ANALISIS UNTUK MENENTUKAN PERBAIKAN
ATRIBUT PERMEN
ANESTI ADIRATNA
DEPARTEMEN STATISTIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Analisis untuk Menentukan Perbaikan Atribut Permen adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Juli 2013
Anesti Adiratna
ABSTRAK
ANESTI ADIRATNA. Analisis untuk Menentukan Perbaikan Atribut Permen. Dibimbing oleh HARI WIJAYANTO dan LA ODE ABDUL RAHMAN.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM 2006) menggolongkan makanan ke dalam 16 kategori, salah satu diantaranya adalah permen. Loyalitas konsumen permen sangat rendah. Konsumen permen bukan tipe konsumen fanatik yang akan memburu produk yang diinginkannya, sehingga banyak merek permen mudah untuk berada di pasaran dan mudah juga untuk hilang dari pasaran. Tingkat kesukaan pada permen dipengaruhi oleh atribut-atribut yang dapat dikendalikan dengan baik oleh produsen. Penelitian ini mengambil responden siswa sekolah menengah pertama (SMP) yang dipilih secara puspossive dengan metode pengumpulan data central location test (CLT). Permen yang dievaluasi adalah permen baru yang dibandingkan dengan permen “biru”, permen “hijau”, permen “kuning”, dan permen “merah”. Metode Thurstone digunakan untuk memeringkatkan atribut-atribut yang mempengaruhi penilaian responden terhadap suatu produk. Sedangkan Penalty Analysis digunakan untuk menetapkan efek dari atribut yang memiliki level kurang optimal pada skala hedonik suatu produk. Atribut-atribut dengan peringkat tertinggi merupakan atribut yang dipentingkan oleh konsumen dan atribut yang memiliki persentase JARTL dan JARTM lebih dari
20% merupakan atribut yang perlu diperhatikan oleh produsen untuk diperbaiki. Permen baru yang merupakan permen yang belum berada di pasaran memiliki atribut ukuran dan ketebalan sebagai atribut yang dipentingkan oleh konsumen serta lebih cenderung diperformakan mendekati permen “merah” (permen dari perusahaan lain). Permen “biru” yang merupakan permen yang telah berada di pasaran disukai karena ukurannya yang pas dan kekenyalannya. Analisis menggunakan metode Thurstone pada permen “hijau”menunjukkan bahwa atribut kekenyalan, tekstur, dan ukuran merupakan atribut yang dominan dalam mempengaruhi persepsi konsumen dalam memilih permen “hijau”. Sedangkan analisis pada permen “kuning” dan “merah” sama-sama menyatakan permen ini unggul dalam atribut warna. Akan tetapi setelah dilakukan penalty analysis, warna dari kedua permen ini perlu dijadikan perhatian bagi produsen untuk diberikan perbaikan.
Kata kunci: penalty analysis, psychological continuum, the law of comparative judgment.
ABSTRACT
ANESTI ADIRATNA. Analysis to Determine The Setting of Candy Attibute. Supervised by HARI WIJAYANTO dan LA ODE ABDUL RAHMAN.
be controlled well by manufacturers. This study takes students of junior high school as the respondents by purpossive method and use central location test (CLT) for collecting data. The evaluation candies are the new candy that is compared by “biru” candy, “hijau” candy, “kuning” candy, and “merah”candy”. Thurstone method rank the attributes which affect respondents assessment to a product. Penalty Analysis is used to set effect of attribute that has less optimal value in hedonic scale of a product. Attributes with high ranks are the important attributes and attributes which have percentages of JARTL and JARTM more than 20% are attributes which need attention
from the manufacturers to be fixed. The new candy that has not been available on the market has size and thickness as the attributes that is stake by consumer and it is performed likely “merah” candy (candy from other companies). “Biru” candy that was in the market is liked by consumers because its propet size and chewiness. Analysis using Thurstone method for “hijau” candy shows that chewiness, texture, and size are dominant attributes which influence the consumers perception for choosing that candy. Then, analysis in “kuning” and “merah” candies show that the principal attribute of both is colour. But, the result of penalty analysis shows that the colour of both is important to be fixed.
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Statistika
pada
Departemen Statistika
ANALISIS UNTUK MENENTUKAN PERBAIKAN
ATRIBUT PERMEN
DEPARTEMEN STATISTIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR 2013
Judul Skripsi : Analisis untuk Menentukan Perbaikan Atribut Permen Nama : Anesti Adiratna
NIM : G14090068
Disetujui oleh
Dr Ir Hari Wijayanto, MSi Pembimbing I
La Ode Abdul Rahman, SSi MSi
Pembimbing II
Diketahui oleh
Dr Ir Hari Wijayanto, MSi Ketua Departemen
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Penelitian ini dilaksanakan sejak bulan Mei 2013 dengan judul Analisis untuk Menentukan Perbaikan Atribut Permen.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr Ir Hari Wijayanto, MSi dan Bapak La Ode Abdul Rahman, MSi selaku pembimbing, serta Bapak Drs Supardiyanto, MM dan Ibu Suparti, SGz atas doanya. Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada Elma Hamiidah dan Elza Hamiidah yang telah memberikan semangat dan dukungannya. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada Keluarga Statistika 46, staf tata usaha Departemen Statistika, dan seluruh pihak yang telah membantu terselesainya karya ilmiah ini.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
Bogor, Juli 2013
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL vii
DAFTAR GAMBAR vii
DAFTAR LAMPIRAN vii
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Tujuan Penelitian 2
METODOLOGI 2
Metode Pengumpulan Data 2
Metode Analisis Data 3
HASIL DAN PEMBAHASAN 6
Karakteristik Responden 6
Performa Permen Baru 8
Performa Permen “Biru” 11
Performa Permen “Hijau” 15
Performa Permen “Kuning” 18
Performa Permen “Merah” 20
Performa Keseluruhan Permen 23
SIMPULAN 24
DAFTAR PUSTAKA 25
LAMPIRAN 27
DAFTAR GAMBAR
1 Karakteristik responden menurut jenis kelamin 6
2 Karakteristik responden menurut kondisi sosial ekonomi 7 3 Peringkat atribut tingkat kesukaan pada permen baru secara umum dan
berdasarkan jenis kelamin 8
4 Peringkat atribut tingkat kesukaan pada permen baru secara umum dan
berdasarkan kondisi sosial ekonomi 9
5 Performa permen baru 11
6 Peringkat atribut tingkat kesukaan pada permen “biru” secara umum dan
berdasarkan jenis kelamin 12
7 Peringkat atribut tingkat kesukaan pada permen “biru” secara umum dan
berdasarkan kondisi sosial ekonomi 13
8 Performa permen “biru” 14
9 Peringkat atribut tingkat kesukaan pada permen “hijau” secara umum dan
berdasarkan jenis kelamin 15
10 Peringkat atribut tingkat kesukaan pada permen “hijau” secara umum dan
berdasarkan kondisi sosial ekonomi 16
11 Performa permen “hijau” 17
12 Peringkat atribut tingkat kesukaan pada permen “kuning” secara umum
dan berdasarkan jenis kelamin 18
13 Peringkat atribut tingkat kesukaan pada permen “kuning” secara umum
dan berdasarkan kondisi sosial ekonomi 19
14 Performa permen “kuning” 20
15 Peringkat atribut tingkat kesukaan pada permen “merah” secara umum
dan berdasarkan jenis kelamin 21
16 Peringkat atribut tingkat kesukaan pada permen “ merah “ secara umum
dan berdasarkan kondisi sosial ekonomi 22
17 Performa permen “merah“ 23
18 Performa keseluruhan permen 24
DAFTAR LAMPIRAN
1 Kriteria sosial ekonomi responden 27
2 Tahap-tahap pada metode Thurstone 29
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dalam era globalisasi dan pasar bebas, berbagai jenis barang dan jasa dengan banyak merek menguasai pasar Indonesia. Persaingan antarmerek pada setiap produk pun semakin tinggi, begitupun dalam hal makanan. Menurut badan pengawas obat dan makanan (BPOM 2006), makanan dikategorikan ke dalam 16 kategori, salah satunya adalah permen.
