Correlation between the condition coral reef and the abundance of herbivory fishes in southern coast of Kupang Bay, East Nusa Tenggara Province

92  10  Download (0)

Teks penuh

(1)

KETERKAITAN KONDISI TERUMBU KARANG DENGAN

KELIMPAHAN IKAN HERBIVORA DI PESISIR SELATAN

TELUK KUPANG, PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

IVONNY LAUWOIE

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul“ Keterkaitan Kondisi Terumbu Karang dengan Kelimpahan Ikan Herbivora di Pesisir Selatan Teluk Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur” adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, September 2010

(3)

IVONNY LAUWOIE. Correlation between the condition coral reef and the abundance of herbivory fishes in southern coast of Kupang Bay, East Nusa Tenggara Province. Under the direction of NIKEN T.M. PRATIWI and ARIO DAMAR

Coral reef ecosystem damaged caused by natural and human activities. The ability of a reef to withstand disturbance events is dependent on having right functional composition of herbivory fishes. This study was aimed to know the interactions between the condition coral reef and the abundance of herbivorous fish. The method used were the Line Intercept Transect (LIT) for determining the condition of coral reefs and algae cover whereas for determining of herbivory fish community using Underwater Visual Census (UVC).The analysis used were standard ecological analysis, Pearson correlation and principal component analysis (PCA) to find the relationship between coral reef and the abundance of herbivorous fish. The result showed that coral reefs ecosystem in that location are still in medium and bad condition with live coral cover average 32.17 %. The result showed that the percentage cover of coral reefs on the southern coast of Kupang Bay are medium and poorly categorized where coral cover was medium categorized in the locations always have supervision while coral cover was bad categorized in the location far from supervision. Differences presentations cover the coral reefs with an abundance of herbivorous fish have no specific pattern related to the family of herbivorous fish. Pomacentridae found at all stations with the highest abundance while the families Acanthuridae, Scaridae and Siganidae exists at low abundance at all stations.

(4)

IVONNY LAUWOIE. Keterkaitan kondisi terumbu karang dengan kelimpahan ikan herbivora di pesisir selatan Teluk Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dibimbing oleh Niken TM. Pratiwi dan Ario Damar

Terumbu karang mempunyai peranan penting baik secara ekologis maupun ekonomi. Hewan pemakan tanaman atau herbivora merupakan kelompok pengendali utama pertumbuhan alga. Alga sebagai produsen primer menjadi bagian penting dalam ekosistem terumbu karang.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keterkaitan kondisi karang dengan kelimpahan ikan herbivora di pesisir selatan Teluk Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Penelitian diakukan selama 2 bulan yaitu dari bulan April sampai bulan Mei 2010.

Pengamatan presentase penutupan karang serta substrat dasar lainnya diperoleh dengan metode LIT (Line Intercept Transect). Pengamatan ikan karang dilakukan dengan metode UVC (Underwater Visual Census). Data kulaitas air yang diamati meliputi kondisi fisika dan kimia perairan. Analisis yang digunakan untuk melihat hubungan terumbu karang dan ikan herbivora dengan Korelasi Pearson dengan menggunakan software Microsoft Excel, sedangkan untuk melihat pola pengelompokan variabel penyusun substrat dasar, ikan herbivora dan lingkungan digunakan Analisis Komponen Utama (PCA).

Hasil yang dipeoleh adalah rata-rata tutupan karang hidup 32.17 %. Famili ikan herbivora yang ditemukan yaitu: Pomacentridae, Acanthuridae,Scaridae dan Siganidae. Persentase tutupan terumbu karang di pesisir selatan Teluk Kupang dan sekitarnya berkategori buruk dan sedang, dimana tutupan terumbu karang berkategori sedang pada lokasi yang selalu mendapat pengawasan sedangkan tutupan terumbu karang berkategori buruk pada lokasi yang jauh dari pengawasan. Perbedaan presentase tutupan terumbu karang dengan kelimpahan ikan herbivora tidak memiliki pola tertentu berkaitan dengan famili ikan herbivora. Famili Pomacentridae ditemukan pada semua stasiun dengan kelimpahan tertinggi sedangkan famili Acanthuridae, Scaridae dan Siganidae memliki kelimpahan rendah pada semua stasiun.

(5)

© Hak Cipta milik IPB, tahun 2010 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya.

a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah;

b. Pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar bagi IPB 2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh Karya

(6)

TELUK KUPANG, PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

IVONNY LAUWOIE

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada

Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(7)

Kelimpahan Ikan Herbivora di Pesisir Selatan Teluk Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur

Nama mahasiswa : Ivonny Lauwoie Nomor Pokok : C252080214

Program Studi : Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan

Disetujui Komisi Pembimbing

Diketahui

Tanggal Ujian: 24 September 2010 Tanggal Lulus: Ketua Komisi

Dr. Ir. Niken T.M. Pratiwi, M.Si

Anggota Komisi Dr. Ir. Ario Damar, M. Si

Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana

(8)
(9)

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas kasih dan penyertaan-Nya sehingga laporan penelitian yang berjudul “Keterkaitan kondisi terumbu karang dengan kelimpahan ikan herbivora di pesisir selatan Teluk Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur” dapat diselesaikan.

Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Dr. Ir. Niken T.M. Pratiwi, M.Si dan Dr. Ir. Ario Damar, M.Si selaku ketua dan anggota pembimbing atas semua waktu, tenaga serta masukan dan saran selama penyusunan tesis ini. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada Ketua Program Studi Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB beserta staf, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT beserta staf, Tim Pengelola COREMAP II WB yang telah memberikan bantuan beasiswa, Ibunda terkasih serta suami dan anak-anak tercinta yang telah memberikan dukungan, doa dan harapan. Juga kepada teman-teman yang telah membantu dalam penelitian di lapangan maupun di laboratorium, mahasiswa Sandwich COREMAP II WB IPB, serta kepada semua pihak lainnya yang telah membantu dalam diskusi, saran dan doa.

Penulis menyadari bahwa tesis masih jauh dari kesempurnaan karena itu masukan untuk melengkapi dan memperbaiki tulisan ini sangat diharapkan. Semoga penelitian dan tesis ini bisa bermanfaat.

Bogor, September 2010

(10)

Penulis dilahirkan di Kupang, 15 Maret 1975 anak dari Ayah John Lauwoie dan Ibu Joice Ndoen. Penulis merupakan putri pertama dari empat bersaudara. Penulis mengawali pendidikan dasar di SD Negeri Oetona (1980-1986). Penulis melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Kupang pada tahun 1986-1989 dan melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 1 Kupang pada tahun 1989-1992. Selanjutnya penulis diterima di Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta pada tahun 1992-1995.

(11)

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas kasih dan penyertaan-Nya sehingga laporan penelitian yang berjudul “Keterkaitan kondisi terumbu karang dengan kelimpahan ikan herbivora di pesisir selatan Teluk Kupang,Provinsi Nusa Tenggara Timur” dapat diselesaikan.

Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Dr. Ir. Niken T.M. Pratiwi, M.Si dan Dr. Ir. Ario Damar, M.Si selaku ketua dan anggota pembimbing atas semua waktu, tenaga serta masukan dan saran selama penyusunan tesis ini. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada Ketua Program Studi Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB beserta staf, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT beserta staf, Tim Pengelola COREMAP II WB yang telah memberikan bantuan beasiswa, Ibunda terkasih serta suami dan anak-anak tercinta yang telah memberikan dukungan, doa dan harapan. Juga kepada teman-teman yang telah membantu dalam penelitian di lapangan maupun di laboratorium, mahasiswa Sandwich COREMAP II WB IPB, serta kepada semua pihak lainnya yang telah membantu dalam diskusi, saran dan doa.

Penulis menyadari bahwa tesis masih jauh dari kesempurnaan karena itu masukan untuk melengkapi dan memperbaiki tulisan ini sangat diharapkan. Semoga penelitian dan tesis ini bisa bermanfaat.

Bogor, September 2010

(12)

Penulis dilahirkan di Kupang, 15 Maret 1975 anak dari Ayah John Lauwoie dan Ibu Joice Ndoen. Penulis merupakan putri pertama dari empat bersaudara. Penulis mengawali pendidikan dasar di SD Negeri Oetona (1980-1986). Penulis melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Kupang pada tahun 1986-1989 dan melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 1 Kupang pada tahun 1989-1992. Selanjutnya penulis diterima di Diploma 3 Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta pada tahun 1992-1995.

Pendidikan sarjana ditempuh di Program Studi Sosial Ekonomi Perikanan Fakultas Perikanan Universitas Muhammadiyah Kupang dan lulus tahun 2004. Penulis bekerja sebagai staf di Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT sejak tahun 1999. Pada tahun 2008 diberi kesempatan mengikuti program magister sains di Program Studi Sumberdaya Pesisir dan Lautan atas bantuan COREMAP II World Bank.

