Analisis Kesalahan Berbahasa « gemasastrin
gemasastrin.wordpress.com/2009/06/14/analisis-kesalahan-berbahasa/
14 Jun 2009 – Analisis Kesalahan Berbahasa. oleh Safriandi, S.Pd. (Mahasiswa Pascasarjana Unsyiah). 1. Pengertian Kesalahan Berbahasa ...
[DOC]
KESALAHAN - KESALAHAN BERBAHASA INDONESIA
www.ialf.edu/kipbipa/papers/SetyaTriNugraha2.doc Jenis Berkas: Microsoft Word - Tampilan Cepat oleh KB Indonesia - Artikel terkait
Kita harus tahu jenis kesalahan yang dilakukan oleh pembelajar terlebih dahulu sebelum melakukan analisis lanjutan. Ada dua jenis kesalahan berbahasa ... [PDF]
ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA
file.upi.edu/Direktori/...BAHASA...BAHASA.../10_BBM_8.pdf Jenis Berkas: PDF/Adobe Acrobat - Tampilan Cepat
Analisis kesalahan berbahasa adalah salah satu cara untuk menjawab pertanyaan tersebut. Melalui analisis kesalahan berbahasa, kita dapat menjelaskan ...
Analisis Kesalahan Bahasa
www.situsbahasa.info/2011/01/analisis-kesalahan-bahasa.html
Teori analisis kesalahan berbahasa merupakan koreksi kritis terhadap teori konstratif, bahwa pengajaran bahasa mengkontraskan kedua sistem bahasa ... Analisis Kesalahan Berbahasa « takberhentiberharap
takberhentiberharap.wordpress.com/.../analisis-kesalahan-berbahasa/
30 Mei 2011 – Dengan diadakan analisis kesalahan berbahasa ini diharapkan para pelajar mahasiswa yang berada pada jurusan bahasa khususnya dapat ...
[PDF]
ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA PADA WACANA BUKU LKS ...
etd.eprints.ums.ac.id/4466/1/A310050121.pdf Jenis Berkas: PDF/Adobe Acrobat - Tampilan Cepat
ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA. PADA WACANA BUKU LKS PRISMA MATA PELAJARAN. BAHASA INDONESIA UNTUK SMP. SKRIPSI. Disusun ... SEMUA TENTANG PENDIDIKAN: ANALISIS KESALAHAN BAHASA ...
haryantotips.blogspot.com/2011/.../analisis-kesalahan-bahasa-lisan.ht...
12 Des 2011 – Maka dari itu penyusunan makalah ini ingin mencoba menyusun makalah yang berjudul analisis kesalahan berbahasa dengan tujuan ...
Analisis Kesalahan Bahasa <br/> - Media Bawean
www.bawean.net/2011/01/analisis-kesalahan-berbahasa-dalam.html
Permasalahan dalam Analisis Kesalahan Berbahasa dan Analisis ...
massofa.wordpress.com/.../permasalahan-dalam-analisis-kesalahan-be...
27 Agu 2008 – Dengan demikian permasalahan yang ditangani analisis kesalahan berbahasa itu berkisar pada kesalahan dalam keterampilan berbahasa ...
ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA INDONESIA
Oleh : Saefu Zaman
Beberapa Kesalahan dalam Berbahasa
Pengajaran bahasa merupakan hal yang sangat kompleks. Pengajaran bahasa dalam praktikya tidak akan lepas dari yang namanya kesalahn-kesalahan berbahsa. Kesalahan bahasa yang meliputi berbagai aspek ini adalah hal yang paling sulit untuk dapat dipahami oleh para pelajar atau pembelajar bahasa. Hal tersebut lebih dikarenakan karena perelu ketelitian yang sangat tinggi untuk dapat mengatasai segala kesalah-kesalahn berbahasa tersebut.
Pengajaran bahasa kini lebih banyak difokuskan pada kegiatan siswa belajar. Pengajaran bahasa yang berfokus pada kegiatan guru dalam mengajar telah lama dikritik banyak orang. Setiap ada kegagalan dalam belajar anak faktor penyebabnya selalu dicari pada guru dan pengatasannya pun selalu dilakukan dari sisi guru. Akibat cara berpikir seperti itu, kegagalan belajar bahasa anak selalu terjadi sepanjang zaman dan tidak pernah teratasi secara tuntas.
Analisis pengajaran bahasa dapat dilakukan berdasarkan pendekatan psikologis dalam belajar bahasa. Acuan teori psikologi yang dipakai sebagai dasar untuk menganalisis belajar bahasa antara lain psikologi behaviorisme, psikologi kognitivisme, dan psikologi mentalisme.
penyebab kesalahan serta jenis-jenis kesalahan yang dilakukan oleh pembelajar jauh lebih penting karena dapat dipergunakan sebagai dasar untuk memperbaiki kesalahan belajar dan kesalahan berbahasa pembelajar.
Berikut ini beberapa kesalahan berbahasa yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari;
1. Mistake (salah)
Merupakan penyimpangan struktur lahir yang terjadi karena penutur tidak mampu menentukan pilihan penggunaan ungkapan yang terjadi situasi dengan situasi yang ada.
Mistake/ kekeliruan, terjadi ketika seorang pembelajar tidak secara konsisten melakukan penyimpangan dalam berbahasa. Kadang-kadang pembelajar dapat mempergunakan kaidah/norma yang benar tetapi kadang-kadang mereka membuat kekeliruan dengan mempergunakan kaidah/norma dan bentuk-bentuk yang keliru. Contoh :
• ”Rasanya panas. Kalau malam tidur di kamar, harus pakai kipas terus,” kata Nining. Analisis : Kalimat rasanya panas untuk menggambarkan situasi udara yang panas adalah kurang tepat atau dapat dikatakan adanya kekurangtepatan penggunaan ungkapan terhadap situasi tersebut. Maka dari itu kalimat tesebut masuk dalam mistake. Seharusnya ungkapan tersebut meggunakan ungkapan ” Udaranya panas” agar lebih tepat.
