KARYA AKHIR
PERANCANGAN DAN PENGUJIAN PENGADUKAN CPO
PADA MIXER KRISTALIZER
MUHAMMAD ALWI HASIBUAN 035202015
UNTUK MEMENUHI PERSYARATAN MEMPEROLEH GELAR SARJANA SAINS TERAPAN (DIPLOMA IV)
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI MEKANIK INDUSTRI
PROGRAM DIPLOMA - IV FAKULTAS TEKNIK
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan keselamatan
dan kesehatan. Shalawat beserta salam kita sampaikan kepada junjungan kita Nabi
Besar Muhammad SAW yang telah membawah kita dari alam jahiliyah kepada
alam yang berilmu pengetahuan. Sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya
Akhir di PT. Pamina Adolina Unit Belawan Jl. Sulawesi II, Belawan dan
menyelesaikan laporan karya akhir ini dengan tepat waktu.
Laporan ini disusun berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan di PT.
Pamina Adolina Unit Belawan dan ditambah dengan teori yang berhubungan
dengan percobaan
Penulis juga tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak
yang bertanggung jawab, membantu, dan mendukung khususnya kepada :
1. Bapak Ir.H..Mulfi Hazwi , MSc. yang telah membimbing penulis dalam
menyelesaikan karya Akhir serta memberikan nasehat, saran, memberikan
sumbangan pikiran dan meluangkan waktunya dalam memberikan
bimbingan.
2. Bapak Alfian Hamsi Msc, selaku ketua Departemen Teknik Mesin
Universitas Sumatera Utara
3. Ibu Norma Pardede yang telah menbimbing penulis selama mengerjakan
Karya akhir di pengolahan minyak Goreng PT.Pamina Adolina Unit
Belawan.
4. Bapak Asron Siregar Yang telah mengijinkan Penulis melakukan Karya
5. Bapak Mulianto yang banyak membantu dalam moral maupun material
serta semangat
6. Bang Rizal yang telah banyak membantu dalam penyelesaian Karya
Akhir dan memberikan ide-ide inovatif yang sangat mendukung alat
Tangki Mixer Kristalizer ini
7. Bang Aprian supardi panggabean yang telah banyak membantu dalam
menyelesaikan laporan karya Akhir ini.
8. Yus Shella Anggriani yang telah memberi semangat dan dukungan buat
penulis
9. Orang tua dan Keluarga yang telah banyak menberikan semangat,
nasehat, doa, motivasi maupun dukungan moril dan material kepada
penulis.
10.Teman – teman Mahasiswa Jurusan Teknologi Mekanik Industri
Khususunya anak “2003”. Dani Ha, Putra Candika, Dani Marulitua, Didi
Dharwan, Koko Wiradinata, dan teman-teman lainnya.
Penulis menyadari bahwa laporan ini belumlah sempurna sehingga penulis
mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnan
laporan ini. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih dan semoga laporan ini
dapat berguna dan bermanfaat.
Medan, September 2007
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
Kata Pengantar ………. i
Daftar Isi ……… iii
Daftar Gambar ………... vi
Daftar Tabel ………... vii
Daftar Literatur …..……….. viii
Daftar Notasi ………..……….. ix
BAB I PENDAHULUAN ……….. 1
1.1. Latar Belakang ………... 1
1.2. Batasan Masalah ……….. 3
1.3. Tujuan ……….. 3
1.4. Manfaat ……… 4
1.4.1. Bagi Mahasiswa……….. 4
1.4.2. Bagi Program Studi ………. 4
1.4.3. Bagi Perusahaan/ Instansi……… 4
1.5. Metodologi Pengumpulan Data ……… 5
BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN ………. 7
2.1. Mixer………. 7
2.1.1. Jenis –Jenis Mixer ………... 8
2.1.2. Aplikasi Mixer……….. 11
2.1.3. Daya Yang dibutuhkan untuk mixer……… 14
2.2. Motor Induksi ………. 22
2.2.1. Konstruksi Motor Induksi ………. 22
2.2.2. Prinsip Kerja Motor Induksi ………... 23
2.3. Poros ………. 25
2.3.1. Macam – Macam Poros ………. 25
2.3.2. Hal – Hal yang Penting Dalam Perencanaan Poros ….. 26
2.3.3. Poros dengan Beban Puntir……… 28
2.2.4. Pemilihan Bahan …..………. 30
2.2.5. Perencanaan Diameter Poros……….. 32
2.2.6. Poros dengan Beben Puntir dan Lentur ……….. 33
2.2.7. Pemeriksaan Kekuatan Poros ……… 34
2.4. Pasak ………. 35
2.4.1. Macam –Macam Pasak ……… 35
2.4.2. Hal – Hal Penting dan Tata cara Perencanaan Pasak …. 36 2.5 Baling – Baling/ Fan ………. 37
2.5.1. Jenis/ Tipe Baling – Baling ………... 38
BAB III PEROSEDUR PEMBUATAN ALAT MIXER KRISTALIZER 41 3.1. Prosedur Kerja Mixer Kristalizer ……… 41
3.2. Pengujian Pengadukan CPO Pada Mixer Kristalizer……….. 44
3.3. Perhitungan Kekuatan Bahan ………46
3.3.1. Perhitungan Dan Analisa Pada Motor Yang dirancang .. 48
3.3.2. Perhitungan Dan Analisa Daya Gesek dan Bantalan … 50 BAB IV SISTEM MAINTENANCE ……… 51
4.1. Sistem Maintenance Pada Motor Listrik ……… 51
4.2. Sistem Maintenance Pada V-Belt dan Puli ……… 52
4.4. Sistem Maintenance Pada Baling – Baling/ Kipas …………. 53
4.5. Sistem Maintenance Pada Bearing atau Bantalan …………. 54
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ……… 55
5.1. Kesimpulan ……….. 55
5.2. Saran ……… 56
Daftar Pustaka ……… 57
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1. Tangki Mixer Kristalizer
Gambar 2.1 Mixer Kristalizer
Gambar 2.2 Jenis mixer untuk pengolahan air limbah
(a,b) Baling-baling mixer, (c) mixer turbin, (d) mixer statis satu
garis, (e) mixer turbin satu garis
Gambar 2.3. Pembersi Dinding (Scapper)
Gambar 2.4. Pipa Sirkulasi dan Jalur
Gambar 2.5. Distribusi Tegangan Lingkaran Motor
Gambar 2.6 Spline
Gambar 2.7. Macam-Macam Pasak
Gambar 2.8. Jenis/Type baling-baling
Gambar 3.1. Pipa Pemasukan CPO dan Pipa Pemasukan Detergen
Gambar 3.2 Pipa Pendingin
Gambar 3.3 Sistem Pemipaan Mixer Kristalizer
Gambar 3.4. Mixer Kristalizer
Gambar 3.5 Pandangan Atas Tangki Mixer Kristalizer
Gambar 3.6 Motor Listrik
Gambar 4.1 V-Belt dan puli
DAFTAR TABEL
Tabel 2-1 Nilai k untuk Keperluan Daya Pencampuran
Tabel 2-2 Jenis Gradien kecepatan dan nilai waktu sesaat untuk proses
Pengolahan air limbah
Tabel 2.3 Penggolongan baja secara umum
Tabel 2.4 Jenis-jenis faktor koreksi berdasarkan daya yang akan
ditransmisikan
DAFTAR LITERATUR
1. Literatur 1 : Metcalf & Eddy, Wastewater Engineering Treatment,
Disposal Reuse, edition, New york, MacGraw-Hill,
Inc,.1991. halaman 216, 215 rd
3
2. Literatur 2 : Sularso, Elemen Mesin 2, Jakarta Penerbit Erlanga, 1994.
halaman 4, 7, 8
DAFTAR NOTASI
1. P : Daya (Watt)
2. k : Konstanta Laminer/turbulen
3. : Kekentalan Dinamik Dari Fluida (N. s/m ) 2
4. : Kerapatan Dari Fluida (kg/m3)
5. D : Diameter Impeller (m)
6. n : Putaran (rpm)
7. NR : Bilangan Reynold
8. F : Gaya (N)
9. A : Diagonal Baling-baling (m)
10. V : Kecepatan (m/s)
11. : Berat Jenis (kN/m ) 3
12. Q : Kapasitas Aliran (m /s) 3
13. patm : Tekanan atmosfer (kN/m ) 2
14. G : Gradien Kecepatan (1/s)
15. v : Volume (m ) 3
16. td : Waktu Sesaat (detik)
17. p : Jumlah Katub
18. f : Ferekuensi (Hz)
19. s : Slip
20. ns : Putaran Stator (rpm)
22. T : Torsi (Nm)
23. : Tegangan geser (kgf/mm ) 2
24. b : Tegangan Patah (kgf/mm )
2
25. a : Tegangan ijin (kgf/mm ) 2
26. h : Tinggi (m)
27. Sf : Faktor keamanan
28. fc : Faktor Koreksi
29. ds : Diameter Shaft/poros (m)
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Minyak kelapa sawit diperoleh dari pengolahan buah kelapa sawit. Secara
garis besar buah kelapa sawit terdiri dari serabut buah (pericarp) dan inti (kernel).