(13)

xvii

DAFTAR TABEL……… xix

DAFTAR GAMBAR………... xxi

DAFTAR LAMPIRAN………... xxiii

1 PENDAHULUAN……… 1

1.1 Latar Belakang……….. 1

1.2 Perumusan Masalah……….. 2

1.3 Tujuan ……… 2

1.4 Kerangka Pemikiran Penelitian………... 3

1.5 Manfaat Penelitian………. 4

2 TINJAUAN PUSTAKA………... 5

2.1 Terumbu karang……….. 5

2.1.1 Tipe terumbu karang ………..…… 6

2.1.2 Morfologi terumbu karang ………. 6

2.1.3 Faktor pembatas kehidupan terumbu karang……… 7

2.1.4 Ancaman terhadap ekosistem terumbu karang……… 9

2.2 Ikan karang ……… 10

2.3 Ikan herbivora ……… 12

2.4 Karakteristik alga pada ekosistem terumbu karang………. 13

2.5 Pertumbuhan karang muda/rekruitmen.………. .. 15

2.6 Keterkaitan ikan herbivora, alga dan terumbu karang………. 16

3 METODE PENELITIAN………... 19

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian……….. 19

3.2 Gambaran umum lokasi penelitian ……….. . 20

3.3 Alat dan Bahan ………. 23

3.4 Jenis dan Data yang Dikumpulkan………. 23

3.5 Metode Pengumpulan Data……….. 23

3.5.1 Pengukuran variabel kualitas air……….. 23

3.5.2 Pengamatan tutupan karang, alga dan rekruitmen………….. 24

(14)

xviii

3.6.3 Ikan karang……….……… 22

3.6.3.1 Kelimpahan suku dan jenis ikan herbivora………. 27

3.6.3.2 Indeks keragaman, keseragaman dan dominansi ikan karang dan ikan herbivora.. ……. 27

3.6.4 Analisa hubungan 3.6.4.1 Analisa korelasi………..………….. 29

3.6.4.2 Analisa PCA ………. 30

4 HASIL DAN PEMBAHASAN………... 31

4.1 Hasil ………...………. 31

4.1.1. Gambaran umum lokasi penelitian………. 31

4.1.2 Kondisi lingkungan perairan ……… 32

4.1.3 Ekosistem terumbu karang……… 32

4.1.4 Struktur komunitas ikan………. 35

4.1.4.1 Komposisi jenis dan suku ikan karang ……….. 35

4.1.4.2 Kelimpahan jenis dan suku ikan herbivora………… 36

4.1.5 Analisis korelasi……….. 38

4.1.6 Distribusi spatial antara lokasi penelitian dengan beberapa variabel pengamatan penelitian………… 40

4.2 Pembahasan………….………. 41

4.2.1 Kondisi ekosistem terumbu karang………. 41

4.2.2 Kelimpahan ikan herbivora …………. ……… 45

4.2.3 Kondisi alga ……… 48

4.2.4 Hubungan kondisi ekosistem terumbu karang, alga dan kelimpahan ikan herbivora ……… 50

4.2.5 Implikasi pengelolaan ……… 51

5 KESIMPULAN DAN SARAN………... 53

5.1 Kesimpulan ………... 53

5.2 Saran………….……….. …………. 53

DAFTAR PUSTAKA 55

(15)

xix

1 Category and functional groups of algae on Great Barrier Reef…………15

2 Equipments and material used in research ………... 23

3 Data of measured water quality variables … 4 List of the benthic substrate components making up the community ………... 24

of corals and coral lifeform code (English et al. 1997) ………. 27

5 Criteria for assessment of coral reef condition based on the percentage of coral cover (Gomez & Yap 1988) 6 Shannon diversity index ……….……..……….. 28

...…. 25

7 Evenness index …………...…...……….. 28

8 Simpson Dominance index ..……….……. 29

(16)

xxi

1 Kerangka pemikiran penelitian………. 3

2 Peta lokasi penelitian ………... 19 3 Ilustrasi teknik pengumpulan data kondisi terumbu karang dengan

menggunakan metode Line Intercept Transect ... 24 4 Ilustrasi teknik pengumpulan data ikan dengan Metode

Underwater Visual Census ……….… 26 5 Rata-rata presentase tutupan dasar untuk kategori biota dan substrat

di lokasi penelitian………. 33

6 Presentase tutupan dasar untuk kategori biota dan substrat di lokasi

penelitian………. 34

7 Presentase tutupan dasar karang hidup, rekruitmen dan karang lunak

di lokasi penelitian………. 35

8 Indeks Dominansi, Indeks Keragaman dan Indeks Keanekaragaman … 36 9 Presentase tutupan dasar karang hidup dan kelimpahan ikan …………. 37 10 Grafik korelasi antar variabel………. 39 11 Keterkaitan antar lokasi penelitian, tutupan karang , ikan herbivora

(17)

xxiii

1 Presentase tutupan biota dan substrat di lokasi penelitian …..………….. 62 2 Jumlah individu, jumlah jenis, jumlah famili serta indeks dominansi,

keragaman dan keseragaman ikan karang di ... 63 3 Jumlah individu, jumlah jenis, jumlah famili serta indeks dominansi,

keragaman dan keseragaman ikan herbivora ... 64 4 Korelasi dan PCA antara substrat, biota, parameter lingkungan …..……. 65 5 Famili dan jenis ikan yang ditemukan dengan metode

underwater visual census……… 68

6 Foto stasiun penelitian ………. 71

(18)

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ekosistem terumbu karang mempunyai peranan penting baik secara ekologi maupun ekonomi. Terumbu karang merupakan tempat tinggal, tempat berlindung, tempat mencari makan serta tempat berkembang biak bagi biota yang hidup didaerah karang dan sekitarnya. Selain itu terumbu karang menghasilkan berbagai produk yang bernilai ekonomis penting seperti berbagai jenis ikan karang, teripang dan moluska.

Terumbu karang sangat sensitif terhadap terhadap perubahan lingkungan perairan dan sangat rentan mengalami degradasi. Aktivitas manusia di wilayah daratan dapat mempengaruhi kehidupan organisme yang hidup di ekosistem ini. Penyebab utama degradasi terumbu karang adalah penangkapan ikan berlebihan, praktek penangkapan ikan yang merusak, sedimentasi serta pencemaran yang berasal dari daratan. Aktivitas lainnya yang mengancam keberadaan terumbu karang antara lain polusi baik dari perumahan, pertanian, pabrik dan juga kegiatan wisata yang tidak bersifat hati-hati serta pemanasan global (Burke et al. 2002).

Teluk Kupang merupakan kawasan pesisir dan laut yang terletak di bagian barat Pulau Timor, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kawasan Teluk Kupang menyimpan berbagai potensi sumberdaya kelautan dan banyak memberi manfaat bagi masyarakat pesisir. Aktivitas masyarakat yang memanfaatkan sumberdaya kelautan dengan cara-cara yang merusak lingkungan sudah berlangsung lama dan memberikan gangguan dan tekanan terhadap sumberdaya kelautan khususnya terumbu karang. Penggunaan bom dan potasium sudah cukup lama dilakukan sejak tahun 2000-an.

(19)

dan juga overfishing terhadap hewan herbivora maka akan memperburuk kondisi tersebut. Jompa and McCook (2002) telah melakukan percobaan dengan menutup jalan masuk bagi ikan herbivora, menuju karang Porites cylindrica yang berasosiasi dengan makroalga Lobophora variegata. Dengan tidak adanya ikan herbivora, pertumbuhan Lobophora variegata lima kali lebih cepat bila dibandingkan di alam.

Dalam ekosistem terumbu karang, keberadaan alga adalah hal yang sangat mutlak dan telah menjadi bagian penting ekosistem terumbu karang yaitu sebagai salah satu produser primer, karena alga membutuhkan substrat untuk melekat dan berkembang, maka keberadaannya menjadi pesaing utama bagi hewan karang yang juga membutuhkan substrat dasar untuk berkembang. Disamping itu, karena pertumbuhannya jauh lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan karang, maka melimpahnya alga pada umumnya dapat mengakibatkan tertutupnya hewan karang dan pada beberapa kasus keberadaan alga ini dapat membunuh hewan karang (Jompa & McCook 2002).

1.2 Perumusan Masalah

Kondisi ekosistem terumbu karang keberadaannya sangat berkaitan

dengan faktor manusia dan faktor alam. Faktor manusia antara lain :

pengembangan industri, reklamasi lahan, polusi, kegiatan pertanian, eutrofikasi dan penangkapan ikan yang bersifat merusak sedangkan faktor alam berupa: bencana alam, penyakit, global warming, ledakan populasi predator, berkurangnya ikan herbivora dan juga pemutihan karang. Banyaknya tekanan dan gangguan terhadap ekosistem ini menyebabkan ekosistem terumbu karang terus mengalami degradasi. Berdasarkan penjelasan diatas maka permasalahan

terkait dengan penelitian antara lain:

1. Ketergantungan masyarakat pesisir Teluk Kupang terhadap keberdayaan

sumberdaya perikanan sebagai sumber kehidupan

2. Pemanfaatan sumberdaya yang bersifat merusak terumbu karang

3. Keberadaan ikan karang khususnya ikan herbivora

1.3 Tujuan

(20)

1.4 Kerangka pikir penelitian

Penangkapan ikan dengan cara yang bersifat merusak/destructive fishing seperti penggunaan bom dan racun sianida serta alat penangkap ikan yang merusak lainnya menyebabkan hancurnya ekosistem terumbu karang dan berkurangnya ketersediaan ikan karang. Pengeboman ikan dengan dinamit atau dengan racikan bom lainnya, dapat menghancurkan struktur terumbu karang, dan membunuh ikan yang ada di sekelilingnya. Dampak lain dari penggunaan bom yaitu pada areal yang awalnya didominasi terumbu karang berubah menjadi areal yang didominasi alga atau karang lunak/soft coral (Fox et al. 2003)

Penangkapan ikan secara berlebihan terutama jenis ikan herbivora memberikan dampak perubahan pada ukuran, tingkat kelimpahan, dan komposisi jenis ikan. Hal itu disebabkan ikan turut berperan di dalam mencapai keseimbangan yang harmonis di dalam ekosistem terumbu karang. Penangkapan besar-besaran akan menyebabkan terumbu karang menjadi rapuh terhadap gangguan dari alam maupun gangguan dari kegiatan manusia. Tanpa ikan-ikan dan hewan-hewan avertebrata laut, maka populasi karang akan digantikan oleh populasi alga yang mencegah penempelan dan pertumbuhan larva karang pada substrat.

Secara ringkas, kerangka pikir ditunjukkan pada gambar 1.

Gambar 1 Kerangka pikir penelitian

Ekosistem terumbu karang di karang, ikan herbivora

dan alga

(21)

1.5 Manfaat

Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Sebagai acuan pengambilan kebijakan pemerintah dalam pengelolaan ekosistem di perairan pesisir Teluk Kupang berdasarkan pada kepentingan ekologi sumberdaya alam dan kepentingan ekonomi dan sosial masyarakat nelayan.

