• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

B. Pemanfaatan Sumber Informasi Saat Memilih Tempat Studi.

Sebagaimana dipaparkan dalam uraian sub bab sebelumnya bahwa internet telah cukup dikenal dan banyak diakses informan untuk mencari informasi. Akses internet yang dilakukan para informan selama ini baru sekedar dilakukan untuk memenuhi kegemaran mereka. Umumnya mencari kesenangan untuk mengejar kepuasan menjadi hal utama yang mereka cari ketika berselancar di dunia maya. Hal ini nampak seperti penuturan Mutiara, mahasiswa Kedokteran Gigi, yang berasal dari SMAN 1 Klaten :

“Paling FS (friendster) dengan google itu...Satu minggu itu bisa ke warnet…dulu (saat SMA) masih ke warnet…2 sampai 3 kali (dalam satu minggu)...Paling lama 2 jam…3 jam jarang, 2 jam itu…biasanya kalau ke warnet minimal…maksimal ya 2 jam itu, minimal…minimal 2 jam tapi maksimal tidak sampai 3 jam” (Wawancara, 19 September 2008).

Hal senada juga ditunjukkan oleh informan lain, Nina, mahasiswi Jurusan Hubungan Internasional angkatan 2007 yang berasal dari Wonosobo. Akses internet dilakukannya sesuai kebutuhan yang diperlukannya. Jika melihat dari durasi waktu akses, terlihat lamanya akses tiap informan berbeda satu dengan yang lain. Temuan pentingnya adalah, bahwa para informan rata-rata telah mempergunakan internet sebagai sarana mencari informasi. Hal yang sering mereka lakukan ketika memasuki dunia maya, mereka membuka situs yang memang mereka inginkan untuk dikunjungi. “Sehari tidak tentu, belum tentu setiap hari...Sekitar 1 – 2 jam...Pertama friendster, semua orang juga melakukan itu...Hanya mau melihat testi aja. Kita masuk google. Kemudian apa yang akan kita, di yahoo...Misalnya kita ada tugas-tugas sekolah, kalau tidak, mau mencari lirik, lirik lagu apa” (Wawancara, 19 September 2008).

commit to user

50

Keadaan ini dini juga diperkuat oleh pengakuan Faliandra, mahasiswa Kedokteran Umum angkatan 2007 ketika memaparkan penggunaan internet pada saat masih menjadi pelajar. “Ya…buka friendster biasanya, hehehe…kalau saat SMA ya mencari informasi perguruan tinggi... (akses) Google search, hehe...Friendster yang paling dominan” (Wawancara, 16 September 2008).

Beberapa kutipan wawancara tersebut mengindikasikan bahwa para pelajar sudah aware terhadap internet sebagai medium pencarian informasi untuk berbagai keperluan yang mereka ingin atau butuhkan dengan mendapatkan hasil yang cepat dan lengkap. Selain itu, ketiga informan menyatakan mereka mencari informasi yang mereka perlukan melalui fasilitas mesin pencari (search engine), dalam hal ini google sebagai mesin pencari yang dominan disebut. Selain untuk hiburan seperti mencari lirik lagu, biasanya para informan terhubung dengan internet untuk keperluan pencarian bahan-bahan penyelesaian tugas-tugas mata pelajaran yang dipelajari di sekolahnya. Bahkan yang paling utama dan pertama kali ketika mereka terhubung dengan dunia maya, mereka membuka situs

friendster. Kenyataan ini menunjukkan para informan sebagai calon mahasiswa

sangat tertarik dengan situs jejaring sosial untuk dikunjungi, baik sekedar untuk melihat testimoni di wall account mereka ataupun melakukan aktifitas lain yang memungkinkan dilakukan melalui situs jejaring sosial tersebut. Jaringan pertemanan di dunia maya tampaknya tidak bisa ditinggalkan oleh informan, bahkan hal ini telah menjadi sebuah trend dari gaya hidup dalam pergaulan remaja sekarang. Namun demikian, bertolak belakang dengan beberapa informan lainnya, salah satu informan menyatakan secara khusus menggunakan fasilitas internet untuk mencari informasi mengenai kampus. Hal ini terungkap dari pernyataan

commit to user

51

Iqwan, mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi angkatan 2007 yang mengungkapkan kondisi tersebut sebagai berikut : “Dari internet...Ya melihat jurusan-jurusan, profile UMY seperti apa...1 jam 2 jam (akses)...Ya tidak tiap hari. Rata rata seminggu 1 - 2 kali” (Wawancara, 19 September 2008).

