Rancang Bangun Sistem Pendeteksi Banjir Pada Daerah Aliran Sungai dengan Menggunakan SCADA (Supervisory Control And Acquisition) Berbasis Mikrokontroler AT89S51

111  28  Download (4)

Teks penuh

(1)

OLEH

GATOT TRIARDI PRAMAJI 111421003

PROGRAM STUDI EKSTENSI S1 ILMU KOMPUTER FAKULTAS ILMU KOMPUTER DAN TEKNOLOGI INFORMASI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)

SKRIPSI

Diajukan untuk melengkapi tugas akhir dan memenuhi syarat mencapai gelar sarjana Komputer

GATOT TRIARDI PRAMAJI 111421003

PROGRAM STUDI EKSTENSI S1 ILMU KOMPUTER FAKULTAS ILMU KOMPUTER DAN TEKNOLOGI INFORMASI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(3)

฀udul : RANCANG BANGUN SISTEM PENDETEKSI BAN฀IR PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI DENGAN MENGGUNAKAN SCADA (฀upervisory Control And Data Acquisition) BERBASIS MIKROKONTROLER AT89S51

Kategori : SKRIPSI

Nama : GATOT TRIARDI PRAMA฀I

Nomor Induk Mahasiswa : 111421003

Program Studi : ILMU KOMPUTER

Fakultas : ILMU KOMPUTER DAN TEKNOLOGI INFOMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Komisi Pembimbing :

Pembimbing 2 Pembimbing 1

Drs. Dahlan Sitompul, M.Eng Dr. Poltak Sihombing, M.kom 19670725 200501 1 002 19620317 199103 1 001

Diketahui/disetujui oleh S1 – ILMU KOMPUTER Ketua,

Dr. Poltak Sihombing, M.Kom 19620317 199103 1 001

(4)

RANCANG BANGUN SISTEM ฀ENDETEKSI BANJIR ฀ADA DAERAH ALIRAN SUNGAI DENGAN MENGGUNAKAN SCADA (฀upervisory Control

And Data Acquisition) BERBASIS MIKROKONTROLER AT89S51

DRAFT SKRI฀SI

฀enulis mengakui bahwa skripsi ini adalah hasil karya sendiri, kecuali beberaapa ringkasan dan kutipan yang masing – masing disebutkan sumbernya.

Medan, Oktober 2014

(5)

PENGHARGAAN

Alhamdullilah, Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT,

yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya serta karunianya sehingga

skripsi ini berhasil penulis selesaikan dalam waktu yang telah ditetapkan . dimana

skripsi ini sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Komputer pada

Program Studi Ekstensi S1 Ilmu Komputer Universitas Sumatera Utara.

Shalawat beriring salaim saya hadiahkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW.

Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Bapak Dr. Poltak Sihombing,

M.Kom sebagai pembimbing I dan Bapak Drs. Dahlan Sitompul, M.Eng selaku

pembimbing II yang telah memberikan bimbingan, saran, dan masukan untuk

menyempurnakan kajian penelitian ini. Panduan ringkas dan padat serta profesional

telah diberikan kepada penulis untuk dapat menyelesaikan skripsi ini. Selanjutnya

kepada para Dosen penguji Bapak M. Andri Budiman, ST, M.Comp.Sc, MEM dan

Bapak Drs. Agus Salim Harahap, Msi atas saran dan kritikan yang sangat berguna

bagi penyelesaian skripsi ini. Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada Ketua

Program Studi Ekstensi S1 Ilmu Komputer, Bapak Dr. Poltak Sihombing, M.Kom

Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi Universitas Suratera Utara, semua

dosen Program Studi S1 Ilmu Komputer USU, dan pegawai di Ilmu Komputer USU.

Untuk kedua orangtua dan keluarga saya yang telah memberikan

dukungan, do'a dan motivasi yang menggugah. Skripsi ini terutama penulis

persembahkan untuk Papa (H.Mulyadi), Mama (Hj.Sri Astuty) dan kakanda

Poppy E.H dan Puput D.H, adinda sayang Darayani yang membimbing saya

sampai saat ini dan saat yang akan datang. Dan tak lupa juga penulis ucapkan

kepada Project Manager PT.SIS, Bapak M.Sholihin dan Head Departement

Enginering & Estimation, Bapak Istadi atas kerendahan hatinya memberikan

(6)

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari

kesempurnaan, karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Oleh karena

itu saya menerima kritik dan saran yang bersifatnya membangun demi

kesempurnaan skripsi ini. Sehingga dapat bermanfaat bagi kita semuanya. Akhir

kata Penulis Ucapkan Terima Kasih.

Medan , Oktober 2014

(7)

banjir ke pada seluruh warga (main layer information), memiliki tingkat urgensi yang sangat tinggi. Banjir yang kerap kali datang secara tiba – tiba menimbulkan kerugian yang sangat besar, sehingga warga tidak dapat bersiaga mennghadapi bencana banjir. Pemecahan masalah banjir yang telah dibagun sejauh ini belum mampu untuk mereduksi kerugian dikarenakan informasi tersebut masih lamban. Visialisasi dan pencatatan sekala manual membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dapat menyimpulkan bahwa terjadi kenaikan rata muka air secara signifikan. Untuk pemecahan masalah tersebut, dirancanglah sebuah sistem pendeteksi yang mampu memonitor ketinggian rata-rata air secara real time, serta dapat memberikan peringatan kepada pengguna informasi tentang banjir. Diawali oleh sensor ultrasonik yang mampu mendetaksi pergerakan tinggi muka air pada DAS, data hasil pengukuran tersebut akan diolah menggunakan Mikrokontroller tipe AT89S51 sebagai pusat pengolahan data, dan selanjutnya data tersebut dikirim menggunakan media komunikasi wireless infrared untuk selajutnya ditampilkan pada Grafik User Interface (GUI) pada PC. Sistem Super฀isory And Data Aquisition (SCADA) yang dibangun sudah dilengkapi pengolahan data secara real time, animasi lampu indikator, sirene sebagai tanda peringatan dini, dan data base sebagai media penyimpanan data monitoring hasil pengukuran. Dari percobaan yang telah dilakukan, didapat kesimpulan bahwa sistem sudah mampu mendeteksi tinggi – rendahnya muka air dengan akurat dan menampilkan hasil monitoring tersebut pada GUI.

(8)

BASE฀ MICROCONTROLLER AT89S51

ABSTRACT

The need for a real time flooding information on watersheds (DAS) flood prone to the whole community (main layer information), has a ฀ery high degree of urgency. Flooding that often come suddenly causing ฀ery large losses, so that citizens can not prepare for flooding. Trouble sol฀e the problem of flooding who has been built so far ha฀e not been able to reduce the information loss due to still slowly. Visualizing and manual recording scale requires a long time to be able to conclude that an increase in The a฀erage water le฀el significantly. For to sol฀ing this problem, designed detection system that is able to monitoring the an a฀erage altitude of the water in real time, and can gi฀e a warning to the user information about the flooding. Preceded by an ultrasonic sensing is able to detect the mo฀ement of water le฀el in the watershed, the measurement result data will be processed using microcontroller type AT89S51 as the data processing center, and then the data is sent using infrared wireless communication medium to hereinafter displayed on the Graphic User Interface (GUI) on PC. Super฀isory System And Data Acquisition (SCADA), which is built is equipped with data processing in real time, the animated indicator lights, sirens as early warning signs, and the data base for the storage of monitoring data of the measurement results. From the experiments ha฀e been conducted, be concluded that system is already capable of detecting high - low water le฀el accurately and display the results of such monitoring on the GUI.

(9)

Persetujuan ii

Pernyataan iii

Penghargaan i฀

Abstrak ฀

Abstrac ฀i

Daftar Isi ฀ii

Daftar Tabel xi

Daftar Gambar xii

Daftar Lampiran xi฀

BAB 1 PENDAHULUAN 1

1.1 Latar Belakang 1

1.2 Rumusan Masalah 2

1.3 Batasan Masalah 2

1.4 Tujuan Penelitian 3

1.5 Manfaat Penelitian 3

1.6 Metodologi Penelitian 3

(10)

2.2 S฀nar Infra Merah 6

2.3 Gelombang Ultrason฀c 7

2.4 Perangkat Keras S฀stem 8

2.4.1 M฀krokontroler 8

2.4.1.1 Ars฀tektur M฀krokontroler AT89S51 8

2.4.1.2 Spes฀f฀kas฀ Pent฀ng AT89S51 9

2.4.1.3 Struktur Pengoperas฀an Port 12

2.4.2 Sensor 14

2.4.2.1 Tranduser Ultrason฀c 15

2.4.2.2 Sensor Ultrason฀c PING Parallax 15

2.4.3 MAX232 17

2.4.4 Komun฀kas฀ Ser฀al RS232 19

2.5 Perangkat Lunak S฀stem 21

2.5.1 Bahasa Assembly 21

2.5.2 Software 8051 Ed฀tor, Assembler, S฀mulator (IDE) 26

2.5.3 Software Downloader 27

2.5.4 V฀sual Bas฀c 6.0 27

2.5.4.1 Konsep Dasar Pemrograman Dalam V฀sual Bas฀c 6.0 28

2.6 Flow Chart 29

2.6.1 Data Flow D฀agram (DFD) 30

BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN 32

(11)

