• Tidak ada hasil yang ditemukan

REPRESENTASI HOLOCAUST DALAM SINEMA (ANALISIS TERHADAP FILM THE BOY IN THE STRIPED PYJAMAS DAN THE PIANIST)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "REPRESENTASI HOLOCAUST DALAM SINEMA (ANALISIS TERHADAP FILM THE BOY IN THE STRIPED PYJAMAS DAN THE PIANIST)"

Copied!
59
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRACT

THE REPRESENTATION OF HOLOCAUST IN MOVIES

(THE ANALYSIS OF THE BOY IN THE STRIPED PYJAMAS AND THE PIANIST MOVIES)

BY

AMALIA RAMA DHINI

Holocaust was the genocide of approximately six million European Jews during World War II. It was a systematic assassination program supported by Germany under the rule of Nazi which was led by Adolf Hitler. The Zionist regime proposed the Holocaust tragedy as a trick to attract the attention of International Community and rolled over the spreading propaganda. Movie was one of the popular culture that played role in shaping the collective memory of the public. The Boy in The Striped Pyjamas and The Pianist Movie explored the tragedy of Holocaust and presented the message differently one another. This study attempted to find out the consideration of problems caused by Holocaust in the movie, the problems that caused the Holocaust in both movie, The Moral Judgement presented in both movie, and Treatment Recommendations presented in both movie. This research applied the qualitative method which was explained descriptively through the approach of Framing Model Analysis of Robert N. Entman. The result of the research showed that the representation of Holocaust in The Boy in The Striped Pyjamas and The Pianist movie spreaded in some certain scenes, dialogues, the background or property of the movie. There were 29 scenes that contain Holocaust in The boy in the striped pyjamas movie and 59 scenes that contain Holocaust in The Pianist movie. Besides, both movies presented Holocaust in different kind of point of view.

(2)

ABSTRAK

REPRESENTASI HOLOCAUST DALAM SINEMA (ANALISIS TERHADAP FILMTHE BOY IN THE STRIPED PYJAMASDANTHE

PIANIST)

Oleh

AMALIA RAMA DHINI

Holocaust adalah genosida terhadap sekitar 6 juta penganut Yahudi Eropa selama PD II, suatu program pembunuhan sistematis yang didukung oleh negara Jerman dibawah kekuasaan Nazi, yang dipimpin oleh Adolf Hitler. Rezim zionis menggunakan tragedi Holocaust sebagai trik untuk menarik perhatian masyarakat Internasional dan menggelindingkan propaganda luas. Salah satu budaya populer yang berperan dalam membentuk ingatan kolektif publik adalah film. Film The Boy In The Striped Pyjamas dan The Pianistmengetengahkan Tragedi Holocaust dan menyampaikannya dengan sangat berbeda satu sama lain. Penelitian ini berusaha untuk melihat Holocaust dianggap sebagai masalah apa dalam kedua film tersebut, apa yang menyebabkan terjadinya Holocaust dalam kedua film tersebut, Moral Judgementseperti apa yang ditampilkan dalam film tersebut, dan Treatment Recommendationsyang seperti apa yang ditampilkan dalam kedua film tersebut. Penelitian ini menggunakan tipe penelitian kualitatif yang dijelaskan secara deskriptif dengan pendekatan analisis framing model Robert N. Entman. Hasil penelitian ini menunjukkan representasi Holocaust dalam film The Boy in The Striped PyjamasdanThe Pianisttersebar dalam potongan adegan, dialog, dan latar atau properti. Terdapat 29 adegan yang mengandung Holocaust dalam film The boy in the striped pyjamas, dan 59 adegan yang mengandung Holocaust dalam film The pianist. Selain itu, kedua film ini menggambarkan Holocaust dengan sudut pandang yang berbeda.

(3)

REPRESENTASI HOLOCAUST DALAM SINEMA

(ANALISIS TERHADAP FILMTHE BOY IN THE STRIPED PYJAMAS DANTHE PIANIST)

Oleh

Amalia Rama Dhini

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA ILMU KOMUNIKASI

Pada

Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS LAMPUNG

(4)

iii

DAFTAR BAGAN

Bagan Halaman

Bagan 1. Kerangka Pikir ... 20

Bagan 2. Pola 1 ... 54

Bagan 3. Pola 2 ... 58

Bagan 4. Pola 3 ... 62

Bagan 5. Pola 4 ... 65

(5)

REPRESENTASI HOLOCAUST DALAM SINEMA (ANALISIS TERHADAP FILMTHE BOY IN THE STRIPED PYJAMAS

DANTHE PIANIST)

(Skripsi)

Oleh

Amalia Rama Dhini

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS LAMPUNG

(6)

ii

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

Gambar 1. Poster Film The Boy In The Striped Pyjamas... 5

Gambar 2. Poster Film The Pianist ... 7

Gambar 3. The Boy In The Striped Pyjamas ... 27

Gambar 4. The Pianist... 28

Gambar 5. Sutradara Film The Boy In The Striped Pyjamas ... 34

(7)

DAFTAR ISI 2.1. Tinjauan Penelitian Terdahulu ... 12

2.2. Konsep Representasi dalam Konteks Framing ... 16

2.3. Kaitan Framing dan Film ... 17

2.4. Kerangka Pikir ... 19

4.1.1. The Boy In The Striped Pyjamas ... 27

4.1.2. The Pianist ... 28

4.2. Sinopsis Film... 29

4.2.1. The Boy In The Striped Pyjamas ... 29

4.2.2. The Pianist ... 32

4.3. Sutradara Film... 34

(8)

4.3.2. The Pianist ... 35

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian ... 37 5.1.1. Problem Identification pada Film The Boy In The Striped Pyjamas dan The Pianist ... 38 5.1.2. Causal Interpretation pada Film The Boy In The Striped Pyjamas dan The Pianist ... 41 5.1.3. Moral Judgement pada Film The Boy In The Striped Pyjamas dan The Pianist... 43 5.1.4. Treatment Recommendations pada Film The Boy In The Striped Pyjamas dan The Pianist ... 46 5.2. Pembahasan... 49

5.2.1. Problem Identification pada Film The Boy In The Striped Pyjamas dan The Pianist ... 51 5.2.2. Causal Interpretation pada Film The Boy In The Striped Pyjamas dan The Pianist ... 54 5.2.3. Moral Judgement pada Film The Boy In The Striped Pyjamas dan The Pianist... 59 5.2.4. Treatment Recommendations pada Film The Boy In The Striped Pyjamas dan The Pianist ... 62

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan ... 67 6.2. Saran... 70

(9)

i

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

(10)
(11)
(12)

-“Time is free, but it’s priceless. You can’t own it

but you can use it. You can’t keep it but you can

spend it. Once you’ve lost it you can never get it

back”

(13)

RIWAYAT HIDUP

Penulis memiliki nama lengkap Amalia Rama

Dhini, dilahirkan di Bandar Lampung pada tanggal 12 Februari 1994. Penulis merupakan anak ketiga

dari tiga bersaudara yang merupakan anak dari pasangan bapak Ibrahim Sulaiman dan ibu Roila. Jenjang akademis penulis diselesaikan dari Sekolah

TK Kartika II-26 Bandar Lampung pada tahun 1999, Sekolah Dasar (SD) Kartika II-5 Bandar Lampung pada tahun 2005,

Sekolah Menengah Pertama (SMP) Al-Kautsar Bandar Lampung pada tahun 2008, kemudian penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMA N) 3 Bandar Lampung yang selesai tahun 2011. Selanjutnya pada

tahun yang sama penulis terdaftar sebagai mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung melalui jalur SNMPTN. Penulis juga melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama 40 hari di

(14)

SANWACANA

Alhamdulillahi robbil ‘aalamin.Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah

SWT karena atas berkat rahmat, karunia dan kasih sayang-Nya lah sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul ”Representasi Holocaust dalam Sinema (Analisis terhadap film The Boy In The Striped Pyjamas dan The

Pianist”. Penulis menyadari banyak sekali kesulitan dan hambatan yang dihadapi dalam proses penulisan skripsi ini. Namun kesulitan yang ada dapat dihadapi

dengan baik berkat bimbingan dan motivasi dari berbagai pihak. Oleh karena itu dengan segala kerendahan hati, pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada:

1. Bapak Drs. Agus Hadiawan, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Lampung.

2. Bapak Drs. Teguh Budi Raharjo, M.Si selaku Ketua Jurusan Ilmu

Komunikasi yang telah banyak membantu saya dan juga selaku dosen pembahas dalam skripsi saya. Terima kasih atas kritik dan saran serta ilmu

yang bermanfaat untuk saya.

(15)

4. Bapak Dr. Abdul Firman Ashaf, SIP., M.Si. selaku dosen pembimbing utama

yang telah banyak memberikan bimbingan, saran, waktu, serta ilmu yang bermanfaat bagi penulis.

