ANARKISME
DEMONSTR,ASI
MAHASISWA
:STUDI
KASUS
PADA UNIVERSITAS
ISIITM
NEGERI
ALAUDDIN
MAKASSAR
Hasse J.
Alumnus Program Studi Ilmu Agama dan Lintas Budaya
Sekolah Pascasarjana UGM, Yogyakarta
Email : pr aktisi _9 9 @y ahoo. mm
ABSTRACT
This study aims to destibe the phenomenon of rsiolence in the student dcmonsfuations in Maknssar. Violence
in
the demonstrations, especially by students at seoed unioersities in Makassar isa
sightfamiliar to the public. Submission of student aspirations through a danonstration is nnsida'ed a aery
ffictiae
medium. Howeoer, the demonstration is always ended with a riot / oiolence. Metod collectionof data through obseruatiott of student deaelopment actioities, demonstration actiuities, both inside and outside the college; in-depth interaiews conducted on-campus stufunts and stakeholderc and the public; conducted group discussions with students who are inoolzted
ol
notin
any demonstration;study documentationlliterature do specifically to rcsearch and
writing
as well as opinion pieces in newspapers that are stored in seaeral parties.Key words: Violence, Students, Demonstrations, Makassar.
ABSTRAK
Penelitian
ini
bertujuan mendeskripsikan fenomena kekerasan yang terjndi pada demonstrasimahasiswa
di
Makassar. Kekerasanyang
terjadi dalnm
demonsttasi khususnya yangdilakukan oleh mahasiswa
di
beberapa perguruantinggi
di
Makassar merupakan sebuahpemandangan
yang tidak nsing bagi publik.
Penyampaian aspirasi mahasiswa meldluidemonstrasi dianggap media yang sangat efektif. Namun, demonstrasi yang dilakukan selalu berakhir dengan rusuhlkekerasan.
Metod
pengumpulandata melalui
obsercasi terhadap berbagai kegiatan pembinaan mahasiswq aktiaitns demonstrasi, baikdi
dalam maupundi
luar perguruan tinggi; wawancara mendalam dilakukan terhadap mahasiszaa dan stakeholder kampus serta publik; diskusi kelompok dilakukan dengan para mahasiswa yang sering terlibat maupun tidak dalam setiap demonstrasi;
studi
dokumentasilliteratur dilakukan khususnya terhadap penelitian dan tulisan serta opini di surat kabar yang tersimpan di beberapa pihak.Kata kunci: Kekerasan, Mahasiswa, Demonstrasi, Makassar.
PENDAHULUAN
Fakta
kontemporerdalam
dekadeterakhir
menunjukkan bahwa demonskasi mahasiswadi
Indonesia adalah Makassar.HaI
ini
ditandaiHasse J
Anarkisme Demonstrasi Mahasiswa i
Studi (asus Pada Universita5 lslam Negeri Alauddin Makirssar
JLnnc! Studi Peneilntahu.
Valune S llamor,1 Fr:btuuri 2{:; I
demonstrasi mahasiswa Jrang
sering
anarkis. Penulis,dalam fulisan
ini,
memposisikanmahasiswa
pada
dua
kr:ndisi;
mahasiswa sebagaiindividu dan
mahasiswa sebagaikelompok. Mahasiswa sebagai
individu
adalah orang yang sedang menempuh pendidikan diperg'ruan
tinggi. lledanllkan mahasiswa sebagai kelompok adalah kelompok orang yang merupakan bagi en dari ciail society; mencakttp kehidupan sosial yang terorganisir, sukarela,mandiri,
dan otonom yang bersama-samaingin
mencapai tujuan tertentu. Terkait dengantema utama tr.rlisan
ini
rnaka mahasiswa yang dimaksuddi
sini adalah gerakan mahasiswaitu
sendiri. Mahasiswa sebagai suatu gerakan merupakan kelompok yangmemiliki
karakterkritis, independen, dan objektif.
Demonstrasi
ya'g
dilakuka'
khususnya oleh mahasiswa(hampir
selalu) berujungkekerasan.
Bahkarl
pola
da'
kecenderungan kekerasanyang
timbul relatif
sama.sebenarnya, dengan rnengamati
lebih jauh
mengenai karakter gerakan mahasiswa dapatdiperkirakan bahwa apakah demonstrasi
yang
dilakukan nantinya akan mengarah pada kekerasan atautidak.
Bentrok dengan aparat keama:ran merupakan'pilihan
utama, bagi mahasiswa karenamemiliki
alasankuat. Aparat
keamanandinilai tidak
pro-mahasiswa karena aksi-aksinya terus diawasidan
dihalangi.Hal
ini
rnenunjukkan bahwa kekerasan merupakan fenomenasosial
yang
terus terjadi
secara berulang-ulangdan
disengaja.Keputusan manusia
untuk
melakukan kekerasan didorong oieh adanya kesenjangan antara ekspektasinilai
dan
kapabilitas
nilai
(santoso, 2002:4).
Ekspektasinilai
merupakan manifestasi sekumpulannorma yang diunggulkan oleh lingkungan
sosialdan
kultural.sedangkan kapabilitas
nilai
adalahnilai
rata-ratayang oleh
anggotasuatu
kolektivitasdianggap mampu dicapai dan dipertahankan (Gurr, 1970).
Realitas
di
atas menunjukkan bahwa di satu sisi, tingkat respor.rs mahasiswa terhadapberbagai
kebijakal
baik
pada
tingkat
daerahmaupun pusat sangat
tinggi.
Responsmahasiswa melalui demonstrasi menjadi ruang
kontrol
terhadap kebijakan dan keputusannegara
yang
sering dianggap
tidak
memihak pada kepentingan rakyat.
Keberaclaanmahasiswa melalui rangkaian aksinya menegaskan keberpihakannya terhadap masyarakat.
Hal
ini
kiranya tidak
berlebihan karena mahasiswa pada setiap gerakarurya berdasarkan kegelisahandan
kegalaun
menyaksikanberbagai penyimpangan
dan
penderitaan di
kalangan
masyarakatyang
harus
disuarakan.Mahasiswa me.gernban
fungsi
mediallasse J
Anarkisn:e Derr..r'rtit"asi Mehasiswa :
.tthol Srtti ttemeihtdhon
r.rlt!! : :e 3 llcin* J i€lrt uari 2A72
penyalur aspirasi niasyarakat sehingga merekaiah sebagai pihak yang dipercayakan
unfuk
menyampaikan tuntuttr
dari kebutr:har rnasyarakat.Namun pada sisi iair,, aksi-aksi dernonstrasi yang dilakukan selama
ini
rnenunjukkankek'-rrang-dclr,'asaa,n
tlelam
rnenyampaikanasplrasi
di
mana aksi-aksi mereka
justrucenderung
urelanggarhukum dan
melencengdari
etika
dan
moralitas.
