TUGAS HUKUM ORGANISASI INTERNASIONAL
Penerapan Prinsip-Prinsip World Trade Organization (WTO) Bagi Negara
Berkembang
Disusun oleh:
ANAS FARKHAN
NIM 09/288806/HK/18249
FAKULTAS HUKUM
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang
World Trade Organization (WTO) atau merupakan badan internasional yang secara khusus
mengatur masalah perdagangan antar Negara. WTO secara resmi berdiri pada tanggal 1 Januari
1995 walaupun sejak tahun 1948, General Agreement on Tariffs and Trade (GATT) telah
membuat aturan-aturan dalam pelaksanaan system perdagangan dunia. World Trade Organization
(WTO) memuat ketentuan-ketentuan khusus yang dikenal dengan istilah Special and Differential
Treatment (S&D), ketetuan yang berlaku bagi anggota-anggota WTO yang berasal dari
negara-negara sedang berkembang (NSB). Meskipun telah menjadi bagian integral dari Perjanjian WTO,
secara teoretis eksistensi S&D tersebut masih mengundang kontroversi karena dalam
ketentuan-ketentuan tersebut WTO seakan-akan mengutamakan kepentingan Negara berkembang, tetapi
dalam prakteknya seringkali Negara – negara berkembang justru menerima kerugian.
Sistem perdagangan multilateral WTO diatur melalui suatu persetujuan yang berisi aturan-aturan
dasar perdagangan internasional sebagai hasil perundingan yang telah ditandatangani oleh
negara-negara anggota. Persetujuan tersebut merupakan kontrak antar negara-anggota yang
mengikat Negara-negara anggota untuk mematuhinya dalam pelaksanaan kebijakan
perdagangannya. Walaupun ditandatangani oleh pemerintah, tujuan utama dari diadakannya
perjanjian tersebut adalah untuk membantu para produsen barang dan jasa, eksportir dan
importer dalam kegiatan perdagangan internasional. Indonesia merupakan salah satu negara
pendiri WTO dan telah meratifikasi Persetujuan Pembentukan WTO melalui UU NO.
tentang ratifikasi “Agreement Establising the World Trade Organization” tersebut, maka semua
persetujuan yang ada didalamnya berlaku secara sah di dalam system hukum Indonesia.
Perumusan Masalah
1. Bagaimanakah Struktur Keorganisasian WTO ?
2. Prinsip-prinsip apa yang berlaku bagi negara anggota WTO ?
3. Bagaimana pengecualian penerapan Pinsip-prinsip WTO bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia agar kepentingan nasionalnya dapat terlindungi ?
BAB II
PEMBAHASAN
Struktur WTO
Badan tertinggi dalam struktur WTO adalah Ministerial Conference (MC) yaitu pertemuan
tingkat menteri perdagangan negara anggota WTO yang diadakan sekali dalam dua
tahun.Ministerial Conference ini mempunyai wewenang untuk mengambil keputusan atas semua
hal-hal yang dirundingkan ditingkat bawah dan menetapkan masalah-masalah yang akan
dirundingkan dimasa mendatang. Struktur dibawah Ministerial Conference adalah General
Council (GC) yang membawahi 5 badan yaitu :
Council For Trade in Goods (CTG) yaitu badan yang menangani masalah perdagangan barang . yang membawahi berbagai komite ditambah Kelompok Kerja (Working Group)
serta badan yang khusus menangani masalah texstil dan pakaian jadi yaitu Textiles
Agriculture, Komite Sanitary and Phytosanitary, Komite Rules of Origin, Komite
Subsidies and Countervailing measures, Komite Custom Valuation, Komite Technical
Barriers to Trade, Komite Anti-dumping Practices, Komite Import Licencing dan Komite
Safequard.
Council For Trade in Services (CTS),Council For Trade in Services hanya membawahi satu committee yaitu Committee Trade in Financial Services ditambah dengan tiga
Negotiating Group (NG) yaitu NG on Maritime Transport Services, NG. On Basic
Telecommunication dan NG on Movement of Natural Persons ditambah lagi dengan
satu Working Party (WP) yaitu WP . on Professional Services.
Council For Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights (Council For TRIPs). Dispute Setlement Body (DSB)
Trade Policy Review Body (TPRB).