5. Bapak Drs. Andy Corry Wardhani, M.Si selaku dosen pembimbing akademik yang telah memotivasi dan memberikan nasihat kepada penulis selama menjadi mahasiswa.

6. Kepada seluruh Bapak dan Ibu Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Lampung yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. Terima

kasih yang setulus-tulusnya atas segala ilmu bermanfaat yang telah diberikan kepada penulis.

7. Kedua Orangtuaku, Ayahanda Ibrahim Sulaiman dan Ibunda Roila yang telah

membesarkan dan mendidik dengan penuh ketulusan dan kasih sayang. Terima kasih untuk cinta yang tidak terbatas, kalianlah motivasi dan semangatku dalam menyelesaikan skripsi ini. Semoga apa yang aku lakukan

dari karya kecilku ini dapat memberikan sedikit kebahagiaan dan kebanggaan kepada kalian.

8. Kakak-kakakku tersayang, Lidya Ayuni Putri, S.Pd., M.Hum., dan Agung Rooseno, S.IP terima kasih atas segala nasihat, kasih sayang, tawa canda, dan motivasi yang kalian berikan selama ini. Kakak Iparku, Hartadi Tri L, S.E

terima kasih atas doa dan saran yang telah diberikan. Dan untuk keponakanku tercinta, Reinhart Alkhalifi Halil terima kasih telah menghiburku dari

(16)

9. Ramanda Putra, yang selama ini tidak pernah berhenti memberikan support.

Terima kasih telah menjadi penyemangat dan tempat berbagi juga bertukar pikiran dalam menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih juga atas waktu, doa,

dan saran yang telah diberikan selama ini. Semoga semua impian kita bisa tercapai. Aamiin.

10. Teman-temanku dari SMP hingga sekarang. Netti Mulya Sari, Aulia Mufti

Jannah, Rizka Indira Sari, Eka Pratiwi, Efrilliza Dwi Atdelina, Anindya Octavioni, Dona Triansha, Muhammad Fadel Noerman, Prashadio Anmara,

dan Bayu Prakoso terima kasih sudah setia menemani dan selalu mendengarkan setiap keluh kesah, senang, dan sedih.

11. Dos-dosku, Indah Nurfitria, Riris Kharisma Kholid, dan Nina Dwi Octaria

terima kasih atas doa dan waktunya selama ini. Semoga kita semua selalu dimudahkan segala sesuatunya hingga menjadi orang sukses nantinya. Aamiin. Dan juga terima kasih untuk Gracelda Syukrie atas support yang

telah diberikan selama ini.

12. Cita Adelia Rachmasari dan Asri Setyoarum Pangesti, dua sahabat yang

selalu ada kapanpun, dimanapun, dan selalu menjadi pendengar yang baik. Semoga kesuksesan selalu menyertai kita.Success for us!

13. Teman-teman pelipur lara dan baik hatinya, Bowo, Imam, Calvien, Bang

Jaya, Rizal, Aji, Riksa, Risky, Duta, Dimas, Fajri, Ruri, Adel, Vio, dan lain-lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu, terima kasih untuk canda tawa

(17)

14. Untuk kak Indra Julianta, Putra Gumilang, dan Obi Riano terima kasih atas

bantuannya dalam menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih juga untuk motivasi dan saran-sarannya selama ini.

15. Teman-teman Komsebelas semuanya yang tidak bisa disebutkan satu persatu dan sudah banyak membantu, semoga kita semua selalu dimudahkan segala sesuatunya hingga menjadi orang sukses nantinya. Aamiin. Semangat!

16. Seluruh kakak tingkat dan adik-adik tingkat Ilmu Komunikasi Universitas Lampung yang turut memberikan dukungan dan semangat. Terima kasih atas

semua perhatiannya.

17. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Akhir kata penulis berharap semoga amal baik tersebut mendapat balasan yang

sesuai dari Allah SWT, serta skripsi ini dapat memenuhi tujuannya dan bermanfaat bagi Jurusan Ilmu Komunikasi.

Bandar Lampung, Penulis

(18)
(19)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Holocaust adalah genosida (pembantaian massal) terhadap sekitar enam juta

penganut Yahudi Eropa selama Perang Dunia II, suatu program pembunuhan sistematis yang didukung oleh negara Jerman dibawah kekuasaan Nazi, yang dipimpin oleh Adolf Hitler, dan berlangsung di wilayah yang dikuasai oleh Nazi.

Dari sembilan juta Yahudi yang tinggal di Eropa sebelum Holocaust, sekitar dua pertiganya tewas. Secara khusus, lebih dari satu juta anak Yahudi, serta kira-kira

dua juta wanita Yahudi dan tiga juta pria Yahudi tewas dalam Holocaust.

Definisi Holocaust harus meliputi pula genosida Nazi terhadap jutaan orang dalam kelompok lain selain Yahudi, diantaranya orang Rom, komunis, tawanan perang

Uni Soviet, warga Polandia dan Soviet, homoseksual, orang cacat, Saksi Yehuwa, dan musuh politik dan keagamaan lainnya, yang menjadi korban terlepas apakah

(20)

2

definisi ini, maka jumlah keseluruhan korban Holocaust adalah 11-17 juta jiwa

(Cahyo, 2013: 125).

Istilah Holocaust berasal dari kata Yunani, holokauston, yang berarti binatang kurban (olos) yang dipersembahkan kepada Tuhan dengan cara dibakar (kaustos).

Selama ratusan tahun, kata Holocaust digunakan dalam bahasa Inggris untuk merujuk pada suatu peristiwa pembantaian besar. Orang Yahudi sering menyebut

peristiwa ini sebagai Shoah, istilah Ibrani yang berarti malapetaka atau bencana hebat. Tragedi Holocaust adalah salah satu kekejaman Hitler yang mungkin tidak

bisa dimaafkan oleh bangsa Yahudi. Sebagai seorang tokoh Nazi yang terkenal, kebencian Hitler kepada Yahudi memang menjadi sebuah cerita tersendiri yang tidak bisa dilupakan oleh dunia. Kebenciannya benar-benar mendasari segala

macam tindak kekerasan yang dilakukannya pada kaum Yahudi (Cahyo, 2013: 124).

Penyiksaan dan pembantaian oleh tentara Nazi dilakukan dalam beberapa tahap. Hukum yang paling terkenal adalah Hukum Nuremberg selama bertahun-tahun sebelum dimulainya Perang Dunia II. Nazi juga membangun kamp konsentrasi

yang di dalamnya, para tahanan diharuskan melakukan kerja paksa hingga mereka mati akibat kelelahan atau penyakit. Ketika Jerman menaklukkan wilayah baru di

Eropa Timur, satuan khusus yang disebut Einsatzgruppen membantai musuh-musuh politik melalui penembakan massal. Nazi memerintahkan orang Yahudi dan Rom untuk dikurung di Ghetto (pemukiman) sebelum dipindahkan dengan

(21)

3

Lalu mayat-mayat mereka dibakar hingga jadi abu dan dijadikan pupuk organik

(Cahyo, 2013: 125).

Yang paling rentan pada saat Holocaust adalah anak-anak. Nazi mendukung

pembantaian anak-anak dari kelompok yang “tak diinginkan” atau “membahayakan” sesuai dengan pandangan ideologi mereka, baik sebagai bagian

dari “perjuangan rasial” atau sebagai langkah preventif demi keamanan. Jerman

dan para kolaboratornya membunuhi anak-anak baik karena alasan ideologis ini maupun sebagai pembalasan dendam atas pelaku, atau yang dituduh, serangan

partisan. Sebanyak 1,5 juta anak dibantai, termasuk lebih dari satu juta anak-anak kaum Yahudi dan puluhan ribu anak-anak-anak-anak Roma (Gipsi), anak-anak-anak-anak Jerman yang cacat fisik maupun mental dan yang tinggal di yayasan, anak-anak Polandia,

serta anak-anak yang tinggal di wilayah pendudukan Uni Soviet. Kesempatan hidup lebih besar bagi orang Yahudi dan non-Yahudi yang masih remaja (berusia

13-18 tahun), karena mereka dapat dipekerjakan sebagai pekerja paksa.1

Berbagai peristiwa yang terjadi dalam perang dunia selalu menjadi topik pembahasan para sejarawan dan analis. Salah satu budaya populer yang berperan

dalam membentuk ingatan kolektif publik adalah film. Dimana film adalah salah satu bentuk karya seni yang menjadi fenomena dalam kehidupan modern. Sebagai

objek seni abad ini, film dalam proses berkembang menjadi salah satu bagian dari kehidupan sosial, yang tentunya memiliki pengaruh yang cukup signifikan pada manusia sebagai penonton. Film berperan sebagai pembentuk budaya massa.

