KELEMBAGAAN KEMITRAAN HULU HILIR DAS CIDANAU
UNTUK PASOKAN AIR DOMESTIK DAN INDUSTRI
DI PROPINSI BANTEN
NUR LAILA
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Kelembagaan Kemitraan Hulu Hilir DAS Cidanau untuk Pasokan Air Domestik dan Industri di Propinsi Banten adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini.Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
RINGKASAN
NUR LAILA. Kelembaaan Kemitraan Hulu Hilir DAS Cidanau untuk Pasokan Air Domestik dan Industri di Propinsi Banten. Dibimbing oleh KUKUH MURTILAKSONO dan BRAMASTO NUGROHO.
Kemitraan hulu hilir pengelolaan DAS Cidanau telah dibangun sejak tahun 2005 dengan pendekatan pembayaran jasa lingkungan (PJL). Stakeholder yang terlibat adalah PT Krakatau Tirta Industri (KTI) sebagai pemanfaat air baku dari sungai Cidanau untuk tujuan komersil membayar kepada penyedia jasa lingkungan (komunitas petani hutan) di hulu DAS terhadap perannya melakukan konservasi lahan. Komunitas petani hutan harus mempertahankan tegakan pohon sesuai dengan jumlah dan masa kontrak yang disepakati keduanya. Kemitraan ini difasilitasi oleh Forum Komunikasi DAS Cidanau (FKDC) yang anggotanya terdiri dari para pihak. Tujuan penelitian ini adalah merumuskan kelembagaan kemitraan untuk pasokan air DAS Cidanau.
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus dan analisis data secara umum mengacu pada analisis pengembangan institusi (IAD) yang dikembangkan oleh Ostrom (2008). Informan/responden ditentukan secara sengaja (purposive sampling ) dan penentuan informan kunci dilakukan dengan teknik snowball sampling.
Hasil penelitian menunjukan bahwa status kedudukan kepemilikan lahan masyarakat yang masuk dalam mekanisme PJL mayoritas adalah hak milik pribadi (private property), dengan mata pencaharian pada umumnya merupakan petani yang menjual hasil tanamannya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Pada periode pertama kontrak (2005-2009) ada 2 kelompok yang terputus kontrak dari 4 kelompok tani yang menjalin kemitraan, yakni Kelompok tani Karya Bersama dan Agung Lestari, sedangkan pada periode ke dua (2010-2014) ada 5 kelompok tani yang menjadi anggota PJL termasuk kelompok tani yang memperpanjang kontrak pada periode pertama yakni Karya Muda II. Untuk mewujudkan kelembagaan kemitraan DAS Cidanau selain pembenahan aturan main, hal penting yang harus dilakukan adalah penguatan kelembagaan FKDC. Dalam rangka agar kinerja pemutusan kontrak pada desa Cibojong dan Kadu Agung tidak terjadi pada kelompok tani lainnya maka diperlukan: a) pendekatan individual untuk kelompok tani yang heterogen, b) pembentukan lembaga keuangan alternatif desa, dan c) Adanya peluang penjarangan dengan jumlah dan diameter pohon tertentu, d) pengkajian jumlah pembayaran yang diberikan pada petani penyedia jasa lingkungan.
SUMMARY
NUR LAILA. Upstream and Downstream Institutional Partnerships in Cidanau Watershed for Domestic and Industrial Water Supply. Supervised by KUKUH MURTILAKSONO and BRAMASTO NUGROHO.
Upstream and downstream institutional partnerships in Cidanau watershed has been built in 2005 using payment for environmental services (PES) approach. Among stakeholders, partners involved in the mechanism are Krakatau Tirta Industri (KTI) Company as a water beneficiary for commercial use and up-stream farmer groups as a service provider, and facilitated by a multi-stakeholder watershed forum namely Forum Komunikasi DAS Cidanau (FKDC). The farmers were paid for their role in conserving land and maintainance of tree stand in accordance with number of trees and contract period which is agreed by both parties.
The study aims to formulate partnership institution which is intended by both parties for the sustainability of Cidanau water supply. This is a qualitative research with a case study approach. Data analysis in general was referred to Institutional Analysis Development (IAD) developed by Ostrom (2008). This research applied purposive sampling and snowball sampling.
The result of the research shows that majority of land ownership of the involved farmer are private property which is cultivated to meet their daily need. In the first period of contract (2005-2009) there were 4 farmer groups involved but 2 groups cease to be a member of PES, and in the second period (2010-2014) there were PES groups signed the contract including extended groups. Improvement is necessary in order to achieve optimum benefit of Cidanau water supply and involving parties in PES. Apart from the mechanism rule, institutionalization of FKDC needs to be improved and strengthened in manifesting partnership institution of Cidanau water supply. The necessary approach to prevent contract discountinuation in other village as has been experienced in Cibojong and Kadu Agung Village are a) individual approach for heterogenous types of farmer communities, b) establishment of village alternative financial institutions, c) due to thinning on number and certain diameter of trees, d) assessment of the incentive to farmer groups as environmental service providers.
© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2013
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB
Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains
pada
Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan
KELEMBAGAAN KEMITRAAN HULU HILIR DAS CIDANAU
UNTUK PASOKAN AIR DOMESTIK DAN INDUSTRI
DI PROPINSI BANTEN
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Judul Tesis : Kelembagaan Kemitraan Hulu Hilir DAS Cidanau untuk Pasokan Air Domestik dan Industri di Propinsi Banten
Nama : Nur Laila NIM : P052110201
Disetujui oleh Komisi Pembimbing
Prof Dr Ir Kukuh Murtilaksono, MSc Ketua
Dr Ir Bramasto Nugroho, MS Anggota
Diketahui oleh
Ketua Program Studi
Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan
Prof Dr Ir Cecep Kusmana, MSc
Dekan Sekolah Pascasarjana
Dr Ir Dahrul Syah, MScAgr
Tanggal Ujian: 27 Juli 2013
PRAKATA
Alhamdulillah puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanallahu wa ta‟ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan di
Propinsi Banten sejak bulan April 2003 ini adalah “Kelembagaan Kemitraan Hulu-Hilir DAS Cidanau untuk Pasokan Air Domestik dan Industri di Propinsi Banten ”. Penelitian ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada :
1. Bapak Prof Dr Ir Kukuh Murtilaksono, MSc selaku ketua komisi dan Dr Ir Bramasto Nugroho, MS selaku anggota komisi yang telah banyak memberikan bimbingan, pengarahan, motivasi dan nasehat kepada penulis dalam menyelesaikan tesis ini.
2. Bapak Dr Ir Rinekso Soekmadi, M.Sc F.Trop yang telah bersedia menjadi penguji luar komisi dan memberi koreksi kepada penulis terhadap muatan isi tesis.
3. Ketua Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan beserta jajarannya yang telah memberikan layanan perkuliahan kepada penulis. 4. Pusdiklat Kehutanan yang telah memberikan beasiswa untuk melanjutkan
pendidikan S2 di IPB Bogor.
5. Dirjen dan Sekditjen BPDASPS Kementerian Kehutanan yang telah memberikan izin untuk melanjutkan pendidikan S2 di IPB Bogor.
6. Direktur PEPDAS, Dr Ir Eka W Soegiri, MM yang mendorong dan mengizinkan penulis untuk melanjutkan pendidikan S2 di IPB Bogor.
7. BPDAS Citarum Ciliwung yang telah memnfasilitasi pelaksanaan penelitian dan membantu perolehan data, khususnya ibu Nilda, pak Utang, Heriadi, Heru Ruhendi dan teh Neng Wati.
8. Suhanafi, SSos, MHum suami tercinta atas segala kasih sayang, motivasi, kesabaran dan doa tulus sehingga penulis tetap bersemangat menyelesaikan studi ini.
9. Sembah sujud kepada kedua pihak orang tua, ayahnda Salim Gani dan mama tersayang Rosidah, mertuaku Bapak Zainal Arifin (alm) dan ibu Suparmi (alm) atas segala kasih sayang, perhatian serta doa yang tak pernah putus dipanjatkan.
10. Saudaraku tersayang Selvi Handayani, Rafiq Ferdian, Joko Supriyadi, Dewi Kusuma Handayani, ponakan tercinta ku Atin, Tata, Raffa, Aldi, Nisa atas segala motivasi dan sandaran letih berkeluh kesah.
12. Sahabat seperjuangan ku seluruh PSL-er 2011 khususnya kepada Yoscarini, Silak, Supomo, Hari Purnomo, Budi Ambong atas segala semangat dan bantuannya selama ini.
13. Seluruh Kasubdit, Kasie, teman-teman Direktorat PEPDAS, khususnya Dr. Ir Syaiful Anwar, MSc, Ir Djonli, MF, Dr Saparis, Ir Yuli Utami, MSi, pak Pur, Imam, Leo dan bu Yayuk. Ucapan terimakasih juga disampaikan kepada Ibu Tyas yang telah memberikan kesempatan penulis untuk memperoleh beasiswa, Dr Ir Silver Hutabarat, Msc, teh Virni , Harteb atas diskusi, semangat dan informasi yang diberikan dalam penyelesaian tesis ini.
14. Semua pihak yang telah membantu secara langsung maupun tidak langsung yang tidak mungkin disebutkan satu persatu. Semoga Allah subhanallahu wa ta‟ala memberikan pahala yang berlipat.
