AFLATOKSIKOSIS PADA UNGGAS
S K R I P S I
oleh
NUNING DWI ESTill
B. 16.0105
F AKUL TAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
RINGKASAN
NUNING DWI ESTITI. Aflatoksikosis Pad a Unggas (Dibawah bim bingan Pursani Paridjo, Harnowo Permadi dan Bambang Kirana di) •
Aflatoksikosis pada unggas sudah dideteksi sejak ta-hun 1952 di Indonesia, dan penyakit yang disebabkan oleh kapang Asuergillus ini terus saja berkembang hingga saat ini sejalan dengan pesatnya perkembangan peter.akan unggas. Penyebaran Aflatoksi:,osis berlangsung dalam w')ktll begi tu singkat k8rena beberapa faktor penentu yang secar3. alamiah dimiliki oleh セセ。ー。ョァ@ 'lsperp:illus dan keadaan iklim di IndQ. nesia dengan suhu d.qn kelembabgn Y"ng relati f tinggi. Fak-tor pendukung adalah kondisi pertanian secara umum di nega ra berkembang dimanA pengelolaan pasca panen merupakan ran tai poling lemahdalam proses pengadaan makanan ternak.
Tulisan ini bermaksud untuk G[セ・ョケ。ェゥォ。ョ@ beberapa data peneli tian aflatoksikosis, baik mengenai sumber aflatoksin i tu sendiri, si ft.t-sifat aflatoksin menyang!:ut si f"a t fisik,
toksisitasnya serta daya mucagen relatif yang dimiliki エ・セ@
hadap mikroba·tertentu, dan lebih jauh lagi mengenai target primer perusakan aflatoksin. Diharapkan dari data tersebut dapat bermanfaat sebagai dasar ilmiah dqlam penelitian le-bih detail. Hengingat juga behwa pengobatan aflatoksikosis pad3 unggas hingga saat ini belum ditemukan, sehingga usa-ha pencegausa-han cenderung lebih diutamakan.
Oleh
NUNING DWI ESTITI B. 16. 0105
Karya tulis ini sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar
Dokter Hewan
pad a
Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor
FAKULTAS KEDOKT'CRAN HEV/AN INSTITUT PERTANI ''iN BOGOR
Bog
0r
AFLATOKSIKOSIS PADA UNGGAS
SKRIPSI
01eh
NUNING
DWI ESTITI
B. 16.
0105
Te1ah diperiksa dan disetujui
セG@
(
(Drh. Pursani Paridjo)
Pembimbing
oleh
(Drs. Harnowo Perrnadi)
Pembimbing
(Drs. Bambang Kiranadi MSc.)
Pembimbing
cU-Penulis dilahirkan di Purworejo, Jawa Tengah
tepat-nya pada tanggal 16 Juni 1960, sebagai anak kedua
dari
enam bersaudara keluarga ibunda Martiningsih dan ayahanda
Widayat Reksodihardjo Calm). Pnda tahun 1965 penulis masuk
Taman Kcmak-knnak Seruni I di Purwore jo dan tahun 1967
ma-suk Sekolah Dasar Kristen Pangen di Purworejo kemudian
lu-lus tahun 1972 dari SD yang sarna. Melanjutkan sekolah di
SI>1P Negeri I Purworejo dan lulus pada tahun 1975. Lulus d§.
ri SW'l Negeri pada kota yang sarna pOlda pertengahOln tahun
1979.
Tahun 1979 penulis melanjutkan pelajaran di
iョウエゥエセエ@Pertanian Bogor. Satu b.hun kemudian diterimC\ sebagai mah§.
siswa Fakultas Kedokteran Bewan IPB. Hemperoleh gelar
KATA PENGANTAR
Penu1isan naskah ini disusun berdasarkan te1aah
pus-taka dan data sekunder dari beberapa hasi1
セ・ョ・Qゥエゥ。ョN@Ma-salah ycmg dipe1ajari ada1ah af1atoksikosis pad a unggas
、セ@ngan sedikit 1atar belakangnya, seperti penyebarannya di
berr;agai negara dan 1ingkungan pendukung serta beberapa s1
fat af1atoksin itu sendiri.
Da1am kesempatan ini penulis menyampaikan rasa
teri-makasih yang menda1am kepad? orang tUa, khususnya ibunda
tercinta, atas segenap kasih sayangnya. Untuk Oom dan Tall
te atas sega1a dorongan mori1 dan
セ・ョァッイ「。ョ。ョョケ。@juga
ウ。セ@dara-saudaraku.
Rasa terimakasih yang menda1am juga kepada segenap
guru yang pernah mendidik penu1is, terutama Drh. Pursani
Paridjo, Drs. Harnowo Permadi dan Drs. Rambang Kiranadi MSc.
a tas sega1a bimbingan, saran dan kri tik sCl.mpai terwujudnya
tu1isan ini.
Akhir kata penu1is dengan rendah hati menyadari
se-penuhnya bahwa tu1isan ini masih jauh dari sempurna, namun
demikian penu1is berharap semoga bermanfaat.
Bogor, Januari 1985
Ha1aman
DAFTAR TABEL D.\FTAR gaセュar@
I.. PEND \HULU L\N ... 1
II. Surv,BER AFLl\.TOKSIN .••.••••••••••..•••••• 5
1. AsperGillus ...
5
2.
Biosintesa Aflatoksin
••••••••..•••••
7
3. Struktur dan Sifat Aflatoksin ••••••• 9
3.1. Aflatoksin Induk ••••••••••••••• 9
3.2. Af1atoksin LRinnya ••••.•••••••• 10
3.3. Sif'lt-sif·,t Aflatoksin ••••••••• 13
III. TOK.3ISITlS ,lFLATOKSIN PAD A UNGGAS •••••• 18 1. Efek Biokimia Aflatoksin •••••••••••• 18 1.1. Gangguan Fungsi Mi tokondria •••• 18 1. 2. Gangguan Sintes8 Lem'1k ••••••••• 18 1.3. G8ngguan Aktivitas Enzym ••••••• 19 1.4. Gangguan Terhedap Jaringan d'3.n
Komposisi Darah
•••••••.•..•••••
201.
5.
Gangguan Terhadap DayaImmuni-tas
...
20 2. Gangguan Sintesa Makromo1elm1 ••••••• 212.1. Pengaruh セヲQ。エッォウゥョ@ t・イィ。、セー@
2.2. Pengaruh Aflatoksin Terhad"p
Sintesa DNA .. " ... '.' .. .. .. .. .. .... .. .. 22
3.
Gangguan Fisiologi ... 224. Metabolisme Distri busi dan Ekskresi •• 26
5.
Gejala Klinis ...26
5.1. Pada Kalkun •...•...••••.
27
5.2.
Pada Itik5.3.
Pada Ayam...
...
"...
6.
Patologi-Anatomi...
"...
"....
" .. "..
...
"...
"...
"... ..
6.1.
Pada Kalkun6.2. Pada Itik
...
"...
"..
".... ..
6.3.
Pada Ayam....
" " "...
"..
"...
"..
"27
27
28
28
28
28
7.. Histopatologi ... " .. " .. " ... ""... 29
7" 1. Pads. Kalkun ... " ... """" .... " .. ,, 29
7.2.
Pada Itik7.3.
Pada セ。ュ@....
"...
"...
"....
" "" .. "
....
" "....
"..
"..
"..
" " "...
" "29
30
I V. ISOMSI DAN IDENTIFJKASI AFL,lTOKSIN •••••
33
1. Metoda Eks traksi ... " ... ,,"..
33
2. Pemurnian Ekstrak Kasar
...
" ..3.
Identifikasi Aflatoksin..
..
.. ....
....
..
.. ..
..
.. ...
4.
Mempersiapkan d,m VerifikasiSam-33
34
pel Standart Aflatoksin ••••••••••••••
34
V. PENGOMTAN DAN ーセZイQcegahan@ •••••••••••••••
36
1. Perlakuan Fisik . . . •
36
1.1. Pengaruh Radiasi . . . •
36
1.2. Pengaruh Pan:Cls ••••••••••••••••••
37
2.1. Pe,·:t;A.ruh Oksidasi .. . . . . . .
38
2.2. Perlakuan denGan Asam
••••.•.••••
39
2.3. PengA.ruh b。ウNセ@ ... 40
3.
Perusokan Aflatoksin Secars Biologik •
42
VI. KES iャセpulQQn@ DAN
DAFTAR PUSTAKA
S.\Rt'lN ... .
...
44
D JlFTAR T イセb@ セl@
Nomor Ralaman
1. k。ー。ョァMォセー。ョァ@ penghasil Aflatoksin dan
Afla-toksin yang Dihasilkan. (Goldblett,
1969)
•.•
9 2. Potensi Mutagen Relatif dari Aflatoksin danMetaboli tnya terhadap Sc)lmonelln typhimurium
(Stoloff,
1980) ••..•...
15
3.
Beberapa Sifat Fisika Aflatoksin y,-,ng penting. (Aibara dan /fayaki,
1969) ...
17
4.
Barbagai Hacam )·likroba dan Pengaruhnya terhi!Nomor
'HalAman
1.
Kapang Asnerr.;ill us. (Davis d"'lam Paul, 1972) ••
6
2. Rangkaian Biosintesa Aflatoksin serte
Bebe-rapa Zat
セ・、ゥ。ョケ。N@(Moss d81qm Smith, 1977)
3. Struktur Ulatoksinaflatoksin Induk. (De
-...
