Laporan Pengantar Proyek Tugas Akhir
PERANCANGAN IDENTITAS VISUAL
RUMAH MAKAN SURABI IMUT
DK 38315 / Tugas Akhir Semester II 2010/2011
Oleh :
Muhammad Taufiq Hidayath 51907085
Program Studi
Desain Komunikasi Visual
FAKULTAS DESAIN
UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA
BANDUNG
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena berkat karunia-Nya, akhirnya penulis dapat menyelesaikan Laporan Pengantar Proyek Tugas Akhir yang berjudul PERANCANGAN IDENTITAS VISUAL RUMAH MAKAN SURABI IMUT sebagai salah satu syarat untuk mencapai kelulusan mata kuliah Tugas Akhir di Fakultas Desain Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Komputer Indonesia Bandung.
Penulis menyadari bahwa laporan ini banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik untuk memperbaikinya.
Penulis menerima dengan senang hati atas segala masukan baik langsung maupun tidak langsung. Dan akhirnya semoga laporan ini dapat menjadi wujud ibadah penulis kepada Zat Yang Maha Mengetahui lagi Bijaksana, dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi para mahasiswa.
Bandung, 6 Agustus 2011
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Jawa Barat mempunyai beraneka ragam sajian kuliner yang menarik. Beberapa jenis produk kuliner Jawa Barat merupakan makanan yang biasanya digunakan sebagai makanan pokok, atau lauk-pauk. Sebagian besar produk kuliner yang tak kalah menarik untuk dicicipi adalah golongan Cangkarang Bongkang atau jajanan (Yetti Herayati, 1986, 29). Fungsi makanan sampingan yang terdapat di Jawa Barat sendiri, sangatlah beraneka ragam. Beberapa diantaranya bisa digunakan sebagai hantaran untuk bepergian atau untuk dibawa pulang oleh tetamu selepas mengadakan upacara adat tertentu, adapun jajanan yang biasanya menjadi konsumsi lain selain nasi.
oncom, dan bisa juga dinikmati dengan rasa asin yang biasanya dicampur dengan telur.
Keunikan cita rasa dari kue surabi masih bisa dinikmati hingga saat ini. Meskipun banyak produsen makanan modern yang sudah menyebar, tak membuat keberadaan kue surabi sebagai makanan khas Jawa Barat teralihkan dari pandangan masyarakat. Bahkan, para penggemar sajian kue surabi, tidak pernah menyerah untuk mencari penjual kue surabi meskipun harus mencari ke setiap sudut kota Bandung.
Banyaknya penjual kue surabi membuat masyarakat tidak perlu merasa kesulitan mencarinya lagi. Salah satu tempat di kawasan Jalan Setiabudi No. 194, Bandung terdapat rumah makan yang menyediakan menu utama kue surabi yaitu Surabi Imut. Surabi imut pun merupakan pelopor rumah makan yang tak hanya menyediakan menu utama surabi, tetapi menjadi pelopor rumah makan yang mengolah penyajian kue surabi yang bisa disantap dalam berbagai rasa. Di sini penikmat kue surabi bisa mencicipi kembali nikmatnya kue surabi yang merupakan jajanan khas Jawa Barat, mulai dari cita rasa tradisional, sampai olahan rasa lain yang mampu menumbuhkan rasa ingin tahu rasanya.
disediakan meja dengan tempat duduk kursi, sedangkan di lantai atas, disediakan tempat duduk lesehan, sehingga para pengunjung bisa leluasa menikmati sajian surabi sambil bercengkrama bersama.
Identitas visual merupakan salah satu bagian penting dalam branding. Dimana branding adalah kegiatan mewujudkan brand agar janji produsen bisa tersampaikan dan menjalin loyalitas konsumen terhadap produsen, dan kegiatannya mencakup pembuatan identitas visual kemudian penerapannya kedalam media.
makannya. Mengingat di daerah yang sama juga terdapat tempat makan yang juga menjual surabi. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman lebih dalam mengenai bagaimana merancang identitas visual dengan baik dan sesuai dengan brand yang diangkat.