Bogor, Juli 2013 Nur Laila
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL vi
DAFTAR GAMBAR vi
DAFTAR LAMPIRAN vi
1 PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Kerangka Pemikiran Penelitian 3
Perumusan Masalah 5
Tujuan Penelitian 6
Manfaat Penelitian 6
Penelitian di DAS Cidanau Terdahulu 7
2 METODE 8
Lokasi dan Waktu Penelitian 8
Metode Pengumpulan Data 8
Analisis Data 9
3 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 11
Letak DAS Cidanau 11
Kependudukan dan Mata Pencaharian 13
4 HASIL DAN PEMBAHASAN 14
Hak Kepemilikan Lahan, Pola Pemanfaatan dan Pengelolaan Lahan 14
Atribut Komunitas Petani Hutan 17
Peraturan Perundangan dan Peraturan Non Formal yang terkait dengan
Pengelolaan Jasa Lingkungan 21
Situasi Aksi dan Kelembagaan Kemitraan Hulu Hilir DAS Cidanau 24 Kelembagaan Kemitraan Hulu Hilir untuk Pasokan Air DAS Cidanau 37
5 SIMPULAN DAN SARAN 44
DAFTAR PUSTAKA 44
LAMPIRAN 48
DAFTAR TABEL
1 Informan kunci dan jumlah informan kunci yang dipergunakan dalam
penelitian 9
2 Matriks penelitian kelembagan kemitraan hulu hilir untuk pasokan air
DAS Cidanau 12
3 Luas kecamatan, jumlah penduduk dan mayoritas mata pencaharian di
area pembayaran jasa lingkungan 13
4 Kepemilikan lahan kelompok tani penyedia jasa lingkungan DAS
Cidanau 15
5 Jenis tanaman dominan di lahan komunitas petani hutan penyedia jasa
lingkungan 18
6 Peraturan perundangan dan peraturan non formal yang terkait
pembayaran jasa lingkungan 22
7 Periode dan status kontrak kelompok tani penyedia jasa lingkungan 28 8 Jumlah pembayaran PT KTI untuk kelompok tani penyedia jasa
lingkungan 28
9 Program Jejaring Kelompok Tani Hutan Tahun 2013 33 10 Peranan para pihak yang terkait langsung dalam mekanisme PJL 34
DAFTAR GAMBAR
1 Kerangka pemikiran penelitan 4
2 Rumusan permasalahan dengan framefork analisis dan pengembangan
kelembagaan 6
3 Matriks stakeholder dan pengaruh tingkat kepentingan 11
4 Lokasi penelitian 13
5 Sebaran presentase mata pencaharian di areal pembayaran jasa
lingkungan 14
6 Tegakan vegetasi di lahan salah satu anggota kelompok tani karya
muda II desa Citaman 16
7 Pemanfaatan bawah tegakan dengan penanaman kakao/coklat di Desa
Cikumbuen, kelompok tani Alam Lestari 17
8 Hubungan prinsipal agen antara PT KTI, FKDC dan komunitas petani
hutan penyedia jasa lingkungan DAS Cidanau 27
9 Penomoran pohon pada tanaman yang menjadi pembayaran jasa
lingkungan di desa Citaman 32
10 Pemetaan stakeholder dalam kemitraan DAS Cidanau 36 11 Kerangka IAD untuk kelembagaan kemitraan hulu hilir pasokan air
DAS Cidanau 42
DAFTAR LAMPIRAN
1 Hasil penilaian pengaruh dan kepentingan analisis stakeholder
kemitraan DAS Cidanau 48
2 Contoh lembar nota kesepahaman antara PT KTI dan FKDC, dan
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu wilayah daratan yang secara topografik dibatasi punggung-punggung gunung dimana air hujan yang jatuh pada daerah tersebut akan ditampung oleh punggung gunung gunung dan akan dialirkan melalui sungai-sungai kecil ke sungai utama. Wilayah daratan tersebut dinamakan daerah tangkapan air (DTA atau catchment area) yang merupakan kesatuan ekosistem yang utuh dari hulu sampai hilir terdiri dari unsur-unsur utama atas sumber daya alam yaitu tanah, vegetasi (hutan), air dan sumber daya manusia sebagai pemanfaat sumber daya alam (Asdak 2010).
DAS di Indonesia berjumlah 17.088 DAS (Kepmenhut No. SK 511/Menhut-V/2011 tentang Penetepan Daerah Aliran Sungai). Kondisi DAS yang sudah kritis/sangat kritis sehingga tidak bisa berfungsi sebagaimana peruntukannya dan perlu penanganan terbagi menjadi prioritas I sebanyak 394 DAS, prioritas II sebanyak 1.436 DAS dan prioritas III sebanyak 1.500 DAS. Sedangkan yang diutamakan untuk ditangani lebih dulu untuk disusun rencana pengelolaan DAS terpadunya berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: SK. 328/Menhut-II/2009 tentang Penetapan Daerah Aliran Sungai (DAS) Prioritas dan ditetapkan dalam rangka Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) tahun 2010-2014 hanya 108 DAS, sehingga beban pengelolaan DAS yang ditanggung oleh pemerintah memang terbilang cukup tinggi, yang berdampak pada pengelolaan yang tidak optimal dan mengakibatkan kerusakan ekosistem DAS, seperti tanah longsor, sedimentasi, banjir pada musim penghujan dan kekeringan pada musim kemarau. Oleh karena itu menurut Asdak (2010) diperlukan pengelolaan DAS yang tepat, untuk memperoleh manfaat produksi dan jasa dengan meminimalkan terjadinya kerusakan sumber daya yang ada melalui proses formulasi dan implementasi kegiatan yang bersifat manipulatif sumberdaya alam dan manusia, dimana untuk tercapainya pembangunan DAS yang berkelanjutan kegiatan pembangunan ekonomi dan perlindungan lingkungan harus diselaraskan, dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan (stakeholder).
DAS Cidanau sebagai daerah tangkapan air berperanan penting dalam penyediaan sumber air baku untuk masyarakat, baik untuk kebutuhan kegiatan domestik maupun komersial terutama bagi industri di Kota Cilegon dan sekitarnya, dengan luas kurang lebih 22.620 ha. Di mana bagian hulu didominasi hutan rakyat dan terdapat rawa Danau1 yang menjadi tempat bermuaranya delapan belas (18) sub DAS sebagai reservoir (Bappeda Propinsi Banten 2008).
12,98m³/detik, tahun 1995-2008 debit maksimum berkisar 13,11-36,28 m³/detik Hal tersebut dapat juga berkaitan erat dengan perambahan kawasan Rawa Danau yang berdasarkan hasil penelitian Irsyad (2011) menunjukkan telah terjadi perubahan kawasan rawa yang pada tahun 2006 masih memiliki luasan 2245 ha kemudian tahun 2010 menjadi 2.193 ha. Disamping itu hasil interpretasi citra tahun 2003 – 2011 oleh Badan Planologi Kementerian Kehutanan tahun 2012 menunjukkan bahwa luas hutan tanaman berkurang 218,74 ha, luas untuk pemukiman meningkat menjadi 25,87 ha, tanah terbuka berkurang 12,96 ha, luasan peruntukan sawah meningkat sebesar 40,78 ha, demikian juga peningkatan luasan untuk pertanian lahan kering dan pertanian lahan kering campur yang masing masing meningkat seluas 94,31 ha dan 70,74 ha.
Daerah hulu dan hilir dalam suatu DAS mempunyai keterkaitan biofisik melalui daur hidrologi (Johnson et.al, 2001; Acreman 2004; Asdak 2010), sehingga apa bila terjadi deforestasi hutan di hulu DAS akan berdampak langsung terhadap keberlanjutan pasokan air di DAS Cidanau, khususnya daerah hilir. Pola pemanfaatan lahan didaerah hulu dipengaruhi oleh aktivitas ekonomi masyarakat yang pada umumnya berada pada kondisi miskin dan cenderung akan mengorbankan hutannya untuk keberlangsungan hidup. Oleh karena itu hal tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab oleh masyarakat kawasan hulu sebagai penyedia jasa lingkungan yang melakukan konservasi lahan tetapi juga kawasan hilir sebagai pengguna jasa lingkungan, ini lah yang menjadi dasar pemikiran dalam pengembangan kemitraan hulu hilir DAS Cidanau (FKDC, 2009).
Sejak tahun 2005 di kawasan DAS Cidanau telah dibangun kemitraan hulu hilir dalam bentuk pembayaran jasa lingkungan (PJL). Pendekatan ini menjadi insipirasi dalam pengembangan instrumen yang kemudian menjadi salah satu implementasi pendekatan instrumen ekonomi seperti yang diamanatkan dalam Undang Undang No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Peraturan Pemerintah No. 37 tahun 2012 tentang Pengelolaan DAS, yang salah satunya adalah melalui mekanisme pasar atau pembayaran jasa lingkungan , yang juga merupakan sebagian salah satu dari kebijakan lingkungan dalam mengendalikan dampak lingkungan melalui mekanisme pasar atau pembayaran jasa lingkungan
Stakeholder yang terlibat dalam PJL DAS Cidanau adalah PT Krakatau Tirta Industri (KTI)2 sebagai pemanfaat air baku dari sungai Cidanau untuk tujuan komersil membayar kepada penyedia jasa lingkungan (komunitas petani) di hulu DAS terhadap perannya melakukan konservasi lahan dengan mempertahankan tegakan pohon sesuai dengan jumlah dan masa kontrak yang disepakati keduanya. Melalui kemitraan ini diharapkan dapat menumbuhkembangkan sense of belonging petani khususnya komunitas petani
yang menjadi pilot project dalam memanfaatkan lahannya untuk pengelolaan sumber daya hutan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. Secara konseptual Pagiola et al. (2004) menyatakan secara sederhana yaitu “beneficiary pays” atau pemanfaat jasa membayar.
