ADVOKASI PENGUPAHAN
BAGI BURUH TETAP YANG TERGABUNG
DALAM SERIKAT BURUH MEDAN INDEPENDEN
SUMATERA UTARA [SBMI-Sumut]
[Studi Deskriptif Pada Anggota Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara (SBMI-Sumut) di PT. Klambir Jaya]
D I S U S U N Oleh:
Nama : Eko Evan S.
Nim : 040901036
Departemen Sosiologi
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sumatera Utara
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini.
Penulisan skripsi ini merupakan karya ilmiah sebagai salah satu syarat untuk
memperoleh gelar sarjana dari Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu
Politik, Universitas Sumatera Utara dengan Judul “Advokasi Pengupahan Bagi Buruh
Tetap Yang Tergabung Dalam Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara (SBMI-Sumut) [Studi Deskriptif Pada Anggota Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara (SBMI-Sumut) di PT. Klambir Jaya]”
Skripsi ini penulis persembahkan kepada kedua orang tua tercinta (Alm) H. Sihite
dan P.br.Sinaga, atas semua doa, kasih sayang, pengertian, pengorbanan yang tulus serta
dukungan dn semangat yang telah diberikan kepada penulis.
Penulis menyadari sepenuhnya tanpa ada campur tangan dari semua pihak.
Penulis tidak akan dapat menyelesaikan skripsi ini. Dalam kesempatan ini penulis
menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang terla memberikan dukungan
kepada penulis yakni: Bapak Prof. Dr. Badaruddin, M.Si, Selaku Dekan Fakultas Ilmu
Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara, Ibu Dra. Lina Sudarwati, M.Si,
Selaku Ketua Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas
Sumatera Utara yang juga menjadi dosen pembimbing penulis yang telah banyak
memberikan pemikiran yang baik tehadap penulis, selalu memberikan ide dan
membimbing penulis dari awal hingga akhir penulisan skripsi ini selesai, dan kepada
Bapak Drs. Sismudjito, M.Si, Selaku Dosen Wali penulis dan juga menjadi Penguji II
dalam Ujian meja hijau penulis pada kesempatan ini.
Tidak lupa juga penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas
dukungan doa, semangat dan bantuannya kepada abang penulis, Balutan Ade Putra
Sihite, kepada Baginda Harap Selaku Sekretaris Jendral (Sekjend) Serikat Buruh Medan
Sumatera Utara (SBMI-Sumut), Ahmad Syach (Bung Eben) selaku Koordinator Divisi
Advokasi Organisasi di Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara
(SBMI-Sumut), Yosapati Waruhu Selaku anggota di Dewan Pengupahan Daerah (Depeda) dari
Serikat Buruh Sejahtera Indonesia 1992 (SBSI ’92).
Hal yang sama juga penulis sampaikan kepada sahabat-sahabat penulis yang
telah memberikan dorongan kepada penulis untuk menyelesaikan penulisan skripsi ini
Wildan A. Lubis, Azhari, Wendi Abidin, Otto Gultom, Robin Tobing, Rudianto, Ihsan,
Eko Rusadi, Heru, serta semua teman-teman Sosiologi Stambuk 2004 yang tidak bisa
penulis sebutkan satu persatu, terima kasih banyak kawan, terimakasih buat kebersamaan,
perjuangan, dukungan dan semangatnya. Tidak lupa juga penulis mengucapkan
terimakasih banyak kepada teman-teman yang telah memberikan dukungan dan semangat
dari 18 Langlang Buana Sihombing, Kopyt, Amran Silitonga, Amir, Jefri Sibuea, Hardi
Situmeang, Kennedy Simatupang, Jhon, Marganti Tobing, Anto Gultom. Dan juga tidak
lupa mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada teman-teman saya di
“Mandol-38” Rio Jabat, Reo Bento, Ganda Silalahi, Waruhum, Renold, Eko, Handoy,
dan juga teman-teman yag lainnya tidak bisa saya sebutkan namnya satu persatu. Kepada
kerjasama dan dukungannya serta semua pihak yang turut membantu dalam penelitian ini
yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Penulis telah berusaha semaksimal mungkin dalam penulisan skripsi ini, akan
tetapi penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Kritik dan saran
yang membangun sangat penulis harapkan untuk menabah kesempurnaan skripsi ini.
Semoga skripsi ini berguna bagi kita semua.
Medan,
Penulis,
DAFTAR ISI I.1. Latar Belakang Masalah. ...1
I.2. Perumusan Masalah . ...6
I.3. Tujuan Penelitian ...6
I.4. Manfaat Penelitian ...7
BAB II: KAJIAN PUSTAKA II.1. Sejarah Pergerakan Buruh di Indonesia ...8
II.2. Hubungan Industrial dan Kondisi Umum Buruh Di Indonesia ...12
II.3. Upah dan Perselisihan Buruh ...16
II.4. Pola Advokasi Serikat Buruh ...18
II.5. Defenisi Konsep ...20
BAB III: METODOLOGI PENELITIAN III.1. Jenis Penelitian ...23
II.2. Lokasi Penelitian ...23
II.3. Unit Analisis dan Informan ...24
II.4. Teknik Pengumpulan Data ...25
III.5. Interpretasi Data ...26
III.6. Jadwal Kegiatan ...27
III.7. Keterbatasan Penelitian ...27
BAB IV: DESKRIPSI LOKASI DAN INTERPRETASI DATA IV.1. Deskripsi Lokasi Penelitian ...29
IV.1.2. Lokasi Serikat Buruh Medan Independen (SBMI) ...33
IV.1.3. Bagan Struktur Organisasi Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara (SBMI-Sumut) ...34
IV.2. Profil Informan ...37
IV.2.1.Aktivis Buruh dari Serikat Buruh Medan Sumatera Utara (SBMI-Sumut) ...37
IV.2.2.Aktivis Buruh dari Dewan Pengupahan Daerah (Depeda) ...39
IV.2.3.Buruh Yang Tergabung Dalam Serikat Buruh Medan Sumatera Utara (SBMI-Sumut) di PT. Klambir Jaya ...41
IV.3. Peranan Serikat Buruh Medan Independen (SBMI) di PT. Klambir Jaya ...49
IV.3.1. Sejarah terbentuknya Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara (SBMI-Sumut) PT. Klambir Jaya ...49
IV.3.2. Organisasi dan Keanggotaan Serikat Buruh Medan Independen (SBMI) di PT. Klambir Jaya ...52
IV.4. Advokasi Pengupahan ...55
IV.4.1 Penetapan Upah Minimum Propinsi (UMP ) Sumatera Utara ...56
IV.4.1.1.Peranan Dewan Pengupahan Daerah (Depeda) Dalam Penetapan Upah Minimum Propinsi (UMP) Sumatera Utara ...57
IV.4.1.2.Peranan SBMI-Sumut Dalam Penetapan Upah Minimum Propinsi (UMP) Sumatera Utara ...65
IV.4.1.3.Langkah-langkah Perjuangan Yang Dilakukan Oleh Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara (SBMI-Sumut) Sebagai Bentuk Perlawanan Terhadap Penetapan UMP (Upah Minimum Propinsi) Sumut ...68
IV.4.1.3.1. Konsep ...68
IV.4.1.3.2. Aksi ...74
IV.4.1.3.3. Gugatan ...77
IV.4.2.1.Ketika Upah Dibayar Lebih Kecil Dari Yang Ditetapkan Oleh Pemerintah ...79 IV.4.2.2.Advokasi Pengupahan Dalam Rangka Penetapan Upah Di
Depeda (Dewan Pengupahan Daerah) ...81 IV.5. Keterbatasan Dalam Menjalankan Advokasi Pengupahan ...83 BAB V: PENUTUP
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 1: Upah Minimum Regional Menurut Lapangan Usaha Minimum……... 5 Tabel 2: Struktur Kepengurusan Serikat Buruh Medan Independen
DAFTAR BAGAN
Halaman Bagan Struktur Organisasi Serikat Buruh Medan Independen (SBMI)
ABSTRAKSI
Munculnya kehidupan serikat buruh adalah pada tingkat awal kapitalisme. Bertolak dari kepentingan langsung untuk perbaikan syarat-syarat ekonomi dan sosial bagi kehidupan kaum buruh kaum buruh menyatukan diri dalam wadah organisasi berupa serikat buruh. Di dalam masyarakat kapitalis, pentingnya menyatukan diri adalah karena kaum buruh menghadapi kekuatan-kekuatan yang berpotensi lebih unggul daripada mereka sendiri. Dengan berkembangnya kapitalisme, berkembang pula jumlah kaum buruh sebagai penjual tenaga kerja. Tugas-tugas yang membebani serikat buruh pun semakin bertambah banyak dan semakin bervariasi. Lama kelamaan tuntutan-tuntutan dan aksi- aksi kaum buruh yang diorganisasi oleh serikat buruh semakin melewati jangkauan.
Serikat Buruh merupakan organisasi yang di bentuk dari, oleh dan untuk buruh itu sendiri baik diperusahaan maupun diluar perusahaan yang bersifat bebas, terbuka, mandiri, demokratis dan bertanggung jawab guna memperjuangkan, membela serta melindungi hak dan kepentingan buruh dan juga meningkatkan kesejahteraan bagi buruh dan keluarganya. Serikat buruh merupakan sarana dan wahana yang efektif dalam menampung aspirasi buruh agar mereka merasa dilindungi dan tidak mencari penyelesaian sendiri-sendiri apabila dihadapkan dengan pihak perusahaan. Serikat Buruh berperan sebagai sarana perjuangan bagi buruh dan berupaya untuk menciptakan hubungan industrial yang harmonis, dinamis dan berkeadilan.
dilakukan dengan menggunakan tenik wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan catatan hasil lapangan.
BAB I PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang Masalah
Dalam sejarah pertumbuhan kota Medan, buruh telah dikenal sejak pemerintahan Hindia Belanda dalam membuka perkebunan-perkebunan besar di Deli (Sumatera Timur) yag memerlukan banyak tenaga buruh (kuli). Setelah Indonesia merdeka, tidak terdengar lagi perbedaan antara buruh halus maupun kasar karena semua orang yang bekerja disektor swasta baik pada orang maupun badan hukum disebut buruh. Hal ini disebutkan dalam Undang-Undang no.22 tahun 1957 pasal 1, ayat 1a dikatakan bahwa buruh adalah barang siapa yang bekerja pada majikan dengan menerima upah.
Munculnya kehidupan serikat buruh adalah pada tingkat awal kapitalisme. Bertolak dari kepentingan langsung untuk perbaikan syarat-syarat ekonomi dan sosial bagi kehidupan kaum buruh kaum buruh menyatukan diri dalam wadah organisasi berupa serikat buruh. Di dalam masyarakat kapitalis, pentingnya menyatukan diri adalah karena kaum buruh menghadapi kekuatan-kekuatan yang berpotensi lebih unggul daripada mereka sendiri.
Sejak reformasi, banyak bermunculan serika-serikat pekerja. Akan tetapi, terdapat fakta bahwa serikat-serikat pekerja, sebagaimana juga partai politik memiliki agenda-agenda tersembunyi yang tentu saja berujung pada kekuasaan dibalik kampanye untuk memperjuangkan pekerja atau rakyat. Bagaimanapun, angina kebebasan tersebut dimasa depan diharakan lebih memberikan transparansi didalam mengatasnamakan pekerja, buruh, atau rakyat. Buruh adalah pekerja yang umumnya menggunakan tenaga untuk mendapatkan upah atau gaji (Badudu-Zein,1994: 232).
Kewajiban buruh pada umumnya tersimpul dalam hak majikan. Bekerja pada pihak lainnya berarti pada umumnya bekerja dibawah pimpinan pihak lainnya itu dan karena itu kewajiban terpenting bagi buruh ialah melakukan pekerjaan menurut petunjuk dari majikan (Imam Soepomo, 1992: 65).
keadilan. Ketentuan ini tidak berlaku jika telah diperjanjikan bahwa upah itu akan ditetapkan oleh majikan sendiri atau oleh orang ketiga ataupun akan ditetapkan oleh kedua belah pihak di kemudian hari. Dalam hal upah tidak ditetapkan dalam perjanjian kerja, pada umumnya ditarik kesimpulan bahwa kedua belah pihak telah bersepakat bahwa penetapannya akan dilakukan oleh majikan secara sepihak. Dengan sendirinya majikan harus menetapkannya dengan itikad baik. Jika majikan melanggar itikad baik ini, buruh dapat menuntut upah menurut kebiasaan atau upah yang adil itu (Imam Soepomo, 1992: 78).
Taraf industrialisasi dewasa ini juga memperlihatkan makin pentingnya mencermati masalah perburuhan, khususnya masalah upah. Hal ini disebabkan oleh sebagian besar masalah-masalah perburuhan seperti keresahan, pemogokan, unjuk rasa, atau kasus kekerasan umumnya bersumber pada masalah upah (Bambang Setiadji, 2002: 1-5).
Tabel 1: Upah Minimum Regional Menurut Lapangan Usaha Minimum Upah Minimum Regional Menurut Lapangan Usaha Minimum
Minimum Wage by Sectors
2003 – 2006 *) Data tidak tersedia
Sumber : Kantor Departemen Tenaga Kerja Kota Medan
Sedangkan untuk Upah Minimum Regional (UMR)/Upah Minimum Kota (UMK) Propinsi Sumatera Utara, Non Sektor pada tahun 2010 adalah sebagai berikut:
Jumlah UMR/UMK : Rp 965.000,- Tanggal berlaku : 01 Januari 2010 Tahun berlaku : 2010 Nomor
SK : Keputusan Gubernur Provinsi Sumatera Utara Nomor 5 Tanggal SK : 23 November 2009
(http://www.hrcentro.com/umr/sumatera_utara/non_kab/non_sektor/2010)
I.2. Perumusan Masalah
Dari latar belakang permasalahan yang telah diuraikan diatas, maka yang menjadi perumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
Bagaimana Peranan Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara
(SBMI-Sumut) Melakukan Advokasi Pengupahan Terhadap Buruh Tetap di
PT. Klambir Jaya.
I.3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang menjadi penyebab para buruh tetap bergabung dengan Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara (SBMI-Sumut) di PT. Klambir Jaya.
2. Untuk mengetahui peran Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara (SBMI-Sumut) di PT. Klambir Jaya didalam melakukan advokasi sistem pengupahan bagi buruh tetap.
I.4. Manfaat Penelitian
Adapun beberapa manfaat yang diharapkan didalam penelitian ini antara lain: 1. Manfaat Teoritis
Yakni; Hasil penelitian ini diharapkan menjadi suatu sumbangan yang besar bagi khasanah kepustakaan yang bermutu yang dapat dijadikan sebagai masukan-masukan penting bagi institusi pendidikan yang bersangkutan.
2. Manfaat Praktis
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Kebebasan politik yang tersedia di masa reformasi, telah membuka kesempatan bagi kebangkitan gerakan social di Indonesia. Era reformasi menyediakan struktur kesempatan politik yang lebih terbuka. Termasuk didalamnya sebuah ruang politik yang lebih ramah bagi gerakan buruh. Menyusul reformasi 1998, ada begitu banyak organisasi buruh yang tumbuh. Tidak ada lagi pembatasan yang bersifat politik. Siapa saja bisa membentuk organisasi buruh. Ruang kebebasan bagi buruh untuk memperjuangkan kepentingannya terbuka lebar (Rekson Silaban, 2009: 1-2).
II.1. Sejarah Pergerakan Buruh di Indonesia
politik menjadi tak terelakkan karena satu-satunya pemecahan terhadap masalah kemiskinan, kesengsaraan, dan penindasan kelas pekerja saat itu adalah tumbangnya rezim kolonial Belanda.
Cikal bakal munculnya organisasi pekerja lahir dari kongres IV Serikat Islam (SI) di Surabaya. Dari kongres itu lahir sebuah federasi pkerja (buruh) yang bernama PPKB (Persatuan Pergerakan Kaum Buruh). Alimin, Samaoen dan Soejopratnoto menjadi pengurus federasi ini. Dalam program umumnya, PPKB menetapkan Negara sebagai pelaksana perintah rakyat dan berfungsi untuk mempersatukan kaum buruh untuk mengubah nasibnya. Gerakan oranisasi ini sarat dengan muatan politis, namun tetap dilakuka untuk mendukung aksi-aksi ekonomi pekerja (buruh). Pada kongres V dan VI diadakanlah suatu pertemuan untuk memutuskan pembersihan organisasi dari orang-orang yang tidak sealiran. Pada tahun 1920 Samaoen dan Alimin mendirikan PKI, yaitu anggota SI yang terkena pembersihan. Perpecahan PPKB melahirkan Revoluntionaire Vakcentrale (RV) yang diketuai oleh Samaoen, pengurus VSTP (Serikat Pekerja Kereta Api) Semarang. Organisasi inilah yang kemudian menjadi awal gerakan buruh progresif di Indonesia.
anggotanya pada tahun 1923. sejalan dengn itu rganisasi-organisasi buruh tetap bermunculan tapi tidak seprogresif sebelumnya. Organisasi-organisasi tersebut terus aktif hingga Perang Dunia II terjadi pada saat Perang Dunia II emerintah membentuk panitia untuk mengurus soal-soal perburuhan yang terdiri dari wakil pemerintah, majikan dan pekerja (buruh). Panitia ini bertugas menyelesaikan perselisihan perburuhan langkah ini diambil karena pemerintah colonial perlu menjamin beroperasinya perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam perang tersebut.
Pada masa awal kemerdekaan, gerakan buruh juga aktif dalam politik guna memperkuat kemerdekaan Indonesia. Tak lama setelah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, sejumlah perwakilan buruh berkumpul di Jakarta guna merumuskan platform bersama dalam cara bagaimana gerakan buruh bisa ikut memperkuat republik yang baru berdiri tersebut. Pertemuan itu kemudian berhasil membentuk Barisan Buruh Indonesia (BBI). BBI mengutamakan barisan buruh untuk memudahkan mobilisasi oleh Serikat Pekerja dan Partai Buruh. Dalam kongresnya pada bulan September 1945 yang dihadiri oleh kaum buruh, tercetuslah Partai Buruh Indonesia (PBI). Barisan Buruh Indonesia (BBI) juga sepakat untuk menuntaskan revolusi nasional. Untuk mempertahankan tanah air dari serangan musuh BBI membentuk Laskar Buruh Bersenjata di pabrik-pabrik. Untuk kaum perempuan dibentuk Barisan Buruh Wanita (BBW).
oleh Alimin dan Harjono. Pada tahun 1950-an dan awal 1960-an, SOBSI yang didukung PKI adalah organisasi buruh yang paling aktif dan kuat diantara banyaknya organisasi buruh yang memiliki kaitan dengan partai politik. SOBSI sangat berpengaruh, misalnya dalam nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda di akhir 1950-an. Namun, keadaan darurat militer dan kendali manejarial pada perusahaan-perusahaan tersebut menempatkan tentara pada posisi ang kemudian malah berhadapan langsung dengan keompok-kelompok militant gerakan buruh yang biasanya dipimpin oleh kelompok komunis (Hawkins, 1963).
Penghancuran PKI menyusul peristiwa 1965 telah mengakibatkan lenyapnya tradisi politik gerakan serikat buruh dan warisan ini terus meghambat buruh terorganisasi di Indonesia. Sejak 1970-an hingga kejatuhan rezim Orde Baru pimpinan Soeharto, buruh dihambat oleh system korporatis yang sangat otoriter yang hanya memberikan ruang kepada satu federasi serikat buruh yang sah dibentuk dan didukung pemerintah. Pada tahun 1973, didirikanlah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) sebagai serikat pekerja terbesar yang diakui oleh pemerintah dan hingga saat ini masih eksis dan berskala internasional. Dengan adanya SPSI ini diharapkan masalah perburuhan dapat diselesaikan. SPSI merupakan satu-satunya Federasi Serikat Pekerja yang diakui oleh Departemen Tenaga Kerja dan setiap Serikat Pekerja yang dibentuk harus berafiliasi dengan SPSI.
dalam jumlah besar menjadi salah satu faktor penjelas atas kenyataan lemahnya posisi tawar organisasi buruh.
Dari beberapa kurun waktu tersebut, semakin bermunculan berbagai Serikat Pekerja yang diyakini dapat membantu para buruh dalam mengatasi masalahnya. Hingga saat ini pergerakan buruh tetap terjadi sebagai bentuk perjuangan mereka terhadap pemenuhan hak-haknya.
II.2. Hubungan Industrial dan Kondisi Umum Buruh Di Indonesia
Pelaksanaan hubunga industrial pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan dari kondisi perekonomian, sebab intensitas suatu produksi tidak hanya karena ada pekerja dan pengusaha, tetapi juga dipengaruhi oleh perekonomian masyarakat. Demikian juga syarat-syarat keja dipengaruhi oleh kondisi pasar kerja dan tingkat pengangguran serta pertumbuhan ekonomi. Dalam melaksanakn hubungan industrial, pemerintah mempunyai fungsi menetapkan kebijaka, memberikan pelayanan, melaksanakan pengawasan dan melakukan penindakan terhadap pelanggaran peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan. Dalam melaksanakan hubungan industrial, buruh dan serikat buruhnya mempunyai fungsi menjalankan pekerjaan sesuai dengan kewajibannya, menjaga ketertiban demi kelangsungan produksi, menyalurkan aspirasi secara demokratis, mengembangkan keterampilan dan keahliannya dalam memajukan perusahaan serta memperjuangkan kesejahteraan anggota besar keluarganya.
indusrial yang diterapkan di Indonesia adalah Hubungan Industrial Pancasila yaitu hubungan industrial yang didasarkan pada kelima sila yang menjadi falsafah bangsa Indonesia yaitu: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpim oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyaratan/perwakilan dan Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Berikut penjabaran Hubungan Industrial berdasarkan Pancasila:
1. Hubungan industrial berdasarkan Ketuhan Yang Maha Esa menyatakan bahwa pengusaha dan pekerja harus sama-sama menerima dan percaya bahwa perusahaan adalah berkat Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan kesempatan yang diberikan Tuhan bagi mereka, supaya mereka dapat melayani sesame manusia serta kesempatan untuk berbakti pada nusa dan bansa. Disamping itu pengusaha dan pekerja harus sama-sama menghormati kebebasan beragama dan beribadah, serta sama-sama membangun dan menjaga kerukunan antar umat beragama. Pengusaha dan pekerja tidak boleh bertindak diskriminatif atas perbedaan agama.
kemanusiaan. Pengusaha harus memberikan imbalan yang sesuai dengan nilai kontribusi kerja yang diberikan oleh buruh.
3. Hubungan industrial berdasarkan Persatuan Indonesia menunjukkan bahwa setiap warga Negara berhak bekerja di seluruh pelosok Indonesia tanpa diskriminasi atas suku atau warna kulit, jenis kelamin, tempat lahir, agama, golongan atau aliran politik. Pengusaha dan pekerja(buruh) harus sama-sama membangun kebersamaan di perusahaan, meningkatkan rasa cinta tanah air dan masyarakat serta menempatkan kepentingan Negara dan rakyat diatas kepentingan pribadi dan kelompok.
4. Hubungan Industrial berdasarkan Kerakyatan yang dipimpim oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyaratan/perwakilan berarti bahwa pengusaha membuka kesempatan bagi pekerja secara demokratis memilih wakilnya untuk berhubungan dengan pengusaha dan untuk memperjuangkan kepentingan mereka. Hak pekerja membentuk Serikat Pekerja merupakan salah satu wujud sila ke-empat ini. Pengusaha perlu menyediakan waktu untuk mendengarkan saran dan keluhan pekerja (buruh). Pengusaha dan pekerja (buruh) harus membuka diri untuk berdialog dan mengutamakan permusyawaratan dalam membuat keputusan bagi kepentingan bersama, dan
peningkatan produktifitas perusahaan. Baik dalam pemberian kesempatan dan penugasan maupun dalam pemberian upah atau penghargaan dan tindakan disiplin, pengusaha harus bersifat adil terhadap semua pekerja.
Sesuai dengan prinsip hubungan industrial Pancasila, aka pengusaha dan buruh harus sama-sama mempunyai sikap social yang mencerminkan kesatuan dan kesepakatan nasional, kerjasama, sukarela, toleransi, rasa saling enghormati, keterbukaan, rasa saling tolong menolong dan mawas diri sebagai mana diamanatkan oleh Undan-Undang Dasar (UUD)1945.
Perkembangan industri yang meningkat tajam pada kenyataanya tidak diikuti dengan perbaikan kondisi kehidupan dan kesejahteraan para buruh. Masalah kemiskinan dan kesejahteraan buruh pada tahun-tahun terakhir ini menunjukkan posisinya sebagai masalah utama dalam hubungan industrial. Gejala kesenjangan social di dunia kerja yang terjadi antara buruh maupun antara buruh dengan penguaha dapat memberikan peluang yang besar terhadap munculnya permasalahan industrial. Buruh sebagai factor utama dalam jalannya suatu industri, sudah sepatutnya mendapatkan perhatian yang serius. Kondisi buruh yang rentan terhadap kemiskinan harus segera diatasi karena akan mempengaruhi produksi dan produktifitas kerjanya.
buruh dipenuhi untuk menciptakan ketenangan dalam bekerja dan berusaha yang disebut dengan Industrial Peace (Robinson, 2007).
Menurut Undan-Undang No 3 tahun 1992 selain pemenuhan akan fasilitas kesejahteraan, buruh juga berhak atas pemenuhan jaminan social. Jaminan social adalah segala sesuatu bentuk perlindungan bagi pekerja dalam bentuk santunan berupa uang sebagai pengganti sebagian penghasilan yang hilang atau berkurang dan pelayan sebagai akibat peristiwa atau keadaan yang dialami oleh pekerja berupa kecelakaan kerja, sakit, hamil, bersalin, jaminan hari tua dan meninggal dunia. Jaminan social bagi buruh antara lain mencakup:
1. Tunjangan kecelakaan kerja 2. Tunjangan hari tua
3. Tunjangan kematian, dan
4. Tunjangan pemeliharaan kesehatan berupa Jamsostek
II.3. Upah dan Perselisihan Buruh
Tujuan buruh melakukan pekerjaan adalah untuk mendapatkan penghasilan yang cukup untuk membiayai kehidupannya maupun bersama keluarganya. Selama buruh melakukan pekerjaan, buruh berhak atas pengupahan yang menjamin kehidupannya bersama dengan keluarganya. Selama buruh melakukan pekerjaan, majikan wajib untuk membayar upah para buruh tersebut. Upah adalah pembayaran yang diterima buruh selama dia melakukan pekerjaan atau dipandang melakukan pekerjaan.
uang itu. Bagi buruh yang penting ialah upah riil ini, karena dengan upahnya itu harus mendapatkan cukup barang yang diperlukan untuk kehidupannya bersama dengan keluarganya. Kenaikan upah nominal tidak mempunyai arti baginya, jika kenaikan upah itu disertai atau disusul oleh kenaikan harga keperluan hidupnya sehari-hari. Turunnya harga barang keperluan hidup karena misalnya bertambahnya barang produksi barang tersebut, akan merupakan kenaikan upah bagi buruh walaupun jumlah uang ia terima dari majikan adalah sama seperti sediakala. Sebaliknya harga barang keperluan hidup, selalu berarti turunnya upah bagi buruh (Imam Soepomo, 1992: 131).
Dalam perkembangannya, buruh tidak dapat hidup sendiri-sendiri melainkan harus dapat beradaptasi dengan buruh-buruh lainnya, baik itu yang berada dalam satu perusahaan majikannya maupun dengan perusahaan lainnya. Hal ini diperlukan dalam rangka agar pemenuhan hak-hak mereka seperti penupahan dapat terkoordinasi dengan yang lainnya, sehingga antara buruh yang satu dengan yang lainnya dapat mengetahui kondisi masing-masing. Hal ini dilakukan untuk memudahkan mereka didalam memecahkan persoalan yang terjadi antara buruh dengan majikan, seperti adanya perselisihan perburuhan. Apabila terjadi perselisihan perburuhan antara buruh dan majikan akan menimbulkan berbagai macam tindakan, adapun tindakan tersebut adalah sebagai berikut:
• Dari pihak majikan menolak buruh seluruhnya atau sebagian untuk menjalankan
• Dari pihak buruh secara kolektif menghentikan pekerjaan atau memperlambat
jalannya pekerjaan, sebagai akibat perselisihan perburuhan, dilakukan dengan maksud untuk menekan atau membantu golongan buruh lain menekan supaya majikan menerima hubungan kerja, syarat-syarat kerja dan/atau keadaan perburuhan (Imam Soepomo, 1992: 148).
II.4. Pola Advokasi Serikat Buruh
Selama ini pola hubungan serikat buruh dengan buruh sebagai anggotanya lebih mirip hubungan dokter dengan pasiennya. Atau pengacara dengan kliennya. Hubungan ini lebih menyerupai “patron-client”. Model dan sifat hubungan inilah yang banyak dikerjakan serikat buruh selama ini, dimana para aktivis buruh hadir ketika buruh menghadapi persoalan. Pendekatan terhadap persoalan yang dihadapi buruh bersifat kuratif atau reaktif, sama seperti ketika dokter mengobati pasien. Model hubungan seperti ini perlu dibawa ketingkat yang lebih ideal. Kasus-kasus individual seyogyanya dianalisis ketingkat yang lebih besar sehingga akar persoalannya bisa dipecahkan. Advokasi individual perlu dibawa ketingkat yang lebih besar pada tingkat advokasi dalam konteks sosial yang lebih besar (Rekson Silaban, 2009: 112).
komunitas masyarakat. Hal inilah yang nantinya dapat melahirkan suatu bentuk tatanan maupun struktur sosial yang kompleks. Salah satu wujud dari struktur sosial ialah kelompok social. Kelompok sosial merupakan kumpulan manusia, tetapi bukan sembarang kumpulan. Suatu kumpulan manusia dapat dikatakan sebagai kelompk apabila memenuhi kondisi tertentu. Kondisi itu menurut Soerjono Soekanto adalah:
1. Setiap anggota kelompok tersebut harus sadar bahwa dia merupakan sebahagian dari kelompok yang bersangkutan.
2. Adanya hubungan timbal balik antara anggota yang satu dengan lainnya dalam kelompok itu.
3. Adanya faktor yang dimiliki bersama oleh anggota-anggota kelompok sehingga hubungan antara mereka bertambah erat. Faktor tadi dapat berupa nasib yang sama, kepentingan yang sama, tujua yang sama, idiologi politik yang sama dan lan-lain. Tentunya faktor mempunyai musuh bersama misalnya, dapat pula menjadi faktor pengikat/pemersatu.
4. Berstruktur, berkaidah, dan mempunyai pola perilaku (M.arief Nasution, T.K Brahmana, Padamean Daulay, 2003: 12-13).
daging didalam diri para warga masyarakat. Paksaan lebih sering diperlukan didalam masyarakat yang sedang bergolak, oleh karena di dalam keadaan seperti itu pengendalian sosial juga berfungsi untuk membentuk kaidah-kaidah yang baru yang menggantikan kaidah-kaidah lama yang telah goyah (Soerjono Soekanto, 2002: 159-160).
II.5. Defenisi Konsep
Didalam memperjelas maksud dan tujuan penelitian, serta untuk menghindari timbulnya kesalahan penafsiran dalam penelitian maka dalam penelitian ini perlu diuraikan batasan konsep yang digunakan. Adapun batasan konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
• Buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menrima upah atau
imbalan dalam bentuk lain (Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan).
• Perusahaan adalah setiap bentuk usaha yang berbadan hukum atau tidak
yang mempekerjakan pekerja dengan tujuan mencari keuntungan atau tidak, milik orang perseorangan, persekutuan atau badan hukum, baik milik swasta maupun milk negara (Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1997 Tentang Ketenagakerjaan).
• Pemutusan Hubungan Kerja adalah pengakhiran hubungan kerja karena
• Perjanjian Kerja adalah perjanjian antara pekrja/buruh dengan pengusaha
atau pemberi kerja yang memuat syarat-syarat kerja, hak dan kewajiban para pihak (Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan).
• Perjanjian Kerja Bersama adalah perjanjian yang merupakan perundingan
antara serikat pekerja/serikat buruh atau beberapa serikat pekerja/serikat buruh yang tercatat pada instansi yang bertanggngjawab dibidang ketenagakerjaan dengan pengusaha, atau beberapa pengusaha atau perkumpuan pengusaha yang memuat syarat-syarat kerja, hak dan keajiban kedua belah pihak (Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan).
• Upah adalah penerimaan sebagai imbalan dari pengusaha kepada tenaga
kerja untuk sesuatu pekerjaan yang telah atau akan dilakukan, dinyatakan atau dinilai dalam bentuk uang ditetapkan menurut suatu perjanjian, atau peaturan perundangan dan dibayar atas dasar suatu perjanjian kerja antara pengusaha dengan teaga kerja, termasuk tunjangan, baik untuk buruh sendiri maupun keluarganya (Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Perlindungan Upah).
• Upah Minimum adalah upah bulanan terendah yang terdiri dari upah
pokok termasuk tunjangan tetap (Departemen Tenaga Kerja, Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor Per-01/Men/1999 Tentang Upah Minimum).
• Upah Minimum Regional adalah upah pokok terendah termasuk tunjangan
(Departemen Tenaga Kerja, Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor Per-01/Men/1996 Tentang Upah Minimum Regional).
• Serikat Buruh merupakan organisasi yang dibentuk dari, oleh dan untuk
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
III.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan didalam penelitian ini adalah dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif ialah penelitian yang menghasilkan data, tulisan, dan tingkah laku, sehingga dapat diamati dan dianalisis (Faisal, 1995: 22).
Penelitian deskriptif adalah penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan secaa terperinci suatu fenomena sosial, seperti konflik sosial, intraksi sosial, sistem kekerabatan dan lain-lain. Desain ini hanya menggabarkan dan mengumpulkan fakta dan menguraikannya secara menyeluruh dan teliti sesuai dengan persoalan yang akan dipecahkan sekaligus menjawab permasalahan penelitian.
Penelitian deskriptif kualitatif ini juga bertujuan untuk menggambarkan, meringkaskan berbagai kondisi, berbagai situasi, atau berbagai fenomena realitas sosial yang ada dimasyarakat yang menjadi objek penelitian, dan berupaya menarik realitas itu kepermukaan sebagai suatu ciri, karakter, sifat, model, tanda, atau gambaran tentang kondisi, situasi, ataupun fenomena tertentu (Burhan Bungin, 2007: 68).
II.2. Lokasi Penelitian
Adapun yang menjadi alasan peneliti didalam pemilihan lokasi penelitian adalah: 1. Fokus dari peneliti didalam melakukan penelitian tersebut adalah para buruh tetap
yang tergabung dalam Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara (SBMI-Sumut) di PT. Klambir Jaya.
2. Peneliti telah melakukan Investigasi tahap awal terhadap beberapa buruh pada Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara (SBMI-Sumut) di PT. Klambir Jaya yang menyebabkan peneliti merasa yakin untuk melakukan penelitian. 3. Peneliti ingin mengaplikasikan teori yang telah didapat didalam melihat sejauh
mana pengetahuan para buruh tetap yang tergabung dalam Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara (SBMI-Sumut) di PT. Klambir Jaya tentang sistem pengupahan yang berlaku.
II.3. Unit Analisis dan Informan
• Unit Analisis
Unit analisis adalah satuan tertentu yang diperhitungkan sebagai subjek penelitian (Arikunto, 1992:132). Adapun yang menjadi unit analisa dalam penelitian in adalah para buruh tetap yang tergabung dalam Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara (SBMI-Sumut) di PT. Klambir Jaya dan juga Lembaga Swadaya Masyarakat Pendamping.
• Informan
a. Informan Kunci
Informan kunci yang dimaksudkan disini adalah Pimpinan Serikat Buruh Medan Sumatera Utara (SBMI-Sumut), Bagian advokasi dan juga bagian pendampingan lapangan Serikat Buruh Medan Sumatera Utara (SBMI-Sumut), Pimpinan Buruh tetap yang mewakili para buruh di PT. Klambir Jaya, dan juga Anggota Dewan Pengupahan Daerah (Depeda) yang mewakili buruh.
b. Informan Biasa
Informan biasa yang dimaksud disini adalah buruh yang bekerja di PT. Klambir Jaya. Saya memilih 5 (lima) orang buruh laki-laki dan 5 (lima) orang buruh perempuan sebagai informan biasa yang mereka telah memiliki masa kerja diatas 2 (dua) tahun.
II.4. Teknik Pengumpulan Data
Data dalam suatu penelitian dapat digolongkan kedalam dua bagian yaitu data primer dan data sekunder.
1. Data Primer
proses penataan yang merupakan bagian dari pengalaman manusia yang dapat diamati.
b. Wawancara Mendalam, Yakni; peneliti mengadakan tanya jawab secara langsung dengan para informan. Agar wawancara lebih ter-arah maka digunakan pedoman wawancara (interview guide) yakni urutan-urutan daftar pertanyaan sebagai acuan bagi peneliti untuk memperoleh data yang diperlukan. Dalam penelitian ini digunakan juga instrumen penunjang yang lainnya dalam wawancara yaitu alat bantu rekam (tape recorder).
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh ari sumber data kedua atau sumber-sumber dari data yang dibutuhkan dalam melakukan penelitian.
Data sekunder dapat diperoleh dari studi kepustakaan dengan cara mengumpulkan bahan-bahan yang bersal dari buku, juga dari sumber lainnya seperti surat kabar, internet dan lainnya yang dianggap relevan dengan penelitian ini.
III.5. Interpretasi Data
Interpretasi data adalah proses pengorganisasian dan pengurutan data kedalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan temukan tema dan dapat ditemukan hipotesis kerja yang disarankan oleh data (Maleong, 2005:103).
lapangan, dipelajari dan ditelaah, kemudian mereduksi data tersebut yakni melalui pembuatan abstraksi yang merupakan usaha membuat rangkuman inti.
Langkah selanjutnya adalah mengadakan pemeriksaan keabsahan data, setelah itu dilanjutkan dengan pengolahan atau analisa dan penulisan laporan hasil penelitian dengan dukungan teori dan tinjauan pustaka.
III.6. Jadwal Kegiatan
No. Jenis Kegiatan Bulan
1 2 3 4 5 6 7 8
01 Pra-Observasi
02 ACC Judul
03 Penyusunan Proposal
04 Seminal Penelitian
05 Revisi Proposal Penelitian
06 Penyerahan Hasil Seminar Proposal
07 Operasional Penelitian
08 Bimbingan
09 Penulisan Laporan Akhir
10 Sidang Meja Hijau
III.7. Keterbatasan Penelitian
Pihak perusahaan yang tidak mengijinkan penulis untuk masuk keperusahaan dalam rangka memperkaya isi dari penelitian ini sendiri juga menjadi tanda tanya besar dari penulis terhadap perusahaan, peneliti telah mencoba sebanyak 3 (tiga) kali untuk bisa bertemu dengan pimpinan perusahaan, namun peneliti selalu dihalang-halangi oleh sekurity perusahaan yang menyebabkan peneliti kurang informasi mengenai sejarah dan sepakterjang perusahaan di Indonesia khususnya di Kota Medan-Sumatera Utara.
BAB IV
DESKRIPSI LOKASI DAN INTERPRETASI DATA
IV.1. Deskripsi Lokasi Penelitian
IV.1.1. Sejarah Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara (SBMI-Sumut)
Pengorganisasian dimulai dari tahun 1997 di 3 wilayah yang disebut sebagai Zona Wilayah yaitu:
- Zona Tanjung Morawa - Zona Mabar-Belawan - Zona Binjai
Dimana tugas utama dari pengorganisasian ini adalah untuk mengorganisir pabrik-pabrik didalam mendirikan sebuah organisasi buruh.
Dari 3 Zona Wilayah ini terbentuk Kelompok-Kelompok Buruh seperti: Zona Tanjung Morawa terbentuk kelompok buruh STM Petaras (Serikat Tolong Menolong Pekerja Tanjung Morawa dan Sekitarnya). Dari Zona Mabar-Belawan terbentuk kelompok buruh FABMBI (Forum Aspirasi Buruh Mabar-Belawan Independen. Sedangkan dari Zona Binjai terbentuk kelompo buruh FBZB (Forum Buruh Zona Binjai).
Hal ini juga diawali pada perjuangan buruh ditahun 1994. Sejarah terbentuknya SBMI (Serikat Buruh Medan Independen) tidak dapat terlepas dari peranan salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak dalam bidang perburuhan yaitu KPS (Kelompok Pelita Sejahtera) lewat pengorganisasian terhadap buruh diberbagai kawasan industri di Medan. Melalui pengorganisasian inilah KPS (Kelompok Pelita Sejahtera) melahirkan beberapa aktifis buruh dan pada tahun 1994 terjadilah aksi buruh yang paling besar dalam sepanjang sejarah Orde Baru, dimana pada waktu itu sekitar sepuluh ribuan buruh dari berbagai zona melakukan aksi massa yang menuntut pemerintah untuk memenuhi tuntutan akan hak-hak normatif buruh. Aksi tersebut memberikan dampak yang sangat besar, yaitu upah buruh harus naik sekali dalam satu tahun dan THR (Tunjangan Hari Raya) minimal satu bulan upah buruh dan perbaikan jaminan sosial ketenagakerjaan.
Sehingga melalui forum buruh inilah KPS (Kelompok Pelita Sejahtera) melakukan penyadaran terhadap banyak buruh untuk kemudian bergabung dalam suatu wadah forum buruh. Pilihan untuk membentuk forum buruh tersebut dilakukan karena kondisi pada saat itu belum memungkinkan untuk membentuk serikat buruh karena belum adanya aturan hukum tentang perburuhan/ketenagakerjaan yang memperbolehkan adanya serikat buruh diluar SPSI (Serikat Pekerja Seluruh Indonesia). Walaupun buruh pada saat ini masih disatukan dalam wadah forum buruh tetapi kesadaran buruh mulai bangkit dan banyak aktifis buruh lahir lewat pendidikan dan pendampingan yang dilakukan KPS (Kelompok Pelita Sejahtera) dalam 3 wilayah tersebut. Pola pengorganisasian KPS (Kelompok Pelita Sejahtera) dalam forum-forum buruh tersebut dilakukan lewat pendekatan kasus di masing-masing perusahaan industri. Setiap forum buruh yang ada dalam 3 wilayah tersebut berusaha untuk melakukan penyadaran terhadap buruh, karena pada saat itu buruh masih di dominasi oleh SPSI. Ketika para buruh tergabung dalam forum tersebut, mereka mulai melakukan kritikan terhadap perusahaan tempat mereka bekerja untuk menuntut hak-hak normatif buruh. Yang ada pada saat itu masih sebatas pemberian upah yang layak, dan ketika forum buruh sudah mempunyai kapasitas yang cukup maka pemogokan pun terjadi di seluruh tiga wilayah tersebut yaitu zona Mabar, Binjai, dan Tanjung Morawa.
tersebut maka ketiga forum buruh tersebut terbuka peluang untuk mendaftarkan forum-forum buruh yang telah terbangun tersebut untuk menjadi serikat buruh tingkat pabrik. Dan hal ini memberi hasil yang berarti bagi forum buruh tersebut yaitu dalam waktu 3 tahun sejak dikeluarkannya Permenaker No. 06 Tahun 1998 tersebut telah terbentuk 12 serikat buruh tingkat pabrik.
Ketika Abdulrahman Wahid (Gusdur) menjadi Presiden, peluang untuk membentuk serikat buruh tingkat regional semakin terbuka yaitu sejak dikeluarkannya UU No. 12 Tahun 2000. Dengan kondisi seperti ini para aktifis buruh semakin tertantang untuk sesegera mungkin melakukan upaya percepatan untuk melahirkan organisasi induk bagi serikat-serikat buruh tingkat pabrik di tiga wilayah tersebut. Karena jika tidak, maka dikhawatirkan para serikat buruh tingkat pabrik tersebut akan kekurangan kekuatan. Sesuai dengan kuatnya peran KPS (Kelompok Pelita Sejahtera) dalam membentuk forum buruh dalam 3 wilayah tersebut, maka perkembangan forum-forum tersebut untuk menjadi serikat buruh juga tidak dapat dilepaskan dari peran aktif KPS (Kelompok Pelita Sejahtera) sebagai LSM yang melakukan pengorganisasian. Maka sejak keluarnya UU No. 21 Tahun 2000, forum buruh yang ada di tiga wilayah menginginkan akan terbentuknya serikat buruh bagi mereka sendiri. Hal itu mereka lakukan dengan mendesak KPS untuk membentuk komite yang tujuannya untuk mempersiapkan terbentuknya serikat buruh bagi mereka sendiri. Komite tersebut di beri nama KP-SBMI (Komite Persiapan Serikat Buruh Medan Independen).
yang meliputi: Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), Struktur Organisasi, dan juga Pendanaan Organisasi.
Pada tanggal 11 Oktober tahun 2001 tepatnya berada di Asrama Haji Medan, diadakan Kongres Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara (SBMI-Sumut). Kongres ini menghasilkan struktur organisasi pertamanya menggunakan system Presidium, dan untuk pertama kalinya Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara (SBMI-Sumut) dipimpin oleh seorang Perempuan dengan posisi:
• Ketua: Lenny Mendrofa
• Sekjend: Erika Rismawati Situmorang
• Bendahara: Edinur Sinaga
Pada kongres II tahun 2003, Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara (SBMI-Sumut) mengganti sistem kepengurusan organisasinya dari sistem presidium menjadi sistem Badan Pengurus Pusat (BPP) dan periodesasi kepengurusan adalah selama 3 tahun. Pada kongres III tahun 2009 periodesasi kepengurusan Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara (SBMI-Sumut) diganti menjadi 5 tahun.
IV.1.2. Lokasi Serikat Buruh Medan Independen (SBMI)
Tanjung Gusta, Gang Palapa No. 15, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara.
IV.1.3. Bagan Struktur Organisasi Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara (SBMI-Sumut)
berubah. Namun tetap memiliki kesamaan dengan hasil kongres I, yaitu KPS (Kelompok Pelita Sejahtera) tetap memiliki tempat dalam struktur organisasi yaitu pada struktur Dewan Pekerja Organisasi (DPO) yang diisi oleh Sahat Lumban Raja.
Adapun struktur organisasi Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara (SBMI-Sumut) adalah sebagai berikut :
• Bagan Struktur Organisasi Berdasarkan Hasil Kongres I
Sumber: Arsip Divisi Pengorganisasian Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara (SBMI-Sumut)
Badan Presidium
Sekretaris Jenderal
Sekretaris
Divisi Advokasi Divisi Pengurus
Organisasi
Pengurus Basis
• Bagan Struktur Organisasi Berdasarkan Hasil Kongres II
Sumber: Arsip Divisi Pengorganisasian Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara (SBMI-Sumut)
KONGRES
Badan Pengurus Pusat (BPP) Sekretaris Jenderal Dewan Pekerja
Organisasi (DPO)/KPS
Rapat Umum Pengurus Basis
Pengurus Basis
Anggota
Rapat Umum Pengurus Basis
Pengurus Basis
IV.2. Profil Informan
IV.2.1. Aktivis Buruh dari Serikat Buruh Medan Sumatera Utara (SBMI-Sumut)
Baginda Harahap
Baulah ditahun 2008 tuntutan para buruh tersebut dipenuhi oleh pihak perusahaan. Dan sampai dengan saat ini mereka telah diangkat oleh pihak perusahaan sebagai buruh tetap di CV. Johan Fashion.
Ahmad Syach
Ahmad Syach adalah seorang pria berumur 31 tahun, dia adalah seorang pria keturunan Melayu dan beragama Islam. Ahmad Syach sendiri sudah 6 tahun menjadi pengurus Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara (SBMI-Sumut) yakni sejak tahun 2004 sampai dengan tahun 2010 ini.
dalam bekerja. Mendengar tidak adanya perhatian dari pihak perusahaan, maka teman-teman yang tergabung dalam SBMI-Sumut di PT. Klambir Jaya langsung mengadukan kejadian tersebut kepada pengurus SBMI-Sumut di Pusat. Maka SBMI-Sumut pun langsung turun tangan dengan didampingi oleh Ahman Syach. Ahmad Syach pun mengorganisir buruh untuk melakukan demonstrasi terhadap pihak perusahaan yang pada akhirnya pihak perusahaan mengalah dan memilih berdamai dan mengganti semua kerugian dari si buruh yang mengalami kecelakaan kerja tersebut.
Sebagai Koordinator Divisi Advokasi Organisasi Dimana tugas utamanya adalah memberikan advokasi kepada setiap buruh yang membutuhkan, mengembangkan organisasi dan juga membuat setiap anggota organisasi yang menjadi wilayah kerjanya makin solid (kuat) didalam menyikapi setiap permasalahan yang terjadi kepada para anggotanya yang tergabung dalam Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara (SBMI-Sumut) di wilayah kerjanya.
IV.2.2. Aktivis Buruh dari Dewan Pengupahan Daerah (Depeda) Yosapati Waruhu
Minimum Propinsi) Sumut yang baru yang akan dijalankan sejak januari 2007. UMP (Upah Minimum Propinsi) Sumut tahun 2007 adalah sebesar Rp. 761.000 yang hanya naik sekitar 3,3 persen dari tahun 2006. Dan sama seperti tahun sebelumnya, yaitu penetapan UMP (Upah Minimum Propinsi) Sumut tahun 2007 adalah hanya berlaku bagi kaum buruh yang memiliki masa kerja dibawah satu tahun, sedangkan yang sudah bekerja diatas satu tahun maka besarnya upah yang diterima akan ditentukan oleh Bipartit. Hal tersebut ditegaskan oleh Pemerintah dan juga menyatakan bahwa besarnya UMP (Upah Minimum Propinsi) untuk tahun 2007 adalah sudah mempertimbangkan usulan/rekomendasi dari Depeda. Gambaran umum dalam penetapan UMP Sumut pada tahun 2005 sampai tahun 2007 sekilas adalah tampak sudah memenuhi tuntutan buruh akan kenaikan upah. Tetapi setiap UMP yang ditetapkan selalu menimbulkan perlawanan dari pihak buruh, karena besarnya UMP tidak pernah sesuai dengan yang dituntut oleh pihak buruh. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi polemik dalam proses penetapan UMP walaupun pada realitasnya seperti sudah memenuhi mekanisme pengupahan yang telah ditetapkan peraturan perundang-undangan lainnya, sambungnya. Polemik tersebut selalu menilmbulkan ketidaksetujuan dari pihak buruh akan UMP yang ditetapkan tidak sesuai dengan tuntutan mereka. Yaitu terletak kepada mekanisme pengupahan yang masih memberi peluang kepada pihak pengusaha untuk menekan upah buruh.
Keputusan Gubsu No. 561/3244.K/Tahun 2005 dinyatakan dicabut dan tidak berlaku lagi, Sehingga UMP (Upah Minimum Propinsi) Sumut yang sebelumnya hanya sebesar Rp. 737.794 tidak berlaku lagi dan berlaku UMP (Upah Minimum Propinsi) yang baru yaitu sebesar Rp. 761.000,-
Dia juga memegang peranan dan tanggung jawab yang besar terhadap perkembangan dan kesejahteraan para buruh. Dia sangat bertanggung jawab untuk memastikan bahwa fungsi dari Serikat Buruh di Dewan Pengupahan Daerah (Depeda) terlaksana dengan baik.
IV.2.3. Buruh Yang Tergabung Dalam Serikat Buruh Medan Sumatera Utara (SBMI-Sumut) di PT. Klambir Jaya
Erningsih
Erningsih adalah seorang perempuan yang berusia 33 tahun, orangnya ramah, kulitya sawo matang, tidak terlalu tinggi, memiliki rambut yang bergelombang. Ia adalah seorang perempuan yang telah berkeluarga dan memiliki 1 (satu) orang tanggungan keluarga. Erningsih sendiri adalah seorang perantau dari asahan. Disini ia telah membina sebuah rumah tangga dan telah memiliki seorang anak. Anaknya sekarang berusia 9 tahun dan masih duduk dibangku kelas 3 Sekolah Dasar (SD) dekat rumahnya.
merupakan anggota dari Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara (SBMI-Sumut) PT. Klambir Jaya.
Nur’asiah
Nur’asiah adalah seorang perempuan berumur 34 tahun dan bekerja di PT. Klambir Jaya pada bagian Packing. Ia merupakan ibu dari kedua (2) putera dan puterinya. Anak pertamanya adalah seorang anak laki-laki berumur 9 tahun dan saat ini masih bersekolah pada tingkat Sekolah Dasar (SD) sedangkan anak keduanya seorang perempuan yang berumur 4 tahun.
Nur’asiah bertempat tinggal di Jl. Banten No.17, Desa Tanjung Gusta, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deliserdang. Nur’asiah sendiri hanyalah tamatan Sekolah Dasar (SD) saja, oleh sebab itu dia sangat mensyukuri bisa bekerja di PT. Klambir Jaya dengan menempatkannya pada bagian Packing yaitu bagian pengepakan barang-barang yang sudah jadi yang nantinya akan didistribusikan kepada para konsumen/pembeli. Nur’asiah adalah seorang buruh tetap dan sudah bekerja selama 4 tahun pada bagian packing di PT. Klambir Jaya. Dia merupakan anggota dari Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara (SBMI-Sumut) PT. Klambir Jaya.
Zulfadi
kurus. Ia tinggal di Jl. Klambir Lima Umum, Desa Klambir Kebun No. 35, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deliserdang.
Zulfadli memiiki 2 (dua) orang anak dimana anak pertamanya adalah anak perempuan dan telah berumur 15 tahun, sekarang masih duduk di bangku kelas 3 Sekolah Menengah Pertama. Sedangkan anak keduanya adalah seorang anak laki-laki dan masih berumur 9 tahun dan saat ini masih duduk dibangku kelas 3 Sekolah Dasar (SD).
Zulfadli adalah tamatan STM (Sekolah Teknik Mesin), dia bekerja di PT. Klambir Jaya Pada bagian Pemotongan. Zulfadli sendiri merupakan buruh tetap di PT. Kambir Jaya dan dia telah 8 tahun bekerja disana pada bagian potong. Dia merupakan anggota dari Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara (SBMI-Sumut) PT. Klambir Jaya.
Delima
Delima adalah seorang perempuan, beragama Kristen dan telah berumur 35 tahun. Tubuhnya agak gemuk, rambut ikal, sikapnya selalu periang (sering menghibur untuk membuat suasana jadi hidup, apabila ada pertemuan-pertemuan organisasi), tinggi tubuhnya kira-kira 1,55cm. Hidung pesek, dan juga bentuk tubuhnya agak gemuk. Ia telah memiliki kendaran roda dua sendiri dengan cara melakukan kredit sepeda motor. Setiap hari dia selalu naik sepeda motornya ke tempat dia bekerja di PT. Klambir Jaya.
anak, yang mana anak pertama adalah laki-laki telah berusia 12 tahun dan masih bersekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP) kelas dua (2), anak keduanya adalah laki-laki, masih berumur 9 tahun dan masih duduk di Sekolah Dasar (SD), sedangkan anak ketiganya adalah anak perempuan dan masih berumur 7 tahun dan masih duduk di bangku kelas 1 SD (Sekolah Dasar).
Delima tinggal di Jl. Gaperta, Gang Beringin V, Kelurahan Cinta Damai No.30, Kecamatan Helvetia, Kabupaten Deliserdang. Delima sendiri adalah seorang buruh tetap dan sudah bekerja selama 6 tahun di PT. Klambir Jaya, dia bekerja pada bagian packing. Dia merupakan anggota dari Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara (SBMI-Sumut) PT. Klambir Jaya.
Susilaswati
Susilaswati adalah buruh tetap di PT. Klambir Jaya yang bertugas pada bagian pemotongan lilin. Dia telah berumur 34 tahun dan juga telah bekerja di PT. Klambir Jaya selama 5 tahun pada bagian packing. Dia adalah anggota dari Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara (SBMI-Sumut) PT. Klambir Jaya. Dia adalah seorang muslim, kulitnya sawo matang, rambutnya berelombang, hidungnya agak mancung dan tubuhnya agak gemuk. Dia sendiri adalah keturunan Jawa. Ia beralamat di Jl. Klambir Lima Umum, Gang Palapa No. 15, Desa Tanjung Gusta, Kecamatan Sunggal, Kabupen Deliserdang.
5 tahun. Suaminya sendiri merupakan seorang wiraswasta yang bergerak di bidang transportasi antara medan-belawan. Setiap pagi jika ingin berangkat bekerja, dia selalu diantar oleh suaminya, dan jika pulang bekerja selalu menggunakan angkutan umum yang lalu lalang di depan pabrik.
Edi Sutoyo
Edi Sutoyo adalah seorang pria berumur 32 tahun. Ia memiliki postur tubuh yang pendek, kulitnya hitam, badannya agak gempal dan rambutnya ikal. Ia adalah keturunan Jawa dan telah berkeluarga dimana Edi Sutoyo telah memiliki seorang anak laki-laki yang masih berumur 5 tahun.
Edi Sutoyo sendiri tinggal bersama keluarganya di Jl. Klambir Lima Umum, Desa Klambir Kebun No. 41, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deliserdang. Edi Sutoyo adalah tamatan Sekolah Teknik Mesin (STM). Dia adalah buruh tetap di PT. Klambir Jaya dan telah bekerja disana selama 4 tahun sejak tahun 2006, dia bekerja pada bagian potong. Dia merupakan anggota dari Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara (SBMI-Sumut) PT. Klambir Jaya.
Idawati
Pertama, sedangka anak keduanya juga seorang laki-laki dan masih duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar.
Idawati adalah tamatan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Di PT. Klambir Jaya dia sudah bekerja selama 6 tahun dan saat ini dia bekerja pada Pengolahan Bahan Jadi. Idawati sendiri merupakan buruh tetap di PT. Klambir Jaya dan merupakan anggota dari Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara (SBMI-Sumut) PT. Klambir Jaya. Suaminya adalah seorang wiraswasta dan mereka memiliki usaha dagang kecil-kecilan di rumahnya. Pendapatan dari dagangan itu juga turut membantu perekonomian mereka. Ketika dia sedang bekerja maka yang mengurus dan menjaga anaknya adalah suaminya. Setiap harinya menuju tempat kerja dia selalu menggunakan angkutan umum. Angkutan umum adalah transportasi sehari-hari dari Idawati. Idawati tinggal di Jl. Klambir Lima Umum, Desa Klambir Kebun No. 82, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deliserdang.
Irwansyah Putra
Irwansyah Putra adalah seorang laki-laki berusia 30 tahun. Dia memiliki postur tubuh yang tinggi, kuitnya sawo matang dan badannya agak kurus. Dia adalah keturunan Jawa, agama islam dan telah berkeluarga. Dia hanya memiliki seorang anak laki-laki dan masih berumur 5 tahun.
mereka. Setiap pagi sebelum berangkat ke tempat bekerja, dia terlebih dahulu mengantar istrinya ke pajak pagi yang jaraknya kurang lebih 2 kilometer dari rumah mereka dengan menggunakan sepeda motor hasil kreditan mereka. Disana istrinya berjualan sayur-sayuran.
Irwansyah Putra sendiri merupakan tamatan Sekolah Teknik Mesin (STM). Di PT. Klambir Jaya, ia bekerja pada bagian cetak huisu, dia merupakan buruh tetap di PT. Klambir Jaya dan telah bekerja disana selama 4 tahun sejak tahun 2006, dia bekerja pada bagian cetak huisu. Dia merupakan anggota dari Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara (SBMI-Sumut) PT. Klambir Jaya.
Chandra
Chandra adalah seorang laki-laki yang berumur 32 tahun. Ia memiliki tubuh yang tinggi, kulit sedikit agak gelap, badannya juga sedikit agak gemuk, memiliki alis mata yang tebal dan juga rambutnya yang lurus. Ia adalah keturunan batak dan saat ini telah berkeluarga dan telah memiliki 3 orang anak.
Chandra sendiri adalah tamatan Sekolah Menengah Ekonomi Akuntansi (SMEA). Dia telah 5 tahun bekerja di PT. Klambir Jaya dan dia merupakan buruh tetap di sana dia bekerja pada bagian potong dan merupakan anggota dari Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara (SBMI-Sumut) PT. Klambir Jaya.
Jhonson Samosir
Jhonson Samosir adalah seorang laki-laki berumur 35 tahun. Ia adalah seorang keturunan Batak. Ia memiliki postur tubuh yang tinggi, badannya tegak, kulitnya sawo matang dan telah berkeluarga. Ia memiliki 2 (dua) orang anak, anak pertamanya adalah seorang anak laki-laki berumur 16 tahun dan telah duduk dibangku kelas 1 Sekolah Menengah Atas (SMA). Sedangkan anak keduanya adalah seorang anak perempuan berumur 14 tahun dan sekarang masih duduk di bangku kelas 2 Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Jhonson Samosir tinggal Jl. Gaperta Ujung, Gang Beringin III No. 18, Kelurahan Cinta Damai, Kecamatan Helvetia, Kabupaten Deliserdang. Setiap harinya menuju tempat bekerja, ia menggunakan kendaraan pribadinya berupa sepeda motor “supra fit” yang telah dimilikinya sendiri seteah tahun yang lewat kredit sepeda motornya telah dilunasinya. Kendaraan ini sendiri telah dimilikinya selama 5 tahun belakangan ini, sebelumnya dia menggunakan jasa angkutan umum ketempat bekerjanya.
Serikat Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara (SBMI-Sumut) PT. Klambir Jaya.
IV.3. Peranan Serikat Buruh Medan Independen (SBMI) di PT. Klambir Jaya Berdasarkan pasal (2) ayat (1) Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor Kep. 16/Men/2001 tentang cara pencatatan serikat buruh, maka Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara (SBMI-Sumut) PT. Klambir Jaya tercatat di-Dinas Kependudukan Tenaga Kerja dan Sosial dengan nomor: 560/1955/DTKS/2006.
IV.3.1. Sejarah terbentuknya Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara (SBMI-Sumut) PT. Klambir Jaya
Pada awalnya sekitar tahun 2000-2006 sebagian besar mereka (buruh) tergabung dalam PUK.F.KEP.KSPSI (Pimpinan Unit Kerja Federasi Kimia, Energi, Pertambangan Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia. Namun Pada tahun 2006 sampai dengan sekarang mereka ada yang berpindah menjadi Pengurus Basis Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara (SBMI-Sumut) di PT. Klambir Jaya. Penyebab berpindah karena banyaknya masalah yang tidak bisa diatasi oleh Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) pada saat itu seperti kasus tentang PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Hal ini juga diperkuat oleh Saudara Zulfadly (41) sesuai dengan hasil wawancara berikut ini:
“Pada awal kami bergabung dengan SPSI kami mengharapkan banyak perubahan
yang terjadi, namun semua terasa kurang enak pada saat adanya orang-orang
SPSI yang menjadi penjilat kepada pengusaha. Hasilnya dapat ditebak, SPSI yang
selama ini menjadi harapan kami untuk menyelesaikan permasalahan kami dengan
pihak perusahaan eh malah tambah ruwet. Puncaknya adalah adanya PHK secara
disana, katanya nya sih karena perusahaan mengalami kerugian, itu kan kata
mereka, tapi kami tidak percaya sama sekali lanjutnya lagi. SPSI telah di jadikan
perusahaan untuk menjinakkan kami sambungnya”.
(Sumber: Data Wawancara Lapangan, 2010)
Tidak adanya keterbukaan informasi juga menjadi salah satu pemicu bagi maraknya kekecewaan para buruh di PT. Klambir Jaya terhadap SPSI pada saat itu. Hal ini dapat dilihat dari hasil wawancara dengan Saudara Edi Sutoyo (32) berikut ini:
“Semua perundingan terhadap kasus yang kami hadapi dengan pihak perusahaan
selalu mengalami jalan buntu terutama terhadap kasus PHK, kami seolah-olah
tidak pernah mendengar akan adanya penyelesaian yang berarti dari SPSI disini
untuk menuntut pihak perusahaan mengapa teman-teman kami di PHK. Kemudian
SPSI juga sangat jarang megadakan diskusi-diskusi tentang hak-hak buruh,
memang ada sih diskusi tentang itu dilakukan tapi kalau dipikir-pikir itu hanya
sekali setahun saja lanjutnya sambil tersenyum. Tapi kami sangat yakin, SPSI saat
itu tidak netral dan kami sangat yakin mereka berpihak kepada perusahaan
sehingga kami dibungkam terhadap informasi-informasi tentang buruh,
sambungnya lagi….”
(Sumber: Data Wawancara Lapangan, 2010)
sebatas investigasi. Namun dalam perjalanannya banyak para buruh yang takut dan merasa curiga dengan kehadiran SBMI di PT. Kambir Jaya seperti yang terangkum dalam hasil wawancara dengan Saudari Idawati (35) tahun berikut ini:
“Pada awalnya kami sangat curiga dengan kehadiran SBMI, kami tidak percaya
lagi dengan serikat buruh sebab kami pernah tidak diperdulikan oleh SPSI di
Klambir Jaya. Jadi sebagian dari kami merasa itu hanya akal-akalan dari
perusahaan saja agar kami bisa diam katanya. Tetapi setelah mereka
bertanya-tanya terus tentang masalah kami dipabrik, kamipun tidak kuasa untuk
menceritakan semuanya kepada mereka dan kami merasa apa yang disampaikan
oleh SBMI sangat nyata dan tidak berbelit-belit. Sehingga mulai saat itu kami
banyak yang bergabung kesana, lanjutnya lagi”.
(Sumber: Data Wawancara Lapangan, 2010)
IV.3.2. Organisasi dan Keanggotaan Serikat Buruh Medan Independen (SBMI) di PT. Klambir Jaya
Menurut Undang-Undang No. 21 Tahun 2000, serikat buruh adalah organisai yang dibentuk dari, oleh dan untuk pekerja ata buruh baik diperusahaan maupun diluar perusahaan. Bersifat bebas, terbuka, mandiri, demokratis dan bertanggung jawab guna melindungi hak dan kewajiban buruh serta meningkatkan kesejahteraan buruh dan keluarganya.
Adapun tujuan dibentuknya Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara (SBMI-Sumut) di PT. Klambir Jaya adaah:
1. Melindungi dan membela hak-hak dan kewajiban serta kepentingan para buruh. 2. Menjamin adanya pendampingan terhadap para buruh didalam menyelesaikan
setiap permasalahan yang terjadi antara pihak perusahaan dengan para buruh. 3. Menghimpun serta mempersatukan para buruh untuk mewujudkan rasa
kesetiakawanan dan tali persaudaraan sesama para buruh.
4. Meningkatkan partisipasi dan tanggung jawab para buruh didalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam usaha pembangunan.
