• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMANFAATAN SUMBER INFORMASI DAN PILIHAN PERGURUAN TINGGI Studi Deskriptif Kualitatif tentang Pemanfaatan Sumber Informasi oleh Mahasiswa Tahun Pertama di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PEMANFAATAN SUMBER INFORMASI DAN PILIHAN PERGURUAN TINGGI Studi Deskriptif Kualitatif tentang Pemanfaatan Sumber Informasi oleh Mahasiswa Tahun Pertama di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta"

Copied!
98
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

i

PEMANFAATAN SUMBER INFORMASI DAN

PILIHAN PERGURUAN TINGGI

Studi Deskriptif Kualitatif tentang Pemanfaatan Sumber Informasi

oleh Mahasiswa Tahun Pertama di Universitas Muhammadiyah

Yogyakarta

TESIS

Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Magister

Program Studi Ilmu Komunikasi

Minat Utama : Manajemen Komunikasi

Oleh :

ASWAD ISHAK

NIM : S230905005

PROGRAM PASCA SARJANA

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

(2)

commit to user

ii

PEMANFAATAN SUMBER INFORMASI DAN PILIHAN PERGURUAN TINGGI

Studi Deskriptif Kualitatif tentang Pemanfaatan Sumber Informasi oleh Mahasiswa Tahun Pertama di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Disusun oleh :

ASWAD ISHAK

S230905005

Telah disetujui oleh Tim Pembimbing :

Jabatan Nama TandaTangan Tanggal

Pembimbing I : Prof. Drs. Pawito, Ph.D. ____________ ___________

Pembimbing II : Drs. Sudarto, M.Si. ____________ ___________

Mengetahui

Ketua Progam Studi Ilmu Komunikasi

(3)

commit to user

iii

PEMANFAATAN SUMBER INFORMASI DAN PILIHAN PERGURUAN TINGGI

Studi Deskriptif Kualitatif tentang Pemanfaatan Sumber Informasi oleh Mahasiswa Tahun Pertama di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Disusun oleh :

ASWAD ISHAK

S230905005

Telah disetujui dan disahkan oleh Tim Penguji :

Jabatan Nama TandaTangan Tanggal

Ketua : Dr. Drs. Widodo Muktiyo, S.E., M.Com. ___________ ______

Sekretaris : Sri Hastjarjo, S.Sos., Ph.D. ___________ ______

Anggota Penguji : 1. Prof. Drs. Pawito, Ph.D. ___________ ______

2. Drs. Sudarto, M.Si. ___________ ______

Mengetahui

Ketua Progam Studi : Dr. Drs. Widodo Muktiyo, S.E., M.Com. ________ Ilmu Komunikasi NIP. 1964 0227 1988 1002

(4)

commit to user

iv

PERSEMBAHAN

Sebuah karya ini kupersembahkan untuk :

Kedua orang tuaku,

Kakak-kakakku,

(5)

commit to user

v

PERNYATAAN

Nama : Aswad Ishak

NIM : S230905005

Menyatakan dengan seungguhnya bahwa tesis yang berjudul : “PEMANFAATAN

SUMBER INFORMASI DAN PILIHAN PERGURUAN TINGGI : Studi Deskriptif

Kualitatif tentang Pemanfaatan Sumber Informasi oleh Mahasiswa Tahun Pertama di

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta”, adalah betul-betul karya sendiri. Hal-hal

yang bukan karya saya, dalam tesis ini diberi tanda citasi dan ditunjukkan dalam

daftar pustaka. Apabila di kemudian hari terbukti pernyataan saya tidak benar, maka

saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pembatalan tesis dan gelar yang

saya peroleh dari tesis tersebut.

Yang menyatakan,

(6)

commit to user

vi

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah

melimpahkan karuniaNYA sehingga pada akhirnya tesis dengan judul “Pemanfaatan

Sumber Informasi dan Pilihan Perguruan Tinggi : Studi Deskriptif Kualitatif tentang

Pemanfaatan Sumber Informasi oleh Mahasiswa Tahun Pertama di Universitas

Muhammadiyah Yogyakarta” dapat terselesaikan setelah melalui proses penyusunan

yang cukup lama dengan berbagai keterbatasan yang dimiliki peneliti.

Penyusunan tesis ini dapat diselesaikan tak lepas dari kerja keras dan bantuan

berbagai pihak. Oleh karenanya peneliti menyampaikan rasa terima kasih kepada

pihak-pihak yang turut berperan dalam penyelesaian tulisan ini, yaitu :

1. Prof. Drs. Pawito, Ph.D. selaku dosen pembimbing utama yang banyak

memberikan arahan dalam penyusunan tesis ini.

2. Drs. Sudarto, M.Si. selaku dosen pembimbing kedua yang memberikan

banyak masukan untuk kebaikan penulisan tesis ini.

3. Seluruh staf pengajar Pascasarjana Ilmu Komunikasi minat utama

Manajemen Komunikasi atas seluruh wawasan yang diberikan.

4. Orang tua dan keluarga yang selalu memberikan dukungan kepada

peneliti dengan do‟a yang dipanjatkan.

5. Pihak-pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah

memberikan bantuannya.

Untuk semuanya, peneliti mengucapkan terima kasih yang tulus atas segala bantuan

(7)

commit to user

vii

Peneliti menyadari sepenuhnya bahwa tesis ini bukan merupakan karya yang

sempurna. Untuk itu kritik dan saran yang membangun akan diterima dengan senang

hati guna perbaikan diri pribadi peneliti di kemudian hari.

Semoga bermanfaat bagi semua.

Yogyakarta, Juni 2010

(8)

commit to user

A.Penelitian Sejenis yang Pernah Dilakukan ...

B.Proses Pengambilan Keputusan Konsumen ...

C.Promosi Organisasi dan Pemanfaatan Sumber Informasi ...

6

8

(9)

commit to user

ix

BAB III METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian ...

B. Teknik Pengumpulan Data ...

C. Teknik Analisa Data ...

31

31

34

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISA

A.Sumber Informasi Mahasiswa Memilih Tempat Studi ...

B.Pemanfaatan Sumber Informasi Saat Memilih Tempat Studi.

35

49

BAB V PENUTUP

A.KESIMPULAN ...

B. SARAN ...

1. Untuk Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ...

2. Untuk Penelitian Selanjutnya ...

78

79

79

80

DAFTAR PUSTAKA ... 81

(10)

commit to user

x

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1. : Proses Pengambilan Keputusan Konsumen

(11)

commit to user

xi

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1.1. : Jumlah Pendaftar Calon Mahasiswa dan Diterima ... 2

Tabel 4.2. : Kemampuan Menguasai Program Internet Explorer ... 37

Tabel 4.3. : Jumlah Mahasiswa Mendapat Informasi dari Teman ... 48

(12)

commit to user

xii

ABSTRAK

Aswad Ishak, S230905005, 2010, Pemanfaatan Sumber Informasi dan Pilihan Perguruan Tinggi, Studi Deskriptif Kualitatif tentang Pemanfaatan Sumber Informasi oleh Mahasiswa Tahun Pertama di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Tesis : Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi Minat Utama Manajemen Komunikasi, Universitas Sebelas Maret Surakarta

Penelitian ini dilakukan berdasarkan pada temuan awal mengenai sumber informasi yang dipergunakan mahasiswa untuk mencari informasi tentang Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Temuan awal tersebut hanya mengidentifikasi jenis sumber informasi. Namun tidak menjelaskan bagaimana sumber informasi tersebut digunakan mahasiswa pada saat masih menjadi pelajar SMA untuk memilih kampus tempat studi lanjut. Oleh karena itu penelitian ini mengambil permasalahan tentang bagaimana cara mahasiswa tahun pertama di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta memanfatkan sumber informasi pada saat menentukan tempat melanjutkan studi.