1.2 Identifikasi Masalah
Dari uraian diatas, dapat ditemukan beberapa permasalahan, diantaranya:
1. Konsumen masih merasa asing terhadap hasil pengembangan surabi yang dilakukan oleh Surabi Imut.
2. Belum terbentuknya identitas visual yang bisa dengan mudah dijaga konsistensinya oleh Surabi Imut.
3. Adanya dampak yang ditimbulkan oleh kehadiran Surabi Imut selaku pengembang brand surabi terhadap surabi lainnya.
1.3 Rumusan Masalah
1.4 Tujuan Perancangan
Tujuan dari perancangan ini adalah untuk membuat identitas yang baru, agar Rumah Makan Surabi Imut bisa dengan mudah menggunakan dan mengaplikasikan identitas visual secara terus-menerus secara
BAB II
PERANCANGAN IDENTITAS VISUAL RUMAH MAKAN SURABI IMUT
2.1. Surabi Imut
Surabi adalah makanan khas Jawa Barat. Bahan yang digunakan untuk membuat surabi diantaranya, tepung terigu, sedikit gula putih dan air santan kelapa. Cara memasaknya dipanggang di dalam mangkuk tembikar dan menggunakan panas dari kayu bakar. Penyajiannya bisa dimakan diatas piring atau mangkuk atau dibalut dengan daun pisang untuk digenggam. Cara ini adalah salah satu dari keanekaragaman cara memasak masakan tradisional di Jawa Barat.
Gambar 2.1 Mangkuk Tembikar yang biasa digunakan dalam pembuatan kue surabi Sumber: Data Pribadi
biasanya surabi ditambahkan dengan telur ketika dalam keadaan setengah matang dalam panggangan.
Di Bandung sendiri sampai saat ini masih bisa ditemukan penjual kue surabi tradisional yang biasanya mulai berjualan pada pagi hari. Lengkap dengan cara memasaknya yang masih menggunakan kayu bakar atau arang, dan menyajikan dua rasa yang khas seperti yang dijelaskan diatas. Para penjual kue surabi bisa ditemukan berjualan di pinggir jalan, di jalan-jalan kecil, atau gang.
Surabi Imut berdiri sejak bulan Juli tahun 1998 pada saat terjadinya krisis moneter global, terutama krisis moneter yang terjadi di Indonesia. Surabi Imut didirikan atas dasar gagasan Ating Supardi dan putrinya yang bernama Riana Rismawati. Surabi imut terletak di Jl. Dr. Setiabudi 175 Bandung. Di tempat ini Surabi Imut semakin berkembang bahkan keberadaannya diakui dan dijadikan contoh oleh banyak produsen makanan. Dan sebagai wujud keberhasilan dari Surabi Imut, Riana Rismawati sebagai pengelola telah berhasil mempertahankan kue Surabi sebagai ikon makanan khas Bandung.
Setiabudhi 175 Bandung), berjarak kira-kira 500 meter turun ke bawah dari lokasi yang lama, dan tepatnya berseberangan dengan rumah makan Ma Uneh. Lokasi ini dapat dinilai strategis, karena berdekatan dengan aktivitas perdagangan, pendidikan dan bisnis. Daerah tersebut berdekatan dengan beberapa universitas, juga merupakan salah satu jalur keluar-masuk dari luar kota Bandung. Dapat dikatakan bahwa mayoritas konsumennya adalah mahasiswa yang berkuliah atau tinggal di daerah Setiabudi. Selain mahasiswa,tentu saja pengunjung kegiatan bisnis di daerah tersebut.
menu yang disediakan oleh Surabi Imut diantaranya (1) surabi oncom, (2) surabi manis, (3) surabi oncom keju, (4) surabi coklat keju susu, (5) surabi coklat pisang keju, (6) surabi coklat pisang susu, (7) surabi coklat pisang keju susu, (8) surabi kacang coklat susu, (9) surabi kacang keju susu, (10) surabi kacang coklat keju susu, (11) surabi keju susu, (12) surabi telur spesial, (13) surabi telur oncom, (14) surabi telur oncom spesial, (15) surabi telur oncom ayam spesial, (16) surabi supreme, (17) surabi sosis spesial, (18) surabi ayam spesial, (19) surabi sosis ayam spesial, (20) surabi telur sosis spesial, (21) surabi telur ayam spesial, (22) surabi telur sosis ayam spesial, (23) surabi telur ayam sosis oncom spesial, (24) surabi telur oncom sosis spesial, (25) surabi oncom ayam spesial, (26) surabi oncom sosis spesial, (27) surabi oncom ayam sosis spesial, (28) surabi oncom spesial, (29) surabi cincang spesial, (30) surabi vlacokelat, (31) surabi vla strawberi, (32) surabi hitam putih, (33) surabi oreo keju, (34) surabi ice cream, (35) surabi crunch cokelat, (36) surabi ice durian (37) surabi saus bolognaise, (38) surabi oreo ice cream.