• Dengan amblesnya tanggul tersebut, saat ini permukaan lumpur yang... Analisis : penggunaan kata ambles dalam konteks tersebut adalah kurang tepat. Ungkapan tersebut masih sangat terpengaruh bahasa jawa.
2. Selip
Merupakan penyimpangan bentuk lahir karena beralihnya pusat perhatian topik pembicaraan secara sesaat (kelelahan bisa menimbulkan selip bahasa). Dengan demikian selip bahasa terjadi secara tidak disengaja.
daya ingat atau sebab-sebab lain yang dapat terjadi kapan saja dan pada siapa pun. Contoh :
• ” Menjual barang tidak bisa memaksa orang membeli,” ujar Fauzi Aziz Analisis : Selip bahasa terjadi pada kalimat tersebut. Selip terjadi karena kekurangtepatan kalimat yang digunakan yaitu kata yang diucapkan kurang. Seharusnya kata tersebut mendapat tambahan satu kata lagi agar tidak termasuk dalam selip bahasa. Kata yang dimaksud adalah kata untuk. Akan menjadi tidak selip ketika diucapkan ” Menjual barang tidak bisa memaksa orang untuk membeli,”... 3. Silap
Merupakan penyimpangan bentuk lahir dari struktur baku yang terjadi karena pemakai belum menguasai sepenuhnya kaidah bahasa. Faktor yang mendorong timbulnya kesilapan adalah faktor kebahasaan yang mengikuti pola-pola tertentu. Contoh :
• ”Semuanya sudah empat kali kejadian sama dengan yang sekarang ini.” Analisis : Kalimat tersebut mengalami silap bahasa karena dalam kalimat tersebut terdapat kesalahan struktur dan kaidah kalimat dalam bahasa Indonesia yang benar. Kalimat tersebut akan bisa dikatakan kalimat yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang benar jika ” Semuanya sudah empat kali terjadi, termasuk yang sekarang ini.
• Lokasi kejadian jauh dari permukiman warga, ....
Analisis : Kata permukiman dalam kalima tersebutmengalami silap bahsa. Silap dalam kaliamt tersebut kemungkinan terjadi karena kekurangpahaman akan kaidah bahasa Indonesia yang benar. Seharusnya kata permukiman diganti dengan kata pemukiman agar kalimat tersebut menjadi kalimat yang benar atau tidak silap. • Ayah dua anak itu seakan tidak memedulikan lumpur gas yang mnenyembur sekitar 20 meter dari warungnya.
Analisis : Kata dalam kalimat tersebut ada yang mengalami silap bahasa. Kata memedulikan tersebut seharusnya tidak digunakan dan diganti dengan kata memperdulikan.
Adalah kalimat yang struktur atau bagianya ada yang rancu atau tidak sesuai penempatanya.
Contoh :
• Pemerintah pun mulai menggaungkan dukungan kepada industri kreatif. Analisis : Kata menggaungkan secara makna kurang tepat atau rancu jka diterapakan dalam kalimat tersebut. Kata menggaungkan tersebut dapat diganti dengan kata ” menyampaikan, menyerukan dsb.”
• Jalan Raya Porong yang terletak bersebelahan di sisi barat tanggul kolam lumpur terus menurun hingga 80 sentimeter sejak ditinggikan September 2008. Analisis : Kalimat tersebut memiliki struktur yang rancu dan kurang bisa dipahami.
5. Kalimat Ambigu
Merupakan kalimat yang memiliki makna lebih dari satu/ membingungkan/ ambigu. Contoh :
• Menurut Emi, salah seorang pemilik ruko yang terbakar, gudang oli itu mulai beroperasi sejak dua tahun lalu.
Analisis : Kalimat tersebut merupakan kalimat yang ambigu atau menimbulkan tafsir ganda. Letak keambiguan dari kalimat tersebut adalah kita dapat menafsirkan makna kalimat tersebut dalam dua versi makna yaitu Emi ikut terbakar atau Emi hanyalah salah seorang dari pemilik ruko yang ikut terbakar.
• Muncul ikhtiar untuk mengedepankan produk-produk budaya dan berbasis teknologi, memvisualisasikanya kepada masyarakat banyak melalui pameran. Analisis : Kalimat tersebut memiliki makna ganda atau ambigu. Keambiguan tersebut dapat kita rasakan ketika memaknai kalimnat tersebut.
memvisualisasikanya kepada masyarakat / banyak melalui pameran. memvisualisasikanya kepada masyarakat banyak / melalui pameran. 6. Adopsi
Adalah mengambil semuanya dengan tidak mengurangi dan tidak menambahi. Contoh :
Analisis : Kata meter merupakan kata yang diadopsi dari kata dalam bahasa inggris, yaitu meter.
• Menyusul tertangkapnya imigran asal Iran dan pakistan. Analisis : Kata imigran merupakan kata hasil adopsi dari kata asing. Pengambilan yang dilakukan pada kata tersebut dilakukan secara utuh yaitu imigran. • Kekurangan biaya sebagai dampak krisis keuangan global. ... Analisis : Kata global adalah kata yang diadopsi dari kata dalam bahasa inggris. Kata tersebut diambil secara utuh untuk menyebutkan maksud yang sama.
7. Terjemahan
Adalah interpretasi makna suatu teks dalam suatu bahasa ("teks sumber") dan penghasilan teks yang merupakan padanan dalam bahasa lain ("teks sasaran" atau "terjemahan") yang mengkomunikasikan pesan serupa. Terjemahan harus mempertimbangkan beberapa batasan, termasuk konteks, aturan tata bahasa, konvensi penulisan, idiom, serta hal lain antar kedua bahasa.
Secara tradisional terjemahan merupakan suatu kegiatan manusia, walaupun banyak upaya telah dilakukan untuk mengotomatisasikan penerjemahan teks bahasa alami (terjemahan mesin, machine translation) atau menggunakan komputer sebagai alat bantu penerjemahan (penerjemahan berbantuan komputer, computer-assisted translation).
