KELELAWAR SULAWESI
Jenis dan Peranannya
dalam Kesehatan
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN RI
i
KELELAWAR SULAWESI
Jenis dan Peranannya
dalam Kesehatan
Penulis: Bernadus Yuliadi
Tika Fiona Sari Farida Dwi Handayani
Penyunting Ahli: Ristiyanto
ii
Penerbit :
Lembaga Penerbit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI
Anggota IKAPI No. 468/DKXI/2013
Jl. Percetakan Negara No. 29 Jakarta 10560 Kotak Pos 1226 Telp. 021 4261008 Ext. 223 Fax. 021 4243933
Email : [email protected]
Tim Penulis :
B. Yuliadi, Tika Fiona Sari, Farida Dwi Handayani Penyunting ahli : Ristiyanto
Ukuran 148 x 210 mm, 114 hal ISBN : 978-602-0936-31-4
iii
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan YME atas selesainya penyusunan buku berjudul Kelelawar Sulawesi, Jenis dan peranannya dalam Kesehatan. Buku ini bertujuan untuk memudahkan identifikasi kelelawar di Sulawesi dan potensinya sebagai reservoir penyakit bersumber binatang, seperti penyakit Hendra virus, Nipah virus dan rabies.
Pengetahuan tentang kelelawar di Indonesia masih terbatas. Buku ini disusun berdasar literatur untuk mempermudah proses identifikasi dan mengetahui keragaman jenis kelelawar Pulau Sulawesi. Diskripsi setiap jenis kelelawar juga didukung foto untuk semakin memudahkan dalam identifikasi. Harapan penulis informasi yang disajikan dalam buku ini bermanfaat untuk mengenal kelelawar sampai tingkat genus dan jenisnya. Saran dan masukkan diharapkan akan dapat semakin menyempurnakan buku ini.
Salatiga, Juli 2014 Penulis
v
DAFTAR ISI
Halaman Judul ... i
Kata Pengantar ... iii
Daftar Isi ... v
Daftar gambar ... vi
Daftar tabel ... viii
I. Pendahuluan ... 1
II. Penyakit bersumber kelelawar ... 9
1. Rabies ... 15
2. Nipah virus ... 16
3. Hendra virus ... 17
4. Japanese encephalitis ... 18
III. Kelelawar Sulawesi ... 21
i. Kunci Identifikasi Famili Kelelawar Indonesia ... 25
ii. Famili Pteropodidae ... 28
A. Genus Acerodon ... 35 B. Genus Boneia ... 37 C. Genus Chironax ... 38 D. Genus Cynopterus ... 39 E. Genus Dobsonia ... 41 F. Genus Eonycteris ... 44 G. Genus Herpyionycteris ... 45 H. Genus Macroglosus ... 46 I. Genus Neopteryx ... 47 J. Genus Nyctimene ... 48 K. Genus Pteropus ... 49 L. Genus Rousettus ... 52 M. Genus Syloctenium ... 54 N. Genus Thoopterus ... 55
iii. Famili Megadermatidae ... 55
vi A. Genus Hesperoptenus ... 63 B. Genus Kerivoula ... 64 C. Genus Miniopterus ... 66 D. Genus Murina ... 69 E. Genus Myotis ... 70 F. Genus Phoniscus ... 75 G. Genus Pipistrellus ... 76 H. Genus Tylonycteris ... 79 v. Famili Rhinolophidae ... 80 I. Genus Rhinolophus ... 81
vi. Famili Hipposideridae ... 83
J. Genus Hipposideros ... 84
vii. Famili Emballonuridae... 87
A. Genus Emballonura ... 88
B. Genus Mosia ... 90
C. Genus Saccolaimus ... 90
D. Genus Taphozous ... 91
viii. Famili Molossidae ... 92
a. Genus Chaerophon ... 94
b. Genus Cheiromeles ... 95
c. Genus Mops ... 96
vii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Morfologi kelelawar megachiroptera (pemakan
buah) ... 3
Gambar 2. Morfologi kelelawar Microcheroptera (pemakan serangga) ... 4
Gambar 3. Kelelawar pemakan serangga Myotis muricola (A) dan Kelelawar pemakan buah Nyctimene cephalotes (B) ... 5
Gambar 4. Macroglosus sobrinus sedang membantu proses penyerbukan pada bunga pisang (Old World Fruit Bats, 1992) ... 7
Gambar 5. Negara dengan resiko penularan rabies ... 15
Gambar 6. Siklus penyakit nipah virus ... 17
Gambar 7. Negara dengan resiko penularan henipavirus ... 18
Gambar 8. Negara dengan resiko penularan Japanese enchepalitis ... 19
Gambar 9. Morfologi telinga Famili Kerivoulinae dan Vespertilioninae ... 23
Gambar 10. Morfologi kepala Famili Rhinolophidae dan Hipposideridae ... 24
Gambar 11. Distribusi Kelelawar pemakan buah ... 29
Gambar 12. Ciri morfologi famili Megadermatidae ... 56
Gambar 13. Ciri morfologi famili Vespertilionidae ... 58
Gambar 14. Ciri morfologi famili Rhinolophidae ... 80
Gambar 15. Ciri morfologi famili Hiposideridae ... 83
Gambar 16. Ciri morfologi famili Emballonuridae ... 87
viii
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Jenis virus yang terdeteksi pada kelelawar ... 12
Tabel 2. Morfometrik genus Acerodon ... 35
Tabel 3. Morfometrik genus Cynopterus ... 39
Tabel 4. Morfometrik genus Dobsonia ... 41
Tabel 5. Morfometrik genus Nyctimene ... 48
Tabel 6. Morfometrik genus Pteropus ... 49
Tabel 7. Morfometrik genus Rousettus ... 52
Tabel 8. Morfometrik genus Kerivoula ... 64
Tabel 9. Morfometrik genus Miniopterus ... 66
Tabel 10. Morfometrik genus Myotis ... 70
Tabel 11. Morfometrik genus Pipistrellus ... 76
Tabel 12. Morfometrik genus Rhinolophus ... 81
Tabel 13. Morfometrik genus Hipposideros ... 84
1 I. PENDAHULUAN
Farida Dwi Handayani
Informasi dan dokumentasi kelelawar di Indonesia belum banyak disajikan, tetapi kelelawar telah dikenal masyarakat Indonesia secara luas, terbukti dengan adanya berbagai nama lokal untuk kelelawar. Masyarakat Indonesia timur mengenal kelelawar sebagai paniki, niki atau lawa; orang Sunda menyebutnya kampret,
lalai; orang Jawa menyebutnya lawa, codot, kampret; sedangkan
di Kalimantan disebut hawa, prok, cecadu, kusing dan tayo (Suyanto, 2001).
Kelelawar merupakan mamalia termasuk dalam ordo
Chiroptera. Chiroptera berasal dari bahasa Yunani “cheir” yang
berarti tangan dan “pteros” berarti selaput, atau dapat diartikan sebagai “sayap tangan”, karena kaki depannya termodifikasi menjadi sayap (Corbeth dan Hill, 1992). Berbeda dengan sayap pada burung, sayap kelelawar merupakan perluasan tubuh, tidak berambut. terbentuk dari membran elastis berotot dan dinamakan
patagium. Sayap kelelawar membentang di antara tulang-tulang
telapak dan jari tangan atau anggota tubuh bagian depan sampai sepanjang sisi samping tubuh dan kaki belakang. Sayap kelelawar berfungsi untuk terbang dan untuk menyelimuti tubuhnya ketika
2
bergantung terbalik (Lekagul dan Mc Neely, 1977). Kelelawar betina akan menggunakan patagium untuk memegang anak yang baru dilahirkan dengan posisi kepala di bawah.
Jenis kelelawar di dunia diketahui ada/terdapat 18 famili, 192 genus dan 977 spesies kelelawar (Nowak 1999), menurut
Anthony M. Hutson et al, (2001) dalam bukunya
“Microchiropteran Bats”, kelelawar dikelompokkan menjadi dua kelompok besar, yaitu kelelawar pemakan buah (Megachiroptera) dan kelelawar pemakan serangga (Microchiroptera). Menurutnya saat ini total terdapat 1001 spesies kelelawar di dunia, terbagi menjadi Megachiroptera 167 spesies dan Microchiroptera 834 spesies. Jumlah spesies terpublikasi terakhir berjumlah 1117 meliputi 1 famili 186 spesies megachiroptera dan 17 famili 931 spesies microchiroptera. (C. Srinivasulu et al. 2010)
Kelelawar hidup pada berbagai tipe habitat dan memilih alternatif tempat bergelantung. Jenis-jenis kelelawar tertentu seperti kalong, codot dan beberapa jenis dari sub ordo
Megachiroptera memilih tempat bergelantung untuk tidur pada
pohon-pohon besar, sedangkan beberapa jenis kelelawar dari sub ordo Microchiroptera lebih memilih tempat berlindung pada gua, lubang-lubang batang pohon, celah bambu, pohon mati, jalinan rotan hingga langit-langit rumah pada pemukiman penduduk Beberapa jenis hidup secara berkoloni, berkelompok kecil,
3
berpasangan, dan bahkan hidup secara soliter. Kelelawar merupakan hewan aktif malam hari (nocturnal) dimulai dari matahari terbenam hingga pagi hari sebelum matahari terbit atau dikenal dengan istilah hewan crepuscular. Perilaku ini merupakan adaptasi dari bentuk sayap berupa selaput kulit tipis dan sangat rentan terkena sinar matahari, karena lebih banyak panas diserap daripada dikeluarkan (Corbeth dan Hill, 1992). Selain itu, kelelawar juga mengalami adaptasi khusus berupa indera yang sangat mendukung aktivitas mereka di malam hari, sehingga dapat mengurangi persaingan dengan hewan beraktivitas pada siang hari (diurnal) misalnya burung.
4
Megachiroptera memiliki ciri ciri: mata besar, penciuman
yang baik, struktur telinga sederhana, tidak memiliki tragus/antitragus pada telinganya, ekor biasanya pendek bahkan tidak ada, jari sayap kedua umumnya bercakar, kecuali Eonycteris,
Dobsonia dan Neopteryx (gambar 1).
Gambar 2. Morfologi kelelawar microcheroptera
Microchiroptera pada umumnya berukuran kecil, memiliki struktur telinga kompleks, memiliki tragus/antitragus merupakan bagian kulit berdiri di depan saluran telinga, jari sayap kedua tidak bercakar (gambar 2). Jenis kelelawar tertentu terutama famili
Rhinolophidae memiliki daun hidung sederhana, berupa lipatan
5
Hipposideridae memiliki bagian khusus pada wajah, terutama
disekitar lubang hidung, disebut daun hidung yang merupakan tonjolan kulit. (Suyanto, 2001).
Gambar 3. Kelelawar pemakan serangga Myotis muricola (A) dan Kelelawar pemakan buah Nyctimene cephalotes) (B) Kelelawar membutuhkan lebih banyak oksigen pada saat terbang, yaitu 27 ml O2/g bobot tubuh, sedangkan saat tidak
terbang kelelawar hanya membutuhkan 7 ml O2/g bobot tubuh.
Pada saat terbang jantung kelelawar berdenyut lebih cepat yaitu 822 kali/menit, sedangkan pada saat tidak terbang hanya 522 kali/menit. Untuk mendukung kebutuhan oksigen yang tinggi, jantung kelelawar berukuran relatif lebih besar dibandingkan
6
kelompok hewan lain. Jantung kelelawar berukuran 0.09% dari bobot tubuhnya, sedangkan hewan lain hanya 0.05% dari bobot tubuhnya. Tingginya kebutuhan energi pada saat terbang mengharuskan kelelawar makan dalam jumlah banyak (Suyanto, 2001).
Makanan kelelawar megachiroptera cenderung mencolok, mengelompok, dan umumnya berlimpah serta mudah dipanen.
Microchiroptera pemakan serangga aktif malam hari seperti
nyamuk, kumbang-kumbangan, ngengat dan sebagainya. Kingston
dkk (2006) dan Suyanto (2001), menyatakan bahwa satu ekor
kelelawar dapat makan serangga hingga setengah bobot tubuhnya atau setara dengan 600 ekor serangga berukuran sebesar nyamuk dalam waktu satu jam. Di daerah khatulistiwa makanan tersedia sepanjang tahun, sedangkan di daerah sub tropis makanan mungkin langka selama berbulan-bulan. Beberapa spesies kelelawar bisa bertengger tunggal dekat dengan makanan mereka, sedangkan yang lain mungkin bertengger dikoloni besar sehingga mereka harus terbang jarak jauh untuk mencari makan.
Kelelawar juga sangat penting sebagai penyerbuk dan penyebar biji (gambar 4) di hutan tropis seluruh dunia (Marshall, 1983, 1985; Fleming et al, 1987; Fleming, 1988; Coxetal, 1991, 1992; Pierson dan Rainey, 1992) Buah-buahan besar, seperti mangga (Anacardiaceae: Mangi feraindica), harus dikonsumsi di
7
tempat, tapi buah-buahan lebih kecil dapat dibawa dari pohon induknya sebelum dimakan dan benih dikeluarkan melalui mulut atau anus. Jarak benih terpencar tergantung pada ukuran kelelawar.
Cynopterus brachyotis dengan berat badan kurang lebih 30 gr
dapat membawa buah hingga 75 gr, dan terbang sampai 200 m (van der Pijl, 1957). Di sisi lain, Pteropus vampyrus (800 gr) dapat membawa buah lebih dari 200 gr (van der Pijl, 1957; Marshall dan Mc William, 1982). Pteropus vampyrus dapat melakukan perjalanan sekitar 50 km setiap malam untuk mencari makan sehingga penyebaran jarak jauh mungkin terjadi. Banyak buah-buahan dimakan oleh kelelawar juga disukai oleh hewan lain, sehingga terjadi kompetisi intraspesifik.
Gambar 4. Macroglosus sobrinus sedang membantu proses penyerbukan pada bunga pisang (Old World Fruit
Bats, 1992)
8
Terlepas dari peranannya secara ekologis, Kelelawar adalah reservoir alami dari sejumlah virus potensial terhadap penyakit zoonosis (Angela D. Luis, 2013). Keragaman spesies kelelawar mewakili sekitar 24% dari semua spesies mamalia. Secara khusus, kelelawar pemakan serangga memainkan peran penting dalam epidemiologi rabies, kelelawar vampir (haematophagous) adalah reservoir rabies pada satwa liar di Amerika Latin. Sebaliknya, informasi tentang patogenesitas lyssaviruses pada kelelawar buah (flying fox) baru-baru ini ditemukan berperan dalam epidemiologi lyssavirus di Australia. Namun, secara umum, angka kematian pada kelelawar terinfeksi rendah, dan serokonversi terjadi pada banyak kelelawar yang bertahan hidup. Transmisi rabies dari kelelawar terinfeksi terjadi melalui gigitan atau media lainnya. (K.A. Mc Coll, N. Tordo & A. Aguilar Setién, 2000)
9
II. PENYAKIT BERSUMBER KELELAWAR
Tika Fiona Sari
Emerging Infectious Disease (EID) merupakan ancaman
bagi kesehatan masyarakat global, lebih dari 25 persen kematian tahunan di seluruh dunia diperkirakan langsung berhubungan dengan penyakit menular (Morens, Folkers dan Fauci, 2004).
Beberapa tahun belakangan ini, kelelawar dianggap berperan dalam penyebaran berbagai EID dan merupakan salah satu hewan reservoir yang mampu menularkan berbagai penyakit zoonosis kepada manusia, hewan domestik maupun hewan liar lainnya (Calisher dkk, 2006).
Banyak informasi telah dikumpulkan tentang peran kelelawar dalam pemeliharaan dan penyebaran virus dari spesies Microchiroptera (kelelawar pemakan serangga), dan hanya ada sedikit informasi yang tersedia untuk anggota subordo Megachiroptera (flying fox dan fruit bats) (Mackenzie , Field dan Guyatt, 2003). Kelelawar merupakan inang keanekaragaman virus patogenik penyakit zoonosis di seluruh dunia. Meski tampak tidak patogen terhadap kelelawar, beberapa virus sangat mempengaruhi mamalia lain termasuk manusia, Contohnya : coronavirus sindrom pernapasan akut, Ebola, Marburg virus, Nipah dan Hendra. Pada
10
skala evolusi, mengakibatkan interaksi antara host dan keragaman virus penyakit zoonosis, sehingga kemungkinn virus pada kelelawar beradaptasi menjadi lebih toleran terhadap respon demam dan kurang mematikan terhadap inang alaminya. (Thomas J. O’Shea, 2014).
Hal diatas karena kelelawar telah berevolusi selama jutaan tahun dan banyak virus juga telah berevolusi dengan mereka, yang berarti tidak menyebabkan penyakit pada kelelawar sendiri. Hubungan antara kelelawar dan penyakit menular yang kompleks telah diakui oleh Ecohealth Aliansi: "Kami menghadapi tantangan penting dalam upaya kami untuk melindungi hewan-hewan penting dari perburuan, hilangnya habitat dan penyakit. Memahami situasi yang kompleks penyebab virus kelelawar menular ke populasi manusia dan hewan serta melindungi kesehatan hewan domestik dan manusia”.
Beberapa sejarah kehidupan kelelawar dapat menjelaskan mengapa kelelawar menjadi reservoir dari sejumlah virus. Ada beberapa variasi antara spesies dalam sifat-sifat ini, tapi satu hal yang sama adalah kelelawar memiliki kemampuan terbang. Sifat ini menjadi alasan kelelawar mampu membawa, tetapi tidak terpengaruh keberadaan virus, termasuk siklus hidup kelelawar yang relatif panjang, jarak terbang kelelawar saat mencari makan, migrasi dan perilaku bertengger secara sosial.
11
Kemampuan terbang diyakini mengakibatkan kelelawar mengembangkan sistem kekebalan tubuh mereka untuk melawan penyakit. Tingginya tingkat metabolisme selama terbang pada kelelawar dapat meningkatkan, memfasilitasi, atau mengaktifkan respon imun. Metabolisme selama terbang juga memungkinkan beberapa virus untuk bertahan dalam kelelawar dan menjadi resisten terhadap respon imun bawaan. (Luis dkk, 2013) Memahami bagaimana kelelawar melakukan ini dapat bermanfaat bagi kesehatan manusia. Bahkan ada banyak aspek dari kemampuan kelelawar untuk melawan penyakit pada akhirnya dapat menyebabkan kemajuan dalam perawatan kesehatan manusia.
Kelelawar memiliki berbagai karakteristik yang dapat memaksimalkan perannya sebagai reservoir virus dan menunjang perannya dalam penyebaran EID, diantaranya masa hidup yang panjang, keragaman spesies, memiliki jarak terbang jauh, jumlah koloni besar, dan memiliki imunitas. Penyakit zoonosis yang ditularkan oleh kelelawar diantaranya adalah rabies, Nipah virus, Japanese encephalitis, Hendra virus, Lyssavirus dan Menangle. Secara keseluruhan, telah diidentifikasi virus zoonosis pada > 15 genus setidaknya 200 spesies virus dalam 12 genus kelelawar di seluruh dunia (tabel 1) (FAO, 2011).
12
14
Dari tabel diatas beberapa spesies kelelawar ditemukan di Sulawesi, belum adanya penelitian secara komprehensif tentang kemungkinan adanya patogen pada kelelawar di Sulawesi
15
menjadikan peringatan bagi institusi terkait. Beberapa penyakit potensial di Sulawesi berdasar keberadaan kelelawar (reservoir) antara lain :
1. Rabies merupakan penyakit infeksi susunan saraf pusat disebabkan oleh virus dari famili Rhabdovirus dan genus
Lyssavirus. Saat ini, rabies merupakan salah satu penyakit re-emerging di beberapa Negara, hal ini ada hubungannya
dengan meningkatnya kontak antara manusia maupun hewan domestik dengan hewan reservoir.
Gambar 3. Negara dengan resiko penularan rabies
Di beberapa negara kelelawar berperan sebagai reservoir untuk lyssavirus. Kelelawar yang sudah terbukti menularkan
16
penyakit rabies di Amerika Latin adalah Desmodus rotundus (Johnson dkk, 2014). Menurut Hughes, G. J dkk, Adaptasi varian virus rabies pada kelelawar terjadi dan lebih cepat pada genus berkoloni (Eptesicus dan Myotis) dibandingkan kelelawar genus soliter (Lasionycteris, Pipistrellus, dan
Lasiuris). Negara dengan resiko penularan rabies dapat dilihat
pada gambar 3.
2. Nipah Virus (NiV) termasuk dalam famili Paramixoviridae dan genus Henipavirus, virus ini tergolong sangat patogen bagi ternak babi dan manusia. Penyakit ini pertama kali muncul di Malaysia pada tahun 1998, menyebabkan wabah respirasi pada babi, yang kemudian menyerang manusia dengan mortalitas tinggi. Kelelawar dari genus Pteropus merupakan reservoir alami dari Nipah virus (symptomless
carriers) dan diidenfikasi sebagai penyebab outbreak penyakit
nipah pada babi dan manusia. Kelelawar yang terinfeksi akan menularkan Nipah virus melalui eskresi dan sekresinya, seperti air liur, urine, dan air mani (CDC). Penularan nipah juga dapat terjadi dari manusia ke manusia Ilustrasi jelas transmisi NIV dari manusia ke manusia terjadi selama wabah di Faridpur, Bangladesh tahun 2004 (Gurley ES, 2007). Di Indonesia kasus Nipah pada manusia dan babi belum pernah dilaporkan secara klinis. Sendow dkk (2008), melaporkan
17
bahwa serum kelelawar (Pteropus vampyrus) di daerah Sumatra Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur memiliki antibody terhadap Nipah virus. Prevalensi tertinggi ditemukan di daerah Jawa Tengah yaitu sebesar 33%, menyusul Sumatra Utara (30,6%), Jawa Timur (19%) dan Jawa Barat (18%).
http://www.antropozoonosi.it/Malattie/nipah/f_nipah3.gif
Gambar 4. Siklus penyakit nipah virus
3. Hendra virus (HeV) termasuk dalam famili Paramixoviridae dan genus Henipavirus, virus ini memiliki hubungan kekerabatan dengan Nipah virus. HeV pertama kali ditemukan di kota Brisbane, Australia 1994, yaitu menyebabkan penyakit
18
respiratori akut pada kuda. Survei yang dilakukan pada hewan liar, menunjukkan bahwa kelelawar pemakan buah dari genus
Pteropus merupakan reservoir alami bagi Hendra virus.
Manusia bisa tertular penyakit ini karena kontak dengan kuda yang terinfeksi Hendra virus. Penyebaran Hendra virus hingga saat ini masih terbatas pada daerah Australia dan Papua Nugini (FAO, 2011; Merck Manual). Kasus Hendra virus di Indonesia secara klinis belum pernah dilaporkan
Gambar 5. Negara dengan resiko penularan henipavirus
4. Japanese encephalitis (JE) adalah penyakit viral yang penularannya melalui vektor dan menyebabkan penyakit encephalitis pada manusia, dan juga dapat menyerang ternak.
19
Virus JE dapat menginfeksi ternak dan manusia, terbukti dengan adanya laporan terdeteksinya antibodi terhadap virus JE pada beberapa spesies ternak seperti kerbau, sapi, kambing, domba babi, kuda, kera, burung liar (sendow dkk, 1995). Menurut Cui dkk (2008); Miura dkk (1970) dan Banerjee dkk (1988) kelelawar yang terdeteksi memiliki antibodi terhadap
virus JE, diantaranya adalah genus Hipposideros,
Rhinolophus, Myotis dan Rousettus. Menurut Winoto dkk
(1995), serum kelalawar yang terdeteksi positif mengandung antibodi terhadap virus JE memakai uji netralisasi di daerah Kalimantan Barat adalah genus Cynopterus.
Gambar 6. Negara dengan resiko penularan Japanese enchepalitis
21 III. KELELAWAR SULAWESI
Bernadus Yuliadi
Buku kunci identifikasi kelelawar yang dapat digunakan di lapangan dan laboratorium masih sangat kurang. Buku ini berisi diskripsi dan ukuran morfometrik kelelawar yang berada di Pulau Sulawesi. Dalam kelas mamalia ordo chiroptera merupakan terbesar kedua setelah rodensia. Jumlah spesies terpublikasi terakhir berjumlah 1117 meliputi 1 famili 186 spesies megachiroptera dan 17 famili 931 spesies microchiroptera. (C. Srinivasulu et al. 2010)Jenis kelelawar di Asia Tenggara terdapat 254 spesies tersebar di “Indochina region malaya dan islands of
the continental”. Indonesia dengan kepulauan terbentang dari
Sumatera sampai Papua mendukung keanekaragaman hayati. Lebih dari 200 spesies kelelawar (20% jenis kelelawar di dunia) berada di Indonesia, 75 spesies dilaporkan berada di Pulau Sulawesi (Suyanto 2001). Beberapa pulau seperti Kalimantan sangat kaya jenis kelelawarnya tetapi Pulau Sulawesi memiliki keragaman spesies endemik (Karl F. Koopman, 1989).
Kelelawar dibagi menjadi dua subordo. Megachiroptera (Kelelawar buah/ Old world fruit bat), memakan buah atau nektar bunga, memiliki mata besar digunakan untuk menemukan jalan
22
mereka. Margin telinga membentuk cincin terus menerus sepanjang telinga, memiliki cakar pada jari kedua (kecuali
Eonycteris), menggunakan cakar serta kaki mereka untuk
pegangan, mereka sering memanjat melalui pohon. selaput kulit antar pahasempit/ tidak berkembang dan ekor pendek atau tidak ada. Kelelawar buah memiliki mata besar mencolok, kecuali
Rousettus. Microchiroptera, memakan sebagian besar serangga,
memiliki mata tetapi biasanya kecil, untuk menemukan jalan menggunakan mekanisme ekolokasi. Margin telinga dimulai dan berakhir di kepala, daun hidung ada atau tidak ada, tidak memiliki cakar pada jari kedua, selaput kulit antar paha berkembang dengan baik, ekor biasanya panjang.
Kelelawar memiliki ciri-ciri khusus yang digunakan dalam penggolongan berdasarkan taksanya sebagai contoh:
• Famili Pteropodidae mempunyai cakar pada jari kedua, merupakan adaptasi dari jenis pakannya yaitu buah-buahan.
• Genus tertentu seperti Dobsonia memiliki rambut sangat jarang atau bahkan gundul (Cheiromeles), sedangkan Genus lain rambutnya sangat lebat (Pteropus vampyrus). Secara umum, kelelawar mempunyai selaput kulit antar paha (selaput kulit antar paha), berlekatan dengan ekor
23
atau tulang ekor. Perlekatan ekor ini dapat terjadi sebagian kecil atau seluruhnya.
• Kelelawar dengan selaput kulit antar paha tidak berkembang, umumnya memiliki ekor pendek, kecuali pada Rhinopomatidae memiliki ekor sangat panjang (Suyanto, 2001).
Kelelawar microchiroptera mempunyai daun telinga berbentuk tragus atau antitragus. Tragus adalah bagian menonjol berbentuk seperti tongkat dari dalam daun telinga, sedangkan
antitragus adalah bagian menonjol berbentuk bundar atau tumpul
di luar daun telinga, seperti pada kelelawar Famili Molossidae
Gambar 9. Morfologi telinga Famili Kerivoulinae dan
Vespertilioninae
• Jenis kelelawar tertentu dari Famili Rhinolophidae dan
Hipposideridae memiliki bagian khusus pada wajah,
terutama di sekitar lubang hidung yang disebut daun hidung (Lekagul dan McNeely, 1977).
24
Gambar 10. Morfologi kepala Famili Rhinolophidae dan
Hipposideridae
Indonesia menjadi negara dengan jumlah jenis kelelawar pemakan buah tertinggi di dunia. Pulau Sulawesi menjadi pulau dengan keanekaragaman jenis kelelawar pemakan buah tertinggi di dunia sedangkan Irian Jaya Timur ketiga dunia. Beberapa pulau lain (Kalimantan, Jawa, Lombok dan Sumatera) juga berperan dalam jumlah keragaman fauna kelelawar pemakan buah Indonesia (Simon P. et al, 1992)
Dalam melakukan identifikasi kelelawar baik genus maupun spesies yang perlu diperhatikan adalah bagian eksternal, terdiri atas pengukuran anatomi meliputi : panjang badan dan kepala (Head Body lenght/HB), panjang lengan bawah (Forearm
length/FA), panjang betis (Tibia length/Tb), panjang ekor (Tail lenght/T) dan panjang kaki belakang (Hindfoot lenght/HF); Bentuk
25
moncong, warna rambut, bentuk hidung dan telinga (ada tragus dan antitragus pada kelompok microchiroptera).
Gambar 11. Bagian bagian yang diukur pada kelelawar Cara pengukuran morfometrik pada kelelawar dapat dilihat pada gambar 12
26
Selain anatomi bentuk, urutan dan jumlah gigi juga sebagai penanda pada setiap genus dan spesies kelelawar.
Di Indonesia terdapat 9 famili dan 7 famili terdapat di P.
Sulawesi yaitu : Pteropodidae (megachiroptera) dan,
Megadermatidae, Vespertilionidae, Rhinolophidae, Hiposideridae, Molossidae, Emballonuridae (microchiroptera)
i. Kunci Identifikasi famili kelelawar di Indonesia
1. Mempunyai cakar pada jari kedua (kecuali
Eonycteris), mata besar, telinga tanpa tragus
dan anti tragus, bentuk telinga sederhana, selaput kulit antar paha tidak berkembang, tonjolan geraham tumpul, muka menyerupai
anjing atau serigala ...………. Pteropodidae
Tidak mempunyai cakar pada jari kedua, mata kecil telinga terdapat tragus dan/atau anti tragus, tonjolan geraham tumpul, selaput
kulit antar paha berkembang dengan baik …. 2
2. Seluruh ekor terbungkus dalam selaput kulit
27
Tidak seluruh ekor terbungkus dalam selaput
kulit antar paha………... 7
3. Hidung sederhana, tidak memiliki daun hidung (kecuali Nyctophilus), gigi seri kecil
terpisah di tengah ..………..…… Vespertilionidae Memiliki daun hidung, gigi seri tidak
terpisah ditengah ……… 4
4. Ujung tulang ekor membentuk huruf T, ekor terbungkus sempurna dalam selaput kulit
antar paha……… Nycteridae
Ujung ekor tidak membentuk huruf T, ekor tidak terbungkus sempurna dalam selaput
kulit antar paha ………….…..…..….…….… 5
5. Telinga besar, panjang dan bundar,
pangkalnya bersambung tepat di atas kepala. Tragus panjang dan bercabang, ekor pendek,
tidak memiliki gigi seri atas ..………….…... Megadermatidae
28
6. Daun hidung tengah (di belakang lubang hidung) memiliki bagian mencuat ke atas yang disebut “sella’, daun hidung posterior mencuat membentuk lanset panjang dengan ujung lancip, anti tragus pada telinga tampak
jelas………. Rhinolophidae Lipatan kulit hidung sebelah belakang
tumpul, daun hidung tengah (di belakang lubang hidung) berbentuk bantalan, daun hidung depan rendah dan melebar, telinga
mempunyai anti tragus pendek ……….. Hipposideridae 7. Bentuk hidung sederhana (tanpa daun
hidung), bagian ekor bebas tidak terbungkus selaput kulit antar paha, mencuat di tengah membran, tragus kecil sampai sedang, Tubuh kecil sampai sedang dengan panjang
lengan bawah sayap <50 mm …………..….. Emballoniridae Bagian ekor yang mencuat berada di ujung
selaput kulit antar paha………..……….. 8
8. Ekor yang bebas sangat panjang, lebih dari separuh panjang ekor. Ada lipatan kulit
29
sederhana di atas lubang hidung, jari kedua
terdiri dari dua tulang jari………….……….. Rhinopomatidae Bagian ekor yang mencuat berada di ujung
selaput kulit antar paha, moncong menjorok ke depan melebihi rahang bawah, bibir agak
keriput ……… Molossidae
Penulisan dengan huruf tercetak miring tebal merupakan genus terlaporkan ada di Pulau Sulawesi
ii. Famili Pteropodidae
Famili Pteropodinae di dunia ada 42 Genus 169 spesies, di Indonesia ada 21 Genus, 72 spesies dan di Pulau Sulawesi terdapat 14 genus 29 spesies (Suyanto 2001; Suyanto, A., et all, 2002), Genus Boneia, Harpionycteris, Neopteryx dan
Styloctenium bahkan dilaporkan hanya ditemukan di P.
Sulawesi. Famili Pteropodidae hidup berkoloni, masa bunting 3 - 6 bulan dan hanya melahirkan 1 anak pertahun. Makanan : daun, buah, nektar dan serbuk sari. Anggota ini juga dikenal sebagai kelelawar pemencar
Ciri ciri : mata besar, telinga tidak memiliki tragus dan antitragus, tonjolan geraham tumpul, proicessus postorbitalis umumnya berkembang. Genus Eonycteris, Dobsonia dan
30
Gambar 11. Distribusi Kelelawar pemakan buah
Kunci Identifikasi Famili Pteropodidae
1. Jari sayap kedua tidak bercakar ...……..…. 2
Jari sayap kedua bercakar ………... 4
2. Punggung gundul, gigi seri sepasang ………. Dobsonia
Punggung berbulu, gigi seri 2 pasang ……… 3
3. Tidak berekor …..………..…… Neopteryx
Berekor ………. Eonycteris
31
Gigi seri bawah ada ………... 6
5. Ada garis coklat kehitaman sepanjang tengah punggung, bercak kuning pada sayap, lengan
bawah dan telinga ………. Nyctimene
Punggung tanpa garis coklat, Bercak kuning
ada tetapi tidak jelas ……….. Paranyctimene
6. Gigi seri bawah dua ……….. 7
Gigi seri bawah empat ……….. 12
7. Berekor, telinga hitam, kecuali sekitar mata berwarna pucat, gigi seri atas bagian luar lebih besar dari sebelah dalam, panjang
lengan bawah 57 – 62 mm ………... Penthetor
Tidak berekor ……… 8
8. Gigi seri atas 2 buah dan ukurannya lebih besar daripada taring, taring atas mempunyai tiga tonjolan, geraham bawah 5 – 6 tonjolan,
panjang lengan bawah 57 – 62 mm ………… Herpyionycteris
32
9. Ada garis pendek putih di atas mata dan hidung, warna rambut kemerahan, ada rumpang antara P4 dan M1, taring pendek dan
tebal, panjang lengan bawah 90 – 96 mm …. Styloctenium
Tidak ada garis pendek putih di atas mata dan hidung, rumpang antara P4 dan M1 tidak
ada ……….. 10
10. Ada bercak bercak kuning muda pada sayap terutama sekitar sambungan tulang. Warna rambut badan coklat abu abu muda, rambut bagian kepala berwarna lebih hitam, panjang
lengan bawah 40 – 45 mm ………. Ballionycteris
Bercak bercak kuning muda terutama sekitar
sambungan tulang pada sayap tidak ada ….... 11
11. Selaput kulit antar paha berambut tebal, tulang kalkar pada kaki sangat kecil, panjang
lengan bawah 42 – 52 mm ……… Aethalops
Selaput kulit antar paha berambut tipis, tulang kalkar pada kaki besar,ibu jari sayap
33
sebgian terbungkus membran sayap, panjang
lengan bawah 48 – 58 mm ……… Megaerops
12. Gigi seri atas 2 buah dan ujungnya berbelah 2, rambut leher membentuk jumbai berwarna coklat tua. Langit langit sebelah depan
melebar, panjang lengan bawah 95 mm ……. Boneia Gigi seri atas empat buah, rambut leher tidak
membentuk jumbai ……….... 13
13. Gigi seri kecil dan jarak antar gigi seri sebelah dalam lebar, moncong panjang dan ramping, lidah 2 kali panjang moncong, tidak berekor atau sangat pendek, panjang lengan
bawah 37 – 52 mm, warna rambut coklat ….. Macroglossus
Jarak antar gigi seri sebelah dalam tidak lebar
………. 14
14. Ekor tidak ada ………... 15
Ekor ada ………. 19
34
Panjang lengan bawah < 84 mm ……… 17
16. Tonjolan mesolingual P4 dan M1 tumbuh baik, rigi palatum 5+8+3. Warna rambut sekitar bahu kuning kontras dengan bagian tubuh lainnya (abu abu coklat kekuningan atau kehitaman). Panjang lengan bawah 127 -
203 mm ………... Acerodon Tonjolan mesolingual P4 dan M1 tidak
tumbuh baik, rigi palatum 5+5+3. Warna rambut sekitar bahu kuning kontras dengan bagian tubuh lainnya (abu abu coklat kekuningan atau kehitaman). Panjang lengan
bawah 85 - 228 mm ……… Pteropus
17. Warna rambut dan bentuk tubuh menyerupai
Macroglossus, gigi seri atas besar dan rapat,
panjang lengan bawah 38 – 50 mm ………… Syconycteris
Warna rambut dan bentuk tubuh tidak
35
18. Warna coklat keabu abuan, panjang lengan
bawah lebih dari 60 mm ……… Thoopterus
Warna kepala hitam, tubuh coklat keabu abuan, panjang lengan bawah lebih dari 42 -
52 mm ………. Chironax
19. Geraham atas 3, besar, permukaan berbentuk persegi dengan tonjolan besar. Rambut pendek bagian punggung coklat abu abu,
Panjang lengan bawah 77 – 81 mm ………… Dyacopterus
Geraham atas lebih dari tiga, rambut tubuh
lebih panjang ……….. 20
20. Geraham atas kecil 5 buah, gigi seri terbelah ujungnya, rambut pendek hanya di bagian tengkuk panjang seperti jumbai, panjang
lengan bawah 78 - 90 mm ………. Rousettus
Geraham atas sedang 4 buah, gigi seri tidak terbelah ujungnya, rambut pendek sedang,
lebat, panjang lengan bawah 55 - 92 mm …. Cynopterus
Penulisan dengan huruf tercetak miring tebal merupakan genus terlaporkan ada di Pulau Sulawesi
36 A. Genus Acerodon
Genus ini di Indonesia terdapat 3 spesies yaitu
Acerodon celebensis, A. humilis dan A. mackloti, 2
spesies dilaporkan ada di P. Sulawesi. (Suyanto 2001; Suyanto, A., et all, 2002).
Ciri ciri : Warna rambut sekitar bahu kuning kontras dengan bagian tubuh lainnya, abu abu, coklat kekuningan atau kehitaman (Suyanto 2001)
Rumus gigi : I1I2CP1P2P3P4M1M2/I1I2CP1P3P4M1M2 Tabel 2. Morfometrik genus Acerodon
Spesies FA (mm) Tb (mm) E (mm)
A. celebensis 120.5 – 144.3 50.2 – 54.3 28.2 – 30.5
A. humilis 140 57 24
FA : Panjang lengan bawah, Tb : Panjang betis, E : Panjang telinga
1. Acerodon celebensis, Peters 1867 (Kalong Sulawesi) beristirahat di pohon-pohon, dan juga dalam bambu di
desa-desa. Umumnya
ditemukan di sepanjang
pantai dan menunjukkan
toleransi terhadap gangguan manusia. Terlihat sering
37
makan di pohon familin dan kelapa (Flannery 1995). Ciri ciri :
Warna rambut coklat kekuningan,
Hanya ditemukan di Pulau Sulawesi
2. Acerodon humillis, K. Andersen 1909 (Kalong Talaud) Ciri ciri :
Warna rambut coklat Kehitaman, di bagian leher berwarna coklat
kemerahan
Hanya ditemukan di Kepulauan Talaud
38 B. Genus Boneia
Di Indonesia hanya terdapat 1 spesies dan endemik di P. Sulawesi (Suyanto 2001; Suyanto, A., et all, 2002). Ciri ciri : rambut leher membentuk jumbai berwarna coklat tua. (Suyanto 2001) Muka di depan telinga coklat kekuningan dan belakang kepala sampai sisi leher dan bahu kuning keemasan. Dagu, dada, perut, paha dan bagian atas humerus coklat gelap. Bagian membran sayap dan interfemoral coklat(Jentink, F. A, 1879)
Rumus gigi : I2CP1P3P4M1M2/I1I2CP1P3P4M1M2M3
3. Boneia bidens, Jentink 1879 (Cecadu Sulawesi)
Panjang lengan bawah : 95 - 95.5 mm
Panjang Betis : 50.5 mm
Panjang telinga : 23.5 mm
Panjang kaki belakang : 31 mm
Sekilas sama dengan
Rousettus
Gigi seri atas 1 pasang, gigi seri bawah sebelah luar lebih besar
39 C. Genus Chironax
Genus ini di Indonesia hanya terdapat 1 spesies, daerah persebaran meliputi : Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Lombok dan. Sulawesi (Suyanto 2001; Suyanto, A.,
et all, 2002).
Ciri ciri : tidak berekor warna kepala hitam, badan coklat kehitaman, (Suyanto 2001)
Rumus gigi : I1I2CP1P3P4M1/I1I2CP1P3P4M1M2
4. Chironax melanochepalus, Temminck 1825 (Bukal Kepala Hitam)
Panjang lengan bawah : 40 – 46 mm
Ekor tidak ada
Warna kepala lebih hitam, Warna bagian lain coklat kehitaman
Pada spesies dewasa terdapat warna jingga kuning pada sisi leher
Telinga memiliki tepi gelap. Hanya satu pasang gigi seri bawah.
40 D. Genus Cynopterus
Di Indonesia terdapat 7 spesies, di P. Sulawesi terdapat 4 spesies yaitu : Cynopterus brachyotis, C.
luzonienzis, C. minutus dan C. Sphinx. (Suyanto 2001;
Suyanto, A., et all, 2002).
Ciri ciri :Pada Genus Cynopterus semua tepi telinganya ada garis putih tegas kecuali C. nusatenggara, berekor dan moncong pendek (Suyanto 2001)
Rumus gigi : I1I2CP1P3P4M1/I1I2CP1P3P4M1M2 Tabel 3. Morfometrik genus Cynopterus
Spesies FA (mm) Tb (mm) E (mm) HF (mm)
C. brachyotis 54.7 – 66.7 18.7 – 26.3 15 - 17 13.5 – 15.5
C. luzonienzis 56.0–68.9 19.2 – 25.2 15 - 16 14 – 17
C. minutus 52.9 – 61.9 19.0 – 23.4 13 - 15 11.0 – 12.5
C. Sphinx 58.0 – 76 20.1 – 27.6 18.0 – 19.0 16 – 18.5
FA : Panjang lengan bawah, Tb : Panjang betis, E : Panjang telinga, HF : Panjang kaki belakang
5. Cynopterus brachyotis, Muller 1838 (Codot Krawar)
Warna rambut bagian sisi kanan dan kiri ventral berwarna oranye
41
6. Cynopterus luzonienzis, Peters 1861 (Codot Sulawesi)
7. Cynopterus minutus, Miller 1906 (Codot mini)
Berukuran kecil, warna rambut oranye hanya terdapat di bagian pundak
8. Cynopterus sphinx, Vahl 1797 (Codot Barong)
Berukuran paling besar, warna rambut oranye tersebar di hampir seluruh bagian ventral
hutan, kebun, lahan pertanian, bangunan
42 E. Genus Dobsonia
Di Indonesia terdapat 9 spesies, di Sulawesi terlaporkan 4 spesies yaitu: Dobsonia crenulata, D.
exoleta, D. minor dan D. viridis. (Suyanto 2001; Suyanto,
A., et all, 2002).
Ciri ciri: Rambut di daerah punggung tidak tumbuh, membran sayap terlihat menyambung di bagian punggung. Ukuran panjang lengan bawah menjadi ciri identifikasi Genus Dobsonia. (Suyanto 2001)
Rumus gigi : I2CP3P4M1M2/I2CP1P3P4M1M2M3 Tabel 4. Morfometrik genus Dobsonia
Spesies FA (mm) Tb (mm) E (mm) HF (mm)
D. crenulata 125.0 – 136.0 56.5 – 65.2 27 – 28 28 – 31 D. exoleta 108.5 – 122.0 48.8 – 57.3 22.3 – 26.7 33 – 36
D. minor 80.2 – 86.5 29.5 – 33.3 19.1 – 19.5 17 –23
D. viridis 111 – 130.3 44 – 63.5 22.5 – 26 : 27 – 31
FA : Panjang lengan bawah, Tb : Panjang betis, E : Panjang telinga, HF : Panjang kaki belakang
43
9. Dobsonia crenulata, Andersen 1909 (Kubu Halmahera) Ditemukan di kebun dan
hutan sekunder. Tidak
tergantung air. beristirahat di gua-gua, pohon, dan celah-celah batu. Spesies ini hidup dalam koloni besar. Kelahiran mungkin terjadi pada bulan Desember (Flannery 1995).
Ciri ciri :
Warna cakar : kuning gading
Warna kepala lebih kehitaman
10. Dobsonia exoleta, Andersen 1909 (Kubu Sulawesi)
Warna cakar : kuning gading
Warna rambut bagian ventral kuning kehijauan
Hampir sama dengan D.
44
11. Dobsonia minor, Dobson, 1879 (Kubu Kecil)
Warna cakar : kuning gading
12. Dobsonia viridis, Heude 1896 (Kubu Hijau)
45 F. Genus Eonycteris
Di Indonesia hanya 2 spesies, 1 spesies terdapat di pulau Sulawesi. (Suyanto 2001; Suyanto, A., et all, 2002).
Ciri ciri : tidak memiliki cakar pada jari sayap kedua, moncong sempit panjang, lidah panjang dan rambut halus pendek seperti beludru. (Suyanto 2001)
Rumus gigi : I1I2CP1P3P4M1M2/I1I2CP1P3P4M1M2M3
13. Eonycteris spelaea, Dobson 1873 (Lalai Kembang)
Panjang lengan bawah : 60 – 81 mm
Panjang betis : 25 – 37 mm
Panjang telinga : 25 – 40 mm
Panjang kaki belakang : 17 – 21 mm
Panjang telinga : 16 – 22 mm
Rambut pendek, bagian punggung abu-abu-coklat, di bagian perut sedikit pucat.
Habitat perbukitan berhutan daun lembab, hutan cemara
46 G. Genus Harpyionycteris
Genus ini hanya memiliki 2 spesies, 1 spesies terdapat di pulau Sulawesi dan H. whiteheadi tersebar di Philipina. (Suyanto 2001; Suyanto, A., et all, 2002). Ciri ciri : tidak berekor dan taring atas lebih lebar serta kurang mencuat ke depan. (Suyanto 2001)
Rumus gigi : I2CP1P3P4M1M2/I2CP1P3P4M1M2M3, P1
kecil
14. Harpyionycteris celebensis, Miller & Hollister 1921 (Codot Harpi)
Panjang lengan bawah : 83.8 – 89.8 mm
Panjang betis : 29.2 – 30.8 mm
Panjang telinga : 16.4 – 18.7 mm
Panjang kaki belakang dengan cakar: 19.2 – 24.7 mm
47 H. Genus Macroglossus
Genus ini memiliki 2 spesies dan hanya 1 spesies ditemukan di P. Sulawesi, (Suyanto 2001; Suyanto, A., et
all, 2002).
Ciri – ciri : warna tubuh coklat, lidah sangat panjang, 2 kali panjang moncong, (Suyanto 2001)
Rumus gigi : I1I2CP1P3P4M1M2/I1I2CP1P3P4M1M2M3,
15. Macroglossus minimus, Geoffroy 1810 (Cecadu Pisang kecil)
Panjang lengan bawah : 37.74 – 45.95 mm
Panjang betis : 15.13 – 19.30 mm
Ada alur pada tengah bibir atas
Ada tonjolan pelekat belahan rahang bawah kanan dan kiri sebelah atas
Kelelawar kecil dengan moncong panjang sempit dan lidah sangat panjang, Rahang bawah tipis dan lemah.
48 I. Genus Neopteryx
Genus ini hanya memiliki 1 spesies dan hanya dijumpai di Sulawesi, (Suyanto 2001; Suyanto, A., et all, 2002).
Ciri – ciri : berwarna kecoklatan dengan mantel keputih putihan, sayap melekat dekat tengah punggung. Tidak memiliki cakar pada jari kedua sayap, ada garis putih disepanjang sisi wajah dan hidung bersambung dengan alis mata (Suyanto 2001)
Rumus gigi : I1I2CP1P3P4M1M2/I2CP1P3P4M1M2M3
16. Neopteryx frosti, Hayman 1946 (Codot Gigi Kecil)
Panjang lengan bawah : 104.9 – 110.6 mm
Panjang betis : 39.7 – 45.0 mm
Panjang kaki belakang dengan cakar: 30.2 – 33.3 mm
49 J. Genus Nyctimene
Di dunia terdapat 13 jenis dan 8 diantaranya dijumpai di Indonesia. Di P. Sulawesi terdapat 2 jenis yaitu Nyctimene cephaletos dan N. minutus. (Suyanto 2001; Suyanto, A., et all, 2002).
Ciri ciri : hidung berbentuk tabung dan ada bercak bercak kuning pada sayap dan telinga dengan warna seluruh tubuh kecoklatan. Ada garis coklat kehitaman sepanjang tengah punggung, gigi seri bawah tidak tumbuh dan gigi seri atas besar. (Suyanto 2001)
Rumus gigi : I1CP1P3P4M1/CP1P3P4M1M2 Tabel 5. Morfometrik genus Nyctimene
Spesies FA (mm) Tb (mm) E (mm) S (mm)
N. cephalotes 59.1 – 71.0 24.4 – 27.5 12.7 – 16.5 28.3– 32.4
N. minutus 51.0 17 – 13.0
FA : Panjang lengan bawah, Tb : Panjang betis, E : Panjang telinga, S : Panjang tengkorak
17. Nytimene cephalotes, Pallas 1767 (Paniki Pallas)
50 K. Genus Pteropus
Genus ini merupakan kelelawar pemakan buah terbesar, di dunia dilaporkan ada 60 jenis, sedangkan di Indonesia 20 jenis. Di P. Sulawesi terdapat 6 jenis yaitu:
Pteropus alecto, P. caniceps, P. grisseus, P. pumilus dan P. speciosus. Jenis jenis Genus Pteropus dibedakan
berdasarkan ada tidaknya tonjolan belakang pada geraham depan, ukuran panjang lengan bawah, telinga dan warna bulu (Suyanto 2001; Suyanto, A., et all, 2002).
Rumus gigi : I1I2CP1P3P4M1M2/I1I2CP1P3P4M1M2M3 Tabel 6. Morfometrik genus Pteropus
Spesies FA (mm) Tb (mm) S (mm) P. alecto 140 - 182 65 - 77 64.7 – 77.2 P. aniceps 135 - 145 58 – 67.2 30.3 -31 P. griseus 72.5 – 75.0 - - P. pumilus 109 - - P. speciosus 120.5 - 123 54 25.5
51
19. Pteropus alecto, Temminck 1873 (Kalong Hitam)
Warna rambut hitam seragam
Telinga berujung bundar
20. Pteropus caniceps, Gray 1981 (Kalong Morotai)
Warna rambut punggung coklat tua
Mantel coklat muda, rambut perut coklat berulas putih perak
21. Pteropus griseus, E. Geofroy 1810 (Kalong Kelabu)
52
22. Pteropus pumilus, Miller 1910 (Kalong talaud)
Memiliki ciri seperti P.
griseus tetapi ukuran lebih
kecil
Panjang kaki belakang dengan cakar : 35 mm
53 L. Genus Rousettus
Genus ini terdiri 9 sembilan spesies, di Indonesia terdapat 4 spesies 3 diantaranya berada di P. Sulawesi (Suyanto 2001; Suyanto, A., et all, 2002).
Ciri ciri : moncong panjang, perbedaan antar jenis genus ini pada ukuran lengan bawah dan ada tidaknya perlekatan sayap di bagian punggung (Suyanto 2001). Besar, cakar pada jari kedua dan ekor berkembang baik. Menghasilkan panggilan khas ekolokasi dengan lidah Rumus gigi : I1I2CP1P3P4M1M2M3/I1I2I3P1P3P4M1M2M3 Tabel 7. Morfometrik genus Rousettus
Spesies FA (mm) Tb (mm) HB (mm)
R. amplexicaudatus 73.84 – 78.97 34.11 – 45.33 86.18 – 101.32 R. celebensis 73.81 – 88.96 38.36 – 48.79 102.00 – 116.47
R. linduensis 72.5 – 75.0 - -
FA : Panjang lengan bawah, Tb : Panjang betis, HB : Panjang badan
24. Rousettus amplexicaudatus, E Geoffroy 1810 (Nyap Biasa)
M3 memiliki bentuk
membundar
Sayap melekat pada sisi belakang, dipisahkan oleh rambut pita lebar.
54
Bagian punggung sampai atas kepala abu-abu-coklat sampai coklat, gelap. Di bawah bagian pucat abu-abu-coklat.
25. Rousettus celebensis, K. Andersen 1907 (Nyap Sulawesi)
Selaput interfemolar dengan rambut lebat
Rambut lebat dan panjang
Ada noktah warna orange di bagian kiri dan kanan pangkal leher
26. Rousettus linduensis
55 M. Genus Styloctenium
Genus ini hanya memiliki 1 spesies dan persebaran hanya di Sulawesi dan pulau pulau kecil di sekitarnya, (Suyanto 2001; Suyanto, A., et all, 2002).
Ciri ciri : Berwarna kecoklatan dengan mantel keputih putihan, sayap melekat dekat tengah punggung. Tidak memiliki cakar pada jari kedua sayap, ada garis putih disepanjang sisi wajah dan sepanjang hidung bersambung dengan alis mata (Suyanto 2001)
Rumus gigi : I1I2CP1P3P4M1M2/I2CP1P3P4M1M2
27. Styloctenium wallacei, Gray 1866 (Codot Muka Garis)
P1 sangat kecil, P
1 dan M2
kecil
Panjang lengan bawah : 90 – 100 mm
56 N. Genus Thoopterus
Genus ini hanya memiliki 1 spesies dan hanya dijumpai di Sulawesi dan Maluku, Berwarna coklat kelabu, mirip Cynopterus tetapi tidak berekor (Suyanto 2001; Suyanto, A., et all, 2002).
Rumus gigi : I1I2CP1P3P4M1/I1I2CP1P3P4M1M2
28. Thoopterus nigrescens, Matschie 1899 (Codot Walet)
Panjang lengan bawah : 70 – 82 mm
57 iii. Famili Megadermatidae
Di Indonesia hanya memiliki 1 genus dan 1 spesies, persebaran meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi (Suyanto 2001; Suyanto, A., et all, 2002).
Ciri ciri :Telinga bersambungan antara kiri dan kanan pada pangkalnya, tegak dan besar,daun hidung tegak besar. Tragus panjang dan terbelah, Ekor sangat pendek/tidak ada, kalau ada terbenam dalam selaput kulit antar paha(Suyanto 2001) Rumus gigi : I 0/2, C 1/1, P 2/2, M3/3
Gambar 12. Ciri morfologi famili Megadermatidae 29. Megaderma spasma, Linnaeus 1758 (Vampir Palsu)
Panjang lengan bawah : 53 – 58 mm
Panjang betis : 29 -32 mm
Panjang kaki belakang : 14 – 17 mm
Panjang telinga: 32 – 39 mm Sedlock, J.L. & N.R. Ingle
58
Daun hidung tegak panjang Bulu abu-abu pucat abu-abu-coklat. Daun hidung memiliki lobus dorsal panjang dengan kaku punggungan pusat. Telinga sangat besar bergabung di pangkalan. Tragus panjang dan bercabang. Tidak ada ekor terlihat meskipun selaput kulit antar pahaberkembang dengan baik.
59 iv. Famili Vespertilionidae
Di dunia famili Vespertilionidae memiliki 43 genus dan 342 spesies, di Indonesia 14 genus 63 spesies dan di P. Sulawesi terdapat 8 Genus 22 spesies (Suyanto 2001; Suyanto, A., et all, 2002)
Ciri ciri : lipatan kulit sekitar hidung tidak ada dan telinga kanan kiri terpisah kecuali pada genus Nyctophilus. Tragus berkembang dengan baik, ekor terbenam semua pada selaput kulit antar pahadan berbentuk “V” (Suyanto 2001, Yasuma S,
et al,2003)
Gambar 13. Ciri morfologi famili Vespertilionidae
Kunci identifikasi genus pada famili Vespertilionidae 1. Telinga kanan kiri bersambungan, ada lipatan
kulit sekitar hidung ……… Nyctophillus
Telinga kanan kiri terpisah, tidak ada lipatan
kulit sekitar hidung .……… 2
60
2. Ada bentuk penebalan kulit di bawah jari
sayap dan kaki belakang ……… 3
Tidak ada bentuk penebalan kulit di bawah
jari sayap dan kaki belakang ………... 5
3. Kepala dan badan gepeng, bantalan kulit berbentuk cakram berwarna coklat tua
sampai abu abu, geraham 4 buah …………... Tylonicteris
Kepala dan badan tidak gepeng, bantalan
kulit berwarna coklat tua sampai abu abu ….. 4
4. Gigi seri atas sebelah dalam berukuran besar, gigi seri atas sebelah luar menjorok ke dalam antara gigiseri sebelah dalam dan taring. Geraham atas 4 buah, bantalan kulit di bawah
ibu jari dan telapak berwarna coklat tua …… Hesperoptenus Gigi seri atas sebelah dalam tidak besar, gigi
seri atas sebelah luar menjorok ke luar. Geraham atas 5 buah geraham terdepan sangat kecil, bantalan kulit di bawah ibu jari
61
5. Panjang tulang jari ke 3 pada jari sayap ke 2
tiga kali panjang tulang jari ke 2 ……… Miniopterus
Panjang tulang jari ke 3 pada jari sayap ke 2
tidak tiga kali panjang tulang jari ke 2 ……... 6
6. Cuping hidung berbentuk tabung ………… 7
Cuping hidung tidak berbentuk tabung ……. 8
7. Panjang lengan bawah lebih dari 45 mm,
Geraham atas terakhir tidak ada atau sangat kecil. Selaput kulit antar pahasebelah dorsal ditumbuhi rambut, warna permukaan atas
oranye cerah ………... Harpiocephalus Panjang lengan bawah kurang dari 45 mm,
Geraham atas terakhir besar, warna
permukaan atas beragam bagian bawah lebih
muda ………... Murina
8. Telinga bentuk corong dengan lipatan besar pada bagian luar, tragus panjang lurus, sempit dan meruncing. Rambut panjang seperti wol sering menutupi sebagian wajah.
62
Warna sayap mencolok kontras dengan warna tubuhnya, Panjang lengan bawah 26 –
49 mm ………. …….. Kerivoula
Telinga tidak berbentuk corong ………. 9
9. Gigi taring beralur sebelah luar, tragus putih dan bertakik, geraham 6 buah dan panjang
lengan bawah 31 – 39 mm ……… Phoniscus
Gigi taring tidak beralur ……… 10
10. Gigi seri atas sepasang ……….. 11
Gigi seri atas 2 pasang ……… 12
11. Panjang lengan bawah lebih dari 45 mm, warna permukaan atas coklat, permulkaan
bawah coklat kekuningan ………... Scotophilus
Panjang lengan bawah < 45 mm (27 – 36 mm) moncong menggelembung karena bantalan penuh kelenjar. Warna rambut dwi warna, punggung coklat kehitaman dengan
63
ujung coklat kemerahan, daerah perut
keputih putihan/ lebih muda ……… Scotorepens
12. Geraham atas 4, gigi seri atas sebelah dalam
(I2) lebih besar dari I3 ………. 13
Geraham atas 5, gigi seri atas sebelah dalam
dan luar hampir sama besar ……… 14
13. Gigi seri atas sebelah dalam (I2) besar,
berukuran hampir setengah taring, gigi seri
sebelah luar (I3) terletak di samping I2 …….. Philetor
Gigi seri atas sebelah dalam (I2) panjang
sempit dan memiliki 2 tonjolan, gigi seri sebelah luar (I3) menjorok kedalam di
belakang I2 ……….. Hersperoptenus
14. Geraham depan atas hanya 2, depan lebih kecil dan terdesak ke dalam, Bentuk telinga bundar dan pendek. Tragus pendek dan tidak meruncing, gigi seri agak kecil, panjang
64
Geraham depan atas 3 kecuali M. ridleyi, geraham tengah biasanya kecil dan terdesak ke dalam, telinga berbentuk segitiga dan relatif panjang, Tragus panjang meruncing dengan ujung membengkok ke depan,
panjang lengan bawah 27 – 49 mm ……….. Myotis
Penulisan dengan huruf tercetak miring tebal merupakan genus terlaporkan ada di Pulau Sulawesi
65 A. Genus Hesperoptenus
Genus ini dikenali melalui bentuk telinganya, bundar dan pendek dengan tragus berbentuk seperti sabit. Di Indonesia hanya ada 1 jenis.
Ciri ciri : warna punggung coklat kehitaman, daerah antara lubang hidung gundul serta permukaan dorsal lengan bawah sayap tidak ditumbuhi rambut. (Suyanto 2001) Rumus gigi : I1I2CP1P3P4M1M2/I2CP1P3P4M1M2M3
30. Hesperoptenus geskelli, Hill 1983 (Bengkalit Sulawesi)
Panjang badan dan kepala : 40 – 75 mm
Panjang ekor : 24 – 53 mm
Panjang lengan bawah : 26 – 60 mm
66 B. Genus Kerivoula
D Indonesia genus Kerivoula ada 10 jenis dengan 2 spesies terdapat di P. Sulawesi.
Ciri ciri : Telinga berbentuk corong dengan lekukan lebar di sebelah luar. Jenis genus Kerivoula dibedakan berdasarkan warna tubuh, ukuran lengan bawah, ekor dan telinga (Suyanto 2001)
Rumus gigi : I2I3CP2P3P4M1M2M3/I1I2I3CP24M P3P 1M2M3
Tabel 8. Morfometrik genus Kerivoula
Spesies FA (mm) Tr (mm) Tb (mm) T (mm)
K. hardwickei 31.7 – 36.7 8.4 – 10.0 16.9 – 19.8 38.6 – 48.0
R. celebensis 38.0 – 49.0 - – 44.9 – 56.0
FA : Panjang lengan bawah, Tr : tragus Tb : Panjang betis, T : Ekor
31. Kerivoula hardwickei, Horsfield, 1824 (Lenawai Hardwick)
Warna rambut atas dan bawah coklat sampai abu abu
67
32. Kerivoula papillosa, Temminck, 1840 (Lenawai Besar)
68 C. Genus Miniopterus
Di dunia terdapat 11 jenis, 9 jenis di Indonesia dan 7 jenis di jumpai di P. Sulawesi.
Ciri ciri : Ukuran ruas tulang terakhir jari ke tiga 3 kali panjang tulang jari pertama, telinga pendek bundar dengan lipatan di bagian belakang. Tragus pendek tumpul melengkung sedikit ke arah depan (Suyanto 2001)
Rumus gigi : I2I3CP3P4M1M2M3/I1I2I3CP2P3P4M1M2M3 P3 separuh tinggi P4
Tabel 9. Morfometrik genus Miniopterus
Spesies FA (mm) E (mm) Tb (mm) T (mm) M. australis 30 – 40 8.5 – 10.5 11.0 – 15.7 37.7 – 44.2 M. macromene 40.5 – 49.5 8.6 16.7 – 20.9 61.0 – 64.0 M. medius 38.0 – 44.5 11.7 – 14.7 20 51.0 – 56.3 M. paululus 34.8 – 38.0 - - - M. pisillus 39.3 – 45.5 - 16.8 – 18.4 43.5 – 52.0 M. schreibersi 42.5 – 51.7 13.6 – 14.4 - 51.2 – 61.2 M. tritis 51.1 – 58.5 13.8 -16.1 23.7 – 26.0 55.3 – 70.0 FA : Panjang lengan bawah, E : telinga, Tb : Panjang betis, T : Ekor
69
33. Miniopterus australis, Tomes 1858 (Tomosu Australi)
Ukuran tubuh paling kecil pada genus Miniopterus
Rambut pada kulit antar paha mencapai garis yang menghubungkan kedua tumit
34. Miniopterus macroneme, Revilliod, 1914 (Tomosu Malanesia kecil)
Panjang tengkorak: 12.6 – 14.1 mm
35. Miniopterus medius, Thomas & Wroughton, 1909 (Tomosu Asteng)
Panjang tengkorak: 13.8 – 14.5 mm
36. Miniopterus paululus, Hollister, 1913
Rambut pada kulit antar paha mencapai tulang ekor ke 3
Panjang tengkorak: 11.8 – 13.4 mm
70
37. Miniopterus pisillus, Dobson, 1876 (Tomosu Kerdil)
Panjang tengkorak: 12.7 – 13.3 mm
38. Miniopterus schreibersi, Kuhl, 1819 (Tomosu Biasa)
Panjang tengkorak: 14.6 – 15.9 mm
39. Miniopterus tristis, Waterhouse, 1845 (Tomosu Besar)
Ukuran tubuh paling besar pada genus Miniopterus
71 D. Genus Murina
Di dunia genus Murina terlaporkan ada 14 spesies, dari 5 spesies di Indonesia 3 spesies sudah secara pasti keberadaaannya. Murina aenea dan M. rozendaali merupakan 2 spesies belum terlaporkan, M. cyclotis, M.
florium dan M. suilla sudah ditemukan keberadaannya di
Indonesia. dan 1 spesies berada di P. Sulawesi.
Ciri ciri : Bentuk hidung seperti tabung dan rambut lebat seperti wol (Suyanto 2001)
Rumus gigi : I2I3CP3P4M1M2M3/I1I2I3CP3P4M1M2M3
40. Murina florium, Thomas 1908 (Ripo Flores)
Warna rambut kemerahan
Panjang lengan bawah : 30.0 – 36.2 mm
Panjang kaki belakang : 7.6 – 9.0 mm
Panjang ekor : 32.9 – 39.0 mm
Panjang telinga: 10.6 – 15.8 mm
Habitat terlaporkan di berbagai jenis hutan tropis lembab (termasuk hutan semak eucalyptus), hutan sklerofil kering dan basah. Ditemukan juga di habitat
72
hutan yang terdegradasi. Beristirahat secara soliter atau kelompok kecil di antara daun kering dan daun lainnya, di gua atau gedung bekas (Bonaccorso 1998; Duncan et al., 1999).
73 E. Genus Myotis
Genus ini di dunia terdapat 342 spesies, di Indonesia 12 spesies dan 5 spesies terdapat di P. Sulawesi, Ciri ciri : tragus relatif lurus, panjang dan langsing, ujungnya tumpul. (Suyanto 2001)
Rumus gigi :
I2I3CP2P3P4M1M2M3/I1I2I3CP2P3P4M1M2M3 Tabel 10. Morfometrik genus Myotis
Spesies FA (mm) Hf (mm) E (mm) M. adversus 37.8 – 41.0 10.3 – 12.1 14.1 – 17.3 M. ater 34.3 – 41.5 8 - 9 37.0 – 41.0 M. formosus 45.0 – 51.0 - - M. horsfieldii 35.0 – 38.0 10.0 – 11.0 37.0 – 39.0 M. muricola 30.1 – 37.0 5.7 – 7.2 35.7 – 43.4
FA : Panjang lengan bawah, Hf : Kaki belakang, E : Telinga
41. Myotis adversus, Horsfield 1824 (Lasiwen kaki Besar Kelabu)
Spesies dataran rendah, berhubungan dengan sungai, danau dan badan air lainnya. Mencari makan di atas air, di mana mereka menangkap serangga, ikan, katak dan mangsa lainnya. Berisitirahat dalam koloni kecil di gua-gua, buatan manusia terowongan bawah tanah dan habitat lainnya. Di Taiwan spesies ini terdapat terutama pada
74
ketinggian rendah sampai menengah dan istirahat di gua-gua dan terowongan (Smith et al. 2008).
Ciri ciri :
Kaki besar dengan selaput kulit sayap melekat pada tumit
Telinga kecil, rambut seperti wol
42. Myotis ater, Peters 1866 (Lasiwen Hitam) Ciri ciri :
Selaput kulit sayap melekat pada pangkal jari kaki
Telinga kecil,
Bulu gelap dengan cokelat keemasan seringkali menempel di tengah perut.
43. Myotis formosus, Hodgson, 1835 (Lasiwen Hodgson) Mampu hidup di dataran rendah, hutan primer pegunungan serta habitat sekunder. Berisitirahat di gua-gua, dedaunan pohon, di antara semak dan di rumah-rumah. Di musim dingin mereka masuk ke gua. Terlaporkan dari permukaan laut sampai ke kaki pegunungan Himalaya (Bates dan Harrison 1997; Smith dan Xie 2008).
Ciri ciri :
75
Telinga sedang
Kaki lebih pendek daripada ½ betis
Panjang tengkorak: 16.3 – 17.8 mm
44. Myotis horsfieldii, Temmick, 1840 (Lasiwen deignan) Di Asia Selatan, spesies ini ditemukan istirahat di hutan dan perkebunan utama dekat
dengan sumber air, di
terowongan, gua, jembatan, daun palem, celah-celah di bangunan tua, retak dan cekungan antara balok kayu (Aul dan Vijaykumar 2003) baik soliter maupun kelompok-kelompok kecil dari beberapa individu (Bates dan Harrison 1997). Di Myanmar spesies telah tercatat di hutan dataran rendah dan daerah pertanian yang berdekatan dengan batu kapur karst, juga telah dikumpulkan dalam sebuah gua batu kapur di hutan terganggu (Bates pers. Comm. 2006). Di Viet Nam (Borissenko dan Kruskop 2003), Thailand (S. Bumrungsri pers. Comm.) Dan Filipina, telah tercatat dekat sungai di hutan dataran rendah, hutan terganggu dan daerah pertanian. Di Filipina, kadang-kadang roosts di gua-gua