• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN GAYA BELAJAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN GAYA BELAJAR"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN, GAYA BELAJAR, DAN

KEMAMPUAN MEMBACA TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA SD

DI KOTA SURABAYA

Luthfiyah Nurlaela

Abstract:

This study aims at: (1) gaining empirical findings of the effectiveness

of thematic instructional model as compared to conventional instruction, and (2)

gaining empirical findings concerning the potential capacity of thematic

instructional model in accomodating or serving different learning styles and

reading abilities. This study employed an experimental research design with

factorial design (2x2x2). The subjects were determined by using multi stage

cluster random sampling technique (Babbie, 1989; Anitah, 2002). The data were

collected by means of achievement test, learning style questionnaire, and reading

comprehension test. The analysis was done by using ANAVA, making use of

SPSS v. 10 program. The study reveals the following findings: (1) There is a

significant difference in achievement between students who use thematic

instructional model and those using conventional model, (2) there is a significant

difference in achievement between students with visual learning style and those

having auditorial learning style, (3) there is a significant difference between

students with high reading ability and those with low reading ability, (4)

student’s achievement is influenced by the interaction between instructional

model and student’s learning style, (5) student’s achievement is not influenced by

the interaction between instructional model and student’s reading ability, (6)

student’s achievement is not influenced by the interaction between student’s

learning style and student’s reading ability, and (7) student’s achievement is not

influenced by the interaction among instructional model, learning style and

student’s reading ability.

Kata kunci:

Model pembelajaran, gaya belajar, kemampuan membaca, hasil

belajar, sekolah dasar

Kualitas proses dan produk pendidikan dalam arti kualitas pelaksanaan

kegiatan belajar mengajar yang mendorong anak secara aktif mempelajari keterampilan

dasar seperti 3M + O (membaca, menulis, menghitung, dan observasi) di sekolah dasar

masih jauh dari harapan kehendak kurikulum (Dimyati, 2002). Lulusan SD pada

umumnya juga belum memiliki kecakapan hidup yang memadai. Saryono (2002)

mengemukakan, kecakapan yang dimiliki lulusan pendidikan dasar dan menengah

umum, termasuk SD, sangat minim dan terbatas. Kecakapan yang dimaksud meliputi

(2)

kehidupan sehari-hari.

Selama ini, pembelajaran cenderung terciutkan menjadi suatu penyajian yang

sekedar pemberian informasi (

content-transmission model

) belaka (Joni, 2000).

Bagaimana pemahaman anak terhadap dasar kualitatif di mana fakta-fakta saling

berkaitan dan kemampuannya untuk menggunakan pengetahuan tersebut dalam situasi

baru, belum terlihat. Menurut Depdiknas (2002:1), sebagian besar dari siswa tidak

mampu menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dengan bagaimana

pengetahuan tersebut akan dipergunakan atau dimanfaatkan. Berkaiatan dengan hal

tersebut, Nurhadi dan Senduk (2003) melontarkan beberapa pertanyaan, antara lain: (1)

bagaimana setiap mata pelajaran bisa dipahami oleh siswa sebagai bagian yang saling

berhubungan dan membentuk satu pemahaman yang utuh, dan (2) bagaimana guru

dapat membuka wawasan berpikir yang beragam dari seluruh siswa, atau siswa dapat

membuka wawasan berpikirnya sendiri, sehingga mereka dapat mempelajari berbagai

konsep dan cara mengaitkannya dengan kehidupan nyata, serta dapat membuka

berbagai pintu kesempatan selama hidupnya?

Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan

tersebut adalah perlunya peningkatan kualitas pembelajaran. Salah satu pendekatan

tersebut adalah pembelajaran terpadu. Loepp (2005) mengemukakan bahwa

pembelajaran terpadu mengacu pada konstruktivisme, yang mendorong siswa

mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, karena siswa dihadapkan pada

masalah-masalah yang perlu mereka pecahkan. Berkaitan dengan pemecahan masalah-masalah tersebut,

Jenson (1998) dan Caine & Caine (2002) berpendapat bahwa cara yang terbaik untuk

meningkatkan kemampuan otak adalah melalui

problem solving

, karena hal ini

menyebabkan hubungan-hubungan dendrit yang baru, yang akan menghasilkan lebih

banyak hubungan-hubungan.

(3)

(

webbed model)

yang umumnya disebut pembelajaran tematik (Forgaty, 1991; Pappas,,

Kiefer & Levstik, 1995). Model pembelajaran tersebut memiliki kelebihan karena cara

pendekatannya yang sistematik, dan cukup memberi peluang pelibatan berbagai

pengalaman siswa, karena tema-tema yang diangkat dipilih dari hal-hal yang

dikemukakan siswa, yang mungkin bertolak dari pengalaman sebelumnya, serta

berdasarkan kebutuhan yang dirasakan siswa (

felt need

) (Joni, 1996). Menurut Kovalik

dan McGeehan (1999), tema yang dipilih dalam pembelajaran terpadu menyediakan

struktur jalan pijakan ke konsep-konsep yang penting yang membantu siswa melihat

pola serta membuat hubungan-hubungan di antara fakta-fakta dan ide-ide yang berbeda.

