APLIKASI KURVA RESPON CAHAYA SINUSOIDAL UNTUK
PENGUKURAN DAYA SERAP KARBONDIOKSIDA
PADA BAMBU BETUNG
(
Dendrocalamus asper
( Schult f.) Backer ex Heyne)
ADITYA CHANDRA MAULANA
DEPARTEMEN HASIL HUTAN
FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PADA BAMBU BETUNG
(
Dendrocalamus asper
( Schult f.) Backer ex Heyne)
ADITYA CHANDRA MAULANA
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Kehutanan pada
Fakultas Kehutanan
DEPARTEMEN HASIL HUTAN
FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
RINGKASAN
ADITYA CHANDRA MAULANA. Aplikasi Kurva Respon Cahaya Sinusoidal untuk Pengukuran Daya Serap Karbondioksida pada Bambu Betung (Dendrocalamus asper ( Schult f.) Backer ex Heyne). Dibimbing oleh Effendi Tri Bahtiar, S.Hut, M.Si dan Anne Carolina, S.Si, M.Si
Isu lingkungan global warming (pemanasan global) dewasa ini telah mengemuka dalam masyarakat. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi peningkatan gas CO2 di atmosfer, yaitu melalui penanaman tumbuhan hijau yang mempunyai kemampuan tinggi untuk menyerap gas CO2 salah satunya adalah bambu. Bambu memiliki keunggulan dibandingkan pohon karena proses fotosintesisnya dengan mekanisme C4. Salah satu jenis bambu yang banyak digunakan adalah bambu betung (Dendrocalamus asper (Schult f.) Backer ex Heyne). Bambu betung telah lama dimanfaatkan secara tradisional oleh masyarakat Indonesia sebagai bahan bangunan. Pada penelitian sebelumnya mengenai daya serap CO2 pada pohon, nilai yang diperoleh dengan menggunakan persamaan kubik atau persamaan kuadratik, hasilnya under estimate atau over estimate dibandingkan dengan riap tahunannya. Oleh sebab itu, pada penelitian ini mencoba memperoleh model persamaan sinusoidal yang ideal untuk menghitung daya serap karbondioksida dengan lebih tepat.
Untuk melakukan perhitungan serapan karbon, perlu dihitung terlebih dahulu massa karbohidrat daun, jumlah daun per rumpun, dan luas daun. Pengukuran massa karbohidrat daun dilakukan dengan analisis karbohidrat, dimana massa CO2 diketahui dari konversi massa karbohidrat hasil fotosintesis. Setelah itu dibuat kurva respon cahaya yang didekati dengan regresi linier berganda, kemudian dilakukan pengujian tingkat kepentingan peubah bebas untuk memperoleh model persamaan yang terbaik. Pada penelitian ini dipilih batas nilai probabilitas setiap koefisien regresi sebesar P-value <0,1.
Model Persamaan Sinusoidal yang ideal untuk kurva respon cahaya adalah
Ŷ = A + BZ1 (X – 24(H – 1)) + DZ1Sin
2π(X−6)
24 . Nilai daya serap karbondioksida (CO2) yang dihitung berdasarkan kurva respon cahaya adalah sebesar 82,35 kg/rumpun/tahun. Nilai ini masuk ke dalam selang nilai daya serap karbondioksida (CO2) yang dihitung berdasarkan riap pertahunnya yaitu sebesar 72,98-91,22 kg/rumpun/tahun. Kedepannya persamaan kurva respon cahaya sinusoidal dapat dipergunakan sebagai persamaan standar untuk berbagai tumbuhan hijau lainnya, sehingga dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam memilih jenis terbaik untuk ditanam dalam rangka mengatasi masalah peningkatan CO2.
Curves For Carbon Dioxide Sink Measurements on Bamboo Betung (Dendrocallamus asper (Schult f.) Backer ex Heyne). Under Supervision of Effendi Tri Bahtiar, S.Hut, M.Si and Anne Carolina, S.Si, M.Si
Planting plant such as bamboo Betung (Dendrocalamus asper (Schult f.) Backer ex Heyne) is one of the best way for reducing global warming effect. Bamboo Betung is giant grass which has been traditionally used by Indonesian people for construction material since a long time ago. It has better carbon sink ability than trees because of its C4 photosintesis mechanisms. In previous studies, the basic formula that was used for fitting plant’s light response curve was less precise. Quadratic and cubic equation make over estimate or under estimate result compared to those calculated based on annual increment. This study tried to obtain an ideal sinusoidal equation model to calculate the carbon sink capacity more precisely.
To calculate carbon sink, it necessary to measure carbohydrate mass of leaves, number of leaves per cluster, and leaves area. Carbohydrate mass of the leaves is measured by carbohydrate analysis, where the mass of CO2 is known from the mass conversion of carbohydrates from photosynthesis. Light response sinusoidal curve approximated by multiple linear regression equation. Regression coefficient had been tested by t-student test to obtain the best model equation. In this study, probability value of each regression coefficient was selected P-value <0.1. This research proposed a sinusoidal equation as a basic equation for plant’s light response curve fitting. The sinusoidal equation was success for bamboo
betung’s light response curve fitting (R2
>60%).
The best sinusoidal equations models for light response curve is
Ŷ=A+BZ1(X–24(H–1))+DZ1Sin 2π(X−6)
24
. It had similar result in estimating
carbon sink (82,35 kg/cluster/year) compared to those which calculated by annual increment (72,98-91,22 kg/cluster/year). It is better to choose sinusoidal equation than quadratic or cubic. In the future, light response sinusoidal curve equation can be used as a standard equation for many other green plants, therefore it can be used as consideration in choosing the most suitable plant to overcome the problem of increasing CO2.
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Aplikasi Kurva Respon
Cahaya Sinusoidal untuk Pengukuran Daya Serap Karbondioksida pada Bambu
Betung (Dendrocalamus asper ( Schult f.) Backer ex Heyne)adalah benar-benar hasil karya sendiri dengan bimbingan dosen pembimbing dan belum pernah
digunakan sebagai karya ilmiah pada perguruan tinggi atau lembaga manapun.
Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun
tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan
dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Bogor, Maret 2011
Aditya Chandra Maulana
(Dendrocalamus asper ( Schult f.) Backer ex Heyne). Nama : Aditya Chandra Maulana
NIM : E24063348
Menyetujui:
Komisi Pembimbing
Ketua Anggota
Effendi Tri Bahtiar, S.Hut, M.Si Anne Carolina, S.Si, M.Si
NIP.19760212 200012 1 002 NIP.19810924 200912 2 004
Mengetahui,
Kepala Departemen Hasil Hutan
Dr. Ir. I Wayan Darmawan, M.Sc
NIP.19660212 199103 1 002
KATA PENGANTAR
Puji Syukur Kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya yang telah
dilimpahkan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat dan
salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Skripsi dengan
judul Aplikasi Kurva Respon Cahaya Sinusoidal untuk Pengukuran Daya Serap
Karbondioksida pada Bambu Betung (Dendrocalamus asper ( Schult f.) Backer ex Heyne),disusun sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Kehutanan
pada Departemen Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah
membantu dan mendukung dalam proses persiapan hingga penyusunan skripsi ini.
Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak.
Bogor, Maret 2011
Aditya Chandra Maulana
Penulis dilahirkan di Solo pada tanggal 30 Desember 1987.
Penulis merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan
Bapak Sakimin dan Ibu Marsih Soetomo.
Penulis memulai pendidikan di Sekolah Dasar Negeri 15 Mangkubumen Lor
Surakarta. Pada tahun 2000, penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Lanjutan
Tingkat Pertama Negeri 1 Surakarta dan melanjutkan pendidikan di Sekolah
Menengah Umum Negeri 1 Surakarta. Pada tahun 2006, penulis diterima di
Institut Pertanian Bogor melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru
(SPMB) dan selanjutnya diterima di Departemen Hasil Hutan, Fakultas
Kehutanan.
Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif di kegiatan kemahasiswaan
yaitu sebagai Staff Divisi Eksternal Himpunan Mahasiswa Hasil Hutan
2008/2009. Penulis telah mengikuti beberapa kegiatan praktik lapang antara lain
Praktik Pengenalan Ekosistem Hutan 2008 di Sancang-Kamojang, Praktek
Pengelolaan Hutan 2009 di Hutan Pendidikan Gunung Walat, kemudian pada
bulan Juli-Agustus 2010 melakukan Praktik Kerja Lapang di perusahaan Rakabu
Furniture.
Untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan IPB, penulis menyelesaikan
skripsi dengan judul Aplikasi Kurva Respon Cahaya Sinusoidal untuk Pengukuran
Daya Serap Karbondioksida pada Bambu Betung (Dendrocalamus asper (Schult f.) Backer ex Heyne), dibimbing oleh Effendi Tri Bahtiar, S.Hut, M.Si dan Anne
UCAPAN TERIMAKASIH
Puji Syukur Kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya yang telah dilimpahkan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Penulis menyadari skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik karena bantuan dari berbagai pihak. Kritik dan saran dapat disampaikan melalui e-mail adityachandramaulana@ yahoo.co.id.
Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada :
1. Bapak Effendi Tri Bahtiar, S.Hut, M.Si selaku dosen pembimbing I dan Ibu Anne Carolina, S.Si, M.Si selaku dosen pembimbing II yang telah membimbing, mengarahkan dan memberikan banyak ilmu serta wawasan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.