Mungkin kesalahpengertian utama mengenai penerjemahan adalah adanya suatu hubungan "kata-per-kata" yang sederhana antara dua bahasa apa pun, dan karena itu penerjemahan sering dianggap langsung dan merupakan suatu proses mekanis. Pada kenyataannya, perbedaan historis antar bahasa sering memberikan perbedaan ekspresi antar keduanya.
Contoh :
• Pencuri telepon genggam itu akhirnya diserahkan kepada polisi setelah dihajar warga.
8. Adaptasi
Adalah menyesuaikan bentuk maupun lafalnya. Istilah “adaptasi” merupakan bahasa itu yang ber-/di adaptasi (oleh banyak faktor: lingkungan, geografis, dsb) sehingga menyebabkan variasi-variasi baik dalam bentuk atau pemakaiannya. Contoh :
• Bahwa produk kreatif karya anak bangsa banyak yang unik.
Analisis : Kalimat tersebut menagndung dua kata yang mengalami adaptasi dari kata asing. Kata tersebut adalah produk yang berasal dari kata product. Selain kata tersebut adaptasi juga terjadi pada kata kreatif yang di adaptasi dari kata creative. • Ketua divisi riset....
Analisis : Kata divisi merupakan kata hasil adaptasi dari kata asing yaitu division. • Desain Produk Industri...
Analisis : Dalam kalima tersebut kata desain merupakan kata hasil dari proses adaptasi. Kata yang merupakan dasar dari kata tersebut adalah kata Design yang diambil dari bahasa Inggris.
• Masalah kualitas dan pelayanan...
Analisis : Kata kualitas yang terdapat dalam penggalan kalimat tersebut merupakan kata hasil adaptasi dari kata Quallity yang berasal dari bahasa Inggris. • Potensi anak bangsa memang...
Analisis : Kata potensi merupakan hasil adaptasi dari kata potention yang berasal dari bahasa Inggris.
SEKILAS ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA INDONESIA ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA
Oleh: Elyhawiyaty, S.Pd
1. Pengertian Analisis Kontrastif
a. Konsep analisis kontrastif perlu dipahami oleh guru bahasa Indonesia mengingat bahasa Indonesia bagi sebagian besar siswa merupakan bahasa kedua, walaupun bahasa Indonesia tidak tergolong bahasa asing di Indonesia. b. Dalam mempelajari bahasa kedua yang paling sering dialami oleh siswa
itu dan membuat kesalahan berbahasa dalam proses mempelajari bahasa kedua tersebut.
c. Ada empat langkah kerja analisis kontrastif
1) Guru membandingkan struktur bahasa pertama dengan bahasa kedua yang akan dipelajari siswa.
2) Guru memprediksi kesulitan belajar dan kesalahan berbahasa.
3) Berkaitan dengan pemilihan atau penyusunan, pengurutan, dan penekanan bahan pengajaran.
4) Berkaitan dengan pemilihan cara-cara penyajian bahan pengajaran.
d. Sebagai contoh kesalahan berbahasa yang sering terjadi dibuat oleh siswa, saya temui saat mengajar bahasa Indonesia di sekolah yaitu saat pengajaran bahasa Indonesia berlangsung siswa sering menggunakan bahasa ibunya (daerah) atau menulis dengan bahasa ibunya.
e. Analisi kontrastif ialah suatu proses kerja yang memiliki empat langkah yakni membandingkan struktur bahasa pertama dan bahasa kedua, memprediksi kesulitan belajar dan kesalahan berbahasa, memilih bahan pengajaran, serta menentukan cara penyajian bahan yang tepat dalam rangka mengefesiensikan dan mengefektifkan pengajaran bahasa kedua.
2. Aspek-aspek Analisis Kontrastif
a. Aspek analisis kontrastif ada dua, yakni, aspek linguistik dan aspek psikologi (teori belajar).
Cara menentukan aspek-aspek analisis kontrastif tersebut yakni, 1) Aspek lingistik adalah berkaitan dengan perbandingan struktur dua bahasa untuk menemukan perbedaan-perbedaannya.
2) Aspek psikologi berkaitan dengan langkah kedua yakni berdasarkan perbedaan struktur bahasa pertama dan bahasa kedua yang akan dipelajari siswa diprediksikan kesulitan belajar dan kesalahan berbahasa yang mungkin dihadapi oleh siswa dalam belajar bahasa kedua
4) Langkah keempat, bahan pengajaran itu disajikan dengan cara-cara tertentu. Dasar psikologi analisis kontrastif ada dua yakni asosiasionisme dan teori stimulus-respon.
b. Tataran lingistik yang sudah digarap oleh analisis kontrastif yaitu fonologi dan sintaksis.
c. Melalui perbandingan struktur dua bahasa dapat diungkap enam hal. 1) Tiada perbedaan, sistem atau aspek tertentu dalam dua bahasa tidak ada perbedaan sama sekali.
Misalnya konsonan /l, m, n/ diucapkan sama baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa Inggris.
2) Fonemena konvergen, dua butir atau lebih dalam bahasa pertama menjadi satu butir dalam bahasa kedua.
Misalnya, kata-kata padi, beras, nasi dalam bahasa Indonesia menjadi satu dalam bahasa Inggris yakni rice.
3) Ketidakadaan, butir atau sistem tertentu dalam bahasa pertama tidak terdapat atau tidak ada dalam bahasa kedua atau sebaliknya.
Misalnya, sistem penjamakkan dengan penanda –s atau –es dalam bahasa inggris tidak ada dalam bahasa Indonesia. Sebaliknya, sistem penjamakkan dengan pengulangan kata dalam bahasa Indonesia (meja-meja, kursi-kursi, sayur-sayur) tidak ada dalam bahasa Inggris.
