FKDC KOMUNITAS PETANI HUTAN PENYEDI JASA LINGKUNGAN KONTRAK KONTRAK
Tabel 7 Periode dan status kontrak kelompok tani penyedia jasa lingkungan di DAS Cidanau
Nama Kelompok Tani
Periode kontrak (tahun)
Status Kontrak Karya Muda II Periode pertama :
tahun 2005 – 2009
Periode kedua : Tahun 2010 - 2014
Periode pertama sampai masa kontrak dan
memperpanjang kontrak, 3 tahun berjalan
Karya Muda III Tahun 2010 - 2014 3 tahun berjalan
Karya Bersama Tahun 2005 - 2009 Putus kontrak tahun 2007 Karya Bakti Tahun 2012 - 2016 1 tahun berjalan
Alam Lestari Tahun 2008 - 2013 Berakhir kontrak Januari 2013 dan tidak melanjutkan Agung Lestari Tahun 2007 - 2011 Putus kontrak tahun 2008 Harapan Maju Tahun 2011 - 2015 2 tahun berjalan
Alam Sejahtera Tahun 2011 - 2015 2 tahun berjalan
Tabel 8. Jumlah pembayaran PT KTI untuk kelompok tani penyedia jasa lingkungan
Uraian
Tahun Pembayaran Per tahun
2005 - 2006 2007 - 2009 2010 - 2014 Jumlah pembayaran 175 juta 200 juta 250 juta Berdasarkan Tabel 7 diketahui bahwa pada 5 tahun pertama kemitraan ada 2 kelompok komunitas petani penyedia jasa lingkungan yang terputus kontraknya yakni kelompok tani Karya Bersama dan Agung Lestari. Sebaliknya kelompok tani Karya Muda II memperpanjang kemitraan untuk 5 tahun kedua. Hingga saat ini ada 5 kelompok tani yang masuk dalam mekanisme PJL yakni kelompok tani Karya Muda II, Karya Muda III, Karya Bakti, Harapan Maju dan Alam Lestari.
Jumlah pembayaran yang telah dibayarkan oleh PT KTI setiap periode meningkat (Tabel 8). Diawal kemitraan sebesar Rp 175.000.000 pertahun untuk 2 tahun, kemudian naik 25 juta menjadi Rp 200.000.000 per tahun selama 3 tahun. Kemudian untuk periode tahun 2010 – 2014 naik sebesar Rp 50.000.000 menjadi Rp 250.000.000 setiap tahunnya. Peningkatan tersebut seharusnya juga relevan dengan pembayaran pada petani penyedia jasa lingkungan, yang seyogyanya mengikuti laju inflasi. Sedangkan besarnya pembayaran yang diberikan LPJL pada petani masih sebesar Rp 1.200.000 per ha per tahun, jumlah tersebut ditetapkan pada tahun 2005. Para petani berpendapat bahwa jumlah tersebut relatif kecil untuk sekarang, dalam arti ukuran tersebut dinilai kurang tepat karena tidak mengikuti laju inflasi. Hal ini tergambar dari beberapa
pernyataan informan dengan membandingkan harga beras pada tahun 2005 se-liter masih Rp 3.000, sedangkan sekarang harga beras se-se-liter Rp 6.000 sampai Rp 7.000. Menurut Kesser dan Willingner (2007) insentif yang rendah menyebabkan perilaku anomali, karena pelaku membutuhkan tingkat minimum keuntungan minimal setara dari biaya yang dikeluarkan.