beragam dan lebih mudah diterima. Varian pencampur rasa tersebut menjadi relevan, bila dikaitkan dengan kondisi ini.
Tidak ada jenis makanan tradisional lain yang memiliki nama yang sama dengan kue surabi. Dari perbedaan inilah, kue surabi bisa dengan mudah dikenal dan akrab dengan masyarakat. Hanya dengan nama saja, surabi tradisional sudah memiliki identitas sendiri. Meskipun telah melewati beberapa zaman, tetap saja masyarakat menyebutnya dengan nama surabi.
Strategi yang dijalankan oleh pemilik Surabi Imut, adalah bertahan dengan menggunakan nama surabi, tetapi melakukan pengembangan pada pengolahan varian rasa. Untuk mempertahankan citra, kata surabi digunakan untuk menegaskan jenis produk, sekaligus dijadikan nama produk dan nama rumah makan.
pisang, sementara surabi Imut menggunakan kotak kertas dan Styrofoam sebagai kemasannya.
Namanya kian dikenal oleh konsumen karena mempelopori pengembangan kue surabi. Tempatnya pun cocok menjadi sarana berkumpul bersama teman kerja, keluarga, maupun orang terdekat lainnya. Hanya saja, ada beberapa hal penting yang kurang diperhatikan oleh Surabi Imut. Hal itu secara tidak langsung berdampak kurang baik bagi brand Surabi Imut secara visual, yaitu, penggunaan identitas visual yang tidak diutamakan.
Oleh sebab itu, perancangan kembali identitas visual surabi imut memang diperlukan agar mudah diterapkan kedalam beberapa kemungkinan media, bisa dijaga konsistensinya, dan tidak memunculkan pergeseran dengan bentuk tradisi yang biasanya diterapkan pada surabi tradisional.
Gambar 2.2. Tampak Depan Rumah Makan Surabi Imut Sumber: Data Pribadi
Terlihat penerapan logo yang belum jelas statusnya. Dalam hal ini gambar yang dikategorikan sebagai logo, ditempatkan seperti ilustrasi pada spanduk.
Selanjutnya persoalan penggunaan yang belum dimanfaatkan untuk menanamkan merek rumah makan ini.
Peranti makan adalah salah satu contoh objek yang dapat dmanfaatkan untuk menanamkan merek di benak konsumen. Dalam hal ini logo dapat ditempatkan pada salah satu atau semua peralatan tersebut. Hal ini belum dimanfaatkan oleh rumah makan Surabi Imut.
2.2. Identitas Visual
2.2.1. Pengertian Logo
Veronica Napoles (seperti dikutip Surianto Rustan, 2009), a man was a symbol maker long before he was a tool maker, his desire
for identification is deeply embedded in his past.
Hak kepemilikan menjadi permasalahan kedua setelah manusia mengenal berbagai jenis barang. Meskipun setiap barang memiliki nama masing-masing, barang tersebut belum tentu milik orang yang sama. Bisa saja barang tersebut milik orang lain yang sengaja ditaruh atau mungkin tertinggal. Bayangkan bila pemilik benda tersebut datang untuk mengambil benda tersebut, tanpa adanya hak kepemilikan, bisa jadi kedua orang tersebut akan bertengkar untuk menentukan milik siapa benda tersebut sebenarnya. Untuk itu, diperlukanlah sesuatu untuk menandai barang satu dan lainnya agar tidak tertukar dengan milik orang lain.
Salah satu strategi produsen untuk meningkatkan kualitas brand -nya adalah melalui identitas visual berupa logo sebagai bentuk identitas yang menandai kepemilikan produk atau perusahaan tersebut secara visual.
istilah logo lebih popular daripada logotype (Surianto Rustan, 2009, 12).