Aksi
ataudemonstrasi tidak jararrg merugikan <Ian menciptakan suasana kurang kondusif di kalangan masyarakat. Kekerasan yang sering terjadi
memior
sikap masyarakat yangtidak
sirnpatik lagi. Bahkan, dukungan rnasyarakat yang awalnya menilai gelakan mahasiswa pro-rakyatserta-merta
hilang
akibatulalr
segelintir oknum mahasislvayang tidak
bersahabat. Sikapmahasiswa ya;rg rneirj::rrns pada tindakan anarkis
ciinilai
telah melencengdari
kapasitas mereka sebagaikaum
terpelajaryang
seharusnya menyarnpaikafl aspirasi dengan bijakmelalui
cara-carayang
elegan,bukan
dengan
cara-carayang
terkesan memaksakan kehendak.sehingga
fokus
penelitian adalah kekerasan yang sering terjadi dalam demonstrasi mahasiswa d.i Makassar. Kekerasan dalam demonstrasi merupakan persoalan krusial yangsedang dihadapi oleh beberapa per€irnuan tinggi bukan hanya di M;kassar tetapi juga
kota-kota
lian
di
Indonesia.UIN
Alauddin akhir-akhir
ini
menajdi
sorotan dengan karakterdemonstrasi rrrahasisvra-nya
yang lebih
'dahs;'n1' dibandingkan dengan mahasiswa dariperguruan
tinggi
lain. Fenomena kekerasan seperti yang sering terjadi dalam demonstrasimahasiswa
perlu
direspons dengan bijaksana khususnyaoleh pihak perguruan
tinggi.Permasaiahan
ini
akandijawab melalui
pertanyaan-pertanyaanberll<tt:
pertam4faktor-faktor
apa yang menjadi pemicu terjadinya kekerasan dalam dernonstrasi mahasiswa IJINAlauddin
Makassar? Kedua, bagairitana sh'ategi rnengatasi kekerasan dalam demonstrasimahasiswa
UIN
Alauddin yang sering anarkis?KERANGKA
TEORITIK
Pada
beberapakampus
di
Makassaryang
dijadikan
pusat
demonstrasi selalumengundang banyak perhatian publik. Di kampus Universitas Islam Negeri (UIN)
Alauddin
misalnya, mengingat
posisi
kampusvang
sangat strategls,maka
mahasiswa cenderung selalu melakukan penutupan jalan, pembakaran ban, sweepingmobil
pemerintah, bahkanH3sJe J
Aia.kisme Daolcnsi[isi fu1aha!rs!./a :
Stucji Ka5u: plda Universiias i:icm ttlegefr AliirCdjn 14rka!sar
lurnal Studi Pemerirtahdn Valune 3 Nomat l Fehrurii 2Ai2
'penyanderaan' pejabatlpegawai pemerintah.
Aksiaksi
tersebut berakhir dengan rusuh danmerebak menjadi tindak kekerasan
fisik
dan pengrusakan terhadap fasilitas-fasilitas umum. Tidak hanyaitu,
mahasiswaUIN
juga sering bentrok dengan masyarakat penggunan jalandan
aparat kepolisian. Padakondisi
sepertiini,
kedewasaandan
kapasitas mahasiswa sebagai kaum intelektual dan calon pemimpin bangsa dipertanyakan oleh banyak kalangan.Banyak
pihak
yang menilai bahwaprilaku
nahasiswa sepertiini
disebabkan oleh r..r_1ltur(keras)
sehinggaberdampak pada
prilaku
menyampaikan aspirasi.Mengenai kultur
tersebuf dapat ditelusuri pada diskusi seperti yang dilakukan oleh para ahli.
Latif wiyata
(2006)
misalny4 melihat Carok
dalam
tradisi
masyarakat
Madura
sebagai sebuahinstitusionalisasi kekerasan. Latief
wiyat4
J.R. Piet-Rifers (1965) yang meneliti kebudayaan masyarakat Mediteranian memosisikan hargadiri
pada puncak kebudayaan manusia. Kiefer(1972)
juga
meliirat
faktor
kehormatanmenduduki posisi penfing dalam
kekerasan.Menyerang dan melukai pribadi berarti mengancarn kehormatan pribadi iersebut sehingga
akan berujung pada kekerasan.
Huub
de Jonge (1993) dalam Latiefwiyata
(2006) melihatketerkaitan antara tindakan
kekerasandan
kehormatan denganperanan atau
bentukkekuasaan negara- Kontrol negara yang ketat akan mengurangi ;nstensitas tindak keker.::san
di
masyarakat. sebaliknya,kontrol yang longgar
akan memudahkan tin<iak kekerasandilakukan.
Penelitian tentang demonstrasi mahasiswa
di
Makassar telah dilakukan olehjumadi
(2009)
yang
menfokuskan pada tawuran
mahasiswadi
beberapapergu*ran
tinggi.Penelitian tersebut menegasakan adanya kecenderungan mahasiswa untuk terus melakukan
regenerasi melakukan tawuran. Pola pembinaan yang dilakukan di luar kampus merupakan
indikasi kuat
adanya upayauntuk
melanggengkantradisi yang
sebelumnya dilakukan.Pembinaan yang dilakukan oleh para senior terhadap mahasiswa baru yang berisi tentang
pentingnya solidaritas
fakultas
memberiwadah
terhadap mahasisrvauntuk
melakukantindakan-tindakan anarkis terhadap fakultas
lain
dan
bahkan perguruan
tu,ggi
tain. Penelitianini
difokuskan pada bagaimana pola-pola pembinaanyang ideal
y;ng
harusdilakukan
oleh pihak-pihakterkait
(perguruantinggi, pihak
keamanan,dan
masyarakat)terhadap mahasiswa untuk menghindari tindakan anarkis yang akhir-akhir
ini
sering terjadi dalam setiap demonstrasi yang dilakukan.Hasse J
Anaakisre llertorlslr.asi Mahasiswa :
-i t: : ti | : :;i'"i I t pt: t,let.i ttchat l \'r:n:,p 3 t,;;r)Ct r :.b\l1d 201.2
Sikap
responsif
yang
ditunjukkan dalam
setiap
dernonstrasiyang
dilakukan merupakalr karakterumrim
mahasiswadi
krdonesia.Hal
tersebr-rt rrrencermir)kan benfuksikap
kritis
mahasiswariaian
'rrelihat berbagai kebijakan, Sikap sepertiini
irarus dijagakaler'a
rnernl:akan
ajat
kontrol
iei:hadap
kebijalcanyang
n'relugi}.an
rakyat
luas.Responsivitas
yarrg
ditunjul"'ka:n olc'h mahasiswa khususn-ya mahasiswaUIIJ
-\lauddin
Makassar
patut
mendapat ,apresiasi.l)engan
sikap sepertiini,
ketentakilan lakiraf
,,1y1gtidak tersalurka'. nrelalui lembaga perwakilan terpenuhi. NamurL di tengah sikap rcspcnsif
yang merrgkritisi dan mengontrol kebijakan yang tidak berpihak kepada
rakya!
demrnstrasi mahasisr.rra ternoda clt:h aksi-aksi anarkis yangberujulg
paciar kekerasari.Dernonskasi matrrrsis,.va yang berakhir pada kekerasan merupakan fenor,rena sosial
klasik
di
Makassar. Ia selalu terjadi dengan format yanghampir
sama.Akibat
kekerasan demonstlasi, status Makassar sebagai pusat kekerasandi
Indonesia semakin mengental.Aksi
anarkis mahasiswa dalam demonstrasirnemiliki
dampak yang cukup luas khususnyaterhadap kestabilan
dan
keamanan. Kekerasanyang
terjadi
lnengganggu
aktivitas masyarakat dan tentunya mahasiswa. Masyarakat yang setiaphari
melerkukan aktivitasdi
sekitas
kampus selalu menjadi korban
anarkisme demonstran.Mereka
h;l-ry,ii clapatmenyaksikan adegan yang dipertontonkan oleh mahasiswa tanpa melakukan aktivi.as lain.
Demontrasi mahasiswa
menjadi
pemandanganyang lazim bagi
mereka. Singkatnya,di
mana ada demonstrasi, di situ ada tindakan kekerasan.
METODE PENELITIAN
Penelitian
dilakukan
di
UniversitasIslam Negeri (UIN) Alaudciin
lr,4akassar padatahun 2009.
UIN Alauddin
Makassarmeiniliki
dua karnpus. Kampus IUIN
Alaudrlin beradadi
JI. SultanAlauddin
\4akassar. Letak kampusI
sangat strategis karena berada parla jalanporos utama yang menghubungkan kota Makassar dengan beberapa kota
lain
di
Suli,'vesi Selatan.Letak kampus berada
di
sekitar pertokoan dan pemukiman
v;a,,,ir
r.,: r; irggainteraksi dengan masyarakat sangat dinamis. Kampus
II
terletakdi
Kabup:i.ten Llowa ,,u1gberjarak tidak jauh dari Kota Makassar. Objek penelitian
inj
adalah demonstrasi mahas,.;waUIN
Alauddin
Makassar.Pilihan tema
ini
berangkat
dari
lakta
bahwa
i:ebanyakandemonstrasi mahasiswa di Makassar khususnya UIN Alauddin selalu beruji.ing kekerasan.