(22)

2.

TINJAUAN PUSTAKA

2

.1 Terumbu Karang

Terumbu karang (coral reef) merupakan organisme yang hidup di perairan dan berupa bentukan batuan kapur (CaCO3

Menurut Veron (1995) terumbu karang merupakan endapan massif (deposit) padat kalsium (CaCO

) yang cukup kuat menahan gaya gelombang laut. Sedangkan organisme organisme yang dominan hidup disini adalah binatang-binatang karang y ang mempunyai kerangka kapur, dan algae yang banyak diantaranya juga mengandung kapur. Berkaitan dengan terumbu karang diatas dibedakan antara binatang karang atau karang (reef coral) sebagai individu organisme atau komponen dari masyarakat dan terumbu karang (coral reef ) sebagai suatu ekosistem (Sorokin 1993).

3) yang dihasilkan oleh karang dengan sedikit tambahan dari alga berkapur (Calcareous algae) dan organisme-organisme lain yang mensekresikan kalsium karbonat (CaCO3

Ekosistem terumbu karang adalah unik karena umumnya hanya terdapat di perairan tropis, sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan hidupnya terutama suhu, salinitas, sedimentasi, eutrofikasi dan memerlukan kualitas perairan alami (pristine). Demikian halnya dengan perubahan suhu lingkungan akibat pemanasan global yang melanda perairan tropis telah menyebabkan pemutihan karang (coral bleaching) yang diikuti dengan kematian massal mencapai 90–95 %. Suharsono (1998) mencatat selama peristiwa pemutihan tersebut, rata-rata suhu permukaan air di perairan Indonesia adalah 2- 3°C diatas suhu normal. Suhu optimum pertumbuhan karang di daerah tropis adalah 25 - 30°C, suhu ekstrim akan mempengaruhi binatang karang dalam proses metabolisme, reproduksi dan pengapuran. Kenaikan suhu diatas 3 - 5°C diatas ambang batas menyebabkan menurunnya kemampauan karang untuk hidup dan tumbuh.

(23)

2.1.1 Tipe terumbu karang

Pertumbuhan ekosistem terumbu karang menurut bentuk dan letaknya dikelompokkan menjadi 3 tipe terumbu (Nybakken 1992), yaitu :

1. Terumbu karang tepi (Fringing Reef)

Terumbu karang ini berkembang di pantai dan mencapai kedalaman tidak lebih dari 40 meter. Terumbu karang ini tumbuh ke atas dan ke arah laut. Pertumbuhan terbaik biasanya terdapat di bagian yang cukup arus. Diantara pantai dan tepi luat terumbu, karang batu cendrung mempunyai pertumbuhan yang kurang baik

2. Terumbu karang penghalang (Barrier Reef)

Terumbu karang ini terletak agak jauh dari pantai dan dipisahkan dari pantai tersebut oleh dasar laut yang terlalu dalam untuk pertumbuhan karang batu (40 -70 meter). Terumbu karang ini berakar pada kedalaman yang melebihi kedalaman maksimum dimana karang batu pembentuk terumbu dapat hidup. Umumnya terumbu tipe ini memanjang menyusuri pantai dan biasanya berputar seakan-akan merupakan penghalang bagi pendatang yang dating dari luar.

3. Terumbu karang cincin (Atoll)

Terumbu karang ini merupakan bentuk cincin yang melingkari suatu goba (laggon). Kedalaman rata-rata goba di dalam atol dapat mencapai sekitar 45 meter dan jarang yang mencapai 100 meter. Terumbu karang ini juga bertumpu pada dasar laut yang dalamnya di luar batas kedalaman karang batu penyusun terumbu karang hidup.

2.1.2 Morfologi terumbu karang

Menurut Nybakken 1992, tipe pertumbuhan karang dan karakteristik masing-masing genera dari terumbu karang adalah :

1. Tipe bercabang (Branching)

Karang ini memiliki cabang dengan ukuran cabang lebih panjang dibandingkan dengan ketebalan atau diameter yang dimilikinya

2. Tipe padat (Massive)

(24)

berada di daerah dangkal bagian atasnya akan berbentuk seperti cincin. Permukaaan terumbu adalah halus dan padat.

3. Tipe kerak (Encrusting)

Karang ini tumbuh menutup permukaan dasar terumbu. Karang ini memiliki permukaan yang kasar dan keras serta lubang-lubang kecil.

4. Tipe meja (Tabulate)

Karang ini berbentuk menyerupai meja dengan permukaan yang lebar dan datar. Karang ini ditopang oleh sebuah batang yang berpusat atau bertumpu pada satu sisi membentuk sudut atau datar.

5. Tipe daun (Foliose)

Karang ini tumbuh dalam bentuk lembaran-lembaran yang menonjol pada dasar terumbu, berukuran kecil dan membentuk lipatan melingkar.

6. Tipe jamur (Mushroom)

Karang ini berbentuk oval dan tampak seperti jamur, memiliki banyak tonjolan seperti punggung bukit beralur dari tepi hingga pusat mulut.

2.1.3 Faktor pembatas kehidupan terumbu karang

Ekosistem terumbu karang mempunyai produktivitas yang sangat tinggi dibandingkan ekosistem lainnya, demikian pula keanekaragaman hayati. Disamping mempunyai fungsi ekologis sebagai penyedia nutrien bagi biota perairan, pelindung fisik, tempat pemijahan dan daerah asuhan bagi berbagai biota. Pertumbuhan terumbu karang dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu : 1. Temperatur

Terumbu karang dapat hidup subur pada perairan yang mempunyai kisaran suhu 23 - 25°C. Tidak ada terumbu karang yang dapat berkembang pada suhu dibawah 18°C. Suhu ekstrim yang masih dapat ditoleransi berkisar antara 36 - 40°C (Nybakken 1992)

2. Kedalaman

(25)

3. Cahaya

Cahaya merupakan salah satu faktor yang sangat penting karena cahaya sangat dibutuhkan bagi zooxanthellae untuk melakukan proses fotosintesis. Tanpa cahaya yang cukup laju fotosintesis akan berkurang dan kemampuan karang untuk menghasilkan kalsium karbonat (CaCO3) serta membentuk terumbu akan semakin berkurang. Titik kompensasi untuk karang yaitu kedalaman dimana intensitas cahaya berkurang hingga 15 – 20 % dari intensitas di permukaan (Nybakken 1992)

4. Salinitas

Salinitas di perairan sangat penting untuk mempertahankan tekanan osmosis, karena itu salinitas dapat mempengaruhi ekosistem terumbu karang secara umum. Terumbu karang hanya dapat hidup di perairan aut dengan salinitas normal 32 – 35 ‰. Umumnya terumbu karang tidak dapat berkembang di perairan laut yang mendapat air tawar teratur dari sungai besar karena hal ini akan menyebabkan penurunan salinitas. Salinitas perairan jika lebih rendah dari kisaran diatas terumbu karang akan kekurangan cairan sehingga tidak banyak nutrien yang masuk dan sebaliknya jika salinitas lebih tinggi akan menyebabkan cairan yang di dalam tubuhnya akan keluar yang mengakibatkan tekanan osmosis tubuh terhadap lingkungan meningkat sehingga energi yang diperlukan untuk menyesuaikan diri pun meningkat (Nybakken 1992)

5. Sedimen

Sedimen mengurangi cahaya yang dibutuhkan untuk fotosintesis oleh zooxanthellae dalam jaringan karang. Akibatnya perkembangan terumbu karang di daerah yang pengendapannya tinggi akan berkurang atau bahkan menyebabkan kematian karang (Nybakken 1992)

6. Arus

(26)

Menurut Suharsono (2007) bahwa secara alamiah, ekosistem terumbu karang memiliki berbagai peranan penting antara lain :

1. Sebagai lingkungan hidup. Ekosistem terumbu karang merupakan tempat tinggal, tempat berlindung, tempat mencari makan serta tempat berkembang biak bagi biota yang hidup didaerah karang dan sekitarnya.

2. Sebagai pelindung fisik. Dengan formasi yang dimiliki, terumbu karang dapat berfungsi sebagai pemecah ombak dan penahan arus.

3. Sebagai ekosistem yang menghasilkan berbagai produk yang bernilai ekonomis penting. Seperti berbagai jenis ikan karang, teripang, karang-karangan dan moluska.

4. Sebagai sumber keindahan. Dengan keindahan yang dimilikinya, ekosistem terumbu karang dapat dijadikan daerah rekreasi dan taman laut.

2.1.4 Ancaman terhadap ekosistem terumbu karang

Meskipun nilainya sangat tinggi, terumbu karang menghadapi ancaman dari aktivitas manusia dengan tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Meledaknya populasi penduduk 50 tahun terakhir ini mendorong munculnya tekanan-tekanan dan peningkatan kebutuhan yang sangat tinggi akan sumberdaya yang berasal dari darat maupun laut. Ketergantungan yang tinggi terhadap sumberdaya laut telah menyebabkan eksploitasi besar-besaran dan kerusakan terumbu karang, terutama yang dekat dengan pusat pemukiman penduduk.