2.2.2. Fungsi Logo
Fungsi logo pada dasarnya adalah untuk mempermudah konsumen dalam memilih atau mengelompokkan barang. logo juga memiliki beberapa peranan penting lainnya, diantaranya berfungsi untuk (Surianto Rustan, 2009, 47):
1. Identitas diri, untuk membedakan dengan identitas milik orang lain.
2. Tanda kepemilikan, untuk membedakan miliknya dengan milik orang lain.
3. Tanda jaminan kualitas.
4. Mencegah tindak peniruan / penyalahgunaan.
2.2.3. Proses Pembuatan
Untuk mendapatkan logo yang baik, diperlukan proses yang sistematis yang disiplin, diantaranya (Alina Wheeler, 2009, 6):
1. Riset dan Analisa. Fakta-fakta entitas haruslah diketahui agar ide logo tidak melenceng. Keseluruhan hasil riset dikumpulkan kedalam bentuk keyword / kata kunci dan rangkumannya disimpan untuk proses berikutnya.
mengelompokkan berbagai ide logo yang kemudian diseleksi untuk mendapatkan sketsa logo utama. Pada proses ini, tidak dianjurkan untuk menggunakan komputer. 3. Komputer. Pada proses ini, sketsa yang telah diseleksi
akan diedit atau digambar ulang dengan software menggambar yang dianjurkan berbasis vector.
4. Review. Setelah hasil edit atau penggambaran ulang selesai, maka akan terkumpul beberapa alternatif desain logo. Dalam tahap ini, alternatif-alternatif tersebut diajukan ke klien untuk dipilih.
5. Sistem Identitas. Setelah proses penyeleksian selesai, hasil akhir dari logo tersebut dirangkum kedalam satu buku panduan yang didukung oleh satu paket ketentuan mengenai logo seperti ketentuan warna, tipografi, alternatif logo, yang patut diperhatikan oleh perusahaan. 6. Produksi. Berdsasarkan buku pedoman, berbagai media
mulai diproduksi menggunakan identitas yang sudah ditetapkan.
2.3. Target Audiens
juga harus melihat siapa dan seperti apa konsumen yang menjadi target audiens-nya. Dengan demikian, produsen yang memiliki identitas visual tersebut, bisa sekaligus merasakan perasaan konsumennya terhadap barang atau jasa yang dibuat.
Surabi merupakan jajanan khas yang bisa dinikmati oleh semua umur. Rumah makan surabi ini dibuat untuk mencerminkan konsumen yang dituju, yaitu muda, segar, dan memiliki semangat tinggi.
Pada dasarnya identitas visual berkaitan dengan permasalahan internal perusahaan. Disini, rumah makan Surabi Imut menyadari bahwa konsep usaha ini tidak dapat dipisahkan dari konsumennya.
2.3.1. Demografis
Menyadari target konsumen, maka secara internal nuansa ini yang berusaha akan diterapkan pada seluruh elemen rumah makan ini.
2.3.2. Geografis
Surabi Imut ditujukan untuk konsumen yang berasal dari Kota Bandung, namun tidak menutup kemungkinan ditujukan untuk konsumen yang berada diluar wilayah Bandung. Karena, konsumen yang berasal dari luar Bandung pun bisa mencicipi keunikan rasa dari jajanan khas Kota Bandung. Dengan demikian, Surabi Imut ditujukan untuk konsumen yang berasal dari Indonesia, terutama provinsi Jawa Barat khususnya Bandung.
2.3.3. Status Ekonomi dan Sosial
Surabi Imut ditujukan kepada konsumen yang memiliki status ekonomi dan sosial di tingkat menengah keatas. Dimana, konsumen di tingkat ini memiliki kehidupan yang tergolong sudah modern.
2.3.4. Psikografis
- Konsumen yang memiliki gaya hidup menyenangkan dan sehat.
- Konsumen yang suka hidup dalam kebersamaan, berkumpul, dan saling berbagi.