4) Beda distribusi, butir tertentu dalam bahasa pertama berbeda distribusi dengan butir yang sama dalam bahasa kedua.
Misalnya, fonem /ng/ dalam bahasa Indonesia dapat menduduki posisi awal, tengah, dan akhir (ngeri, dengan, sayang). Dalam bahasa Inggris fonem /ng/ hanya terdapat pada tengah dan akhir kata (linguistic, sing).
5) Tiada persmaan, butir tertentu dalam bahasa pertama tidak mempunyai persamaan dalam bahasa kedua.
Misalnya, predikat kata sifat dan kata benda dalam bahasa Indonesia tidak terdapat dalam bahasa Inggris.
6) Fonemena divergen, satu butir tertentu dalam bahasa pertama menjadi dua butir dalam bahasa kedua.
Misalnya, kata we dalam bahasa Inggris menjadi kita atau kami dalam bahasa Indonesia.
d. Beberapa makna istilah-istilah
1) Asosiasi kontak atau asosiasi hubungan yaitu apabila seseorang mendengar kata meja maka yang bersangkutan teringat atau terpikir kepada kata kursi, karena kedua kata itu sering digunakan bersma-sama atau berpasangan. Contoh lain, sendok – garpu, kopi – susu.
2) Asosiasi kesamaan yaitu apabila seseorang mendengar kata sulit, maka yang bersangkutan segera teringat kata sukar karena kedua kata itu bersinonim. Contoh lain, pintar – pandai, mati – meninggal.
3) Asosiasi kontras yaitu apabila seseorang mendengar kata atas, maka yang bersangkutan segera teringat atau terpikir kata bawah karena kedua kata itu mempunyai makna yang berlawanan. Contoh lain, susah – senang, rajin – malas.
4) Belajar secara asosiatif, belajar apabila terjadi hubungan kontak, koneksi, atau asosiasi antara dua hal atau benda.
5) Stimulus responsi, reaksi yang ditimbulkan antara stimulus dan respon atau kebiasaan. Kalau stimulus berlangsung secara tetap maka responsi pun terlatih dan diarahkan tetap.
6) Kebiasaan (habit), apabila hubungan antara stimulus dan responsi itu sudah bersifat mapan atau tetap maka hubungan antara stimulus dan responsi disebut kebiasaan (habit).
7) Ciri-ciri kebiasaan: pertama, kebiasaan itu bersifat observable atau dapat diamati. Apabila kebiasaan itu berupa benda maka benda itu dapat diraba. Kedua, kebiasaan itu terjadi secara spontan tanpa disadari. Ketiga, kebiasaan itu sukar dihilangkan, kecuali kalau lingkungannya diubah.
perilaku yang timbul sebagai reaksi seseorang terhadap suatu aksi atau stimulus. Penguatan adalah suatu stimulus baru yang mengikuti terjadinya suatu responsi. Stimulus baru dapat membuat responsi yang telah terjadi berulang terjadi lagi atau tidak terjadi. Penguatan yang menunjang suatu responsi berulang kembali disebut sebagai penguatan positif dan sebaliknya. 9) Penerapan pembentukan kebiasaan dalam pengajaran bahasa, dalam
pengajaran bahasa pertama anak-anak menguasai bahasa ibunya melalui peniruan. Melalui kegiatan peniruan itulah anak-anak menguasai struktur dan kebiasaan yang berlaku dalam bahasa ibunya. Hal yang sama juga terjadi dalam pengajaran bahasa kedua.
10) Tekanan bahasa ibu, pengaruh yang ditimbulkan oleh struktur bahasa ibu. Tekanan bahasa ibu ini berkaitan dengan teori belajar terutama teori transfer. Dengan adanya penguatan, tekanan bahasa ibu terhadap bahasa kedua diharapkan dapat dihilangkan.
3. Tujuan, Metodologi, dan Cakupan Analisis Kontrastif
a. Tujuan analisis kontrastif adalah mengatasi berbagai masalah yang dihadapi oleh guru dan dialami oleh siswa dalam proses belajar mengajar bahasa kedua.
b. Metodologi analisis kontrastif adalah langkah-langkah kerja analisis kontrastif sekaligus melukiskan daerah cakupan analisis kontrastif.
c. Analisis kontrastif mencakup empat langkah yaitu (1) membandingkan struktur bahasa pertama dan bahasa kedua, (2) memprediksi kesulitan belajar dan kesalahan berbahasa, (3) memilih bahan pengajaran dan (4) menentukan cara penyajian bahasa secara tepat dalam rangka mengefesienkan dan mengefektifkan pengajaran bahasa kedua.
d. Implikasi analisis kontrastif dalam pengajaran bahasa kedua, (1) membandingkan
kesulitan belajar dan kesalahan berbahasa yang telah diprediksi itu dijadikan sebagai landasan dalam memilih dan menyusun bahan, dan menentukan penekanan bahan pengajaran, (4) pemilihan cara-cara penyajian bahan.
e. Hubungan antara linguistik dan psikologi dengan metodologi analisis kontrastif berkaitan erat karena landasan kerja analisis kontrastif ada dua yakni teori linguistik dan teori psikologi, langkah-langkah kerja analisis kontrastif sekaligus melukiskan daerah cakupan analisis kontrastif. Langkah pertama berkaitan dengan perbandingan struktur dua bahasa. Ini menunjukkan bahwa analisis kontrastif berkaitan erat dengan linguistik. Langkah kedua,ketiga, dan keempat berkaitan dengan kesulitan belajar dan kesalahan berbahasa, pemilihan dan penyusunan bahan, serta cara penyajian bahan pengajaran bahasa kedua. Ini membuktikan bahwa analisis kontrastif berkaitan erat dengan psikologi belajar.