2. Bapak Prof. Dr. Ir. Ervizal A.M. Zuhud, MS selaku dosen penguji dari Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan, Bapak Soni Trison, S.Hut, M.Si selaku dosen penguji dari Departemen Manajemen Hutan, dan Bapak Prof. Dr. Ir. Bambang Hero Saharjo, M.Agr selaku dosen penguji dari Departemen Silvikultur.
3. Seluruh dosen dan staf Fakultas Kehutanan IPB.
4. Bapak Sakimin dan Ibu Marsih Soetomo, orangtua yang selalu memberikan kekuatan, dukungan baik moril dan materil serta limpahan doa yang tak pernah putus.
5. Adik-adik penulis, Fauzi Nasrul Maulana dan Octhavera Putri Maulani atas semangat dan dukungan serta doa yang telah diberikan kepada penulis.
6. Ervina Aprianti atas bantuan, semangat, dan dukungan yang telah diberikan dalam penyusunan skripsi ini.
7. Teman-Teman THH 43 atas segala keceriaan, kebersamaan dan kekompakan kita selama tiga tahun lebih. Rekan seperjuanganku Bahrul dan Dea, Semangat!
8. Semua pihak yang telah membantu proses persiapan hingga penyusunan skripsi ini.
Semoga skripsi ini bermanfaat bagi berbagai pihak yang memerlukan.
Bogor, Maret 2011
DAFTAR ISI
2.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Daya Serap CO2 Tumbuhan ... 3
BAB IV KONDISI UMUM TEMPAT PENELITIAN 4.1 Letak dan Luas ... 19
4.2 Topografi dan Tanah ... 19
4.3 Iklim ... 19
4.4 Flora dan Fauna ... 20
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Massa Karbohidrat ... 21
5.2 Daya Serap CO2 per Luas Daun ... 30
5.3 Daya Serap CO2 per Helai Daun ... 31
5.4 Daya Serap CO2 per Batang per Jam ... 32
ii
Halaman 5.6 Daya Serap CO2 per Rumpun per Tahun ... 33
5.7 Perbandingan Daya Serap CO2 per Rumpun per Tahun dengan Riap Bambu Betung ... 33 5.8 Perbandingan Daya Serap CO2 per Pohon per Tahun pada
Pohon yang Telah Diteliti Sebelumnya dengan Riap per Tahun... 34
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan... 40 6.2 Saran... 40
DAFTAR PUSTAKA 41
DAFTAR TABEL
No. Halaman
1. Pengukuran daya serap CO2 dan riap berdasarkan beberapa hasil
penelitian ... 9
2. Massa karbohidrat (C6H12O6) pada bambu betung ... 22
3. Uji tingkat kepentingan peubah bebas ... 24
4. Massa karbohidrat bersih per hari ... 29
5. Daya serap CO2 per luas daun... 30
6. Daya serap CO2 per helai daun per jam ... 31
7. Daya serap CO2 per batang per jam... 32
8. Daya serap CO2 per batang per tahun ... 32
9. Daya serap CO2 per rumpun per tahun ... 33
iv
DAFTAR GAMBAR
No. Halaman
1. Prosedur penelitian daya serap CO2 per rumpun per tahun ... 18
2. Kurva respon cahaya daun bambu betung secara keseluruhan ... 25
3. Kurva respon cahaya daun tua ... 26
4. Kurva respon cahaya daun dewasa ... 27
5. Kurva respon cahaya daun muda ... 28
6. Kurva persamaan kuadratik Acacia mangium ... 35
7. Kurva persamaan kubik Swietenia machrophylla... 36
DAFTAR LAMPIRAN
No. Halaman
1. Nilai massa karbohidrat ... 44
2. Perhitungan massa CO2 pada jenis daun tua, dewasa, dan muda dengan Maple 13... 46
3. Nilai standar karbohidrat ... 48
4. Perhitungan luas daun ... 48
5. Jumlah daun pada setiap batang ... 48
6. Pengelompokkan batang berdasarkan ukuran ... 49
7. Analisis regresi daun tua ... 50
8. Analisis regresi daun dewasa ... 51
9. Analisis regresi daun muda... 52
10. Perbandingan daya serap CO2 dengan riap tiap tahunnya ... 53
11. Peta lokasi pengambilan sampel di Arboretum Bambu IPB ... 54
12. Gambar daun bambu betung (muda, dewasa, dan tua) ... 54
13. Gambar bambu betung yang diteliti ... 55
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Isu lingkungan global warming (pemanasan global) dewasa ini telah mengemuka dalam masyarakat. Pemanasan global terjadi ketika konsentrasi
gas-gas tertentu yang dikenal dengan gas rumah kaca, khususnya
karbondioksida (CO2) terus bertambah di udara, yang sebagian besar
disebabkan oleh kegiatan manusia.
Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi peningkatan
gas CO2 di atmosfer, yaitu melalui penanaman tumbuhan hijau yang
mempunyai kemampuan tinggi untuk menyerap gas CO2 salah satunya adalah
bambu. Seperti halnya pohon, bambu dapat mengolah CO2 dalam proses
fotosintesis dan melepaskan O2 ke udara. Bambu juga memiliki beberapa
kelebihan antara lain pertumbuhannya cepat, dapat diolah dan ditanam
dengan cepat sehingga dapat memberikan keuntungan secara kontinyu,
memiliki sifat mekanis yang baik, pengolahannya hanya memerlukan alat
yang sederhana. Bambu memiliki mekanisme C4 dalam proses fiksasi karbon
sementara pohon merupakan tumbuhan C3. Tumbuhan C4 memiliki
keunggulan dalam proses fiksasi karbon dibandingkan tumbuhan C3,
terutama pada kondisi lingkungan yang kekeringan, suhu tinggi serta
keterbatasan karbondioksida (Lakitan, 1993).
Salah satu jenis bambu yang banyak digunakan adalah bambu betung
(Dendrocalamus asper (Schult f.) Backer ex Heyne). Bambu betung telah lama dimanfaatkan secara tradisional oleh masyarakat Indonesia sebagai
bahan bangunan. Dengan pengetahuan yang lebih lengkap dan terstruktur,
diantaranya mengenai kemampuan bambu betung dalam menyerap karbon,
maka bambu betung dapat dimanfaatkan secara bijak untuk kesejahteraan
seluruh makhluk hidup di alam ini. Lebih lanjut bambu betung akan memiliki
nilai tawar yang tinggi sebagai pengganti kayu untuk konstruksi karena
masyarakat semakin memahami peran penting tanaman/hutan bambu betung
(2010) pada pohon Acacia mangium yang dihitung dengan persamaan kuadratik dan pohon Swietenia machrophylla yang dihitung dengan persamaan kubik. Peneliti yang lain seperti Ardiansyah (2009) melakukan
penelitian serupa terhadap jenis pohon Agathis dammara. Nilai yang diperoleh dengan menggunakan persamaan kubik, hasilnya cenderung over estimate sedangkan dengan menggunakan persamaan kuadratik, hasilnya dapat under estimate atau over estimate. Hal ini disebabkan karena kurva respon cahaya dari persamaan kuadratik maupun kubik yang dihasilkan
kurang menggambarkan pengaruh periode intensitas cahaya matahari
sehingga nilai massa karbohidrat yang diperoleh kurang tepat. Selain itu,
besarnya respirasi juga belum diukur pada penelitian sebelumnya. Oleh sebab
itu, pada penelitian ini selain menghitung daya serap karbondioksida pada
proses fotosintesis juga menghitung respirasi pada malam hari serta mencoba
memperoleh model persamaan sinusoidal yang ideal pada kurva respon
cahaya sehingga kedepannya dapat digunakan untuk menghitung daya serap
karbondioksida dengan lebih tepat.
1.2 Tujuan
1. Mendapatkan persamaan kurva respon cahaya yang ideal.
2. Mengetahui besarnya daya serap CO2 dari bambu betung (Dendrocalamus
asper ( Schult f.) Backer ex Heyne).
1.3 Manfaat Penelitian
1. Persamaan kurva respon cahaya yang ideal dapat dipergunakan sebagai
persamaan standar untuk berbagai tumbuhan hijau lainnya.
2. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tumbuhan Sebagai Penyerap CO2
Tumbuhan hijau daun menyerap CO2 selama fotosintesis dan
memakainya sebagai bahan untuk membuat karbohidrat. Fotosintesis
merupakan salah satu mekanisme penting pengambilan CO2 dari atmosfer
(Anonim, 2010). Salisbury & Ross (1995) menyatakan bahwa lebih dari 13%
karbon di atmosfer digunakan dalam fotosintesis tiap tahunnya.
Rosenboorg (1965) menyatakan bahwa aktivitas fotosintesis dapat
diamati secara eksperimental pada semua tumbuhan hijau, keragaman dari
berbagai metode telah dibuat untuk dapat menentukan kemampuan
fotosintesis, kuantitas bahan yang dipakai dan dilepaskan, serta
susunan-susunan khusus yang terlibat dalam bermacam-macam reaksi di dalamnya.
Salah satunya adalah jumlah CO2 yang dikonsumsi.