Dalam kajian perilaku konsumen, proses pengambilan keputusan sangat dipengaruhi oleh berbagai hal. Sebelum konsumen memutuskan untuk menggunakan suatu produk atau jasa akan melalui serangkaian tahapan. Tahap yang krusial dalam proses tersebut adalah tahap pencarian informasi dan pemrosesan informasi. Hal ini sangat erat terkait dengan darimana dan bagaimana konsumen mendapatkan serta memproses informasi yang relevan. Studi yang dilakukan ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Data diperoleh dengan melakukan wawancara dan dokumen yang relevan dengan penelitian ini. Informan penelitian ini dipilih berdasarkan pada kesesuaian dengan permasalahan dan tujuan penelitian yang hendak dicapai. Analisis data dilakukan sejak data dikumpulkan, dikelompokkan dan disajikan. Triangulasi data dilakukan dengan teknik triangulasi sumber atau data.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa media pencarian informasi yang dipilih mahasiswa pada saat mereka sebagai pelajar SMA mengenai pilihan kampus dalam rangka melanjutkan studi yaitu melalui media internet, media cetak berupa brosur atau leaflet, dan komunikasi tatap muka. Internet dan brosur belum menjadi sumber informasi utama bagi informan. Akses internet lebih dominan untuk keperluan hiburan. Sedangkan brosur atau leaflet hanya sebagai media pelengkap/pendukung informasi yang dibutuhkan. Untuk komunikasi tatap muka yang berlangsung

(13)

commit to user

xiii

ABSTRACT

Aswad Ishak, S230905005, 2010, Usage of Students Information Sources and College Choice, Descriptive Study the Usage of Students Information Sources on First Year Students at Muhammadiyah University of Yogyakarta. Thesis : Communication Science Post Graduate Program, Communication Management Studies, Sebelas Maret University of Surakarta

This research based on finding about information source that students collecting information about Muhammadiyah University of Yogyakarta. The early finding identify information category only. While that finding have not shown how the media used when the students were a high school for choosing college. This research

aims to study the following problem “How the first year students at Muhammadiyah University of Yogykarta use information sources when choosing college”.

(14)
(15)

commit to user

BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah

Yogyakarta yang dikenal dengan predikat kota pelajar tengah mengalami

permasalahan yang cukup rumit berkaitan dengan mahasiswa. Kondisi ekonomi

masyarakat yang belum pulih akibat berbagai macam krisis yang menyebabkan

harga kebutuhan bahan pokok dan biaya hidup yang kian meningkat, menjadikan

pendidikan bukan prioritas utama untuk dipenuhi. Selain hal tersebut, banyaknya

pemberitaan di media massa seputar tindak kriminalitas serta berbagai macam

kegiatan yang bersifat negatif yang melibatkan mahasiswa sebagai pelakunya

seperti narkoba, seks pra nikah dan sebagainya disinyalir menjadi salah satu faktor

penyebab terjadinya penurunan jumlah animo calon mahasiswa masuk dan

mengenyam pendidikan tinggi di kota gudeg ini. Kondisi ini dialami oleh hampir

semua perguruan tinggi di Yogyakarta.

Bagi perguruan tinggi negeri (PTN) kedaan ini tidak terlalu berdampak

signifikan terhadap perolehan jumlah mahasiswa. Berbeda dengan perguruan

tinggi swasta (PTS) yang mana jumlah mahasiswa menjadi jantung kehidupan

lembaga tersebut. Bagaimana tidak, jumlah mahasiswa sangat terkait erat dengan

roda ekonomi PTS yang bersangkutan. Hal ini terjadi mengingat sumber

pendapatan utama PTS untuk membiayai dirinya adalah pembayaran biaya

pendidikan oleh para mahasiswanya. Jadi apabila jumlah mahasiswa yang

diterima sedikit maka jumlah penerimaan juga sedikit. Hal ini akan menyebabkan

(16)

commit to user

2

tumpuan utama bagi PTS untuk menyokong keberlangsungan hidup lembaga.

Untuk itu berbagai upaya senantiasa dilakukan PTS untuk tetap survive dengan

mencari mahasiswa sebanyak mungkin.

Kondisi kesulitan seperti ini tidak hanya dialami oleh PTS kecil, namun juga

dialami oleh PTS besar yang oleh masyarakat kebanyakan disebut sebagai PTS

papan atas. Singkatnya, semua PTS di Yogyakarta mengalami kondisi serupa

dalam hal perolehan mahasiswa. Salah satu PTS yang mengalami kondisi

penurunan jumlah mahasiswa tersebut adalah Universitas Muhammadiyah

Yogyakarta (UMY). Penurunan jumlah mahasiswa baru setiap tahun akademik

baru ini dalam jangka pendek dan panjang akan berpengaruh terhadap

pengelolaan pendidikan yang diselenggarakan.

Terhitung data sejak tahun 2001 hingga 2006 tercatat terjadi penurunan

jumlah mahasiswa baru. Penurunan ini tidak hanya pada jumlah pendaftar yang

berimplikasi pada jumlah mahasiswa baru yang diterima. Namun penurunan juga

terjadi dalam hal jumlah mahasiswa baru yang melakukan registrasi dari jumlah

keseluruhan yang telah diterima. Untuk memperjelas kondisi ini, berikut ini

disajikan data penurunan tersebut dalam bentuk tabel.

Tabel 1.1. : Jumlah Pendaftar Calon Mahasiswa dan Diterima

Tahun Jumlah

(17)

commit to user

3

Dari data tersebut dapat diketahui terjadi penurunan jumlah pendaftar mahasiswa

baru pada kisaran 12 hingga 22% per tahun. Berarti animo calon mahasiswa untuk

melanjutkan studi di UMY menurun tajam. Apabila dilihat data tersebut lebih

jauh, secara riil yang bisa diperhitungkan untuk pengelolaan pendidikan adalah

jumlah mahasiswa yang melakukan registrasi sebagai indikator penerimaan juga

mengalami penurunan cukup tajam. Dari jumlah mahasiswa yang diterima,

penurunan jumlah mahasiswa riil dalam proses belajar mengajar sebesar rata-rata

54,53% setiap tahunnya. Artinya, ketetapan memilih UMY sebagai tempat belajar

belum mantap dimiliki oleh calon mahasiswa yang telah dinyatakan diterima.

Sementara di sisi lain, berbagai upaya promosi telah dilakukan UMY.

Kegiatan promosi ini mulai dikelola secara lebih optimal sejak tahun 2003 dengan

dibentuknya Biro Humas dan Kerjasama yang di dalamnya terdapat divisi

promosi yang kemudian pada tahun 2005 disempurnakan lagi dengan menjadikan

divisi promosi ini berdiri menjadi biro sendiri yang menangani promosi secara

terpadu dengan nama biro admisi. Promosi dilakukan dengan melakukan

penyebarluasan informasi melalu media lini atas antara lain berupa iklan di media

massa maupun sponsor program radio dan televisi. Disamping itu pembuatan

leaflet atau brosur tetap dilakukan. Pemanfaatan media lini bawah sebagai media

promosi sudah mulai dikerjakan namun belum optimal. Kegiatan ini antara lain

roadshow dan pameran pendidikan. Materi promosi yang dipergunakan relatif

sama di setiap tahunnya.

Kegiatan promosi menjadi tumpuan untuk dapat mengenalkan UMY ke

segenap calon mahasiswa di berbagai wilayah yang dituju. Keberhasilan promosi

(18)

commit to user

4

dikaji adalah penggunaan sumber informasi yang akurat yang ada dalam diri

konsumen itu sendiri. Dengan memanfaatkan sumber informasi yang

dipergunakan oleh konsumen serta mengetahui bagaimana konsumen

mempergunakan media yang ada akan mempermudah dalam menentukan media

ataupun kegiatan promosi yang tepat.

Untuk keperluan itu, profil mahasiswa baru menjadi penting untuk dijadikan

sumber rujukan dasar. Untuk mengetahui profil mahasiswa baru terhadap pilihan

mereka bersekolah di UMY beberapa penelitian telah dilakukan. Namun demikian

sejauh penelusuran peneliti, belum ada penelitian lanjutan yang menggali secara

lebih mendalam mengenai pemanfaatan media dan bentuk promosi yang sesuai

dengan kebiasaan mahasiswa pada saat mencari informasi untuk menentukan

pilihan tempat melanjutkan studi setelah lulus SMA. Pengenalan terhadap media

sebagai sumber informasi ini penting diketahui sebagai dasar pertimbangan dan

masukan bagi pengelola promosi kampus untuk mendesain promosi yang

bersumber dari dalam diri konsumen (consumer insight). Untuk itu pengenalan

terhadap konsumen ini menjadi strategis untuk mengawali penentuan sebuah

strategi dan taktik promosi yang tepat. Tanpa mengetahui bagaimana konsumen

memilih dan memanfaatkan media komunikasi dalam kehidupan sehari-hari

mereka, akan sulit menentukan pemilihan media, desain pesan, dan sebagainya.