2.4. Metode S.W.O.T
Untuk menghasilkan identitas visual yang baik dan sesuai, diperlukan pengolahan data yang baik. Salah satunya melalui metode S.W.O.T. Metode ini ditemukan oleh Albert Humphrey. Metode ini dilakukan untuk mengetahui:
- kekuatan (strength), yang merupakan segala sesuatu yang dimiliki dan dapat melancarkan perjalanan sebuah perusahaan
- kelemahan(weakness), yang menjadi penghambat jalannya sebuah perusahaan
- kesempatan (opportunity), yang datang dari luar dan mampu memperluas perjalanan sebuah perusahaan, dan
Tabel 2.1. Metode S.W.O.T Rumah Makan Surabi Imut
Kekuatan Kelemahan
Peluang
- Surabi Imut mengembangkan menu surabi kedalam 38 rasa. - Nama “Surabi Imut” mudah
dihafal dan dikenal oleh konsumen.
- Belum ada klasifikasi terhadap menu yang disediakan oleh Surabi Imut
- Kurang konsisten terhadap identitas visual-nya
Threat
- Surabi lain pun mulai mengikuti jejak Surabi Imut yang telah mengembangkan kue surabi kedalam berbagai rasa.
- Surabi lain pun mulai menggunakan nama yang sama-sama mudah dihafal
- Surabi lain sudah melakukan klasifikasi terhadap menu yang dikembangkan
- Penerapan logo yang dijalankan oleh surabi lain terlihat konsisten
BAB III
STRATEGI PERANCANGAN DAN KONSEP VISUAL
3.1. Strategi Perancangan 3.1.1. Strategi Komunikasi
Dalam pembuatan identitas visual pada Surabi Imut, cara berkomunikasi harus diperhatikan. Baik dari sisi budaya perusahaan, maupun dari sisi konsumen dan budaya berkomunikasi di lingkungan sekitar. Apabila hal ini tidak diperhatikan, yang terjadi adalah kegagalan dalam menyampaikan pesan dalam identitas visual.
Komunikasi yang digunakan adalah tradisional, segar, dan berkelanjutan. Mengingat rumah makan ini mempertahankan sifat tradisional dari sisi makanan, sifat segar dari bahan pendamping makanan yang beragam dan mengikuti perkembangan zaman, serta berkelanjutan yang merupakan representasi dari upaya untuk bertahan dan berkembang.
3.1.1.1. Pendekatan Verbal
Dengan demikian, bahasa yang digunakan dalam menjelaskan keterangan identitas visual adalah Bahasa Indonesia yang baik dan tidak menggunakan istilah-istilah asing agar bisa dimengerti oleh semua orang.
3.1.1.2. Pendekatan Visual
Tampilan visual yang akan dimunculkan kedalam identitas visual Rumah Makan Surabi Imut adalah representasi dari konsep verbal, yaitu bersifat tradisional, segar, dan berkelanjutan.
Unsur-unsur yang akan digunakan merupakan interpretasi dari konsep tersebut. Konsep ini diterjemahkan dalam beberapa pilihan unsur visual diantaranya bentuk dasar yang bersifat dinamis, pemilihan karakter yang berkaitan dengan sifat tradisional, segar dan berkelanjutan.
3.1.2. Strategi Kreatif
Selanjutnya unsur lain dapat digunakan sebagai gagasan kreatif, salah satunya adalah proses pembuatannya, termasuk bahan pelengkapnya, seperti cairan santan ataupun cairan gula merah.
Dalam hal ini sifat produk pembuatnya yang cair, proses pemasakan yang menghasilkan produk matang yang kemudian disantap selagi hangat, merupakan representasi konsep yang disusun. Sifat-sifat inilah yang secara bertahap dimanfaatkan untuk menyusun bentuk logo yang akan dibuat.
3.1.3. Strategi Media
Identitas visual Rumah Makan Surabi Imut akan dikemas kedalam logo. Aplikasi logo ini disusun pada beberapa media pendukung keberadaan rumah makan ini.