Salah satu hasil penelitian tentang penerapan model pembelajaran tematik

terpadu, adalah program yang dinamakan CLASS—suatu program di Indiana yang

menggunakan model tematik terpadu dan diimplementasikan oleh pengajar yang telah

dilatih dengan pembelajaran tematik terpadu. Penelitian ini menganalisis kinerja 100 SD

dalam hal pengujian kemajuan belajar yang dinamakan ISTEP (

Indiana Statewide

Testing for Educational Progress

). Hasil yang diperoleh melaporkan bahwa sekolah

CLASS mempunyai skor ISTEP lebih tinggi daripada SD yang lain di negara tersebut,

dan bahwa skor pada SD CLASS terus meningkat dari waktu ke waktu (Buechler,

1993). Penelitian lainnya yang melibatkan 32 siswa yang diikutkan dalam “pilot

CLASS school” dari TK sampai tingkat 5, menemukan bahwa skor ISTEP kelompok ini

mencapai nilai satu standar deviasi di atas rata-rata dalam bidang membaca,

seni-bahasa, dan matematika (Grisham, 1995). Penelitian mengenai persepsi terhadap

pengaruh program CLASS pada kinerja menemukan bahwa, kebanyakan guru percaya

CLASS mempunyai pengaruh positif pada motivasi dan kinerja siswa, khususnya pada

keterampilan berpikir tingkat yang lebih tinggi. Semua siswa menyatakan CLASS

memberikan pengaruh positif pada kehadiran dan sikap siswa, iIklim sekolah, dan moral

(4)

Pada tahun 1998, sebuah disertasi meneliti perbandingan antara skor membaca

siswa pada SD yang menerapkan pembelajaran tematik terpadu dengan skor siswa pada

sekolah kontrol. Selama periode dua tahun, skor siswa sekolah eksperimen

menunjukkan peningkatan sebesar 16%, sedangkan sekolah kontrol hanya mencapai

peningkatan sebesar 3% (Ruth, 1998). Lebih lanjut, penelitian Nurkhoti’ah dan Kamari

(2002), menemukan bahwa pembelajaran terpadu model tematik efektif untuk

meningkatkan prestasi belajar IPS di SD kelas IV. Pembelajaran IPS dengan pendekatan

tematik merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa, baik secara

individual maupun kelompok, aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta

prinsip keilmuan secara holistik, bermakna dan otentik. Hal ini relevan dengan pendapat

Oddleifson (1997), yang mengemukakan bahwa sebagai keutuhan, siswa tidak hanya

mengerjakan sesuatu sesuai ukuran tes baku, namun penting untuk dapat mengerjakan

sesuatu dengan ukuran kehidupan nyata secara baik.

Model pembelajaran tematik selain mengaktifkan siswa, juga mengaktifkan

guru, dan tentu saja menuntut kemampuan yang cukup baik pada guru untuk

meningkatkan kemampuan kolektif dalam mengkonseptualisasikan dan

mengoperasionalkan usaha-usaha peningkatan pembelajaran secara lebih baik (Case,

1994). Walmsley (2003) menyebut pembelajaran yang mensyaratkan adanya

persekutuan (

partnership

) antara siswa dan guru semacam ini termasuk dalam

partnership-centered learning

. Menurutnya, model tersebut dapat digunakan untuk

meningkatkan kemampuan kognitif siswa.

Pembelajaran tematik yang diterapkan dalam penelitian ini disandingkan

dengan pembelajaran konvensional, yang pada umumnya masih digunakan di SD.

Pembelajaran konvensional yang dimaksud adalah pembelajaran yang masih

menggunakan pemisahan bidang studi atau mata pelajaran sebagai dasar organisasi

(5)

yang lain (Nasution, 1978; Nurkhoti’ah dan Kamari, 2002). Rooijakkers (1984)

mengemukakan bahwa belajar dengan pendekatan konvensional adalah pendekatan

belajar yang terutama dilakukan dengan komunikasi satu arah, sehingga situasi

belajarnya terpusat pada pengajar. Menurut Johnson (2002) yang menyebut

pembelajaran konvensional sebagai pembelajaran tradisional, pembelajaran biasanya

berlangsung selama 47-50 menit, sehingga guru tidak bisa memberi cukup waktu bagi

siswa untuk menemukan, berdiskusi, mengeksplor, berpikir kritis, atau melakukan

proyek nyata atau memecahkan masalah. Pembelajaran yang sangat teoritis tersebut

akan menyebabkan siswa sulit memahami materi ajar secara komprehensif. Banyak

penelitian menunjukkan bahwa dalam pembelajaran, kekomprehensifan pemahaman

sangat penting, sehingga lebih baik sedikit topik tetapi dapat dipahami siswa secara

komprehensif, dibanding banyak topik tetapi kurang dipahami atau dipahami secara

parsial (Halpern, 1992). Pemahaman yang komprehensif terhadap suatu topik itulah

yang diharapkan menjadi

transferable knowledge,

ketika yang bersangkutan

mempelajari topik lainnya (Deese, 1985).