Selain itu pengaruh film juga sangat kuat dan besar terhadap jiwa manusia karena penonton tidak hanya terpengaruh ketika ia menonton film tetapi terus sampai

1

(22)

4

waktu yang cukup lama. Jadi sebuah film merupakan bagian yang cukup penting

dalam media massa untuk menyampaikan suatu pesan atau setidaknya memberikan pengaruh kepada khalayaknya untuk bertindak sesuatu.2 Contohnya

pada zaman rezim Soeharto, bagaimana dahulu rezim ini telah membentuk sejarah peristiwa G-30S/PKI melalui film. Dalam film dokumenter G-30S/PKI kita diberikan pandangan bahwa PKI adalah (pihak yang) kejam dan bersalah

sementara Soeharto adalah pahlawan karena berhasil memberantas pemberontakan PKI.

Setiap film, apapun jenisnya, merupakan sarana bagi orang-orang yang memiliki kekuatan dan pengaruh pada saat itu untuk menciptakan sebuah representasi tertentu dari sebuah peristiwa. Grierson dalam Hayward mengungkapkan bahwa

film-film dokumenter dan sejarah merupakan sebuah media informasi, edukasi, dan propaganda untuk menyampaikan realitas yang ada kepada publik (Ihsan,

2010: 3). Film-film bertemakan sejarah, seperti peristiwa perang, kejahatan kemanusiaan, atau perebutan kekuasaan mulai diangkat menjadi salah satu produk utama industri perfilman sejak tahun 1990-an. Rezim Zionis menggunakan tragedi

Holocaust sebagai trik untuk menarik perhatian masyarakat Internasional dan menggelindingkan propaganda luas dalam hal ini.

Berbagai film dan karya buku tentang Holocaust diterbitkan. Hayward bahkan menjelaskan bahwa film-film tersebut sudah ada sejak seabad yang lalu. Setelah Perang Dunia II berakhir, film-film dokumenter dan sejarah mulai diproduksi

lebih banyak, kebanyakan mengangkat peristiwa Holocaust. Dari tahun 1980

2

(23)

5

Gambar 1. Cover Film The Boy In The Striped Pyjamas (2008)

hingga sekarang tercatat hampir 175 film lebih bercerita tentang peristiwa Holocaust. Beberapa contoh film Holocaust yang terkenal adalah Schindler’s List (1994), The Reader (2008) dan lain-lain. Hingga saat ini, peristiwa Holocaust

sudah menjadi bagian yang penting dari sejarah dan “ingatan kultural” umat

manusia. Hal ini dimanfaatkan oleh para produsen film untuk memproduksi lebih

banyak film bertemakan Holocaust dengan tujuan komersil sekaligus merekonstruksi kembali sejarah Holocaust sesuai versi mereka masing-masing

(Ihsan, 2010: 14).

Berdasarkan pernyataan diatas, di antara banyaknya film-film Holocaust yang konvensional, peneliti tertarik menganalisis dua buah film untuk dijadikan bahan

perbandingan untuk dianalisis menggunakan analisis framing Robert N. Entman, yaitu film The Boy In The Striped PyjamasdanThe Pianist.

Film The Boy In The Striped Pyjamas menampilkan peristiwa Holocaust dari sudut pandang anak kecil sehingga

memberikan kesan lain bagi masyarakat tentang peristiwa Holocaust. Film karya

sutradara Mark Herman ini merupakan film drama asal Britania yang dibuat

(24)

6

Amerika Serikat pada tanggal 7 November 2008. Dibintangi oleh Asa Butterfield,

Jack Scanlon, David Thewlis, dan Vera Farmiga. Ide cerita yang diangkat dalam film ini memang sangat unik, mengisahkan tragedi Holocaust melalui kacamata

dua orang anak berusia 8 tahun. Kepolosan dan persahabatan yang ‘terlarang’ antara mereka berdua di tengah keiblisan tentara Jerman, adalah bumbu utama yang akan membuat betah menontonnya hingga akhir. Bruno (Asa Butterfield)

adalah anak dari seorang komandan Nazi (David Thewlis) yang baru saja mendapatkan promosi jabatan, sehingga seluruh keluarganya harus meninggalkan

Berlin dan pindah ke sebuah daerah yang jauh dari perkotaan, sebuah daerah yang dekat dengan camp konsentrasi kaum Yahudi. Camp tersebut, di mata lugunya Bruno, adalah sebuah ladang luas dengan sejumlah petani aneh yang mengenakan

baju piyama.3

Di dalam pikirannya, Bruno mengira bahwa di sana pasti ada banyak sekali

anak-anak yang bisa bermain dengannya. Karena penasaran, dan merasa kesepian tidak memiliki teman bermain di rumah, suatu hari Bruno kabur dari rumah untuk mengunjungi ‘ladang’ tersebut. Di sana dia bertemu dengan Shmuel (Jack

Scanlon). Sebuah pagar kawat listrik yang tinggi menjadi pemisah di antara kedua dunia mereka yang saling bertolak belakang, Bruno adalah seorang Jerman

sedangkan Shmuel adalah seorang Yahudi. Namun itu tidak menjadi halangan bagi mereka untuk membangun persahabatan. Selama berteman dengan Shmuel, Bruno menyadari bahwa orang Yahudi tidak seburuk apa yang didoktrin ayahnya.

The Boy In The Striped Pyjamas, bercerita tentang kejamnya Nazi, dengan tragedi Holocaust menjadi inti ceritanya. Akting Asa Butterfield sebagai bocah delapan

3

(25)

7

tahun yang lugu dan kesepian sangat pas, tidak mengherankan jika dia dinominasikan sebagai Most Promosing

New Comer dalam British Independent Movie Award.4

Sedangkan film The Pianist menampilkan peristiwa Holocaust dari sudut pandang seorang Pianis Yahudi

asal Polandia bernama Wladyslaw

Szpilman yang tinggal di Warsawa,

tempat berkuasanya tentara Jerman. Cerita ini bermula dari pengeboman stasiun radio oleh Jerman di mana Wladyslaw (Wladek) sedang mengadakan siaran musiknya. Ia pun pulang dan

mendengar berita bahwa perang akan berakhir. Namun keadaan semakin buruk dengan diberlakukannya aturan bahwa keluarga Yahudi tidak boleh menyimpan

uang lebih dari 3000 Zlotys. Bukan hanya itu, mereka pun diwajibkan memakai tanda bintang Daud yang semakin menambah diskriminasi terhadap kaum Yahudi. Puncaknya, keluarga-keluarga Yahudi dipaksa pindah ke Ghetto (Pemukiman)

yang sempit. Di perbatasan Ghetto pun dibangun tembok untuk memisahkan Ghetto dengan kawasan Warsawa, sehingga kaum Yahudi tidak bisa bebas pergi

ke kota.

Setelah pindah berkali-kali, Szpilman akhirnya bersembunyi di sebuah rumah yang tak berpenghuni. Di rumah itu ia kelaparan dan menemukan sebuah kaleng 4

Ibid

(26)

8

makanan, ketika ingin membuka kaleng tersebut, kaleng itu jatuh tepat di depan

kaki seorang perwira Jerman. Perwira itu bertanya pekerjaan Szpilman dan begitu mengetahui Szpilman adalah seorang pianis ia meminta Szpilman memainkan

piano di dalam rumah tersebut. Karena terkesima dengan permainan Szpilman yang indah, ia yang telah sadar bahwa Szpilman orang Yahudi malah membantunya bersembunyi. Film ini menarik untuk ditonton karena film ini

diinspirasi dari sebuahmemoirkarangan Wladyslaw Szpilman, seorang pianis Yahudi Polandia. Film ini di rilis pada tanggal 24 Mei 2002 dan disutradai oleh

Roman Polanski dengan Adrien Brody sebagai bintang utama dan Thomas Kretschmann sebagai Kapten Wilm Hosenfeld. Penghargaan yang diraih dalam film ini adalah Academy Award 2003 untuk aktor terbaik (Adrien Brody),

Academy Award 2003 untuk sutradara terbaik (Roman Polanski), dan Academy Award 2003 untuk skenario adaptasi terbaik (Ronald Harwood). Sedangkan yang hanya masuk nominasi saja adalah dalam kategori Best Picture, Best

Cinematography, Best Costume Design,danBest Film Editing.

Peneliti memiliki pandangan bahwa The Boy In The Striped Pyjamas dan The

Pianist menyentuh tema sejarah Jerman, dengan fokus pada Tragedi Holocaust yang diduga telah memakan korban beberapa juta orang. Peneliti akan berfokus

pada tema Holocaust dalam film-film tersebut dan melihat bagaimana penggambaran-penggambaran Holocaust yang digambarkan melalui ide sang

sutradara.

