• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbandingan Cystatin C Serum Dan Kreatinin Serum Untuk Deteksi Cedera Ginjal Akut Pada Pasien Sepsis Di Ruang Rawat Intensif Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Perbandingan Cystatin C Serum Dan Kreatinin Serum Untuk Deteksi Cedera Ginjal Akut Pada Pasien Sepsis Di Ruang Rawat Intensif Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan"

Copied!
101
0
0

Teks penuh

(1)

PERBANDINGAN CYSTATIN C SERUM DAN

KREATININ SERUM UNTUK DETEKSI CEDERA

GINJAL AKUT PADA PASIEN SEPSIS DI RUANG

RAWAT INTENSIF RUMAH SAKIT HAJI ADAM MALIK

MEDAN

TESIS

HERU KURNIAWAN

097114011

PROGRAM MAGISTER KEDOKTERAN KLINIK - SPESIALIS

ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

PERBANDINGAN CYSTATIN C SERUM DAN

KREATININ SERUM UNTUK DETEKSI CEDERA

GINJAL AKUT PADA PASIEN SEPSIS DI RUANG

RAWAT INTENSIF RUMAH SAKIT HAJI ADAM

MALIK MEDAN

TESIS

Untuk memperoleh gelar Magister Kedokteran Klinik di bidang

Anestesiologi dan Terapi Intensif / M.Ked(An) pada Fakultas

Kedokteran Universitas Sumatera Utara

Heru Kurniawan

097114011

PROGRAM MAGISTER KEDOKTERAN KLINIK / SPESIALIS

ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(3)

Judul Tesis : PERBANDINGAN CYSTATIN C SERUM DAN

KREATININ SERUM UNTUK DETEKSI CEDERA

GINJAL AKUT PADA PASIEN SEPSIS DI RUANG

RAWAT INTENSIF RUMAH SAKIT HAJI ADAM MALIK

MEDAN

Nama

:

Heru Kurniawan

NIM

:

097114011

Program Magister

:

Magister Kedokteran Klinik

Konsentrasi

:

Anestesiologi dan Terapi Intensif

Menyetujui

Komisi Pembimbing

Dekan Fakultas Kedokteran

Universitas Sumatera Utara

Prof.dr.Gontar A.Siregar,SpPD-KGEH Ketua Program Studi

Magister Kedokteran Klinik

Prof.dr.Chairuddin P. Lubis,DTM&H,SpA(K) Pembimbing I

Prof. dr. Achsanuddin Hanafie, SpAn, KIC ,KAO NIP : 195208261981021001

Pembimbing II

(4)

Telah diuji pada tanggal : 12 April 2014

PANITIA PENGUJI TESIS

1.

dr. Asmin Lubis, DAF, SpAn, KAP, KMN

...

2.

dr. Hasanul Arifin, SpAn, KIC, KAP

...

(5)

KATA PENGANTAR

Assalamua’laikum Wr. Wb.

Segala puji dan syukur kita ucapkan kepada Allah SWT karena rahmat dan karunia-Nya saya dapat mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis I Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara dan menyusun serta menjalankan penelitian ini sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan keahlian di bidang Anestesiologi dan Terapi Intensif.

Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada:

Bapak Rektor Universitas Sumatera Utara, Bapak Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan kesempatan untuk mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis I Anestesiologi dan Terapi Intensif di universitas ini. Bapak Direktur RSUP H Adam Malik Medan, Direktur RS Pirngadi Medan, Direktur RS Haji Medan, Direktur Rumkit Kesdam Tingkat II Bukit Barisan dan Direktur RSUD Blangkejeren yang telah memberikan kesempatan dan fasilitas untuk belajar dan bekerja di lingkungan rumah sakit.

Dengan penuh rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Prof.dr. Achsanuddin Hanafie, SpAn, KIC, KAO sebagai Kepala Departemen / SMF Anestesiologi dan Terapi Intensif FK USU / RSUP H Adam Malik Medan. Terima kasih sebesar-besarnya juga saya sampaikan kepada dr.Hasanul Arifin, SpAn, KAP, KIC sebagai Ketua Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif, Dr.dr.Nazaruddin Umar, SpAn, KNA sebagai Sekretaris Departemen, dr.Akhyar H. Nasution, SpAn, KAKV sebagai Sekretaris Program Studi.

(6)

membantu dalam penelitian ini khususnya dalam hal metodologi penelitian dan analisa statistik.

Rasa hormat dan terima kasih kepada semua guru-guru kami, dr.A. Sani Parlaungan Nasution, SpAn KIC, dr.Chairul M. Mursin, SpAn, dr. Hasanul Arifin, SpAn, KAP,KIC, dr.Asmin Lubis, DAF, SpAn, KAP, KMN, dr.Akhyar H.Nasution, SpAn KAKV, dr.Yutu Solihat, SpAn, KAKV, dr.Ade Veronika , SpAn KIC, Alm. dr.Nadi Zaini , SpAn, dr.Soejat Harto, SpAn, KAP Alm .dr.Muhammad AR, SpAn, dr.Syamsul Bahri, SpAn, dr.Walman Sitohang, SpAn, dr.Tumbur, SpAn, dr.Ester Manurung SpAn, dr.Susi Sembiring, SpAn, dr.Nugroho K.S, SpAn, dr.Dadik Wahyu Wijaya, SpAn, dr.M.Ihsan, SpAn,KMN, dr.Guido M.Solihin, SpAn, dr Qadri F. Tanjung, SpAn, KAKV, dr.Rommy F.Nadeak, SpAn yang telah banyak memberikan bimbingan baik secara teori dan ketrampilan yang sangat bermanfaat bagi saya dikemudian hari.

Sembah sujud, rasa syukur dan terima kasih yang tidak terhingga kepada kedua orang tua saya tercinta, Ayahanda Drs. Darwinsyah dan Ibunda tercinta Dra. Ernawaty yang dengan segala upaya telah mengasuh, membesarkan dan membimbing dengan penuh kasih sayang semenjak saya kecil hingga saya dewasa. Terima kasih juga kepada adik saya Andina Fitriani yang telah memberikan bantuan moril dan dorongan semangat selama saya menjalani pendidikan ini.

Yang terhormat kedua mertua saya, Alm. dr. Arizal, SpA dan Niza Amita serta adik ipar yang telah memberikan dorongan semangat kepada saya sehingga tesis ini dapat selesai.

Terima kasih kepada istriku tercinta, dr.Nova Yulia Rita dan anakku tersayang Sophia Nadhira Heva atas dukungan, pengorbanan, kesabaran dan kesetiaannya mendampingiku selama pendidikan spesialis dan dalam menyelesaikan tesis ini.

(7)

namanya sehingga terjalin persaudaraan yang erat diantara kita. Terima kasih kepada teman-teman residen ilmu bedah, ilmu kebidanan dan kandungan, THT, penyakit mata dan bidang ilmu kedokteran lainnya yang banyak berhubungan dengan bidang Anestesiologi dan Terapi Intensif. Terima kasih kepada rekan-rekan kerja perawat dan peñata Anestesiologi, perawat ICU dan perawat lainnya yang banyak berhubungan dengan kami. Terima kasih juga kepada seluruh pasien dan keluarganya sebagai “guru” kedua kami dalam menempuh pendidikan spesialis ini.

Akhirnya hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa, kita berserah diri dan memohon rahmat dan pengampunan. Mudah-mudahan ilmu yang didapat, bermanfaat sebanyak-banyaknya untuk masyarakat, agama, bangsa, dan negara.

Medan, April 2014

(8)

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR GAMBAR.………...….……….……….. vii DAFTAR TABEL……….………... viii DAFTAR LAMPIRAN ... ix

DAFTAR SINGKATAN ... x

ABSTRAK ... xi

BAB 1 PENDAHULUAN……….………. 1

1.1 Latar Belakang ……….………. 1

1.2 Rumusan Masalah……….………. 5

1.3 Hipotesis……….……….... 5

1.4 Tujuan Penelitian ……….………. 6

1.4.1 Tujuan Umum……….……….………. 6

1.4.2 Tujuan khusus ……….……….………. 6

1.5 Manfaat Penelitian……….……….………. 7

1.5.1 Manfaat Akademis ...7

1.5.2 Manfaat Pelayanan ...7

1.5.3 Manfaat pengembangan penelitian ...7

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA……….………...……. 8

(9)

2.1.1 Definisi ...……….………... 8

2.1.2 Epidemiologi………...……….……….…... 12

2.1.3 Patofisiologi

……….………...122.1.4

Azotemia Pra-renal

.……….………...17 2.1.5 Fakor Risiko

dan Penyebab Cedera Ginjal Akut………....…....18

2.2 Penanda Biologis Cedera Ginjal Akut..………….………...…

21

2.2.1 Kreatinin Sebagai Penanda Cedera Ginjal Akut………...….

21

2.2.2 Kemunculan Penanda Biologis Baru Dalam Mendiagnosis

CGA....………...22

2.2.3 Cystatin C ....………...…….………...28

2.3 Mengukur Laju Filtrasi Glomerulus …..…...………...29 2.4 Definisi Sepsis, Sepsis Berat dan Syok Sepsis

...30

2.5 Cedera Ginjal Akut Pada Sepsis ...32

2.6 Kerangka Teori...

...36

2.7 Kerangka Konsep

(10)

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian …...……….………....………....…

38 3.2 Tempat dan

Waktu……...……….……… ...38

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian .……….………...………

38 3.4 Kriteria Inklusi, Eksklusi dan Putus

Uji………….………...………....39 3.5 Perkiraan Besar Sampel

…...……….………...39 3.6 Alat dan Bahan

...…...……….…...…………...…...41 3.7 Cara Kerja

..…...……….……...………...…...41 3.8

Kerangka Kerja

...…...……….……..………...43 3.9 Identifikasi

Variabel …...……….……..………...43 3.10 Definisi

Operasional ...……….….………...44 3.11 Rencana

Manajemen dan Analisa Data...……….….………....46 BAB 4 HASIL

4.1 Karakteristik Responden ...

49

4.2 Nilai Diagnostik Cystatin C Serum dan Kreatinin Serum untuk Memprediksi

Cedera Ginjal Akut ...