Informan menyatakan menggunakan internet untuk keperluan mencari informasi tentang kampus dikarenakan tidak mendapatkan informasi dari sekolah melalui guru bimbingan dan konseling. Hal ini disebabkan sekolah yang bersangkutan kemungkinan tidak mendapatkan penyebaran brosur atau leaflet dari kampus yang dibutuhkan informan, sehingga informan merasa perlu berinisiatif mencari sendiri melalui jalur lain yang memungkinkan untuk dapat diaksesnya informasi tersebut. Menurut Iqwan, dia melihat web resmi kampus untuk melihat bagaimana tampilan atau profile yang ada situs tersebut. Hal senada juga diungkapkan oleh Faliandra yang menyatakan fokus perhatiannya tertuju pada tampilan tata letak dan foto serta informasi fasilitas yang dimilikinya. “...Kalau (menurut) saya lebih menarik yang di web sitenya, sebab lebih jelas lebih gamblang..(biasanya yang diperhatikan) Galeri…galeri fotonya, foto-fotonya terus fasilitas–fasilitilasnya apa saja ya..terus..ya itulah paling jelas itu saja” (Wawancara, 16 September 2008).

Penggunaan internet untuk mencari informasi perihal perguruan tinggi juga dikemukakan oleh informan lain yang berasal dari luar Jawa, Syahru Ramdhani, mahasiswa Jurusan Ilmu Keperawatan angkatan 2007 yang berasal dari Kalimantan. Menurutnya, internet dipergunakan untuk mencari informasi tambahan yang dibutuhkannya mengenai lembaga pendidikan tinggi yang ingin diketahuinya sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan keputusan seperti

commit to user

52

tergambar dalam kutipan jawaban wawancara berikut : “kalau disana (Kalimantan) iya..ya terkait kepentingan saja..terkait kepentingan kalau memang itu sangat urgent seperti itu ya sebenarnya tidak apa apa..lama dan yang mengakses itu memang kesenangan tersendiri untuk mengetahui berbagai macam informasi” (Wawancara,16 September 2008).

Hal ini dikarenakan informan sudah mendapatkan informasi terlebih dahulu dari sumber lain. Informan merasa perlu untuk mendapatkan bahan pembanding yang relevan. Sedangkan untuk datang langsung ke lokasi kampus yang ingin diketahuinya, seperti dilakukan oleh informan lain, akan memerlukan sumberdaya yang besar baik dari sisi waktu, tenaga maupun biaya. Sehingga melalui pencarian informasi di internet akan mendapatkan efisiensi atas pemanfaatan sejumlah sumberdaya yang dimilikinya tanpa mengurangi substansi isi informasi yang diperolehnya.

“ya…saya searching juga di internet. Di internet saya mencari apalagi yang (bisa) saya dapatkan selain dari mereka (kakak kelas dan guru), langsung

searchingdi internet apa saja…yang dilihat ya…sedikit bagian dari sana ada

ditampilan (web) juga, oh…seperti ini UMY, kemudian fasilitasnya apa, akreditasinya seperti apa, menginformasikan seperti itu….ya 4 bulan sebelum kelulusan, sebelum ujian itu sudah searching juga, ya…4 bulan, sekitar 6 bulan (sebelum ujian)” (Wawancara, Syahru, 16 September 2008).

Dari beberapa kutipan wawancara tersebut tampak pula bahwa rata-rata waktu kunjungan (akses) internet pada informan hampir sama antara satu dengan yang lain. Dalam satu minggu rata-rata frekuensi memasuki dunia maya sebanyak 2 hingga 3 kali. Untuk setiap kali mengakses internet sedikitnya mereka memerlukan waktu 1 jam dan 2 sampai 3 jam sebagai waktu terlama yang dibutuhkan. Hal ini tampak dari pengakuan informan sebagai berikut : “1 – 2 kali per masuk (warnet) akses 1 sampai 2 jam...di warnet” (Wawancara, Iqwan, 19

commit to user

53

September 2008), “(Kalau akses internet) Masih pakai warnet”.(Wawancara, Faliandra, 16 September 2008), “(akses internet) Kalau rata rata pecandu semua pak! Di warnet” (Wawancara, Khotimmurahman, 17 September 2008), “(akses internet) Dari warnet” (Wawancara, Nina, 19 September 2008), “Seminggu itu

bisa ke warnet…dulu (waktu SMA) masih ke warnet itu ya 2 sampai 3 kali” (Wawancara, Mutiara, 19 September 2008).

