• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis akhlak al-karimah pada proses pembelajaran dalam persfektif ilmu pada Kitab Ta'lim al-Muta'allim

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis akhlak al-karimah pada proses pembelajaran dalam persfektif ilmu pada Kitab Ta'lim al-Muta'allim"

Copied!
113
0
0

Teks penuh

(1)

?r

ANALISIS

AKIILAKT'L KARIMAII

PADA

PROSES

PEMBELAJARAN

DALAM

PERSPEI(TIF

ILMU

PADA

KITAB

TA'LIM

AL.MUTA'ALLIM

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhl Persyaratan Memperoleh

Gelar Sariana Pendidikan Islam (S. Pd.I)

Oleh:

tr'AT'HI

KUSIIMA

1810011000028

JT}RUS$[

PENDIDIKAI\I

AGAMA

ISLAM

T.AKULTAS

ILMU TARBryAII

DAN KEGT]RUAN

ITNTVERSTTAS

rSLAM

NEGERI

OrN)

SYARIF

FIIDAYATT]LLAII

JAKARTA

2014

I II-.

(2)

SURAT

PERNYATAAN

KARYA SENDIRI

Saya yang bertanda tangan dibawah

ini

:

Nama

NIM

Jurusan Alamat

Nama

NIP

Jurusan

MEII'YATAKAN DENGAN

SESUNGGUHNYA

Bahwa

skripsi

yang

berjudul

"Analisis Akhlakul Karimah

Pada Proses Pembelaiaran

dalsm

Pespektif

llmu

Pada

Kitab

Ta'lim

Al-Muta'allim'

adalah

benar

hasil

karya sendiri di bawah bimbingan dosen:

Fat'hi

Kusuma

181001 1000028

Pendidikan Agama Islam/DMS

Jl. Bakti

Abri

Kp.

Sindang Karsa RT. 003/08 No. 42 Tapos, Depok Jawa Barat

: Dr.

H.

Ghufron Ihsan,

MA

:

19530509198103 101006

: Pendidikan Agama Islam/DMS

Demikian

surat

pernyataan

ini

penulis

buat

dengan sesungguhnya

dan penulis

siap menerima segala konsekuensi apabila pernyataan skripsi

ini

bukan hasil karya sendiri.
(3)

x?

KONSEP

AKIILAKUL

KARIMAH DALAM

MENUNTUT

ILMU

PADA

KITAB

TA'LIM

AI-MUTA'ALLIM

SKRIPSI

Diqiulgn Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyatr dan Keguruan untuk memenuhi

persyaratan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islanr (S. pd.

I)

Oleh:

FAT'III

KUSI]MA

1810011000028

Di bawah bimbingan

Dr. H.Ghufron

Ihsan.

MA

NIP: 19530509198103101006

JTIRUS$I PEI\IDII}IKAI\ AGAMA ISLAM

FAKIULTAS

ILMU TARBryAH

DAht

KEGT]RUA}I

I]NIVERSITAS

ISI,AM

NDGERI

SYARIF'

HIDAYATTILLAH

JAKARTA

(4)

LEMBAR

PENGESAHAN

PAITITIA

UJIAN

Skripsi

berjudul (Anelisis

Akhlakul

lGrimah

Pada

Proses

Pembelajaran 'Dalem Perepe*ilif

tmu

Pada

Kitrb

ifia,lim Al-Mutarallittt"

Diajr*an

kepada Fakultas

IInu

Tarbiyah

dan

Keguruan

(FITK)

UIN

Syarif

Hidayatullah

Jakarta, dan

trllah

dinyatakan

lulus

dalam {.Jjian Munaqasah padab

20 Oktober 2014 dihadapan para penguji. Karena

itu,

penulis berhak memperoleh

gdar

sarjana

Sl

(S. Pd.

I)

dalam bidang Pendidikan Agama.

Jakart4 20 Oktober 2014

Panitia

Ujian

Munaqasah

Ketua Panitia (Ketua Jurusad Selretaris

nrusan/Prodi)

Dr. Abdul Madiid Khon- M.

As

NrP: 19580707i93703 1005

Pengqii

I

Drs. H. Abdul Ghofur,

MA

NIP

:19681208199703 1003

Penguji

II

Drs. Masan

Af',

M.Pd

NIP :

195107161981031005

Mengetahui

Dekan,

(5)

ABSTRAK

Fat'hi

Kusuman

Analisis

Akhlak al-Karimah

Pada Proses

Pembelajaran

dalam

Persfektif

Ilmu

Pada

Kitab

Ta'lim

al-Muta'allim,

Jurusan

Pendidikan

Agama

Islam, Fakultas IImu Tarbiyah dan Keguruan, UIN

Syarif Hidayatullah

Jakarta, Agustus

2014,

Latar

belakang

penulis

mengambil

judul

tersebut

diatas

karena pengamatan

penulis

dewasa

ini

banyak masyarakat

Islam yang

sering

kali

melakukan

studi

baik

formal maupun'non formal

kerap

kali

mengalami kegagalan.

Ada

yang

gagal

ketika

dalam proses belajar mengajar, ada juga

yang

mengalami

kegagalan

dalam

mempraktekkan

atau

mengamalkan keilmuannya, Islam memandang kedudukan

ilmu

sangatlah penting, sebagai

jalan

mengenal

Allah

dan beribadah kepada-Nya. Menuntut

Ilmu

merupakan kewajiban setiap muslim baik

laki-laki

maupun perempuan.

Metode pembahasan dalam penelitian

ini

bersifat deskriptif analisis

dan Pure l-ibrary

Research. Sebagai sebuah

library

research,

studi

ini

difokuskan

pada penelusuran dan penelaahan

literatur

sarta bahan pustaka

lainnya

yang relevan dengan masalah yang

dikaji,

meliputi karya

al-Zarn,qi

yaitu Ta'lim al-Muta'allim

dengan cara

rlenelusuri

bab demi bab

yang membahas akhlak al-karimah dalam menuntut

ilmu.

Sedangkan bahan-bahan

tulisan

lain

yang

berkaitan dengan

Ta'lim al-Muta'allim

sebagai sumber sekunder serta semua tulisan yang berkaitan dengan akhlak al-karimah belajar sebagai sumber pelengkap,

yaitu

membantu bahan penelitian, pembahasan, dan analisis yang komprehensif dalam penyususnan skripsi

ini.

Berdasarkan hasil penelitian penulis bahwa

Akhlak

al-Karimah pada

proses pembelajaran dalam perspektif

ilmu

pada

kitab Ta'lim

al-Muta'allim

merupakan kumpulan sikap dan perilaku yang harus dijalani oleh para pelajar dalam

menjalani proses pembelajaran. Adapun akhlak

al-karimah

yang terdapat dalam

kitab Ta'lim al-Muta'allim adalah sebagai berikut: 1) Niat saat belajar mencari ilmu harus diniati dengan niat yang baik sebab dengan niat itu dapat mengantarkan pada

pencapaian keberhasilan. Memilih Guru hal tersebut bisa mempengaruhi kehidupan peserta didik.Menghormati Guru adalah paling utama dibanding memuliakan yang

lain.

Sebab dengan gurulah manusia dapat memahami tentang

hidup,

dapat

membedakan antara yang hak dan batil.Keseriusan, Ketekunan dan Cita-cita Luhur bahwa orang yang mencari ilmu itu harus bersungguh-sungguh dan kontinyu. Orang

yang mencari

ilmu

tidak boleh banyak ticlur yang menyebabkan banyak waktu terbuang sia-sia, dan dianjurkan banyak waktu malam yang digunakan belajar.

Permulaan Ukuran dan Tata Tertib Belajar seorang pelajar harus memperhatikan

benar permulaan belajar Kemudian ukuran dalam belajar sesuai dengan kadar

kemampuan seseorang dan dalam belajar harus tertib artinya harus diulang kembali untuk mengingat pelajaran yang telah diajarkan.Tawakal Dalam bab

ini

diterangkan

bahwa setiap pelajar hendaknya selalu bertawakal selama dalam mencari ilmu.Wara

adalah meninggalkan hal-hal yang syubhat atau samar-samar hukumnya baik yang

menyangkut makanan, pakaian, maupun persoalan apapun.

(6)

KATA

PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Tiada

kata

yang

paling indah

dan pantasuntuk

kami

ucapkan selain dari

memanjatkan

puji

dan syukur kehadirat

Allah

SWT yang telah menganugerahkan berbagai

kenikmatan dan

kasih

sayang-Nya

yang

tak

terhingga kepada kami. Kami memuji, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kami berlindung

kepada

Allah

dari

kejahatan-kejahatan

diri

kami

dan keburukan-keburukan amal dan perbuatan

kami.

Aku

bersaksi

tidak

ada Tuhan yang patut disembah kecuali

Allah

yang Maha Esa dan

tidak

ada sekutu

bagi-Nya. Dan

aku bersaksi bahwa

Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya'

Shalawat bersinggasanakan

salam

semoga

selalu terlimpah

keharibaan

junjungan alam

Baginda

Nabi

besar

Muhammad SAW,

juga

kepada keluarga,

Sahabat,

dan

Umatnya. Semoga

diakhirat

kelak

semua umatnya

akan mendapatkan syafa' atul'uzmahnya.

Dengan segenap kerendahan

hati

penulissadar dengan sepenuhnya bahwa

dalam

penyusunan

skripsi

ini

tidaklah

sernudah

membalikkan telapak

tangan

tidaklah sedikit

halangan, hambatan, gangguan

dan

kesulitan

yang

dihadapi'

Namun berkat bantuan, bimbingan dan motivasi barbagai

pihak

akhirnya penulis

dapat menyelesaikan skripsi

ini.

Oleh

karena

itu

penulis

menyampaikan ucapan

terima kasih

yang

tak terhingga kepada:

1.