Persyaratan, Aturan dan Tata Cara Pembayaran
Lahan milik masyarakat yang menjadi produsen jasa lingkungan diharuskan memiliki jumlah tanaman tidak kurang dari 500 (lima ratus) batang per hektar, meskipun dari hasil wawancara rata-rata jumlah pohon di lahan masyarakat dengan luasan 1 ha bisa mencapai 600 pohon, bahkan lebih. Namun pada tahun kedua tanaman diperbolehkan minimal 200 pohon per hektar. Kriteria jenis tanaman yang tertera dan harus dipenuhi dalam surat perjanjian diantaranya :
a. Bukan jenis tanaman polong-polongan (Leguminaceae) kecuali petai;
b. Bukan jenis tanaman yang mempunyai akar serabut kecuali bamboo, dihitung berdasarkan rumpun;
c. Semua jenis buah-buahan kecuali kopi, jeruk dan jambut batu;
d. Mempunya diameter batang minimal 15 cm bagi tanaman yang sudah ada dan minimal 5 cm bagi tanaman baru;
e. Batang tanaman sehat dan terawat
Komposisi tanaman disyaratkan 30% tanaman kayu-kayuan kehutanan dan 70% tanaman buah-buahan. Dengan persentase tanaman buah-buahan lebih besar diharapkan petani dapat memanfaatkan hasil buahnya untuk dimakan atau dijual sebagai pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, jadi tidak hanya tergantung pada nilai pembayaran jasa lingkungan saja. Namun demikian aturan penjarangan dan komposisi tanaman tidak terdapat di surat perjanjian/kontrak ataupun Juknis Pengelolaan Jasa Lingkungan.
Ketentuan lain pada surat perjanjian disebutkan bila tanaman mati karena hama penyakit atau akibat unsur alam maka tanaman tersebut harus diganti dan dibuat berita acara di kelompok dengan diketahui oleh Ketua Koordinator Jasa Lingkungan FKDC. Sama halnya bila tanaman hilang dicuri maka petani harus membuat laporan pencurian kepada pihak berwajib dan memberikan bukti laporan tersebut pada Koordinator Jasa Lingkungan.
Mekanisme pembayaran pada petani oleh LPJL diatur dalam Juknis yakni kelompok tani memberikan surat tagihan pembayaran (30 hari kalender sebelum tanggal jatuh tempo) kepada KPJL, kemudian ditindaklanjuti dengan meminta Ketua FKDC melalui Setjen FKDC untuk menugaskan Tim melakukan verifikasi dengan mengambil 10% dari luas total areal yang dikelola, dari hasil verifikasi maka Ketua FKDC mengeluarkan surat rekomendasi untuk merealisasikan, menolak atau menunda pembayaran pada produsen jasa lingkungan.
Apabila persyaratan telah dipenuhi, maka pembayaran dilakukan dengan tahapan. Untuk tahun pertama pembayaran dilaksanakan 3 kali dengan presentase dan waktu sebagai berikut :
1. Pada saat penanda-tangan, petani memperoleh pembayaran sebesar 40% dari jumlah yang akan diterima untuk 1 tahun;
2. Pembayaran dilakukan pada akhir 6 bulan berdasarkan tagihan pembayaran yakni setelah 14 hari tim verifikasi selesai melaksanakan verifikasi dilapangan dengan besar 30%;
3. Sisa pembayaran sebesar 30% akan dibayarkan pada akhir bulan ke 12 berdasarkan tagihan pembayaran yakni setelah 14 hari tim verifikasi selesai melaksanakan verifikasi dilapangan.
Untuk tahun kedua dan seterusnya pembayaran dilaksanakan sebanyak 2 kali per tahun, yakni sebagai berikut :
1. Pembayaran dilakukan sebesar 40% dari jumlah yang akan diterima dalam satu tahun, pada akhir bulan ke 5 atau paling lambat 14 hari setelah tim verifikasi selesai melaksanakan verifikasi dilapangan berdasarkan tagihan pembayaran dari petani;
2. Sisa pembayaran sebesar 60% akan diterima berdasarkan tagihan pembayaran dari petani pada akhir bulan ke 11 atau paling 14 hari setelah tim verifikasi selesai melaksanakan verifikasi dilapangan.
Apabila saat verifikasi terdapat tanaman yang hilang maka pembayaran akan ditunda dan diberi waktu untuk mengganti tanaman tersebut, bila sampai waktu yang ditetapkan tanaman tersebut belum diganti maka secara tanggung renteng kelompok tersebut akan terputus kontraknya.