Penyebab kerusakan terumbu karang digolongkan ke dalam 3 bagian yaitu: (1) kerusakan karang oleh sebab-sebab biologis seperti adanya kompetisi, predasi, ledakan populasi fitoplankton, (2) kerusakan karang oleh sebab-sebab mekanis seperti adanya arus yang kuat, sedimentasi, aktivitas vulkanik, perubahan temperature dan salinitas serta penetrasi sinar matahari, (3) kerusakan karang dikarenakan aktivitas manusia seperti pencemaran minyak, bahan kimia, pengambilan karang untuk keperluan industri dan bangunan, pengeboman, koleksi biota dan lain-lain (Suharsono 1990)

(27)

karang mati ini dibawa olah arus, selanjutnya menggeser atau menutupi karang-karang muda lain yang masih hidup, sehingga mencegah atau menghambat pemulihan karang (Fox et al. 2003)

Ancaman utama terumbu karang ialah penangkapan ikan berlebihan, praktek penangkapan ikan yang merusak, sedimentasi serta pencemaran yang berasal dari daratan. Aktifitas lainnya yang mengancam keberadaan terumu karang antara lain polusi baik dari perumahan, pertanian, pabrik dan juga kegiatan wisata yang tidak bersifat hati-hati serta pemanasan global (Burke et al. 2002)

2.2 Ikan karang

Habitat ikan di daerah tropis mempunyai jumlah spesies yang lebih banyak daripada daerah subtropis dan yang paling banyak jumlah ikannya adalah habitat spesies ikan karang dimana diduga ada sebanyak 4000 spesies (Allen et al. 1996). Di perairan Indonesia terdapat sekitar 3000 jenis yang termasuk dalam 17 ordo dan 100 famili (Kuiter 1992).

Ikan-ikan karang memiliki warna yang cerah dan memiliki ciri khusus, sehingga membantu dalam mengidentifikasi spesies ikan tersebut. Selain warna, ciri tersebut dapat berfungsi untuk melindungi diri dari predator. Menurut Aldrin (1993) ikan karang dapat dibagi menjadi 3 kelompok yaitu :

1. Kelompok ikan target, yaitu ikan-ikan karang yang mempunyai manfaat sebagai ikan konsumsi, seperti kelompok ikan Famili Serranidae, Lutjanidae, Haemulidae dan Lethrinidae.

2. Kelompok ikan indikator, yaitu kelompok ikan karang yang dinyatakan sebagai indikator kelangsungan hidup terumbu karang yaitu Famili Chaetodontidae.

3. Kelompok ikan utama/mayor, yaitu ikan-ikan yang berperan dalam rantai makanan, seperti ikan dari famili Pomacentridae, Scaridae, Acanthuridae, Caesionidae, Labridae, Siganidae, Mullidae dan Apogonidae.

2.2.1 Trophic ekologi ikan karang

(28)

1. Trophic tingkat 1

Tingkat 1 di laut terdiri dari tumbuhan laut yang mencakup fitoplankton, rumput laut dan beberapa jenis lamun. Tumbuhan ini adalah produsen primer yang menangkap energi matahari untuk menjadi bentuk yang dapat digunakan makhluk hidup lain di tingkat trophic lainnya.

2. Trophic tingkat 2

Organisme pada tingkat 2 memiliki keragaman yang tinggi dan juga cara yang beragam dalam menggunakan sumber makanan dalam tingkat trophic pertama. Yang termasuk dalam tingkat ini adalah browsers dan grazer, filter feeders dan deposit feeders

3. Trophic tingkat 3

Pada tingkat ini terdiri dari karnivora, yang secara aktif memburu dan memakan herbivora tingkat ke dua.

4. Trophic tingkat 4

Tingkat ini merupakan tingkat karnivora berikutnya dimana karnivora pada tingkat ini memburu dan memakan karnivora dan herbivora tingkat lebih rendah.

5. Trophic tingkat 5

Pada tingkat ini ditempati oleh top predator yaitu ikan hiu.

2.2.2 Hubungan ikan karang dengan habitat

Menurut Choat and Bellwood (1991) menjelaskan interaksi ikan karang dengan terumbu karang dalam 3 bentuk hubungan yaitu :

1. Interaksi langsung, yaitu sebagai tempat berlindung dari predator.

2. Interaksi dalam mencari makanan, meliputi hubungan antar ikan karang dan biota yang hidup pada karang termasuk alga

3. Interaksi tidak langsung sebagai akibat dari struktur karang dan kondisi hidrologi dan sedimen.

Sedangkan menurut Nybakken (1992) interaksi ikan karang lainnya yang terjadi dalam ekosistem terumbu karang adalah :

(29)

memindahkan polip karang untuk mendapatkan alga atau invertebrata yang hidup dalam lubang kerangka.

2. Grazing, dilakukan oleh ikan-ikan famili Siganidae, Pomacentridae, Acanthuridae dan Scaridae yang merupakan herbivora grazer pemakan alga sehingga pertumbuhan alga yang berkompetisi ruang dengan karang dapat terkendali.

Nybakken (1992) menyatakan tipe pemangsaan yang paling banyak di terumbu karang adalah karnivora yakni sekitar 50 – 70% dari spesies ikan. Ikan herbivora dan pemakan karang merupakan kelompok besar kedua yaitu sekitar 15% dari spesies yang ada. Sisanya berupa omnivora atau multivora yaitu ikan-ikan dari famili Pomachantidae, Chaetodontidae, Monachantidae, Ostachiontidae dan Tetradontidae. Ikan-ikan pemakan zooplankton memiliki ukuran tubuh kecil, yaitu dari famili Clupidae dan Atherinidae.

2.3 Ikan herbivora

Pada ekosistem terumbu karang, hewan pemakan tanaman atau herbivora merupakan komponen pengendali utama pertumbuhan tanaman alga. Alga merupakan biota yang sangat penting di dalam terumbu karang. Sebagai produsen primer, alga menambah daya dukung ekosistem terumbu karang. Kemampuannya untuk tumbuh secara cepat dapat berdampak negatif terhadap komunitas karang yang tumbuhnya lambat.

Menurut Nybakken (1992), ikan-ikan herbivora terdiri dari famili Siganidae, Scaridae, Acanthuridae dan Pomacentridae. Ikan herbivora menyenangi turf alga sebagai makanannya. Turf alga memiliki ukuran kurang dari 2 cm dan tidak mengandung bahan kimia yang tidak disukai ikan. Ikan herbivora suka memakan tumbuhan yang kecil ukurannya, strukturnya sederhana dan berkumpul. (Sale 1991). Ikan – ikan herbivora dalam memperoleh makan dengan 3 cara yaitu : (1) mempertahankan area/teritori (2) berkelompok (3) individu (Flores 2003).

(30)

setiap harinya (Birkeland 1997).

Ikan-ikan Scaridae merupakan hewan pengikis ekternal yang dominan. Kelompok ini mengikis substrat dengan membersihkan materi sebagaimana kandungan alga yang mereka makan. Famili ini memiliki insting yang kuat dalam mencari makan dimana tidak akan mendekati alga yang memiliki zat kimia (Sale 1991).

Famili Siganidae memiliki jumlah jenis yang lebih sedikit, lebih konservatif dalam kebiasaan makannya serta memiliki pola distribusi yang terbatas. Kebanyakan dari famili adalah pemakan turf alga, namun beberapa jenis juga memakan jenis alga yang lebih besar. Ikan ini lebih selektif memilih makanan dibanding ikan lainnya (Sale 1991). Kuiter (1992) menyatakan bahwa ikan-ikan dari famili Siganidae memiliki watak yang tenang seperti kelinci dan tidak agresif oleh karena itu dinamakan juga rabbitfish. Sifat tenang dari ikan ini mempengaruhi pola makannya yang menyeleksi terlebih dahulu jenis makanannya. Selain itu ketenangannya membuat ikan tersebut menjadi lebih pemalu dibandingkan dengan famili herbivora lainnya.

Herbivora merupakan satu proses ekologis yang sangat penting pada ekosistem terumbu karang. Herbivora merupakan satu-satunya mekanisme yang mengendalikan kelimpahan alga. Jika pertumbuhan alga tidak dikendalikan maka komunitas alga akan segera mendominasi terumbu karang. Dominansi alga berdampak negatif pada komunitas karang batu. Herbivora menyediakan ruang kosong untuk penempelan larva karang. Herbivora yang lebih besar tidak hanya mencabik alga tetapi juga memarut dasar terumbu tempat tumbuhnya alga. Bagian kapur terumbu yang terbuka akibat cabikan tersebut akan segera ditumbuhi oleh bakteri dan layak untuk menjadi tempat penempelan larva planula karang.

2.4 Karakteristik alga pada ekosistem terumbu karang

(31)

dengan ekosistem lain seperti padang lamun dan terumbu karang. Beberapa jenis alga menghasilkan kalsium karbonat seperti : Halimeda dan Corallinna yang membantu terumbu karang dalam proses kalsifikasi. Selain itu juga alga mempunyai pengaruh dalam degradasi terumbu karang apabila ekosistem yang awalnya didominasi terumbu karang digantikan oleh komunitas alga. Hal ini disebabkan penangkapan berlebih terhadap ikan-ikan herbivora, polusi yang disebabkan nutrien dan sedimentasi (Diaz-Pulido & Mc Cook 2008).