Adapun beberapa media pendukung yang merupakan hasil penerapan logo kedalam beberapa media, diantaranya:
3.2. Konsep Visual
Konsep visual dalam pembuatan identitas visual Surabi Imut ini menggunakan penyederhanaan dari berbagai bentuk asli yang memiliki kaitan erat dan menjadi ciri khas utama dari surabi yang merupakan ikon makanan khas Kota Bandung. Melalui tahapan pemilihan, penyederhanaan, sampai penataan bentuk-bentuk tersebut kedalam satu kesatuan yang saling mendukung tersebut, bisa didapatlah pencerminan identitas Rumah Makan Surabi Imut secara visual.
3.2.1. Konsep Logo
Konsep logo yang dibuat untuk Rumah Makan Surabi Imut diperoleh dari sesuatu yang menarik perhatian melalui warna dan rasa. Melalui tampilan logo yang unik, mudah diingat dan memiliki tingkat keterbacaan yang baik.
Gambar 3.1. Gambar contoh coretan kinca diatas kertas Sumber: Dokumen Pribadi
Bentuk logo dibuat bulat seperti bentuk surabi, tetapi tampak seperti coretan untuk mencerminkan kesegaran yang
berkelanjutan. Selanjutnya bentuk dibuat terpisah-pisah, menunjukkan gerak berputar membentuk lingkaran.
3.2.2. Tipografi
Gambar 3.2. Gambar contoh huruf yang terbuat dari kinca Sumber: Dokumen Pribadi
Gambar 3.3. Gambar tipografi kinca yang sudah digambar ulang Sumber: Dokumen Pribadi
Gambar 3.4. tipografi Myriad Pro Regular, Italicdan Bold
Tipografi dibuat sejenis dengan karakter logo, yaitu menggunakan cairan kinca. Cairan ini dikemas membentuk huruf-huruf yang nantinya akan digunakan untuk mendukung keberadaan logo dan aplikasi desainnya.
3.2.3. Warna
Logo baru Surabi Imut menggunakan tiga warna yang diambil dari palet Pantone Solid Coated dan ditetapkan sebagai warna utama hasil pemilihan untuk mendapatkan warna yang memunculkan makna-makna baik.
Warna hitam digunakan sebagai warna logotype. Warna ini diambil dari palet Pantone Solid Coated karena takaran campuran warna CMYK sama rata 100%. Warna hitam menampilkan kesan profesional, tingkat pengetahuan yang lebih dalam, modern, sesuatu yang baru, dan mewakili sifat padat.
Warna cokelat dengan kode Pantone 181c digunakan sebagai warna logogram Surabi Imut setelah warna cokelat 159c. Warna ini mewakili sifat tradisional, klasik, alami, dan mewakili warna makanan cokelat.
Warna hijau dengan kode 394c dipilih untuk warna hijau lembaran daun pisang. Warna hijau ini dipilih karena termasuk warna yang mampu membangkitkan selera makan dan menampakkan kesegaran.
Warna hijau 394c dipadukan dengan warna hijau muda dengan kode Pantone 360c yang digunakan sebagai garis-garis vertical agar terlihat penurunan warnanya dengan jelas dan memperlihatkan pendekatan yang jelas kepada bentuk asli dari daun pisang.
BAB IV
MEDIA DAN TEKNIS PRODUKSI
4.1. Logo Surabi Imut
4.1.1. Proses Pembuatan
Dalam membuat logo Surabi Imut, dilakukan beberapa tahapan yang dilakukan secara berurutan dan disiplin. Tahapan-tahapan ini dilakukan agar menghasilkan logo yang sesuai dengan konsep dan brand Surabi Imut sendiri.