Konsumen permen biasanya membeli permen kalau ingat dan secara tidak sengaja melihat barang tersebut. Loyalitas konsumen permen terhadap suatu merek tertentu sangat rendah. Loyalitas merek (brand loyalty) merupakan sikap positif seorang konsumen terhadap suatu merek, sehingga konsumen memiliki keinginan kuat untuk membeli ulang merek yang sama pada saat sekarang maupun masa datang (Sumarwan 2002). Konsumen permen bukan tipe konsumen fanatik yang akan memburu produk yang diinginkannya, sehingga meskipun konsumen mengingat merek-merek permen, apabila barangnya tidak di depan mata dan tidak menarik baginya, maka permen tersebut tidak akan dibelinya. Oleh sebab itu banyak merek permen mudah untuk berada di pasaran dan mudah juga untuk hilang. Deretan produk seperti itu bisa dikatakan sebagai impulse buying. Artinya, pembelian tidak direncanakan saat menginginkannya dan langsung membeli saat itu juga.
Tingkat kesukaan pada permen sendiri dipengaruhi oleh beberapa atribut antara lain warna, bentuk, rasa, dan lain sebagainya. Dalam mencapai tingkat kesukaan, atribut-atribut yang mempengaruhi tersebut harus dapat dikendalikan dengan baik karena tidak semua atribut mempengaruhi preferensi responden terhadap suatu produk.
Suatu produsen permen, yaitu XYZ ingin mengeluarkan produk baru (permen baru). Produk baru tersebut akan dibandingkan dengan merek lain maupun permen produksi XYZ sebelumnya. Penelitian ini mengevaluasi lima merek permen untuk diketahui atribut-atribut yang berkaitan dengan tingkat kesukaan permen yaitu, warna, ketebalan, ukuran, aroma, wangi, rasa mint, kekenyalan, tekstur, dan kemanisan rasa permen. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Thurstone dan penalty analysis.
Metode Thurstone merupakan metode analisis yang memeringkatkan atribut- atribut yang mempengaruhi pemilihan responden terhadap suatu produk. Metode Thurstone dikenal sebagai hukum penilaian relatif (The law of comparative judgment) dengan prinsip dasar penilaian data perbandingan berpasangan (pair comparisons) pada seluruh kemungkinan pasangan atribut. Atribut ini dapat ditetapkan, sebagaimana pada saat yang berbeda untuk setiap penilaian. Penilaian tersebut diletakkan pada psychological continuum, yaitu garis skala yang mengandung nilai pengukuran (Thurstone 1927 dalam Maranell 1974).
Penalty analysis digunakan untuk menetapkan efek dari atribut yang memiliki level kurang optimal pada skala hedonik suatu produk. Penalty analysis
2
yang mengombinasikan intensitas dan pendapat mengenai kesukaan (Lawless dan Heymann 2010).
Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini ialah mengevaluasi tingkat kesukaan konsumen terhadap atribut-atribut permen dengan menggunakan metode Thurstone dan
penalty analysis.
METODOLOGI
Metode Pengumpulan Data
Metode penelitian yang digunakan ialah survei mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi dan atribut-atribut yang terkait pada tingkat kesukaan permen. Survei dilaksanakan pada tanggal 16 sampai 18 November 2012 di Kota Jakarta.
Metode penarikan contoh yang digunakan ialah penarikan contoh tidak berpeluang, yaitu penarikan contoh dengan tujuan tertentu (purpossive sampling). Purpossive sampling diterapkan supaya mempermudah penelitian dalam mencari responden dengan karakteristik yang telah ditetapkan (Beins dan McCarthy 2012). Di samping itu, keterbatasan biaya dan waktu yang diberikan juga menjadi alasan dipergunakannya metode penarikan contoh ini.
Responden pada penelitian ini ialah siswa-siswi sekolah menengah pertama (SMP) di Jakarta yang berusia 13 sampai 15 tahun dengan komposisi jenis kelamin dan kondisi sosial ekonomi yang seimbang. Responden merupakan pengonsumsi permen mint merek tertentu dan setidaknya mengonsumsi permen tersebut empat kali seminggu selama tiga bulan terakhir. Kriteria sosial ekonomi (SES) yang digunakan ialah SES A, SES B, dan SES C1 dengan ketentuan seperti tertulis pada Lampiran 1.
Peneliti telah memiliki daftar seluruh SMP yang terdapat di Kota Jakarta. Dari daftar tersebut, akan dipilih SMP yang memenuhi kriteria sosial ekonomi tertentu sebagai langkah awalnya. Kemudian dari SMP terpilih, diambil pelajar-pelajar yang memenuhi seluruh kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya.
Metode yang digunakan dalam pengumpulan data ini adalah central location test (CLT). CLT merupakan suatu teknik penelitian dengan metode tatap muka yang mengundang responden dengan atau tanpa pemberitahuan sebelumnya ke suatu tempat yang ditentukan untuk mengevaluasi produk-produk yang diujikan, misalnya di pusat perbelanjaan. Responden akan direkrut untuk berpartisipasi dalam penelitian yang akan dilakukan dan diselesaikan pada waktu tersebut (ESOMAR 1998).
3
permen “biru”. Perbedaannya ialah dalam warnanya. Permen “hijau” berwarna putih dengan garis hijau. Karakteristik dari permen “kuning” ialah berbentuk lingkaran, berwarna bening keoranye-oranyean, dan merupakan permen mint
dengan rasa lemon. Selanjutnya permen “merah”, permen ini berbentuk bulat telur (oval) dengan warna bening kemerah-merahan dan merupakan permen mint dengan rasa buah strawberry.
Metode evaluasi produk yang digunakan adalah blind testing dan sequential monadic testing. Blind testing merupakan metode pengujian yang mencatat hasil tes tanpa mengetahui identitas sampel dan hasil yang diharapkan. Metode ini membantu menghilangkan efek dari merek dalam mempengaruhi opini terhadap kinerja produk (Pati 2002). Metode blind testing ini dikombinasikan dengan
sequential monadic testing yang merupakan metode evaluasi produk yang mengevaluasi semua produk yang diujikan secara bergantian. Pergantian produk yang diujikan ini membutuhkan penetralisir yang tepat (Pati 2002).
Atribut yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak sembilan atribut, yaitu: X1 : Warna
X2 : Ketebalan
X3 : Ukuran
X4 : Aroma keseluruhan
X5 : Wangi
X6 : Rasa mint
X7 : Kekenyalan
X8 : Tekstur
X9 : Kemanisan rasa.
Data berisi sembilan atribut dengan skala ordinal 1-9 dan 1-5. Skala 1-9 menyatakan tingkat kesukaan responden terhadap suatu atribut produk (dari sangat tidak suka sekali sampai sangat suka sekali). Skala 1-5 menunjukkan penilaian responden terhadap tingkat kesesuaian setiap atribut untuk produk yang dinilai. Skala 1-2 menyatakan kurangnya produk pada atribut tertentu, skala 3 menyatakan bahwa produk telah pas atau sesuai, dan skala 4-5 menyatakan lebihnya produk pada atribut tertentu.
Metode Analisis Data
Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini ialah metode Thurstone dan penalty analysis. Langkah-langkah yang dilakukan dalam analisis data adalah sebagai berikut:
1. Melakukan analisis deskriptif untuk melihat profil responden. 2. Menganalisis data menggunakan metode Thurstone.
4
atribut yang sama pada saat yang berbeda. Hal ini menyebabkan seorang responden memiliki proses diskriminal yang berbeda pada penilaian suatu atribut dan akan membentuk sebaran frekuensi pada psychological continuum
dalam proses diskriminalnya. Sebaran frekuensi ini membentuk suatu sebaran normal dengan nilai tengah sama dengan nilai modus dari atribut tersebut. Simpangan diskriminal (discriminal deviation) merupakan selisih dari proses diskriminal, sedangkan simpangan baku dari sebaran proses diskriminal disebut dispersi diskriminal (discriminal dispersion). Beda diskriminal (discriminal difference) merupakan selisih dari penilaian yang sama pada dua obyek dalam proses diskriminal (Thurstone 1927 dalam Maranell 1974).
Persamaan pada The law of comparative judgment dapat didefinisikan sebagai berikut:
Si- Sj=xij √σi2+ σj2-2rσiσj
Si : nilai skala psikologis dari atribut i
Sj : nilai skala psikologis dari atribut j
xij : nilai dari tabel normal baku yang sesuai dengan proporsi penilaian
pi>j. Jika pi>j lebih dari 0.5, maka xij bernilai positif. Jika pi>j kurang dari 0.5, maka xij bernilai negatif
σi : dispersi diskriminal dari atribut i
σj : dispersi diskriminal dari atribut j
r : korelasi antara simpangan diskriminal dari atribut i dan atribut j pada penilaian yang sama.
Hukum penilaian relatif (The law of comparative judgment) dapat didekati oleh beberapa kasus. Kasus yang paling sederhana ialah Kasus V. Kasus V dalam metode Thurstone mengasumsikan bahwa dispersi diskriminal antar atributnya adalah homogen (σi2= σj2=σ2), sehingga persamaan yang digunakan:
Si - Sj=xij √2σ2
Si - Sj=xijσ √2
Nilai √2 dapat dihilangkan karena yang dicari adalah jarak relatif antar atribut, sehingga persamaan yang digunakan menjadi:
Si- Sj=xij
(Green 1954 dalam Maranell 1974). Tahap-tahap yang dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Mengelompokkan data berdasarkan jenis kelamin dan kondisi sosial ekonomi responden.
5
Skor ={
1, jika atribut i>atribut j 0, jika atribut i<atribut j 0.5, jika atribut i=atribut j
c. Menghitung matriks proporsi (P ), yaitu dengan membagi setiap unsur matriks frekuensi dengan jumlah responden.
� =��
inv CDF (0,1) = Pij
d. Mentransformasi setiap unsur matriks proporsi menjadi nilai kuantil normal baku (� ).
e. Mengurutkan kolom matriks nilai kuantil normal baku (� ) dari kolom dengan rataan terkecil hingga terbesar.
f. Menghitung selisih rataan antarkolom terdekat.
g. Menghitung nilai skala tiap atribut, yaitu dengan nilai skala awal nol dan nilai skala berikutnya merupakan kumulatif dari nilai skala sebelumnya. 2. Melakukan penalty analysis.
Penalty analysis merupakan teknik statistika yang dapat dilakukan pada data dengan skala Just About Right (JAR) untuk memprioritaskan atribut mana yang paling memberikan pengaruh kesukaan. JAR merupakan skala yang mengombinasikan intensitas dan pendapat mengenai kesukaan. Skala JAR memberi informasi yang bisa didiagnosis atau dijelaskan jika produk secara keseluruhan kurang menarik(Lawless dan Heymann 2010). Skala ini biasanya dicirikan dengan lima atau tujuh kategori yang seimbang, skala di tengah menjadi kategori Just About Right. Pada skala JAR terdiri dari “terlalu lemah”, “terlalu kuat”, atau “sesuai” sepanjang rangkaian urutan. Skala ini digunakan untuk menilai kelayakan level dari sensori produk (Meullenet 2007).
Tahapan yang digunakan dalam melakukan penalty analysis adalah sebagai berikut:
a. Membagi konsumen menjadi tiga kelompok, yaitu skor 1-2 too little (TL), skor 3 just about right (JAR), dan skor 4-5 too much (TM).
b. Menghitung frekuensi dan persentase JAR untuk masing-masing kelompok. c. Menghitung mean overall liking dan mean drops.
d. Melakukan uji perbandingan untuk atribut-atribut yang memiliki persentase JARTL dan/atau JARTM lebih besar dari 20%.
e. Menginterpretasi hasil penalty analysis.
3. Mengulangi langkah 1 dan 2 untuk permen-permen lainnya. 4. Membuat plot biplot.
6
terkandung dalam biplot sehingga nilai dimensi yang lebih besar dari 70% dianggap sudah cukup memberikan informasi dari keseluruhan data yang ada (Mattjik dan Sumertajaya 2011).
Informasi yang diperoleh dari tampilan biplot adalah (Mattjik dan Sumertajaya 2011):
a. Kedekatan antar objek
Dua objek yang memiliki karakteristik yang mirip akan digambarkan sebagai dua titik yang posisinya berdekatan.
b. Keragaman peubah
Peubah yang memiliki nilai keragaman kecil digambarkan sebagai vektor pendek, sedangkan peubah dengan nilai keragaman besar digambarkan sebagai vektor yang panjang.
c. Korelasi antar peubah
Jika sudut dua peubah kurang dari 90° maka korelasi bernilai positif. Jika sudutnya lebih besar dari 90° maka korelasinya bernilai negatif. Semakin kecil sudutnya, semakin kuat korelasinya.
d. Nilai peubah pada suatu objek
Objek yang memiliki nilai tinggi pada suatu karakteristik, akan digambarkan searah dengan vektor peubah yang bersangkutan, demikian pula sebaliknya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik Responden
Penggunaan metode Thurstone dilakukan dengan mengelompokkan responden sesuai karakteristiknya. Berdasarkan karakteristik yang ada, akan diperoleh peringkat faktor penentu yang mempengaruhi konsumen dalam memilih permen.
Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Gambar 1 Karakteristik responden menurut jenis kelamin
Gambar 1 menunjukkan responden terpilih yang dibagi ke dalam empat kelompok secara acak. Kelompok 1 memberi penilaian pada permen baru dan permen “biru” yang terdiri atas 37 responden berjenis kelamin laki-laki dan 40 perempuan. Kelompok 2 memberi penilaian pada permen baru dan permen “hijau” yang terdiri atas 39 responden laki-laki dan 38 perempuan. Permen “kuning” dinilai
0 20 40 60
1 2 3 4
Ju
m
la
h
Kelompok
7
oleh kelompok 3 dengan 49 responden berjenis kelamin laki-laki dan 51 perempuan, serta 50 laki-laki dan 50 perempuan responden kelompok 4 memberi penilaian terhadap permen “merah”. Komposisi jenis kelamin responden pada masing-masing kelompok diproporsikan seimbang supaya tidak ada ketimpangan pada salah satu jenis kelamin.
Karakteristik Responden Berdasarkan Kondisi Sosial Ekonomi
Selain jenis kelamin, kondisi sosial ekonomi merupakan kriteria yang sangat diperhatikan dalam riset pemasaran. Kriteria sosial ekonomi yang digunakan pada penelitian ini ialah SES A, SES B, dan SES C1. Pembagian kondisi sosial ekonomi bergantung pada pengeluaran tiap bulan dan kepemilikan barang-barang. Untuk deskripsi masing-masing kondisi sosial ekonomi dapat dilihat pada Lampiran 1.
Gambar 2 Karakteristik responden menurut kondisi sosial ekonomi
Berdasarkan Gambar 2 dapat dilihat bahwa masing-masing kelompok memiliki proporsi kondisi sosial ekonomi yang hampir sama. Kelompok 1 terdiri atas 77 responden yang dibagi ke dalam tiga bagian kondisi sosial ekonomi, yaitu 27 responden SES A serta 25 responden SES B dan SES C1. Kelompok 2 juga terdiri atas 77 responden. Pada SES A terdapat 24 responden, SES B dengan 28 responden, dan 25 responden pada C1. Kelompok 3 dan 4 masing-masing mempunyai jumlah responden 100 dan 101 orang. Pada Kelompok 3 terdapat 31 responden pada SES A, 33 responden pada SES B, dan 36 responden pada SES C1. Selanjutnya untuk Kelompok 4 masing-masing SES A, SES B, dan SES C1 ialah 34, 35, dan 32 orang responden.
Performa Permen Baru
Secara umum konsumen permen baru memilih atribut ukuran sebagai atribut yang paling penting dalam memilih permen. Hal tersebut dapat dilihat pada Gambar 3 dan Gambar 4. Gambar 3 menunjukkan bahwa pada permen baru, atribut ukuran memiliki nilai skala paling tinggi dibanding atribut-atribut yang lain. Atribut yang menempati peringkat kedua ialah atribut ketebalan dengan nilai skala tidak berbeda jauh dengan atribut ukuran. Hal ini dapat diartikan bahwa dalam memilih permen
0 10 20 30 40
1 2 3 4
Ju
m
lah
Kelompok
8
baru, responden lebih memperhatikan ukuran dan ketebalannya. Konsumen cenderung kurang suka dengan permen yang mempunyai ukuran terlalu kecil dan tipis. Berhubung permen baru merupakan produk yang belum berada di pasaran, maka produsen dianjurkan untuk lebih memperhatikan ukuran dan ketebalannya.
Peringkat terendah pada atribut tingkat kesukaan permen baru secara umum ditempati oleh atribut kemanisan rasa. Hal ini menunjukkan bahwa konsumen tidak memperhatikan atribut kemanisan rasa dalam memilih permen baru untuk dikonsumsi. Mereka beranggapan apabila semua permen sudah pasti memiliki rasa manis, sehingga atribut tersebut tidak terlalu diperhatikan. Atribut-atribut lain seperti warna, kekenyalan, tekstur, aroma, rasa mint, dan wangi kurang mempengaruhi tingkat kesukaan konsumen terhadap permen baru. Hal ini dapat dilihat dari nilai skala atributnya yang kecil dan selisih antar atribut yang tidak berbeda jauh. Nilai selisih ini diperoleh dari perhitungan urutan atribut dengan rata-rata yang tinggi dikurangi atribut dengan rata-rata-rata-rata rendah. Selanjutnya nilai selisih tersebut digunakan untuk menentukan nilai skala tiap atribut. Atribut dengan peringkat terendah diberi nilai skala 0.0000. Nilai skala atribut berikutnya merupakan penjumlahan nilai skala atribut sebelum dengan nilai selisih. Langkah-langkah perhitungan menggunakan metode Thurstone dapat dilihat pada Lampiran 2.
Gambar 3 Peringkat atribut tingkat kesukaan pada permen baru secara umum dan berdasarkan jenis kelamin
9
ketebalan merupakan atribut yang sama-sama penting dalam mempengaruhi tingkat kesukaan permen barupada laki-laki maupun perempuan.
Peringkat atribut-atribut lain hasilnya sangat beragam, misalnya atribut tekstur dan aroma. Konsumen laki-laki masih memperhatikan kedua atribut ini dalam memilih permen, sedangkan konsumen perempuan kurang atau bahkan tidak mementingkannya. Hal ini dapat dibuktikan dengan peringkat yang ditempati, yaitu peringkat ketujuh untuk atribut tekstur dan kedelapan untuk atribut aroma pada konsumen perempuan. Atribut kemanisan rasa, wangi, kekenyalan, ketebalan, dan rasa mint juga memiliki peringkat yang berbeda berdasarkan jenis kelamin konsumennya. Perbedaan ini menunjukkan bahwa dalam memilih permen baru, konsumen laki-laki dan perempuan mempunyai persepsi yang berbeda dalam melihat atribut-atributnya. Selain atribut ketebalan dan ukuran, konsumen laki-laki permen baru juga memperhatikan atribut kekenyalan dalam memilih permen, sedangkan konsumen perempuan lebih cenderung memperhatikan warnanya. Hal ini sesuai dengan karakter perempuan yang lebih tertarik dengan sesuatu yang berwarna-warni. Atribut kekenyalan menempati peringkat ketiga pada responden laki-laki dan atribut warna pada responden perempuan dalam peringkat yang sama.
SES C1
Gambar 4 Peringkat atribut tingkat kesukaan pada permen baru secara umum dan berdasarkan kondisi sosial ekonomi
Pada responden dengan kondisi sosial ekonomi A (SES A), peringkat pertama ditempati oleh atribut ukuran dan atribut ketebalan pada peringkat kedua (Gambar 4). Nilai skala yang berdekatan pada kedua atribut ini menjadikan atribut ukuran dan ketebalan merupakan atribut yang dipentingkan oleh konsumen SES A dalam memilih permen baru.
10
mempunyai lima atribut yang dipentingkan oleh konsumen SES C1 dalam memilih permen. Selain itu atribut aroma juga mempunyai jarak yang sangat dekat dengan atribut tekstur, akan tetapi kedua atribut tersebut tidak terlalu dipentingkan.
Berbeda dengan kondisi pada SES A dan SES C1, atribut ukuran menempati peringkat kedua pada SES B. Peringkat pertama pada SES B ditempati oleh atribut ketebalan pada skala 0.6225. Atribut-atribut lain pada SES B cenderung membentuk suatu kelompok, seperti atribut kekenyalan dan warna, serta atribut wangi, aroma, tekstur, dan rasa mint. Hal ini menunjukkan bahwa ketebalan merupakan atribut yang sangat dipentingkan dalam menentukan tingkat kesukaan konsumen dengan SES B pada permen baru.
Atribut kemanisan rasa menempati peringkat terakhir pada seluruh kondisi sosial ekonomi. Hal ini dapat diartikan bahwa konsumen permen baru tidak memperhatikan atribut kemanisan rasa dalam memilih permen baru untuk dikonsumsi. Kurang beragamnya hasil peringkat pada kondisi sosial ekonomi konsumen permen barumenunjukkan bahwa masing-masing SES (SES A, SES B, dan SES C1) tidak memiliki karakteristik khusus dalam memilih permen.
Sesuai atau tidaknya suatu atribut terhadap produknya, dapat dilihat dari nilai JARTL dan JARTM-nya. Nilai JARTL dan JARTM ini dapat dianalisis menggunakan
penalty analysis yang bertujuan menetapkan efek dari atribut yang memiliki level kurang optimal pada skala hedonik suatu produk. Untuk beberapa atribut khusus, konsumen biasanya membagi ke dalam tiga kelompok, yaitu JAR, terlalu lemah, dan terlalu kuat (Lawless dan Heymann 2010). Penalty analysis diukur dengan membandingkan peringkat overall liking responden yang bepikir bahwa produk terlalu berlebih (too much) atau terlalu sedikit (too little) dengan JAR.
Uji sensori menggunakan penalty analysis harus memasukkan:
a. Atribut overall liking untuk kepuasan umum pada suatu produk. Atribut ini secara khas memiliki standar sembilan angka skala.
b. Satu atau lebih atribut JAR untuk karakteritik individu produk. Skala JAR ini secara khas memiliki standar lima angka skala.
Perhitungan matematis dalam penalty analysis adalah sebagai berikut:
Mean drop too little dapat dihitung dengan rumus:
mean drop TL = rataan JAR – rataan TL Mean drop too much dapat dihitung dengan rumus:
mean drop TM = rataan JAR – rataan TM
11
Gambar 5 Performa permen baru
Berdasarkan Gambar 5, atribut dengan tanda minus (-) merupakan JARTL dan
yang bertanda plus (+) merupakan JARTM. Semua atribut pada permen baru
memiliki persentase JARTL dan JARTM yang kurang dari 20% sehingga pada
atribut-atribut tersebut tidak perlu dilakukan uji perbandingan karena kelemahan produk dianggap masih dapat ditolerir. Hal ini dapat diartikan bahwa produsen tidak perlu melakukan perbaikan produk untuk atribut-atribut tersebut.
Atribut yang memiliki persentase JAR tertinggi ialah atribut aroma dengan persentase sebesar 94.81%, artinya sebanyak 94.81% konsumen merasa aroma permen barutelah sesuai. Atribut ukuran merupakan atribut dengan persentase JAR terendah, yaitu sebesar 79.22%. Atribut dengan persentase JAR kurang dari 80% dikhawatirkan akan terkena penalty sehingga perlu dilakukan uji perbandingan. Akan tetapi setelah dilakukan uji perbandingan, hasilnya adalah tidak signifikan pada taraf nyata 0.05. Hasil uji perbandingan ini dapat diartikan bahwa kelemahan atribut ukuran pada permen baru masih bisa ditolerir. Contoh perhitungan menggunakan penalty analysis dapat dilihat pada Lampiran 3.
Berdasarkan Gambar 5 dapat dilihat juga bahwa terdapat beberapa atribut yang memiliki nilai mean drop negatif. Menurut Cadot et al. (2009), tanda negatif pada mean drop menyatakan persepsi negatif responden terhadap suatu atribut karena performanya yang buruk.
Performa Permen “Biru”
Pada permen “biru”, atribut ukuran menempati peringkat pertama dalam menentukan tingkat kesukaan konsumen permen terhadap permen ini (Gambar 6). Terdapat lima atribut yang jaraknya sangat berdekatan sehingga terlihat seperti membentuk satu kelompok, yaitu atribut kekenyalan, tekstur, ketebalan, warna, dan aroma. Penggerembolan kelima atribut tersebut disebabkan oleh kecilnya nilai
12
selisih antar atribut. Kecilnya nilai selisih ini menunjukkan bahwa kelima atribut tersebut dianggap sebagai atribut yang dipentingkan dalam mempengaruhi tingkat kesukaan konsumen. Atribut rasa mint dan wangi merupakan atribut yang tidak berpengaruh pada tingkat kesukaan konsumen terhadap permen “biru” secara umum karena kedua atribut tersebut menempati peringkat kedelapan dan kesembilan.