8
troy, .§.t £1.1, 1971) • . . . • • 10
4. Struktur Aflatoksin Turunan. (Goldblett,
1969 ) . . . 12
5. Pembentukan Aflatoksin B
l
-2,3 Epoksida dnri
セヲャ。エッォウゥョ@
B
l
• (Hayes, 1976)
••••...•..••...•••
14
6. Interkonversi Aflatoksin Bl denBan
Aflotok-sikol. (Shieh dan Wong, 1978) ••••••..••••..••• 15
7. Efek
セヲャ。エッォウゥョ@terhad2p Beret
「。、セョ@ セケ。ュ@Broiler. (Gardiner dalam Diener, 1983) •••••••. 24
8. Efek
セヲャ・エッォウゥョ@ エセイィセ、Bー@Haemoglobin,
Jum-lah 5el Der8h dAn Eritrosit. (Tung, 1975)
.••.•
25
9. Penampakan Klinis Aflatoksikosis
ーセ、。@Kal-kun. (Wyllie
セエ@£1..1, 1978) ••••••••••...••.••.•• 31
10. Histopatologi Hati pada Aflatoksikosis
Itik. (Nyllie
セエ@£1..1,
1978) ...
',"
. . .
32
12. Stru),tur dugaan PerubRhrm AflCltoksin Bl dst
ngan Ammonium I-lidroksida. (Lee dalam Rodri.ck
1975) . . . 41
13. Type Kurva Aflatoksin Bl dan G
l
dibawah
1. PENDAHULUAN
Aflatoksiicosis pad 0. bangsa burune; menurut Bold dan
Meyer (1973), telah dikenal pad a abad 18, kemudian oleh Virchow pada tahun 1856 berhasil diisolasi di Perancis, dan sekitar tahun 1900 dilaporkan di Jerman, Inggris, Itali Ame.rika Utara dan Amerika Selatan. Sehingga p'3.da akhir
a-bad 19, penyakit yang disebahkan oloh genus Asnergillus ini dikaji secara intensif. Pade" tahun 1962, berhasil di-puhlikasikan hi hliografi jamur pada hangs.o hurung dan tel: dapat lebih dari 700 jenj.s jamur patogen. Dari ke 700 jenis
tersebut, genus Asnorgillus yang paling pato.:.;en.
Laporan oleh Ainsworth d[m Bold (1973), mengatakan bahwa ki'SllS aspergillosis mayori tRS -Lerd"pat pad" mamalia
ー。、セ@ abad 19, d"n kasus tersebut te18h 。セGN@ sejak abed 12.
p。、セ@ hewan piara dan jenis newan kesay"ngan, hanY9 terjadi
sec セイ。@ sporod.ik.
AfL; to ksin terutam't diproduksi oleh genus As,' er"illus kemudian oleh Foro;acs dan Wyat t (1975), di temukan pula pa-det genus Peni cillium dan Rhj.z;nus yang telah mellgkonta-minasi maluman ternak. iJienurut Scott §.t .sal dalam Goldblatt
HQYVセIL@ aflatoksin Jidapatkan Dada Asnerpillus niger,
fl.
ostL:mus Wehmer,1\..
ochraceus,/1.
oryzae,/1.
ruber,fl.
wentji, Penicillium citri,;um,£.
freguentans.£.
puberulum 'Bainev, P. カセセゥ。「ャ・L@ dan Rhizopus.
ー。エッセ・ョ@ terhadop tanaman, seuert pndi-padian dan buah-buah an, juga bebernpa jenis serangga, bangsa Durung serta he -Vlan piara (Goldblatt, 1969, 'IIyl1ie ,ian Morehouse d,a1am Wyl
11e,1978). Itik dan kalkun meru G。セ。ョ@ jenis ternak yang sa-ngat peke terhndap aflatoksikosis, tetapi angsa muda dan Durung Pheas',nt mud," lebih peka 1agi, (Edss, 1973, Goldb1at
1969, Huller ,£t ,Si1, 1970 dalRm Loveland, 1982).
Aflatoksil;osis ー。、セ@ unggas pad;; umumnya ter jadi da1am bentuk akut, dengan morbiditas dan morta1itas tinggi pada umur muds .• Bent uk kron:i s biasa [セ}・ョケ・イGャャャァ@ ーセ、GL@ umur deViasa
、・セァ。ョ@ Zセッイ「ゥ、ゥエ。セ@ dan ',ortalitas rendah, (Paul,£t セQL@ 1972). I(f1atoksikosis di<cebut juga "Aphlatoxicosis", "Hou1dy feed disease", "Turkey X disease", "Haemorhagic 、ゥウ・セウ・BL@ " Ha,£ :llorhagic die.these", "Haemorhagic syndrom", "Mycotoxicosis" "Groundnut poissoning", "f'ceal C1.nd peanut poissoning", "EXld
d·'tif di.3these", "Exudatif hepatosis" dan "Water belly". 1--1enurut Detroy (1971), ciri khas aflatoksikosis ada1ah "fatty liver syndrom" (perle:ll"k·,n h.nti), dan bentuk a]wt af1atoksikosis disebut juga "brooder pneumoni", dengan
ge-jala batuk bersDutum, terkadilllg :nenge1uarkan dr-rah, (Paul,
,£t ,Si1, 197::').
Racun ,nng d' h ',s'L1kan 018h j mur secar,'] umum disebut
"mycotoxin" • Hikotoksin oleh "spergi11us di.sebut "aflato
,
3
jenis aflatol,sin yang sud ch diken"l adal;;h 。ヲャセL@ toksin B l , B2, G
l , dan G2, aflatoksikol, aflatoksin Ml , PI dan HI' (Baxter, Wey dan BurD, 1981, WHO, 1979), juca telnh dibuk -ti":an b8hwa'dlatoksin B
l , .nerupakan aflatoksin ,'fang p81 Lng patogen dan b6rsifat k!1.rsinogen. Wogan ,tt セャL@ (1971), dalam penyelidikannya membukt:' krm bchwa afl!1.toksin Bl yang diberi kan dengan kcda.r rendah dD-lam ':!akt u 1 '1m.' m""lyeb" bkan \i: ,nker hati. .
Disinyalir bahwa makanc,n ter.,e.k di Indonesia yang ter: kontaminasi afl·,toksin 、rーセエ@ menyebabkpn kern tian dan
mcnurunkan produksi, (Batzel.!lot .sal, 1981). Pen,',litian sebelum -nya nada t",hun 19'79 olE:h Eatzel dan SutLno (1979), m:·"e:::.U-kan bahwa rata-rata tin;;kc,t afl<,tokE'oin "2d2, jggung eli
Indo-nesia ad·"lah 164 ug/kg dan 19 ug/kg ョGセ、。@ tepunc li:sdel"i j_mport. Pad3 penelitian tersebut, aflatoksin ditsmukan pada hampir
90% sampel y:mg diuji, sedangkaniiak-'nan 'Cer.ak tersebut oleh peternak diberik9.n p"da i エゥャセ@ y,'nG ciinelihcra seCara ill
ter,sif. Pad a 1980 Ginting GGQ・ャョーッイォNセNョ@ .cd::mYfl afl"toksikosis pada i tik-i tik y,'ng di ,·clihara secara ekstensif di Jawe Te-ngah berdaso.rl,an hC1sil nerneriksaan kli "jk, patologi-!'matomi dan ィゥウエッーセエッャッcゥォNs・ャセョェオエセケ。@ menurut Ginting kandungan aflatoksin ransum finisher di Daerah J<:hu,;uG Ibukota Jakarta Raya telah menca}Yi 46,7 npb, dp.l1 sangr;t b·.rb:'.haya bagi ter. nak itik serta nlp.nusia.Jiteng セエ@ §.l, (1971), melaporkan 「セィM
wa ォセ」。ョァ@ tanah dan hasil ッャ。ィセョョケ。@ demikian juga rokok dan
di Bogar セ・ョァ。ョ、オョァ@ aflatoksin melebihi kadnr yang dianggap berbahaya untuk mrmusia. !-!enurut Culvenor dalam Ginting
(1983), manusia dapat menerima aflatoksin hingga 30 ppb.Pada tahun yang sama CuI venor berhasil membul,tikan b hwa ba -tas kemampuan ayam teri,c.dap aflatoksin adalah 200 !,pb. LD
50 dil.3por;'an oleh Smith (1977), ter-:,ad'lp embryo ayam :-akni 0,024 ug/ ・セャ「イケッL@ terhp_d-'p itik 0,35 ug/kg, b8bi 0,6 uG/kg,
anjing 0,5-1,0 ug/kg, sapi 0,3-0,6 ug/kg dan domba 1,75gu/kg. Dari laporan diatas terlih.t bahwa aflatoksin meru'a-kan ancaman yang "l]erlu di1)erhitung;,an, bDhko.n lebih jauh l;a
gi karena batas \;emampuan manusia オセエオォ@ menerima -·flatoksin
II. SUMB"SR AFLI,TOKSIN
Aflatoksin merupakan produk metabolit dari beberapa genus senerti Asnergillus, Penicillium, ,ian HhizODUS, namun pada umumnya dih'l_silkan oleh "-enus tcsnerci llus, dan yang Pil ling umum 、ゥャMセ・エ・セョオォ。ョ@ dari genus ini ad,lah asセjB⦅@ rgillus fla vus, dan Asne,'gillus par8s'ticus
1. As-oergillus
Tera,8suk fam:Lli Ascomycetes, dan seb,,(,'i fungi tidak berkhloro fil, sching!':8 tidak dspa t menyusun b:,h" n orgrmik seperti lernak, karbohid_at dan protein, tetapi harus hidup
ウ・「。ァセゥ@ saprofit.