Keberlanjutan hubungan kemitraan ini akan dipengaruhi oleh sejauhmana para pihak baik PT KTI maupun kelompok tani dapat melaksanakan hak dan kewajibannya masing-masing sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati. Dari aspek kelembagaan menimbulkan pertanyaan apakah kemitraan yang telah ada (1) mampu menyelesaikan permasalahan deforestasi di lahan – lahan milik masyarakat (hutan rakyat), dan (2) terjamin keberlanjutannya? Pertanyaan tersebut menjadi relevan untuk didiskusikan menggunakan teori kemitraan (agency theory), khususnya tentang hubungan prinsipal-agen (principal-agent relationship), dengan memfokuskan perhatian pada agency problem yang terjadi ketika terdapat hubungan keagenan antara prinsipal dengan agen. Salah satu masalah fundamental dalam hubungan kemitraan (principal-agent relationship) menurut Nugroho (2003) yakni masalah yang berkaitan dengan ketidaksepadanan informasi (asymmetric information) antara yang bermitra, yang mengakibatkan rentan terhadap resiko salah pilih mitra (adverse selection risk) pada ex ante (sebelum kejadian) dan bahaya ingkar janji (moral hazard) pada ex post (setelah kejadian) yaitu munculnya perilaku merugikan salah satu pihak yang bertransaksi.
Pemutusan kontrak pada dua kelompok tani yang masuk dalam mekanisme pembayaran jasa lingkungan DAS Cidanau mengindikasikan terdapat permasalahan hubungan kemitraan kedua belah pihak sehingga terjadi moral hazard di anggota kelompok tani. Satu diantara penyebab pemutusan kontrak tersebut diduga adalah aspek kelembagaan/institusi. Untuk mendapatkan kinerja yang lebih baik maka diperlukan perubahan institusi. Pembuktian atas dugaan tersebut dapat dilakukan melalui sebuah penelitian yang berjudul Kelembagaan Kemitraan Hulu Hilir DAS Cidanau untuk Pasokan Air Domestik dan Industri di Propinsi Banten.
Kerangka Pemikiran Penelitian
DAS Cidanau merupakan salah satu DAS penting di wilayah propinsi Banten yang berperan dalam penyediaan sumber air baku untuk kebutuhan domestik ataupun industri kota Cilegon dan sekitarnya. Keberlanjutan sumberdaya air DAS Cidanau dipengaruhi oleh pola pemanfaatan lahan di hulu DAS yang menjadi daerah tangkapan air DAS Cidanau, sehingga apa bila terjadi kerusakan ekosistem di hulu DAS akan mempengaruhi keberlanjutan pasokan air di DAS Cidanau.
Gambar 1 Kerangka Pemikiran Penelitian
Kemitraan hulu hilir DAS Cidanau telah dibangun sejak tahun 2005. Keberlanjutan kemitraan akan ditentukan dari kinerja kelembagaan yang ada, yakni sejauhmana kedua belah pihak patuh terhadap pelaksanaan hak dan kewajibannya masing-masing karena Kasper dan Streit (1998) kemitraan didasari atas kepentingan kedua belah pihak. Oleh karena itu suatu kelembagaan kemitraan tidak dapat dipisahkan dari aspek fungsional dan struktural yang mendasari eksistensi kemitraan tersebut, karena mencakup seperangkat peraturan, kesepakatan dan perjanjian yang mendefinisikan hak dan kewajiban kedua belah pihak yang harus dilaksanakan dan ditaati.
Kinerja kelembagaan kemitraan saat ini masih perlu diperbaiki karena kemitraan masih dianggap belum efisien yang ditandai dengan pemutusan kontrak pada kelompok tani Agung Lestari di Desa Kadu Agung dan Karya Bersama di Desa Cibojong. Untuk mewujudkan kelembagaan kemitraan DAS Cidanau untuk pasokan air domestik dan industri yang baik maka diperlukan upaya strategis untuk mengatasi permasalahan yang ada. Menurut Bowers (2005) untuk mengubah perilaku agen (petani) maka prinsipal harus berbagi rewards. Disamping itu Rodgers (1994) dalam Nugroho (2003) menyebutkan indikator-indikator yang menunjang hubungan principal – agent menjadi efisien adalah apabila tingkat harapan (reward) kedua belah pihak seimbang dengan korbanan masing-masing dan biaya transaksi yang ditimbulkan minimal, dalam hal ini biaya transaksi yang ditimbulkan dalam pelaksanaan kegiatan. Apa bila terjadi perbedaan kepentingan diantara kedua belah pihak maka akan rentan terjadi perilaku oportunis oleh agen, karena yang memegang peranan penting dalam pengolahan dan akses informasi adalah agen, dan hal tersebut dapat menimbulkan ketidaksepadanan informasi.
Secara umum konseptual kerangka pemikiran penelitian ini disajikan pada Gambar 1 :
DAS Cidanau :
Sumber air baku domestik, komersial dan industri kota Cilegon dan sekitarnya
Pola pemanfaatan lahan di hulu DAS: 1. Deforestasi di lahan-lahan masyarakat 2. Perambahan cagar alam Rawa Danau
Kemitraan Hulu - Hilir
Insentif : Pembayaran jasa lingkungan
Kelembagaan kemitraan hulu hilir DAS Cidanau untuk pasokan air domestik dan
industri yang baik Kinerja saat ini :
Pemutusan kontrak di desa Cibojong dan Kadu Agung
Efisiensi principal-Agen:
Perumusan Masalah
Konsep kemitraan yang terjalin dalam mekanisme PJL di DAS Cidanau adalah PT Krakatau Tirta Industri (KTI) yang merupakan salah salah satu mitra dari stakeholder yang terlibat sebagai pemanfaat jasa, membayar kepada petani sebagai produsen jasa lingkungan terhadap peran mereka dalam konservasi lahan. Dalam hal ini kelompok tani di desa model kegiatan yang terikat kontrak memperoleh pembayaran dari pemeliharaan tegakan pohon yang dilakukan sesuai perjanjian dengan masa kontrak selama 5 (lima) tahun. Dengan kemitraan ini diharapkan masyarakat termotivasi melakukan perbaikan pemanfaatan lahan dan pengelolaan sumber daya hutan yang optimal dalam rangka terwujudnya kelestarian DAS dan peningkatan pendapatan masyarakat.
Kemitraan hulu-hilir di DAS Cidanau ini juga telah menjadi sumber inspirasi pengelolaan DAS bagi Propinsi-propinsi lain dalam mengembangkan mekanisme PJL ataupun sebagai lesson learned dalam kebijakan pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan. Namun dalam pelaksanaannya bukan semata-mata tanpa masalah. Di awal pelaksanaan, ada dua desa yang terikat kontrak yakni Desa Citaman, Kecamatan Ciomas dan Desa Cibojong, Kecamatan Padarincang yang berada di Kabupaten Serang. Namun tahun 2007 kemitraan dengan Desa Cibojong dihentikan dikarenakan pelanggaran dengan menebang pohon diatas beberapa lahan milik anggota kelompok yang masuk dalam perjanjian PJL. Kemudian ditahun yang sama kawasan PJL diperluas 50 ha dengan lokasi Desa Kadu Agung Kabupaten Serang dan Desa Cikumbueuen Kabupaten Pandenglang, namun terjadi pemutusan kontrak dengan Desa Kadu Agung. Hingga saat ini (kontrak 5 tahun kedua, periode tahun 2010 – 2014) ada 5 (lima) desa dan 6 (enam) kelompok tani yang masuk dalam kawasan PJL, yakni Desa Ramea, Desa Panjangjaya, Desa Ujung Tebu yang mulai tahun 2011, Desa Citaman dengan kelompok tani Karya Muda III tahun 2010 dan Desa Citaman dengan kelompok tani Karya Muda II yang memperpanjang tahun 2010 untuk 5 tahun ke dua.
Gambar 2 Rumusan permasalahan dengan framework analisis dan pengembangan kelembagaan (modifikasi Ostrom (2008) dari Ostrom, Gardner, and Walker(1994:37 ))
Berdasarkan uraian tersebut maka dirumuskan pertanyaan penelitian (research questions) sebagai berikut :
1. Bagaimanakah kondisi faktor fisik, atribut komunitas dan peraturan yang digunakan dalam kelembagaan kemitraan saat ini?