2.2 Karbondioksida (CO2)
Gas CO2 adalah bahan baku bagi fotosintesis dan laju fotosintesis
dipengaruhi oleh kadar CO2 di udara. Pengaruh fisiologi utama dari kenaikan
CO2 adalah meningkatnya laju fotosintesis di dalam daun. Akibat
peningkatan laju fotosintesis tersebut akan menyebabkan terjadinya
penimbunan karbohidrat di daun (Darmawan & Baharsjah 1983).
2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Daya Serap CO2 Tumbuhan
Daya serap CO2 berbanding lurus dengan laju fotosintesis tumbuhan,
sehingga faktor yang mempengaruhi laju fotosintesis juga mempengaruhi
daya serap tanaman terhadap CO2 secara bersamaan. Lakitan (1993)
2.3.1 Faktor Genetik
1. Perbedaan Antara Spesies
Dahlan (2004) menyatakan bahwa sifat dan kemampuan
tumbuhan dalam menyerap gas CO2 dapat dikelompokkan ke dalam
tiga golongan yakni :
a) Tipe C3, yakni tumbuhan yang memfiksasi CO2 melalui daur C3
pentosa.
b) Tipe C4, yakni tumbuhan yang dapat memfiksasi CO2 melalui
daur C4 asam dikarboksilat.
c) Tipe CAM, yakni tumbuhan yang dapat memfiksasi CO2 menjadi
asam malat.
Lakitan (1993) menyatakan bahwa berdasarkan proses
fotosintesis ada tiga golongan besar tumbuhan yaitu tumbuhan C4,
tumbuhan C3, dan tumbuhan CAM. Tumbuhan C4 yaitu tumbuhan
yang mempunyai produk awal fotosintesis berupa senyawa dengan 4
atom C, contohnya : tebu, jagung, sorgum, dan beberapa spesies
rumputan asal tropis. Tumbuhan C3 adalah tumbuhan yang
menghasilkan produk awal fotosintesis dengan 3 atom C, yakni asam
3-fosfogliserat, contohnya seluruh gymnospermae, pteridophyta,
bryophyta, dan ganggang. Tumbuhan CAM ditandai dengan
metabolisme unik dimana melibatkan proses karboksilasi ganda
berurutan, contohnya jenis yang tumbuh di daerah kering. Tumbuhan
C4 secara umum mempunyai laju fotosintesis yang tinggi, sementara
tumbuhan CAM memiliki laju fotosintesis yang terendah. Tumbuhan
C3 berada diantara kedua ekstrim tersebut.
2. Pengaruh Umur Daun
Di samping perbedaan metabolisme fiksasi CO2, umur daun
juga akan mempengaruhi laju fotosintesis. Kemampuan daun untuk
berfotosintesis meningkat pada awal perkembangan daun, tetapi
kemudian mulai turun, kadang sebelum daun tersebut berkembang
5
Menurut Tjitrosoepomo (2001), perbedaan warna daun
dapat kita gunakan untuk membandingkan antara daun yang masih
muda dan daun dewasa. Daun yang muda berwarna hijau muda
keputih-putihan, sedangkan yang sudah dewasa biasanya hijau
sungguh. Hal ini dijadikan pedoman dalam pemilihan sampel daun,
disamping ukuran daun dan letak dalam tangkai. Daun yang muda,
ukurannya lebih kecil daripada ukuran daun dewasa. Daun yang tua
umumnya berwarna hijau kehitam-hitaman, agak pucat dan sebagian
warnanya sudah terdegradasi menjadi kuning atau cerah kembali.
3. Pengaruh Laju Translokasi Fotosintat
Tumbuhan dengan laju fotosintesis yang tinggi, juga
menunjukkan laju translokasi fotosintat yang tinggi pula. Jadi
translokasi fotosintat yang cepat akan memacu laju fiksasi CO2,
sementara laju fotosintat pada daun akan menghambat laju
fotosintesis.
2.3.2 Faktor Lingkungan
1. Ketersediaan Air
Untuk tumbuhan tingkat tinggi, laju fotosintesis paling
dibatasi oleh ketersediaan air. Kekurangan air dapat menghambat
laju fotosintesis, terutama karena pengaruhnya terhadap turgiditas sel
penjaga stomata. Jika kekurangan air, maka turgiditas sel penjaga
akan menurun. Hal ini menyebabkan stomata menutup, penutupan
stomata ini akan menghambat serapan CO2 yang dibutuhkan untuk
sintesis karbohidrat.
2. Ketersediaan CO2
CO2 merupakan bahan baku sintesis karbohidrat. Kekurangan
CO2 tentu akan menyebabkan penurunan laju fotosintesis. Data yang
terkumpul selama beberapa tahun terakhir menunjukkan
kecenderungan peningkatan CO2 secara konsisten. Dengan
demikian, CO2 secara umum bukan merupakan faktor pembatas
untuk tumbuhan darat.
4. Pengaruh Cahaya
Cahaya sebagai sumber energi untuk reaksi anabolik
fotosintesis jelas akan berpengaruh terhadap laju fotosintesis
tersebut. Secara umum, fiksasi CO2 maksimum terjadi sekitar tengah
hari, yakni pada saat intensitas cahaya matahari mencapai
puncaknya.
5. Pengaruh Suhu
Pengaruh suhu terhadap fotosintesis tergantung pada spesies
dan kondisi lingkungan tempat tumbuhnya. Spesies yang tumbuh di
gurun mempunyai suhu optimum untuk fotosintesis lebih tinggi dari
spesies tumbuhan yang tumbuh di tempat lain. Secara umum, suhu
optimum untuk fotosintesis setara dengan suhu siang hari pada
habitat asal tumbuhan tersebut.
2.4 Fotosintesis
Fotosintesis adalah suatu proses biokimia yang dilakukan tumbuhan,
alga, dan beberapa jenis bakteri untuk menghasilkan makanan dengan
memanfaatkan energi cahaya. Hampir semua makhluk hidup bergantung dari
energi yang dihasilkan dalam fotosintesis. Akibatnya fotosintesis menjadi
sangat penting bagi kehidupan di bumi. Fotosintesis juga berjasa
menghasilkan sebagian besar oksigen yang terdapat di atmosfer bumi.
Organisme yang menghasilkan energi melalui fotosintesis disebut sebagai
fototrof (Anonim 2010).
Berbeda dari organisme lain yang memperoleh energi dengan memakan
organisme lainnya, tumbuhan bersifat autotrof. Autotrof artinya dapat
mensintesis makanan langsung dari senyawa anorganik. Tumbuhan
menggunakan CO2 dan air untuk menghasilkan gula dan oksigen yang
diperlukan sebagai makanannya. Energi untuk menjalankan proses ini berasal
dari matahari (Anonim 2010). Persamaan reaksi yang menghasilkan glukosa
adalah sebagai berikut:
6CO2 + 6H2O
Energi
7
2.5 Respirasi
Menurut Winarno dan Aman (1974), respirasi adalah suatu proses
metabolisme dengan cara menggunakan oksigen dalam pembakaran senyawa
makromolekul seperti karbohidrat, protein, dan lemak yang akan
menghasilkan CO2, air dan sejumlah besar elektron-elektron. Salisbury
(1995) menyatakan bahwa respirasi dilakukan semua sel secara
terus-menerus, sering melepaskan CO2 dan menyerap O2 dalam volume yang sama.
CO2 berdifusi dari akar menuju daun melalui lakuna (rongga gas-dalam yang
sangat luas). Salisbury (1992) menyatakan bahwa respirasi dipengaruhi oleh
ketersediaan substrat, oksigen, suhu, jenis dan umur tumbuhan dan CO2.
Rumus reaksi kimia dari respirasi menurut Salisbury (1992) adalah sebagai
berikut:
C6H12O6 + 6O2 6CO2 + 6H2O + Energi
2.6 Bambu
Bambu merupakan rumput-rumputan berkayu yang tumbuh sangat
cepat dibandingkan pohon. Pertumbuhan bambu di hutan alam mencapai
400 kg/ha/tahun, bahkan di hutan hujan dapat mencapai 4-5 kalinya apabila
dilakukan manajemen pengelolaan yang baik (pengolahan tanah, pemupukan,
dan penjarangan) serta terlindung dari penggembalaan (Adkoli 1994;
Lakshmana 1994). Tunas-tunas bambu tumbuh dengan cepat, bahkan
tingginya dapat mencapai satu meter dalam waktu 24 jam. Batang bambu
muda memiliki diameter yang hampir sama dengan bambu tua. Bambu
berkembangbiak melalui rimpang/akar tinggal sehingga tidak memerlukan
penanaman ulang. Meskipun batang-batang bambu dipanen, sistem
perakarannya tetap tertinggal di dalam tanah sehingga masih mampu
menumbuhkan tunas-tunas baru. Batang bambu mencapai umur dewasa
sekitar tiga tahun, jauh lebih cepat daripada pohon pada umumnya.
Batang-batang bambu dapat dipanen setiap tahun setelah mencapai umur 3-5 tahun,
sedangkan pohon hanya dapat dipanen satu kali setelah berumur 10-50 tahun.
Dengan pemanenan yang bijak, bambu dapat dimanfaatkan sebagai
Kurz (1876) dalam Dransfield & Widjaya (1995) menyatakan bahwa
bambu merupakan salah satu sumberdaya alam tropis dan penyebarannya luas
dengan pertumbuhan cepat, mudah dibentuk dan telah luas penggunaannya
dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Asia. Kekuatan batang, kelurusan,
kelicinan, keringanan yang dipadukan dengan kekerasan, keteraturan
sehingga mudah dibelah, ukuran yang berbeda, variasi panjang dan ketebalan
membuat bambu dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan.