Suora Asnergil1us dapat ditemukan diudara, air dan til n,h. Pertumbuhan ウーセイ。@ tersebut di"engaruhi oleh substratum cempat tumbuhnya, temperatur, kad r air, d.,n 02 serta illBte-rjal toksik, (ITesseltine, 1974). Kelembaban ontimal subs-tratumnya adalah 15%, (WYRtt, 1977), d'-ll} l;:elembat'm optimal lingkungan adal<oth ')0)&-903,;, (Goldblatt, 1169). 'j'emDeratur OD.
timal pada 1\sner'-:il1us flavus adal;eh 36 C - 38 C, sedang Ull t uk \sryer'p;i 1] us Darasi ti eus ad-31ah
30
C -35
C. 'hdup dalam keadaan aerob, to1eransi terhadap CO2 sangRt bervariasi, ter gautung jenisnya, (Goldblatt, 1969). Beberarya material sepeL ti asam pron'onat, as am asetat, asam 「・ョコッセエL@ centi?n violet dapat mengkontrol perkembangan ASDergillus dan produknya.\sner3i]lus ヲャセカオウ@ dan
d.
parasiticus senerti jenis dilri aウセ・イ・ゥャャNオウ@ yang ャセゥョL@ tumbuh 」・セZセエ@ ーセ、Y@ Sabouroud agar
Cycloh;,ximide, kare: a jamur ini sangat sensi ti
fterhadap
[image:17.616.98.469.91.669.2]antibiot1k tersebut.Lihat Gambar
1.Gambar
1.
Kapang Aspergillus,
A.
Hyphae diambil
dari paru-p:oru dengan NaOH.
B.sama
dengan A x 690.
C.Koloni pad';
Sabo\l-raud
。セ。イN@D.
vonidosnhor.
7 Koloni Asnergillus tumbuh dengan cepat, dat,"r dR.n pa-da mUlanya berwaru? putih, sedikjt berbulu, エ・エセーゥ@ bersama-an dengbersama-an perke:r.bbersama-angbersama-an セ\ッョゥ、ゥ。L@ " erubah men jadi Ie bih biru gelap kehijauan dan kelihR.tan berbubuk. Kultur yang sudah
tua 「・イセ。イョ。@ ォ・ィゥェ。オセョ@ hingga hijau ge18p sangat knrakteri§
tik. Dari submarginal hifa t Lilnbuh konidi a. Fan jang konidia seki tar 400 - 1000 u, bere,ris teEgah 5 - 15 u. Konidia ber. bentuk bola, wa.rna hijau, berdinding l<:as':r, b"rnermukaan k.a sar, tajam dan ォ・ャゥィ。エセョ@ berduri. Konidiospor yang meluas berakhir dengan adanya vestkel. Vesikel berbentuk seperti botol terlJolik dengan das:er bul"t dan leher panjang. Berga-ris tengah antara 10 - 30 u.
2. Biosintesa Aflatoksin
Produksi aflatoksin oleh Asnergi'lus dipengaruhi oleh Sll
sunan ;',omponen medium tempat tumbuh, LセG[ョァオBャdG[|ャャ@ dEm agi tasi, juga proses fermentasi yang berlangsung. Bebcirapa prinsip tentang produksi me' taboli t secund<or ini dikemulw.kan oleh Barrow セエ@ .aI, dalllll1 Smith, (1977), menurut Barrow ter-bentuknya aflatoksin dimulai dari k01ebih0n senyawa ォセイ「ッョ@
dan nutrisi seperti Bセi@ trogen dan n;josph"t serta magnesium. Dikemukakan lebih jauh bahwa p8rtln(.uhil.11 kul tur biasa di tall dai dengan ad,c,nya nutrisi yang dibuc,ng, untuk :nem,,)ertahan -ken keseimbangan pertumbuhannya. Melalui proses pembuangan atau dengan cara mengurangi k8ndungannya sendiri, '1ycelium mengambil ォGセ「ッョ@ yang kemudian diubah ュセョェr、ゥ@ ーッャゥウ。ォ。イゥ、セ@
atau akumulasi, y"ng l<smudta 、ゥャBョェオエォセョャ・ョァアョ@ fase stasi onary atau fase m-,intenence (pengelolaan). Selain itu dise-but juga f-se idiophase, ォセイ・セ。@ idiosyncrasi (keanehan),
jenis spesifik al:1m yang berbsda V-d-, jamur. Disini tidak akan 、ゥ「ゥ」セイGォ。セ@ secara tcrusrinci biosintes., aflatoksin , karena harus di telusuri s"tu-Dersatu re::gk.qi:'n reaksi yang
scm::;at kompleks. Namun te}ah diDkui b-,h'-a Doliketida '11eruPia kan molekul p-::mul'l aflatoksin, :: enudian melalui bd-Jer',po tia
h8pan klarifi:,',lsi ber,.;abung deng-n sis tim cincin difuran. Inti :uolekul tersebut jug" harus melalui bei),'rap.:', turunan
tahapaJ!Jl-tail' .. p'm peromb::k·,n ,:iari anthra,quinon, セャ・ョェ。、ゥ@ xan ton kemudian msnjadi cfl'1toksin B
l . Jambar 2. menunjukkan
rangkaian biosintesa af12toksin 、セイゥ@ anth"8quinon serta
[image:19.613.79.430.427.692.2]3.
Struktur dan Sifat Aflatoksin
3.1.
Ulatoksin Induk
9
Produk
。ヲャセエッォウゥョ@oleh bcberpa
ヲセョオウ@diken·.l sebngai
aflatoksin induk, yaitu aflRtoksin Bl , B2 , Gl dan G2 • Tabel
1. menunjukkan bEber'·,p" jenis k"lna'"g dene;an pro-Juknya.
Tabel 1: Kapang-k.Rpang pengh8sil .\flatoksin
dan
セヲャ。エッォウゥョ@yang
、ゥィ。ウセャォ。ョN@Jenis k'Jpang
Kelompok Asnergillus flavus
asd・イセゥャ}オウ@
flavus
セN@
flavus var columnaris
A.
oryzae
fl.
parasiticus
A.
uarasiticus var globosus
Species-species lain d"ri Aspergillus,
セN@
niger
A.
ruber
A.
osti anus
Ii.
ochraceusPenicillium puberulum
;e.
Y8riable
;e.
freguentans
;e.
citrini urn
Rhizouus sp
Aflatoxin
Bl B2 G1 G2
B2
Bl B2
B1 B2 G1 G2
B1 B2 G1 G2
Peni ci11i urn,
Bl
Bl
B1
G1
B1
B1 B2 G1 G2
B1
Bl
B1
B1
G
1
Rhizopus
[image:20.613.55.536.169.672.2]Struktur af1atoksin-aflatoksin induk adalah seperti
pad3 Gambar
3.
)
(iambar
3.
;3truktur Afl;;toksin-aflFltoksin induk
(Detroy
セエ@ セャL@1971).
3.2.
Aflatoksin
ャ。ゥセョケ。@Aflatoksin lain xerUDAknn turunan
、セイゥ@aflatoksin-a
flatokRin induk. Senerti Flflatoksin Ml didaptkan sebagRi
metabolit aflatoksin B
l
•
aヲャ。エッセセゥョ@Ml ini pertamakali
di-jumpFd didal
セュ@air susu
ウセQIゥ@perah yp.ng ternyata te1:'h
melld'<D3t ransum ;.erkont··mill.8si afl.,toksin. ,\khirnY3 me1c,lui
terbukti 「セィキ。@ aflatoksin Ml juga didapAtkan pada anjing. Dan oleh Loveland (1982), didapatkan ー。、セ@ kalinci sebagai metabolit aflatoksin B
l , Dikemukakan JUGa pセ、b@ penelitian tersebut b",hwa "Hixed Fungtion Oxidase-MFO" (enzym oksidasi)
dan enzym si tosolik didalam mikrosom h ti berperan sebs,gai media nrorluk カセイゥ。ウゥ@ metobolit ini. Pada tahun 1970 Patter-son .§.t ;aI, ュ・ョ・セョオォNLョ@ aflatol-.sin
l'\
didal' :'f. ginjal i tik danl1ary (1980), mel porkan ad:my" aflr,toi<;sin ;':1 padn ayam. Asnergillus f18vus Dado セ・、ゥ。@ asam m nghasilk"n
afla-toksin yang 「・イヲャオッセ・ウ・dウゥ@ セゥェ。オ@ セ。ョ@ biru akan tetapi ュ・ューセ@
nyai ォ・ーッャセイ。ョ@ yeng lehih beser d"n berday" r?cun labih
ke-tagenik (PohLm .§.t .9), 196"), Ke:TIudi,n ""dc tahun y;omg sarna hasi1',-,neli ti "'n oleh Ciegler dan Patterson mengungkapkan bahwa aflatoksin エ・イセ・「オエ@ merupak'n turunAn d"ri aflatoksin B2 dan G
2 dan disebut aflntoksin B2a dan aflatoksin G2a, Pa-d8 ーイゥセウゥーョケセ@ ad"ny, pcn"mbahan gugus hidroksil pada moleku1 asal menunjukkan turun:m dari molekul tersebut,
,\flatoksin B
l , B2, Gl , dan G2, dapat diubah baik secia ra in vivo maupun in vitro menjadi turunan-turunannya seper-ti ::flatoksin GM
l , ;:;flatoksin GH2, aflatoksin B
3
(parasi tikol) afl2toksin PI dcln "'flRtoksin Ql serta aflato:csin RO(aflatok-sikol). Aflatoksih Ml yang '"erday" racun h'lmpir meny,mai afla toksin Bl secara kimia m" upun in vi tro d" ,t di ubR.h menjAdi '":'l,toksin G,'''l dan M
o
o
[image:23.618.41.505.54.660.2]•
Gambar
4.