Sementara film sendiri merupakan bidang kajian yang relevan bagi analisis framing. Framing menentukan bagaimana peristiwa didefinisikan. Framing juga

(27)

9

karena itu, framing selalu berhubungan dengan pendapat umum. Bagaimana

tanggapan khalayak, dan bagaimana penyikapan atas suatu peristiwa, diantaranya tergantung pada bagaimana peristiwa itu dilihat dan dimaknai. Ketika peristiwa

dilihat sebagai masalah sosial dan didefinisikan sebagai masalah bersama maka perhatian publik akan berubah menjadi lebih besar. Framing adalah mekanisme yang digunakan untuk mengarahkan perhatian khalayak bagaimana seharusnya

peristiwa dilihat. Bahkan ia bisa digunakan untuk meyakinkan khalayak bahwa peristiwa tertentu adalah peristiwa besar yang harus mendapatkan perhatian

seksama dari khalayak. Framing berkaitan dengan bagaimana realitas dilihat dengan cara apa pula realitas tersebut dilihat. Melihat peristiwa dengan realitas tertentu, secara tidak langsung memberikan pembenaran dan legitimasi pada suatu

peristiwa atau aktor tertentu yang terlibat dalam sebuah kejadian (Eriyanto, 2002: 172-175).

Dalam Penelitian ini digunakan analisis framing karena dengan analisis ini dapat mengungkap Ideologi di balik penulisan informasi khususnya isi pesan yang disampaikan dalam sebuah cerita film. Analisis dengan metode framing selalu

digunakan media untuk menggambarkan sebuah peristiwa dengan menonjolkan aspek tertentu dan sekaligus menempatkan informasi dalam konteks yang khas,

sehingga isu tertentu mendapatkan alokasi dan perhatian yang lebih besar daripada isu lain. Analisis Framing dirasa paling efektif dalam menunjukkan representasi Holocaust dalam film The Boy In The Striped Pyjamas dan The

Pianist.

Menurut peneliti, film ini sangat menarik karena film ini mengandung makna

(28)

10

mengenang atau mengingat kembali peristiwa Holocaust yang orang awam belum

terlalu memahaminya. Alasan penulis memilih film The Boy In The Striped Pyjamas dan The Pianist sebagai bahan data penelitian dalam skripsi ini adalah

karena film-film ini memiliki keistimewaan dalam proses penceritaan mengenai Holocaust. Walaupun film ini bertema sejarah yang tergolong berat, namun karena diceritakan dengan cara yang berbeda melalui tokoh-tokoh utamanya,

membuat film-film ini baik jika dijadikan sebagai media pembelajaran sejarah Jerman dalam rangka memperkenalkan sisi lain dalam sejarah Jerman khususnya

yang bertema Holocaust. Dan juga alasan lain yang memperkuat penelitian ini adalah karena Holocaust dilihat atau dipahami secara berbeda-beda, maka perlu ditelaah dengan framing agar terlihat apa perbedaan nya dari segi identifikasi

masalah, penyebab masalah, penilaian moral, dan penyelesaian masalah.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang ada, pada usul penelitian ini penulis merumuskan masalah yang akan diteliti, yaitu:

1. Holocaust dianggap sebagai masalah apa dalam kedua film tersebut? 2. Apa yang menyebabkan terjadinya Holocaust dalam kedua film tersebut?

3. Moral Judgementapa yang ditampilkan dalam kedua film tersebut?

(29)

11

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah, sebagai berikut:

1. Untuk memahami Holocaust dianggap sebagai masalah seperti apa pada

masing-masing film tersebut.

2. Untuk mengetahui penyebab dari Holocaust yang ditampilkan pada masing-masing film tersebut.

3. Untuk mengetahui Moral Judgement seperti apa yang ditampilkan pada masing-masing film tersebut.

4. Untuk mengetahui Treatment Recommendations yang ditampilkan dalam masing-masing film tersebut.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan penulis dari penelitian ini adalah :

1. Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan berguna bagi pengembangan ilmu komunikasi, dan juga diharapkan dapat menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya, khususnya yang berkaitan dengan representasi

Holocaust dalam sinema.

(30)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan Penelitian Terdahulu

Di dalam penelitian ini, peneliti menggunakan penelitian terdahulu sebagai

perbandingan dan tolak ukur penelitian. Tinjauan pustaka tentang penelitian terdahulu ini mengemukakan hasil penelitian lain yang relevan dalam pendekatan permasalahan penelitian: konsep-konsep, analisa, kesimpulan, kelemahan dan

keunggulan pendekatan yang dilakukan oleh peneliti lain.

Peneliti telah menganalisis penelitian terdahulu yang berkaitan dengan bahasan di

dalam penelitian ini, yang mempunyai kedekatan dengan “Representasi Holocaust

dalam Sinema (Analisis Terhadap Film The Boy In The Striped Pyjamas dan The Pianist)” denganmenggunakan analisis Framing Robert N. Entman.

Dimana Holocaust merupakan persekusi dan pembantaian sekitar enam juta orang Yahudi yang dilakukan secara sistematis, birokratis dan disponsori oleh rezim Nazi beserta para kolaboratornya. Holocaust berasal dari bahasa Yunani yang

artinya "berkorban dengan api." Nazi, yang mulai berkuasa di Jerman pada bulan

(31)

13

kaum Yahudi dianggap “inferior,” yaitu ancaman luar terhadap apa yang disebut

dengan masyarakat rasial Jerman.1

Selama masa Holocaust berlangsung, pemerintah Jerman juga menjadikan

kelompok-kelompok lain sebagai target karena mereka dianggap memiliki “ras inferior”: Orang Roma (Gipsi), penyandang cacat, dan sebagian bangsa Slavia

(Polandia, Rusia, dan yang lainnya). Kelompok lainnya dipersekusi karena alasan

politis, ideologis, dan perilaku, di antaranya kaum Komunis, Sosialis, Kesaksian Yehova, serta kaum homoseksual.2

Penelitian tentang Representasi Holocaust dalam Sinema pernah dilakukan oleh

Maftuh Ihsan dalam tugas akhir skripsinya dengan judul penelitian “Representasi Sejarah Holocaust dalam FilmThe Reader: Sebuah Kajian Psikoanalisis.”

Penelitian ini membahas bagaimana ketiga tokoh dalam film The Reader merepresi ingatan dan kemudian merepresentasikan sejarah Holocaust sesuai sudut pandang mereka masing-masing. Rumusan masalah dalam penelitian

tersebut mengulas bagaimana representasi sejarah Holocaust dimunculkan dalam film The Reader melalui tokoh Ilana (korban holocaust), tokoh Hanna (pelaku

kejahatan Holocaust), dan tokoh Michael (generasi sesudah Holocaust). Kemudian tentang bagaimana represi terhadap ingatan individual tokoh-tokoh tersebut mengenai Holocaust digunakan dalam film untuk mengungkapkan

peristiwa Holocaust secara lebih netral.

Penelitian terdahulu yang kedua tentang Sejarah Jerman Timur dilakukan oleh

Yohana Yessi Kostensius dalam tugas akhir skripsinya dengan judul penelitian 1

http://ushmm.org/wlc/id/article.php?ModuleId=10005143 diakses tanggal 3 Januari 2015 2

(32)

14

“Representasi Sejarah Masyarakat Jerman Timur dalam Film Goodbye, Lenin!.”

Penelitian ini membahas dan melihat kembali rekonstruksi sejarah bangsa Jerman dengan membandingkan mitos sejarah yang dikenal dalam data-data sejarah

umum dengan konstruksi sejarah yang ditampilkan dalam film Goodbye, Lenin!. Rumusan masalah dalam penelitian tersebut mengulas bagaimana representasi masyarakat Jerman Timur ditampilkan dalam film tersebut. Kemudian tentang

bagaimana sejarah Jerman Timur sebagai ideologi dipresentasikan dalam film tersebut.

Penelitian terdahulu yang ketiga tentang Sejarah Jerman Timur dilakukan oleh Martinus Aditya Putra dalam tugas akhir skripsinya dengan judul penelitian

“Representasi Stasi3 dalam Tatanan Masyarakat Jerman Timur tercermin pada

Film Das Leben der Anderen”. Penelitian ini membahas tentang kajian budaya

Jerman khususnya pada masa Perang Dunia Kedua dimana Jerman dipecah,

hingga masa-masa sebelum Tembok Berlin dibuka sebagai tanda penyatuan Jerman yang ditampilkan dalam film tersebut. Rumusan masalah dalam penelitian tersebut mengulas bagaimana representasi identitas Jerman Timur sehari-hari

dalam tatanan masyarakat DDR (Deutsche Demokratische Republikatau Republik Demokrasi German) yang digambarkan dalam film tersebut. Kemudian

bagaimana ideologi sosialisme dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari di DDR yang digambarkan dalam film tersebut.

Perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian ini terletak pada fokus

penelitian, dimana dalam penelitian terdahulu yang pertama berfokus pada kajian psikoanalisis dalam melihat sejarah masa lalu dengan menggunakan peristiwa

3

(33)

15

Holocaust dalam film The Reader. Yang kedua, berfokus pada penggambaran

Masyarakat Jerman Timur dan menggali ideologi dalam film Goodbye, Lenin!. Dan yang ketiga, berfokus pada penggambaran stasi dalam tatanan masyarakat

Jerman Timur. Sedangkan dalam penelitian ini berfokus pada penggambaran Holocaust dalam film The Boy In The Striped PyjamasdanThe Pianist kemudian analisis framing Robert N. Entman digunakan sebagai analisis dalam mengupas

unsur Holocaust pada film The Boy In The Striped Pyjamas dan The Pianist. Persamaan nya penelitian terdahulu dengan penelitian ini yaitu tema nya tentang

Sejarah Jerman. Film The Reader: Sebuah Kajian Psikoanalisis

Ketiga tokoh dalam film The Reader, yaitu Ilana, masing. Dan penelitian ini berfokus pada kajian adalah sejarah yang sarat

propaganda rezim

(34)

16

Indonesia, 2010) Jerman Timur tercermin pada Film Das Leben der Anderen

kerja stasi dalam DDR, tetapi mungkin stasi ini merupakan gambaran yang ada dalam benak sebagian besar orang Jerman Barat saat itu.

2.2. Konsep Representasi Dalam Konteks Framing

John Fiske merumuskan tiga proses yang terjadi dalam representasi melalui tiga tahap. Pertama, realitas, dalam proses ini peristiwa atau ide dikonstruksi sebagai

realitas oleh media dalam bentuk bahasa gambar ini umumnya berhubungan dengan aspek seperti pakaian, lingkungan, ucapan ekspresi dan lain-lain. Kedua,

representasi, dalam proses ini realitas digambarkan dalam perangkat perangkat teknis, seperti bahasa tulis, gambar, grafik, animasi, dan lain-lain. Ketiga, tahap ideologis, dalam proses ini peristiwa-peristiwa dihubungkan dan diorganisasikan

ke dalam konvensi-konvensi yang diterima secara ideologis. Bagaimana kode-kode representasi dihubungkan dan diorganisasikan ke dalam koherensi sosial

atau kepercayaan dominan yang ada dalam masyarakat (Julianta, 2014: 14).

Rumusan ketiga proses representasi menurut John Fiske dijabarkan melalui tabel di bawah ini.

Tabel 2. Proses Representasi Fiske

PERTAMA REALITAS

Dalam bahasa tulis, seperti dokumen wawancara transkrip dan sebagainya. Dalam televisi seperti perilaku, tata rias, pakaian, ucapan, gerak-gerik, dsb.

KEDUA REPRESENTASI

(35)

17

KETIGA IDEOLOGI

Semua elemen diorganisasikan dalam koherensi dan kode-kode ideologi, seperti individualisme, liberalisme, sosialisme, patriaki, ras, kelas,materialisme, dsb.

Proses representasi dalam konteks framing, framing itu pada akhirnya

menentukan bagaimana realitas itu hadir di hadapan pembaca. Dasarnya tergantung pada bagaimana kita melakukan frame atas peristiwa itu yang

memberikan pemahaman dan pemaknaan tertentu atas suatu peristiwa. Media sebagai suatu teks banyak menyebarkan bentuk-bentuk representasi pada isinya. Representasi dalam media menunjuk pada bagaimana seseorang atau suatu

kelompok, gagasan atau pendapat tertentu ditampilkan dalam pemberitaan (Eriyanto, 2002: 97)

Media berperan mendefinisikan bagaimana realitas seharusnya dipahami, bagaimana realitas itu dijelaskan dengan cara tertentu kepada khalayak. Diantara beberapa fungsi dari media dalam mendefinisikan realitas, fungsi pertama dalam

ideologi adalah media sebagai mekanisme integrasi sosial. Media disini berfungsi menjaga nilai-nilai kelompok, dan mengontrol bagaimana nilai-nilai kelompok itu

dijalankan (Eriyanto, 2002: 145).

2.3. Framing dan Film

(36)

18

tentang realitas atau tentang dunia tergantung pada bagaimana kita membingkai

dan mengkonstruksi realitas (Eriyanto, 2002: 185).

Konsep Framing oleh Entman, digunakan untuk menggambarkan proses seleksi

dan menonjolkan aspek tertentu dari realitas oleh media. Framing dapat dipandang sebagai penempatan informasi-informasi dalam konteks yang khas sehingga isu tertentu mendapatkan alokasi lebih besar daripada isu yang lain

(Eriyanto, 2002: 219-220),

Analisis framing pada dasarnya adalah metode untuk melihat cara bercerita (story

telling) media atas peristiwa. Cara bercerita itu tergambar pada “cara melihat”

terhadap realitas yang dijadikan berita. Analisis framing merupakan dasar struktur kognitif yang memandu persepsi dan representasi realitas. Sedangkan film adalah

arsip sosial yang menangkap jiwa zaman masyarakat saat itu (Eriyanto, 2002: 10).

Dalam praktiknya, framing dijalankan oleh cerita film dengan menyeleksi isu tertentu dan mengabaikan isu yang lain, dan menonjolkan aspek dari isu tersebut

dengan menggunakan strategi wacana, penempatan yang mencolok, pengulangan, pemakaian label tertentu ketika menggambarkan orang atau peristiwa yang

diceritakan, asosiasi terhadap simbol budaya, generalisasi, dan simplifikasi. Semua aspek itu dipakai untuk membuat dimensi tertentu dari konstruksi cerita menjadi bermakna dan diingat oleh khalayak. Dengan framing juga bisa

mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan oleh si pembuat film ketika menyeleksi dan menulis cerita. Cara pandang atau perspektif

(37)

19

Kekuatan dan kemampuan film dalam menjangkau banyak segmen sosial, lantas

membuat para ahli menganggap bahwa film memiliki potensi untuk mempengaruhi khalayaknya atau dengan mudahnya si penonton film terpengaruh

oleh isu yang disampaikan oleh si pembuat film. Sejak itu, maka merebaklah berbagai dampak penelitian yang hendak melihat dampak film terhadap masyarakat. Dalam banyak penelitian tentang dampak film terhadap masyarakat,

hubungan antara film dan masyarakat selalu dipahami secara linier. Artinya, film selalu mempengaruhi dan membentuk masyarakat berdasarkan muatan pesan

(message) di baliknya, tanpa pernah berlaku sebaliknya.

2.4. Kerangka Pikir

Sebuah film dapat menggambarkan proses sosial melalui tindakan dan interaksi yang tergambar dari para pemainnya, yang mana setiap individu tersebut akan menciptakan secara terus menerus suatu realitas yang dimiliki dan dialami

bersama secara objektif. Dalam film juga terangkum pesan-pesan dan nilai-nilai yang disampaikan dan digambarkan kepada para penonton dengan adanya suatu

gambaran dalam realitas masyarakat.

Film atau yang disebut juga gambar hidup digemari oleh seluruh lapisan

masyarakat. Sifat komersialisme dalam industri perfilman memaksa para pelakunya agar dapat menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Hal ini tercermin dalam banyak film cerita, yaitu film yang menyajikan kepada publik

(38)

20

Penggabungan antara sifat komersialisme dan upaya menyentuh unsur manusia inilah yang membuat film merepresentasikan realita yang ada.

Peneliti menganalisis filmThe Boy In The Striped PyjamasdanThe Pianistsecara

terus menerus, mencatat adegan yang mengandung unsur Holocaust, mengkategorikan nya ke dalam sebuah tabel berdasarkan adegan, dialog, dan

setting serta properti. Unsur-unsur tersebut kemudian dianalisis menggunakan metode framing Robert N. Entman untuk memperkuat representasi Holocaust

dalam filmThe Boy In The Striped PyjamasdanThe Pianist.

Maka kerangka pikir dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

(39)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Tipe Penelitian

Penelitian ini menggunakan tipe penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah

penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain (Lexy J. Maleong, 2005: 6). Secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam

bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Penelitian kualitatif adalah prosedur

penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.

Penelitian deskriptif ini digunakan untuk meneliti objek dengan cara menuturkan,

menafsirkan data yang ada, dan pelaksanaannya melalui pengumpulan, penyusunan, analisa, dan interpretasi data yang diteliti pada masa sekarang. Tipe

(40)

22

dimaksudkan untuk menganalisis tema Holocaust yang diangkat dalam Film The

Boy In The Striped PyjamasdanThe Pianist.

3.2. Metode Penelitian

Metode merupakan cara yang ditempuh peneliti dalam menemukan pemahaman yang sejalan dengan fokus dan tujuan yang ditetapkan. Dalam konteks pendekatan

kualitatif ini alat yang digunakan untuk menganalisis adalah dengan memakai framing yaitu dengan menggunakan model Robert N. Entman.

Entman melihat framing dalam dua dimensi besar yaitu seleksi isu dan penekanan atau penonjolan aspek-aspek tertentu dari realitas/isu. Penonjolan adalah proses membuat informasi menjadi lebih bermakna, lebih menarik, berarti, atau lebih

diingat oleh khalayak. Realitas yang disajikan secara menonjol atau mencolok mempunyai kemungkinan lebih besar untuk diperhatikan dan mempengaruhi khalayak dalam memahami suatu realitas. Berbagai aspek dipakai untuk membuat

dimensi tertentu dari konstruksi dalam film menjadi bermakna dan diingat oleh khalayak.

Penelitian ini menggunakan paradigma kontruksionis dengan bertindak sebagai jembatan dalam melihat atau memahami Tragedi Holocaust yang digambarkan di dalam film. Di mana tujuan penelitiannya adalah rekonstruksi realitas secara

dialektik antara peneliti dengan pemahaman Holocaust dalam film. Analisis framing termasuk ke dalam paradigma konstruksionis. Paradigma ini mempunyai

(41)

23

natural, melainkan hasil dari konstruksi. Dalam studi komunikasi, paradigma

konstuksionis ini seringkali disebut sebagai paradigma produksi dan pertukaran makna. Begitu juga sama dengan halnya studi film, dalam film cerita itu dibangun

bukan dari hasil nyata melainkan dari hasil konstruksi si pembuat film.

Tabel 3. Konsepsi dari Robert N. Entman

Problem Identification(pendefinisian dari suatu masalah? siapa (aktor) yang dianggap sebagai penyebab masalah? Moral Judgement(membuat keputusan

moral)

Nilai moral apa yang disajikan untuk menjelaskan masalah? nilai moral apa

Film yang akan digunakan sebagai objek penelitian kali ini adalah filmThe Boy In The Striped Pyjamasdan filmThe Pianist. FilmThe Boy In The Striped Pyjamas berdurasi 1 jam 34 menit 28 detik ini disutradarai oleh Mark Herman dan di rilis

pada tanggal 12 September 2008 di UK. Sedangkan film The Pianistberdurasi 2 jam 28 menit 35 detik ini disutradarai oleh Roman Polanski dan di rilis pada tanggal 24 Mei 2002 di Cannes. Film-film ini memiliki tema yang sama yaitu

(42)

24

3.4. Fokus Penelitian

Fokus pengamatan dalam penelitian ini adalah bagian-bagian dari sinema berupa adegan, dialog, dan latar yang menyiratkan Holocaust dalam film The Boy In The Striped Pyjamas dan film The Pianist yang dianalisis dengan menggunakan

metode framing model Robert N. Entman.

3.5. Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Data Primer

Data primer dalam penelitian ini adalah isi dari film The Boy In The Striped Pyjamas dan The Pianist. Data ini bersumber dari kepingan CD

yang berisi rekaman film-film tersebut. 2. Data Sekunder

Data sekunder dalam penelitian ini di dapat dari buku, koran, majalah, artikel, dan lain-lain serta internet.

3.6. Teknik Pengumpulan Data

3.6.1. Dokumentasi

Peneliti melakukan pengumpulan data dengan cara menonton dan mencermati dialog, adegan, dan latar pada film The Boy In The Striped

(43)

25

3.6.2. Studi Pustaka

Mencari dengan cara penelusuran terhadap literatur untuk mencari data mengenai framing, film, dan Holocaust yang dapat mendukung penelitian

ini.

3.7. Teknik Analisis Data

Analisis data merupakan upaya mencari dan menata secara sistematis catatan hasil observasi untuk meningkatkan pemahaman penelitian tentang kasus yang diteliti

dan menjadikannya temuan bagi orang lain. Peneliti menggunakan teknik analisis framing sebagai teknik dalam menganalisis data penelitian. Analisis framing adalah pendekatan untuk mengetahui bagaimana media mengemas suatu peristiwa

untuk dituangkan dalam bentuk cerita film. Sisi mana yang ditonjolkan atau dihilangkan dan hendak dibawa kemana cerita tersebut.

Model analisis framing yang digunakan oleh peneliti adalah model yang diperkenalkan oleh Robert N. Entman. Entman melihat framing dalam dua dimensi besar, yaitu seleksi isu dan penekanan atau penonjolan aspek-aspek

tertentu dari realitas atau isu. Penonjolan adalah proses membuat informasi menjadi lebih bermakna, lebih menarik, berarti atau lebih diingat oleh khalayak.

Realitas yang disajikan secara menonjol atau mencolok mempunyai kemungkinan lebih besar untuk diperhatikan dan mempengaruhi khalayak dalam memahami suatu realitas. Perangkat Entman adalah perangkat yang paling tepat untuk

(44)

26

Entman mengemukakan empat perangkat untuk melakukan analisis framing.

Pertama, Problem Identification (pendefinisian masalah), yaitu bagaimana suatu peristiwa/isu dilihat, sebagai apa atau sebagai masalah apa. Kedua, Causal

Interpretation (memperkirakan masalah atau sumber masalah), yaitu peristiwa dilihat disebabkan oleh apa, apa yang dianggap sebagai penyebab dari suatu masalah atau siapa aktor yang dianggap sebagai penyebab masalah. Ketiga,Moral

Judgement (membuat keputusan moral), yaitu nilai moral apa yang disajikan untuk menjelaskan masalah, nilai moral apa yang dipakai untuk melegitimasi atau

mendelegitimasi suatu tindakan. Keempat, Treatment Recommendation (menekankan penyelesaian), yaitu penyelesaian apa yang ditawarkan untuk mengatasi masalah, jalan apa yang ditawarkan dan harus ditempuh untuk

(45)

BAB IV

GAMBARAN UMUM

4.1. Profil Film

4.1.1. The Boy In The Striped Pyjamas

• Sutradara: Mark Herman

• Produser: David Hayman

• Penulis: Mark Herman, John Boyne Gambar 3. Cover FilmThe Boy In The

(46)

28

• Adaptasi novel: John Boyne

• Pemeran: Asa Butterfield, Vera Farmiga, David Thewlis, Jack Scanlon,

David Hayman, Rupert Friend • Musik: James Horner

• Sinematografi: Benoit Delhomme

• Distributor: Miramax Films

• Tanggal rilis: 12 September 2008

• Durasi: 94 Menit

• Penghargaan: BIA 2008 (British Independent Award) untuk aktris

terbaik dan CIFA 2008 (Chicago International Film Award) untuk

sutradara terbaik.

4.1.2. The Pianist

(47)

29

• Sutradara: Roman Polanski

• Produser: Roman Polanski, Robert Benmussa, Alain Sarde

• Penulis: Ronald Harwood

• Adaptasi Novel: Wladyslaw Szpilman

• Pemeran: Adrien Brody, Thomas Kretschmann

• Musik: Wojciech Kilar

• Sinematografi: Pawel Edelman

• Distributor: Focus Features

• Tanggal rilis: 24 Mei 2002

• Durasi: 150 menit

• Penghargaan:Academy Award2003 Untuk Aktor Terbaik, Untuk

Sutradara Terbaik, dan Untuk Skenario Adaptasi Terbaik, Anugerah

Palme d’Or di Festival Film Cannes.

4.2. Sinopsis Film

4.2.1. The Boy In The Striped Pyjamas

Cerita dimulai ketika sang ayah yaitu komandan Ralf (David Thewlis) dipindahtugaskan ke pinggiran kota untuk menjadi komandan kamp pekerja.

Bruno (Asa Butterfield) sedih karena ditempat itu ia tidak mempunyai teman bermain dan juga tidak diperbolehkan untuk keluar rumah. Suatu saat

(48)

30

dapur, ia meminta izin untuk berteman dengan anak-anak di perkebunan,

ibunya mengizinkan nya, tetapi setelah Pavel (David Hayman) masuk ke dapur Bruno mengatakan bahwa mereka sedikit aneh mereka memakai baju

piyama, setelah berkata seperti itu Bruno tidak diperbolehkan main dengan anak-anak diperkebunan yang aslinya itu adalah kamp untuk kaum Yahudi. Bruno sering menyelinap keluar rumahnya untuk mendekati tempat itu,

hingga ia berkenalan dengan anak yahudi seumurannya bernama Shmuel (Jack Scanlon). Mereka sering bermain bersama, walaupun dipisahkan oleh

pagar listrik. Suatu saat Bruno sedang bosan dan turun ke lantai dasar ia melewati ruang makan di rumahnya. Disana ia melihat Shmuel sedang

mengelap gelas-gelas.

Kemudian mereka mengobrol, Shmuel terlihat sesekali melirik ke meja yang menghidangkan makanan, Bruno kemudian memberinya 2 buah

makanan. Saat sedang makan Letnan Kotler (Rupert Friend) masuk ke ruang makan tersebut dan membentak keduanya, Shmuel mengatakan bahwa Bruno adalah temannya dan Bruno yang memberikan makanan tersebut,

kemudian Letnan Kotler bertanya kepada Bruno sambil membentaknya apakah Bruno kenal dengan Shmuel, Bruno menjawab ia tidak kenal dengan

Shmuel baru itu ia melihatnya dan Shmuel sendiri yang mengambil makanan nya. Setelah diperintahkan untuk menjauh, dikamarnya Bruno merasa bersalah, kemudian ia menyelinap keluar rumah untuk ke kamp, ia

tidak menemukan Shmuel.

Hari-hari berikutnya ia tidak menemukan Shmuel di tempat Shmuel biasa

(49)

31

biasanya, tetapi ada yang tidak biasa dengan wajah Shmuel, ternyata

Shmuel habis dipukuli, terlihat wajahnya memar-memar merah. Bruno meminta maaf kepada Shmuel atas perlakuannya, ia sangat menyesal.

Ibunya Bruno yang tidak sependapat dengan pekerjaan ayah Bruno melakukan aksi protes dengan tidak mengajak ayah Bruno bicara dan tidak mau makan. Puncaknya pada suatu malam mereka bertengkar habis-habisan

ibu Bruno mengatakan bahwa suami yang ia nikahinya adalah seorang monster karena pekerjaan nya. Kemudian besoknya ayah Bruno

mengumpulkan Bruno dan Gretel (Amber Beattie) untuk memberitahukan mereka harus ikut ibu mereka karena tempat ini dinilai tidak cocok untuk membesarkan mereka. Setelah pertemuan dengan ayahnya, Bruno

menyelinap dan pergi ke kamp untuk memberitahukan kepergian nya kepada Shmuel. Tetapi, Shmuel rupanya sedang tidak baik juga kabarnya,

karena ayahnya menghilang di kamp, ia tidak menemukan nya.

Kemudian Bruno memberikan ide untuk membantu Shmuel menemukan ayahnya yang hilang, ia membantu karena ia sebelumnya pernah

mengecewakan Shmuel. Besoknya Bruno membawa sekop dan mulai menggali lubang di bawah pagar listrik kamp tersebut. Shmuel memberinya

baju tahanan agar Bruno bisa menyamar masuk. Saat mereka sedang berada di dalam kamp dan mencari ayah Shmuel. Mereka dan ratusan orang yang berada di satu ghetto digiring masuk ke sebuah ruangan. Mereka diminta

(50)

32

ternyata mereka semua disemprot gas beracun dan kemudian dibakar. Bruno

yang berada di dalamnya pun menjadi korban dari kamar gas tersebut.

Pada saat yang sama Ayah dan Ibunya sedang mencari-cari Bruno sampai

akhirnya menemukan segala tanda-tanda bahwa Bruno temasuk ke dalam orang-orang yang dibunuh itu.

4.2.2. The Pianist

Film ini menceritakan kehidupan Wladyslaw Szpilman (Adrien Brody) yaitu pianist Yahudi Polandia, bersama keluarganya dimasa

invasi Jerman ke Polandia. Dimasa ini kaum Yahudi mengalami tekanan yang luar biasa, mereka sangat dibatasi dalam melakukan kegiatan diluar rumah, dibatasi memiliki sejumlah uang dan di haruskan memakai ikat

tangan berlambang bintang daud kemanapun mereka pergi. Pada tanggal 31 Oktober 1940 semua kaum Yahudi dimasukkan dalam satu kawasan. Setelah kaum Yahudi ini dimasukkan dalam satu kawasan kemudian

kawasan itu dibangun dinding-dinding yang diatasnya diberi kawat listrik. Tidak sampai disitu pada tanggal 15 Maret 1942 mereka dipindahkan lagi ke

dalam ghetto yang lebih kecil disana mereka diperintahkan memindahkan barang-barang.

Pada tanggal 16 Agustus 1942 mereka dikumpulkan dalam satu lapangan untuk menunggu perintah lain dari Jerman, ternyata mereka diperintahkan naik ke dalam kereta menuju ke tempat pembunuhan massal. Dan saat itu

(51)

33

menjalani kerja paksa bersama kaum Yahudi lainnya. Teror, kekejaman,

kelaparan dan kematian terjadi dimana-mana, kapanpun dapat terjadi pertumpahan darah. Szpilman kemudian pergi dari ghetto menuju tempat

rekan nya untuk meminta bantuan. Kemudian ia ditempatkan dalam satu rumah, itu tidak berlangsung lama Jerman mulai memburu orang-orang Yahudi dan non Yahudi di Polandia, teman nya tertangkap tentara Jerman

dan ia diperintahkan untuk meninggalkan rumah tersebut. Kemudian ia menemui Dorota dan suaminya yang akhirnya membantu dia untuk

bersembunyi dari tentara Jerman. Dalam persembunyian ini Szpilman hampir mengalami kematian karena sakit dan kelaparan.

Sampai akhirnya Szpilman harus bertahan hidup sendiri karena tidak ada

lagi orang yang melindungi hidupnya. Ketika Szpilman seorang diri mempertahankan hidupnya dari hantaman peluru, dari bom penghancur,

atau pun dari semburan api tentara Jerman. Belum lagi ia harus bertahan dalam kelaparan dan kehausan. Tentu saja Szpilman terus mencari tempat yang aman, berlari dari tentara Jerman yang berupaya membunuh semua

orang dalam kota itu dan juga terus mencari makanan dan minuman untuk bertahan hidup. Sampai akhirnya ia pun berlari dan menemukan sebuah

rumah yang masih sedikit utuh. Dia pun bersembunyi di rumah tersebut. Dan ternyata rumah itu akan dijadikan kantor oleh tentara Jerman.

Pada saat Szpilman mencoba membuka sekaleng makanan yang

ditemukannya ia pun dipergoki oleh Kapten Jerman, Yaitu Kapten Wilm Hosenfeld namanya (Thomas Kretschmann). Szpilman pun sudah putus asa

(52)

34

tersebut membantu Szpilman bersembunyi dan memberinya makanan agar dapat bertahan hidup. Beberapa minggu kemudian tentara Jerman mundur

karena serangan Soviet, dan ini merupakan harapan Szpilman untuk hidup.

4.3. Sutradara Film

4.3.1. The Boy In The Striped Pyjamas

Mark Herman lahir tahun 1954 di Bridlington, sebelah Timur

Yorkshire, Inggris. Ia seorang sutradara dan penulis skenario. Dia

terkenal karena sebagian besar karena menulis dan mengarahkan film The Boy di Striped Pyjamas

tahun 2008. Mark Herman

memulai pendidikan di sekolah Woodleigh, North Yorkshire. Dia

terlambat memasuki industri film. Pada saat umurnya 27 tahun ia menggambar kartun di sekolah seni, sebelum ia terlibat dalam drama ia

mulai belajar Film di Leeds Polytechnic, sekarang Metropolitan University of Leeds. Dia kemudian dilatih sebagai animator di Film Sekolah Nasional di London. Dia pindah dari animasi dan kemudian ia belajar dunia

penyutradaraan.

(53)

35

Proyek panjangnya dimulai dengan menyutradarai film Blame It on The Bellboy (1992), kemudian Mark Herman menulis dan menyutradarai film Brassed off (1996),Little Voice (1998), Purely Belter (2000),Hope Springs

(2003), dan kemudian Karya terbarunya adalah film The Boy di Striped Pyjamas (2008). Film ini dihasilkan oleh David Hayman dan

bintang-bintang David Thewlis, Vera Farmiga, Sheila Hancock dan Rupert Friend. Film ini mendapatkan penghargaan di BIA 2008 (British Independent Award) untuk aktris terbaik dan CIFA 2008 (Chicago International Film

Award) untuk sutradara terbaik.

4.3.2. The Pianist

Roman Polanski lahir tahun 1933 di

Paris, Perancis. Roman Polanski adalah sutradara film, produser,

penulis, dan aktor. Ia dianggap salah satu dari beberapa pembuat film Internasional. Pada akhir

perang tahun 1945 , ia bertemu kembali dengan ayahnya yang

kemudian mengirimnya ke sekolah teknik, tapi Polanski tampaknya telah memilih karir lain. Pada tahun

1950, ia mengambil akting, muncul di Andrzej Wajda A Generation(1955) sebelum belajar di Lodz Film School. Knife in The Water (1962), adalah

salah satu film pasca-perang pertama Polandia tidak terkait dengan tema

(54)

36

perang. Itu juga film pertama dari Polanski yang mendapatkan nominasi

Oscar untuk film asing terbaik. Pada tahun 1968, Polanski pergi ke Hollywood, di mana ia membuat film thriller psikologis, Rosemary Baby’s

(1968). Namun, setelah pembunuhan brutal istrinya, Sharon Tate, oleh geng Mansion pada tahun 1969, sutradara memutuskan untuk kembali ke Eropa.

Pada tahun 1974, ia kembali membuat filmChinatown(1974).

Tampaknya awal karir yang menjanjikan Hollywood, tapi setelah keyakinannya untuk perkosaan seorang gadis berusia 13 tahun, Polanski

melarikan diri dari Amerika Serikat untuk menghindari penjara. Setelah Tess (1979), yang dianugerahi beberapa Oscar dan Cesars, karya-karyanya di tahun 1980-an dan 1990-an menjadi meredup dan jarang mendekati

kaliber film sebelumnya. Dan kemudian film The Pianist (2002) Polanski berhasil kembali pada performanya. Untuk film The Pianist, ia

memenangkan hampir semua penghargaan film paling penting, termasuk Oscar untuk Sutradara Terbaik, Cannes Film Festival Palme d'Or, BAFTA

(55)

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Film The Boy In The Striped Pyjamas danThe Pianist sebagai media komunikasi

massa yang menggambarkan dan menampilkan Tragedi Holocaust yang langsung ditujukan kepada khalayaknya sebagai media komunikasi. Dengan analisis seperti ini kita bisa tahu tujuan dan makna serta maksud pesan film ini dibuat. Dimana

pemahaman Holocaust itu dipahami secara berbeda-beda pada setiap orang. Analisis framing yang digunakan untuk memberikan gambaran atau

pembingkaian cerita dalam film The Boy In The Striped Pyjamas danThe Pianist melalui Model Robert N. Entman, analisis ini digunakan agar terlihat perbedaan atau hal yang lebih ditonjolkan dari kedua film tersebut. Kontribusi penelitian ini

adalah untuk memberitahu pembaca bahwa Holocaust dilihat secara berbeda-beda pada setiap film maka kita sebagai penonton dituntut bersikap netral agar tidak

(56)

68

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diperoleh kesimpulan sebagai

berikut:

1. Tragedi Holocaust di dalam kedua film tersebut digambarkan dengan cara

yang berbeda. Film The Boy In The Striped Pyjamas menggunakan sudut pandang dari pihak Jerman dalam menceritakan Holocaust, sedangkanThe Pianist menggunakan sudut pandang dari pihak Yahudi. Dalam Film The

Boy In The Striped Pyjamas,Problem Identifications nya berupa masalah antara Jerman memerangi ras Yahudi. Sedangkan dalam film The Pianist, Problem Identifications berupa masalah Nazi Jerman perang melawan

Polandia.

2. Dalam Film The Boy In The Striped Pyjamas, Causal Interpretation nya

karena Nazi Jerman beranggapan Yahudi berbahaya dan akan menguasai dunia maka Yahudi harus dimusnahkan. Sedangkan dalam film The Pianist, Causal Interpretation nya karena Jerman berhasil menguasai

wilayah Polandia, yang terkena imbasnya adalah Yahudi yang berada di Polandia.

3. Dalam Film The Boy In The Striped Pyjamas,moral judgement yang ada di dalam film tersebut adalah genosida yang terjadi di dalam film ini yang berupa perbudakan, penganiayaan, serta kamar gas untuk pemusnahan

harus ditentang karena itu bukanlah bagian dari perang apapun, hal itu merupakan pelanggaran hak asasi manusia. Sedangkan dalam film The

(57)

69

penganiayaan, pembunuhan, dan pemusnahan. Perang tersebut berimbas

tidak hanya pada Yahudi tetapi juga non Yahudi. Pihak dari Polandia tentunya yang sangat dirugikan karena Negara Polandia menjadi porak

poranda dan rakyatnya menderita akibat perang antara ia dan pihak Nazi Jerman.

4. Dalam Film The Boy In The Striped Pyjamas, Menurut peneliti,treatment

recommendation atau cara menyelesaikan masalah memerangi suatu ras adalah segala pelanggaran HAM terutama pembantaian suatu kaum atau

ras harus dihapuskan atau ditentang karena akan menimbulkan penyesalan di pihak pelaku yang melakukan pembantaian tersebut. Hal ini terlihat di dalam film dimana Ayah Bruno menyesal pada akhirnya. Karena kamar

gas yang menjadi tanggungjawabnya berakibat korban jatuh pada pihaknya sendiri, yaitu anaknya (Bruno). Sedangkan dalam film The Pianist, treatment recommendation atau cara menyelesaikan masalah

peperangan yang berakibat pembantaian adalah semua kekacauan yang ditimbulkan oleh si pelaku kejahatan pembantaian dari suatu perang pada

akhirnya akan mendapatkan ganjaran yang setimpal dengan apa yang sudah dilakukan kepada korban nya. Hal ini terlihat dalam film, setelah

(58)

70

6.2. Saran

Berdasarkan penelitian di atas, peneliti memiliki saran yang perlu diperhatikan, yaitu peneliti sadar bahwa penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan. Penelitian

ini hanya membahas bagaimana Holocaust di pahami pada masing-masing film. Kekurangan lain dari penelitian ini adalah kurang menyentuh penjelasan yang mendalam tentang Nazi Jerman dan Yahudi, penelitian hanya berpusat pada

tragedi Holocaust. Peneliti berharap ada penelitian selanjutnya, dan menyarankan pada penelitian selanjutnya, agar lebih mendalam lagi tentang penjelasan Nazi

(59)

DAFTAR PUSTAKA

Cahyo, Agus N. 2013.Pembantaian-Pembantaian Mengerikan Dalam Perang Dunia I & II. Jogjakarta: Palapa.

Downing, Stephane. 2007.Holocaust: Fakta atau fiksi?. Jogjakarta: MedPress.

Eriyanto. 2002. Analisis Framing (Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media). Yogyakarta: LkiS.

Ihsan, Maftuh., “Representasi Sejarah Holocaust Dalam Film The Reader: Sebuah Kajian Psikoanalisis”., Skripsi: Universitas Indonesia. 2010.

Julianta, Indra., “Analisis Semiotika Representasi Ideologi Komunis dalam Film Sang

Penari”., Skripsi: Universitas Lampung. 2014.

Kharisma, R. Novayana. 2011. Representasi Kekerasan Dalam Film Rumah Dara. http://eprints.upnjatim.ac.id/2284/1/1.pdf

Maleong, Lexy J. 2005. Metode Penelitian Kualitatif; Edisi Revisi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sinopsis dilihat dari https://myboovie.wordpress.com/2012/10/01/the-boy-in-the-striped-pajamas/ diakses tanggal 5 Januari 2015

United States Holocaust Memorial Museum. Anak-Anak Saat Holocaust. http://www.ushmm.org/wlc/id/article.php?ModuleId=10005142 diakses tanggal 3 Januari 2015

United States Holocaust Memorial Museum. Holocaust.

Gambar

Gambar 1. Cover Film The Boy In The
Gambar 2. Cover Film The Pianist
Tabel 1. Penelitian Terdahulu
Tabel 2. Proses Representasi Fiske
+6

Referensi

Dokumen terkait

Belakangan ini di Indonesia banyak beredar film yang mengangkat permasalahan

Karena adanya masalah tersebut, penulis mencoba untuk meneliti serat melihat faktor apa saja yang menjadi penyebab terjadinya keterlambatan penyelesaian dalam

Skripsi berjudul “Representasi Kekerasan Simbolik dalam Film Animasi Minions” ini memiliki rumusan masalah yaitu bagaimana kekerasan simbolik direpresentasikan melalui shot dan

Review Setelah menggabungkan seluruh scene film, penulis mencoba melihat film tersebut dalam bentuk sesuai naskah dan akan melakukan pencatatan apa saja yang harus dikembangkan

Bima dan Dara adalah siswa siswi SMA yang merupakan tokoh utama dari terjadinya masalah yang ada di film Dua Garis Biru, yaitu melakukan hubungan seksual yang

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui makna semiotika mengenai nilai kapitalisme yang terdapat dalam film Snowpiercer dan menganalisis apa saja tanda yang

Film ini termasuk salah satu film yang bermasalah karena dalam penayangan nya melanggar ketentuan yang diatur dalam Pasal 26 Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia

Stereotip yang muncul dalam film yaitu sikap para orang kulit putih terhadap orang kulit hitam, dimana saat melihat orang kulit hitam selalu berfikiran negatif, Sikap stereotip itu