Kementrian Agama

Republik

Indonesia, atas kesempatan yang telah

diberikan

untuk

mengikuti

Program

Peningkatan

Kualifikasi

Akademik Jenjang S1 melalui kerja sama proglam Dual Mode System

(DMS)

yang diselenggarakan oleh

UIN

syarif

Hidayatullah Jakarta.
(7)

\;e

J.

4.

5.

Ketua

Jurusan Pendidikan

Agama

IslamUIN

Syarif

Hidayatullah Jakarta.

Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama

IslamUIN

Syarif

Hidayatullah

Jakarta.

Bapak

Drs.

H.

Ghufron Ihsan,

MA.

Dosen pembimbing

skripsi

yang

telah

banyak

meluangkan

waktu,

fikiran

dan

tenaganya

untuk memberikan arahan dan

bimbingan

serta saran-saran kepada penulis

dalam menyusun skripsi

ini.

Bapak

dan Ibu

Dosen

Fakultas

Ilmu

Tarbiyah dan Keguruan

yang

tidak

disebutkan satu persatu namanya

yang telah mendidik

dan memberikan ilmunya kepada penulis.

Pimpinan dan Staff program Dual Mode system

(DMS)

Pimpinan

dan Staff

Karyawan

Perpustakaan Fakultas

Tarbiyah

dan Keguruan

(FITK)

yang telah memberikan keluasan dalam peminjaman

buku-buku yang dibutuhkan.

Kepala

MI

Terpadu Fatahillah KH.Sayadi,

S. Pd.I

yang

telah memberikan

izin

kepada penulis untuk mengikuti perkuliahan DMS.

10.

Guru-Guru

kami

tercinta:

KH.

Syukron

Ma'mun,

yang

selalu memberikan arahan-arahannya kepada penulis.

ll.Ayahanda

sayadi,

s.

Pd.I

dar, Ibunda

Atik

Mulyati,

s.

Pd.

Kalian

adalah segalanya bagiku, Kalian telah memberikan segalanya untukku, pengorbanan, kasih sayang, kelembutan sikap dan kemustajaban

doa-doa yang engkau panjatkan dan yang selalu engkau tujukan untukku.

7}.Kepada Adinda

Raiha dan Fawaz

yang

selalu memberikan motivasi

untuk penulis.

13. Rekan-rekan Mahasiswa

PAI DMS

kelas

B

yang

selalu menjunjung kekompakkan dalam berbagai

hal

terutama dalam proses belajar dan

pembelajaran

di

kampus

tercinta.

Khususnya

Rodalih

S.Pd.I,

syachodir

s.Pd.I,

Abar

s.Pd.I,

Nicky

s.Pd.I,

sena Rachmadana S.sy,

Dian, dan teman-teman yang

tidak

disebutkan satu persatu yang selalu memberikan dorongan semangat dan mengingatkan dikala

khilaf.

6.

7. 8.

9.

(8)

Pemilie rnenyadml ararr

eoffihairtuan

dan dorengan yang telah diberikan

smua pihek

Jaza'

ult&

t3ara,

Akhi@

dai

*egenap kerendahan hati,

p'cmm sadtr b*h*a,halq&

All&4di

yeg,M*61

sriffiprui&, h{aha

segalanya,

seting

masih

banysk

@B,pua

-

dan

keherrdakNya

yeng.tuti*mrpe

Ai'*i6ry:ffiteffi.

j 'ffi

iaf

ytllg

hlffi

fiErLuak dan

kita

kq

ui

ArB

da$tr

iffifi.h:i,fik'ffi

t,

if-t

to,nmtrtif

dari

se rrua

sail&t'p hm:r .$

skrip$i

ini

dapst b€ilfieixfadt khususnya

mtuk

penulix dan r*nrrmnyabagi

pua

penrbaca.

Amiin.

Wallahu

A'lam

$

trsa, 12Iariuflri

2015

Pemrlis

(9)

a.*

DAFTAR

ISI

SURAT

PERNYATAAN

KARYA SENDIRI

LEMBAR

PENGESAHAN DOSEN

PEMBIMBING

LEMBAR

PENGESAHAN

UJIAN MUNAQASAH

ABSTRAK

...i

KATA

PENGANTAR...

...ii

DAF"TAR

ISL...,...

...v

BAB

I:

PENDAHULUAN

A.

tatar

Belakang

Masalah

...,...1

B.

Identifikasi

Masalah

...,4

C.

Pembatasan

Masalah

...4

D.

Perumusan

Masalah

...5

E.

Tujuan dan Manfaat Penelitian

i.r...

...5

BAB

II:

KAJIAN TEORI

.

A.

AKHLAK

...6

1.

Pengertian

Akh1ak...;...

...6

2.

Akhlak

Secara

Termino1ogi...,...

... 8

3.

Macam-macam

Akhlak

...17

4.

Sumber

Akhlak...

....,26

5.

Manfaat

Akhlak

Mulia

...27

6.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembinaan Akhlak...28

7,

Metode Pembinaan

Akhlak...

.,...29

B.

ILMU...

...31

1.

Pengertian

Ilmu

...

...,31

2.

Kegunaan

Ilmu

...r...;...r...

...34

3.

Pengertian Menuntut

Ilmu (Belajar)

...

...36

C.

Hasil Penelitian yang

Relwan

...40

BAB

III:

METODOLOGI PE-NELITIAI\

A.

Objek dan Waktu

Penelitian..

...43
(10)

C.

Fokus

Penelitian

...45

D.

Prosedur

Peneiitian...ir...

...46

BAB

IV

:

BEBERAPA BUTIR

AKIILAK

AL-KARIMAH DALAM

MENUNTUT

ILMU

MENURUT

KITAB

TA'LIM AL-MUTA'ALLIM

A.

Latar Belakang Penyusunan

Kitab

...47

B.

Mengenal

al-Zamuji.

...48

C.

Kandungan Kitab

Ta'lim

al-Muta'alIim...

...52

1.

Isi

Kandungannya...i...r...!...

...52

3.

Menuntut

Ilmu

dalam Perspektif Islam yang terdapat dalam

Kitab

Ta'lim

al-Muta'a11im...,..,...,...-.

...56

a.

Penentuan

Niat

yang

Kuat...

...,..,...59

b.

PErnilihan Guru dan

Teman

...60

c.

Penghormatan Terhadap Guru dan

Ahli

Ilmu.

...,...64

d.

Keseriusan dan ketekunan dalam mewujudkan cita-cita...;....69

e.

Ketaatan dalam proses dan Tata Tertib

Belajar

...70

f.

Penyerahan

diri

kepada

Altah

(Tawakal)

...74

BAB

V

:

PENUTUP

A.

Kesimpulan

...79

B.

Saran...

...,...80

DAFTAR

PUSTAKA

...8I

(11)

BAB

I

PE,I\DAIIULUAN

A.

Latar

Belakaug

Masalah

Islam

memandang

kedudukan

ilmu

sangatlah

penting,

sebagai jalan mengenal

Allah

dan beribadah kepada-Nya.Menuntut

Ilmu

merupakan kewajiban

setiap

orang. I(alau

ingin

pintar

haruslah

rajin

belajar dan berlatih.

Untuk mendapatkan

ilmu

manusia diperintah

untuk

menuntut

ilmu

dari

sejak kecil

sampai

akhir

hayatnya.

Untuk

memperoleh

ilmu, baik

itu

ilmu

agama maupun

ilmu

lainnya,

sudah barang tentu harus rnemperhatikan adab (tata

krama)

yang

seharusnya

ikuti

agar

ilmu

yang

pelajari

tersebut dapat bermanfaat

bagi diri

sendiri

dan orang

lain.

Dan

usaha

yang intens harus dilakukan agar

dapat menjadikan adab tersebut sebagai pakaian yang melekat dalam

diri

setiap pribadi

muslim

dan

di

manapun berada.

Akhlak

harus diapresiasikan dalam bentuk

riil,

baik

itu di

sarana pendidikan formal maupun informal.

Akhlak mulia

merupakan barometer terhadap kebahagiaan, keamanan,

kotertiban

dalam kehidupan manusia

dan

dapat dikatakan bahwa

ahklak

merupakan

tiang berdirinya umat,

sebagaimana

shalat

sebagai

tiang

agama

Islam.Dengan

kata

lain

apabila

rusak

akhlak suafu

umat

maka

rusaklah

b angs anya. P enyair b es ar S yauqi pern ah menulis :

f#t'&i{*i

*s'r;'or;'*;.

t1'.iy-rir

i;ir

rir

Sesungguhnya

kejayaan

suatu umat ftangsa)

terletak

pada

akhlalvtya

selagi

merekn berakhlak/berbudi

perangai

utama,

jika

pada

mereka

telah

hilang

akhlalmya, maka

jatuhlah

umat (bangsa)

ini.t

Untuk

mencapai

akhlak

yang

baik,

manusia

bisa

mencapainya melalui

dua cara,

M. Yatimin

Abdullah menjabarkannya sebagai berikut:

"Pertama,

melalui karunia Tuhan yang

menciptakan

manusia

dengan

fitrahnya yang

sernpuma,

akhlak yang

baik,

serta

nafsu

syahwat yang tunduk kepadaakal dan agama. Manusia tersebut dapat memperoleh

ilmu

tumar

(12)

tanpa belajar

dan

tanpa

melalui

proses

pendidikan. Manusia

yang tergolong ke dalam kelompokini adalah para nabi dan rasul

Allah.

Kedua, melalui cara berj uang secarabersungguh-pungguh (muj ahadah) dan

latihan

(riyadhah),

yaknimembiasakah

diri

melakukan

akhlak-akhlak

mulia.

Ini

yang dapat dilakukan oleh manusia biasa,

yaitu

dengan belajar dan terus-menerus berlatih.