OH
o
Struktur Aflatoksin Turun.'m Ml , M2 , B2a• GMl , GM2 , Pl,Ql
B
3,
RO' mRセG@ GM 2a •(Goldblatt-1969) •
o
HO
o
0Aflatoksin 111
CH
3
A fla toksin B2aOR
o
HO
Afla toksin M2
Aflatoks:j.n PI
o
o
Aflatoksin
Aflatoksin Gr1
2
OCR
3
Aflatoksin Q
1
CH
2CH20H
OCB
3
Aflatoksin B3
Aflatoksin 112a
3.3.
Sifat-sifat AflatoksinHO
13
i'. fla toksin Rc
A fla toksin GM 2a
Sifat toksisi tas afl', toksin induk p"d,·, ,.,enemuan seb§. lumnya 。、X⦅Qセィ@ Bl G
l B2 G2 (Paul, 19'/2). V!'laupun aflqtoksin hemiasetal, tei-pi sebetulnya aflatoksin B
2a tidak bersi-fat toksil{, 。ォセョ@ tetapi kemungkinan berr:abuns densan asam-asam amino dan protein secara tidak selektif akan meng ga'lgsu bany,k segi metabolisma hati, yang nantinya akan mSl, ngakibatkan nekrosa hati dan menyebabkan keracun8n akut pg da hati. Lain halnya dengan 。ヲャセエッセーゥョ@ Bl yang memang bor-si fat tokbor-sik. セヲャrエッ[サGBゥョ@ ini diakt:l fkan oleh enzym mikrosQ, mal hati membentuk suatu hasil metnbolism? yang bersifat mutagen, dan mempunyai akti vi tas karsinogen,(Pat terson
yang ュ・ョケゥューオャ[セ。ョ@ adanya
2,3
Epoksida ウ・「BN[セ[、@ '.1edia 3kti V:1si y:'ng :nemberikan reaksi 118.da inti sel :IlQkromolekul.
2,3
Epoksida se hagai media akti v,'1si mendesak sftokrom P-450 memberikan efek sitotoksik dan genotoksiknya, (Cambell dan
Hayes, 1984). Skema pembentukan Epoksida sepBrti pRda Gam-baI'
5.
di'Jawah ini.o
GambaI'
5.
) G
ochセ@
a fla エッャセウゥョ@ 131
-2,3
e pOksidaPembentukan aflatoksin d8.ri aflatoksin
Epoksida
Af1atoksin beserta dengen turunannya dap8.t menginduk si mut:lsi pa.da 「セォエ・イゥ@ Salmonella tynhi:nurium. Dari keenam turunan セNヲャ。エッォウゥョ@ Bl tersebut maka aflatoksikol mempunyai d,?ya ':lutagen ,,','3.ng p'1.1inIE besar. Daya racun deng:'n ukuran daya ュオエセァ・ョ@ イッャセエゥヲ@ pada aflatoksin Bl エ・イィ。、セー@ Salmonel la typhimurium 、。ーセエ@ 、ゥャゥィセエ@ oada tRbel 2.
Enzym yang "'Orl)eran D',da ー・イュSセNォッョ@ ?,flatoksin didalam
hati adalah janis enzym okaireduktase,( Stoloff, 1980). Pada sistim enzym ini 11en,c;aki.oatkan interko;lversi antara_ afla
15
Tabel 2: Potensi Hutagen Rehtif dari Aflatoksin dan Metabolitnya terhadap Salmonella tyuhimurium
Aflatoxin Daya xオエセァ・ョ@ Relatif
Aflatoxin Bl
Aflatoxicol Aflatoxin Ml Aflatoxin Hl Aflatoxin
Q
l Aflatoxi.n P
l Aflatoxin B
2a
Diambil dari: Stoloff, (1980).
100
23
3
2 1 0,1o
Gambar
6,
Interkonversi aflatoksin Bl dengan afla-toksilwl. (Wong dan Shieh, 1978).o o
oeN)
.o.flatoksin :8
1
reduktase "iiehidrogenase
, A fla toksikol
Pada hewan yang peka tsr',. d "P aflAtoksin dic1apatk an
aflatoksikol 、ゥ、。ャセュ@ plasma sel hnti, sedanGkan ーセ、。@ hewnn yang tidak peke. tidak 、ゥ、。LLセᄋエォ[ュ@ aflatoksikol, (Wong dalam Stoloff, 1980). Kemudian pemLentukan afl:,toksikol dari
a-f1atoksin 8
1 、セーGャエ@ dipakai sebRGAi ukuran kepekaan hewan
[image:26.627.84.514.75.578.2]dasar daya mutagen relatif エェNョァセゥ@ pada aflatoksikol.
Sifat fisik y"ng menyanckut rumus molekul, bobot mo-lekul ti tik leleh dan emlsi fl uoresensi serta r2te flow d£ pat dilihat pada エセ「bャ@
3.
E:nisi fluoresensi m":wimUCl ini diukur pad a le.rutan aflatoksin did lam chloroform dAn hila menccunakan pelerut 1,1n akc:n didan8tkan emisi fluoresensi dengan pFmjang Gセ・@
-lombang yRng berbeda.
R
f (R,·te of flow) diukur dengen men!
gU:1akan lsmpeng khronl,:togl'" fi 1 pisan tipj s deng,em fase stasionar silika gel 、セョ@ sebag'i eluennya セ、Zャャ。ィ@ c"mpuran d'lri chloroform d".n metanol denc;an ne!'bandingclil
97
d"n3,
Tabel
3
Beberapa sifat fisika aflatoksin - aflatoksin yang penting.bobot ernisi
Aflatoksin Rumus rnolekul molekul Titik leleh fluoresensi
*
(0 C)
Bl
C17J[1206 312 268 - 269 425B2 C17II1406 314 286 - 289 425
G
1 C17H1207 328 244 - 246 450
?2 C17H1407 :,30 237 - 240 450
Ml C17H1207 328 299 425
M2 C17111407 330 293
Silika gel, Kromatografi lapisan tipis, CHC1
3 Sumber:
AIHhHA
dan MIYAKI (1969)CH
30lI = 97 3
R '" f
0,56
0,53 0,48 0,46
[image:28.797.80.666.128.468.2]PAD.'\ UNGGAS
Fat ty liver syndrom (perlem;o,)pn hati) ZサN・イオー。ャセ。ョ@ tan da k1as aflatoksikosis. l'le;·,yusul kemudian bcberapa penell tian yang menyelidiki sebab エ・イェセ、ゥョケ。@ efek tersebut. Pe-nelitian menyangkut efek biokimia 。ヲャ。エッォセゥョ@ sert", セ。ョァセセ@
an p,da m'1kromolekul tel:'h エセョケ。ォ@ diteliti s at ini.
1. Efek Biokimia ,\.flatoksin
1.1. G'ongguan Fun'Ssi Ni tokondria
Penelitian terdahulu oleh Cliffford d8n Rees dalam
an aflatoksin pada tikus セ・ョケ・「。「ォセョ@ peng'!ambRtan konsum-si okkonsum-sigen mitolW!ldria hati, Rt,tel"h
4
jam. Pe):eliti:mtersebut membU:Gl, tRbir ODhvl'1 mitolwndri c., :,erupc1ke.n t,,,rset aflatoksin y?ng sensitif. Penclitian ウ・ャセョェオエョケ。@ m Gョケ。セ。ᆳ
kim bahwa peng":amb8tan oksiclasi 'ni tolw'Y1dria tel' jadi karena aflatoksin mengbambat elektron tr nsport pada sitokrom. Penghambatan ko isumsi oksigen mitokondria P.lsngakibatkan
ー・イオ「。ャILセLョ@ akU vi tas ATP-ase pad" '1"ti d'-n gin j31. Kemamp1l.
an ュ・ョァィセュ「。エ@ elektron trans ort juga dimiliki oleh
afla-toksin lvI
1. G'ingr;uan respir:"si at:?,u GpHIョgャQRュZセLGINエgョ@ elel\tron
transport juga tel' j cedi 'OGd \ ' . 8 ti unggas , (Clifford セエ@ ial
dalam Shank,1981).
1.2. Gapr;r;uan SintesD Lemak
19
bahwa pada dosis
0,625
ug/g pemberia. aflatoksin memperli-hatkan penurunnn serum trigliserida, fosfolipid dan kholes terol pad,' aO'a:', broiler. Deng:m dosj.r: 1 ·bih tinggi terny"ta m'..;mberikan h') si1 yang sarna. Hal ini membuktikAn b[-)h'.'iD.
penghambatan secara menO'eluruh pada transn'crtasi l,:m:ili: me ngurangi tingkat esterifikasi kholestero1. Penghamb"tan transpor, asi lemak pada pemberian aflatoksin d'8ngan dosj.s sangat rendah sesu"i dengan dugaan bahwa dosis rendah aflsa toksin sudah ュHュgZQォゥセL。エォ。ョ@ penlbengk8kan h'ti, serta kenai-kan kadar lem:1k hClti sel:ingGa menc"nai
60%.