4. Hipotesis Analisis Kontrastif
a. Asumsi yang mendasari hipotesis bentuk kuat analisis kontrastif ialah berdasar pada lima asumsi berikut. (1) Penyebab utama kesulitan belajar dan kesalahan berbahasa dalam mempelajari bahasa kedua adalah interferensi bahasa ibu, (2) kesulitan belajar itu disebabkan oleh perbedaan struktur bahasa ibu dan bahasa kedua yang dipelajari oleh siswa, (3) semakin besar perbedaan antara bahasa ibu dan bahasa kedua semakin besar pula kesulitan belajar, (4) perbedaan struktur bahasa pertama dan bahasa kedua diperlukan untuk memprediksi kesulitan belajar dan kesalahan berbahasa yang akan terjadi dalam belajar bahasa kedua, (5) bahan pengajaran bahasa kedua ditekankan pada perbedaan bahasa pertama dan kedua yang disusun berdasarkan analisis kontrastif.
b. Analisis yang tersirat dalam hipotesis bentuk lemah analisis kontrastif ialah kesalahan berbahasa yang disebabkan oleh berbagai faktor. Peranan bahasa pertama tidak besar dalam mempelajari bahasa kedua. Analisis kontrastif dan analisis kesalahan berbahasa harus saling melengkapi.
dengan mengidentifikasikan perbedaan struktur bahasa pertama dan bahasa kedua yang dipelajari siswa.
d. Isi yang tersirat dalam bentuk lemah analisis kontrastif menyatakan bahwa tidak semua kesalahan berbahasa disebabkan oleh interferensi. e. Sumber rasional hipotesis analisis kontrastif adalah (i) pengalaman guru, (ii) kontak bahasa, (iii) teori belajar, penjelasan dari ketiga sumber tersebut adalah:
1) Setiap guru bahasa asing atau bahasa kedua yang sudah berpengalaman pasti mengetahui kesalahan berbahasa yang dibuat oleh siswa dalam mempelajari bahasa kedua. Mereka juga dapat mengaitkan kesalahan tersebut dengan tekanan bahasa ibu siswa.
2) Kontak bahasa terjadi di dalam situasi kedwibahasaan orang yang mengenal atau mengetahui dua bahasa disebut dwibahasawan. Dwibahasawan merupakan wadah terjadinya kontak bahasa.
3) Teori belajar merupakan sumber ketiga pendukung hipotesis analisis kontrastif terutama teori transfer. Transfer diartikan sebagai satu proses yang melukiskan penggunaan tingkah laku yang telah di[elajari digunakan secara spontan dalam memberikan responsi baru
ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA
1. Kaitan antara pengajaran berbahasa, pemerolehan bahasa, kedwibahasaan, interferensi, dan kesalahan berbahasa.
a. Yang dimaksud dengan pengajaran bahasa pertama dan pengajaran bahasa kedua ialah (1) pengajaran bahasa pertama adalah pengajaran bersifat informal yang titik beratnya pada penguasaan bahasa ibu. (2) Sementara pengajaran bahasa kedua ialah kegiatan pemerolehan bahasa biasanya berlangsung melalui pengajaran bahasa yang bersifat formal yang berlangsung di sekolah, dapat juga berlangsung secara informal.
c. Interferensi ialah terjadinya kekacauan pemakaian bahasa oleh dwibahasawan. Contohnya orang Dayak Ma’anyan tidak mengenal fonem /o/ sehingga dalam bahasa Indonesia sering terjadi kesalahan fonem /o/ diucapkan /u/.
d. Makna istilah dwibahasawan ialah orang menggunakan/menguasai dua bahasa atau lebih, sehingga saling mempengaruhi antara b1 dan b2. Contoh, bahasa Ma’anyan dan bahasa Indonesia (supir, bahasa Ma’anyan) (sopir, bahasa Indonesia).
e. Kesahan bahasa adalah transfer negatif yang menyebabkan timbulnya kesulitan dalam pengajaran b2 akibat dari sistem yang digunakan berlainan dalam penyampaiannya.
f. Kaitan antara pengajaran bahasa, pemerolehan bahasa, kedwibahasaan, interferensi dan kesahan bahasa oleh adanya umpan balik antara kelima unsur itu atau dengan kata lain semua unsur saling berhubungan dan saling berkaitan, sehingga merupakan satu kesatuan yang utuh.
2. Pengertian dan analisis kesalahan berbahasa.
a. Pendapat pengikut pendekatan komunikatif terhadap kesalahan berbahasa merupakan bagian dari proses belajar mengajar. Ini berarti kesalahan berbahasa adalah bagian yang integral dari pengajaran bahasa, baik pengajaran bahasa bersifat formal maupun informal.
b. Kesimpulan yang diperoleh dari pengalaman guru bahasa di lapangan mengenai kesalahan berbahasa tidak hanya dibuat oleh siswa yang mempelajari bahasa kedua, tetapi juga bagi siswa yang mempelajari bahasa pertama, diibaratkan ikan dengan air. Ikan tidak dapat hidup tanpa air begitu pula kesalahan berbahasa selalu terjadi dalam pengajaran bahasa.
d. Kaitan antara kesalahan berbahasa dengan tujuan pengajaran bahasa adalah untuk memperkecil kesalahan yang dibuat dalam mempelajari kedua bahasa (b2 maupun b1), bahkan kalau bisa kesalahan itu dihapus sama sekali.
e. Analisis kesalahan berbahasa adalah suatu prosedur kerja yang biasa digunakan oleh peneliti atau guru bahasa, yang meliputi kegiatan mengumpulkan sampel kesalahan, mengidentifikasi kesalahan yang terdapat dalam sampel, menjelaskan kesalahan tersebut, mengklasifikasikan kesalahan itu dan mengevaluasi taraf keseriusan kesalahan itu.
f. Analisis kesalahan berbahasa menurut saya adalah suatu cara atau langkah kerja yang biasa digunakan oleh peneliti atau guru bahasa untuk mengumpulkan data, mengidentifikasi kesalahan, menjelaskan kesalahan, mengklasifikasikan kesalahan dan mengevaluasi taraf keseriusan kesalahan berbahasa.