Serabut buah kelapa sawit terdiri dari tiga lapis yaitu lapisan luar atau kulit buah yang
disebut pericarp, lapisan sebelah dalam disebut mesocarp atau pulp dan lapisan paling
dalam disebut endocarp. Inti kelapa sawit terdiri dari lapisan kulit biji (testa),
endosperm dan embrio.
Untuk menentukan apakah mutu minyak itu termasuk baik atau tidak
diperlukan standard mutu. Ada beberapa faktor yang menentukan standard mutu yaitu
kandungan air dan kotoran dalam minyak kandungan Asam lemak bebas (ALB),
warna dan bilangan peroksida. Faktor lain yang mempengaruhi standar mutu adalah
titik cair kandungan gliserida, refining loss, plastisitas dan supreadability, kejernihan
kandungan logam berat dan bilangan penyabunan.
Minyak goreng adalah kebutuhan pangan yang termasuk dari 9 bahan pokok.
Minyak goreng dapat diperoleh dari hewan (hewani) maupun tumbuhan (nabati).
Minyak merupakan sumber energi yang mengandung asam essential, seperti asam
linoleat dan asam arahibonat.
Pada proses pengolahan CPO menjadi Minyak Nabati banyak hal yang harus
dilakukan untuk mendapatkan hasil yang diinginkan, tetapi ada hal yang harus
yang merubah bentuk bahan mentah menjadi bahan pangan. Pada proses pengolahan
CPO juga terdapat Proses Pengkristalan yaitu kristalisasi. Kristalisasi ini digunakan
pada Tangki Mixer Kristalisasi. maka penulis mempunyai ide untuk merancang
Tangki Mixer Kristalizer yang sangat sederhana dengan prinsip yang sama.
Pada Tangki Mixer Kristalizer bertujuan untuk menjadikan fraksi stearin
mengkristal akibat dari penambahan larutan detergen (campuran NaLS 0,8 % dan
MgSO 2 % ) dan pendinginan pada suhu 20 C.Muatan Tangki Mixer Kristalizer
berkapasitas 35 Liter.
4
0
1.2. Batasan Masalah
Sesuai dengan Judul Karya Akhir yang telah diberikan yaitu studi tentang
Kerja Mixer kristalizer Pengadukan CPO di PT. Pamina Adolina Unit Belawan, maka
yang menjadi pembahasan utama dalam karya akhir adalah tentang Mixer pada
stasiun fraksionasi antara lain :
1. Kerja Mixer kristalizer Pada Umumnya, Khususnya dalam Pengadukan
CPO
2. Bagian – bagian Mixer kristalizer dan Fungsinya.
3. Pengoperasian Mixer kristalizer
1.3. Tujuan
Adapun Tujuan dibuat Karya Akhir ini antara lain :
1. Menyelesaikan masa perkuliahan Program Studi Diploma – IV Program Studi
Teknologi Mekanik Industri Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara.
2. Mengetahui Kerja dari Mixer kristalizer pengadukan CPO Pada Stasiun
Fraksionasi di PT. Pamina Adolina Unit Belawan Jl. Sulawesi II Belawan
3. Mengetahui Proses Pengolahan dan produksi CPO di PT. Pamina Adolina Unit
Belawan
4. Mengetahui bagian – bagian yang terdapat pada mixer di Stasiun Fraksionasi pada
Pengadukan CPO.
5. Mengetahui tentang cara perawatan dan perbaikan (maintenance) dari Mixer
kristalizer pada Stasiun Fraksionasi
6. Mengaplikasikan Ilmu yang didapat selama perkuliahan yang digunakan dalam
1.4. Manfaat
1.4.1. Bagi Mahasiswa/i
1. Sebagai media untuk mengenal atau memperoleh kesempatan untuk
melatih diri dalam melaksanakan berbagai jenis pekerjaan yang ada di
lapangan.
2. Sebagai bahan untuk mengenal berbagai aspek ilmu perusahaan baik
langsung maupun tidak langsung.
3. Memperoleh kesempatan untuk melatih keterampilan dalam melakukan
pekerjaan atau kegiatan lapangan.
1.4.2. Bagi Program Studi
1. Sebagai sarana untuk memperkenal Program Studi Diploma – IV
Program Studi Teknologi Mekanik Industri Fakultas Teknik Universitas
Sumatera Utara, pada lingkungan masyarakat dan perusahaan.
2. Sebagai sarana untuk memperoleh kerja sama antara pihak Fakultas
dengan perusahaan
3. Sebagai masukan dari penerapan disiplin ilmu dari kurikulum tersebut
apakah masih ada relevansinya dengan keadaan dilapangan
.
1.4.3 Bagi Perusahaan/ Instansi
1. Sebagai bahan bandingan atau usulan bagi perusahaan didalam usaha
2. Sebagai bahan untuk mengetahui eksistensi perusahaan dari sudut pandang
masyarakat khususnya mahasiswa/i yang melakukan Karya Akhir
3. Sebagai mitra perusahaan berupa teori ilmu pengetahuan yang berguna untuk
memperbaiki sistem kerja yang lebih baik
4. Sebagai sumbangan perusahaan didalam peranannya untuk memajukan
pembangunan dibidang pendidikan
1.5 Metodologi Pengumpulan Data
Dalam melaksanakan karya Akhir dilakukan kegiatan – kegiatan yang
meliputi :
1. Persiapan dan Orientasi
Mempersiapkan hal – hal yang perlu untuk kegiatan penelitian,
pengenalan perusahaan, membuat permohonan karya Akhir, membuat
proposal dan konsultasi pada dosen pembimbing
2. Studi Kepustakaan
Studi literature yaitu mempelajari buku-buku karangan ilmiah yang
berhubungan dengan masalah yang berkaitan tentang kegiatan pembuatan
Karya akhir terutama pada mixer kristalizer pengadukan CPO
3. Peninjauan Lapangan
Melihat langsung keadaan perusahaan, wawancara dengan pemimpin atau
staf perusahaan sehingga dapat diperoleh gambaran perusahaan, organisasi
4. Pengumpulan data
Pengumpulan data yang akan digunakan untuk penyusunan laporan Karya
Akhir dengan cara :
a. Pengamatan langsung terhadap objek.
b. Data yang menyangkut tentang perusahaan seperti sejara berdirinya,
lokasi perusahaan, struktur serta proses produksi
c. buku-buku manual Operasional pabrik
d. Wawancara dengan pihak mekanik dan ikut serta dalam pengerjaan
peralatan produksi yang rusak
5. Analisa dan Evaluasi data
Data yang diperoleh dianalisa dan dievaluasi bersama-sama dosen
pembimbing
6. Membuat Draft Laporan
Membuat penulisan Draft Karya Akhir sehubungan dengan data yang
diperoleh dari perusahaan
7. Asistensi
Melaporkan hasil penulisan Karya Akhir kepada dosen pembimbing untuk
melakukan bimbingan
8. Penulisan Laporan
Draft Karya Akhir yang telah disetujui oleh dosen pembimbing siap
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Mixer
Mixer merupakan elemen mesin yang utama dalam pembahasan Karya Akhir
ini. Pada Mixer yang digunakan ini terjadi operasi pencampuran CPO dengan
menggunakan pompa. Pengisian dimulai dari garis Level Switch Low (LSL) melalui
bagian dasar tangki sehingga mencapai garis Level Switch Medium (LSM) yaitu 80%.
setelah kondisi LSM tercapai, aliran CPO berhenti secara otomatis digantikan dengan
aliran detergen sampai mencapai batas Level Switch High (LSH) yaitu 20%. Detergen
yang digunakan dalam kristalizer terdiri dari 0,8% NaLS 0,2% dan 97,2% air,
kegiatan ini dilakukan secara terus menerus.