Disamping itu terdapat pula empat Komite yang karena sifat dan subtansinya maka
pengawasannya berada dibawah Ministerial Conference dan General Council yaitu :
(1) Komite Trade and Environment
(2) Komite Trade and Development
(3) Komite Balance of Payments
(4) Komite Budget-Finance and Administration.
Sedangkan dibawah General Council terdapat pula dua buah Komite dan badan internasional
yang menangani perjanjian-perjanjian yang sifatnya plurilateral yaitu Komite Trade in Civil
Aircraft dan Komite Government Procurement, International Dairy Council dan International
Meat Council.
WTO memiliki 5 (lima) prinsip dasar yaitu :
1. Perlakuan yang sama untuk semua anggota (Most Favoured Nations Treatment-MFN).
Prinsip ini diatur dalam pasal I GATT 1994 yang mensyaratkan semua komitman yang
dibuat atau ditandatangani dalam rangka GATT-WTO harus diperlakukan secara sama
kepada semua negara anggota WTO (azas non diskriminasi) tanpa syarat. Misalnya suatu
negara tidak diperkenankan untuk menerapkan tingkat tarif yang berbeda kepada suatu
negara dibandingkan dengan negara lainnya. Dengan berdasarkan prinsip MFN,
negara-negara anggota tidak dapat begitu saja mendiskriminasikan mitra-mitra dagangnya.
Keinginan tarif impor yang diberikan pada produk suatu negara harus diberikan pula kepada
produk impor dari mitra dagang negara anggota lainnya.
2. Pengikatan Tarif (Tariff binding)
Prinsip ini diatur dalam pasal II GATT 1994 dimana setiap negara anggota GATT atau WTO
harus memiliki daftar produk yang tingkat bea masuk atau tarifnya harus diikat (legally
bound). Pengikatan atas tarif ini dimaksudkan untuk menciptakan “prediktabilitas” dalam
urusan bisnis perdagangan internasional/ekspor. Artinya suatu negara anggota tidak
diperkenankan untuk sewenang-wenang merubah atau menaikan tingkat tarif bea masuk.
3. Perlakuan nasional (National treatment)
Prinsip ini diatur dalam pasal III GATT 1994 yang mensyaratkan bahwa suatu negara tidak
diperkenankan untuk memperlakukan secara diskriminasi antara produk impor dengan
produk dalam negeri (produk yang sama) dengan tujuan untuk melakukan proteksi.
Jenis-jenis tindakan yang dilarang berdasarkan ketentuan ini antara lain, pungutan dalam negeri,
undang-undang, peraturan dan persyaratan yang mempengaruhi penjualan, penawaran
penjualan, pembelian, transportasi, distribusi atau penggunaan produk, pengaturan tentang
negeri. Negara anggota diwajibkan untuk memberikan perlakuan sama atas barang-barang
impor dan lokal- paling tidak setelah barang impor memasuki pasar domestik.
4. Perlindungan hanya melalui tarif.
Prinsip ini diatur dalam pasal XI dan mensyaratkan bahwa perlindungan atas industri dalam
negeri hanya diperkenankan melalui tarif.
Penerapan Prinsip-Prinsip WTO bagi Negara Berkembang
Perjanjian Organisasi Perdagangan Dunia atau World Trade Organization (WTO) memuat kurang
lebih 145 ketentuan khusus, dikenal dengan istilah Special and Differential Treatment (S&D),
bagi anggota-anggota WTO yang berasal dari negara-negara sedang berkembang (NSB). S&D
menghendaki adanya suatu perbedaan perlakuan di WTO yang menguntungkan anggota-anggota
yang berasal dari negara-negara berkembang. Dengan kalimat lain, S&D merupakan instrumen
untuk mencapai tujuan-tujuan pembangunan (a means of development) dan instrumen untuk
menggapai keadilan (a means of justice) bagi NSB dalam perdagangan internasional di bawah
payung WTO.