3.1.3 Perancangan Sensor 33

3.1.4 Perancangan Power Supply (PSA) 35

3.1.5 Perancangan Rangkaian Mikrokontroler AT89S51 35

3.1.6 Perancangan Rangkaian Pengirim Data Melalui Infra Merah 37

3.1.7 Perancangan Rangkaian Penerima Data Melalui Infra Merah 39

3.2 Perancangan Software 40

3.2.1 Flow Chart Minimum sistem Mikrokontroler 41

3.2.2 Perancangan Permodelan Sistem Dengan Use Case Diagram 42

3.2.3 Perancangan Data Flow Diagram (DFD) 44

3.2.3.1 DFD Level 0 45

3.2.3.2 DFD Level 1 45

3.2.4 Perancangan Antar Muka (Interface) 45

3.2.4.1 Rancangan Menu Utama 46

3.2.4.2 Rancangan Form Connection Port 47

3.2.4.3 Rancangan Form Hasil Pengukuran Acquisition Data 47

3.2.4.4 Rancangan About 48

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN SISTEM 49

4.1 Pengujian Perangkat Hardware 49

4.1.1 Pengujian Mikrokontroler AT89S51 49

4.1.2 Pengujian Sensor Ultrasonic 51

(12)

4.1.4.1 Pengujian Rangkaian Pengirim Data 57

4.1.4.2 Pengujian Rangkaian Penerima Data 60

4.2 Pengujian Perangkat Lunak 61

4.2.1 Spesifikasi Kebutuhan Hardware 61

4.2.2 Spesifikasi Kebutuhan Software 61

4.2.3 Tampilan Interface Sistem 62

4.2.3.1 Tampilan Menu Utama 62

4.2.3.2 Tampilan Form Koneksi Port Serial 62

4.2.3.3 Tampilan Hasil Pengukuran Acquisition Data 63

4.2.3.4 Tampilan About 64

4.3 Hasil Implementasi Dan Pengujian 64

4.3.1 Hasil Pengujian Keseluruhan Sistem 64

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 66

5.1 Kesimpulan 66

5.2 Saran 66

(13)

Hal.

TABEL 2.1 Simbol-simbol Flowchart Diagram 30

TABEL 2.2 Simbol-simbol Data Flow Diagram 31

TABEL 3.1 Naratif Use Case Sistem Akuisisi Data Pengukur Tinggi Muka Air 43

TABEL 4.1 Hasil Data Bit Aktual Dari Varian Jarak Sensor 53

TABEL 4.2 Hasil Analisis Ketelitian Alat 55

(14)

Hal.

GAMBAR 2.1 Spektrum Sinar 6

GAMBAR 2.2 Pembagian Rentang Frekuensi Gelombang Akustik 7

GAMBAR 2.3 Diagram Blok AT89S51 8

GAMBAR 2.4 Susunan Pin pada Mikrokontroler AT89S51 10

GAMBAR 2.5 Sensor Ultrasonic PING Paralla฀ 15

GAMBAR 2.6 Diagram Waktu Sensor PING 17

GAMBAR 2.7 Jarak Ukur Sensor PING 17

GAMBAR 2.8 Skema Diagram IC MAX232 18

GAMBAR 2.9 Gelombang INformasi untuk Komunikasi Serial 19

GAMBAR 2.10 Konfigurasi Pin Konektor Serial DB9 20

GAMBAR 2.11 8051 Editor, Assembler, Simulator (IDE) 26

GAMBAR 2.12 Tampilan Software Downloader 27

GAMBAR 2.13 Interface Visual Basic 6.0 27

GAMBAR 3.1 Diagram Blok Sistem Pendeteksi Banjir 32

GAMBAR 3.2 Perancangan Sensor Ultrasonic PING 33

GAMBAR 3.3 Driver Sensor Ultrasonic PING 34

GAMBAR 3.4 Rangkaian Power Supply (PSA) 35

GAMBAR 3.5 Rangkaian Mikrokontroler AT89S51 36

GAMBAR 3.6 Rangkaian Pengirim Data Melalui Media Infra Merah 37

(15)

GAMBAR 3.9 Use Case Diagram Sistem Aplikasi 42

GAMBAR 3.10 Activity Diagram Sistem Akuisisi Data 44

GAMBAR 3.11 DFD Level 0 Proses Sistem Akuisisi Data Pendeteksi Banjir 45

GAMBAR 3.12 DFD Level 1 Proses Sistem Akuisisi Data dan Data Base 45

GAMBAR 3.13 Rancangan Menu Utama 46

GAMBAR 3.14 Rancangan Form Koneksi Port Serial 47

GAMBAR 3.15 Rancangan Form Acquisition Data 48

GAMBAR 3.16 Rancangan About 48

GAMBAR 4.1 Pengujian Rangkaian Mikrokontroler AT89S51 49

GAMBAR 4.2 Rangkaian Penguji Sensor Ultrasonic 51

GAMBAR 4.3 Grafik Data Teori vs Jarak 54

GAMBAR 4.4 Grafik Data Aktual Praktek vs Jarak 55

GAMBAR 4.5 Rangkaian LED Pemancar Infra Merah 57

GAMBAR 4.6 Rangkaian TSOP 1738 Penerima Infra Merah 60

GAMBAR 4.7 Tampilan Menu Utama 62

GAMBAR 4.8 Tampilan Form Sub Menu Connection Port 63

GAMBAR 4.9 Tampilan Form Sub Menu Acquisition Data 63

GAMBAR 4.10 Tampilan Sub Menu About 64

(16)

Hal.

LAMPIRAN 1฀ Listing Program Visual Basic 6.0 A – 1

LAMPIRAN 2. Listing Program Assembly B – 1

(17)

banjir ke pada seluruh warga (main layer information), memiliki tingkat urgensi yang sangat tinggi. Banjir yang kerap kali datang secara tiba – tiba menimbulkan kerugian yang sangat besar, sehingga warga tidak dapat bersiaga mennghadapi bencana banjir. Pemecahan masalah banjir yang telah dibagun sejauh ini belum mampu untuk mereduksi kerugian dikarenakan informasi tersebut masih lamban. Visialisasi dan pencatatan sekala manual membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dapat menyimpulkan bahwa terjadi kenaikan rata muka air secara signifikan. Untuk pemecahan masalah tersebut, dirancanglah sebuah sistem pendeteksi yang mampu memonitor ketinggian rata-rata air secara real time, serta dapat memberikan peringatan kepada pengguna informasi tentang banjir. Diawali oleh sensor ultrasonik yang mampu mendetaksi pergerakan tinggi muka air pada DAS, data hasil pengukuran tersebut akan diolah menggunakan Mikrokontroller tipe AT89S51 sebagai pusat pengolahan data, dan selanjutnya data tersebut dikirim menggunakan media komunikasi wireless infrared untuk selajutnya ditampilkan pada Grafik User Interface (GUI) pada PC. Sistem Super฀isory And Data Aquisition (SCADA) yang dibangun sudah dilengkapi pengolahan data secara real time, animasi lampu indikator, sirene sebagai tanda peringatan dini, dan data base sebagai media penyimpanan data monitoring hasil pengukuran. Dari percobaan yang telah dilakukan, didapat kesimpulan bahwa sistem sudah mampu mendeteksi tinggi – rendahnya muka air dengan akurat dan menampilkan hasil monitoring tersebut pada GUI.

(18)

BASE฀ MICROCONTROLLER AT89S51

ABSTRACT

The need for a real time flooding information on watersheds (DAS) flood prone to the whole community (main layer information), has a ฀ery high degree of urgency. Flooding that often come suddenly causing ฀ery large losses, so that citizens can not prepare for flooding. Trouble sol฀e the problem of flooding who has been built so far ha฀e not been able to reduce the information loss due to still slowly. Visualizing and manual recording scale requires a long time to be able to conclude that an increase in The a฀erage water le฀el significantly. For to sol฀ing this problem, designed detection system that is able to monitoring the an a฀erage altitude of the water in real time, and can gi฀e a warning to the user information about the flooding. Preceded by an ultrasonic sensing is able to detect the mo฀ement of water le฀el in the watershed, the measurement result data will be processed using microcontroller type AT89S51 as the data processing center, and then the data is sent using infrared wireless communication medium to hereinafter displayed on the Graphic User Interface (GUI) on PC. Super฀isory System And Data Acquisition (SCADA), which is built is equipped with data processing in real time, the animated indicator lights, sirens as early warning signs, and the data base for the storage of monitoring data of the measurement results. From the experiments ha฀e been conducted, be concluded that system is already capable of detecting high - low water le฀el accurately and display the results of such monitoring on the GUI.

(19)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Air sungai yang meluap diakibatkan oleh curah hujan yang tinggi dan dalam selang

waktu yang lama terjadi di bagian hulu sungai. Ketidak tersedianya daerah resapan

yang diakibatkan oleh penebangan liar yang terjadi di daerah aliran sungai (DAS)

megakibatkan air tidak dapat meresap, sehingga jalan satu-satunya aliran air

seluruhnya tertumpah ke aliran sungai, sehingga permukaan air pada sungai akan

meningkat.

Banjir kerapkali datang tidak terduga secara tiba-tiba tanpa adanya informasi

yang akurat. Akibatnya tidak sedikit masyarakat di hilir sungai harus menanggung

resiko terkena dampak bencana banjir yang dapat menelan kerugian harta benda, serta

mengganggu kegiatan perekonomian di daerah tersebut maupun kehilangan nyawa.