"'

Sejak manusia dilahirkan ke alam dunia, tak pemah

luput

dari dirinya hak dan kewajiban yang selalu menyertainya dalam

mengarungi

kehidupan

di

dunia. Salahsatu

hak

dan sekaligus kewajiban yang manusia kerjakan adalah menuntut

ilmu(belajar). Menuntut

Ilmu

merupakan

hak

yang

patut

dimiliki

oleh manusia, karena denganmenuntut

ilmu

(belajar) manusia akan mendapatkan

ilmu, di

mana

ilmu

merupakan salah satubentuk

nikmat

yang dianugerahkan

Allah

swt

kepada

manusia.

Adapun

menuntut

ilmu

(belajar)

dikatakan suatu

kewajiban

bagi

setiap manusia, karena tanpa menuntut

ilmu

(belajar) manusiatidak akan pernah dapat

melaksanakan kewajiban-kewajiban

lain

yang harus diatunaikan

di

muka

bumi

ini.

Bahkan

bagi

seorang

muslim

kewajiban

menuntut

ilmu

(belajar)

inisangat ditekankan

sekali. Islam

sebagai agarfla samawi

yang terakhir, dikenal

sebagai agarna

yang paling universal

diantara

agama-agama

samawi

lain

yang

ada

sebelum Islam.Keuniversalan Islam dikarenakan ajarannya yang bersifat universal

terhadap,semua sendi-sendi

kehidupan.

Sehingga

akhlak dalam menuntut ilmu

pun

ikut

tercakup

dalam

ajaran Islam.Sejak manusia mengenal

peradaban,

menuntut

ilmu

(belajar)

adalah proses mengenai peradabanitu

sendiri.

Dengan

demikian, menuntut

ilmu

(belajar) menjadi

sebuah

aktifitas yang harus

di

jalanioleh

manusia

yang

menginginkan

nilai

peradaban

dinamis,

baik

untuk

dirinyasendiri mirupun untuk lingkungannya.

Dalam kaitannya dengan perkembangan manusia, menuntut

ilmu

(belajar)

merupakanfaktor penentu proses

perkembangan,

manusia memperoleh

hasil

perkembanganberupa pengetahuan, sikap, keterampilan,

nilai,

reaksi, keyakinan

dan

lain-laintingkah

laku

yang

dimiliki

menusia adalah diperoleh

melalui

2 M. Yatimin Abdullah, Studi Akhlak dalam Perspektif Al-Qur'an. (lakarta: Amzah,

(13)

menuntut

ilmu

(belajar).3

'?endidikan Islam

sangat

peduli

terhadap

hak

dan

kewajiban para

murid

(anakdidik) sebagaimana ia

juga

sangat peduli terhadap hak dan

kewajiban para

gurutermasuk

di

dalamnya

etika-etika yang

harus menjadi pedoman bagi para murid".4

Berangkat

dari

kesadaran

ini,

upaya

menciptakanbelajar

yang ur^empsrcepatdan menjamin kesuksesan menuntut

ilmu ftelajar)

menjadi

sebuah

pemikiran

tersendiri

di

kalangan

para ilmuan.

Sebut saja misalnya

Socrates dengan

konsep dialektikanya.

Begitu pula

dengan

tokoh-tokoh

lainnya.Dalam

sejarah Isiam terdapat seorang yang mempunyai kepedulian yang tinggiterhadap

proses

belajar,

syaikh al-Zanuji, demikian

namanya, menuangkan rangkaian

pengalaman

dan

renungannya

tentang

bagaimana

seseorang mestinyasukses

belajar dalam

sebuah

kitab. Kitab

tersebut

diberi

nama

kitabTa'lim Muta'allim.

Apa

yang beliau tuliskan

kemudian

menjadi

referensi dasar

dari

parasantri

(sebutan

pelajar

bagi

siswa

di

lingkungan pondok

pesantren)

hingga

saat

ini.Terutarna di pondok pesanren salaf.

Menuntut

ilmu

(belajar) sebagai sarana unfuk memperoleh

ilmu,

haruslah

melalui

jalan

danpersyaratan yang benar. Karena jalan yang benar dan persyaratan yang terpenuhidalam

belajar

adalah

kunci untuk

mencapai keberhasilan belajar.

Maka

dari

itudalam

kitab

Ta'lim

Muta'alim

al-Zarnuji

lebih

memfokuskan pembahasannyapadajalan atau persyaratan (metode) yang harus ditempuh guna

memperolehkeberhasilan

dalam

menuntut

ihnu(belajar). Oleh

karena

itu

sudah sepantasnya bagi para pencari ilmuharus mengetahui dan memahami syarat-syarat

yang harus dipenuhi

dalammencari

ilmu

agar apa

yang

mereka harapkan bisa tercapai, yaitu mendapakanilmu yang bermanfaat dan bisa rnengamalkamya.

Dari

yang

tercatat

di

atas

tidak

lantas menjadikan

Ta'lim

Muta'lim-nyaSyaikh al-Zamuji ketinggalan zaman sama sekali dan tidak layak lagidijadikan referensi

bagi

santri. Penemuan-penemuan mutakhirdalam bidang pembelajaran, menjadikan

Ta'lim

Muta'lim-nya

Syaiktr

al-Zurnuji

menjadi tetap menarik untuk

3

Alisuf Sabri , Psikologi Pendidikan, (Jakarta: CV Pedoman Ilmu Jaya, 1995), cet III, h.

54.

a Muhammad

(14)

dikritisi

maupun

sebagai

perbandingan danpelengkap

bagi

teori-teori pembelajaran

yang

berkembang sekarang

ini.

Karenadiakui

atau

tidak

banyak

tokoh

(terutama pengasuh

pondok

pesantren)

dilndonesia yang

mengawali studinya dengan secara ketat mempraktekkan apayang tercatat dalam

Ta'lim

al-M ut a' lim -nya S yaik*r al-Zarrruji.

Mengingat

proses

menuntut

ilmu

(belajar)

tidak

akan pernah

berhenti

hingga

akhir

dunia,

makapenulis

merasa

tertarik

untuk mengkaji

pemikiran

Syaikh al-Zamuji.

Benangmerahnya diharapkan

penulis

akan

menjadi

semacam

panduan

belajar

sederhanabagi

santri

atau pelajar dewasa

ini.

Selanjutnya akan

ditulis

lengkap

dengan

judul:

('Analisis

Akhlak

al-KarimahPada

Proses Pe mbelaj

arandalamPersfektif

IImu

Pada

Kitab

Ta'

lim

al-Muta'

alli

m?

B.

Identifikasi

Masalah

Berdasarkan

latar

belakang masalah

di

atas,

maka

penulis mengidentifikasikan masalah sebagai berikut:

i.

Banyaknya

murid

yang

kurang

memiliki

akhlak

dalam

menuntut ilmu(belajar).

2.

Peserta

didik

tidak memperhatikan akhlak atau adab dalam menuntut

ilmu

(belajar).

3.

Peserta

didik

yang kurang hormat terhadap guru.

C.

Pembatasan Masalah.

Mengingat luasnya bidang

garapan,

maka

untuk lebih

memperjelas danmemberi arah yang tepat dalam penulisan skripsi

ini,

perlu adanya pembatasan masalah dalam pembahasannya.

Maka

penulis rnembatasi permasalahan sebagai berikut:

1.

Konsepakhlak atau adab menuntut

ilmu

(belajar)

dalam kitab

Ta'lim

Muta'allim.

2.

Analisis

Akhlak

al-Karimah Pada Proses Pembelajaran dalam Perspektif
(15)

?.;,

D.

Rumusan

Masalah

Bordasarkan

identifikasi

dan

pembatasan

masalah,

maka

penulis

merumuskar

masalah

yang

hendak

di

bahas adalah

dalam

skripsi

ini

sebagai berikut:

1.

Bagaimana konsep

akhtak

atau adab menuntut

ilmu

(belajar)

dalam

kitab

Ta' lim Muta' allim?

2.

Bagaimana

Analisis

Akhlak

al-Karimah

Pada Proses Pembel ajaran dalam Perspektif

Ilmu

Pada

Kitab Ta'lim al-Muta'allim?

E.

'fujuan

dan

Manfaat

Penelitian

Tujuan penelitian

ini

adalah:

1.

Untuk mengenal dan mengetahui lebih dalam

pemikiran

a!-Zarnuji.

2.

Untuk

menyingkap

konsep aktrlak menuntut

ilmu

(belajar)

dalam pandeingan

al-Zamaji

yang terdapat dalatn kitab Ta'lim

Muta'lim.

Adapun manfaat dari penelitian

ini

adalah sebagai berikut:

1.

Hasil

penelitian

ini

sedikit

banyaknya

dapat

menambah

kontribusi dalamilmu pengetahuan khususnya di bidang pendidikan.

2.

Hasil penelitian

ini

dapat dijadikan acuan dari para pembaca.

3.

Hasil

penelitian

ini

merupakan langkah

awal dan

dapat

ditindak

lanjuti oleh penulis berikutnya.
(16)

6

A.

1.

BAB

II

KAJIAN TEORI

AKIILAK

Pengertian

Akhlak

Kata

Akhlaq

berasal dari bahasa

Arab

yang sudah

di

Indonesiakan; yang

juga

diartikan

dengan

istilah

perangai atau kesopanan.