4 MgSO
Keterangan :
1. Pipa sirkulasi Pendingin
2. Dinding Luar Tangki Mixer Kristalizer
3. Dinding Dalam Tangki Mixer Kristalizer
4. Pembersih Dinding Tangki Kristalizer (Scapper)
5. Tali Belt
6. Puli
7. Gear box
8. Pipa Pemasukan CPO dan Detergen
9. Shaft/Poros
10. Bearing
Detergen ini berfungsi untuk mengikat fraksi stearin sedangkan
berfungsi sebagai surfactant agent sehingga kristal stearin yang terbentuk lebih baik.
Pengisian campuran CPO dan detergen ini bertujuan agar terbentuknya pengkristalan
yang baik.
4 MgSO
Fluida yang digunakan Pada Mixer Tangki Mixer Kristalizer ini iala CPO dan detergen (0,8% NaLS 0,2% dan 97,2% air). Kapasitas tangki mixer kristalizer
sebanyak 35 Liter terdiri dari 80% CPO atau 28 liter dan 20% Detergen atau 7 liter. 4
MgSO
2.11. Jenis-jenis Mixer
a. Mixer yang menggunakan Baling-baling
Proses Pencampuran air dengan cara ini biasanya terjadi karena adanya
umumnya, makin kencang aliran atau kecepatan alir tinggi maka akan
menghasilkan turbulensi yang tinggi pula, dengan demikian akan
kan pada aliran laminar dan turbulen, seperti terlihat dalam gambar
2.2.a
b.
ng
baik dibutuhkan waktu 10 – 30 menit seperti terlihat pada gambar 2.2.b.
c.
zat kimia yang biasanya untuk flokulasi seperti terlihat
pada gambar 2.2.d
memudahkan atau mengefisiensikan proses pencampuran tersebut.
Pada dasarnya, dari gaya inersia dan hukum kekentalan dikembangkan
persamaan matematik yang berhubungan dengan berapa besar daya yang
diguna
Mixer dengan baling-baling kincir
Mixer kincir biasanya bergerak secara lambat, karena cakupannya meliputi
seluruh permukaan air yang dicampurkan. Biasanya digunakan pada alat
flokulasi dan koagulan, seperti Aluminium, Ferite Sulfat dan lain-lain, yang
bercampur dengan Lumpur dan membentuk ikatan antara zat-zat semakin
banyak karena mengalami pencampuran, tetapi pengaruh tegangan geser
dari baling –baling akan dapat juga memecahkan flok-flok ke ukuran yang
lebih kecil, tetapi persentasenya kecil, dan untuk menghasilkan flok ya
Mixer Statis Satu Garis
Mixer statis memiliki karakteristik yang identik dengan kekurangan dari
elemen – lemen yang bergerak, contohnya mixer statis satu garis untuk
d Mixer Pneumatik/ Turbin
Pada mixer pneumatik ini, terletak didasar tangki dan biasanya digunakan
pada tangki flokulasi, dimana pada saat udara yang bercampur zat kimia diinjeksikan
dari dasar tangki, daya atau energi akan hilang dengan bersamaan saat gelem .
bung –
elembung udara naik keatas, seperti terlihat pada gambar 2.2.e
Gambar 2.2
er turbin, (d) mixer statis satu
aris, (e) mixer turbin satu garis
g
Jenis mixer untuk pengolahan air limbah
(a,b) Baling-baling mixer, (c) mix
2.1.2 Aplikasi Mixer
Mixer Kristalizer ini digunakan untuk mengaduk suatu campuran zat atau
substansi dengan substansi lainnya dengan menggunakan putaran motor melalui
impeller atau propeller, tetapi pada aplikasinya prinsip kerja mixer itu sendiri dapat
dibalikkan. Maksudnya mixer tersebut diam tetapi laju aliran yang mengaduk dengan
ndirinya.
Pen
ncamp
ian CPO dapat
dimasu
berfungsi
sebagai surfactant agent sehingga kristal stearin yang terbentuk lebih baik. se
a. campuran Zat dengan Aliran Deras
Pada pencampuran aliran deras ini, prinsip utamanya adalah untuk
mencampurkan secara merata satu substansi dengan substansi lainnya. pe uran
ini terjadi pencampuran antara CPO dengan detergen (0,8 % NaLS 0,2% MgSO4dan
97,2% air) sebelum CPO dimasukkan kedalam mixer Kristalizer, CPO terlebih dahulu
di endapkan kedalam tangki intermediet yang bertujuan untuk mengendapkan kotoran
– kotoran yang terkandung dalam CPO berupa lumpur tanah. Kemud
kkan kedalam Mixer Kristalizer dengan menggunakan pompa.
Pengisian dimulai dari garis Level Switch Low (LSL) melalui bagian dasar
tangki sehingga mencapai garis Level Switch Medium (LSM) yaitu 80%. Setelah
kondisi LSM tercapai, aliran CPO berhenti secara otomatis digantikan dengan aliran
detergen sampai mencapai batas Level Switch High (LSH) yaitu 20 %. NaLS (natrium
laury sulfat) berfungsi untuk mengikat fraksi stearin sedangkan MgSO
4
Pengisian detergen ke kristalizer dilakukan dengan menggunakan pipa yang
penggunaan pipa agar sisa-sisa CPO didalam pipa dapat terbilas oleh detergen. NaLS
terlebih dahulu dilarutkan dalam tangki penyiapan NaLS sesuai dengan konsentrasi
yang diinginkan karena NaLS akan sukar melarut bila dicampurkan sekaligus
bersam
u
but dialirkan sebagian ke kristaliser dan sebagian lagi diinjeksikan ke
Knife M
l
nya dialirkan ke balance. Suhu air
pending
scrapper pada ujung lengannya.Pengadukan scapper ini bertujuan agar
CPO-Detergen
4. Pemerataan penyebaran kristal
a–sama dengan MgSO4dan dapat menimbulkan gumpalan – gumpalan NaLS.
NaLS yang telah larut tersebut dialirkan ke tangki detergen dan ditambahkan
MgSO
4 sebanyak konsentrasi yang diinginkan. Detergen tersebut kem dian dialirkan
ke penukar panas untuk didinginkan sampai mencapai suhu 18 0C. Kemudian
detergen terse
ixer.
Pendinginan di kristalizer menggunakan air pendingin yang telah didinginkan
di chiller. Air pendingin tersebut dimu ai pada saat pengisian CPO ke tangki
kristalizer. Pada saat suhu mencapai 200C pendinginan dihentikan.Air pendingin
dialirkan dari bagian atas tangki menuju ke bawah pada jaket (mantel). Air pendingin
selanjutnya masuk ke floter tank dan disirkulasikan kembali. Sebagian dari air
pendingin diganti dengan air baru, sedangkan sisa
in keluar kristaliser pada range 20-250C.
Selama proses pendinginan ini campuran juga di aduk dengan pengaduk yang
dilengkapi
terbentuk:
1. Menghomogenkan campuran
2. Mencegah pembekuan CPO
Scapper pada ujung lengan pengaduk berfungsi untuk mencegah akumulasi
kristal stearin pada dinding tangki. Untuk mempercepat pencampuran CPO dengan
detergen di dalam kristelizer juga dilakukan sirkulasi bahan dari bagian bawah ke atas
dengan menggunakan pompa.
Gambar 2.3. Pembersi Dinding (Scapper)
b. Sirkulasi Pada CPO dan Detergen
Pensirkulasian Pada Tangki Mixer Kristalizer ini bertujuan agar tidak
terjadinya penggumpalan – penggumpan yang terlalu kental pada bawah dasar pada
saat terjadinya pengadukan CPO dan Detergen pada tangki kristalizer ini maka dari
itu perlu dilakukan pensirkulasian.
Sirkulasi CPO dan detergen ini dilakukan pada saat pengisian CPO dan
detergen bekerja, Pipa sirkulasi selalu terbuka pada saat pengisian CPO dan Detergen.