Kerugian yang cukup besar tersebut dikarenakan masih kurang dan terbatasnya sistem

pemantau dan peringatan dini akan bencana banjir pada DAS. Dewasa ini penerapan

teknologi informasi pada bendungan atau DAS di hulu sungai masih menggunakan

teknologi konvensional dengan memanfaatkan visualisasi manual yang dilakukan oleh

operator terhadap tinggi-rendahnya permukaan air, sehingga tidak dapat memantau

serta menginformasikan ketinggian dan debit air secara Real Time. Adapun upaya

yang lain sudah dilakukan secara sistem konvensional, salah satunya dengan

menggunakan informasi SMS (Short Message Service) dari warga yang berada di hulu

sungai. Tetepi cara konvensional ini masih mempunyai kelemahan, diantaranya

informasi yang disampaikan hanya kepada beberapa warga di hilir sungai dan bukan

kepada seluruh warga (Second layer), hal ini dipengaruhi juga terhadap ketersediaan

layanan provider dan jaringan pada daerah hulu sungai, sehingga warga tidak dapat

(20)

Seharusnya masalah banjir ini memiliki tingkat urgensi yang sangat tinggi,

sehingga harus dibangun sebuah sistem mandiri yang ditujukan kepada pengelola

informasi untuk disampaikan ke (Main layer) semua warga di hilir sungai.

Berangkat dari permasalahan ini maka dibutuhkan suatu prototipe sistem

pendeteksi banjir pada bendungan dengan menggunakan SCADA ( Supervisory

Control And Data Acquisition ), dimana di awali oleh proses pengukuran sensor

ketinggian (level sensing) air di aliran sungai, sehingga didapatlah besaran – besaran

paremeter tersebut secara Real Time dari keluaran sensor. Berdasar dari kebutuhan

real time inilah dibutuhkan data akurat yang selanjutnya mengirimkan informasi

secara cepat dan kontinyu pada pusat sistem, sehingga apabila terjadi kenaikan aliran

permukaan secara signifikan, sistem akan melakukan suatu tindakan

menginformasikan tinggi air serta memberikan peringatan kepada warga masyarakat

yang berada di hilir sungai.

Dengan adanya sistem ini diharapkan dapat menginformasikan tinggi air pada

aliran sungai Sehingga masyarakat yang berada di hilir sungai dapat bersiaga serta

dapat mereduksi kerugian – kerugian yang ditimbulkan oleh banjir tersebut.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, perlu dibuat suatu sistem yang dapat memberikan

informasi secara dini tentang tinggi muka air pada aliran di hulu sungai, serta

pengelolaan informasi dan akuisisi data.

1.3 Batasan Masalah

Adapun batasan masalah pada masalah ini adalah sebagai berikut:

1. Hanya membahas mengenai rancang bangun pendeteksi banjir Jarak Jauh

menggunakan sistem komunikasi data wireless Infrared secara umum.

2. Sensor yang digunakan adalah sensor ultra sonic buatan PING ))) parallax.

3. Mikrokontroler yang digunakan adalah mikrokontroler MCS-51 tipe AT89S51.

4. Bahasa yang digunakan dalam pemrograman mikrokontroller adalah bahasa

visual basic 6.0 dan bahasa Assembly.

5. Pengiriman dan penerima data telemetri dilakukan secara wireless menggunakan

(21)

1.4 Tujuan Penelitian

Membuat suatu alat yang mampu mendeteksi kondisi debit air pada DAS serta

menyampaikan informasi tersebut kepada pengguna.

1.5 Manfaat penelitian

Diharapkan alat ini dapat memberikan data yang akurat dari pengukuran dan

selanjutnya peringatan dini kepada masyarakat di hilir sungai sehingga dapat

mereduksi kerugian – kerugian yang ditimbulkan oleh banjir tersebut pada daerah

aliran sungai rawan banjir.

1.6 Metodologi Penelitian

Untuk mempermudah pemahaman serta pembahasan bagaimana sebenarnya prinsip

kerja alat sistem pendeteksi banjir pada DAS dengan menggunakan SCADA dan

Mikrokontroller AT89S51, maka sistematika metodologi penelitian laporan tugas

akhir ini adalah sebagai berikut:

1. Studi Literatur

Pada studi literatur akan dilakukan studi kepustakaan melelui penelitian berupa

buku, jurnal dan artikel-artikel yang relevan, serta mempelajari lebih jauh tentang

cara pengukuran ketinggian (Level Sensing) muka air dan Mikrokontroller.

2. Pengumpulan Data

Dalam tahapan selanjutnya yaitu pengumpulan data-data yang valid mengenai

cara pengukuran ketinggian air menggunakan sensor ultra sonik.

3. Analisis dan Perancangan Sistem

Dilakukan analisis terhadap masalah-masalah yang terjadi untuk mendapatkan

solusi terbaik terhadap masalah tersebut dan membuat perencanaan struktur

rangkaian dasar yaitu : diagram blok rangkaian, flowchart (diagram alir) program,

skematik dari masing-masing sub rangkaian, serta program yang akan diisikan ke

mikrokontroller AT89S51 untuk menunjang kinerja sistem pengukuran tinggi

(22)

4. Pengujian sistem

Pada tahapan ini akan dilakukan pengujian sistem secara keseluruhan baik dari

perangkat keras maupun dari perangkat lunak untuk melihat apakah sistem sudah

sesuai dengan perancangan.

1.7 Sistematika Penulisan

Susunan penulisan Tugas Akhir ini disajikan dalam beberapa bab, yaitu:

BAB 1 : PENDAHULUAN

Dalam bab ini berisikan mengenai latar belakang, rumusan masalah, tujuan

penulisan, batasan masalah, serta sistematika penulisan.

BAB 2 : LANDASAN TEORI

Dalam bab ini dijelaskan tentang teori pendukung yang digunakan untuk

pembahasan dan cara kerja rangkaian. Teori pendukung yang di bahas antara lain:

sensor Ping ))), Mikrokontroller, bahasa pemograman yang digunakan,serta

karakteristik dari komponen-komponen pendukung.

BAB 3 : PERANCANGAN ALAT DAN PROGRAM

Pada bagian ini akan dibahas sistem perancangan alat yaitu: diagram blok

rangkaian, flowchart (diagram alir) dari rangkaian, skematik dari masing-masing sub

rangkaian, serta program yang akan diisikan ke mikrokontroller AT89S51.

BAB 4 : PENGUJIAN DAN ANALISA

Dalam bab ini akan dibahas tentang hasil pengujian dan analisa dari alat untuk

membuktikan kebenaran dari alat yang dibuat.

BAB 5 : PENUTUP

Bab ini menjelaskan kesimpulan dan saran dari alat ataupun data yang

(23)

BAB 2

LANDASAN TEORI

2.1.Pengukuran

Pada kenyataanya pengukuran sering dilakukan oleh manusia, dikarenakan untuk

mendapatkan perbandingan ataupun tolak ukur terhadap suatu keadaan. Secara

harafiah pengukuran yaitu kegiatan atau proses membandingkan sesuatu

besaran-besaran dasar (panjang, massa, waktu dan sebagainya) dan relevan yang dipakai untuk

tujuan mendifinisikan atau memberikan gambaran yang jelas tentang suatu objek

besaran yang diukur. Salah satu contohnya yaitu mengukur ketinggian muka air di

sungai sehingga didapat suatu definisi tertentu dari keadaan yang diukur yaitu tinggi

atau rendah pada permukaan air sungai tersebut.

Dilihat dari tinjauan tujuan pengukuran, setidaknya dapat memenuhi tiga aspek

diantaranya yaitu :

1. ketelitian (presision)

ketelitian alat menyatakan derajat kepastian hasil pengukuran. Suatu alat ukur

dikatakan memiliki tingkat ketelitian yang tinggi jika dilakukan pengukuran

beberapa kali, dimana nilai yang didapat mendekati sama atau konstan terhadap

besaran acuan.

2. Ketepatan (Akurasi)

Akurasi adalah kesesuaian antara hasil pengukuran dengan nilai yang sebenarnya

(standar). Dengan kata lain suatu alat ukur harus memiliki kehandalan terhadap

(24)

3. Sensitivitas (kepekaan)

Kepekaan suatu alat ukur adalah ukuran minimal yang masih terseteksi oleh alat

tersebut yang ditentukan berdasarkan respon terjadinya perbedaan suatu besaran

yang terdeteksi atau terbaca persatuan besaran sebenarnya.

2.2. Sinar Inframerah

Spektrum sinar matahari terdiri dari cahaya tampak dan tidak tampak yang dibawa

oleh materi gelombang elektromagnetik dari cahaya matahari. Sinar infra merah

merupakan sianar tidak tampak (antara 700 nm dan 1 mm) dikarenakan panjang

gelombang lebih besar dari cahaya tampak, sehingga tidak terlihat oleh mata. Namun

demikian, radiasi panas yang ditimbulkan infra merah masih terasa atau masih dapat

terdeteksi. Infra merah dapat dibedakan menjadi tiga,yaitu:NIR, MIR dan FIR.