Pembelajaran akan berhasil baik bila perbedaan-perbedaan siswa dan proses

kognitifnya dipahami dengan baik oleh guru (Slavin, 2000; Winkel, 1991; Reisman dan

Payne, 1987). Siswa dengan berbagai gaya belajarnya (visual

 

atau auditorial), akan

belajar sesuai dengan tipenya (DePorter dan Hernacki, 1992; Anam, 2003). Cara mereka

belajar akan berpengaruh pada prestasi belajarnya (Diptoadi, dkk, 2003; Zainuddin,

2002; Ismanoe, 1988). Dalam pembelajaran tematik, yang menyajikan pembelajaran

berdasarkan tema-tema yang menghubungkan berbagai mata pelajaran terkait, mungkin

akan memberikan hasil belajar yang berbeda bagi setiap anak dengan gaya belajar yang

berbeda. Gaya belajar siswa dalam memahami keterkaitan tersebut diasumsikan

mempengaruhi pemahaman siswa terhadap konsep-konsep yang dipelajari (Anitah,

(6)

Faktor lain yang juga harus diperhatikan pada diri siswa, khususnya siswa kelas

1 SD, adalah kemampuan awal dalam hal membaca, mengingat mereka pada umumnya

masih pada tahap awal belajar membaca atau membaca permulaan. Aktivitas membaca

dan menulis akan memberdayakan siswa untuk mengadakan eksplorasi, meneliti, dan

menikmati isi pengetahuan menurut kebutuhan dan minat mereka sendiri sebagai

pembelajar yang independen (Eaness, 1997). Membaca juga merupakan peristiwa yang

kompleks dan bersifat interaktif. Kegiatan membaca dapat mengintegrasikan

pengalaman-pengalaman siswa yang telah diperoleh sebelumnya (DeFine, et al., 1991).

Kemampuan membaca menjadi dasar utama tidak saja bagi pembelajaran bahasa, tapi

juga bagi semua mata pelajaran. Kesulitan dalam membaca menjadi salah satu penyebab

utama rendahnya kemajuan dan hasil belajar siswa (Kartika, 2004; MacGilchrist, 1997).

Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini memfokuskan pada

pengaruh model pembelajaran, gaya belajar siswa, dan kemampuan siswa dalam

membaca terhadap hasil belajar siswa kelas 1 SD di Kota Surabaya. Model

pembelajaran meliputi model tematik dan konvensional, sedangkan gaya belajar siswa

dikategorikan gaya visual dan auditorial. Selanjutnya kemampuan siswa dalam

membaca dikategorikan tinggi dan rendah. Baik model pembelajaran, gaya belajar

siswa, maupun kemampuan siswa dalam membaca, merupakan hal-hal yang diduga

mempengaruhi hasil belajar siswa.

METODE

Rancangan penelitian ini menggunakan penelitian eksperimen dengan desain

faktorial (2x2x2) (Tuckman, 1999). Eksperimen melibatkan 2 kelompok subjek.

Kelompok eksperimen mendapat perlakuan dengan model pembelajaran tematik, dan

kelompok kontrol mendapat perlakuan dengan model konvensional. Pada awal

pembelajaran, kedua kelompok mendapat tes kemampuan awal (pretes) untuk

(7)

Selanjutnya dilakukan tes kemampuan membaca, di mana siswa diminta membaca

sebuah wacana satu per satu, dan kemudian dua orang observer yang sudah dilatih,

menilai kemampuan membaca mereka. Angket gaya belajar diisi oleh guru kelas,

dengan asumsi guru kelas cukup mengenal setiap siswa dengan baik, mengingat mereka

telah mengajar di kelas tersebut sejak semester 1. Alasan mengapa guru yang mengisi

angket gaya belajar siswa, karena diasumsikan siswa kelas 1 SD belum cukup memiliki

kemampuan untuk memahami item-item angket gaya belajar yang dikembangkan dalam

penelitian ini, sehingga pengisian yang dilakukan oleh siswa itu sendiri, dimungkinkan

justru dapat menimbulkan bias.

Variabel bebas adalah model pembelajaran, yang dibedakan menjadi 2, yaitu:

model pembelajaran tematik dan model pembelajaran konvensional. Variabel moderator

adalah gaya belajar dan kemampuan siswa dalam membaca. Gaya belajar dibedakan

menjadi 2, yaitu: visual dan auditorial. Kemampuan membaca juga dibedakan menjadi

2, yaitu: tinggi dan rendah. Variabel terikat adalah hasil belajar, yaitu hasil belajar

kognitif yang meliputi aspek pengetahuan (

knowledge

) dan pemahaman

(

comprehension

).

Pengaruh variabel latar belakang subjek dikontrol dengan pengacakan subjek

secara

multi stage cluster random sampling

atau sampel random bertahap (Babbie,

1989; Anitah, 2002). Skema teknik pengambilan sampel tersebut dapat dicermati pada

Gambar 1, sedangkan macam variabel kontrol dan cara pengendaliannya digambarkan

pada Tabel 1.

Tes hasil belajar pada pembelajaran konvensional yang dibuat mencakup mata

pelajaran Bahasa Indonesia, matematika, sains dan pengetahuan sosial. Sedangkan tes

yang dibuat pada pembelajaran terpadu mengacu pada tema-tema yang dikembangkan,

meliputi: Makanan dan Hewan. Tes tersebut sebelum digunakan untuk penelitian yang

(8)
[image:8.595.93.500.109.473.2] [image:8.595.86.486.512.743.2]

validitas isi (

content validity

) dan reliabilitas instrumen.

Gambar 1 Skema Teknik Pengambilan Sampel

Tabel 1: Macam Variabel Kontrol dan Pengendaliannya

No.