Pensirkulasian didorong oleh pompa menuju pipa pemasukan. dan pengosongan
pengadukan yang sudah mengkristal akibat pengosongan pada garis level switch Low
(LSL) maka disirkulasikan kembali kedalam pipa pemasukan. pemasukan CPO
sebanyak 80 % atau pada tangki kristalizer ini 28 Liter dan diteruskan pada detergen
sebanyak 20 % atau 7 liter. Pensirkulasian bekerja secara terus menerus hingga
terjadinya kembali pengosongan setelah terbentuknya pengkristalan
Gambar 2.4. Pipa Sirkulasi dan Jalur
Pemasukan CPO dan Detergen
2.1.3 Daya Yang Dibutuhkan Untuk Pencampuran
Daya yang dibutuhkan untuk pencampuran yang menggunakan mixer
propeller, dan turbin mixer, mixer statis, mixer pneumatik diganbarkan dalam
a. Daya Mixer yang Menggunakan Baling-baling
Proses pencampuran air dengan cara ini biasanya terjadi kerena adanya
aliran turbelensi air, dimana gaya inersia lebih mendominasi. pada umumnya,
makin kencang aliran atau kecepatan alir tinggi maka akan menghasilkan
turbulensi yang tinggi pula, dengan demikian akan memudahkan atau
mengefisienkan proses pencampuran tersebut.
Pada dasarnya, dari gaya inersia dan hukum kekentalan dikembangkan
persamaan matematik yang berhubungan dengan berapa besar daya yang
digunakan pada aliran laminar dan turbulen.
Laminar : pk..n .2 D3
……..(2-1)
Turbulen : p k..n3.D5
……..(2-2)
Dimana :
P = Daya yang digunakan (watt)
k = Konstanta laminar/turbulen untuk aliran
= Kekentalan dinamik dari fluida (N. s/ m2)
= Kerapatan dari fluida (kg/ m3)
D = Diameter impeller (m)
n = Putaran per detik (Rpm)
Nilai dari k ditentukan pada table 2-1. Untuk aliran turbulen, jika
saat dalam tangki, yang diperkirakan mengalami kehilangan daya sebesar 10%
dari diameter tangki pada saat menabrak dinding tangki dan baling-baling.
Tabel 2-1 Nilai k untuk Keperluan Daya Pencampuran
Impeler Laminar Turbulen
Baling-baling berbentuk
persegi, dengan 3 buah mata
41,0 0,32
Baling-baling bertingkat dua,
dengan 3buah mata
43,5 1,00
Turbin, dengan 6 buah
mata datar
71,0 6,30
Turbin, dengan 6 buah
mata melengkung
70,0 4,80
Turbin angina, dengan 6buah
mata
70,0 1,65
Turbin, dengan 6 buah mata
ujung panah
71,0 4,00
Kincir sejajar. dengan 6 buah
mata
36,5 1,70
Turbin, tertutup dengan 2
buah mata lengkung
97,5 1,08
Turbin tertutup dengan stator 172,5 1,12
Persamaan 2-1 diberikan jika angka Reynold lebih kecil dari 10, dan
persamaan 2-2 diberikan jika angka Reynold lebih besar dari 10,000.
Pemberian angka Reynold ditentukan dengan rumus :
D N
2
…….(2-3) n
R
Dimana :
D = Diameter Impeler (m)
n = Rev/s atau Rpm
= Kerapatan dari fluida (kg/ m3)
= Kekentalan dinamik dari fluida (N. s/ m2)
Mixer dengan baling – baling kecil dan kecepatan tinggi baik untuk
penyebaran gas-gas dalam air pada pengolahan kimia. sedangkan mixer
dengan gerak lambat baik untuk mencampurkan antara dua fluida, sebagai
contoh adalah pencampuran CPO dengan detergen yang biasanya untuk
flokulasi atau pengikatan zat – zat kimia agar menggumpal dan terbentuknya
kristalisasi.
Pusaran air atau putaran dari massa cairan, harus dibatasi sesuai
dengan jenis baling-baling. karena pusaran air yang bertabrakan dengan
kecepatan baling-baling mixer akan mengurangi efektisitas dari mixer. Jadi
dapat diatasi dengan merancang impeller atau baling-baling dengan sudut
yang tidak terlalu vertikal, begitu juga dengan jarak antara baling-baling dan
b. Daya Mixer dengan Baling-baling Kincir
Mixer kincir biasanya bergerak secara lambat, Karena cakupannya
meliputi seluruh permukaan air yang dicampurkan. Biasanya digunakan pada
alat flokulasi dan koagulan, seperti Aluminium, ferite sulfat dan lain-lain,
yang bercampur dengan Lumpur membentuk ikatan antara zat-zat semakin
banyak karena mengalami pencampuran, tetapi pengaruh tegangan gesar dari
baling-baling akan dapat juga memecahkan flok-flok ke ukuran yang lebih
kecil, tetapi persentasenya kecil, dan untuk menghasilkan flok yang baik
dibutuhkan wakti 10-30 menit.
Adapun rumus yang biasa digunakan dalam mixer ini didasarkan dari
percobaan dengan mixer yang ukurannya disesuaikan:
…..(2-4)
CD = Koefisien dari gaya tarik antara cairan dan baling-baling
A = Diagonal dari baling –baling (m)
= Rapat Massa fluida (kg/ m3)
P = Daya yang dibutuhkan (Watt)
c. Daya Mixer Statis Satu Garis
Mixer statis memiliki karakteristik yang identik dengan kekurangan dari
elemen-elemen yang bergerak, contohnya mixer statis satu garis untuk
mencampurkan zat-zat kimia yang biasanya untuk flokulasi. Adapun yang
dibutuhkan untuk mixer statis iini adalah seperti persamaan berikut ini.
P
.
Q.
h
Pada mixer pneumatik ini, terletak didasarkan tangki dan biasanya
digunakan pada tangki flokulasi, dimana pada saat udara yang bercampur zat
kimia diinjeksikan dari dasar tangki, daya atau energi akan hilang dengan
bersamaan saat gelembung – gelembung udara naik ke atas. adapun daya yang
terbuang dirumuskan sebagai berikut :
Va = Volome udara pada tekanan atmosfer (m ) 3
Pc = Tekanan udara pada saat akan pecah (kN/m ) 2
2.1.4. Kehilangan Energi Dalam Pencampuran
Tenaga yang masuk atau digunakan per unit volume dari cairan dapat
digunakan sebagai ukuran kasa dari efektifitas pencampuran. berdasarkan alasan
tersebutlah tenaga masukkan menghasilkan gerakan putaran yang besar, dan gerakan
putaran tersebiutlah yang menghasilkan pencampuran yang lebih baik.
Dalam mempelajari perkembangan dan efek dari gradient kecepatan (G)
dalam tangki penggumpalan dari bermacam-macam tipe dan perkembangan dari
persamaan-persamaan dapat digunakan untuk mengoperasikan sistem pencampuran.
V P G
……….(2-8)
Dimana :
G = Gradien Kecepatan (1/s)
P = Daya ( W)
= Kerapatan Jenis (N. s/ m2)
V = Volume ( m3)
dalam persamaan 2-8, G merupakan Gradien kecepatan dari cairan, yang mana nilai G
mengalikan kedua sisi dari persamaan 2-8 dengan teori waktu sesaat td = V/Q
(terdapat pada table 2-2).
Tabel 2-2 Jenis Gradien kecepatan dan nilai waktu sesaat untuk proses pengolahan air limbah
Jarak dari nilai Proses
Waktu Sesaat Nilai G, s1 Pencampuran
Jenis operasi pencampuran dalam
pengolahan air limbah 5 – 20 s 250 – 1,500
Pencampuran cepat yang berhubungan dengan proses
filtrasi
<1 – 5 s 1,500 – 7,500
Flokulasi Jenis operasi yang menggunakan
air limbah 10 – 30 Menit 20 – 80
Flokulasi yang menggunakan
proses filtrasi 2 – 10 Menit 20 – 100
Flokulasi yang berhubungan langsung dengan media filtrasi
granula
2 – 5 Menit 30 – 150
2.2. Motor Induksi
Motor induksi banyak digunakan dalam industri baik skala besar maupun
skala kecil karena motor induksi mempunyai konstruksi yang sangat baik, harga yang
murah dan mudah dalam pengaturan kecepatannya. stabil ketika berbeban dan
mempunyai efisiensi yang tinggi. mesin induksi atau sinkron pada umumnya hanya
memiliki satu suplai tenaga yang mengeksitasi belitan stator. Belitan rotornya tidak
berhubungan langsung dengan sumber tenaga listrik, melainkan belitannya dieksitasi
oleh induksi dari perubahan medan magnetic yang disebabkan oleh arus pada belitan
stator.