Hasse I
AFeaki!me De$crirrigi lvl heiiawa :
) u ffla! Stilci i Pe ms ii,rtc ban
Volrme 3 Namot 1 Fehtuati '/11?
Pemilihan
UIN
Alauddin
Makassar sebagai lokasi penelitian ,lidasarlcan pada fakta bahwa saatini
demonstrasi mahasiswa LIIN Alaucldin menunjukkantren
kel<crasan yangpaling
cepat.Publik
Makassar telah memberikan stigma tersendiribagi
mairasiswaUIN
Alauddin
sebagai pendemoyang 'cinta
kekerasan'. Ketertarikari perrelitiuntuk
melihatfenomena kekerasan demonsirasi mahasiswa di
UIN Alauddin
diclasari dua alasan. peftama,UIN Alauddin
merupakan perguruantinggi
Isram yang mengusung^ilai-nilai
keislamanyang cinta damai,
anti
kekerasan. Kedua, ratarbelakang rnahasisrva yang diclcmrnasi ciehalumni
pesantren yang mengerti dan mendalamiilmi-ilmu
agama (Islarrr). Kedua faktortersebut jika dibenturkan dengan kondisi
riit
denonstrasi mahasisrt a sangatkoltrarlikiif.
Data
yang diperlukan
dalam penelitianini
adalah datayalg
bersifat lctraljtatif.Di
samping ih1 daia yang bersifat kuantitatif juga dibutuhkan unhrk melengkapi data
kualitatif
yang ada. Kedua jenis data digunakar' untuk menganalisis fenomena kekerasar,yang rerjadi dalam demonstrasi yang dilakukan oieh mahasiswa
uIN
Alauddin
Matassar. Adapun tipepenelitian yang akan dilakukan adalah
studi
analisis terhadap aksi-aksi mahasiswa dalamdemonstrasi.
Demikian
pul4
penelitianini
diarahkanuntuk
menemukan sebuah solusi penanganan terhadap kekerasan demonstrasi mahasiswa yang te4adi selamaini.
Dengandemikian, kekerasan yang te4adi dalam setiap demonstrasi mahasiswa dapat
diminimalisir
bahkan direduksi.
Penelitian
ini
adalah penelitian lapargan. Datayang dig'nakan
zrdalah data yangbersifat kualitatif. Data-data yang tersaji dikumpulkan dengan cara-cara pengr;n.ruian data
yang
lazim
digunakan dalam
pengr:mpulandata yang bersifat
kualitati{
kh.,.;,.rsnya observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi serta FGD.Adapu'analisis
data,ditempu melalui reduksi dat4 penyajiarr data, dan menarik kesimpularr/ver.ifikasi" kemudian
menuangkan dalarn tulisan.
HASIL
DAN ANALISIS
1.
Kekerasan dan Mahasiswa dalam DemonstrasiAda beberapa pandangan dalam melihat gerakan mahasiswa dalarn konteks regional
Makassar (Jumadi, 2009: 1,71-1'1,2). Pertama, gerakan mahasiswa Makassar umur.ilrrya hersifat
.seJ a,narklintn Dnll;c,isiii:- i,1i,::t, i,
!:
:Juhol Studi peme ntqhon
Volume 3 Nomor 7 februo(i 2012
militan
danpuritan.
Pandanganini
didasarkan pada intensitas gerakan mahasiswa yangterus
mengalami
tren
meningkat.
Sisi militansi
tergambar
dari
pemandangan yangmengiringi demonstrasi seperti penyanderaan mobil-mobil tangki sebagai protes terhadap
kenaikan BBM.
trrendudukan terhariap bandaradan
'pembajakan,juga dilakukan
olehmahasiswa
untuk menuntut
agar rekan-rekan mereka diberangkatkanke
Jakartauntuk
bergabung dengan
mahasiswalain
yang
sedangberjuang
di
sana. Demikian
pulapengepungan
KODAM
VII
Wirabuana yangmenuntut
agar oknum-oknum yang terlibat dalampenl'eftsan
kampusUMI
pada tahun 1996 diusut tuntas.Kedua, gerakan mahasiswa secara
umun identik
dengansifat
keras-radikal, bahkan cenderung berpaham anarkis. Sisi heroism yang berlebihan diidentikkan dengan anarkismeatau tindakan kekerasarr sehingga dalam setiap melakukan demonstrasi, tanpa kekerasan
aksi sepertinya ndak ' afdhal' . Ketiga, gerakan mahasiswa secara
umum identik
dengan sisiideologis dan spiritualis yang kental.
Pandanganini
melihat ada tiga poros
gerakanmahasiswa; poros Jakarta yang sangat kental dengan nuansa
politiknyai
poros yogyakartayang
sarat dengan sisi intelektual keilmuannya; dan poros Makassar yang sangat kental dengan nuansa ideologis dan spiritual. Keempat, gerakan mahasiswa secara umum berisfateksklusif sehingga gerakannya terkesan
kaku
dan parsial.Hal
ini
dapatdilihat
pada aksiyang dilakukan
berdasarkan'keinginan'
kampussendiri.
Koordinasi dengan perguruan tinggi lain kurang sehingga kesamaan misi dan visi aksi tidak tampak.Terkait dengan persoalan demonstrasi mahasiswa
di
Makassar yang berakhir dengankekerasan, penulis berupaya menempatkan persoalan pada posisi yang berimbang. Tidak
dapat
dipungkiri
bahwa memang ada
demonsfrasi mahasiswayang berakhir
denganbentrokan/anarkis.
Namun, tidak
bisa dilupakanjuga
bahwateldapat
demonshasi yangdilakukan oleh
mahasiswayang
tidak
demikian dan berhasil
menyampaikan aspirasidengan damai.
Di
sini patut
dipertanyakan, mengapa demonstrasi mahasiswa yang telahmendapat
pengawalandari
pihak
berwenangmasih
sajaada celah
untuk
terjadinyakekerasan?
Demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa dalam sejaralrnya
tidak
pemah keringuntuk
dibahas karena ia merupakan bagian dari perjalanan bangsa. Peran mahasiswa dalammengkritik
sebuahrezim
merupakan gerakanyang terjadi
secaraspontan dan
terus-Hasse I
Anarkisme Demonstrasi Mahasiswa :
Studi Kasus Pada UDiversitas blam NegeriAlauddih Mak?ssar
J d t nnl Stu tl i Pit fire t ittih alt t
Valune i l\lcti1(t! .1iithuati )Oi:)
menerus.
Meskipun
gerakan-gerakanyang dilakukan
sering diberangr.rsoleh
penguasa, mahasiswa tetap saja rnelakukan gerakan dengan berbagai karakter tergantung jaman ataurezirn yang dihadapi. soewarsono (1999) menyebutkan bahwa gerakan mahasiswa
memiliki
empat rnomen penting,yakni
1908, 1928, 794s,dan
1966. Keempat momenpenting ini
menriliki karakter masing-rnasing dengan spirit yang salna, menuntu t sebuah perr:bahan kearah yang lebih baik. soewarsono lebih jauh rnenyebutkan bahr ra generasi
nrutakhii
1..rng palingberpenga''h
tidak hanya pada pergantianpolitik
kekuasaan tetapi juga pada p'oses demokratjsasidi
Indonesia adalah angkatan 1998. Gerakan mahasiswa pada periodeini
berhasil menjatuhkan
rezin
soehartoyang telah
berkuasa selanLa32 tahun.
selain ifu,gerakan
mahasislvamcmiliki andil
penting yang
mempengan;himunculnya
wacana demokratisasi dan ciztil society.Dalam perkembanganny4 demonstrasi mahasiswa
di
Makassar telah ,akrab, dengankekerasan. Hampir semua demonshasi mahasiswa selalu ada bentrokan. pacla 24
Aprii
1996 misalnya,terjadi
bentrokan antara mahasiswa UniversitasMusljm
Indonesia(UMI)
danpolisi. Polisi melakukan penyerbuan ke dalam kampus yang menyebabkan trga mahasiswa
meninggal dan beberapa
polisi
luka-iuka. Demonstrasi mahasiswa merupakan pcnolakanterhadap kenaikan
tarif
angkutan kota yangdinilai
memberatkan. Peristiwaini
kemlcliandikenal dengan Amarah
(April
Makassar Berdarah) yang diperingati setiap tahun.Pada 1998, hampir sepanjang tahun dernonstrasi mahasiswa berakhir bentrok dengan
polisi.
