[1] “Wikipedia” [Online]. Available : http://en.wikipedia.org/wigi/Arduino.
[2] “Arduino” [Online]. Available :
http://arduino.cc/en/Main/ArduinoBoardUno.
[3] M.G.Simanjuntak, Perancangan Prototipe Smart Building berbasis Arduino
UNO, Medan : Teknik Elektro Universitas Sumatera Utara, 2013.
[4] Gunawan, Hanapi.,Malvino. 1985. “Prinsip –prinsip Elektronik‟. Jakarta :
Erlangga.
[5] Gusrina. 2008. “Budidaya Ikan untuk SMK”. Jakarta : Pusat Perbukuan,
Departemen Pendidikan Nasional.
[6] Ghufran H,M.,K, Kordi. 2010. “Budidaya Ikan Lele di Kolam Terpal".
Jakarta : Andi Publisher.
[7] Murtidjo, BA. 2001. “Beberapa Metode Pembenihan Ikan Air Tawar”.
3.1 Gambaran Umum Sistem
Pada tugas akhir ini penulis akan merancang sebuah prototipe sistem
penghitung benih ikan berbasis Arduino UNO. Banyaknya benih ikan yang
melalui sensor akan dihitung dan ditampilkan datanya di layar komputer. Blok
diagram sistem yang dirancang dapat dilihat pada gambar 3.1 :
Gambar 3.1 Blok Diagram Sistem
Urutan kerja dari perangkat berdasarkan blok diagram diatas dapat
dijelaskan sebagai berikut. Ketika perangkat dihidupkan, sensor inframerah akan
langsung memancarkan sinar yang akan di tangkap oleh penerima, dan akan mulai
menghitung bila ada benda yang melewatinya. Hasil perhitungannya akan di
tampilkan ke layar LCD.
3.2 Perancangan Perangkat Keras
Diagram rangkaian prototipe alat penghitung benih ikan ini dapat dilihat
Gambar 3.2 Rangkaian Skematik Prototipe
Prototipe ini dibuat dengan mempertemukan sensor inframerah dan sensor
penerima dalam sebuah kotak yang telah dibuat khusus agar tidak terdapat
gangguan sinar atau cahaya dari luar yang dapat mengganggu kinerja sensor
penerima dalam menerima sinar inframerah yang dipancarkan. Kotak ini dibuat
agar selang dapat langsung masuk dan mendapat posisi yang pas untuk melakukan
Gambar 3.3 Prototipe Alat Penghitung Benih Ikan Berbasis Arduino
3.3 Perancangan Perangkat Lunak
Perangkat lunak dibuat dengan menggunakan bahasa pemrograman
arduino. Pada sistem kerja dari prototipe alat penghitung ini nilai awal yang akan
ditampilkan oleh LCD adalah nol, penambahan angka baru akan terjadi bila ada
sesuatu atau bahan uji yang lewat diantara sensor inframerah dan sensor penerima.
Sensor ini akan mulai menghitung bila sinar inframerah ditangkap atau di terima
oleh sensor penerima, bila sinar terhalangi dan tidak ada sinar yang di terima
sensor penerima, maka alat tidak menghitung ( tidak terjadi apa – apa ), saat sinar
kembali di terima oleh sensor penerima, maka alat akan menghitung ( terjadi
Gambar 3.4 Flowchart sistem penghitung Mulai
Sensitivitas = 17 SensorValue = 0
Counter = -1 NewVal = 0
Apakah sensor penerima menerima cahaya dari sensor inframerah?
Y
N
Counter + 1
Tampilkan hasil pada
LCD
Adapun program yang dipakai untuk menjalankan prototipe dari alat
penghitung benih ikan ini sebagai berikut :
#include <LiquidCrystal.h>
int val = analogRead(sensorValue);
lcd.setCursor(0,1);
Pemakaian alat dilakukan dengan menyambungkan selang air yang akan
dilewatkan dengan bahan yang akan dihitung ke dalam sebuah kotak kecili yang
sudah disediakan secara khusus. Sensor inframerah dan sensor penerima
diletakkan saling berhadapan di dalam kotak kecil yang telah dibuat khusus. Alat
kemudian disambungkan dengan catu daya berupa powerbank agar menyala,
inframerah dan dioda foto sebagai sensor penerima. Proses penghitungan terjadi
saat sensor penerima menerima sinar inframerah, jadi alat akan menghitung bila
sensor penerima menerima sinar inframerah kembali setelah sebelumnya tertutupi
oleh bahan yang lewat antara kedua sensor.
3.5 Pengertian Sensitivitas dan Prinsip Kerja Sensitivitas
Sensitivitas merupakan nilai yang didapat dari hasil konversi tegangan
keluaran dioda foto yang kita gunakan sebagai pembatas untuk menentukan
apakah bahan yang lewat akan terhitung atau tidak.