50

4.2.1 Nilai Diagnostik Cystatin C Serum untuk Memprediksi Cedera Ginjal

(11)

A. Menggunakan CoP (Cut off Point) = 1,0 mg/l ...

50

B. Menggunakan Kurva ROC ...

50

4.2.2 Nilai Diagnostik Kreatinin Serum untuk Memprediksi Cedera Ginjal Akut

....52

A. Menggunakan CoP = 1,3 mg/l

...52

B. Menggunakan Kurva ROC ...

...53

BAB 5 PEMBAHASAN

...55

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan ...

...59

6.2Saran

...59

DAFTAR PUSTAKA...………...…...… ...

(12)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 : Sejarah Cedera Ginjal

Akut...8

Gambar 2.2 : Kriteria

RIFLE...9

Gambar 2.3 : Proses cedera dan perbaikan cedera ginjal

akut...14

Gambar 2.4 : Perubahan morfologi pada tulus

proksimal...15

Gambar 2.5 : Efek vaskular pada cedera ginjal

akut...16

Gambar 2.6 : Anatomi nefron ginjal

...17

Gambar 2.7 : Kidney injury continuum dan penanda biologis

CGA...25

Gambar 4.1 : Kurva ROC dari Cystatin C serum terhadap CGA ...49

Gambar 4.2 : Kurva sensitifitas dan spesifisitas Cystatin C serum terhadap

CGA50

(13)

Gambar 4.4 : Kurva sensitifitas dan spesifisitas Kreatinin serum terhadap

CGA..53

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 : Klasifikasi

AKIN...11

Tabel 2.2 : Stratifikasi risiko cedera ginjal

akut...19

Tabel 2.3 : Penanda biologis CGA pada beberapa situasi

klinis...24

Tabel 2.4 : Definisi Sepsis, Sepsis Berat dan Syok

Sepsis...30

Tabel 4.1 : Karakteristik Responden Penelitian

...48

Tabel 4.2 : Sensitivitas, spesifisitas, nilai prediksi positif (NPP), nilai prediksi

negatif (NPN), rasio kemungkinan positif (RKP) dan rasio

kemungkinan negatif (RKN)dari Cystatin C serum (COP 1,0 mg/l)

terhadap CGA

...49

Tabel 4.3 : Sensitivitas, spesifisitas, nilai prediksi positif (NPP), nilai prediksi

negatif (NPN), rasio kemungkinan positif (RKP) dan rasio

kemungkinan negatif (RKN)dari Cystatin C serum (COP 1,03 mg/l)

terhadap CGA

(14)

Tabel 4.4 : Sensitivitas, spesifisitas, nilai prediksi positif (NPP), nilai prediksi

negatif (NPN), rasio kemungkinan positif (RKP) dan rasio

kemungkinan negatif (RKN)dari Kreatinin serum (COP 1,3 mg/dl)

terhadap CGA

...51

Tabel 4.5 : Sensitivitas, spesifisitas, nilai prediksi positif (NPP), nilai prediksi

negatif (NPN), rasio kemungkinan positif (RKP) dan rasio

kemungkinan negatif (RKN)dari Kreatinin serum (COP 1,0 mg/dl)

terhadap CGA

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Riwayat Hidup Peneliti

...67

Lampiran 2 : Jadwal Tahapan Penelitian

...68

Lampiran 3 : Lembar Penjelasan Mengenai

Penelitian...69

Lampiran 4 : Lembar Persetujuan Setelah

Penjelasan...72

Lampiran 5 : Lembar Observasi

Pasien...74

Lampiran 6 : Rencana Anggaran

(16)

DAFTAR SINGKATAN

AUC : Area under the curve

ADQI : The Acute Dialysis Quality Initiative

AKIN : Acute Kidney Injury Network

BSA : Body surface area

CGA : Cedera ginjal akut

CrCl : Creatinin clearance

IL-18 : Interleukin-18

KIM-1 : Kidney injury molecule-1

LFG : Laju filtrasi glomerulus

NPP : Nilai prediksi positif

NPN : Nilai prediksi negatif

NGAL : NeutrophilGelatinase-AssociatedLipocalin

RBF : Renal blood flow

RKP : Rasio kemungkinan positif

RKN : Rasio kemungkinan negatif

ROC : Receiver operating characteristic

RRI : Ruang rawat intensif

SIRS : Systemic inflammatory response syndrome

SD : Standar deviasi

(17)

ABSTRAK

Latar belakang : Sepsis merupakan penyebab tersering dari cedera ginjal akut (CGA) pada pasien sakit kritis. Perubahan mendadak pada laju filtrasi glomerulus (LFG) pada pasien sakit kritis tidak diikuti secara paralel dengan perubahan kreatinin serum. Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan kegunaan dari cystatin C serum dan kreatinin serum sebagai penanda biologis fungsi ginjal pada pasien sakit kritis di ruang rawat intensif.

Metode : Sebuah studi cross-sectional dilakukan pada pasien dewasa usia 18-65 tahun di ruang rawat intensif RSUP Haji Adam Malik. Kreatinin serum, cystatin C serum dan creatinin clearance (CrCl) 24 jam urin diobservasi pada 24 pasien sakit kritis dengan sepsis. CrCl 24 jam urin yang disesuaikan dengan luas permukaan tubuh (BSA) digunakan sebagai “baku emas” untuk menentukan LFG.

Hasil : kreatinin serum, cystatin C serum dan CrCl 24 jam urin (nilai rerata ± standar deviasi [range]) adalah 1,53 ± 1,13 mg/dl (0,3-4,2 mg/dl), 1,71 ± 1,1 mg/L (0,6-4,48 mg/L), dan 66,33 ± 37,77 ml/min/1,73 m2 (4-137 ml/min/1,73 m2). 17 dari total 24 pasien mengalami CGA. Cystatin C serum memilki nilai sensitivitas, spesifisitas, nilai duga positif dan nilai duga negatif sebesar 82,4%, 85,7%, 93,33% dan 66,67%. Sedangkan kreatinin serum memiliki nilai sensitivitas, spesifisitas, nilai duga positif dan nilai duga negatif sebesar 52,9%, 85,7%, 90% dan 42,9%. Cystatin C secara diagnostik lebih superior dibandingkan kreatinin serum dengan

area under the curve (AUC) 0,874 untuk cystatin C serum dan 0,785 untuk kreatinin serum. Cystatin C serum dengan nilai cutt-off 1,03 mg/L dan kreatinin serum dengan cutt-off 1,0 mg/dl memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang sama yaitu 82,4% dan 85,7%.

Kesimpulan : Cystatin C adalah penanda biologis yang akurat dalam mendeteksi perubahan akut pada LFG, dan terbukti lebih superior dibandingkan kreatinin serum dalam mendiagnosa CGA pada pasien sakit kritis.

(18)

ABSTRACT

Background : Sepsis is the most common cause of acute kidney injury in critically ill patients. Sudden changes in glomerular filtration rate (GFR) critically ill patients are not instantly followed by parallel changes in serum creatinine. The aim of the present study was to compare the utility of serum cystatin C and serum creatinin as a marker of renal function in these patients.

Methods : A cross-sectional study was conducted in adult patients among 18-65 years in the intensive care unit Haji Adam Malik hospital. Serum creatinine, serum cystatin C and 24-hour creatinine clearance (CrCl) were observed in 24 critically ill patients with sepsis. Twenty-four-hour body surface adjusted CrCl was used as a control because it is the 'gold standard' for determining GFR.

Results : Serum creatinine, serum cystatin C and CrCl (mean ± standard deviation [range]) were 1.53 ± 1.13 mg/dl (0.3–4.2 mg/dl), 1.71 ± 1.1 mg/l (0.6–4.8 mg/l), and 66.33 ± 37.77 ml/min per 1.73 m2 (4–137 ml/min per 1.73 m2), respectively. Of the total 24 patients, 17 patients had acute kidney injury. Serum cystatin C has a sensitivity, spesificity, positive predictive value and negative predictive value of 82,4%, 85,7%, 93,33% and 66,67%, respectively. Serum creatinin has a sensitivity, spesificity, positive predictive value and negative predictive value of 52,9%, 85,7%, 90% dan 42,9%, respectively. Cystatin C was diagnostically superior to creatinine (area under the curve [AUC] for cystatin C 0.874 and for creatinine 0,785. Serum cystatin C with cutt-off value 1,03 mg/L and serum creatinin with cutt-off value 1,0 mg/dl has the same sensitivity and spesificity of 82,4% and 85,7%, respectively.

Conclusion Cystatin C is an accurate marker of subtle changes in GFR, and it may be superior to creatinine when assessing this parameter in clinical practice in critically ill patients.

(19)

ABSTRAK

Latar belakang : Sepsis merupakan penyebab tersering dari cedera ginjal akut (CGA) pada pasien sakit kritis. Perubahan mendadak pada laju filtrasi glomerulus (LFG) pada pasien sakit kritis tidak diikuti secara paralel dengan perubahan kreatinin serum. Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan kegunaan dari cystatin C serum dan kreatinin serum sebagai penanda biologis fungsi ginjal pada pasien sakit kritis di ruang rawat intensif.

Metode : Sebuah studi cross-sectional dilakukan pada pasien dewasa usia 18-65 tahun di ruang rawat intensif RSUP Haji Adam Malik. Kreatinin serum, cystatin C serum dan creatinin clearance (CrCl) 24 jam urin diobservasi pada 24 pasien sakit kritis dengan sepsis. CrCl 24 jam urin yang disesuaikan dengan luas permukaan tubuh (BSA) digunakan sebagai “baku emas” untuk menentukan LFG.