Gambar 2.1 Spektrum sinar

Infra merah dapat dibedakan menjadi tiga daerah yakni:

1. Near Infra Merah (0.75 - 1.5 µm)

Near IR atau NIR, yaitu infra merah dengan panjang gelombang pendek ( =0.75- 1.5µm), banyak digunakan untuk pencitraan pandangan malam seperti pada

(25)

2. Mid Infra Merah (1.50 - 10 µm)

Mid IR atau MIR, yaitu infra merah dengan panjang gelombang menengah ( =1.50-10µm), banyak digunakan pada teropong bintang pada Observatorium. 3. Far Infra Merah (10 - 100 µm)

Far IR atau FIR, yaitu infra merah dengan gelombang panjang ( =10-100µm)

digunakan pada alat-alat kesehatan, yang kemudian dikembangkan lagi pada

bidang-bidang lainnya, seperti keamanan di bandara berupa pengecekkan senjata

biasa, senjata kimia, senjata biologi serta senjata lainnya serta dapat dimanfaatkan

sebagai media pengirim dan penerima data dalam jalur komunikasi wireless.

2.3 GelombangUltrasonic

Gelombang Ultrasonik atau gelombang suara yaitu suatu gelombang yang

dirambatkan sebagai gelombang mekanik yang menjalar dalam beberapa medium,

diantaranya medium padat, cair atau pun gas. Gelombang suara ini merupakan getaran

antar molekul zat yang saling beradu satu sama lain. Namun demikian zat tersebut

terkoordinasi menjadi suatu gelombang dan mentransmisikan energi tampa adanya

perpindahan partikel.

Gambar 2.2. Pembagian rentang Frekuensi gelombang Akustik

Gelombang ultrasonik merupakan gelombang mekanik dengan frekuensi diatas

20 kHz sehingga tidak terdengar oleh telinga manusia. Gelombang ini banyak

dimanfaatkan dalam bidang dunia industri, maritim, dan kedokteran. Dalam dunia

industri sering dijumpai pengukuran ketinggian atau sound test untuk melihat retakan

pada material, sedangkan didunia kedokteran gelombang ultrasonik digunakan sebagai

(26)

2.4 Prangkat Keras Sistem

2.4.1 Mikrokontroler

Dalam merancang aplikasi elektronika digital dibutuhkan sebuah alat/komponen yang

dapat menghitung, mengingat, dan mengambil pilihan serta digunakan sebagai

pemrosesan data. Kemampuan ini dimiliki oleh sebuah komputer, namun tidaklah

efisien jika harus menggunakan komputer hanya untuk keperluan tersebut. Untuk itu

peran komputer dapat digantikan dengan sebuah minimun sistem mikrokontroler.

Sistem kerja Mikrokontroler sama dengan mikroprosesor, namun

mikrokontroller lebih efisien untuk keperluan aplikasi elektronika digital sederhana

dikarenakan pada device ini sudah terdapat RAM, ROM, dan prosesor dalam satu

chip. Mikrokontroler seri MCS-51 termasuk sederhana, murah dan mudah didapat

dipasaran. Salah satu mikrokontroler seri MCS-51 adalah mikrokontroler AT89S51.

2.4.1.1 Arsitektur Mikrokontroler AT89S51

Mikrokontroler AT89S51 adalah mikrokontroler keluaran ATMEL.Inc.

Mikrokontroler ini kompatibel dengan keluaran mikrokontroler 80C51.

Mikrokontroller AT89S51 terdiri dari 40 pin dan sudah memiliki memory flash

didalamnya, sehingga sangat praktis untuk digunakan. Berikut diagram blok AT89S51

secara umum terdapat 4 port untuk I/O serta tersedianya akumulator, RAM, Stac

pointer, ALU, pengunci (latch) dan rangkaian osilasi.

(27)

Beberapa kemampuan (fitur) yang dimiliki adalah sebagai berikut :

1. Memiliki 4K Flash EPROM yang digunakan untuk menyimpan program.

Flash EPROM(Erasable Programmable Read Only Memory) dapat ditulis dan

dihapus sebanyak 1000 kali (menurut manual).

2. Memiliki internal RAM 128 byte.

RAM (Random Access Memory), suatu memori yang datanya akan hilang bila

catu padam, diakses secara random, tidak sekuensial, artinya dialamat mana saja

dapat dicapai secara langsung dengan cepat.

3. 4 buah 8-bit I/O (Input/Output) port

Port ini berfungsi sebagai terminal input dan output. Selain itu, dapat digunakan

sebagai terminal komunikasi paralel, serta komunikasi serial (pin10 dan 11).

4. Dua buah timer/counter 16 bit.

5. Operasi clock dari 0 hingga 24 MHz

6. Program bisa diproteksi, sehingga tidak dapat dibaca oleh orang lain.

7. Menangani 6 sumber interupsi.

2.4.1.2 Spesifikasi penting AT89S51 :

Untuk mendukung fungsi pengendalian, mikrokontroller AT89S51

memiliki spesipikasi yaitu:

1. Tegangan kerja 4-5.0V .

2. Bekerja dengan rentang 0 – 33MHz.

3. 256x8 bit RAM internal.

4. 32 jalur I/0 dapat deprogram.

5. 3 buah 16 bit Timer/Counter.

6. 8 sumber interrupt.

7. Saluran full dupleks serial UART yang dapat digunakan sebagai

media transfer data serial atau pun parallel ke PC.

(28)

Berikut adalah gambar susunan pin pada Mikrokontroller AT89S51:

Gambar 2.4 Susunan Pin pada Mikrokontroller AT89S51

Keterangan fungsi-fungsi masing-masing pin adalah sebagai berikut :

Pin 40 : Vcc, Masukan catu daya +5 volt DC

Pin 20 : Gnd, Masukan catu daya 0 volt DC

Pin 32-39 : P0.0-P0.7, Port input/output delapan bit dua arah yang juga dapat

berfungsi sebagai bus data dan bus alamat bila mikrokontroler

menggunakan memori luar (eksternal).

Pin 1-8 : P1.0-P1.7, Port input/output dua arah delapan bit dengan internal

pull up.

Pin 10-17 : P3.0-P3.7Port input/output delapan bit dua arah, selain itu Port 3

juga memiliki alternativef fungsi sebagai :

RXD (pin 10) : Port komunikasi input serial

(29)

INT0 (pin 12) : Saluran Interupsi eksternal 0 (aktif rendah)

INT1 (pin 13) : Saluran Interupsi eksternal 1 (aktif rendah)

T0 (pin 14) : Input Timer 0

T1 (pin 15) : Input Timer 1

WR (pin 16) : Berfungsi sebagai sinyal kendali tulis, saat prosesor akan menulis

data ke memori I/O luar.

RD (pin 17) : Berfungsi sebagai sinyal kendali baca, saat prosesor akan membaca

data dari memori I/O luar.

Pin 9 : RESET, Pin yang berfungsi untuk mereset mikrokontroller

AT89S51 ke keadaan awal.

Pin 30 : ALE (Address Latch Enable), berfungsi menahan sementara

alamat byte rendah pada proses pengalamatan ke memori eksternal.

Pin 29 : PSEN (Program Store Enable), Sinyal pengontrol yang berfungsi

untuk membaca program dari memori eksternal.

Pin 31 : EA, Pin untuk pilihan program, menggunakan program internal : atau eksternal. Bila „0‟, maka digunakan program eksternal.

Pin 19 : X1, Masukan ke rangkaian osilator internal. Sumber osilator

eksternal atau quartz crystal kristal dapat digunakan.

Pin 18 : X2, Masukan ke rangkaian osilator internal, koneksi quartz crystal

(30)

2.4.1.3 Struktur Pengoperasian Port

Struktur pengoperasian port terdiri atas :

a. Port Input/Output

One chip mikrokontroller ini memiliki 32 jalur port yang dibagi menjadi 4 buah port 8

bit. Masing-masing port ini bersifat bidirectional sehingga dapat digunakan sebagai

input port atau output port. Pada bok diagram AT89S51 dapat dilihat latch tiap bit

pada keempat port : port 0, port 1, port 2, port 3. Masing-masing jalur port terdiri dari

latch, output driver dan input buffer. Port 0 dan port 2 dapat digunakan sebagai

saluran data dan alamat. Port 0 sebagai saluran data, sedangkan port 2 sebagai saluran

data dan alamat sekaligus yang dimultipleks. Untuk mengakses memory eksternal,

port 0 akan mengeluarkan alamat bawah memori eksternal yang dimultipleks dengan

data yang dibaca dan ditulis. Sedangkan port 2 mengeluarkan bagian atas memory

eksternal sehingga total alamat semuanya 16 bit.

Latch yang digunakan dapat dipresentasikan dengan D-FlipFlop. Data dari bus

internal di-latch saat CPU memberi sinyal tulis ke latch dan output latch diberikan ke

bus internal sebagai respon dari sinyal baca pin dari CPU. Beberapa instruksi yang

berfungsi membaca port mengaktifkan sinyal baca latch dan yang lain mengaktifkan

sinyal baca pin. Port 1, port 2, dan port 3 mempunyai pull-up internal, sedangkan port

0 dengan open drain. Masing-masing jalur I/O dapat digunakan sebagai input atau

output. Bila digunakan sebagai input, port latch harus 1. Untuk port 1, 2 dan 3, pin-pin

akan di pull-up tinggi oleh pull-up internal, dan bisa juga di pull-up rendah dengan

sumber eksternal.

b. Timer/Counter

One chip mikrokontroller ini memilik dua timer yang dapat dikonfigurasikan

beroperasi sebagai timer atau counter. Saat berfungsi sebagai timer, isi register timer

ditambah 1 untuk tiap siklus mesin, sedangkan untuk fungsi counter isi register akan

bertambah 1 setiap ada transisi sinyal pada pin input eksternal.