Macam Variabel Kontrol

Cara Pengendaliannya

1.

Latar belakang subjek penelitian

Pengacakan subjek secara

multi

stage cluster random sampling.

2.

Peringkat sekolah

Pemilahan sekolah yang memiliki

sarana prasarana yang relatif sama.

3.

Pengalaman/kemampuan guru

-

Pemilihan guru-guru yang

memiliki masa kerja hampir

sama (10-15 tahun).

-

Diberikan pelatihan tentang

cara menerapkan rancangan

pembelajaran.

4.

Suasana kelas

Jam belajar yang sama (pagi hari).

KOTA SURABAYA (WILAYAH

TIMUR, BARAT, SELATAN, UTARA)

Diambil 2 wilayah secara random

Surabaya

Selatan SurabayaTimur

Dipilah SD-SD yang memiliki kelas 1 pararel

Diambil masing-masing 2 SD dari tiap wilayah secara random

Surabaya Selatan Surabaya Timur

SD Wonokromo 1 SD Kebonsari 3

SD Medokan S. 1 SD Semolowaru 2

Uji coba

instrumen eksperimeKelompok n dan kontrol

Kelompok eksperime

n dan kontrol

Kelompok eksperime

[image:8.595.85.482.521.742.2]
(9)

Pengujian validitas digunakan rumus korelasi Pearson, sedangkan pengujian

reliabilitas digunakan teknik

split-half

dengan rumus Spearman-Brown. Instrumen gaya

belajar dikembangkan berdasarkan karakteristik untuk tiap gaya belajar, yaitu visual dan

auditorial, yang diidentifikasi oleh DePorter dan Hernacki (1992), serta dimodifikasi

dari instrumen gaya belajar oleh Bradway dan Hills (Anam, 2003). Tes kemampuan

membaca pada siswa menggunakan kriteria yang diajukan Kartika (2004), berupa tes

keterampilan membaca teknis (membaca bersuara). Alasan pemilihan tes ini adalah

karena sesuai dengan kompetensi yang diharapkan dari siwa SD kelas 1, yang dalam

pelajaran membacanya ditekankan pada kemampuan membaca teknis (Kartika, 2004;

Godfrey dan Galloway, 2004). Reliabilitas instrumen tes keterampilan mengajar dicari

dengan menggunakan teknik

interobserver agreemen

(Grinnel, 1988). Instrumen

dikatakan reliabel jika nilai reliabilitas yang diperoleh ≥ 0,75 (Borich, 1994). Analisis

data dalam rangka pengujian hipotesis penelitian dilakukan dengan Analisis Varian

(Anava) Tiga Jalur (Anastasi, 1982) yang menggunakan fasilitas program SPSS v. 10 .

HASIL

Hasil analisis data dengan Anava dapat dilihat pada Tabel 2. Hipotesis nol (Ho)

ditolak jika p<0,05. Berdasarkan tabel tersebut, maka dapat dideskripsikan hasil

pengujian hipotesis dengan df = 1 dan taraf signifikansi 5%, diperoleh: (1) F = 9,651

dan angka signifikansi p = 0,002, berati bahwa hasil belajar menunjukkan perbedaan

yang signifikan di antara variasi model pembelajaran, (2) F = 13,844 dan angka

signifikansi p = 0,000, berarti bahwa hasil belajar menunjukkan perbedaan yang

signifikan di antara variasi gaya belajar, (3) F = 6,428 dan angka signifikansi p = 0,012,

berarti bahwa hasil belajar menunjukkan perbedaan yang signifikan di antara variasi

kemampuan membaca. (4) F = 6,768 dan angka signifikansi p = 0,010, berarti hasil

belajar dipengaruhi oleh adanya interaksi antara model pembelajaran dengan gaya

(10)

dipengaruhi oleh adanya interaksi antara model pembelajaran dengan kemampuan

membaca siswa. Meskipun secara sendiri-sendiri, model pembelajaran mempengaruhi

hasil belajar, begitu juga dengan kemampuan membaca; namun ternyata interaksi antara

keduanya tidak berpengaruh, (6) F = 0,207 dan angka signifikansi p = 0,650, berarti

bahwa hasil belajar tidak dipengaruhi oleh adanya interaksi antara gaya belajar dengan

kemampuan membaca siswa., dan (7) F = 0,977 dan angka signifikansi p = 0,325,

berarti hasil belajar tidak dipengaruhi oleh adanya interaksi antara model pembelajaran,

[image:10.595.88.503.332.564.2]

gaya belajar dan kemampuan membaca siswa.

Tabel 2. Ringkasan Hasil Anava

Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable: POSTES

4096.543a 7 585.220 5.295 .000

767132.858 1 767132.858 6941.462 .000

1066.533 1 1066.533 9.651 .002

1529.920 1 1529.920 13.844 .000

710.437 1 710.437 6.428 .012

747.910 1 747.910 6.768 .010

6.111 1 6.111 .055 .814

22.912 1 22.912 .207 .650

107.943 1 107.943 .977 .325

14587.926 132 110.515 804130.810 140 18684.469 139 Source Corrected Model Intercept MODEL GAYA_BEL KEM_BACA

MODEL * GAYA_BEL MODEL * KEM_BACA GAYA_BEL * KEM_BACA MODEL * GAYA_BEL * KEM_BACA

Error Total

Corrected Total

Type III Sum

of Squares df Mean Square F Sig.