Ujung-ujungnya promosi yang dilakukan tidak dapat mencapai sasaran yang

dituju dan target yang diharapkan. Apabila hal tersebut terjadi, maka

menimbulkan pemborosan sumber daya yang dimiliki namun tidak memiliki

(19)

commit to user

5

B.Rumusan Masalah

Dari latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya memunculkan pertanyaan

penting dalam penelitian ini, yakni tentang bagaimana cara mahasiswa tahun

pertama di UMY memanfaatkan sumber informasi pada saat menentukan pilihan

tempat melanjutkan studi setelah lulus SMA.

C.Tujuan Penelitian

1. Mengemukakan gambaran tentang sumber-sumber dan cara memanfaatkan

sumber-sumber informasi mahasiswa tahun pertama pada saat memilih UMY

sebagai tempat melanjutkan studi setelah lulus SMA.

D.Manfaat Penelitian

1. Mendapatkan gambaran tentang sumber-sumber informasi dan pemanfaatannya

oleh mahasiswa tahun pertama pada saat menentukan UMY sebagai pilihan

tempat studi.

2. Sebagai bahan masukan kepada manajemen kampus untuk menentukan

kebijakan serta pengelola promosi untuk mendesain promosi yang tepat

(20)

commit to user

6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.Penelitian Sejenis yang Pernah Dilakukan

Untuk mengetahui bagaimana profil mahasiswa baru dan alasan-alasan dalam

memilih tempat atau tujuan studi lanjut di UMY beberapa penelitian telah

dilakukan. Sejauh ini penelitian yang telah dilakukan menggunakan metode

survey yang dilakukan oleh Lembaga Penelitian dan Pengembagan Pendidikan

(LP3) UMY setiap tahun. Adapun isi penelitian tersebut berkaitan dengan semua

aspek yang dapat dipakai sebagai data statistik mahasiswa antara lain tentang data

diri, keluarga, status sosial ekonomi, pengetahuan tentang UMY. Penelitian ini

dilakukan dengan membagikan kuesioner pada mahasiswa baru yang mengikuti

masa orientasi kampus sebagai rangkaian kegiatan mahasiswa baru. Dalam

penelitian tersebut salah satu hal spesifik yang dilakukan menggali data mengenai

sumber informasi dan alasan pemilihan UMY sebagai tempat melanjutkan studi.

Namun demikian, sumber informasi tersebut baru menggambarkan asal informasi

mahasiswa mengenai UMY, belum ada penjelasan lebih mendalam mengenai

bagaimana para mahasiswa memanfaatkan sumber informasi pada saat dahulu

mereka menentukan pilihan studi di UMY selepas SMA (buku statistik mahasiswa

baru tahun 2004 - 2007, diolah).

Selain penelitian yang pernah dilakukan oleh LP3UMY tersebut, pernah pula

dilakukan penelitian tentang evaluasi strategi promosi UMY melalui iklan radio

oleh Aris Wasita Widiatuti, untuk kepentingan penulisan skripsi. Pada penelitian

(21)

commit to user

7

mahasiswa terpilih pada tahun 2007. Fokus penelitian ini lebih pada tanggapan

mahasiswa terhadap iklan radio yang pernah diputar di stasiun radio. Hasil yang

diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa pada saat memilih

UMY sebagai tempat studi tidak bersumber dari radio sebagi media komunikasi.

Para mahasiswa lebih terpengaruh dengan informasi yang diperoleh dari peer

group. Radio sebagai media komunikasi sekalipun bisa dikatakan cukup

informatif menjadi sumber rujukan untuk mencari informasi mengenai kampus,

namun tidak banyak mahasiswa yang mendengarkan dan mencari pengetahuan

tentang kampus dari media tersebut. Sehingga iklan yang diputar melalui radio

juga tidak efektif mempengaruhi keputusan. Lebih lanjut Widiastuti (2007)

menguraikan bahwa saudara atau teman yang pernah kuliah di UMY menjadi

sumber informasi terpercaya dalam mempengaruhi pilihan tempat studi mereka di

perguruan tinggi.

Sementara itu penelitian sejenis ini juga pernah dilakukan oleh Yani Tri

Wijayanti (tahun 2005) untuk kepentingan tesis S-2 dengan melakukan analisis

pengaruh citra terhadap pengambilan keputusan konsumen pada lembaga

pendidikan Alfabank Surakarta. Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui

pengaruh citra lembaga pendidikan, iklan, dan word of mouth terhadap

pengambilan keputusan konsumen. Metode yang dipergunakan penelitian tersebut

sama dengan kedua penelitian sebelumnya yang telah dipaparkan, yakni

menggunakan survey dengan penyebaran kuesioner sebagai instrumennya. Pada

dua penelitian sebelumnya data yang diperoleh dianalisis dengan melihat pada

frekuensi yang muncul. Sedangkan pada penelitian yang dilakukan Wijayanti

(22)

commit to user

8

Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan bahwa variabel yang

memiliki pengaruh positif terhadap keputusan konsumen adalah citra lembaga dan

word of mouth. Namun demikian dalam analisis yang dilakukan Wijayanti (2005)

citra lembaga menjadi faktor paling dominan mempengaruhi konsumen dalam

memilih tempat studi.

Penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti mengambil fokus yang berbeda

dengan penelitian-penelitian terdahulu yang pernah dilakukan. Sesuai dengan

permasalahan penelitian, fokus penelitian ini pada bagaimana pemanfaatan

sumber informasi oleh mahasiswa pada saat menentukan pilihan tempat

melanjutkan studi setelah lulus SMA. Adapun data awal yang menjadi landasan

berpikir peneliti, dengan melakukan eksplorasi lebih mendalam temuan penelitian

yang dilakukan oleh LP3UMY guna mendapat penjelasan yang memadai tentang

permasalahan penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah

metode kualitatif dengan melakukan wawancara kepada informan yang telah

dipilih sesuai dengan kriteria dan kebutuhan data yang diperlukan untuk

mendapatkan jawaban atas permasalahan dan tujuan penelitian yang telah

ditentukan pada bab pendahuluan pada tesis ini. Wawancara dilaksanakan dengan

mengacu pada pedoman wawancara yang telah peneliti susun.

B.Proses Pengambilan Keputusan Konsumen

Memahami perilaku pengguna barang atau jasa bagi setiap individu memang

menjadi kerumitan tersendiri bagi perusahaan. Namun hal ini memang harus

dilakukan untuk menjamin keberlangsungan usaha dalam jangka panjang. Untuk

(23)

commit to user

9

lazimnya perusahaan akan mengelompokkan mereka ke dalam kategori tertentu.

Sebelum memulai sebuah aktifitas dalam kegiatan pendekatan terhadap pasar

maka perusahaan perlu secara jelas membidik sasaran yang dituju. Dalam aktifitas

pemasaran hal ini biasa dikenal dengan istilah segmentasi. Menurut Rhenald

Kasali “penentuan segmen ini menjadi sebuah keperluan agar Anda dapat

melayani lebih baik, melakukan komunikasi yang lebih persuasif, dan yang

terpenting memuaskan kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan pihak yang

Anda tuju” (Kasali, 2001 : 27).

Belch (2004) menjelaskan bahwa perusahaan atau organisasi harus mampu

mengidentifikasi kebutuhan spesifik yang ada dalam diri segmen yang dituju. Hal

ini penting untuk mengetahui bagaimana perubahan pasar yang ada mengingat

peta persaingan usaha juga mengalami perubahan. Semakin detail perusahaan

dapat memahami market yang dituju semakin baik mengenali “medan

pertempuran”. Untuk keperluan itu pemasar perlu menajamkan target market

yang dimiliki dengan melakukan segmentasi. Dalam memahami bagaimana

konsumen berperilaku pada dasarnya segmentasi merupakan upaya untuk

mendapatkan pemetaan pasar dengan tepat. Segmen pasar merupakan sekumpulan

orang yang ada dalam pasar yang memiliki kesamaan keinginan, daya beli, lokasi

tinggal, sikap maupun kebiasaan pembelian.

Guna mendapatkan pemahaman yang memadai atas diri segmen yang dituju

perusahaan dapat melakukan langkah yang strategis dan mendasar sebelum

melakukan banyak aktifitas untuk mendekati pasar. Kotler (2000) menyebutkan

pemahaman yang mendalam tentang konsumen sangat diperlukan. Adapun cara

(24)

commit to user

10

melalui riset. Dalam tahap ini perusahaan melakukan eksplorasi melalui

serangkaian wawancara dan focus group discussion untuk memperoleh sisi

terdalam (insight) diri konsumen seperti motivasi, sikap dan perilakunya.

Kemudian penelitian dilakukan dengan menjalankan penggalian data tentang

atribut produk, awareness dan semua yang berkaitan dengan product knowledge.