2.2.1 Konstruksi Motor Induksi
Disebut motor induksi karena dalam hal penerimaan tegangan dan arus pada
rotor dilakukan dengan jalan induksi. jadi pada motor induksi, rotor tidak langsung
meneriama tegangan atau arus dari luar. Motor Induksi terdiri dari dua bagian penting
yaitu stator dan rotor. rotor dan stator merupakan rangkaian magnetik yang berbentuk
silinder dan simetris. Diantara rotor dan stator terdapat celah udara yang sempit.
a. Stator
Komponen stator adalah bagian terluar yang diam membawa arus satu phasa.
Stator terdiri dari tumpukan laminasi yang menjadi alur kumparan. tiap kumparan
tersebar dalam beberapa alur yang disebut belitan phasa dimana untuk tiga motor
phasa belitan terpisah secara listrik sebesar 120 . 0
Bila stator tersebut dicatu oleh tegangan tiga phasa yang setimbang, maka pada
kecepatan serempak yang besarnya direntukan oleh jumlah katup (p) dan frekuensi
stator (f) yang dirumuskan dalam persamaan (2-10)
p ns
………..(2-10)
f
. 120
Dimana :
ns = Putaran sinkron medan putaran stator (rpm)
f = Frekuensi (HZ)
p = Jumlah Katup
b. Rotor
Jenis rotor yang banyak digunakan pada motor induksi ialah rotor sangkar
tupai. Pada prinsipnya rotor sangkar tupai disusun dari batang-batang konduktor yang
kedua ujungnya disatukan oleh cincin yang dibuat dari bahan konduktor pula
sehingga bentuknya menyerupai sangkar tupai.
2.2.2 Prinsip Kerja Motor Induksi
Motor Induksi adalah peralatan pengubah energi elektromekanis, dimana terjadi
perubahan energi dari bentuk enrgi listrik ke bentuk mekanis. pengubahan energi ini
bergantung pada keberadaan fenomena alami magnetic dan medan listrik yang saling
berkaiatan pada satu sisi dan gaya mekanis dan gerak disisi lainnya. adapun prinsip
a. Apabila sumber tegangan 3 phasa dipasang pada kumparan, stator akan timbul
medan putaran dengan kecepatan ns yang besarnya ditunjukkan pada persamaan
2-10 yaitu :
p f ns 120.
b. Medan putaran stator tersebut akan memotong batang konduktor pada rotor.
Akibatnya pada kumparan rotor timbul tegangan induksi (GGL) sebesar E2 yang
besarnya yaitu : E2 4,44.f.N2.m ………(2-11)
Dimana :
E2 = Tegangan induksi pada rotor saat rotor dalam keadaan diam
N2 = Jumlah lilitan kumparan rotor
m = Fluksi maksimum
c. Karena batang konduktor merupakan rangkaian yang tertutup maka GGL akan
menghasilkan arus (I).
d. Adanya arus (I) didalam medan magnet akan menimbulkan gaya (f) pada rotor.
e. Bila kopel mula menghasilkan oleh gaya (f) cukup besar untuk memikul kopel
beban, rotor akan berputar searah medan putar stator.
f. GGl, induksi timbul karena terpotongnya batang konduktor (rotor) oleh medan
putar stator. artinya agar GGl induksi tersebut timbul, diperlukan adanya
perbedaan relatip antara kecepatan medan putar stator (ns) dengan kecepatan
berputar rotor (nr).
g. Perbedaan kecepatan antara nr dan ns disebut slip (s), dinyatakan dengan
h. Bila nr = ns, tegangan tidak akan terinduksi atau arus tidak akan mengalir pada
kumparan rotor, dengan demikian tidak akan dihasilkan kopel. kopel ditimbulkan
jika nr < ns
2.3. Poros
Poros merupakan salah satu bagian terpenting dalam setiap mesin yang
berfungsi untuk meneruskan daya dan putaran. Peranan utama yang penting dalam
sistem transmisi itu dipegang oleh poros.
Poros adalah suatu bagian stasioner yang berputar, biasanya berpenampang
bulat dimana terpasang elemen-elemen seperti: kopling, roda gigi, pulley, roda gila,
engkol sproket, dll.
2.3.1 Macam-Macam Poros
Menurut pembebanannya poros diklasifikasikan menjadi:
a) Poros Transmisi
poros jenis ini mendapat beban puntir murni atau puntir dan lentur. daya
ditransmisikan kepada poros melalui kopling, roda gigi, puli sabuk atau soket
rantai dan lain-lain.
b) Poros Spindel
Poros transmisi yang relatif sangat pendek, seperti poros utama mesin
perkakas, dimana beban utamanya berupa puntiran disebut spindel. syarat yang
harus dipenuhi poros ini adalah deformasinya harus kecil dan bentuk serta
c) Poros Gandar
poros seperti yang terpasang diantara roda – roda kereta barang, dimana tidak
mendapat beban puntir, bahkan kadang – kadang tidak boleh berputar, disebut
gandar. Gandar ini hanya mendapat beban lentur, kecuali jika gerakan oleh
penggerak mula dimana akan mengalami beban puntir juga.
2.3.2 Hal-hal Penting Dalam Perencanaan Poros
Hal-hal penting untuk merencanakan sebuah poros, perlu diperhatikan pada :
a. Kekuatan Poros
Suatu proses transmisi harus dapat menahan beban seperti: puntiran, lenturan,
tarikan dan takanan. selain itu poros juga mendapatkan beban tarik atau tekan
seperti poros baling-baling kapal atau turbin. Oleh karena itu, poros harus dibuat
dari bahan pilihan yang kuat dan tahan terhadap beban-beban tersebut.
b. Kekakuan Poros
Walaupun sebuah poros mempunyai kekuatan yang cukup tetapi jika lenturan atau
defleksi puntirnya terlalu besar, akan mengakibatkan terjadinya getaran dan
suara. Oleh karena itu,disamping kekuatan poros, kekakuannya juga harus
dipertimbangkan sesuai dengan jenis mesin yang dilayani.
c. Putaran Kritis
Suatu mesin bila putarannya dinaikkan,maka pada harga putaran tertentu akan
terjadi getaran yang sangat besar dan disebut putaran kritis. hal ini dapat terjadi
pada turbin, motor torak, motor listrik dan lain-lain. Putaran ini harus dihindari
d. Korosi
Bahan – bahan tahan korosi (termasuk plastik) harus dipilih untuk poros
propeleler dan pompa bila terjadi kontak dengan fluida yan g korosif. demikian
pula untuk poros-poros yang terancam kavitasi, untuk itulah harus dilakukan
perlingan terhadap korosi.
e. Bahan Poros
Poros transmisi biasa dibuat dari bahan yang ditarik dingin dan difinishing seperti
baja karbon yang dioksidasikan dengan ferra silikon dan di cor. Pengerjaan dingin
membuat poros menjadi keras dan kekuatannya menjadi besar.
Poros – poros yang dipakai untuk putaran tinggi dan beban berat
umumnya dibuat dari baja panduan dengan pengerasan kulit yang tahan terhadap
keausan. beberapa diantaranya adalah baja khrom nikel, baja khrom nikel
molibden, baja krom, dll.
baja diklasifikasikan atas baja lunak, baja liat, baja agak keras, dan baja
keras. Baja liat dan baja agak keras banya dipilih untuk poros. kandungan
karbonnya adalah seperti tertera dalam tabel 2.3. Baja lunak tidak dinjurkan untuk
dipergunakan sebagai poros penting. baja agar keras jika diberi perlakuan panas
Tabel 2.3. Penggolongan baja secara umum
Golongan Kadar C (%)
Baja Lunak 0 – 0,15
Baja Liat 0,2 – 0,3
Baja agak keras 0,3 – 0,5
Baja keras 0,5 – 0,8
Baja sangat keras 0,8 – 1,2
Sumber : Elemen Mesin 2, Sularso, hal 4
Meskipun demikian, untuk perencanaan yang baik tidak dapat dianjurkan
untuk memilih baja atas dasar klasifikasi yang terlalu umum seperti diatas. sebaiknya
pemilihan dilakukan atas dasar standart yang ada
Nama dan lambang dari bahan-bahan menurut standart beberapa negara serta
persamaan dengan JIS (standart Jepang) untuk poros
2.3.3. Poros dengan beban puntir
Jika diketahui bahwa poros yang dirancang/direncanakan tidak mendapatkan
beban lenturan, tarikan, atau tekanan, maka kemungkinan adanya penambahan beban
tersebut perlu di perhitungkan dalam faktor keamanan yang diambil. hal-hal yang
perlu diperhatikan akan diuraikan sebagaoi berikut.