Dari hasil wawancara tersebut dapat diperoleh gambaran bahwa para informan ketika mengakses internet tidak melakukan di rumah. Namun lebih banyak diakses di tempat umum, dalam hal ini warnet. Dari keenam informan yang ada, tidak ada satupun yang menyatakan mengakses internet selain dari warung internet. Tidak terlalu lamanya waktu yang dipergunakan untuk mengakses internet bisa disebabkan oleh banyak faktor. Bisa karena kesibukan pada saat kelas 3 untuk persiapan ujian nasional di sekolah ataupun karena bimbingan belajar di luar sekolah yang jadwalnya cukup padat. Namun alasan lain yang dapat tergali tentang lamanya waktu untuk mengakses internet dikarenakan biaya yang relatif mahal, khususnya bagi calon siswa yang berasal dari luar Jawa. Sehingga mereka harus membatasi sendiri lamanya waktu mengakses dan harus selektif berdasarkan prioritas sesuai dengan kebutuhan. “Disana…kan masih apa

ya…mahal..seperti itu jadi ya itu salah satu pertimbangan...” (Wawancara, Syahru, 16 September 2008).

Pemanfaatan internet dalam pencarian informasi mengenai kampus UMY sekalipun dalam wawancara ditemukan penjelasan ada yang mempergunakan, namun apabila menilik pada data sekunder dari LP3 UMY ternyata menunjukkan hal yang sebaliknya. Dengan kata lain, para pelajar SMA kelas 3 yang mencoba

commit to user

54

mengakses ke situs resmi kampus menunjukkan jumlah yang sedikit. Hal ini bisa ditunjukkan dengan data statistik mahasiswa baru tahun 2005, 2006 dan 2007 tentang kunjungan para siswa SMA ke portal UMY. Untuk tahun 2005, para pelajar SMA yang menyatakan mengunjungi web site UMY hanya 19 orang dari 1078 responden, yang artinya hanya sebesar 1,78%. Pada tahun 2006 apabila dilihat dari prosentasenya, para pelajar SMA yang mengakses situs www.umy.ac.id juga masih tergolong kecil, yakni hanya sebesar 1,84% atau sejumlah 19 orang dari total 1032 responden. Demikian juga pada tahun 2007, calon mahasiswa yang saat itu masih berstatus pelajar SMA mengakses situs resmi UMY sejumlah 34 orang atau 2,59% dari total 1313 responden. Sekalipun ada kenaikan jumlah penggunanya dari tahun-tahun sebelumnya, namun pertumbuhannya bisa dikatakan lambat, tidak sampai angka 1% setiap tahunnya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Padahal dikatakan kalau pelajar masa sekarang merupakan generasi millenium.

Untuk mendapatkan jawabannya dapat dirujuk kembali pada temuan penelitian tentang penggunaan internet sebagi medium pencari informasi. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa informan sudah cukup familiar dengan dunia internet. Hal ini ditunjukkan dengan lamanya waktu mengakses internet. Setiap minggunya rata-rata para informan mengakses internet antara 2 hingga 3 kali. Ini merupakan jumlah yang cukup sering. Apabila ditinjau dari sisi lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mengakses internet, rata-rata yang diperoleh antara 1 sampai dengan 3 jam setiap kali menggunakan internet. Hal ini berarti durasi waktu mengkases internet antara 3 sampai 9 jam setiap minggunya. Keperluan mengakses internet para informan ini juga cukup beragam. Variasi yang muncul

commit to user

55

dalam hal keperluan atau tujuan mengakses internet mulai dari mencari bahan untuk penyelesaian tugas sekolah, mencari lirik lagu, mengunjungi situs jejaring sosial, dan mencari informasi mengenai perguruan tinggi yang mereka butuhkan. Dari sekian varian jawaban yang ada, ternyata frekuensi yang paling sering dilakukan ketika berselancar di dunia maya informan dengan mengunjungi situs jejaring sosial. Kunjungan ke portal layanan pertemanan on line ini bukan hanya yang paling sering dilakukan, tetapi juga yang pertama dikunjungi ketika memasuki dunia maya. Setelah itu baru para pelajar menjelajahi situs-situs lain untuk mencari kebutuhan yang lain melalui fasilitas mesin pencari google (google

search engine). Kondisi ini menandakan bahwa keinginan mencari informasi

mengenai perguruan tinggi dalam rangka studi lanjut belum menjadi prioritas pertama dan utama melalui internet. Pemuasan keinginan akan hiburan dan pertemanan lebih diutamakan. Bagi informan yang mencari informasi mengenai perguruan tinggi melalui internet, umumnya yang ingin diketahui meliputi fasilitas pendidikan yang dimiliki, gedung perkuliahan, biaya pendidikan yang ditawarkan.

