• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis perubahan ruang terbuka hijau dan strategi pengembangannya di Kota Bandar Lampung

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis perubahan ruang terbuka hijau dan strategi pengembangannya di Kota Bandar Lampung"

Copied!
138
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PERUBAHAN RUANG TERBUKA HIJAU

DAN STRATEGI PENGEMBANGANNYA

DI KOTA BANDAR LAMPUNG

YENI TRIDARMAYANTI

SEKOLAH PASCA SARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Analisis Perubahan Ruang Terbuka Hijau dan Strategi Pengembangannya di Kota Bandar Lampung adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Februari 2010

(3)

ABSTRACT

YENI TRIDARMAYANTI. Analysis of Green Open Space Change and Development Strategy in Bandar Lampung City. Under direction of MUHAMMAD ARDIANSYAH and ALINDA FITRIANY M. ZAIN.

Development of Bandar Lampung City has the great influenced to the land use changes. Land use conversion commonly happen on Green Open Space (GOS) into other usages. The aims of this research are : (a) to identify GOS change in Bandar Lampung City along the year 2000-2007; (b) to identify GOS needed base on regulation of spatial planning (UU No 26/2007) and number of population; (c) to identify center of GOS change into built up area related to the regional development and the factors that affected the change; (d) to identify divergency of GOS change in RTRW (Public Document of Regional Planning); and (5) to find the strategy to maintain and develop GOS. This research was conducted by Landsat analysis using Geographic Information System (GIS) and combined with Location Quotient Analisys (LQ) to analize GS change. Scalogram and regression analysis used for analize the regional development and the factors that affected the GOS change.

The result showed that forest, mixed dry farming, plantation and paddy field decrease of 1.449 Ha (7.35%) in 7 years, since year 2000 to 2007. Meanwhile, built up area increase to 1.218 Ha (6,19%). Based on UU No 26/2007, availability of GOS in Bandar Lampung City are still sufficient (> 30%), it’s about 61.40% (12.110 Ha) from the total area of the city. Analysis of GOS needed based on area found that in subdistrict level at Tanjung Karang Pusat and Kedaton subdistrict insufficient GOS. Based on standard for number of population, Tanjung Karang Pusat, Kedaton and Teluk Betung Selatan subdistrict still in below standard. The changes center of GOS in Bandar Lampung City happen in 63 villages, which are distributed in hierarchy III 79,57 % villages, hierarchy II 16,60% village, and hierarchy I 3,83% village. There are 2 factors that affected GOS change, one is village development index and another is number of population. Land use change from GOS and protection area into built up area was found as deviation of RTRW. The strategy to maintain and to develop GOS depend on the availability and the problem that occur with GOS, so GOS can be developed optimally.

(4)

YENI TRIDARMAYANTI. Analisis Perubahan Ruang Terbuka Hijau dan Strategi Pengembangannya di Kota Bandar Lampung. Dibimbing oleh MUHAMMAD ARDIANSYAH dan ALINDA FITRIANY M. ZAIN.

Perkembangan Kota Bandar Lampung membawa implikasi terhadap perubahan penggunaan lahan yang ada, pemanfaatan ruang yang awalnya merupakan kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) akan berkurang akibat berubah fungsi menjadi kawasan terbangun. Hal ini dikhawatirkan akan terus berlangsung karena upaya untuk mempertahankan keberadaan RTH seringkali masih dikalahkan oleh banyaknya kepentingan yang dianggap lebih menguntungkan dan cenderung berorientasi pada pembangunan fisik untuk kepentingan ekonomi. Perubahan penggunaan lahan khususnya RTH selama kurun waktu 2000-2007 merupakan kondisi yang tidak dapat dihindari sebagai efek dari kegiatan pembangunan yang dilakukan. Adanya peningkatan jumlah penduduk tentu saja akan diikuti pula dengan meningkatnya kebutuhan terhadap ruang yang pada akhirnya akan berakibat terhadap konversi RTH yang ada. Konversi RTH akan lebih cepat terjadi pada wilayah yang berada pada pusat pertumbuhan dan mengakibatkan ketersediaan RTH akan berbeda antar wilayah satu dengan lainnya. Sebaran yang tidak merata ini tentu saja membawa dampak negatif bukan hanya bagi lingkungan tetapi juga bagi manusia sebagai elemen dari ekosistem. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk menjaga keseimbangan lingkungan yang ada yaitu melalui pengadaan RTH yang tepat, baik luas maupun sebarannya sesuai dengan standar kebutuhan RTH yang ada. Melihat kondisi yang demikian maka diperlukan suatu informasi yang dapat dijadikan sebagai bahan arahan untuk mengatur strategi dalam mempertahankan dan mengembangkan RTH yang diharapkan akan memberikan sumbangan yang positif terhadap keberadaan RTH di Kota Bandar Lampung. Tidak tepatnya rencana dan tidak tertibnya pemanfaatan ruang yang ada akan menyebabkan berkurangnya keberadaan RTH yang pada akhirnya akan menyebabkan penurunan kualitas lingkungan. Salah satu cara untuk mengetahui secara cepat ketersediaan maupun perubahan RTH adalah dengan mengunakan teknologi penginderaan jauh. Penggunaan teknologi penginderaan jauh secara temporal dapat digunakan untuk mengetahui dinamika perubahan penutupan dan penggunaan lahan (land use cover change/LUCC) melalui monitoring dan karakterisasi pola spasial LUCC. Teknik analisisnya secara efisien dapat menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG).

Penelitian ini bertujuan : (1) mengidentifikasi dinamika perubahan RTH di Kota Bandar Lampung Tahun 2000-2007, (2) mengidentifikasi kebutuhan luas RTH berdasarkan UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan standar jumlah penduduk, (3) mengindentifikasi pusat-pusat perubahan RTH menjadi kawasan terbangun dan kaitannya dengan perkembangan wilayah serta faktor-faktor penyebab perubahan RTH (4) mengidentifikasi penyimpangan perubahan RTH terhadap RTRW, (5) menyusun strategi dalam mempertahankan dan mengembangkan RTH.

(5)

ketersediaan sarana dan prasarana wilayahnya. Data yang digunakan dalam analisis skalogram adalah data Potensi Desa (Podes) tahun 2006. Keluaran dari analisis skalogram adalah Indeks Perkembangan Kelurahan (IPK) dan hirarki wilayah. Faktor penyebab perubahan RTH diidentifikasi dengan analisis regresi. Variabel bebas yang diduga memiliki pengaruh terhadap perubahan RTH terdiri atas : 1) kepadatan penduduk, 2) jarak kelurahan ke pusat ibukota dan 3) Indeks Perkembangan Kelurahan (IPK).

Selama periode 2000- 2007 terjadi penurunan jumlah RTH berupa hutan, kebun campuran, perkebunan dan sawah seluas 1.449 Ha (7,35%), sedangkan kawasan terbangun bertambah menjadi 1.218 Ha (6,19%). Berdasarkan standar luas RTH yang ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang yaitu sebesar 30%, ketersediaan RTH di Kota Bandar Lampung masih mencukupi. Berdasarkan hasil analisis penutupan/penggunaan lahan, luas RTH yang ada seluas 12.110 ha atau sekitar 61,40% dari total luas wilayah 19.722 Ha. Untuk tingkat kecamatan terdapat 2 kecamatan yang tidak memenuhi standar kebutuhan RTH berdasarkan luas wilayah yaitu Kecamatan Tanjung Karang Pusat dan Kedaton, sedangkan berdasarkan standar jumlah penduduk terdapat 3 kecamatan yang belum memenuhi standar yaitu Tanjung Karang Pusat, Kedaton dan Teluk Betung Selatan. Pemusatan perubahan RTH menjadi pemukiman terjadi di 63 kelurahan yang ada di seluruh kecamatan di Kota Bandar Lampung. Perubahan ini terutama terjadi pada kecamatan yang banyak dibangun perumahan yang dilakukan sebagai salah satu upaya untuk pengembangan pemukiman yang memang sudah terlampau padat di pusat kota. Hasil analisis hirarki wilayah menunjukkan bahwa sebagian besar kelurahan berada pada hirarki III yaitu sebesar 79,57 %, sedangkan kelurahan yang ada pada hirarki I dan II sebesar 3,83% dan 16,60%. Seluruh kelurahan yang ada di kecamatan sekitar Kota Bandar Lampung termasuk ke dalam hirarki III. Kelurahan yang tidak mengalami pemusatan perubahan penutupan/penggunaan lahan sebagian besar adalah kelurahan yang berada pada hirarki III. Berdasarkan hasil análisis faktor yang berpengaruh terhadap perubahan RTH menjadi kawasan permukiman adalah IPK dan kepadatan penduduk. Terdapat perubahan pemanfaatan ruang khususnya pada ruang yang telah ditetapkan sebagai kawasan RTH dan kawasan lindung seperti yang ada dalam RTRW menjadi kawasan terbangun. Penyimpangan pemanfaatan RTH dari rencana pemanfaatan ruang yang tertuang dalam RTRW merupakan implikasi dari kurangnya pengawasan dan pengendalian terhadap rencana pemanfaatan ruang yang ada. Penyusunan strategi untuk mempertahankan dan mengembangkan RTH di Kota Bandar Lampung dimulai dengan melihat dari kondisi ketersediaan RTH dan permasalahannya sehingga pengembangannya dapat dilakukan dengan lebih optimal.

(6)

© Hak Cipta milik IPB, tahun 2010

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tesis tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber.

a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah.

b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar Institut Pertanian Bogor. 2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis

(7)

ANALISIS PERUBAHAN RUANG TERBUKA HIJAU

DAN STRATEGI PENGEMBANGANNYA

DI KOTA BANDAR LAMPUNG

YENI TRIDARMAYANTI

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada

Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

SEKOLAH PASCA SARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(8)
(9)

Judul Tesis : Analisis Perubahan Ruang Terbuka Hijau dan Strategi Pengembangannya di Kota Bandar Lampung

Nama : Yeni Tridarmayanti

NRP : A156070144

Disetujui Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Muhammad Ardiansyah Ketua

Dr. Ir. Alinda Fitriany M. Zain, M.Si Anggota

Diketahui

Ketua Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah

Dr. Ir. Ernan Rustiadi, M.Agr

Dekan Sekolah Pascasarjana IPB

Prof. Dr. Ir. Khairil A Notodiputro, M.S

(10)

Kupersembahkan Karya ini kepada:

Ayahanda Drs. Hi. Hamzah Aska (Alm) dan Ibunda Hj. Zusterina Dalil

Suamiku Muhammad Insan Setiawan, SE

Kedua Putraku M.Fathan Fakhran & M. Althaf Attaullah

serta adik-adikku

(11)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah, SWT karena hanya atas segala pertolongan, petunjuk dan rahmat-Nya akhirnya karya ilmiah ini dapat diselesaikan dengan baik dan lancar. Tema yang dipilih penulis pada penelitian ini adalah Analisis Perubahan Ruang Terbuka Hijau dan Strategi Pengembangannya di Kota Bandar Lampung. Tesis ini ditulis berdasarkan hasil penelitian penulis dan terwujud berkat bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Dr. Ir. Muhammad Ardiansyah selaku ketua komisi pembimbing dan Dr. Ir. Alinda Fitriyani M. Zain, MSi selaku anggota komisi pembimbing atas segala arahan, bimbingan dan motivasi yang telah diberikan mulai dari tahap awal hingga penyelesaian tesis ini.

2. Dr. Ir. Dwi Putro Tejo Baskoro, MSc selaku penguji luar komisi yang telah memberikan saran dan masukannya.

3. Dr. Ir. Ernan Rustiadi, M.Agr. selaku Ketua Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

4. Pimpinan dan staf Pusbindiklatren Bappenas atas kesempatan beasiswa yang diberikan bagi penulis.

5. Pemerintah Provinsi Lampung yang telah memberikan kesempatan tugas belajar ini kepada penulis.

6. Segenap Dinas/Instansi terkait atas bantuan informasi dan data yang diberikan kepada penulis untuk kelancaran penyelesaian tesis ini.

7. Segenap Dosen Pengajar dan Manajemen pada Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah, Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

8. Ayahanda Drs. Hi. Hamzah Aska (Alm) dan Ibunda Hj. Zusterina Dalil yang selalu mendoakan dan memberikan dukungan semangat tiada hentinya kepada penulis. 9. Suamiku tercinta M. Insan Setiawan, SE dan kedua buah hatiku tersayang

M. Fathan Fakhran dan M. Althaf Attaullah atas segala doa, kasih sayang, kesabaran, dukungan, pengorbanan, perhatian dan pengertiannya selama masa pendidikan.

10.Adik-adikku tersayang Anie Kristina Yuniarti, SE, Aben Antariska, ST dan Rio Reza Pahlevi, SH atas segala dukungan dan perhatiannya.

11.Rekan-rekan seperjuangan PWL 2007 Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

12.Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu atas bantuan dan dukungannya.

Akhirnya penulis menyadari bahwa penelitian ini tidak terlepas dari kekurangan dan keterbatasan. Untuk itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis hargai, dan semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Terima kasih.

(12)

Penulis dilahirkan di Sumberjaya pada tanggal 6 Desember 1975 sebagai putri pertama dari empat bersaudara pasangan Drs. Hi. Hamzah Aska (Alm) dan Hj. Zusterina Dalil. Lulus dari SMA Negeri 2 Tanjung Karang pada tahun 1994 dan pada tahun yang sama menempuh pendidikan tinggi di Program Studi Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Lampung yang diselesaikan pada tahun 1998. Tahun 2000 penulis diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil di Bappeda Kabupaten Way Kanan dan pada tahun 2002 bekerja di Bappeda Provinsi Lampung.

(13)

DAFTAR ISI

RTH dan Permasalahan Lingkungan di Perkotaan ... 9

RTH dan Penataan Ruang Di Perkotaan ... 11

Perubahan Penggunaan Lahan dan Faktor yang Mempengaruhinya ... 12

Hirarki Wilayah ... 14

Sistem Informasi Geografis ... 15

Penginderaan Jauh ... 18

Analisis Penutupan/Penggunaan Lahan dan Deteksi Perubahannya ... 28

Analisis Standar Kebutuhan RTH ... 33

Identifikasi Pusat-Pusat Perubahan RTH ... 33

Analisis Perkembangan Wilayah ... 34

Anaisis Faktor-Faktor Penyebab Perubahan RTH……… 36

Analisis Penyimpangan Pemanfaatan RTH Terhadap RTRW.………… 36

KEADAAN UMUM WILAYAH Letak Geografis dan Administrasi ... 37

Kependudukan ... 40

Karakteristik Fisik Wilayah ... 41

Topografi ... 41

Kondisi Iklim ... 43

Kondisi Hidrologi ... 44

Bentuk RTH di Kota Bandar Lampung ... 45

(14)

Kebutuhan Luas RTH Berdasarkan Undang-Undang Nomor 26

Tahun 2007 ... 65

Kebutuhan Luas RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk ... 66

Ketercukupan RTH Berdasarkan Kondisi Eksisiting RTH di Kota Bandar Lampung ... 68

Pemusatan Perubahan RTH menjadi Kawasan Terbangun ... 70

Dampak Perkembangan Wilayah terhadap Penurunan RTH ... 73

Faktor-Faktor Penyebab Perubahan RTH menjadi Kawasan Terbangun ... 80

Kesesuaian RTRW terhadap Kondisi RTH ... 82

Kelembagaan Pengelolaan RTH ... 86

Strategi Mempertahankan dan Mengembangkan RTH ... 91

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 97

Saran ... 98

DAFTAR PUSTAKA ... 99

(15)

DAFTAR TABEL

Halaman

1 Panjang Gelombang Kanal-Kanal Sensor TM dan Fungsi Aplikasinya ... 20

2 Matrik Hubungan Antara Tujuan, Data, Metode dan Keluaran Pada Setiap Tahapan Penelitian ... 25

3 Matrik Transformasi Perubahan Penutupan Lahan ... 32

4 Standar Luas RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk ... 33

5 Nilai Selang Hirarki IPK ... 35

6 Luas Kota Bandar Lampung per Kecamatan ... 39

7 Jumlah Penduduk Kota Bandar Lampung Tahun 2006 ... 40

8 Kemiringan Lereng dan Luas Lahan Masing-Masing Kecamatan di Kota Bandar Lampung ... 43

9 Nama Sungai, Panjang, Luas DAS (ha) dan Debit Rata-Rata yang Mengalir di Kota Bandar Lampung ... 44

10 Struktur Penutupan/Penggunaan Lahan Kota Bandar Lampung Tahun 2000-2007 ... 55

11 Matriks Perubahan Penutupan/Penggunaan Lahan Kota Bandar Lampung Tahun 2000-2007 ... 60

12 Struktur Penutupan/Penggunaan Lahan di Kecamatan Sekitar Kota Bandar Lampung Tahun 2000-2007 ... 62

13 Matriks Perubahan Penutupan/Penggunaan Lahan di Kecamatan Sekitar Kota Bandar Lampung Tahun 2000-2007 ... 64

14 Standar Kebutuhan RTH Berdasarkan Undang-Undang Penataan Ruang Nomor 26 Tahun 2007 ... 66

15 Tingkat Kepadatan Penduduk di Kota Bandar Lampung ... 67

16 Standar Kebutuhan RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk ... 68

17 Kesesuaian Kondisi Eksisting RTH Terhadap Standar Luas RTH Berdasarkan Undang-Undang Penataan Ruang Nomor 26 tahun 2007 .... 69

18 Kesesuaian Kondisi Eksisting RTH Terhadap Standar Luas RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk ... 70

19 Kisaran Nilai IPK dan Penentuan Hirarki Kelurahan ... 74

20 Jumlah Kelurahan Berdasarkan Hirarki di Kota Bandar Lampung dan Kecamatan Sekitarnya ... 75

(16)
(17)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1 Ruang Terbuka Publik ... 8

2 RTH Publik Dalam Tata Ruang Kota ... 10

3 Keterkaitan Subsistem Sistem Informasi Geografis ... 17

4 Kerangka Pemikiran ... 22

5 Tahapan Penelitian ... 23

6 Tahapan Pengolahan Data Spasial ... 28

7 Peta Administrasi Kota Bandar Lampung ... 38

8 Peta Kemiringan Lereng Kota Bandar Lampung ... 42

9 Hutan Kota ... 47

10 Taman Kota sebagai RTH ... 49

11 RTH Kawasan Rekreasi ... 49

12 Pemakaman Umum sebagai RTH ... 50

13 RTH Kawasan Perkantoran ... 51

14 RTH Kawasan Pertanian ... 51

15 RTH Kawasan Olah Raga ... 52

16 RTH Kawasan Pendidikan ... 53

17 RTH Jalur Jalan ... 53

18 RTH Sempadan Sungai ... 54

19 Peta Penutupan/Penggunaan Lahan Kota Bandar Lampung Tahun 2000 ... 57

20 Peta Penutupan/Penggunaan Lahan Kota Bandar Lampung Tahun 2007 ... 58

21 Peta Pemusatan Perubahan RTH Menjadi Permukiman Tahun 2000-2007 ... 72

22 Grafik Jumlah Kelurahan berdasarkan Hirarki Wilayah di Kota Bandar Lampung dan Kecamatan Sekitarnya ... 76

23 Peta Hirarki Kelurahan Kota Bandar Lampung dan Kecamatan Sekitarnya ... 78

(18)

Halaman

1 Variabel Data Analisis Skalogram ... 102

2 Titik Referensi Hasil Cek Lapangan dan Google Earth ... 104

3 Nilai LQ Perubahan RTH menjadi Permukiman ... 107

4 Hasil Analisis Indeks Perkembangan Kelurahan (IPK) ... 112

(19)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pada hakekatnya pembangunan adalah upaya perubahan dari kondisi kurang baik menjadi lebih baik. Untuk itu pemanfaatan sumber daya alam dalam proses pembangunan perlu selalu dikaitkan dengan daya dukung lingkungannya agar lingkungan sebagai ruang hidup manusia tidak terdegradasi (Amron, 2007). Dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dikatakan bahwa Pembangunan ekonomi nasional sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 diselenggarakan berdasarkan prinsip pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Dengan demikian keseimbangan lingkungan perkotaan secara ekologi sama pentingnya dengan perkembangan nilai ekonomi kawasan perkotaan.

Kegiatan pembangunan diharapkan akan berdampak positif bagi kesejahteraan masyarakat diantaranya tersedianya lapangan kerja, aktivitas ekonomi yang semakin meningkat, bertambahnya pendapatan daerah dan lain sebagainya. Selain membawa manfaat, pembangunan juga mengandung resiko menimbulkan kerusakan lingkungan, ini merupakan konsekuensi dari adanya perubahan pemanfaatan ruang yang tidak mungkin dihindari dalam proses pembangunan. Untuk itu diperlukan penataan ruang yang memprioritaskan aspek kelestarian lingkungan mulai dari perencanaan, pemanfaaatan sampai pengendalian ruang guna mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan sehingga kerusakan terhadap lingkungan dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan.

(20)

dianggap lebih menguntungkan dan cenderung berorientasi pada pembangunan fisik untuk kepentingan ekonomi.

Keberadaan RTH di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang yang menjadi acuan bagi Pemerintah Daerah untuk merencanakan dan menata RTH, yang mengamanatkan penyediaan RTH minimal sebesar 30 % dari luas wilayah. Dalam Undang-Undang Penataan Ruang RTH didefinisikan sebagai area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. Secara ekologis RTH sangat dibutuhkan guna menunjang pembangunan yang berkelanjutan. Salah satu upaya mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan adalah dengan memasukkan unsur lingkungan sebagai salah satu dasar pertimbangan dalam setiap kegiatan pembangunan yang dilakukan.

Kota Bandar Lampung merupakan kota yang strategis karena menjadi pusat pertumbuhan utama bagi Provinsi Lampung, sekaligus menjadi kota transit dan pintu masuk utama ke Pulau Sumatra dari Pulau Jawa. Kegiatan pembangunan Kota Bandar Lampung yang sejalan dengan perkembangan aktivitas masyarakatnya telah memperbesar kawasan terbangun dan meluas hingga pinggiran kota, sementara ketersediaan ruang terbuka termaksud didalamnya RTH cenderung semakin menyempit akibat perubahan fungsi tersebut. Perkembangan pembangunan Kota Bandar Lampung secara langsung akan berakibat pada naiknya jumlah penduduk yang ada. Menurut data Biro Pusat Statistik (BPS) Kota dalam Kecamatan Dalam Angka (KDA) tahun 2007, jumlah penduduk Kota Bandar Lampung sebesar 844.417 jiwa, dengan tingkat kepadatan penduduk sebesar 43,94 jiwa/ha dan tingkat pertumbuhan penduduk tahun 2000-2006 sebesar 2,16 %. Peningkatan jumlah penduduk ini tentu akan diikuti pula dengan meningkatnya kebutuhan terhadap ruang, karena ruang tidak dapat bertambah dan bersifat tetap maka yang terjadi adalah perubahan pemanfaatan ruang. Perubahan pemanfaatan ruang tersebut akan cenderung mengkonversi RTH sehingga jumlahnya akan semakin terus mengalami penurunan.

(21)

3

yang perkembangannya cepat dan luasannya juga relatif lebih banyak. Jumlah penduduk yang padat dan kompleksnya kegiatan pembangunan akan semakin banyak membutuhkan ruang. Pemenuhan ruang didapat dengan cara mengkonversi RTH yang ada, padahal keberadaan RTH pada wilayah yang padat sangat diperlukan guna menghindari dampak negatif yang dapat timbul seperti terjadinya banjir, pencemaran udara, hilangnya kawasan resapan air, longsor dan sebagainya. Keberadaan RTH sebagai ruang yang memberikan manfaat besar bagi lingkungan mutlak ada karena fungsi ekologisnya yang dapat menjamin keberlanjutan wilayah secara fisik. Pembangunan memang penting untuk memicu pertumbuhan ekonomi, namun pembangunan yang tidak terkendali justru akan merusak lingkungan.

Untuk mendapatkan manfaat yang optimal dari RTH yang ada maka informasi mengenai ketersediaan maupun sebaran RTH perlu untuk diketahui. Adanya pemusatan aktivitas pembangunan menyebabkan keberadaan RTH pada wilayah ini akan lebih sedikit karena ruang yang ada lebih banyak merupakan kawasan terbangun. Luas maupun sebaran RTH yang tidak sesuai akan mengurangi fungsinya dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Sebaran yang tidak merata tentu saja membawa dampak negatif bukan hanya bagi lingkungan tetapi juga bagi manusia sebagai elemen dari ekosistem. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk menjaga lingkungan perkotaan ini adalah dengan pengadaan RTH yang tepat, baik luas maupun sebarannya sesuai dengan standar kebutuhan RTH yang ada. Melihat kondisi yang demikian maka diperlukan suatu informasi yang dapat dijadikan sebagai bahan arahan perencanaan untuk mengatur strategi dalam mempertahankan dan mengembangkan RTH yang diharapkan akan memberikan sumbangan yang positif terhadap keberadaan RTH di Kota Bandar Lampung. Tidak tepatnya rencana dan tidak tertibnya pemanfaatan ruang yang ada akan menyebabkan berkurangnya keberadaan RTH yang pada akhirnya akan menyebabkan penurunan kualitas lingkungan.

(22)

Perumusan Masalah

(23)

5

Berdasarkan latar belakang dan permasalahan yang telah diuraikan maka dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimana dinamika perubahan RTH di Kota Bandar Lampung Tahun 2000-2007 ?

2. Apakah luas dan sebaran RTH di Kota Bandar Lampung telah sesuai dengan kebutuhan luas kawasan hijau berdasarkan UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan standar jumlah penduduk ?

3. Dimana pusat-pusat perubahan RTH menjadi kawasan terbangun dan kaitan perubahan tersebut dengan perkembangan wilayah serta faktor-faktor apa yang menyebabkan perubahan RTH menjadi kawasan terbangun ?

4. Apakah terdapat penyimpangan perubahan RTH terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) ?

5. Bagaimana strategi dalam mempertahankan dan mengembangkan RTH yang ada di Kota Bandar Lampung ?

Tujuan Penelitian

1. Mengidentifikasi dinamika perubahan RTH di Kota Bandar Lampung Tahun 2000-2007.

2. Mengidentifikasi kebutuhan luas RTH berdasarkan UU No 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan standar jumlah penduduk.

3. Mengindentifikasi pusat-pusat perubahan RTH menjadi kawasan terbangun dan kaitannya dengan perkembangan wilayah serta faktor-faktor penyebab perubahan RTH.

4. Mengidentifikasi penyimpangan perubahan RTH terhadap RTRW. 5. Menyusun strategi dalam mempertahankan dan mengembangkan RTH.

Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian adalah ini :

(24)

2. Sebagai bahan pertimbangan bagi Pemerintah Daerah Kota Bandar Lampung untuk menentukan lokasi dan luas RTH.

(25)

TINJAUAN PUSTAKA

Ruang Terbuka Hijau

Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang mendefinisikan ruang sebagai wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan, dan ruang udara sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan mahluk hidup lainnya hidup dan melakukan kegiatan, serta memelihara kelangsungan hidupnya. Ruang sebagai salah satu sumberdaya alam tidaklah mengenal batas wilayah, namun jika dikaitkan dengan pengaturannya, maka harus ada batas, fungsi dan sistem yang jelas dalam satu kesatuan. Lebih lanjut dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang ini bahwa juga RTH adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. Sedangkan menurut Purnomohadi (2006), RTH didefinisikan (1) suatu lapangan yang ditumbuhi berbagai tetumbuhan, pada berbagai strata, mulai dari penutup tanah, semak, perdu dan pohon (tanaman tinggi berkayu); (2) sebentang lahan terbuka tanpa bangunan yang mempunyai ukuran, bentuk dan batas geografis tertentu dengan status penguasaan apapun, yang didalamnya terdapat tetumbuhan hijau berkayu dan tahunan (perennial woody plants) dengan pepohonan sebagai tumbuhan penciri utama dan tumbuhan lainnya (perdu, semak, rerumputan dan tumbuhan penutup tanah lainnya), sebagai tumbuhan pelengkap, serta benda-benda lain yang juga sebagai pelengkap dan penunjang fungsi RTH yang bersangkutan.

RTH Perkotaan

Secara umum ruang terbuka publik (open spaces) di perkotaan terdiri dari RTH dan Ruang Terbuka non Hijau. RTH sebagai infrastruktur hijau perkotaan adalah bagian dari ruang-ruang terbuka suatu wilayah perkotaan yang diisi oleh tumbuhan, tanaman dan vegetasi (endemik maupun introduksi) guna mendukung manfaat ekologis, sosial budaya dan arsitektural yang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakatnya (Gambar 1).

(26)

berfungsi secara ekologis, sosial budaya, arsitektural dan ekonomi. Secara ekologis RTH dapat meningkatkan kualitas air tanah, mencegah banjir, mengurangi polusi udara dan menurunkan temperatur kota. Bentuk-bentuk RTH perkotaan yang berfungsi ekologis antara lain sabuk hijau kota, hutan kota, taman botani, maupun sempadan sungai. Secara sosial budaya keberadaan RTH dapat memberikan fungsi sebagai ruang interaksi sosial, sarana rekreasi dan sarana tetenger kota yang berbudaya. Bentuk RTH yang befungsi sosial budaya antara lain taman-taman kota, lapangan olah raga, kebun raya maupun TPU.

Gambar 1. Ruang Terbuka Publik

Dari segi arsitektural RTH dapat meningkatkan nilai keindahan dan kenyamanan kota melalui keberadaan dan kenyamanan kota melalui keberadaan taman-taman kota, kebun bunga, dan jalur-jalur hijau di jalan kota. Sementara itu RTH juga dapat memiliki fungsi ekonomi baik secara langsung seperti pengusahaan lahan-lahan kosong menjadi lahan-lahan pertanian/perkebunan dan pengembangan sarana wisata hijau perkotaan yang dapat mendatangkan wisatawan.

Secara struktur, bentuk dan susunan RTH dapat merupakan konfigurasi ekologis dan planologis. RTH dengan konfigurasi ekologis merupakan RTH yang berbasis bentang alam seperti kawasan lindung, perbukitan, sempadan sungai, sempadan danau, maupun pesisir. Sedangkan RTH dengan konfigurasi planologis dapat berupa ruang-ruang yang dibentuk mengikuti pola struktur kota seperti RTH perumahan, RTH kelurahan, RTH kecamatan, RTH kota maupun taman-taman regional/nasional. Dari segi kepemilikan RTH dapat berupa RTH publik yang dimiliki

WILAYAH PERKOTAAN

RUANG TERBANGUN

RUANG TERBUKA

RUANG TERBUKA HIJAU (RTH)

(27)

9

oleh umum dan terbuka bagi masyarakat luas atau RTH privat yang berupa taman-taman yang berada pada lahan-lahan pribadi (Purnomohadi, 2006).

RTH dan Permasalahan Lingkungan di Perkotaan

Pengelolaan ruang di kawasan perkotaan cenderung mengalami tantangan yang cukup berat akibat tingginya arus urbanisasi. Sementara disisi lain daya dukung lingkungan dan sosial yang ada mengalami penurunan sehingga tidak dapat mengimbangi kebutuhan akibat tekanan kependudukan. Tantangan lainnya berkaitan dengan tingginya tingkat konversi atau alih guna lahan terutama lahan pertanian maupun terbuka hijau menjadi daerah terbangun yang menimbulkan dampak terhadap rendahnya kualitas lingkungan perkotaan (Purnomohadi, 2006).

Aktivitas kota akan mempengaruhi kualitas lingkungan. Menyusutnya RTH sebagai salah satu ruang publik memicu permasalahan lingkungan kota. Nilai estetika dan identitas asri sebuah kota akan hilang dengan hilangnya RTH. Dampak terburuk hilangnya RTH adalah munculnya berbagai permasalahan lingkungan karena secara ekologis RTH dapat mereduksi efek negatif lingkungan.

Ruang hijau perkotaan merupakan komponen yang penting dalam ekosistem perkotaan. Keberadaan ruang hijau bertujuan untuk menjaga kelestarian, keserasian dan keseimbangan ekosistem. Berlangsungnya fungsi ekologis alami dalam lingkungan perkotaan secara seimbang dan lestari akan membentuk kota yang sehat (Duc Uy et al, 2007). Menurut Irwan (2008), kota membutuhkan vegetasi (tumbuh-tumbuhan) karena tumbuh-tumbuhan mempunyai peranan dalam segala kehidupan mahluk hidup selain nilai keindahan bagi masyarakat semenjak dulu. Pembangunan yang terus meningkat di perkotaan, sering tidak menghiraukan kehadiran lahan hijau. Bukan saja yang ada di dalam kota, bahkan berkembang ke daerah pinggir kota atau daerah perbatasan kota (suburban). Tumbuhan yang ada di pekarangan dan halaman bangunan kantor, sekolah atau di halaman bangunan lainnya serta tumbuhan yang ada di pinggir jalan baik jumlah maupun keanekaragamannya semakin menurun.

(28)

Agar keberadaan RTH di perkotaan dapat berfungsi secara efektif baik secara ekologis maupun secara planologis, pengembangan RTH tersebut sebaiknya dilakukan secara hierarki dan terpadu dengan sistem struktur ruang yang ada di perkotaan. Dengan demikian keberadaan RTH bukan sekedar menjadi elemen pelengkap dalam perencanaan suatu kota semata, melainkan lebih merupakan pembentuk struktur ruang kota, sehingga kita dapat mengidentifikasi hirarki struktur ruang kota melalui keberadaan komponen pembentuk RTH yang ada. Sebagai contoh, secara hierarki dari mulai unit perumahan terkecil (RT/RW), kelurahan, kecamatan, wilayah kota hingga ke tingkat kota/kota besar perlu dikembangkan elemen-elemen RTH yang sesuai dengan tingkat pelayanannya sebagaimana terlihat pada Gambar 2 (Purnomohadi, 2006).

Gambar 2. RTH Publik Dalam Tata Ruang Kota

KOTA/KOTA SATELIT

TAMAN RW

TAMAN TAMAN

TAMAN

TAMAN KECAMATAN

KELURAHAN

KECAMATAN METROPOLITAN

KOTA BESAR/METROPOLITAN

KELURAHAN

KOTA

(29)

11

RTH dan Penataan Ruang di Perkotaan

Penataan ruang pada dasarnya merupakan perubahan yang disengaja. Dengan memahaminya sebagai proses pembangunan melalui upaya-upaya perubahan ke arah kehidupan yang lebih baik, maka penataan ruang merupakan bagian dari proses pembangunan. Pada dasarnya penataan ruang memiliki tiga urgensi yakni (a) optimalisasi pemanfaatan sumberdaya (prinsip produktifitas dan efisiensi); (b) alat dan wujud distribusi sumberdaya (prinsip pemerataan, keberimbangan, dan keadilan); dan (c) keberlanjutan (prinsip sustainability). (Rustiadi et al, 2006).

Secara umum penataan ruang ditujukan untuk menghasilkan suatu perencanaan tata ruang yang kita inginkan pada masa yang akan datang. Rencana tersebut lalu diwujudkan dalam pemanfaatan ruang yang sesuai dengan rencana yang ditetapkan. Dalam pelaksanaannya hal tersebut harus diikuti dengan proses pengendalian terhadap pemanfaatan ruang yang ada agar pada akhirnya tata ruang yang kita inginkan dapat terwujud.

Hadi (2006) menyatakan bahwa banyak faktor yang menentukan keberhasilan penataan ruang yaitu (1) produk rencana tata ruang yang akurat dan berkualitas; (2) dinamika pemanfaatan ruang yang mengacu produk rencana tata ruang; dan (3) proses pengendalian pemanfatan ruang yang konsisten dan tegas. Dengan demikian konsep penataan ruang adalah menginginkan ruang yang tertata secara : serasi, selaras, seimbang dan berkelanjutan. Kebutuhan ruang boleh meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan aktivitas ekonomi, namun ruang memiliki daya dukung yang terbatas. Dengan demikian diperlukan rekomendasi penataan ruang yang selalu diperbarui sesuai dengan perkembangan, tetapi tetap memperhatikan keseimbangan ekosistem dalam ruang itu sendiri.

(30)

dimana kita boleh membangun, bukan sebaliknya. Lebih lanjut lagi Purnomohadi (2006) menyebutkan bahwa adanya gambaran bagaimana pesatnya pertumbuhan di perkotaan yang menimbulkan berbagai masalah sosial dan lingkungan menjadi hal yang dapat dimengerti apabila arah dari RTRW Kota adalah menetapkan lokasi dari kawasan yang harus dilindungi dan dibudidayakan. Disinilah RTH mengambil peranan yang besar, yaitu sebagai alat atau wahana untuk memberikan perlindungan terhadap sumber daya alam maupun buatan di perkotaan. Undang-Undang Penataan Ruang Nomor 26 Tahun 2007 dengan tegas telah mengarahkan 30 % dari lahan perkotaan adalah RTH baik lahan privat maupun publik. Adanya peluang ini maka dalam RTRW kota RTH dapat diwujudkan antara lain :

Merupakan kawasan konservasi untuk kelestarian hidrologis Merupakan area pengembangan keanekaragaman hayati

Merupakan area penciptaan iklim mikro dan reduktor polutan di kawasan perkotaan Sebagai tempat rekreasi masyarakat

Sebagai tempat pemakaman umum

Merupakan pembatas perkembangan kota ke arah yang tidak diharapkan

Merupakan pengamanan sumber daya, baik alam, buatan maupun aspek-aspek historis.

Dalam konsep perencanaan pembangunan yang berkelanjutan, secara nyata ditegaskan bahwa upaya pembangunan yang kita lakukan saat ini, sebaiknya tidak dilakukan dengan mengabaikan hak-hak generasi mendatang dalam ikut menikmati sumber-sumber daya yang ada, terutama sumber daya alam dan lingkungan. Dengan demikian perencanaan tata ruang kota di perkotaan seyogyanya harus dapat mengakomodasi kepentingan-kepentingan ekonomi untuk menjamin produktivitas kota, kepentingan-kepentingan sosial untuk mewadahi aktivitas masyarakat, serta kepentingan-kepentingan lingkungan untuk menjamin keberlanjutan.

Perubahan Penggunaan Lahan dan Faktor yang Mempengaruhinya

(31)

13

(1) konversi lahan-lahan berfungsi lindung menjadi lahan budidaya yang berakibat pada menurunnya kemampuan kawasan dalam melindungi kekayaan plasma nutfah dan menurunnya keseimbangan tata air wilayah (2) konversi lahan pertanian produktif menjadi lahan non pertanian secara nasional telah mencapai 35.000 hektar per tahun, yang tentunya disamping mengancam ketahanan pangan nasional juga dapat menganggu keseimbangan lingkungan (3) konversi RTH di kawasan perkotaan menjadi lahan terbangun telah menurunkan kualitas lingkungan kawasan perkotaan.

Barredo et al (2003) menyatakan bahwa terdapat lima penyebab perubahan penggunaan lahan dalam suatu aktifitas perkotaan yaitu karakteristik lingkungan, karakteristik ketetanggaan lokal, kebijakan perencanaan kota dan wilayah, karakteristik spasial kota seperti aksesibilitas dan faktor yang berhubungan dengan preferensi individu, tingkat pembangunan wilayah dan sistem politik. Menurut Dardak (2005) lahan merupakan sumber daya pembangunan yang memiliki karakteristik unik yakni (i) sediaan/luas relative tetap karena perubahan luas akibat proses alami (sedimentasi) dan proses artificial (reklamasi) sangat kecil, (ii) memiliki sifat fisik (jenis batuan, kandungan mineral, tofografi dan sebagainya) dengan kesesuaian dalam menampung kegiatan masyarakat yang cenderung spesifik. Oleh karena itu lahan perlu diarahkan untuk dimanfaatkan untuk kegiatan yang paling sesuai dengan sifat fisiknya serta dikelola agar mampu menampung kegiatan masyarakat yang terus berkembang. Sedangkan perubahan penggunaan lahan diartikan sebagai suatu proses perubahan lahan sebelumnya ke penggunaan lain yang dapat bersifat permanen maupun sementara dan merupakan bentuk konsekuensi logis adanya pertumbuhan dan transformasi perubahan struktur sosial ekonomi masyarakat yang sedang berkembang (Winoto et al, 1996 dalam Andriyani, 2007).

(32)

meningkat akan diikuti peningkatan kegiatannya, sehingga perubahan bentuk penggunaan lahan cenderung pula meningkat (Wahyudi, 2009).

RTH merupakan salah satu penggunaan lahan yang mempunyai fungsi lindung, sehingga apabila terjadi konversi RTH yang cenderung mengurangi ketersediaannya tentu saja akan membawa pengaruh terhadap keseimbangan lingkungan. Suryadini (1994) dalam Hartini (2007) menyatakan bahwa faktor penyebab terjadinya perubahan pemanfaatan RTH adalah :

Terbatasnya lahan yang hendak dibangun pada daerah yang mengalami perubahan, Kebutuhan pemenuhan fasilitas yang ingin dibangun untuk melayani penduduk, Kurangnya pengawasan dari pemerintah terhadap perubahan RTH,

Tingkat pendapatan masyarakat berpengaruh terhadap tingkat kebutuhan akan RTH,

Konsekuensi dari lokasi yang strategis secara ekonomis dan produktif yang dapat meningkatkan nilai lahan.

Hirarki Wilayah

(33)

15

pelayanan suatu wilayah dicerminkan pula oleh magnitude (besaran) aktivitas sosial-ekonomi masyarakat yang ada di suatu wilayah.

Secara fisik dan operasional, sumberdaya yang paling mudah dinilai dalam penghitungan kapasitas pelayanan adalah sumberdaya buatan (sarana dan prasarana pada pusat-pusat wilayah). Secara sederhana, kapasitas pelayanan infrastruktur atau prasarana wilayah dapat diukur dari : (1) jumlah sarana pelayanan, (2) jumlah jenis sarana pelayanan yang ada, serta (3) kualitas sarana pelayanan. Sedangkan besaran aktivitas sosial ekonomi secara operasional dapat diukur dari jumlah penduduk, perputaran uang, aktivitas-aktivitas ekonomi, PDRB, jumlah jenis organisasi atau lembaga formal maupun non formal. Semakin banyak jumlah dan jenis sarana pelayanan serta semakin tinggi aktivitas sosial ekonomi mencerminkan kapasitas pusat wilayah yang tinggi yang berarti juga menunjukan hirarki pusat yang tinggi. Banyaknya jumlah sarana pelayanan dan jumlah jenis sarana pelayanan berkorelasi kuat dengan jumlah penduduk di suatu wilayah. Pusat-pusat yang berhirarki tinggi melayani pusat-pusat dengan hirarki yang lebih rendah disamping juga hiterland di sekitarnya.

Hirarki suatu wilayah sangat terkait dengan hirarki fasilitas kepentingan umum di masing masing wilayah. Hirarki wilayah dapat membantu untuk menentukan fasilitas apa yang harus ada atau perlu dibangun di masing-masing wilayah. Fasilitas kepentingan umum bukan hanya menyangkut jenisnya, tetapi juga kapasitas pelayanan dan kualitasnya. Jenis fasilitas itu mungkin harus ada di seluruh wilayah, tetapi kapasitas dan kualitas pelayanannya harus berbeda. Makin maju suatu wilayah, semakin beragam fasilitas yang disediakan sehingga makin luas wilayah pengaruhnya (Tarigan, 2005). Sedangkan menurut Hastuti (2001) hirarki wilayah ditentukan oleh jumlah penduduk, jumlah dan jenis fasilitas pelayanan umum. Secara umum dapat dikatakan bahwa semakin tinggi jumlah penduduk dan semakin banyak jumlah serta jenis fasilitas pada suatu wilayah maka akan semakin tinggi hirarki yang dimiliki wilayah tersebut.

Sistem Informasi Geografis

(34)

memperbaharui, mengelola, memanipulasi, mengintegrasikan, menganalisa dan menampilkan data dalam suatu informasi berbasis geografis (Puntodewo et al, 2003)

SIG dirancang untuk menyimpan dan menganalisis obyek-obyek, serta fenomena-fenomena dimana lokasi geografis merupakan karakteristik yang penting atau kritis untuk dianalisis (Prahasta, 2004). Selanjutnya Barus dan Wiradisastra (2000) menjelaskan bahwa SIG memiliki kemampuan menangani data spasial yang besar karena dalam sejarahnya berkembang dari berbagai disiplin ilmu, yang diawali oleh kelompok survei dan pemetaan, ilmu komputer dan geografi kuantitatif.

Prahasta (2001) menguraikan SIG atas beberapa subsistem yang saling terkait, yaitu :

1. Data input, yang bertanggung jawab dalam mengkonversi atau mentransformasikan format-format data ke dalam format yang digunakan dalam SIG.

2. Data output, sub sistem ini menampilkan atau menghasilkan keluaran atau sebagian basis data baik dalam bentuk softcopy maupun hardcopy seperti tabel, grafik, peta, dan lain-lain.

3. Data management, yang mengorganisasikan baik data spasial maupun atribut ke dalam sebuah basis data sedemikian rupa sehingga mudah dipanggil, diperbaharui (update) dan dikoreksi (edit).

4. Data manipulation dan analisis, subsistem ini menentukan informasi-informasi yang dihasilkan oleh SIG. Selain itu juga melakukan manipulasi, dan permodelan data dan untuk menghasilkan informasi yang diharapkan.

(35)

17

Menurut Barus dan Wiradisastra (2000), aplikasi SIG telah banyak dimanfaatkan dalam berbagai bidang seperti pengelolaan dalam penggunaan lahan di bidang pertanian, perkebunan dan kehutanan. Dibidang lingkungan aplikasi SIG digunakan dalam analisis erosi dan dampaknya, analisis daerah rawan banjir, kebakaran atau lahan kritis dan analisis kesenjangan (gap analysis). Seperti juga penginderaan jauh yang telah diaplikasikan oleh berbagai kalangan dan kepentingan, maka aplikasi SIG telah digunakan baik oleh kalangan swasta, perguruan tinggi maupun pemerintah daerah. Aplikasi SIG untuk tugas dan kewenangan pemerintah daerah sebagian besar berkaitan dengan data geografis dengan memanfaatkan kehandalan SIG antara lain: kewenangan di bidang pertanahan, pengembangan ekonomi, perencanaan penggunaan lahan, kesehatan, perpajakan, infrastruktur (jaringan jalan, perumahan, transportasi), informasi kependudukan, pengelolaan darurat dan pemantauan lingkungan.

Menurut Lillesand dan Kiefer (1993) penggunaan SIG yang dikombinasikan dengan sistem penginderaan jauh menjadikan suatu teknologi yang terintegrasi dan dapat diterima dalam pengembangan studi atau penelitian. Keuntungan yang dapat diperoleh dengan memadukan penerapan SIG dengan data penginderaan jauh adalah : 1. Basis data dalam SIG dapat menyediakan data tambahan untuk membantu

Gambar 3. Keterkaitan Subsistem Sistem Informasi Geografis (Prahasta, 2001)

(36)

dalam proses klasifikasi atau analisis data penginderaan jauh, sehingga dapat meningkatkan akurasi dan ketepatan peta yang dihasilkan.

2. SIG mempunyai fasilitas menerima (integrasi) dari berbagai format data yang dipadukannya. Pekerjaan dengan SIG membutuhkan data khususnya : data spasial yang teliti, penutupan spektral dan temporal untuk analisis dan permodelan fenomena alami yang kompleks, dimana dengan sistem penginderaan jauh dapat mengakomodasi semua tuntutan data tersebut.

3. Data penginderaan jauh dapat digunakan dengan cepat pada saat proses memperbaharui peta, utamanya pada kasus data hasil survey lapang yang lambat dan belum tentu selesai pada selang waktu kegiatan.

4. Data penginderaan jauh sangat bermanfaat bila dikombinasikan dengan SIG dari sumber data lainnya atau citra beberapa waktu (multitemporal) dan spektrum yang berbeda (multispektral) yang disajikan secara bersama-sama.

Penginderaan Jauh

Penginderaan jauh (remote sensing) adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu objek, daerah atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan objek, daerah atau fenomena yang dikaji (Lillesand dan Kiefer, 1993). Pengumpulan data penginderaan jauh dilakukan dengan menggunakan alat pengindera atau alat pengumpul data yang disebut sensor. Data penginderaan jauh dapat berupa citra (image), grafik dan data numerik. Data tersebut dapat dianalisis untuk mendapatkan untuk mendapatkan informasi mengenai objek, daerah atau fenomena yang diindera atau diteliti. Proses penerjemahan data menjadi informasi disebut analisis atau interpretasi data. Apabila proses penerjemahan tersebut dilakukan secara digital dengan bantuan komputer disebut interpretasi digital (Hardianti, 2001).

(37)

19

Perubahan penggunaan lahan secara efektif dapat dilakukan melalui analisis citra penginderaan jauh, karena data yang berasal dari ekstraksi citra tersebut memberikan informasi yang cukup baik dan akurat dengan cakupan yang luas. Informasi tutupan vegetasi dapat diekstrak melalui proses interpretasi citra. Melalui proses pengolahan citra yaitu penajaman citra secara digital maka dapat diketahui informasi tutupan vegetasi dengan baik. Menurut Hardianti (2001) penajaman citra bertujuan untuk meningkatkan mutu citra, baik untuk memperoleh keindahan gambar maupun untuk kepentingan analisis citra. Secara umum teknik penajaman citra dalam aplikasinya dapat dikatagorikan dalam tiga cara yaitu : manipulasi kontras, manipulasi kenampakan spasial dan manipulasi multi citra.

Citra Landsat adalah salah satu contoh bentuk data hasil perekaman penginderaan jauh dalam bentuk energi elektromagnetik yang diperoleh dari hasil penyiaman satelit yang membawa dua sensor yaitu MSS (Multi Spectral Scanner) dan TM (Thematic Mapper). Citra landsat biasa digunakan untuk mengetahui kondisi sumberdaya alam di muka bumi, khususnya untuk melihat tutupan lahan dan jenis penggunaan lahan. Obyek-obyek di permukaan bumi mempunyai karakteristik yang berbeda terhadap tenaga elektromagnetik yang sampai pada obyek tersebut. Prinsip dasar pengenalan objek dalam penginderaan jauh adalah unsur-unsur interpretasi yaitu rona/warna, bentuk, ukuran, tekstur, pola, bayangan, situs dan asosiasi. Tetapi tidak semua unsur interpretasi tersebut digunakan untuk pengenalan obyek, tergantung kepada kemudahan interpretasi. Semakin mudah obyek itu dikenali, semakin sedikit unsur interpretasi yang digunakan. Penginderaan jauh akan semakin sederhana, bila setiap benda memantulkan dan/atau memancarkan tenaga secara unik diketahui. Jenis benda yang berbeda dapat memiliki kesamaan spektral dan mempersulit perbedaan benda tersebut (Muiz, 2009).

(38)

dari 0 – 255 (Muiz, 2009). Saluran spectral landsat TM beserta penggunaannya disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Panjang Gelombang Kanal-Kanal Sensor TM dan Fungsi Aplikasinya

Saluran Kisaran Gelombang

(µm) Kegunaan Utama

1 0,45 – 0,52 Penetrasi tubuh air, analisis penggunaan lahan, tanah, dan vegetasi. Pembedaan vegetasi dan lahan.

2 0,52 – 0,60 Pengamatan puncak pantulan vegetasi pada saluran hijau yang terletak diantara dua saluran penyerapan.

Pengamatan ini dimaksudkan untuk membedakan jenis vegetasi dan untuk membedakan tanaman sehat terhadap tanaman yang tidak sehat

3 0,63 – 0,69 Saluran terpenting untuk membedakan jenis vegetasi. Saluran ini terletak pada salah satu daerah penyerapan klorofil

4 0,76 – 0,90 Saluran yang peka terhadap biomasa vegetasi. Juga untuk identifikasi jenis tanaman. Memudahkan pembedaan tanah dan tanaman serta lahan dan air.

5 1,55 – 1,75 Saluran penting untuk pembedaan jenis tanaman, kandungan air pada tanaman, kondisi kelembapan tanah. 6 2,08 – 2,35 Untuk membedakan formasi batuan dan untuk pemetaan

hidrotermal.

7 10,40 – 12,50 Klasifikasi vegetasi, analisis gangguan vegetasi. Pembedaan kelembapan tanah, dan keperluan lain yang berhubungan dengan gejala termal.

(39)

METODE PENELITIAN

Kerangka Pemikiran

Menurut Undang-Undang Penataan Ruang Nomor 26 Tahun 2007, penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang. Dari perencanaan tata ruang dihasilkan RTRW yang pada hakekatnya menjadi arahan pemanfaatan ruang di suatu wilayah termaksud didalamnya RTH. Akan tetapi seiring dengan perkembangan wilayah perubahan pemanfaatan ruang berupa RTH menjadi kawasan terbangun akan sulit untuk dihindari sebagai bagian dari pemenuhan dari kegiatan pembangunan yang dilakukan.

(40)

mewujudkan tata tertib ruang terutama RTH yang keberadaannya sangat penting bagi pembangunan yang berkelanjutan.

Dinamika perubahan pemanfaatan ruang berupa RTH dapat diidentifikasi dengan menganalisis perubahan penutupan/penggunaan lahan dan hasilnya dapat digunakan untuk melihat ketercukupan ketersediaan RTH di seluruh wilayah Kota Bandar Lampung. Identifikasi pemusatan perubahan RTH menjadi kawasan terbangun, sejauh mana perkembangan wilayah berpengaruh terhadap perubahan RTH dan faktor-faktor yang menjadi penyebabnya, semuanya merupakan hal yang dilakukan untuk mendapatkan informasi yang berguna sebagai arahan dalam menyusun strategi untuk mempertahankan dan mengembangkan RTH yang ada di Kota Bandar Lampung. Secara garis besar bagan alir kerangka pemikiran dan bagan alir tahapan penelitian dapat dilihat pada Gambar 4 dan 5 di bawah ini.

Gambar 4. Kerangka Pemikiran RTRW

Arahan Pemanfaatan Ruang

Dinamika Perubahan RTH Kurangnya

Pengendalian Pemanfaatan ruang

Perkembangan Wilayah

Identifikasi Kebutuhan RTH berdasarkan UU No. 26/2007

dan Jumlah Penduduk

Identifikasi Pemusatan Perubahan RTH

Identifikasi Penyebab Perubahan RTH

(41)

Gambar 5. Tahapan Penelitian

(42)

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di wilayah administratif Kota Bandar Lampung dan kecamatan yang ada berada di Kabupaten Lampung Selatan dan Kabupaten Pesawaran yang berbatasan langsung dengan Kota Bandar Lampung. Wilayah administratif Kota Bandar Lampung terdiri dari 13 kecamatan dan 98 kelurahan. Secara geografis Kota Bandar Lampung berada pada posisi 5 20’- 5 30’ LS dan 105 28’ - 105 37’ BT dengan luas wilayah daratan 19.722 Ha. Pelaksanaan penelitian pada Bulan November 2008 s/d Maret 2009.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah Citra Landsat ETM 7 pada 2 titik tahun yaitu tahun 2000 dan 2007 dari BIOTROP. Peta Administrasi, Peta RTRW dan Peta Lereng yang berasal dari Bappeda Kota Bandar Lampung. Data Potensi Desa (Podes) Tahun 2006 dari Laboratorium Pengembangan Wilayah Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan IPB dan data demografi atau kependudukan dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bandar Lampung.

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah seperangkat komputer yang dilengkapi dengan software : ERDAS Imagine versi 9.1, ArcView versi 3.3, Google Earth, dan Microsoft Excel. Peralatan penunjang lainnya yang digunakan pada saat turun lapang adalah GPS dan kamera digital.

Pengumpulan Data

(43)

25

Tabel 2. Matrik Hubungan Antara Tujuan, Data, Metode dan Keluaran Pada Setiap Tahapan Penelitian

No. Tujuan Variabel Data dan Sumber Data Metode/Analisis Keluaran

1. Mengidentifikasi dinamika

(44)

Tabel 2 (lanjutan)

No. Tujuan Variabel Data dan Sumber Data Metode/Analisis Keluaran

3. - Mengidentifikasi

pusat-Didalam Kota dan di luar Kota Bandar Lampung

Analisis Regresi Berganda Diperolehnya

faktor-faktor penyebab

(45)

27

Tabel 2 (lanjutan)

No. Tujuan Variabel Data dan Sumber Data Metode/Analisis Keluaran

(46)

Analisis dan Pengolahan Data

Analisis Penutupan/Penggunaan Lahan dan Deteksi Perubahannya

Analisis yang dilakukan yakni analisis penutupan/penggunaan lahan guna mengetahui kondisi existing RTH di Kota Bandar Lampung. Untuk mendapatkan informasi penutupan/penggunaan lahan disajikan seperti pada bagan alur pengolahan data seperti yang tersaji pada gambar 6.

Selain untuk mengetahui kondisi existing analisis ini juga digunakan untuk mendeteksi perubahan penutupan/penggunaan lahan terutama perubahan RTH yang ada. Deteksi perubahan penutupan/penggunaan lahan dilakukan dengan cara menumpangtindihkan peta penutupan/penggunaan lahan tahun 2000 dan 2007 dengan peta administrasi. Hasil proses ini kemudian dapat diinterpretasi secara deskriptif dan tampilannya dalam bentuk peta output (peta overlay) sedangkan data atributnya

Gambar 6. Tahapan Pengolahan Data Spasial

Citra Landsat ETM 7 Tahun 2000 & 2007

Peta Administrasi Koreksi

Geometrik

Klasifikasi

Peta Penutupan/ Penggunaan Lahan 2000 &

2007 Overlay

Pola Spasial RTH Cek Lapang

(47)

29

digunakan untuk analisis yang lain. Tahapan yang dilakukan untuk mendapatkan informasi spasial RTH di Kota Bandar Lampung dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Koreksi Geometri

Data penginderaan jauh pada umumnya mengandung kesalahan (distorsi) geometrik, untuk itu diperlukan proses rektifikasi atau perbaikan sebelum dilakukan pengolahan lebih lanjut. Kesalahan geometri antara lain disebabkan karena pengaruh rotasi bumi selama akuisisi, kelengkungan bumi, kecepatan scanning dari beberapa sensor yang tidak normal dan efek panoramik yang menyebabkan posisi citra tidak sama posisinya dengan posisi geografis yang sebenarnya. Koreksi geometri bertujuan untuk meningkatkan kualitas citra yang semaksimal mungkin sesuai dengan keadaan aslinya. Koreksi terhadap distorsi geometri tersebut dapat dilakukan dengan transformasi koordinat citra ke koordinat bumi dan resampling citra. Transformasi koordinat dilakukan dengan menggunakan titik control tanah (Ground Control Point) yang didapat dari peta referensi atau secara langsung di lapangan dengan menggunakan GPS (Global Positioning System). Rektifikasi citra yang umum digunakan adalah fungsi transformasi Polinomial dengan tingkatan ordo. Hal yang perlu diperhatikan dari koreksi geometri adalah keakuratan hasil koreksi yang ditunjukkan dengan nilai RMS (Root Mean Square) yang kecil yaitu dengan memilih GCP yang kesalahan geometrinya kecil dan membuang GCP yang menyebabkan nilai RMS besar.

2. Penajaman Citra (Image Enhancement)

Penajaman citra merupakan upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas tampilan citra agar informasi penting yang dibutuhkan dapat lebih ditonjolkan sehingga interpretasi terhadap citra dapat dengan lebih mudah untuk dilakukan. Penajaman citra dilakukan sebelum penampilan citra atau sebelum dilakukan interpretasi dengan maksud menambah jumlah informasi yang dapat diinterpretasi secara digital sehingga diperoleh tampilan citra yang tajam dan jelas.

3. Klasifikasi

(48)

mudah dikenali dan representatif pada citra/permukaan bumi yang diketahui katagorinya dengan cara membuat poligon-poligon. Klasifikasi penutupan/penggunaan lahan pada penelitian ini terdiri dari 11 (sebelas) tipe yaitu pemukiman, tubuh air, hutan, kebun campuran, ladang/tegalan, sawah, perkebunan, tanah terbuka, semak belukar, mangrove dan tambak. Informasi kelas penutupan/penggunaan lahan yang ada di Kota Bandar Lampung dan kecamatan yang ada disekitarnya, didapatkan dengan melakukan interpretasi terhadap citra landsat yang berpedoman pada kunci interpretasi citra (Menuju Indonesia Hijau), dimana pedoman kunci interpretasi tersebut antara lain :

1. Hutan

Kelas penutupan/ penggunaan lahan hutan biasanya mempunyai ciri berwarna hijau gelap dan hijau gelap kehitaman di area yang melingkar. Tekstur dari penutupan/ penggunaan lahan hutan ini ada yang bertekstur kasar ada yang bertekstur halus, tekstur kasar biasanya untuk hutan lahan kering dan tekstur lebih halus untuk hutan alam. 2. Kebun Campuran

Kebun Campuran merupakan daerah yang ditanami pepohonan dengan berbagai jenis tanaman tahunan seperti rambutan, durian dan lainnya yang bercampur dengan semak belukar. Pada citra kebun campuran berwarna hijau tua, bertekstur kasar dengan pola tidak teratur membentuk suatu kelompok dengan berbagai ukuran yang menyebar dan berbaur menjadi satu kelompok dengan permukiman.

3. Semak/Tegalan

Semak merupakan daerah yang terdapat di sekitar kaki gunung atau perbukitan, biasanya ditumbuhi dengan tanaman keras yang tidak terlalu tinggi dengan diameter yang tidak begitu besar (± 10 - 15 cm). Pada citra semak belukar berwarna coklat kemerahan dengan tekstur kasar, berpola tidak teratur dan menyebar. Penggunaan lahan ini umumnya beralih fungsi menjadi tegalan/ladang tergantung musim.

(49)

31

beralih fungsi menjadi sawah tergantung musim. Ladang/tegalan mempunyai warna magenta kehijauan dan letaknya berdekatan dengan pemukiman.

4. Perkebunan

Kelas penutupan/ penggunaan lahan perkebunan biasanya mempunyai ciri berwarna hijau kecoklatan sampai hijau yang mengikuti kelas umur tanamannya. Biasanya meliputi daerah yang luas dengan batas yang jelas dan reguler.

5. Permukiman

Pada citra, permukiman berwarna magenta tua, bertekstur halus dan kasar, dengan pola teratur memanjang mengikuti jalan atau sungai. Obyek ini dengan pola yang tidak teratur biasanya disebut perkampungan/pedesaan sedangkan apabila membentuk pola yang teratur disebut perumahan.

6. Sawah

Sawah merupakan hamparan areal pertanian yang ditanami tanaman padi. Persawahan dimana padi berada pada fase air, bera, vegetatif dan generatif yang tergantung pada musim tanam. Obyek ini terlihat dengan bentuk petak-petak kecil dan pola teratur. Sawah dengan irigasi teknis memiliki pola teratur mengikuti saluran irigasinya. Sedangkan sawah tadah hujan memiliki pola acak karena sumber air bergantung dari adanya hujan. Pada citra penggunaan lahan sawah tergantung pada musim. Karena perubahan musim nilai spektral sawah berbeda seperti sawah bera berwarna magenta, dengan tekstur halus, pada sawah fase generatif berwarna kuning dengan tekstur halus berpola tidak teratur menyebar dengan berbagai ukuran.

7. Mangrove

Kelas penutupan/ penggunaan lahan mangrove berada pada daerah pantai/pesisir. Pada citra hutan mangrove dicirikan berwarna hijau pucat dengan tekstur medium/sedang.

8. Tanah Terbuka

(50)

9. Tambak

Tambak biasanya terdapat di sekitar pinggiran pantai. Pada citra tambak berwarna biru muda dengan tekstur halus, berpola teratur dan menyebar. Penggunaan lahan ini umumnya beralih fungsi menjadi tanah terbuka atau permukiman penduduk. 10. Tubuh Air

Kenampakan tubuh air pada citra berwarna biru tua/kehitaman dan memiliki bentuk memanjang yang lebarnya berbeda-beda dan berkelok-kelok.

Hasil klasifikasi tersebut kemudian diverifikasi di lapangan, dengan tujuan untuk mengidentifikasi obyek-obyek atau penggunaan lahan yang masih diragukan juga untuk menguji akurasi hasil klasifikasi. Dengan menggunakan data yang telah ada, kemudian dilakukan analisis sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian sehingga dapat menjawab permasalahan yang ada. Setelah diperoleh peta penutupan lahan pada masing masing tahun kemudian dilakukan analisis deteksi perubahan lahan. Teknik analisis perubahan dilakukan dengan menggunakan software ERDAS. Matrik perubahan yang dihasilkan ditunjukan pada Tabel 3.

(51)

33

Analisis Standar Kebutuhan RTH

1. Kebutuhan ruang terbuka hijau berdasarkan Undang-Undang Penataan Ruang Nomor 26 Tahun 2007

Keberadaan RTH kota diatur dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Undang-Undang Penataan Ruang tersebut menjadi acuan bagi Pemerintah daerah untuk merencanakan dan menata RTH, yang mengamanatkan penyediaan RTH di kawasan perkotaan minimal sebesar 30 % dari wilayah kota. 2. Kebutuhan ruang terbuka hijau berdasarkan jumlah penduduk

Standar ruang terbuka hijau berdasarkan jumlah penduduk dikemukakan oleh Simonds (1983), dimana kebutuhan ruang terbuka hijau dibagi menjadi empat kelas. Standar luas ruang terbuka hijau berdasarkan jumlah penduduk disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Standar Luas RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk

Hirarki Wilayah Jumlah KK

Ketetanggaan 1.200 4.320 1.200

Lapangan bermain, areal rekreasi, taman

Komunitas 10.000 36.000 20.000

Lapangan bermain,

(52)

(Andriyani, 2007). LQ merupakan suatu indeks untuk membandingkan pangsa sub wilayah dalam aktifitas tertentu dengan pangsa total aktifitas tersebut dalam total aktifitas wilayah. Secara lebih operasional, LQ didefinisikan sebagai rasio persentase dari total aktifitas pada sub wilayah ke-i terhadap persentase aktifitas total terhadap wilayah yang diamati.

Persamaan dari LQ ini adalah :

LQij =

Xij / X i.

X.j / X ..

Dimana:

Xij : Perubahan penggunaan lahan (RTH) ke-j di wilayah ke-i

Xi. : total luas perubahan penggunaan lahan (RTH) di wilayah ke-i

X.j : Perubahan penggunaan lahan (RTH) ke-j di semua wilayah

X.. : total luas perubahan penggunaan lahan (RTH)

Untuk dapat menginterprestasikan hasil analisis LQ, adalah sebagai berikut :

Jika nilai LQij > 1, maka hal ini menunjukkan terjadinya konsentrasi perubahan

penggunaan lahan (RTH) di sub wilayah ke-i secara relatif dibandingkan dengan total wilayah.

Jika nilai LQij = 1, maka sub wilayah ke-i tersebut mempunyai perubahan

penggunaan lahan (RTH) yang sama dengan rata-rata total wilayah

Jika nilai LQij < 1, maka sub wilayah ke-i tersebut mempunyai perubahan

penggunaan lahan (RTH) yang lebih kecil dibandingkan dengan perubahan yang secara umum ditemukan diseluruh wilayah.

Analisis Perkembangan Wilayah

(53)

35

kecamatan tersebut adalah sebagai data kelurahan. Parameter yang diukur meliputi bidang pendidikan, kesehatan, transportasi, perekonomian dan aksesibilitas. Analisis ini dilakukan pada unit wilayah kelurahan dan hasil analisisnya digambarkan pada peta administrasi untuk dianalisa secara spasial.

Prosedur kerja penyusunan hirarki daerah berdasarkan infrastruktur dengan menggunakan Skalogram adalah sebagai berikut (Saefulhakim, 2005):

a. Melakukan pemilihan terhadap data Podes tahun 2006 sehingga yang tinggal hanya data yang bersifat kuantitatif;

b. Melakukan seleksi terhadap data-data kuantitatif tersebut sehingga hanya yang relevan saja yang digunakan;

c. Melakukan rasionalisasi data;

d. Melakukan seleksi terhadap data-data hasil rasionalisasi hingga diperoleh 89 variabel untuk analisa skalogram yang mencirikan tingkat perkembangan kecamatan di Kota Bandar Lampung;

e. Melakukan standardisasi data terhadap variabel-variabel tersebut dengan menggunakan rumus yang dimodifikasi:

yij adalah variabel baru untuk kecamatan ke-i dan jenis sarana ke-j xij adalah jumlah sarana untuk kecamatan ke-i dan jenis sarana ke-j xj adalah nilai minimum untuk jenis sarana ke-j

sj adalah simpangan baku untuk jenis sarana ke-j

f. Menentukan Indeks Perkembangan Kelurahan (IPK) beserta kelas hirarkinya. Pada penelitian ini, IPK dikelompokkan ke dalam tiga kelas hirarki, yaitu hirarki I (tinggi), hirarki II (sedang), dan hirarki III (rendah). Penentuan kelas hirarki didasarkan pada nilai standar deviasi (St Dev) IPK dan nilai median, seperti terlihat pada Tabel 5. Variabel yang dipergunakan untuk analisis skalogram, terlihat pada lampiran 1.

Tabel 5. Nilai Selang Hirarki IPK

No. Hirarki Nilai Selang (X) Tingkat Hirarki

1 I X>[median +(2*St Dev IPN)] Tinggi

2 II Median < X (2*St Dev) Sedang

3 III X < median Rendah

(54)

Analisis Faktor-Faktor Penyebab Perubahan RTH

Perubahan RTH menjadi kawasan terbangun di Kota Bandar Lampung disebabkan beberapa faktor penyebab. Analisis regresi berganda merupakan salah satu pendekatan untuk menduga faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya perubahan RTH menjadi kawasan terbangun. Dalam menggunakan model analisis ini terlebih dahulu ditentukan beberapa variabel yang dianggap mempengaruhi perubahan RTH. Variabel-variabel tersebut antara lain kepadatan penduduk, jarak ke pusat kota, Indeks Perkembangan Kelurahan (IPK) dan variabel dummy. Dari hasil analisis, persamaan yang dihasilkan sebagai berikut :

Y = A0 + A1X1 + A2X2 + A3X3 + …….. + AnXn dimana Y = Dependent Variabel

An = Koefisien regresi

X = Variabel bebas (X1 = Kepadatan Penduduk, X2 = Jarak ke Pusat Kota, X3 = IPK, X4 = variabel dummy)

Analisis Penyimpangan Pemanfaatan RTH Terhadap RTRW

Gambar

  Tabel Laporan
Tabel 1.   Panjang Gelombang Kanal-Kanal Sensor TM dan Fungsi Aplikasinya
Gambar 4.  Kerangka Pemikiran
Gambar 5.  Tahapan Penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait

Kecamatan Poso kota hasil Prediksi jumlah penduduk dan kebutuhan oksigen pada tahun 2032. Berdasarkan kebutuhan luas RTH di wilayah perkotaan, arahan penambhan RTH

Dapat disimpulkan bahwa luas RTH dikecamatan Serengan belum memenuhi jumlah yang di tentukan UU Nomor 26 Tahun 2007 sedangkan Hasil dari analisis Kesesuaian Ruang

Selisih Luasan RTH Publik Kebutuhan dengan Eksisting Kota Balikpapan Setelah dilakukan perhitungan terkait kebutuhan RTH publik di Kota Balikpapan dan dibandingkan dengan

Analisis kebutuhan ruang terbuka hijau berdasarkan kepadatan penduduk dan luas wilayah dapat dihitung melalui standar kebutuhan luas RTH (Ruang Terbuka Hijau); yaitu sebesar 30%

Selain standar tersebut di atas, kebutuhan RTH secara umum dapat diperhitungkan berdasar Undang-Undang Tata Ruang Nomor 26 Tahun 2007, yang mensyaratkan luas RTH minimal 30 %

05/PRT/M/2008 menjelaskan bahwa penyediaan RTH berdasarkan luas wilayah adalah sebagai berikut: (1) ruang terbuka hijau di perkotaan terdiri dari RTH publik dan

Kebutuhan luas RTH publik Kota Jambi berdasarkan kebutuhan oksigen yang searah dengan pertumbuhan penduduk pada tahun 2035 adalah 4.169,91 ha.. Kata kunci: analisis kebutuhan, Kota

Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau RTH Kota Balikpapan berdasarkan pendekatan kebutuhan oksigen, dengan sasaran penelitian yaitu