Pertama ambillah suatu kasus dimana daya P (kW) harus ditransmisikan dan
putaran poros n1 (rpm) diberikan jika P adalah daya rata-rata yang diperlukan maka
harus dibagi dengan efisiensi mekanis dari sistem transmisi untuk mendapatkan
atau mungkin beban yang besar terus bekerja setelah start, dengan demikian faktor
koreksi diperlukan pada perencanaan,
jika P adalah daya nominal output motor penggerak, maka faktor keamanan
diperlukan daya perencanaan. jika faktor koreksi adalah fc maka daya rencana Pd (kW)
sebagai patokan adalah
Pd = fc. N “Literatur Sularso, Kiyokatsu Suga, hal 7”...(2-13)
di mana:
Pd = daya rencana (kW)
fc = faktor koreksi
N = daya nominal keluaran motor penggerak (kW).
Ada beberapa jenis faktor koreksi sesuai dengan daya yang akan
ditransmisikan adalah
Tabel 2.4 Jenis-jenis faktor koreksi berdasarkan daya yang akan ditransmisikan
Daya yang Akan Ditransmisikan fc
Daya rata-rata yang diperlukan 1,2 - 2,0
Daya maksimum yang diperlukan 0,8 - 1,2
Daya normal 1,0 - 1,5
Jika daya diberikan dalam kuda (PS), maka harus dikalikan dengan 0,735 untuk
mendapatkan daya dalam kW.Apabila momen puntir (disebut juga momen rencana)
adalah T (Kg.mm) maka :
maka persamaan
Pd =
Bila momen rencana T (kg.mm) dibebankan pada suatu diameter poros ds (mm),
maka tegangan geser (kg/mm ) yang terjadi adalah 2
2.3.4 Pemilihan Bahan
Poros untuk mesin umum biasanya dibuat dari baja karbon yang di-finish dingin
(disebut bahan S-C) yang dihasilkan dari Ingot yang di-Kill (baja yang
dideoksidasikan dengan ferrosilikon dan dicor, kadar karbon terjamin). Jenis-jenis
Tabel 2.5 Batang baja karbon yang difinis dingin (Standar JIS)
Kekerasan Lambang Perlakuan
Panas
Diameter
(mm)
Kekuatan Tarik
(kg/mm2) HRC (HRB) HB
Dilunakkan 20 atau kurang
21 – 80
20 atau kurang
21 – 80
Dilunakkan 20 atau kurang
21 – 80
20 atau kurang
21 – 80
Dilunakkan 20 atau kurang
21 – 80
20 atau kurang
21 – 80
sumber: Sularso, Kiyokatsu Suga, “Dasar Perencanaan Dan Pemilihan Elemen Mesin”
Selain itu faktor keamanan itu faktor keamanan untuk batas kelelahan puntir Sf1
dengan nilai 5,6 diambil untuk bahan SF dengan kekuatan yang dijamin, dan 6,0
untuk bahan S-C dengan pengaruh masa dengan baja paduan. Jika poros tersebut dan
pengaruh kekasaran permukaan juga diperhatikan yang dinyatakan sengan Sf2 yang
mempunyai nilai sebesar 1,3-3,0. (Literlatur Sularso, Kiyokatsu Suga, hal 8) maka
“Literatur Sularso, Kiyokatsu Suga, hal 7”...(2-18)
Sf1 = faktor keamanan yang bergantung pada jenis bahan, di mana untuk bahan S-C besarnya adalah 6,0.
Sf2 = faktor keamanan yang bergantung dari bentuk poros, di mana harganya berkisar antara 1,3 – 3,0.
2.3.5 Perencanaan Diameter Poros
Diameter poros dapat diperoleh dari rumus :
“Literatur Sularso, Kiyokatsu Suga, hal 8” ...(2-19) 3
Kt = faktor koreksi tumbukan, harganya berkisar antara
1,0 = Jika beban dikenakan secara halus
1,0 – 1,5 = Jika terjadi sedikit kejutan atau tumbukan
Cb = faktor koreksi untuk kemungkinan terjadinya beban lenturdengan harga 1,2 sampai 2,3 dalam perencanaan ini diambil 1,0 karena
diperkirakan tidak akan terjadi beban lentur
2.3.6 Poros Dengan Beban Puntir dan Lentur
Gambar 2.5. Distribusi Tegangan Lingkaran Motor
poros pada umumnya meneruskan daya melalui sabuk, roda gigi dan rantai.
dengan demikian poros tersebut mendapat beban puntir dan lentur sehingga pada
permukaan poros akan terjadi tegangan geser (
) karena momen puntir T dantegangan ( ) karena momen lentur. Untuk bahan yang liat seperti pada poros, dapat
dipakai teori tegangan geser maksimum yaitu:
2
4 2
2 max
Pada poros yang pejal dengan penampang bulat, = 32 M/ds3, sehingga
2 2 3
max (5,1.ds). M T
“Literatur Sularso, Kiyokatsu Suga, hal 7”...(2-21)
beban yang bekerja pada poros pada umumnya adalah beban berulang jika
poros tersebut mempunyai roda gigi untuk meneruskan daya besar maka kejutan berat
akan terjadi pada saat mulai atau sedang berputar.
2.3.7 Pemeriksaan Kekuatan Poros
Ukuran poros yang telah direncanakan harus diuji kekuatannya.Pengujian
dilakukan dengan memeriksa tegangan geser (akibat momen puntir) yang bekerja
pada poros. Apabila tegangan geser ini melampaui tegangan geser izin yang dapat
ditahan oleh bahan maka poros akan mengalami kegagalan.
Besar tegangan geser akibat momen puntir yang bekerja pada poros diperoleh
dari:
“Literatur Sularso, Kiyokatsu Suga, hal 22”
2.4. Pasak
Pasak adalah suatu elemen yang dipakai untuk menetapkan bagian-bagian
mesin seperti roda gigi, sproket, puli, kopling dan lain-lain pada poros. momen
diteruskan dari poros kenaaf atau tari naaf ke poros.
Fungsi yang sama dengan pasak dapat dilakukan pula oleh spline dan gerigi
(Serration) yang mempunyai gigi luar pada poros dan gigi dalam dengan jumlah gigi
yang sama pada naaf dan saling terkait antara yang satu dengan yang lainnya,
(gambar 2.8) gigi pada spline adalah besar-besar, sedangkan pada gerigi adalah
kecil-kecil dengan jarak yang kecil-kecil pula. kedua-duanya dapat digeser secara aksial pada
waktu meneruskan
Gambar 2.6 Spline
2.4.1 Macam-macam Pasak
Pasak dapat digolongkan atas beberapa macam sebagai berikut yaitu : menurut
letaknya pada poros dapat dibedakan atas
a. Pasak Pelana,
b. Pasak rata,
c. Pasak benam
Dalam arah memanjang dapat berbentuk prismatis atau berbentuk tirus. Pasak
benam prismatis ada yang khusus dipakai sebagai pasak luncur. disamping macam
pasak diatas ada pula pasak terbereng dan pasak jarum .
Pasak luncur memungkinkan pergeseran aksial roda gigi, dan lain-lain pada
porosnya, seperti pada spline. yang paling umum dipakai adalah pasak benam yang
dapat meneruskan momen yang besar. Untuk momen dengan tumbukan, dapat dipakai
pasak singgung.