3. Tujuan dan metodologi analisis kesalahan berbahasa.
a. Kesalahan-kesalahan berbahasa yang dibuat oleh siswa harus dicatat dengan teliti oleh guru karena berdasarkan hasil analisis kesalahan berbahasa tersebut dapat digunakan sebagai dasar dalam memperbaiki komponen proses belajar mengajar berbahasa berikutnya.
b. Data atau kesalahan berbahasa yang telah dibuat siswa diolah dengan cara (1) mengklasifikasikan jenis kesalahan, (2) mengurutkan kesalahan berdasarkan frekuinsinya, (3) menggambarkan letak kesalahan dan memperkirakan penyebab kesalahan, (4) memperkirakan atau memprediksi daerah atau butir kebahasaan yang rawan kesalahan, (5) mengoreksi kesalahan atau memperbaiki kesalahan.
c. Yang dimaksud dengan metodologi analisis kesalahan berbahasa adalah suatu prosedur atau langkah-langkah kerja analasis kesalahan berbahasa.
diklasifikasikan sesuai tingkat keslahannya, (3) mengurutkan kesalahan berdasarkan frekuinsinya, kesalahan itu dilihat dan diurutkan berdasarkan tingkat keseringan terjadinya kesalahan, (4) menjelaskan kesalahan, kesalahan yang terjadi setelah diurutkan dijelaskan sebab akibat terjadinya keslahan, (5) memprediksi tataran kebahasaan yang rawan kesalahan, memperkirakan bidang kebahasaan mana yang sering terjadi kesalahan siswa, (6) mengoreksi kesalahan, kesalahan yang ada dikoreksi atau diperiksa supaya dapat diambil langkah perbaikan selanjutnya.
e. Tujuan analisis kesalahan berbahasa adalah mencari dan menentukan landasan perbaikan pengajaran bahasa.
4. pengertian kesalahan, sumber dan penyebab kesalahan. a. Makna kesalahan berbahasa bila dipandang dari sudut,
guru, kesalahan berbahasa itu adalah suatu aib atau cacat cela bagi pengajaran bahasa,
siswa, menandakan bahwa pengajaran bahasa tidak berhasil atau gagal. b. Makna kesalahan berbahasa yang dijumpai dalam literatur analisis kesalahan
berbahasa ialah kesalahan berbahasa itu hanya dikaitkan dengan kaidah bahasa atau tata bahasa saja.
c. Makna sembuyan “Pakailah bahasa Indonesia yang baik dan benar” adalah bahwa pemakaian bahasa Indonesia itu harus mengikuti faktor-faktor penentu dalam berkomunikasi dan istilah tata bahasa.
d. Beda antara kesalahan berbahasa dengan kekeliruan berbahasa adalah kesalahan berbahasa disebabkan oleh faktor pemahaman, kemampuan kompetensi seseorang. Kekeliruan berbahasa terjadi karena lupa atau keliru dalam menerapkan kaidah bahasa, sifatnya tidakpermanen. Persamaannya adalah penyimpangan kaidah bahasa.
ANALISIS KESALAHAN BAHASA DALAM MEDIA BAWEAN
Oleh : Drs. H. Abdul Khaliq
1. Pengantar
Dari 20 orang pemberi saran dan kritik kepada Media Bawean, edisi 1 Januari 2011, ada 17 orang ( 85% ) yang memberikan pujian, harapan, dan doanya. Hanya 3 orang ( 15% ) pemberi saran dan kritik yang berhubungan dengan kebahasaan. Ketiga orang tersebut adalah Sdr. Hanif Benjoseph, Sdr. Halis Emilianenkov, dan Sdr. Asror Ch. Saya adalah orang keempat yang akan memberikan saran dan kritik kepada Media Bawean. Kritik dan saran ini saya bingkai dalam judul "Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia pada Penulisan Berita dan Artikel di Media Bawean”.
Hasil analisis saya ini, saya tulis menjadi tiga bagian, yaitu : A. Analisis Kesalahan Ejaan pada Judul;
B. Analisis Kesalahan Ejaan pada Isi; dan C. Analisis Kesalahan Kalimat.
2. Korpus data :
Ada 43 judul berita, dan 2 judul artikel yang saya ambil dari entri lawas pada Media Bawean yang terbit pada kurun waktu akhir Desember 2010 s.d. awal Januari 2011.
3. Metode : Deskriptif – komparatif 4. Tujuan :
1. Mengidentifikasi jenis-jenis kesalahan berbahasa Indonesia, yang meliputi ejaan, frase, kata, dan kalimat.
3. Membantu dan mendorong penulis berita/ artikel agar memperhatikan dan mengikuti kaidah - kaidah penulisan yang benar.
5. Langkah-langkah :
Agar dapat menganalisis kesalahan berbahasa secara baik, maka diperlukan langkah – langkah sbb.:
a. Pengumpulan data;
b. Pengidentifikasian kesalahan; c. Penjelasan kesalahan;
d. Pengklarifikasian kesalahan; dan e. Pengevaluasian kesalahan.