Berdasarkan karakterisik ekologi (bentuk daun, ukuran, kekuatan,

kemampuan berfotosintesis, kemampuan bertahan terhadap grazing) dan bentuk

pertumbuhan alga diklasifikasikan ke dalam beberapa “functional from groups”

yaitu:

1. Turf alga : Kumpulan atau asosiasi beberapa spesies alga, sebagian besar

filamentous dengan pertumbuhan yang cepat, produktifitas dan rata-rata

berkoloni yang tinggi. Turf alga memiliki biomass yang rendah per unit area,

tetapi mendominasi dalam proporsi yang besar pada area terumbu karang

walaupun dalam terumbu yang sehat

2. Fleshy alga : Bentuk alga yang besar, lebih kaku dan secara anatomi lebih

komplek dibandingkan dengan turf alga, lebih sering ditemukan di daerah

terumbu karang yang datar dan herbivor yang rendah karena kadang mereka

memproduksi partikel kimia yag menghalangi grazing oleh ikan

3. Crustose alga : Tanaman keras yang tumbuh pada kulit melekat pada

terumbu karang dengan penampakan seperti lapisan cat daripada tanaman

biasa, memiliki pertumbuhan yang lambat. Alga ini menghasilkan calcium

carbonate (batu kapur) dan memiliki peran secara bersama dengan terumbu

karang dalam proses cementasi

(Tabel 1) Pengelompokkan “Functional grups” membantu dalam

pemahaman mengenai distribusi komunitas alga dan respon terhadap faktor

lingkungan dimana alga dengan karakter ekologi yang sederhana memiliki

respon terhadap tekanan lingkungan yang terbatas, sedangkan alga yang

dibedakan berdasarkan taksonomi juga mempunyai perbedaan baik secara

ekologi maupun respon terhadap lingkungan. Selain itu pengelompokkan alga

berdasarkan “Functional grups” juga cukup membantu dimana di lapangan alga

sangat susah untuk diidentifikasi sampai ke tingkat spesies dan pendekatan ini

sudah secara luas digunakan untuk membedakan komunitas alga dalam kajian

(32)

Tabel 1 Kategori dan “functional groups” alga pada Great Barrier Reef

Kategori alga Functional groups Contoh di Great Barrier Reef proses fotosintesis alga diklasifikasikan ke dalam 4 kelompok yaitu :

1. Rhodophyta (Red Algae)

2. Ochrophyta (Brown Algae)

3. Chlorophyta (Green Algae)

4. Cyanophyta (Blue-Green Algae)

Dalam ekosistem terumbu karang alga mempunyai peranan yang penting yaitu : produsen primer karena dapat berfotosintesis dan merupakan makanan bagi ikan herbivora, membantu konstruksi dan cementasi terumbu karang dengan menghasilkan calcium carbonate namun jika jumlahnya semakin banyak maka berdampak negatif bagi terumbu karang. Alga memiliki kemampuan tumbuh lebih cepat sehingga dapat menutupi areal terumbu karang. Kondisi ini dapat menyebabkan perubahan struktur komunitas dari komunitas terumbu karang ke komunitas alga menyebabkan terjadinya degradasi karang namun tergantung pada jenis alga (Jompa & Mc Cook 2002).

2.5. Pertumbuhan karang muda/rekriutmen

(33)

1. Proses - proses fisika oseanografi, contoh : (upwelling, downwelling) 2. Kelimpahan larva dalam kolom air

3. Kebiasaan larva (migrasi vertikal mengikuti arus) 4. Ketersediaan substrat yang sesuai untuk menetap

5. Faktor - faktor ekologi yang mempengaruhi kelangsungan hidup larva setelah menetap (persaingan, predator, makanan)

2.6. Keterkaitan Ikan Herbivora, Alga dan Terumbu Karang

Herbivori sangat penting untuk mempertahankan komunitas karang dalam berkompetisi dengan makroalga. Dalam kondisi banyak nutrien, kecepatan pertumbuhan makroalga yang pesat dapat membuat makroalga menutupi karang (overgrowth). Karang yang kalah dalam kompetisi spasial tersebut mengalami kekurangan cahaya matahari sehingga terjadi penurunan metabolisme dan pertumbuhan.

Secara alami makroalga merupakan biota yang sangat cepat menempati setiap ruang yang kosong. Jika herbivori dihilangkan dari kawasan tersebut, larva karang sulit mendapatkan substrat keras untuk menempel dan tumbuh. Larva planula karang sangat membutuhkan kehadiran hewan herbivora untuk membuka ruang yang penuh makroalga sehingga dapat menjadi tempat penempelan. Kehadiran ikan herbivora dapat menjadi penyelamat karang tertentu dari agresivitas makroalga tersebut (Bachtiar 2008)

(34)

Russ (1984a) melaporkan bahwa kelimpahan ikan herbivora Acanthuridae dan Scaridae sangat bervariasi antar paparan terumbu, sedangkan Siganidae tidak banyak berubah. Jumlah spesies dan kelimpahan populasi Acanthuridae dan Scaridae umumnya lebih tinggi pada paparan tengah (midshelf) dan paparan luar (outershelf), sedangkan paparan dalam (innershelf) banyak ditempati oleh Siganidae. Pada Northern Section GBR, komunitas Scaridae menunjukkan kelimpahan yang tinggi dan biomasa yang rendah paparan dalam (innershelf), sedangkan Scaridae menunjukkan kelimpahan rendah dengan biomasa tinggi sedangkan pada paparan luar (Hoey & Bellwood 2008). Temuan ini juga mencerminkan adanya perbedaan ukuran tubuh dan komposisi jenis komunitas ikan Scaridae antar paparan. Ikan Bolbometapon muricatum yang berukuran besar banyak ditemukan pada paparan luar dan menjadi pelaku utama dari erosi kapur (87%) dan pemangsaan karang (99%), ikan Scarus rivulatus merupakan pelaku herbivori yang utama pada paparan dalam (70%) (Hoey & Bellwood 2008).

Interaksi alga dan terumbu karang dapat digambarkan dengan beberapa mekanisme yaitu: kompetisi untuk mendapatkan cahaya, kontak langsung, kompetisi ruang dan suksesi (Theobald 2003). Pada terumbu karang yang sudah mengalami degradasi dimana terdapat sedimentasi dan juga overfishing terhadap hewan herbivora maka akan memperburuk kondisi tersebut. Terumbu karang berkompetisi dengan alga untuk mendapatkan cahaya. Beberapa jenis alga menghalangi/overshadow terumbu karang dari cahaya matahari sehingga menggangu proses fotosintesis. Kontak langsung alga dan terumbu karang juga menyebabkan kematian karang karena abrasi (Lirman 2001). Selanjutnya abrasi secara terus menerus akan menyebabkan adanya pergerakan air yang membawa jamur dan bakteri menginvasi polip karang dan membunuh organisme tersebut (Hunter & Cindy 2003). Hal terpenting lainnya yaitu adanya kompetisi ruang antara alga dan terumbu karang.

Keterkaitan antara kondisi alga dan rekruitmen karang dapat dilihat dengan

beberapa mekanisme yaitu :

1. Alga menghambat tingkat rekruitmen karang dengan cara trap sediment.

2. Alga jenis empheral dan fleshy menghambat rekruitmen karang dengan cara

menguasai ruang, menghalangi cahaya/shading dan dengan cara silt traping

(35)

3. Alga jenis filamentous menghambat rekruitmen karang dengan menghalangi

cahaya/shading (Sammarco 1981).

4. Alga menghalangi pertumbuhan dan rekruitmen karang dengan cara shading

dan abrasi (Miler & Hay 1996).

(36)

3. METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Teluk Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur berlangsung selama 2 (dua) yaitu bulan April dan Mei 2010. Penelitian dilakukan pada 10 (sepuluh) stasiun pengamatan, masing-masing stasiun dengan 3 (tiga) kali ulangan.

Gambar 2 Peta Lokasi Penelitian #

123°20' 123°25' 123°30' 123°35' 123°40' 123°20' 123°25' 123°30' 123°35' 123°40'

#

- Peta Digital Indonesia, BAKOSURTANAL, 2004 - Direktorat Pulau-Pulau Kecil Ditjen KP3K - DKP - Direktorat Pesisir & Lautan Ditjen KP3K - DKP - MCRMP

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN Tahun 2010 Pusat Data dan Informasi Geografis Ditjen. Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil

(37)

3.2. Gambaran umum lokasi penelitian

Penelitian dilakukan pada wilayah pesisir selatan Teluk Kupang dan sekitarnya. Penelitian ini memerlukan adanya analisis keterkaitan antar kondisi lingkungan, presentase tutupan karang, presentase tutupan alga, kelimpahan dan jenis ikan herbivora serta menganalisis rekomendasi pengelolaan terumbu karang. Teluk Kupang merupakan kawasan pesisir dan laut yang terletak di bagian barat Pulau Timor, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kawasan Teluk Kupang menyimpan berbagai potensi sumberdaya kelautan tropika, dan banyak memberi manfaat bagi masyarakat. Teluk Kupang keberadaannya saat ini ada ada dalam wilayah administrasi Pemerintahan Kabupaten Kupang, Pemerintah Kota Kupang, Pemerintah Kabupaten Rote Ndao dan Pemerintah Provinsi NTT (Bappeda Kabupaten Kupang & PPLH SDA Undana 2004).

Secara geografis Teluk Kupang terletak diantara 9°9'–10° 40 LS dan 123°23 – 123°85 BT. Berdasarkan peta tematik Landsat memberikan gambaran yang jelas sebaran terumbu karang, padang lamun serta substrat pasir di Teluk Kupang dan sekitarnya. Ekosistem terumbu karang terkonsentrasi di sekitar Pulau Semau dan Pulau Kera serta Teluk Kupang bagian barat; substrat pasir tersebar terutama di dalam perairan teluk dari Sulamu sampai Pasir panjang, sedangkan padang lamun tersebar hampir sama dengan ekosistem terumbu karang.

Menurut ketinggian atau topografi wilayah pesisir Teluk Kupang, memperlihatkan adanya pantai-pantai yang masuk kategori satuan perbukitan terjal, landai sampai berupa dataran pantai. Pulau Semau bagian barat wilayah pesisirnya termasuk dalam satuan perbukitan landai sedangkan bagian timur termasuk ke dalam kategori satuan perbukitan terjal.

Di perairan Teluk Kupang ditemukan berbagai endapan serta karakteristik geologis yang berbeda antara satu dengan lainnya yang memberikan gambaran bahwa tipe pantai yang terdapat antara Kota Kupang, Pulau Semau secara keseluruhan serta wilayah pesisir sampai Tanjung Oisiina adalah tipe pantai II dengan karakteristik sebagai berikut :

1. Geologi : aluvium, batu gamping dan breksi 2. Relief : rendah - tinggi

3. Karakteristik garis pantai : berpasir, berbatu dan berkoral

(38)

Hasil pengamatan beberapa peneliti menunjukkan bahwa terdapat 2 (dua) massa air yang mempunyai karakteristik yang berbeda dan menonjol yaitu massa air dari Samudra Hindia (selatan) yang ditandai dengan tingginya suhu dan salinitas air, namun memiliki kadar oksigen terlarut yang rendah serta massa air dari Laut Banda (utara) yang memiliki karakteristik sebaliknya. Pertemuan kedua massa air ini terlihat di sekitar pantai barat Pulau Timor sedangkan pola arus sesaat ternyata lebih dipengaruhi oleh arus pasang surut, hal ini terjadi karena pola arus ini berbeda antara lokasi yang satu dan lokasi lainnya. Kesuburan perairan tinggi terdapat di beberapa lokasi yang dekat dengan daratan dan memiliki sungai yang dapat menyumbang nutrien dan zat hara ke perairan sekitarnya seperti Teluk Kupang yaitu diantara Tanjung Barat dan Nunkurus serta wilayah yang terbatas di sekitar Pulau Semau.