Rangkaian pemancar terdiri dari resistor sebagai pembatas arus serta LED
inframerah sebagai piranti yang memancarkan cahaya. Sedangkan rangkaian
penerima terdiri dari resistor sebagai pull-up tegangan dan dioda foto sebagai
piranti yang akan menerima cahaya LED objek. Rangkaian komparator akan
membandingkan tegangan input dari sensor dengan tegangan referensi untuk
menghasilkan logika „0‟ dan „1‟ untuk menentukan apakah akan menghitung
ataupun tidak.
LED akan memancarkan cahaya ke dioda foto dan bahan akan melewati
cahaya tersebut. Intensitas cahaya yang diterima oleh dioda foto akan
mempengaruhi nilai resistansinya. Semakin besar intensitas cahaya yang diterima
oleh dioda foto, maka nilai resistansinya akan semakin kecil dan nilai tegangan
outputnya akan semakin kecil pula. Perbedaan nilai tegangan output dari dioda
4.1 Metode Pengujian
Di dalam bab ini dilakukan pengujian terhadap rancangan prototipe sistem
penghitung benih ikan berbasis arduino. Pengujian – pengujian yang dilakukan
pada rancangan alat ini bertujuan untuk mengetahui kinerja dan proses kerja dari
bagian – bagian yang diuji serta sistem secara keseluruhan dan apakah telah
bekerja sesuai dengan yang diharapkan atau tidak.
Pengujian dilakukan dengan mengisi air pada botol yang kemudian
memasuki selang dengan ketinggian kurang lebih 1,5 meter dari permukaan lantai.
Bagian yang diuji dari percobaan ini adalah sensor inframerah dan sensor
penerima yang akan di lalui oleh selang air, hasil dari pembacaan akan
ditampilkan pada layar LCD yang sudah dipasang pada prototipe.
Untuk mengetahui seberapa besar tingkat ketelitian dari prototipe alat, alat
di ujicoba dengan menggunakan mimis, agar – agar, dan bibit ikan. Pemakaian
alat ini dilakukan dengan menyambungkan selang air yang dilewatkan bibit ikan
ke atas tempat posisi sensor inframerah dan sensor penerima berupa dioda foto
yang ditutup oleh rumah sensor. Ujung selang di sambungkan antara mulut botol
sebagai sumber tempat masuknya bibit ikan, sedangkan ujung lainnya di letakkan
di wadah penampung. Dorongan air diperoleh dari gaya gravitasi yang disebabkan
oleh beda ketinggian antara sumber tempat masuk bibit ikan dan wadah
4.2 Pengujian Pembacaan Sensor Inframerah dan Sensor Penerima
Pengujian sensor inframerah dan sensor penerima dilakukan dengan
sebuah selang yang akan melewati satu kubus ( rumah ) kecil yang sudah di buat
khusus, kemudian air akan dilewatkan melalui selang tersebut beserta dengan
bahan pengujian yang akan dipakai. Pengujian dilakukan dengan menggunakan
dua buah corong berbeda. Gambar corong dapat dilihat pada gambar 4.1(a) dan
gambar 4.1(b)
(a) (b)
Berikut dibawah ini adalah tabel hasil pengujian dari pembacaan sensor
inframerah dan sensor penerima.
Tabel 4.1 Tabel Hasil Pengujian I Mimis dan Agar – Agar dengan Corong A
Tabel 4.2 Tabel Hasil Pengujian II Mimis dan Agar – Agar dengan Corong A N
o
Sensitivitas Bahan (buah) Terhitung (buah) % Error Mimis Agar - agar Mimis Agar - agar Mimis Agar - agar
Tabel 4.3 Tabel Hasil Pengujian I Ikan Gobi dengan Corong A
No Sensitivitas Input (ekor) Output (ekor) % Error
1 20 25 13 48%
2 20 25 10 60%
3 20 25 11 56%
4 20 25 9 64%
5 20 25 11 56%
6 20 50 25 50%
7 20 50 24 52%
8 20 50 24 52%
9 20 50 23 54%
10 20 50 22 56%
Tabel 4.4 Tabel Hasil Pengujian II Ikan Gobi dengan Corong A
No Sensitivitas Input (ekor) Output (ekor) % Error
1 17 25 22 12%
2 17 25 22 12%
3 17 25 23 8%
4 17 25 24 4%
7 17 50 46 8%
8 17 50 44 12%
9 17 50 44 12%
10 17 50 43 14%
Tabel 4.5 Tabel Hasil Pengujian I Mimis dan Agar – Agar dengan Corong B
Tabel 4.6 Tabel Hasil Pengujian II Mimis dan Agar – Agar dengan Corong B N
o
Sensitivitas Bahan (Buah) Terhitung (Buah) % Error Mimis Agar - agar Mimis Agar - agar Mimis Agar - agar
Tabel 4.7 Tabel Hasil Pengujian I Ikan Gobi dengan Corong B
Tabel 4.8 Tabel Hasil Pengujian II Ikan Gobi dengan Corong B
9 17 50 45 10%
10 17 50 44 12%
4.3 Hasil Pengujian
4.3.1 Hasil Pengujian dengan Nilai Sensitivitas 20
Sensitivitas merupakan suatu variabel dari sensor penerima. Sensitivitas
menandakan seberapa besar sinar inframerah yang diterima agar termasuk dalam
kategori “terdapat bahan yang lewat”. Sensitivitas juga menentukan besar dan
kecil dari bahan yang akan dilewatkan, bila niilai sensitvitas semakin kecil, sensor
akan semakin peka, sehingga bahan yang kecil juga dapat dihitung. Namun bila
nilai sensitivitas besar, bahan yang kecil tidak dapat terhitung, alat hanya dapat
menghitung bahan yang besar.
Dari hasil pengujian dengan menggunakan nilai sensitivitas 20 dapat
dilihat bahwa percobaan dengan bahan mimis cukup akurat dergan nilai error
tertinggi hanya 0,66%, hal ini dikarenakan mimis memiliki tekstur yang padat dan
solid. Pada percobaan dengan bahan agar – agar hasil yang didapat kurang akurat
dengan error tertinggi mencapai 40%, hal ini dikarenakan nilai sensitivitas 20
masih kurang sensitif untuk menghitung agar – agar yang memiliki tekstur kurang
padat sehingga sensor tidak dapat melakukan penghitungan dengan baik. Pada
percobaan dengan bahan benih ikan hasil yang didapat tidak akurat dengan nilai
error tertinggi mencapai 68%, hal ini dikarenakan saat percobaan, terdapat benih
ikan yang tertinggal atau melompat keluar dari corong, nilai sensitivitas 20 masih
kurang sensitif untuk menghitung benih ikan yang memiliki tekstur kurang padat
Dari hasil percobaan yang telah dilakukan, nilai sensitivitas 20 dapat
menghitung bahan mimis dengan baik dan akurat, sedangkan untuk bahan agar –
agar dan benih ikan, nilai sensitivitas 20 tidak dapat menghitung dengan baik dan
tidak akurat.
4.3.2 Hasil Pengujian dengan Nilai Sensitivitas 17
. Dari hasil pengujian dengan menggunakan nilai sensitivitas 17 dapat
dilihat bahwa percobaan dengan bahan mimis sudah akurat dergan tidak adanya
nilai error yang dihasilkan, hal ini dikarenakan mimis memiliki tekstur yang padat
dan solid. Pada percobaan dengan bahan agar – agar hasil yang didapat cukup
akurat dengan error tertinggi 0,66%, hal ini menunjukkan bahwa nilai sensitivitas
17 sudah cukup sensitif untuk dapat menghitung agar – agar dengan baik. Pada
percobaan dengan bahan benih ikan hasil yang didapat lebih akurat dengan nilai
error tertinggi 14%, hal ini dikarenakan saat percobaan, terdapat benih ikan yang
tertinggal atau melompat keluar dari corong, nilai sensitivitas 17 sudah cukup
sensitif untuk menghitung benih ikan, untuk mendapatkan hasil yang lebih baik
dapat menggunakan nilai sensitivitas 16 namun harus berhati – hati karena dengan
nilai sensitivitas 16, alat menjadi lebih sensitif dan dapat mendeteksi bercak air
yang tersisa pada selang yang menyebabkan perhitungan menjadi tidak akurat.
Dari hasil percobaan yang telah dilakukan, nilai sensitivitas 17 dapat
menghitung bahan mimis dan agar – agar dengan baik dan akurat, Sedangkan
17 sudah dapat menghitung dengan baik dan lebih akurat. Semakin kecil nilai
sensitvitas maka alat juga akan menjadi semakin sensitif.
4.3.3 Hasil Pengujian dengan 2 Corong Berbeda
Dari hasil pengujian yang telah dilakukan, tidak terlihat adanya perbedaan
penghitungan dengan bahan mimis dan agar – agar. Pada percobaan dengan bahan
benih ikan terdapat sedikit perbedaan, dengan corong tipe A benih ikan cenderung
tertinggal atau tersisa dalam corong dan benih ikan yang melewati selang lebih
padat, sedangkan dengan corong tipe B benih ikan lebih jarang tertinggal atau
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan pada bab – bab sebelumnya maka dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut :
No Bahan Uji Ukuran (mm) Akurasi pada nilai sensitivitas ( perubahan / detik )
20 ( 1 perubahan per detik) 17 ( 3 perubahan per detik)
1 Mimis d = 3 100% 100%
2 Agar – Agar p x l x t = 4 x 4 x 5 74% 100%
3 Ikan Gobi 0,75 x agar - agar 60% 96%
5.2 Saran
Untuk meningkatkan kinerja dari prototipe sistem penghitung benih ikan
berbasis arduino ini dapat dilakukan beberapa hal berikut antara lain :
1. Dapat memakai peralatan atau komponen yang lebih baik seperti sensor
inframerah, sensor penerima dan hal lainnya agar dapat meningkatkan
kinerja dari alat penghitung
2. Ukuran tempat untuk alat dapat diperkecil agar lebih efisien mudah
dibawa kemana – mana ( portable )
3. Tempat masukan selang dapat diubah menjadi lebih fleksibel seperti
bentuk pintu geser sehingga dapat memungkinkan selang dengan beberapa
2.1 Karakteristik Ikan
Karakteristik ikan yang dapat dihitung ialah ikan yang dapat hidup di
berbagai lingkungan air tawar, misalnya ikan lele. Ikan lele hidup di air tawar,
tahan penyakit, dan memakan semuanya. Lele memiliki tubuh memanjang dan
kulit yang licin. Ikan lele lebih aktif bergerak di malam hari untuk mencari
makan, sedangkan pada siang hari, ikan lele akan berdiam diri dan berlindung di
tempat gelap. Benih ikan lele mempunyai sifat melawan arus air. Benih ini
memiliki panjang 7 cm dan lebar 3 mm, bagian kepala dari benih ikan lele ini
berwarna hitam dan bagian ekor transparan.
2.2 Arduino
Arduino meupakan platform prototipe elektronik yang bersifat
open-source, dimana perangkat keras dan perangkat lunaknya fleksibel dan bebas untuk
dimodifikasi. Arduino ditujukan bagi para seniman, desainer, dan siapapun yang
tertarik dalam menciptakan objek atau lingkungan yang interaktif.
Arduino pada awalnya dikembangkan di Ivrea, Italia. Nama Arduino
adalah sebuah nama maskulin yang berarti teman yang kuat. Platform arduino
terdiri dari arduino board, shield, bahasa pemrograman arduino, dan arduino
development environment. Arduino board biasanya memiliki sebuah chip dasar
mikrokontroler Atmel AVR ATmega8 berikut turunannya. Blok diagram arduino
sebuah papan yang dapat dipasang diatas arduino board untuk menambah
kemampuan dari arduino board.
Bahasa pemrograman arduino adalah bahasa pemrograman yang umum
digunakan untuk membuat perangkat lunak yang ditanamkan pada arduino board.
Bahasa pemrograman arduino mirip dengan bahasa pemrograman C++.
Arduino Development Environment adalah perangkat lunak yang
digunakan untuk menulis dan mengkompilasi program untuk arduino. Arduino
Development Environment juga digunakan untuk mengunggah program yang
sudah dikompilasi memori program arduino board.
2.2.1 Arduino UNO
Arduino UNO adalah arduino board yang menggunakan mikrokontroler
ATmega328. Arduino UNO memiliki 14 pin digital (6 pin dapat digunakan
sebagai output PWM), 6 input analog, sebuah 16 MHz osilator kristal, sebuah
koneksi USB, sebuah konektor sumber tegangan, sebuah header ICSP, dan
sebuah tombol reset.
Arduino UNO memuat segala hal yang dibutuhkan untuk mendukung
sebuah mikrokontroler. Hanya dengan menghubungkannya ke sebuah komputer
melalui USB atau memberikan tegangan DC dari baterai atau adaptor AC ke DC
sudah dapat membuanya bekerja. Arduino UNO menggunakan ATmega16U2
yang diprogram sebagai USB-to-serial converter untuk komunikasi serial ke
Gambar 2.1 Arduino UNO
Adapun data teknis board Arduino UNO R3 adalah sebagai berikut:
Mikrokontroller : Atmega 328 Tegangan Operasi : 5V
Tegangan Input (rekomendasi) : 7 – 12 V
Tegangan Input (batas) : 6 – 20 V
Pin digital I/O : 14 (6 diantaranya pin PWM) Pin Analog input : 6
Arus DC per pin I/O : 40 mA
Arus DC untuk pin 3.3 V : 150 mA
Flash Memory : 32 KB dengan 0.5 KB digunakan untuk
bootloader
SRAM : 2 KB
EEPROM : 1 KB
2.2.2 Pin Masukan dan Keluaran Arduino
Masing-masing dari 14 pin digital arduino UNO dapat digunakan sebagai
masukan atau keluaran menggunakan fungsi pinMode(), digitalWrite() dan
digitalRead(). Setiap pin beroperasi pada tegangan 5 volt. Setiap pin mampu
menerima atau menghasilkan arus maksimum sebasar 40 mA dan memiliki
resistor pull-up internal (diputus secara default) sebesar 20-30 KOhm. Sebagai
tambahan, beberapa pin masukan digital memiliki kegunaan khusus yaitu :
Komunikasi serial: pin 0 (RX) dan pin 1 (TX), digunakan untuk
menerima(RX) dan mengirim(TX) data secara serial.
Interupsi Eksternal: pin 2 dan pin 3, pin ini dapat dikonfigurasi untuk
memicu sebuah interupsi pada nilai rendah, sisi naik atau turun, atau pada
saat terjadi perubahan nilai.
Pulse-width modulation (PWM): pin 3,5,6,9,10 dan 11, menyediakan
keluaran PWM 8-bit dangan menggunakan fungsi analogWrite().
Serial Peripheral Interface (SPI): pin 10 (SS), 11 (MOSI), 12 (MISO) dan
13 (SCK), pin ini mendukung komunikasi SPI dengan menggunakan SPI
library.
LED: pin 13, terdapat built-in LED yang terhubung ke pin digital 13.
Ketika pin bernilai HIGH maka LED menyala, sebaliknya ketika pin
bernilai LOW maka LED akan padam.
Arduino UNO memiliki 6 masukan analog yang diberi label A0 sampai A5,
AREF dan fungsi analogReference(). Sebagai tambahan beberapa pin masukan
analog memiliki fungsi khusus yaitu pin A4 (SDA) dan pin A5 (SCL) yang
digunakan untuk komunikasi Two Wire Interface (TWI) atau Inter Integrated
Circuit (I2C) dengan menggunakan Wire library.
2.2.3 Sumber Catu Daya dan pin Tegangan Arduino UNO
Arduino UNO dapat diberi daya melalui koneksi USB (Universal Serial
Bus) atau melalui catu daya eksternal. Jika Arduino UNO dihubungkan ke kedua
sumber daya tersebut secara bersamaan maka arduino UNO akan memilih salah
satu sumber daya secara otomatis untuk digunakan. Power supply external (yang
bukan melalui USB) dapat berasal dari adaptor AC ke DC atau baterai. Adaptor
dapat dihubungkan ke soket power pada arduino UNO. Jika menggunakan baterai,
ujung kabel yang dibubungkan ke baterai dimasukkan kedalam pin GND dan Vin
yang berada pada konektor POWER.
Arduino UNO dapat beroperasi pada tegangan 6 sampai 20 volt. Jika
arduino UNO diberi tegangan di bawah 7 volt, maka pin 5V akan menyediakan
tegangan di bawah 5 volt dan arduino UNO mungkin bekerja tidak stabil. Jika
diberikan tegangan melebihi 12 volt, penstabil tegangan kemungkinan akan
menjadi terlalu panas dan merusak arduino UNO. Tegangan rekomendasi yang
diberikan ke arduino UNO berkisar antara 7 sampai 12 volt.
Pin-pin tegangan pada arduino UNO adalah sebagai berikut:
Vin adalah pin untuk mengalirkan sumber tegangan ke Arduino UNO
ketika menggunakan sumber daya eksternal (selain dari koneksi USB atau
disediakan melalui pin ini jika sumber daya yang digunakan untuk
Arduino UNO dialirkan melalui soket power.
5V adalah pin yang menyediakan tegangan teregulasi sebesar 5 volt
berasal dari regulator tegangan pada arduino UNO.
3V3 adalah pin yang meyediakan tegangan teregulasi sebesar 3,3 volt
berasal dari regulator tegangan pada arduino UNO.
GND adalah pin ground.
2.2.4 Peta Memori Arduino UNO
Arduino UNO adalah arduino board yang menggunakan mikrokontroler
ATmega328. Maka peta memori arduino UNO sama dengan peta memori pada
mikrokontroler ATmega328.
2.2.4.1 Memori Data
Memori data ATMega328 terbagi menjadi 4 bagian, yaitu 32 lokasi
untuk register umum, 64 lokasi untuk register I/O, 160 lokasi untuk register I/O
tambahan dan sisanya 2048 lokasi untuk data SRAM internal. Register umum
menempati alamat data terbawah, yaitu 0x0000 sampai 0x001F. Register I/O
menempati 64 alamat berikutnya mulai dari 0x0020 hingga 0x005F. Register I/O
tambahan menempati 160 alamat berikutnya mulai dari 0x0060 hingga 0x00FF.
Sisa alamat berikutnya mulai dari 0x0100 hingga 0x08FF digunakan
Gambar 2.2 Memori Data
2.2.4.2 Memori Program
ATMega328 memiliki 32K byte On-chip In-System Reprogrammable
Flash Memory untuk menyimpan program. Memori flash dibagi kedalam dua
bagian, yaitu bagian program bootloader dan aplikasi seperti terlihat pada Gambar
2.3. Bootloader adalah program kecil yang bekerja pada saat sistem dimulai yang
Gambar 2.3 Peta Memori program
2.3 LED Inframerah
LED inframerah merupakan salah satu jenis LED (Light Emiting Diode)
yang dapat memancarkan cahaya inframerah yang tidak kasat mata. LED infra
merah dpat memacarkan cahaya inframerah pada saat dioda LED ini diberikan
tegangan bias maju pada anoda dan katodanya.
Secara teoritis LED inframerah mempuyai panjang gelombang 7800 Å dan
mempuyai daerah frekuensi 3.104 sampai 4.104 Hz. Dilihat dari jangkah
arus yang mengalir maka semakin besar daya pancarnya dan semakin jauh
jaraknya.
Cahaya infra-merah tidak mudah terkontaminasi atau teresonan dengan
cahaya lain, sehingga dapat digunakan baik siang maupun malam. Aplikasi dari
LED infra merah ini dapat digunakan sebagai transmitter remote control maupun
sebagai line detektor pada pintu gerbang. Sebagai receiver cahaya infra merah
dapat digunakan dioda foto.
2.4 Dioda Foto
Dioda foto adalah jenis dioda yang berfungsi mendeteksi cahaya. Berbeda
dengan dioda biasa, komponen elektronika ini akan mengubah cahaya menjadi
arus listrik. Cahaya yang dapat dideteksi oleh diode foto ini mulai dari cahaya
Dioda foto digunakan sebagai komponen pendeteksi ada tidaknya cahaya
maupun dapat digunakan untuk membentuk sebuah alat ukur akurat yang dapat
mendeteksi intensitas cahaya dibawah 1pW/cm2 sampai intensitas diatas
bias, kita dapat memanfaatkan dioda foto ini pada kondisi reverse bias dimana
resistansi dari dioda foto akan turun seiring dengan intensitas cahaya yang masuk.
Komponen ini mempunyai sensitivitas yang lebih baik jika dibandingkan dengan
dioda peka cahaya.
Jika dioda foto tidak terkena cahaya, maka tidak ada arus yang mengalir
ke rangkaian pembanding, jika dioda foto terkena cahaya maka dioda foto akan
bersifat sebagai tegangan, sehingga Vcc dan dioda foto tersusun seri, akibatnya
terdapat arus yang mengalir ke rangkaian pembanding.
2.5 LCD 2x16
Liquid Crystal Display (LCD) adalah suatu jenis media tampilan yang
menggunakan kristal cair sebagai penampil utama. Berikut merupakan gambar
dari LCD 2x16.
Gambar 2.4 LCD 2x16
LCD sudah digunakan di berbagai bidang, misalnya dalam alat – alat
1.1 Latar Belakang Masalah
Pembenihan ikan merupakan suatu usaha yang dapat dilakukan untuk
membantu membudidayakan ikan untuk setiap musim tanam. Dalam usaha
budidaya ini, pembenihan memegang peran yang sangat penting. Namun
keberhasilan dalam usaha pembenihan ikan bukan hanya ditentukan oleh
kemampuan daya dukung lingkungan, tetapi juga oleh pengelola.
Kendala terbesar dalam usaha pembenihan ikan terdapat pada proses
penghitungan jumlah ikan yang sekarang ini masih dilakukan secara manual.
Perhitungan secara manual tentu saja memerlukan banyak tenaga dan waktu
bahkan dapat menyebabkan ketidaktelitian pada hasil perhitungannya.
Permasalahan dalam perhitungan benih ikan harus segera diatasi agar mendukung
keberhasilan usaha perikanan ini sebagai bagian dari program pemerintah di
bidang maritim.
Diperlukan satu sistem perhitungan yang lebih cepat dan akurat agar dapat
menghemat waktu perhitungan. Pada penelitian ini akan dibahas tentang
perancangan sistem untuk penghitungan benih ikan berbasis arduino.
1.2 Perumusan Masalah
Merancang sebuah sistem untuk menghitung jumlah benih ikan yang
melewati suatu sensor dan hasilnya akan di tampilkan pada layar LCD secara
1.3 Tujuan Penulisan Tugas Akhir
Tujuan tugas akhir ini adalah untuk memberikan solusi atas permasalahan
perhitungan benih bibit ikan yang dapat digunakan oleh masyarakat di tempat
pembibitan.
1.4 Batasan Masalah
Agar isi dan pembahasan tugas akhir ini menjadi terarah, maka penulis
perlu membuat batasan masalah yang akan dibahas. Adapun batasan masalah pada
penulisan tugas akhir ini adalah sebagai berikut :
1. Hanya membahas tentang perhitungan benih ikan dengan lebar
tertentu yaitu benih ikan dengan lebar sekira 3 mm.
2. Tidak membahas tentang kecepatan air yang digunakan.
3. Pembahasan mengenai arduino hanya difokuskan pada area
koding.
4. Sensor yang digunakan adalah sensor inframerah.
5. Data ditampilkan menggunakan bantuan perangkat keras berupa
layar LCD ukuran 2x16.