Eypotesa yangャセ・ョoG。エ。ォ。Nョ@ ba:"wa GLセ。ョァァオ。ョ@ pada '''let:,bolisma lemak merupakan
akibat prima セヲャ。エッォウゥォッウゥウ@ didukung denga:l auanya data di atas.
i1enurt:t Oug dalam Silank (1981), aflatoksin menurunkan
30%
sampai40%
neng"abun,o:an P-fosfat kedalam fosfolipidpa-da hati tikus setelah pemberian aflatoksin Bl
7
mg/kg/os, selama30-50
jam. Onset penghambatan ini relatif lebih lambat daripada ー・ョァG。ュ「。エセョ@ エbイィR、セー@ ul'otein dan asam nukleat. 3intesa total lemnk dihambat pada epididimcl (ian :f(el'irena1.
1.
3.
Gangguan Terhad:m Akti vi tas EnzymDegradasi enzym lisosomal disekitsr ェセカGゥョァョョ@ nyata
「・イゥューャゥォ。Gセゥ@ dengnn adanya セ・ォイッウGセ@ hati serta haemorhngia
pad, aflatoksikosis akut. Kenaikan as'lm fosfat didCllam otot 、セイャ@ l1Uti ュ・ョァ。ォェN「セエォ。ョ@ ゥ[・}セセーオィ。@ pembuluh 、セイセィ@
kapi-ler, (Tunc,
,1975).
[GセョコoGュ@ lisosom yang 。セZエゥヲ@ ter:;lasuk asamkenaikan didalam hati, (Pokrovsky dalam Shank, 1983). 1.4. Gangguan t・イィ。セ。ー@ j。イゥョァ。セ@ dan Komnosisi darah
Organ hati merupakan エセイァ・エ@ primer aflatoksikosis yang mengakibatkan infiltrasi lemak. Pada kondisi demikian komposisi lemak berubah, (Newberne dalam Shank, 1981). Tr;i.. gliserida turun mencapai 40%, dan akumulasi lemak dida.lam hati akan mengurangi sekresi hepatik sehingga berakibat nenghambatan sintesa protein. Protein hati berubah, menga-lami penununan 25% - 40%.
Gumbman dalam Shank (1981), meln.kukan peneli tian de-ngan menggunakan hewan percobaan tikus. Terjadi perubahan
susunan komponen darah tikus ウ・セ・イエゥ@ serum bilirubin, urea, amino ni trogen, vitamin .fl., glikogen, total ni trogen dan p§. nurunan kadar globulin dari albumin, kalsium serta non prQ tein nitrogen. Pada ayam penurunan kadar kalsium juga tel' deteksi dan hubungannya dengan sintesa vitamin D dilaporkan oleh iiammil ton (1975), YC1ng menyatakan ad'mya pengahambatan sintesa dari 25 セ@ hidroksivitamin D3 menjadi 1,25 dihidrok-si vi tamin D3 didal;,m gin jal k'lrena blokade ,\TP- ase pRd:::
ginjal. Sedangkan 1,25 dihidroksi vi tamin D3 adalah :1etabo. -li t aktif yang memberikan efek resorpsi b::lsi urn dp,ri usus. Doyle §.t 21, dalam sィセセ@ (1981), menemukan bahwa aflatoks;i.. kosis akut pada tikus mempengaruhi rlistribusi Fe, eu dan Mn didalp,m ginjal hati dan limpa.
1. 5. Penaruh Terhadap Daya Immuni tas
21
dengan test tuberkulin !lad", ayam oleh Giambrone pada tahun
1975. Level serum immunoglobulin G (Ig G), dan A' (Ig A),
produksi aglutinin dan eri trosi t berkurang 20%-1+0% •. Akan
tetapi tidak terjadi perubahan pada Ig
M.
2.
Gangguan SintesA Makromolekul
?1.
Pen.garuh Aflatoks'in Terhadap Sin tesa
R,ASintesa RNA dipengaruhi oleh aflatoksin B
l
• Lav-rge
dan Fraysnet dalam Diener (1933), melakukan percobaan sec
a-ra in vivo dAn ternyata 73% sintesa RNA pada hati tikus
me-ngalami penghambatan. Demikian juga sintesa inti RNA
diham-bat sampai 90%. Pad a kedua peristiwa diatas proses
pebgham-batan hanya berlangsung selama 2 jam. Penghampebgham-batan sintesa
inti RNA berakibat penurunan informasi
r-RNA. Sounders
da-lam Diener (1983), me!',yatakan bahwa inti polimerase tidak
mengalami perubahrn, tetapi 60% aktivitas plasma inti
poli-me rase poli-mengalami nenghambatan setelah pemberian aflatoksin.
Pernyataan ini sesuai dengan penelitian Akrimisi dalam
Di-ener (1983), setelah mengisolasi plasma inti polimerase,
mendapatkan 50.·;' akti vi t.clS plasma inti hilang, sedang
akti-vitas inti polimerase tidak
ュ・ョァ。ャセュゥ@perubahan.
Penelitian lebih jauh menyatakan bahwa eiek aflatok
セ@sin Bl pada RN\ adalah mengganggu mekanisma post
transkrip-sion3-1 proses pe:nQs·,kan inti RN:"
dari molekul RNA. Efek
tersebut pertamakali dikemukakan oleh Harley pada tahun
2.2. p・ョセ。イオィ@
.flatoksin Terhqdap Sintesa DNA
Penghambatan sintesa DN '\ meru'lakan aki
「セエ@utama aflll
tokf:ikosis. Lav rge dan Fr:<ysnet d·,l·m Diener (1983), melg
porkan bahwa "ada tikus 57% pembentukan DN\ dihambat
sete-lah pemberian aflatoksin 1 mg/kg. Penghamb"tan maksimal men
dekati 80% berlangsung selama 2-24 jam. Penr,hambatan ini
menunjukkan adanya rintangan lain metabolisma mikrosomal
oleh aflatoksin B
l
, karena sebetulnya proteksi epitel hati
sudah dilakukan oleh enzym mikrosom yang bersifat oksidasi.
Proteksi terhadap pengaruh diatas telah didemonstra
セ@sikan dengan 17 b - estradiol dan adrenal steroid serta
dehidropiandostseron, (Scwarts dalam Diener, 1983).
3.
Gangguan Fisiologi
Akibat langsung perlemakan hati adalah berkurangnya
produksi enzym empedu yang mengakibatkan turunnya daya
cerna terhadap lemak (steatorrhea), (Osborn dalam Tung,
1975). Pernyataan diatas sesuai dengan pellelitian oleh Edss
pada tahun 1975; Goldblatt 1976; Muller
セエ@gl, 1970 dalam
Sharlin 1978), yang
ュ・ョケ。セ。ォ。ョ@bahwa akibat langsung afla
-toksikosis adalah turunnya afisienai ransum dan anoreksia.
Peneli tian oleh Hatzel
セエ@gl, (1981), terhadap i Uk
berumur 2 - 28 hari pada itik lokal Alabio dan Tegal dan
itik import Peking pada perlakuan dengan dosis lebih dari
100 ppm rnemperlihatkan tingkgt kematian yang tinggL Jenis
kelamin memberikan reaksi yang sarna. Percibaan oleh Gardin
23
1,25
ug/g,2,5
ug/g,5,0
ug/g aan10
ug/g menunjukkan peny runan berat badan yang bervarj_asi, se'Jerti terli11at pada Gambar7.
pセョ・ャゥエゥ。ョ@ oleh Richay'd nada tahun1982
terhadap ayam selain menurunkan be rat badAn juga me"urunkan berat bursa fabrisius serta menaikkan berat relatif nankreas.Aflatoksin juga berpengeruh エ・イィ。、セー@ ォ・ュ。エ。ョセ。ョ@ sek-sual pada ayam jantan, (Sharlin, 1978). Terjadi penurunan volume testes, berat testes dqn ォ・イオウ。セ。ョ@ epi tel germinal. Pe ;elitian oleh Blyth dalam Shank (1978), menunjukkan bah wa aflatoksin mengaki batkan dec;raDuln,si :nikrosom yang ber -akibat pengikatan testosterone
:-owarth dan Wyatt (1976), mengama ti taill'!a nr:,duksi maupun berat telur ェオァセ@ mencalami penurunAn. Pe"gikatan pell
tida dan asam amino oleh aflatoksin :nenghambat serta mengu-rangi kwantitas protein dan lemak didalam telur, dimcua ke-dua kompODen ini merupakan prosentase terbesar k:!ndungan エセ@ lure Terhadap daya tetas telah diseUdik:l oleh aul セエ@ .iiI, ternyata bahwa aflatoksin berhasil memasuki kerAbang telur dan mampu mengjnfeksi embryo.
Gambar
7.
Efek Aflatoksin terhadap Berat badan.. セケ。ュ@ Broiler
'ienurut Gardiner dalam Di ener, (19&3).
500
0.625 (P9/g)
セ@
400
,...,
s
(IS
h
bD
セ@
s:: 300
(IS
'0
(IS
.n
...,
(IS
h
Q) 200
セ@
Gamb"r 8. Efek Afl"toksin terh:<d13p ;:13emog1obin, Jum1ah Se1 Darah dan Eri trosi t, pada AY3m. (Shi-Tang TunG, 1975).
100
E 7.5
\
0"'
,\.
:"z 5.0·
!-.
a,
0 -1
セ@
CO 0
,.