Disamping internet sebagai media pencarian informasi, pada umumnya siswa mencari informasi tentang pendidikan tinggi lebih lanjut melalui jalur sekolah. Dalam hal ini sekolah biasanya akan menunjuk guru bimbingan penyuluhan atau konseling untuk menjadi sumber informasi bagi siswanya yang ingin mengetahui dan konsultasi mengenai pendidikan tinggi sesuai dengan kebutuhan para siswa. Namun demikian tampaknya ada kemungkinan sekolah memang kurang optimal sebagai sebagai sumber informasi yang pertama dan utama. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Faliandra, informan yang kuliah di Jurusan Ilmu Kedokteran

commit to user

56

Umum : “Guru BP…. tidak ada..Kurang informasinya kalau dari guru BP” (Wawancara, Faliandra, 16 September 2008). Hal seperti ini juga dialami oleh Iqwan mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi yang berasal dari SMA 1 Klaten yang menyatakan bahwa “Guru BP, tidak ada (informasi) sama sekali...Kemarin (waktu) bertanya itu, menurut BP tidak ada (informasi) yang masuk” (Wawancara, Iqwan, 19 September 2008).

Peran sekolah khususnya guru BP kurang begitu mempengaruhi informan untuk bisa masuk ke perguruan tinggi, karena adanya keterbatasan informasi yang dimilikinya. Sehingga informasi yang diberikan kepada siswapun hanya cenderung apa yang diketahuinya saja dan hanya sekedar meneruskan atau mengulangi isi yang telah ada dan disampaikan dalam brosur. Kondisi ini juga mendapatkan dukungan pernyataan dari informan lain, Mutiara, mahasiswa Kedokteran Gigi angkatan 2007 yang berasal dari SMA 1 Klaten memberikan penjelasan : “Paling pamflet, banyak pamflet dikirim (ke sekolah), terus ini..sudah ada jurusannya..kalau ini..trus..kalo ini tu bagus ngga sih bu? ya menjawabnya juga setau ibunya…bagus sih daripada ini..daripada itu…ya seperti itu…” (Wawancara, Mutiara, 19 September 2008). Pihak sekolah dalam hal ini guru bimbingan dan konseling (BP/BK) dipandang para siswa sebagai tempat bertanya yang tepat mengenai studi lanjut ke perguruan tinggi. Kecenderungan siswa memilih guru BP sebagai tempat bertanya dikarenakan guru tersebut diyakini memiliki pengetahuan yang cukup luas dan mendalam mengenai perguruan tinggi. Disamping itu, biasanya guru BP sekaligus bisa bertindak sebagai penasehat bagi pelajar dengan memberikan arahan yang tepat sesuai dengan potensi diri, minat, bakat, dan kemampuan yang dimiliki siswa.

commit to user

57

Di sisi lain dalam hal penyampaian informasi tentang perguruan tinggi, peran saudara memegang posisi yang cukup penting. Dalam kaitan ini peran seorang kakak sebagai sumber informasi akan lebih didengarkan oleh adiknya yang masih duduk di bangku SMA dan ingin melanjutkan studinya ke perguruan tinggi. Pada umumnya kakak memberikan penjelasan atau menceritakan aktifitas mereka sehari-hari ketika bergelut dengan dunia kampus seperti kegiatan perkuliahan, fasilitas kampus, dan sebagainya. Mutiara, informan yang memiliki kakak kuliah di fakultas dan universitas yang sama menjelaskan sebagai berikut :

“Ya…kalau UMY itu kakak kuliah di KU, jadinya (tahu) UMY KU nya bagus…terus swastanya itu yang bagus UMY kalau dibandingkan dengan swasta yang lain, kemudian kalo untuk KG sendiri sebenarnya kakak juga tidak terlalu paham, maksudnya kalau di UMY ini KG merupakan jurusan baru, belum ada 4 tahun, hampir 4 tahun” (Wawancara, Mutiara, 19 September 2008).