Gambar 6 Peringkat atribut tingkat kesukaan pada permen “biru” secara umum dan berdasarkan jenis kelamin
Dilihat dari keseluruhan responden, terdapat beberapa atribut yang dipentingkan oleh konsumen pada pemilihan permen “biru”. Oleh sebab itu pada penelitian ini ingin diketahui apabila responden dipisahkan menurut jenis kelaminnya, atribut yang dipentingkan tersebut masih sama atau tidak.
Atribut ukuran menempati peringkat pertama pada responden laki-laki dengan nilai skala 0.3196 (Gambar 6). Hal ini berarti bahwa konsumen laki-laki permen “biru”lebih memperhatikan ukuran dalam memilih permen. Laki-laki pada umumnya lebih menyukai sesuatu yang sederhana. Kesederhanaan ini dapat dilihat dari segi ukuran yang merupakan sesuatu yang dapat dilihat paling cepat dan utama. Atribut yang dipentingkan selanjutnya ialah atribut ketebalan dengan selisih nilai skala yang kecil dengan atribut ukuran, yaitu sebesar 0.0235.
13
nilai skala yang tidak jauh beda antar atribut-atribut tersebut. Atribut rasa mint
menempati peringkat terendah pada tingkat kesukaan konsumen perempuan terhadap permen “biru”.
Gambar 7 Peringkat atribut tingkat kesukaan pada permen “biru” secara umum dan berdasarkan kondisi sosial ekonomi
Pada kondisi sosial ekonomi konsumen permen “biru”, hasil pemeringkatan atribut-atributnya sangat beragam. Pada SES A, atribut ketebalan menempati peringkat pertama sedangkan pada SES B dan C1, atribut tersebut menempati peringkat ketiga. Atribut ketebalan pada SES A memiliki nilai skala 0.4038 dan diikuti atribut kekenyalan dengan nilai skala sebesar 0.3992. Hal ini dapat diartikan bahwa konsumen yang memiliki pendapatan tinggi lebih memperhatikan ketebalan dan kekenyalannya tanpa melihat permen tersebut merupakan permen mint atau bukan.
Peringkat pertama pada SES B ditempati oleh atribut kekenyalan dengan nilai skala 0.2810. Atribut ini memiliki selisih nilai skala yang tidak jauh beda dengan atribut pada peringkat kedua, yaitu ukuran. Kecilnya nilai selisih ini menjadikan permen “biru”memiliki dua atribut dominan yang mempengaruhi tingkat kesukaan konsumen SES B pada permen ini, yaitu atribut kekenyalan dan ukuran. Berdasarkan Gambar 7, atribut-atribut yang lain pada SES B cenderung membentuk suatu kelompok karena mempunyai jarak skala yang berdekatan. Atribut-atribut tersebut ialah ketebalan, aroma, tekstur, rasa mint, warna, wangi, dan kemanisan rasa yang merupakan atribut-atribut yang tidak dipentingkan oleh konsumen SES B.
14
Gambar 8 Performa permen “biru”
Berdasarkan Gambar 8terlihat bahwaatribut-atribut permen “biru”memiliki persentase JARTL dan JARTM yang kurang dari 20% sehingga produsen tidak perlu
melakukan perbaikan produk untuk atribut-atributnya. Atribut ukuran dan wangi memiliki persentase JAR tertinggi sebesar 90.91% untuk kedua atribut. Hal ini dapat menyatakan bahwa sebanyak 90.91% konsumen merasa ukuran dan wangi permen “biru” telah sesuai. Nilai mean drops untuk JARTL dan JARTM atribut
ukuran ialah 0.090 dan 0.257, sedangkan atribut wangi sebesar 0.271 untuk mean drops JARTL dan JARTM-nya.
Pada atribut rasa mint yang cenderung menempati peringkat terendah pada analisis menggunakan metode Thurstone, ternyata atribut ini juga memiliki persentase JAR yang kurang dari 80%. Menurut Plaehn (2009), atribut-atribut yang memiliki persentase JAR kurang dari 80% perlu dilakukan uji perbandingan. Namun setelah dilakukan uji perbandingan, p-value yang diperoleh lebih dari 0.05 sehingga tidak signifikan. Hal ini dapat diartikan kelemahan pada atribut rasa mint
masih dapat ditolerir.
Atribut yang memiliki persentase JAR paling rendah pada permen “biru” ialah atribut kekenyalan, yaitu sebesar 72.73%. Seperti halnya atribut pada rasa
15
Performa Permen “Hijau”
Gambar 9 menunjukkan peringkat atribut-atribut dalam mempengaruhi tingkat kesukaan pada permen “hijau”. Seluruh atribut yang ingin diketahui peringkatnya mempunyai nilai skala yang tidak berbeda jauh. Atribut yang menempati peringkat pertama dalam menentukan tingkat kesukaan pada permen “hijau” secara umum ialah atribut kekenyalan dan atribut tekstur pada peringkat kedua. Selain kedua atribut tersebut, konsumen juga memperhatikan atribut ukuran sebagai atribut yang dipentingkan dalam memilih permen “biru”.
Atribut wangi dan warna terlihat seperti menyatu pada titik plotnya. Hal ini disebabkan oleh kecilnya selisih nilai pada kedua atribut tersebut, yaitu sebesar 0.0036. Pada permen ini, atribut warna menempati peringkat terakhir dalam menentukan tingkat kesukaan pada permen “hijau” secara umum. Warna permen yang putih dengan garis hijau memungkinkan kurang disukai oleh konsumen sehingga atribut warna berada pada peringkat terakhir.
Perempuan umum dan berdasarkan jenis kelamin
Berdasarkan Gambar 9 dapat dilihat bahwa pada jenis kelamin laki-laki terlihat beberapa atribut-atributnya saling berdekatan seperti membentuk suatu kelompok. Kelompok pertama terdiri atas atribut ukuran, tekstur, dan rasa mint.
Kelompok kedua ialah atibut ketebalan dan kekenyalan, sedangkan kelompok ketiga terdiri atas atribut aroma, wangi, warna, dan kemanisan rasa. Terbentuknya seperti tiga kelompok ini disebabkan oleh antar atributnya memiliki selisih nilai skala yang kecil. Atribut yang dipentingkan oleh konsumen laki-laki ialah atribut ukuran, tekstur, dan rasa mint.
16
ialah atribut kekenyalan. Selisih nilai yang cukup jauh antara atribut pada peringkat pertama dan atribut pada peringkat kedua menjadikan atribut kekenyalan sebagai faktor yang sangat diperhatikan dalam memilih permen “hijau”. Hal ini juga menunjukkan bahwa konsumen perempuan permen “hijau” suka pada permen tersebut disebabkan oleh kekenyalan yang pas menurut mereka, sesuai karakter permen “hijau” yang kenyal. Untuk atribut tekstur, ukuran, ketebalan, dan kemanisan rasa memiliki nilai skala yang berdekatan sehingga atribut-atribut tersebut kurang dipentingkan oleh konsumen perempuan dalam memilih permen “hijau”. Atribut wangi dan warna merupakan atribut yang tidak berpengaruh pada tingkat kesukaan konsumen dalam memilih permen “hijau” dikarenakan kedua atribut tersebut menempati peringkat kedelapan dan peringkat kesembilan.
SES C1 umum dan berdasarkan kondisi sosial ekonomi
Gambar 10 menunjukkan bahwa pada responden dengan kondisi sosial ekonomi A (SES A), peringkat pertama ditempati oleh atribut tekstur dan atribut kekenyalan pada peringkat kedua. Selisih nilai skala yang kecil pada kedua atribut ini menjadikan atribut tekstur dan kekenyalan merupakan sesuatu yang dijadikan alasan oleh konsumen SES A memilih permen “hijau”.
Atribut kekenyalan juga menempati peringkat kedua pada konsumen SES B dan peringkat ketiga pada SES C1. Hal ini menunjukkan bahwa atribut kekenyalan merupakan atribut yang mempengaruhi konsumen untuk memilih permen “hijau”.
Berbeda halnya dengan kondisi SES A, atribut tekstur menempati peringkat keempat pada SES B dan SES C1. Konsumen dengan pendapatan sangat tinggi lebih memperhatikan tekstur pada permen ini.