Pada pemanfaatan sebagai counter, sinyal input yang dimaksudkan dapat

(31)

yang ada sesuai inisialisasi harga awal dari counter pada nilai hitungan untuk tiap

sampling. Inisialisasi harga awal ini berupa nilai preset negatif counter yang diatur

sebelum counter dijalankan.

Demikian halnya dengan pemanfaatan timer yang memerlukan inisialisasi

awal berupa konstanta waktu yang menentukan sampai berapa lama akan terjadi roll

over. Penentuan harga preset ini berhubungan dengan penggunaan frekuensi clock dari

sistem penentu waktu sampling dari counter untuk mencacah suatu pulsa masukan

dari luar dengan memanfaatkan kontrol interupsi yang ada serta pengaturan program.

Sebagai tambahan pada pemilihan countr/timer, timer 0 dan timer 1 mempunyai 4

buah modul yang dapat dipilih dengan menentukan pasangan bit M0 dan M1 pada

register TMOD. Untuk pemilihan timer/counter dikontrol dengan bit C/T di TMOD.

1. Mode 0

Overflow dari TL1 tidak hanya menset TF1 tapi juga mereload TL1 dengan isi TH1.

Setelah reload isi TH1 tidak akan berubah. Operasi mode ini juga sama dengan

timer/counter 0.

4. Mode 3

Pada mode ini timer 1 tidak akan bekerja. Sedangkan timer 0 menjadi 2 counter yang

terpisah. TL0 digunakan sebagai bit kontrol untuk timer 0; C/T, GATE, TR0, INT0,

(32)

2.4.2 Sensor

Definisi umum sensor adalah perangkat atau divais yang digunakan untuk merubah

suatu besaran fisis atau kimia menjadi besaran listrik sehingga dapat dianalisa dengan

rangkaian listrik tertentu [Jacob Fraden,2004]. Sensor dapat diklasifikasikan sesuai

dengan jenis transfer energi yang dapat dideteksi yaitu:

a. sensor Thermal

Sensor thermal adalah sensor yang digunakan untuk mendeteksi gejala perubahan

panas/temperatur/suhu pada suatu dimensi benda atau dimensi ruang tertentu.

Contohnya thermocouple, Resistan Temprature Detektor (RTD). Kedua contoh

tersebut menggunakan prisip termoelektris. Dua buah logam metal konduktor diatur

suhunya pada salah satu logam sehingga jika terjadi perbedaan suhu akan

menghasilkan tegangan listrik yang variabel.

b. Sensor Radiasi Optik

Sensor optik adalah sensor yang dapat mendeteksi perubahan cahaya dari sumber

cahaya, pantulan cahaya ataupun bias cahaya yang mengenai benda atau ruangan.

Prinsip kerja dari sensor cahaya yaitu mengubah energi foton menjadi elektron.

Dimana 1 foton akan membangkitkan 1 elektron. Penggunaan sensor cahaya sangat

luas, yang paling populer dan sering digunakan adalah kamrea digital. Pada saat ini

juga sudah ada alat yang digunakan untuk mengukur cahaya yang mempunyai 1 buah

foton saja, sebagai contohnya yaitu photo cell, phototransistor, photodioda, photo

voltaik, photomultiplier, pyrometer optic.

c. Sensor Mekanik

Sensor mekanis yaitu sensor yang mendeteksi perubahan gerak mekanis, seperti

perpindahan atau pergeseran posisi, gerak lurus atau melingkar, tekanan, aliran, level

dan lain sebagainya. Prinsip kerja dari sensor mekanis yaitu mengubah besaran

mekanik menjadi sinyal-sinyal elektrik digital Contoh: Strain gauge, Linear Variabel

(33)

2.4.2.1 Tranduser Ultra Sonic

Sensor ultra sonic merupakan sensor yang bekerja dengan memanfaatkan gelombang

ultrasonic dengan cara memancarkan gelombang ultrasonik pada frekuensi 40 KHz

dan kemudian pantulan dari objek akan ditangkap oleh receiver sensor, dengan

demikian akan terjadi beda potensial pada kedua blok transmitter dan receiver. Beda

potensial inilah yang akan membangkitkan pulsa, sehingga lamanya pancaran dari

transmitter yang memantul pada objek dan tertangkap oleh receiver dapat

mengindikasi jarak suatu objek dari pangkal sensor.

2.4.2.2 Sensor Ultra Sonic Ping Parallax

Sensor ultrasonic digunakan untuk mengetahui jarak suatu objek dengan cara

memancarkan gelombang ultra sonic pendek, kemudian menunggu pantulan yang

dipancarkan tesebut kembali ke sensor. Pada perinsipnya pengendalian sensor ultra

sonic menggunakan mikrokontroller yaitu untuk mengeluarkan pulsa pemicu. Di

bagian Transmitter (Tx) gelombang pendek yang di pancarkan sebesar 40Khz akan

melalui udara kira – kira 1130 ft/S, membentur suatu objek dan kemudian kembali ke

sensor dengan diterima pada bagian Reciver (Rx). Sensor ultra sonic memiliki 3 kaki

(pin) yang berfungsi sebagai berikut:

a. Pin Ground

b. Pin supply

c. Pin Input dan Output

Gambar 2.5 Sensor Ultrasonik ping parallax

Spesifikasi sensor :

a. Kisaran pengukuran 3cm-3m.

(34)

c. Echo hold off 750uS dari fall of trigger pulse.

d. Delay before next measurement 200uS.

e. Burst indicator LED menampilkan aktifitas sensor.

Keluaran sensor ini yaitu sebuah pulsa (Frekwensi) yang berhubungan

langsung dengan waktu yang dibutuhkkan gelombang yang tepantul samapai

kebagiain Rx. Dengan mengukur waktu dari gelombang pantulan yang sampai ke

sensor ini maka jarak objek dapat dihitung. Sensor Ping mendeteksi jarak obyek

dengan cara memancarkan gelombang ultrasonik (40 kHz) selama tBURST (200 s)

kemudian mendeteksi pantulannya. Sensor Ping memancarkan gelombang ultrasonic

sesuai dengan kontrol dari mikrokontroler pengendali (pulsa trigger dengan tOUT min. 2 s). Gelombang ultrasonik ini melalui udara dengan kecepatan 344 meter per detik, mengenai obyek dan memantul kembali ke receiver sensor.

Untuk menghitung waktu yang dibutuhkan setiap 1cm pada gelombang

pantulan dapat dihitung dengan menggunakan rumus :

=

(���)

...

(1)

Dimana:

s = Jarak pantulan (m)

v = Kecepatan rambat gelombang ultra sonic pada udara (344 m/s)

t = waktu (s)

(35)

dihitung dengan membandingkan waktu pantulan (tp) dengan waktu per cm (t) lalu

dikalikan dengan 1cm.

Gambar 2.6 Diagram Waktu Sensor Ping

Sensor Ping mengeluarkan pulsa output high pada pin SIG setelah

memancarkan gelombang ultrasonik dan setelah gelombang pantulan terdeteksi Ping

akan membuat output low pada pin SIG. Lebar pulsa High (tIN) akan sesuai dengan

lama waktu tempuh gelombang ultrasonik untuk 2x jarak ukur dengan obyek. Maka

jarak yang diukur adalah :

=

� ∗344 /

2 ...(2)

Gambar 2.7. Jarak Ukur Sensor Ping

2.4.3 Max232

Untuk dapat berkomunikasi antara mikrokontroller dengan komputer, maka

diperlukan suatu penyetaraan level tegangan. Besarnya level tegangan komunikasi

(36)

+25 V untuk logika low (0). Hal ini sangat berbeda dengan level tegangan pada

mikrokontroller (Level Tegangan TTL/CMOS) dimana untuk logika high (1) level

tegangannya adalah 5 V dan untuk logika low (0) level tegangannya adalah 0 V. Oleh

karena itu diperlukan sebuah antarmuka yang dapat menyamakan level tegangan dari

komunikasi serial pada komputer dengan mikrokontroller, yaitu IC RS232 produksi

MAXIM yang disebut MAX232.

MAX232 adalah saluran driver/receiver ganda yang termasuk pembangkit

tegangan kapasitip yang menyediakan level tegangan RS232 dari sebuah sumber

tegangan 5V. Setiap receiver pada IC MAX232 ini mengkonversikan level tegangan

RS232 ke level tegangan TTL/CMOS sebesar 5 V. Dan setiap receiver ini mempunyai

ambang batas sebesar 1.3 V, dan histeresis sebesar 0.5 V, serta dapat menerima

masukan level tegangan ±30 V. Sedangkan untuk setiap driver pada IC MAX232 ini

mengkonversikan level tegangan masukan TTL/CMOS menjadi level tegangan

RS232.

(37)

2.4.4 Komunikasi Serial RS232

RS232 adalah standar komunikasi serial yang didefinisikan sebagai antarmuka antara

perangkat terminal data dan perangkat komunikasi data menggunakan pertukaran data

biner secara serial. Untuk melakukan komunikasi serial dengan standar RS232

digunakan IC Max 232 sebagai sebagai driver, yang akan mengkonversi tegangan atau

kondisi logika TTL dari hardware agar sesuai dengan tegangan pada komputer/

mikrokontroller ataupun sebaliknya sehingga data dapat dibaca.

Komunikasi RS-232 dilakukan secara asinkron (asynchronous), yaitu

komunikasi serial yang tidak memiliki clock bersama antara pengirim dan penerima,

masing-masing dari pengirim maupun penerima memiliki clock sendiri. Yang

dikirimkan dari pengirim ke penerima adalah data dengan baudrate tertentu yang

ditetapkan sebelum komunikasi berlangsung. Setiap word atau byte disinkronkan

dengan start bit, stop bit dan clock internal masing-masing pengirim atau penerima

data.

Gambar 2.9 Gelombang informasi untuk komunukasi serial

Data yang dikirimkan dengan cara seperti pada gambar 2.7 ini disebut data

yang terbingkai (to be framed) oleh start dan stop bit. Jika stop bit dalam keadaan

LOW, berarti telah terjadi framing error. Biasanya hal ini terjadi karena perbedaan

kecepatan komunikasi antara pengirim dengan penerima. Bentuk gelombang

komunikasi serial dengan 8-bit data, tanpa parity, 1 stop bit. Pada keadaan idle atau

menganggur, jalur RS-232 ditandai dengan mark state atau logika high. Pengiriman

data diawali dengan start bit yang berlogika 0 atau LOW, berikutnya data dikirimkan

bit per bit mulai dari LSB (Least Significant Bit) atau bit ke-0. Pengiriman setiap byte

diakhiri dengan stop bit yang berlogika HIGH.

Selanjutnya jika kondisi LOW setelah stop bit, ini adalah start bit yang

menandakan data berikutnya akan dikirimkan. Jika tidak ada lagi data yang ingin

(38)

disebut „break signal‟, yaitu keadaan LOW yang lamanya cukup untuk mengirimkan 8-bit data. Jika pengirim menyebabkan jalur komunikasi dalam keadaan seperti ini, penerima akan menganggap ini adalah „break signal‟ atau sinyal rusak. Secara ringkas, pengiriman data cukup dilakukan dengan mengisi register SBUF dengan data

yang akan dikirimkan, byte selanjutnya dikirim ketika bit TI berubah menjadi HIGH.

Sedangkan penerimaan ada cukup dilakukan dengan mengambil data dari SBUF

setelah bit RI menjadi HIGH.

Untuk menghubungkan RS232 dengan mikrokontroller dapat dilakukan dengan cara

mensinkronkan tegangan TTL antar device. Standar sinyal serial RS232 memiliki

ketentuan level tegangan sebagai berikut:

1. Logika „1‟ disebut „mark‟ terletak antara -3 volt hingga -25 volt.

2. Logika „0‟ disebut „space‟ terletak antara +3 volt hingga +25 volt.

3. Daerah tegangan antara -3 volt hingga +3 volt adalah invalid level, yaitu daerah

tegangan yang tidak memiliki level logika pasti sehingga harus dihindari.

Demikian juga level tegangan lebih negatif dari -25 volt atau lebih positif dari

+25 volt juga harus dihindari karena dapat merusak line driver pada saluran

RS232. Berikut konfigurasi dari RS232 (DB9-connector).

(39)

Keterangan mengenai fungsi saluran RS232 pada konektor DB9 adalah sebagai

berikut:

1. Receive Line signal detect, dengan saluran ini DCE (Data Circuit-Terminating

Equipment) memberitahukan ke DTE (Data Terminal Equipment) bahwa pada

terminal input mendeteksi adanya data yang masuk.

2. Receive Data, digunakan DTE menerima data dari DCE.

3. Transmit Data, digunakan DTE mengirimkan data ke DCE.

4. Data Terminal Ready, pada saluran ini DTE memberitahukan kesiapan

terminalnya.

5. Signal Ground, digunakan untuk saluran ground.

6. Ring Indicator, pada saluran ini DCE memberitahukan ke DTE bahwa sebuah

device menghendaki untuk berhubungan dengan sistem.

7. Clear To Send, dengan saluran ini DCE memberitahukan bahwa DTE dapat mulai

mengirimkan data.

8. Request To Send, dengan saluran ini DCE diminta untuk mengirim data oleh

DTE.

9. DCE Ready, sinyal aktif pada saluran ini menunjukkan bahwa DCE sudah dapat

digunakan.

2.5 Perangkat Lunak sistem

2.5.1 Bahasa Assembly

Secara fisik, kerja dari sebuah mikrokontroller dapat dijelaskan sebagai siklus

pembacaan intruksi bahasa mesin (Assembly) yang tersimpan di dalam memori.

Mikrokontroller menentukan alamat dari memori program yanng akan dibaca, dan

melakukan proses baca data di memori. Data yang dibaca diinterpretasikan sebagai

(40)

disebut sebagai program counter. Di sisi lain perbedaan bahasa assembly untuk

mikrokontroller yaitu seperti intruksi MOV untuk Byte pada pengalamatan bit

dikelompokkan sesuai dengan metode pengalamatan (addressing modes). Mode

pwngalamatan menjelaskan bagaimana operan dioprasikan. Berikut bentuk program

bahasa assembly sesara umum:

Bahasa yang digunakan untuk memprogram IC mikrokontroler AT89S51 adalah

bahasa assembly untuk MCS-51. angka 51 merupakan jumlah instruksi pada bahasa

ini hanya ada 51 instruksi. Dari 51 instruksi, yang sering digunakan orang hanya 10

instruksi. Instruksi –instruksi tersebut antara lain :

1. Instruksi MOV

Perintah ini merupakan perintah untuk mengisikan nilai ke alamat atau register

tertentu. Pengisian nilai dapat secara langsung atau tidak langsung.

Contoh : pengisian nilai secara langsung.

MOV R0,#20h

Perintah di atas berarti : isikan nilai 20 Heksadesimal ke register 0 (R0). Tanda #

sebelum bilangan menunjukkan bahwa bilangan tersebut adalah nilai.

Contoh pengisian nilai secara tidak langsung

MOV 20h,#80h

...

...

MOV R0,20h

Label Mnemonic Operan 1 operan 2 komentar

(isi memori) (opcode)

(41)

Perintah di atas berarti : isikan nilai yang terdapat pada alamat 20 Heksadesimal ke

register 0 (R0).Tanpa tanda # sebelum bilangan menunjukkan bahwa bilangan tersebut

adalah alamat.

2. Instruksi DJNZ

Decreament Jump If Not Zero (DJNZ) ini merupakan perintah untuk mengurangi nilai

register tertentu dengan 1 dan lompat jika hasil pengurangannya belum nol. Contoh ,

MOV R0,#80h

Loop: ...

...

DJNZ R0,Loop

...

R0 - 1, jika belum 0 lompat ke loop, jika R0 = 0 maka program akan meneruskan ke

perintah pada baris berikutnya.

3. Instruksi ACALL

Instruksi ini berfungsi untuk memanggil suatu rutin tertentu.

Contoh :

...

ACALL TUNDA

...

TUNDA:

...

4. Instruksi RET

Instruksi Return (RET) ini merupakan perintah untuk kembali ke rutin pemanggil

setelah instruksi ACALL dilaksanakan. Contoh,

ACALL TUNDA

(42)

TUNDA:

...

RET

5. Instruksi JMP (Jump)

Instruksi ini merupakan perintah untuk lompat ke alamat tertentu. Contoh:

Loop:

...

...

JMP Loop

6. InstruksiJB (Jump if bit)

Instruksi ini merupakan perintah untuk lompat ke alamat tertentu, jika pin yang

dimaksud berlogika high (1).

Contoh:

Loop:

JB P1.0,Loop

...

7. Instruksi JNB (Jump if Not bit)

Instruksi ini merupakan perintah untuk lompat ke alamat tertentu, jika pin yang

dimaksud berlogika Low (0).

Contoh:

Loop:

JNB P1.0,Loop

(43)

8. Instruksi CJNZ (Compare Jump If Not Equal)

Instruksi ini berfungsi untuk membandingkan nilai dalam suatu register dengan suatu

nilai tertentu.

Contoh:

Loop:

...

CJNE R0,#20h,Loop

...

Jika nilai R0 tidak sama dengan 20h, maka program akan lompat ke rutin Loop. Jika

nilai R0 sama dengan 20h,maka program akan melanjutkan instruksi selanjutnya.

9. InstruksiDEC(Decreament)

Instruksi ini merupakan perintah untuk mengurangi nilai register yang dimaksud

dengan 1.

Contoh:

MOV R0,#20h R0 = 20h

...

DEC R0 R0 = R0 – 1

...

10. InstruksiINC (Increament)

Instruksi ini merupakan perintah untuk menambahkan nilai register yang dimaksud

dengan 1.

Contoh:

MOV R0,#20h R0 = 20h

(44)

INC R0 R0 = R0 + 1

...

.

2.5.2 Software 8051 Editor, Assembler, Simulator (IDE)

Instruksi-instruksi yang merupakan bahasa assembly tersebut dituliskan pada sebuah

editor, yaitu 8051 Editor, Assembler, Simulator (IDE). Tampilannya seperti di bawah

ini.

Gambar 2.11 8051 Editor, Assembler, Simulator (IDE)

Setelah program selesai ditulis, kemudian di-save dan selanjutnya di-compile. Pada

saat di-compile akan tampil pesan peringatan dan kesalahan. Jika masih ada kesalahan

atau peringatan, itu berarti ada kesalahan dalam penulisan perintah atau ada nama

subrutin yang sama, sehingga harus diperbaiki terlebih dahulu sampai tidak ada pesan

kesalahan lagi.Software 8051IDE ini berfungsi untuk merubah program yang dibuat

di-converter ke dalam bilangan heksadesimal, proses perubahan ini terjadi pada saat

meng-compile program. Bilangan heksadesimal inilah yang akan di-download ke

(45)

2.5.3 Software Downloader

Untuk men-download bilangan-bilangan heksadesimal ini ke mikrokontroller

digunakan software ISP- Flash Programmer 3.0a berupa software open source

dandapat didownload dari internet. Tampilannya seperti gambar berikut ini.

Gambar 2.12 Tampilan software downloader

Cara menggunakannya adalah dengan meng-klik Open File untuk mengambil

file heksadesimal dari hasil kompilasi 8051IDE, kemudian klik Write untuk

mengisikan hasil kompilasi tersebut ke mikrokontroller.

2.5.4 VISUAL BASIC 6.0

Pada projek system akuisisi data pada SCADA, Grapic User Interface (GUI) sangat

diperlukan sebagai antar muka keluaran data output objek yang dikontrol. Rancang

bangun dari interfacing dapat dibangun menggunakan Microsoft Visual Basic 6.0. Microsoft Visual Basic merupakan sebuah bahasa pemrograman yang

menawarkan Integrated Development Environment (IDE) untuk membuat program

perangkat lunak berbasis sistem operasi Microsoft Windows dengan menggunakan

(46)

BASIC dan menawarkan pengembangan perangkat lunak komputer berbasis GUI.

Visual Basic 6.0 adalah perkembangan dari versi sebelumnya dengan beberapa

penambahan komponen yang sedang tren saat ini, seperti kemampuan pemrograman

internet dengan DHTML (Dynamic HyperText Mark Language), dan beberapa

penambahan fitur database dan multimedia yang semakin baik. Sampai saat buku ini

ditulis bisa dikatakan bahwa Visual Basic 6.0 masih merupakan pilih pertama di

dalam membuat program aplikasi yang ada di pasar perangkat lunak nasional. Hal ini

disebabkan oleh kemudahan dalam melakukan proses development dari aplikasi yang

dibuat. Interface antar muka Visual Basic 6.0, berisi menu, toolbar, toolbox, form,

project explorer dan property seperti terlihat pada gambar berikut:

Gambar 2.13 Interface antar muka Visual Basic 6.0

2.5.4.1 Konsep Dasar Pemrograman Dalam Visual Basic 6.0

Konsep dasar pemrograman Visual Basic 6.0, adalah pembuatan form dengan

(47)

a. Property

Setiap komponen di dalam pemrograman Visual Basic dapat diatur propertinya sesuai

dengan kebutuhan aplikasi. Property yang tidak boleh dilupakan pada setiap komponen adalah “Name”, yang berarti nama variabel (komponen) yang akan digunakan dalam scripting. Properti “Name” ini hanya bisa diatur melalui jendela Property, sedangkan nilai peroperti yang lain bisa diatur melalui script seperti

Command1.Caption=”Play” Text1.Text=”Visual Basic” Label1.Visible=False

Timer1.Enable=True

b. Metode

Bahwa jalannya program dapat diatur sesuai aplikasi dengan menggunakan metode

pemrograman yang diatur sebagai aksi dari setiap komponen. Metode inilah tempat untuk

mengekpresikan logika pemrograman dari pembuatan suatu prgram aplikasi.

c. Event

Setiap komponen dapat beraksi melalui event, seperti event click pada command button

yang tertulis dalam layar script Command1_Click, atau event Mouse Down pada picture

yang tertulis dengan Picture1_MouseDown. Pengaturan event dalam setiap komponen

yang akan menjalankan semua metode yang dibuat.

2.6 Flow Chart

Flowchart adalah bagan (chart) yang menggambarkan aliran (Flow) dan digambarkan

dengan simbol-simbol grafis bertujuan untuk menggambarkan arus data dari program,

sehingga memudahkan untuk merancang program aplikasi. Simbol-simbol yang

(48)

Tabel 2.1 Simbol-simbol Flowchart program

Simbol Nama Keterangan Fungsi

TERMINATOR Permulaan / akhir program

GARIS ALIR

(FLOW LINE) Arah aliran program

PREPARATION Proses inilisasi/pemberian harga awal

PROCESS Proses pengolahan data

INPUT / OUTPUT DATA

proses input/output data, prameter, informasi

PREDEFINED PROCESS (SUB-PROGRAM)

Permulaan sub program/proses menjalankan sub program

Decision Perbandingan pernyataan, seleksi kondisi

2.6.1 Data Flow Diagram (DFD)

Data flow diagram adalah alat pembuatan model network dengan menggunakan

notasi-notasi untuk menggambarkan arus dari data sistem yang bertujuan untuk

membantu memahami sistem secara logika, terstruktur dan jelas. Adapun

(49)

Tabel 2.2 Simbol-simbol Data Flaw Diagram

Simbol Nama fungsi

External Entity

External Entity dapat berupa orang,

sekelompok orang, organisasi, dari sistem yang berada lingkungan luarnya yang akan memberikan inputan atau memberikan output dari sistem.

ALUR DATA (DATA FLOW)

alur ini mengalir diantara proses, data store, dan terminator. Berfungsi untuk menunjukkan arus data yang dapat berupa masukkan untuk sistem

Process (Proses)

kegiatan atau kerja yang dilakukan oleh orang, organisasi, dimana hasil suatu arus data yang masuk ke dalam keluar dari prioses.

Simpanan data (data store)

digunakan untuk memodelkan kumpulan data atau paket data. Penyimpanan kadangkala didefinisikan sebagai suatu

mekanisme diantara dua proses yang dibatasi oleh jangka waktu tertentu.

Tahapan diagram arus data dibagi dalam beberapa bagian yaiu:

1. Diagram Koteks

Diagram ini berisi gambaran umum (secara garis besar) sistem yang akan dibuat. Secara kalimat, dapat dikatakan bahwa diagram konteks ini berisi “siapa saja yang memberi data (dan data apa saja) ke sistem, serta kepada siapa saja informasi (dan

informasi apa saja) yang harus dihasilkan sistem.

2. Diagram nol

Diagram nol memberikan pandangan menyeluruh mengenai system yang di tangani

(50)

BAB 3

ANALISIS DAN PERANCANGAN

3.1 Perancangan Hardware

3.1.1 Diagram Blok

Secara garis besar, diagram blok dari rangkaian projek Tugas Akhir ini terdiri dari 2

blok besar dengan keseluruhan memiliki 7 bagian. Diagram blok rangkaian dapat

ditunjukkan pada gambar 3.1 berikut ini:

SENSOR

Gambar 3.1 Diagram Blok Sistem Pendeteksi Banjir

3.1.2 Prinsip kerja Diagram Blok

Pada keadaan awal sistem diaktifkan, dimana proyek tugas akhir ini penulis

menggunakan sensor ultra sonic ping Parallax sebagai pengukur besaran tinggi

permukaan air. Ketika sensor ultra sonik Ping Parallax bekerja dengan mengeluarkan

gelombang ultra sonik dan mengenai objek serta mendeteksi pantulannya, maka

sensor akan mengeluarkan frekwensi tertentu terhadap besaran jarak tertentu.

Dikarenakan sensor sudah mengeluarkan tegangan digital, maka selanjutnya data

sudah dapat diteruskan ke pusat pengolahan data yaitu mikrokontroller

(51)

mikrokontroller AT89S51 (mikrikontroller 1) data yang didapat dari pengukuran akan

dikirimkan melalui infrared sebagai media pengiriman data nirkabel (wireless).

Data yang dikirimkan melalui media infrared akan dideteksi oleh penerima

infrared yaitu modul TSOP 1738. Data yang telah diterima akan diteruskan ke

mikrokontroller AT89S51 (mikrikontroller 2) untuk membandingkan data.

Selanjutnya data yang telah di bandingkan akan dikirim ke PC melelui modul RS 232

untuk menampilkan data pengukuran yang telah di dapat.

3.1.3 Perancangan Sensor

Sensor ultrasonic merupakan sensor yang memanfaatkan gelombang ultra sonic

sebagai device yang akan mengukur ketinggian muka air. Pada kenyataannya suatu

gelombang dapat terserep atau terbias pada benda-benda yang transparan seperti pada

air ataupun kaca. Untuk dapat menempatkan sensor ini, sehingga dapat bekerja secara

efisien, maka dapat diperhatikan untuk benda penghalang yang tidak dapat menyerap

atau membiaskan gelombang ultrasonik sehingga gelombang dapat terpantul

sempurna pada modul receiver sensor.

Output sensor ultrasonic yaitu berupa frekwensi yang mempresentasikan

lamanya waktu pantulan yang terjadi dari mulai gelombang dipancarkan hingga

diterima pada modul penerima sensor. Pada pin SIG ini akakn di sambungkan pada

port I/O pada mikrokontroller. Sementara masukan pada pin VCC tegangan untuk

dapat mengoprasikan tegangan ini yaitu sebasar 5V yang di dapat dari Power Supply

sebagai sumber tegangan . pin GND merupakan grounding yang akan disambungkakn

pada kutub negatif power supply. Secara keseluruhan sensor ultrasonic ini dirancang

dapat dilihat pada gambar 3.2 .