Disamping itu perlu digali data sosio-psiko-demografis serta bagaimana perilaku

media konsumen.

Pada kenyataannya, perilaku yang ditunjukkan konsumen dalam

mengkonsumsi barang dan jasa dapat bersifat rasional maupun irasional. Sebagai

makhluk ekonomi, konsumen akan selalu memaksimalkan kepuasan dengan

sumberdaya yang dimilikinya dan selalu bertindak rasional. Konsumen memiliki

alasan kuat untuk menentukan produk mana yang akan digunakan dalam

kehidupannya. Selain itu, konsumen memiliki sejumlah alternatif pilihan produk

yang akan digunakan. Dalam menentukan produk mana yang akan dikonsumsi,

konsumen akan melihat pada marginal utility yang diperoleh. Selama utilitas yang

diperoleh dari pembelian lebih besar atau sama dengan biaya yang dikorbankan,

maka orang akan membeli suatu produk (Simamora 2003 : 3). Hal inilah yang

mendorong konsumen secara rasional menentukan produk yang dikonsumsi.

Konsumen akan mengkonsumsi suatu produk ataupun jasa ketika mereka merasa

mendapatkan kemanfaatan atas barang atau jasa tersebut.

Namun demikian tidaklah cukup memahami konsumen dari sudut pandang

ekonomis semata. Masih diperlukan penjelasan dari sisi lain. Secara sosial,

konsumen bertindak akan dipengaruhi oleh latar belakang sosial masing-masing.

(25)

commit to user

11

tinggal dalam kehidupan sehari-harinya. Dalam hal ini termasuk kelompok

pergaulan atau afiliasi yang dimiliki dan juga keluarga. Apabila dilihat dari sisi

antropologi maka konsumen akan membeli dan mengkonsumsi suatu produk

dipengaruhi oleh persoalan budaya yang melingkupinya. Budaya memiliki

sejumlah nilai dan norma yang lazimnya akan dianut dan dilakukan oleh

kelompoknya. Dalam konsumsi barang dan jasa yang ada, konsumen akan selalu

menyesuaikan diri dengan pola konsumsi yang dimiliki oleh kelompok budaya

yang diikutinya. Dari sisi psikologis seorang konsumen akan bertindak dengan

didorong oleh sejumlah alasan. Mereka memiliki sejumlah motif tertentu. Motif

inilah yang akan memberikan rangsangan atau dorongan terhadap konsumen

untuk memenuhi semua kebutuhan. Hal ini menandakan untuk melihat perilaku

konsumen sebenarnya cukup kompleks. (Simamora, 2003)

Proses penentuan keputusan pembelian oleh konsumen atas suatu produk

sesungguhnya tidak secara serta merta begitu melihat suatu produk atau jasa yang

tersedia kemudian dibeli atau dikonsumsi begitu saja. Untuk sampai pada tahap

penggunaan barang atau jasa, terjadi proses dalam diri konsumen melalui

beberapa tahap. Konsumen dalam memilih dan menentukan pembelian dan

konsumsi produk atau jasa dapat dipelajari dari bagaimana mereka memproses

keputusan tersebut. Ada banyak penjelasan mengenai bagaimana proses

pengambilan keputusan konsumen berlangsung. Belch dan Belch (2004)

menyebutkan ada 4 tahap yang dilalui seorang konsumen dalam memilih dan

menggunakan suatu produk atau jasa. Keempat tahap tersebut meliputi

information search, alternative evaluation, purchase decision dan postpurchase

(26)

commit to user

12

dalam proses pembelian konsumen ke dalam lima tahap. Kelima tahapan tersebut

adalah problem recognition, information search, evaluation of alternatives,

purchase decision dan postpurchase evaluation. Berbeda dengan pandangan

Belch dan Belch (2004) serta Clow dan Baack (2004), Blackwell et.al. (2001)

menggambarkan bagaimana tahapan konsumen melakukan keputusan pembelian

baik untuk produk maupun jasa secara lebih lengkap. Blackwell menjelaskan

tahapan proses keputusan pembelian dalam diri konsumen ke dalam tujuh tahap.

Ketujuh tahap tersebut bila dibagankan dapat dilihat sebagai berikut :

Gambar 2.1. : Proses Pengambilan Keputusan Konsumen untuk Barang dan Jasa

Sumber : Blackwell et.al. (2001 : 71)

Need Recognition

Search for Information

Pre-Purchase Evaluation of Alternatives

Purchase

Consumption

Divestment

(27)

commit to user

13

Blackwell lebih lanjut menjelaskan dalam model proses pengambilan

keputusan tersebut sebagai represents a roadmap of consumers mind that

marketers and managers can use to help guide product mix, communication, and

sales strategies (Blackwell et.al., 2001 : 71). Dengan demikian melalui model

tersebut dapat tergambar dengan jelas bagaimana skema yang berlaku dalam diri

konsumen melalui proses berpikir dan mencari informasi, melakukan evaluasi

maupun mengambil tindakan tertentu terhadap produk atau jasa yang ditawarkan.

Dalam tahap pertama konsumen akan memasuki need recognition (Blackwell

et.al., 2001 : 72) dengan mengenali kebutuhan. Hal ini dapat dipandang sebagai

sebuah persoalan yang harus diselesaikan dengan dipenuhi kebutuhan tersebut.

Mekanisme pembelian produk diawali dari fase pengenalan kebutuhan. Disinilah

konsumen mencoba menggali dan mengeluarkan segala macam apa yang

dipikirkan, dirasakan mengenai keperluan yang harus mereka penuhi. Di sini pula

seringkali konsumen mengalami kebimbangan dikarenakan antara apa yang

dipersepsikan dengan kenyataan dilapangan terjadi kesenjangan (gap). Untuk

menjembatani gap yang terjadi tersebut maka konsumen memasuki fase kedua

yakni pencarian informasi. Dalam tahap ini menurut Blackwell et.al. (2001)

konsumen telah mengenali kebutuhan yang dirasakan dan akan melakukan

pencarian informasi mengenai segala macam hal berkaitan dengan apa yang dapat

memenuhi kebutuhannnya. Pencarian informasi mengenai kebutuhan dan produk

yang dianggap dapat memenuhi kebutuhan tersebut sangat dipengaruhi oleh

kondisi internal maupun eksternal. Kondisi internal ini antara lain dipengaruhi

oleh sumberdaya yang dimiliki, motivasi, pengetahuan, personality. Sedangkan

(28)

commit to user

14

Dalam tahap ini konsumen akan mengumpulkan informasi dari pengalaman dan

pengetahuan yang dimilikinya tentang produk tersebut. Selain itu konsumen juga

dapat memperoleh informasi dari lingkungannya. Dalam hal ini lingkungan bisa

bersumber dari media-media komunikasi yang ada seperti media massa baik

media cetak maupun elektronik, media komunikasi personal melalui aktifitas

komunikasi interpersonal maupun kelompok.

Setelah mendapatkan informasi yang memadai mengenai kebutuhan dan

produk yang mampu memenuhi kebutuhan tersebut, Blackwell et.al. (2001)

menjelaskan bahwa konsumen melakukan evaluasi atas alternatif semua produk

yang ada untuk dipilih salah satu menjadi produk yang akan digunakan. Dengan

kata lain pada saat inilah konsumen telah memiliki sejumlah alternatif yang

spesifik atas produk atau jasa yang dapat memenuhi kebutuhannya. Ketika

konsumen telah menentukan produk yang sesuai maka dilanjutkan dengan proses

pembelian/purchasing (Blackwell et.al., 2001 : 79). Proses ini kemudian

dilanjutkan dengan penggunaan produk atau jasa tersebut yang biasa disebut

sebagai konsumsi/consumption (Blackwell et.al., 2001 : 80). Sebagai user,

konsumen tentu akan merasakan langsung benefit yang ada dalam produk. Di saat

itulah konsumen sebenarnya melakukan evaluasi atas semua yang dirasakan dari

penggunaan produk atau jasa tersebut. Dengan berbekal pengetahuan dan

pengalaman inilah konsumen melakukan evaluasi ulang apakah produk tersebut

dapat memberikan dan memenuhi kebutuhan yang diharapkannya. Sampai dengan

tahap ini, maka konsumen memasuki fase hasil. Kemungkinannya, apabila

konsumen merasa puas maka konsumen akan melanjutkan dengan melakukan

(29)

commit to user

15

produk yang sama. Apabila ternyata konsumen merasa tidak dapat terpenuhi

kebutuhannya maka mereka tidak akan menggunakan produk atau jasa tersebut

dan berganti ke produk lain. Bahkan sangat mungkin konsumen akan memutuskan

untuk tidak merekomendasikan produk atau jasa tersebut digunakan oleh calon

konsumen lain. Tahap terakhir ini dinamakan divestment (Blackwell et.al., 2001 :

80).