17
menunjukkan bahwa tingkat kesukaan konsumen SES B berbeda dengan konsumen SES A dan SES C1.
Pada SES C1, peringkat pertama ditempati oleh atribut ukuran dan rasa mint
pada peringkat kedua. Hal ini menunjukkan bahwa dalam memilih permen “hijau”, konsumen SES C1 lebih mementingkan pada kedua atribut ini. Atribut wangi dan warna pada konsumen SES C1 menempati peringkat kedelapan dan kesembilan. Pada SES A dan SES B, kedua atribut ini juga menempati peringkat tiga terendah. Hal ini menunjukkan bahwa atribut wangi dan warna merupakan atribut yang tidak diperhatikan oleh seluruh responden dengan berbagai kondisi sosial ekonomi dalam memilih permen “hijau”.
Gambar 11 Performa permen “hijau”
Gambar 11 menunjukkan atribut dengan tanda minus (-) merupakan JARTL
dan yang bertanda plus (+) merupakan JARTM. Berdasarkan gambar tersebut dapat
dilihat bahwa semua atribut pada permen “hijau” memiliki persentase JARTL dan
JARTM yang kurang dari 20% sehingga pada atribut-atribut tersebut tidak perlu
dilakukan uji perbandingan karena kelemahan produk dianggap masih dapat ditolerir. Hal ini dapat diartikan bahwa produsen tidak perlu melakukan perbaikan produk untuk atribut-atribut tersebut.
18
terdapat beberapa atribut yang memiliki nilai mean drops negatif yang menunjukkan bahwa atribut-atribut tersebut memiliki performa yang kurang baik menurut konsumennya.
Performa Permen “Kuning”
Pada permen “kuning”, atribut warna merupakan atribut paling penting dalam mempengaruhi tingkat kesukaan konsumen untuk memilih permen “kuning”. Hal ini dapat dilihat dari nilai skalanya yang berselisih jauh dengan urutan atribut ukuran dan ketebalan. Gambar 12 menunjukkan bahwa konsumen permen “kuning” sangat suka terhadap warna permen ini. Warna permen yang bening keoranye-oranyean membuat konsumen tertarik untuk mengonsumsinya. Atribut-atribut lain, seperti wangi, aroma, tekstur, kekenyalan, rasa mint, dan kemanisan rasa mempunyai nilai skala yang berdekatan dan dapat dikatakan sebagai atribut yang kurang diperhatikan dalam menentukan tingkat kesukaan konsumen terhadap permen “kuning”. Konsumen tidak terlalu memperhatikan rasa dari permen ini.
Perempuan
Gambar 12 Peringkat atribut tingkat kesukaan pada permen “kuning” secara umum dan berdasarkan jenis kelamin
Berdasarkan Gambar 12 dapat dilihat bahwa konsumen laki-laki dan perempuan memilih atribut warna sebagai atribut dengan peringkat tertinggi dalam tingkat kesukaan pada permen “kuning”. Hal ini dapat diartikan bahwa dalam memilih permen “kuning”, mereka lebih cenderung melihat dari warnanya yang menarik. Pada konsumen laki-laki, atribut ini memiliki nilai skala 0.6618 dan 0.8673 pada konsumen perempuan.
19
ketebalan menempati peringkat kedua dan atribut ukuran menempati peringkat ketiga. Selain ketiga atribut tersebut, atribut wangi juga merupakan atribut yang dipentingkan oleh perempuan dalam mengonsumsi permen “kuning”.
Atribut rasa mint menempati peringkat terendah pada responden laki-laki maupun perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa konsumen permen “kuning” kurang memperhatikan atribut rasa mint dalam mengonsumsi permen “kuning”.
Selain itu, untuk atribut kemanisan rasa, tekstur, kekenyalan, wangi, dan aroma cenderung membentuk satu kelompok disebabkan oleh selisih nilai skala yang kecil antar atribut-atribut tersebut. Selisih nilai skala antar atribut diperoleh dari perhitungan nilai rata-rata atribut yang tinggi dikurangi nilai rata-rata atribut yang rendah setelah atribut diurutkan berdasarkan nilai rata-ratanya.
SES C1
Gambar 13 Peringkat atribut tingkat kesukaan pada permen “kuning” secara umum dan berdasarkan kondisi sosial ekonomi
20
Gambar 14 Performa permen “kuning”
Atribut-atribut permen “kuning”memiliki persentase JARTL dan JARTM yang
kurang dari 20% (Gambar 14). Walaupun persentase JARTL dan JARTM pada semua
atribut kurang dari 20%, namun terdapat satu atribut yang memiliki persentase JAR kurang dari 80%. Atribut tersebut ialah atribut warna dengan persentase JAR sebesar 64%. Oleh sebab itu perlu dilakukan uji perbandingan pada atribut ini. Uji perbandingan menghasilkan p-value sebesar 0.003 sehingga signifikan pada taraf nyata 0.05. Hal ini tentunya sangat berkebalikan dengan hasil analisis menggunakan metode Thurstone. Hasil analisis dengan metode Thurstone menunjukkan bahwa atribut warna merupakan atribut yang paling dominan mempengaruhi tingkat kesukaan konsumen terhadap permen “kuning”, sedangkan
penalty analysis menunjukkan perlu adanya perbaikan pada atribut ini. Oleh sebab itu perlu adanya perhatian yang lebih serius dari produsen terhadap atribut ini. Atribut yang memiliki persentase JAR tertinggi ialah atribut wangi, yaitu sebesar 96.00%. Hal ini dapat menyatakan bahwa sebanyak 96.00% konsumen merasa wangi permen “kuning” telah sesuai. Nilai mean drops untuk JARTL dan JARTM
atribut wangi ialah -0.479 dan -1.146.
Performa Permen “Merah”
Gambar 15 menunjukkan bahwa atribut warna menempati peringkat tertinggi untuk tingkat kesukaan pada permen “merah”. Hal ini menunjukkan bahwa konsumen memilih permen “merah” berdasarkan warnanya. Di samping itu, konsumen permen ini juga memperhatikan atribut ukuran dan ketebalan sebagai atribut yang penting dalam mempengaruhi persepsi tingkat kesukaan konsumen terhadap permen “merah”. Atribut-atribut lain seperti wangi, tekstur, kemanisan rasa, aroma, rasa mint, dan kekenyalan memiliki nilai skala yang cenderung berdekatan. Nilai-nilai skala tersebut menempati peringkat yang rendah dan
21
menunjukkan bahwa atribut-atributnya tidak berpengaruh pada pemilihan permen “merah”oleh konsumen secara umum.
Perempuan
Gambar 15 Peringkat atribut tingkat kesukaan pada permen “merah” secara umum dan berdasarkan jenis kelamin
Terdapat hal yang menarik dalam peringkat atribut tingkat kesukaan pada permen “merah” di sini. Analisis data berpasangan menggunakan metode Thurstone menghasilkan peringkat yang beragam untuk permen “merah”. Pada responden laki-laki, atribut warna merupakan atribut dengan peringkat tertinggi. Atribut ini memiliki nilai skala sebesar 0.7912. Atribut yang menempati peringkat kedua dan ketiga ialah atribut ukuran dan ketebalan dengan nilai skala masing-masing 0.4414 dan 0.4100 (Gambar 15). Artinya, konsumen laki-laki lebih mementingkan atribut warna, ukuran, dan ketebalan sebagai atribut yang penting dalam memilih permen “merah”. Hal ini sesuai dengan karakteristik laki-laki yang cenderung cuek dan cepat dalam mengambil keputusan, seperti melihat permen hanya dari segi luarnya saja.
Atribut rasa mint merupakan atribut dengan peringkat terendah sehingga dapat dikatakan bahwa atribut tersebut tidak mempengaruhi konsumen laki-laki dalam memilih permen “merah”. Atribut aroma, kemanisan rasa, kekenyalan, dan wangi memiliki nilai skala yang berdekatan dengan atribut rasa mint sehingga cenderung membentuk satu kelompok.
22
keempat sampai peringkat terakhir. Keenam atribut ini kurang berpengaruh terhadap tingkat kesukaan konsumen perempuan pada permen “merah”.