Demonstrasiyang dilakukan oleh
mahasiswadi
lvlakassarmenuntut
presiden soehartoturun. Arus
demonstrasi yang semakinkuat
mendapat pengawalan ketat pihakkepolisian dan militer. Mahasiswa dan pihak keamanan terlibat bentrokan khususnya pada
saat tuntutan soeharto
turun dari
pucuk pimpinan negara. Dernonshasi terjaclidi
seluruh kota, tuntutan utamanya sama, turunkan soeharto. pada september 200e mahasiswaUMI
bentrok dengan aparat kepolisian
di
gedung DPRD Sulawesi Selatan. Tuntutan clegronstran adalah penolakan masuknya beras impor ke Sulawesi Selatan.Pada
funi
2001, mahasiswabentrok
di
depan DpRD sulawesi
seratan ketikamenuntut
penghapusan Rancangan Undang-Undang penanggulangan Keadaan Bahaya. Pada 18 Februari 2004, mahasiswa bentrok dengan petugas kepolisianketika
rnemprotesMahlamah Agung
yang memvonis bebasAkbar
Tandjung. pada1 Mei
2004, benhokanHasse J
Anai kilrie Dernollsafasi I\,4ahasiswa :
Jurndl Sludi Perterintdhdo
V.l!me 3 Nomot 7 Februori 2072
terjadi
di
kampus UfuII.
I'olisi
melakukan
penyer.buanke
dalam kampus
yang mengakibatkan puluhan mahasiswa luka-luka.2,
Faktor Femicu KekerasanKekerasan
menunlt Galtung dalam
Budi
Santoso (2002: 169) dibedakan menjadikekerasan personal dan structural. Sifat kekerasan personal adalah rlrnamis, mudah diamati,
memperlihatkan flrrktuasi hebat yang dapat menimbulkan peruhahan. Sedangkan kekerasan
struktural
sifatnya statis. memperlihatkan stabilitas tertentu dantidak
tampak. Kekerasan struktural merupakan kekerasan yang berasal dari struktur yang bisa hadir dalam berbagaibentuk
misalnya negara. Kekerasanini
adalah kekerasanyang
didesain sehingga cara kerjanyapun
sangatrapi. Istilah
kekerasansendiri
digunakanuntuk
menggambarkanprilaku, baik yang terbuka maupur yang tertutup
atauyang bersifat
menyerang ataubertahan.
Dari
asumsiini,
maka terdapat empat jenis kekerasan yang dapat diidentifikasi (Douglasdan
Waksler, 2002:11). Pertama, kekerasan terbukayaitu
kekerasanyang
dapatdilihat
seperti perkelahian.
Kedua, kekerasantertutup,
kekerasantersembunyi
ataukekerasan
tidak
langsung seperti perilaku mengurnciun orang lain. Kefiga, kekerasan agresilyaitu
kekerasanyang dilakukan
untuk
perlindungan. Keempat, kekerasan defensifyaitu
kekerasan yang dilakukan sebagai tindakan perlindungan.
Untuk kasus demonstrasi mahasiswa
UIN
Alauddin Makassar, kekerasan yang terjadidalam
demonstrasiyang dilakukan
merupakan kekerasan terbukajika
mengacu padatipologi
kekerasandi
atas. Persoalanyang lebih penting
adalah memahamifaktor
yang menyebabkan mahasiswa melakukanhal
demikian. Gerakan mahasiswa yang berbentukdemonstrasi sangat
sulit
dipisahkan dengan perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Padaperubahan rezim pemerintahan rnisalnya mahasiswa
memiliki
andil besar mewujudkan hal tersebut. Pada pergantianrezim
dari
Orde lama
ke
orde baru,
rnahasiswa melakukanberbagai aksi menentang rezim yang berkuasa. Demikian pu14 yang masih degar diingatan
kit4
ketika rezim Orde Baru
mendapatgugatan
dari
beberapa kalangan. Mahasiswamenempatkan
diri
sebagai agen perubahan. Demonstrasi yang dilakukan menuntut rezim berkuasa turun membuahkan hasil meskipun dibarengi dengan kekerasan.Pemahaman mahasiswa dalam menterjemahkan tunfutan masyarakat luas merupakan
poin penting yang menajdi modal utama dalam gerakan mahasiswa. Mahasiswa melakukan
H!sse l
Ana r kisme Derrons ir. ai Ma irasiswa :
)unolStudi Peme ntehdn
Valume 3 Nomot L Februo 2012
demonstrasi didasarkan
pada
kepekaanterhadp kondisi
sosialyang menuntut
adanya respons dari kalangan kaum terpelajar. Fenomenapolitik
pada level nasional dengan cepat direspons oleh mahasisrva di berbagai daerah.Ini
rnerupakan indikasi tingginya sensitivitasmahasiswa
terhadap problematika bangsa
dan
tuntutan
publik
terhadap
penguasa.Kesadaran
politiklah
yang membawa mahasiswa melakukan gerakan-gerakan yang /pro-rakyat' meskipun dicederai oleh tindakan-tindakan anarkis.Besamya keinginan mahasiswa
untuk
melakukankontrol
dapat dimanfaatkan olehkalangan tertentu
untuk
mencapai tujuannya dengan cara berlindung
di
belakang demonshasi mahasiswa. Kalangan'politisi'
sering memanfaatkan momen demo mahasiswauntuk
mengalihkanisu
utama yang menjadi tuntutan
mahasiswa. Demonshasi yangdilakukan pun sering berjalan berlawanan dengan ide awal. Demonstrasi yang rusuh,
untuk
kasus Makassar, bersamaan dengan adanya isu-isu nasional yang urgen. pada peringatan
100
hari
pemerintahan SBY-Budionornisalny+
mahasiswadi
Makassarterlibat
bentrok dengan aparat kearnanan. Mata masyarakatpun
tertuju pada peristiwaini
dan rnelupakankasus besar yang lain yakni Century.
Demonstrasi mahasiswa yang berlangsung selalu
dipimpin
oleh koordinator lapanganyang bertugas meongkoordinir massa atau demonstran. Kemudian, para demonstran silih
berganti melakukan orasi yang berisi tuntutan terhadap
'pengu.asa'. Tebalnya jurangpemisah antara
penguasadan
masyarakatyang
ditandai
oleh
lambannya penguasamelespons
tuntutan
merupakan
faktor
lain
yang
memicu
kekerasandalam
setiapdemonstrasi. Mahasiswa merasa, dengan kekerasan, penguasa akan merespons tuntutan yang disampaikan. Demikian
pul4
demonstrasi bermanfaat bagi mahasiswauntuk
tampil dandiliput
media.AR
(24) rnisalnya memandang bahwa " Kalau mahasiswa tampil makn ia akan terlcenal. Jikn demo tidak anarkis, demo itu pun tidak tersebar luas.',Di
sini ada dua faktoryang
bermain; kekurang-pedulian penguasadan
peluang&es€mpatan mahasiswa r:ntuk tampil di depan publik khususnya media.Motif
Gerakan MahasiswaMuridan s.
widjojo
(7999: 234-289) telah merumuskan gerakan mahasiswa daiam duabentuk gerakan
yaifu
gerakanmoral
dan gerakanpolitik.
pembatasanini
mengacu padagerakan mahasiswa pada
tahun
1998lalu.