Hasil : kreatinin serum, cystatin C serum dan CrCl 24 jam urin (nilai rerata ± standar deviasi [range]) adalah 1,53 ± 1,13 mg/dl (0,3-4,2 mg/dl), 1,71 ± 1,1 mg/L (0,6-4,48 mg/L), dan 66,33 ± 37,77 ml/min/1,73 m2 (4-137 ml/min/1,73 m2). 17 dari total 24 pasien mengalami CGA. Cystatin C serum memilki nilai sensitivitas, spesifisitas, nilai duga positif dan nilai duga negatif sebesar 82,4%, 85,7%, 93,33% dan 66,67%. Sedangkan kreatinin serum memiliki nilai sensitivitas, spesifisitas, nilai duga positif dan nilai duga negatif sebesar 52,9%, 85,7%, 90% dan 42,9%. Cystatin C secara diagnostik lebih superior dibandingkan kreatinin serum dengan

area under the curve (AUC) 0,874 untuk cystatin C serum dan 0,785 untuk kreatinin serum. Cystatin C serum dengan nilai cutt-off 1,03 mg/L dan kreatinin serum dengan cutt-off 1,0 mg/dl memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang sama yaitu 82,4% dan 85,7%.

Kesimpulan : Cystatin C adalah penanda biologis yang akurat dalam mendeteksi perubahan akut pada LFG, dan terbukti lebih superior dibandingkan kreatinin serum dalam mendiagnosa CGA pada pasien sakit kritis.

(20)

ABSTRACT

Background : Sepsis is the most common cause of acute kidney injury in critically ill patients. Sudden changes in glomerular filtration rate (GFR) critically ill patients are not instantly followed by parallel changes in serum creatinine. The aim of the present study was to compare the utility of serum cystatin C and serum creatinin as a marker of renal function in these patients.

Methods : A cross-sectional study was conducted in adult patients among 18-65 years in the intensive care unit Haji Adam Malik hospital. Serum creatinine, serum cystatin C and 24-hour creatinine clearance (CrCl) were observed in 24 critically ill patients with sepsis. Twenty-four-hour body surface adjusted CrCl was used as a control because it is the 'gold standard' for determining GFR.

Results : Serum creatinine, serum cystatin C and CrCl (mean ± standard deviation [range]) were 1.53 ± 1.13 mg/dl (0.3–4.2 mg/dl), 1.71 ± 1.1 mg/l (0.6–4.8 mg/l), and 66.33 ± 37.77 ml/min per 1.73 m2 (4–137 ml/min per 1.73 m2), respectively. Of the total 24 patients, 17 patients had acute kidney injury. Serum cystatin C has a sensitivity, spesificity, positive predictive value and negative predictive value of 82,4%, 85,7%, 93,33% and 66,67%, respectively. Serum creatinin has a sensitivity, spesificity, positive predictive value and negative predictive value of 52,9%, 85,7%, 90% dan 42,9%, respectively. Cystatin C was diagnostically superior to creatinine (area under the curve [AUC] for cystatin C 0.874 and for creatinine 0,785. Serum cystatin C with cutt-off value 1,03 mg/L and serum creatinin with cutt-off value 1,0 mg/dl has the same sensitivity and spesificity of 82,4% and 85,7%, respectively.

Conclusion Cystatin C is an accurate marker of subtle changes in GFR, and it may be superior to creatinine when assessing this parameter in clinical practice in critically ill patients.

(21)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Cedera ginjal akut (CGA)diruang rawat intensif (RRI)sering dijumpai

dan insidennya akhir-akhir ini meningkat dan berhubungan

denganpeningkatan yang substansial dalammorbiditasdan mortalitas.

CGAterjadi pada sekitar7% dari seluruhpasien rawat inapdan

sekitar36% sampai67% padapasien kritistergantung padadefinisi yang

digunakan. Berdasarkan studi pada lebih dari 75.000orang

dewasadengan sakit kritis, CGA yanglebih parahterjadi pada4% sampai

25% dari seluruh pasien yang masukRRI, dengan sepsis sebagai

penyebab utama.1

Pada penelitian multisenter di beberapa RRI yang melibatkan

hampir 30 ribu pasien menyebutkan bahwa CGA yang berhubungan

dengan sepsis dan presentasinya yang lebih parah yaitu sepsis berat dan

syok sepsis, memberikan kontribusi 50% dari total kasus CGA di

RRI.2Berdasarkansurveiyang dilakukan di Italia melalui pengumpulan data webbased, hampir duapertiga darikasusCGAdidiagnosisdalam

waktu 24jam masukRRI, dan sekitar5% sampai 6%

daripasienRRIdenganCGA memerlukan terapipengganti ginjal(TPG).

Pada penelitin lain disebutkan bahwa sekitar 12%

(22)

daripasienCGA mengalamipemulihanfungsi ginjal lengkap, 13,5%

mengalami pemulihanginjalparsial, sementara sekitar30% tidak

mengalamipemulihan fungsiginjalpada saatkematian atau saat

keluarRRI setelah pengobatan.3

Sampai dengan saat ini dijumpai lebih dari35definisiCGAyang

terdapatdalam berbagai literatur. KelompokThe Acute Dialysis Quality

Initiative (ADQI)mengembangkan sistemuntuk diagnosisdan

klasifikasidariberbagaigangguanakutfungsi ginjalyang dirangkumdalam

akronimRIFLE yang merupakansingkatanuntukmenggambarkan

tingkatkeparahan :Risk,Injury, Failure, Lossdan End-Stage Renal

Disease(ESRD).Tingkatkeparahandidefinisikanatas

dasarperubahandalam serum kreatinin atau produksi

urin.Klasifikasiyang lebih baruuntukCGAberdasarkansistemRIFLEtelah

diusulkanolehAcute Kidney Injury Network (AKIN). Sistempenentuan

stadiumbaru ini berbeda dariklasifikasiRIFLEdalam

halmengurangikebutuhan untukkreatininawal dan membagi tingkat

keparahan dalam 3 bagian.4,5

Kedua klasifikasi CGA yang masih secara luas digunakan oleh

klinisi tersebut masih menggunakan kriteria kreatinin dan output urin

untuk menggambarkan ringan beratnya disfungsi ginjal. Sayangnya,

kreatininmerupakan indikatoryang kurang dapat diandalkanselama

perubahanakut padafungsi ginjal. Pertama,

(23)

darifungsi ginjaltelahhilang. Kedua, kreatininserumtidakakurat

menggambarkanfungsi ginjalsampaikeadaanstabiltelah tercapai, yang

mungkin memerlukanbeberapa hari.Penggunaankreatinin serumuntuk

memperkirakanlaju filtrasi glomerulus (LFG) sangatterbatas, hal ini

dikarenakanminimnya kondisisteady statepada pasiensakit kritis.Saat ini

terdapat beberapa penanda biologis yang telah digunakan untuk deteksi

awal CGA seperti cystatin C, NGAL, KIM-1, IL-18, dan lainnya.

Penanda biologis ini memiliki kelebihan dan kekurangan

masing-masing.6

Mishra dkk, dalam penelitian prospektifnyadengan

mengambilsampel urin danserum serial dari71anakyang menjalani

cardiopulmonary bypass (CPB)untuk koreksibedahpenyakitjantung

bawaan. Dua puluhanakberkembang menjadiCGA, didefinisikan

sebagai peningkatan50% kreatinin serum.Kadar NGALurinpada2jam

menjalani CPBhampir secara sempurnamemprediksipasien

akanberkembang menjadiCGA.7Liangos dkk, melakukan penelitian pada103orang dewasayang menjalanicardiopulmonary bypass,

CGAberkembang pada31% pada merekayang kadarKIM-1 urinnya

meningkat sekitar40% 2jamsetelah operasidan100% pada waktujam

ke-24.8Dengan demikian, KIM-1 merupakankandidat yang

menjanjikanuntuk dimasukkan dalampenanda biologis CGAurin.

Penelitian lain menunjukkan bahwa IL-18 urinsecara signifikan

(24)

serumpada pasien dengansindromgangguan pernapasan akutyang

berkembang menjadiCGA.9

CystatinCadalah anggotasuperfamilicystatin

dariinhibitorproteasesistein. Pada kebanyakan studi yang dilakukan

menunjukkancystatin Cmenjadiprediktor laju filtrasi glomerulus yang

lebih baikdibandingkankreatinin.10Rosental dkk, pada tahun 2004 melakukan penelitian pada85pasienyang berisikotinggi untuk

berkembang menjadiCGAmenggunakan kriteriaRIFLE. Penelitian ini

menunjukkan cystatin C serum merupakan penanda biologis yang

bermanfaat pada CGA, dan dapat mendeteksi CGA 1-2 hari lebih cepat

dari kreatinin serum.11Mi Yeon Chung dkk, melakukan penelitian pada 53 pasien sirosis hepatis yang bertujuan mengetahui peran cystatin C

serum sebagai faktor prognostik untuk CGA. Di akhir penelitian

diperoleh bahwa cystatin C serum dan kreatinin serum merupakan

faktor prediktif untuk CGA dengan akurasi diagnostik 0,735 untuk

cystatin C serum dan 0,698 untuk kreatinin serum. Pada kesimpulan

didapati bahwa akurasi dalam memprediksi CGA dan mortalitas jangka

pendek adalah lebih tinggi pada kadar cystatin C serum>1,23 mg/l

daripada kreatinin serum pada pasien sirosis hepatis.12

Patricia Villa dkk, melakukan penelitian pada 50 pasien di RRI

yang memiliki risiko tinggi berkembang menjadi CGA. Pada akhir

penelitian diperoleh bahwa cystatin C serum secara diagnostik lebih

(25)