Keputusan pembelian konsumen selain ditinjau dari tahapan seperti diuraikan

pada model di atas, sebenarnya juga memiliki tipe tertentu yang lebih khas dan

spesifik. Hal ini khususnya berkaitan dengan proses pencarian informasi. Proses

pencarian informasi yang melibatkan konsumen ini penting untuk diketahui bagi

perusahaan karena melalui hal inilah dapat dilakukan intervensi atas informasi

yang menerpa (exposure) konsumen. Dengan demikian pemahaman terhadap

proses pencarian informasi ini akan dapat disusun aktifitas komunikasi yang

relevan dengan karakter konsumennya. Dalam kaitan ini keaktifan konsumen

untuk mencari informasi sangat ditentukan oleh keterlibatan mereka terhadap

kebutuhan. Konsumen akan termotivasi mencari informasi ketika keterlibatan

terhadap kebutuhan mereka dirasakan tinggi. Involvement is the extent to which

stimulus or task is relevant to consumer’s existing needs, wants or values (Clow

and Baack, 2004 : 63). Dengan demikian semakin penting suatu produk atau jasa

bagi konsumen maka mereka akan aktif mencari informasi selengkap mungkin

melalui berbagai macam sumber yang dapat diakses karena mereka merasa

terlibat secara langsung di dalamnya. Keterlibatan ini sangat mempengaruhi

banyak dan sedikitnya informasi yang dicari, melalui saluran apa saja informasi

(30)

commit to user

16

konsumen merasakan suatu kebutuhan sangat berpengaruh dalam kehidupannya,

maka mereka akan mengeluarkan segenap kemampuan yang mereka miliki.

Harapannya, konsumen akan mendapatkan kepuasan dan tidak mengalami

kekecewaan di kelak kemudian hari.

Lebih lanjut Blackwell et.al. (2001 : 86 – 89) menyebutkan beberapa tipe

pengambilan keputusan. Untuk kategori pembelian produk baru (initial purchase)

dibagi ke dalam 3 tipe yakni extended problem solving (EPS), limited problem

solving (LPS) dan midrange problem solving. Dalam tipe yang pertama, EPS,

konsumen akan melakukan pemilihan produk secara hati-hati dengan berbagai

pertimbangan. Umumnya konsumen merasakan perlu dengan cermat menentukan

pilihannya. Sehingga mereka akan mencari berbagai macam informasi dari

berbagai sumber yang dapat mereka percayai. Konsumen tidak ingin mengalami

kesalahan dalam menentukan produk yang sesuai dengan kebutuhannya yang akan

memberikan kekecewaan di kemudian hari. Umumnya jenis persoalan yang

dihadapi konsumen pada kategori ini ketika mereka dihadapkan pada produk yang

mengharuskan dirinya aktif melakukan pencarian informasi secara detail.

Biasanya produk yang tergolong high involvement seperti pembelian mobil,

rumah, pendidikan. Terkait dengan hal ini O‟Guinn turut memperkuat penjelasan

Blackwell dengan menyatakan bahwa “buying one’s first new automobile and

choosing a college are two other consumption settings that may require extended

problem solving” (O‟Guinn et.al., 2006 : 174). Tingkat keterlibatan yang tinggi

pada tipe ini umumnya dengan disertai lamanya dalam pengambilan keputusan

akhir. Lamanya pengambilan keputusan ini lebih karena bentuk kehati-hatian

(31)

commit to user

17

sendiri. Untuk itu konsumen perlu memiliki banyak informasi dan pertimbangan.

Konsekuensi logis yang muncul dari kondisi ini, perusahaan atau organisasi perlu

melakukan pendekatan melalui kegiatan komunikasi yang lebih intensif dan

personal untuk dapat membujuk konsumen memilih produk atau jasa yang

ditawarkannya melalui pemanfaatan sumber informasi yang konsumen percayai.

Tipe kedua, LPS, konsumen umumnya tidak memiliki cukup banyak waktu

dan sumberdaya lain ataupun motivasi untuk melakukan pencarian dan

pemrosesan informasi sebagaimana dalam EPS. Konsumen akan

menyederhanakan proses memilih produk dengan mengabaikan beberapa

informasi dan pertimbangan. Umumnya ini berlaku untuk kategori produk atau

jasa yang kurang terlalu penting sehingga cukup melalui proses yang lebih

sederhana dalam mengambil keputusan. Dalam kategori ini konsumen dapat

secara mudah mengambil keputusan tanpa harus banyak mencari informasi dan

pertimbangan ke beberapa pihak. Produk-produk dalam kategori consumer goods

seperti makanan ringan yang masuk dalam kategori fast moving dapat diputuskan

pembeliannya melalui mekanisme ini. Konsumen dapat dengan mudah

mengetahui atau memperkirakan manfaat yang bisa dirasakan dari penggunaan

produk tersebut. Apabila tidak memuaskan, konsumen tinggal beralih ke produk

lain dengan cepat. Tipe ketiga midrange problem solving yangmana konsumen

dalam mengambil keputusan tidak seekstrim pada kedua model sebelumnya. Tipe

ini merupakan model moderat yang cukup banyak dianut konsumen. Konsumen

hanya mencari informasi pokok yang penting dan belum diketahui, selebihnya

akan mengandalkan pengetahuan dan pengalaman yang mereka miliki atau

(32)

commit to user

18

Sementara untuk kategori pembelian ulangan (repeat purchase) terdapat dua

kemungkinan tipe pembelian, yakni repeated problem solving dan habitual

problem solving. Tipe pertama mensyaratkan kelanjutan dari pembelian

sebelumnya terutama dalam hal kepuasan. Kosumen telah memiliki informasi

maupun pengalaman yang memadai tentang penggunaan produk tersebut

sebelumnya. Dalam pengambilan keputusan tipe ini konsumen perlu

mempertimbangkan kecukupan waktu, energi dan alternatif untuk memilih produk

lain yang belum tentu memberikan kepuasan seperti produk yang telah

dipergunakan. Sedangkan tipe kedua merupakan keputusan yang sudah biasa

dilakukan. Hal ini hampir sama dengan tipe yang pertama. Pada umumnya dalam

tipe ini konsumen akan dipengaruhi oleh loyalitas terhadap brand yang

digunakan. Apabila konsumen menghendaki perubahan penggunaan brand maka

konsumen mengalami kondisi inertia yakni konsumen dapat melakukan brand

switching ketika setiap produk yang sejenis memiliki nilai yang sama di mata

konsumen. (Blackwell et.al., 2001 : 88 – 89).

Dengan memahami mekanisme yang berlangsung dalam diri konsumen pada

saat melakukan pembelian baik itu sebelum, pada saat, dan setelah membeli, maka

akan lebih mudah bagi perusahaan atau organisasi dalam menentukan strategi

yang tepat untuk mendekati, mempengaruhi dan membujuk konsumen. Bagi

produsen dan penyedia jasa tentu saja desain strategi dan taktik promosi akan

sejalan dengan tujuan pemasaran yang dibangunnya yakni untuk melakukan

pembelian produk atau jasa. Namun komunikasi melalui promosi yang dibangun

tersebut akan disesuaikan dengan sudut pandang kebutuhan konsumen itu sendiri.

(33)

commit to user

19

lebih jauh memberikan apresiasi dan penyesuaian terhadap karakter

konsumennya. Konsumen juga diuntungkan dengan kondisi seperti ini

C.Promosi Organisasi dan Pemanfaatan Sumber Informasi

Kegiatan promosi atau komunikasi pemasaran yang dilakukan oleh setiap

perusahaan atau organisasi akan berbeda satu dengan yang lain. Perbedaan ini

disebabkan oleh kondisi yang berbeda dari masing-masing lembaga tersebut.

Untuk memahami perbedaan kondisi tersebut dapat mendasarkan pada penjelasan

Kotler (2000 : 304) tentang product life cycle. Dalam pandangan Kotler, pada

dasarnya daur hidup sebuah produk mengikuti empat siklus. Siklus pertama,

introduction yang mana ditunjukkan oleh angka dan grafik penjualan yang

menanjak secara perlahan disebabkan oleh produk yang baru diperkenalkan ke

pasar. Kedua, growth dimana priode produk mulai diterima pasar dan penjualan

serta keuntungan menunjukkan kenaikan. Ketiga, maturity yakni periode dimana

angka penjualan kembali melambat. Keempat decline yang merupakan tahapan

produk dan penjualan mengalami penurunan yang sangat tajam.