Safeguards Negara-negara Berkembang
Safeguards dikenal dalam Pasal XIX poin pertama GATT 1994 tentang Emergency Action on
Imports of Particular Products. Agreement on Safeguards menetapkan bahwa suatu negara
penetapan persetujuan pemasaran terarah maupun kebijaksanaan lain yang serupa terhadap
ekspor maupun impor. Setiap kebijaksanaan sejenis itu yang masih berlaku pada saat perjanjian
ini dinyatakan berlaku atau harus dihapus secara bertahap dalam waktu 4 (empat) tahun.
Pengecualian dapat dibuat untuk suat kebijaksanaan khusus namun harus disetujui bersama oleh
negara anggota WTO lainnya.
Dalam keadaan mendesak, suatu kebijaksanaan safeguards sementara (provisional safeguards)
dapat diterapkan atas dasar penetapan pendahuluan menghadapi kerugian yang riil. Jangka waktu
berlakunya kebijaksanaan safegurads sementara tersebut tidak boleh melebihi 200 (dua ratus)
hari. Agreement on Safeguards juga menentukan kriteria untuk penetapan adanya suatu
serious-injury dan pengaruh spesifiknya terhadap impor sebagai berikut:
- Tindakan safeguards dapat diterapkan hanya sepanjang diperlukan untuk melindungi atau
mengatasi kerugian yang serius dan memudahkan penyesuaiannya.
- Apabila pembatasan yang digunakan, diterapkan dalam bentuk pembahasan kuantitatif
atau quantitative restriction maka hal itu tidak boleh mengurangi jumlah impor rata-rata per
tahun selama-lama 3 (tiga) tahun berturut-turut sesuai data statistik yang tersedia, kecuali ada
alasan yang secara jelas diberikan yaitu bahwa tingkat perbedaan tersebut diperlukan untuk
melindungi atau mengatasi kerugian yang serius.
Safeguards adalah hak darurat membatasi impor apabila terjadi peningkatan impor yang
menimbulkan serious-injury terhadap industri domestik. Tindakan safeguards tidak boleh
diterapkan terhadap suatu produk yang berasal dari suatu negara berkembang yang menjadi
anggota perjanjian ini jika pangsa impor dari produk tersebut tidak lebih dari 3% (tiga persen).
Namun larangan penetapan tindakan safeguards terhadap negara berkembang yang menjadi
pangsa negara berkembang tidak lebih dari 9% (sembilan persen) dari keseluruhan impor produk
yang bersangkutan.
Selanjutnya ditentukan bahwa negara berkembang mendapat hak untuk memperpanjang jangka
waktu penerapan suatu tindakan safeguards yang dilakukannya untuk suatu kurun waktu sampai
melebihi 2 (dua) tahun di luar batas maksimal yang normal. Negara tersebut juga dapat
menerapkan kembali suatu tindakan safeguards terhadap suatu produk yang pernah menjadi
subjek tindakan semacam itu untuk suatu kurun waktu yang sama dengan setengah dari jangka
waktu tindakan sebelumnya, atau tidak kurang dari dua tahun.
Perlakuan dan pembedaan yang diberikan oleh WTO
Committee on Governmental Procurement
Negara berkembang yang berminat masuk dalam perjanjian khusus ini dapat dikecualikan
dari ketentuan mengenai national treatmnent melalui negosiasi dengan negara-negara
penadatangan lainnya. Pengecuaian tersebut dapat diberikan kepada negara-negara
berkembang yang mengalami kesulitan dalam neraca pembayaran ataupun karena situasi
tingkat perkembangan, keuangan dan perdagangannya tidak memungkinkan negara yang
bersangkutan untuk dapat memenuhi ketentuan mengenai national treatment tersebut. Selain
itu bagi negara-negara berkembang yang menjadi anggota suatu regional-global arrangement
antara negara-negara berkembang dapat dikecualikan dari ketentuan national treatment
tersebut (Pasal III: 4, 5 ,6 dan 7)
Adanya bantuan teknis yang dapat diberikan atas permintaan negara berkembang yang
untuk memecahkan permasalahan yang mereka hadapi dalam bidang government
procurement(Pasal III: 8 dan 9)
Negara-negara maju akan mendirikan information centre untuk menampung dan menjawab
pertanyaan yang diajukan negara berkembang sehubungan dengan masalah government
procurement (Pasal III:10)
Mengenai special and differential treatment, oleh committee secara berkala akan dilakukan
peninjauan kembali apakah pengecualian yang diberikan kepada suatu negara akan
diperpanjang waktunya. (Pasal III: 13)
Waiver dan Pembatasan Darurat terhadap Impor
WTO mengijinkan diadakannya perkecualian dalam bentuk waiver dan langkah darurat
lainnya. Perkecualian dalam bentuk waiver misalnya suatu negara dalam melaksanakan
kebijakan bidang pertaniannya sebenarnya melanggar GATT, tetapi karena telah ditetapkan
sebelum adanya GATT, maka kebijakan tersebut memperoleh waiver (pelepasan tuntutan).