2. Bagaimanakah situasi aksi dan kelembagaan kemitraan DAS Cidanau saat ini?
3. Bagaimanakah kelembagaan kemitraan hulu hilir DAS untuk pasokan air domestik dan industri di propinsi Banten?
Tujuan Penelitian
Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk merumuskan kelembagaan kemitraan hulu hilir yang mampu memperbaiki kesejahteraan masyarakat serta terwujudnya kelestarian DAS untuk kerberlanjutan pasokan air di DAS Cidanau. Secara khusus, tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah :
1. Menelaah kondisi faktor fisik, atribut komunitas dan peraturan yang digunakan dalam kelembagaan kemitraan saat ini;
2. Mengkaji situasi aksi dan kelembagaan kemitraan DAS Cidanau saat ini; 3. Merumuskan kelembagaan kemitraan hulu hilir DAS Cidanau.untuk
pasokan air domestik dan industri di propinsi Banten. Manfaat Penelitian
1. Pada aspek ilmu pengetahuan, akan berkontribusi pada pengayaan khasanah keilmuan tentang kelembagaan kemitraan pembayaran jasa lingkungan dengan kompleksitas prespektif agency theory khususnya principal - agent yang mempengaruhi terhadap keberlanjutan suatu hubungan kemitraan; 2. Pada aspek praktis, sebagai tambahan informasi dan evaluasi sistem
Penelitian di DAS Cidanau Terdahulu
Berikut ini beberapa penelitian yang pernah dilakukan di DAS Cidanau dan menjadi studi literatur serta bahan pengkayaan informasi:
1. Hasil penelitian Fadli Irsyad dengan judul Analisis Debit Sungai Cidanau dengan Aplikasi SWAT yang dilaksanakan pada tahun 2011 menyebutkan bahwa kecenderungan air sungai Cidanau hasil proyeksi untuk debit rata-rata masih dapat memenuhi kebutuhan air di kota Cilegon pada saat ini. 2. Hasil penelitian Hidayat dengan judul Politik Agraria Transformatif :
Studi Peluruhan Kelembagaan Lokal dan Kegagalan Politik Tata Kelola Agraria pada Komunitas Petani di DAS Cidanau Kabupaten Serang Propinsi Banten yang dilaksanakan pada tahun 2011 menyebutkan peluruhan kelembagaan komunitas yang terjadi pada kelembagaan buyut, modal sosial liliuran, etika konsevasi dan kearifan lokal disebabkan karena politik agrarian kurang mempertimbangkan manusia sebagai komponen utama ekosistem hutan dan kepentingan peran serta masyarakat lokal dalam pengelolaan sumberdaya hutan. Kegagalan mewujudkan politik agrarian disebabkan bangunan ideologis dan signifikansi politik agrarian bersifat kapitalistik, ekstraktif dan mengabaikan dimensi manusia dalam pengelolaan sumberdaya hutan. 3. Hasil penelitian Ani Triani dengan judul Analisis Willingnes to Accept
Masyarakat terhadap Pembayaran Jasa Lingkungan DAS Cidanau (studi Kasus Desa Citaman Kabupaten Serang) yang dilaksanakan pada tahun 2009 menyebutkan bahwa nilai dugaan rataan WTA untuk setiap pohon yang terikat kontrak pembayaran jasa lingkungan pertahun adalah sebesar Rp. 5.056,98. Jika dilakukan penyesuaian nilai pembayaran terkait nilai rata-rata WTA masyarakat, dengan jumlah pohon sebanyak 500 pohon per ha, maka nilai pembayaran yang harus diserahkankepada penyedia jasa lingkungan adalah Rp 2.528.490,00 per ha per tahun. Nilai ini merupakan nilai pembayaran yang ingin diterima oleh masyarakat. Total WTAresponden diperoleh nilai sebesar Rp 217.450,00 per pohon per tahun. Mengacu pada jumlah pohon yang terdapat di lokasi penyedia jasa lingkungan, maka diperoleh nilai sebesar Rp 2.718.125.000,00. Nilai tersebut merupakan nilai perbaikan kualitaslingkungan hutan terhadap jasa hidrologi di lokasi model pembayaran jasalingkungan Desa Citaman.
2
METODE
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di desa yang terlibat dalam jejaring kelembagaan kemitraan pembayaran jasa lingkungan baik yang masih berjalan ataupun yang telah berhenti. Lokasi desa tersebut meliputi: desa Citaman, Ujung Tebu, Cibojong, desa Kadu Agung yang terletak di Kabupaten Serang, dan desa Cikumbuen, Ramea, Panjang jaya yang terletak di Kabupaten Pandenglang. Penelitian di lapangan dilakukan bulan Maret sampai dengan Mei 2013.
Metode Pengumpulan Data
Pendekatan Studi
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus, yang bertujuan menjelaskan atau memahami makna (meaning) di balik realitas dalam mempelajari gejala-gejala sosial yang dapat memberikan gambaran secara detail tentang latar belakang, karakter-karakter yang khas dari kasus, ataupun status dari individu sehinggga mampu menggambarkan keadaan yang sebenarnya (naturalistik) dilapangan (Nasir 2003; Irawan 2006; Slamet 2006; Idrus 2009).
Teknik Pengumpulan Data, Jenis dan Sumber Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik wawancara, observasi dan dokumentasi/studi topik literatur. Untuk validasi data digunakan teknik triangulasi (Sugiyono 2010; Bungin 2011).
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh langsung dari responden atau informan kunci melalui pendekatan wawancara secara mendalam dengan pertanyaan-pertanyaan terkait topic data penelitian. Data sekunder diperoleh melalui studi pustaka, laporan instansi terkait, gambar-gambar, peta dan dokumen lainnya. Secara rinci dijelaskan sebagai berikut :
a) Wawancara mendalam (in-depth interview), dimaksudkan untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka, dimana pihak yang diajak wawancara diminta pendapat dan ide-idenya (Sugiyono 2010). Interviewer membuat garis besar pokok-pokok pembicaraan, namun dalam pelaksanaannya interviewer mengajukan pertanyaan secara bebas, tidak perlu secara berurutan dan pemilihan katanya juga tidak baku tetapi dimodifikasi pada saat wawancara berdasarkan situasinya (Satori dan Komariah 2009).
kesan-kesan pribadi, misalnya merasakan suasana situasi sosial, dan mempunyai kesempatan mengumpulkan data yang lebih banyak, lebih terinci dan lebih cermat. Dengan teknik ini peneliti juga dapat menemukan hal-hal yang tidak terungkapkan oleh responden dalam teknik lainnya, sehingga dapat sebagai dasar klarifikasi berbagai informasi yang telah diperoleh.
c) Studi dokumentasi, dilakukan untuk melengkapi hasil kajian dari penggunaan pendekatan observasi dan wawancara. Menurut Sugiyono (2010) kedua pendekatan tersebut akan lebih kredibel/dapat dipercaya kalau didukung oleh studi dokumentasi, bisa berbentuk tulisan, gambar atau karya-karya monumental dari seseorang. Mengacu pada Bungin (2011) dokumen dibagi menjadi dua, diantaranya : 1) dokumen pribadi yang merupakan catatan atau karangan seseorang secara tertulis tentang tindakan, pengalaman dan kepercayaannya; 2) dokumen resmi yang terbagi atas dokumen interen berupa memo, pengumuman, instruksi, aturan lembaga, risalah atau laporan rapat, kovensi dan dokumen eksteren berupa bahan-bahan informasi yang dikeluarkan suatu lembaga seperti majalah, bulletin, pengumuman, berita-berita yang disebarkan ke media massa.
Penentuan Informan
Informan/responden dalam penelitian ini ditentukan secara sengaja (purposive sampling) dengan tetap memperhatikan aspek posisi dan peran mereka dalam organisasinya masing-masing, yaitu FKDC selaku fasilitator dan sumber informasi, kelompok tani selaku agen, PT KTI selaku prinsipal dan dari pihak pemerintah/dinas-dinas yang terkait dengan kebijakan pengelolaan DAS Cidanau. Informan kunci (key informan) ditentukan dengan menggunakan teknik snowball sampling, dimulai dari satu orang yang memiliki pemahaman memadai tentang permasalahan yang diteliti, kemudian orang tersebut memilih informan lain dan begitu seterusnya hingga tidak ditemukan lagi variasi informasi (Slamet 2006). Jumlah informan ditentukan berdasarkan kecukupan dan kejenuhan data dan informasi yang telah ditetapkan sebelumnya. Sumber dan jumlah informan kunci dalam penelitian ini berjumlah 33 orang yang terdiri sebagaimana tercantum dalam Tabel 1.
Analisis Data
Analisis data dalam rangka pengembangan kelembagaan kemitraan untuk mewujudkan pola kemitraan yang diinginkan secara umum mengacu kepada analisis Pengembangan Institusi (IAD) yang dikembangkan oleh Ostrom (2008) dengan mendeskripsikan kondisi biofisik, karakterstik komunitas, aturan yang digunakan, pemahaman arena aksi dan pola interaksi, dengan menggunakan konsep agency theory khususnya principal – agent dan menjadi dasar pada kriteria evaluasi.
Analisis isi peraturan
material tersebut secara konsisten (Patton 2002 dalam Zhang dan Wildemuth, 2009). Analisis ini digunakan untuk memperoleh deskripsi hubungan antara isi peraturan perundangan dengan fokus kajian penelitian.
Tabel 1. Informan kunci dan jumlah informan kunci yang dipergunakan dalam penelitian
No Informan kunci Jumlah
(orang)
1 FKDC 3
2 Petani penyedia jasa lingkungan 17
3 Pejabat PT KTI 1
4 Pejabat Bappeda Prop. Banten 1
5 Pejabat Dinas Kehutanan Prop. Banten 2
6 Pejabat BLHD Prop. Banten 1
7 Pejabat Dinas Pertanian dan Peternakan Prop. Banten
1
8 Pejabat BLH Kabupaten Serang 2
79 Pejabat BLH Kabupaten Pandenglang
10 Pejabat Dinas Pertanian, Kehutanan, Perkebunan dan Peternakan kabupaten Serang
1 11 Pejabat Dinas Kehutanan dan Pertanian
Kabupaten Pandenglang
1
12 Pejabat BPDAS Citarum Ciliwung 1
13 Pejabat KSDA Seksi Wilayah I Serang 1
14 NGO (Rekonvasi Bhumi) 1
.