0,694 dengan 95% CI berbanding AUC untuk cystatin C serum 0,927

dengan 95% CI). 13 Hasil penelitian yang berbeda ditunjukkan oleh penelitian Royakkers dkk pada 151 pasien di RRI, dimana disebutkan

bahwa baik serum maupun cystatin C urin merupakan penanda biologis

yang buruk untuk prediksi CGA dan kebutuhan akan TPG.14Spahillari dkk, dalam penelitiannya pada 1150 pasien pasca operasi jantung,

menyebutkan bahwa kadar cystatin C serum lebih kurang sensitif

daripada kadar kreatinin serum dalam mendeteksi CGA pasca operasi

jantung.15Penelitian yang dilakukan Pauline R. Slort dkk (2012) pada 24 pasien yang menjalani transplantasi ginjal pada anak memberikan

kesimpulan penelitian bahwa cystatin C serum tidak lebih superior

dibanding kreatinin serum untuk deteksi disfungsi allograft akut.16

Masih sangat sedikit penelitian yang membandingkan marker

cystatin C serum dan kreatinin serum dalam mendeteksi CGA yang

disebabkan sepsis, mengingat penelitian-penelitian sebelumnya lebih

banyak pada pasien dengan penyebab CGA lainnya seperti pasca

operasi jantung, obat dan zat kontras penyebab CGA, pasca

transplantasi ginjal, sirosis hepatis, dll. Selain itu, keadaan sepsis dapat

menyebabkan terjadinya penurunan produksi kreatinin sehingga

membuat interpretasi kreatinin semakin terbatas penggunaannya dalam

deteksi dini CGA.17 Maka itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian membandingkan sensitivitas dan spesifisitas cystatin C serum

(26)

sepsis, sepsis berat dan syok sepsis di RRI RS Haji Adam Malik

(RSHAM) Medan.

1.2 Rumusan Masalah

Apakah cystatin C serum memiliki nilai diagnostik yang lebih baik

dibanding kreatinin serum dalam mendiagnosa cedera ginjal akut pada

pasien sepsis yang dirawat di ruang rawat intensif?

1.3 Hipotesis

Cystatin C serum memiliki nilai diagnostik yang lebih baik dibanding

kreatinin serum dalam mendiagnosa cedera ginjal akut pada pasien

sepsis yang dirawat di ruang rawat intensif.

1.4 Tujuan Penelitian

1.4.1 Tujuan umum

Untuk memperoleh alternatif penanda biologis yang lebih baik untuk

mendiagnosa cedera ginjal akut pada pasien sepsis yang dirawat di

ruang rawat intensif.

1.4.2 Tujuan khusus

a) Untuk mengetahui sensitivitas dan spesifisitas cystatin C serum dan

kreatinin serum dalam mendiagnosa cedera ginjal akut pada pasien

(27)

b) Untuk menentukanpositive predictive value dan negative predictive

value daricystatin C serum dan kreatinin serum dalam mendiagnosa

cedera ginjal akut pada pasien sepsis yang dirawat di ruang rawat

intensif.

c) Untuk menentukancut off point dari cystatin C serum dan kreatinin

serum dalam mendiagnosa cedera ginjal akut pada pasien sepsis yang

dirawat di ruang rawat intensif.

d) Untukmenentukan luas area under the curve (AUC) menggunakan

prosedur Receiver Operating Characteristic (ROC)daricystatin C serum

dan kreatinin serum dalam mendiagnosa cedera ginjal akut pada pasien

sepsis yang dirawat di ruang rawat intensif.

e)

1.5 ManfaatPenelitian

1.5.1 Manfaat akademis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan rujukan dan

khasanah pengetahuan kepada klinisi tentang penanda biologis yang

baik untuk deteksi cedear ginjal akut pada pasien sepsis yang dirawat di

ruang rawat intensif.

1.5.2 Manfaat pelayanan

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan

mendiagnosa cedera ginjal akut pada pasien sepsis yang dirawat di

ruang rawat intensif dengan menggunakan penanda biologis yang

(28)

1.5.3 Manfaat pengembangan penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai sumber rujukan

tambahan dalam penelitian lanjutan tentang penanda biologis dalam

mendiagnosa cedera ginjal akutpada pasien sepsis yang dirawat di ruang

(29)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Cedera Ginjal Akut (CGA)

2.1.1 Definisi

Istilahcedera ginjalakut (CGA)dalam literatur dikenal sebagai acute

kidney injury (AKI), diciptakanoleh sebuah panelbesarpakar

internasionaluntuk menggantikan istilah sebelumnya"gagal ginjal akut"

(GGA). IstilahCGAtidak sama denganGGA. Istilahgagal ginjaldiberikan

padapasien yangtelah kehilanganfungsi ginjal sampai titikdimana

hidupnyatidak dapatdipertahankantanpa intervensi. Sedangkan

CGAdigunakan untukmenggambarkanbentuk ringan

beratnyadisfungsiginjal. Perubahan definisi yang terjadi dalam cedera

(30)
[image:30.595.149.555.121.293.2]

Gambar 2.1 Sejarah Cedera Ginjal Akut.18

Saat ini terdapat puluhandefinisiCGAdalam berbagai literatur.

KelompokThe Acute Dialysis Quality Initiative (ADQI)mengembangkan

sistemuntuk diagnosisdan klasifikasidariberbagaigangguanakutfungsi

ginjalmelaluikonsensus daripara ahli. Karakteristikdarisistem

inidirangkumdalam Gambar2. AkronimRIFLE

merupakansingkatanuntukmenggambarkan tingkatkeparahan :Risk,

injury, dan Failure, dan duahasil luaran, Lossdan End-Stage Renal

Disease(ESRD).Ketigatingkatkeparahandidefinisikanatas

dasarperubahandalam kreatinin serumatau produksi urin. Dari 2 hal

tersebut (kreatinin serumatau produksi urin), yang terburukyang akan

digunakan. Keduakriteria hasil luaran, lossdanESRD,

didefinisikanberdasarkan berapalamahilangnya fungsiginjal.4

Galen Empty bladder Morgagni, 1760 Ischuria renals Bright, 1888 Acute Bright”s Disease Davies, 1917 War nephritis Bywaters and Beall, 1941 Crush syndrome Smith , 1951 ARF AD QI, 2004 AKI Greek, Roman 18th century 19th century 20th century before World War 20th century, after World War II

(31)
[image:31.595.214.558.97.370.2]

Gambar 2.2 Kriteria RIFLE

Beberapa studitelah menunjukkanbahwa kriteriaRIFLEmemiliki

relevansi klinisuntuk diagnosisCGA, mengklasifikasikantingkat

keparahanCGAdanuntuk memantauperkembanganCGA, serta

memilikikemampuanprediktif untukmortalitas padapasien rawat

inapsecara umum, dan pasiendalamRRIpada khususnya. Klasifikasiyang

lebih baruuntukCGAberdasarkansistemRIFLEtelah diusulkanolehAcute

Kidney Injury Network (AKIN). Sistempenentuan stadiumbaru ini

berbeda dariklasifikasiRIFLEdalam hal mengurangikebutuhan

untukkreatininawal tetapi memerlukansetidaknyadua

nilaikreatinindalam waktu 48jam, CGAdidefinisikan sebagaipenurunan

fungsi ginjal secara tiba-tiba(dalam waktu 48 jam), saat ini didefinisikan

(32)

26,4ìmol/l), persentase kenaikankreatininserum≥50% (1,5 kali lipatdari

awal), ataupenurunanproduksi urin(oliguria<0,5 ml/kg/jam

untuk>6jam), yang pada klasifikasi RIFLE dimasukkan dalam Risk

menjadistadium1 pada AKIN, dan juga

mempertimbangkanpeningkatankreatininserum≥0,3mg/dl(≥ 26,4ìmol/l),

klasifikasi RIFLE Injury menjadi stadium 2 dan Failure menjadi

stadium 3, termasukpasien yangmemerlukan TPGterlepas

daristadiummereka beradapada saatTPG. Dua kelashasil luaran

yaitulossdan ESRD dihapus pada klasifikasi AKIN.5

Tabel 2.1 Klasifikasi AKIN5

Padaawal 2010, lebih dari setengah jutapasientelah

dipelajariuntuk mengevaluasikriteriaRIFLEsebagai

saranamengelompokkanpasien denganCGA. Serangkaian besar

negaradari Amerika Serikat, Eropa, dan Australia, masing-masing terdiri

daribeberapa ribupasien, telahmemberikan gambaranyang konsisten.

(33)

signifikan angka kelangsungan hidup (survival)dan selanjutnya,

meningkatnyakeparahanCGA yangdidefinisikan

berdasarkanRIFLEmenyebabkanpeningkatan risikokematian. Ada

peningkatan yanghampir linier antaramortalitasrumah sakit dengan

meningkatnyakelasRIFLE, denganpasien diRmemiliki tingkat mortalitas

lebihdari tigakali lebih besardibandingkanpasien tanpaCGA. Pasien

kelas Imemiliki tingkat mortalitasdua kali lebih besardaripada

kelasRdan pasienkelasFmemilikitingkat mortalitas 10kali lebih

besardari pasien rawat inaptanpaCGA.19

2.1.2 Epidemiologi

Cedera Ginjal Akut (CGA)diRRIsering dijumpai dan insidennya

akhir-akhir ini meningkat yang berhubungan denganpeningkatan yang

substansial dalammorbiditasdan mortalitas. CGAterjadi pada sekitar7%

dari seluruhpasien rawat inapdan sampai dengan36% - 67% daripasien

kritistergantung padadefinisi yang digunakan.1

Penyakit iniadalah komplikasi umumpada pasiensakit kritis,

terjadi pada 25% dari penerimaan pasien diRRIdengan angka kematian

yangtinggisekitar40-50%. CGA bisa berdiri sendiri atau merupakan

bagiandarigagal organmultiple, dansering

dihubungkandenganetiologisepsis.Pasien dengan sepsis,sepsis berat

dansyok septikberada pada risiko tinggi akan berkembang menjadi

CGAserta memilikitingkat kematian lebih tinggidibandingkan

pasientanpa infeksi.20Dataepidemiologibaru didapat dariPicard

(34)

denganCGA yangdirawat diRRI pada5pusat akademikdi seluruh

Amerika Serikat, bahwa dari 618 pasien yang diobservasi, didapati 64%

membutuhkan TPG, tingkat mortalitas atau nonrecovery of renal

fucntion mencapai 50%, nilai median dari lama rawat di rumah sakit

mencapai 25 hari.21

2.1.3 Patofisiologi

Patogenesis CGA adalah kompleks danbervariasiberdasarkanfaktor

penyebabnya. Inflamasimemberikan kontribusi

untukpatofisiologiinidalam berbagaikonteks.