Sistem tanggung renteng ini lah yang terjadi pada kelompok tani Karya Bersama di Desa Cibojong dan kelompok tani Agung Lestari di Desa Kadu Agung. Pada kasus kelompok tani Karya Bersama ada anggota yang menebang pohon durian untuk membeli motor anaknya. Hilangnya tanaman tersebut saat verifikasi mengakibatkan penundaan pembayaran. Berdasarkan hasil wawancara pada petani di Desa Cibojong karena penundaan tersebut menimbulkan kekecewaan dan rasa ketidakadilan dikelompok tani terlebih lagi informasi penggantian tanaman tidak disampaikan oleh ketua kelompok taninya, sehingga anggota kelompok yang lain secara bersama-sama menebang pohon-pohon yang ada dilahan mereka, bahkan ada yang menebang habis di lahan 2 ha.
Berdasarkan kasus yang terjadi di Desa Cibojong maka kebijakan tanggung renteng pun perlu dikaji lebih lanjut, karena mungkin maksud kita menyelamatkan lingkungan sebaliknya yang terjadi malah mendorong petani merusak lingkungan. Meskipun kebijakan ini dimaksudkan agar para anggota kelompok bisa saling mengawasi dan mengingatkan, namun banyak faktor-faktor yang mempengaruhi aturan ini dapat berjalan, yaitu salah satunya adalah kekompakan. Dimana kekompakan membutuhkan syarat saling percaya antar anggota ataupun kepercayaan anggota pada pengurus kelompoknya (Hermanto dan Swastika 2011).
Kekompakan di desa Citaman tergambar, dimana terdapat situasi para anggota kelompok tani bersama-sama menyepakati untuk menyisihkan sebagian penghasilan dari uang pembayaran jasa lingkungan untuk menyatuni 22 anak yatim dan 30 janda yang ada di Desa. Selain itu disisihkan juga untuk musholla misalnya beli sajadah. Sedangkan untuk petani yang tidak masuk dalam PJL dan berada didekat dengan lahan yang masuk kontrak diberi juga meski sedikit yang
dianggap untuk uang jaga. Sehingga ada kebijakan yang mereka buat sendiri untuk kesejahteraan bersama dan hal seperti itu yang tidak dimiliki kelompok lain yang bisa membangun kedekatan pribadi. Ini tidak terlepas dari peran kepemimpinan ketua kelompok taninya yang mempunyai figur yang kuat untuk diikuti oleh anggotan lainnya. Karena seorang pemimpin dapat memainkan peran kunci dalam mengatur, memberi pengaruh, serta memperoleh komitmen dari sebuah kelompok terhadap sasaran kerjanya (Laksmidewi 2010).
Hal lain yang dilakukan Ketua Kelompok Tani di Desa Citaman untuk mendorong anggota kelompok saling berkomunikasi dan saling membantu untuk mencapai tujuan yang telah disepakati, maka setiap malam jumat diadakan pengajian rutin untuk seluruh anggota kelompok. Sarana pengajian ini dijadikan para anggota untuk saling bertukar informasi dan mendekatkan ikatan emosional antar anggota tentang adanya pemahaman bersama terhadap kemitraan yang telah terjalin kelompok. Komunikasi yang rutin, keterbukaan dan kejelasan administrasi dalam kemitraan akan mendorong terciptanya kekompakann kelompok serta dapat mengubah pandangan dan pengetahuan seseorang (Kalu 2008; Laksmidewi 2010)
Pemantauan
Pemantauan di lokasi pembayaran jasa lingkungan dilakukan oleh Tim Verifikasi yang ditunjuk oleh Ketua FKDC yang anggotanya merupakan keterwakilan dari unsur pemerintah, pemanfaat jasa lingkungan dan masyarakat, dengan jumlah sekurang-kurangnya 3 orang dan menjadi bagian dari struktur organisasi FKDC.
Pelaksanaan pemantauan dilakukan dengan cara menghitung jumlah tegakan tanaman untuk jenis yang sesuai dengan persyaratan, dan telah diberi nomor. Jumlah tegakan ditentukan dengan sampling tidak kurang dari 10% pada luas kawasan yang mendapat pembayaran jasa lingkungan, dan ditentukan secara acak untuk satu hamparan terterntu.
Hasil pemantauan oleh tim verifikasi ini yang nantinya menjadi dasar untuk menolak, menunda atau merealisasikan pembayaran pada petani penyedia jasa lingkungan. Contoh tegakan pohon yang telah di beri nomor dan menjadi bahan m Pemantauan pembayaran jasa lingkungan yang dilakukan oleh tim verifikasi masih terbatas pada perubahan penggunaan lahan sesuai butir-butir perjanjian yang telah disepakati, bahwa pada tahun pertama 1 ha harus terdiri dari 500 pohon, namun tahun ke dua minimal harus ada 300 pohon dalam 1 ha.onitoring dan evaluasi tim verifikasi seperti tertera pada (Gambar 9). Sedangkan monitoring terhadap hubungan perubahan lahan dengan besarnya jasa lingkungan yang dihasilkan belum dilakukan, karena luasan 150 ha dianggap terlalu kecil untuk memberikan kontribusi nyata pada DAS Cidanau yang mempunyai luasan 22.620 ha, meskipun menurut Pagiola dan Platais (2007) dalam Engel et al. (2008) bahwa ada dua hal yang harus dimonitoring pada pembayaran jasa lingkungan yakni pertama perubahan penggunaan lahan yang telah dilakukan oleh penyedia jasa lingkungan, kedua apakah perubahan penggunaan lahan yang telah dilakukan dapat memenuhi jasa lingkungan yang diinginkan.
Gambar 9 Penomoran pohon pada tanaman yang menjadi pembayaran jasa lingkungan, di Desa Citaman Kabupaten Serang
Pengembangan Kelembagaan Kelompok Tani
Untuk membangun kelembagaan antara kelompok tani penyedia jasa lingkungan serta saling bertukar informasi, maka di bentuk Forum Jejaring Kelompok Tani Hutan tahun 2012 untuk mengkoordinasikan seluruh kelompok tani yang mengikuti mekanisme pembayaran jasa lingkungan.
Tugas forum jejaring ini adalah :
a. Mencari dan menyampaikan informasi peluang pasar dari komoditas yang dihasilkan oleh anggota kelompok, dan aplikasi teknologi terapan; b. Membangun hubungan antar kelompok tani hutan;
c. Memfasilitasi kebutuhan program Kelompok Tani Hutan;
d. Menyampaikan laporan kegiatan sesuai dengan sumber kegiatannya dengan memberikan tembusan pada FKDC serta sebagai
b. Penguatan Sumber Daya Manusia dan Kelembagaan
Contoh kegiatan/program jejaring kelompok tani hutan sebagaimana tertera pada Tabel 9.
Kepengurusan forum jejaring ini terdiri atas perwakilan dari setiap kelompok tani penyedia jasa lingkungan yang ada di DAS Cidanau. Pembentukan forum jejaring ini merupakan pengembangan kelembagaan diantara kelompok tani yang telah ada. Menurut Syahyuti (2007) pengembangan kelembagaan petani merupakan salah satu bentuk pemberdayaan petani, dan harus terdapat dua prinisip yakni Pertama, adalah menciptakan ruang atau peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan dirinya secara mandiri dan menurut cara yang dipilihnya sendiri. Kedua, mengupayakan agar masyarakat memiliki kemampuan untuk memanfaatkan ruang atau peluang yang tercipta tersebut.
Tabel 9 Program Jejaring Kelompok Tani Hutan di DAS Cidanau tahun 2013
Uraian Kegiatan Lokasi
Kesekretariatan (ATK, komputer, printer)
Ujung Tebu
Sosialisasi organisasi dan program Ujung Tebu dan Panjang Jaya Pembuatan Persemaian : Coklat: 1000 batang Cengkeh: 30.000 batang Akasia: 5000 batang Panjang Jaya,Ramea, Cikumbueun,
Citaman, Ujung Tebu Panjang Jaya,Ramea, Cikumbueun,
Citaman, Ujung Tebu Ternak Domba Garut: 180 ekor Semua lokasi
Lebah madu : 30 kulung Semua lokasi Budidaya jamur merang: 6 unit Semua lokasi Budidaya ikan air tawar: 5 paket Semua lokasi Alat semprotan hama : 6 set Semua lokasi Pelatihan – pelatihan
Pertemuan rutin setiap 2 bulan sekali Ujung Tebu bulan Januari 2013 Keterlibatan Para Pihak (stakeholder)
Mayers (2005) menyebutkan bahwa stakeholder adalah mereka yang memiliki hak atau kepentingan dalam suatu sistem. Mereka disini dapat berupa individu, masyarakat, kelompok sosial ataupun organisasi. Analisis stakeholder mempelajari hubungan antara manusia dalam pemanfaatan sumber daya alam dengan cara menilai peran stakeholder ke dalam rights (hak), responsibilities (tanggung jawab), revenues (pendapatan) serta relationship (Mayers 2005; Reed et al. 2009).
Setiap pihak mempunyai peranan masing-masing dalam mendukung terhadap keberlanjutan kemitraan pada pelaksanaan mekanisme pembayaran jasa lingkungan di DAS Cidanau. Peranan para pihak yang terkait langsung dalam pelaksanaan mekanisme pembayaran jasa lingkungan di DAS Cidanau sebagaimana yang tercantum pada Tabel 10.
Berdasarkan Tabel 10 peranan masing-masing pihak telah terdefinisi dengan jelas. Seperti yang disebutkan oleh Pagiola dan Platais (2002) bahwa pengembangan mekanisme PJL mensyaratkan adanya mekanisme pembiayaan dan pembayaran dari penerima pemanfaat kepada penyedia jasa lingkungan. Dari tabel tersebut telah mendefinisikan peran masing-masing dalam mekanisme PJL, yakni pemanfaat jasa lingkungan yang menjadi buyer adalah PT KTI, sedangkan komunitas petani adalah yang menerima pembayaran dari penerima manfaat sebagai penyedia jasa lingkungan (pengguna lahan). Dan untuk menjembatani antar pihak pemanfaat jasa dan penyedia jasa dilakukan oleh FKDC yang berperan sebagai fasilitator/perantara yang bersifat independen dan berfungsi menghubungkan kepentingan pemanfaat dan penyedia jasa dalam melaksanakan transaksi jasa lingkungan.
Tabel 10 Peranan para pihak yang terkait langsung dalam mekanisme pembayaran jasa lingkungan di DAS Cidanau
No Stakeholder/Para Pihak Peranan
1 Komunitas Petani Hutan
Kelompok tani Karya Muda II
Kelompok tani Karya Muda III
Kelompok tani Karya Bakti
Kelompok tani Harapan Maju
Kelompok tani Harapan Alam Sejahtera
Penyedia jasa lingkungan (seller)
2 PT Krakatau Tirta Industri Pembeli jasa lingkungan (buyer)
3 Forum Komunikasi DAS Cidanau (FKDC)
Fasilitator antara penyedia jasa dan pembayar jasa lingkungan
Peranan stakeholder pemerintah terhadap implementasi PJL ini tidak berperan secara langsung tetapi lebih berperan pada lembaga FKDC nya sebagai forum pengelolaan terpadu DAS Cidanau. FKDC membuat usulan kegiatan prioritas dari hasil rembug warga yang akan menjadi program FKDC pada mekanisme pendanaan yang berlaku dimasing-masing para pihak. Sistem pendanaan dapat dilakukan secara langsung ataupun tidak langsung. Dalam arti langsung bahwa dana langsung diberikan pada FKDC baik berupa hibah seperti yang dilakukan oleh Bappeda Propinsi Banten dan DIPA satker BPDAS untuk Fasilitasi rapat triwulaan forum DAS. Selebihnya kegiatan dikelola instansi masing-masing/share kegiatan baik dengan sistem anggaran (tertera di DIPA) ataupun tidak.
Secara umum program FKDC didukung oleh para pihak. Seperti yang diketahui bahwa Bappeda Propinsi telah 3 tahun memberikan dana hibah sebanyak Rp 350.000.000 pada tahun 2011 dan 2012, kemudian tahun 2013 sebesar Rp 500.000.000 untuk digunakan operasional FKCD dalam memfasilitasi kegiatan pengelolaan terpadu. Pada daftar kegiatan FKDC dana tersebut digunakan untuk operasinal kesekretariatan, penguatan jejaring kelompok tani, pendampingan masyarakat dan operasional kegiatan.
Kegiatan lainnya adalah berupa fasilitasi untuk koordinasi dan evaluasi forum dengan anggaran yang diberikan sebesar Rp 16.000.000 oleh Balai Pengelolaan DAS Citarum Ciliwung.
Selebihnya pada instansi lain berupa share kegiatan yang tidak rutin dianggarkan setiap tahun dan lebih bersifat pembinaan, seperti yang dilakukan oleh Kantor LH, BLHD, Dinas Pertanian, Dinas bidang Kehutanan dan dinas lainnya dengan mengupayakan daerah binaannya salah satunya adalah desa yang
masuk dalam PJl. Hal lainnya adalah apa bila ada program dari Pemerintah Pusat maka dinas yang bersangkutan mengajukan prioritas untuk desa yang menjadi penyedia jasa lingkungan, seperti lokasi kegiatan Bansos, KBR dari Kementerian Kehutanan. Penganggaran yang tidak rutin ini disebabkan fokus kegiatan instansi tidak hanya terbatas pada desa yang masuk dalam mekanisme PJL tetapi desa desa lain yang menjadi binaan wilayah kerjanya.
Namun yang menarik adalah permasalahan dalam internal FKDC dan sebagian besar program yang dilakukan oleh para pihak di daerah tersebut yang terkait dengan PJL ini sangat tergantung oleh figur-figur tertentu. Berdasarkan hasil wawancara pada beberapa pejabat pemerintahan dan pihak KTI maka terdapat kekhawatiran terhadap keberlanjutan kemitraan di masa yang akan datang bila regenerasi dari figur tersebut belum ada penggantinya. Bahkan sebagian besar dari pendapat yang dikemukakan oleh para petani yang menganggap bahwa lembaga FKDC hanyalah terdiri dari segelintir orang saja.
Beberapa kasus diatas maka yang menjadi tugas besar bagi FKDC dan pihak lainnya adalah penguatan kelembagaan organisasi FKDC, sehingga kemitraan akan dipercaya terus berjalan meski terjadi penggantian figur. Hal lainnya yang menjadi permasalahan dari pihak pemerintah yakni kebijakan yang selalu berubah bila terjadi pergantian pimpinan, dan hal tersebut dapat menjadi hambatan untuk kemitraan yang sudah dibangun sekian lama.
Selain hal tersebut untuk mempertahankan keberlanjutan implementasi kemitraan hubungan hulu hilir dengan mekanisme transaksi jasa lingkungan dimasa yang akan datang, tentu diperlukan modal besar untuk membiayai transaksi tersebut, dan tentunya tidak tergantung hanya pada KTI saja. Berdasarkan hasil wawancara dengan Setjen FKDC diketahui telah dilakukan pendekatan dan sosialisasi oleh FKDC pada pihak swasta lain yang menjadi anak perusahaan KTI. Pada prinsipnya mereka (perusahaan lain) bersedia berkontribusi untuk menjadi salah satu buyer pada transaksi jasa lingkungan namun mereka membutuhkan payung hukum untuk keperluan audit internal mereka sendiri, karena selama ini kemitraan yang terjalin dengan KTI hanya berdasarkan Mou dengan dasar Nota Kesepahaman dan SK pembentukan FKDC saja, dan lebih bersifat sukarela yang merupakan cost produksi, dalam arti bila produksi berhenti maka pembayaran juga berhenti.
Oleh karena itu untuk menfasilitasi agar ada payung hukum yang dapat mewadahi program tersebut, maka diajukanlah peraturan untuk ditetapkan sebagai Peraturan Gubernur. Draft Pergub ini telah dikoordinasikan selama 3 tahun dan sampai sekarang belum diajukan karena masih terus membahas tentang butir-butir pasal yang terlalu dianggap teknis. Proses pembahasan ini sempat terhenti karena Dinas Kehutanan Propinsi selaku penanggungjawab bidang terkait, sedang memproses legalisasi dokumen pengelolaan DAS terpadu untuk DAS Ciujung dan Cisadane. Selain itu terjadinya rotasi personal biro hukum sehingga pembahasan harus dimulai dari awal lagi.
Berdasarkah hasil wawancara pada pihak pemerintah tentang wacana Pergub sebagai payung hukum untuk mendorong volunteer sehingga memperkuat kelembagaan kemitraan hulu hilir, terdapat dua pendapat, pertama pihak yang menganggap bahwa wacana pembentukan Pergub ini kurang tepat karena berpendapat bahwa seharusnya peraturan gubernur itu berlaku menyeluruh untuk seluruh DAS bukan hanya DAS Cidanau saja, dikhawatirkan
adanya penyelewengan dana yang mengutip perusahaan dengan alasan adanya Pergub, dikarenakan jaminan tidak ada, sementara orang yang di percaya dan dianggap figur di FKDC tidak ada regenerasinya. Disamping itu terdapat kekhawatiran bila Pergub tidak efektif maka akan berdampak pada Gubernur. Kedua pihak yang setuju terhadap wacana ini berpendapat bahwa Pergub diperlukan untuk mendorong volunteer agar terlibat dalam transaksi tersebut untuk memperkuat kelembagaan pengelolaan DAS Cidanau sehingga dapat memberikan nilai tambah pada sumberdaya alam yang dimiliki dan menjadi potensi pengelolaan masyarakat yang menyebabkan masyarakat tidak tergantung pada lahan dan tidakan pengelolaan yang tidak ramah lingkungan.
Berkenaan dengan hal tersebut perlu kiranya disosialisasikan kembali tentang mekanisem PJL yang telah berjalan pada seluruh para pihak yang berada di DAS Cidanau, baik yang terkait langsung ataupun tidak langsung. Sehingga dapat ditemukan solusi yang mengakomodir pendapat seluruh para pihak baik yang bertentangan ataupun tidak.
Hasil pemetaan stakeholder berdasarkan derajat kepentingan dan pengaruhnya di dalam pengelolaan DAS Cidanau khususnya dalam mekanisme pembayaran jasa lingkungan dapat dilihat pada Gambar 10.
Berdasarkan posisi sesuai kriteria yang dibangun oleh Reed et al. (2009), stakeholder di DAS Cidanau diklasifikasikan sebagai stakeholder key player, stakeholder context setter dan stakeholder crowd. Stakeholder yang mempunyai pengaruh dan kepentingan tinggi (stakeholder key player) pada keberlanjutan kemitraan PJL di DAS Cidanau adalah Komunitas petani hutan, PT KTI dan FKDC. Stakeholder yang mempunyai pengaruh tinggi tetapi kepentingan rendah (stakeholder context setter) adalah Bappeda Propinsi Banten, Dinas Kehutanan Propinsi Banten, Dinas Pertanian, Kehutanan, Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Serang, Dinas Kehutanan Kabupaten Pandenglang. Dan stakeholder yang mempunyai pengaruh dan kepentingan rendah (stakeholder crowd ) adalah BLHD Propinsi Banten, Kantor LH Kabupaten Pandenglang, BLH Kabupaten Serang KSDA seksi wilayah I Serang, BPDAS Citarum Ciliwung dan Dinas Pertanian dan Peternakan Propinsi Banten.
.
Gambar 10 Pemetaan stakeholder dalam kemitraan DAS Cidanau Keterangan :
1) Komunitas petani hutan, 2) PT KTI, 3) FKDC, 4) Bappeda Prop Banten, 5) Dishut Prop Banten, 6) Distanhutbuntanak Kab. Serang, 7)Dishut Kab. Pandenglang, 8) Distan & peternakan prop Banten, 9) BLHD Prop Banten, 10) Kantor LH Kab Pandenglang, 11) BLH Kab. Serang, 12) KSDA seksi wil I Serang, 13) BPDAS Citarum Ciliwung
Kelembagaan Kemitraan Hulu Hilir untuk DAS Cidanau untuk Pasokan Air Domestik dan Industri di Propinsi Banten
Secara konsep skema PJL DAS Cidanau telah sesuai dengan standar