1.5 Metode Penelitian
Dalam penulisan penelitian ini digunakan beberapa metode untuk
-1. Studi literatur dan bimbingan
Dengan membaca teori-teori yang berkaitan dengan perhitungan benih
bibit ikan dengan arduino yang terdiri dari buku-buku referensi baik yang
dimilki oleh penulis atau dari perpustakaan dan juga dari artikel-artikel,
jurnal, layanan internet, dan lain - lain.
2. Perancangan Sistem
Merancang sistem sesuai dengan kaidah perancangan sistem baik untuk
perangkat keras maupun perangkat lunak
3. Ujicoba dengan Pemodelan
Melakukan ujicoba sistem yang telah dirancang dengan menghitung
banyaknya benih ikan menggunakan model yang dikembangkan.
4. Pengujian Lapangan dan Analisa Data
Melakukan pengujian prototype sistem di Balai Benih Dinas Pertanian
Provinsi Sumatera Utara.
1.6 Sistematika Penulisan
Untuk memberikan gambaran mengenai tugas akhir ini secara singkat, maka
penulis menyusun sistematika penulisan sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini menguraikan tentang latar belakang masalah,
rumusan masalah, tujuan penulisan, batasan masalah,
BAB II TEORI DASAR
Bab ini membahas tentang spesifikasi sistem, teori dasar
setiap komponen, dan perangkat yang digunakan.
BAB III PERANCANGAN SISTEM
Bab ini berisi penjelasan tentang sistem secara umum.
BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA
Bab ini berisi tentang hasil sistem yang telah dirancang dan
telah di ujicoba .
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini berisi kesimpulan dan saran dari hasil
Seperti yang telah kita ketahui, pembenihan ikan merupakan usaha yang
dapat dilakukan untuk membantu membudidayakan ikan, pembenihan dan
penjualan benih ikan juga merupakan sektor ekonomi yang menjanjikan, namun
proses penghitungan ikan masih dilakukan secara manual sehingga penghitungan
membutuhkan waktu yang lama dan kurang efisien. Penelitian ini bertujuan untuk
membuat prototipe alat penghitung benih ikan berbasis arduino yang dapat
melakukan penghitungan lebih cepat.
Alat ini dibuat dengan menggunakan sensor inframerah dan sensor
penerima berupa dioda foto, arduino UNO dan LCD 2x16 sebagai tampilan dari
hasil penghitungan. Sensor inframerah dan sensor penerima dipasangkan
berhadapan satu sama lain pada sebuah selang. Ketika ada yang melewati selang,
maka sensor penerima tidak akan menerima sinar , disanalah proses penghitungan
terjadi dan hasilnya akan ditampilkan pada layar LCD. Pengujian dilakukan
dengan mimis, agar – agar, dan ikan gobi. Hasil perhitungan yang di dapat dari
percobaan yaitu mimis 100%, agar – agar 100% dan ikan gobi 96%. .
Penyempurnaan hardware, pemanfaatan ruang dan penggunaan komponen yang
lebih baik dapat meningkatkan kinerja prototipe alat .
PERANCANGAN SISTEM PENGHITUNG BENIH IKAN BERBASIS ARDUINO
Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam menyelesaikan
Pendidikan Sarjana (S-1) pada Departemen Teknik Elektro
Oleh
Jefry Yutanto NIM : 100402032
DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK
Seperti yang telah kita ketahui, pembenihan ikan merupakan usaha yang
dapat dilakukan untuk membantu membudidayakan ikan, pembenihan dan
penjualan benih ikan juga merupakan sektor ekonomi yang menjanjikan, namun
proses penghitungan ikan masih dilakukan secara manual sehingga penghitungan
membutuhkan waktu yang lama dan kurang efisien. Penelitian ini bertujuan untuk
membuat prototipe alat penghitung benih ikan berbasis arduino yang dapat
melakukan penghitungan lebih cepat.
Alat ini dibuat dengan menggunakan sensor inframerah dan sensor
penerima berupa dioda foto, arduino UNO dan LCD 2x16 sebagai tampilan dari
hasil penghitungan. Sensor inframerah dan sensor penerima dipasangkan
berhadapan satu sama lain pada sebuah selang. Ketika ada yang melewati selang,
maka sensor penerima tidak akan menerima sinar , disanalah proses penghitungan
terjadi dan hasilnya akan ditampilkan pada layar LCD. Pengujian dilakukan
dengan mimis, agar – agar, dan ikan gobi. Hasil perhitungan yang di dapat dari
percobaan yaitu mimis 100%, agar – agar 100% dan ikan gobi 96%. .
Penyempurnaan hardware, pemanfaatan ruang dan penggunaan komponen yang
lebih baik dapat meningkatkan kinerja prototipe alat .
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur penulis haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang
telah memberikan kemampuan dan kesehatan dalam menyelesaikan Tugas Akhir
ini.
Tugas Akhir ini merupakan bagian dari kurikulum yang harus diselesaikan
untuk memenuhi persyaratan menyelesaikan pendidikan Sarjana Strata Satu di
Departemen Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara.