Inflamasidapatmenyebabkanpenurunanaliran darahlokal

kemedulabagian luar dengankonsekuensi yang merugikanpada

fungsitubulus. Homeostasis tubuh sangat bergantung pada kemampuan

ginjal berfungsi normal. Ada banyak penyebab dari CGA, beberapa di

antaranya berhubungan dengan ketidaksesuaian antara kebutuhan

oksigen dan pengiriman nutrisi ke nefron dengan kebutuhan energi dari

nefron. Penyebab lainnya berhubungan dengan efek toksik langsung

suatu zat pada epitel. Proses cedera dan perbaikan pada epitel ginjal

digambarkan secara skematis dalam gambar 2.3. Cedera mengakibatkan

dengan cepat hilangnya integritas cytoskeletal dan polaritas sel.

dijumpai pelepasan dari brush border tubulus proksimal, hilangnya

(35)

lainnya seperti Na+K+ATPase dan β-integrin, serta apoptosis dan nekrosis.

Dengan cedera yang parah, sel hidup dan sel mati mengalami

deskuamasi meninggalkan daerah di mana dasar membran tetap sebagai

satu-satunya penghalang antara filtrat dan interstitium peritubular. Hal

ini memungkinkan untuk terdapatnya kebocoran dari filtrat, terutama

dalam keadaan di mana tekanan dalam tubulus meningkat karena

obstruksi intratubuler akibat puing-puing seluler (cellular debris) di

lumen berinteraksi dengan protein seperti fibronektin yang memasuki

lumen.22 Cedera ini pada epitel merupakan hasil dari mediator inflamasi dan vasoaktif, yang dapat bertindak pada pembuluh darah memperburuk

vasokonstriksi dan peradangan. Jadi peradangan memberikan kontribusi

yang penting untuk patofisiologi CGA. Beda halnya pada jantung atau

otak, ginjal dapat pulih dari iskemik atau toksin yang menyebabkan

kematian sel, meskipun semakin diakui bahwa terdapat efek jangka

panjang yang merugikan pada periode singkat iskemia.23 Sel yang masih hidup tetap menjalani perbaikan dengan potensi untuk memulihkan

fungsi ginjal menuju normal. Ginjal akan pulih dari cedera akut

bergantung pada urutan peristiwa yang meliputi penyebaran sel epitel

dan migrasi untuk menutupi daerah yang terkena dari dasar membran,

dediferensiasi dan proliferasi sel untuk mengembalikan jumlah sel,

diikuti oleh diferensiasi yang menghasilkan pemulihan fungsi integritas

(36)
[image:36.595.151.547.94.383.2]

Gambar 2.3 Proses cedera dan perbaikan cedera ginjal akut1

Dengan perkataan lain, hal-hal dibawah ini berkontribusi dalam

patofisiologi CGA, yaitu(a)

gangguanperfusiginjalyangmembahayakanautoregulasi-ginjal dan

menyebabkanvasokonstriksiginjal, (b) disfungsi tubulardankematian

selakibatapoptosisdannekrosis,(c) deskuamasi selyang memberikan

kontribusi untuk obstruksiintra-tubular, (d) gangguanmetabolismeyang

menyebabkangangguantransportasi, sehinggamengganggukeseimbangan

tubular-glomerulus, dan(e) produksimediatorinflamasilokal

yangmenyebabkan peradanganinterstisialdan kongestivaskular.

Kerusakan epitelitulah yangmenginduksisekresimediatorinflamasi

(37)
[image:37.595.152.546.94.407.2]

Gambar 2.4 Perubahan morfologi pada tulus proksimal26

Pada vaskular renal juga terdapat abnormalitas yang menyumbang

peran dalam patogenesis CGA. Hilangnya autoregulasi dan

meningkatnya vasokonstriksi ginjal berkontribusi dalam peran

meningkatnya kalsium sitosolikdan mitokondrial. Cedera iskemik akut

dapat menyebabkan hilangnya autoregulasi. Selain itu vasokonstriksi

ginjal juga terjadi pada ginjal yang iskemik sebagai akibat menurunnya

tekanan perfusi ginjal. Respon vasokonstriksi terhadap norepinefrin dan

endotelin eksogen juga ikut meningkat pada iskemik ginjal akut.

Abnormalitas vaskular tersebut mungkin berhubungan dengan

meningkatnya konsentrasi kalsium sitosolik pada arteriol afferent

(38)

autoregulasi dan meningkatkan sensitivitas terhadap stimulasi syaraf

ginjal. Iskemik ginjal akut juga telah terbukti berhubungan dengan

kerusakan endotel yang disebabkan meningkatnya cedera oksidan.

Cedera oksidan dapat memicu menurunnya eNOS dan vasodilator

prostaglandin dan juga meningkatkan endotelin yang hal-hal tersebut

[image:38.595.152.495.269.507.2]

memperbesar terjadinya vasokontriksi vakular ginjal.26

Gambar 2.5 Efek vaskular pada cedera ginjal akut.26

Sebagai tambahan, tekanan filtrasi glomerulus normalnya sekitar

60% dari tekanan arteri rerata. Tonus arteriol afferent dan efferent

memiliki peran yang sanagat penting dalam menjaga tekanan filtrasi

glomerulus, dimana tekanan filtrasi secara proporsional berbanding

lurus dengan tonus arteriol efferent dan berbanding terbalik dengan

(39)
[image:39.595.197.451.88.377.2]

Gambar 2.6 Anatomi nefron ginjal

2.1.4 Azotemia Pra-renal.

Istilahazotemiarenal (atau kadang disebut 'gagal ginjal

pra-renal')sering digunakan dalambuku-buku pelajarandandalam

literaturuntuk menunjukkansindromakutditandai

denganadanyapeningkatankonsentrasiproduklimbahnitrogen dalam

darah(urea dankreatinin). Sindrom inidianggapdisebabkanhilangnyalaju

filtrasi glomerulustetapi tidakberhubungandengan

cederaginjalhistopatologi. Dengan demikian, istilah inidigunakanuntuk

membedakan CGA'fungsional' dari 'struktural', di mana istilahcedera

ginjalstrukturaldiambil untukmenunjukkan

adanyanekrosistubularakut(NTA).18CGA pra-renal atau

(40)

responfisiologisuntukmengurangi volume"efektif" ekstraseluler, yang

diartikan sebagaimenurunnya stimulasireseptorvolumedan

meningkatnya aktivitasadrenergik, danbisamenyertaihilangnyavolume

aktual, gagal jantungkongestif, sirosis, nefrosis, atausepsis. Pertahanan

utama terhadappenurunanvolume efektifterjadipada tingkat

reabsorpsitubular. Kompensasiawal inimelibatkan peningkatan aktifitas

adrenergik danangiotensinIIsertameningkatnya

pengaruhaldosteronpadatubulus, sehingga hasilnya terjadi

peningkatanreabsorpsitubularproksimaldandistal.

PenurunanberikutnyapadaLFG, muncul ketikapertahanan utamatidak

adekuatdandimediasisebagian besaroleh aktivasilebih lanjut

darisistemneurohumoralyang samayang memodulasireabsorpsitubular.

Penurunansekunder padaLFG dapat dianggap sebagai

tahapdekompensasiginjal.27

2.1.5 Faktor risiko dan penyebab cedera ginjal akut

Ginjaladalah organ yangcukup kuatyang dapat

mentolerirpaparanbeberapa faktor yang dapat menyebabkan CGA tanpa

menderita perubahanstruktural atau fungsional yang signifikan.

RisikountukCGAmeningkatoleh paparanterhadap faktoryang

menyebabkanCGAatau adanyafaktor yang meningkatkankerentanan

terhadapCGA. Faktor-faktor yangmenentukankerentanancedera

ginjaltermasuk dehidrasi, karakteristik demografik tertentu

(41)

interaksi antarakerentanandengan jenisdan tingkatpaparan faktor

penyebab CGAyangmenentukanrisikoterjadinyaCGA.Pada pasiensakit

kritis, telah diidentifikasi beberapa faktor risikountuk

berkembangnyaCGA. Faktor risiko klinisyang telah diidentifikasiuntuk

berkembangnyaCGAadalah diabetes, sirosis/gagal hati, gagal jantung

kongestif, deplesi volume, sepsis, waktucardiopulmonary bypass, dan

paparannefrotoksin.28

The 2011 Kidney Disease: Improving Global Outcomes

(KDIGO)Clinical Practice Guideline for Acute Kidney Injury (AKI)

merekomendasikan klinisi agar melakukan stratifikasi risiko CGA

berdasarkan paparan terhadap faktor penyebab CGA dan kerentanannya

terhadap CGA.29Namun,peluang

berkembangnyaCGAsetelahpaparanfaktor-faktor penyebab CGAyang

sama, berbeda antaraindividu yang berbeda. Hal inidisebabkansejumlah

faktorkerentananyang bervariasiluasdari individu ke individu yang

[image:41.595.100.518.559.730.2]

dijelaskan pada tabel berikut.

