terutama kondisi kuntum yang bebas dari cacat fisik maupun terserang penyakit.
b c
a
e d
Kecacatan pada kuntum akan menurunkan kualitas bahkan menghilangkan nilai jual sama sekali. Kuntum yang mengalami kecacatan tidak akan dipanen, namun apabila terpanen maka akan dipisahkan saat penyortiran.
Pasca Panen
Pasca panen merupakan kegiatan yang dilakukan setelah panen yang bertujuan untuk meghindari kerusakan dan menjaga kualitas bunga lily. Kegiatan pasca panen yang dilakukan pada kebun produksi Cibodas adalah sortasi, seleksi kualitas (grading), pengemasan (packing), penjemuran, penyimpanan, pengiriman dan pemasaran.
1. Sortasi
Sortasi merupakan salah satu kegiatan pasca panen yang dilakukan di kebun produksi Cibodas. Sortasi bertujuan untuk menjaga kualitas bunga potong lily yang akan dijual. Sebelum dilakukan sortasi, tanaman lily yang telah dipanen dipisahkan berdasarkan jenisnya dan dimasukkan ke dalam bak berisi air dalam posisi tegak agar tetap segar. Sortasi dilakukan secara manual di atas meja yang telah disiapkan untuk proses penyortiran. Sortasi dimulai dengan memilih dan memilah tanaman lily yang telah dipanen berdasarkan kondisi fisik tanaman tersebut (Gambar 21). Tanaman yang memiliki cacat fisik akan dipisahkan dan dimasukkan ke dalam kategori waste (tidak terpakai). Kemudian sortasi dilanjutkan dengan memilih tanaman berdasarkan kesamaan tinggi, panjang kuntum, besar kuntum dan tingkat kematangan kuntum. Tanaman yang memiliki tinggi tanaman, panjang kuntum, besar kuntum dan kematangan kuntum sama dikelompokkan menjadi satu dan diikat. Satu ikat lily berisi lima batang lily. Kegiatan sortasi dilakukan oleh pekerja yang telah berpengalaman oleh karena itu tidak diperlukan alat ukur untuk mengukur tinggi tanaman, panjang kuntum maupun besaran kuntum. Pekerja tersebut melakukan sortasi secara manual berdasarkan pengalaman selama bekerja.
Kegiatan sortasi terkadang tidak melalui tahap pengelompokan apabila waktu pasca panen yang dimiliki sempit. Pekerja cukup mengambil dan memilih langsung dari tumpukan tanaman lily yang telah dipanen tanpa melakukan
pengelompokan. Tanaman yang diambil langsung dari tumpukan hasil panen tetap harus memiliki keseragaman tinggi tanaman, panjang kuntum, besar kuntum maupun kemasakan kuntum dalam satu ikat agar kualitas tetap terjaga.
Gambar 21. Kegiatan Sortasi Hasil Panen Lily