2.5 .
'"
:r
0 ,
,
0 ' 0 100
AFLATOXIN GセqOqャ@
4°f
セ@ 4.0·..
EE·
w 30
..
3.0·"
"'
=>
セ@
I-0
! ! - z
> =>
セ@ 20 --1 0
2.0·
-' u
セiM
w w
u
I-'"
>-w u
'"
10 0u
'"
10« :r
Q. ....
>-'"
w
I
,
---
- ,0 5.0 19.0 0
5 ()
AFLATOXIN (PO/g) AFLATOXIN I;.;,;
26
4.
Metabolisme Distribusi d8.n Ekskresi AflatoksinAflatoksin meng"lami ュ・エセI「ッl@ sme ー・イエ。ュセNォᄋGャゥ@ oleh "Mixed Fungtion Oxidase-11FO" (enzym 」セューオイZ[ョ@ y ng bsrsi-fat oksid"si) p8.d8. mikrosom hAti. Enzym ini :l1erupakan pas.§.
ngan kompleks sitokrom- O-NADPH yang sebae;ian besar terda-pat didalam retikulum endoplasma sel-sel hati, akan tetapi
terl,ad,mg terdapat jug" did,l"m paru-DAru, ginjal, kulit dan or:ran l';in.
Kerja enzym ini adalah mengoksid,si 「セイ「。ァ。ゥ@ zat asing atau komponen xenobiotik, dengan hasil akhir berupa proses detoksifikASi dengan membentuk berb: gci turunan hi-droksilasi, 、ゥォッョェオァセLウゥォョョ@ dengan sulf-t "tau as,<m glukor.Q. n*t membentuk larutan glukoronid セエ。オ@ ester sulfAt. Bentuk konjugasi ini dengAn mudah diekskresikan ュXャセャオゥ@ urine atBu
et,pedu.
Selama Droses metabolisme ォセュオョァォゥイfBョ@ muncul z"t r§. aktif deng?n ォ・ォオセエMLョ@ untak membentuk real,si kov"len d,,,
-Lgan 「セイ「MLァBゥ@ m'ic;,m inti nukleohlik didalam sel m"kromo-lekul sel'erti 'llisalnYA m:;.'l, rnAセ@ d'm protein. Reaksi akti-v'si ini membentuk コセエ@ dengAn resiko biologiR, k-renA mem punyni セ・ョZG。イオィ@ toksik 、セョ@ karsinogenik.
5.
Gej.?l'· KlinisPada unggas ge j' ャセN@ klinis di temuk?n pad:,; pen"lmlJ k'm yang berbed:> untuk s8tiap j,,·nis. l:Fm;:ungn .cflatoksin di
27
5.1.
Pad a Kalkun
Kematian tanpa gejala spesifik dilaporkan pada
bebe-rapa kasus. Pada umumnya tampak kelesuan umum, sayap terkg
lai dan akhirnya kematian ter jadi
3
minggu setelah terlihat
ge jala tersebut (Steyn dal.?m Paul,
1972). Ge jala syaraf
a-taksia, epistotomus biasanya be"akhir dengan konvulsi. j<:OU
jungtivitis dan kebengkakan kaki sering dijump;;i. Menurut
laporan Ciegler dalam Paul
(1972), perdarahan subkutan
be-lum tentu ada tetapi pada penelitian oleh Steyn pada tahun
1966 menunjukkan adanya luka me mar • Gambar 9. menun jukkan
penampakan klinis pada kalkun.
5.2. Pada Itik
AS',)lin dan Crnaghan dalam 'aul
(1972), melaporkan bah
wa gejala pertama yang timbul pada aflatoksikosis itik
ada-lah turunnya nafsu makan dan penurunan berat badan, dengan
waktu l':ematian 2 minggu setelah pemberian ran sum terkon tam;i.
nasi aflat ksin. Pada itik muda terdapat ataksia dengan
ke-matian dalam keadaan epistotomus,setelah
セ・ュ「・イゥ。ョ@ransum
selama
3
minggu. Gejala lain adalah perdarahan subkutan dan
kaki yang sangat karakteristik.
5.3.
Pad a Ayam
Sampai tahun
1960 belum
セ・イョ。ィ@dilanorkan adanya kasus
epidemi pada ayam, baru belakangan ini di etahui bahwa ayam
merupakan jenis ternak :'ang san;:;at rentan terhadap a flatok
sikosis. Stolo ff
(1974), melaporkan bahwa mortali tas sangat
yang timbul sebelum keme.tian.
6.
Patologi - Anatomi
6.1.
Pada Kalkun
Pada umumnya orsan viskera menunjul,kan adanya oedem.
Stevans dalam Paul
(1972),me emukan adanya pembendungan
dan pembengkakan ginjal serta enteritis katarhalis da!] duo=
denitis. Perut kelenjar membengkak, kongesti myokardium dan
perluasan nerikardium. Hati membengkak dan terdap2.t
pemben-dungan, konsistensi meninggi dan terlihat adanya fokal
ser-ta perdarahan.1esi yang sama juga terlihat pada pankreas.
Paru-paru mengalami oedema dan
ーLセ、。@kantung udara sering
di-jumpai adanya eksudat putih. Pada kasus kronis terlihat hati
rapuh dan pucat.
6.2.
Pada Itik
Pada i tik dewasa hati a;"3n mengalami sediki t
pembeng-kakan, puc at dan ker8puhan, setelah pemberian 'ansum beraf.la
toksin selama
3
minggu. Pada pemberian ransum beraflatoksin
selama 8 minggu, bidang permukaan hati bernodul hiperplastik,
ginjal pucat dan bengkak serta mengalami perdarahan
berben-tuk ptechie. Ditemukan juga hidroperii;ardium, ascites dan
eksudat subkutan bersifat gelatin.
6.3.
Pad a Ayam
Hati memperlihatkan lesi dengan fokal putih sebesar
ォセ@pala jarum dan perdarahan berbentuk ptechie. Ginjal memperli
ha.tkan kepucatan dan akulllulasi lemak didalamnya. Bursa fabri
7. Histopatologi
7.1.
Pada Kalkun29
Siller dan Ostler d",lam Wyllie
(1978),
melancorkan ad§. nya nekrosa hati secara diffus dan proliferasi pembuluh em-pedu pad a kasus akut. Beberapa kasus yang ditemukan oleh Carnaghan dalam Wyllie(1978),
dj_dapatkan adacya perdarahan. Wannop dalam Paul(1972),
mcnge2:Jukakan bahwa proli ferasi pembuluh empedu berkelanjutan dengan adanya nodeul hinerplastik super!l!isj.al, sel parenkim mengalr'.mi pembengl,akan, serta
ada-;:ya vakuol lemal,.
-Pada sinjal, ァ・ェ。ャセ@ naling menonjol adalah penipisan membran glomerulus dan degenerasi epitel tubular uroksimal membentuk jaringan hyalin dan piksosis (Steyn dan Smith da-lam Wyllie,
197").
ll;enurut Aleroft dan Carnaghan dalam Paul(1972),
bahwa kelainan pada ginjal lnny". terdapat kE\lkun.Duodenum mengalami deskuamasi epitel dan pada jantung di temukan degenerasi granular pada myok" rdi urn, sedangkan limpa kc\dang-k"dang tidak mengandung pulpa "utih.
7.2.
Pad" ItikKarena i tik :nerupak:1n jenis yang peka maka laporan p§. tologis 「セョケ。ォ@ dipelajari.
Pada hati di temu'-:an adanya degene asi dif 'us, dengan pen mpakan ォ・「・ョセォ@ kl'\n, vakuoli silsi, inti meng,',lami peruba!!.
an karyoreksis hingga karyolisis. ,'rolifec}si pembuluh emp§.
30
menun jukkan tinglnt toksisi tas aflatoksikosis, h.'3.1 ini di-kemuk'3.kan 018h Carnaghan pada tahun 1971, 、ゥュ。ョLセ@ pada akhir.
nya metoda ini digunak n sebaGoi standart セセョゥャゥ。ョ@ toksisi tas aflatoksin.
Hubungan aflatoksikosis dengan ー・ュ「・セエオォ。ョ@ tumor secA
ra spontan dipengaruhi banyak faktor, sehinsga tid k dapat dikatakan bahwa setiap kasus dapat dijumpai adanya tumor karsinoma hati. ?ercobaan 01eh c。イセ。ァィ。ョ@ p"da エセィオョ@ 1970,
pemberian ) 'lDsum 「・イセZヲャGSエッォウゥョ@ selama 14 bulan dengan
daya raClln 7 ppm aflatoksln Bl memperlihatkan adanya hepa-
'"
,toma 、セョ@ kholangio:oa pada 8 eltor d ri 11 ekor itik.
Pada usus hnlus didapatkan perdarahan be"sifat diffus dan pada pankreas terlihat adan:Ja de,;enerasi l:elen jar.
7.3.
Pacta AyamPerub:,han p'renkhim h,·ti sam", dengan padr; kalkun, te-tapi tidak エ・イH。ーセLエ@ sel yang 'uersif"t 1,asofilik, (Ciegler, 1774). Paneli tian mengguckan '" acc;ng o.an.'lh ·":cdC!. ayam oleh
Nasheimpada tahun 1971, sangat nyata memnerlihatkcn adanya proliferasi pembuluh empedu ー。、セ@ minggu pertama, serta de-generasi sel purenkhim hnti ウ・セ・イエゥ@ pada itik. Pad2 minggu kadua, pembul h em',edu berde ferensiasi men jadi sel parenkim.