Setiap tahapan tersebut akan membawa konsekuensi pada strategi yang

berbeda. Lebih lanjut Kotler (2000 : 306 – 314) memberikan penjelasan pada

masing-masing tahap tersebut. Pada tahap pengenalan produk perusahaan akan

banyak mengeluarkan biaya untuk distribusi dan promosi. Ada empat strategi

yang dapat ditempuh (Kotler, 2000 : 306 – 307). Pertama, rapid skimming dengan

melakukan launching dengan harga yang tinggi dan biaya promosi besar. Hal ini

dilakukan ketika banyak pasar yang belum mengetahui keberadaan produk.

(34)

commit to user

20

tinggi dan biaya promosi yang sedikit. Hal ini dilakukan ketika pasarnya sempit

dan cukup banyak yang telah aware. Ketiga, rapid penetration dengan jalan

memberikan harga rendah namun promosi yang gencar. Strategi ini perlu

dilakukan pada saat pasarnya luas dan tidak aware serta sensitif terhadap harga.

Keempat, slow penetration dengan memberikan harga yang murah dan biaya

promosi sedikit. Hal ini diterapkan pada pasar yang luas dan telah sadar akan

produk namun sensitif terhadap harga.

Selanjutnya Kotler (2000 : 309) menjelaskan pada tahap pertumbuhan yang

ditandai dengan meningkatnya sales strategi yang diterapkan juga berbeda. Pada

tahap ini para pengguna awal dan konsumen lain mulai menggunakan produk. Di

saat ini kompetitor sudah mulai nampak yang umumnya mereka menawarkan

features yang lebih dari yang ditawarkan dan mereka memperluas distribusinya.

Dalam situasi seperti ini maka perusahaan perlu menjaga promosinya paling tidak

sama atau lebih besar lagi dari tahapan sebelumnya. Profit akan meningkat seiring

dengan meningkatnya biaya promosi yang diberikan. Strategi yang dapat

dilakukan perusahaan adalah pertama, meningkatkan kualitas produk dan

menambah layanan. Kedua, memberikan tambahan alternatif produk dengan

mengubah ukuran dan sebagainya. Ketiga, membidik segmen pasar baru.

Keempat memperbesar cakupan distribusi. Kelima, mengganti periklanan dari

product awareness ke product preference. Keenam, menurunkan harga untuk

menjangkau konsumen yang mulai sensitif terhadap harga.

Pada tahap kedewasaan menurut Kotler (2000 : 310 – 313), yang ditandai

dengan penjualan yang mulai melemah maka perusahaan perlu melakukan strategi

(35)

commit to user

21

modifikasi pasar. Artinya perusahaan perlu melakukan ekspansi pasar dengan

jalan beralih membidik non user atau membidik segmen pasar yang baru maupun

memberikan layanan yang lebih baik lagi. Strategi lain yang dapat ditempuh

melalui modifikasi produk yang ditawarkan kepada konsumen. Modifikasi ini

dengan jalan meningkatkan kualitas produknya maupun memberikan perbaikan

style yang lebih menarik. Disamping kedua strategi tersebut perusahaan perlu

merubah atau memodifikasi bauran pemasarannya.

Terakhir, dalam penjelasan yang dipaparkan Kotler (2000 : 313 -315)

perusahaan akan memasuki tahap penurunan. Memasuki fase ini tentu saja akan

berbeda strategi yang dilakukan. Perusahaan perlu melakukan satu atau beberapa

alternatif strategi yang ada. Pertama, meningkatkan investasi dalam rangka

memperkuat posisi di situasi kompetisi yang ada. Kedua, memelihara investasi

yang ada sampai situasi yang ada dapat dikendalikan dan menuju pada normal.

Ketiga, menurunkan investasi dengan sangat selektif melalui pengabaian segmen

tertentu yang memang sudah tidak menguntungkan sekaligus memperkuat dan

memfokuskan investasi pada segmen yang menguntungkan. Keempat, melakukan

pemulihan investasi untuk memperoleh pemasukan secara cepat. Keenam,

mengelola aset yang ada secara optimal.

Masing-masing tahap tersebut memiliki konsekuensi terhadap promosi atau

komunikasi pemasaran yang khas. Oleh sebab itu sebelum melakukan promosi

perusahaan perlu memperhatikan posisinya dalam daur hidup produk. Hal ini ini

untuk menyesuaikan dengan pilihan strategi yang tepat dengan segala macam

(36)

commit to user

22

menghamburkan sumberdaya yang dimiliki dan pada akhirnya tidak menghasilkan

peningkatan kinerja.

Pengetahuan tentang daur hidup produk dan dipadukan dengan pemahaman

yang memadai tentang karakter dan bagaimana konsumen berpikir dan

berperilaku akan memberikan dasar yang kuat bagi produsen sebagai penyedia

produk atau jasa dapat mengkomunikasikan dirinya agar dapat diketahui dan

diterima oleh pasar yang dituju. Untuk menjangkau pasar sasaran ini produsen

perlu melakukan komunikasi melalui berbagai media. Apabila segmen pasar

dengan perilaku di dalamnya telah diketahui, produsen dapat dengan mudah

mendesain pesan dan memilih media yang sesuai. Artinya komunikasi menduduki

peran penting untuk organisasi, khususnya untuk memposisikan organisasi atau

perusahaan beserta produk atau jasa yang dihasilkannya di dalam pasar. Secara

lebih spesifik komunikasi dipergunakan to inform customers about the firm and

its product, persuade customers that a specific product offers the best solution to

a customer’s needs, remind customers of product availability and motivate them

to act (Lovelock, 1996 : 377). Dalam menerapkan kegiatan komunikasi

pemasaran ini perlu disusun strategi komunikasi yang tepat berdasar pada hasil

pemahaman atas karakter dan perilaku konsumen yang telah diketahui. Kegiatan

komunikasi ataupun promosi yang dijalankan perusahaan atau organisasi perlu

mempertimbangan pemrosesan informasi (elaboration likelihood model / ELM)

dalam diri konsumen.

Dalam melakukan pemrosesan informasi, konsumen menempuh dua jalur

yakni central processing route dan peripheral route (Clow and Baack, 2004 : 67 –

(37)

commit to user

23

memfokuskan diri pada pesan-pesan dan elemen-elemen penting dalam media

komunikasi yang dipergunakan. Sedangkan pada peripheral route konsumen lebih

fokus dan tertarik serta memperhatikan tanda-tanda pendukung yang melengkapi

pesan utama. Misalnya dalam iklan televisi tanda pendukung yang melekat dalam

iklan adalah aktor, latar belakang atau setting.

Untuk menjalankan komunikasi pemasaran pada umumnya media

komunikasi yang digunakan organisasi untuk mengkomunikasikan brand melalui

media lini atas dalam bentuk advertising. Alasan mempergunakan iklan karena

dengan iklan akan memberikan gambaran ideal yang dapat dicapai konsumen bila

menggunakan produk tertentu. Ads also become part of consumers everyday

landscape, language, and everyday reality (O‟Guinn, 2006 : 204). Periklanan

yang dilakukan dapat dengan menempatkan pada media lini atas seperti televisi,

radio, surat kabar, majalah maupun media lini bawah seperti baliho, spanduk.,

leaflet/brosur dan sebagainya.

Selain menggunakan bentuk periklanan yang lazimnya ditempatkan pada

media lini atas, organisasi dapat mengkomunikasikan brand mereka agar dapat

diketahui, diingat dan dipilih konsumen dengan kegiatan komunikasi

menggunakan media lini bawah. Dalam media lini bawah ini ada beragam bentuk

yang bisa digunakan seperti leaflet atau brosur serta berbagai bentuk kegiatan

(event) off air. Untuk mencapai tujuan yang diinginkan dalam

mengkomunikasikan produk dan brand organisasi dapat menggunakan pihak lain

yang dapat diasosiasikan dengannya (endorser). Cara seperti ini cukup banyak

dilakukan oleh banyak organisasi karena endorsers can be rich source of meaning

(38)

commit to user

24

Dengan menggunakan endorser ini akan dapat membentuk opini di dalam pasar

sasaran yang dituju. Namun demikian perlu dipertimbangkan pemilihan endorser

tersebut haruslah orang-orang yang benar-benar tepat sesuai atau mewakili citra

dari brand ataupun organisasi yang bersangkutan. Endorser ini dapat dipilih pihak

yang berasal dari luar organisasi seperti tokoh masyarakat ataupun berasal dari

dalam lingkungan organisasi itu sendiri semisal anggota organisasi. Endorser bisa

dipergunakan baik untuk media lini atas maupun bawah. Kekeliruan dalam

memilih endorser yang akan dimunculkan sebagai spokes person dapat

berdampak pada citra organisasi. Image organisasi bisa dipersepsikan keliru oleh

konsumen. Efek domino yang mungkin muncul adalah adanya keengganan

konsumen untuk memilih dan menggunakan produk atau jasa yang ditawarkan

oleh organisasi tersebut.

Penggunaan media lini atas dan lini bawah dengan berbagi bentuknya perlu

mempertimbangkan bahwa segala bentuk komunikasi tersebut harus dapat

menjangkau target marketnya. Untuk itu exposure perlu diperhatikan. Exposure is

defined as the achievement of proximity to a stimulus such that an opportunity

exists for activation of one or more of the five senses. For business, this means

making sure that their messages and products are exposed to the right people at

the right time and place (Blackwell, 2001 : 455). Jangkauan khalayak ini akan

memberikan keluasan persebaran informasi disampaikan dan diserap target

market yang dituju. Pemilihan dan penggunaan media komunikasi ini merupakan

penjabaran dari strategi pemilihan media. Media yang baik adalah media yang

dipergunakan oleh konsumen dalam kehidupannya untuk mengakses informasi.

(39)

commit to user

25

adalah persoalan pengulangan. Artinya, konsumen perlu mendapat terpaan media

informasi secara berkala. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Clow and Baack

“Repetition is an important key when individuals process messages using the peripheral route. The more often consumer sees a particular advertisement or marketing communication, the better the chance is that he or she will process the message argument. With greater number of exposures to the same advertisement or communication, peripheral cues tend to become less important as customers

attend more to the core message” (Clow and Baack, 2004 : 68)

Pandangan tersebut menandakan tentang pentingnya penyampaian pesan

dilakukan secara berulang ini dikarenakan memori di pikiran konsumen terbatas

kapasitasnnya. Sedangkan di tengah derasnya arus informasi yang ada, konsumen

dalam waktu singkat menerima beragam informasi dari produk lain. Konsumen

mengalami kondisi banjir informasi. Agar tidak kehilangan kontak dengan pikiran

konsumen, maka perlu ada pengulangan. Hal ini sekaligus bisa berfungsi sebagai

penguatan atau peneguhan atas produk atau jasa yang ditawarkan.

Disamping exposure, dalam menetapkan media komunikasi yang

dipergunakan perlu memperhatikan persoalan perhatian (atensi). Attention

represents the amount of thingking focused in a particular direction (Blackwell,

2001 : 455). Di tengah berbagai macam terpaan informasi yang diterima khalayak

sasaran, segala macam bentuk komunikasi yang dilakukan harus disesuaikan

untuk mendapatkan perhatian dari konsumen. Tanpa perhatian atas komunikasi

yang dijalankan maka organisasi akan kehilangan kesempatan masuk ke pikiran

konsumen sehingga tindakan pembelian tidak terjadi karena konsumen tidak

aware atau bahkan tidak yakin akan benefit yang ditawarkan produk akan dapat

memenuhi kebutuhannya. Dalam hal ini isi informasi menjadi penting untuk

(40)

commit to user

26

konsumen menjadi sangat penting untuk mencapai keberhasilan yang diharapkan.

Bagaimana menyiapkan dan mengemas informasi akan mempengaruhi

penerimaan konsumen untuk melakukan pembelian. Pelajar menjadi fokusnya

atau dengan kata lain pelajar menempati posisi yang penting. Terkait dengan hal

ini, Chase et.al. (2007) menjelaskan bahwa pelajar menjadi konsumen penting dan

menentukan di masa mendatang. Hal ini sebagaimana termaktub dalam

pernyataannya :

Students are consumers. Students currently have more spending power than

in previous generations and become consumers at a much earlier age. One reason for this increasing consumerism is easy access to shopping. Television and other media marketers use advertising to influence purchase decisions of children and youth. College students are targeted because they are perceived

as potential loyal customers both currently and in the future.” (Chase et.al.,

2007: 11)

Dari penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa sebenarnya pelajar menjadi

konsumen penting bagi lembaga pendidikan tingi di kemudian hari. Pelajar

memiliki kekuatan besar yang mempengaruhi kebijakan penyelenggara

pendidikan. Sehingga keberadaan pelajar tersebut tidak bisa diabaikan begitu saja.

Dalam hal pemilihan dan pemanfaatan sarana komunikasi yang ada, media

yang bisa dipergunakan oleh konsumen tidak hanya media komunikasi tertulis,

visual, audio, maupun audio visual yang memerlukan sarana bantu seperti kertas

dan perangkat elektronik. Kinzie et.al. (2004) berpendapat bahwa banyak media

komunikasi yang bisa dipergunakan oleh kampus untuk memperoleh perhatian

serta menerima mahasiswa. Hal ini sebagaimana penjelasan sebaga berikut :

Although institutional recruiting still included the staples of direct mail,

(41)

commit to user

27

colleges and universities communicated with prospective students.” (Kinzie

et.al., 2004 : 33)

Dari uraian tersebut mengambarkan bahwa dalam promosi perguruan tinggi,

melibatkan beragam strategi maupun taktik komunikasi pemasaran. Hal tersebut

digunakan untuk mendekatkan diri kepada pelajar sebagai calon konsumen

potensialnya. Penggunaan kunjungan ke sekolah ataupun pameran pendidikan

dapat sebagai cara yang sering dilakukan. Disamping itu, penggunaan media baru

berbasis teknologi terbaru seperti CD-ROM dan situs internet mulai menjadi

alternatif yang dapat dilakukan

Pilihan lain yang dapat ditempuh perguruan tinggi untuk mempromosikan

lembaganya dengan menggunakan media komunikasi interpersonal. Media ini

juga sering dimanfaatkan oleh konsumen sebagai sumber informasi mengenai

produk atau jasa yang akan diputuskan kelak pembeliannya. Media komunikasi

face to face ini juga memiliki peran yang cukup penting untuk konsumen dalam

mengambil keputusan. Umumnya face to face communication ini memerlukan

keterlibatan yang cukup mendalam dalam diri konsumen. Hal ini karena ada

interaksi yang cukup intens antara konsumen dan orang lain sebagai sumber

informasi yang mereka percayai.

Konsumen dalam banyak kasus pembelian barang atau jasa akan lebih

mempertimbangkan pada sumber informasi yang dipercaya. Teman, saudara,

keluarga merupakan saluran komunikasi yang handal untuk mempengaruhi

konsumen. Kehandalan komunikasi media ini karena konsumen melihat pada

kredibilitas komunikator. That is, they are more likely to be persuaded by sources

(42)

commit to user

28

kredibel diyakini membawa pesan yang kredibel pula. Informasi yang mengalir

melalui model seperti ini biasa dikenal sebagai word of mouth (WOM). “No

amount of advertising or expert selling could compete with collegue or friend

recommending or criticizing a particular product or service” (Smith, 1998 : 509).

Hal ini menandakan bahwa WOM memiliki pengaruh yang besar untuk

mendapatkan informasi guna bahan pertimbangan pengambilan keputusan

konsumen. Kondisi ini seperti disampaikan Hawkins (2007) yang menyatakan

the exchange of advice and information beetween group members can occur

directly in the form of WOM when (1) one individual seek information from

another or (2) when one individual volunteers information. It also occur indirectly

through obeservation as a by-product of normal group interaction” (Hawkins

et.al., 2007 : 243). Bahkan dalam kondisi tertentu word of mouth dapat menjadi

media utama bagi tersebarnya informasi tentang produk yang sangat berpengaruh

terhadap diri konsumen. Hal ini dikarenakan konsumen sudah tidak lagi

mempercayai iklan yang ditayangkan melalui media massa membawa informasi

yang lengkap untuk mengambil keputusan. Kehandalan word of mouth ini juga

ditegaskan oleh Fulton et.al. (2009) yang menyatakan bahwa “the important thing

to keep in mind with respect to word-of-mouth marketing is that your customers

will “tell it like it is.” If your business is solid and you have a well positioned

product/service mix, word-of-mouth marketing can be your most effective

marketing tool.” (Fulton et.al., 2009 : 49) Dari uraian tersebut jelaslah bahwa

komunikasi word of mouth tidak bisa dianggap sebelah mata oleh perusahaan

(43)

commit to user

29

Adapun bentuk komunikasi word of mouth tersebut biasanya dapat

mengambil bentuk komunikasi dari satu individu ke individu yang lain. Hal ini

sebagaimana lazim dikenal sebagai komunikasi interpersonal. Selain itu, word of

mouth juga bisa mengambil bentuk komunikasi dari satu individu ke kelompok.

Jadi informasi yang menyebar ke jaringan kelompok yang menjadi acuan individu

tersebut. Mengenai hal ini Bampo et.al. (2008) memberikan pemaparan bahwa

viral marketing is form of peer to peer communications in which individuals are

encouraged to pass on promotional messages within their social networks.

(Bampo et.al., 2008 : 273). Dari pendapat tersebut mengindikasikan bahwa word

of mouth yang juga disebut sebagai viral marketing, mengalirkan informasi dari

satu pihak ke pihak lain melalui jaringan yang dimiliki oleh pihak-pihak yang

terlibat dalam komunikasi tersbut. Sehingga kelompok acuan menjadi hal yang

penting untuk diperhatikan oleh perusahaan.

Namun demikian, pada prakteknya penggunaan media komunikasi untuk

penyebarluasan informasi perlu memperhatikan keunggulan dan kelemahan

masing-masing kategori media yang ada. Penggunaan bauran media (media mix)

dalam hal ini menjadi diperlukan. Untuk mencapai keberhasilan efek komunikasi

pemasaran yang diharapkan, perpaduan antara media komunikasi interpersonal

dan komunikasi melalui media massa menjadi suatu kebutuhan bahkan mungkin

menjadi sebuah keharusan. Kelemahan media di satu kategori akan dapat ditutupi

dan dilengkapi dengan keunggulan media dari kategori yang lainnya. Pemanfaatan

media yang beragam sesuai keperluan akan memberikan efektifitas jangkauan dan

pengaruh ke dalam diri konsumen seperti yang diinginkan baik oleh produsen

(44)

commit to user

30

Dari uraian telaah pustaka yang telah dilakuan, maka pemanfaatan sumber

informasi akan didahului dengan pemilihan media komunikasi yang akan

dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan. Pemilihan atau penentuan media

komunikasi akan merujuk pada apakah informasi yang akan diperoleh melalui

media terpilih tersebut dipandang dapat memenuhi kebutuhan oleh konsumen atau

tidak. Konsumen dalam menentukan sumber informasi akan mempertimbangkan

beberapa hal antara lain kebiasaan mereka dalam menggunakan dan ketersediaan

media tersebut dalam kehidupannya.

Selain itu, konsumen akan mempertimbangkan apakah sumber informasi

tersebut dapat dipercaya tentang kebenaran informasi yang ada di dalamnya.

Adapun pemanfaatan sumber informasi tersebut merupakan cara konsumen dalam

menggunakan media komunikasi yang ada. Dalam kaitan ini cara menggunakan

meliputi kapan waktu yang biasa dipergunakan untuk mencari atau mengakses

media komunikasi yang diperlukan, lamannya menggunakan media komunikasi,

(45)

commit to user

31

BAB III

METODE PENELITIAN

A.Pendekatan Penelitian

Penelitian yang dilakukan ini merupakan penelitian kualitatif. Dalam

penelitian ini akan dideskripsikan atau dipaparkan temuan-temuan terkait masalah

penelitian. Penelitian deskriptif hanya memaparkan situasi atau peristiwa.

Penelitian ini tidak mencari atau menjelaskan hubungan, tidak menguji hipotesis

atau membuat prediksi (Rakhmat, 1998 :24). Dalam penelitian ini akan diuraikan

mengenai sumber-sumber informasi dan pemanfaatannya oleh mahasiswa pada

saat menentukan pilihan tempat melanjutkan studi setelah lulus SMA. Dengan

demikian akan dilakukan eksplorasi terhadap sumber informasi potensial dan

bagaimana pemanfaatannya.

B.Teknik pengumpulan data

Dalam penelitian ini, data-data dikumpulkan dengan cara :

1.Studi Dokumentasi :

Penelusuran dokumen yang dilakukan dengan pengumpulan data dan informasi

berupa hasil penelitian sejenis yang pernah dilakukan dan relevan dengan

masalah penelitian ini, naskah/dokumen hasil evaluasi promosi UMY tahun

2004-2006. Pada hakekatnya, data yang diperoleh dengan jalan penelitian

dokumentasi dijadikan fondasi dasar bagi penelitian. Hasil penelitian terdahulu

yang relevan dengan permasalahan penelitian ini diperoleh dari LP3 UMY

(46)

commit to user

32

sekunder. Temuan penelitian tersebut terkait dengan sumber informasi bagi

mahasiswa pada saat memilih UMY sebagai tempat studi selepas SMA akan

dieksplorasi lebih mendalam untuk mendapatkan penjelasan yang memadai

tentang bagaimana pemanfaatannya oleh mereka. Sehingga penelitian ini akan

melakukan konfirmasi dengan mendapat penjelasan mendalam dari temuan

data sekunder yang relevan.

2.Wawancara/interview :

Wawancara adalah proses tanya jawab lisan antara dua orang atau lebih yang

berhadapan secara fisik dan diarahkan pada suatu masalah tertentu. Sehingga

tujuan yang diharapkan dari wawancara adalah memperoleh informasi faktual

(Kartono, 1990 : 187). Melalui wawancara dapat digali lebih mendalam

mengenai apa yang dialami dan dilakukan subyek penelitian, namun juga apa

maksud yang tersembunyi dalam diri subyek/informan penelitian. Wawancara

ini dilakukan dengan menentukan pertanyaan-pertanyaan penting sesuai

permasalahan penelitian dalam interview guide sebagai panduan pokok bahasan

data yang diperlukan. Selain itu, pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya spontan

muncul pada saat interview berlangsung juga dilakukan dalam penelitian ini

guna merespons jawaban-jawaban yang diberikan oleh informan.

Penelitian ini menggunakan teknik wawancara bebas terpimpin (Kartono,

1990 : 207), sebab dalam wawancara bebas terpimpin tersebut unsur kebebasan

tetap dipertahankan. Disini unsur keluwesan dijaga, agar dapat diperoleh data

secara mendalam. Teknik wawancara ini biasa disebut juga sebagai wawancara

semi-terstruktur yang lazim digunakan dalam penelitian kualitatif. Peneliti

(47)

commit to user

33

kajian penelitian ini untuk mengarahkan pencarian data. Pertanyaan lain akan

dikembangkan untuk mendapatkan ekplorasi data dengan menyesuaikan pada

situasi yang berlangsung pada saat wawancara (Pawito, 2007).

Subyek yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah mahasiswa

angkatan 2007 yang memperoleh informasi dari teman pada saat mereka

mendaftarkan diri menjadi mahasiswa UMY. Adapun alasan pemilihan

informan ini dikarenakan dari data sekunder hasil penelitian LP3 UMY

menunjukkan untuk kategori ini menduduki rangking tertinggi dibandingkan

dengan sumber informasi lain. Kategori tertinggi untuk kategori teman sebagai

sumber informasi ini juga konsisten dengan data pada tahun-tahun sebelumnya.

Sehingga penentuan informan dilakukan di awal dengan maksud tertentu sesuai

dengan permasalahan dan tujuan penelitian yang ingin diketahui (purposeful

selection) (Neuman, 2000 ; Baxter, 2004). Jumlah informan yang dipilih

sebanyak 6 mahasiswa. Dari keenam informan tersebut mewakili kategori

mahasiswa fakultas non-eksakta dan eksakta yang masing-masing berjumlah 3

orang. Pemilihan informan tersebut didasarkan pada pertimbangan mereka

dianggap sebagai pihak yang mengetahui tentang data yang diperlukan sesuai

permasalahan penelitian. Wawancara dilakukan di ruangan tertutup yang

tenang dan nyaman di dalam kampus. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan

agar informan dapat fokus pada pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dan tidak

terganggu oleh aktifitas lain di kampus serta lebih bebas dan luwes dalam

mengutarakan jawaban. Adapun pertanyaan pokok penelitian tentang apa dan

bagaimana informan mendapatkan serta memproses informasi tentang UMY

Gambar

Gambar 2.1. : Proses Pengambilan Keputusan Konsumen
Tabel 4.3. : Jumlah Mahasiswa Mendapat Informasi dari Teman ..............               48
Tabel 1.1. : Jumlah Pendaftar Calon Mahasiswa dan Diterima
Gambar 2.1. : Proses Pengambilan Keputusan Konsumen
+4

Referensi

Dokumen terkait