Bambu termasuk ke dalam famili Graminae, sub famili Bambusoidae
dan suku bambuseae. Bambu biasanya mempunyai batang yang berlubang,
akar yang kompleks, daun berbentuk pedang dan pelepah yang menonjol
(Dransfield & Widjaya 1995).
2.7 Bambu Betung
Taksonomi bambu betung adalah kingdom Plantae, divisi Magnoliophyta, kelas Liliopsida, ordo Poales, famili Poaceae atau Gramineae, genus Dendocalamus, spesies Dendrocalamus asper backer (Anonim, 2008).
Dransfield & Widjaya (1995) menjelaskan bahwa Dendrocalamus asper merupakan salah satu bambu yang banyak ditemui di Indonesia. Bambu ini disebut juga Giant Bamboo (Inggris), Awi Bitung (Sunda), Buluah Batung (Batak) dan paling sering disebut Bambu Betung. Tersebar di Sumatra, Jawa
Timur, Sulawesi Selatan, Seram dan Irian Barat. Di Jawa, Bambu Betung
dapat ditanam di dataran rendah sampai ketinggian 2000 m di atas permukaan
laut. Bambu Betung dapat tumbuh pada banyak jenis tanah, namun akan lebih
baik pada tanah berat dengan drainase yang baik.
Selanjutnya Dransfield & Widjaya (1995) menyatakan batang bambu
ini memiliki tipe simpodial, merumpun yang terdiri dari beberapa batang saja,
batang tegak dengan ujung melengkung. Tinggi 20-30 m, diameter 8-20 cm,
tebal 11-36 mm. Panjang ruas 10-20 cm (bagian bawah) sampai 30-50 cm
(bagian atas). Buku-buku menggelembung, buku dekat pangkal batang
mempunyai akar udara. Batang muda berwarna coklat keemasan. Cabang
9
2.8 Spektrofotometri
Day and Underwood (1998) menyatakan spektrofotometri menyiratkan
pengukuran jauhnya pengabsorpsian energi cahaya sebagai fungsi dari
panjang gelombang radiasi, spektrofotometri dapat dibayangkan sebagai
suatu perpanjangan dari pemantauan secara visual dimana studi yang lebih
terinci mengenai pengabsorpsian energi cahaya oleh bahan kimia
memungkinkan kecermatan yang lebih besar dalam pencirian dan pengukuran
kuantitatif.
2.9 Pengukuran Daya Serap CO2
Beberapa penelitian yang telah pernah dilakukan mengenai pengukuran
daya serap tanaman terhadap CO2 yaitu hanya terbatas pada pohon saja untuk
mengetahui kemampuan pohon tersebut menyerap karbon. Beberapa
penelitian itu dilakukan oleh Institut Pertanian Bogor (IPB). Antara lain
disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1 Pengukuran daya serap CO2 dan riap berdasarkan beberapa hasil penelitian
Swietenia machrophylla 16,73) 0,0418 2509 1)
Tectona grandiis 9,4 3) 0,0235 207 2)
Melalui proses fotosintesis, tanaman dapat mengubah karbondioksida
dari atmosfer menjadi energi kimia yang akan dipergunakan tanaman dalam
pertumbuhannya dan hanya bisa berlangsung dengan bantuan cahaya
matahari. Kurva respon cahaya merupakan fungsi yang dapat memberikan
informasi tentang kemampuan suatu individu pohon dalam memanfaatkan
III. METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan di Arboretum Bambu IPB untuk
pengambilan daun, dan Laboratorium Kimia Hasil Hutan IPB untuk persiapan
contoh uji. Analisis karbohidrat dilakukan di Laboratorium Kimia Bersama
Diploma III IPB. Penelitian dilakukan selama bulan Oktober sampai
Desember 2010. Pengambilan sampel daun dilakukan setiap 3 jam sekali
untuk 2 hari pertama, 4 jam sekali untuk 2 hari kedua, dan 6 jam sekali untuk
2 hari ketiga. Setiap 2 hari pengamatan diberi selang satu hari.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain tabung reaksi,
pipet volumetrik, erlenmeyer, hammer mill, kertas saring, spektrofotometri dengan panjang gelombang 500 nm, timbangan, oven, water bath (penangas air), kertas milimeter block, seperangkat komputer dengan software microsoft word, microsoft excel, SoftwareMaple 13, meteran.
Bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari daun
Bambu Betung (Dendrocalamus asper (Schult f.) Backer ex Heyne) yang berasal dari Arboretum Bambu Kampus IPB Darmaga. Sedangkan pereaksi
yang digunakan untuk analisis karbohidrat yaitu pereaksi Cu, pereaksi
Nelson, pereaksi Karbohidrat.
3.3 Metode Penelitian
3.3.1 Persiapan pereaksi
A. Pembuatan pereaksi Cu
Sebanyak 12 g K Na Tartrat, 24 g Na2CO3, 40 ml CuSO4 (10%),
serta 16 g NaHCO3 ditimbang. Kemudian 180 g Na2SO4 dilarutkan
dengan air panas dan didinginkan, larutan K Na Tartrat, Na2O3, CuSO4,
H2O, NaHCO3, dan Na2SO4 dicampurkan. Lalu campuran tersebut
11
B. Pembuatan pereaksi Nelson
Sebanyak 25 g (NH4)6Mo7O24 (Amonium heptamolybdate)
ditambahkan 450 ml H2O dan 21 ml H2SO4 pekat (larutan a).
Kemudian sebanyak 3 g Na2HASO4.7H2O (amonium hidrogen arsenat)
dilarutkan ke dalam 25 ml H2O (larutan b). Larutan a) dan b) dicampur
terlebih dahulu kemudian dipanaskan pada suhu 37oC selama 1-2 hari
dan disimpan pada botol gelap.
C. Pembuatan pereaksi Karbohidrat
Pereaksi karbohidrat yang digunakan terdiri dari : HCl 0,7 N,
NaOH 1 N, ZnSO4 5%, Ba(OH)2 0,3 N.
D. Pembuatan deret standar karbohidrat
Sebanyak 0,0625 g dextrosa dilarutkan dalam aquades sampai
dengan volume 250 ml, kemudian diencerkan sehingga diperoleh
konsentrasi larutan standar 5, 10, 15, 20, 25 (ppm)
3.3.2 Persiapan contoh uji
Pada penelitian ini, contoh uji yang digunakan yaitu daun muda,
daun dewasa, dan daun tua masing-masing 15 gram. Daun tersebut
selanjutnya dikeringkan menggunakan oven pada suhu 60oC selama 48
jam hingga beratnya konstan. Setelah berat sampel daun konstan, daun
dihancurkan dengan menggunakan alat penggiling (hammer mill) sampai halus.
Serbuk daun yang telah halus diambil 0,2 gram lalu ditambahkan
dengan 20 ml HCl 0,7 N. Setelah itu dihidrolisis selama 2,5 jam dalam
penangas air. Selanjutnya disaring dalam labu ukur 100 ml dan
ditambahkan fenol merah, kemudian dinetralkan dengan NaOH 1N sampai
terjadi perubahan warna larutan (merah muda),. Larutan tersebut kemudian
ditambahkan 5 ml ZnSO4 5% dan 5 ml Ba(OH)2 0,3 N, selanjutnya
ditambahkan juga aqua destilasi (aquades) sampai tanda tera 100 ml. Larutan disaring kembali dan disimpan di dalam botol sampel serta
3.3.3 Pengujian absorbsi karbohidrat (A)
Ke dalam 2 ml larutan sampel karbohidrat dan deret standar
ditambahkan pereaksi Cu sebanyak 2 ml, selanjutnya dipanaskan dalam
penangas air selama 10 menit. Kemudian larutan yang sudah mendingin
tersebut ditambahkan pereaksi Nelson 2 ml pada deret standar dan larutan
sampel, dikocok dan dibiarkan selama 2 menit. Senyawa komplek
karbohidrat yang terbentuk diukur absorbansi (A) dengan spektrofotometer
dengan panjang gelombang 500 nm.
3.4 Analisis Data
3.4.1 Massa karbohidrat
Setelah diperoleh nilai absorbansi karbohidrat (A) selanjutnya
dihitung persentasi karbohidrat (% KH). Nilai persentasi karbohidrat yang
didapat adalah % KH dalam keadaan kering. Persentasi karbohidrat kering
(% KH kering) dihitung dengan menggunakan rumus:
% KH kering =
A : nilai absorbansi karbohidrat
S : rata-rata standar karbohidrat
Faktor pengenceran : 100/0,2 dan 6/2
Selanjutnya dihitung juga massa karbohidrat dalam daun segar
(basah). Massa karbohidrat dalam daun segar atau daun basah dihitung
dan KA (kadar air tiap jenis daun dalam %):
Bobot basah daun−Bobot kering daun
13
Setelah diperoleh nilai massa karbohidrat bersih, dibuat kurva respon cahaya, yang didekati dengan model regresi linier berganda sebagai berikut:
Z1 : Peubah boneka (bernilai 1 untuk siang hari dan 0 untuk malam hari).
Z2 : Peubah boneka (bernilai 0 untuk siang hari dan 1 untuk malam hari).