Agak sedikit berbeda dengan Mutiara, Syahru mahasiswa Ilmu Keperawatan angkatan 2007 memberikan penjelasan mengenai peran saudara dalam memberikan informasi. Kakak sebagai saudara sangat membantu untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Sekalipun posisi secara geografis berbeda kota tempat kuliahnya dengan kampus UMY, namun sebagai kakak tetap berusaha mencarikan informasi yang relevan yang sangat dibutuhkan sang adik untuk menentukan kampus dan jurusan yang tersedia sesuai keinginannya.

“Saudara…ya saudara, ya kebetulan…anak kedua, saudara saya laki-laki dan dia sudah lebih dulu kuliah dan ya lumayan banyak mempengaruhi saya, karena memang beliau juga sudah lebih dulu tinggal di Semarang itu. Ya begitu banyak (informasi) walaupun dia di Semarang namun juga banyak mengetahui informasi tentang kampus, dan itu yang lumayan mempengaruhi saya juga untuk pertimbangan” (Wawancara, 16 September 2008).

Disamping kakak berperan dalam memberikan informasi melalui jalur bercerita pengalaman dan aktifitasnya pada saat menjalankan kegiatan sebagai

commit to user

58

mahasiswa, ada cara lain yang juga ditempuh untuk memberikan informasi tentang seluk beluk dunia kampus kepada adik.

Temuan ini menunjukkan bahwa para informan juga menggunakan media komunikasi tatap muka untuk mencari informasi tentang kampus. Adapun bentuk komunikasi face to face yang digunakan dengan jalan berbincang dengan orang lain yang telah mengenal atau mengetahui kampus yang ingin diketahui informasinya sebagai calon tujuan tempat studinya kelak. Para pelajar mencari informasi kepada orang lain yang mereka percayai memang memiliki kredibilitas yang memadai terkait dengan pendidikan. Sumber informasi yang mereka percayai dalam kenyataannya ada beberapa. Kakak kandung menempati posisi yang strategis, khususnya bila yang bersangkutan juga sedang kuliah atau pernah kuliah di kampus yang dimaksud. Atau paling tidak mengetahui informasi yang dibutuhkan adiknya. Selain kakak, sebagaimana dipaparkan pada sub bab sumber informasi terdahulu, saudara atau kerabat dekat yang lain memiliki peran penting pula dalam penyampain informasi. Paman jelas disebut oleh informan sebagai orang yang memberikan informasi. Kemungkinan besar apabila dilacak ke lebih banyak orang akan dapat ditemukan kategori saudara seperti apa yang dipercaya menyampaikan informasi.

Berdasar pemaparan di atas, pada dasarnya informan akan mencari tahu informasi yang akurat pada sumber-sumber penyampai informasi yang diyakini memiliki kredibilitas tinggi dalam pandangannya. Hal ini penting agar informasi dapat mengalir dengan lancar dan memiliki pengaruh pada keputusan akhirnya.

Dalam kaitan ini Belch menyatakan : “Credibility is the extent to which the recipient sees the source as having relevant knowledge, skill, or experience and

commit to user

59

trusts the source to give unbiased, objective information. There are two important

dimensions to credibility, expertise and trustworthiness” (Belch and Belch, 2004 :

168).

Terkait dengan persoalan kredibilitas sumber informasi dan dihubungkan dengan new media yakni internet, ada banyak celah yang dapat dilakukan oleh penyelenggara jasa pendidikan. Kehadiran internet sebagai media baru tentunya membawa bentuk pola komunikasi yang berbeda dengan media-media sebelumnya. Manajemen kampus dapat menggunakan strategi viral marketing

berbasis web. Sehingga persoalan kecenderungan pelajar yang mengakses internet untuk keperluan akademik masih rendah dan lebih memilih akses situs lain seperti layanan jejaring sosial dapat ditemukan solusi yang tepat. Clow and Baack menjelaskan hal tersebut dengan pernyataan :

“Today’s technology has created a new form of marketing. Viral

marketing is preparing an advertisement that is tied to an e-mail. It is

also a form of advocacy or word –of- mouth endorsement. In other word,

viral marketing takes place an one customer passes along a message to

other potential buyers” (Clow and Baack, 2004 : 456).