SES C1
Gambar 16 Peringkat atribut tingkat kesukaan pada permen “merah” secara umum dan berdasarkan kondisi sosial ekonomi
23
Gambar 17 Performa permen “merah”
Atribut warna memiliki persentase JARTM sebesar 22.77% (Gambar 17) yang
dapat diartikan bahwa terdapat 22.77% konsumen yang menyatakan warna permen “merah” terlalu berlebih. Persentase JARTM tersebut melebihi persentase
kelemahan produk yang dapat ditolerir, seperti menurut Plaehn (2009) bahwa nilai JARTL dan JARTM yang dapat ditolerir adalah yang kurang dari 20%. Nilai too much
mean drops ialah sebesar 0.974, sehingga dinyatakan bahwa produsen perlu melakukan perbaikan produk dengan mengurangi komponen warna permen. Kasus ini hampir sama dengan kasus pada permen “kuning”. Hasil analisis dengan metode Thurstone menunjukkan bahwa atribut warna pada permen “merah” merupakan atribut yang paling dominan mempengaruhi tingkat kesukaan konsumen. Hal ini dapat dijadikan perhatian oleh produsen untuk memperbaiki atribut tersebut.
Atribut ketebalan, ukuran, aroma, wangi, rasa mint, kekenyalan, tekstur, dan kemanisan rasa terlihat memiliki persentase JARTL dan JARTM yang kurang dari
20% sehingga produsen tidak perlu melakukan perbaikan produk untuk atribut-atribut tersebut. Atribut aroma memiliki nilai mean drops sebesar -0.646. Hal ini menunjukkan bahwa atribut tersebut mempunyai performa aroma yang kurang baik menurut kensumen. Nilai tersebut diperoleh dari selisih mean JAR dengan mean
JARTM.
Performa Keseluruhan Permen
Setelah permen dievaluasi masing-masing, selanjutnya akan dilihat performa dari keseluruhan permen. Performa ini akan disajikan dalam bentuk analisis biplot. Analisis biplot diperkenalkan oleh Gabriel pada tahun 1971. Biplot merupakan teknik statistika deskriptif yang dapat disajikan secara visual untuk melihat segugus objek dan peubah dalam satu grafik (Jolliffe 2002).
24
Gambar 18 Performa keseluruhan permen
Berdasarkan Gambar 18, dapat dilihat bahwa performa permen baru berada di tengah-tengah dan lebih dekat ke titik pusat. Apabila dilihat dari karakteristiknya, karakteristik permen ini lebih mirip dengan karakteristik permen “merah”. Atribut tekstur dan kemanisan rasa searah dengan posisi permen baru. Hal ini menunjukkan bahwa permen baru memiliki nilai tinggi pada kedua atribut tersebut. Selain itu, permen baru juga dekat dengan atribut rasa mint dan kekenyalan. Atribut rasa mint
ini memiliki keragaman yang kecil yang ditunjukkan oleh pendeknya vektor pada X6. Panjang/pendeknya vektor pada biplot menunjukkan besar/kecilnya keragaman
suatu atribut. Atribut warna, ukuran, tekstur, dan kemanisan rasa memiliki keragaman yang besar.
Permen baru yang merupakan permen produksi perusahaan XYZ cenderung diperformakan berbeda dari produksi permen sebelumnya, yaitu permen “biru” dan permen “hijau”. Permen “biru” dan permen “hijau” memiliki karakteristik yang mirip. Hal ini ditunjukkan oleh kedekatan antara kedua permen tersebut dan terletak pada satu kuadran. Nilai dimensi yang diperoleh sudah dapat menjelaskan 75.43% informasi dari keseluruhan data yang ada.
SIMPULAN
Metode Thurstone dan penalty analysis dapat dijadikan alternatif untuk menyelesaikan kasus dalam pengevaluasian tingkat kesukaan konsumen permen terhadap atribut-atributnya. Pada penelitian ini dilakukan evaluasi terhadap lima
X1
X4: Aroma keseluruhan
X5: Wangi
X6: Rasa mint
X7: Kekenyalan
X8: Tekstur
25
merek permen. Evaluasi ini berguna untuk peluncuran produk baru maupun perbandingan dengan merek dari perusahaan lain.
Responden permen barumenyatakan atribut ukuran dan ketebalan merupakan atribut yang dipentingkan dalam memilih permen baru. Pemisahan responden berdasarkan jenis kelamin dan kondisi sosial ekonomi tidak terlalu berpengaruh dalam mengevaluasi permen tersebut. Permen “biru” yang merupakan permen yang telah berada di pasaran disukai karena ukurannya yang pas dan kekenyalannya. Konsumen SES A dan SES B permen ini lebih melihat pada atribut kekenyalan dan ketebalan sebagai atribut yang dominan. Sedangkan konsumen SES C1 lebih cenderung melihat warna dari permen ini.
Analisis menggunakan metode Thurstone pada permen “hijau”menunjukkan bahwa atribut kekenyalan, tekstur, dan ukuran merupakan atribut yang dominan dalam mempengaruhi persepsi konsumen dalam memilih permen “hijau”.
Pemisahan konsumen berdasarkan jenis kelamin dan kondisi ekonomi sangat mempengaruhi persepsi mereka dalam menentukan atribut tingkat kesukaan pada permen ini. Sedangkan analisis pada permen “kuning” dan “merah” sama-sama menyatakan permen ini unggul dalam atribut warna. Akan tetapi setelah dilakukan
penalty analysis, warna dari kedua permen ini perlu dijadikan perhatian bagi produsen untuk diberikan perbaikan.
DAFTAR PUSTAKA
[BPOM] Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (ID). 2006. Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia No. HK.00.05.52.4040 Tentang Kategori Pangan. Jakarta (ID): [penerbit tidak diketahui].
[ESOMAR] European Society for Opinion and Marketing Research. 1998.
ESOMAR Handbook of Market and Opinion Research 4th ed. Mc.Donald C, Vangelder P, editor. Amsterdam (NL): ESOMAR Central Secretariat.
Beins BC, McCharty MA. 2012. Research Methods and Statistics. [United States of America] (US): Pearson.
Cadot Y, Caille S, Samson A, Barbeau G, Cheynier V. 2009. Sensory dimension of wine typicality related to a terrorir by Qualitative Descriptive Analysis, Just About Right analysis and typicality assessment. Analytic Chimic Act.
660(2010):53-62. doi:10.1016/j.aca.2009.10.006.
Green B. 1954. Paired Comparison Scaling Procedures dalam Maranell, GM. 1974.
Scalling: A Sourcebook for Behavioral Scientist. Chicago (US): Aldine Publising Company.
Jolliffe IT. 2002. Principal Component Analysis 2nd ed. New York (US): Springer. Lawless HT, Heyman H. 2010. Sensory Evaluation of Food: Principles and
Practices 2nd ed. New York (US): Springer.
Matjjik AA,Sumertajaya IM. 2011 Sidik Peubah Ganda dengan Menggunakan SAS. Wibawa GNA, Hadi AF, editor. Bogor (ID): Departemen Statistika Institut Pertanian Bogor.
26
Pati D. 2002. Marketing Research. Hyderabad (IN): Universities Press.
Plaehn D. 2009. Understanding Penalty Analysis. Corvallis (US): Insight Now. Sumarwan U. 2002. Perilaku Konsumen: Teori dan Penerapannya dalam
Pemasaran. Jakarta (ID): PT. Ghalia Indonesia–MMA IPB.
Thurstone LL. 1927. A Law of Comparative Judgment dalam Maranell, GM. 1974.
Scalling: A Sourcebook for Behavioral Scientist. Chicago (US): Aldine Publising Company.
Thurstone LL. 1927. Psychophysical Analysis dalam Maranell, GM. 1974.