Tabel 2.2 Stratifikasi risiko cedera ginjal akut.29

Exposures Susceptibilities

Sepsis Dehydration or volume

depletion

Circulatory shock Female gender

Burns Black race

(42)

Cardiac surgey (especially

with CPB)

Dibetes mellitus

Nephrotoxic drugs Cancer

Radiocontrast agents Anemia

Poisonous plants and animal

PenyebabCGAdiRRIumumnya"multi-faktorial" dan

seringberkembang darikombinasihipovolemia, sepsis, obat-obatan,

dangangguanhemodinamik. Sering kita kesulitan

untukmengisolasipenyebab tunggal, sehingga

lebihrumitmencariintervensi yang efektifdalam prosespenyakit

kompleks. PatofisiologiCGAbervariasi sesuai denganetiologiyang

mendasari. Sepsisadalah penyebabpaling seringdariCGAdiRRI,

terhitunghingga50% kasus.2 CGAsering terjadisetelah operasijantung, terjadi pada sampai dengan42% daripasientanpa penyakit ginjal

sebelumnya, dan peningkatankreatinin serumsekecil0,3mg/dL

berhubungandengan peningkatan morbiditasdan mortalitas.30

Suatutekanan intraabdominalberkelanjutan >20mmHgdalam

hubungan dengandisfungsiorganbaru akandikaitkan denganCGA

pada>30% kasus.31MekanismeobatmenyebabkanCGAadalah bervariasidan termasuknefritisinterstitialakut,

toksisitastubularlangsung(misalnya, aminoglikosida),

dangangguanhemodinamik(misalnya, agen antiinflamasi nonsteroidal,

(43)

Nefritisinterstisialakutkemungkinan sering merupakan etiologi CGA

yang disebabkan obat-obatan yang jarang dikenalidi RRIkarena

kurangnyatemuan klinis di RRI.31

2.2 Penanda Biologis Cedera Ginjal Akut

2.2.1 Kreatinin sebagai penanda cedera ginjal akut

Kreatinin adalahturunan

asamaminodenganmolekulmassa113Dyangdisaring secara bebas

olehglomerulus. Banyak

penelitianmendukungkesamaanbersihankreatininuntukLFGdantimbal

balikhubungan dengan levelkreatinin serum.32Kreatinindisekresikan olehsel tubulusproksimalsertadisaring olehglomerulus, dengan

demikian, bersihan kreatininmelebihiLFG. Sekresi kreatinin

tubularbervariasiantaraindividu, terutama pada

merekadenganpengurangan LFG ringan sampaimoderat.Beberapa obat,

termasuktrimetoprimdancimetidine, menghambatsekresikreatinin,

sehingga mengurangi bersihankreatinin

danpeningkatantingkatkreatininserumtanpa

mempengaruhiLFG.33Kadarkreatininditentukanterutama olehmassa ototdan asupan makanan, yang menyumbang kemungkinanuntukvariasi

dalamtingkatkreatinin serum yangdiamati antarausia,geografis, etnis,

(44)

padatingkatLFG yang rendah, peningkatan initerutamaterkaitterhadap

degradasikreatininoleh bakteri ususdandapat dipengaruhi

olehpenggunaan

antibiotik.32Penggunaandariberbagaireferensiuntukkreatinin

serum,untuk membedakan antaraLFGnormal danabnormaldapat

menyesatkan.

Ginjal manusia memiliki cadangan fungsi glomerulus yang

penting, dan disfungsi menjadi jelas hanya ketika lebih dari 50% dari

massa ginjal terganggu. Klasifikasi CGA yang terbaru menyatakan

bahwa perubahan sedikit saja pada kreatinin serum dikaitkan dengan

hasil luaran pasien yang lebih buruk. Hal ini, bagaimanapun, tetap

merupakan kriteria fungsional untuk CGA dan menyiratkan bahwa

perubahan LFG mungkin merupakan fenomena yang terlambat dari

sindrom CGA. Dalampraktek klinissaat ini,

CGAbiasanyadidiagnosisdengan mengukurkreatininserum. Sayangnya,

kreatininmerupakan indikatoryang kurang dapat diandalkanselama

perubahanakut padafungsi ginjal.Kenaikan kreatinin serum merupakan

tanda dari perubahan filtrasi glomerulus yang telah berlangsung selama

berjam-jam atau hari.Beberapa alasan yang telah dikemukakan

sebelumnya di latar belakang mengenai kekurangan kreatinin serum

untuk mengevaluasi atau menggambarkan fungsi ginjal seperti

minimnya keadaan steady state pada kondisi penyakit kritis dan

beberapa keadaan yang dapat menyebabkan peningkatan semu kreatinin

(45)

memiliki sensitivitasyang rendah dan kurang

menggambarkantingkatdisfungsiginjaldalampasiensakit kritis.

2.2.2 Kemunculan penanda biologis baru dalam mendiagnosis CGA

Seperti yang telah disebutkan diatas kreatinin serum memiliki banyak

keterbatasan dalam mendiagnosa CGA, terutama dalam ruang lingkup

unit perawatan intensif sehingga kurang sensitif untuk menggambarkan

tingkat disfungsi ginjal pada pasien sakit kritis. Munculnya penanda

biologis baru dalam lingkup CGA sangat membantu para klinisi untuk

dapat mendiagnosa CGA dengan sensitivitas dan spesifisitas yang

tinggi. KurangnyabiomarkerawalCGApada manusiahingga saat ini

telahmengurangikemampuan kita untukmemulaiterapiyang potensial

efektifpada waktu yang tepat. Memang, penyelidikanmanusiakini

telahjelasmenetapkan bahwaintervensi lebih

awalmeningkatkankemungkinanperbaikandisfungsiginjal.35

Penanda biologisCGAdapat merupakankomponen dariserum

atauurin. Penanda biologisurinecukupmenjanjikanuntuk

mendeteksiCGAawal, maka dapatdiperkirakanlebih awal, karena itu,

bisa bergunauntuk diagnosis dini, identifikasigangguanmekanisme,

danpenentuanlokasi dankeparahandisfungsi.25Istilah penanda

biologispertama kali dijelaskanpada tahun 1989, yang

berartiindikatorterukuruntuk kondisibiologistertentu danuntuk

prosespenyakit tertentu. Selain itu, badan pengawasan obat dan

(46)

biologisuntuk menggambarkan setiapindikatordiagnostik

yangdapatdiukur dandigunakanuntuk menilairisikoatau penyakit.

Penanda biologis yang idealuntukCGAharus terjangkau, cepatdan

mudahuntuk mengukur, tepat danakurat, dandapatmenentukantingkat

keparahandisfungsi, khusus untukginjal, meningkat

ditahapawaldisfungsi, dengan sensitivitas dan spesifisitas yang

tinggi.36Dari sekian banyak penanda biologis baru yang tersedia, terdapat 4 penanda biologis yang saat ini secara luas digunakan para

klinisi di seluruh dunia untuk mendeteksi CGA, antara lain

NeutrophilGelatinase-AssociatedLipocalin(NGAL), cystatin C, KIM-1

[image:46.595.148.535.439.676.2]

dan interleukin-18.32

(47)
[image:47.595.155.534.122.495.2]

Gambar 2.7 Kidney injury continuum dan penanda biologis CGA.25

Neutrophil Gelatinase-Associated Lipocalin

NeutrophilGelatinase-AssociatedLipocalin(NGAL) manusia

diidentifikasisebagaiprotein25-kDa gelatinase yang terikat secara

kovalendarineutrofil. NGALbiasanyadihasilkan pada tingkatyang sangat

rendahdalamjaringan manusia, termasuk ginjal, paru-paru, lambung, dan

usus besar. SintesisNGAL secara nyata diinduksi dalamepitel

yangcedera. Sebagai contoh,

(48)

denganinfeksibakteri akut, dahakdarisubyek denganasma ataupenyakit

paruobstruktif kronik, dan

cairanbronkialdariparu-paruemphysematous.10Dalamsebuah studicross-sectional, manusia dewasadi unit perawatanintensif dengancedera ginjal akutsekunder yang

disebabkansepsis, iskemia, ataunephrotoksinmenghasilkanpeningkatan

yang lebih besardari 10kali lipatdalam plasmaNGALdan lebih

daripeningkatan100kali lipat dalamNGALurinmelalui Western

blottingbila dibandingkan dengankontrol normal.37

KadarNGALdalam urindan serumberkorelasidengan

kadarkreatininserum danpeningkatan kadar NGALmendahului

peningkatan kadar kreatininserum. Parikhdkk. mempelajariNGALurin

pada53pasien yangmenjalanitransplantasiginjaldonorhidup

ataumeninggal. KadarNGAL(dinormalisasi untukkonsentrasikreatinin

urin) secara signifikan lebih tinggipada penerimadonor

meninggaldengan delayed graft function (DGF) (n = 10,

median3.306ng/mgkreatinin) dibandingkan prompt graft function (n =

20, median756ng/mgkreatinin).

Nilaicutoffkreatinin1.000ng/mgmemilikisensitivitas90% dan

spesifisitas83% untukidentifikasiDGF, AUCROCadalah0,90.38

NGAL plasmadisaringdiglomerulus, danmengalamireabsorpsi

olehtubularproksimal, karena itu, ekskresi NGALdalam urinhanyaterjadi

ketikaada

kerusakantubularproksimalyangmengganggureabsorpsiNGALatau

(49)

Kidney Injury Molecule-1

Kidney Injury Molecule-1 atau KIM-1 adalahglikoproteinmembran

seltipe 1yang berisi6-sistein menyerupai imunoglobulin. KIM-1

mRNAmeningkatlebih tinggi darigen lainmenyusuldisfungsiginjal.