Dalam kasus tertentu suatu negara dapat menghadapi suasana darurat yang memerlukan
penanganan dengan mengambil langkah proteksi karena industri dalam negerinya
menghadapi masalah. Pasal XIX mengizinkan suatu negara untuk mengambil langkag
protektif tersebut. Tetapi pasal XIX menyatakan bahwa langkah protektif tersebut adalah
langkah darurat yang bersifat sementara. Perkecualian tersebut dikenal sebagai safeguards.
Dengan syarat yang ditentukan secara khusus, suatu negara anggota GATT dapat
menerapkan suatu restriksi dalam impornya atau mencabut konsesi tariff yang telah
diberikan kepada negara lain untuk produk-produk yang telah mengalami peningkatan impor
yang sedemikian besar shingga menimbulkan kesulitan yang berat untuk industri dalam
Perkecualian untuk Perjanjian Perdagangan Regional
Perjanjian perdagangan regional banyak dimaksudkan bertujuan untuk mengurangi atau
menghapuskan hambatan perdagangan dalam bentuk bea masuk (tariff) atau hambatan
lainnya (non-tariff).
Pasal XXIV telah mengizinkan perjanjian perdagangan regional, tetapi dengan ketentuan
bahwa tujuannya untuk meningkatkan perdagangan, tanpa harus meningkatkan bea masuk
maupun hambatan non-tariff tambahan terhadap barang dari negara-negara non-anggota
sehingga menimbulkan hambatan pada taraf yang lebih tinggi daripada yang berlaku sebelum
adanya perjanjian.
BAB III PENUTUP
Kesimpulan
Perlidungan Terhadap Kepentingan Nasional Melalui Pengecualian Penerapan
Prinsip-prinsip WTO terutama bagi Negara-negara Berkembang seperti Indonesia diberikan dengan
perlakuan-perlakuan khusus seperti:
negara-negara berkembang yang menghadapi masalah neraca pembayaran yang serius, dapat
diizinkan menggunakan langkah restriksi kuantitatif dengan kriteria yang lebih lunak dari
negara maju (Pasal XVIII). Negara berkembang juga mendapat hak untuk memperpanjang
jangka waktu penerapan suatu tindakan safeguards yang dilakukannya untuk suatu kurun
waktu sampai melebihi 2 (dua) tahun di luar batas maksimal yang normal. Negara
berkembang tersebut juga dapat menerapkan kembali suatu tindakan safeguards terhadap
yang sama dengan setengah dari jangka waktu tindakan sebelumnya, atau tidak kurang dari
dua tahun. Selain itu secara umum, negara-negara berkembang diberi waktu yang lebih
panjang untuk menerapkan isi perjanjian-perjanjian WTO daripada negara-negara lain.
Negara-negara berkembang diberikan kesempatan untuk mempersiapkan infrastruktur dan
suprastruktur bagi perjanjian-perjanjian dan aturan-aturan WTO dengan diberi jangka waktu
pemberlakuan yang lebih. Dengan begitu negara-negara berkembang diharapkan dapat lebih
DAFTAR PUSTAKA
H. S. Kartadjoemena, “GATT dan WTO; Sistem Forum dan Lembaga
Internasional di Bidang Perdagangan”, Jakarta: Penerbit Universitas
Indonesia (UI-PRESS), 1996.
WTO, Understanding the WTO, World Trade Organization, 2003.
WTO, The Legal Text, The Results of the Uruguay Round of Multilateral Trade Negotiations, 2002
World Trade Organization, rue de Lausanne 154, CH-1211 Geneva 21, Switzerland
http://www.wikipedia.com