R Squared = .219 (Adjusted R Squared = .178) a.

PEMBAHASAN

Dari hasil pengujian hipotesis penelitian di antaranya diperoleh bukti bahwa

hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model tematik berbeda secara

signifikan dengan hasil belajar mahasiswa yang mengikuti pembelajaran dengan model

konvensional. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa hasil belajar siswa yang

(11)

yang mengikuti pembelajaran dengan model konvensional. Hal ini membuktikan bahwa

pembelajaran tematik secara signifikan berpengaruh lebih tinggi terhadap pencapaian

hasil belajar dibandingkan dengan pembelajaran dengan model konvensional. Temuan

ini konsisten dengan temuan-temuan penelitian sebelumnya, di antaranya penelitian

Ruth (1989), Buechler (1993), Grisham (1995), Morgan (1998), Nurkhoti’ah dan

Kamari (2002), serta Anitah (2002), yang menunjukkan keunggulan pembelajaran

tematik. Benson (2005) juga mengemukakan pembelajaran tematik melibatkan

sekumpulan aktivitas yang terkait dan dirancang di seputar topik atau tema, serta

menjangkau beberapa area kurikulum. Tema menyediakan lingkungan yang mendorong

belajar proses dan melibatkan seluruh siswa secara aktif (Fisher, 1991). Tema juga

membangun minat siswa dan

prior knowledge

dengan memusatkan perhatian pada topik

yang relevan dengan kehidupan mereka. Tema membantu siswa berhubungan dengan

pengalaman hidup yang nyata (

real-life experience

s) dan mengembangkan apa yang

mereka tahu. Manfaat lain penggunaan tema dalam pembelajaran anak SD, meliputi:

belajar informasi faktual secara mendalam, terlibat secara fisik dengan belajar, belajar

keterampilan proses, memadukan belajar dalam cara yang holistik, meningkatkan

keeratan kelompok, memusatkan perhatian pada kebutuhan individual, dan memotivasi

siswa dan guru (Kostelnik, Soderman, Whiren, 2004).

Berdasarkan pengujian hipotesis, diketahui bahwa hasil belajar dipengaruhi

oleh adanya interaksi antara model pembelajaran dengan gaya belajar siswa. Dari hasil

analisis deskriptif, hasil belajar siswa yang bergaya visual lebih tinggi daripada hasil

belajar siswa bergaya auditorial, baik pada kelompok tematik maupun konvensional.

Karakter anak visual menurut Bradway dan Hill (2003) adalah ia sangat bersandar pada

penglihatan ketika menyerap informasi. Secara alami, anak visual tertarik pada

pemandangan-pemandangan yang akrab, dan mengingatkan tanda-tanda visual seperti

(12)

suara dan kata atas informasi yang diberikan dibandingkan pandangan maupun sentuhan

(Bradway dan Hill, 2003). Berdasarkan karakteristik-karakteristik tersebut, bisa

dipahami kalau dalam penelitian ini, hasil belajar anak visual cenderung lebih baik

daripada anak auditorial. Ini tidak berarti gaya belajar visual lebih baik daripada

auditorial. Dalam konteks ini, bahan pembelajaran yang dirancang dalam bentuk Buku

Siswa adalah lebih menguntungkan bagi anak visual, karena dia mempunyai

keunggulan dalam membaca dan mencermati isi buku, apalagi dilengkapi dengan media

berupa poster, yang juga memerlukan kemampuan visual untuk menyerap dan

mengingatnya. Kemudian pembelajaran yang berbasis tema dengan menampilkan peta

konsep, juga merupakan bantuan berarti bagi anak visual untuk mengingatnya. Peta

konsep atau peta pembelajaran merupakan cara dinamik untuk menangkap butir-butir

pokok informasi yang signifikan.

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, juga diketahui ternyata hasil belajar

tidak dipengaruhi oleh adanya interaksi antara model pembelajaran dengan kemampuan

membaca siswa. Meskipun secara sendiri-sendiri, model pembelajaran mempengaruhi

hasil belajar siswa, demikian juga dengan kemampuan membaca; namun interaksi

antara keduanya tidak berpengaruh terhadap hasil belajar. Hal ini menyiratkan bahwa

anak yang memiliki kemampuan membaca tinggi akan mencapai hasil belajar yang juga

tinggi, apapun model pembelajaran yang digunakan. Model pembelajaran yang

diterapkan di kelas akan sangat membantu bagi anak yang memiliki kemampuan

membaca rendah, namun tidak terlalu berpengaruh pada anak yang berkemampuan

(13)

pembelajaran tematik yang mengangkat tema dari hal-hal di sekitar dunia anak,

merupakan

scaffolding

bagi anak. Tema-tema tersebut mengantarkan anak

kepada aktivitas dan bacaan yang sesuai dengan kebutuhan dan tingkat

perkembangan mereka. Hal inilah yang harus ditekankan dalam pembelajaran

membaca di sekolah. Pembelajaran yang “lepas konteks”, sebagaimana yang

masih banyak ditemukan di lapangan selama ini, tentu menjadi kendala bagi

pengembangan keterampilan membaca anak.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan temuan penelitian, kesimpulan penelitian ini dirangkum menjadi