Ekspresi gentersebutmeningkatdalam 24-48jam setelahkejadian

iskemikpada tikus. KIM-1 gendan ekspresiproteinyangtidakterdeteksidi

ginjalnormal. Fungsi KIM-1 padaginjaladalah untuk membuatsel

epitelmengenali dan memfagositsel-sel matidi ginjalkarenaiskemiadan

menyebabkanobstruksilumenyang menyebabkanCGA. Dengan

demikian,selepiteldenganKIM-1 bekerja sebagaifagosit semi

profesional. KIM-1 sangat spesifikdansensitifdalam

mengidentifikasizatberacunditubulusproksimal. Darispesimenbiopsi

ginjalpada6pasien denganakuttubular, kadarurin KIM-1meningkat

dalam12jam setelahdisfungsiginjal, mendahuluipembentukansilinder.25 Dalamsebuah penelitian kecil cross-sectional pada manusia,

KIM-1 ditemukansecaranyatadiinduksidalamtubulusproksimaldi

biopsiginjaldari pasien denganCGA(terutama iskemik), danKIM-1 urin

membedakan CGAiskemik daripra-renal azotemiadan

penyakitginjalkronis.39 Pasien denganCGA yangdisebabkan

olehkontrastidak mengalami peningkatanurinKIM-1.

(50)

Interleukin(IL)-18adalahsitokinproinflamasiyangdiinduksi

ditubulusproksimal, dan kemudiandengan

mudahdideteksidalamurinsetelahCGAiskemikpada hewan model.

Dalamsebuah studicross-sectional, kadar urinIL-18 dengannyata

meningkatpada pasien denganCGA, tetapi tidakpada subyek

denganinfeksi salurankemih, penyakit ginjalkronis, sindromnefritik, atau

gagal ginjal prarenal.Studipada manusiamenunjukkan bahwa

konsentrasiIL-18 meningkatdalam 24-48jam sebelumCGAberdasarkan

kriteriaRIFLE.40 Kadar IL-18 urinberkorelasi dengan

tingkatkeparahanCGAdan hal ini adalahprediktor untukCGAdan

kematiandalam kelompokheterogenanak-anak denganpenyakit kritis.9

2.2.3 Cystatin C

CystatinCadalahanggotadari superfamilicystatinsisteinprotease inhibitor

dengan berat molekul rendah13,3 kDayangdisintesis olehsemua

selberintipada tingkatproduksiyang konstan. Cystatin Csecara

bebasdisaringdi glomerulusdantidak direabsorpsi serta dikatabolisme

oleh sel epitel tubulus, sehingga hanya dalam jumlah yang sangat kecil

dapat dijumpai dalam urin. Kadar cystatin C serum tidak dipengarui

oleh massa otot, diet, umur dan gender seperti halnya yang terjadi pada

kreatinin.10 Ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi nilai pengukuran cystatin C yaitu pasien dalam terapi kortikosteroid dan

pasien dengan penyakit tiroid. Nilai cystatin C dilaporkan akan menurun

(51)

hipertiroidisme.41Nilai cystatin C juga akan meningkat pada pasien yang di terapi dengan kortikosteroid.42Banyak studi menunjukkancystatin Cmenjadiprediktor laju filtrasi glomerulus yang lebih

baikdibandingkankreatinin.

Beberapa penelitian yang dilakukan oleh Rosental S dkk, Mi

Yeon Chung dkk, dan Patricia Villa dkkmenunjukkan bahwa cystatin C

serum mendiagnosa CGA lebih cepat dan lebih baik daripada kreatinin

serum.11-13Hasil penelitian yang berbeda ditunjukkan oleh beberapa penelitian yang dilakukan oleh Royakkers dkk, Spahillari dkk dan

Pauline R. Slort dkk, dimana hasil penelitiannya menunjukkan cystatin

C seum tidak lebih baik dari kreatinin serum dalam mendiagnosa

CGA.15-17

2.3 Mengukur laju filtrasi glomerulus

Laju filtrasi glomerulus(LFG) adalahukuran standar fungsiginjaldan

sangat pentinguntuk diagnosisdan manajemenpenyakitginjal.

LFGditerimasebagai ukuranterbaik untuk menilaifungsi ginjal. Nilai

normalnya, berhubungan denganusia, jenis kelamin, danukuran tubuh,

kira-kira130ml/menit/1,73m2pada pria mudadan

120ml/menit/1,73m2pada wanita muda. Dan nilainyamenurunseiring bertambahnya usia.LFG yang paling baik dengan sensitivitas dan

spesifisitas paling tinggidiukur melalui bersihankemihatau plasma dari

suatupenandafiltrasiyang idealsepertiinulinataupenandaeksogenalternatif

(52)

MengukurLFGdenganpenggunaan penandaeksogenadalah

kompleks,mahal,dansulit untuk dilakukandalam praktek klinis.43

Oleh karena itu pengukuran LFG dengan penanda endogen masih

digunakan secara luas saat ini oleh para klinisi dikarenakan kemudahan

dan secara biaya jauh lebih murah dibandingkan penanda eksogen.

Penanda endogen yang paling sering digunakan untuk mengukur LFG

dewasa ini adalah kreatinin. Terdapat banyak formula saat ini yang

dapat mengestimasi laju filtrasi glomerulus melalui pengunaan penanda

endogen kreatinin. Beberapa formula tersebut adalah43

• Bersihan kreatinin urin 24 jam

 ( volume urin × kreatinin urin)/(kreatinine serum × 1440)

• Formula Cock-Croftgault

 (140-umur) x berat badan / kreatinin serum x 72

 Catatan : untuk wanita, hasilnya dikalikan 0,85

• Formula Modification of Diet in RenalDisease (MDRD)

 175 × (Scr)-1.154 × (Age)-0.203 × (0.742 if female) × (1.212 if African

American)

Perkiraanlaju filtrasi glomerulus, sepertiestimasi LFGyang

diperkirakan olehrumusModification of Diet in Renal Disease

(MDRD)ataubersihan kreatinin yangdiperkirakan dengan formula

cock-croftgault, menunjukkan hasil yang kurang memuaskandalam populasi

(53)

bersihan kreatinin menggunakan pengumpulanurin 24

jamdianjurkanpada pasien yang didugamengalami disfungsi ginjal.44

2.4 Definisi Sepsis, Sepsis Berat dan Syok Sepsis

[image:53.595.101.512.473.730.2]

Definisi sepsis diambil darisurviving sepsis campaign 2012.

Tabel 2.4 Defenisi Sepsis, Sepsis Berat dan Syok Sepsis.45

Systemic

inflammatory

response

syndrome

Dua atau lebih :

• Suhu tubuh > 38.3°C atau < 36.0°C

• Laju nadi > 90 kali per menit

• Laju nafas > 20 kali per menit atau PaCO2 <

32 mmHg atau membutuhkan ventilasi

mekanik

• Jumlah sel darah putih > 12000/mm3 atau

4000/mm3 atau bentuk immature> 10%

Sepsis Systemic inflammatory response syndrome

dan ada infeksi (kultur atau gram stain of

blood, sputum, urin atau cairan tubuh yang

normalnya steril positif terhadap

mikroorganisme patogen ; atau fokus infeksi

diidentifikasi dengan penglihatan spt:

ruptured bowel dengan free air atau bowel

contents didapati pada abdomen saat

(54)

discharge)

Sepsis Berat Sepsis dengan minimal satu tanda dari

hipoperfusi atau disfungsi organ :

Sepsis-induced hypotension

• Laktat > 2mmol/L

Acute Lung Injury (PaO2/FiO2 < 250) dengan

tidak dijumpainya pneumonia sebagai sumber

infeksi

Acute Lung Injury (PaO2/FiO2 < 200) dengan

dijumpainya pneumonia sebagai sumber

infeksi

• Urin output< 0.5mL/kg dalam 2 jam

• Peningkatan creatinin > 2,0 mg/ dl

• Abnormalitas sistem pembekuan (INR> 1,5).

• Hiperbilirubinemia (bilirubin total plasma > 2

mg/ dl atau 34,2 µmol/L).

• Jumlah trombosit < 100000/mL

Syok Sepsis Sepsis berat dan :

Systemic mean arterial blood pressure <

60mmHg, tekanan darah sistolik (TDS) <

90mmHg, atau penurunan TDS > 40mmHg,

meskipun telah mendapat resusitasi cairan

(55)

2.5Cedera Ginjal Akut Pada Sepsis

Sepsis, sepsis berat dan syok septikadalah penyebab utamaCGAdi RRI,

dan memberikan kontribusi hingga setengah dari kasus CGA.Kematian

akibatsepsistetap tinggi, terutamabila dikaitkandengan

disfungsiorgansepertiCGA(dengan tingkat kematian 20-35%)

ataudengan adanya perubahanhemodinamik(rata-ratamortalitas60%).

PatofisiologiCGApadasepsissangat kompleks dan multi-faktorial yang

mencakup disfungsi mitokondrial, disfungsi endotel, trombosis

intraglomerular, apoptosis sel tubular, gangguan tonus vaskular dan

kebocoran kapiler.46Bukti-bukti yang berkembang saat ini menunjukkanbahwasepsis yang menyebabkan aktifnya respon

imunmelibatkanaktivasi mekanisme baikpro

maupunanti-inflamasi.Setelahinteraksi awal dari tuan rumah (host) dan mikroba,ada

aktivasi yangluas darirespon imun bawaan, yang

mengkoordinasiresponpertahananyang melibatkankedua

komponenhumoraldan seluler.47 Hal inipada gilirannya

menyebabkansekresiberbagaisitokin, yang paling pentingIL-1, TNF-α,

danIL-6, yang dapat berkembang menjadi situasi atau keadaanbadai

sitokin, ketidakstabilan hemodinamik, dan akhirnyaorgandisfungsidan

(56)

Fase pro-inflamasi ini diikuti oleh kompensasi respon imun

anti-inflamasi, suatu keadaan imunosupresif yang ditandai oleh produksi

sitokin dan presentasi antigen oleh monosit, menurunnya proliferasi

limfosit, dan peningkatan apoptosis. Harus dicatat bahwa tahap ini dapat

terjadi secara tumpang tindih.48 Beberapa sitokin pro–inflamasi berkontribusi terhadap perkembangan sepsis. Selanjutnya, antibodi

monoklonal anti–TNF memiliki efek yang menguntungkan pada

beberapa hewan model sepsis. Meskipun demikian, eksperimen atau

upaya untuk memblok sitokin-sitokin ini belum konklusif dan

menjumpai kegagalan dalam uji klinisnya.48

Vasodilatasi arteri yang berhubungan dengan penurunan resistensi

pembuluh darah sistemik (SVR) adalah ciri dasar dari sepsis, dan sampai

saat ini, pada umumnya kita percaya CGA karena sepsis terutama

disebabkan hipoperfusi dari ginjal. Jika benar, ini akan berimplikasi

pada sarana utama renoproteksi pada sepsis adalah restorasi dari aliran

darah ginjal (RBF) dan hipoperfusi.49 Sebagian besar pemahaman tentang aliran darah ginjal selama sepsis bergantung pada model

binatang. Pada banyak penelitian yang melibatkan hewan, pengamatan

terhadap perubahan aliran darah ginjal menunjukkan hasil yang

bervariasi dari tidak berubah, berkurang, dan meningkat tajam, hal ini

menerjemahkan ketidakpastian tentang penerapan hasil penelitian

tersebut pada manusia.49 Pola karakteristik aliran darah ginjal pada manusia dengan sepsis, sebagian besar tidak diketahui karena aliran

(57)

bahkan pengukuran intermitennya membutuhkan metode invasif tingkat

tinggi.49,50 Namun, sekelompok kecil penelitian dimana aliran darah ginjal diukur pada pasien dengan sepsis melaporkan bahwa aliran darah

ginjal menunjukkan nilai normal atau meningkat.