Atas dasar langkah – langkah di atas dapat dikatakan bahwa yang dimaksud dengan analisis kesalahan dalam berbahasa adalah suatu proses kerja yang digunakan oleh para guru atau peneliti bahwa dengan langkah – langkah pengumpulan data, pengidentifikasian kesalahan, penjelasan kesalahan itu berdasarkan penyebabnya, serta pengevaluasian taraf keseriusan kesalahan. (Tarigan, 1990 : 68) dalam Pakde Sofa. (Pdf/ http://www.findtoyou.com)
6. Hasil analisis data:
6.1. Kesalahan ortografi (ilmu ejaan);
6.2. Ketidakmampuan membedakan penggunaan kata depan (di, ke) dengan (di) sebagai imbuhan, seperti penulisan:
kedepan –> ke depan disungai –> di sungai di tandai –> ditandai
6.3. Penulisan unsur serapan yang tidak tepat seperti: terisolir –> terisolasi
standarisasi –> standardisasi
ketidak sengajaan –> ketidaksengajaan
6.5. Penyusunan kalimat yang diawali dengan kata penghubung 6.6. Penyusunan kalimat tidak bersubjek
6.7. Penyusunan kalimat tidak berobjek
6.8. Kata yang mubazir, seperti: agar supaya, mulai dari.
7. Persebaran Kesalahan Ejaan pada Penulisan Judul
8. Analisis
A. Analisis Kesalahan Ejaan pada Penulisan Judul Kajian Pustaka
Keseluruhan peraturan bagaimana menggambarkan lambang – lambang bunyi ujaran dan bagaimana inter-relasi antara lambang – lambang itu (pemisahannya dan penggabungannya) dalam suatu bahasa disebut ejaan. (Keraf, 1984: 47)
Ada tiga ejaan yang pernah berlaku di Indonesia:
1. Ejaan van Ophuysen atau ejaan Balai Pustaka pada tahun 1901. 2. Ejaan Suwandi atau Ejaan Republik pada tahun 1947.
3. Ejaan yang Disempurnakan (EyD) yang mulai berlaku pada tanggal 17 Agustus 1972.
Kemudian, ejaan ini mengalami revisi dengan nama Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 0543a/U/1987, tanggal 9 September 1987, dicermatkan pada Rapat Kerja ke-30 Panitia Kerja Sama Kebahasaan di Tugu, tanggal 16–20 Desember 1990 dan diterima pada Sidang ke-30 Majelis Bahasa Brunei Darussalam – Indonesia – Malaysia di Bandar Seri Begawan, tanggal 4 – 6 Maret 1991.
Secara garis besar Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan berisi pedoman tentang:
I. Pemakaian huruf,
II. Pemakaian huruf kapital dan huruf miring, III. Penulisan kata,
IV. Penulisan unsur serapan, dan V. Pemakaian tanda baca.
Pengertian Judul
Judul adalah nama yang dipakai untuk buku, bab dalam buku, kepala berita, dll. Judul merupakan identitas atau cermin dari jiwa seluruh karya tulis bersifat menjelaskan diri dan dapat menarik perhatian. Ada kalanya judul menunjukkan tempat atau lokasi. Dalam artikel, judul sering disebut juga kepala tulisan. Ada yang mendefinisikan judul adalah lukisan singkat suatu artikel atau disebut juga miniatur isi bahasan. Judul hendaknya dibuat dengan ringkas, padat dan menarik. Judul artikel diusahakan tidak lebih dari lima kata, tetapi menggambarkan isi bahasan dari artikel tersebut.
Syarat – syarat pembuatan judul:
1. Harus relevan, yaitu harus mempunyai pertalian dengan temanya, atau ada pertalian dengan beberapa bagian penting dari tema tersebut.
3. Harus singkat, yaitu tidak mengambil kalimat atau frase yang panjang, tetapi harus berbentuk kata atau rangkaian kata yang singkat. Usahakan judul tidak lebih dari lima kata (Keraf,1985:129).
Judul terbagi menjadi 2, yaitu: 1. Judul langsung
Judul langsung ini erat kaitannya dengan bagian utama berita, sehingga hubungannya dengan bagian utama tampak jelas.
2. Judul tidak langsung
Judul tidak langsung ini tidak erat hubungannya dengan bagian utama berita, tetapi tetap menjiwai seluruh isi karangan atau berita.
Fungsi judul:
1. Merupakan identitas/ cermin dari jiwa seluruh karya tulis.
2. Temanya menjelaskan isi dan menarik, sehingga mengundang orang untuk membacanya atau untuk mempelajari isinya.
3. Merupakan gambaran global tentang arah, maksud, tujuan, dan ruang lingkupnya. 4. Relevan dengan isi seluruh naskah karya tulis, baik dalam masalah, maksud, dan tujuannya (http://yukfuk.wordpress.topik-tema-judul/).
A. Analisis Kesalahan Ejaan pada Judul
a) Kesalahan penulisan kata depan (di, ke, dari) Perhatikan contoh – contoh penulisan judul berikut:
(1) Ulama Merapatkan Barisan Stop Kemaksiatan Di Bawean (MB, 30/12/2010) (2) Keluarga Besar Mahali Jasuli Di Gelam Pulau Bawean (MB, 30/12/2010) (3) Subanin (Kades Sukalela) Turun Ke Sungai Cari Batu (MB, 29/12/2010) (4) Sporter Dari Bawean Berangkat Ke Malaysia (MB, 25/12/2010)
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, untuk yang tidak terletak pada posisi awal. Misalnya:
Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.
Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.
Ia menyelesaikan makalah ”Asas-Asas Hukum Perdata”.
Alternatif pembenarannya:
(1) Ulama Merapatkan Barisan Stop Kemaksiatan di Bawean (MB, 30/12/2010) (2) Keluarga Besar Mahali Jasuli di Gelam Pulau Bawean (MB, 30/12/2010) (3) Subanin (Kades Sukalela) Turun ke Sungai Cari Batu (MB, 29/12/2010) (4) Sporter dari Bawean Berangkat ke Malaysia (MB, 25/12/2010)
b) Kesalahan penulisan singkatan
Perhatikan contoh – contoh penulisan judul berikut:
(5) Mimpi RS. Tipe D Bawean Dari Listrik Berubah Dokter (MB, 30/12/2010) (6) KH. Kasim Dari Singapore Bantu Renovasi Masjid Jami’ (MB, 22/12/2010) (7) Listrik Di Bawean 24 Jam Kurangi Beban PT. Telkom (MB, 01/01/2011)
Pedoman EyD:
Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih. a. Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan atau pangkat diikuti dengan tanda titik.
Misalnya:
Suman Hs. Sukanto S. A.