Tahapan pembuatan logo baru ini antara lain: • Pengumpulan Kata Kunci
Kata kunci didapat dari hasil peninjauan profil, visi, dan misi Surabi Imut. Selebihnya didapat berdasarkan hasil pengamatan dan penilaian penulis terhadap Surabi Imut. Dari hasil pengumpulan kata kunci, didapat beberapa kata kunci disertai pengembangannya sebagai berikut:
Kata Kunci Pengembangan
Surabi - Bulat
- Bagian atas berwarna putih dan bagian bawa berwarna cokelat matang
- Surabi asin dan pedas (oncom)
Makan - Selera makan (nafsu makan baik) - Alat makan (sendok, garpu, piring,
mangkuk, hotplate, cawan, gelas) - Memakan
- Dimakan - Termakan
- Saling memakan - Makanan
Tradisi - Cara memakan (diatas piring atau mangkuk, dibungkus dan digenggam menggunakan daun pisang)
- Cara memasak (dipanggang diatas bara)
- Alat memasak (mangkuk tembikar, bara api atau kompor gas)
- Penyajian rasa
- Makanan ikon khas Kota Bandung
Eksperimen - Inovasi
- Membuat dan mencoba sesuatu yang baru
- Poin (digambarkan dengan poin atau penataan titik-titik)
- Siklus (digambarkan dengan lingkaran)
Tabel 4.1. Tabel kata kunci untuk logo baru Surabi Imut Sumber: Dokumen Pribadi
• Pembuatan Sketsa Kasar
Setelah melalui pemilihan dan pengelompokan kata kunci yang sudah dikumpulkan, kemudian dibuatkan sketsa kasar untuk mendapatkan visualisasi dasar yang berguna untuk panduan pembuatan logo yang akan dilanjutkan pada tahapan selanjutnya.
ini hasil akhir masih berupa kumpulan logogram dan logotype yang terpisah.
Gambar 4.2. sketsa kasar kedua untuk logo baru Surabi Imut Sumber: Dokumen Pribadi
Gambar 4.3. gabungan hasil pemilihan sketsa kasar untuk logo baru Surabi Imut
Sumber: Dokumen Pribadi
• Eksperimen Media
Gambar 4.5. Eksperimen media untuk logotypebaru Surabi Imut Sumber: Dokumen Pribadi
Gambar 4.6. Eksperimen media untuk tipografi Kinca Surabi Imut Sumber: Dokumen Pribadi
• Pemindaian dan Penggambaran Ulang
Setelah mendapatkan hasil ekperimen media yang cukup, tahapan pembuatan logo dilanjutkan kedalam tahapan pemindaian dan penggambaran ulang menggunakan perangkat lunak komputer.
Perangkat lunak yang digunakan adalah Adobe Illustrator CS 2, karena dengan menggunakan perangkat lunak ini, pembuatan logo bisa semakin mudah dan tidak perlu khawatir akan ketepatan warna.
• Peninjauan Ulang dan Penetapan
Gambar 4.7. Logo utama yang telah melalui proses peninjauan dan penetapan
Sumber: Dokumen Pribadi
• Pembuatan Ketentuan-ketentuan Logo
4.1.2. Elemen Visual
Elemen visual berfungsi sebagai unsur pendukung logo yang bisa ditempatkan sebagai pendukung layout pada manual book atau digunakan sebagai latar di berbagai media.
Elemen visual yang dibuat untuk mendukung logo baru Surabi Imut diambil dari salah satu tradisi pengemasan surabi tradisional yang masih menggunakan daun pisang. Selain karena alasan tradisi, warna hijau klorofil dari daun pisang pun mampu meningkatkan selera makan.
4.2. Manual Book Logo Surabi Imut
Manual book adalah media utama yang menjadi panduan atas semua ketentuan yang sudah ditetapkan dari logo baru Surabi Imut. Melalui buku panduan ini, Surabi Imut bisa dengan mudah memproduksi peralatan dan perlengkapan yang sudah merupakan bagian pengaplikasian logo.
4.2.1. Media Manual Book
Ukuran dari manual book ini sebesar 42cm x 29,7cm untuk mendapatkan keterbacaan yang baik serta ruangan yang luas bagi gambar keterangan yang dicantumkan.
4.2.2. Teknis Produksi Manual Book
Dalam pembuatan manual book ini, digunakan teknik pencetakan laser printing untuk kedua bagian baik sampul maupun isinya karena artpaper hanya mampu menyerap tinta pigmen serbuk dari dalam mesin cetak laser. Sedangkan untuk penjilidan menggunakan softcover dan laminasi glossy agar terlihat mengkilap namun tidak terlihat begitu formal.
4.3. Aplikasi Media
Melalui manual book, pengaplikasian logo baru kedalam kemungkinan berbagai media yang sudah dipilih menjadi mudah. Sehingga proses produksi bisa disesuaikan dengan ketentuan pengaplikasian logo kedalam media yang sudah ditentukan. Berikut adalah beberapa media yang sudah dipilih untuk mengaplikasikan logo baru Surabi Imut.