Dengan demikian para anggota dapat menjadi saling mengenal lebih dalam lagi satu sama lainnya, sehingga tidak ada lagi kecurigaan diantara anggota. Hal ini dapat dilihat dari hasil wawancara lapangan dengan Saudari Nuratiah (34) berikut ini:
“Saya merasakan ada hubungan emosional dengan anggota lainnya yang membuat
saya dan mereka lebih dekat lagi. Kami menjadi lebih mengerti dengan hak-hak
dan kewajiban kami sebagai buruh di Klambir Jaya. Ternyata jika kami bersatu,
(Sumber: Data Wawancara Lapangan, 2010)
Keanggotaan Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara (SBMI-Sumut) di PT. Klambir Jaya terdiri dari para buruh yang bekerja di perusahaan tersebut dan tidak boleh dari pihak maupun perusahaan luar. Setiap anggota yang telah terdaftar di Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara (SBMI-Sumut) di PT. Klambir Jaya tidak boleh terdaftar pada serikat buruh lainnya. Jika hal ini terjadi maka yang bersangkuatn akan dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan organanisasi yang telah ditetapkan bersama.
Adapun hak-hak dari anggota pada Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara (SBMI-Sumut) di PT. Klambir Jaya adalah sebagai berikut:
1. Setiap anggota memiliki hak pilih, yaitu hak untuk memilih dan dipilih dalam kepengurusan organisasi.
2. Setiap anggota berhak untuk megemukakan pendapat dan pikiran demi kemajuan organisasi, baik itu secara tertulis maupun secara tidak tertulis.
3. Setiap anggota berhak untuk membela diri dan dibela dalam sidang-sidang organisasi.
4. Setiap anggota berhak untuk mendapatkan perlindungan, pembelaan dan bimbingan dari organisasi.
1. Setiap anggota diwajibkan untuk menaati dan melaksanakan Anggran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) serta keputusan-keputusan yang telah ditetapkan bersama dalam organisasi.
2. Membela dan menjunjung tinggi nama baik organisasi. 3. Membina dan memelihara organisasi agar tetap solid.
4. Menbayar uang pangkal organisasi dan iuaran bulanan organisasi.
5. Menghadiri rapat-rapat, sidang-sidang organisasi serta kegiatan lainnya yang diselengarakan oleh organisasi.
Tabel 2: Struktur Kepengurusan Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara (SBMI-Sumut) di PT. Klambir Jaya
No. Nama Jabatan Organisasi Bidang Tugas
01 Ishak Ketua Umum Penanggung Jawab dan Jaringan Organisasi
02 Rosdiana Manalu Ketua I Pendidikan dan Propaganda Organisasi
03 Miswan Ketua II Pembelaan dan Kampanye Organisasi
04 Irwansyah Putra Ketua III Pengembangan Ekonomi Organisasi 05 Rojali Sekretaris Pengarsipan dokumen Organisasi 06 Edi Sutoyo Wakil Sekretaris Pengasipan Daftar Anggota
Organisasi
Sumber: Arsip Serikat Buruh Medan Independen Sumatera Utara (SBMI-Sumut) PT. Klambir Jaya
IV.4. Advokasi Pengupahan
Didalam menjalankan setiap pekerjaannya, buruh tidak luput dari benturan dengan permasalahan yang terkait dengan hubungan industrial. Hal ini dianggap wajar oleh sebagian besar kalangan, karena disebabkan oleh adanya perbedaan pendapat antara pengusaha dan para buruh yang seringkali menjadi pengganggu stabilitas hubungan industrial yang telah ada. Untuk itu dalam menyelesaikan hal-hal tersebut buruh yang biasanya menjadi korban dapat meminta bantuan kepada serikat buruh sebagai perantara dalam melakukan perundingan antara pengusaha/pihak perusahan dengan para buruh.
Didalam perundingan hubungan industrial, serikat buruh hanya berperan sebagai pendamping dan mediator saja baik dari pihak perusahaan maupun buruh. Serikat buruh harus bersifat netral dan tidak bisa memihak pada salah satunya. Peran inilah yang nantinya menjadikan serikat buruh bebas dari segala nilai-nilai kepentingan yang merugikan salah satu pihak. Hal ini dapat dilihat dari hasil wawancara dengan Saudara Ahmad Syach (31) berikut ini:
“Kami selaku pihak serikat buruh dalam perundingan bipartit hanya sebagai
pendamping saja. Yang menentukan hasilnya nanti kan kedua belah pihak itu. Jadi kami
harus netral dan tidak diperbolehkan memihak salah satunya. Jika diperlukan, kami
nantinya hanya aka memberikan tanggapan berupa saran dan masukan bagi kedua belah
pihak. Sebab semua hasilnya tergantung kepada mereka”.
(Sumber: Data Wawancara Lapangan, 2010)
dapat menjamin bahwa dalam pelaksanaan perundingan tersebut tidak ada pihak yang menekan dan juga pihak yang ditekan, hal ini disebabkan oleh serikat buruh merupakan pihak yang netral. Serikat buruh tidak berhak untuk menentukan hasil keputusan karena serikat buruh hanya sebagai pendamping bagi buruh dalam perundingan agar mereka yang bersangkutan tidak merasa sendiri dan takut saat berhadapan dengan pihak perusahaan/pengusaha.
IV.4.1 Penetapan Upah Minimum Propinsi (UMP ) Sumatera Utara
Proses penetapan UMP (Upah Minimum Propinsi) pada umumnya adalah sebuah proses yang sangat menarik dalam setiap tahapannya. Sebelum UMP (Upah Minimum Propinsi) ditetapkan pada setiap bulan desember, maka terlebih dahulu harus melewati beberapa tahap dalam mekanisme penetapan upah yang diatur dalam PERMENAKER No. 17 Tahun 2005.
IV.4.1.1.Peranan Dewan Pengupahan Daerah (Depeda) Dalam Penetapan Upah Minimum Propinsi (UMP) Sumatera Utara
Dewan Pengupahan Daerah (Depeda) merupakan lembaga yang mengurusi masalah pengupahan dalam tingkat daerah, yang nantinya akan memberikan rekomendasi UMP (Upah Minimum Propinsi) kepada pemerintah propinsi yang kemudian akan ditetakan oleh Gubernur selaku Kepala Daerah Propinsi. Unsur-unsur yang terlibat dalam Depeda adalah para stake holder dalam bidang industri. Mulai dari unsur pengusaha, pemerintah daerah melalui Dinas Tenaga Kerja dan unsur Buruh. Setiap kinerja Depeda adalah menyelesaikan tahapan penetapan UMP (Upah Minimum Propinsi) yang sebelumnya telah ditentukan oleh mekanisme pengupahan dalam peraturan hukum.
setiap wilayah Propinsi di Indonesia, penetapan UMP selalu melibatkan rekomendasi dari Depeda setiap tahun. Walaupun lembaga Depeda melibatkan unsur buruh, namun pihak buruh selalu sering melakukan perlawanan terhadap UMP yang ditetapkan oleh Gubernur. Hal ini adalah sering dikritisi oleh banyak pihak tentang bagaimana kinerja Depeda dalam setiap proses penetapan UMP (Upah Minimum Propinsi), seperti terangkum dalam wawancara dengan Saudara Yosapati Waruhu (32) berikut ini:
“Dalam wilayah Sumatera Utara tidak ada bedanya dengan wilayah Propinsi lainnya dalam hal mekanisme penetapan UMP, yaitu ditetapkan oleh Gubernur
berdasarkan hasil rekomendasi dari lembaga Depeda Sumatera Utara. Sehingga
dalam proses penetapan UMP Sumatera Utara setiap tahunnya tidak terlepas
dari kinerja Depeda Sumut yang didalamnya terdiri dari unsur pemerintah
melalui Dinas Tenaga Kerja, Pengusaha, dan pihak Buruh. Walaupun penetapan
UMP tidak sesuai dengan tuntutan buruh, tetapi UMP ditetapkan oleh Gubernur
adalah hasil final terhadap UMP dalam satu tahun yang didalamnya tidak
memberikan peluang revisi terhadap UMP”.
(Sumber: Data Wawancara Lapangan, 2010)
memberikan rekomendasi pengupahan kepada pemerintah selalu melakukan tahapan-tahapan yang telah ditetapkan sebelumnya, yaitu merumuskan tentang bagaimana upah yang layak bagi kaum buruh termaksud didalamnya adalah melakukan survey KHL (Kebutuhan Hidup Layak).
Survey KHL (Kebutuhan Hidup Layak) yang dilakukan oleh Depeda Sumatera Utara adalah menghitung jumlah kebutuhan layak para buruh disetiap Kabupaten/Kota. Walaupun parameter komponen kebutuhan hidup layak masih banyak diperdebatkan, namun komponen yang termaksud dalam KHL (Kebutuhan Hidup Layak) seperti yang ada dalam Permenaker No.17 Tahun 2005 adalah kebutuhan disekitar makanan/minuman, perumahan/fasilitas, sandang, kesehatan, dan kebutuhan lainnya. Jenis kebutuhan tersebutlah yang selalu disurvey oleh Depeda kepada responden buruh. Setelah jumlah kebutuhan tersebut didapatkan jumlahnya, selanjutnya Depeda akan mengumumkan hasil survey KHL (Kebutuhan Hidup Layak) yang dilakukan pada setiap kabupaten/kota yang kemudian akan diambil rata-rata KHL (Kebutuhan Hidup Layak) yang tertinggi dan terendah, karena setiap Kabupaten/Kota selalu memiliki perbedaan jumlah KHL (Kebutuhan Hidup Layak). Setelah Depeda Sumut menyepakati berapa jumlah KHL (Kebutuhan Hidup Layak) dalam wilayah Propinsi Sumatera Utara maka selanjutnya Depeda akan merekomendasikannya kepada Gubernur pada setiap akhir tahun untuk ditetapkan menjadi UMP (Upah Minimum Propinsi).