tujuh butir sebagai berikut: (1) Ada perbedaan hasil belajar antara siswa yang

menggunakan model pembelajaran tematik dan siswa yang menggunakan model

pembelajaran konvensional. Hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran tematik

lebih tinggi daripada siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional, (2) Ada

perbedaan hasil belajar antara siswa yang bergaya belajar visual dan siswa yang bergaya

belajar auditorial. Hasil belajar siswa yang bergaya belajar visual lebih tinggi daripada

siswa yang bergaya belajar auditorial, (3) Ada perbedaan hasil belajar antara siswa yang

mempunyai kemampuan membaca tinggi dan siswa yang mempunyai kemampuan

membaca rendah. Hasil belajar siswa yang memiliki kemampuan membaca tinggi lebih

baik daripada siswa yang memiliki kemampuan membaca rendah, (4) Ada interaksi

antara model pembelajaran dengan gaya belajar siswa terhadap hasil belajar, (5) Tidak

ada interaksi antara model pembelajaran dengan kemampuan membaca siswa terhadap

hasil belajar, (6) Tidak ada interaksi antara gaya belajar dengan kemampuan membaca

siswa terhadap hasil belajar, dan (7) Tidak ada interaksi antara model pembelajaran,

gaya belajar dan kemampuan membaca siswa terhadap hasil belajar.

(14)

Saran yang dapat dikemukakan adalah sebagai berikut:

(1)

Pentingnya pembelajaran tematik untuk diterapkan dalam pembelajaran

di SD khususnya kelas rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasl

belajar siswa yang menggunakan pembelajaran tematik lebih baik daripada

siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional. Pembelajaran

tematik juga diketahui lebih akomodatif terhadap perbedaan gaya belajar

dan kemampuan membaca, oleh sebab itu penerapan pembelajaran tematik

sebagaimana yang menjadi tuntutan kurikulum supaya benar-benar dapat

dilaksanakan sebaik-baiknya.

(2)

Pentingnya memperhatikan perbedaan individual siswa, khususnya gaya

belajar. Oleh karena siswa memiliki gaya belajar yang berbeda,

pembelajaran sebaiknya dirancang untuk mengakomodasi perbedaan gaya

belajar tersebut, karena siswa akan belajar dengan efektif sesuai dengan

gaya belajarnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang bergaya

belajar visual hasil belajarnya lebih baik daripada siswa yang bergaya

belajar auditorial. Hal ini tidak berarti anak auditorial harus “dipaksa” untuk

menjadi visual, namun harus diupayakan supaya pembelajaran yang

dilaksanakan dapat mengakomodasi semua modalitas gaya belajar anak.

Karakteristik pembelajaran tematik yang menguntungkan bagi anak visual,

sebaiknnya dilengkapi dengan sumber belajar dan media (misalnya media

audio-visual) yang cukup memadai untuk dapat mengakomodasi anak

auditorial.

(15)

kemampuan membacanya rendah. Oleh sebab itu, pembelajaran yang

mampu mendorong anak untuk gemar membaca harus diupayakan,

sehingga membaca dapat dibudayakan dan menjadi kebiasaan anak

sehari-hari.

DAFTAR PUSTAKA

Anam, K. 2003. (Penerjemah).

Pola-pola belajar.

Jakarta; Inisiasi Press.

Anastasi, A. 1982.

Psychological testing.

Fifth Edition. New York: Macmillan

Publishing Co., Inc.

Anitah, S. 2002. Pengorganisasian isi pembelajaran terpadu model multi disiplin dan

pengaruhnya terhadap perolehan belajar konsep pada pebelajaran sekolah dasar.

Jurnal Teknologi Pembelajaran Teori dan Penelitian.

10 (1): 4-10.

Benson, T. R. 2005. The issues: Integrated teaching units.

PBS teacher source.

http://www.pbs.org/teachersource/prek2/issues/904issue.shtm. Diakses tanggal

10 April 2004.

Borich, G. D. 1994.

Observation Skills for Effective Teaching.

Englewood Cliffs: Merril

Publishers.

Brand, SR. (ed). 1991. Integrating the curriculum: Educational leadership.

Journal of

ASCD,

49 (2).

Buechler, M. 1993.

Connecting learning assures successful students: a study of the

CLASS program.

Bloomington, IN: Indiana Education Policy Center.

http://www.kovalik.com. Diakses tanggal 10 April 2004.

Caine, R. N. & Caine, G. 2002. Mind/brain learning principles.

New horizons for

learning.

http://www.newhorizons.org. Diakses tanggal 10 April 2004.

Calfee, R. & Drum, P. 1986. Research on teaching reading.

Handbook of research on

teaching.

Edisi ke-3. New York: Macmillan Publishing Company.

Campbell, L. 1997. Variation on a theme—how teachers interpret MI theory.

Educational leadership.

55 (1): 1-9.

Case, R. 1994. Our Crude Handling of Educational Reforms: The case of curricular

integration.

Canadian journal of education.

19 (1): 80-93.

Cheng, N. Y. & Lo-Fu, Y. W. 2002. Interdisciplinary curriculum: A case study of general

studies teaching.

Subject teaching and teacher education in the new century.

Editor: Yin Cheong Cheng et. al. The Hongkong Institute of Education: Kluwer

Academic Publisher.

(16)

DeFine, A.A., Anstendig, L.L. & De Lawter, K. 1991. Alternative integrated

reading/writing assesment and curriculum design.

Journal of reading.

34 (5):

17-24.

DePorter, B. & Hernacki, M. 1992.

Quantum learning: Unleasing the genius in

you.

New York: Dell Publishing.

Dimyati, M. 2002.

Keilmuan pendidikan Sekolah Dasar Problem paradigma teorisasi

dan orientasi praktis dilematis.

Malang: Vendy Press.

Diptoadi, V. L., Teopilus, S. & Tedjakusuma, H. 2003. The influence of learning style

and learning strategies on the reading achievement of persons using English as a

foreign language.

Jurnal Teknologi Pembelajaran Teori dan Penelitian.

11 (1).

27-36.

Eanes, R. 1997.

Content area literacy: Teanching for today and tomorrow.

Albany:

Delmar Publisher.

Fisher, B. 1991.

Joyful learning: A whole language kindergarten.

Postmouth, N. H.:

Heinemann.

Fogarty, R. 1991.

The mindful school: How to integrate the curricula.

Illinois: Skylight

Publishing.

Halpern, D. F. (Ed). 1992.

Enhanching thinking skills in the sciences and mathematics.

New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, Publishers.

Grinnel, Jr. Richard M. 1988.

Social Work Research and Evaluation.

Third Edition.

Itasca, Illinois: F.E Peacock.

Grisham, D.L. 1995, April.

Integrating the curriculum: The case of an award-winning

elementary school.

Paper presented at the annual meeting of the American

Educational Research Association, Berkeley, CA. http://www.kovalik.com.

Diakses tanggal 4 September 2005.

Godfrey, J. R. & Galloway, A. 2004. Assesing early literacy and numeracy skills among

indigenous children with the performance indicators in primary schools test.

Educational

Research.

14.

2004.

http://education.

curtin.edu.au/iier14/godfrey.html Diakses tanggal 13 April 2006.

Guilford & J.N.A. Fruchter. 1973.

Fundamental statistic in psychology and education.

Edisi 6. New York: Mc Graw Hill.

Jensen, E. 1998.

Teaching with the brain in mind.

Alexandria, VA: Association for

Supervision and Curriculum Development.

Johnson, E. B. 2002.

Contextual teaching and learning.

California: Sage Publication

Company.

(17)

Joni, T. R. 2000.

Rasional pembelajaran terpadu.

Makalah disajikan dalam Seminar

Regional: Implementasi Pembelajaran Terpadu dalam Menyongsong Era

Indonesia Baru. Malang: PPS Universitas Negeri Malang, 20 Mei 2000.

Kartika, E. 2004. Memacu minat membaca siswa sekolah dasar

. Jurnal Pendidikan

Penabur.

3 (III): 113-128.

Kostelnik, M.J., Soderman, A. K & Whiren, A.P (2004).

Developmentally appropriate

curriculum: Best practice in early childhood education.

Upper Saddle River,

N. J.: Merrill.

Kovalik, S. J. & McGeehan, J. R. 1999

.

Integrated thematic instruction: from brain

research to application.

Instructional-Design Theories and Models.

II. New

Jersey: Lawrence Erlbaum Associates Publishers. 371-396

Kovalik, S. J. & Olsen, K. D. 1994.

ITI: The model integrated thematic instructuon.

Susan Kovalik and Associates. Kent. W.A.

Lake, K. 2000. Integrated curriculum.

School Improvement Research Series (SIRS).

http://www.nwrel.org/scpd/sirs/8/C016.html. Diakses tanggal 20 Maret 2006.

Lawton, Ed. 1994. Integrating curriculum: A slow but positive process.

School in the

middle

. 4 (2). November 1994: 27-30.

Leppanen, U., Niemi, P., Aunola, K. & Nurmi, J.E. 2004. Development of reading skills

among prescholl and primary school children.

Reading Research Quartely.

39.

72-93.

Loepp, F. L. 1999. Models of curriculum integration.

The Journal of Technology

Studies.

http://scholar.lib.vt.edu/ejournals/JOTS/ Summer-Fall-1999/

Loepp.html. Diakses tanggal 2 Februari 2006.

MacGilchrist, B. 2005.

Reading and achievement—some lesson for the future.

www.

Literacytrust.org.uk. Diakses tanggal 11 Juli 2006.

Martin, J. R. 1995. A philosophy of education for the year 2000.

Phi Delta Kappan

. 76

(5). Januari, 1995: 355-359.

Messick, S. 1994. The matter of style: Manifestations of personality in cognition,

learning, and teaching.

Educational Psychologist.

29 (3): 121-136.

Morgan, W. 1998.

The impact of CLASS on teaching and learning in Indiana.

Bloomington, IN: Indiana University. http://www.kovalik.com. Diakses

tanggal 25 Oktober 2004.

Nasution, S. 1978.

Berbagai pendekatan dalam proses belajar mengajar.

Jakarta: PT

Bina Aksara.

(18)

Nurhadi, B. Y., & Senduk, A. G. 2003.

Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching

Learning/CTL) dan penerapannya dalam KBK.

Malang: UM Press.

Oddleifson, E. 1997. Boston public schools as arts-integrative learning organizations.

New horizon of learning.

[email protected]. Diakses tanggal 1 Desember

2004.

Pappas, C. C., Kiefer, B. Z., & Levstik, L. S. 1995.

An integrated language perspective

in the elementary school.

USA: Longman Publiser

Reisman, F. & Payne, B. 1987.

Elementary education.

Columbus, Ohio: Merril

Publishing Company.

Riding, R. & Rayner, S. 1998.

Cognitive styles and learning strategies: Understanding

style differences in learning and behaviour.

London: David Fulton Publishers.

Rooijakkers. 1984.

Mengajar dengan sukses.

Jakarta: Gramedia.

Rose, C. & Nicholl, M. J. 1997.

Accelerated learning for the 21

st

century.

London: Judy

Piatkus.

Ruth, N.S. 1998.

A comparative study of Integrated Thematic Instruction (ITI) and

non-integrated thematic instruction.

Doctoral dissertation, Texas A&M University.

http://www.kovalik.com. Diakses tanggal 11 April 2005.

Saryono, D. 2002.

Pendidikan Kecakapan Hidup: Konsepsi dan Implementasinya di

Sekolah.

Makalah dalam Workshop Pengembangan Sistem Pendidikan Dasar

dan Menengah Berorientasi Kecakapan Hidup di Jawa Timur, 11 November

2002, Universitas Negeri Malang.

Shoemaker, B. 1989.

Integrative Education: A Curriculum for the Twenty-First Century

.

Oregon School Study Council 33/2.

Sequero, W. 1988. A ready-made reading class: “Warming-up for reading”.

Forum.

36(4): 29-33.

Sheldon, S. B. 2002. Parent’s social networks and beliefs as predictors of parent

involvement.

The Elementary School Journal.

102. 301-316.

Silberman, M. 1996.

Active learning: 101 strategies to teach any subject.

Boston: Allyn

and Bacon.

Slavin, R. E. 2000.

Educational psychology: Theory and practice.

Sixt Edition. Boston:

Allyn and Bacon.

Soleste, H. R. & Roland G., T. 2003.

Theoritical perspectives, research findings, and

classroom implications of the learning styles of American Indian and Alaska

Native Students. ERIC Digest.

http://www.ericdigest.org/2003-3/alaska.htm.

Diakses tanggal 15 April 2007.

(19)

Tong, S. S. 2003.

Some reflection on the design of contextual learning and teaching

material.

Torgesen, J. K. 1998. Catch them before they fail: Identification and assessment to

prevent reading failure in young children.

American Educator.

32-39.

Tuckman, B. W. 1999.

Conducting educational research.

USA: Harcort Brace College

Publishers.

Walmsley, B. 2003. Partnership-centered learning: The case for pedagogic balance in

technology education.

Journal of Technology Education.

14 (2): 12-24.

Waras. 2003.

Pengaruh model pembelajaran dan gaya belajar terhadap kecakapan

akademik, teknikal dan pemecahan masalah bidang permesinan

. Disertasi

tidak diterbitkan. UniversitasNegeri Malang.

Wardani, I.G.A.K. 2000. Guru sebagai pekerja profesional: Satu renungan tentang sosok

guru abad 21 serta implikasinya bagi Universitas Terbuka.

Jurnal Pendidikan

1 (1): 288-45.

Winihasih. 1999. Faktor penentu minat baca anak usia sekolah dasar.

Sekolah Dasar,

kajian teori dan praktik pendidikan

. 8 (1): 31-37.

Winkel, W. S. 1991.

Psikologi Pengajaran.

Jakarta: PT Grasindo.

Zainuddin. 2002. Studi tentang penerapan belajar kooperatif model STAD dengan

konsentrasi gaya kognitif FI dan FD.

Jurnal teknologi pembelajaran teori dan

penelitian.

10 (1): 26-36.

Zinicola, D., & Devlin-Scherer, R. 2003. Learning to teach elementary science.

Gambar

Tabel 1: Macam Variabel Kontrol dan Pengendaliannya
Tabel 2. Ringkasan Hasil Anava

Referensi

Dokumen terkait

Untuk siswa yang memiliki gaya belajar kinestetik iebib efektif dalam meningkatkan basil belajar bahasa perancis siswa jika menggunakan metode pembelajaran

Pada model pembelajaran Numbered Heads Together maupun model pembelajaran Teams Games Tournament, siswa dengan gaya belajar audio memperoleh hasil belajar matematika yang lebih

real lab; (2) perbedaan prestasi belajar antara siswa yang memiliki gaya belajar visual dan kinestetik; (3) perbedaan prestasi belajar antara siswa yang memiliki

Hal ini dilihat dari dari analisis uji t, walaupun ada perbedaan pengaruh yang tidak signifikan hasil belajar matematika siswa yang memiliki gaya kognitif reflektif

bahwa “pada penerapan model pembelajaran TGT berbantuan software Cabri 3D, siswa dengan gaya belajar visual mempunyai prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan siswa

Dalam hal ini ES &gt; 0,8 sehingga dapat dinyatakan bahwa penerapan model pembelajaran Problem Based Learning pada siswa dengan gaya belajar visual memiliki

terhadap gaya berpikir, tidak ada perbedaan hasil belajar matematika antara siswa yang menggunakan model pembelajaran Scaffolding berbantuan Multimedia Interaktif

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) pengaruh model pembelajaran inkuiri terhadap hasil belajar siswa kelas X MP di SMKN 1 Boyolangu; 2) pengaruh gaya belajar