4.3.1. Sign System
Gambar 4.8. Main sign Surabi Imut dalam format 3D Sumber: Dokumen Pribadi
Main sign yang dibuat berupa ekstensi dari bagian bangunan dengan bahan dasar batu bata yang dilapis dengan campuran pasir dan semen yang diberi sentuhan elemen visual daun pisang menggunakan campuran cat tembok dan waterproof. Ekstensi tersebut dibuat naik keatas dan ditambah neon glow berwarna putih yang diberi gambar logo yang menggunakan bahan yang sama agar bisa terlihat baik siang maupun malam hari.
4.3.2. Daftar Menu
bisa dengan mudah diberi tanda checklist pada bagian menu yang dipilihdan menghapusnya kembali.
Gambar 4.9. Daftar menu Surabi Imut Sumber: Dokumen Pribadi
4.3.3. Kartu Nama
Gambar 4.10. Kartu nama Surabi Imut Sumber: Dokumen Pribadi
Kartu nama ini dibuat empat halaman bolak-balik dan dipisahkan kedalam dua bagian kertas. Kemudian dicetak dua muka diatas kertas linen putih dengan menggunakan mesin cetak laser.
Untuk proses lipatan, halaman pertama dipotong menjadi dua bagian dan diberi tanda pada seperempat bagian untuk perekatan. Pada bagian kedua, seperempat bagian sisi kanan dan kiri dilipat sejajar secara vertikal. Kemudian, kedua bagian direkatkan satu sama lain pada sisi yang telah diberi tanda lalu buat sebuah lipatan
.
4.3.4. Kop Surat
Gambar 4.11. Kop Surat Surabi Imut Sumber: Dokumen Pribadi
4.3.5. Nomor Meja
Nomor meja dibuat menggunakan hasil cetak rancangan penomoran yang direkatkan diatas karton setebal 3 mm dengan alas berukuran 7 cm dan kedua sisi berukuran 10 cm.
4.3.6. Sampul Nota
Sampul nota dicetak diatas kertas artpaper 360 gsm dengan ukuran 15 cm x 8 cm.
Gambar 4.13. Sampul nota Surabi Imut Sumber: Dokumen Pribadi
4.3.7. Piring
Gambar 4.13. Piring Surabi Imut Sumber: Dokumen Pribadi
4.3.8. Kaos Seragam
DAFTAR PUSTAKA
Herayati, Yetti. (1986). Makanan: Wujud, Variasi, dan Fungsi serta Cara Penyajiannya pada Orang Sunda di Daerah Jawa Barat. Bandung. Depdikbud.
Klimchuk, Marianne. (2007). Desain Produk (Gramedia, Trans.). Jakarta: Erlangga.
Rustan, Surianto. (2009). Mendesain Logo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Suherman, Eman. (2008). Business Entrepreneur. Bandung: Alfabeta.
Wheeler, Alina. (2009). Designing Brand Identity: an Essential Guide for the Whole Brand Team. New Jersey: John Wiley & Son.
Data Riw ayat Hidup
Curiculum Vitae
Data Diri
Nama : M uhammad Taufiq Hidayat h
Tempat Tanggal Lahir : Tasikmalaya, 12 November 1989
Tempat Tinggal : Rajamandala, No.100 RT/ RW 03/ 03 Bandung Barat
Berat dan Tinggi Badan : 169cm / 60kg
Nomor Telepon : 089656144642
Email : vick_got [email protected]
Pendidikan Formal
1995-2001 : SDN Rajamandala Kulon 1, Bandung Barat
2002-2004 : SM P Ciledug Al-M usaddadiyah, Garut
2005-2007 : SM AN 5 CImahi
2007-2011 : UNIKOM (Universit as Komput er Indonesia) Fakult as Seni dan Desain,
Kemampuan
Kemampuan Desain Grafis : Ilust rasi (t radisional dan digit al), Company Profile, Social
Campaign, Sales Promot ion, Film.
Kemampuan Aplikasi : M S.Word, Excel, Corel Draw , Adobe Creat ive Suit , Aut odesk 3D
M ax
Kemampuan Int ernet
Seminar
1. Seminar Int ernasional Gerakan 3R, Hot el Novot el Bandung