Selain informasi yang diperoleh mengenai perguruan tinggi melalui jalur cerita bersumber dari saudara atau kerabat dekat, cara lain yang dilakukan saudara tersebut dengan memberikan brosur atau informasi tertulis lainnya yang relevan mengenai perguruan tinggi yang bersangkutan. Hal seperti ini mengemuka dalam wawancara dengan Iqwan yang menyatakan : “Kan dulu pertama saat diberi tahu sama kakak, dengan membawa brosurnya itu, gedungnya gede, terus biayanya kalau dibandingkan dengan swasta lainnya itu lebih rendah” (Wawancara, 19 September 2008).

commit to user

60

Namun demikian mengingat informasi tertulis melalui brosur atau leaflet umumnya hanya memberikan gambaran awal yang bersifat umum sebagai sumber pengetahuan calon siswa yang memungkinkan untuk dapat dijadikan pertimbangan dalam pemilihan tempat studi yang sesuai. Tampilan brosur atau leaflet juga mempengaruhi informan sebagai calon mahasiswa untuk tertarik melihat lebih jauh informasinya. Paling tidak media komunikasi tercetak tersebut dapat digunakan sebagai salah satu acuan untuk menambah khazanah pengetahuan calon mahasiswa terhadap kampus yang akan jadi tempat tujuan studinya kelak. Umumnya isi leaflet atau brosur menurut informan masih dirasakan biasa saja.

“Ada…ya menarik...(menariknya karena) memberi informasi itu ya, kalau menariknya sebenarnya biasa saja, haha…tapi memberikan informasi itu kalau perlu ya jadi penting...(biasanya yang dilihat) ya kampusnya terkenal atau tidak...selain itu jurusannya apa saja yang ada…kemudian…apalagi

ya…letak kampusnya juga…terus selama ini tanggapan-tanggapan orang tentang kampus itu bagaimana?” (Wawancara, Mutiara, 19 September 2008). Dalam pandangan informan, leaflet baru akan diperhatikan apabila memang sejak awal sudah terlihat menarik. Ketertarikan ini dapat dimulai dari bentuk tulisan yang merangsang pembaca untuk melihat lebih jauh isinya. Jadi rasa penasaran perlu dibangkitan. Menurut informan, para pelajar akan lebih merasa tertarik tidak hanya pada fasilitas dan harga yang dicantumkan, namun perlu ada bukti pengakuan dari alumni yang sudah sukses (testimoni).

“(tertarik lihat brosur/leafet) Itu judulnya dulu pak...itu kira kira bisa apa? (kalau) Agak interest ke situ ya langsung dibaca, kalau tidak ya sudah dibuang (brosurnya)...(yang membikin interest) apa ya kalau dulu sih tentang itu apa? Kegiatan kuliah seperti apa. Kalau di sini (kampus) itu seperti apa (lulusan) yang sudah sukses pak, yang sudah punya nama” (Wawancara, Iqwan, 19 September 2008)

commit to user

61

Hal tersebut juga mendapat penegasan dari informan lain yang menyatakan bahwa tampilan dalam leaflet perlu diperhatikan karena dari situlah calon mahasiswa menunjukkan ketertarikannya. Kebiasaan para informan melihat brosur ataupun leaflet dilihat dari tulisan atau kata-kata yang dipilih dan dari sisi isinya akan lebih melihat pada fasilitas yang dimiliki kampus untuk menunjang pelaksanaan perkuliahan mereka kelak. Selain itu informan sebagai calon mahasiswa merasa perlu melihat pada jaringan alumni yang terkait dengan jaringan kerja pasca kelulusan kuliah. Keadaan ini seperti dituturkan oleh Syahru Ramdhani kepada peneliti pada wawancara 16 September 2008 :

“Kalo melihat (brosur) ya standar saja…karena ya mungkin terkait tampilan, tapi karena saya mencari substansinya, isi-isinya seperti itu, yang mungkin

saya cari…ya..itu tergantung kata-katanya lagi seperti itu…(yang dilihat) ya itu gambar..gambar-gambar itu ya fasilitasnya ya misalnya bangunannya

„wah ini bagus nih..itu salah satu‟, kemudian kata-katanya misalnya fasilitasnya seperti apa, misalnya ada link atau jaringan keluar itu sangat penting”

Selama ini brosur dan leaflet dianggap menjadi andalan bagi kampus untuk memberikan informasi. Umumnya dengan membuat dan menyebarluaskan media tercetak tersebut dirasakan telah cukup. Namun faktanya menunjukkan kondisi yang sebaliknya bagi calon mahasiswa. Para informan justru jarang mendapatkan

Dokumen terkait