27
Lampiran 1 Kriteria sosial ekonomi responden
Pengeluaran per bulan Kode
Rp 1,500,000.00 atau kurang 0
Rp 1,500,001.00 – Rp 2,000,000.00 C1 Rp 2,000,001.00 – Rp 3,000,000.00 B Rp 3,000,001.00 – Rp 4,000,000.00 A2
Lebih dari Rp 4,000,000.00 A1
Peralatan/barang yang dimilikia) Kode
Televisi 1
Video tape/VCD/DVD player 2
Radio/tape TV kabel/ TV berbayar Komputer/laptop
Pendingin ruangan (AC) Kompor gas
Tabung gas 3 kg/kompor minyak tanah
6
Terlingkar 12 dari 16 dan harus termasuk mobil pribadi dan mesin cuci (tidak termasuk tabung gas 3 kg/kompor minyak tanah)
A
Terlingkar 10 dari 16 dan harus termasuk mesin cuci (tidak termasuk tabung gas 3 kg/kompor
Terlingkar 2 dari 16 (tidak termasuk tabung gas 3 kg/kompor minyak tanah)
D
Pengeluaran Kepemilikan barang Final SES
A1 A/B A
A2 A A
A2 B B
28
B B B
C1 A B
C1 B C1
C2 AB C1
A1, A2 C C1
29
Lampiran 2 Tahap-tahap pada metode Thurstone
Matriks Frekuensi
Matriks Proporsi
Matriks Z
Warna Ketebalan Ukuran Aroma Wangi Rasa
mint Kekenyalan Tekstur
Kemanisan rasa
Warna 38.5 38.5 43.5 34 31.5 34 37.5 36 29.5
Ketebalan 38.5 38.5 40 29 27.5 30.5 33.5 30 25
Ukuran 33.5 37 38.5 30.5 28 30.5 32 33 24.5
Aroma 43 48 46.5 38.5 36.5 38.5 43 39 30.5
Wangi 45.5 49.5 49 40.5 38.5 39.5 44 40.5 33.5
Rasa mint 43 46.5 46.5 38.5 37.5 38.5 41 42 33.5
Kekenyalan 39.5 43.5 45 34 33 36 38.5 36.5 28.5
Tekstur 41 47 44 38 36.5 35 40.5 38.5 31
Kemanisan rasa 47.5 52 52.5 46.5 43.5 43.5 48.5 46 38.5
Warna Ketebalan Ukuran Aroma Wangi Rasa
mint Kekenyalan Tekstur
Kemanisan rasa
Warna 0.5000 0.5000 0.5649 0.4416 0.4091 0.4416 0.4870 0.4675 0.3831
Ketebalan 0.5000 0.5000 0.5195 0.3766 0.3571 0.3961 0.4351 0.3896 0.3247
Ukuran 0.4351 0.4805 0.5000 0.3961 0.3636 0.3961 0.4156 0.4286 0.3182
Aroma 0.5584 0.6234 0.6039 0.5000 0.4740 0.5000 0.5584 0.5065 0.3961
Wangi 0.5909 0.6429 0.6364 0.5260 0.5000 0.5130 0.5714 0.5260 0.4351
Rasa mint 0.5584 0.6039 0.6039 0.5000 0.4870 0.5000 0.5325 0.5455 0.4351
Kekenyalan 0.5130 0.5649 0.5844 0.4416 0.4286 0.4675 0.5000 0.4740 0.3701
Tekstur 0.5325 0.6104 0.5714 0.4935 0.4740 0.4545 0.5260 0.5000 0.4026
Kemanisan rasa 0.6169 0.6753 0.6818 0.6039 0.5649 0.5649 0.6299 0.5974 0.5000
Warna Ketebalan Ukuran Aroma Wangi
Rasa
mint Kekenyalan Tekstur
30
Matriks Urutan
Matriks Selisih
Kemanisan
rasa Wangi
Rasa
mint Aroma Tekstur Kekenyalan Warna Ketebalan Ukuran
Warna -0,2973 -0,2299 -0,1470 -0,1470 -0,0815 -0,0326 0,0000 0,0000 0,1635 Ketebalan -0,4547 -0,3661 -0,2634 -0,3144 -0,2803 -0,1635 0,0000 0,0000 0,0488 Ukuran -0,4728 -0,3488 -0,2634 -0,2634 -0,1800 -0,2132 -0,1635 -0,0488 0,0000 Aroma -0,2634 -0,0652 0,0000 0,0000 0,0163 0,1470 0,1470 0,3144 0,2634 Wangi -0,1635 0,0000 0,0326 0,0652 0,0652 0,1800 0,2299 0,3661 0,3488 Rasa mint -0,1635 -0,0326 0,0000 0,0000 0,1142 0,0815 0,1470 0,2634 0,2634 Kekenyalan -0,3315 -0,1800 -0,0815 -0,1470 -0,0652 0,0000 0,0326 0,1635 0,2132 Tekstur -0,2466 -0,0652 -0,1142 -0,0163 0,0000 0,0652 0,0815 0,2803 0,1800 Kemanisan rasa 0,0000 0,1635 0,1635 0,2634 0,2466 0,3315 0,2973 0,4547 0,4728 Total -2,3933 -1,1241 -0,6735 -0,5595 -0,1647 0,3959 0,7718 1,7936 1,9540 Rataan -0,2659 -0,1249 -0,0748 -0,0622 -0,0183 0,0440 0,0858 0,1993 0,2171
S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8
Warna 0.0674 0.0829 0.0000 0.0655 0.0489 0.0326 0.0000 0.1635
Ketebalan 0.0886 0.1027 -0.0509 0.0340 0.1168 0.1635 0.0000 0.0488
Ukuran 0.1240 0.0853 0.0000 0.0834 -0.0332 0.0497 0.1146 0.0488
Aroma 0.1983 0.0652 0.0000 0.0163 0.1307 0.0000 0.1673 -0.0509
Wangi 0.1635 0.0326 0.0326 0.0000 0.1149 0.0499 0.1362 -0.0174
Rasa mint 0.1309 0.0326 0.0000 0.1142 -0.0327 0.0655 0.1164 0.0000
Kekenyalan 0.1515 0.0985 -0.0655 0.0819 0.0652 0.0326 0.1309 0.0497
Tekstur 0.1815 -0.0490 0.0979 0.0163 0.0652 0.0163 0.1989 -0.1003
Kemanisan rasa 0.1635 0.0000 0.1000 -0.0168 0.0849 -0.0342 0.1574 0.0181
Total 12.692 0.4506 0.1140 0.3948 0.5606 0.3759 10.218 0.1604
k=9 9.0000 9.0000 9.0000 9.0000 9.0000 9.0000 9.0000 9.0000
Rataan 0.1410 0.0501 0.0127 0.0439 0.0623 0.0418 0.1135 0.0178
Peubah Kemanisan
rasa Wangi
Rasa
mint Aroma Tekstur Kekenyalan Warna Ketebalan Ukuran
31
Lampiran 3 Hasil penalty analysis pada permen baru
Atribut Level Frekuensi %
Sum (Overall
liking)
Mean (Overall
liking)
Mean drops
Too little 8 10,39% 48,000 6,000 1,203
Warna JAR 64 83,12% 461,000 7,203
Too much 5 6,49% 31,000 6,200 1,003
Too little 6 7,79% 42,000 7,000 0,141
Ketebalan JAR 64 83,12% 457,000 7,141
Too much 7 9,09% 41,000 5,857 1,283
Too little 12 15,58% 83,000 6,917 0,214
Ukuran JAR 61 79,22% 435,000 7,131
Too much 4 5,19% 22,000 5,500 1,631
Too little 3 3,90% 18,000 6,000 1,027
Aroma JAR 73 94,81% 513,000 7,027
Too much 1 1,30% 9,000 9,000 -1,973
Too little 4 5,19% 27,000 6,750 0,250
Wangi JAR 72 93,51% 504,000 7,000
Too much 1 1,30% 9,000 9,000 -2,000
Too little 10 12,99% 67,000 6,700 0,348
Rasa mint JAR 62 80,52% 437,000 7,048
Too much 5 6,49% 36,000 7,200 -0,152
Too little 5 6,49% 35,000 7,000 0,031
Kekenyalan JAR 64 83,12% 450,000 7,031
Too much 8 10,39% 55,000 6,875 0,156
Too little 6 7,79% 43,000 7,167 -0,181
Tekstur JAR 69 89,61% 482,000 6,986
Too much 2 2,60% 15,000 7,500 -0,514
Too little 5 6,49% 37,000 7,400 -0,385
Kemanisan rasa JAR 68 88,31% 477,000 7,015
32
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Pacitan pada tanggal 17 Juni 1991. Penulis merupakan putri pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Drs Supardiyanto. MM dan Suparti. SGz. Pendidikan pada tingkat perguruan tinggi ditempuh sejak diterima di Departemen Statistika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor pada tahun 2009 melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI). Sebelumnya, penulis telah menyelesaikan pendidikan di SMA Negeri 1 Pacitan, SMP Negeri 1 Pacitan, dan SDN Pacitan 1.