Kata

ijyii

adalah

jama'

talrsir

dan

kataji!

sebagaimana

halnya kata

ilflli

adalah

jama'talair

dari kata

'r#yuns

artinya batang atau leher. Kata-kata tersebut, merupakan

jama'

tal$ir

yang tetap

atau

tidak

dapat

diubah

bentuknya dengan

jama'

talcsir yang

lain.r

Secara lingl,ristik (kebahasaan) kata

akhlak

merupakan isim

jarnid

atau

isim

ghair

mustaq yang

tidak

mempunyai akar kata, melainkan

kata

tersebut memang

begitu

adanya2.Akhlak adalah

isim

masdar (bentuk

infinitif)

dari kata akhlaqa,

yukhliqu,

ikhlaqan, sesuai dengan wazan tsulasi mazid

af'ala,

yuf

ilu

if'alan

yang

berarti al-sajiyah

(perangai),

ath-thabi'ah

(kelakuan, tabi'at, watak dasar),

al-'adat

(kebiasaaan, kelaziman),

al-maru'ah

(peradaban

yang

baik),

dan

al-din

(agama).3Pengertian

akhlak

secara

etimologi dapat diartikan sebagai budi pekerti, watak dan perangai.a

Kata al-khuluq

merupakan

sifat

yang

terpatri

dalam

jiwa,

yang darinya

terlahir

perbuatan-perbuatan

dengan

mudah tanpa

memikirakan

dan

merenung

terlebih

dahulu.sJika

sifat

yang

tertanam

itu

darinya

terlahir perbuatan-perbuatan

baik

dan

terpuji

menurut

rasio dan

syariat

maka

sifat tersebut dinaniakan

akhlak yang

baik.Sedangkan

jika

yang

terlahir

adalah perbuatan-perbuatan

buruk,

maka

sifat

tersebut dinamakan dengan akhlak

rMahiuddin, Akhlak Tasawuf

I

;Mukjizat Nabi, Karomah Wali dan Ma'rifah Sufi, (Jakarta: Kalam Mulia, 2009), h. I

'

Moh. fudani, Akhlak Tasawuf; Nitai-Nilai AkhlaV Budipekerti dalam lbadat dan

Tasawuf,.(lakarta: Karya Mulia, 2005), h, 25

'Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006), h. I

aM. Dahlan Yacub al-Barry, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, (Surabaya: PT. Arkola,200l), h. l9

(17)

""r'

yang

buruk.Al-khuluq

adalah suatu

sifat

jiwa

dan gambaran batinnya. Dan sebagaimana

halnya

keindahan

bentuk

lahir

manusia

secara

mutlak

tak terdapat terwujud hanya dengan

keindahan

dua mata, dengan tanpa hidung,

mulut

dan

pipi.

Sebaliknya, semua

unsur

tadi

harus

indah

sehingga terwujudlah keindahan lahir manusia itu6.

Demikian

juga,

dalam

batin

manusia

ada

empat

rukun yang

harus terpertuhi seluruhnya sehingga terwujudlah keindahan

khuluq

'akhlak'.

Jika empat

rukun

itu

terpenuhi,

indah dan

saling bersesuaian,maka terwujudlah keindahan

akhlak

itu. Ke

empat

rukun

itu

antar

lain:

a.

Kekuatan

ilmu,

b.

Kekuatan marah,

c.

Kekuatan syahwat,

d.

Kekuataan mewujudkan keadilan

dianthra tiga kekuatan tadi.

a.

Kekuatan

ilmu

Keindahan

dan

kebaikannya

adalah

dengan membentuknya

hingga menjadi mudah mengetahui perbedaan

antarajujur

dan dusta dalam ucapan,

antara kebenaran dan kebatilan dalam berakidah

dan

antara keindahan dan keburukan dalam perbuatan.Jika kekuatan

ini

telah

baik,

maka lahirlah buah

hikmah,

dan hikmah

itu

sendiri

adalah

puncak akhlak yang

baik.

Seperti difirmankan oleh

Allah

SWT:

Gj"

($

t*,a:i

J:o'\Aii,-r"i

;i

ry

i;

r'4ii

ei

@:*li,

ir:ii.llAL

Allah

rilenganugerahkan

Al

Hikrnah

(kefahaman

yang dalam

tentang

Al

Quran

dan

As

Sunnah) kepada

siapa

yang

dikehendaki-Nya.

dan Barangsiapa

yang

dianugerahi

hilcrnah,

ia

benar-benar

telah

dianugerahi karunia

yang

banyak.

dan

hanya orang-orang

yang

berakallah-yang dapat mengambil pelaj aran (dari

firman

Allah).

(Q. S Al-B aq arah : 2

69)'

b.

Kekuatan Marah

I(eindahannya adalah

jika

pengeluaran marah

itu

dan penahannya sesuai

dengan tuntutan hikmah.

hdusa Subaiti, Akhlak Keluatga Muhammad SAW, (Iakara;Lentera Basritama, 2000), h.

l6

TDepartemen Agama

Rlll-Qur'an

dan Terjemahnya,(takarta:Citra Kharisma Bunda,
(18)

c.

Kekuatan syahwat.

Keindahan dan kebaikantya adalah

jika

ia ada dibawah perintah hikmah.

Maksudnya perintah akal dan syari,at.

d.

I(ekuatan keadilan.

Adalah

kekuatan mengendalikan

syahwat

dan

kemarahan

dibawah perintah akal dan syari'at.

Dari

keseimbangan

kekuatan

akal

terwujudlah, keindahan

dalam pengaturan, ketinggian akal, pendapat yang

baik,

dan prasangka yang tepat,

cermat dalam

melihat

detail-detail

perbuatan

dan

pernak-pernik

penyakit

jiwa.

Tindakan menguranginya akan dilahirkan perbuatan zalim, maker,

tipu

daya,dan

keculasan.Al-Qur'an

telah

menyrnggung akhlak-akhlak

tersebut dalam sifat-sifat orang yang beiimiur,

Allan

SWT berfirman:

1139.3

i;tt;,

i

,i

-ii:i

frL

t;v

'ufr

Jrr1?i

t*t

@-a;

*$i

i+i3l"i,,i

W

,3,;a-Liu"r4;i

sesungguhnya orang-orang yang beriman

itu

hanyalah orang-orang yang

percaya (beriman)

kepada

Allah

dan

Rasul-Nya, kemudian mereka

tidak ragu-ragu dan mereka

be{uang

(berjihad) dengan harta dan

jiwa

merek

a

pada jalan

Allah.

mereka Itulah orang-orang yang benar.(e.S Al,Hujurat:15)8

2.

Akhlak

Secara

Terminologi

a.

Menurut Ibnu Miskawaih

ibnu Miskawaih memberikan

ta,rif

atau definisi akhlak yaitu:

il"t:

*?"auai

iyqUs

4r

ir

akhlak adalah keadaanirwa seseorang yang selalu mendorong manusia berbuat baik tanpa proses pemikiran atau pertimbangan.e

Menurut Ibnu Miskawaih

akhlak

adalah keadaan

jiwa

seseorang yang

selalu

mendorong manusia berbuat

baik

tanpa

proses

pemikiran

atau

pertimbangan.

Menurut al-Qurtuby bahwa akhlak

adalah suatu perbuatan yang

'ibid,h.l44

(19)

bersumber

dari

adab kesopanannya karena perbuatan

itu

termasuk

bagian

dari

kejadiannya.

Sedangkan

Muhammad

Ibn 'Illan

al-Sadiqi

menekankan bahwa

hanya

perbuatan

baik

saja yang

termasuk

kategori

akhlak.l0

Al-Farabi menjelaskan

bahwa ahlak

itu

bertujuan

unfuk

memperoleh kebahagiaan yang merupakan tujuan tertinggi yang

dirindui

dan diusahakan setiap orang.

ll

b.

Menurut

Al-Jurjani

Al-Jurjani

mendefinisikan

al*llak

dalam bukunya, at-ta'rifat

sebagai benkitt*.'Akhlak

adalah

istilah

bagi

sesuatu sifut

yag

tertanam

kuat dalam diri,

yang darinya terlahir

perbuatan-perbuatan dengan

mudah

dan ringan,

tanpa

perlu

berpikir

dan merenung. Jika

dari

sifat tersebut terlahir perbuatan-perbuatan

yang indah mgnurut akal dan syari'ah,

dengan

mudah,

maka

sifat

tersebut

dinamakan dengan

akhlak yang

baik.Sedangkan

darinya

terlahir

perbuatan-perbuatan yang buruk, maka sifat tersebut dinamakan akhlak yang

buruk."lz

c.

Menurut Ahmad bin Mushthafa (Tasy Kubra Zaadah)

Ia

seorang

ulama

ensiklopedis

mendefinisikan aktrlak

sebagai berikut:

Akhlak

adalah

ilmu

yang darinya

dapat

diketahui jenis-jenis

keutamaan. Dan keutamaan

itu

adalah

terwujudnya

keseimbangaan antara

tiga

kekuatan, yaitu: kekuatan

berpikir,

kekuatan rnarah, kekuatan syahwat. " I 3

d.

Menurut Muhammad bin

Ali

al-Faaruqi at-Tahanawi

Ia

berkata

"Akhlak

adalah keseluruhannya kebiasaan,

sifat alami,

agama

dan harga

diri."laMenurut definisi

para ulama akhlak

adalah suatu

sifat

yang

tertanam

dalam

diri

dengan

kuat yang

melahirkan perbuatan-perbuatan dengan

mudah, tanpa

diawali

denga

berpikir

panjang, merenung

dan

memaksakan

diriDari definisi

di

atas

dapat

disimpulkan bahwa

akhlak

adalah merupakan tingkah laku dan perbuatan yang sudah nrelekat dan menetap dalam

jiwa

(menjadi malakaUkebiasaan), karena perbuatan tersebut

telah dilakukan

berulang-ulang,

'oMahiuddin, Akhlqk Tasawuf

I

;Mukjizat Nabi, Karomah Wali dan Ma'rifah Sufi,

(Jakarta: Kalam Mulia, 2009), h. 5

"Moh.

Ardani, Akhlak Tasawuf; Nilai-Nilai Akhlatd Budipekerti dalam lbadat dan Tasawuf, (Jakarta: Karya Mulia, 2005), h. 29

12Loc.

Cit.,hal3l

(20)

a"r,

t0

terus menerus dan bersifat spontanitas serta dengan kesadaran

jiwa

bukan paksaan atau ketidaksengaj aan. I 5

Jika memperhatikan

definisi-definisi

yang telah dipaparkan diatas tampak

tidak

ada yang bertentangan, melainkan

memiliki

kemiripan

antara satu dengan

yang lainnya. Definisi-definisi

akhlak tersebut secara substansial tampak saling

melengkapi, dan darinya terdapat

ciri-ciri

perbuatan akhlak, yaitu:16

1)

Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang telah tertanam kuat dalam

jiwa

seseorang, sehingga telah menj adi kepribadiannya.

2)

Perbuatan

akhlak

adalah perbuatan yang

dilakukan

dengan mudah dan

tanpa

melalui

proses pertimbangan.

Bukan berarti

dalam

melakukan

perbuatannya seseorang

itu

dalam keadaan

tidak

sadar,

hilang

ingatan,

tiudur

atau gila. Pada saat yang bersangkutan melakukan suatu perbuatan

dilakukan dalam keadaan sadar dan sehat fikirannya.

3)

Perbuatan

akhlak

adalah perbuatan

yang

timbul dari

dalam

diri

orang

yang

mengerjakannya,

tanpa

adanya paksaan

atau

tekanan

dari

pihak

lain.

Perbuatan

akhlak

adalah

perbuatan

yang dilakukan

atas

dasar

kemauan,

pilihan

dan keputusan yang bersangkutan.

4)

Bahwa

perbuatan

akhlak

adalah perbuatan

yang dilakukan

dengan sesungguhnya, bukan karena bermain-main atau berpura-pura.

5)

Ikhlas

karena

Allah

SWT

semata,

bukan

karena

ingin dipuji

atau

memamerkan

kepada

orang

lain

agat

perbuatannya

mendapatkan pujian.r?

Menurut Ibnu Miskawaih akhlak

adalah keadaan

jiwa

seseorang yang

selalu

mendorong manusia

befbuat

baik

tanpa

proses

pemikiran

atau pertimbangan.

Menurut al-Qurtuby bahwa akhlak

adalah suatu perbuatan yang

bersumber

dari

adab kesopanannya karena perbuatan

itu

termasuk bagian dari

kejadiannya.

Sedangkan

Muhammad

Ibn 'Illan

al-Sadiqi

menekankan bahwa

"Ibid.,h.33

"Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006),h.4-6

rT

(21)

-?*

11

hanya perbuatan

baik

saja yang

termasuk

kategori

akhlak.rs

Al-Farabi menjelaskan

bahwa ahlak

itu

bertujuan

untuk

memperoleh kebahagiaan yang merupakan tujuan

tertinggi

yang

dirindui

dan diusahakan setiap

orattg."Imam

al-Ghazalimengemukakan definisi akhlak sebagai berikut :

L-f

,*-)

ils1--a.

JulVt

)J4:

W i**

lJ

u,*,Ljt

d

aira

,.f

6:V

,:lLl

V-n

s

)'re

d

il).S,

Jt

?o-lu:-*

Bahwa akhlak adalah suatu sifat yang

tertanam

dalam

iiwa

yang

dari

padanya

timbul

perbuatan-perbuatan dengan _mudah

dengan

tidak

-mem

er lukan p ertimbangan

pikir

an (t er lebih dahulu).zo

Dari

definisi

tersebut dapat diketahui bahwa

hakikat

akhlak menurut

al-Ghazali mencakup

dua

syarat'.Pertama,

perbuatan

itu

harus konstan,

yaitu

dilakukan

berulang

kali

dalam bentuk yang

sama, sehingga dapat

menjadi kebiasaan. Kedua, perbuatan

itu

harus tumbuh dengan mudah tanpa pertimbangan

dan pemikiran,

yakni

bukan karena adanya tekanan, paksaan dari orang

lain

atau bahkan pengaruh-pengaruh dan bujukan yang indah dan sebagainya.Menurutnya

juga,

bahwa akhlak bukanlah

pengetahuan

(ma'rifah)

tentang

baik

dan jahat,

maupun kodrat (qudrah) untuk baik dan buruk, bukan pula pengamalan

(fi't)

yang

baik

dan

jelek,

melainkan

suatu keadaan

jiwa

yang mantap

(hay'arasikha

fi-nafs).21

Al-Jurjani

mendefinisikan

akhlak dalam bukunya,

at-ta'ifat

sebagai

berikut:"Akhlak

adalah

istilah bagi

sesuatu

sifat

yang tertanam

kuat

dalam

diri,

yang darinya terlahir perbuatan-perbuatan dengan mudah dan ringan, tanpa perlu

berpikir

dan merenung. Jika

dari

sifat tersebut

terlahir

perbuatan-perbuatan yang

indah menurut akal dan syari'ah, dengan mudah, maka

sifat

tersebut dinamakan dengan

akhlak

yang baik.Sedangkan

darinya terlahir

perbuatan-perbuatan yang

ttMahirrddin,

Akhlak Tasawuf

I

;Mu$izat Nabi, Karomah Wali dan Ma'rifoh Sufi, (Jakarta: Kalam Mulia, 2009), h. 5

"Moh.

Ardani, Akhtak Tasawttf; Nilai-Nilai AkhlaH Budipekerti dalam lbadat dan Tasawuf, (Jakarta: Karya Mulia, 20A5), h. 29
(22)

12

buruk,

maka

sifat

tersebut dinamakan

akhlak

yang buruk.22Menurut

Ahmad bin

Mushthafa

(Tasy

Kubra

Zaadah)Ia seorang

ulama

ensiklopedis mendefinisikan

akhlak

sebagai

berikut:Akhlak

adalah

ilmu

yang darinya

dapat diketahui

jenis-jenis

keutamaan.

Dan

keutamaan

itu

adalah terwujudnya keseimbangaan antaru tiga kekuatan, yaitu: kekuatan berpikir, kekuatan marah, kekuatan syahwat.23

Jika memperhatikan

definisi-definisi

yang telah dipaparkan diatas tampak

tidak

ada yang bertentangan, melainkan

memiliki

kemiripan

antara satu dengan yang

lainriya.

Definisi-definisi

alJrlak tersebut secara substansial tampak saling

melengkapi, dan darinya terdapat

eiri-ciri

perbuatan akhlak, yaitu:24

1)

Perbuatan

akhlak

adalah perbuatan yang telah tertanam

kuat

dalam

jiwa

seseorang, sehingga telah menj adi kepribadiannya.

2)

Perbuatan

akhlak

adalah perbuatan

yang dilakukan

dengan

mudah

dan

tanpa

melalui

proses pertimbangan.

Bukan

berarti dalam

melakukan

perbuatannya seseorang

itu

dalam

keadaan

tidak

sadar,

hilang

ingatan,

tidur

atau

gila.

Pada saat yang bersangkutan melakukan suatu perbuatan

dilakukan dalam keadaan sadar dan sehat fikirannya.

3)

Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang tirtrbul dari dalam

diri

orang yang mengerjakannya,

tanpa

adanya paksaan

atau tekanan

dari pihak

lain.

Perbuatan

akhlak

adalah perbuatan

yang dilakukan

atas dasar kemauan,

pilihan

dan keputusan yang bersangkutan.

4)

Bahwa

perbuatan

akhlak adalah perbuatan yang dilakukan

dengan

sesungguhnya, bukan karena bermain-main atau b erpura-pura.

5)

Ikhlas karena

Allah

swr

semata,

bukan karena

ingin dipuji

atau memamerkan kepada orang lain agar perbuatannya mendapatkan pujian.2s

Meskipun

berbeda-beda

dalam rumusan

dari

beberapa pemikir/ulama'

tersebut

di

atas,

namun satu

aspek

principal

yang

sama adalah

bahwa

tujuan utama Pendidikan Islam adalah agar manusia menjadi pengabdi

Allah

yang patuh

t'Ali Abdul Halim, Akhtak Mulia.

(Jakarta: Gema Insani, 2002),h. I I "Amr Khale d. Buku Pintar Akhlak, (Iabrta: Zaman,2}l0),h.

ig

'oAbuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: pT. Raja Grafindo persada, 2OO6),h.4-6

(23)

.t#!

13

dan setia26.sebagaimana yang telah diterangkan dalam al-Qur'an, Surat Adz- Dzariyat

ayat 56:

yr:;;flr*ji;.f.r"-t*C3

,'Dan aku tidak

menciptakan

jin

dan

manusia

melainkan

supaya mereka mengabdi kepada-Ku. " (Q.

S

Adz-Dzaiyat

: 5 6)27

Untuk

mencapai

tujuan

utama

pendidikan yang

tersebut

di

atas secara

optimal,

maka pencapaian

tujuan

tersebut harus dilatcukan secara bertahap dan

berjenjang.

Sehubungan dengan

hal

itu,

maka tujuan Pendidikan

Islam

harus mengacu kepada tujuan yang dapat

dilihat

dari berbagai dimensi, antara lain:

a)

Dimensi Hakekat Penciptaan Manusia

Berdasarkan

dimensi

ini,

tujuan

Pendidikan

Islam

diarahkan kepada pencapaian target yang berkaitan dengan hakekat penciptaan manusia oleh

AllahSWT.Dari sudut

pandangan

ini,

maka

Pendidikan

Islam

bertujuan untulcnembimbing perkembangan peserta

didik

secara

optimal

agar menjadi pengabdikepada

Allah

yang

setia.Berangkat

dari

tujuan

ini,

maka

aktivitas

pendidikan

diarahkan kepada

upaya membimbing manusia agar

dapat

menempatkan

diri

dan

berperan sebagai

individu

yang

taat

dalam

menjalankan

ajaran

agama

Allah.Jadi dimensi

ini

diarahkan

pada pembentukan

pribadi

yang

bersikap

taat

asas terhadap pengabdian kepada

Allah.

b)

Dimensi Tauhid

Mengacu kepada dimensi

ini,

maka

tujuan

Pendidikan

Islam

diarahkan

kepada upaya

pembentukan

sikap

takwa.Dengan

demikian

pendidikan

ditujukan

kepada

upaya

untuk

membimbing dan

mengembangkan potensi

peserta

didik

secara

optimal

agar

dapat

menjadi hamba

Allah

yang bertakwa.2s

c)

Dirnensi

Moral

'uJalaluddirr, zTDepartemen Teologi Pendidikan, (lakarta: PT' Raja Grafindo persada, 2003),h.92 Agama, Al - Qur' an dan t eri emah ny a

(24)

i"t

14

Dalam

dimensi

ini

manusia

dipandang sebagai

sosok

individu

yang

memiliki

potensi

fitriyah.Maksudnya

bahwa sejak dilahirkan, pada diri

manusia sudah ada sejumlah potensi bawaan

yang diperoleh

secara fitrah.

Menurut

M.

Quraish Shihab, potensi

ini

mengacu kepada tiga kecenderungan utama

yaitu

benar,

baik

dan indah. Dalam hubungan dengan dimensi moral

ini,

maka

pelaksanaan

pendidikan

ditujukan

kepada upaya

pembentukan

manusia

sebagai

pribadi

yang

bermoral.Tujuan

pendidikan

dititikberatkan

pada upaya

pengenalan terhadap

nilai-nilai yang

baik

dan

kemudian mengintemalisasikannya, sertamengaplikasikan

nilai-nilai

tersebut

dalam sikap dan perilaku melalui pembiasaan.

d)

Dimensi Perbedaan

Individu

Manusia

merupakan

makhluk

penciptaan

yang

unik.Secara

umum manusia

memiliki

sejumlah persamaan dan perbedaan antara

individu

yang

satu

dengan

yang lainnya.

Sehubungan dengan

kondisi

itu,

maka

tujuan pendidikan diarahkan pada usaha membimbing dan mengembangkan potensi

peserta

didik

secara

optimal

dengan

tidak

mengabaikan adanya faktor

perbedaan

individu,

serta

menyesuaikan pengembangannya dengan kadar kemampuan

dari

potensi yang

dimiliki

masing-masing.

Dimensi

individu

dititikberatkan

pada

bimbingan dan

pengembangan

potensi

fitrah

manusia

dalam

statusnya sebagai

insan.Dengan

dernikian

dalam

memberikan

pendidikan

kepada peserta

didik,

perlakuan

terhadap

individu

harus

pula

di das arkan atas pertimb angan p erbedaan ini. 2e

e)

Dimensi Sosial

Manusia adalah

makhluk

sosial, yaitu

makhluk

yang

memiliki

dorongan

untuk hidup

berkelompok

secara bersama-sama.Oleh

karena

itu

dimensi sosialmengacu kepada kepentingan sebagai

makhluk

sosial, yang didasarkan

kepada

pemahaman

bahwa

manusia

hidup

bermasyarakat.Dalam kaitan

dengan

kehidupan

bermasyarakat,

tujuan pendidikan

diarahkan

kepada

pernbentukan manusia sosial yang

memiliki

sifat takwa

sebagai dasar sikap

dan perilaku.Berangkat dari hal

inilah,

maka pendidikan dalam dimensi sosial
(25)

15

dititikberatkan

pada

bagaimana

upaya

untuk

membimbing

dan mengembangkan potensi peserta

didik

agar dapat berperan secara harmonis

dan

serasi

dalam kehidupan

bermasyarakat.Jadi

secara

singkat

tujuan

Pendidikan

Islam

dalam

dimensi

ini,

adalah

berupa

usaha

untuk memanusiakan peserta

didik

agar mampu berperan dalam statusnya sebagai

al-Nas

(maL:hluk sosial), abd

Allah

(hamba pengabdi

Allah)

dan

sekaligus

sebagai khalifah Allah.30

0

Dimensi Profesional

Dalam

hubungan dengan

Dimensi

Profesional, Pendidikan

Islam

mempunyai

tujuan

tersendiri.Tujuannya diarahkan kepada

upaya

untuk

membimbing

dan

mengembangkan

potensi peserta

didik,

sesuai

dengan bakatnya masing-masing.Dengan

demikian tujuan

Pendidikan

Islam

dalam

dimensi

ini

diarahkan pada

pembentukan kemampuan

profesional

yang dilandasi keimanan serta ditujukan untuk kemaslahatan masyarakat.

g)

Dimensi Ruang dan Waktu

Selain dimensi yang dikemukakan

di

atas, tujuan Pendidikan Islam juga

dapat dirumuskan atas dasar pertimbangan dimensi ruang dan waktu, yaitu di mana

dan

kapan.Secara garis besar

tujuan yang

harus

dicapai

Pendidikan Islam harus merangkum semua tujuan yang

terkait

dalam rentang ruang dan

waktu

tersebut.Dan

bila

dikaitkan dengan dimensi ruang

dan

waktu,

Pendidikan Islam diarahkan pada dua tujuan utama

yaitu untuk

memperoleh

keselamatan

di

dunia dan.kesejahteraan

hidup

di

akhirat'3'sedangkat

tahap-tahap tujuan pendidikan menurut Abu Ahmadi

meliputi:

1) Tujuan Tertinggi / Terakhir

2)

Tujuan Umum

3)

Tujuan Khusus

4)

Tujuan Sementara.3z

30lbid.,h. gB 3t

lbid., h. 99-loo

"Ah^rdi, Itlo*

1992), h. 63.

(26)

16

Masih banyak sekali pendapat para

ahli

yang mengatakan bahwa tujuan

pendidikan adalah

pembentukan

akhlak.

Muhammad

Athiyah

al-Abrasyi

misalnya mengatakan bahwa pendidikan

budi

pekerti dan akhlak adalah

jiwa

dan

t{uan

pendidikan

islam.33Menurut sebagian

ahli,

akhlak tidak

perlu dibentuk, karena akhlak adalah

insting

(garizah) yang dibawa manusia sejak

lahir.3a

selanjutnya

pendapat

lain

mengatakan,

akhlak

adalah

hasil

dari

pendidikan,

latihan,

pembinaan

dan

peduangan

keras

dan

sungguh-sungguh.3slbnu

Miskawaih,

Ibn

Sina,

al-Ghazali

dan lain-lain

termasuk kelompok yang mengatakan akhlak adalah hasil usaha (Muktasabahah).

Pada kenyataanya dilapangan, usaha pembinaan akhlak melalui berbagai lernbaga pendidikan dengan berbagai macam metode terus dikembangkan.

Ini

mnunjukkan bahwa akhlak memang perlu dibina, dan pembinaan

ini

ternyata

membawa hasil berupa terbentuknya

pribadi-pribadi muslim

yang berakhlak

mulia,

taat kepada

Allah

dan Rasul-Nya, hormat kepada orang

tua,

sayang

kepada sesama

makhluk

Tuhan dan seterusnya. Bayangkan saja

jika

anak-anak

tidak dibina

dalam

hal

akhlak?.Keadaan pembinaan

ini

semakin terasa diperlukan terutama pada saat dimana semakin banyak tantangan dan godaan

sebagai dampak dari kemajuan dibidang iptek.

Dengan demikian

pembentukan

akhlak dapat

diartikan

sebagai usaha

sungguh-sungguh dalam rangka membentuk

pribadi,

dengan menggunakan sarana pendidikan dan pernbinaan yang terprogram

baik

serta dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan konsisten. Pembentuksn akhlak

ini

dilakukan berdasarkan asumsi

bahwa

akhlak

adalah

hasil

usaha pembinaan, bukan

terjadi

dengan

sendirinya.

Potensi

rohaniah

yang

ada

pada

diri

manusia, termasuk didalamnya akal, nafsu amarah, nafsu syaltwat, fitrah, kata hati, hati

nurani

dan

intuisi

dibina

secara

optimal

dengan cara dan pendekatan yang

tepat.

33Muhamrnad Athiyah

al-Abrasy, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan

Bintang, 1974),cet. II, h. 15.

34Mansur

Ali

Rajab, Ta'ammulatfi Falsafah al-Akhlaq, (Mesir: Maktabah al-Anjali

al-Misluiyah, l96l), h. 91.

(27)

l7

3.

Macam-macam

Akhlak

Akhlak

didalam Islam terbagi menjadi dua macam,

yaitu

akhlak terpuji

(aklak al-karimah) dan akhlak yang tercela(akhlak al-mazmumah).

a.

Akhlak

al-Karimah

Akhlsk al-Karimah

berasal dari dua kata yaitu

akhlak

dan karimah.

Kata

akhlak berasal dari bahasa arab, dari

jamak

kata

Khuluq

yang

artinya "budi

pekerti,

perangai, tingkah

laku".36\dapun

yang

dimaksud

dengan akhlak

adalah kebiasaan dan kehendak seseorang berdasarkan

Al-Qur'an

dan hadist

yang tertdnam secara mendalam."Bila kehendak seseorang dibiasakan untuk

melawan keinginan keinginan

lain

dengan secara langsung dan berturut-turut

maka

ia

berakhlak.3TKarimah berasal

dari kata

bahasa arabkarama yang artinya

mulia/terpuji.

Adapun yang dimaksud dengan

Akhlak

terpuji

adalah

suatu

aturan

atau

norma

yang

mengatur hubungan

antar

sesama manusia

dengan tuhan dan alam sernesta.3s

Aqidah

yang

kuat

merupakan akar

bagi

tegak dan kokohnya bangunan

Islam. Kemudian

syariah dan ibadah merupakan cabang-cabang

yang

akan

membuatnya

semakin

rimbun,

tampak subur, teduh

dan kian

menjulang.

Sementara

akhlak

adalah

buah yang akan dihasilkan oleh pohon

yang

berakarkan aqidah serta bercabang syariah dan berdaun ibadah. Pohon yang

baik, tentunya akan menghasilkan buah yang baik. Maka aqidah, syariah serta

ibadah yang mantab tentunya akan menghasilkan akhlak yang mantab pula,

36flamzah Ya'qub, Etika Islam, (Bandung: Diponegoro, 1993), h. I

l.

3'Ahmad Amin, Etika (Itmu Akhlak) ter. Farid Ma'ruf, (la?.a*a: Bulan Bintang 1975), h'

62-63

38Danski, Akhl akul Karima&, http ://centermakalah.bloespot. cotn/20 I

(28)

18

yaitu

akhlakul karimah. Ashadi

Falih,

dalam

bukunya Akhlak

Membentuk

Pribadi Muslim; Akhtakul katimah

adalah

menuju

dan menghampiri

diri

seseorang dan

umat

kepada

Allah

yang Mahakarim.

Atau

menuju

pribadi

takwa.3e

Akhlak

al-Karimah

atau

akhlak

mulia

amat banyak

jumlahnya,

namun

dilihat dari

segi

hubungan

manusia

dengan

Tuhan dan

manusia

dengan manusia, akhlak

mulia

itu

dapat dibagi kepada

tiga

bagian. Pertama, akhlak

mulia

kepada

Allah

SWT.

Kedua, akhlak

mulia

kepada

diri

sendiri'

Ketiga,

akhlak

mulia

kepada

sesama manusiaa0.

Ketiga

akhlak

tersebut

dapat dikemukakan sebagai berikut:

1)

Akhlak

Kepada

Allah

SWT

Titik

tolak

akhlak kepada AUah

SWT

adalah pengakuan dan kesadaran bahwa tiada tuhan melainkan

Allah. Dia

memiliki

sifat-sifat

terpuji

demikian agung sifat-sifat itu, jangankan manusia malaikat pun tak mampu menjangkau

hakikat-Nya. Banayak

alasan mengapa

manusia harus berakhlak

baik

terhadap

Allah

SWT. diantaranya adalah hal-hal sebagai berikut:

a)

Karena A1lah telah menciptakan manusia dengan segala keistimewaan dan kesempurnaannya. Sebagai

yang

diptakan sudah

sepantasnya manusia

berterima

kasih

kepada

yang

menciptakanal.

Sebagaimana termaktub

dalam al-Qur'an surat

at-Tin

ayat 5

Allah

SWT berfirman:

@4F-

jhi

^fis:1!

,rAshadi Falih dan Cahyo Yusu{ Akhlak Membentuk Pribadi Muslim, (Semarang: CV

Aneka Ilmu IKAPI 2003), cet II, h' 197.

odt

tot.

Xdani, atcnbik Tasawuf; Nilai-Nitai Akhlatr/ Budipekerti dalam lbadat dan

Tasawuf,(Jakarta: Karya Mulia, 2005), h' 49

at

(29)

?;r

19

Sesungguhnya

Kami

telah

menciptakan

rnAnusia

dalam

bentuk yang

sebaik-baiknya .42

b)

Karena

Allah

SWT

telah membeiikan

kelengkapan panca

indera,

hati

nurani

dan

naluri

kepada manusia. Serhua potensi jasmani dan rohani

ini

amat

tinggi

nilainya, karena

dengan

potensi

tersebut

manusia

dapat

melakukan

berbagaiaktivitas

diberbagai

bidang

kehidupannya

yang membawa kePada kejayaannya.a3

2)

Akhlak

Kepada

Diri

Sendiri'

Akhlak

yang

dimiliki

pada

setiap

pribadi muslim

merupakan

pilar

dalam pendidikan

agama

Islam.

Dengan

sari

pati

kepribadian

yang semestinya

dimiliki

setiap

individu,

ini

diharapkan

bisa

membawa angin segar dalam upaya pembentukan ahlak anak yang harus

di

tanamkan kepada mereka diantarnnya yaitu:

a)

Salim:ul Aqidah

Aqidah yang

bersih (salimul aqidah)

merupakan sesuatu

yang sepatutnya ada pada setiap

muslim.

Dengan aqidah yang

bersih,

seorang

muslim

akan

memiliki

ikatan yang

kuat

kepada

Allah

Swt

dan

dengan ikatan yang

kuat

itu

dia tidak

akan menyimpang dari

jalan

dan

ketentuan-ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim

akan menyerahkan segala perbuatannya kepada

Allah

sebagaimana

firman-Nya:

@ lx#ri

g:

$

J.G3

Gw3,*s

ci;

LIU

artinya:

'sesungguhnya shalatla,t, ibadahlat,

hidup

dan matila,t, semua bagi

Allah

Tuhan semesta

alam'(QS

6:162).

azDepartemen Agama F.I, Al'Qur'a:n dan Teriemahnya.

(30)

t},

20

Karena

memiliki

aqidah

yang salim

merupakan sesuatu

yang

amat penting, maka dalam da'wahnya kepada para sahabat di Makkah, Rasulullah

Saw mengutamakan pembinaan aqidah, iman atau tauhid

b)

Shahihul lbadah.

Ibadah yang benar

(shahihul

ibadah) merupakan salah satu perintah

Rasul

saw yang

penting, dalam satu haditsnya; beliau

menyatakan: 'shalatlah kamu sebagaimana kamu

melihat

aku shalat.'

Dari

ungkapan

ini

maka dapat disimpulkan bahwa dalam

melaksanakan setiap peribadatan

haruslah

merujuk

kepada sunnah

Rasul

Saw yang

berarti tidak boleh

ada

unsur penambahan atau pengurangan.

c)

Matinul

Khuluq.

Akhlak

yang

kokoh

(rnatinul khuluq) atau akhlak yang

mulia

merupakan sikap dan

prilaku

yang harus

dimiliki

oleh

setiap

muslim,

baik dalam hubungannya kepada

Allah

maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang

mulia,

manusia akan bahagia dalam hidupnya,

baik

di dunia apalagi

di

akhirat. Karena begitu penting

memiliki

al,hlak yang

mulia

bagi umat manusia, maka Rasulullah Saw ditutus untuk memperbaiki akhlak dan

beliau

sendiri telah mencontohkan kepada

kita

akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh

Allah di

dalam

Al-Qur'an,

Allah

berfirman

yang

artinya:

'Dan

sesungguhnya

kamu

benar-benar

memiliki akhlak

yang

agung'(QS

68:a).

d)

Qowiyyul Jismi.

Kekuatan

jasmani (qowiyyul

jismi)

merupakan

salah satu

sisi peribadi

muslim

yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim

memiliki

daya tahan

tubuh

sehingga

dapat

melaksanakan ajaran Islam secara

optimal

dengan

fisiknya

yang

kuat.

Shalat, puasa,

zakat

dan

haji

merupakan amalan

di

dalam Islam

yang harus dilaksanakan dengan

fisik

yang

sehat

atau

kuat,

apalagi perang

di

jalan

Allah

dan

bentuk-bentuk

perjuangan lainnya.Oleh karena

itu,

kesiatan

jasmani harus

mendapat perhatian seorang

muslim

dan pencegahan

dari

penyakit

jauh

lebih

utama
(31)

?J

21

sesuatu yang

wajar

bila hal itu

kadang-kadang

terjadi,

dan

jangan

sampai

seorang

muslim

sering sakitaa. Karena kekuatan jasmani juga termasuk yang penting, maka Rasulullah saw bersabda

yang artinya:

'Mu'min

yang kuat

lebih aku cintai daripada

mu'min

yang lemah' (HR. Muslim).as

e)

Mutsaqqoful Filcri

Intelek

dalam

berfikir

(mutsaqqoful

filcri)

merupakan salah satu sisi

peribadi

muslim

yang penting. Karena

itu

salah satu

sifat

Rasul

adalah

fatonah (cerdas)

dan Al-Qur'an

banyak mengungkap

ayat-ayat

yang merangsang manusia untuk

berpikir,

misalnya firman

Allah

dalam surat

Al-Baqoroh:

Zlg,yangartinya:

Mereka bertanya kepadamu tentang, khamar dan

judi.

Katakanlah: 'pada

keduanya

itu

terdapat dosa besar

dan

beberapa manfaat

bagi

manusia, tetapi dosa keduanya

lebih

besar

dari

manfaatnya.'

Dan

mereka bertanya kepadamu apa

yang

mereka na/kahkan. Katakanlah:

'Yang

lebih dari

keperluan.' Demikianlah

Allah

menerangkan

ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu

berfikir

.46

Di

dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus

kita

lakukan,

kecuali

harus

dimulai

dengan

aktiviti berfikir.

Karenanya seorang muslim

harus

rnemiliki

wawasan keislaman

dan

keilmuar

yang luas. Dapat kita

bayangkan,

betapa

bahayanya

suatu

perbuatan

tanpamendapatkan pertimbangan

pemikiran

secara

matang

terlebih

dahulu.Oleh karena itu

Allah

mempertanyakan

kepada

kita

tentang tingkatan

intelektualitas

seseorang.

0

Mujahadatul Linafsihi.

Berjuang melawan

hawa nafsu (mujahadatul

linafsihi)

merupakan salah satu kepribadian

yang

harus ada pada

diri

seorang

muslim,

karena setiap manusia

memiliki

kecenderungan pada yang

baik

dan yang buruk.

Melaksanakan kecenderungan pada yang

baik

dan menghindari yang buruk

amat menuntut

adanya

kesungguhan

dan

kesungguhan

itu

akan

ada manakala sesoorang berjuang dalam melawan hawa nafsu. Oleh karena

itu

qIbid. aslbid.

(32)

22

hawa nafsu yang

ada pada setiap

diri

manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran

Islam,

Rasulullah Saw bersabda

yang artinya; Tidak

beriman

seseorang

dari

kamu sehingga

ia

menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran islam) (HR. Hakim).47

g)

Harishun 'ala

Waqtihi.

Pandai menjaga

waktu (harishun

ala

waqtihi)

merupakan

faktor penting

bagi

manusia.Hal

ini

karena

waktu

ifu

sendiri mendapat perhatian yang begitu besar dari

Allah

dan Rasul-Nya.

Allah

Swt banyak bersumpah

di

dalam

Al-Qur'an

dengan rnenyebut nama

waktu

seperti

wal fajri,

wad

dhuha,

wal

asri,

wallaili

dan

sebagainya.Allah

swt

memberikan

waktu kepada

manusia

dalarn

jumlah yang

sama

sotiap,

yakni

24

jam

sehari semalam.

Dari waktu

yang}4jam itu,

ada manusia yang beruntung dan tak

sedikit

manusia

yang

rugr.

Karena

itu

tepat

sebuah semboyan yang

menyatakan:

'Lebih

baik

kehilangan

jam

daripada kehilangan

waktu.' Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pemah kembali

lagi.

Oleh

karena

itu

setiap

muslim

amat dituntut

untuk

memanaj

waktunya

dengan

baik,

sehingga

waktu

dapat

berlalu

dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi Saw adalah memanfaatkan momentum

lima

perkara sebelum datang

lima

perkara,

yakni waktu hidup

sebelum

mati,

sehat sebelum

sakit,

muda sebelum tua, rehat sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.

h)

Munazhzhamunfi Syuunihi.

Teratur dalam

suatu urusan (munazhzhamun

/i

syuunihi)

termasuk

kepribadian

seorang

muslim yang

ditekankan

oleh Al-Qur'an

maupun

sunnah.

Oleh

karena

itu

dalam

hukum

Islam,

baik

yang

terkait

dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan

baik.Ketika

suatu urusan ditangani

secara bersama-sama, maka

diharuskan

bekerjasama

dengan

baik

sehingga

Allah

menjadi

cinta kepadanya.Dengan

kata

lain,

suatu urusan

dikedakan

secara profesional,
(33)

23

sehingga apapun

yang

dikeqjakannya,

profesionalisme

selalu

mendapat

perhatian

darinyaas. Bersungguh-sungguh, bersemangat

dan

berkorban,

adanya penerusan

dan berilmu

pengetahuan

merupakan

diantara

yang

mendapat perhatian secara serius dalam menunaikan tugas-tugasnya.

i)

Qodirun

'ala al-Kasbi.

Memiliki

kemampuan usaha

sendiri

atau yang

juga

disebut dengan

kekuasaan

(qodirun

alal

kasbi)

merupakan

ciri

lain

yang

harus

ada pada

seorang

muslim.

Ini

merupakan sesuafu

yang amat

diperlukan. Mempertahankan

kebenaran

dan berjuang

menegakkannya

baru

boleh dilaksanakan

bilakala

seseorang

memiliki

kekuasaan, terutama

dari

segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya

karena

tidak memiliki

kernandirian

dari

segi

ekonomi.

Kareitu

pribadi

muslim

tidaklah mesti

miskin,

seorang muslim boleh saja kaya raya bahkan

memang harus

kaya

agar dia bisa menunaikan

haji

dan umrah, zakat, infaq, shadaqah,

dan

mempersiapkan

masa

depan

yang

baik. Oleh

karena

itu

perintah mencari nafkah amat banyak

di

dalam

Al-Qur'an

maupun hadits dan hal

itu memiliki

keutamaan yang sangat tinggr.

Dalam

kaitan

menciptakan kekuasaan

inilah

seorang

muslim

amat

dituntut

memiliki

keahlian apa saja yang

baik,

agar dengan keahliannya

itu

menjadi

sebab baginya mendapat

rizki

dari

Allah

Swt,

karena

izki

yang

telah

Allah

sediakan harus

diambil

dan mengambilnya memerlukan

skill

atau ketrampilan.

j)

Nafi'un Lighoirihi.

Bermanfaat

bagi

orang

lain

(nafi'un

lighoirihi)

merupakan sebuah tuntutan kepada setiap

muslim.

Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang

baik

sehingga dimanapun

dia

berada, orang disekitarnya merasakan

keberadaannya

karena

bermanfaat

besar.

Maka jangan

sampai

seorang

muslim

adanya tidak menggenapkan dan

tidak

adanya tidak mengganjilkan.

Ini

berarti

setiap

muslim

itu

harus selalu

berpikir,

mempersiapkan

dirinya

otAbdullah

nashih Ulwan, Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam, Terj da,"j Tarbiyatu

(34)

dan

berupaya semaksima

agar dapat

bermanfaat

dalam

hal-hal

tertentu

sehingga jangan sampai seorang i'nuslim

itu

tidak

bisa mengambil peranan yang baik dalam masyarakatnya.

3)

Akhlak

Kepada Sesama Manusia

Banyak sekali rincian yang

dikemukakan

al-Qur'an

berkaitan

dengan perlakuan terhadap sesama manusia.

Petunjuk

mengenai

hal ini

bukan hanya dalam bentuk

larangan melakukan

hal-hal

negatif

seperti

membunuh,

menyakiti

badan, mengambil harta tanpa alasan yang benar,

melainkan

juga

sampai kepada

menyakiti hati

dengan

jalan

menceritakan

aib

seseorang dibelakangnya,

tidak

peduli

aib

itu

benar atau

salah, walaupun sambil memberikan materi kepada yang disakiti hatinya ituae.

Disisi

lain

al-Qur'an

menekankan

bahwa

setiap

orang

hendaknya

didudukkan

secara

wajar. Nabi

Muhammad

SAW

misalnya,

dinyatakan

seperti manusia

lain,

namun

dinyatakan

pula

bahwa

beliau

adalah Rasul

yang

memperoleh

wahyu

dari Allah.

Atas

dasar

itulah beliau

berhak memperoleh penghormatan

melebihi

manusia

lain. Oleh

karena

itu

atas

dasar uraian tersebut menurut penulis pembentukan akhlak pada anak-anak hendaknya

di

awali dari

internal

keluarga sendidri

yaitu

kedua orang tua hendaknya menanamkan rasa

cinta

kepada

Allah

(keimanan), dilanjutkan dengan penanaman rasa

cinta

kepada

nabi

Muhammad

SAW

kemudian diteruskan dengan menanamkan rasa

kasih dan

sayang terhadap sesama

Mu'min.

Kalau dalam internal keluarga hal

ini

sudah terpatri kuat sejak

dini

maka pada tahapan pembelajaran selanjutnya

yaitu

pembelajaran

formal

di sekolah, yang mereka

terima

adalah upaya penguatan-penguatan saja dari

apa yang tel ah mereka dapatkan didalam keluarga.

Abdullah Nashih

Ulwan,

dalam bukunya Pedoman Pendidikan Anak

dalam

Islam,

mengatakan bahwa;

jika

sejak masa kanak-kanaknya, anak tumbuh dan berkembang dengan berpijak pada landasan iman kepada

Allah

SWT dan terdidik untuk selalu takut, ingat, bersandar, meminta pertolongan, 24

aeM.

(35)

25

dan berserah

diri

hanya kepada-Nya,

ia

akan

memiliki

potensi dan respons secara

instingsif

di

dalam menerima setiap keutamaan dan kemuliaan, di

samping

terbiasa

melakukan atau berbuat

dengan

akhlak

mulia.

Sebab,

benteng

pertahanan

religius yang ttelah

berakar pada

hati

sanubarinya, kebiasaaan

mengingat

Allah

yang telah

dihayati dalam

dirinya

dan instrospeksi

diri

yang telah

menguasai

seluruh

fikiran

dan

perasaannya, telah memisahkan anak

dari sifat-sifat

yang rusak. Bahkan penerimaannya

terhadap setiap kebaikan

akan menjadi salah satu

kebiasaaan

dan kesenangannya terhadap keutamaan dan kemuliaan akan menjadi akhlak dan sifat yang paling menonjol.so

Hal ini

telah

dibuktikan

oleh berhasilnya eksperimen secara praktis

yang dilakukan kebanyakan orang tua beragama bersama anak-anaknya, dan

kebanyakan

pendidik

bersama murid-muridnya seperti

dalam

dunia Pesantren. Eksperimen

ini

secara

praktis

telah

dikenal dalam

perjalanan hidup kaum salaf, seperti dalam sikap Muhammad

bin

Siwar terhadap putra

saudara

perernpuannya

yaitu

At-Tusturi,

ketika

ia

mendidik

dengan

landasan iman

dan memperbaiki

diri

dari

ak*rlaknya, diketahui bahwa

At-Tusturi

menjadi

baik

karena pamannya telah

mendidik

atau membentuknya

atas dasar

selalu

ingat,

Referensi

Dokumen terkait

Pendidikan Agama Islam dalam Pembinaan Akhlak Karimah siswa terhadap. Allah swt, Strategi Guru Pendidikan Agama Islam dalam Pembinaan

Strategi Guru Pendidikan Agama Islam dalam Pembinaan Akhlak. Karimah siswa terhadap Lingkungan di SMP Islam Al

Akhlak mulia tidak akan terbentuk tanpa jiwa yang bersih. Sesuai dengan fitrah manusia bahwa pada saat lahir, jiwa seorang anak dalam keadaan suci. Maka jiwa pun juga

Permasalahan yang akan dicari dalam penelitian ini adalah: pertama , bagaimanakah konsep kontinuitas belajar menurut Burhanuddin al-Zarnuji dalam Ta’lim al-Muta’allim

Berdasarkan dari pendapat beberapa ahli dapat disimpulkan bahwa manajemen pendidikan adalah suatu pola atau sistem koordinasi yang dilakukan dalam organisasi melalui

Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Kencana Media Group, h.. Untuk itu, di sini pentingnya pembinaan akhlak yang membawa generasi yang akan datang kepada ketinggian

Seseorang yang memiliki akhlak mulia selalu melaksanakan kewajiban-kewajibannya, memberikan hak yang harus diberikan kepada yang berhak. Kewajiban murid ialah

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) kitab Ta‟lim al-Muta‟allim karya syeikh Az-Zarnuji yang memuat 21 hadits Nabi Muhammad SAW, sanad hadits yang terdapat dalam kitab