Analisis Deskriptif Kualitatif
Analisis deskriptif kualitatif dilakukan dengan mengumpulkan, merangkum serta menginterpretasikan data-data berbagai kondisi lapangan, yang selanjutnya diolah kembali sehingga dapat menghasilkan gambaran yang jelas, terarah dan menyeluruh mengenai fakta-fakta serta hubungan antar fenomena yang menjadi fokus penelitian (Sugiyono 2010; Slamet 2006)
Analisis Stakeholder
Gambar 3 Matriks stakeholder dan pengaruh tingkat kepentingannya (Reed et al. 2009)
dan pengaruh tinggi, 4) stakeholder crowd yaitu stakeholder yang memiliki tingkat kepentingan yang rendah dan pengaruh rendah, seperti pada Gambar 3. Analisis dimulai dengan identifikasi stakeholder yang diperoleh dari hasil wawancara dengan metode snowball sampling.
Secara rinci data/informasi, sumber data, teknik pengumpulan data, teori yang digunakan, metode analisis, sumber acuan dan output sesuai dengan masing-masing tujuan penelitian tersaji pada Tabel 2.
3
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
Letak DAS Cidanau
Secara geografis Daerah Aliran Sungai (DAS) Cidanau terletak diantara
105°49’00’’ - 106°04’00’’ Bujur Timur 06°07’30’’-06°18’00’’ Lintang Selatan, dengan luas 22.620 ha. Dimana batas topografi DAS Cidanau adalah sebelah utara berbatasan dengan Gunung Tukung Gede dan Saragean, di bagian timur berbatasan dengan Gunung Pule dan Karang, Sebelah Selatan berbatasan dengan Gunung Aseupan, Sangkur dan Condong, dan di sebelah Barat berbatasan dengan selat Sunda. Secara administratif, DAS Cidanau terletak pada Kabupaten Serang dan Kabupaten Pandenglang.
Kabupaten Serang meliputi 5 kecamatan yaitu Kecamatan Cinangka, Mancak, Padarincang, Ciomas, dan Gunungsari. Sedangkan Kabupaten Pandeglang meliputi satu Kecamatan yaitu Mandalawangi.
Tabel 2. Matriks penelitian kelembagaan kemitraan hulu hilir untuk pasokan air DAS Cidanau
No Tujuan Data/informasi Sumber data Teknik
Pengumpulan
2 Mengkaji situasi aksi dan kelembagaan kemitraan
- Peran dan keterlibatan para pihak
Kependudukan dan Mata Pencaharian
Berdasarkan Kecamatan dalam angka tahun 2011, luas dan jumlah penduduk di Kecamatan yang masuk area PJL seperti tertera pada Tabel 4. Dari tabel tersebut dapat diketahui luas wilayah terkecil kecamatan yang masuk dalam areal PJL adalah Kecamatan mandalawangi yakni 15,41 km² 45851 jiwa sedangkan yang terluas adalah Kecamatan Padrincang dengan luas 99,12 km² dengan jumlah penduduk 61275 jiwa.
Tabel 3. Luas kecamatan, jumlah penduduk dan mayoritas mata pencaharian di area PJL
Sumber mata pencaharian penduduk di beberapa lokasi penelitian dibedakan atas sektor pertanian dan bukan pertanian. Dan sektor inilah yang menjadi sumber nafkah untuk kebutuhan hidup sehari hari dan kebutuhan lainnya di desa tersebut. Prosentase pekerjaan di desa Cikumbuen adalah 64% sebagai petani pemilik lahan, 12% sebagai buruh tani, pedagang 18%, PNS 4%, dan lain-lain 2%, lain-lain seperti supir, buruh bangunan, wirausaha dari jumlah penduduk 1793 jiwa. Di desa Cibojong jumlah penduduk sebanyak 3931 jiwa dengan prosentase petani pemilik lahan 63%, buruh tani 12%, pedaganng 15%, PNS 5%, dan lain-lain 5%. Dari Jumlah penduduk desa Citaman 2356 jiwa petani pemilik lahan 68,48%, buruh tani 23,35%, pedagang 3,70%, pns 0,58% sisanya pengrajin, buruh bangunan, wiraswasta, supir. Di desa Ujung Tebu
No Nama
Kecamatan
Luas Wilayah
(km²)
Jumlah Penduduk Mata Pencaharian
(mayoritas) Perem-
puan
Laki-laki
1 Padarincang 99,12 30761 30514 Petani
2 Mandalawangi 15,41 22513 23338 Petani
3 Ciomas 48,53 17930 19171 Petani
petani pemilik lahan 60%, buruh tani 21%, pedagang 8%, PNS 3% dan lain lain 8% dari jumlah penduduk sebanyak 4237 jiwa. Gambaran prosentase mata pencaharian di 4 desa tersebut disajikan pada Gambar 5.
4
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Faktor Fisik, Atribut Komunitas Petani dan Peraturan yang Digunakan dalam Kelembagaan Kemitraan Hulu-Hilir untuk Pasokan
Air DAS Cidanau Saat Ini
Hak Kepemilikan Lahan, Pola Pemanfaatan dan Pengelolaan Lahan
Atribut kondisi fisik/material dan sistem sumberdaya mempengaruhi bagaimana aturan ditetapkan, karena menentukan batasan dan kemungkinan dari sumberdaya tertentu yang akan berdampak pada perolehan insentif (Ostrom, 2008). Salah satu syarat yang paling penting untuk pengembangan mekanisme PJL ini adalah status kedudukan kepemilikan lahan, karena kepastian hak milik akan memberikan jaminan pada investor akan keamanan dan keberlangsungan investasi dalam pengelolaan sumberdaya, dalam hal ini vegetasi dilahan masyarakat. Yustika (2008) menyatakan bahwa hal penting untuk dipertegas sehingga setiap pengelola/pemiliknya mempunyai insentif untuk memakai dan melindungi hak kepemilikannya adalah kepastian atas hak kepemilikan. Menurut Bromley (1991) dalam Dick dan Gregorio (2004) hak kepemilikan dapat didefinisikan sebagai kapasitas untuk menyatakan atas kolektif penunjukan atas klaim seseorang pada suatu aliran manfaat. Hak kepemilikan memainkan peranan penting dalam mendefiniskan hak dan kewajiban atas eksternalitas dari praktek-praktek pengelolaan vegetasi (Ostrom 2004).
Status kedudukan kepemilikan lahan masyarakat yang masuk dalam mekanisme PJL di DAS Cidanau mayoritas adalah private property (hak milik pribadi) sehingga masyarakat mempunyai hak mutlak atas lahannya, otonom dalam mengambil keputusan, seperti yang dikemukakan oleh Schlager dan Ostrom (1992) bahwa untuk segala tipe hak yakni hak akses dan pemanfaatan, hak pengelolaan, hak esklusi dan hak pengalihan terikat/melekat pada hak milik pribadi atas lahan. Sehingga pemilik memiliki oppurtunity cost memilih yang besar untuk menentukan bekerjasama dengan siapa ataupun tidak, dan lain sebagainya. Nama kelompok tani masing-masing desa yang masuk dalam mekanisme dan hak kepemilikannya diringkas sebagaimana terangkum pada Tabel 4.
Tabel 4. Kepemilikan lahan kelompok tani penyedia jasa lingkungan DAS Cidanau
Sumber : Diolah dari hasil wawancara dan data kelompok tani DAS Cidanau FKDC, 2004 – 2011
Tabel 4 menunjukkan bahwa lahan yang mendapatkan pembayaran jasa lingkungan sebagian besar merupakan hak milik pribadi (private property),
No Kabupaten/ kisaran luasan 0,10 s.d 2 ha
3 Cibojong Karya kisaran luasan 0,10 s.d 1 ha
8 Ramea Alam
Sejahtera
hanya ada beberapa yang merupakan penggarap seperti yang tersebut satu orang di Desa Kadu Agung dan satu orang di Desa Cikumbuen dengan luas garapan 0,204 ha. Dengan hak kepemilikan yang jelas maka memudahkan pihak buyer untuk memutuskan berinvestasi pada pohon dilahan masyarakat dan sebagai jaminan keamanan dari investasi mereka sehingga mengarahkan kepada hasil manajemen yang efisien (Swanso dan Timo 2000; Place et al. 2004).
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi pola pemanfaatan lahan komunitas petani penyedia jasa lingkungan mayoritas adalah berupa kebun dengan komoditas yang ditanam oleh para petani dengan kombinasi antara tanaman tahunan dan musiman yang terdiri dari tanaman buah-buahan dan kayu-kayuan serta sawah. Hal yang menarik dari pola pemanfaatan lahan pada komunitas petani penyedia jasa lingkungan adalah tidak seluruh desa lahannya sebagian dimanfaatkan untuk sawah dan demikian juga dengan desa yang lain yang menjadikan lahannya hanya sebagian kecil untuk kebun dibanding sawah. Lahan di Desa Cikumbuen keseluruhan merupakan kebun, karena padi tidak dapat tumbuh subur seperti di desa Ramea yang rata-rata lahan petaninya didominasi oleh sawah. Bahkan di Desa Citaman sejarah penggunaan lahannya adalah untuk sawah padi gogo namun digantikan dengan tanamana kayu-kayuanan dan buah-buahan karena dianggap penjualan hasil tanaman tersebut lebih besar dibanding dengan padi gogo. Hal yang sama untuk pemanfaatan lahan di desa Kadu Agung dan Cibojong yang dominan berupa kebun.