Gerakanmoral
mengacu pada wacana yang54
Hasse Jstu d i Kas us pa ca,
",",-
j;"J[il",i.?:
Jurnll Sttdi peNerintqhan vtlume 3 Not|jt 1 FljlJruati 2A12
dikembangkan
oieh
g,*:r:ar:an mahasiswayang mengkritisi kebijakan Orde Baru
yangdisebuhrya dgl'.gan Gerakan K.ritik Orde Baru (GKOB). Sedangkan gerakan
politik
mengacu paCa r,.,'ar:a:rarinnik
lrrdtf rl ifuhkanrezim
Orde Baru yarrg disebutkan GerakanAnti
OrdeBara
(CiOB;.
Gerakirn rnoral mend.rsalkan
diri
pada pandangan bahwa perubahanpolitik
dapatdilakukan
dengan cara menghimbauaiau
mengingatkan kepadaelite
polititt.
Berbedadengan geralcari
moral yang tidak
secara tegas menekankan keinginanuntuk
menggantisuatu
rezim. (lerakan moral
mahasiswa menekankan suaraatalr
gagasLn sebagaiinti
gerakan.
Ini
al'linr/a- lta;-,asitas operasi yang diharapkan oleh gerakanini
adaiah se.batasmenghimbau atau r]"..J:lqingltkan saja. Penganut paham
ini
percaya bahwa suatu rezim bisadiubah dengan cara dihirnberu atarr diingatkan (Widjojo, 1999:240).
Gerakan mcr'al
relatif
sarna dengan gerakan sosial. Gerakan sosial adalah perilakudari
sebagianalggota
rnasyarakatuntuk
mengoreksikondisi
)rang banyak menimbulkanproblem atau tidak menenh, serta memunculkan kehidupan baru yang lebih baik (DiRenzo,
1990). Rlrys F{.
Willianrs
dalamMarty dan Appleby
(1,994) juga menciefinisikan gerakan sosial. Menurutnya,Social movements are socially shared activities and beliefs directed toward the demand for
change in some aspects of the social order. To the narrow, a social movement is a formally organized group that acts continuously and with some continuity to promote or resist change through collective
acticn-Ini
menjelaskanbahwa
sebuah gerakan selalu dibarengi dengankeinginan
untukmelakukan
sebuahperubahan meskipun bentuk perubahan
yang
diinginkan
sangatbervariasi. Sebuah gerakan
memiliki
organisasi
yang
didesain
untuk
melakukan 'perlawanan' terhadap rezim atau kekuasaan.Adapun
gerakanpolitik memiliki
penekanan yang sangat berbedadari
segi gerakanyang
dilakukan mahasiswa. Gerakanini
menekankan pada keinginganunfrrk
mengganti sebuahrezim
yang berkuasa. Dengan memposisikan gerakan rnahasiswa sebagai sebuah gerakanpolitik,
maka cakupan atau tangkauan semakin luas. Dalam konteks ini, rnahasiswaberjuang
tidak
sendirilagi
nLelainkan berjua-rrg bersama dengan rakyat. Konsekuensi bagisebuah gerakan
politik
menurutWidjojo
(1999) adalah menyatunya berbagai kekuatan ke dalam sebuah wadah atau media yang rnenjadi saluran aspirasi. Kelompokini
secara jelas Haise.lAnlrklt,1le Dcniiir,iri+si Mairr;5v;a :
)wnal Stuai Pemerintat tan t/olume 3 Nonat T lehruoi i012
menginginkan keterlibatan kelompok
luar
kampusuntuk
masuk menyatu dalam gerakanyang
d
akukan,meskipun
wacanaini
mendapat penolakandari
kalangantertc.ttr
di
intemal kampus.
sulit
dipungkiri
bahwa
keterribatan mahasiswa
dalam
mengoreksi
barrkanmengubah
rezim
sangat besar. padakondisi
sepertiini,
mahasiswa berada pada posisi 'pejuang' rakyat yang tertindas. Demonstrasi mahasiswa mencerminkan keped ulian merekaterhadap
kondisi rakyat yang tidak
menguntungkantetapi
memarginalkankepentingan
rakyat
sendiri. Pemerintahtidak
ragi berpihak kepada rakyat, merainkan hanya kepadakalangan tertentu yang
tidak
pro-rakyat. pemerintah telah berkolabosai dengan penguasa modaluntuk
'mengerok' kekayaan yang ada meralui berbagai kebijakan dan regurasi yangdibuat. Pada sisi
ini, kritikan
mahasiswa mendapat acungan jempor karena masih sensitif terhadapkondisi rakyat.
Rakyattidak
mampu
melakukan gerakan seperti marasiswa.Mahasiswalah yang menjadi tumpuan
harapan'ntuk
melakukankritik
dan perubahan.Baik
gerakan
moral
maupun gerakan
poritik
yang
dirakukan
oleh
marrasiswabermuara pada satu tujuan, perubahan. Namun yang berbeda adalah karakter dan metode
dari gerakan yang dilakukan. Anarkisme demonstrasi yang terjadi akhir-akhir ini juga tidak
bisa lepas
dari tipe
gerakan yang dirakukan oleh mahasiswa. satu persoalan penting yangjuga tidak bisa dihilangkan dari
gerakan-gerakan mahasiswa adarah kekaburan gerakanyang dilakukan.
Mahasiswatidak ragi
mampumendifinisikan
gerakanyang
dilakukan.
Artinya,
antara gerakan moral dan gerakanporitik
surit diidentifikasi. Akibahrya, gerakanyang
mengatasnamakan kepentinganrakyat tidak
tercermindi
dalamnya karena yang
menonjol adalah 'bumbu,
dari
penyampaian aspirasiyakni
kekerasanya'g
notabene
merugikan beberapa kalangan termasuk karangan yang dibela oreh mahasiswa
serdiri.
4.
Basis-basisPemecahanpersoalana.
Memaksimalkan Kegiatan melaluiUKM
Fasilitas
unit
Kegiatan Mahasiswa (LIKM) telah disediakan oleh pihak kampus namuntidak
dimanfaatkan
sebagaimanamestinya
r.rlehmahasiswa.
Ada dua
alasan yangmendasari hal
ini,
pertama, mahasiswa tidakmemiliri
kesadaran terhadapuKM
yang telahdidirikan
beserta fasilitas-fasitasnya. Kedua,
pihak
pimpinan
tidak
mengakomodasi55
,larse i
Iun idi StLtdi pemerintohon
\/olune 3 Nomor
i
|.ebrua 2012kepentingan-kepentingan mahasiswa
melalui
UKM
yang
ada.pimpinan
UIN
Alauddin
tidak
memberikan pembaharuan terhadapuKM. UKM
yang ada saatini tidak
mengalami perubahan secara mendasar disbanding dengan yang telahlalu
sehingga mahasiswa tidakberminat untuk menggunakamya.
Demikian
pula,
saranadan
prasaranaIIKM
tidak
memenuhi standar seperti yangdiinginkan oleh mahasiswa sehingga mereka pun hanya dating dan 'nongkrong'
di
gedungUKM
tanpa
kegiatanyang
jelas. sarana olalrraga misalnya, terbengkalai karenatidak
digunakan. Yang berfungsi hingga saat
ini
adalah alatmusit
dan kesenian lain. Begihr pula fasilitas panjat tebing yang masihdiminati
oleh sebagian kecil mahasiswa. sepinyaUKM
lebih disebabkan oleh kurangnya dukungan pihak karnpus khususnya dalam hal pendanaan
kegiatan. Tidak jarang, mahasiswa melakukan berbagai langkah
untuk
mendapatkan danajika
akan melakukan kegiatan khususnya yang digelardi
luar kampus. Fenomenaini
tentuakan
mengurangiminat
mahasiswauntuk
terlibat dalam
kegiatanUKM
karenatidak
mendapat dukungan penuh dari pihak pimpinan.