Gambar
9.
Penampakan Klinis Aflatoksikosis pada Kalkun (Wyllie セエ@ セャL@ 1978).Terlihat pembentukan vakuol dan akumulasi lemak
Diambil dari: Mycotoxic fungi, Mycotoxins Mycotoxicosis
Vol. 2. [image:43.802.184.623.167.465.2]IV. ISOL\SI D:\'N IDTCNTIFIEASI
AFLATOKSIN
Aflatoksin dapat diambil dari material biologik dan makanan ternak, dengan cara ekstraksi menggunakan pel "rut organik. Chloroform merupakan pelarut yang paling memung-kinkan.
1. Metoda Ekstraksi
Aflatoksin berc!sal dari makanan ternak dilarutkan dalam chloroform didalam Soxhlet at au gelas erlenmeyer. Pada prosedur ekst raksi menggunakan erlenmeyer, dilaku-kan sentrifugasi, untuk mendRpatdilaku-kan filtratnya.
2. Pemurnian El, strak Kasar
Diambil sisa ekstrak l':asar setelah melalui tahapan filtrasi dalam water-bath, kira-kira
2-4
ml dan diletak -kan diatas lajur k'lromatografi.Lajur khromatografi dibuat dengan mengisi tabung gii las dengen silika gel kira-kira 15 cm, yang sebelumnya tii lah diakti fkan pada 80 C selama 60 meni t. Lajur dihomogell. kan deng3n ditekan-tekan dan ditambahkan lapisan Natrium suI fat
2
cm diatas silik3 gel.;,ajur dilarutl,an mel',lui 2 tahapan. Tahapan pertama digunakan 150 ml eter. Setelah itu digunakan larutan cam-puran metanol-khloroform dengan perbnndingan
3:97
untuk pengenceran sesudahnya. PengencerRn kedu2 ini mengRndungpigmen, vitamin, dan lem",k dari ekstrak. Untuk memurnikan aflatoksin L1rutan ォ・、オセ@ dimasukkan kedalam water-bath.
3.
Identifikasi AflatoksinDiambil sisa ekstrak murni mengguna.kan pipet mikro
34
dan diletp..kkan diatas kertas silofol setelah sebelum::ya d;i. aktifkan 80
c
selama 30 meni t. Dimulai dari 2 em sebeleh bawah kertas. Larutan khroOi"ltografi mengandung metanol-khloro form dengp..n perbsmdingan
3: 97.
l{ertas 、ゥLセセウオォォ。ョ@ kedalam ruang khromatografi dengan uap jenuh dari ー・ャセイオエ@ tersebut. Setelah pelarut naik meneapai 0,5 em dari tepi ates kertas, kertas diambil,dan dikeringkan diudara.Icfla toksin BI dan B2 terlihat memanearkan fluoresens biru hingga biru kehitaman, aflatoksin G
I dan G2 memancar-kan fluoresens hijau hingga hijau kebiru:m.
Namun demikian makanan ternak kadang menf,andung beb.§. rapa substansi yang memberikan efek fluoresens sam8 dengan aflatoksin. Oleh karena itu dibutuhkan ear- ュ・ョァゥ、・ョエゥヲゥォセ@
si aflatoksin de'ngan memperpbandingkan wo;rna dan Rate of flol': HrセI@ value dari sebagi8n samnel dari aflatoksin yang
"
belum diketahui deng8n sampel standart k '1ro:natografi pada waktu yang bersamaan. Dan hasil tersebut dikatakan positif apabila sampel sam? dengan sampel ウエーNNョ、セイエN@
i+. Memnersiapk"m d8l. VerifikF.lsi Sp..mnel St?no.8rt AfJ atoksin
Sampel standart 'Iflatoksin d"nat di0 srsiapkan dari
35
da1am keadaan kering dengan Natriun su1fat anhidrous.
Un-tuk m::nghr'siJkan ekstraksi yang 1ebih b8.ik digunakan khlQ.
roform ber1ebih untuk mengocok ekstrak tersebut. Tahapan
berikutnya ada1ah pemurnipn senerti pada makanan ternak.
Pemisahan ekstrak murni
、ゥQ。セオォ。ョ@pada 19mpengan
ァセ@las khrom,togrRfi. Usapkan
ウ・「セgゥ。ョ@pada gPlas ekstraksi
dan sebagian pada spektral metanol murni. Diukur pad a spek
trofotometri
ォ・セオ。@sampel tarsebut.
セー。「ゥャ。@ セ・ュXイゥォウ。。ョ@ 、セ@ngan khromatografi benar mengandung aflatoksin m?ka ukuran
spektrafotometri dengan UV mengc:<'.mb . .,rkan kurva seperti pad a
Gambar 12 dibawah ini.
260 260300 320 340 1§Q 360 '00 '20nm
_____ oflatoxin 9,
- aflatoxin Gl
G=b;:;r 12
Tyne Kurvp, Afl"toksin Bl dan Gl
Dib""'Clh U1trfl Violet.
[image:46.615.87.449.346.598.2]Pencegahan aflatoksikosis dengan Dimetilsulfoksida
di
lakukan oleh Mathur dalam Hamilton (1981), pada ayam broiler dengan ,:lencampurkannya pada ransum serta injeksi pada embryo, ternyata tidak memberikan daya エ。ィセョ@ terhadap aflatoksin.Usaha lebih efektif adalah msngadClkan kontrol terha -dap m'lkanan tsrnak, melalui berb'1[ai cora untl;k menekan kall dung an aflatoksin.
Pada m'1sa kini penghllangan dRya racun afla toksin te-lah dicoba dengclll berbar;Ri cara, baik secora fisika, kimia, maupun biologi, Secara fisika dengan cara radiasi,
pemana-san dan ekstraksi ransum beraflatoksin.Sec"ra kimia diusah.€l kan dengan perlakuan asam, basa ッォウゥ、セZエッイ@ dan bisulfi t. Pellg hil··ngan daya racun secara b:Lologi dengan cara-cara fermell
tasi serta t .. mdingan demean mikroba lain termasuk protozoa.
1. Perlakuan Fisik
Perlakuan fisik 、ゥャセォオォ。ョ@ 「・イ、。ウ。イセ。ョ@ sifat fisik
aflatoksin, menyane;kut kepekaan terhadap radiasi, panas, dan ekstraksi.
1.1.Pengaruh Radisi
SifE'.t aflatoksin peka terharhp ultra violet, (Vessonder, 1975), sehingga penyinaran dengan ultra violet menye
-babkan modifikasinya bersifat kurang beracun dib·'.nding
37 sifat pelarut. Aflatoksin peka terhad,p sinar ultra violet tetapi tahan te,'hadap sinar gamma.
Menurut c,ibara dan Hiyaki (1960), aflatoksin tahan terhadap sinar gnmma akan tetapi dal',m !o"entuk padatnya. Pel: Cob3an menggunakan dosis radiasi tinggi hinggA 30 H rad, h.§. nyc; akan セイL・イオヲS。ォ@ se,agian. Ak 'n tetapi allabiladilarutkan d.§. lam ait atau etqnol, 。ヲャ。エッセヲSゥョ@ lebih peka エ・イィセ、セー@ radiasi sinar gamma. Proses perusak"nnya bukan kare:Ja pengarUh lang sung radiasi, melRinko:n pengaruh pelarut berproton seperti
air atau etanol (Stoloff,1974).
Peneli han ケセNョァ@ terakhir oleh Murthy dan S'lanta dalam Stoloff, (1974), mempelnjari perusak n aflqtoksin dengan ー・セ@
jemuran. Dida ,",t,.;an h':sil bphwa flato;csin d",lam mi'iyak ka-cang tanah dapat dihilangkan samasekali dengan penjemuran selama 15 menit. Pad a keadaan nadat, perusaknn セヲャ。エッォウゥョ@
menjadi lebih sulit, dan dengan percob'Oan pada tepung bung-;dl kacang tanah h'1llya ter jadi perusakan 50% dari 25 ug
aflatoksin yang aikandung. Diduga bahwa protein kaca·'g ta -nah mempunyai sifat melindungi aflatoksin,dari radiasi.
1.2. Pengaruh Danas
Aflatoksin bersifat tahan terhadap -anas. Pemanasan p.§. da suhu 60 C - 80 C tidak memberikan hasil yang berarti, dan hanya menghasilkan perusakan sedikit pada suhu 100 C (Marth dalam Stoloff 1974). Laju perusakan dengan pemanasan dipenga ruhi faktor Kadar air, w'ktu dan suhu, pada Pecans (Carya
38
Percobaan ini :Genghasilkan kesimpulan behwa untuk merusak
an '}toksi n dengan panas di bawah ti tik lebur aflatoksin ,
diperlukan k"ndungan air yang cukup. Akan tetani kBrena P§,
manasan tidak merusak semuR aflatoksin yang ada, penerapan
praktisnya masih diragukan.
1.3. Ekstraksi Aflatoksin
Rayner dalam Vessonder (1975), menghilangkan aflatok
sin dari kacang tanah dan biji kapas dengan cara ekstrak
si. Ternyata pengekstrak yang hanya berupa isopropanol
ku-rang efektif kemudian ditemukan bahwa campuran terbaik
。、セ@lah isopropanol
80%dalam air. Basil ne1:'cobaan juga
menun-jukkan bahwa pad2 suhu tinggi ekstraksi akan le bih efektif.
2.