Teknik pengelolaan pada pola pemanfaatan lahan tersebut masih belum optimal, berdasarkan pengamatan pemanfaatan lahan bawah masih dipenuhi oleh semak belukar dan ilalang. Apabila diterapkan sistem agroforestri sebagai pengelolaan lahan akan menghasilkan manfaat yang lebih besar baik secara ekonomi masyarakat ataupun lingkungan (Place et al. 2004). Contoh tegakan vegetasi di lahan petani dan gambaran pemanfaatan bawah tegakan seperti ditunjuk pada Gambar 6 dan 7.
Jenis tanaman yang banyak ditanam masyarakat/dominan berupa jenis tanaman kayu-kayuan ataupun buah-buahan yang masuk di dalam ataupun di luar PJL dan yang menjadi komoditas di beberapa lokasi (Tabel 5).
Meskipun belum ada penelitian yang menunjukan hubungan pasti antara jenis tanaman campur seperti yang tersebut diatas dengan kapasitas infiltrasi namun secara umum menurut Arsyad (2010) menjelaskan bahwa penggunaan tanah dengan golongan vegetasi permanen (hutan lebat dengan semak dan serasah, kebun tanaman tahunan dengan vegetasi penutup tanah) mempunyai efisiensi relatif besar dalam fungsi pencegahan erosi dan memperbaiki kapasitas infiltrasi tanah dan penahanan air yang langsung mengurangi aliran permukaan. Atribut Komunitas Petani Hutan
Atribut dari masyarakat yang mempengaruhi arena aksi, meliputi nilai-nilai perilaku yang dapat diterima secara umum dalam komunitas, tingkat pemahaman umum dari partisipan tentang tatanan tipe arena aksi tertentu, tingkat homogenitas pilihan dan distribusi sumberdaya antara faktor-faktor yang dipengaruhi tersebut (Ostrom 2008).
Masyarakat di Desa yang menjadi lokasi PJL pada umumnya merupakan petani, yaitu menanam tanaman buah-buahan, kayu-kayuan atau menanam padi di ladang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Masyarakat yang masuk sebagai penyedia jasa lingkungan tergabung dalam komunitas petani hutan yang terbagi menjadi kelompok-kelompok tani. Jumlah satu kelompok terdiri dari 29 orang bahkan ada yang terdiri dari 77 orang dengan luasan lahan masing-masing 25 ha (Tabel 4). Keseluruhan jumlah kelompok tani yang masuk dalam PJL (baik masih berjalan ataupun tidak) adalah 8 kelompok, sedangkan yang masih berjalan hingga periode akhir perjanjian kemitraan tahun ke-2 ini hanya 5 kelompok.
Tabel 5. Jenis Tanaman Dominan di Lahan Komunitas Petani Hutan Sengon (Paraserianthes falcataria), Melinjo (Gnetum gnemon), Durian (Durio zibethinus), Pete (Parkia speciosa), Cengkeh (Eugenia aromatica), Kelapa (Cocos nucifera), Kopi (Coffea robusta) dan Pisang (Musa paradisiaca).
2 Karya Muda III Meranti (Shorea spp), Sobsi (Maesobsis eminii), Sengon (Paraserianthes falcataria), Melinjo (Gnetum gnemon), Durian (Durio zibethinus), Pete (Parkia speciosa), Cengkeh (Eugenia aromatica), Kelapa (Cocos nucifera), Kopi (Coffea robusta) dan Pisang (Musa paradisiaca).
3 Karya Bersama Sengon (Paraserianthes falcataria), Mindi (Melia Azedarach), Pete (Parkia speciosa), Melinjo (Gnetum gnemon), Durian (Durio zibethinus) dan Kelapa (Cocos nucifera).
4 Karya Bakti Meranti (Shorea spp), Sobsi (Maesobsis eminii), Sengon (Paraserianthes falcataria), Melinjo (Gnetum gnemon), Durian (Durio zibethinus), Pete (Parkia speciosa), Cengkeh (Eugenia aromatica), Kelapa (Cocos nucifera), Kopi (Coffea robusta) dan Pisang (Musa paradisiaca).
5 Harapan Maju Meranti (Shorea spp), Sobsi (Maesobsis eminii), Sengon (Paraserianthes falcataria), Melinjo (Gnetum gnemon), Durian (Durio zibethinus), Pete (Parkia speciosa), Cengkeh (Eugenia aromatica), Kopi (Coffea robusta), Pisang (Musa paradisiaca) dan Kakao/Coklat (Theobroma Cacao)
6 Alam Sejahtera Pisitan (Dysoxylum caulostachyum Miq), Sobsi (Maesobsis eminii), Melinjo (Gnetum gnemon), Durian (Durio zibethinus), Rambutan (Nephelium lappaceum), Pete (Parkia speciosa), Cengkeh (Eugenia aromatica), Kopi (Coffea robusta), dan Pisang (Musa paradisiacal).
7 Agung Lestari Sengon (Paraserianthes falcataria), Pete (Parkia speciosa), Melinjo (Gnetum gnemon), Nangka (Artocarpus heterophyllus), Pisang (Musa paradisiacal) dan Kelapa
8 Alam Lestari Meranti (Shorea spp), Sobsi (Maesobsis eminii), Sengon (Paraserianthes falcataria), Melinjo (Gnetum gnemon), Durian (Durio zibethinus), Pete (Parkia speciosa), Manggis (Gabcinia mangostana L) Cengkeh (Eugenia aromatica), Kopi (Coffea robusta), Pisang (Musa paradisiacal) dan Coklat (Theobroma Cacao)
Berdasarkan hasil wawancara diketahui sebagian besar para petani menjadikan hasil kebun dan sawahnya sebagai sumber kehidupan. Buah-buahan hasil panen dapat menambah pendapatan masyarakat yang digunakan untuk kehidupan sehari-hari, menyekolahkan anak ataupun untuk ditabung. Jumlah pendapatan tiap-tiap petani bervariasi yang tergantung dari luasan lahan yang mereka miliki dan jumlah pohon penghasil buah-buahan yang ada. Semakin banyak pohon penghasil buahnya maka semakin besar penghasilan yang diperoleh.
Contoh hasil pernyataan beberapa informan yang menggambarkan kondisi lahan dan jumlah pendapatan yang diperoleh dari hasil kebun atau sawah yang dimiliki sebagai berikut :
Petani yang lahannya keseluruhan berupa kebun dan luasan kurang dari 2 ha rata-rata penghasilan yang diperoleh dengan 500 pohon melinjo/tangkil setahun dapat menghasilkan 5 kwintal buah yang dihargai Rp 2.500/kg, pucuk daun melinjo seminggu bisa dua kali panen 10 sampai 15 kg yang dihargai Rp 2.500/kg. Pohon Pete sekali musim menghasilkan 5 ikat yang dihargai seikat Rp 80.000, sehingga dari Pete memperoleh penghasilan Rp 450.000. Selain itu dari hasil panen 400 buah Durian memperoleh pendapatan Rp 3000.000 sampai Rp 4000.000. Sumber pendapatan selain hasil penjualan buah-buahan yakni dari hasil pemanfaatan lahan bawah tegakan seperti Kapulaga yang dapat dipanen sebulan 3 sampai 4 kali, sekali panen 10 Kg Kapulaga basah dihargai Rp 3.000 per kilo. Panen Kapulaga biasanya dilakukan petani saat menyiangi rumput, membersihkan lahan mereka. Sedangkan hasil Nangka dan Pisang hanya untuk dimakan sehari-hari.
Seluruh penghasilan tersebut diatas digunakan untuk biaya kebutuhan sehari-hari, untuk bayar anak sekolah, bayar listrik dan selebihnya ditabung. Penjualan kayu jarang dilakukan karena petani berpedapat bahwa tanaman buah-buahan adalah sumber penghidupan, dengan asumsi bila 1 pohon Pete yang berdiameter besar hanya di beli Rp 200.000, apabila pohon tersebut panen akan menghasilkan 5 ikat, dan apa bila seikat Rp 80.000 maka penghasilan yang diperoleh lebih besar dan terus menerus.
Jumlah penghasilan akan berbeda dengan petani yang lahannya dominan sawah, karena pemanfaatan lebih banyak untuk sawah sehingga jumlah pohon penghasil buah-buahan akan lebih sedikit. Seperti halnya informasi dari salah satu informan yang berada di desa Ramea bahwa penghasilan dari menjual buah-buahan berupa rambutan yang setahun 2 kali panen, 100 ganting diperoleh setiap panen yang dihargai Rp 600.000, dari hasil kelapa petani dapat menjual 100 sampai 300 butir yang diperoleh dari 2 kali panen dalam sebulan yang dihargai perbutirnya Rp 3.000 per butir.
Sengon yang bukan merupakan tanaman penghasil buah dan tidak termasuk dalam aturan PJL.