Pihak kampus
juga
dapat menempuh metodelain
,ntuk
memaksimalkan kegiatan-kegiatan mahasiswa dengan memperbanyak agenda kegiatan. Dalarn halini,
pihak kampusyang
mengagendakankegiatan,
bukan
menunggu
inisiatif
dari
mahasiswa.Hal
ini
dimaksudkan untuk memfasilitasi mahasiswa untuk mengekspresikan
diri
melalui kegiatan-kegiatan kemahasiswaanyang sifatnya
non-akademik. Dengandemikiary
secaLa tidak langsung mahasiswa merasa diperhatikan. selamaini,
mahasiswa sering menjadi 'larvan'universitas. Mahasiswa
di
tengah
kapasitasnya sebagai mahasiswayang
tidak
bisadilepaskan dari sikap kritis, mereka seing melakukan protes kepada para pirnpinan baik
di
level
fakultas maupun universitas. Kebijakanpimpinan
sering diprotes oleh mahasiswa. Ketidak-setujuan mahasiswaterhadap kebijakan tertentu berdampak pada
hubungan mahasiswa dengan pimpinan yang dapat berimplikasi pada berbagai macam aspek sepertipembatasan kreativitas mahasiswa khususnya di
UKM
dengan tidak mendukungnya secarafinansial.
b.
Pelibatan dalamAktivitas
KampusMahasiswa sebagai elemen
penting
dalam sebuahinstitusi pendidikan
kh ususnya perguruantinggi memitki
kontribusi yang kuar biasa terhadap kemajuan lembage.jemua
sepakat
bahwa
mahasiswa adalah bagianyang
tidak
dapat dipisahkan
dari
dinamikaHasre I
Anaakisme Derronstrdsi Mah;siswa r
iufio i 514 d i Pi. :t:':.i.rt ;, cr, Volunie 3 Na*iat :l i:r:l'tot; "1a i )
kampus sebagai ternpat menempuh pendidikan. Deng;rn d.emikian-, rnahasiswa semestinya juga mendapat ternpr;rt yra:.1i; 1-,leporsiorr-al dalam kapasitasnya sebagai bagian penting dalam
kelembagaa'
pergruan
iing;gi.
Feiibatanmalasiswa dalam
berba6aikegiatan
seperti selamai-ni
riiiak.ukan khusr.isnyadi
UIN
Alauddin
lvlakassarmasih sangat
kurang.Mahasiswa hanya
dlibatkair
pada kegiatah-kegiatan yangmemiliki
keter kaitarr langsunp;dengan labelnya
sebagaipenuntut
ilnru.
Padahal,merelia
juga
merrjlik.r
haj< ur.rtukmenenhrkan ana yang mel.eka inginkan ke depan selama menjadi malrasiswa.
Pelibatan matLasiswa selama
ini
tidak hanya pada persoalan yang bersifat or.s.aluriatoris sepertipada
ketrengurtrsan organisasi intra-kampus,tetani juga
pada keparritiaon pacla setiap pelaksanaan kegiatan unirzersitas seperti serninar, bedahbuku,
di,.nperrernuan-pertemuan ilmiah yang )ain. Pembantu Itektor
III
UIN Alarrddhr, nr.e,.rgcin ukakar bnhwa;selama
ini,
rnahasiswa dilibatkan dalanr kegiatan-kegiatar] kamIus.Di
kampus terdapat lembaga formal yang khusus untuk mahasiswa sepeti BEM dan BEl,.4J. Kegieta n- kegiara n yang dirancang didukung sepenultnya oleh pihak pimpinan selama berniiai positif bagi mahasiswa (Wawancara dengan Drs. Sajehuddin yasin, M.Ag, Septenrber,2010).senada dengan FR
IiI,
Pembantu Dekan I Fakultas sains dan Telarik rr,engrkn hahwa; Mahasiswa kamJdi
UIN selalu dilibatkan dalam kegiatan kampus. Mahasiswa cliberi kesempatan seluas-luasnya untuk berpartisipasi terlebih setelah adanya BEM d,rn iii.,i_r yang menjadi wadah aktualisasidiri
para mahasiswa (wawancara dengan Dr.walryri,rij)
Itaro,M.Si, September, 2010).
Keterlibatan
rnahasiswadalam setiap kegiatan kampus
mahasisra.aticl;rk
hrinya memberinya pengalaman selamamenjadi
mahasiswatetapi
juga
me'rberikan
kepada mereka kesempatan untuk berintcraksi dengan unsur-unsur lain sehingga dapat terbangunrelasi yang saling menguntungkan. Namun demikian, pelibatan mahasiswa dalam bentuk
kegiatan melalui organisasi intra-kamptrs masih belum maksimal. Idealnva, mahasiswa
pun
dilibatkan pada saat pertemuan
untuk
membahas mengenai kebijakan-kebijakan kampusmeskipun pada
perr.bahasanyang
tidak
shategis.krtinya, pelibatal
mahasisr^,'a dalamdinamika kampus
tidak
hanya
terbataspada kegiatan yang bersifat
orga.:rjr;,si ataukepanitiaan dalam setiap kegiatan tetapi juga pada kegiatan lain yang bersilal pe..;r;ambi)an
policy. Dengan demikian, mahaslswa mendapat proporsi keterlibatiin yan,e,
juga
:
\ :i herir'ia)ie l
,'... it i , tSr;:a ta!:itra.;..ft,jjj\.,,:lasj:rwa:
,)f1 : - . fa..On \ti,l !1:.'1 : :,';.L :',.' J i?,0:12
mereka pengetahuan
dan
pengalamandi
sampingilmu
vang
diperoleh n,elak-i bangkukuliah.
Mewujudkan
ha1di
atasbukan perkara mudah.
Melibatl<ar-, mahasjswa dalamkegiatan kepanitiaan saja telah menimbulkan persoalan apalagi jika melibatkar' pada tataran
pembicaraan yang menyangkut kampus ke depan. Dalam beberapa perbincangan terungkap
bahwa selama
ini
mahasiswa juga dilibatkan dalam berb;rgai perteixuan ir:,ternai kampustetapi
tidak
mernberikankonh'ibusi
yang signifikan
karena sangatsulit
rnernposisikanketerwakilan mahasiswa.
Tidak
mungkin
juga
mengadakanr,apat
lerbuka
denganmenghadirkan mahasiswa karena akan menjadi ajang debat yang tidak berujung, Selarrra
ini
yang dilakukan adalal, mengundang perwakilan rnahasiswa.
Pelibatan
mahasis'aradalarn kepanitiaan kegiatan kampuc
sangat
bena.r: i.:at.lnteraksi
antara mahasiswa dengan stakeholder kampusdapat
tetjadi. Derigan ciemikian, posisi antara mahasiswa dengan dosen misalnyatidak dipioalkau
olehjarak
yeng jauh.Artinya, melalui
even seperti seminar, mahasiswadan
dosen saling berkomunikasi yangdapat
dikembangkan
di
luar
even
tersebut.
Komunikasi
yang
didasari
semangatprofesionalisme sangat
sulit terjadi
di
UIN
Alauddir-r L4akassar. Dosen (meskipuntidak
seluruhnya,
tetapi
umumnya)
mernposisikan
diri
pada
posisi puncal:
dinamikapembelajaran. Dosen
tidak boleh
digugat. Dosenlahyang
menentukan nasib nahasiswa. Padahal, idealnya antara keduanya terjadi interaksi dan komunikasi yarig':air
''':
" tiriakmenjadikan mahasiswa' inperior' dari doserurya.
Upaya
iain
yang
dilakukan adalah
pembangunankarakter
mahasis',va nrel.iluiprogram khusus sejak talrun 2003. Progam
ini
dikenal dengan PIIflFI (Pcnce.'ai'ran hnani danKeterampilan
Hidup).
Programini
merupakan bagiandari
upayapihak
pirnpinan untuk membentuk karakter mahasiswa yangdinilai
masihperlu
mendapat pembenahan. PIKIH merupakanmata
kuliah
yang didesain khusus
untuk
mengisi
kekosonganr.aktu
di
kalangan mahasiswa. Mata
kuliah
ini
pun
berlangsung selamadua
ser:rester pada tahunpertama perkuliahan setiap tahun. Mata
kuliah
ini
teridiri
atas bahasaInggris
dan Arab.Mahasiswa yang masuk program
ini
ditempatkan pada tempat khusus selana dua sernester.Proglam
PIKIH wajib
diikuti
oleh
seluruh mahasiswaUIN
Alauiidil
L4:r;<assar. Programini
hampir
sama denganprogram
PencerahanQalbu yang
diiaksan;';
olehUniversitas
Muslim
Indonesia
(UMI)
Makassar(Upe,
2009).Hanya
saia, r,.ai...t': r,angilasreLI
Anarkigfl e DernonsLf agi Mahraiawa l
) u I na ! Stu a i I,e rte,i t.ln h u 4
Valune 3 I'tamtI
i
t:r!::tLi!:r; ?i:.112diaiokasikan
untuk program ITIKIH relative lebih lama
dibandingkar, denganpr.gram
Pencerahan
Qalb'
yang
hanya
berlangsung selamatiga
L-,rr)air,Kedua
prrgrarn
ini
dimaksudkan
unfuk
merrrberikan pengayaan pengetaliuna kepada rnahasiswa dan mengisiwaktu
mereka yangk.song
serringgatidak
tergoda,.rnhikme'gisi
dengan kegiatan yangsering di luar konteks dirinrza sebagai mahasiswa.
Meskipurr
tidak diakui
secara reri:uka, pimpinrur kampusIJjN
Alauddin
i\fakassarmengakui tui'.ian
dari
pl'ogramPIKIH
yang telah dilaksanakan selama kurang lebil-rtujuh
tahun
ini.
Tujuannya adalalr 'mengalihkan perhatian' mahasiswauntuk tidak
melakukanaktivitas-aktivitas
yaflg
mengarahpada aksi yang tidak memiliki
keterkaitan iar,grung dengan prosesperkullahan sepelti
ciemonstrasi.pIKIH
sengajadimasukka.
ke
dalamkurikuium
agar keberlanjutan program terus dilaksanakan.PIKIII
srrndiri merupakan salahsatu program Rektor pada periode kerjanya. Tujuannya,
untuk
meinbedkan pengetahuankepribadian dan keterampilan kepada mahasiswa. Mahasiswa menganggap bahwa program
PIKIH
merupakan salah satu upayapihak
universitas mengalihkan perhatian mahasiswa.Dengan adanya program
ini,
dalam sepekan mahasiswa hanya menyisakan duahari libur
(sabtu dan minggu).waktu
tersebutpu''
digunakan untuk mencuci can mengerjakan tutas-tugaskuliah yang
diberikan. Dengan demikian, mahasiswa malas berorganisasi karena sempihya waktu yang ada.Tidak
semua mahasiswaberhasil
menempuhdua
semesterpIKIH
ini.
Beberapa mahasiswa memilihtidak
mengikuti program tersebut. Alasan yang dikenr.,kal,.an rnerekaadalah kejenuhan mempelajari bahasa khususnya bahasa Arab. Maklum mereka kebanyakan
lulusan
pesantrenyang
notabenetelah
mempelajarai bahasaArab
selama n,"enempur.r pendidikandi
pesantren. semestinya, persoalanini
yang direspons clengan baik o.lehUIN
Alauddin. Mahasiswa telah mengalami sebuah kondisi yang; menvebabkan mer.eka mencari
altematif kegiatan
untuk
mengeluarkandiri
dari 'keterpenjarahan, yang telah dialarni sejak sekolah.Di
pesantren misalnya, berbagai bentukafura'harus
drtaati oleh para santri yangmembuat mereka seperti terpenjara.
Di perg'ruan tinggi,
atura^ serupa kembali diiemukan. Mahasiswa pun jer.iuh danmerasa
kreativitas mereka dibatasi.
Dampaknya, mahasiswamelakukan
dan
lnencarisaluran aspirasi
diri
yang sebelumnya telah didambakan. Bagial'mni
pesantrerr,me'jadi
t:r,rtafLljnie Dery!\l:raiir,:)j M, i,.:
.l u trtl st'j i ; Pe fi ? t intahan
t/clritie 3 Najra! lFebftt6ri2012
mahasiswa merupakan sebuah idealisme yang
tinggi.
Mereka harus rnasuk dalam dunia tersebut sebagaibukti
bahwa mereka juga bisa berkiprah ke dunia lain yang penuh dengan kebebasanuntuk
mengekspresikandiri.
Pada saat ekspektasiini
tidak
tercapai makajalur
lain
pun
ditempuh.Makany4
pada saat demosntrasi mahasiswa menyalurkan aspirasidiri
meskipun dilakukan secara berlebihan yang justru melenceng dari konteks demonstrasi
itu
sendiri.
Karakter yang sesungguhnya yang dapat dikembangkan adalah karakter insan yang
mandiri,
profesional,intelek,
dan
religiousyar.g
dikembangkanmelalui
penumbuhankreativitas dan
kebebasan mahasiswauntuk
mengeksplorasidiri
sepertivisi
misi UIN
Alauddin Makassar (Profil
UIN
Alauddin, 2009). Pada kondisi ini, campur tangan pihak elitekampus sangat menentukan. Kebablasan kebebasan mahasiswa
justru
terjadi karena tidak adanya respons yang tepat oleh pimpinan. Berbagai regulasi dan program yang ditawarkanjustru
membentuk karakter mahasiswa yang selalu melakukan penolakan dan perlawanan. Gerakan mahasiswa bukanlagi,
meminjamisfilah Arief
Budiman, sebagai pressure group(Budiman, 2005). Mahasiswa iustru menganggap
progam
seperti PIKIH merupakan upaya yang dilakukan oleh pimpinan untuk menekan kreativitas mereka.Ini
menunjukkan bahwa kebijakanpimpinan
hanya mengacu pada keinginan sendiri tanpa melibatkan mahasiswadalam perumusan kebijakannya.
Di
sinilah semestinya yang harus menjadi perhatian pihakpimpinan
untuk
melakukan
terobosanbaru
untuk
memberikan
penyadaran kepada mahasiswa tentang arti pentingnya sebuah kedewasaan khususnya dalam mengekspresikandiri
danmenyalurkal
aspirasi.Ada
satuhal yang belum
dimaksimalkandi
perguruan-perguruantinggi
saat ini. Pelibatan mahasiswa dalam penelitian yang dilakukan oleh para dosen masih sangat minim.Padahal pelibatan
mahasiswadalam
penelitian-penelitiandalam
berbagaibentuk
danfungsi yang ditugaskan kepadanya dapat menumbuhkan sensitivitas akademik yang lebih
kental sehingga mereka fokus pada tugas pokoknya sebagai mahasiswa yang haus terhadap
pengetahuan. Selama
ini,
para
dosen cenderungsulit
berbagibaik
ilmu
maupun
materi terhadap mahasiswa. Dengan demikian, jarak pemisah antara mahasiswa dengan para dosensemakin
jauh
karena memangtidak
ada media yang mampu
mempererat hubungan keduanya. oleh karena itu, ke depan, pelibatan mahasiswa dalam penelitian-penelitian yangdilalukan
oleh para
dosen
perlu
dimaksimalkan
sehinggamembentuk
sebuahiklim
Hasre IAnerkirrne Demonstrasi Mahasiswa :
Studi Kasus Pada Univ€rsilas lslan Negeri AlaudCi11 Makar5ar
JLM{;i Sttrli irene rlthan
t /a!,iie
i
tiama, 1 te!.ttIti 2i:i2
akademik
yang
semakinmenunjukkan
kapasitas universtias/perg-uruantinggi
sebagailembaga yang mengusung Tri Dharma Perguruan Tinggi.
KESIMPULAN
Demonstrasi
yang
selama
ini
dilakukan
oleh
mahasiswa merupakan
bentukkepedulian
yang
tinggi
terhadap
nasib
bangsayang
serba
tidak
menentu.
Responsmahasiswa terhadap barbagai kebijakan pemeriniah
yang
dianggaptidak
sesuai dengankonstitusi
ditanggapidan
diprotesmelalui
media demonstrasi. Demonstrasi merupakanmedia yang paling efektif bagi mahasiswa dalam melakukan
kritik
terhdapa pemerilrtah.Berbagai penyimpangan
di
level elite menimbulkan kekhawatirandi
kalangan mahasiswa. Demonstrasi merupakan satu-satunyajalan yang harus ditempuh oleh
merekauntuk
menyampaikan aspirasi yang diklaim sebagai aspirasi rakyat.Pembelaan mahasiswa terhadap kepentingan rakyat
tidak
hanya dilakukan denganbentuk
demonstrasi. Langkahini
merupakan langkahterakhir
setelah mereka berdialogdengan pernerintah. setuju tidak setuju, bahwa pemerintah selama
ini
tidakpeduli
dengankritik
yang disampaikan dengan dialog. Cara berdialog dengan pemerintah
dan stake-hold.eryang lain
tidak
dapat memecahkan masalalyjustru
memancing ketidaksabaran mahasiswaterhadap langkah-langkah
penyelesaianpemerintah. pemerintah lamban
meresponstuntutan publik.
Realitasini
menyebabkan mahasiswa mengambillangkah
lain
dalampenyampaian aspirasinya, demonstrasi.
singkatny4
segala
bentuk
krifik
terhadappemerintah dilakukan
denganmelakukan
demonstrasiyang
melibatkanbukan
hanyakalangan mahasiswa tetapi juga masyarakat umum.
Kehadiran mahasiswa sebagai bagian dafi ciail society dalam melakukan pembelaan
terhadap nasib rakyat mendapat
responspositif
dari
berbagai
kalangan. Mahasiswadianggap sebagai pejuang aspirasi
yang dilakukan
dengan sigap. Demonstrasi memangdianggap efektif untuk melakukan
kritik
sekaligus kontrol terhadap pemerintah. Pemerintahtidak
lagi
dengan
seenaknyamembuat kebijakan
yang
tidak
pro-rakyat.
Kepekaan mahasiswa menanggapi kebijakan-kebijakan pemerintah mencerminkan tingginya idealismemereka
untuk
memperjuangkankepentingan
rakyat.
Mahasiswa
dan
rakyat
dalamperjalanan sejara}nya dernikian, tidak pemah terpisah dalam melakukan perjuangan.
62
Hesse JiutaeISiaii !'? n e t !t1t t:1h lt n
Voiut e 3 hla.tot J febtuiri 2A12
Di
tengah maraknya demonstrasi yang dilalukan khususnya oleh mahasisw4 ternyata terdapat pula pertunjukan yang sulit diterima akal sehat. Kerusuhan sering terjadidi
setiapdemonstrasi mahasiswa.
Tidak jarang
mahasiswa (demonstran)terlibat aksi
perkelahiandengan pihak lain seperti pihak keamanan. Tidak hanya berhenti di situ, bentrokan dengan
masyarakat pun sering terjadi. Pengguna jalan yang metasa dirugikan oleh aksi demonstrasi mahasiswa
yang menutup jalan terlibat
ketegangan dengan mahasiswa.Balkan,
pihak-pihak yang berada di sekitar area demonstrasi terganggu dan dirugikan.Terdapat
kecenderungandi
kalangan
mahasiswa menganggap'hiburan'
ketikabentrokan dengan
pihak
lain
terjadi
khususnya dengan
pihak
keamanan. Sebuahpemandangan yang sangat kontras dengan kapasitas mahasiswa sebagai kaum terpelajar
dan
calonpemimpin
bangsa. Idealisme mahasiswayang
memperjuangkan rakyatjustru
merugikan
pihak yang
dibelanya. Ha1ini
dilakukan oleh mahasiswa karena pemerintahsering
tidak
mendengaraspirasi
masyarakatyang
disampaikanmelalui
demonstrasi.Dengan cara 'kekerasan', mahasiswa menilai efektif dibandingkan cata-cara lain. Demikian
pula" media akan
meliput
aksi-aksi
demonstrasiyang
demikian sehingga
'gar:ng'demonstrasi terdengar ke mana-mana.
Kecenderungan anarkisme
dalam
demonstrasi mahasiswadipicu
oleh
berbagaifaktor.
Salahsatu
fator
pemicunya adalah
kelambanzrnlespons pemerintah
terhadap persoalan yang sedang dihadapi rakyat. Pemerintah dianggaptidak
sanggup memberikansolusi terhadap kesulitan-kesulitan yang ada di tengah masyarakat. Pemerintah tidak sensitif
terhadap
problem
sosial
yang
sedang berlangsung.
Akibatnya, gelombang
protes berdatangandari
mana-mana termasukdari
mahasiswamelalui
demonstrasi. Demikian pula, karakter mahasiswa yang sulit menerima perbedaan (perbedaan pendapat) diresponsdengan sikap emosional yang berlebihan.
Di
sini terlihat bahwa mahasiswa terkadanglarut
bahkan'kebablasan' dalam melakukan aksi-aksi yang mengusung kepentingan rakyat.
Pemberian ruang ekspresi yang proporsional bagi mahasiswa sangat penting
untuk
membangun karakter 'kebebasan'
diri
mereka. Selamaini,
ruang ekspresi sangat terbatas, dan cenderungtidak
mendapat p€ngawasan olehpihak
perguruantinggi. Unit
KegiatanMahasiswa perlu digalakkan dan dimaksimalkan untuk mengasah keterampilan rnahasiswa
sehingga mereka menghabiskan waktunya
di
even-even yang bermanfaat. Sangat banyakAnarkisrne Demcnstresi Mahasiswa :
'
1, a t, a / t'.t.j i i1t ra !.i n tt r,:; t1
i i':r,.t:.: .) /.. L1t.,.| :. t: e, r,,.ta I 3 c J2
r
/aktu
mahasiswa yang terbuang yangmembutu}kan
sarana/aktivitaslain
selain kuliah.Kekerasan
dalam
demonstrasiyang
terjadi
tidak
disebabkanoleh
karakter
personalmahasiswa
tetapi
karakter kelompok. Mahasiswa merasa'berani'
melakukan aksi ketika berkelompok. Dengan demikian,UKM
dapat menjadi salah satu mediauntuk
menyatukanmereka dalam satu wadah kegiatan agar
lebih kreatif dan tidak
terjebak pada aksi-aksi negatif yang merugikan.DAFTAR PUSTAKA
De Jonge, Huub. 1993. "Gewelddadige Eigenrichting op Madura,, dalam
H.
Slaats (ed.). Liber Amicorum Moh. Koesnoe. Strabaya: Airlangga University press.DiRenzo. 1990. Human social Behaaior: Concepts and principles of sociology.
New york:
Holt,Rinehart and Wiston.
Curr, Ted Robert.1970.
Wy
Men Rebel. Princeton: Princeton University press.Jumadi.
2009.Tawura'
Mahasiswa:KonJlik sosial
di
Makassar. Makassar: Ravhan Interrrredia.Marty, Martin E dan R. scott Appleby. L994. The Fundamentalism Froject vol. 4, Accounting
for
Fundamentalism: the Dinamic Character of Moaements. Chicago: The
University
of
chicagoPress.
Piet-Rifers,
I.R.
1965."Honour
and Social Status" dalam J.R. peristiany (ed.). Honour and Shame: the Values of Mediterranian Society. London: WeidenJeld and Nicolson.Profil UIN Alauddin Makassar, 2009.
Rahim, H.A.R.
L992.Nilai-nilai
lJtama Kebudayaan Bugis.Ujung
pandang: HasanuddinUniversity Press.
Santoso, Thomas. 2002. Kekerasan Agama tanpa Agama. Jakarta: pustaka Utan Kayu.
Upe, Muh. Ilyas. 2008. "Gerakan Neo-sufisme dalam pesantren
di
sulawesi selatan, dalamIrwan Abdullah
(ed.). Dialektika Teks suci Agama: strukturasi Makna Agama dalam Kehidupan Masyar akat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar-Sekolah Pascasarjana UGM.widjojo, Muridan S. L999. Penakluk Rezim, Gerakan Mahasiswa'9g. Jakarta: sinar Harapan. wiyata, Latief. 2006. Carok: Konflik Kekerasan dan Harga
Diri
orang Madura. yogyakarta: Lkis.lra5se J
Ararkisl11e Demcrtirasi M;hasrswo :