Terkait pengelolaan kawasan Teluk Kupang, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 18/Kpts –II/1993 tanggal 28 Januari 1993 kawasan Teluk Kupang telah ditetapkan menjadi kawasan konservasi sebagai Taman Wisata Alam Laut Teluk Kupang dengan luas kawasan 50.000 Ha, yang terbentang sepanjang pantai Teluk Kupang, termasuk Pulau Burung, Pulau Kera, Pulau Kambing dan Pulau Semau. Sedangkan di dalam rancangan Peraturan Daerah Provinsi NTT Tentang Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Laut Teluk Kupang dan Wini di Provinsi NTT (Anonim 2003) dinyatakan bahwa pengelolaan pesisir dan laut dalam lingkungan kawasan Teluk Kupang akan diatur dalam Peraturan Daerah yang akan ditetapkan tersebut. Pulau-pulau di wilayah Teluk Kupang termasuk dalam ruang lingkup berlakunya Perda tersebut, dimana pengelolaan pulau-pulau kecil dan perairan disekitarnya dilakukan secara menyeluruh berdasarkan satu gugusan pulau-pulau dan/atau keterkaitan pulau tersebut dengan ekosistem pulau induk di wilayah Teluk Kupang (Anonim 2003)

Menurut Anonim (2003) tujuan pengelolaan wilayah pesisir dan laut Teluk Kupang adalah :

1. Menyusun dan menetapkan kerangka kerja dan prioritas pengelolaan wilayah pesisir dan laut Teluk Kupang;

(39)

3. Menjamin dan melindungi kondisi lingkungan dan sumberdaya wilayah pesisir dan laut dalam rangka pembangunan di wilayah pesisir dan yang memperhatikan daya dukung lingkungan;

4. Mendorong kerjasama dan meningkatkan kapasitas pengelolaaan wilayah pesisir dan laut secara terpadu antara masyarakat lokal, pemerintah, swasta, perguruan tinggi dan LSM yang bergerak di bidang lingkungan;

5. Meningkatkan kapasitas, kemampuan dan kemandirian dalam mengelola wilayah pesisir dan terpadu oleh masyarakat di tingkat pedesaan.

Sedangkan prioritas pengelolaan wilayah pesisir dan laut Teluk Kupang adalah :

1. Meningkatkan koordinasi pengambilan keputusan melalui proses antar sektor dalam membuat dan meninjau keputusan-keputusan yang berhubungan dengan pengelolaan wilayah pesisir dan laut;

2. Melindungi habitat pesisir dan laut melalui penetapan dan pelaksanaan Daerah Perlindungan Laut atau Taman Laut Provinsi dan Kabupaten/Kota; 3. Meningkatkan keadilan dan partisipasi melalui pengakuan hak masyarakat

tradisional;

4. Meningkatkan kapasitas melalui pendidikan, pelatihan, penyuluhan dan pelayanan kepada masyarakat;

5. Memajukan dan mempertahankan sumberdaya perikanan pesisir melalui kegiatan perikanan yang ramah lingkungan;

6. Memperbaiki perencanaan tata ruang melalui prioritas ketergantungan pemanfaatan pada wilayah pesisir dan laut.

Menurut Salean (2004), saat ini di Provinsi Nusa Tenggara Timur sedang dijalankan Program Gerakan Masuk Laut (GEMALA) yang direncanakan sebagai program multi years yang dimulai pada tahun 2002 sehingga pemantapannya mencapai kurun waktu 15 tahun. Ditinjau dari pelaksanaannya Program Gemala menjanjikan kegiatan yang menggunakan pendekatan wilayah, terpadu dan menyeluruh. Tujuan Gerakan Masuk Laut adalah :

1. Meningkatkan pendapatan masyarakat, pendapatan asli daerah (PAD) dan devisa;

(40)

3.3 Alat dan bahan

Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : Tabel 2 Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian

Alat dan bahan Kegunaan

Peralatan selam dasar Melakukan snorkeling

Peralatan SCUBA Melakukan pengamatan, pencacahan data dalam air

Transek kuadrat 1 m x 1 m Mengukur tutupan karang dan alga

Roll meter Menandai jarak pengamatan

Kamera bawah air Memotret kondisi karang dan alga

Sabak Mencatat data dalam air

Seichi disk Mengukur kecerahan perairan

Termometer Mengukur suhu air

Refraktometer Mengukur salinitas

pH meter Mengukur Ph

3.4 Jenis Data yang dikumpulkan

Data dan informasi yang diperlukan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh dari pengukuran langsung di lapangan sedangkan data sekunder merupakan data yang diperoleh dari kajian pustaka.

Data skunder ini terdiri dari data tingkat kerusakan terumbu karang, pasang surut (pasang tertinggi dan terendah juga termasuk luasannya), suhu, curah hujan dan musim, dan data keruangan (dalam bentuk peta).

Pengumpulan data sekunder dilakukan melalui studi kepustakaan seperti laporan atau data-data perencanaan dari instansi terkait, laporan dari hasil survei atau penelitian, makalah-makalah, publikasi atau artikel-artikel terkait lainnya serta peta-peta yang tersedia.

3.5. Metode Pengumpulan Data 3.5.1 Pengukuran variabel kualitas air

(41)

Tabel 3. Data variabel kualitas air yang diukur

Pengambilan Satuan Metode dan

Alat

Lokasi

Suhu °C Termometer In situ

Salinitas Ppm Refraktometer In situ

Kecerahan Meter Secchi dish In situ

Kedalaman Meter Meter rol In situ

pH pH-meter In situ

TSS NTU Spektrofotometer Laboratorium

3.5.2. Pengamatan tutupan alga ,tutupan karang dan rekruitmen karang

Metode yang digunakan untuk mengamati alga, terumbu karang dan pertumbuhan karang muda/rekruitmen adalah metode Line Intercept Transect (LIT) (English et al. 1997).

Gambar 3 Ilustrasi teknik pengumpulan data kondisi terumbu karang dengan menggunakan metode LIT

Untuk mendapatkan kondisi terumbu karang yang sesuai dengan kriteria Gomez & Yap (1988), maka dilakukan pemantauan awal dengan menggunakan metode snorkling. Setelah stasiun dipastikan, maka kondisi terumbu karang diamati dengan metode transek garis (Line Intercept Transect method) mengikuti English et al. (1997). Setiap lokasi diambil titik koordinatnya menggunakan GPS.

Pengambilan data persentase penutupan karang hidup dengan transek garis menyinggung adalah dengan membentangkan rollmeter sepanjang 50 m (Gambar 3). Transek garis sepanjang 50 m diletakkan sejajar dengan garis pantai (English et al. 1997) Hal ini juga dikarenakan pengambilan data lebih pada pendekatan kriteria persen tutupan karang sesuai dengan Gomez & Yap (1988). Penggolongan komponen dasar penyusun komunitas karang berdasarkan lifeform disajikan dalam Tabel 4.

(42)

Tabel 4 Daftar penggolongan komponen substrat bentik penyusun komunitas karang lifeform karang dan kodenya (English et al. 1997).

Kategori Kode Keterangan

Dead Coral DC Baru saja mati, warna putih atau putih kotor Dead Coral with Alga

DCA Karang ini masih berdiri, struktur skeletal masih terlihat

Acropora Branching

ACB Paling tidak 2

o

percabangan. Memiliki axial dan radial coralit.

Encrusting

ACE Merupakan dasar dari bentuk acropora belum dewasa

Submassiv

e ACS

Tegak dengan bentuk seperti baji Digitate ACD Bercabang tidak lebih dari 2 Tabulate

o

ACT Bentuk seperti meja datar

Non-CE Sebagian besar terikat pada substrat (mengerak) Paling tidak 2o percabangan Foliose

CF Karang terikat pada satu atau lebih titik, seperti daun, atau berupa piring.

Massive CM Seperti batu besar atau gundukan Submasive CS Berbentuk tiang kecil, kenop atau baji. Mushroom CMR Soliter, karang hidup bebas dari genera Heliopora CHL Karang biru

Millepora CML Karang api

Tubipora CTU Bentuk seperti pipa-pipa kecil Sof Coral SC Karang bertubuh lunak Sponge

SP Bertubuh lunak, terlihat dalam berbagai bentuk seperti tabung, vas, pipih, membulat.

Zoanthids

ZO

Seperti anemone tetapi lebih kecil, biasanya hidup sendiri/koloni seperti hewan kecil menempel pada substratum seperti platythoa Others OT Ascidians, anemon, gorgonian, dan lain-lain Alga Alga

assemblage AA

Lebih kecil dari satu spesies yang agak sulit diperuntukkan

Coralline

alga CA

Dinding tubuh mengandung kapur Halimeda HA Alga dari genus Halimeda

Makroalga MA Berbagai jenis alga, alga coklat, hijau, merah Turf alga TA Alga halus berspiral lebat

Abiotik Sand S Pasir

Rubble R Patahan karang yang ukurannya kecil Silt SI Pasir berlumpur

Water W Air

(43)

3.5.3 Pengamatan ikan karang

Pengamatan ikan karang dilakukan dengan metode Underwater Visual Census (UVC). Metode ini secara garis besar hampir sama dengan metode Line Intercept Trancept dimana roll meter sepanjang 50 meter dibentangkan sejajar dengan garis pantai. Pencatatan data jenis dan jumlah ikan dilakukan dengan jarak pandang sejauh 2,5 m ke kiri dan 2,5 m ke kanan serta pandangan ke depan sejauh yang terlihat sehingga luas bidang yang teramati per transeknya yaitu (5x50) = 250 m2 (English et al. 1997)

Gambar 4 Pencatatan data kelimpahan ikan dengan metode Underwater Visual Census (English et al. 1997)

3.6 Analisa data

3.6.1 Parameter lingkungan

Disrtibusi variabel kualitas air pada masing-masing stasiun dalam hubungannya dengan tutupan terumbu karang, alga dan rekruitmen dianalisis secara deskriptif.

3.6.2 Presentase tutupan karang, pertumbuhan karang muda dan tutupan alga

Kondisi terumbu karang dapat diduga melalui pendekatan persentase penutupan karang hidup di ekosistem terumbu karang sebagaimana yang dijelaskan oleh Gomez & Yap (1988) yaitu :

Ni = li / L x 100 %

Dimana : Ni = Persen penutupan karang li = Panjang total life form / jenis ke-i L = Panjang transek (50 m)

Panjang tutupan karang hidup

Persentase tutupan (%) = --- x 100% Total panjang transek

0 m 50 m

2.5 m

(44)

Data kondisi persentase total penutupan karang hidup yang diperoleh dikategorikan berdasarkan Gomez & Yap (1988) seperti disajikan dalam tabel 5.

Tabel 5. Kriteria penilaian kondisi terumbu karang berdasakan presentase penutupan karang (Gomez & Yap 1988)

Persentase penutupan (%) Kriteria Penilaian

0 – 24,9 Buruk

25 - 49,9 Sedang

50 – 74,9 Baik

75 – 100 Sangat baik

3.6.3 Ikan karang

3.6.3.1. Kelimpahan jenis dan suku ikan herbivora

Kelimpahan jenis dan suku ikan herbivora dihitung dengan rumus:

3.6.3.2. Indeks Keragaman, Keseragaman dan Dominansi Ikan karang dan Ikan Herbivora

Analisis data ikan herbivora dilakukan dengan menghitung indeks keanekaragaman Shannon, indeks keseragaman dan indeks dominansi ikan per meter bujur sangkar serta kelimpahan per stasiun (Krebs 1972)

a. Indeks keanekaragaman Shannon (H’)

(45)

Keterangan :

= indeks keanekaragaman Shannon

s = jumlah spesies ikan karang atau jumlah lifeform biota habitat dasar = proporsi kelimpahan individu dari satu individu ke i (ni/N)

ni = jumlah individu tiap jenis N = jumlah total

Indeks keanekaragaman dihitung dengan kriteria menurut Brower dan Zar (1977) sebagai berikut (Tabel 6) :

Tabel 6 Indeks Keanekaragaman Shannon

Nilai Indeks ( ) Kriteria

< 1 Keanekaragaman rendah, penyebaran jumlah individu tiap jenis rendah, kestabilan komunitas rendah, dan tekanan ekologi besar

1 – 3 Keanekaragaman sedang, penyebaran jumlah individu tiap jenis sedang, kestabilan komunitas sedang, dan tekanan ekologi sedang

> 3 Keanekaragaman tinggi, penyebaran jumlah individu tiap jenis tinggi, kestabilan komunitas tinggi, dan tekanan ekologi rendah

b. Indeks Keseragaman (E)

Indeks keseragaman yaitu suatu nilai yang dapat menunjukkan keseimbangan keseragaman dalam suatu pembagian jumlah individu tiap genus.

Keterangan :

E = indeks keseragaman H’ = indeks Shannon s = jumlah genus/spesies

Nilai indeks keseragaman ini berkisar antara 0 – 1 dengan kriteria menurut Brower dan Zar (1977) sebagai berikut (Tabel 7) :

Tabel 7 Indeks Keseragaman

Indeks Keseragaman (E) Kondisi Komunitas

(46)

c. Indeks Dominansi Simpson (D)

Indeks dominansi yaitu suatu nilai yang dapat menunjukkan keseimbangan dominansi dalam suatu pembagian jumlah individu tiap jenis (Krebs 1972) yang dihitung menggunakan melalui rumus :

Keterangan :

D = indeks dominansi Simpson = jumlah individu setiap genus N = total individu seluruh spesies

Nilai Indeks Dominansi dapat dihitung berdasarkan indeks yang ada pada Tabel 8 sebagai berikut :

Tabel 8 Indeks Dominansi Simpson

Indeks Dominansi (D) Kriteria

<0.50 Rendah atau hampir tidak spesies/genera yang

mendominasi populasi

0.50 – 0.75 Sedang, tidak ada spesies / genera yang mendominasi populasi

0.75 – 1.00 Tinggi, ada salah satu spesies / genera yang mendominasi populasi

3.7 Analisa hubungan 3.7.1 Analisis korelasi

Untuk menganalisis hubungan antara tutupan karang hidup dengan ikan herbivora, tutupan karang hidup dengan alga, alga dan ikan hebivora serta tingkatan rekriutmen karang dengan alga dilakukan Korelasi Pearson dengan menggunakan software Microsoft Excel 2007. Korelasi ini digunakan untuk menyatakan hubungan antara dua buah variabel tanpa melihat atau memperhatikan variabel bebas dan variabel terikat.

Ukuran statistik yang digunakan untuk mengetahui keeratan dan arah hubungan diantara dua variable tersebut dinamakan koefisien korelasi (r) yang besarnya berada dalam nilai -1 sampai dengan +1. Bentuk dan besarnya hubungan yang dinyatakan dengan memiliki nilai -1 ≤ r ≤ 1 yang dapat dikategorikan dengan kriteria sebagai berikut :

(47)

- Jika r > 0 berarti hubungan X dan Y merupakan hubungan positif. Artinya, jika X naik maka Y naik. Sebaliknya, jika X turun maka Y turun.

- Jika r = 0 berarti hubungan X dan Y tidak ada hubungan. Artinya, jika suatu variabel berubah maka tidak akan mempengaruhi variable yang lainnya

- Jika r = -1 atau 1 berarti hubungan X dan Y terdapat hubungan negative atau positif yang kuat sempurna.

Kriteria penilaian yang digunakan menurut Purwoto A (2007) adalah : r = 0 Tidak ada hubungan

0 < r < 0,6 Hubungan lemah 0,6 ≤ r ≤ 0,8 Hubungan sedang 0,8 ≤ r < 1 Hubungan kuat

r = 1 Hubungan kuat sempurna

3.7.2 Distribusi spasial antara lokasi penelitian dengan beberapa variabel pengamatan penelitian

Distribusi ini mengkaji beberapa varibel dengan menggunakan analisis komponen utama (Principal Component Analysis)

(48)

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.1.1 Gambaran Stasiun Penelitian

Penelitian dilaksanakan di sepuluh stasiun pengamatan yaitu : Tanjung Kelapa, Bolok, Pulau Kambing, Hansisi, Tanjung Uikalui,Uiasa 1, Uiasa 2, Otan Pasir Panjang, Paradiso. Lokasi penelitian dibagi dalam 3 kategori keterwakilan terdiri dari : kawasan A (stasiun 1,2), kawasan B (stasiun 3,4,5,6,7 dan 8) dan kawasan C (stasiun 9, 10). Berdasarkan survei dan pengamatan di lapangan maka didapat gambaran umum kondisi pada saat penelitian di masing-masing kawasan sebagai berikut:

Kawasan A : merupakan areal dengan aktivitas yang cukup tinggi dimana pada kawasan ini terdapat beberapa pelabuhan yaitu Pelabuhan Umum, Pelabuhan Rakyat, Pelabuhan Perikanan, Pangkalan Utama Angkatan Laut, Pangkalan Polisi Perairan serta Pelabuhan El Nusa. Pengamatan dan pengukuran data dilakukan pada pagi hari keadaan perairan relatif tenang atau tidak bergelombang. Secara visual karang yang dijumpai didominasi jenis karang Acropora dan Non Acropora.

Kawasan B : terletak pada Pulau Semau yang berada tepat di depan perairan Teluk Kupang. Pengamatan dan pengukuran data dilakukan pada pagi hari keadaan perairan relatif tenang atau tidak bergelombang. Secara visual karang yang dijumpai didominasi patahan karang (rubble), karang lunak (soft coral) serta pertumbuhan karang Acropora dan Non Acropora. Berdasarkan informasi dengan nelayan setempat daerah ini memiliki tingkat gangguan tinggi dari aktivitas penangkapan yang menggunakan bom (blast fishing) dan bius (potassium sianida). Hal ini didukung dengan areal tersebut yang jauh dari pengawasan aparat.

(49)

4.1.2 Kondisi Lingkungan Perairan

Kualitas air pada prinsipnya merupakan pencerminan dari kualitas lingkungan. Air merupakan medium bagi kehidupan organisme perairan. Kualitas air akan mempengaruhi dan menentukan kemampuan hidup organisme perairan tersebut. Pengamatan kondisi lingkungan perairan secara umum menunjukkan hasil yang mendukung bagi kehidupan biota laut dengan kisaran nilai yang diijinkan menurut KepMen Negara LH No. 51 Tahun 2004 tentang baku mutu air laut untuk biota laut (Tabel 9)

Tabel 9 Rata-rata nilai kondisi lingkungan perairan

Nilai TSS tertinggi terdapat pada stasiun 4 sebesar 20. Tingkat kekeruhan yang tinggi menyebabkan organisme mengeluarkan banyak energi untuk menghalau sedimen yang masuk (Supriharyono 2007) sehingga energi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan berkurang. Akibat dari berkurangnya energi untuk tumbuh maka organisme tersebut memilih untuk pergi atau mati. Bagi hewan-hewan yang bersifat bergerak seperti ikan dapat pergi untuk mencari lingkungan yang lebih baik, namun bagi hewan yang bersifat menetap seperti karang dan alga cenderung mengalami kematian.