Kondisi tersebut diatas akan berbeda bagi petani yang mempunyai lahan lebih dari 4 ha dan mempunyai pekerjaan bulanan tetap. Bagi pemilik lahan tanaman tahunan atau musiman yang ada dilahan mereka untuk meningkatkan pendapatan jangka panjang dan menambah kekayaan. Kondisi tersebut terungkap dari hasil pernyataan salah satu informan yang berada di Desa Cibojong yang telah terhenti kontraknya. Gaji tetap yang diperoleh setiap bulannya adalah sebesar Rp 2.500.000, hasil penjualan buah sebesar 4 juta rupiah dari dari 8 pohon duren yang menghasilkan 100 buah per pohon setiap musim. Pendapatan tersebut digunakan untuk biaya anak sekolah, untuk membeli motor, memperbaiki dan mencicil mobil. Apabila membutuhkan uang maka petani tersebut akan menebang dan menjual tanaman kayu yang ada dilahan seperti Mahoni, Sengon dan Sobsi pada tengkulak. Penjualan kayu dianggap memberikan penghasilan yang lebih besar dan cepat, seperti yang pernah diperolehnya dari hasil penjualan tersebut yakni sebesar Rp 80.000.000, bahkan tak jarang tanah atau lahan mereka dijual untuk memenuhi kebutuhan lainnya.
Berdasarkan gambaran beberapa kasus diatas dapat diketahui bahwa jika petani sangat tergantung dari hasil sumber daya hutannya maka akan cenderung memilih mempertahankan pohon-pohon dilahannya karena merupakan sarana penting sebagai sumber penghidupan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga sehari-hari dan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Sebaliknya bagi petani yang kehidupannya tidak mutlak tergantung dari sumber daya hutannya maka mereka cenderung akan mengorbankan tegakan yang ada dilahan mereka sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, meningkatkan pendapatan dan menambah kekayaan. Sehingga keduanya mempunyai opportunity cost memilih yang berbeda, sebagai sebuah hakikat pemilikan pribadi (private property) yang memiliki kebebasan otonom dalam mengambil keputusan/tindakan terhadap lahan mereka baik untuk hak akses, hak pemanfaatan, hak pengelolaan ataupun hak untuk eksklusi dan hak untuk menjual/hak pengalihan (Schlager dan Ostrom 1992).
Hal lain yang merupakan salah satu atribut komunitas masyarakat seperti yang disebutkan Ostrom (2008) adalah tingkat pemahaman dari partisipan, dalam hal ini adalah komunitas petani hutan yang menjadi penyedia jasa lingkungan. Tingkat pemahaman komunitas petani terhadap PJL ini relatif berbeda, hal ini didasarkan pada hasil wawacara 17 petani yang tersebar di beberapa desa yang masuk dalam mekanisme PJL, baik yang masih berjalan atau telah putus kontrak. Meskipun kesimpulan ini tidak didukung oleh data kuantitatif, namun secara kualitatif fakta-fakta yang diperoleh dari kelompok masyarakat yang mengemukakan pendapat dan menjawab beberapa persoalan dalam diskusi dan wawancara menunjukkan kondisi tersebut.
Secara ringkas ada tiga pemahaman masyarakat tentang kemitraan PJL dan manfaat yang mereka terima yakni sebagai berikuti :
sampai hilir, dan berdasarkan pengalaman bahwa saat musim kemarau mereka tidak kekurangan air lagi, malah bisa memberi desa lain yang kekurangan air, tidak ada banjir dan longsor karena tidak ada lahan yang gundul. Disamping itu petani merasa bersyukur karena terbantu dengan adanya pembayaran tersebut bahwa menanam dilahan sendiri tapi memperoleh pembayaran yang bisa digunakan untuk tambahan biaya anak sekolah, ditabung dan mengasapi dapur.
2. Pembayaran jasa lingkungan merupakan cara untuk berbagi rasa, saling mengontrol satu sama lainnya untuk menjaga pohon yang masuk dalam perjanjian tidak ditebang, selain mereka memperoleh penghasilan dari tanaman di lahan mereka sendiri.
3. Pembayaran jasa lingkungan merupakan cara untuk memperoleh tambahan pendapatan karena manfaatnya adalah uang yang diterima untuk tanaman yang berada dilahan mereka sendiri.
Tingkat pemahaman beragam ini lah yang akan melahirkan perbedaan motivasi dalam melanjutkan kemitraan. Dengan tingkat pendidikan yang sama namun terdapat kesenjangan pengetahuan diantara keduanya. Hal ini dimungkinkan karena pembinaan atau penyuluhan tentang pentingnya pengelolaan lingkungan, pengelolaan vegetasi terhadap keberlanjutan sumber daya air pada kelompok tani tidak sama intensifnya antara kelompok satu dengan kelompok yang lain. Hal tersebut tergambar jelas pada informan petani di desa Citaman dengan informan petani di desa lainnya. Usaha- usaha pembinaan, penyuluhan dan pendidikan non formal lainnya secara intensif akan meningkatkan kualitas manusia untuk mengoptimalkan potensi SDM, melalui kelompok tani (Soekartawi 1995). Disamping itu Hariadi (2005) menyatakan bahwa dengan penyuluhan dan pembinaan yang intensif dapat mendorong peningkatan self efficacy yang nantinya akan mendorong perubahan prinsip
petani dari usaha tani yang “meminimalkan resiko” menjadi prinsip usaha tani yang ” memaksimalkan keuntungan”, sehingga akan meningkatkan produktivitas hasil taninya dan dapat meningkatkan pendapatan anggota kelompok tani, karena keberhasilan suatu kegiatan disebabkan oleh keberhasilan belajar dalam kelompok, salah satunya lewat penyuluhan dengan kuantitas serta kualitas yang cukup.
Peraturan Perundang-undangan dan Peraturan Non Formal yang Terkait dengan Pengelolaan Jasa Lingkungan
Undang-undang, Peraturan Pemerintah dan Peraturan Daerah yang di dalamnya terdapat indikasi perlunya keterlibatan berbagai pihak dalam pengelolaan DAS atau pengelolaan lingkungan dan instrumen ekonomi yang diperlukan untuk mendukung upaya pengelolaan lingkungan dan dan mekanisme pembayaran jasa lingkungan di DAS Cidanau., serta peraturan non formal lainnya, dirangkum dalam Tabel 6.
Tabel 6. Peraturan perundangan-undangan dan peraturan non formal yang terkait pembayaran jasa lingkungan di DAS Cidanau
Peraturan Perundangan dan Peraturan Non formal lainnya
Kaitan
UU No 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air
Keterpaduan dalam pengelolaan sumber daya dan instrumen biaya (pasal 77 ayat 3 butir c, pasal 80 ayat 3)
UU No 41 tahun 1999 tentang Kehutanan jo UU No. 19 tahun 2004
Pemanfaatan jasa lingkungan pada hutan lindung dan produksi (pasal 30)
UU No 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang
Pemberian insentif/disentif pada pemanfaatan ruang yang sesuai dengan rencana dengan tata ruang wilayah (ps 38 ayat 1), berupa insentif penghargaan pada masyarakat, swasta, atau pemda (ps 38 ayat 2,4,5)
PP No 6 tahun 2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan serta Pemanfaatan Hutan jo PP No 3 tahun 2008
Pemanfaatan hutan dapat berupa pemanfaatan jasa lingkungan (ps 17 ayat 2 butir b), dapat dilakukan pada hutan konservasi, hutan lindung dan hutan produksi (ps 18), kegiatan pemanfaatan jasa lingkungan (ps 23, 25, 31 (2) butir b, 33 (1((2)
UU No 32 tahun 2009 tentang PPLH
Pengembangan intrumen ekonomi dan pengakuan terhadap mekanisme pasar (ps42 (1), ayat 2 butir c, ps 43 (1)
PP No 37 tahun 2012 tentang Pengelolaan DAS
Peran para pihak, pengembangan kelembagaan dan sumber dana dalam penyelenggaraan pengelolaan DAS (Pasal 39 (a)(d), ps 40(1), ps 67(1)(2) revisi juknis pengelolaan jasa lingkungan di DAS Cidanau
Pengaturan mekanisme pembayaran jasa lingkungan dan tugas koordinator jasa lingkungan yang disebut LPJL
Kontrak 1. FKDC dan PT KTI
2. FKDC dan Kelompok tani
1. Perjanjian antara Forum Komunikasi DAS Cidanau3 dengan PT KTI selaku buyer yang berisi tentang ketentuan umum, dasar, maksud dan objek perjanjian, lingkup kesepakatan, jumlah pembayaran jangka waktu perjanjian, hak dan kewajiban, yang didasarkan pada Naskah Kesepahaman antara FKDC no:001/FKDC/NK-PJL/X/2004 dengan PT KTI no: 28/HK.00/KONTR./DU- KTI/XI/2004 tanggal 1 Oktober 2004. Mekanisme ini telah berjalan untuk lima tahun kedua (2010 – 2014) pada azas kesukarelaan (voluntary agreement).
2. Perjanjian antara FKDC dan Kelompok Tani, yang berisi tentang ruang lingkup kontrak, syarat penyedia jasa lingkungan, masa berlaku perjanjian, tata cara pembayaran, persyaratan pembayaran jasa lingkungan dan konsekuensi. Dalam perjanjian ini disebutkan bahwa komunitas bersedia membangun, memelihara dan mempertahankan tanaman jenis kayu-kayuan dan buah-buahan kecuali jenis polong-polongan dan kriteria tanaman lainnya. Salah satunya adalah ketentuan tentang jumlah tanaman tidak kurang dari 500 batang per hektar selama masa kontrak. Apabila jumlah pohon yang terdapat dalam areal dinyatakan kurang oleh Tim verifikasi maka secara tanggung renteng kelompok tani tersebut tidak akan menerima pembayaran jasa lingkungan untuk periode yang sudah jatuh tempo. Walau demikian sebenarya ada ketentuan penjarangan yang boleh dilakukan, yaitu tahun ke 3 minimal pohon yang ada diareal sebanyak 200 pohon, tapi ketentuan dan persyaratan hal tersebut belum tertuang dalam juknis ataupun dalam surat perjanjian
Berdasarkan kontrak tersebut maka terdapat hubungan prinsipal agen yang bertingkat, yakni yang pertama PT KTI selaku prinsipal dan FKDC selaku agen; kedua FKDC selaku prinsipal dan kelompok tani hutan sebagai agen.
Selain peraturan perundang-undangan, juknis dan kontrak yang tersebut diatas, sebenarnya terdapat pengetahuan yang merupakan turun temurun dari buyut/kokolot 4 (indigenous knowledge)tentang melestarikan hutan atau menjaga lingkungan, seperti yang diperoleh dari beberapa informan yang menyatakan bahwa sebenarnya melestarikan hutan sudah dilakukan dari buyut atau para kokolot dengan cara yakni :
1. Apa bila menebang pohon maka pucuknya harus ditanam lagi ditempat tersebut, hal tersebut mengisyaratkan bahwa setelah menebang harus ditanam lagi.
2. Menanam bambu dipinggir-pinggir tebing dengan maksud agar tidak longsor.
3. Sebelum ada program tebing di demplot (terasering), petani sudah melakukannya (teras sendiri dikebun) berdasarkan pemahaman orang tua supaya tidak erosi, meskipun bedanya kalau dari pemerintah tanamannya diatas tapi kalau para petani di tanaman penguat dibawah sehingga bila tanaman diatasnya diurug dibawah bisa menahan agar tidak longsor.
3 FKDC adalah lembaga yang dibentuk oleh para pihak yang terlibat dalam pengelolaan dan pemanfaatan
Sumberdaya Alam DAS Cidanau dengan SK Gubernur Banten No. 124.3/Kep.64-Huk/2002 tanggal 24 Mei 2002
4. Adanya ajaran bahwa 12 meter dari parit/selokan tidak boleh digarap, karena kayu atau gege itu punya pemerintah.
Ke 4 ajaran para kokolot yang mengisyaratkan untuk menjaga kelestarian hutan dan lingkungan diatas perlahan mulai bergeser, seiring laju pertumbuhan penduduk dan kebutuhan. Seperti ketentuan no 4 diatas tidak lagi dilaksanakan karena masyarakat beranggapan tanah yang kosong dari pada menganggur lebih baik ditanamin pohon buah-buahan sehingga bisa menghasilkan uang untuk pemenuhan kebutuhan hidup. Hal tersebut merupakan salah satu contoh
pernyataan O’Donoghue et al. (1999) yang dikutip dalam Maila dan Loubser (2003) yang meyatakan bahwa masalah dan isu lingkungan yang menjadi tantangan masa sekarang adalah hasil dari penurunan sistem pemanfaatan indogenous5, karena masyarakat tradisional hidup dalam harmoni alam “nature” yang memiliki pengetahuan tradisional, mengandung kemurnian nilai-nilai alam, yang kemudian secara bertahap terkikis dan hilang.
Berkaitan dengan hal tersebut maka diperlukan instrumen kebijakan/intervensi dari pemerintah untuk pengelolaan lahan milik pribadi sehingga deforestasi di lahan masyarakat tidak semakin besar. Misalnya penggunaan pendekatan pasar melalui perbandingan antara social cost dan private cost antara principal (penentu instrumen) dan agen (pelaksana instrument, dalam hal ini petani), sehingga dengan jaminan/reward yang setara maka dapat mengurangi moral hazard, first mover dan adverser selection yang merupakan kegagalan dari sebuah instrumen (Bowers, 2005). Selaras dengan pendapat Gneezy dan Rustichni (2000) yang dikutip oleh Keser dan Willingner (2007) bahwa insentif yang rendah dapat mempengaruhi partisipan dalam bentuk kontradiktif karena terdapat peluang konflik antara motivasi internal dengan perolehan finansial.
Situasi Aksi dan Kelembagaan Kemitraan Hulu-Hilir DAS Cidanau
Proses Penerapan Inisiatif Mekanisme PJL di DAS Cidanau
Dalam rangka mengoptimalkan penyelenggaraaan pemerintah dalam pengelolaan DAS Cidanau, maka di Propinsi Banten Khususnya untuk DAS Cidanau dibentuk forum koordinasi untuk menyamakan persepsi dalam memprioritaskan pemanfaatan dan peningkatan SDA di DAS Cidanau. Forum koordinasi ini dinamakan Forum Komunikasi DAS Cidanau, yang pertama kali dibentuk tanggal 24 Mei 2002 dengan SK Gubernur Banten No. 124.3/Kep.64-Huk/2002 yang anggotanya terdiri dari para pihak, baik instansi pemerintah, swasta, NGO/LSM, Perguruan Tinggi dan masyarakat. Kemudian SK ini terakhir diperbaharui karena perubahan struktrur organisasi dan sistem kerja dengan SK Gubernur No. 660.05/Kep.317-HUK/2008 dengan tugas pokok diantaranya sebagai berikut :
a. Menampung aspirasi dan kepentingan stakeholder yang meliputi pemeritnah, masyarakat dan dunia usaha;
5
b. Merumuskan berbagai aspek kebijakan yang perlu dikembangkan untuk pengelolaan DAS Cidanau;
c. Menentukan arah, strategi dan prioritas dalam hal pengelolaan DAS Cidanau;
d. Mendorong stakeholder yang terlibat dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam DAS Cidanau untuk melaksanakan model pembayaran jasa lingkungan;
e. Melaksanakan pemantauan dan mengevaluasi aktivitas pengelolaan DAS Cidanau;
Dengan uraian tugas tersebut maka FKDC dibentuk bukan sebagai lembaga jasa lingkungan tetapi lembaga untuk pengelolaan terpadu DAS Cidanau, berdasarkan konsep one river, one plan, one management. Selanjutnya untuk mendukung pembangunan berkelanjutan DAS Cidanau, maka dibangunlah kemitraan hubungan hulu hilir kawasan DAS Cidanau melalui mekanisme6 PJL sebagai salah satu upaya untuk menahan laju deforestasi lahan masyarakat di hulu DAS dan perambahan cagar alam rawa danau yang merupakan permasalahan yang dihadapi, dan akan berdampak pada kerusakan DAS.
Pada awal inisiasi dari hasil penyusunan rencana dan strategi dengan Rekonvasi Bhumi, PSDAL-LP3S dan IIED maka ditetapkan pemilihan 2 lokasi model kegiatan yakni Desa Citaman dan desa Cibojong Kabupaten Serang dengan lahan yang diproyeksikan mendapat transaksi jasa lingkungan masing-masing seluas 25 ha. Pemilihan lokasi didasarkan pada pengaruh aktivitas lokasi terhadap fungsi hutan dan kondisi tata air DAS Cidanau. Sedangkan pemanfaat jasa (buyer) adalah PT KTI yang merupakan satu-satunya pemanfaat air di DAS Cidanau yang diberi izin oleh PEMDA untuk pengambilan air di sungai Cidanau untuk tujuan komersil, sebagai bahan baku air yang akan disuplainya ke berbagai macam industri. Jenis jasa lingkungan yang dijadikan dasar kemitraan antara seller dan buyer adalah sumberdaya air. Sehingga berdasarkan konsep pembayaran jasa lingkungan oleh Wunder (2006) maka persyaratan untuk pembayaran jasa lingkungan telah optimal, karena merupakan suatu transaksi sukarela, telah terdefinisikan dengan baik, melibatkan minimum satu pembeli jasa lingkungan dari satu minimum penyedia jasa lingkungan untuk suatu jasa yang perlu dilestarikan.
Pengelola jasa lingkungan sebelum FKDC membentuk Koordinator Pengelolaan Jasa Lingkungan di dalam struktrur tahun 2006 adalah tim Adhoc. Setelah terbentuknya Koordinator PJL yang selanjutnya disebut Lembaga Pengelola Jasa Lingkugan maka pengelola jasa lingkungan diserahkan sepenuhnya pada bidang ini dengan ketentuan maksimal 5 orang yang terdiri dari keterwakilan dari pemerintah, swasata dan, beranggotakan masyarakat yang terlibat dalam pengelolaan dan pemanfaatan DAS. Segala penggunaan dan pengembangan biaya adalah tugas dan tanggung jawab LPJL, termasuk juga membangun dan mengembangkan skema pembiayaan lain untuk mendukung PJL dan memfasilitasi proses pembangunan dan pengembangan kemitraan hulu
6
Fasilitasi dalam pembangunan dan pengembangan mekanisme ini pada awalnya dilakukan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat Rekonvasi Bhumi bekerjasama dengan PSDAL-LP3ES dan