• Tidak ada hasil yang ditemukan

Asupan Vitamin A, Status Vitamin A, dan Status Gizi Anak SD di Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Asupan Vitamin A, Status Vitamin A, dan Status Gizi Anak SD di Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor"

Copied!
45
0
0

Teks penuh

(1)

ASUPAN VITAMIN A, STATUS VITAMIN A DAN STATUS

GIZI ANAK SD DI KECAMATAN LEUWILIANG,

KABUPATEN BOGOR

AJI NUGRAHA

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER

INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul “Asupan Vitamin A, Status Vitamin A, dan Status Gizi Anak SD di Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir usulan penelitian ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Juni 2014

(4)
(5)

ABSTRAK

Aji Nugraha. Asupan Vitamin A, Status Vitamin A dan Status Gizi Anak SD di Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Dibimbing oleh Prof Dr Ir Faisal Anwar, MS dan Dr. Ir. Sri Anna Marliyati, M.Si.

Pertumbuhan dalam kehidupan manusia dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya asupan gizi. Asupan gizi masyarakat masih menjadi masalah yang berdampak pada kualitas SDM. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari asupan vitamin A, status vitamin A, status gizi dan status kesehatan anak SD di Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Sebanyak 31 anak kelas 2 dan 3 SD Angsana I dan II Desa Cibeber dipilih dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari separuh anak memiliki tingkat kecukupan vitamin A kategori sedang (54.8%) dengan rata-rata tingkat kecukupan vitamin A 112.3%. Pada umumnya status gizi mereka normal (93.5%). Lebih dari separuh anak memiliki status vitamin A rendah (58.1%) dengan rata-rata retinol serum 10.7 µg/dl. Hasil uji hubungan antara tingkat kecukupan energi dan protein dengan status gizi tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p>0.05). Hasil uji hubungan antara asupan vitamin A dengan status vitamin A juga tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p>0.05). Hal ini diduga karena adanya faktor lain (cadangan vitamin A dalam hati) yang memengaruhi. Tidak ada hubungan yang signifikan antara status vitamin A dan status gizi (p>0.05). Hal ini diduga karena adanya faktor lain (konsumsi pangan, kondisi ekonomi dan faktor penyakit) yang memengaruhi status gizi. Kata kunci: anak usia sekolah, konsumsi energi protein, konsumsi vitamin A

ABSTRACT

Aji Nugraha. Intake of Vitamin A, Vitamin A Status, and Nutritional Status of Primary School Children in Leuwiliang Sub-district, Bogor Regency. Supervised by Prof Dr Ir Faisal Anwar, MS dan Dr. Ir. Sri Anna Marliyati, M.Si.

Growth in human life is influenced by various factors, one of them is nutrient intake. Nutrient intake still a problem that affects the quality of human resources. The objective of this research was to study the intake of vitamin A, vitamin A status, and nutritional status of primary school children in Leuwiliang Sub-District, Bogor Regency. There were 31 children grade 2 and 3 in SD Angsana I and II Cibeber Village selected by purposive sampling technique. The results showed that more than half of the children had medium sufficient levels of vitamin A (54.8 %) with mean value levels of vitamin A 112.3%. Generally, they had normal nutritional status (93.5%). More than half of children had low vitamin A status (58.1%) with mean value retinol serum is 10.7 µg/dl . The result also found that relationship between the level of adequacy of energy and protein with nutritional status of the children were not significant (p>0.05). The relationship between intake of vitamin A to vitamin A status also showed no significant relationship (p>0.05). It was presumably due to the presence of other factors (reserves of vitamin A in the liver). There was no significant relationship between vitamin A status and nutritional status (p>0.05). It was presumably due to the presence of other factors (food consumption, socio-economic and disease factors) affected nutritinal status.

(6)
(7)

ASUPAN VITAMIN A, STATUS VITAMIN A DAN STATUS GIZI ANAK SD DI KECAMATAN LEUWILIANG, KABUPATEN BOGOR

AJI NUGRAHA

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Gizi

dari Program Studi Ilmu Gizi pada Departemen Gizi Masyarakat

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(8)
(9)

Judul : Asupan Vitamin A, Status Vitamin A, dan Status Gizi Anak SD di Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor

Nama : Aji Nugraha NIM : I14090114

Disetujui oleh :

Diketahui oleh

Dr. Rimbawan Ketua Departemen

Tanggal lulus :

Dr. Ir. Sri Anna Marliyati M.Si Pembimbing II

(10)
(11)

PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat, nikmat dan hidayah-Nya yang senantiasa dilimpahkan sehingga penulisan dan penyusunan skripsi dengan judul “Asupan Vitamin A, Status Vitamin A dan

Status Gizi Anak SD di Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor” sebagai salah

satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana gizi dari program ilmu gizi pada Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor dapat diselesaikan dengan baik. Penyelesaian penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan banyak pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. Ir. Faisal Anwar, MS dan Dr. Ir. Sri Anna Marliyati, MS yang telah senantiasa sabar membimbing dan mengarahkan penulis dalam melaksanakan penelitian dan penyelesaian penulisan skripsi.

2. Ibu dr. Karina Rahmadia Ekawidyani, M.Sc sebagai dosen pemandu seminar dan dosen penguji skripsi, atas saran dan perbaikan untuk penyempurnaan skripsi ini.

3. Papah Hasan Kuswara, Mamah Eti Puspitasari serta kedua adik tercinta yaitu Bugi Kurniadi dan Cintari Nurnajmi yang senantiasa memberikan doa, dukungan dan semangat dengan penuh kasih sayang.

4. Pretty Dinda Srikandi, SSi yang selalu memberikan semangat, saran, kritik, dan ketenangan serta selalu ada saat kondisi suka dan duka sehingga penyusunan skripsi ini dapat diselesaikan.

5. Rekan-rekan pembahas seminar (April, Iqbar, Richardson dan Ineke) atas saran dan masukan untuk penyempurnaan skripsi ini

6. Sahabat seperjuangan (Ryan, Albeta, Diego, Agustino, Karim, Ronald, Bagus, Evi, Michel, Tania) yang setia menemani dan memberi semangat. 7. Saudara saudara sepupu yang selalu menghibur dan memotivasi dalam

penyusunan skripsi ini.

8. Teman-teman Gizi Masyarakat 45, 46 dan 47 yang tidak bisa disebutkan satu per satu atas segala bantuannya dalam penyusunan skripsi ini.

9. Staf Gizi Masyarakat (Bari, Regal, De’e, Pak sadi, Bu yati, Bu omi, Pak Abo, dll) yang telah memberi semangat.

10.Pihak-pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu per satu atas segala bantuan dan dukungan selama penyusunan skripsi ini.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dan kekeliruan dalam penulisan dan penyusunan skripsi ini. Oleh karena itu, penulis dengan terbuka menerima saran maupun kritik yang berkaitan dengan penulisan skripsi sehingga dapat memberikan hasil yang optimal dan berguna bagi berbagai pihak.

Bogor, Mei 2014

(12)
(13)

DAFTAR ISI

ABSTRAK v

DAFTAR ISI xiii

DAFTAR TABEL xiv

DAFTAR GAMBAR xiv

DAFTAR LAMPIRAN xiv

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Tujuan Penelitian 2

Kegunaan Penelitian 3

KERANGKA PEMIKIRAN 3

METODE 5

Desain, Waktu dan Tempat 5

Responden Penelitian 5

Jenis dan Cara Pengumpulan Data 6

Pengukuran Status Gizi 6

Pengolahan dan Analisis Data 7

Definisi Operasional 8

HASIL DAN PEMBAHASAN 10

Karakteristik Anak SD 10

Karakteristik Keluarga 11

Asupan Energi, Protein, Lemak dan Vitamin A 14

Status Gizi 19

Status Vitamin A 20

Status Kesehatan 21

Hubungan Variabel 22

SIMPULAN DAN SARAN 25

Simpulan 25

Saran 25

DAFTAR PUSTAKA 26

LAMPIRAN 29

(14)

DAFTAR TABEL

1 Kriteria inklusi dan eksklusi untuk penentuan responden 5 2 Jenis dan cara pengumpulan atau pengukuran data 6

3 Pengkategorian Data 7

4 Sebaran anak SD berdasarkan jenis kelamin, usia dan jenjang

pendidikan 11

5 Sebaran anak SD berdasarkan tingkat pendidikan ibu dan ayah

anak SD 12

6 Sebaran anak SD berdasarkan pekerjaan ibu dan ayah anak SD 13 7 Sebaran anak SD berdasarkan pendapatan keluarga dan

kondisi ekonomi keluarga 14

8 Sebaran anak SD berdasarkan Tingkat Kecukupan Energi 15 9 Sebaran anak SD berdasarkan tingkat kecukupan energi dan

kondisi ekonomi keluarga 16

10 Sebaran anak SD berdasarkan tingkat kecukupan protein 16 11 Sebaran anak SD berdasarkan tingkat kecukupan protein dan

kondisi ekonomi keluarga 17

12 Sebaran anak SD berdasarkan asupan lemak 17 13 Sebaran anak SD berdasarkan tingkat kecukupan vitamin A 18 14 Sebaran anak SD berdasarkan tingkat kecukupan vitamin A

dan kondisi ekonomi keluarga 19 15 Sebaran anak SD berdasarkan status gizi 20 16 Sebaran anak SD berdasarkan status vitamin A 21 17 Sebaran anak SD berdasarkan jenis penyakit yang diderita

selama 2 mingu terakhir 21

18 Sebaran anak SD berdasarkan angka morbiditas 21 19 Sebaran anak SD berdasarkan tingkat kecukupan energi dan

status gizi 22

20 Sebaran anak SD berdasarkan tingkat kecukupan protein dan

status gizi 23

21 Sebaran anak SD berdasarkan tingkat kecukupan vitamin A

dengan status vitamin A 24

22 Sebaran anak SD berdasarkan status gizi dengan status

vitamin A 25

DAFTAR GAMBAR

1 Kerangka pemikiran penelitian (modifikasi Gusthianza 2010) asupan vitamin A, status vitamin A dan status gizi anak SD di

Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor 4

DAFTAR LAMPIRAN

1 Dokumentasi 29

(15)

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sejak dalam rahim ibu, kelahiran, pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya berupa tahap bayi, anak-anak, remaja, dewasa dan tua terdapat saling pengaruh antara faktor keturunan dan faktor lingkungan yang dapat menentukan jalannya proses tersebut. Faktor keturunan tidak dapat diabaikan dan faktor lingkungan juga jelas mempunyai potensi untuk mengubah perjalanan daur kehidupan (Almatsier, Soetardjo, Soekatri 2011). Lingkungan yang tidak kondusif dapat mengakibatkan penyakit yang semakin parah dan meningkatkan kematian. Dampak dari hal-hal tersebut dapat merugikan perekonomian negara karena kualitas sumber daya manusia yang menurun.

Pembangunan suatu bangsa bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan lapisan masyarakat. Peningkatan kemajuan dan kesejahteraan bangsa sangat tergantung pada kemampuan dan kualitas sumber daya manusia (Depkes 2007). Peningkatan kualitas sumber daya manusia yang berkelanjutan merupakan tujuan pembangunan nasional. Kualitas sumber daya manusia di suatu negara salah satunya dapat dilihat dengan status gizi dari masyarakatnya sendiri. Sekitar 30 persen dari jumlah penduduk Indonesia adalah anak-anak, maka status gizi pada anak perlu diperhatikan karena merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan suatu bangsa. Status gizi anak usia 6-18 tahun di Indonesia dilakukan penilaian dengan mengelompokkan menjadi tiga yaitu untuk anak usia 6-12 tahun, 13-15 tahun, dan 16-18 tahun (Depkes 2007). Pada tahun 2007 prevalensi anak sekolah yang mengalami gizi kurang sekitar 18.4 persen, pada tahun 2010 menurun menjadi 17.9 persen, meskipun mengalami penurunan Indonesia termasuk diantara 36 negara di dunia yang memberi 90 persen kontribusi maasalah gizi dunia (Depkes 2007).

Keadaan gizi masyarakat Indonesia masih memprihatinkan, meskipun berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasinya. Masalah gizi penduduk Indonesia salah satunya adalah masalah pada asupan makanan yang tidak seimbang dan konsumsi pangan yang tidak beragam. Masalah gizi terjadi karena adanya gangguan pada beberapa segi kesejahteraan perorangan dan atau masyarakat yang disebabkan oleh tidak terpenuhinya kebutuhan akan zat gizi yang diperoleh dari makanan. Zat gizi adalah zat kimia yang terdapat dalam makanan yang diperlukan manusia untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan. Masyarakat Indonesia sampai saat ini masih menghadapi empat masalah gizi yaitu kurang energi protein (KEP), kurang vitamin A (KVA), anemia gizi besi (AGB) dan gangguan akibat kurang yodium (GAKY) (Susilowati 2007).

(16)

2

penglihatan (penyesuaian terhadap terang dan gelap) dan pertumbuhan jaringan (kulit dan selaput lender) dan toksik (racun) dalam jumlah yang tinggi (Almatsier, Soetardjo, Soekatri 2011). Masalah kurang vitamin A (KVA) masih merupakan salah satu permasalahan gizi masyarakat Indonesia. KVA memengaruhi 40 persen penduduk dunia (Zeba et al. 2006), dan anak-anak dengan retinol serum < 20 µg/dl berisiko menderita xerophtalmia. Widyastuti (2006) menunjukkan bahwa masalah KVA pada anak usia sekolah di Jawa Timur adalah sebesar 1 persen dengan hasil analisa kadar vitamin A yang rendah sebesar 8 persen dan serum vitamin A kurang sebesar 32 persen. Hasil penelitian tersebut sejalan dengan penelitian Zimmerman et al. (2006) bahwa anak-anak adalah salah satu kelompok yang paling rentan mengalami kekurangan vitamin A. Kelompok lain yang juga rentan mengalami KVA adalah wanita yang dalam masa reproduktif dan balita (Zimmerman et al. 2006).

Kekurangan Vitamin A dapat disebabkan karena kekurangan konsumsi pangan sumber vitamin A, gangguan penyerapan dan proses metabolisme dalam tubuh, kebutuhan vitamin A yang meningkat, atau terganggunya metabolisme yang mengubah karoten menjadi vitamin A (Almatsier 2006). Pendapatan yang rendah, ketidakpedulian terhadap status gizi, kurangnya pengetahuan terhadap zat gizi, serta kebiasaan konsumsi pangan dapat menjadi penyebab masalah KVA. Kekurangan Vitamin A dapat menyebabkan kebutaan, mengurangi daya tahan tubuh, sehingga mudah terserang infeksi yang dapat menimbulkan kematian. KVA lebih banyak diderita oleh kalangan anak-anak, hal ini disebabkan karena mereka memiliki kebutuhan vitamin A yang tinggi akibat dari peningkatan pertumbuhan fisik dan asupan makanan yang rendah (Kapil & Sachdev 2013). Sommer (2008) menjelaskan bahwa seiring dengan kenaikan KVA, terdapat peningkatan angka kematian yang lebih tinggi pada anak-anak dengan masalah KVA (xerophtalmia; rabun senja, bintik Bitot) dibandingkan dengan anak yang tidak mengalami KVA, sehingga penanganan terhadap KVA akan mengurangi angka kematian anak-anak di Indonesia sebesar 16 persen. Oleh karena permasalahan tersebut, diperlukan penelitian mengenai asupan vitamin A, status vitamin A dan status gizi pada anak SD di Desa Cibeber, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Desa Cibeber dipilih karena sebagian besar masyarakatnya memiliki status ekonomi rendah dan merata dintara mereka karena kualitas sumber daya manusia (SDM) yang rendah akibat rendahnya tingkat pendidikan. Rendahnya tingkat pendidikan orang tua dapat memengaruhi asupan makanan yang diberikan kepada anak. Selain itu, di Desa Cibeber terdapat 2 Sekolah Dasar yang jaraknya berdekatan.

(17)

3

2. Mengidentifikasi karakteristik keluarga anak SD.

3. Mengidentifikasi konsumsi pangan, status gizi, status vitamin A dan status kesehatan anak SD.

4. Menganalisis hubungan tingkat kecukupan energi dan protein dengan status gizi anak SD.

5. Menganalisis hubungan tingkat kecukupan vitamin A dengan status vitamin A anak SD.

6. Menganalisis hubungan status gizi dengan status vitamin A anak SD.

Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada pemerintah tentang asupan vitamin A, status vitamin A dan status gizi anak SD di kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor sehingga pemerintah dapat lebih memperhatikan dan peduli terhadap anak-anak agar masalah gizi khususnya kejadian KVA (Kurang Vitamin A) di Indonesia semakin berkurang dan dapat meningkatkan kualitas sumberdaya manusia yang lebih baik. Selain itu, diharapkan agar orang tua lebih memperhatikan keadaan anak khususnya pada asupan zat gizi.

KERANGKA PEMIKIRAN

Keberlangsungan masa depan suatu negara salah satunya ditentukan oleh anak. Karakteristik responden (usia, jenis kelamin, dan jenjang pendidikan) serta karakteristik keluarga (pendapatan, pendidikan orang tua, dan kondisi sosial ekonomi keluarga) dapat memberikan dampak pada pemberian asupan vitamin A kepada anak. Agrawal dan Agrawal (2013) menemukan bahwa pada keluarga dengan status sosial ekonomi rendah, anak tidak memperoleh asupan vitamin A yang cukup, sedangkan pada keluarga dengan status sosial ekonomi tinggi, kebutuhan vitamin A anak dapat terpenuhi dengan baik.

Status gizi merupakan keadaan tubuh seseorang atau sekelompok orang sebagai akibat dari konsumsi, penyerapan, penggunaan zat gizi makanan, aktifitas fisik dan kebiasaan makan (Almatsier 2006). Anak usia sekolah memiliki kebutuhan zat gizi yang tinggi akibat dari masa pertumbuhan yang pesat (Natalia

et al. 2013). Pengukuran status gizi anak sekolah berdasarkan Z-score

menggunakan indikator indeks massa tubuh menurut usia (IMT/U).

(18)

4

Gambar 1. Kerangka pemikiran penelitian (modifikasi Gusthianza 2010) asupan vitamin A, status vitamin A dan status gizi anak SD di Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor.

Status Kesehatan (Angka Morbiditas) Status Vitamin A

(Retinol Serum)

Status Gizi (IMT/U) Karakteristik keluarga: - Pendapatan

- Pendidikan

- Kondisi ekonomi keluarga

Konsumsi Pangan dan Tingkat Konsumsi Zat Gizi Karakteristik Responden:

- Usia

- Jenis Kelamin - Jenjang pendidikan

(19)

5

METODE

Desain, Waktu dan Tempat

Penelitian ini merupakan baseline data dari penelitian Fortifikasi Karoten dari Red Palm Oil (RPO) pada Minyak Goreng Curah Sebagai Alternatif Pangan Strategis untuk Pencegahan dan Pengentasan Masalah Kurang Vitamin A (KVA) di Indonesia (Marliyati et al. 2013). Desain penelitian yang digunakan yaitu Cross sectional study. Penelitian dilaksanakan selama 1 bulan efektif yang dilakukan pada bulan Mei 2013. Lokasi penelitian dilaksanakan pada 2 tempat, yaitu di Sekolah Dasar Negeri Angsana I dan Sekolah Dasar Negeri Angsana II, Desa Cibeber, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor (Lampiran 1).

Responden Penelitian

Responden yang mengikuti penelitian merupakan anak SD yang terdaftar di Sekolah Dasar Negeri Angsana I dan II, Desa Cibeber, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor (Lampiran 1). Responden dipilih dengan tekhnik purposive sampling dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi pada Tabel 1.

Tabel 1 Kriteria inklusi dan eksklusi untuk penentuan responden.

Kriteria Inklusi:

Usia 7 sampai 9 tahun (kelas 2-3 SD)

Sehat (tidak menderita infeksi sekunder) berdasarkan hasil pemeriksaan dokter Mendapatkan penjelasan penelitian dan menyetujui informed consent

Bersedia untuk mematuhi prosedur penelitian Eksklusi:

Mempunyai kelainan kongenital/cacat bawaan

Mempunyai alergi berat berdasarkan medical Questionnaire

Mengkonsumsi antibiotik dan/atau laxative (4 minggu sebelum penelitian) Menerima kapsul vitamin A dosis tinggi setahun sebelum penelitian Berpartisipasi dalam penelitian lain

Anak usia 7 sampai 9 tahun merupakan masa pertumbuhan yang penting, dimana kebutuhan akan zat gizi meningkat untuk mencapai pertumbuhan yang optimal. Jumlah anak SD yang mengikuti penelitian dihitung berdasarkan rumus:

2 σ2 (Z

(20)

6

Nilai Z1-α/2 diperoleh sebesar 2,575 dan Z1-β sebesar 1,272, berdasarkan rumus perhitungan tersebut, maka diperoleh ukuran sampel (n) sebanyak 14 responden. Antisipasi drop out yang digunakan pada penelitian ini sebesar 10%, sehingga diperoleh sebanyak 16 responden. Jumlah keseluruhan anak SD yang mengikuti penelitian yaitu 31 anak.

Jenis dan Cara Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. Data Sekunder yang dikumpulkan berupa nama lengkap, usia, dan jenis kelamin responden. Data primer berupa data berat badan, tinggi badan, karakteristik keluarga, konsumsi pangan, status gizi, dan status vitamin A. Jenis dan cara pengumpulan data disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2 Jenis dan cara pengumpulan atau pengukuran data

Data Cara Pengukuran atau

Konsumsi pangan Food recall 2x24 jam (1x24jam hari libur dan 1x24 jam hari sekolah)

Status Gizi Antropometri Satu kali

(21)

7

Kesehatan dan Epidemiologi Klinik, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Bogor. Darah untuk analisis retinol diambil dari pembuluh darah vena.

Analisis kadar retinol serum dilakukan dengan menggunakan metode ektraksi (Concurrent Liqud Chromatographic Assay of Retinol). Metode ini menggunakan prinsip serum diencerkan dengan larutan retinil asetat pada etanol, larutan retinil asetat berperan sebagai standar dan etanol berperan mengendapkan protein, yang membebaskan retinol, kemudian diekstraksi dengan heksana. Ekstrak dievaporasi atau diuapkan dalam nitrogen atmosfer dan residu dilarutkan dalam metanol. Retinol dipisahkan dengan menggunakan HPLC. Jumlah serum yang digunakan untuk analisis retinol adalah sebanyak 100 µ L. Analisis tersebut menggunakan alat HPLC (High Performance Liquid Chromatography) dengan menginjeksi sampel secara terpisah. Bahan yang digunakan antara lain serum,

sodium deodecyl sulphate (SDS), alkohol, dan butylated hidroxytoluene (BHT).

Pengolahan dan Analisis Data

Pengolahan data primer dilakukan dengan beberapa tahapan meliputi

entry data, editing, coding dan cleaning untuk melihat konsistensi informasi. Data yang telah diverifikasi diolah menggunakan software Microsoft Excel dan dianalisis dengan menggunakan software SPSS v.20.0 for Windows.Analisis data dilakukan secara deskriptif dan statistik. Data identitas, kondisi ekonomi keluarga, asupan zat gizi (tingkat kecukupan energi, protein, lemak dan vitamin A), status gizi dan status vitamin A anak SD dikategorikan seperti pada Tabel 3. Setelah itu, dianalisis secara deskriptif menggunakan software SPSS v.20.0 for Windows.

(22)

8

Asupan lemak <20% kebutuhan energi Almatsier 2006 >20% kebutuhan energi

Data yang diperoleh dari pengkategorian asupan zat gizi, status vitamin A, serta status gizi anak kemudian di uji normalitas pada software SPSS v.20.0 for Windows. Setelah data normal, kemudian dihubungkan antara asupan zat gizi (Energi dan protein) dengan status gizi, asupan vitamin A dengan status vitamin A, status gizi dengan status vitamin A pada anak SD untuk dianalisis secara statistik menggunakan uji spearman atau uji pearson pada software SPSS v.20.0 for Windows (Lampiran 1). Uji korelasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pearson dan Spearman. Uji korelasi Pearson digunakan untuk mengetahui keterkaitan hubungan antar peubah–peubah penelitian dengan skala rasio (hubungan antara tingkat kecukupan vitamin A dengan status Vitamin A). Uji korelasi Spearman digunakan untuk mengetahui keterkaitan hubungan antar peubah penelitian dengan skala ordinal (hubungan tingkat kecukupan energi dan protein dengan status gizi; hubungan status gizi dengan status vitamin A).

Definisi Operasional

Anak SD adalah siswa-siswi sekolah dasar negeri angsana 1 dan angsana 2 yang berusia 7 sampai 9 tahun.

Angka Kecukupan gizi adalah jumlah masing-masing zat gizi yang sebaiknya dipenuhi untuk mencapai status gizi yang baik.

Antropometri adalah metode yang digunakan dalam melakukan penilaian status gizi secara langsung yaitu tinggi badan, berat badan dan usia.

(23)

9

Asupan Energi adalah jumlah kandungan energi yang berasal dari pangan yang dikonsumsi

Asupan Protein adalah jumlah kandungan protein yang berasal dari pangan yang dikonsumsi.

Asupan Vitamin A adalah jumlah kandungan vitamin A yang berasal dari pangan yang dikonsumsi.

Deskriptif adalah salah satu cara menganalisis yang bertujuan untuk menggambarkan keadaan atau data yang diperoleh.

Eksklusi adalah beberapa kriteria atau syarat dalam penentuan responden yang menyebabkan sampel tidak dapat mengikuti kegiatan.

Evaporasi atau penguapan adalah peristiwa perubahan molekul cair menjadi molekul gas.

Inklusi adalah beberapa kriteria atau syarat dalam penentuan responden sehingga responden dapat mengikuti kegiatan.

Indeks Massa Tubuh adalah suatu rumus matematis untuk menentukan status gizi seseorang dengan persamaan yaitu berat badan dalam kilogram dibagi dengan tinggi badan kuadrat dalam meter.

Jenjang Pendidikan adalah tingkatan dari pendidikan yang ditempuh oleh responden.

Karakteristik Anak SD adalah ciri-ciri dan keadaan umum responden yang meliputi usia, jenis kelamin dan jenjang pendidikan.

Karakteristik Keluarga adalah keadaan umum dari keluarga responden yang meliputi pendapatan, pendidikan dan kondisi ekonomi

Kondisi Ekonomi Keluarga adalah keadaan keluarga yang digolongkan berdasarkan pendapatan perkapita.

Konsumsi Pangan adalah jumlah dan jenis bahan makanan yang dimakan responden untuk memenuhi kebutuhan hidup dan melakukan aktivitas berupa energi, protein, serta Vitamin A.

Morbiditas adalah keadaan sakit atau terjadinya penyakit yang mengubah kesehatan dan kualitas hidup anak.

Pendapatan adalah jumlah uang yang diperoleh seseorang untuk mencukupi kebutuhan sehari–hari.

Pendapatan Keluarga adalah jumlah uang yang diperoleh dalam suatu keluarga untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari pada keluarga tersebut.

Pendapatan Perkapita adalah jumlah uang yang diperoleh dari hasil pembagian pendapatan keluarga dibagi jumlah anggota keluarga.

Pendidikan Orang Tua adalah lamanya orang tua mengalami pendidikan formal di sekolah.

Statistik adalah salah satu cara menganalisis data berdasarkan rumus atau ketentuan yang sudah ada.

Status Gizi adalah keadaan tubuh seseorang atau sekelompok orang sebagai akibat dari konsumi, penyerapan, dan penggunaan zat gizi makanan.

Status Kesehatan adalah keadaan kesehatan tubuh seseorang berdasarkan hasil pemeriksaan fisik dan klinis yang dilakukan sebelum, selama, dan setelah intervensi.

(24)

10

Chromatography Assay of Retinol) dan merupakan indikator status vitamin A responden.

Tingkat Kecukupan Zat Gizi adalah hasil bagi dari asupan zat gizi dengan kebutuhan zat gizi yang disesuaikan dengan status gizi.

Uji Korelasi adalah uji hubungan antar variabel berdasarkan ketentuan yang sudah ditetapkan.

Uji Normalitas adalah uji yang dilakukan untuk melihat normal atau tidaknya suatu variabel.

Zat Gizi adalah bahan kimia yang terdapat dalam bahan yang diperlukan tubuh untuk mengatur proses kehidupan.

Zat Gizi Makro adalah Zat gizi yang diperlukan oleh tubuh dalam jumlah besar.

Zat Gizi Mikro adalah Zat gizi yang diperlukan oleh tubuh dalam jumlah kecil.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Anak SD

Karakteristik anak SD yang diamati meliputi jenis kelamin, usia, berat badan, tinggi badan dan jenjang pendidikan. Anak SD yang memenuhi kriteria inklusi adalah 31 anak, terdiri anak perempuan sebanyak 16 anak (51.6%) dan anak laki-laki sebanyak 15 anak (48.4%) . Jumlah anak SD berjenis kelamin perempuan lebih besar daripada jumlah anak SD berjenis kelamin laki-laki. Sebaran anak SD berdasarkan jenis kelamin disajikan pada Tabel 4.

Angka Kecukupan zat gizi (AKG) (2012) menunjukkan bahwa anak SD tergolong dalam satu kategori usia (7 sampai 9 tahun) sehingga memiliki angka kecukupan zat gizi dalam jumlah yang sama. Kebutuhan zat gizi anak usia 7 sampai 9 tahun sebagian besar digunakan untuk aktivitas pembentukan dan pemeliharaan jaringan (Alatas 2011). Selain itu, kebutuhan zat gizi diperlukan oleh anak usia sekolah dasar untuk memenuhi kebutuhan dalam pembentukan kualitas fisik di tahapan usia selanjutnya, yaitu masa remaja. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pertumbuhan dan perkembangan tahapan anak usia sekolah memerlukan berbagai kombinasi zat gizi yang berkesinambungan, baik dari zat gizi makro maupun mikro, serta faktor lingkungan sosial ekonomi dimana mereka tinggal (Rahman et al. 2004). Dari data yang diperoleh, hampir separuh anak SD berusia 8 tahun, yaitu 13 anak (41.9%) sedangkan anak SD yang berusia 7 tahun berjumlah 10 anak (32.3%) dan yang berusia 9 tahun berjumlah 8 anak (25.8%). Sebaran anak SD berdasarkan usia disajikan pada Tabel 4.

(25)

11

Madrasah Tsanawiyah (MTs) atau bentuk lain yang sederajat. Anak SD pada penelitian ini merupakan siswa-siswi kelas 2 dan kelas 3 dari sekolah SDN Angsana I dan SDN Angsana II. Lebih dari separuh anak SD berada pada jenjang pendidikan kelas 2 sekolah dasar yaitu 17 anak (54.8%), sementara itu anak SD yang berada di jenjang pendidikan kelas 3 berjumlah 14 anak (45.2%). Keberhasilan anak dapat ditentukan oleh faktor pendapatan keluarga, pada keluarga yang ekonominya kurang, dapat menyebabkan anak kekurangan gizi, kebutuhan anak tidak terpenuhi, suasana rumah menjadi muram, dan gairah belajar tidak ada (Mustamin 2013). Sebaran anak SD berdasarkan jenjang pendidikan disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4 Sebaran anak SD berdasarkan jenis kelamin, usia dan jenjang pendidikan

Jenis Kelamin n %

Pendidikan merupakan salah satu aspek pembangunan untuk mewujudkan pembangunan nasional. Menurut UU no 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Dalam Undang-Undang tersebut disebutkan bahwa Pendidikan di Indonesia dibagi menjadi tiga kelompok yang menyelenggarakan pendidikan, yaitu pendidikan informal, nonformal dan formal. Pendidikan informal adalah pendidikan jalur keluarga dan lingkungan; Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan diluar pendidikan diluar pendidikan formal yang dpat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang; Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.

(26)

12

pada kategori Sekolah Dasar yaitu 26 orang (83.6%), dan terdapat 6.4 persen ayah anak SD yang tidak sekolah. Pendidikan paling tinggi yang ditempuh ibu paling tinggi berada di tingkat SMP (3.2 %), sedangkan pendidikan tertinggi ayah secara keseluruhan berada di tingkat SMA (6.4 %). Dari hasil tersebut, dapat dilihat bahwa pendidikan di Desa Cibeber masih belum memenuhi program pemerintah wajib belajar 12 tahun (UU no. 47 tahun 2008 tentang wajib belajar). Masalah pendidikan di Indonesia yang dihadapi yaitu, taraf pendidikan yang rendah, tidak meratanya pendidikan, tingginya angka putus sekolah, kehilangan kepercayaan pada lembaga kependidikan, sulit mendapatkan layanan pendidikan (Puspitarini 2013). Sebaran tingkat pendidikan ibu dan ayah anak SD dapat dilihat dalam Tabel 5.

Tabel 5 Sebaran anak SD berdasarkan tingkat pendidikan ibu dan ayah anak SD

Tingkat Pendidikan Ibu n %

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pendidikan berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan zat gizi yang diperoleh anak. Dalam penelitian Saputra dan Nurrizka (2012) diperoleh hasil bahwa pendidikan orang tua berpengaruh signifikan terhadap gizi dan kesehatan anak. Hal ini disebabkan oleh pendidikan yang berpengaruh signifikan terhadap pengetahuan mengenai gizi dan kesehatan, sehingga orang tua memiliki dasar dalam pemilihan makanan yang baik bagi anak-anaknya. Dengan dasar pengetahuan tersebut, ketercapaian anak dalam hal asupan gizi akan semakin optimal dan kebutuhan gizi anak akan terpenuhi. Sudirman dalam Hidayati (2010) menunjukkan bahwa terkadang faktor pendidikan dan pengetahuan yang dimiliki orang tua menjadi lebih penting dibanding pendapatan yang dimiliki oleh suatu keluarga. Tingkat pendidikan orang tua dianggap faktor yang paling berpengaruh terhadap tingkat pendidikan anak, sebab semakin tinggi tingkat pendidikan orang tua, semakin positif sikapnya terhadap peranan sekolah (Mustamin 2013).

Pekerjaan

(27)

13

memiliki persentase terbesar, yaitu 77.4 persen. Sementara itu, lebih dari separuh ayah anak SD bekerja sebagai buruh tani (54.8%). Hal tersebut diduga karena keterbatasan kemampuan yang dimiliki oleh orang tua, akibat rendahnya tingkat pendidikan yang ditempuh. Tabel 6 menunjukkan sebaran anak SD berdasarkan pekerjaan ibu dan ayah anak SD.

Tabel 6 Sebaran anak SD berdasarkan pekerjaan ibu dan ayah anak SD.

Pekerjaan Ibu n %

Pedagang 4 12.9

Buruh tani 2 6.5

Ibu rumah tangga 24 77.4

Lainnya (wiraswasta, guru honorer, dll.) 1 3.2

Total 31 100.0 Lainnya (wiraswasta, guru honorer, dll.) 3 9.7

Total 31 100.0

Pendapatan dan Kondisi Ekonomi Keluarga

Pendapatan merupakan jumlah penghasilan seseorang yang diperoleh dari berbagai sumber secara berkelanjutan baik dari hasil pekerjaan maupun dari sumber lainnya. Pendapatan dalam suatu keluarga pada umumnya diperoleh dari anggota keluarga yang bekerja.

Pendapatan keluarga yang tergolong pendapatan rendah lebih besar dibandingkan kategori lainnya. Sebanyak 23 keluarga (74.2%) berada pada golongan pendapatan rendah (Tabel 7). Hal tersebut disebabkan karena sebagian besar ayah dan ibu dari responden bekerja sebagai buruh tani dan ibu rumah tangga, sehingga pendapatan yang diperoleh relatif sedikit. Tingkat pendidikan yang dimiliki seseorang pada umumnya dapat mengindikasi pekerjaan orang tersebut, yang selanjutnya akan berdampak pada pendapatannya. Semakin tinggi pendidikan yang ditempuh seseorang, maka status pekerjaannya semakin baik, dan selanjutnya semakin tinggi pula pendapatannya. Hasil penelitian Suranadi dan Chandradewi (2008) menunjukkan bahwa pengeluaran unuk makanan dan pekerjaan kepala keluarga berpengaruh secara signifikan terhadap anak dengan masalah gizi. Tabel 7 menunjukkan bahwa terdapat 1 keluarga terdapat pada pendapatan dengan kategori sangat tinggi, hal tersebut diduga karena pendidikan kedua orangtua yang tinggi sehingga pendapatan yang diperoleh tinggi.

(28)

14

miskin atau tidak miskin berdasarkan pendapatan/kapita/bulan yang dibandingkan dengan garis kemiskinan wilayah tersebut.

Kondisi ekonomi keluarga yang termasuk dalam kategori miskin lebih besar dibandingkan dengan kategori tidak miskin (Tabel 7). Pada kategori kondisi ekonomi keluarga miskin terdapat 21 keluarga (67.7%) sedangkan pada kategori kondisi ekonomi keluarga tidak miskin yaitu 10 keluarga (32.3%). Hal tersebut disebabkan oleh pendapatan keluarga yang diperoleh masih banyak yang tergolong rendah, sehingga pendapatan per kapita yang diperoleh juga rendah. Suryawati (2005) menyatakan bahwa kondisi perekonomian keluarga yang rendah disebabkan oleh adanya keterbatasan aset yang dimiliki, baik aset secara fisik maupun aset yang menyangkut kualitas sumber daya manusia. Dengan pendidikan yang kurang serta pekerjaan yang tidak memadai maka pendapatan yang diperoleh pun rendah, sehingga menyebabkan kemiskinan. Kemiskinan yang dialami selanjutnya akan memberikan dampak terhadap kebutuhan zat gizi yang diberikan orang tua kepada anak. Arnelia (2011) menunjukkan bahwa gangguan pertumbuhan dipengaruhi oleh tiga faktor penting yaitu konsumsi zat gizi, infeksi, dan interaksi ibu dan anak, yang sebagian besar tergantung pada tingkat pendidikan serta tingkat sosial ekonomi keluarga. Conroy et al. (2010) mengemukakan bahwa keadaan sosial ekonomi pada masa anak-anak dapat mempengaruhi kesehatan mereka pada tahapan usia selanjutnya.

Tabel 7 Sebaran anak SD berdasarkan pendapatan keluarga dan kondisi ekonomi keluarga.

Rata-rata±SD (Rupiah) 1 254 580.6±1 472 255.7

Kondisi Ekonomi Keluarga n %

Miskin ( < Rp. 268 251) 21 67.7

Tidak Miskin ( > Rp. 268 251) 10 32.3

Total 31 100.0

Rata-rata±SD (Rupiah) 338 428.6±488 467.4 Asupan Energi, Protein, Lemak dan Vitamin A

(29)

15

status gizi normal, maka angka kecukupan gizi dikalikan dengan berat badan aktual dibagi dengan berat badan ideal. Perhitungan tingkat kecukupan gizi ditentukan dengan membandingkan antara asupan zat gizi dengan angka kecukupan zat gizi masing–masing anak usia 7 sampai 9 tahun. Kebutuhan lemak dengan satuan gram, dihitung berdasarkan 20 persen dari kebutuhan energi kemudian dibagi dengan 9.

Energi

Asupan energi anak SD berkisar dari 522 kkal sampai 2270 kkal dan angka kecukupan energi anak SD berkisar dari 1096 kkal sampai 1850 kkal. Nilai rata-rata±stdev asupan energi dan angka kecukupan energi anak SD yaitu 1302±418 kkal dan 1348±159 kkal. Nilai rata-rata±stdev dari tingkat kecukupan energi anak SD yaitu 98.0±34.0 persen dari 36.6 persen sampai 179.1 persen. Rata-rata tingkat kecukupan energi sebesar 98.0 persen dan termasuk dalam kategori normal (90 - 119 %) (Depkes 1996). Hal tersebut diduga karena porsi makan anak SD yang sudah baik sehingga kebutuhan energi terpenuhi, tetapi jenis makanan yang dikonsumsi kurang beragam.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak SD pada tingkat kecukupan energi dengan kategori normal memiliki persentase yang lebih besar dibandingkan dengan kategori lainnya. Anak SD dengan tingkat kecukupan energi kategori normal yaitu 13 anak (41.9%). Sementara itu, masih terdapat anak SD pada tingkat kecukupan energi dengan kategori defisit berat, yaitu sebanyak 7 anak (22.6%). Hal ini diduga karena frekuensi makan anak hanya 1 sampai 2 kali sehari sehingga angka kecukupan tidak terpenuhi. Sementara itu, terdapat 6 anak (19.4 %) anak SD yang memiliki tingkat kecukupan energi kategori lebih. Hal ini diduga karena anak memiliki nafsu makan yang tinggi serta didukung dengan ketersediaan pangan sumber energi yang lebih mudah didapat. Sebaran anak SD berdasarkan tingkat kecukupan energi disajikan dalam Tabel 8.

Tabel 8 Sebaran anak SD berdasarkan Tingkat Kecukupan Energi

Tingkat Kecukupan Energi n %

(30)

16

kondisi ekonomi keluarga miskin atau tidak miskin masih memiliki tingkat kecukupan energi kurang dan lebih. Hal tersebut diduga karena adanya ketersediaan pangan sumber energi yang diperoleh dari hasil berkebun. Sebaran anak SD berdasarkan tingkat kecukupan energi dan status gizi disajikan pada 29.1±11.2 gram dan 35.6±4.3 gram. Nilai rata-rata±stdev tingkat kecukupan protein yaitu 82.6±33.6 persen. Rata-rata dari tingkat kecukupan protein yaitu 82.6 persen dan termasuk dalam kategori defisit ringan (80-<90%) (Depkes 1996). Hal tersebut diduga karena kurangnya konsumsi makanan sumber protein tinggi (protein hewani) antara lain susu, ikan, telur dan daging ayam.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi anak yang kekurangan protein masih lebih besar dibandingkan dengan anak yang memiliki kecukupan protein dalam kategori normal. Jumlah anak SD terbesar berada dalam tingkat kecukupan protein dengan kategori defisit berat yaitu 12 anak (38.6%), sedangkan anak yang memiliki tingkat kecukupan protein dalam kategori normal hanya 11 anak (35.5%). Ini menunjukkan bahwa asupan protein pada anak SD tersebut secara umum masih kurang. Berdasarkan hasil recall 2x24 jam, hal tersebut diduga karena frekuensi makan anak yang hanya 1 sampai 2 kali dalam sehari. Selain itu, diduga karena ketersediaan pangan sumber protein yang kurang sehingga anak SD jarang mengkonsumsi pangan sumber protein. Sebaran anak SD berdasarkan tingkat kecukupan protein disajikan pada Tabel 10.

Tabel 10 Sebaran anak SD berdasarkan tingkat kecukupan protein

Tingkat Kecukupan Protein n %

(31)

17

Data pada Tabel 11 menunjukkan bahwa lebih dari separuh anak SD (67.7%) berada pada kondisi ekonomi keluarga dengan kategori miskin. Pada kondisi sosial ekonomi keluarga kategori miskin, sebagian besar anak SD memiliki tingkat kecukupan protein defisit berat yaitu 9 anak (42.9%). Hal tersebut diduga karena keterbatasan ekonomi sehingga ketersediaan pangan sumber protein kurang. Secara keseluruhan, jumlah terbesar anak SD berada pada tingkat kecukupan protein defisit berat, yaitu sebanyak 12 anak (38.7%). Namun, lebih dari separuh anak SD (61.3%) yang berada pada kondisi ekonomi keluarga miskin dan tidak miskin masih memiliki tingkat kecukupan protein kurang dan lebih. Hal tersebut diduga karena nafsu makan dari anak yang didukung dengan ketersediaan pangan sumber protein di rumah. Sebaran anak SD berdasarkan tingkat kecukupan energi dan status gizi disajikan pada Tabel 11.

Tabel 11 Sebaran anak SD berdasarkan tingkat kecukupan protein dan kondisi ekonomi keluarga

Variabel Kondisi ekonomi keluarga Total Miskin Tidak miskin Tingginya asupan lemak tersebut dikarenakan beberapa makanan yang dikonsumsi berupa makanan yang diolah dengan cara digoreng antara lain telur goreng, tempe goreng, tahu goreng dan ayam goreng. Angka kecukupan lemak anak SD berkisar dari 24.4 gram sampai 41.1 gram. Nilai rata-rata±stdev asupan lemak dan angka kecukupan lemak anak SD yaitu 45.9±18.2 gram dan 29.9±3.5 gram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar anak SD memiliki asupan lemak pada kategori >20% dari kebutuhan energi yaitu 25 anak (80.6%). Sebaran anak SD berdasarkan asupan lemak disajikan pada Tabel 12.

Tabel 12 Sebaran anak SD berdasarkan asupan lemak

Asupan Lemak n %

<20% kebutuhan energi 6 19.4

>20% kebutuhan energi 25 80.6

Total 31 100

Vitamin A

(32)

18

adalah vitamin A, D, E, dan K, sedangkan vitamin larut air adalah vitamin B kompleks dan vitamin C. Vitamin A terdapat pada makanan dalam dua bentuk, di dalam makanan hewani berbentuk vitamin A yang sudah jadi, dan di dalam makanan nabati berbentuk prekursor yang akan diubah menjadi vitamin A ketika di dalam tubuh. Fungsi dari vitamin A adalah untuk penglihatan, pembentukan dan pemeliharaan jaringan epitel (Almatsier 2011).

Asupan vitamin A anak SD berkisar dari 45.2 RE sampai 1378.9 RE dan angka kecukupan vitamin A anak SD berkisar dari 296.3 RE sampai 500 RE. Nilai rata-rata±stdev asupan vitamin A dan angka kecukupan vitamin A anak SD yaitu 416.0±342.6 RE dan 364.3±43.0 RE. Nilai rata-rata±stdev tingkat kecukupan vitamin A yaitu 112.3±86.5 RE. Nilai rata-rata tingkat kecukupan vitamin A adalah 112.3 persen dan berada dalam kategori cukup (lebih dari 77 persen) (Gibson 2005).

Berdasarkan hasil penelitian, anak SD yang termasuk pada tingkat kecukupan vitamin A kategori cukup memiliki persentase yang lebih besar daripada kategori kurang. Anak SD pada kategori cukup yaitu 17 anak (54.8%), sedangkan pada kategori kurang yaitu 14 anak (45.2%). Masih terdapat anak SD pada kategori kurang diduga karena frekuensi makan dari anak yang hanya 1 sampai 2 kali dalam sehari sehingga angka kecukupan tidak terpenuhi. Sebaran anak SD berdasarkan tingkat kecukupan vitamin A disajikan pada Tabel 13.

Tabel 13 Sebaran anak SD berdasarkan tingkat kecukupan vitamin A

Tingkat Kecukupan Vitamin A n %

Kurang (<77%) 14 45.2

Cukup (>77%) 17 54.8

Total 31 100

(33)

19

miskin dan tidak miskin masih memiliki tingkat kecukupan vitamin A kurang. Hal tersebut diduga karena nafsu makan dari anak yang didukung dengan ketersediaan pangan sumber protein di rumah masih kurang. Sebaran anak SD berdasarkan tingkat kecukupan energi dan status gizi disajikan pada Tabel 15.

Tabel 14 Sebaran anak SD berdasarkan tingkat kecukupan vitamin A dan kondisi ekonomi keluarga

Variabel Kondisi ekonomi keluarga Total Miskin Tidak miskin

Penilaian status gizi dikembangkan untuk membantu negara-negara berkembang dalam menentukan status gizi penduduk serta mengidentifikasi masalah gizi dan mencari cara mengatasi masalah gizi. Status gizi adalah suatu ukuran yang digunakan untuk mengetahui kondisi tubuh seseorang yang dilihat dari makanan yang dikonsumsi dan penggunaan zat gizi di dalam tubuh. Status gizi dibagi menjadi tiga kategori, yaitu status gizi kurang, gizi normal, dan gizi lebih (Almatsier 2006). Status gizi kurang merupakan keadaan gizi seseorang dimana jumlah energi yang masuk lebih sedikit dari yang dikeluarkan. Status gizi lebih adalah keadaan gizi seseorang dimana jumlah energi yang masuk ke dalam tubuh lebih besar dari jumlah energi yang dikeluarkan (Nix 2005).

Penilaian status gizi anak digunakan beberapa indeks, yaitu : Berat Badan menurut Usia (BB/U); Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB); Tinggi Badan menurut Usia (TB/U) dan Indeks Massa Tubuh menurut Usia (IMT/U). WHO (2005) menunjukkan bahwa perhitungan status gizi anak usia 7 sampai 9 tahun menggunakan Indeks Massa Tubuh menurut Usia (IMT/U), dalam menggunakan semua indeks tersebut dianjurkan menggunakan perhitungan dengan Z-score (menggunakan nilai median sebagai nilai normalnya) (Almatsier 2011).

Hasil perhitungan menurut IMT/U menunjukkan bahwa tidak terdapat anak SD yang memiliki status gizi dengan kategori sangat kurus, gemuk dan obesitas. Anak SD yang mengikuti penelitian hanya berstatus gizi kurus dan normal. Hampir seluruh anak SD termasuk dalam kategori normal yaitu 29 anak (93.5%). Sebaran anak SD berdasarkan status gizi disajikan pada Tabel 15.

Tabel 15 Sebaran anak SD berdasarkan status gizi

Status gizi n %

Kurus 2 6.5

Normal 29 93.5

Total 31 100.0

(34)

20

keseimbangan antara jumlah energi yang masuk ke dalam tubuh dan energi yang dikeluarkan dari luar tubuh sesuai dengan kebutuhan individu (Almatsier 2006). Masih adanya anak SD dengan status gizi dibawah normal (kurus) diduga karena kurangnya pengawasan orang tua terhadap asupan makanan yang dikonsumsi anak dan pendapatan keluarga yang masih rendah Banyak penelitian yang menemukan bahwa anak dengan masalah gizi banyak ditemukan pada keluarga dengan status sosial ekonomi yang kurang (William et al. 2011). Orang tua juga sering dianggap sebagai pemegang peranan penting terhadap apa yang dikonsumsi oleh anak, serta nilai gizi yang terkandung dalam makanan mereka. Pengetahuan serta nilai yang harus mereka keluarkan untuk anak menjadi penting dalam proses tumbuh kembang anak. Dalam penelitiannya, William et al. (2011) menemukan bahwa kontrol orang tua dalam memberikan asupan gizi, aturan dalam pemberian makanan dan minuman yang dikonsumsi, serta role model yang dilakukan orang tua dapat membantu anak dalam pemilihan makanan yang sehat bagi mereka. Penelitian lain menemukan fakta bahwa pola konsumsi anak dalam suatu keluarga sangat dipengaruhi oleh pola konsumsi keluarganya, terutama makanan utama (Moshki & Bahrami 2012). Hasil dari beberapa penelitian tersebut menunjukkan bahwa keluarga memiliki tanggung jawab yang besar dalam pemenuhan kebutuhan zat gizi anak. Pemenuhan zat gizi tersebut tentu harus didukung dengan peningkatan pengetahuan orang tua sebagai pengasuh utama dalam hal pemberian asupan yang baik sehingga pertumbuhan anak dapat optimal.

Status Vitamin A

Secara biologis, fungsi, dan histologi, status vitamin A dapat diperiksa melalui tanda-tanda xeroftalmia, buta senja, conjunctival impression cytology (CIC), dan penyesuaian di kamar gelap, selain itu dapat dilakukan pemeriksaan secara biokimia yaitu dengan pemeriksaan pada darah atau serum (Permaesih 2008). Vitamin A serum adalah indikator yang paling banyak digunakan untuk mengetahui status vitamin A. Dalam keadaan normal, kurang lebih 95 persen vitamin A serum terdapat dalam bentuk retinol dan terikat pada retinol binding protein (RBP) dan sekitar 5 persen terdapat dalam bentuk tidak terikat dan dalam bentuk ester retinil.

(35)

21

Tabel 16 Sebaran anak SD berdasarkan status vitamin A

Status Vitamin A n %

Status kesehatan dilihat berdasarkan morbiditas yang merupakan angka kesakitan anak SD selama dua minggu sebelum diwawancara. Morbiditas diketahui berdasarkan penyakit infeksi yang diderita anak dan lama sakit melalui wawancara langsung pada anak dan ibu. Kisaran angka morbiditas anak SD yaitu 0 sampai 20 dan nilai rata-rata angka morbiditas yaitu 4.4±5.4. Angka morbiditas yang bernilai nol (0) menunjukkan bahwa anak SD selama 2 minggu sebelum diwawancara tidak menderita penyakit infeksi. Angka morbiditas yang tinggi diduga karena anak SD mengalami berbagai jenis penyakit infeksi dengan lama hari sakit yang panjang. Jenis penyakit yang diderita oleh sebagian besar anak SD yaitu Demam dan ISPA. Tabel 17 menunjukkan bahwa anak SD yang menderita demam lebih tinggi dibandingkan anak SD yang menderita ISPA. Anak SD yang menderita demam yaitu 17 anak (54.8%), sedangkan anak yang menderita ISPA yaitu 15 anak (48.4%). Hal tersebut diduga karena terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan demam. Pada penyakit infeksi, demam dapat diakibatkan oleh gangguan sistem imun, panas yang berlebihan, dehidrasi, infeksi virus yang bersifat self limited maupun infeksi bakteri, parasit, jamur (Susanti 2012).

Tabel 17 Sebaran anak SD berdasarkan jenis penyakit yang diderita selama 2

Tabel 18 menunjukkan bahwa lebih dari separuh anak SD memiliki angka morbiditas pada kategori rendah, yaitu 18 anak (58.1%). Hal tersebut diduga karena sebagian besar anak SD yang berada pada kategori ini tidak menderita penyakit infeksi atau hanya menderita salah satu jenis penyakit infeksi dengan lama hari sakit yang pendek. Masih terdapatnya anak SD pada kategori tinggi yaitu 6 anak (19.3%) diduga karena 2 minggu sebelum diwawancara, anak SD menderita berbagai jenis penyakit infeksi dan lama hari sakit yang panjang sehingga menyebabkan angka morbiditas yang tinggi.

Tabel 18 Sebaran anak SD berdasarkan angka morbiditas

Angka Morbiditas n %

Rendah (<4) 18 58.1

Sedang (4-7) 7 22.6

Tinggi (>7) 6 19.3

(36)

22

Hubungan Variabel

Variabel yang diuji hubungannya dalam penelitian ini adalah tingkat kecukupan energi dan protein dengan status gizi, tingkat kecukupan vitamin A dengan status vitamin A dan status gizi dengan status vitamin A.

Hubungan tingkat kecukupan energi dengan status gizi

Data pada Tabel 19 menunjukkan bahwa hampir seluruh anak SD yang mengikuti penelitian memiliki status gizi normal, yaitu sebanyak 29 anak (93.6%). Hampir separuh anak SD memiliki tingkat kecukupan energi normal, yaitu sebanyak 12 anak (41.4%), sedangkan pada anak dengan status gizi kurus, terdapat 1 anak yang memiliki tingkat kecukupan energi kategori defisit berat dan 1 anak dengan tingkat kecukupan energi normal.

Tabel 19 Sebaran anak SD berdasarkan tingkat kecukupan energi dan status gizi

Variabel Status Gizi Total

p value

Secara keseluruhan, anak SD dengan tingkat kecukupan energi normal memiliki jumlah yang lebih besar dibandingkan kategori lainnya, yaitu sebanyak 13 anak (41.9%). Selain itu, masih terdapat 7 anak (22.6%) yang memiliki tingkat kecukupan energi defisit berat, yang terdiri dari 1 anak (3.2%) dengan status gizi kurus dan 6 anak (19.4%) dengan status gizi normal. Hal tersebut diduga karena ketersediaan pangan sumber energi yang dikonsumsi oleh anak SD belum bisa memenuhi kebutuhan.

Hasil uji hubungan (lampiran 2) menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan (p>0.05) antara tingkat kecukupan energi dengan status gizi (p=0.457). Hal tersebut diduga karena berdasarkan hasil recall 2x24 jam, masih ada anak SD dengan status gizi normal memiliki nafsu makan yang kurang sehingga hanya mengkonsumsi pangan dengan frekuensi 1 sampai 2 kali dalam sehari. Penelitian Fauziah (2012) menunjukkan bahwa konsumsi pangan serta asupan energi tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan status gizi (r=0.063 dan p=0.847) dikarenakan recall 2x24 jam kurang dapat menggambarkan status gizi pada saat itu.

Hubungan tingkat kecukupan protein dengan status gizi

(37)

23

memiliki kategori tingkat kecukupan protein normal. Anak SD yang berstatus gizi kurus dan memiliki tingkat kecukupan protein dibawah normal, sebaiknya lebih meningkatkan konsumsi pangan sumber protein agar tidak mengganggu proses pertumbuhan anak tersebut.

Tabel 20 Sebaran anak SD berdasarkan tingkat kecukupan protein dan status gizi

Variabel Status Gizi Total

p value

Secara keseluruhan, anak SD dengan tingkat kecukupan protein defisit berat memiliki jumlah yang lebih besar dibandingkan kategori lainnya, yaitu sebanyak 12 anak (38.7%). Berdasarkan hasil recall 2x24jam, hal tersebut diduga karena asupan pangan sumber protein yang lebih kecil daripada asupan pangan sumber zat gizi lainnya, misalnya dalam satu waktu makan anak SD hanya mengkonsumsi mie instan atau nasi goreng yang tidak disertai pangan sumber protein.

Hasil uji hubungan (Lampiran 2) menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan (p>0.05) antara tingkat kecukupan protein dengan status gizi (p=0.901). Hal tersebut diduga karena ketersediaan pangan sumber protein yang ada di rumah belum cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam sehari. Penelitian Masturoh (2012) menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang nyata (p>0.05) antara tingkat kecukupan protein dengan status gizi. Tidak adanya hubungan yang signifikan antara tingkat kecukupan protein dengan status gizi diduga karena ketersediaan pangan sumber protein yang kurang sehingga sebagian besar responden berstatus gizi normal berada pada tingkat kecukupan protein defisit. Asupan protein pada anak perlu ditingkatkan agar kecukupan protein terpenuhi. Kebutuhan protein pada anak termasuk untuk pemeliharaan jaringan, perubahan komposisi tubuh dan pembentukan jaringan (Almatsier et al. 2011). Apabila asupan protein anak SD tidak diperhatikan sehingga terus menerus mengalami defisit maka akan mengalami gangguan.

Hubungan tingkat kecukupan vitamin A dengan status vitamin A

(38)

24 kategori rendah lebih besar dibandingkan anak SD yang memiliki status vitamin A dengan kategori kurang. Lebih dari separuh anak memiliki status vitamin A rendah sebanyak 18 anak (58.1%), sedangkan anak dengan status vitamin A kurang sebanyak 13 anak (41.9%). Lebih dari separuh anak SD memiliki tingkat kecukupan vitamin A dengan kategori cukup yaitu 17 anak (54.8%) dan 14 anak memiliki tingkat kecukupan vitamin A dalam kategori kurang (45.2%).

Hasil uji hubungan (Lampiran 2) menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan (p>0.05) antara tingkat kecukupan vitamin A dengan status vitamin A (p=0.320). Hal ini diduga karena status vitamin A dari seorang anak dipengaruhi oleh beberapa faktor, tidak hanya dari asupan vitamin A. Faktor-faktor yang mempengaruhi status vitamin A seseorang salah satunya adalah cadangan vitamin A didalam hati (Almatsier 2011). Dalam makanan, vitamin A biasanya terdapat dalam bentuk ester retinil, yaitu terikat pada asam lemak rantai panjang, di dalam usus halus, ester retinil dihidrolisis oleh enzim esterase pankreas menjadi retinol, retinol bereaksi dengan asam lemak dan membentuk ester dengan bantuan cairan empedu menyebrangi sel-sel vili dinding halus dan diangkut oleh kilomikron melalui sistem limfe ke dalam aliran darah menuju ke hati, sehingga hati berperan utama dalam menyimpan vitamin A (Khasanah 2003).

Hubungan status vitamin A dengan status gizi

Data pada Tabel 22 menunjukkan bahwa lebih dari separuh anak SD dengan status gizi normal memiliki status vitamin A rendah, yaitu sebanyak 17 anak (58.6%). Masih ada anak SD yang memiliki status gizi normal dengan status vitamin A kurang yaitu 12 anak (41.4%). Anak SD berstatus gizi kurus dengan status vitamin A kurang dan rendah memiliki jumlah yang sama, masing-masing sebanyak 1 anak (50.0%). Status vitamin A yang masih dibawah normal diduga karena terdapat beberapa faktor yang salah satu faktornya yaitu faktor penyakit (infeksi). Penyakit infeksi yang diderita anak dapat menurunkan kadar retinol serum (Dillon et al. 2010).

Tabel 22 Sebaran anak SD berdasarkan status gizi dengan status vitamin A

(39)

25

Hasil uji hubungan (lampiran 2) menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan (p>0.05) antara status vitamin A dengan status gizi (p=0.819). Hal ini diduga karena masih banyaknya anak dengan status vitamin A dibawah normal (kurang dan cukup) memiliki status gizi normal. Rendahnya status vitamin A anak SD dipengaruhi oleh beberapa faktor yang salah satunya adalah faktor penyakit (infeksi) (Almatsier 2011). Dillon et al. (2010) menunjukkan bahwa penyakit infeksi yang diderita anak yang mengikuti penelitian, dapat menurunkan status vitamin A (Dillon et al. 2010). Hasil penelitian Hadi et al. (2010) menunjukkan bahwa status vitamin A dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah usia anak.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Anak SD dalam penelitian ini merupakan siswa-siswi aktif Sekolah Dasar Negeri Angsana I dan Angsana II kelas 2 dan 3. Jumlah keseluruhan anak SD tersebut adalah 31 orang, terdiri dari 16 anak (51.6%) anak perempuan dan 15 anak (48.4%) anak laki-laki. Hampir seluruh orang tua dari anak SD, baik ayah (83.9%) maupun ibu (87.1%) memiliki tingkat pendidikan terakhir yaitu Sekolah Dasar (SD). Pekerjaan sebagian besar orang tua dari anak SD yaitu buruh tani untuk ayah (54.8%) dan ibu rumah tangga untuk ibu (77.4%). Sebagian besar keluarga dari anak SD (74.2%) memiliki pendapatan keluarga dengan kategori rendah. Kondisi sosial ekonomi keluarga dari anak SD lebih dari separuh termasuk dalam kategori miskin.

Persentase terbesar tingkat kecukupan energi anak SD secara keseluruhan berada pada kategori normal (41.9%). Secara keseluruhan, persentase terbesar anak SD berada pada kategori tingkat kecukupan protein dengan kategori defisit berat (38.6%). Lebih dari separuh anak SD memiliki tingkat kecukupan vitamin A dengan kategori cukup (54.8%). Penilaian status gizi berdasarkan IMT/U menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki status gizi normal (93.5%). Lebih dari separuh anak SD (58.1%) memiliki status vitamin A dengan kategori rendah. Morbiditas diketahui berdasarkan penyakit infeksi yang diderita anak dan lama sakit melalui wawancara langsung pada anak dan ibu. Lebih dari separuh anak SD memiliki angka morbiditas pada kategori rendah, yaitu 18 anak (58.1%). Penelitian ini menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat kecukupan energi dan protein dengan status gizi, tingkat kecukupan vitamin A dengan status vitamin A dan status vitamin A dengan status gizi.

Saran

(40)

26

ingat seseorang. Oleh karena itu, sebaiknya dalam penelitian konsumsi pangan selanjutnya dilakukan pendampingan oleh orang tua dalam melakukan recall agar dapat mengurangi kelemahan dari metode ini. Selain itu, disarankan juga kepada pemerintah dan keluarga agar lebih meningkatkan kualitas asupan pangan yang beragam demi terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas.

DAFTAR PUSTAKA

Agrawal S, Agrawal PK. 2013. Vitamin A supplementation among children in India: Does their socioeconomic status and the economic and social development status of their state of residence make a difference?:

International Journal of Medicine and Public Health 3(2):48-52.

Alatas SSS.2011.Status Gizi anak Usia Sekolah dan Hubungannya dengan Tingkat Asupan Kalsium Harian di Yayasan Kampungkids Pejaten Jakarta Selatan tahun 2009.[SKRIPSI]:Universitas Indonesia

Almatsier S.2006.Hidup Sehat Gizi Seimbang dalam Siklus Kehidupan Manusia. Jakarta (ID): PT Primmamedia Pustaka Utama.

Almatsier S, Soetardjo S, Soekatri M.2011.Gizi Seimbang Dalam Daur Kehidupan. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Arnelia. 2011. Karakteristik remaja dengan riwayat gizi buruk dan pendek pada usia dini: Jurnal Gizi dan Pangan 6(1): 42-50.

[BPS] Badan Pusat Statistik.2008. Hasil survei sosial ekonomi nasional tahun 2008. Jakarta: BPS

.2013. Statistik Years Book of Indonesia.

Briawan S, et al.2007.Efikasi Suplemen Besi-Multivitamin untuk perbaikan Status Besi Remaja Wanita. Gizi Indonesia 30(1):36-46

De Onis, Mercedes et al.2007.Development of a WHO growth reference for school-aged children and adolescents. Bulletin of the World Health Organization 2007;85:660–667

[Depkes] Departemen Kesehatan. 1996. Pedoman Praktis Pemantauan Gizi Orang Dewasa. Jakarta

.2007. Riset Kesehatan Dasar 2007. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Jakarta: Depkes RI

Dillon D et al.2010. The Application of Correcion Factors on Serum Retinol of

Indonesia School Children.

http://mji.ui.ac.id/journal/index.php/mji/article/download/417/409

19(4):258-263.

Gibson RS. 2005. Principal of Nutritional Assessment. Newyork: Oxford University Press.

Gusthianza J.2010.Studi Efikasi Pemberian Mi Instan Yang Diperkaya Red Palm Oil (Rpo) Terhadap Peningkatan Kadar Retinol Serum Dan Respon Imun Anak Sekolah Dasar Usia 7-9 Tahun. [SKRIPSI] Institut Pertanian Bogor Hadi H et al.2010.Vitamin A supplementation selectively improves the linear

(41)

27

Hidayati RN. 2010. Hubungan asupan makanan anak dan status ekonomi keluarga dengan status gizi anak usia sekolah di Kelurahan Tuhu Kecamatan Cimanggis Kota Depok [terhubung berkala] ejournal .stikes-ppni.ac.id/article/9/1/article.pdf (24 Februari 2014).

Kapil U, Sachdev HPS. 2013. Massive dose vitamin A programme in India-Need for a targeted approach: Indian Journal Medical Research 138:411-417. Conroy K, Sandel M, Zuckerman B.2010.Poverty grown up: How childhood

socioeconomic status impact adult health: Journal of Development Behaviour Pediatric 31(2):154-160

Khasanah N.2003. Hubungan status protein, besi, seng, vitamin A, folat dan anthropometri ibu hamil trimester II dengan bayi berat lahir rendah [TESIS]. [terhubung berkala] http://eprints.undip.ac.id/14809/1/2003MIB2155.pdf (14 Mei 2014)

Kementrian Kesehatan RI. 2011. Keputusan Menkes RI, tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak.

Lee, Robert D dan Nieman D C.1996. Nutritional Assessment, ed 2 di dalam [Buku] Almatsier S. 2011. Gizi seimbang dalam daur kehidupan. Jakarta:PT Gramedia Pustaka Umum

Masturoh A.2012.Hubungan tingkat kecukupan konsumsi dan status kesehatan terhadap status gizi santri putri di dua pondok pesantren modern di Kabupaten Bogor [skripsi]. Bogor:Institut Pertanian Bogor

Moshki M, Bahrami M. 2012. Food consumption behavior among elementary students of Gonabad: Zahedan Journal of Research in Medical Sciences

15(3): 65-67.

Mustamin H.2013. Faktor-Faktor Pengaruh Tingkat Pendidikan Anak di Pemukiman Kumuh Kota Makassar. Jurnal Lentera Pendidikan 16 (2):151-165.

Natalia LD, Rahayuning D, Fatimah S.2013.Hubungan ketahanan pangan tingkat keluarga dan tingkat kecukupan zat gizi dengan status gizi batita di Desa Gondangwinangun Tahun 2012: Jurnal Kesehatan Masyarakat 2013 2(2): 1-19.

Nix S. 2005. William’s Basic Nutrition & Diet Theraphy. China: Mosby Inc.

Permaesih D.2008.Penilaian status vitamin A secara biokimia: Gizi Indonesia

31(2):92-97

Puspitarini DO.2013. Homeschooling sebagai alternatif pembelajaran. Jurnal Ilmiah Teknologi Pendidikan.

Prista A et al.2003. Anthropometric indicators of nutritional status: Implications for fitness, activity, and health in school-age children and adolescents from Maputo, Mozambique: American Society for Clinical Nutrition 77:952-959.

Rahman MM, et al. 2004. Short-term supplementation with zinc and vitamin A has no significant effect on the growth of undernourished Bangladeshi children: American Journal of Clinical Nutrition 75:87-91.

(42)

28

Sommer A.2008.Vitamin A deficiency and clinical disease: An historical overview: Journal of Nutrition 1835-1839.

Sugiyono. 2009. Statistika untuk Penelitian. Bandung (ID): CV Alfabeta.

Suranadi L, Chandradewi AASP.2008.studi tentang karakteristik keluarga dan pola asuh pada balita gizi kurang dan gizi buruk di Kabupaten Lombok Barat: Jurnal Kesehatan Prima 2(2):296-303.

Suryawati C. 2005. Memahami kemiskinan secara multidimensional: Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 8(3)121-129.

Susanti N.2012.Efektifitas Kompres Dingin dan Hangat pada Penatalaksanaan Demam. Saintis 1(1)55-64.

Susilowati H. 2007. Masalah Kurang Vitamin A dan prospek penanggulangannya.

Media Litbang Kesehatan 17(4)

West K. dan Ian Darnton-Hill. 2002. Extent of Vitamin A Deficiency Among Preschool Children and Women of Reproductive Age. J. Nutr. 132: 2857S– 2866S.

Widyastuti N.2006. Akurasi food recall dan food record dalam akurasi Simplified Dietasi Assessment (SDA) pada anak usia sekolah untuk identifikasi resiko kurang vitamin A: Jurnal Penyuluhan Pertanian 2(1) 112-123.

Williams LK, Veitch J, Ball K. 2011. What helps children eat well? A qualitative exploration of resilience among disadvantaged families: Health Education Center 26(2):296-307.

West K, Ian DH. 2002. Extent of vitamin A deficiency among preschool children and women of reproductiveage. J.Nutr. 132:2857S-2866S.

Zeba A et al.2006.The positive impact of red palm oil in school meals on vitamin A status: study in Burkina Faso: Nutrition Journal 5:17-26.

(43)

29

LAMPIRAN

Lampiran 2 Dokumentasi

Foto Sekolah Dasar Negeri Angsana I

Foto Sekolah Dasar Negeri Angsana II

Foto anak-anak SDN Angsana I

(44)

30

Lampiran 2 Uji hubungan

Tabel 1 Uji hubungan tingkat kecukupan energi dan protein dengan status gizi

Status Gizi Tingkat

korelasi koefisien ,139 1,000 ,868**

Sig. (2-tailed) ,457 . ,000

Tabel 2 Uji hubungan tingkat kecukupan vitamin A dengan status vitamin A

Tingkat

Pearson Correlation 1 -,185

Sig. (2-tailed) ,320

N 31 31

Status

Vitamin A

Pearson Correlation -,185 1

Sig. (2-tailed) ,320

N 31 31

Tabel 3 Uji hubungan status gizi dengan status vitamin A

Status Gizi Status vitamin A

Spearman's rho

Status Gizi

Correlation Coefficient 1,000 ,043

Sig. (2-tailed) . ,819

N 31 31

Status vitamin A

Correlation Coefficient ,043 1,000

Sig. (2-tailed) ,819 .

Gambar

Gambar  1.  Kerangka  pemikiran  penelitian  (modifikasi  Gusthianza  2010)  asupan  vitamin  A,  status  vitamin  A  dan  status  gizi  anak  SD  di  Kecamatan  Leuwiliang, Kabupaten Bogor
Tabel 2 Jenis dan cara pengumpulan atau pengukuran data
Tabel 4 Sebaran anak SD berdasarkan jenis kelamin, usia dan jenjang pendidikan
Tabel 6 Sebaran anak SD berdasarkan pekerjaan ibu dan ayah anak SD.
+4

Referensi

Dokumen terkait

Dalam penelitian yang dilakukan oleh (Verbeke, Dejaegen Martens, Hur dan Baesens 2012) yang meneliti dua puluh satu model prediksi customer churn sektor telekomunikasi dari

Berdasarkan hasil pengamatan umur 7 bulan dari 9 aksesi jahe merah yang ditanam, menunjukkan adanya keragaman dalam beberapa parameter yang diamati seperti tinggi

Wawancara merupakan pertemuan dua pihak atau lebih untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab sehingga dapat diaplikasikan maknanya dalam suatu topik tertentu.

Dari Sungai Winong sampai dengan Sungai Kumpulkuista terdapat saluran pengumpul ( collector drain ) dengan tujuan utama untuk menampung air baku (sistem long storage ) dan

Dalam konteks hukum internasional, sta- tus kewarganegaraan menimbulkan hak-hak sebagai berikut: (a) memperoleh perlindungan diplomatik di luar negeri yang merupakan atribut

meminimalkan resiko infeksi yang terjadi di rumah sakit yaitu dengan..

Pada penelitian kualitatif analisis data yang telah diperoleh akan diproses untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan atas permasalahan yang muncul,sehigga data

Hasil penelitian yang diperoleh, konsep diri digambarkan dari: (1) identitas diri yang meliputi status kesehatan dan peran dalam rumah tangga; (2) citra tubuh yang