2.4.2. Hal-hal Penting dan Tata Cara Perencanaan Pasak
Pasak benam mempunyai bentuk penampang segi empat dimana terdapat
bentuk prismatis dan tirus yang kadang-kadang diberi kepala untuk memudahkan
pencabutannya. Pada pasak yang rata sisi sampingnya harus pas dengan alur pasak
tidak guyang dan rusak untuk pasak umumnyadipilih bahan yang memiliki kekuatan
Jika momen rencana dari poros adalah T(Kg.mm) dan diameter poros adalah ds
(mm), maka gaya tangensial F (Kg) Pada permukaan poros adalah :
) 2 / (ds
T
F ...(2-22)
Perlu diperhatikan bahwa lebar pasak sebaiknya antara 25-35% dari diameter
poros, dan panjang pasak jangan terlalu panjang dibandingkan dengan diameter poros.
Karena lebar dan tinggi pasak sudah disatndartkan, maka beban yang ditimbulkan
oleh gaya F yang besar hendaknya datasi dengan penyesuaian panjang pasak. Namun
demikian, panjang yang terlalu panjang tidak dapat menahan tekanan yang merata
pada permukaannya. jika terdapat pembatasan pada ukuran naaf atau poros, dapat
dipakai ukuran yang tidak standart atau diameter poros perlu dikoreksi.
2.5 Baling-baling/ Fan
Alasan yang mendasar dalam menentukan jenis baling-baling yang digunakan
dalam proses pengadukan harus memenuhi faktor-faktor seperti berat jenis fluida,
kecepatan jenis fluida, viskositas fluida, dan kecepatan putaran. karena jika berbeda
berat jenis ( ) kerapatan jenis fluida (), viskositas fluida (), dan kecepatan
putaran. maka berbeda pula jenis-jenis baling-baling yang kita pergunakan.
Dimana baling-baling tersebut harus dapat menghasilkan turbulensi atau
putaran air dalam tangki olahan yang baik untuk proses pencampuran dengan bantuan
elekro motor daya yang ditransmisikan kebaling-baling adalah hasil pengurangan
daya input elektro motor dikurangi dengan faktor kehilangan energi dalam tangki
yang terjadi pada as/ shatf pada spindel. Tetapi sumber tegangan dari baling-baling
sebab baling-baling merupakan elemen beban terhadap elektro motor, spindel,
as/shatf.
2.5.1 Jenis/ Tipe Baling-baling
Dalam menentukan jenis baling -baling yang digunakan dipengaruhi oleh
faktor-faktor seperti berat jenis ( ) kerapatan jenis fluida (), viskositas fluida ()
dan kecepatan putaran (rpm). beberapa jenis baling-baling yang biasa digunakan
dalam proses pencampuran ialah :
a. Plat Blade (Baling-baling bilah datar)
Biasanya digunakan dengan kecepatan putaran berkisar antara 600-900 rpm, dan
diletakkan tidak terlalu dekat dengan kedasar tangki olahan, yang terdapat pada
gambar 2.5.a.
b. Disk Flak Blade (Baling – baling cakram dengan bilah datar)
digunakan untuk keperluan laboratorium karena pencampurannya merata dengan
menggunakan kecepatan perputaran yang tinggi, begitu juga dengan kebutuhan
daya perputarannya, seperti terdapat pada gambar 2.5.b
c. Pitchen Vane (Baling – baling Radial)
Merupakan jenis adatasasi dari baling-baling jenis cakram. jenis ini menggunakan
jenis bilah yang vertikal. biasanya sangat ekonomis untuk kecepatan tinggi tanpa
memerlukan daya yang besar. seperti terdapat pada gambar 2.5.c
d. Curved Blade (Baling – baling lengkung)
biasanya disebut dengan back swept, karena jika berputar baling-baling jenis ini
jenis biasa digunakan untuk mengurangi tegangan geser dari baling-baling. seperti
terdapat pada gambar 2.5.d
e. Titled Blade (Baling-baling Bilah Datar Miring)
Baling-baling jenis ini sama dengan baling-baling bilah datar atau plat blade,
tetapi jenis ini didesain agar terpasang miring terhadap tangki olahan. seperti
terdapat pada gambar 2.5.e
f. Shrouded Blade ( Baling – baling Bilah Vertikal Horizontal)
Baling-baling jenis ini merupakan kombinasi antara bilah datar/ vertikal dengan
bilah horizontal (seperti terdapat pada baling-baling jenis radial). biasanya
diletakkan hampir dekat kepermukaan fluida untuk menghasilkan pusingan air
yang berguan untuk pencampuran. seperti terdapat pada gambar 2.5.f
g. Pitched Blade ( Baling – baling Pilin)
Memiliki karakteristik radial dan aksial. biasanya diletakkan hampir kedasar
tangki olahan dengan sudut standart pilinan 45 . Jenis ini juga biasa dikenal
dengan tipe fan. seperti terdapat pada gambar 2.5.g 0
h. Pitched Curved Blade (Baling-baling Pilin Lengkung)
Jenis ini merupakan kombinasi antara baling-baling pilin dengan baling-baling
lengkung. biasanya digunakan untuk aplikasi khusus, karena memerlukan biaya
yang besar dan konstruksinya yang rumit. seperti terdapat pada gambar 2.5. h
i. Arrowhead Blade (Baling –baling Searca)
Pada baling-baling jenis ini arah putaran biasanya disesuaikan dengan kebutuhan
pada waktu pencampuran. karen jenios ini biasanya diletakkan pada fluida yang
BAB III
PROSEDUR PEMBUATAN ALAT MIXER KRISTALIZER
3.1. Prosedur Kerja Mixer Kristalizer
Prosedur kerja Mixer Kristalizer dimulai dari proses pengisian CPO. Pengisian
CPO ini dilakukan melalui pipa Pemasukan CPO dengan menggunaan Pompa.
Keadaan Tangki Mixer kristalizer ini dalam keadaan proses pengadukan atau mesin
dalam keadaan hidup, pada tahap pengisian dimulai dari bagian dasar tangki
pengadukan hingga mencapai garis Level Switch Medium (LSM) yaitu 80% CPO atau
28 liter CPO, selanjutnya diteruskan dengan pengisian detergen hingga mencapai
batas level Switch High (LSH) dengan melalui pipa pengisian detergen, dengan jalur
pipa yang sama digunakan dengan pemasukan CPO.
Gambar 3.1. Pipa Pemasukan CPO dan
Tangki Mixer Kristalizer ini juga dilengkapi dengan proses pendinginan
terhadap CPO dan detergen selama pengadukan berlangsung karena proses
pengkristalan yang baik terjadi pada temperatur 18-20º C. pendinginan ini di
dinginkan didalam tangki chiller, air pendingin dialirkan dari bagian atas tangki
menuju ke dasar bawah tangki dan disirkulasikan kembali kedalam chiller. Selama
proses pendinginan ini, campuran juga diaduk dengan pengaduk yang dilengkapi
scapper pada ujung lengannya, Pengadukan ini bertujuan agar :
1. Menghomogenkan campuran CPO-detergen
2. Mencengah pembekuan CPO
3. Pemerataan suhu disetiap titik
4. Pemerataan penyebaran kristal
Gambar 3.2 Pipa Pendingin
Pada saat pemasukan CPO dan detergen, secara otomatis sirkulasi sudah
dialirkan kembali ke dalam pengadukan CPO dan Detergen. dengan melalui pipa
Gambar 3.3 Sistem Pemipaan Mixer Kristalizer
Pengosongan CPO dan Detergen ini dilakukan Pada saat terbentuknya
pengkristalan dan suhu mencapai 20 ºC. Pengosongan dialiri melalui pipa
3.2 Pengujian Pengadukan CPO Pada Mixer Kristalizer
Dalam Pengujian pengadukan CPO pada Alat Mixer Kristalizer bertujuan
untuk menjadikan fraksi stearin mengkristal akibat dari penambahan larutan detergen
(Campuran NaLS 0,8 % 0,2% dan 97,2% air) dan Pendinginan Pada suhu
20ºC.
4 MgSO
Sebelum melakukan pengujian pada Mixer Kristalizer, penulis perlu menyiapkan
Bahan bahan yang digunakan, yaitu:
1. Menyediakan CPO kurang lebih 28 Kg untuk pemasukan CPO Pada Mixer
Kristalizer
2. Menyediakan Detergen 7 Kg (NaLS 0,8 % 0,2% dan 97,2% air) Untuk
pemasukan detergen pada Mixer Kristalizer
4 MgSO
3. Mempersiapkan Alat Mixer Kristalizer
4. Mempersiapkan data yang sheet.
Adapun Alat alat yang digunakan untuk pengujian ini, antara lain :
1. Alat Penimbang
Alat Penimbang dengan kapasitas kurang lebih 50 kg. Alat ini digunakan untuk
menimbang CPO dan Detergen yang diperlukan pada saat pemasukan CPO.