4.1.3 Ekosistem Terumbu karang

(50)

4.33% - 49.66% dengan rata-rata tutupan karang hidup adalah 32.17% (Gambar 5). Kondisi karang hidup berdasarkan Gomez & Yap (1988) dapat dikategorikan buruk sampai sedang. Berdasarkan hasil pengamtan maka tiga stasiun penelitian termasuk kategori buruk dan tujuh stasiun dengan kategori sedang. Berdasarkan tutupan karang hidup dapat disimpulkan bahwa kondisi karang hidup di lokasi penelitian berkategori sedang.

Gambar 5 Rata-rata presentase tutupan dasar untuk kategori biota dan substrat di lokasi penelitian

Tutupan karang keras bervariasi pada stasiun penelitian dengan persentase tertinggi di stasiun 1 (49.66%) sedangkan persentase terendah di stasiun 4 sebesar 4.33%. (Lampiran 1). Pada stasiun 4 dengan tutupan karang keras terendah dijumpai banyak patahan karang (rubble) dan tutupan karang lunak (soft coral) yang cukup tinggi yaitu 48.00.% dan 45.83%

Biota lain yang berasosiasi dengan ekosisitem terumbu karang juga ditemukan di semua stasiun penelitian dengan jumlah yang relatif kecil yaitu sebesar 1.00% - 18.00%. Jumlah pertumbuhan karang muda/rekruitmen dengan jumlah yang relatif kecil yaitu sebesar 1.33% - 6.24% terlihat pada semua stasiun kecuali stasiun 4 dan stasiun 5 tidak ditemukan adanya rekruitmen karang. Tutupan alga pada ditemukan bervariasi pada semua stasiun penelitian

KARANG HIDUP

32%

ALGA 14% SOFT CORAL

27% BIOTA LAIN

9%

RUBBLE 13%

(51)

Gambar 6 Presentase tutupan dasar untuk kategori biota dan substrat di lokasi penelitian

Gambar 6 menggambarkan presentase tutupan dasar di lokasi penelitian dimana masing-masing stasiun memiliki presentase tutupan dasar yang cukup bervariasi. Presentase tutupan karang lunak/soft coral tertinggi di stasiun 5 sebesar 70% dan sebaliknya presentase tutupan soft coral terendah di stasiun 1 dan stasiun 2 dimana masing-masing sebesar 1.3%. Presentase tutupan karang hidup tertinggi di stasiun 1 sebesar 49.66% dan terendah di stasiun 4 sebesar 4.33 %. Presentase tutupan alga tertinggi di stasiun 2 sebesar 22.67% dan terendah di stasiun 4 sebesar 1.84 %. Patahan karang mati (rubble) ditemukan di semua stasiun dengan presentase tutupan tertinggi di stasiun 4 sebesar 48.00%. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan tutupan karang lunak/soft coral yang cukup tinggi pada stasiun penelitian di kawasan B apabila dibandingkan dengan kedua kawasan lainnya. Gambar 7 memperlihatkan perbandingan perbandingan presentase tutupan karang hidup, rekruitmen dan soft coral. Pada stasiun yang memiliki presentase tutupan karang hidup yang tinggi dan presentase tutupan soft coral yang rendah memliki tingkatan rekruitmen yang tinggi sedangkan pada stasiun dengan presentase tutupan karang hidup yang lebih rendah dan presentase tutupan soft coral yang tinggi memiliki tingkatan rekruitmen yang lebih rendah.

0

KARANG HIDUP ALGA KARANG MATI SOFT CORAL

(52)

Gambar 7 Presentase tutupan karang hidup, rekruitmen dan karang lunak (soft coral)

4.1.4 Struktur Komunitas Ikan

4.1.4.1 Komposisi Jenis dan Suku Ikan Karang

Berdasarkan Indeks Dominansi, Indeks Keragaman dan Indeks Keanekaragaman terlihat bahwa komposisi ikan bersifat stabil dengan keanekaragaman yang tinggi, penyebaran jumlah individu tiap jenis tinggi dan tidak ada spesies ikan yang dominan (gambar 8).

Hasil analisis terhadap sensus visual ikan (Underwater Visual Census) diperoleh total keseluruhan ikan karang yaitu 2262 individu dari 234 jenis yang masuk ke dalam 37 famili. Jumlah spesies dan individu tertinggi dari famili Pomacentridae (905 individu, 28 jenis) dengan spesies tertinggi berturut-turut dari spesies Amblyglyphiddon curacao (91 individu), Pomacentrus moluccensis (84 individu), Pomacentrus alexanderae (66 individu) Plectroglyphidododn thoracotaeniatus (57 individu) dan Chrornis ternatensis (51 individu).

Kelimpahan ikan tertinggi di stasiun 2 yaitu 412 individu yang terdiri dari 97 jenis dan 27 famili, kemudian diikuti oleh stasiun 3 yaitu 355 individu yang terdiri dari 83 jenis dan 25 famili, kemudian stasiun 1 dengan 266 individu yang terdiri dari 80 jenis dan 23 famili, kemudian stasiun 8 dengan 253 individu yang terdiri dari 70 jenis dan 18 famili.

0

(53)

Gambar 8 Indeks Dominansi, Indeks Keragaman dan Indeks Keanekaragaman pada masing-masing stasiun penelitian

4.1.4.2 Kelimpahan Jenis dan Suku Ikan Herbivora

Ikan herbivora memiliki peran yang penting sebagai jenis ikan yang mengontrol pertumbuhan alga di ekosistem terumbu karang. Jumlah total keseluruhan ikan herbivora yaitu 1145 individu dari 64 jenis yang masuk ke dalam 4 famili yaitu Pomacentridae, Acanthuridae, Scaridae dan Siganidae. Jumlah spesies dan individu tertinggi dari famili Pomacentridae (905 individu, 28 jenis) kemudian Acanthuridae (190 individu,16 jenis), dan Scaridae (23 individu, 6 jenis) serta Siganidae ( 17 individu, 5 jenis). Kelimpahan ikan herbivora tertinggi di stasiun 2 seiring dengan tingginya nilai tutupan karang hidup sedangkan kelimpahan ikan herbivora terendah di stasiun 4 dimana tutupan karang hidup terendah (gambar 9). Famili Pomacentridae ditemukan pada semua stasiun dengan keanekaragaman yang tinggi dan kelimpahan jenis ikan yang tinggi. Famili Acanthuridae, Scaridae dan Siganidae ditemukan pada semua stasiun dengan keanekaragaman yang relatif rendah dan kelimpahan jenis yang relatif rendah. Stasiun pengamatan dengan presentase tutupan karang hidup yang tinggi cendrung memiliki kelimpahan ikan yang lebih tinggi baik ikan herbivora maupun ikan non herbivora bila dibandingan dengan staiun pengamatan yang memiliki presentase tutupan karang hidup yang lebih rendah.

0,0

Figur

Gambar 1    Kerangka pikir penelitian

Gambar 1

Kerangka pikir penelitian p.20
Tabel 1  Kategori dan “functional groups” alga pada Great Barrier Reef

Tabel 1

Kategori dan “functional groups” alga pada Great Barrier Reef p.32
Gambar 2   Peta Lokasi Penelitian

Gambar 2

Peta Lokasi Penelitian p.36
Tabel 2  Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian

Tabel 2

Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian p.40
Tabel 3. Data variabel kualitas air yang diukur

Tabel 3.

Data variabel kualitas air yang diukur p.41
Tabel 4   Daftar penggolongan komponen substrat bentik penyusun komunitas

Tabel 4

Daftar penggolongan komponen substrat bentik penyusun komunitas p.42
Gambar 4 Pencatatan data kelimpahan ikan dengan metode Underwater Visual Census (English et al

Gambar 4

Pencatatan data kelimpahan ikan dengan metode Underwater Visual Census (English et al p.43
Tabel 5.  Kriteria penilaian kondisi terumbu karang berdasakan presentase penutupan karang (Gomez & Yap 1988)

Tabel 5.

Kriteria penilaian kondisi terumbu karang berdasakan presentase penutupan karang (Gomez & Yap 1988) p.44
Tabel 7  Indeks Keseragaman

Tabel 7

Indeks Keseragaman p.45
Gambar 5   Rata-rata presentase tutupan dasar untuk kategori biota dan substrat

Gambar 5

Rata-rata presentase tutupan dasar untuk kategori biota dan substrat p.50
Gambar 6  Presentase tutupan dasar untuk kategori biota dan substrat di lokasi penelitian

Gambar 6

Presentase tutupan dasar untuk kategori biota dan substrat di lokasi penelitian p.51
Gambar 7 Presentase tutupan karang hidup, rekruitmen dan karang lunak             (soft coral)

Gambar 7

Presentase tutupan karang hidup, rekruitmen dan karang lunak (soft coral) p.52
Gambar 8  Indeks Dominansi, Indeks Keragaman dan Indeks Keanekaragaman pada  masing-masing stasiun penelitian

Gambar 8

Indeks Dominansi, Indeks Keragaman dan Indeks Keanekaragaman pada masing-masing stasiun penelitian p.53
Gambar 9  Presentase tutupan karang hidup  dan kelimpahan ikan herbivora

Gambar 9

Presentase tutupan karang hidup dan kelimpahan ikan herbivora p.54
Gambar 10  Grafik korelasi antara variabel   A. Korelasi karang hidup dan ikan herbivora  (r

Gambar 10

Grafik korelasi antara variabel A. Korelasi karang hidup dan ikan herbivora (r p.56
Gambar  11  Keterkaitan antara lokasi penelitian, tutupan terumbu karang, ikan herbivora dan parameter TSS

Gambar 11

Keterkaitan antara lokasi penelitian, tutupan terumbu karang, ikan herbivora dan parameter TSS p.57

Referensi

Memperbarui...