X : Jam pengambilan sampel.
H : Hari pengambilan sampel setelah pengambilan hari pertama.
Dari model persamaan tersebut dilakukan pengujian tingkat
kepentingan peubah bebas untuk memperoleh model persamaan yang
terbaik. Pemilihan model persamaan terbaik adalah model regresi linier
berganda yang memiliki kelogisan model kurva respon cahaya antara
peubah bebas dengan tidak bebasnya. Pemilihan model hasil terbaik
ditentukan dengan mengetahui variabel-variabel bebas yang digunakan
memiliki pengaruh yang nyata atau tidak terhadap variabel tidak bebasnya.
Pada penelitian ini dipilih batas nilai probabilitas setiap koefisien regresi
sebesar P-value <0,1. Setelah dilakukan uji-t, kurva respon cahaya dipilih persamaan yang terbaik.
Untuk mengetahui massa karbohidrat fotosintesis pada siang hari
yaitu dengan cara menghitung luas daerah di bawah kurva:
Cf= Ŷ
18
6 −
P
Keterangan :
Cf : Total massa karbohidrat fotosintesis di siang hari
Sedangkan untuk mengetahui massa karbohidrat respirasi pada
malam hari yaitu dengan cara menghitung luas daerah di atas kurva:
Cr = P
30
18 −A
Keterangan :
Cr : Total massa karbohidrat respirasi di malam hari
∶1830 18 dan 30 merupakan selang waktu di malam hari. P : Massa karbohidrat jam 6 pagi.
A : Massa karbohidrat di malam hari.
Selanjutnya, massa karbohidrat bersih diperoleh dari selisih massa
karbohidrat fotosintesis dikurangi massa karbohidrat respirasi:
Cnetto = Cf−Cr
3.4.2 Massa karbondioksida (CO2)
Massa karbohidrat bersih digunakan untuk mengetahui nilai massa
karbondioksida (CO2) yang dihitung dengan rumus :
Massa CO2 = Massa C6H12O6 × 1,47
Rumus tersebut didapat dari persamaan reaksi fotosintesis
6CO2 + 6H2O
Energi
C6H12O6 + 6O2
Dari persamaan reaksi tersebut dapat dilihat 1 mol C6H12O6 setara
dengan 6 mol CO2, sehingga perhitungannya adalah :
15
3.4.3 Daya serap karbondioksida per luas sampel daun (D)
Sebelum memperoleh nilai daya serap karbondioksida (CO2) per luas
sampel daun, perlu diukur terlebih dahulu luas total 15 gram daun dengan
menggunakan kertas milimeter. Luas daun dihitung berdasarkan jumlah
kotak yang terdapat dalam pola daun yang dikalikan dengan ukuran luas
Dari nilai daya serap CO2 per luas sampel daun, dapat ditentukan
pula daya serap CO2 bersih per luas daun per jam (Dt) yaitu dengan
menggunakan rumus :
∆t : periode waktu pengambilan sampel dalam 1 hari 1 malam (24 jam)
3.4.5Daya serap CO2 per helai daun per jam (DI)
Kemudian dihitung daya serap CO2 per helai daun per jam (DI)
dengan menggunakan rumus :
Penghitungan serapan CO2 memerlukan data tentang jumlah daun
per rumpun. Langkah-langkah penentuan jumlah daun per rumpun adalah
mengelompokkan batang-batang tersebut berdasarkan ukurannya, memilih
tiga batang sampel setiap kelompok ukuran, mengalikan jumlah daun pada
sampel dengan jumlah sampel batang, menjumlahkan hasil kali tersebut
sehingga didapat jumlah total daun per batang. Nilai daya serap CO2 per
jenis batang per jam (Dn) diperoleh menggunakan rumus :
Dn = (Nm × DIm) + (Nd × DId) + (Nt × DIt)
Keterangan :
Dn : daya serap bersih CO2 per batang per jam
DI : daya serap bersih CO2 per helai daun per jam
N : jumlah daun dalam 1 batang
m : muda
d : dewasa
t : tua
3.4.7 Daya serap CO2 per jenis batang per tahun (Dy)
Dari nilai daya serap CO2 per jenis batang per jam dapat ditentukan
nilai daya serap CO2 per jenis batang per tahun (Dy) dengan rumus :
Dy = [{Dn × 5,36} + {Dn × (12,07 – 5,36) × 0,46}] × 365 Keterangan :
Dy : daya serap bersih CO2 per jenis batang per tahun
Dn : daya serap bersih CO2 per jenis batang per jam
12,07 : nilai rata-rata penyinaran maksimum per hari (jam/hari) (Sitompul
& Guritno 1995)
5,36 : nilai rata-rata lama penyinaran aktual per hari di Bogor (jam/hari)
(Abdullah 2000)
0,46 : perbandingan antara rata-rata per hari laju fotosintesis pada hari
mendung dengan hari cerah (Sitompul & Guritno 1995)
17
3.4.8 Daya serap CO2 per rumpun per tahun (Dyr)
Dari nilai daya serap CO2 per jenis batang per tahun diperoleh nilai
daya serap CO2 per rumpun per tahun (Dyr) dengan menggunakan rumus
sebagai berikut :
Dyr = Kt × Dyt + Kd × Dyd
Dimana:
Dyr : daya serap CO2 per rumpun per tahun
Kt : jumlah batang tua dalam satu rumpun
Kd : jumlah batang dewasa dalam satu rumpun
Dyt : daya serap CO2 batang tua per tahun
Gambar 1 Prosedur penelitian daya serap CO2 per rumpun per tahun
- Dioven ± 48 jam, T 60oC - Digiling (hammer mill) - Hidrolisis HCL
- Analisis karbohidrat dengan metode Cu-Nelson
IV. KONDISI UMUM
4.1 Letak dan Luas
Arboretum Bambu IPB secara administratif termasuk ke dalam wilayah
IPB, Kecamatan Darmaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Batas Arboretum
Bambu IPB adalah sebagai berikut : (1) Utara : Jalan Agathis IPB (Kebun
Karet), (2) Selatan : Jalan Raya Ciampea, (3) Timur : Jalan Agathis IPB
(Pintu Dua IPB), (4) Barat : Sungai Cihideung (Kampung Leuwikkopo).
Arboretum Bambu IPB memiliki luas 7 Ha merupakan kebun koleksi plasma
nutfah untuk vegetasi bambu. Lokasi Arboretum Bambu IPB pada awalnya
merupakan kebun karet, mulai dijadikan dan diresmikan sebagai Arboretum
Bambu pada tanggal 26 Agustus 1998.
4.2 Topografi dan Tanah
Arboretum Bambu IPB berada pada ketinggian 190 mdpl dengan
kondisi topografi yang miring dan bergelombang.
Jenis tanah Arboretum Bambu IPB adalah tanah latosol coklat
kemerahan. Kadar pH tanahnya masam, yakni pada kisaran 5,6 dengan
kandungan bahan organik yang cukup. (Dinata, 2009)
4.3 Iklim
Data iklim lokasi penelitian menurut Badan Meteorologi dan Geofisika
Balai wilayah II Stasiun Klimatologi Kelas I Darmaga Bogor dalam Saputra
(2010). Data iklim yang diperoleh adalah kompilasi data rata-rata iklim
tahunan, dengan tahun pengukuran 2005-2009 yaitu memiliki curah hujan
rata-rata tahunan di Arboretum Bambu IPB adalah 277,8 mm/thn dengan
suhu rata-rata tahunan 27,020C. Dengan suhu tertinggi yaitu 34,10C, dan suhu
terendah yaitu 20,60C. Kelembaban udara rata-rata 85,02% , kelembaban
4.4 Flora dan Fauna
Vegetasi di Arboretum Bambu IPB dapat digolongkan menjadi dua,
yakni vegetasi bambu dan non bambu. Arboretum Bambu IPB saat ditanam
pertama kali memiliki 60 rumpun bambu dengan 39 spesies yang berbeda.
Perbanyakan bambu di Arboretum Bambu IPB pernah dilakukan oleh Tim
Pengelola Arboretum Bambu IPB pada tahun 2001. Jumlah keseluruhan
rumpun bambu di Arboretum Bambu IPB saat ini adalah 373 rumpun dengan
39 spesies yang berbeda. Jenis bambu yang paling banyak ditanam di
Arboretum Bambu IPB adalah bambu pagar (Bambusa glaucescens), yakni 20 rumpun.(Dinata, 2009)
Arboretum Bambu IPB juga memiliki vegetasi non bambu yang
beragam. Vegetasi non bambu tersebut, terdiri dari akasia, beringin, bisbul,
bunga kupu-kupu, dadap merah, flamboyan, karet, kayu manis, ketapang, krai
payung, mangga, asam balanda, pala, rambutan, sengon, sirsak, dan tanjung.
Sedangkan jenis-jenis satwa yang dijumpai melalui pengamatan
lansung di Arboretum Bambu IPB adalah belalang, burung prenjak, burung
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Massa Karbohidrat
Karbohidrat merupakan produk utama dalam proses fotosintesis oleh
tumbuhan, hasil sintesis senyawa karbondioksida dan air dengan bantuan
cahaya matahari. Pengukuran daya serap karbondioksida bambu Betung
(Dendrocalamus asper (Schult f.) Backer ex Heyne) dilakukan dengan melakukan analisis karbohidrat dengan menggunakan metode fitokimia yang
dilanjutkan dengan spektrofotometri. Nilai massa karbohidrat yang dihasilkan
oleh suatu tanaman menunjukkan adanya penyerapan karbondioksida pada
tanaman tersebut. Persentase karbohidrat berbanding lurus dengan massanya.