M.B.A master of bussiness administration M.Sc. master of science
S.E. sarjana ekonomi S.Kar. sarjana karawitan
S.K.M. sarjana kesehatan masyarakat Bpk. bapak
Sdr. saudara Kol. kolonel
b. Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik.
Misalnya:
DPR Dewan Perwakilan Rakyat
PGRI Persatuan Guru Republik Indonesia GBHN Garis – Garis Besar Haluan Negara SMTP Sekolah Menengah Tingkat Pertama PT Perseroan Terbatas
KTP Kartu Tanda Penduduk
c. Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik.
Misalnya: dll. dan lain-lain dsb. dan sebagainya dst. dan seterusnya hlm. halaman
Yth. Yang terhormat
Tetapi:
a.n. atas nama d.a. dengan alamat u.b. untuk beliau u.p. untuk perhatian
d. Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik.
Misalnya: Cu kuprum
TNT trinitrotoluen cm centimeter kVA kilovolt-ampere l liter
kg kilogram Rp rupiah
Alternatif pembenarannya:
(5) Mimpi RS Tipe D Bawean dari Listrik Berubah Dokter (MB, 30/12/2010) (6) K.H. Kasim dari Singapore Bantu Renovasi Masjid Jami’ (MB, 22/12/2010) (7) Listrik di Bawean 24 Jam Kurangi Beban PT Telkom (MB, 01/01/2011)
c) Kesalahan tidak memakai tanda koma
Kesalahan penulisan tanda koma:
(8) Keluarga Besar Mahali Jasuli Di Gelam Pulau Bawean (MB, 30/12/2010)
Tanda koma dipakai di antara (i) nama dan alamat, (ii) bagian-bagian alamat, (iii) tempat dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
Misalnya:
Surat-surat ini harap dialamatkan kepada Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jalan Raya Salemba 6, Jakarta.
Sdr. Abdullah, Jalan Pisang Batu 1, Bogor Surabaya, 10 Mei 2010
Kuala Lumpur, Malaysia
Alternatif pembenarannya:
(8) Keluarga Besar Mahali Jasuli di Gelam, Pulau Bawean (MB, 30/12/2010)
d) Kesalahan tidak memakai huruf miring
Perhatikan contoh – contoh penulisan judul berikut:
(9) FB Merambah Bumi Bawean Kalangan Anak Sampai Tua (MB, 04/01/2011) (10) Dan Fitnah itu Bernama HP (MB, 26/12/2010)
Pedoman EyD:
Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan asing, kecuali yang telah disesuaikan ejaannya.
Misalnya:
Alternatif pembenarannya:
(9) FB Merambah Bumi Bawean Kalangan Anak Sampai Tua (MB, 04/01/2011) (10) Dan Fitnah itu Bernama HP (MB, 26/12/2010)
e) Kesalahan tidak memakai titik dua (:)
Perhatikan contoh penulisan judul berikut:
(11) Ketua Umum KTB Hadirilah Molod Internasional (MB, 04/01/2011)
Pedoman EyD:
Tanda titk dua dapat dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.
Alternatif pembenarannya:
11) Ketua Umum KTB: ”Hadirilah Molod Internasional!” (MB, 04/01/2011)
f) Kesalahan tidak konsisten penulisan huruf nama orang Perhatikan contoh – contoh penulisan judul berikut:
(12) Mahalli Bin Jazuli Pemain Timnas Malaysia Keturunan Bawean (MB, 26/12/2010)
(13) Keluarga Besar Mahali Jasuli Di Gelam Pulau Bawean (MB, 30/12/2010)
Penulisan huruf nama orang pada contoh judul (12) dan (13) di atas, manakah ejaan yang benar? Mahalli ataukah Mahali? Jazuli ataukah Jasuli?
Perhatikan contoh penulisan judul berikut:
(14) Suara Hati Pengelolah Media Bawean (MB, 01/01/2011)
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tidak ditemukan entri kata pengelolah. Yang ada kata pengelola (tanpa huruf h di akhir kata).
Pengelola di ambil dari kata dasar kelola –> mengelola pengelola
( KBBI, 1995: 470)
Alternatif pembenarannya:
(14) Suara Hati Pengelola Media Bawean (MB, 01/01/2011)
h) Kesalahan penulisan unsur serapan
Perhatikan contoh – contoh penulisan judul berikut:
(15) Sporter Garuda Dari Bawean Berangkat Ke Malaysia (MB, 25/12/2010) (16) Ribuan Warga Pulau Bawean Terisolir (MB, 16/12/2010)
Pedoman EyD:
Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing, seperti Sansekerta, Arab, Portugis, Belanda, atau Inggris. Berdasarkan taraf integrasinya, unsur pinjaman dalam bahasa Indonesia dapat dibagi atas dua golongan besar. Pertama, unsur pinjaman yang belum terserap sepenuhnya ke dalam bahasa Indonesia, seperti reshuffle, shuttle cock, l’exploitation de l’homme par l’homme. Unsur-unsur ini dipakai dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi pengucapannya masih mengikuti cara asing. Kedua, unsur pinjaman yang pengucapan dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah penulisan bahasa Indonesia. Dalam hal ini diusahakan agar diubah seperlunya, sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk aslinya.
supporter –> supporter
Tetapi:
mass –> massa
Akhiran asing -(a)tion (Inggris), -(a)tie (Belanda) menjadi -asi, -si.
Contoh:
publication, publicatie menjadi publikasi
isolation, isolatie menjadi isolasi, bukan isolir atau terisolir.
Alternatif pembenarannya:
(15) Suporter Garuda dari Bawean Berangkat ke Malaysia (MB, 25/12/2010) (16) Ribuan Warga Pulau Bawean Terisolasi (MB, 16/12/2010)
i) Kesalahan tidak memakai tanda tanya (?) Perhatikan contoh penulisan judul berikut:
(17) Berlakukah Ujian Nasional Versi ’Dagelan’ Di Bawean (MB, 10/01/2011) Pedoman EyD:
Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.
Alternatif pembenarannya: