BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Proses Pertanggungjawaban Bendahara Pengeluaran pada Badan

25  26 

Teks penuh

(1)

34 BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Proses Pertanggungjawaban Bendahara Pengeluaran pada Badan

Kepegawaian Daerah Provinsi Jawa Barat

Pada setiap awal tahun anggaran, setiap OPD mengajukan anggaran yang

dibutuhkan dan kemudian dituangkan ke dalam Dokumen Pagu Anggaran (DPA),

guna membiayai pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang memerlukan dana. Setelah

dana tersebut cair kemudian digunakan untuk keperluan kantor, maka Kepala

Badan selaku Pengguna Anggaran (PA) sebagai pejabat mengelola keuangan,

harus mempertanggungjawabkan kepada Kepala Daerah selaku Pemegang

Kekuasaan Pengelola Keuangan Daerah (PKPKD). Dimana pertanggungjawaban

tersebut dibuat oleh bendahara pengeluaran yang diberi kewenangan oleh

Pengguna Anggaran.

Pertanggungjawaban yang dilakukan oleh setiap bendahara berupa laporan

keuangan daerah yang dilakukan secara periodik. Menurut Peraturan Pemerintah

No 24 Tahun 2005, laporan keuangan merupakan laporan yang terstruktur

mengenai posisi keuangan dan transaksi-transaksi yang dilakukan oleh suatu

entitas pelaporan.Berdasarkan waktu yang dilakukan untuk sebuah pelaporan,

maka pelaporan keuangan dibagi menjadi 4, yaitu laporan keuangan bulanan,

laporan keuangan triwulan, laporan keuangan semester, dan laporan keuangan

(2)

Laporan keuangan bulanan adalah laporan yang dilakukan oleh setiap

bendahara untuk mempertanggungjawabkan atas uang yang dikelolanya pada

setiap bulan. Laporan keuangan triwulan adalah laporan keuangan yang dilakukan

oleh bendahra setiap 3 bulan sekali. Sedangkan laporan keuangan semesteran

adalah laporan pertaggungjawaban bendahara yang dilakukan pada setiap 6 bulan

sekali. Dan laporan keuangan tahunan adalah laporan yang dilakukan oleh

bendahara setiap tahun dan laporan tahunan ini merupakan laporan kumulatif dari

laporan keuangan bulanan, triwulan, dan semester.

Dalam hal ini, Pengguna Anggaran (PA) melimpahkan sebagian

kewenangannya kepada KPA yang dalam hal menatausahakannya dibantu oleh

bendahara pengeluaran pembantu yang berada di setiap bidang untuk

melaksanakan sebagian tugas dan wewenang bendahara pengeluaran Badan.

Laporan pertanggungjawaban (SPJ) yang dilakukan terdiri dari SPJ Administratif

yaitu pertanggungjawaban bendahara pengeluaran kepada pengguna anggaran,

dan SPJ Fungsional yang disampaikan kepada PPKD/BUD yang disampaikan

selambat-lambatnya tanggal 10 setiap bulannya.Selain itu terdapat laporan

pertanggungjawaban yang dibuat bendahara pengeluaran guna sebagai persyaratan

pengajuan SPP Ganti Uang (GU). Laporan dimaksud adalah Laporan

pertanggungjawaban Uang Persediaan, dan Laporan pertanggungjawaban

Tambahan Uang. Kedua laporan ini disusun sebesar SPJ yang telah disahkan dari

penggunaan dana Uang persediaan dan Tambahan Uang yang tercantum dalam

(3)

Dalam mempertanggungjawabkan pengelolaan uang daerah,sesuai dengan

Permendagri No 55 Tahun 2008 tentang Tatacara Penatausahaan dan Penyusunan

Laporan Pertanggungjawaban Bendahara serta Penyampaiannya, dokumen

laporan pertanggung-jawaban yang disampaikan mencakup:

a. Buku kas umum pengeluaran.

b. Ringkasan pengeluaran per rincian obyek yang disertai dengan bukti-bukti

pengeluaran yang sah atas pengeluaran dari setiap rincian obyek yang

tercantum dalam ringkasan pengeluaran per rincian obyek dimaksud.

c. Bukti atas penyetoran PPN/PPh ke kas negara.

d. Laporan penutupan kas.

e. SPJ bendahara pengeluaran pembantu

Dalam uraian di atas, yang dimaksud dengan Buku Kas Umum (BKU) yang

ditutup setiap bulan dengan sepengetahuan dan persetujuan pengguna

anggaran/kuasa pengguna anggaran.

Dalam membuat sebuah pertanggungjawaban yang dilakukan pertama

adalah membuat pertanggungjawaban administratif. Dimana pertanggungjawaban

administratif dibuat oleh Bendahara Pengeluaran Pembantu yang berada di setiap

bidang. Kemudian setelah membuat pertanggungjawaban administratif baru

Bendahara Pengeluaran membuat pertanggungjawaban fungsional. Diamana

pertanggungjawaban fungsional merupakan rekapan dari pertanggungjawaban

administratif dan LRA (Laporan Realisasi Anggaran) yang kemudian diserahkan

(4)

Bendahara Pengeluaran dalam membuat sebuah pertanggungjawaban

bulanan, menghasilkan output yang kemudian dijadikan sebagai bukti dari

pertanggungjawaban. Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan narasumber,

output tersebut terdiri dari:

a. Laporan Realisasi Semester Pertama Anggaran Pendapatan dan Belanja;

Laporan realisasi anggaran pendapatan dan belanja ini berupa surat

pertanggungjawaban 1 (SPJ 1), surat pertanggungjawaban 2 (SPJ 2), dan

surat pertanggungjawaban 3 (SPJ 3). Dimana di setiap SPJ tersebut

meliputi, BKU, rincian objek belanja, dan gabungan antara balanja

keseluruhan.

b. Surat Pertanggungjawaban Fungsional;

Surat Pertanggungjawaban Fungsional adalah pertanggungjawaban

yang dibuat oleh Bendahara Pengeluaran atas perintah Pengguna anggaran untuk

dilaporkan ke PPKD selaku BUD sebagai wujud transparansi dan akuntabilitas

terhadap pengelolaan keuangan daerah. Surat Pertanggungjawaban Fungsional

terdiri dari Buku Kas Umum (BKU) dan Laporan Realisasi Anggaran (LRA).

Berikut penulis sajikan alur penatausahaan dalam membuat sebuah

(5)

Bagan 4.1

Alur Pertanggungjawaban

MULAI

AKHIR

BPP mengumpulkan kwitansi-kwitansi belanja

SPJ

Administratif Perincian perobyek

SPJ Fungsional

Pencairan SP2D

BKU BP

Laporan Realisasi

Anggaran (LRA)

(6)

4.1.1 Pencairan SP2D

Sebelum SP2D cair, yang dilakukan oleh bendahara pengeluaran terlebih

dahulu yaitu pengajuan SPP UP/GU/TU/LS. Di dalam SPP tersebut terdapat

rincian belanja. Pengajuan yang diajukan, sesuai dengan kebutuhan belanja OPD.

Setelah SPP UP/GU/TU/LS diajukan, Bendahara Pengeluaran membuat SPM dan

disahkan oleh PA untuk mencairkan SP2D UP/GU/TU/LS. Setelah di validasi

oleh bagian Kasda dan disetujui oleh PPKD selaku Bendahara Umum Daerah

(BUD), maka SP2D tersebut dapat dicairkan. SP2D UP/GU/TU dimasukan ke

dalam buku pembantu simpanan bank Bendahara Pengeluaran terlebih dahulu.

Setelah itu baru dimasukan ke dalam Buku Kas Umum (BKU) Bendahara

Pengeluaran dan Bendahara Pengeluaran Pembantu. Setelah SP2D cair dan

dibagikan ke Bendahara Pengeluaran Pembantu, maka SP2D tersebut

dibelanjakan dan bukti dari belanja tersebut dikumpulkan sebagai bahan

pembuatan pertanggungjawaban administratif.

4.1.2 Buku Kas Umum (BKU) Bendahara Pengeluaran Pembantu

Bendahara Pengeluaran Pembantu membuat BKU yang di dalamnya

mencatat bukti belanja/BPK (Bukti Pengeluaran Kas), pungutan pajak yang

dilakukan dalam belanja, kemudian pungutan pajak tersebut disetorkan kembali

ke kas negara melalui Bendahara Pengeluaran. Setiap transaksi belanja yang

dilakukan, maka Bendahara Pengeluaran Pembantu wajib mencatatnya ke dalam

(7)

kas negara, Bendahara Pengeluaran juga mencatat ke dalam BKU di kolom

penerimaan dan pengeluaran. Berikut penulis sajikan contoh BKU BPP:

Gambar 4.1

BKU BPP

Buku Kas Umum diatas dibuat oleh Bendahara Pengeluaran Pembantu

yang disetujui oleh Kabid di setiap bidang selaku KPA. BKU tersebut yang

nantinya dilaporkan kepada PA melalui Bendahara Pengeluaran. BKU ini lah

(8)

4.1.3 Perincian Per Obyek

Setelah BKU selesai dibuat, maka BPP membuat SPJ 2 (rincian per

obyek). Dimana rincian perobyek tersebut terdiri dari rincian per belanja. Rinian

perobyek memudahkan Bendahara Pengeluaran Pembantu dalam meyusun Surat

Pertanggungjawaban yang dikutip dari Buku Kas Umum (BKU). Buku pembantu

ini hanya menggambarkan obyek belanja saja, sehingga untuk pencatatan obyek

belanja per program dan kegiatan diperlukan catatan tersendiri untuk

masing-masing program/kegiatan.

Gambar 4.2

(9)

Buku pembantu rincian per obyek diatas disebut sebagai SPJ 2. Karena

buku pembantu rincian per obyek merupakan rekapitulasi dari BKU yang

digolongkan sesuai dengan kegiatan. SPJ 2 tersebut ditandatangani oleh KPA,

Bendahara Pengeluaran Pembantu, dan Bendahara Pengeluaran. SPJ ini dibuat

setiap akhir bulan, begitu juga dengan SPJ 1, SPJ 3 (administratif), dan SPJ

fungsional.

4.1.4 Pertanggungjawaban Administratif dan Penyampaiannya

Pertanggungjawaban secara administratif dibuat oleh bendahara

pengeluaran dan disampaikan kepada pejabat pengguna anggaran/pengguna

barang atau kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang paling lambat

tanggal 5 (lima) bulan berikutnya. Pertanggungjawaban administratif tersebut

berupa surat pertanggungjawaban (SPJ) yang menggambarkan jumlah anggaran,

realisasi dan sisa pagu anggaran baik secara kumulatif maupun per kegiatan. SPJ

ini dibuat oleh Bendahara Pengeluaran Pembantu yang diketahui oleh Kuasa

Pengguna anggaran (KPA) dan Bendahara Pengeluaran.

Dalam proses pelaksanaan belanja, dibutuhkan dokumen-dokumen yang

diberikan oleh PPTK yang dicatat oleh bendahara dalam buku-buku sebagai

berikut:

a. Buku Kas Umum Pengeluaran

b. Buku Pembantu Pengeluaran per rrincian obyek

c. Buku Pembantu kas tunai

(10)

e. Buku pembantu panjar

f. Buku pembantu pajak

Berdasarkan 6 (enam) dokumen tersebut, ditambah dengan SPJ

pengeluaran pembantu yang dibuat oleh Bendahara Pengeluaran Pembantu,

Bendahara pengeluaran membuat SPJ pengeluaran. SPJ Pengeluaran tersebut

dibuat rangkap empat, satu untuk arsip, satu untuk BUD dan dua untuk

diverifikasi PPK-SKPD. Apabila disetujui, maka PPK-SKPD menyampaikan satu

kopi SPJ pengeluaran kepada Kepala SKPD paling lambat tanggal 10 bulan

berikutnya, dan satu kopi SPJ lainnya dicatat pada register Penerimaan SPJ

Pengeluaran. Apabila ditolak, maka PPK-SKPD mengembalikan satu kopi SPJ

Pengeluaran kepada bendahara pengeluaran untuk diperiksa ulang, sementara satu

kopi lainnya dan dicatat pada Register Penolakan SPJ Pengeluaran. Kepala SKPD

mengesahkan SPJ Pengeluaran. Surat Pengesahan SPJ dibuat dua rangkap, satu

diregister dalam arsip, sementara yang satu lagi diserahkan kepada Bendahara

Pengeluaran untuk dijadikan dasar atas pengajuan SPP bulan berikutnya.

Langkah-langkah yang dilakukan oleh Bendahara Pengeluaran Pembantu

dalam membuat pertanggungjawaban administratif adalah sebagai berikut:

1. Bendahara Pengeluaran Pembantu mengumpulkan kwitansi-kwitansi

sebagai bukti yang sah atas transaksi pengeluaran yang dilakukan dalam

suatu kegiatan.

2. Kemudian Bendahara Peneluaran Pembantu membuat Buku Kas Umum

(BKU) yang dilandasi dengan kwitansi-kwitansi tersebut yang kemudian

(11)

3. Setelah membuat BKU, maka Bendahara Pengeluaran Pembantu membuat

Rincian Per Obyek (SPJ 2) yang di dalamnya hanya dikelompokkan

berdasarkan nama rekening.

4. Kemudian Bendahara Pengeluaran Pembantu membuat SPJ 3 yaitu SPJ

administratif yang merupakan SPJ kumulatif dari SPJ 1 dan SPJ 2 dan

dirinci berdasarkan jenis Belanja.

5. Setelah membuat SPJ administratif, Bendahara Pengeluaran Pembantu

meminta persetujuan dari KPA untuk disetujui dan kemudian SPJ

administratif tersebut diserahkan kepada Bendahara Pengeluaran untuk

diketahui kemudian diverifikasi oleh PPK-SKPD.

6. Setelah mendapat verifikasi, maka SPJ adminstratif dilaporkan kepada

Pengguna Anggaran sebagai bentuk pengesahan.

Berikut penulis sajikan contoh format SPJ Administratif:

Tabel 4.1

(12)

SPJ Administratif dibuat oleh Bendahara Pengeluaran Pembantu. Dimana

SPJ tersebut terdiri dari kode rekening, uraian, jumlah anggaran, SPJ LS barang

dan jasa, SPJ UP/GU/TU, jumlah SPJ, dan sisa pagu anggaran. Kolom kode

rekening diisi sesuai dengan jenis belanja. Setiap jenis belanja, pasti memiliki

kode rekening guna memudahkan untuk dikelompokkan. Kemudian uraian nama

kode rekening diisi sesuai kelompok jenis belanja. Jumlah anggaran yang

ditetapkan dalam APBD atas masing-masing kode rekening. Kolom SPJ LS

Barang dan Jasa, digunakan untuk mengisi SP2D atas pembayaran LS-gaji dan

tunjangan yang telah diterbitkan/SPJ sampai dengan bulan lalu, bulan ini, sampai

dengan bulan ini. SPJ UP/GU/TU digunakan untuk pembayaran LS-Pihak Ketiga

yang telah diterbitkan/SPJ sampai dengan bulan lalu, LS-Pihak Ketiga yang telah

diterbitkan/SPJ bulan ini, sampai dengan bulan ini, penggunaan dana UP/GU/TU

sampai dengan bulan lalu, bulan ini, sampai dengan bulan, penggunaan dana

LS+UP/GU/TU sampai dengan bulan ini, penggunaan dana LS=UP/GU/TU

sampai dengan bulan ini.

SPJ Administratif hanya merinci transaksi perkegiatan. Jadi di dalam SPJ

Adminisratif transaksi yang dilakukan, diuraikan lebih rinci. Karena SPJ

(13)

obyek (SPJ 2).

SPJ Administratif ditandatangani oleh KPA, Bendahara Pengeluaran

Pembantu, dan Bendahara Pengeluaran. Karena SPJ Administratif hanya

dilaporkan kepada Pengguna Anggaran (PA) sebagai bukti pertanggungjawaban

KPA yang diberi kuasa oleh PA.

4.1.5 Buku Kas Umum (BKU) Bendahara Pengeluaran

Bendahara pengeluaran melakukan pencatatan SPJ yang telah

disetujui/ditolak oleh PA dan memasukkan data tersebut ke dalam dokumen

berikut sesuai peruntukannya. Dokumen yang digunakan dalam menatausahakan

pertanggungjawaban pengeluaran mencakup:

a. Register laporan pertanggungjawaban pengeluaran (SPJ)

b. Register pengesahan laporan pertanggungjawaban pengeluaran

c. Surat penolakan laporan pertanggungjawaban pengeluaran

d. Register penolakan laporan pertanggungjawaban pengeluaran

e. Register penutupan kas

Pertanggungjawaban yang dikatakan sah, apabila telah melalui beberapa

tahap persetujuan sesuai dengan prosedur yang berlaku. Tahapan tersebut dimulai

dari pembuatan BKU (SPJ 1), rincian objek (SPJ 2), dan keseluruhan

pengeluaran/SPJ administratif (SPJ 3) oleh bendahara pengeluaran pembantu dan

SPJ-SPJ tersebut akan diketahui oleh bendahara pengeluaran dan kemudian

(14)

Setelah Bendahara Pengeluaran Pembantu memberikan SPJ diatas telah

disetujui oleh PA, maka Bendahara Pengeluaran membuat buku kas umum

bendahara pengeluaran. Di dalam BKU bendahara pengeluaran, terdapat rekapan

dari SPJ 1, SPJ 2, dan SPJ Administratif yang dibuat oleh Bendahara Pengeluaran

Pembantu dan disesuaikan dengan bukti-bukti transaksi yang sah berupa

kwitansi-kwitansi belanja yang dilampirkan.

Gambar 4.3

(15)

Di dalam BKU Bendahara Pengeluaran terdapat kolom no. BKU, tanggal,

no. Dokumen, uraian, kode rekening, penerimaan, pengeluaran, dan saldo. Karena

BKU Bendahara Pengeluaran merupakan rekapan dari SPJ-SPJ yang telah dibuat

oleh Bendahara Pengeluaran Pembantu yang sudah dijelaskan di atas.

Perbedaan antara BKU Bendahara Pengeluaran dengan Bendahara

Pengeluaran Pembantu adalah, jika di BKU Bendahara Pengeluaran terdapat

kolom no. Dokumen dan saldo. Sedangkan di BKU Bendahara Pengeluaran

Pembantu tidak ada. Di BKU Bendahara Pengeluaran harus lebih rinci dalam

merekap SPJ-SPJ yang dibuat oleh Bendahara Pengeluaran Pembantu, karena

hanya BKU Bendahara Pengeluaran saja yang dilaporkan kepada PPKD sebagai

pertanggungjawaban Pengguna Anggaran terhadap penggunaan APBN. Di BKU

(16)

dan Bendahara Pengeluaran yang mengelola keuangan.

4.1.6 Laporan Realisasi Anggaran (LRA)

Laporan Realisasi Anggaran dibuat oleh Bendahara Pengeluaran untuk

dilaporkan ke PPKD selaku BUD. Laporan Realisasi Anggaran merupakan

laporan tentang anggaran yang digunakan oleh BKD Provinsi Jawa Barat yang di

dalam nya terdiri dari kode rekening, uraian, anggaran, realisasi pada tahun

berjalan, sisa anggaran pada tahun sampai dengan tahun berjalan, prognosis, dan

keterangan. Keterangan tersebut menjelaskan tentang jumlah uang yang

digunakan sesuai dengan jenis pencairannya.

Gambar 4.4

(17)

Laporan Realisasi Anggaran tersebut dibuat oleh Bendahara Pengeluaran

yang disahkan oleh PPK-SKPD selaku verifikator dan disetujui oleh Pengguna

Anggaran. Bendahara Pengeluaran membuat Laporan Realisasi Anggaran (LRA)

berdasarkan penggunaan jenis belanja.

4.1.7 Pertanggungjawaban Fungsional dan Penyampaiannya

Pertanggunjawaban fungsional dibuat oleh bendahara pengeluaran yang

disampaikan kepada pejabat pengguna anggaran/pengguna barang atau kuasa

pengguna anggaran/kuasa pengguna barang paling lambat tanggal 10 (sepuluh)

bulan berikutnya. Pertanggungjawaban fungsional tersebut berupa rekapitulasi

dari SPJ administratif dan laporan penutupan kas. SPJ tersebut dilampiri dengan

Buku Kas Umum dan Laporan Penutupan Kas. Pertanggungjawaban fungsional

(18)

bulan tersebut. Pertanggungjawaban tersebut harus dilampiri bukti setoran sisa

uang persediaan.

Dalam membuat Pertanggungjawaban Fungsional, langkah-langkah yang

harus dilakukan oleh Bendahara Pengeluaran adalah:

1. Bendahara Pengeluaran menyiapkan laporan penutupan kas.

2. Bendahara Pengeluaran melakukan rekapitulasi jumlah-jumlah belanja dan

item terkait lainnya yang ada dalam pertanggungjawaban administratif

berdasarkan BKU dan buku pembantu BKU lainnya (Buku Pembantu

Panjar, Buku Pembantu Kas Tunai, Buku Pembantu Simpanan/Bank, dan

Buku Pembantu Pajak) serta khususnya buku pembantu rincian per obyek

untuk mendapatkan nilai belanja per rincian obyek.

3. Kemudian rekapitulasi tersebut dimasukan ke dalam BKU bendahara

pengeluaran yang kemudian menjadi SPJ Fungsional.

4. Kemudian SPJ Fungsional dan LRA tersebut dilaporkan kepada PPKD

selaku BUD sebagai wujud pertanggungjawaban Pengguna Anggaran

dalam mengelola keuangan daerah.

Pada dasarnya SPJ Fungsional adalah wujud pertanggungjawaban Pengguna

Anggaran kepada BUD atas pengelolaan keuangan daerah. Sedangkan SPJ

Administratif adalah wujud pertanggungjawaban Bendahara Pengeluaran yang

diberi wewenang dalam mengelola keuangan yang kemudian dilaporkan kepada

(19)

Tabel 4.2

SPJ Fungsional

SPJ Fungsional dibuat oleh Bendahara Pengeluaran, untuk dilaporkan ke

PPKD selaku BUD. SPJ Fungsional terdiri dari kode rekening, uraian nama kode

rekening, jumlah anggaran yang ditetapkan dalam APBD atas masing-masing

kode rekening, jumlah SP2D atas pembayaran LS-gaji dan tunjangan yang telah

SPJ – LS Barang – Jasa *) SPJ UP/GU/TU

SPJ – LS Gaji

Jumlah SPJ

Kode Uraian Jumlah (LS+UP/GU/TU) Sisa Pagu

Rekening Anggaran s.d. Bulan s.d. s.d. Bulan s.d. s.d. Bulan s.d. Bulan s.d. Bulan ini Anggaran

Bulan ini Bulan Bulan ini Bulan Bulan ini ini

Lalu ini Lalu ini Lalu

Rekening Anggaran Bulans.d. Bulanini Bulans.d. Bulans.d. Bulanini Bulans.d. Bulans.d. Bulanini s.d. Bulanini s.d. Bulan ini Anggaran

(20)

diterbitkan/SPJ sampai dengan bulan lalu, SPJ bulan ini, jumlah SP2D atas

pembayaran LS-gaji dan tunjangan yang telah diterbitkan/SPJ sampai dengan

bulan ini, jumlah SP2D atas pembayaran LS-Pihak Ketiga yang telah

diterbitkan/SPJ sampai dengan bulan lalu, SPJ bulan ini, SPJ sampai dengan bulan

ini, jumlah SPJ atas penggunaan dana UP/GU/TU sampai dengan bulan lalu,

bulan ini, sampai dengan bulan ini, jumlah SPJ atas penggunaan dana

LS+UP/GU/TU sampai dengan bulan ini, jumlah SPJ atas penggunaan dana

LS=UP/GU/TU sampai dengan bulan ini.

Didalam SPJ Fungsional tidak secara rinci dijelaskan perkegiatan, namun

diuraikan sesuai jenis belanjanya. SPJ Fungsional juga merupakan rekapan dari

SPJ Administratif dan Laporan Realisasi Anggaran (LRA). Karena SPJ

Fungsional untuk dilaporkan ke PPKD.

SPJ Fungsional juga dapat dikatakan sebagai pertanggungjawaban yang

utama. Karena pertanggungjawaban ini adalah bentuk pertanggungjawaban

Kepala Badan selaku PA terhadap Gubernur Jawa Barat selaku Pemegang

Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Daerah (PKPKD) dalam mengelola keuangan

daerah. Pertanggungjawaban yang dilaporkan tidak hanya pertanggungjawaban

fungsional saja, namun harus disertakana dengan Laporan Realisasi Anggaran

(21)

4.2 Hambatan Yang Dihadapi dalam Proses Pertanggungjawaban

Bendahara Pengeluaran Pada Badan Kepegawaian Daerah Provinsi

Jawa Barat

Di dalam melaksanakan proses pertanggungjawaban bendahara pengeluaran

terdapat beberapa hambatan. Menurut hasil wawancara dengan salah satu staf

subbagian keuangan Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Jawa Barat,

hambatan-hambatan tersebut adalah:

1. Pertanggungjawaban dari masing-masing Bendahara Pengeluaran

Pembantu tidak tepat pada waktunya.

Sebelum membuat pertanggungjawaban, bendahara pengeluaran

harus menunggu pertanggungjawaban dari setiap bendahara pengeluaran

pembantu yang berada di setiap bidang yang berupa SPJ 3. Jika SPJ 3

tersebut belum diserahkan kepada bendahara pengeluaran, maka

bendahara pengeluaran tidak dapat membuat laporan

pertanggungjawaban.

2. Pengaruh sistem jaringan internet yang tidak stabil.

Dalam proses penatausahaan sampai proses pertanggungjawaban,

bendahara pengeluaran tidak lagi menggunakan secara manual,

melainkan melalui sistem yang sudah tersedia yang dinamakan dengan

Sistem Informasi Pengelolaan Keuangan Daerah (SIPKD). Dimana

sistem tersebut harus terhubung dengan jaringan internet. Jika jaringan

internet yang digunakan mengalami ketidakstabilan, maka hal ini dapat

(22)

Sehingga, kegiatan yang dilakukan sering tidak sesuai dengan waktu

yang telah ditentukan atau sering terlambat.

3. Dalam proses penandatanganan, Kepala Badan selaku Pengguna

Anggaran tidak selalu berada di ruangan.

Setiap proses pertanggungjawaban harus ditandatangani oleh

Kepala Badan selaku Pengguna Anggaran sebagai bukti telah disetujui

pertanggungjawaban tersebut dan sebagai bukti pengeluaran yang telah

dilakukan oleh Badan Kepegawain Daerah Provinsi Jawa Barat.

4. Kurangnya operator sistem di setiap bidang.

Mulai tahun 2011, kegiatan di setiap lingkungan OPD Provinsi

Jawa Barat, sudah menggunakan sistem jaringan yang disebut dengan

SIPKD. Didalam pelaksanaannya, SIPKD harus ada satu operator guna

menangani seluruh kegiatan yang dilakukan oleh staf yang ada di

ruangan. Akan tetapi, di BKD Provinsi Jawa Barat, hanya terdapat satu

operator saja, dan hanya dibagian keuangan. Akan tetapi, di bagian lain

tidak ada satu orang operator. Sehingga, jika terjadi kendala atau

masalah dalam sistem, akan mengalami kesulitan dan menghambat

dalam pekerjaan.

5. Bendahara Pengeluaran Pembantu kurang menguasai sistem

komputerisasi.

Di era zaman modern seperti saat ini, komputer sudah banyak

digunakan oleh setiap kantor, tidak terkecuali di Badan Kepegawaian

(23)

atau terjadi suatu masalah, maka dapat menghambat pekerjaan. Dan

komputer juga tidak terlepas dari para pegawai BKD sebagai pengguna

dari komputer tersebut. Akan tetapi, tidak sedikit pula pegawai yang

kurang menguasai tentang sistem komputerisasi ini. Sehingga, pekerjaan

yang harus selesai dengan waktu yang sudah ditargetkan, akan terjadi

keterlambatan dalam penyelesaiaan pekerjaan tersebut. Terutama

bendahara pengeluaran pembantu yang kegiatannya dilakukan

menggunakan sistem komputer. Namun, banyak bendahara pengeluaran

pembantu yang tidak menguasainya, sehingga dalam proses

pertanggungjawaban pun dapat terhambat.

4.3 Upaya untuk mengatasi hambatan dalam Proses Pertanggungjawaban

Bendahara Pengeluaran pada Badan Kepegawaian Daerah Provinsi

Jawa Barat

Seperti yang telah diuraikan di atas bahwa di dalam pelaksanaan proses

pertanggungjawaban bendahara pengeluaran terdapat beberapa hambatan, maka

upaya yang dilakukan oleh bagian keuangan Badan Kepegawaian Daerah Provinsi

Jawa Barat dalam mengatasi hambatan tersebut diantaranya adalah:

1. Bendahara pengeluaran pembantu yang ada di setiap bidangsetelah

melakukan transaksi, hendaknya segera membuat SPJ yang akan

diserahkan kepada Bendahara Pengeluaran. Sehingga,

(24)

tidak mengalami keterlambatan dan dapat segera dilaporkan kepada

Pengguna Anggaran.

2. Jika sistem jaringan yang terkadang tidak stabil, membuat para pegawai

khusunya di bagian keuangan, sulit untuk melakukan pekerjaannya.

Namun, menurut pegawai yang ada di bagian keuangan, mereka hanya

dapat menunggu sampai sistem jaringan yang ada dapat stabil kembali.

Karena ketidakstabilan tersebut terjadi dari pusatnya.

3. Jadi Kepala badan selaku pimpinan memberikan jadwal untuk

penyelesaian akhir atas pertanggungjawaban kepada pegawai bagian

keuangan khususnya bendahara pengeluaran yang diberi wewenang

untuk mengelola keuangan daerah dan membuat pertanggungjawaban

atas pengelolaan keuangan tersebut. Sehingga secara pasti pimpinan

dapat memberikan persetujuan dan mengetahui atas penggunaan

anggara. Dan pertanggungjawaban tersebut tidak terlambat untuk

dilaporka ke Biro Keuangan Bagian Akuntansi dan Pelaporan.

4. Kurangnya operator sistem di setiap bidang, merupakan kendala atau

hambatan yang cukup serius. Karena dapat menghambat pekerjaan yang

harus diselesaikan. Menurut narasumber, lebih baik di setiap bidang

diberi satu operator saja. Namun, operator tersebut mampu

mengoperasikan jaringan komputerisasi dan internet. Sehingga, jika

terjadi masalah di sistem jaringan, operator tersebut dapat

memperbaikinya dan pekerjaan yang dikerjakan, tidak terhambat terlalu

(25)

5. Komputer di era zaman sekarang, merupakan barang elektronik yang

sudah menjadi kebutuhan setiap orang terutama di setiap kantor. Karena

komputer merupakan alat elektronik yang dapat membantu pekerjaan.

Sehingga tidak memakan waktu lama dalam pengerjaannya. Namun,

tidak sedikit pula orang yang mampu mengoperasikan komputer

tersebut. Hal tersebut terjadi di BKD Provinsi Jawa Barat, terutama

bendahara pengeluaran pembantu. Seharusnya, seorang bendahara

pembantu pengeluaran, dapat mampu menjalankan komputerisasi

sehingga pekerjaan yang dilakukan tidak terhambat. Upaya yang dapat

dilakukan adalah memberi pelatihan khusus bagi bendahara pengeluaran

pembantu dalam mengoperasikan sistem komputerisasi. Karena

bendahara pengeluaran pembantu merupakan seseorang yang penting

dalam kegiatan penatausahaan terutama dalam hal pertanggungjawaban.

Karena, pertanggungjawaban dikerjakan menggunakan sistem aplikasi

yang terdapat dalam komputer, tidak secara manual. Sehingga

pertanggungjawaban pun dapat selesai dengan tepat waktu untuk

Figur

Gambar 4.1
Gambar 4 1 . View in document p.7
Gambar 4.2 Perincian Per Obyek
Gambar 4 2 Perincian Per Obyek . View in document p.8
Tabel 4.1 SPJ Administratif
Tabel 4 1 SPJ Administratif . View in document p.11
Gambar 4.3 BKU BP
Gambar 4 3 BKU BP . View in document p.14
Gambar 4.4
Gambar 4 4 . View in document p.16
Tabel 4.2
Tabel 4 2 . View in document p.19

Referensi

Memperbarui...