VCC

To PIN I/O Microkontroller

(52)

Dikarenakan pin input dan output sensor (SIG) merupakan satu-satunya media

yang dapat mengaktifkan rangkaian sensor maupun sebagai media data out yang akan

menjadi input pada mikrokontroller (1), maka dibutuhkanlah sebuah sparete worker

yaitu berupa rangkaian driver yang dapat mengaktifkan sensor untuk mengukur dan

mengeluarkan data dikala sensor telah selesai mengukur ketinggian. Pada perancangan

driver sensor ultrasonik, keluaran sensor akan dimodifikasi sehingga input pada

mikrokontroller (1) hanya berupa tegangan high (1) dan low (0). Berikut gambar

rangkaian driver untuk sensor ultra sonik pada gambar 3.3 .

Gambar 3.3 Driver sensor ultra sonic ping

Pada rangkin driver transistor jenis NPN merupakan drain tegangan yang akan

aktif jika diberi tegangan lebih besar dari 0,9V. Mikrokontroller (1) akan

mengaktifkan sensor untuk mengukur dengan cara memberikan logika high (1) pada

pin 1.1 sehingga sensor dapat aktif untuk melakukan pengukuran, dan sebaliknya jika

pin 1.1 diberi logika low (0) maka pin 1.0 akan berlogika high (1) sehingga membuat

transistor akan aktif sehingga data hasil pengukuran dapat diterima. Fungsi resistor

pada rangkaian adalah sebagai tahanan arus yang masuk ataupun yang keluar dari

sensor, sehingga rangkaian tidak mengalami over current yang dapat merusak sensor

(53)

3.1.4 Perncangan Power Supply (PSA)

Rangkaian PSA ini berfungsi untuk mensupplay tegangan ke seluruh rangkaian yang

ada. Dikarenakan beberapa rangkaian memerlukan 2 besaran tegangan, maka PSA

yang dibuat terdiri dari dua keluaran, yaitu 5 volt dan 12 volt, keluaran 5 volt

digunakan untuk mensupplay tegangan ke seluruh rangkaian. Rangkaian power

supplay ditunjukkan pada gambar 3.2 berikut ini :

Gambar 3.4 Rangkaian Power Supplay (PSA)

Trafo CT adalah trafo stepdown yang berfungsi untuk menurunkan tegangan

dari 220 volt AC (arus bolak-balik) menjadi 12 volt AC (arus searah). Kemudian 12

volt AC akan disearahkan dengan menggunakan dua buah dioda, selanjutnya 12 volt

DC akan diratakan oleh kapasitor 2200 F. Regulator tegangan 5 volt (LM7805CT)

digunakan untuk keluaran yang dihasilkan setabil pada 5 volt walaupun terjadi

perubahan pada tegangan masukannya, sementara LED hanya berfungsi sebagai

indikator apabila PSA diaktifkan. Transistor PNP TIP 32 disini berfungsi untuk

mensupplay arus apabila terjadi kekurangan arus pada rangkaian, sehingga regulator

tegangan (LM7805CT) tidak akan panas ketika rangkaian butuh arus yang cukup

besar. Tegangan 12 volt DC langsung diambil dari keluaran 2 buah dioda penyearah.

3.1.5 Perancangan Rangkaian Mikrokontroler AT89S51

Untuk dapat mengendalikan rangkaian yang mandiri diperlukan device yang dapat

menghitung, mengingat, dan mengambil pilihan serta digunakan sebagai pemrosesan

(54)

digital. Minimum sistem dari Rangkaian mikrokontroler ditunjukkan pada gambar

berikut ini:

Gambar.3.5 Rangkaian mikrokontroller AT89S51

Pin 31 External Access Enable (EA) diset high (H). Ini dilakukan karena

mikrokontroller AT89S51 tidak menggunakan memori eskternal. Pin 18 dan 19

dihubungkan ke XTAL 12 MHz dan capasitor 33 pF. XTAL ini akan mempengaruhi

kecepatan mikrokontroller AT89S51. dalam mengeksekusi setiap perintah dalam

(55)

tinggi akan me-reset mikrokontroller ini. Pin 32 sampai 39 adalah Port 0 yang

merupakan saluran/bus I/O 8 bit open collector dapat juga digunakan sebagai

multipleks bus alamat rendah dan bus data selama adanya akses ke memori program

eksternal. Pada port 0 ini masing masing pin dihubungkan dengan resistor 4k7 ohm.

Resistor 4k7 ohm yang dihubungkan ke port 0 befungsi sebagai pull up ( penaik

tegangan ). Pin 1 sampai 8 adalah port 1. Pin 21 sampai 28 adalah port 2. Dan Pin 10

sampai 17 adalah port 3.. Pin 20 merupakan ground dihubungkan dengan ground pada

power supplay. Pin 40 merupakan sumber tegangan positif dihubungkan dengan + 5

volt dari power supplay.

Mikrokontroller AT89S51 memerlukan 12 clock untuk mengeksekusi 1 siklus

perintah pada rangkaian. Hal ini diakibatkan karena mikrokontroller menggunakkan

kristal yang besarnya 12 MHz, sehingga waktu yang dibutuhkan mengeksekusi 1

siklus mesin tersebut membutuhkakn waktu =12� ��

12MHz = 1mikrodetik.

3.1.6 Perancangan rangkaian Pengirim Data Melalui Infra Merah

Data yang telah diproses pada mikrokontroller AT89S51 (mikrokontroller 1) akan

dikirimkan melalui media transmisi data secara wireless yaitu dengan memanfaatkan

LED infra merah sebagai jalur nirkabel. Rangkaian pemancar infra merah dapat dilihat

pada gambar 3.6 berikut:

Figur

Gambar 2.7. Jarak Ukur Sensor Ping

Gambar 2.7.

Jarak Ukur Sensor Ping p.35
Gambar 2.8 Skema Diagram IC MAX232

Gambar 2.8

Skema Diagram IC MAX232 p.36
Gambar 2.9 Gelombang informasi untuk komunukasi serial

Gambar 2.9

Gelombang informasi untuk komunukasi serial p.37
Gambar 2.10 Konfigurasi pin konektor serial DB 9

Gambar 2.10

Konfigurasi pin konektor serial DB 9 p.38
Gambar  2.11  8051 Editor, Assembler, Simulator (IDE)

Gambar 2.11

8051 Editor, Assembler, Simulator (IDE) p.44
Gambar 2.12 Tampilan software downloader

Gambar 2.12

Tampilan software downloader p.45
Gambar 2.13 Interface antar muka Visual Basic 6.0

Gambar 2.13

Interface antar muka Visual Basic 6.0 p.46
Tabel 2.1 Simbol-simbol Flowchart program

Tabel 2.1

Simbol-simbol Flowchart program p.48
Tabel 2.2 Simbol-simbol Data Flaw Diagram

Tabel 2.2

Simbol-simbol Data Flaw Diagram p.49
Gambar 3.4 Rangkaian Power Supplay (PSA)

Gambar 3.4

Rangkaian Power Supplay (PSA) p.53
Gambar.3.5 Rangkaian mikrokontroller AT89S51
Gambar.3.5 Rangkaian mikrokontroller AT89S51 p.54
Gambar 3.6 Rangkaian Pengirim Data Melelui Media Infra Merah

Gambar 3.6

Rangkaian Pengirim Data Melelui Media Infra Merah p.55
Gambar 3.8 flow chart minimum sistem

Gambar 3.8

flow chart minimum sistem p.59
Gambar 3.9 Use Case Diagram sistem Aplikasi

Gambar 3.9

Use Case Diagram sistem Aplikasi p.60
Gambar 3.10 Activity diagram sistem akuisisi data pengukuran tinggi muka air.

Gambar 3.10

Activity diagram sistem akuisisi data pengukuran tinggi muka air. p.62
Gambar 3.13 Rancangan Menu Utama

Gambar 3.13

Rancangan Menu Utama p.64
Gambar 3.14 Rancangan Form Koneksi Port Serial

Gambar 3.14

Rancangan Form Koneksi Port Serial p.65
Gambar 4.1 pengujian rangkaian mikrokontroller AT89S51

Gambar 4.1

pengujian rangkaian mikrokontroller AT89S51 p.67
gambar 4.2.

gambar 4.2.

p.69
Tabel 4.1  hasil data bit aktual dari varian jarak sensor

Tabel 4.1

hasil data bit aktual dari varian jarak sensor p.71
gambar 4.3 Grafik data teori VS jarak

gambar 4.3

Grafik data teori VS jarak p.72
Gambar 4.4 grafik data aktual praktek VS jarak

Gambar 4.4

grafik data aktual praktek VS jarak p.73
Gambar 4.5 rangkaian LED pemancar inframerah

Gambar 4.5

rangkaian LED pemancar inframerah p.75
Gambar 4.6 rangkaian TSOP 1738 penerima infra merah

Gambar 4.6

rangkaian TSOP 1738 penerima infra merah p.78
Tabel 4.4 spesifikasi kebutuhan perangkat keras untuk implementasi

Tabel 4.4

spesifikasi kebutuhan perangkat keras untuk implementasi p.79
Gambar  4.7 Tampilan Menu Utama

Gambar 4.7

Tampilan Menu Utama p.80
Gambar 4.9 Tampilan sub menu form Acquisition data

Gambar 4.9

Tampilan sub menu form Acquisition data p.81
Gambar 4.8 Tampilan form Sub menu Connection Port

Gambar 4.8

Tampilan form Sub menu Connection Port p.81
Gambar 4.10 Tampilan Sub menu About

Gambar 4.10

Tampilan Sub menu About p.82
Gambar 4.11 Tampilan hasil pengujian alat dan sistem

Gambar 4.11

Tampilan hasil pengujian alat dan sistem p.83

Referensi

Memperbarui...