• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Kinerja Mutu Teh Hitam di PTPN IV Kebun Bah Butong

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Analisis Kinerja Mutu Teh Hitam di PTPN IV Kebun Bah Butong"

Copied!
72
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS KINERJA MUTU TEH HITAM

DI PT. PERKEBUNAN NUSANTARA IV

KEBUN BAH BUTONG

SKRIPSI

Oleh:

FEBRI PUTRA SITEPU

070308003

PROGRAM STUDI KETEKNIKAN PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

(2)

ANALISIS KINERJA MUTU TEH HITAM

DI PT. PERKEBUNAN NUSANTARA IV

KEBUN BAH BUTONG

SKRIPSI

Oleh:

FEBRI PUTRA SITEPU

070308003/KETEKNIKAN PERTANIAN

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk dapat memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara

PROGRAM STUDI KETEKNIKAN PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

(3)

ANALISIS KINERJA MUTU TEH HITAM

DI PT. PERKEBUNAN NUSANTARA IV

KEBUN BAH BUTONG

SKRIPSI

Oleh:

FEBRI PUTRA SITEPU

070308003/KETEKNIKAN PERTANIAN

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara

Disetujui Oleh :

Komisi Pembimbing

Achwil Putra Munir, STP, M.Si Ainun Rohanah, STP, M.Si

Ketua Anggota

PROGRAM STUDI KETEKNIKAN PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

(4)

ABSTRAK

FEBRI PUTRA SITEPU, Analisis Kinerja Mutu Teh Hitam di PTPN IV Kebun Bah Butong, dibimbing oleh ACHWIL PUTRA MUNIR dan AINUN ROHANAH.

Persaingan sektor industri berbasis produk teh hitam dihadapkan pada tantangan dengan kriteria konsumen terhadap produk yang semakin kompleks. Oleh karena itu, diperlukan usaha untuk meningkatkan mutu teh hitam. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pencapaian mutu teh hitam (Kadar air, Rasa dan Kenampakan) selama bulan januari periode 2009 sampai Januari 2011 serta menganalisis faktor-faktor penyebab rendahnya mutu teh hitam di Pabrik Pengolahan teh dengan menggunakan control chart dan diagram sebab-akibat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mutu teh hitam selama bulan januari periode 2009 sampai 2011 dinilai belum menunjukkan pencapaian yang cukup baik. Hal ini disebabkan oleh adanya pengaruh bahan baku, proses pengolahan, kondisi mesin atau peralatan dan lingkungan selama proses pengolahan teh hitam.

Kata Kunci : Teh Hitam, Kadar Air, Rasa, Kenampakan, Control Chart, Diagram Sebab-Akibat

ABSTRACT

FEBRI PUTRA SITEPU: The Analysis of Quality Performance of Black Tea At PTPN IV Bah Butong Estate, supervised by ACHWIL PUTRA MUNIR and AINUN ROHANAH.

The competition in the sector of the primary industry bases on black tea was appointed with the criteria of consumers toward increasingly complex products. Therefore, the quality of black tea need to be improve. This research was aimed at evaluating the attainment of the black tea quality (moisture content, taste and appearance) during January of 2009 to 2011 period as well as to analyse the cause factors of the low level of quality of black tea at tea factory using control chart and cause-effect diagram.

Results of the research showed that the quality of black tea during January of 2009 to January 2011 period did not indicate a fairly good achievement. This matter was caused by the influence of raw material, processing procedure, machinery condition and environment during black tea processing at the factory.

(5)

RIWAYAT HIDUP

Febri Putra Sitepu, dilahirkan di Kuala, Kabupaten Langkat pada tanggal

21 November 1989 dari Ayah M. Syukur Sitepu dan Ibu Sadiah Sembiring.

Penulis merupakan putra bungsu dari lima bersaudara.

Tahun 2007 penulis lulus dari SMA Negeri I Kuala dan lulus seleksi

masuk Universitas Sumatera Utara melalui jalur seleksi Panduan Minat dan

Prestasi (PMP-USU). Penulis memilih Program Studi Teknik Pertanian,

Departemen Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian.

Selama mengikuti Perkuliahan, penulis menjadi Wakil Ketua untuk bidang

Organisasi dan Komunikasi Ikatan Mahasiswa Teknik Pertanian (IMATETA).

Tanggal 21 Juni – 21 Juli 2010, penulis mengikuti Praktek Kerja Lapangan di

Pabrik Pengolahan Karet PT. Bridgestone Sumatera Rubber Estate (BSRE)

(6)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang

Maha Kuasa atas segala rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Kinerja Mutu Teh Hitam di PT.

Perkebunan Nusantara IV Kebun Bah Butong.”

Pada kesempatan ini, penulis menghaturkan pernyataan terima kasih

sebesar-besarnya kepada kedua orang tua penulis yang telah membesarkan,

memelihara dan mendidik penulis selama ini. Penulis menyampaikan ucapan

terima kasih kepada Bapak Achwil Putra Munir, STP, M.Si. dan Ibu Ainun

Rohanah, STP, M.Si., selaku ketua dan anggota komisi pembimbing yang telah

membimbing dan memberikan berbagai masukan berharga kepada penulis dari

mulai menetapkan judul, melakukan penelitian, sampai pada ujian akhir. Khusus

untuk bapak Dhanny Hermawan, M.Si di PT. Perkebunan Nusantara IV Kebun

Bah Butong, penulis mengucapkan banyak terima kasih atas bantuannya selama

penulis mengumpulkan data.

Disamping itu penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada staf

pengajar dan pegawai di Program Studi Keteknikan Pertanian, serta semua rekan

mahasiswa yang tak dapat disebutkan satu per satu disini yang telah membantu

penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat.

Medan, Februari 2011

(7)

DAFTAR ISI

DAFTAR LAMPIRAN ... viii

PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1

Tujuan Penelitian ... 4

Kegunaan Penelitian ... 4

Batasan Penelitian ... 4

TINJAUAN PUSTAKA

Penyediaan pucuk segar ... 13

Pelayuan ... 14

Karakteristik Mutu Teh ... 18

kadar air ... 19

Rasa ... 20

Kenampakan ... 20

Jenis Mutu Teh Hitam Orthodox ... 21

Pendekatan Sistem ... 23

Teknik Pengendalian Mutu ... 24

Diagram Kontrol ... 27

Diagram Tulang Ikan ... 31

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian ... 34

Bahan dan Alat ... 34

Metode Penelitian ... 34

(8)

Sejarah Singkat ... 38

Jenis Mutu Teh Hitam Di PTPN IV... 39

Analisa Data Mutu Teh Hitam Dari Control Chart I-MR ... 39

Kadar Air ... 40

Periode Januari 2009 ... 40

Periode Januari 2010 ... 41

Periode Januari 2011 ... 42

Rasa ... 44

Periode Januari 2009 ... 44

Periode Januari 2010 ... 45

Periode Januari 2011 ... 46

Kenampakan ... 48

Periode Januari 2009 ... 48

Periode Januari 2010 ... 49

Periode Januari 2011 ... 50

Penyusunan Diagram Sebab-Akibat Mutu Teh Hitam ... 52

Kadar Air ... 52

Rasa ... 52

Kenampakan ... 53

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 55

Saran ... 57

(9)

DAFTAR TABEL

No. Hal.

1. Spesifikasi persyaratan mutu teh hitam ... 19

(10)

DAFTAR GAMBAR

No. Hal.

1. Pucuk daun teh ... 8

2. Diagram alir pengolahan teh hitam ... 13

3. Diagram control chart ... 27

4. Diagram sebab-akibat ... 32

5. Control chart I-MR kadar air periode Januari 2009 ... 40

6. Control chart I-MR kadar air periode Januari 2010 ... 41

7. Control chart I-MR kadar air periode Januari 2011 ... 43

8. Control chart I-MR rasa (Taste) periode Januari 2009 ... 44

9. Control chart I-MR rasa (Taste) periode Januari 2010 ... 45

10. Control chart I-MR rasa (Taste) periode Januari 2011 ... 47

11. Control chart I-MR kenampakan (appearance) periode Januari 2009 ... 48

12. Control chart I-MR kenampakan (appearance) periode Januari 2010 ... 49

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Hal.

1. Flowchart penelitian ... 60

2. Parameter analisis teh hitam (SNI) ... 61

3. Penilaian mutu teh hitam ... 62

4. Daftar nilai koefisien dalam perhitungan batas-batas peta kontrol Xbar dan R serta indeks kapabilitas proses ... 63

5. Kadar air periode Januari 2009 ... 64

6. Kadar air periode Januari 2010 ... 65

7. Kadar air periode Januari 2011 ... 66

8. Rasa (taste) periode Januari 2009 ... 67

9. Rasa (taste) periode Januari 2010 ... 68

10. Rasa (taste) periode Januari 2011 ... 69

11. Kenampakan (appearance) periode Januari 2009 ... 70

12. Kenampakan (appearance) periode Januari 2010 ... 71

13. Kenampakan (appearance) periode Januari 2011 ... 72

14. Diagram sebab akibat kadar air tinggi... 73

15. Diagram sebab akibat rasa (taste) menurun ... 74

16. Diagram sebab akibat kenampakan (appearance) menurun ... 75

17. Layout pabrik ... 76

(12)

ABSTRAK

FEBRI PUTRA SITEPU, Analisis Kinerja Mutu Teh Hitam di PTPN IV Kebun Bah Butong, dibimbing oleh ACHWIL PUTRA MUNIR dan AINUN ROHANAH.

Persaingan sektor industri berbasis produk teh hitam dihadapkan pada tantangan dengan kriteria konsumen terhadap produk yang semakin kompleks. Oleh karena itu, diperlukan usaha untuk meningkatkan mutu teh hitam. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pencapaian mutu teh hitam (Kadar air, Rasa dan Kenampakan) selama bulan januari periode 2009 sampai Januari 2011 serta menganalisis faktor-faktor penyebab rendahnya mutu teh hitam di Pabrik Pengolahan teh dengan menggunakan control chart dan diagram sebab-akibat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mutu teh hitam selama bulan januari periode 2009 sampai 2011 dinilai belum menunjukkan pencapaian yang cukup baik. Hal ini disebabkan oleh adanya pengaruh bahan baku, proses pengolahan, kondisi mesin atau peralatan dan lingkungan selama proses pengolahan teh hitam.

Kata Kunci : Teh Hitam, Kadar Air, Rasa, Kenampakan, Control Chart, Diagram Sebab-Akibat

ABSTRACT

FEBRI PUTRA SITEPU: The Analysis of Quality Performance of Black Tea At PTPN IV Bah Butong Estate, supervised by ACHWIL PUTRA MUNIR and AINUN ROHANAH.

The competition in the sector of the primary industry bases on black tea was appointed with the criteria of consumers toward increasingly complex products. Therefore, the quality of black tea need to be improve. This research was aimed at evaluating the attainment of the black tea quality (moisture content, taste and appearance) during January of 2009 to 2011 period as well as to analyse the cause factors of the low level of quality of black tea at tea factory using control chart and cause-effect diagram.

Results of the research showed that the quality of black tea during January of 2009 to January 2011 period did not indicate a fairly good achievement. This matter was caused by the influence of raw material, processing procedure, machinery condition and environment during black tea processing at the factory.

(13)

PENDAHULUAN

Latar belakang

Teh hitam merupakan bahan minuman yang sangat bermanfaat, terbuat

dari pucuk tanaman teh (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze) dengan partikel atau

butiran yang berwarna hitam yang diperoleh melalui pengolahan tertentu. Manfaat

minuman teh ternyata dapat menimbulkan rasa segar dan dapat memulihkan

kesehatan badan. Sebab itulah teh sering disebut sebagai bahan penyegar.

Teh yang bermutu tinggi sangat diminati oleh konsumen. Teh dengan

kualitas yang baik hanya dapat dihasilkan dari bahan baku (pucuk teh) yang

bermutu tinggi, dengan teknologi pengolahan yang benar serta penggunaan

mesin-mesin atau peralatan pengolahan yang memadai.

Di Indonesia, sebagian besar teh yang dihasilkan oleh

perkebunan-perkebunan besar baik milik pemerintah maupun milik swasta masih diolah

menjadi teh hitam. Hingga kini sebagian dari produksi teh hitam Indonesia di

ekspor dan hanya sebagian kecil saja yang dikonsumsi di dalam negeri.

Industri teh beberapa tahun terakhir ini semakin menunjukkan

perkembangan dengan munculnya berbagai jenis produk minuman segar maupun

minuman kesehatan yang bahan baku utamanya berasal dari teh hitam. Untuk itu

diperlukan sistem pengolahan teh yang baik agar menghasilkan teh hitam kering

dengan kualitas baik. Dengan adanya sistem pengendalian proses dan mutu

produk, akan diketahui tingkat pencapaian mutu teh hitam dari proses pengolahan

tersebut.

Faktor penting yang ikut menentukan mutu teh adalah kondisi iklim

(14)

Kenyataan menunjukkan bahwa komposisi kimia pucuk teh akan baik pada

kondisi lingkungan yang kering dan banyak sinar matahari. Pucuk teh yang

berasal dari dataran tinggi adalah teh yang ditanam pada ketinggian 1000 meter

atau lebih dari permukaan laut (Wikipedia, 2011).

Di Indonesia dikenal dua jenis produk hasil pengolahan pucuk teh yaitu

teh hitam dan teh hijau (sebagai bahan baku dalam pembuatan teh wangi).

Perbedaan utama antara teh hitam dan teh hijau adalah pada cara pengolahannya.

Pada pengolahan teh hitam terdapat proses fermentasi, sedangkan pengolahan teh

hijau proses fermentasi justru tidak diinginkan sehingga penampakan hasil

olahannya tetap memiliki warna hijau.

Dalam hal produksi Indonesia termasuk dalam kelompok besar dunia.

Negara-negara penghasil teh dalam jumlah besar adalah India, Cina, Sri lanka,

Rusia, Kenya, Indonesia dan Turki. Sedangkan dalam jumlah lahan perkebunan

teh, yaitu Cina yang memiliki lahan yang paling luas. Kemudian disusul India,

Srilanka, Indonesia, Kenya dan Rusia. Namun produktivitas India lebih tinggi

daripada Cina.

Pengolahan teh hitam merupakan proses bertahap yang merubah helaian

pucuk teh menjadi bubuk teh hitam yang sangat berbeda dengan pucuk teh, baik

bentuk dan sifat-sifatnya. Pada dasarnya pengolahan ini melalui tahap-tahap yaitu

penerimaan pucuk segar di pabrik, pelayuan, penggulungan, sortasi basah,

fermentasi, pengeringan, sortasi kering, pengepakan dan penyimpanan. Proses ini

merupakan proses kimia terutama terjadi mulai proses pelayuan sampai dengan

(15)

Perkembangan pengolahan teh hitam senantiasa mengikuti perkembangan

pasar, yaitu konsumen. Beberapa tahun terakhir konsumen cenderung

menghendaki teh dengan ukuran partikel yang lebih kecil (broken tea) dan cepat

seduh (quick brewing). Untuk itu pada proses pengolahan teh, khususnya pada

tahap penggilingan memerlukan tekanan yang lebih besar. Dari pengolahan teh

hitam yang semula hanya dikenal dengan sistem-orthodox murni (teh dengan

ukuran partikel besar), kini berkembang menjadi sistem orthodox-rotorvane yang

bertujuan untuk memperoleh ukuran partikel teh yang lebih kecil dan halus

(broken tea). Rotorvane adalah mesin penggilingan yang biasa digunakan untuk

menghasilkan bubuk II, bubuk III dan seterusnya.

Sesuai dengan perkembangan pasar teh hitam dewasa ini, tentunya pihak

produsen selalu mempertahankan aspek mutu dari teh hitam yang dihasilkan.

Dengan melakukan langkah pengendalian mutu terpadu, diharapkan teh hitam

yang dihasilkan memiliki manfaat dan citarasa yang unik serta dapat diterima di

pasar dunia dengan nilai jual tinggi. Oleh karena itu, dilakukanlah penelitian

dalam rangka pengendalian mutu terpadu teh hitam di PT. Perkebunan Nusantara

IV Bah Butong. Penelitian ini menggunakan alat kendali statistik control chart

(16)

Tujuan

1. Untuk mengevaluasi kinerja mutu teh hitam dalam beberapa periode yang

berbeda (2009, 2010, 2011) di PT. Perkebunan Nusantara IV kebun Bah

Butong

2. Untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi penyimpangan

mutu teh hitam yang terjadi selama periode tersebut.

Kegunaan Penelitian

1. Bagi penulis yaitu sebagai bahan untuk menyusun skripsi yang merupakan

syarat untuk menyelesaikan pendidikan di Program Studi Keteknikan

Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.

2. Bagi mahasiswa, sebagai informasi pendukung untuk melakukan

penelitian lebih lanjut mengenai analisis kinerja mutu teh hitam.

3. Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkannya.

Batasan Penelitian

Penelitian mengenai Analisis Kinerja Mutu ini dibatasi hanya untuk

menguraikan dan menerangkan Analisis Kinerja Mutu Teh Hitam di PT.

Perkebunan Nusantara IV Kebun Bah Butong dengan pengolahan sistem

orthodox-rotorvane dan parameter syarat mutu meliputi kadar air, rasa (taste) dan

(17)

TINJAUAN PUSTAKA

Sejarah Teh

Ada beberapa pendapat yang menyebutkan tentang asal-usul teh.

Masyarakat umum menduga bahwa teh berasal dari sekitar pegunungan antara

Tibet dan Republik Rakyat Cina (RRC) bagian selatan. Adapun pengusahaan teh

yang pertama berada di daerah pegunungan sebelah barat RRC Selatan. Tahun

1610 hasil teh dari Tiongkok mulai diperdagangkan di negara Belanda dan Inggris

oleh pedagang Belanda. Ternyata, hasil dari perdagangan teh membawa

keuntungan. Sejak saat itu, budidaya tanaman teh terus berkembang. Pada abad

ke – 18, teh sudah dikenal orang di seluruh dunia. Bahkan, pemerintah Belanda

dan Inggris berusaha agar di seluruh jajahannya di Timur Tengah melakukan

penanaman teh ( Suwarto, 2010).

Tanaman teh pertama kali masuk ke Indonesia tahun 1684, berupa biji teh

dari Jepang yang ditanam sebagai tanaman hias. Teh jenis assam mulai masuk ke

Indonesia dari Sri langka (Ceylon) pada tahun 1877 dan ditanam di kebun

Gambung, Jawa Barat oleh R.E. Kerk Hoven. Sejak itu teh China secara

berangsur diganti dengan teh assam, sejalan dengan perkembangan perkebunan

teh di Indonesia yang dimulai sejak tahun 1910 dengan dibangunnya perkebunan

teh di Simalungan, Sumatera Utara. Dalam perkembangannya, industri teh di

Indonesia mengalami pasang surut sesuai perkembangan situasi pasar dunia,

antara lain pada masa pendudukan Jepang (1942-1945) banyak areal kebun teh

menjadi terlantar.

Pada tahun 1958 dilakukan pengambil-alihan perkebunan teh oleh

(18)

rehabilitasi terhadap perkebunan yang telah menjadi milik negara Indonesia seluas

129.500 Ha, yang terdiri dari milik negara 49.800 Ha Perkebunan besar swasta

27.700 Ha, dan perkebunan rakyat 52.000 Ha. Perkebunan teh tersebut tersebar di

Pulau Jawa, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Sumatera Selatan. Ekspor teh

Indonesia menduduki peringkat ke 5 setelah India, Sri langka, China dan Kenya.

Sebagai sumber devisa, teh menempati urutan ke - 4 sesudah karet, kopi dan

kelapa sawit. Peranan teh dinilai bukan saja berdasarkan nilai uang yang masuk,

tetapi justru terletak pada pertimbangan historis dan prospek pengembangannya di

kemudian hari (Soehardjo, dkk., 1996).

Teh adalah bahan minuman yang sangat bermanfaat, terbuat dari pucuk

tanaman teh (Camellia sinensis L.) melalui proses pengolahan tertentu dengan

manfaat minuman teh yang dapat menimbulkan rasa segar dan dapat memulihkan

kesehatan badan dan terbukti tidak menimbulkan dampak negatif (Puslitbang Teh

dan Kina Gambung, 1994).

Botani Teh

Tanaman teh merupakan tanaman sub tropik yang bergenus Camellia dari

family Theaceae. Peka terhadap keadaan fisik tanah dan cukup sulit untuk

menembus lapisan tanah. Perakaran utama berkembang pada lapisan tanah atas

dengan keadaan 0 cm hingga 25 cm, yang merupakan tempat utama

(19)

Tanaman teh diklasifikasikan sebagai berikut :

Divisio : Spermatophyta

Sub divisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledoneae

Famili : Theaceae

Genus : Camelia

Spesies : Camellia sinensis L.

(Wikipedia, 2011).

Tanaman teh mempunyai akar tunggang yang kuat, panjangnya sekitar

100 - 150 cm. Pada tanaman teh yang berasal dari biji, cabang-cabang akar tidak

terlalu banyak. Namun pada tanaman teh asal stek, menggantikan akar tunggang

pada tanaman biji, demikian pula halnya pada bibit yang dipangkas akarnya ketika

akan dipindahkan ke lapangan.

Batang tanaman teh berbentuk pohon dan mempunyai banyak cabang.

Batang dan cabang berkayu dan keras atau kuat. Tanaman teh tahan sekali

dipangkas. Pemangkasan batang dan cabang-cabang akan menstimulir

pertumbuhan ranting atau tunas baru. Tunas-tunas ini akan menumbuhkan pucuk-

pucuk baru yang muda yang akan dipetik.

Pucuk teh (Gambar 1) adalah pucuk tunggal, berbentuk lanset dan duduk

pucuknya hampir berseling bertulang menyirip, ujung daun agak panjang /

meruncing, tetapi daunnya licin atau bergerigi bergantung pada jenis klon.

(20)

Peko merupakan kuncup/pucuk yang tumbuh aktif. Tanaman yang tumbuh

normal akan mengalami periode pucuk aktif, setelah menghasilkan 4 – 7 daun,

biasanya kuncup mengalami dormansi (Machfoedz, 1992).

Gambar 1. Pucuk daun teh

Pucuk teh yang dipetik adalah pucuk muda yang terdiri dari 4 - 6 helai

daun pucuk teh yang segar mengandung bahan kimia ± 18 - 25 % dari berat

pucuk segar. Makin muda daun pucuk teh, makin tinggi kandungan kimianya,

yang tertinggi terdapat pada daun peko (Soehardjo, dkk., 1996).

Bunga teh adalah bunga tunggal yang keluar dari ketiak daun

bercabang-cabang dan ujung batang. Bunga teh mempunyai kelopak yang terdiri 5 – 6 helai

daun kelopak dan daun tajuk 5 - 6 helai berwana putih dan berbau harum. Benang

sarinya banyak sekali kadang-kadang lebih dari 100 dalam sekuntum bunga

(Machfoedz, 1992).

Dari keseluruhan bunga di satu pohon, akan terjadi penyerbukan yang

akan menghasilkan buah. Buah tanaman teh termasuk jenis buah kotak yang

berbiji umumnya terdiri dari 3 butir, buah teh akan masak antara 8 - 9 bulan

(21)

akhirnya akan pecah. Biji-biji yang dihasilkan umumnya berwarna putih dan

berwarna cokelat bila sudah tua (Soehardjo, dkk., 1996).

Syarat Tumbuh

Kesesuaian iklim

1. Tinggi tempat

Iklim di Indonesia terutama ditentukan oleh ketinggian tempat atas

permukaan laut dan banyaknya distribusi hujan dalam satu tahun. Pada

ketinggian antara 600 - 1000 meter diatas permukaan laut tanaman teh dapat

tumbuh dan memberikan hasil yang baik. Di Indonesia kebun teh umumnya

pada ketinggian 400 – 2000 meter dpl. Berdasarkan tinggi tempat

perkebunan teh di Indonesia terbagi menjadi 3 daerah yaitu :

a. Daerah rendah 400 sampai 800 meter

b. Daerah sedang antara 800 – 1200 meter

c. Daerah tinggi lebih dari 1200 meter

Perbedaan tinggi tempat perkebunan teh dengan perbedaan temperatur yang

mempengaruhi pertumbuhan, mengakibatkan perbedaan mutu dari teh jadi.

Produksi teh di daerah tinggi mempunyai aroma yang lebih baik dari pada

produksi teh daerah rendah.

2. Temperatur

Temperatur yang baik bagi tanaman teh adalah temperatur harian yang

berkisar antara 15º - 25ºC yang dikuti oleh cahaya matahari yang cerah dan

(22)

3. Curah hujan

Tanaman teh menghendaki curah hujan yang tinggi dan merata sepanjang

tahun. Jumlah curah hujan minimum yang dibutuhkan untuk pertumbuhan

yang baik adalah 1150 mm sampai 1400 mm per tahun.

4. Sinar matahari

Pengaruh sinar matahari terhadap tanaman teh meliputi intensitas, kualitas

dan penyinaran. Masing-masing komponen ini mempunyai pengaruh yang

berbeda terhadap pertumbuhan tanaman teh. Intensitas cahaya matahari

yang banyak akan mempercepat pertumbuhan tanaman teh tersebut

(Soehardjo, dkk., 1996).

Tanah

1. Sifat-sifat fisika tanah

Sifat-sifat fisika tanah yang cocok untuk tanaman teh adalah solum yang

cukup dalam, tekstur ringan atau sedang, atau debu, keadaan gembur

sedalam mungkin (deep friable), mampu menahan air, dan memiliki

kandungan hara yang cukup. Di Indonesia, tanah untuk tanaman teh dapat

dibedakan menjadi dua jenis utama, yaitu tanah andosol (di Pulau Jawa,

pada ketinggian 800 m dpl) dan tanah podsolik (di Sumatera).

2. Sifat-sifat kimia tanah

Tanaman teh menghendaki tanah yang asam dengan pH berkisar antara 4,5

– 6,0. Untuk pemupukan nitrogen, sebaiknya digunakan pupuk yang bersifat

asam seperti ZA, sehingga tanah tetap dalam kondisi asam. Tiga unsur hara

pembatas (dalam jumlah yang kurang) dalam tanah adalah N,P, dan K.

(23)

Kebutuhan unsur hara mikro pada umumnya dapat dicukupi dengan

pemupukan.

3. Tipe tanah

Menurut Schoorel, ada enam tipe tanah yang ditanami teh di Indonesia.

Keenam tipe tanah tersebut adalah :

a. Tanah pegunungan tinggi, yaitu jenis tanah andosol, meliputi luas 35%

b. Tanah pegunungan tinggi yang tua, meliputi luas 14%

c. Tanah laterit merah, meliputi luas 28%

d. Tanah kuarsa berasal dari tuf liparit (podsolik merah kuning), meliputi

luas 15%

e. Tanah merah yang mengandung liat, meliputi luas 7%

f. Tanah merah yang berasal dari batuan kapur, meliputi luas 1%

Jenis – jenis tanah yang biasa ditanami teh di Indonesia adalah Andosol,

podsolik merah kuning, latosol, regosol, glei humik, litosol, dan aluvial

(Setyamidjaja, 2000).

Selain faktor genetik, kondisi lingkungan juga menentukan karakteristik

akhir, karena dapat mempengaruhi pertumbuhan alami tanaman teh, dan dengan

demikian juga mempengaruhi komposisi kimia daun, yang selanjutnya akan

mempengaruhi karakteristik mutu teh jadi. Baik kesuburan kimia dan kesuburan

fisika tanah, maupun iklim yang meliputi temperatur, kelembaban udara,

intensitas cahaya matahari, curah hujan dan lamanya siang hari, berpengaruh pada

komposisi kimia daun teh. Selain itu semua variasi harian dan musiman juga

(24)

Pemetikan Pucuk Teh

Di dalam proses produksi aneka bahan jadi, kualitas hasil akhir sangat

ditentukan oleh kualitas bahan baku maupun proses pengolahannya. Pucuk teh

yang umumnya terdiri atas tangkai dan daun muda merupakan bahan baku

pengolahan teh yang harus diusahakan dan dijaga agar bermutu baik, sehingga

diharapkan dapat menghasilkan teh yang bermutu tinggi. Zat kimia yang terutama

berperan dalam kualitas teh adalah senyawa polifenol golongan catechin. Zat ini

terdapat dalam jumlah besar dalam pucuk yang muda, dan semakin kecil

jumlahnya dengan semakin tuanya daun.

Secara fisik pucuk yang bermutu adalah daun muda yang utuh, segar, dan

berwarna kehijauan. Daun yang utuh sesudah dilayukan akan mudah digiling dan

berbentuk sesuai dengan harapan. Daun yang segar dan berwarna hijau menjamin

tidak akan terjadi oksidasi polifenol yang merugikan mutu teh. Pucuk yang rusak

sebelum tiba di pabrik akan menghasilkan teh dengan air seduhan yang gelap,

kekuatan rasa yang rendah bahkan dapat terasa masam (Puslitbang Teh dan Kina

Gambung, 1994).

Pengolahan Teh Hitam

Pengolahan daun teh menjadi teh hitam (Gambar 2), dimaksudkan untuk

mengubah komposisi kimia daun teh segar secara terkendali, sehingga menjadi

hasil olahan yang dapat memunculkan sifat-sifat yang dikehendaki pada air

seduhannya, seperti warna, rasa dan aroma yang baik dan disukai. Bahan kimia

terkandung dalam daun teh terdiri dari empat kelompok yaitu substansi fenol

(25)

Pengolahan teh hitam orthodox-rotorvane terdiri dari beberapa tahapan

pengolahan yang dapat dilihat dalam diagram alir berikut :

Gambar 2. Diagram alir pengolahan teh hitam orthodox-rotorvane

Penyediaan pucuk daun segar

Pucuk segar diangkut dari kebun dengan truk menuju pabrik dan

ditimbang untuk memeriksa dan mengetahui jumlah pucuk dalam sehari yang

akan diolah. Pucuk yang telah ditimbang dihamparkan di dalam alat pelayuan

(trough) 35kg/m2, bentuknya semacam bak beralas nylon net sebagai sekatnya,

dibagian bawah bak adalah ruang kosong untuk mengalirkan udara campuran,

panas dari dapur dan udara segar dari luar, sehingga suhunya berkisar 27ºC. lama

melayukan adalah 16 jam, dimana tiap 4 jam hamparan pucuk tersebut harus

dibalikkan dengan maksud agar layuannya merata (Reksohadiprodjo, 1987). Penyediaan pucuk basah

Pelayuan

Penggulungan

Penggilingan

Sortasi bubuk basah

Fermentasi

Pengemasan Sortasi kering

(26)

Pelayuan

Pada proses pelayuan, digunakan palung pelayuan (withering trough).

Kegiatan pelayuan meliputi :

Pembeberan pucuk, dimana pucuk disebar merata sampai palung (trough)

penuh dengan ketebalan ± 30 cm atau disebut 30 cm per m2. Sementara itu

udara segar segera dialirkan untuk menghilangkan panas dan air pada pucuk

dengan pintu palung terbuka. Setiap selesai membeberkan pucuk dalam satu

palung, pintu palung ditutup dan udara terus dialirkan

− Pengaturan udara. Udara yang baik untuk digunakan dalam proses pelayuan

adalah udara yang bersih dengan kelembaban rendah (60% - 75%), suhu

tidak melebihi 28ºC (optimum 26,7ºC atau 80ºF), dan volume yang cukup

sesuai dengan kapasitas palung pelayuan. Untuk memperoleh suhu udara

yang diharapkan digunakan mesin pemanas (heat exchanger)

− Kapasitas palung pelayuan. Kapasitas palung pelayuan dihitung berdasarkan

luas hamparan pucuk dari alat tersebut dengan perhitungan setiap m2 dapat

menampung 20 - 35 kg pucuk segar

− Tingkat layu pucuk. Tingkat layu pucuk dinyatakan dalam bentuk

persentase layu dan derajat layu.

Tingkat layu pucuk yang baik adalah 44% - 46%, dengan toleransi

perbedaan dari hari ke hari tidak lebih dari 2% - 3%, disertai dengan hasil

(27)

− Lama pelayuan untuk setiap pabrik berbeda-beda, berkisar antara

14 - 18 jam.

Pada proses pelayuan ini terjadi peningkatan enzim, peruraian protein, dan

peningkatan kandungan kafein, sehingga menghasilkan bau yang sedap.

Penggulungan

Pada proses penggulungan (Rolling) daun akan memar dan dinding sel

rusak, sehingga cairan sel keluar dipermukaan dengan merata, dan pada saat itu

mulai terjadi oksidasi enzimatis yang memungkinkan terbentuknya warna cokelat

dan bau spesifik. Secara fisik daun yang sudah digulung akan memudahkan dalam

proses penggilingan. Penggulungan dilaksanakan dalam alat penggulung yang

disebut OTR (Open Top Roller). Lama penggulungan pada mesin OTR adalah

30 - 40 menit.

Penggilingan

Mesin penggilingan yang biasa dipakai pada proses pengolahan teh hitam

orthodox adalah PCR (Press Cap Roller) dan Rotorvane. Dengan penggilingan,

maka gulungan akan tergiling menjadi partikel yang lebih kecil sesuai yang

dikehendaki konsumen, gulungan akan berukuran lebih pendek, cairan sel keluar

semaksimal mungkin, dan dihasilkan bubuk basah yang sebanyak-banyaknya.

Lama penggilingan antara 25 - 40 menit. Hasil dari proses penggilingan adalah

bubuk basah.

Sortasi bubuk basah

Sortasi bubuk basah bertujuan untuk memperoleh bubuk yang seragam,

memudahkan sortasi kering, serta memudahkan dalam pengaturan proses

(28)

memasang ayakan dengan mesh yang berbeda sesuai dengan grade (jenis bubuk)

yang diinginkan. Hasil sortasi bubuk basah terdiri dari bubuk dan badag.

Fermentasi

Proses fermentasi atau oksidasi enzimatis merupakan proses oksidasi

senyawa polifenol dengan bantuan enzim polifenol oksidase, fermentasi ini

dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu kadar air dalam bahan (hasil sortasi basah),

suhu, kelembapan relatif, kadar enzim, jenis bahan, serta tersedianya oksigen.

Selama proses fermentasi atau oksidasi enzimatis, pada bubuk dihasilkan

substansi tehaflavin dan teharubigin yang akan menentukan sifat air seduhan dari

teh kering. Komposisi dari tehaflavin dan teharubigin pada hasil fermentasi yang

baik adalah 1 : 10 atau 1 : 12 yang akan menentukan strength, colour, quality dan

briskness dari teh kering.

Pengeringan

Tujuan utama pengeringan adalah menghentikan proses fermentasi

senyawa polifenol dalam bubuk teh pada saat komposisi zat-zat pendukung

kualitas mencapai keadaan optimal. Dengan adanya pengeringan, kadar air dalam

teh bubuk akan berkurang, sehingga teh kering akan tahan lama dalam

penyimpanan. Proses pengeringan dilakukan dengan mesin pengering. Mesin

pengering teh hitam ada dua macam yaitu mesin pengering jenis ECP (endless

chain pressure) dryer dan FBD (fluid bed dryer). Pabrik-pabrik teh di Indonesia

umumnya menggunakan mesin pengering ECP. Bila kadar air lebih dari 6% akan

menyebabkan gone off. Pada keadaan ini air seduhan teh akan kehilangan sifat

(29)

Sortasi kering

Sortasi kering adalah kegiatan memisah-misahkan teh bubuk kering (teh

hitam) menjadi jenis-jenis tertentu yang sesuai dengan yang dikehendaki dalam

perdagangan. Tujuannya adalah untuk mendapatkan ukuran dan warna partikel teh

kering yang seragam sesuai dengan standar yang diinginkan. Sortasi kering

meliputi :

Memisahkan teh kering menjadi beberapa jenis (grade)

Menyeragamkan bentuk, ukuran, dan warna masing-masing grade

− Membersihkan teh dari serat, tangkai, dan bahan-bahn lain seperti debu, dan

sebagainya.

Pengemasan

Pengemasan atau pengepakan adalah upaya untuk memberikan wadah bagi

produk teh hitam agar memudahkan pengiriman produk kepada konsumen atau

pasar dan pengiriman ke luar negeri sebagai komoditi ekspor. Tujuan pengemasan

diantaranya adalah untuk melindungi produk (teh hitam) dari kerusakan,

memudahkan transportasi ke konsumen, efisiensi dalam penyimpanan gudang,

dan dapat menjadi alat promosi (Setyamidjaja, 2000).

Manfaat Teh Hitam

Pada dekade 1970-an, dunia diguncang oleh laporan dari UNESCO yang

menyebutkan adanya peningkatan yang cukup serius pada kasus penyakit jantung

dan kanker sebesar 3% - 5% per tahun. Berbagai negara mengalokasikan dana

yang sangat besar untuk melakukan penelitian pada kasus tersebut. Baru pada

(30)

sangat efektif untuk mengurangi resiko penyakit jantung dan menghambat

pertumbuhan kanker.

Manfaat teh hitam untuk kesehatan ternyata tidak lepas dari senyawa

utama yang terdapat dalam teh yaitu Polifenol. Senyawa ini diketahui memiliki

kemampuan sebagai antioksidan terutama dalam melawan kanker, juga memberi

efek positif berupa pencegahan penyakit jantung dan stroke. Senyawa antioksidan

tersebut dapat pula memperlancar sistem sirkulasi, menguatkan pembuluh darah

dan menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Dengan polifenol, teh membantu

pula dalam penambahan jumlah sel darah putih yang berfungsi melawan infeksi,

bahkan polifenol juga mengurangi pembentukan plak gigi dengan mempengaruhi

kerja bakteri mulut. Dalam jurnal yang dikeluarkan oleh Free Radical Research

London disebutkan bahwa 2 cangkir teh memiliki kekuatan antioksidan setara

dengan 20 gelas jus apel atau 7 gelas jus jeruk (tehkesehatan.com, 2011).

Karakteristik Mutu Teh

Untuk menjaga kesinambungan mutu teh hitam agar tetap memiliki

kualitas yang prima perlu diketahui beberapa faktor yang menunjang, meliputi :

− Kehendak pasar yang akan dituju

− Pengetahuan dasar proses pengolahan dan peranan pengolah dalam

mengarahkan cara kerja yang benar

− Mesin-mesin yang dipakai dan kelengkapan alat yang menunjangnya

− Bahan baku berupa kualitas pucuk yang akan diolah

(31)

Table 1. Spesifikasi persyaratan mutu teh hitam

No Jenis uji Satuan Spesifikasi Persyaratan

1 Kadar air %b/b Maks. 8,00 Dicantumkan sesuai

9 Kadar cemaran logam

9.1 Besi (Fe) ppm - s.d.a

(Badan Standardisasi Nasional, 2011).

Kadar air

Air dalam daun hidup berguna sebagai medium berlangsungnya metabolism

kehidupan, alat transportasi nutrisi dari daun ke akar maupun sebaliknya. Kadar

air basis basah dipakai industri dalam menggambarkan karakter teh kering, pucuk

teh segar dan daun layu. Pelepasan air dari daun teh hanya mungkin terjadi dalam

bentuk uap. Kalor dari udara dipindahkan ke daun, hingga menyebabkan air

menguap dan uap air akan terbawa aliran udara. Perubahan kadar air pada

pengolahan teh orthodox dimulai dari pucuk segar 78,5%, kemudian menjadi

62,5% setelah pelayuan dan akhirnya menjadi 3% pada saat pengeringan (teh

kering). Karena bersifat higroskopik, selama proses sortasi kadar air teh kering

(32)

bagian –bagian pucuk memperlihatkan perbedaan yang nyata. Kadar air tangkai

adalah yang tertinggi, yaitu sekitar 85 %.

Rasa

Rasa merupakan penilaian yang dilakukan dengan uji inderawi. air

seduhan adalah cairan hasil seduhan teh hitam setelah dipisah dari ampas

seduhannya, kemudian dicicip dan dihirup. Pengujian liquor adalah untuk menilai

air seduhan dengan cara mencicipi citarasanya yang meliputi warna, kepekatan,

kejernihan, kecerahan dan sifat hidup air seduhan, rasa yang mencakup

keseragaman, kekuatan, pungency (ketajaman) dan flavor dari air seduhan pada

waktu dicicip. Pengujian liquor harus dilakukan untuk mendeteksi secara dini

setiap penyimpangan di proses pengeringan. Untuk melakukan tindakan

perbaikan.

Kenampakan

Pada umumnya kualitas didefenisikan sebagai sekumpulan sifat dari suatu

bahan yang mencerminkan ciri (khas) dan kemampuannya diterima oleh

konsumen. Kualitas dapat digolongkan dalam kualitas fisik, kimia, bilologi serta

kualitas inderawi, Kualitas fisik atau penampilan fisik merupakan tampilan luar

bahan yang disebut appearance atau kenampakan dari teh hitam yang ditentukan

oleh warna, ukuran dan bentuk partikel serta keseragamannya. Keberadaan

partikel pucuk muda (tip), tangkai, serat serta benda lain bukan teh merupakan

(33)

Jenis Mutu Teh Hitam Orthodox

Teh hitam adalah teh kering hasil pengolahan pucuk dan daun muda

termasuk tangkainya dari tanaman camellia sinensis melalui proses fermentasi

(oksidasi enzimatis).

Klasifikasi jenis mutu teh hitam orthodox adalah :

1. Teh daun (leafy grades), mengandung potongan daun yang lebih besar dan

lebih panjang (wiry) dari jenis teh bubuk (brokens), sehingga dalam proses

sortasinya tertahan pada ayakan 7 mesh :

OP (orange pekoe), partikelnya panjang, terpilin dengan tip.

OP Sup (orange pekoe superior), partikelnya panjang, terpilin seperti OP,

sebagian besar berupa tip.

FOP (flowery orange pekoe), partikelnya lebih pendek dari OP, lebih

keriting dan banyak mengandung tip (tippy).

S (souchon), partikelnya terpilin, berbentuk butiran (grainy).

BS (broken souchon), partikelnya tergulung berbentuk butiran.

BOP Sup (broken orange pekoe superior), partikelnya berbentuk dan

berukuran hampir sama dengan BOP Grof, banyak mengandung tip.

BOP Grof (broken orange pekoe grof), partikelnya sebagian besar

berbentuk butiran yang terpilin.

BOP Sp (broken orange pekoe special), partikelnya berbentuk seperti BOP

Sup.

LM ( leafy mixed), adalah teh daun yang ukuran dan bentuknya tidak

(34)

2. Teh bubuk (broken grades), jenis teh yang dalam proses sortasinya lolos dari

ayakan 7 mesh dan tertahan oleh ayakan 20 mesh:

BOP I/BOP (broken orange pekoe i/ broken orange pekoe),

bagian-bagiannya pendek, agak kecil, hitam terpilin, terdiri dari tulang-tulang daun

pendek, terutama berasal dari daun muda, mengandung sedikit tip atau tanpa

tip.

BOP II (broken orange pekoe), partikelnya berbentuk seperti BOP, lebih

banyak mengandung tulang daun, berwarna lebih kemerahan.

FBOP (flowery broken orange pekoe), partikelnya berbentuk seperti BOP,

lebih keriting dan lebih banyak mengandung tip.

BP (broken pekoe), bagian-bagian pendek lurus, terdiri dari tangkai dan

tulang daun muda yang tidak terkelupas.

BP II (broken pekoe ii), berbentuk seperti BP, tetapi lebih banyak

mengandung tangkai dan tulang daun tua yang terkelupas, berwarna lebih

kemerahan dibanding BP.

BT (broken tea), partikelnya kecil, pipih, dan tidak terpilin baik.

BT II (broken tea ii), berbentuk seperti BP, tetapi banyak mengandung

serat.

BOPF (broken orange pekoe fanning), partikelnya berbentuk seperti BOP,

tetapi berukuran lebih kecil.

BOPF Sup (broken orange pekoe fanning superior), partikelnya berbentuk

seperti BOPF, tetapi mengandung banyak tip.

BM (broken mixed), campuran dari dua atau tiga jenis mutu pada teh bubuk

(35)

3. Teh halus (small grades), jenis teh yang dalam proses sortasinya lolos dari

ayakan 20 mesh.

F (fanning), partikelnya berukuran lebih kecil dari BOPF, merupakan

campuran antara partikel pipih dan keriting.

F II (fanning II), partikelnya berukuran sama dengan fanning, tetapi lebih

banyak mengandung serat.

TF (tippy fanning), partikelnya berbentuk seperti fanning, tetapi banyak

mengandung tip.

PF (pekoe fanning), berbentuk seperti BOP, tetapi berukuran lebih besar

dari Fanning.

PF II (pekoe fanning II), partikelnya berbentuk seperti PF, tetapi lebih

banyak mengandung serat.

Dust, partikelnya berukuran kecil.

Dust II, partikelnya berukuran sangat kecil, banyak mengandung serat.

Dust III, partikelnya berukuran sangat kecil, lebih banyak mengandung serat

dibanding Dust II.

4. Teh campuran orthodox (mixed orthodox), campuran dari dua atau lebih jenis

mutu teh daun, teh bubuk dan atau teh halus

(Setyamidjaja, 2000).

Pendekatan Sistem

Pendekatan sistem adalah suatu cara untuk menangani suatu masalah.

Pendekatan sistem (system approach) merupakan cara untuk menangani suatu

masalah berdasarkan berpikiran kesisteman. Pendekatan sistem terhadap suatu

(36)

semua aspek yang terkait dengan masalah itu dan mengkonsentrasikan

perhatiannya kepada interaksi antara setiap aspek yang terkait dengan

permasalahan tersebut (Tunas, 2007).

Pada dasarnya pengukuran kinerja dapat dilakukan pada tiga tingkat, yaitu

proses, produk, dan outcome. Ukuran-ukuran proses mendefenisikan aktivitas,

variabel, dan operasi dari kerja itu sendiri. Ukuran-ukuran produk mendefenisikan

features spesific, nilai-nilai dan atribut dari setiap produk yang dapat diuji dari dua

sisi. Sisi pertama berkaitan dengan karakteristik produk yang diinginkan oleh

pelanggan (kebutuhan dan ekspektasi pelanggan) dan sisi kedua merupakan

karakteristik produk yang secara aktual diserahkan oleh proses (kapabilitas

proses). Ukuran-ukuran outcome mendefinisikan dampak absolut dari proses dan

tergantung pada kepuasan pelanggan (Gaspersz, 2001).

Teknik Pengendalian Mutu

Kendali mutu dilakukan dengan tujuan mewujudkan mutu yang sesuai

dengan syarat-syarat yang dituntut konsumen. Dalam kendali mutu sebaiknya

terlebih dahulu kita mengetahui apakah sebenarnya yang dimaksud dengan mutu

tersebut. Mutu suatu produk adalah keadaan fisik, dan sifat suatu produk

bersangkutan yang dapat memenuhi selera dan kebutuhan konsumen dengan

memuaskan sesuai nilai uang yang telah dikeluarkan (Feigenbaum, 1989).

Pengertian pengendalian mutu secara umum adalah menjaga mutu pada

tingkat dan toleransi yang dapat diterima oleh pembeli atau pemakai, sementara

menekan biaya serendah-rendahnya ada kalanya juga memenuhi persyaratan yang

ditetapkan oleh instansi pemerintah. Bidang pengawasan meliputi bahan mentah,

(37)

dari sejak panen sampai dengan pengiriman hasil produksi, jadi meliputi mutu

panen dan mutu hasil (Mangoensoekarjo dan Semangun, 2003).

Perencanaan mutu yang benar menghasilkan kemampuan dalam proses

untuk memenuhi tujuan mutu dibawah kondisi operasi tertentu. Pengendalian

mutu terdiri dari mengukur performa mutu aktual, membandingkannya dengan

suatu standar, dan melakukan tindakan atas setiap penyimpangan. Akhirnya,

perbaikan mutu berada di atas pengendalian mutu. Perbaikan mutu berarti mencari

cara untuk melakukan yang lebih dari pada standar dan melakukan terobosan

untuk tingkat performa yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hasil akhir yang

diinginkan adalah tingkat mutu yang bahkan lebih tinggi dari tingkat performa

yang direncanakan. Dalam mengelola kualitas, rancangan konseptualnya adalah

sama dengan yang digunakan dalam mengelola keuangan. Akan tetapi, langkah

prosedurnya adalah khusus dan alat yang digunakan juga khusus (Tunggal, 1998).

Kegiatan pengendalian mutu merupakan bidang pekerjaan yang sangat

luas dan kompleks karena semua variabel yang mempengaruhi mutu harus

diperhatikan. Secara garis besarnya, pengendalian mutu dapat diklasifikasikan

sebagai berikut:

1. Pengendalian mutu bahan baku

Mutu bahan akan sangat mempengaruhi hasil akhir dari barang yang kita buat.

Bahan baku dengan mutu yang jelek akan menghasilkan mutu barang yang

jelek dan sebaliknya. Pengendalian mutu bahan harus dilakukan sejak

penerimaan bahan baku di gudang, selama penyimpanan, dan waktu bahan

(38)

akan memberi akibat mutu produk yang dihasilkan berada di luar standar mutu

yang direncanakan.

2. Pengendalian dalam proses pengolahan

Terdapat beberapa cara pengendalian mutu selama proses produksi

berlangsung. Misalnya melalui contoh (sample), yakni hasil yang diambil

pada selang waktu yang sama. Sampel tersebut dianalisis secara statistik untuk

memperoleh gambaran apakah sampel tersebut sesuai dengan yang

direncanakan atau tidak. Bila tidak sesuai berarti proses produksinya salah.

Selanjutnya, kesalahan tersebut harus diteruskan kepada operator (pelaksana)

untuk dilakukan perbaikan. Pengawasan dilakukan terhadap seluruh tahapan

proses produksi dari awal hingga akhir tanpa kecuali.

3. Pengendalian mutu produk akhir

Produk akhir harus diawasi mutunya sejak keluar dari proses produksi hingga

tahapan pengiriman ke konsumen. Dalam memasarkan produk, perusahaan

harus berusaha menampilkan produk yang bermutu. Hal ini hanya dapat

dilaksanakan bila atas produk akhir tersebut dilakukan pengecekan mutu agar

produk yang rusak (cacat) tidak sampai ke tangan konsumen

(Prawirosentoso, 2002).

Langkah-langkah yang sangat penting dalam pelaksanaan kendali mutu

adalah :

a. Pahami karakteristik mutu sebenarnya

(39)

c. Temukan karakteristik mutu pengganti, dan miliki pemahaman yang benar

tentang hubungan antara karakteristik mutu sebenarnya dan karakteristik mutu

pengganti

(Ishikawa, 1992).

Diagram Kontrol

Control chart (Gambar 3) adalah teknik statistik yang digunakan untuk

memastikan bahwa proses produksi memenuhi standar. Standar proses ini

biasanya menunjuk pada tingkat variabilitas (keragaman) tertentu, karena sangat

sulit menciptakan suatu proses produksi yang menghasilkan produk yang sama

persis sepanjang waktu.

Gambar 3. Diagram control chart (Wikipedia, 2011).

Control chart sebagai alat bantu ini pertama kali diperkenalkan oleh W.A.

Shewhart di Laboratorium Bell Telephone. Karakteristik pokok pada alat bantu ini

adalah adanya sepasang batas kendali (upper dan lower limit), sehingga dari data

yang dikumpulkan akan dapat terdeteksi kecenderungan kondisi proses yang

(40)

proses yang sudah berjalan. Bila data yang terkumpul sebagian besar berada

dalam batas pengendalian, maka dapat disimpulkan bahwa proses berjalan dalam

kondisi stabil. Tetapi sebaliknya, bila sebagian besar data menunjukkan deviasi di

luar batas kendali, maka bisa dikatakan proses berjalan tidak normal, yang bisa

berdampak pada penurunan mutu produk (Wikipedia, 2011).

Control chart digunakan untuk mengukur kinerja proses. Proses dikatakan

berada pada pengendalian statistikal (in statistical control), jika hanya ada satu

penyebab variasi yaitu penyebab umum/alamiah (common/natural cause) saja.

Pertama kali proses harus dibawa pada pengendalian statistikal dengan

mendeteksi dan menghilangkan penyebab khusus (special/assignable) dari variasi,

setelah itu baru kinerja dapat diprediksi dan kemampuannya mencapai harapan

konsumen dapat dinilai. Tujuan dari sistem pengendalian proses adalah untuk

menyediakan sinyal statistikal ketika muncul penyebab khusus variasi.

a. Variasi alamiah

Variasi alamiah (natural variation) terjadi pada hampir semua proses

produksi. Variasi alamiah menunjuk pada semua sumber variasi yang terjadi

pada proses produksi yang berada pada pengendalian statistikal (in statistical

control). Sekalipun produk individual berbeda-beda, secara berkelompok,

produk-produk akan membentuk suatu pola yang disebut ‘distribusi’.

Sepanjang distribusi berada pada batas yang ditentukan, proses produksi dapat

dikatakan ‘in control’ (dalam pengendalian) dan variasi alamiah diterima.

b. Variasi yang dapat ditentukan

Variasi tertentu (assignable variation) dalam proses dapat ditelusuri untuk

(41)

yang tidak tepat, kelelahan pekerja atau penggunaan bahan baku yang tidak

baik dapat menjadi sumber potensial bagi variasi tertentu. Variasi alamiah dan

variasi tertentu membedakan dua tugas bagi manajer operasi yaitu pertama,

untuk memastikan bahwa proses mampu beroperasi dibawah kendali dengan

hanya memiliki variasi alamiah, dan kedua, untuk mengidentifikasi dan

menghilangkan variasi-variasi tertentu sehingga proses tetap terjaga berada

dibawah kendali (in control) (Kotler, 1995).

Menurut Besterfield (1998), manfaat pengendalian kualitas proses untuk

data variabel adalah memberikan informasi mengenai :

1. Perbaikan kualitas

2. Menentukan kemampuan proses setelah perbaikan kualitas tercapai

3. Membuat keputusan yang berkaitan dengan spesifikasi produk. Jika

kemampuan proses ± 0,03 dan spesifikasi ± 0,004, maka hal ini adalah

realistis dan biasanya disebabkan oleh karyawan operasi

4. Membuat keputusan yang berkaitan dengan proses produksi. Apabila

prosesnya berada pada kondisi in statistical control, maka pengendalian

kualitas proses untuk data variabel digunakan untuk mempertahankan

pengendalian. Namun apabila proses berada pada kondisi out of statistical

control, maka pengendalian kualitas proses untuk data variabel digunakan

untuk mengetahui kapan terjadinya penyimpangan yang disebabkan oleh

sebab khusus dan umum untuk diambil tindakan terutama untuk

mengurangi sebab khusus

(42)

Indeks kemampuan proses Kane (Cpk) adalah nilai yang mewakili

kemampuan sesungguhnya dari suatu proses dengan parameter nilai tertentu. Nilai

Cpk diformulasikan dengan : ,

dimana :

LSL = Lower Spesification Limit

USL = Upper Spesification Limit

CPL = Capability Process Lower

CPU = Capability Process upper

Indeks kemampuan proses Kane (Cpk) baru layak dihitung apabila proses berada

dalam pengendalian statistik (in statistical control) (Ariani, 2005).

Variasi acak timbul sebagai akibat saling mempengaruhi antara sejumlah

besar faktor, seperti suhu udara, tekanan atmosfer dan kelonggaran penggunaan

mesin-mesin yang biasa. Variasi ini acak, biasanya kecil dan tidak dapat

dikelompokkan pada penyebab khusus. Sebuah proses dikatakan stabil atau

terkendali bila variabilitas proses itu hanya merupakan akibat variasi (Munro –

(43)

Diagram Tulang Ikan

Diagram sebab-akibat adalah suatu diagram yang menunjukkan hubungan

antara sebab dan akibat. Berkaitan dengan pengendalian proses statistikal,

diagram sebab akibat dipergunakan untuk menunjukkan faktor-faktor penyebab

(sebab) dan karakteristik kualitas (akibat) yang disebabkan oleh faktor-faktor

penyebab itu. Diagram sebab-akibat ini sering juga disebut sebagai diagram tulang

ikan (fishbone diagram) karena bentuknya seperti kerangka ikan, atau diagram

ishikawa (ishikawa’s diagram) karena pertama kali diperkenalkan oleh Prof.

Kaoru Ishikawa dari Universitas Tokyo pada tahun 1943. Pada dasarnya diagram

sebab-akibat dapat dipergunakan untuk kebutuhan-kebutuhan sebagai berikut :

- Membantu mengidentifikasi akar penyebab dari suatu masalah

- Membantu membangkitkan ide-ide untuk solusi suatu masalah

- Membantu dalam penyelidikan atau pencarian fakta lebih lanjut

(Gaspersz, 2001).

Diagram tulang ikan (fishbone diagram) adalah alat analisis yang

memberikan cara pandang yang sistematis terhadap sebab dan akibat yang timbul,

atau kontribusi pada suatu akibat. Karena fungsi inilah diagram tulang ikan juga

disebut sebagai cause-effect diagram. Bahwa diagram ini berguna untuk

membantu melakukan kategorisasi dari penyebab potensial suatu masalah atau

isu, dan mengidentifikasi penyebab utamanya. Langkah-langkah dalam membuat

diagram tulang ikan adalah sebagai berikut.

1. Gambarkan diagram tulang ikan

(44)

3. Berikan label pada tiap-tiap “tulang”. Kategori utama yang biasa dipakai

adalah :

4M (Method, machine, Material, Manpower)

4P (Place, Procedure, People, Polices)

4S (Surrounding, Supplier, Sistem, Skill)

4. Gunakan teknik idea-generating untuk mengidentifikasi pada tiap kategori

yang mungkin menyebabkan masalah/isu dan akibat yang sedang dihadapi

5. Ulangi prosedur diatas untuk masing-masing faktor yang menghasilkan

subfaktor

6. Lanjutkan sampai tidak adalagi informasi penting yang tertinggal

7. Analisis hasil dari diagram tulang ikan

(Wibisono, 2006).

Gambar 4. Diagram Sebab - Akibat

Diagram sebab akibat digambar untuk mengilustrasikan dengan jelas

(45)

dan mengembangkan penyebab-penyebabnya. Oleh sebab itu, diagram

sebab – akibat yang baik merupakan salah satu yang cocok dengan tujuan, dan

tidak memiliki bentuk yang pasti. Yang terpenting adalah diagram sebab - akibat

(46)

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan April 2011 hingga Mei 2011

bertempat di Pabrik Teh PT. Perkebunan Nusantara IV Kebun Bah Butong.

Bahan dan Alat

Adapun bahan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah data

informasi bulanan karakteristik mutu selama tiga tahun terakhir (2009 sampai

2011).

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah perangkat keras yang

terdiri dari komputer dan alat tulis. Perangkat lunak berupa pengolah data statistik

Minitab 14.

Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan secara sistematis

yakni mencari informasi dan pengetahuan dari berbagai media (bibliografi) dan

juga dari para stakeholders. Penelitian bersifat deskriptif sebagai sebuah studi

untuk mengadakan perbaikan terhadap suatu keadaan terdahulu. Teknik yang

digunakan dalam metode penelitian ini adalah:

1. Pengumpulan data

Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini merupakan data variabel yaitu data

kadar air, rasa (taste) dan kenampakan (appearance) teh hitam. Pengumpulan

(47)

a. Literatur / studi pustaka

Metode ini digunakan untuk mendapatkan data-data serta teori-teori yang

berhubungan dengan teh hitam, khususnya mengenai aspek mutu teh hitam

serta teori-teori yang berhubungan dengan masalah pengendalian kualitas

statistik.

b. Pengamatan (observasi)

Tahap observasi merupakan tahap yang dilakukan dalam pengumpulan data

sebagai objek penelitian. Data yang dibutuhkan adalah kadar air, rasa (taste)

dan kenampakan (appearance) teh hitam.

c. Wawancara

Pengumpulan data dengan cara melakukan wawancara atau tanya jawab

dengan stakeholders yang terkait. Stakeholders disini meliputi baik dari tenaga

kerja yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi ataupun

dengan tenaga kerja yang berhubungan langsung dengan proses produksi.

Metode ini digunakan untuk mendukung akurasi data.

2. Analisa data

Penyusunan control chart I-MR dari masing-masing data yang diamati dengan

menggunakan software statistik Minitab 14. Selanjutnya data dianalisa dengan

menggunakan control chart I-MR tersebut untuk mengetahui ada tidaknya

penyimpangan (variasi) mutu teh hitam dari setiap periode dan kemudian

dibandingkan dengan standar nasional ataupun standar spesifikasi pelanggan

(konsumen teh hitam). Apabila data berada di luar batas pengendalian statistik

maka selanjutnya diteliti faktor-faktor penyebab yang berpengaruh terhadap

(48)

data-data lain yang mendukung dan juga melalui wawancara atau tanya jawab

dengan pihak-pihak yang bersangkutan (stakeholders). Selanjutnya akan

diperoleh informasi yakni berupa frekuensi dan urutan pentingnya

masalah-masalah atau penyebab-penyebab dari masalah yang ada dan

diinterprestasikan ke dalam model diagram sebab-akibat, untuk mencari akar

persoalan dari masalah penyimpangan mutu teh tersebut.

Prosedur Penelitian

1. Melakukan tahap pengumpulan data yang sudah tersedia di lapangan yang

relevan dengan penelitian.

2. Menganalisis data mutu yang diperoleh menggunakan control chart untuk

mengetahui apakah karakteristik mutu berada dalam batas pengendalian

statistik atau tidak dari periode tahun 2009 sampai 2011.

3. Menentukan hubungan antara karakteristik mutu teh hitam terhadap

standar nasional ataupun standar spesifikasi pelanggan (konsumen teh

hitam).

4. Melakukan evaluasi terhadap data mutu yang berada di luar batas

pengendalian statistik.

5. Menginformasikan masalah/faktor-faktor penyebab utama yang

menyebabkan penyimpangan tersebut dan menentukan ruang lingkup

permasalahan dengan cara melakukan wawancara atau tanya jawab dengan

pihak-pihak terkait (stakeholders), khususnya pihak-pihak yang berperan

(49)

6. Menentukan frekuensi dan urutan pentingnya masalah-masalah atau

penyebab-penyebab dari masalah yang ada.

7. Mentransformasikan masalah atau faktor-faktor yang berpengaruh

terhadap penyimpangan mutu teh hitam ke dalam suatu model diagram

(50)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sejarah singkat

Perkebunan Bah Butong dibuka pada tahun 1917 oleh Nederland Handel

Maskapai (NV.NHM). Pabrik pertama didirikan pada tahun 1927 dan mulai

beroperasi sejak tahun 1931. Secara kelembagaan, tahun 1957 Pemerintah

Indonesia melakukan pengambil alihan perusahaan yang dikelola pihak asing,

termasuk perusahaan NHM, melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor

229/UM/57, Tanggal 10 Agustus 1957 yang diperkuat dengan Undang-Undang

Nasionalisasi Nomor. 86/1958.

Tahun 1961, PPN Baru dan Pusat Perkebunan Negara dilebur menjadi

Badan Pimpinan Umum PPN Daerah Sumatera Utara I-IX melalui U.U. Nomor.

141 Tahun 1961 Sumut III dan Jo PP Nomor 141 Tahun 1961. Tahun 1963

Perkebunan Teh Sumatera Utara dialihkan menjadi Perusahaan Aneka Tanaman

IV ( ANTAN-IV ) melalaui PP Nomor. 27 Tahun 1963.

Tahun 1968 terjadi perubahan menjadi Perusahaan Negara Perkebunan

VIII (PNP VIII) melalui PP Nomor 141 Tahun 1968 Tanggal 13 April 1968.

Perubahan berikutnya mulai tahun 1974 menjadi Persero yaitu PT Perkebunan

VIII ( PTP VIII ) melalui Akta Notaris GHS Lumban Tobing SH Nomor. 65

Tanggal ; 31 April 1974 yang diperkuat SK Menteri Pertanian Nomor. YA/5/5/23,

Tanggal : 07 Januari 1975.

Semenjak tanggal 11 Maret 1996 terjadi restrukturisasi kembali, dimana

Perkebunan Bah Butong masuk dalam lingkup PTP Nusantara IV melalui Akte

Pendirian PTPN IV Nomor. 37 Tanggal 11 Maret 1996 yang mengatur peleburan

(51)

tahun 1998 s/d 2000 dibangun pabrik baru yang lebih besar dan modern,

diresmikan Tanggal 20 Januari 2001.

Lokasi Kebun Bah Butong berada di Kecamatan Sidamanik, 26 Km dari

Kota Pematang Siantar dan 155 Km dari Kantor Pusat yang berada di

Kota Medan dengan luas Areal HGU 2.891.84 Ha dengan luas tanaman

menghasilkan 1.229,71 Ha dan dengan ketinggian 890 meter dpl.

Jenis Mutu Teh Hitam Di PTPN IV

Jenis mutu teh hitam yang diproduksi dibedakan berdasarkan keseragaman

bentuk maupun ukuran partikelnya dengan beberapa jenis ayakan (mesh) yaitu

jumlah lubang ayakan kawat persegi.

Table 2. Jenis mutu (grade) teh hitam di PTPN IV

NO Grade I Grade II

1 BOP I -

2 BOP -

3 BOPF -

4 BP BP II

5 BT BT II

6 PF PF

7 Dust I Dust II

Dust III

Analisa Data Mutu Teh Hitam Dari Control Chart I-MR

Dari pengamatan yang dilakukan di Pabrik Pengolahan Teh Hitam di

PTPN IV Kebun Bah Butong, data yang diperoleh yakni data kadar air, rasa

(taste) dan kenampakan (appearance) untuk jenis BOPF (broken orange peko

fanning) periode Januari 2009, 2010 dan 2011 selanjutnya dianalisis dengan

(52)

proses yang homogen. Maka sesuai dengan pernyataan gasperz (2001), control

chart yang sesuai dengan proses ini yaitu control chart I-MR. Control chart

tersebut dibuat dengan menggunakan software Minitab 14.

Data yang dianalisis adalah data kadar air, rasa (taste) dan kenampakan

(appearance) untuk bulan Januari 2009 sampai 2011. Data disebar dalam control

chart I-MR (individual value – moving range) dengan bantuan software Minitab

14 dan selanjutnya dilihat apakah data tersebut berada dalam pengendalian

statistik atau tidak.

Kadar air

1. Periode Januari 2009

Gambar 5. Control chart I-MR kadar air periode Januari 2009

Hasil visualisasi gambar untuk control chart I di atas tampak bahwa

sebaran data berada dalam batas pengendalian statistik (in statistical control),

(53)

dimana seluruh data sampel berada di sekitar garis sentral (CL = central line)

yang berarti kadar air untuk periode Januari 2009 terkendali secara statistik dan

menunjukkan pencapaian kondisi sistem yang cukup stabil. Sedangkan untuk

control chart MR di atas tampak bahwa mayoritas berada di sekitar garis sentral

dan secara keseluruhan sampel tersebar dalam batas pengendalian statistik dengan

perubahan variasi yang tidak terlalu signifikan dan penyebarannya yang cukup

beraturan, sehingga dapat disimpulkan bahwa kadar air pada periode ini memiliki

pencapaian yang baik dan stabil. Selanjutnya apabila sampel yang diambil pada

bulan Januari 2009 ini dibandingkan dengan Standar Mutu Nasional (SNI)

(Tabel 1) yang menyatakan bahwa kadar air maksimal adalah 8%, dan standar

kadar air di pabrik sebesar 5,5%, maka keseluruhan sampel pada periode 2009 ini

memenuhi kedua standar tersebut.

2. Periode Januari 2010

(54)

Gambar 6. Control chart I-MR kadar air periode Januari 2010

Hasil visualisasi gambar control chart I dan MR (gambar 6), terlihat

bahwa semua sampel pada kedua gambar tersebut berada dalam batas

pengendalian statistik (in statistical control), dimana data sampel tersebar di

dalam batas pengendalian atas (UCL = upper control limit) dan batas

pengendalian bawah (LCL = lower control limit) sehingga dapat disimpulkan

bahwa kadar air pada periode Januari 2010 terkendali secara statistik dan

menunjukkan pencapaian kondisi sistem yang cukup stabil.

Secara umum, dari seluruh sampel yang diambil pada bulan Januari 2010

ini dibandingkan dengan Standar Mutu Nasional (SNI) yang menentukan bahwa

kadar air untuk teh hitam adalah maksimal 8% dan standar kadar air di pabrik

yaitu 5,5%, maka keseluruhan sampel memenuhi kedua standar tersebut, dan

berarti dari segi kesesuaian terhadap standar-standar yang ditetapkan tersebut,

kadar air teh hitam pada periode ini sama baiknya dengan pencapaian dari tahun

sebelumnya dan dapat diterima dengan baik oleh konsumen.

3. Periode Januari 2011

Hasil visualisasi untuk control chart I (Gambar 7), dapat dilihat bahwa

sampel pertama berada di luar batas pengendalian atas, kemudian diantara sampel

ketiga yang berada tepat di garis batas pengendalian atas dan sampel keempat

terjadi perubahan yang cukup ekstrim, dimana terdapat perubahan yang besar

dalam ukuran variasi yakni sampel ketiga dengan kadar air 5,38% dan sampel

keempat dengan kadar air 4,65%, namun perubahan ekstrim pada kedua sampel

tersebut tidak memerlukan tindakan perbaikan karena besar nilai kadar air tersebut

(55)

Observation

Gambar 7. Control chart I-MR Kadar air periode Januari 2011

Sesuai dengan Munro-Faure (1996) yang menyatakan bahwa variasi acak timbul

sebagai akibat saling mempengaruhi antara sejumlah faktor, seperti suhu udara,

tekanan atmosfer dan kelonggaran penggunaan mesin-mesin yang biasa. Variasi

acak ini biasanya kecil dan tidak dapat dikelompokkan pada penyebab khusus,

sebuah proses dikatakan stabil atau terkendali bila variabilitas proses itu hanya

merupakan akibat dari variasi. Pada control chart MR di atas tampak bahwa

semua sampel berada dalam batas pengendalian statistik (in statistical control)

dengan penyebaran data yang bergerak fluktuatif, yang berarti kadar air pada

periode Januari 2011 ini terkendali secara statistik dan masih menunjukkan

pencapaian kondisi sistem yang baik.

Selanjutnya apabila sampel kadar air yang diambil pada bulan Januari

(56)

bahwa kadar air maksimal untuk teh adalah 8% dan standar di pabrik yaitu 5,5%,

maka seluruh sampel kadar air memenuhi standar tersebut.

Rasa

1. Periode Januari 2009

Gambar 8. Control chart I-MR rasa (taste) periode Januari 2009

Hasil visualisasi pada gambar di atas untuk control chart I menunjukkan

bahwa data sampel sebagian besar berada dalam batas pengendalian statistik (in

statistical control) yang tersebar di garis sentral. Namun, dapat dilihat bahwa

sampel ke- 6, 7, 8 dan 15 berada di luar batas kendali bawah dengan nilai batas

bawah yaitu 31,074 yang menunjukkan bahwa rasa (taste) untuk sampel tersebut

tidak terkendali secara statistik, dimana terjadi penurunan rasa dari teh hitam

tersebut. Dilihat dari karakteristik untuk rasa pada sampel yang berada di luar

batas kendali bawah tersebut, nilainya masih dianggap baik dan tidak memerlukan

(57)

perbaikan. Sedangkan dari control chart MR di atas tampak bahwa sampel ke- 6

berada di luar batas pengendali atas (UCL). Hal ini menunjukkan terjadinya

perubahan ekstrim dalam ukuran variasi antara sampel ke- 5 dan ke- 6 untuk data

sampel rasa (taste) tersebut, dimana selisih nilai pada kedua sampel tersebut lebih

besar dari nilai batas atas (UCL) yaitu 3,267. Sehingga dapat disimpulkan bahwa

tingkat pencapaian untuk rasa (taste) yang dihasilkan pada periode ini belum

stabil. Oleh karena itu, masih perlu dilakukan pengawasan dan peningkatan proses

untuk menghasilkan karakteristik mutu rasa (taste) dengan pencapaian yang lebih

baik.

Selanjutnya apabila sampel yang diambil pada bulan Januari 2009 ini

dibandingkan dengan Standar Mutu Nasional (SNI) yang menentukan bahwa rasa

(taste) dengan skor 31-39 berada dalam kategori sedang sampai dengan enak.

2. Periode Januari 2010

Gambar

Gambar 1. Pucuk daun teh
Gambar 2. Diagram alir pengolahan teh hitam orthodox-rotorvane
Table 1. Spesifikasi persyaratan mutu teh hitam
Gambar 3. Diagram control chart (Wikipedia, 2011).
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi konsistensi mutu CPO (kadar asam lemak bebas dan kadar air) dan rendemen produksi selama bulan April dan bulan September periode

Dalam penelitian ini terdapat beberapa variabel yang diantara nya terdapat variabel usia, variabel jumlah tanggungan , dan variabel tingkat pengalaman, berdasarkan data yang telah

Pada tahun 2009, harga teh hitam di pasar perdagangan internasional berkisar pada level harga Rp 19.395/kg, sementara harga PTPN IV sebesar Rp 16.326/kg, ini lebih rendah 15,8%

Dalam penelitian ini terdapat beberapa variabel yang diantara nya terdapat variabel usia, variabel jumlah tanggungan , dan variabel tingkat pengalaman, berdasarkan data yang telah

Berapa pendapatan insentif yang diterima oleh Tenaga Kerja Wanita di. PTPN IV

pendapatan orang tua adalah seluruh pendapata yang diterima oleh seseorang baik yang berasal dari keterlibatan langsung dalam proses produksi atau tidak, yang dapat diukur dengan

Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia, Jakarta:.. Lembaga

Informasi yang Ibu berikan semata-mata hanya untuk data penelitian dalam rangka penyusunan skripsi saya. Pendapatan suami/istri