Perlakuan Kimiawi
Banyak usaha yang dilakukan un tuk menghilc ngk:m daya
racun
。ヲャ。エッャセウゥョ@deng211 bahan kimia. Beber'lua syarat harus
dinenuhi untuk perlakuan ini, antar" lain b8hwa bah·'n kimia
itu harus mampu menghilangkan daYA racun dengan tidak mengn
rangi nilai gizi bahan pangan tersebut. Dengan beberapa
ウセ。@rat tersebut perlakuan kimia yang telah dicoba adalah dengan
cara oksidasi, pengasaman,· pengaruh bas a dan bisulfi t.
2.1, Pengaruh Oksidasi
Menurut Stoloff (1974), terdapat beberapa pengaruh
ッセ@sidasi yang dap2t mempengaruhi biologi aflatoksin Bldan G 1
tetapi bukl3.n untuk B
2
dan
G2,Sedangkan oksidator yang dapat
39
Murthy
セエ@ セャ@dalam Stoloff (1974), melakukan percobaan oksi
dasi af1atoksin pada tepung ke1apa yang kadar af1atoksinnya
90 ppm dengan menggunakan hidrogen per@ksida 6%,
セh@9,5
pa-da 80 C, maka 97% aflatoksin terdetoksifikasi pa-dan tepung
ォセ@lapa tidak lagi rnernberikan efek tcksik terhadap itik.
Pemanasan teuung ke1apa 100 C dengan kelembaban 22%
dengan penambahan oksigen se1ama 2 jam berhasi1 merusak
67% - 76% daya racun aflatoksin. Penambahan ozon pada
kon-disi yang sarna proses detoksifikasi aflatoksin
セ@hanya
berlangsung selama 1 jam.
Af1atoksin Gldan Ml yang juga rnempunyai ikatan
rang-kap seperti B
l
, diharapkan mengalami proses seperti Bl
ju-ga. Lain halnya aflatoksin B2 ,G
2
dan M
2
, karena pada
aflatoksin tersebut kekurangan ikatan ganda sehingga tidak
ter jadi perusakan dengan hidroccen peroksida.
2.2. Per1akuan dengan Asam
Kekuatan larutan asam pade perusakan aflatoksin Bl
dan G
1
te1ah banyak diketahui, yaitu rneliputi penarnbahan
ォセ@talisa air pad a ikatan ganda dalam sik1ik furfuran, (Ciegler
1974), dan sebelumnya Dutton pada tahun 1968 pernah
rnelapor-kan bahwa aflatoksin B
2a
dapat diisolasi dari suatu media
yang oleh Ciegler (1974), akhirnya diungkapkan sebagai
afla-toksin B1 yang diubah rnenjadi B
2a
dengan pengasarnan. Sete
lah diketahui bahwa af1atoksin Bl dapat dirusak oleh asam
maka Cieg1er dan Lindenfe1ser pada tahun yang sarna rnencoba
mernpe1ajari perngaruh ferrnentasi silase pada jagung. Basil
tidak menghasilkan sejumlah Rsam laktat y:mg me:nadai untuk dapat merusak aflntoksin.
Kinetika reaksi pe"usak:m aflatoksin Bl dan G
l men-jadi aflatoksin B
2dan G2 telah dipelajari oleh Pons dalam Howard (1981), dan dikemukakan disini b"hwa pada pHl dengan suhu 100 C mal,a 95% aflatoksin Bl aka:, diubah menjadi pfl", toksin B
2a dalam waktu 7 jam.
2.3.
Pengaruh BasaMenurut Doller dalam Goldblatt (1969), besa yang efek
tif エ・イィ。、Lセー@ aflatoksin adalnh Matilamin, ;':atrium
Hidroksi-da Hidroksi-dan A ,;moni um Hidroksida. Feneli tian oleh Lee dalam Rod -rick (1974), cincin lakton pada afltoksin Bl ternyata terbl.!. 1,a dengan pemanasana 100 C didR19.m Parr-bomb dengan
ammoni-um hidroksida. Struktur dugnan akj bat perlal,ua;, tersebut tampak pad" Jarrb'r 11. Derco;Aan pengc;abungan pCY'lRkuan pa-nas dan ammonia juga dilcc.kuk:m oleh Crosslin dala.m Griffin
'19Dl), dan menunjukkan b,:hwa peman%an serta ammonia din,§,r lukan secara bersama-sama. Vessonder (1975), mengemukakan bahwa pembukaan cincin lakton bersifat reversibel, terbuk
ti 、・ョァセョ@ 、ゥ、セー。エォ。セョケ。@ ォ・ュセ。ャゥ@ aflatoksin Bl apabila hasil
Gambar l,2.Struktur dugaan Perubqhan
aヲャセエッォウゥョ@B1
.
Dengan Ammonium hidroksida
Menurut Lee
セエ@ セQL、。Q。ュ@Rodrick, (1974).
o
0
Polymer
Substrate
Polymer Substrate
I
h
O OH )
-O-Cl"
o
セ@
!
Base
Induced
Rxn. Acidification
o
0
o
[image:52.616.149.401.126.670.2]3.
Perusakan Aflatoksin Secara 13; 010";
It; .Marth dalam
dゥ・セ・イ@ HQYbSセュ・ャGォオォ。ョ@nenelitian secara in
tensif dengpn per13kuan biologik, didqpatkan
「セィセ。@Asnergil
J-JJ.9
flavus yang dapat ,nengh,sil.'.an afl'l.toksin dapat pula
ュセ@rusak aflatoksin • Pada perusakan tersebut, cnycelia k'l.pang
mengalami pelisisan. Faktor yang berrlene;aruh ter!ladl,p
peru-sakan oleh AsperRillus ada1ah umur kapang, jum1ah mise1ia
da1am ku1tur, dan kadar af1atoksin da1am ku1tur. Ketiga
ヲセ@tor tersebut berbanding 1urus dengan kecepatan perusakan
aflatoksin. Umur kapang yang diperkirakan sudah cukup tua
ada1ah 16 hari. Suhu optimum ada1ah 28 C, pH 5 - 5,6. Pada
pH 1ebih asam nerusak'Jn dengan miselia ini tidak terjadi.
Harth da1am Die ,er(1983), berhasil !l1engumpulkan
bebsra-pa
peneli tian dal"-m 11sahCl untuk menemu:'.an secara lebih jauh
perusakan aflatoksin secara biologi. Data yang telah ditemll
kannya dapat dilihat Dada tabel
4.
4.
Pengo bat an
Pengobatan aflatoksikosis unggas hingga saat ini be1um
ada, namun pada keadaan dini unggas akan cepat mengalami
per-sembuhan dengan penghi1angan aflatoksin dari ransumnya. Pada
kondisi parah dengan adanya lesi-lesi maka pengobatan tidak
43
Tabel
4
: Berbagai
Henurut
Macam Mikroba dan Pengaruhnya
Terhada]> Aflat oksin
Mar"thdalam Diener (1983).
l'likroba
Penicillium raistrickii NERL 2053
Aspergillus niger
A.
parasiticus (spora
A.
terreus (spora)
A.
luchuensis NRRL 2053 (spora)
Flavobacterium auranticum
NRRL B - 184
Nocardia asteroides IFM 8
Scopularis brevicaulis
Rhizopus oryzae
Corynebacterium rubrum
Aspergillus n; f\er
Trichoderma viride
l'lucor ambiguus
Dactylium dendroides HRRL 2575
Dactylium.dendroides NRRL
Mucor griseocyanus HEEL 3359
Helminthosporium sativum NRRL 3356
Absidia repen's NRRL 3358
Mucor alterans NRRL 3358
Ehisopus arrhizus NEEL 2582
セN@
stolonifer NRRL 1477
E.
oryzae NRRL 395
Tetrahymenq pyriformis IV
Pengaruh
Mengubah sebagian
af-latoksin B menjadi
senyawa fltioresensi
lain
Hemeta bolisme a fla
-toksin
セL@Gl dan Ml
Mempunyai kemaDpuan
memetabolisme
afla-tOksin
Merusak aflatoksin
menjadi aflatoksikol
(aflatoksin Eo)
MeTusak 60
%
aflatok-sin B
Jmenjadi
afla-toksiXol dalam waktu
inkubasi
3 -
4 hari
Mengubah aIle" tOksin
B, menjadi
parasiti-knl (aflatoksin B
3
)
l-ienfubah aflatoksin
[image:54.612.68.517.55.699.2]Aflatoksikosis pad:> unggas telah menyebar luas dise-luruh dunia, demikian jug" di Indonesia sud&h berhasil di-isolasi di beberapa daerah se-:)erti di JaVia Tengah, Jawa B.a
rat, juga kandungcm aflatoksin yang cukup berbah"ya bagi i tik pada ransum finisher di D ,erah Khusus Ibukota Jakarta
Raya, yalmi
46,7
ppb. Produksi jagung sebagCli bahan balw ransum juga tel.'.h terbukti .'!engandung afletoksin berkadar 164 ug/kg demikian juga pada tepung kedel セNゥ@ import, mengan dung aflatoksin berkadar 19u9/kg. Pew_li tian terl13,dap ba -hem makanan manusia mengandung aflatoh:sin Bl melebihi kadar yang dapat diterima manusia y"kni lebih besar dari 30 ppb.Aflatoksin mel'up'lli:an ril.cun metaboli t hepatotoksik, d;i. hasilkan terutama oleh Asnergillus f1avus dan Asnergillus parasiticus setelah terlebih dahulu tU.nbuh ョ。、Lセ@ b,