Apabila persentase karbohidrat tinggi, maka massa karbohidrat pun akan
tinggi, demikian juga sebaliknya. Pada saat analisis, kandungan karbohidrat
pada masing-masing tanaman dapat ditaksir melalui warna larutan hasil
ekstraksi. Semakin pekat larutan, yaitu berwarna biru tua, pada alat
spektrofotometer menunjukkan semakin tinggi kandungan karbohidratnya.
Massa karbohidrat yang dihasilkan pada bambu Betung
(Dendrocalamus asper (Schult f.) Backer ex Heyne), diteliti pada pengambilan sampel daun tua, dewasa, muda yang dilakukan setiap 3 jam
sekali untuk 2 hari pertama, 4 jam sekali untuk 2 hari kedua, dan 6 jam sekali
untuk 2 hari ketiga. Setiap 2 hari pengamatan diberi selang satu hari.
Selain menghasilkan oksigen pada siang hari melalui proses
fotosintesis, tumbuhan juga melakukan proses respirasi di malam hari dengan
menyerap oksigen, maka dari itu untuk mengetahui kemampuan daya serap
CO2 bersih tumbuhan, dilakukan pengambilan sampel pada malam hari untuk
Berikut merupakan tabel hasil perngukuran massa karbohidrat pada
daun bambu Betung (Dendrocalamus asper (Schult f.) Backer ex Heyne) Tabel 2 Massa karbohidrat(C6H12O6) pada daun bambu betung
23
Dari data pada Tabel 2 diperoleh kurva respon cahaya yang didekati
dengan model regresi linier berganda dengan transformasi sinusoidal. Dari
model tersebut kemudian dilakukan pengujian tingkat kepentingan peubah
bebas. Pengujian tingkat kepentingan peubah bebas dapat dilihat pada Tabel
3. Uji tingkat kepentingan peubah bebas dimaksudkan untuk mengetahui
peranan masing-masing peubah bebas di dalam persamaan pembentukan
model yang dilakukan dengan melihat nilai p (probability value atau p-value). Data penelitian ini dipilih p-value≤ 0,1 untuk setiap koefisien regresi.
Koefisien determinasi (R2) adalah ukuran dari besarnya keragaman
peubah terikat yang dapat diterangkan oleh keragaman peubah bebasnya.
Perhitungan besarnya Koefisien Determinasi (R2) bertujuan untuk melihat
tingkat ketelitian dan keeratan hubungan. Semakin besar nilai R2 , semakin
besar pula total keragaman yang dapat diterangkan oleh model, sehingga
diperoleh persamaan regresi yang semakin baik.
Pada model regresi linier berganda dimana terdapat empat koefisien
regresi (B,C,D,E), setelah dilakukan pengujian statistik dengan taraf nyata
10%, diperoleh nilai p-value untuk koefisien E lebih dari 0,1 yaitu untuk daun tua sebesar 0,95; daun dewasa sebesar 0,95; dan daun muda sebesar 0,92
maka koefisien E tidak berpengaruh nyata. Model regresi linier berganda
yang kedua terdapat tiga koefisien regresi (B,C,D), setelah dilakukan
pengujian statistik dengan taraf nyata 10%, diperoleh nilai P-value untuk koefisien C lebih dari 0,1 yaitu untuk daun tua sebesar 0,29; daun dewasa
0,49; dan daun muda 0,29 maka koefisien C tidak berpengaruh nyata.
Selanjutnya dilakukan kembali pengujian berdasarkan P-value untuk koefisien B dan D, dan diperoleh nilai P-value kurang dari 0,1 untuk koefisien B dan D, sehingga koefisien B dan D inilah yang digunakan ke
dalam model persamaan regresi linier berganda untuk membuat kurva respon
cahaya. Khusus untuk daun muda, meskipun nilai probabilitas koefisien B
lebih dari 10%, tetap dipilih model persamaan ketiga karena lebih sederhana
24
Tabel 3 Uji Tingkat Kepentingan Peubah Bebas.
Model Jenis
daun Model regresi linier berganda
R² (%)
P value
A B C D E
I
Tua Ŷ = 0,0268 + 0,0023Z1(X-24(H-1)) + 0,0007Z2(X-24(H-1)) +
0,083Z1sin(2π(X-6)/24) + 0,0036Z2sin(2π(X-6)/24)
67,05 0,127236 0,069249 0,745402 4,94E-07 0,948852
Dewasa Ŷ = 0,0383 + 0,0013Z1(X-24(H-1)) + 0,0004Z2(X-24(H-1)) +
0,0619Z1sin(2π(X-6)/24) +0,0025Z2sin(2π(X-6)/24)
71,83 0,00204 0,124784 0,754378 5,59E-08 0,948939
Muda Ŷ = 0,0257 + 0,0015Z1(X-24(H-1)) + 0,0007Z2(X-24(H-1)) +
0,0698Z1sin(2π(X-6)/24) +0,004Z2sin(2π(X-6)/24)
71,84 0,047053 0,103197 0,636573 2,89E-08 0,924282
II
Tua Ŷ = 0,0269 + 0,0024Z1(X-24(H-1)) + 0,0008Z2(X-24(H-1)) +
0,0829Z1sin(2π(X-6)/24) 67,05 0,118165 0,064694 0,28945 3,21E-07 -
Dewasa Ŷ = 0,0383 + 0,0013Z1(X-24(H-1)) + 0,0004Z2(X-24(H-1)) +
0,0619Z1sin(2π(X-6)/24) 71,83 0,00168 0,11632 0,482919 3,35E-08 -
Muda Ŷ = 0,0255 + 0,0015Z1(X-24(H-1)) + 0,0006Z2(X-24(H-1)) +
0,0699Z1sin(2π(X-6)/24) 71,83 0,043582 0,095094 0,289239 1,69E-08 -
III
Tua Ŷ = 0,0435 + 0,0014Z1(X-24(H-1)) + 0,0656Z1sin(2π(X-6)/24) 69,45 8,55E-09 0,02465 - 2,26E-07 -
Dewasa Ŷ = 0,0454 + 0,0008Z1(X-24(H-1)) + 0,0602Z1sin(2π(X-6)/24) 71,38 5,69E-11 0,090047 - 1,76E-08 -
25
Kurva respon cahaya daun bambu betung secara keseluruhan dapat
dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2 Kurva respon cahaya daun bambu betung secara keseluruhan.
Massa Karbohidrat dalam 15 gram daun ditunjukkan oleh persamaan
kurva sinusoidal pada Gambar 2. Kurva sinusoidal mengalami kenaikan
mulai jam 06.00 pagi sampai jam 12.00 siang. Hal ini menunjukkan
terjadinya proses fotosintesis maksimal yang dipengaruhi intensitas cahaya
matahari pada jam 12.00 siang. Setelah jam 12.00 siang kurva mengalami
penurunan sampai jam 18.00, hal ini terjadi seiring penurunan intensitas
cahaya matahari yang menyebabkan fotosintesis turun sehingga massa
karbohidrat juga turun. Pada malam hari yang dimulai setelah jam 18.00
dimana tidak terdapat cahaya, menyebabkan kurva sinusoidalnya datar hal ini
menunjukkan sintesis karbohidrat di malam hari relatif stabil karena
ketiadaan cahaya. Respirasi lebih besar daripada sintesis karbohidrat di
malam hari. Hal ini diperlihatkan oleh kurva massa karbohidrat jam 6 pagi
yang lebih tinggi daripada massa karbohidrat estimasi. Massa karbohidrat jam
6 pagi adalah 0,05179 g; 0,05059 g; dan 0,04203 g berturut-turut untuk daun
tua, dewasa, dan muda. Sedangkan massa karbohidrat estimasi di malam hari
untuk daun tua, dewasa, muda beturut-turut adalah 0,04349 g; 0,04539 g; dan
Garis pusat mengalami kenaikan dari pagi(06.00) sampai sore(18.00),
yang menunjukkan bahwa massa karbohidrat di sore hari lebih besar daripada
massa karbohidrat di pagi hari karena energi matahari di sore hari lebih tinggi
daripada di pagi hari. Hal ini terjadi disebabkan proses fotosintesis dengan
bantuan cahaya matahari yang menghasilkan karbohidrat sehingga nilai
karbohidratnya bertambah.
Gambar 3 Kurva Respon Cahaya Daun Tua.
Pada kurva respon cahaya daun tua (Gambar 3) dapat diketahui bahwa
massa karbohidrat mengalami peningkatan pada pukul 06.00 WIB (0,052 g)
sampai 12.00 WIB (0,126 g), dan mengalami penurunan pada jam 18.00 WIB
(0,068 g). Massa karbohidrat pada sore hari jam 18.00 yaitu 0,068g lebih
besar daripada pagi hari jam 06.00 sebesar 0,052 g, hal ini menunjukkan
kenaikan nilai karbohidrat yang merupakan hasil dari fotosintesis. Massa
Karbohidrat per hari dapat diperoleh melalui integral persamaan regresi linier
berganda �f = 0,04349 + 0,00138 + 0,06562sin 2π −6
24 18
6 −0,05179
(Gambar 3). Massa karbohidrat per hari yang dihasilkan selama proses
fotosintesis sebesar 0,6008 g. Sedangkan pada proses respirasi di malam hari,
massa karbohidrat yang diperoleh cenderung tidak mengalami perubahan
yang berarti. Massa karbohidrat secara berturut-turut yaitu pukul 21.00 WIB
(0,041 g); 00.00 WIB (0,033 g); 03.00 WIB (0,43 g). Massa karbohidrat pada 0
y=0.043496+0.001382z1(X-24(H-1))+0.065619z1sin(2(x-6)/24)
27
malam hari yang dipengaruhi proses respirasi dapat diketahui melalui
pendekatan persamaan � = 300,05179−0,04349
18 dan diperoleh nilai
massa karbohidrat selama proses respirasi per hari sebesar 0,0995 g. Jadi nilai
massa karbohidrat bersih pada daun tua selama 24 jam yaitu sebesar 0,5012 g.
Gambar 4 Kurva Respon Cahaya Daun Dewasa.
Pada kurva respon cahaya daun dewasa (Gambar 4) dapat diketahui
bahwa massa karbohidrat pada jam 06.00 WIB (0,051 g) mengalami kenaikan
pada jam 12.00 WIB (0,116 g); dan menurun pada jam 18.00 WIB (0,061 g).
Massa karbohidrat pada sore hari jam 18.00 yaitu 0,061 g lebih besar dari
pada pagi hari jam 06.00 sebesar 0,051 g. Hal ini menunjukkan kenaikan nilai
karbohidrat yang merupakan hasil dari fotosintesis. Massa Karbohidrat per
hari dapat diperoleh melalui integral persamaan regresi linier berganda
�f = 0,045397 + 0,00087 + 0,06021sin 2π −6
24 18
6 −0,05059 (Gambar
4). Dari persamaan tersebut dapat diketahui massa karbohidrat per hari yang
dihasilkan selama proses fotosintesis sebesar 0,5225 g. Sedangkan pada
malam hari terjadi proses respirasi. Massa karbohidrat di malam hari
cenderung tidak mengalami perubahan yang berarti, seperti ditunjukkan oleh
Massa karbohidrat pada proses respirasi dapat diketahui melalui pendekatan
Gambar 5 Kurva Respon Cahaya Daun Muda.
Pada kurva respon cahaya daun muda (Gambar 5) dapat diketahui
bahwa massa karbohidrat mengalami peningkatan pada jam 06.00 WIB
(0,042 g) sampai jam 12.00 WIB (0,114 g), dan mengalami penurunan
sampai jam 18.00 WIB (0,051 g). Massa karbohidrat pada sore hari jam
18.00 yaitu 0,051 g, lebih besar daripada pagi hari jam 06.00 sebesar 0,042 g.
Hal ini menunjukkan kenaikan nilai karbohidrat yang merupakan hasil dari
fotosintesis. Massa Karbohidrat per hari dapat diperoleh melalui integral
persamaan regresi linier berganda �f = 6180,03736 + 0,00076 +
0,06695sin 2π −6
24 −0,04203 (Gambar 5). Dari persamaan tersebut
dapat diketahui massa karbohidrat pada siang hari yang dihasilkan selama
proses fotosintesis sebesar 0,5673 g. Sedangkan pada proses respirasi di
malam hari, massa karbohidrat yang diperoleh cenderung tidak mengalami
29
21.00 WIB (0,032 g); 00.00 WIB (0,027 g); 03.00 WIB (0,046 g). Massa
karbohidrat pada proses respirasi dapat diketahui melalui pendekatan
persamaan �r = 300,04203−
18 0,03736 dan diperoleh nilai massa karbohidrat selama proses respirasi per hari sebesar 0,05593g. Jadi nilai
massa karbohidrat bersih pada daun dewasa selama 24 jam yaitu sebesar
0,5113 g.
Tabel 4 Massa karbohidrat bersih per hari
No Jenis daun
Dari ketiga jenis sampel daun tersebut sebagaimana disajikan pada
Tabel 4, massa karbohidrat paling banyak selama 24 jam yaitu daun muda
dengan nilai massa karbohidrat bersih yaitu sebesar 0,5114 g, selanjutnya
daun tua sebesar 0,5012 dan daun dewasa sebesar 0,4602 g. Hal ini sesuai
dengan pernyataan Lakitan (1993) bahwa kemampuan daun untuk
berfotosintesis meningkat pada awal perkembangan daun, tetapi kemudian
mulai turun, kadang sebelum daun tersebut berkembang penuh. Pada hasil
penelitian ini, massa karbohidrat daun tua lebih tinggi daripada daun dewasa,
hal ini kemungkinan terbesar disebabkan oleh kedua jenis daun (tua dan
dewasa) menerima sinar matahari yang tidak sama banyak, sesuai pernyataan
Gardner (1996) bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi fotosintesis
adalah cahaya sehingga dengan peningkatan cahaya secara berangsur-angsur,
fotosintesis juga akan meningkat. Pada penelitian ini daun dewasa relatif
menerima sinar matahari yang lebih sedikit dibandingkan daun tua yang
disebabkan daun dewasa ternaungi oleh tumbuhan lain karena kondisi batang
bambu yang melengkung sehingga posisi daun tua lebih banyak terkena sinar
matahari.
Berdasarkan nilai massa karbohidrat pada tiap waktu pengambilan
sampel, yaitu pukul 06.00 WIB; 09.00 WIB; 12.00 WIB; 15.00 WIB; 18.00
WIB; 21.00 WIB; 00.00 WIB; 03.00 WIB, dapat diketahui bahwa massa
pada kurva persamaan sinusoidal yang mengalami kenaikan seiring dengan
kenaikan intensitas sinar matahari. Ini disebabkan pada waktu tersebut
intensitas cahaya matahari paling tinggi sehingga laju fotosintesis mencapai
titik maksimum dan karbondioksida yang diserap semakin tinggi. Sesuai
dengan pernyataan Lakitan (1993) bahwa fiksasi karbondioksida maksimum
terjadi pada tengah hari, yakni pada saat intensitas cahaya mencapai
puncaknya.
5.2 Daya Serap CO2 per Luas Daun
Data mengenai daya serap CO2 berdasarkan jenis daun tanaman bambu
betung per luas daun yang diteliti dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5 Daya serap CO2 per luas daun
Daya serap CO2 tanaman merupakan kemampuan tanaman dalam
menyerap sejumlah massa CO2, sedangkan daya serap CO2 per luas daun
merupakan kemampuan tanaman menyerap sejumlah massa CO2 per luas
daun. Daya serap CO2 per luas daun tidak selalu berbanding lurus dengan
massa CO2, karena terdapat faktor pembagi yaitu luas sampel daun tanaman
yang diteliti. Semakin besar luas daun yang diteliti maka semakin kecil daya
serap CO2 per cm2 daun dan begitu juga sebaliknya, semakin kecil luas daun,
maka semakin besar daya serap CO2 per cm2.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jenis daun muda memiliki
kemampuan tertinggi dalam menyerap CO2 per luas daun yaitu sebesar
6,4474×10⁻4g/cm2 dan dalam satu jam dapat menyerap CO2 sebesar
2,6864×10⁻5 g/cm2/jam. Hal ini disebabkan karena jenis daun muda memiliki
massa CO2 bersih tertinggi (0,7517 g) dan luas daun pada daun muda adalah
31
menyerap CO2 sebesar 5,9419×10⁻4g/cm² dan memiliki daya serap CO2
dalam satu jam sebesar 2,4758×10⁻5 g/cm²/jam. Hal ini didukung oleh massa
CO2 bersih terbesar kedua juga (0,7368g). Pada daun dewasa memiliki luas daun yang paling besar yaitu 2017,39 cm2 diantara luas daun yang lain,
sehingga mempunyai kemampuan terendah dalam menyerap CO2 yaitu
sebesar 3,3533×10⁻4g/ cm2 dan dalam satu jam dapat menyerap CO2 sebesar
1,3972×10⁻5 g /cm²/jam.
Ketebalan daun juga berpengaruh terhadap daya serap CO2 per cm2. Hal
ini terlihat pada jenis daun muda yang memiliki ketebalan daun tertinggi
sehingga memiliki daya serap CO2 per luas sampel daun tertinggi jika
dibandingkan jenis daun lainnya. Sedangkan untuk daun tua, memiliki
ketebalan relatif daunnya tertinggi nomor dua menyebabkan daya serap CO2
per luas daun per jamnya tertinggi nomer dua. Pada jenis daun dewasa yang
memiliki ketebalan daun paling rendah menyebabkan serap CO2 per luas
daun per jamnya juga terendah. Pernyataan ini sesuai dengan Sitompul dan
Guritno (1995) menyatakan bahwa daun yang tebal akan memiliki kapasitas
mengintersepsi energi cahaya dan mereduksi CO2 yang lebih tinggi daripada
daun yang tipis, sehingga semakin tinggi ketebalan daun maka semakin
meningkatkan penyerapan CO2 karena semakin aktif daun berfotosintesis.
5.3 Daya Serap CO2 per Helai Daun
Daya serap CO2 per helai daun tidak selalu berbanding lurus dengan
daya serap CO2 per cm2, karena yang mempengaruhi adalah luas tiap helai
daun. Ukuran tiap helai daun berbeda pada tiap jenis daun. Ukuran luas daun
dari yang tertinggi yaitu daun tua (155 cm2), daun dewasa (118,67 cm2), dan
Berdasarkan Tabel 6 dapat diketahui bahwa jenis daun tua memiliki
daya serap CO2 per helai daun per jam yang tertinggi yaitu 38,3750×10-4
g/helai/jam. Hal ini disebabkan jenis daun tua memiliki luas per helai daun
yang tertinggi yaitu 155 cm2. Jenis yang memiliki daya serap CO2 per helai
daun per jam terendah adalah jenis daun muda sebesar 9,4912×10-4
g/helai/jam, karena jenis ini memiliki luas per helai daun terendah yaitu 35,33
cm2.
5.4 Daya serap CO2 per batang per jam
Daya serap CO2 per luas daun per jam, jumlah helai daun total dan luas
per helai daun diperlukan untuk mengetahui daya serap CO2 per batang.
Tabel 7 Daya serap CO2 per batang per jam
Jenis Batang
Jumlah Daun Dalam 1 Batang Daya Serap CO2 Per Batang
(g/batang/jam)
Tua Dewasa Muda
Tua 168,00 436,30 299,00 1,65191
Dewasa 123,68 392,00 266,00 1,37706
Kemampuan daya serap CO2 per batang sangat tergantung dari jumlah
total daun pada tiap batang, semakin banyak jumlah daun maka kemampuan
serapan CO2 juga semakin besar. Urutan jumlah daun terbanyak dari ketiga
jenis daun tersebut adalah daun dewasa, daun muda, dan daun tua.
Hasil yang disajikan dalam Tabel 7 menunjukkan bahwa semakin
banyak jumlah daun, maka akan meningkatkan daya serap CO2 per
batangnya. Dari Tabel 7 diketahui bahwa pada batang tua memiliki daya
serap CO2/batang/jam tertinggi yaitu 1,65191 g/batang/jam, ini terjadi karena
batang tua memiliki jumlah daun lebih banyak daripada batang dewasa.
5.5 Daya Serap CO2 Per Batang Per Tahun
Tabel 8 Daya serap CO2 per batang per tahun
Jenis Batang Daya Serap CO2 Per Batang Per Tahun
(g/batang/tahun)
Tua 5092,8522
Dewasa 4245,4806
Nilai daya serap CO2/batang/tahun diperoleh dari daya serap CO2 per
batang pada hari cerah ditambah daya serap CO2 per batang pada hari
33
CO2 pada hari cerah dan pada hari mendung adalah lama penyinaran. Lama
penyinaran aktual rata-rata di Bogor pada hari cerah adalah 5,36 jam/hari atau
selama 19296 detik/hari (Abdullah 2000). Lama penyinaran maksimum
rata-rata per hari menurut Sitompul & Guritno (1995) adalah 12,07 jam /hari atau
43465 detik/hari. Faktor lain yang perlu diketahui dalam penentuan daya
serap CO2 per rumpun per tahun selain faktor lama penyinaran adalah nilai
perbandingan antara laju fotosintesis rata-rata per hari pada hari mendung
dengan hari cerah, yaitu sebesar 0,46 (Sitompul & Guritno 1995).
5.6 Daya serap CO2 per rumpun per tahun
Daya serap/rumpun/tahun pada bambu betung yaitu sebesar 82,35
kg/rumpun/tahun. Daya serap CO2 per rumpun per tahun didapatkan dari nilai
penjumlahan daya serap CO2/batang/tahun dari setiap batang bambu anggota
rumpun bambu tersebut.
5.7 Perbandingan Daya Serap CO2 per rumpun per tahun dengan Riap
bambu betung
Pertumbuhan bambu di hutan alam mencapai 400 kg/ha/tahun, bahkan
di hutan hujan dapat mencapai 4-5 kalinya apabila dilakukan manajemen
pengelolaan yang baik (pengolahan tanah, pemupukan, dan penjarangan)
serta terlindung dari penggembalaan (Adkoli, 1994). Pertumbuhan bambu di
Indonesia yang mempunyai iklim tropis, khususnya Arboretum Bambu IPB
mencapai 1600-2000 kg/ha/tahun. Brown (1997) menyatakan bahwa 40-50%
biomassa total merupakan karbon.
Keliling rumpun = 1090 cm
Diameter rumpun = 1090
Jarak tanam = 13,66 m x 13,66 m
Jumlah rumpun dalam 1 ha = 10000
13,66 13,66 = 54 rumpun
1. Nilai biomassa batang terhadap biomassa total dalam satu rumpun = 75%
(diasumsikan sama dengan pohon karena belum ada yang meneliti tentang
nilai biomassa bambu betung)
2. Biomassa total= 1600 sampai 2000 kg/ha/tahun × 100
75 = 2133,33 sampai
2666,67 kg/ha/tahun
3. 40-50% biomassa total merupakan karbon (Brown, 1997)
4. Massa karbon = Biomassa total × 50% = 3911,12 sampai 4888,88 kg/ha/tahun
Jadi massa CO2 per rumpun =
dapat diketahui bahwa massa CO2 per rumpun per tahun pada bambu betung
berkisar antara 72,98-91,22 kg/rumpun/tahun.
5.8 Perbandingan daya serap CO2 per pohon per tahun pada pohon yang
telah diteliti sebelumnya dengan riap per tahun.
Selain menggunakan daya serap, massa karbondioksida juga dapat
diketahui dengan menggunakan pendekatan riap per tahun. Dibawah ini
adalah beberapa penelitian CO2 terdahulu yang dibandingkan dengan
35
1. Acacia mangium
Gambar 6 Kurva persamaan kuadratik Acacia mangium.(Iqbal, 2010)
a. BJ = 0,61 (Seng, 1990) , kerapatan = 610 kg/m3
b. Massa Acacia mangium = riap volume × kerapatan = 33,5 m3 /ha/tahun × 610
= 20435 kg/ha/tahun
Jarak tanam = 6m × 6m = 36 m2 (Seksiono, 2008)
Jumlah pohon dalam 1 ha = 10000
36 = 277,78 ≈ 278 pohon Massa Acacia mangium = 20435 kg /ha /tahun
278 pohon = 73,566 kg/pohon/tahun
c. Nilai biomassa batang dalam 1 pohon = 66,25-78,30% (Anonim, 2009)
d. Biomassa total = Massa � � ��
� �
= 73,566 kg/pohon/tahun × 100
78,30 sampai 100 66,25
= 93,95 sampai 111,04 kg/pohon/tahun
e. 40-50% biomassa total merupakan karbon (Brown, 1997)
f. Massa karbon = Biomassa total × 50%
= 93,95 sampai 111,04 kg/pohon/tahun × 50%
= 46,98 sampai 55,52 kg/pohon/tahun
g. Massa CO2 =
44
12 × massa karbon
= 44
12× 46,98 sampai 55,52 kg/pohon/tahun
2. Swietenia machrophylla
Gambar 7 Kurva persamaan kubik Swietenia machrophylla.(Iqbal, 2010)
a. BJ = 0,61 (Seng, 1990) , kerapatan = 610 kg/m3
b. Massa Swietenia machrophylla = volume riap × kerapatan
= 16,7 m3 /ha/tahun × 610
= 10187 kg/ha/tahun
Jarak tanam = 5m × 5m = 25 m2 (Listyanto, 2010)
Jumlah pohon dalam 1 ha = 10000
25 = 400 pohon
Massa Swietenia machrophylla = 10187 kg /ha /tahun
400 pohon = 25,47
kg/pohon/tahun
c. Nilai biomassa batang dalam satu pohon=73%(Adinugroho et all, 2010)
d. Biomassa total = Massa � � � ℎ ℎ
� �
= 25,47 kg/pohon/tahun × 100 73
= 34,89 kg/pohon/tahun
e. 40-50% biomassa total merupakan karbon (Brown, 1997)
f. Massa karbon = Biomassa total × 50%
= 34,89 kg/pohon/tahun × 50%
= 17,44 kg/pohon/tahun
g. Massa CO2 =
44
12 × massa karbon
= 44
12× 17,44 kg/pohon/tahun
37
3. Agathis dammara
Gambar 8 Kurva persamaan kuadrat Agathis dammara.(Ardiansyah, 2009) a. BJ = 0,44 (Mandang dan Pandit, 2002) , kerapatan = 440 kg/m3
b. Massa Agathis dammara = volume riap × kerapatan = 27,4 m3 /ha/tahun × 440
= 12056 kg/ha/tahun
Jarak tanam = 6m x 6m = 36 m2 (Listyanto, 2010)
Jumlah pohon dalam 1 ha = 10000
36 = 277,78 ≈ 278 pohon Massa Agathis dammara = 12056 kg /ha /tahun
278 pohon = 43,37 kg/pohon/tahun
c. Nilai biomassa batang dalam satu pohon = 80%
d. Biomassa total = Massa �� ℎ�
� �
= 43,37 kg/pohon/tahun × 100 80
= 54,21 kg/pohon/tahun
e. 40-50% biomassa total merupakan karbon (Brown, 1997)
f. Massa karbon = Biomassa total × 50%
= 54,21 kg/pohon/tahun × 50%
= 27,1 kg/pohon/tahun
g. Massa CO2 =
44
12 × massa karbon
= 44
12× 27,1 kg/pohon/tahun