2. Stopwatch
Stopwatch digunakan untuk mencatat waktu yang dibutuhkan pada saat
pemasukan CPO dan pemasukan Detergen.
3. Drum/Jerigen
4. Mixer Kristalizer
Pandangan Atas Ruang Pengadukan
Pandangan Depan Pandangan Samping
Gambar 3.4. Mixer Kristalizer
Data hasil pengujian pengadukan CPO ini ialah lama pemasukan CPO 28
Liter dalam penuangan kedalam Mixer Kristalizer ± 2 menit, 11 Detik dan lama
penuangan detergen ± 48 Detik,. Lama terbentuknya pengkristalan yang terjadi pada
pengadukan CPO dan Detergen ± 23 menit, 48 detik, lama pengosongan ± 2 menit.
pada pengujian alat mixer Kristalizer ini sebaiknya menggunakan Pendinginan Pada
saat berlangsungnya pengadukan. dari hasil Pengujian CPO dan detergen ini maka
3.3 Perhitungan Kekuatan Bahan
Gambar 3.4 Tangki mixer kristalizer
Diketahui :
faktor Koreksi ( fc) didapat dari tabel 2.4 sebesar 1,8
8
K (Untuk beban tumbukan)
6 b
Perhitungan Diameter Poros
Diameter minimum Puli
dmin = 60 mm
Kecepatan Sabuk
)
3.3.1 Perhitungan dan Analisa pada motor yang dirancang
a. Putaran Pada Stator
c. Daya Masuk (Pin), daya Keluar (Pout) dan Efisiensi ()
Efisiensi ()
3.3.2 Perhitungan dan Analisa Daya Gesek Bantalan
BAB IV
SISTEM MAINTENANCE
Mixer Kristalizer ini digunakan dengan tujuan untuk menjadikan fraksi stearin
mengkristal akibat dari penambahan larutan detergen (0,8 % NaLS 0,2% dan
97,2% air). Untuk meningkatkan kinerja kerja pada alat ini perlu dilakukan
pemeliharaan serta perawatan – perawatan untuk menunjang kelancaran kerja dan
meningkatkan kualitas mutu produk yang dihasilkan. Sistem Maintenance ini
dilakukan agar terciptanya pengontrolan yang rutin dan sesuai dengan perincian
perkiraan alat – alat apa saja yang rusak dan alat apa saja yang harus diperbaiki
(diganti). Adapun sistem maintenance yang dilakukan pada Mixer Kristalizer ini ialas
sebagai berikut :
4 MgSO
4.1 Sistem Maintenance pada motor listrik
Pada peralatan yang sebenarnya, menggunakan motor 125 Watt, dan 2850
rpm. Adapun perawatan yang dilakukan berdasarkan hasil survey adalah sebagai
berikut :
a. Pendinginan motor menggunakan kipas untuk pembuangan panas yang
dihasilkan oleh energi listrik yang digunakan terhadap kawat kumparan agar
tidak terjadi hubungan singkat atau short sirkuit sehingga motor tidak terbakar
atau rusak.
c. Mengecek 1 bulan sekali bagian – bagian kawat kumparan dan kabel-kabel
penghubung yang terdapat didalam motor.
d. Menjaga agar putaran untuk pemisahan tetap konstan agar motor tidak
berbeban lebih yang dapat mengakibatkan motor rusak atau terbakar.
4.2 Sistem Maintenance Pada V-Belt dan puli Adapun sistem perawatan yang dilakukan adalah :
a. Melakukan Pengecekan 2 minggu sekali untuk melihat kekenduran V-belt.
b. Melakukan pengecekan vibrasi dengan alat ukur vibrasi
c. Pengecekan puli agar tidak terjadi clearence yang besar akibat momen
tumbuk.
d. Melakukan pengecekan baut yang terdapat pada puli.
4.3 Sistem Maintenance as atau poros
Adapun sistem perawatan yang dilakukan adalah sebagai berikut :
a. Mengecek tingkat getaran yang terjadi.
b. Mengecek tingkat kelurusan shaft akibat melawan torsi putaran pada saat
mengaduk beban atau air kapur.
c. Memeriksa apakah ada retakan kecil yang terjadi akibat melawan torsi yang
berbeban, bila ada keretakan maka harus segera diganti.
4.4. Sistem Maintenance Pada Baling-baling Kipas
Sistem Maintenance Pada Baling-baling Kipas dapat dilakukan sebagai
berikut:
a. Melakukan pemeriksaan korosi terhadap kipas apakah berkarat, patah
(retak)
b. Memeriksa Kondisi baut – baut ikatan apakah masih layak atau tidak
terutama pada ulir baut, setiap 4 tahun sekali sebaiknya diganti dan
tergantung dengan kekuatan bahn yang dipakai oleh baut.
4.5 Sistem Maintenance Pada Bearing atau bantalan
Pada bearing atau bantalan perawatan yang dilakukan ialah :
a. Memeriksa kelayakan gerakan putaran bearing apakah masih layak
digunakan atau tidak setiap 2 bulan sekali
b. Melakukan pemeriksaan kelayakan bearing apakah masih bisa digunakan
atau tidak setiap 2 bulan sekali
c. Memeriksa getaran atau vibrasi yang timbul
d. Dipispot dengan menggunakan minyak gemuk atau greese untuk
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan survey, pengumpulan data dilapangan khususnya di PT Pamina
Adolina Unit Belawan dan dari pengujian alat Mixer Kristalizer ini dapat disimpulkan
bahwa :
1. Proses pencampuran CPO sebanyak 28 Liter dan Detergen 7 Liter. dengan
kapasitas tangki pengadukan 35 Liter
2. Motor Listrik yang digunakan mempunyai:
Putaran (n1) = 2850 rpm
Daya (P) = 125 Watt
Putaran Pada As (n2) = 10 – 7 rpm
3. Detergen Yang digunakan NaLS 0,8 % MgSO40,2% dan 97,2% air.
NaLS (Natrium Laury Sulfat) berfungsi untuk mengikat fraksi stearin sedangkan
berfungsi untuk surfactant agent sehingga kristal stearin yang terbentuk
lebih baik. 4 MgSO
3. NaLS dilarutkan terlebih dahulu, bila dicampur sekaligus bersama-sama dengan
maka akan sukar larut dan dapat menimnbulkan gumlan gumpalan NaLS 4
MgSO
4. Pengadukan dilakukan dengan dengan pengaduk yang dilengkapi scapper pada
ujung lengannya, Pengadukan ini bertujuan agar :
a. Menghomogenkan campuran CPO-detergen
c. Pemerataan suhu disetiap titik
d. Pemerataan penyebaran kristal
5. Pencampuran CPO dan Detergen bertujuan untuk terbentuknya fraksi stearin
mengkristal.
5.2. Saran
a. Penulis Menyadari bahwa masih banyak kekurangan alat Mixer Kristalizer ini
maka dari itu penulis menyarankan kepada teman-teman dan adik – adik untuk
menyempurnakan alat ini seperti pada pendinginan pada pengadukan yaitu
adanya tangki pendingin (Chiller) dan sistem pemompaannya.
b. Menjalankan Perawatan (maintenance) yang sudah sesuai dengan ketentuannya
DAFTAR PUSTAKA
Metcalf and Eddy, Wastewater Engineering treatment Disposal Reuse, 3rd edition,
New york, MacGraw-Hill, Inc. 1991
Sularso, Elemen Mesin2, Jakarta, Penerbit Erlangga,1994
http://id.wikipedia.org/wiki/Gaya_sentrifugal
Zuhal, Dasar Tenaga Listrik, Bandung. Penerbit ITB, 1991
Pandangan Depan Pandangan Samping Pandangan Samping
Gearbox Poros dan Bearing Motor Listrik
Pipa Pemasukan Body Tangki Pipa detergen dan
Pandangan Atas
Pipa Sirkulasi Dan detergen Pandangan Depan
Pulli dan V – belt