Dalam studi lain, peneliti mempelajari sebuah percutaneously

placed thermodilution RBF catheter pada delapan pasien sakit kritis

dengan CGA. Pengamatan utama mereka mengungkapkan bahwa CGA

akibat sepsis terjadi meskipun aliran darah ginjal dalam batas normal.51 Temuan ini dan fakta bahwa pasien sepsis biasanya menunjukkan

cardiac output yang meningkat dan sirkulasi hiperdinamik menyiratkan

bahwa pengamatan dalam model binatang dengan sepsis jauh lebih

relevan terhadap syok sepsis pada manusia. Ada sebuah penelitian

dimana penulis mempelajari efek bakteremia dan sepsis pada aliran

darah ginjal, konduktansi vaskuler ginjal, dan fungsi ginjal pada Domba

Merino. mereka menunjukkan bahwa selain terjadinya vasodilatasi

perifer dengan peningkatan cardiac output dan menurunnya tekanan

arteri rerata, terjadi vasodilatasi ginjal disertai dengan peningkatan

aliran darah ginjal. Meskipun terjadi peningkatan aliran darah ginjal,

bersihan kreatinin menurun secara signifikan, dan kreatinin serum

meningkat sekitar empat kali lipat.52 Melalui pemantauan terhadap tahap pemulihan dan perubahan hemodinamik, kelompok peneliti yang sama

menggunakan konsep ini satu langkah lebih jauh. Dalam studi

komprehensif, sembilan domba diinstrumentasi untuk terus dilakukan

(58)

hiperdinamik dan normotensi yang diinduksi oleh bakteri (Escherichia

Coli) dan pemberian cairan dijumpai terjadinya vasodilatasi ginjal yang

signifikan dan meningkatnya aliran darah ginjal. Meskipun perfusi

ginjal dipertahankan dengan baik, LFG memburuk. Identik

denganarteriolsistemikyang berkontribusi sekitardua-pertiga dari total

resistensi perifer, arteriol aferendaneferenmerupakanregulator yang

sangat penting padaperfusiginjal. Pelebarankeduaarteriol secara serentak

(dengan vasodilatasi yang lebih besar pada arteriol efferen daripada

arteriol afferen) dapat menyebabkanpenurunan tekanan kapiler

glomerulardan berikutnyapenurunanfiltrasi.53

Selain dari hal yang dipaparkan diatas, belakangan ini para ahli

menemukan buktiyang cukupuntukmendukung bahwa apoptosis

berperan lebih menonjoldaripadanekrosismurni

dalampatofisiologisepsis. Namun, dalam mendukung teori ini masih

dijumpai kendala mengingat studi histopatologiyang masihlangka.

Biopsi ginjal yang dilakukan pada19pasienyang meninggal karena syok

sepsisdibandingkan denganbiopsipost-mortem yangdiambil dari8

pasientraumadan9pasien denganCGA non sepsis.

Apoptosistubularakutditunjukkan dalamCGA dengan sepsis,

sedangkanhampir tidak adaapoptosisterdeteksidalampasienCGA non

(59)

Kerangka Teori

Sepsis

Anti-inflamasi

• Meningkatnya IL-10

• Fagositosis tidak efektif • Gangguan fungsi imun • Terganggunya kemotaksis • Limfosit Apoptosis Pro-inflamasi

• Aktivasi jalur koagulasi dan komplemen

• Aktivasi protease

• Pembentukan free radikal • Sekresi sitokin (IL-1, IL-6,

PAF, TNF-α) • Keterlibatan selular

(neutrofil, makrofag,dll)

• Disfungsi mitokondrial • Apoptosis dan nekrosis • Disfungsi endotelial • Kebocoran kapiler

• Trombosis

• Oliguria

(60)

Kerangka Konsep

SerumKreatinin

↓ LFG

Cedera Ginjal Akut Serum Cystatin C

Mortalitas

Sepsis Pasien di RRI

Cystatin C Kreatinin

(61)

= yang diteliti dalam penelitian

BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian uji diagnostik yang

menggunakan desain potong lintang (cross sectional) untuk

membandingkan nilai diagnostik antara cystatin C serum dan kreatinin

serum dalam mendiagnosa cedera ginjal akut pada pasien sepsisyang

dirawat di ruang rawat intensif.

3.2 Tempat dan Waktu

3.2.1 Tempat

Penelitian ini dikerjakan di ruang rawat intensifRSHAM.

3.2.2 Waktu

Februari sampai dengan Maret 2014.

3.3 Populasi dan Sampel

(62)

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien dewasadengan

sepsis, sepsis berat dan syok sepsis di ruang rawat intensif.

3.3.2 Sampel

Seluruh populasi yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi.

3.4 Kriteria inklusi, eksklusi dan putus uji

3.4.1 Kriteria inklusi

1. Bersedia ikut dalam penelitian.

2. Berumur 18 - 65 tahun.

3.4.2 Kriteria eksklusi

1. Pasien dengan penyakit tiroid

2. Pasien yang sedang dalam terapi kortikosteroid

3. Pasien yang mendapatkan terapi zat-zat nefrotoksik

4. Pasien yang mendapatkan obat cimetidin dan trimetoprim.

5. Pasca operasi jantung

6. Pasien dengan penyakit sirosis hepatis

3.4.3 Kriteria putus uji

1. Pasien dirawat di ruang rawat intensif meninggal kurang dari 24 jam

sejak dimulai pemeriksaan

(63)

Untuk menentukan besar sampel dilakukan perhitungan sesuai dengan

penelitian diagnostik dengan keluaran AUC.

=

Z

α√

2

1 + Z

β√

V1 + V2

θ

1

− θ

2

2

=

1,96

2 . 0,038 + 0,842

0,038 + 0,39

0,233

2

= 21

=

1,96 (adalah deviat baku pada 0,05 )

Zβ = 0,842 (adalah deviat baku pada 20% )

Θ1 = 0,927 (AUC Cystatin C)

Θ2 = 0,624 (AUC Kreatinin)

Q11 = Θ1 : (2-Θ1) = 0,864

Q21 = 2Θ12: (1+Θ1) = 0,892

Q12 = Θ2 : (2-Θ2) = 0,531

Q22 = 2Θ22 : (1+Θ2) = 0,819

V1 = Q11 + Q21– 2 Θ12= 0,038

(64)

Dari hasil perhitungan di atas, maka diperoleh besar sampel 21 orang.

Dengan kemungkinan jumlah keluar (putus uji) sebesar 10%, maka

besar sampel minimal adalah 24 orang.

3.6 Alat dan bahan

3.6.1 Alat

1. Jerigen penampung urin

2. Jarum suntik 3 cc

3. Kasa steril

4. Handscoon steril

5. Lembar observasi pasien

6. Alat tulis

3.6.2 Bahan

1) Alkohol 70%

3.7 Cara kerja

1. Penelitian ini dilakukan setelah disetujui oleh komisi etik penelitian

bidang kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

2. Setelah mendapat persetujuan komite etik penelitian bidang kesehatan

Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, peneliti meminta

(65)

3. Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan data pasi

Gambar

Gambar 2.1 Sejarah Cedera Ginjal Akut.18
Gambar 2.2 Kriteria RIFLE
Gambar 2.3 Proses cedera dan perbaikan cedera ginjal akut1
Gambar 2.4 Perubahan morfologi pada tulus proksimal26
+7

Referensi

Dokumen terkait

• kemudian kita akan membuat diagram, pie chart, histogram dan lain-lain dari data yang kita miliki dengan langkah :. o untuk pie chart, pilih menu Graph &gt; pie dan akan muncul

The current chapter is thus an attempt to read the Argonautica as a Ptolemaic poem within the context of what we can learn about the courtly aspects of Alexandrian poetry from

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw untuk meningkatkan motivasi, aktivitas,

pengaruh Karakteristik Wirausaha Terhadap Tingkat Keberhasilan Usaha pada Sentra Usaha Kecil Pengasapan Ikan Di Krobokan Semarang.. Universitas

Di antara ciri- ciri

Penggunaan mulsa plastik secara nyata berpengaruh meningkatkan hasil biji jagung per tanaman, tetapi tumpangsari dengan kacang gude (C. cajan) pada

Oleh karena itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang pengaruh perencanaan program terhadap efektivitas corporate social responsibility dikarenakan

Bahan: 2 helai kertas lukisan, berus gigi lama, bekas pembancuh warna, warna poster, gunting2. Bidang: Membuat corak dan rekaan Tajuk: Corak