Adapun judul Tugas Akhir ini adalah :
“PERANCANGAN SISTEM PENGHITUNG BENIH IKAN BERBASIS
ARDUINO”
Tugas Akhir ini penulis persembahkan kepada yang teristimewa yaitu
ayahanda Ir. Tanidi Yutanto dan ibunda Sri Mulyani Saripin yang senantiasa
memberikan perhatian dan kasih sayang sejak penulis lahir hingga sekarang, serta
kakak tercinta Airin Yutanto yang senantiasa mendukung dan memberi semangat
untuk menyelesaikan Tugas Akhir ini.
Selama penulis menjalani pendidikan di kampus hingga diselesaikannya
Tugas Akhir ini, penulis banyak menerima bantuan, bimbingan, dan dukungan
dari berbagai pihak. Untuk itu dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan
terima kasih kepada :
1. Bapak Emerson P.Sinulingga, ST. M.Sc,Ph.D selaku dosen Pembimbing I
2. Bapak Fahmi, ST. M.Sc,Ph.D selaku dosen Pembimbing II Tugas Akhir,
atas nasehat, bimbingan dan motivasi dalam menyelesaikan Tugas Akhir
ini.
3. Bapak Ir. Surya Tarmizi Kasim, M.Si. selaku Penasehat Akademis penulis,
atas bimbingan dan arahannya dalam melayani perkuliahan selama ini.
4. Bapak Ir. Surya Tarmizi Kasim, M.Si. dan Bapak Rahmad Fauzi, S.T, M.T
selaku Ketua dan Sekretaris Departemen Teknik Elektro Fakultas Teknik
Universitas Sumatera Utara.
5. Bapak Soeharwinto, S.T, M.T dan Bapak Ir. Kasmir Tanjung selaku dosen
penguji Tugas Akhir, atas masukan dan bantuannya dalam penyempurnaan
Tugas Akhir ini.
6. Seluruh staf pengajar yang telah memberi bekal ilmu kepada penulis dan
seluruh pegawai Departemen Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas
Sumatera Utara atas segala bantuannya.
7. Teman – teman di Teknik Elektro FT-USU, terkhusus angkatan 2010 atas
dukungan, do‟a, suka dan duka selama di bangku perkuliahan.
8. Abang-abang senior stambuk 2009 yang selalu membantu, mendukung
dan memberi masukan selama menjalani perkuliahan.
9. Keluarga Besar Laboratorium Sistem Pengaturan dan Komputer DTE FT
USU.
10. Keluarga Besar J-Corporation yang telah memberikan banyak sekali
dukungan dan pembelajaran.
11. Keluarga Besar Octave yang telah memberikan banyak sekali dukungan
12. Keluarga Besar Elec-Kid yang telah memberikan banyak sekali dukungan
dan pembelajaran.
13. Semua pihak yang tidak sempat penulis sebutkan satu per satu.
Penulis menyadari bahwa Tugas Akhir ini masih banyak kekurangan baik
dari segi materi maupun penyajiannya. Oleh karena itu saran dan kritik dengan
tujuan menyempurnakan dan mengembangkan kajian dalam bidang ini sangat
penulis harapkan.
Akhir kata penulis berserah diri pada Tuhan Yang Maha Esa, semoga
Tugas Akhir ini bermanfaat bagi pembaca sekalian terutama bagi penulis sendiri.
Medan, Maret 2016
Penulis
Jefry Yutanto
2.4 Dioda Foto ... 13
2.5 LCD 2x16 ... 14
BAB III PERANCANGAN SISTEM ... 15
3.1 Gambaran Umum Sistem ... 15
3.2 Perancangan Perangkat Keras ... 15
3.3 Perancangan Perangkat Lunak ... 17
3.4 Prinsip Kerja Alat ... 20
3.5 Pengertian Sensitivitas dan Prinsip Kerja Sensitivitas ... 21
BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA ... 22
4.1 Metode Pengujian ... 22
4.2 Pengujian Pembacaan Sensor Inframerah dan Sensor Penerima .... 23
4.3 Hasil Pengujian ... 28
4.3.1 Hasil Pengujian dengan Nilai Sensitivitas 20 ... 28
4.3.2 Hasil Pengujian dengan Nilai Sensitivitas 17 ... 29
4.3.3 Hasil Pengujian dengan 2 Corong Berbeda ... 30
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 31
5.1 Kesimpulan ... 31
5.2 Saran ... 31
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Arduino UNO ... 7
Gambar 2.2 Memori Data ... 11
Gambar 2.3 Peta Memori Program ... 12
Gambar 2.4 LCD 2x16 ... 14
Gambar 3.1 Blok Diagram Sistem ... 15
Gambar 3.2 Rangkaian Skematik Prototipe ... 16
Gambar 3.3 Prototipe Alat Penghitung Benih Ikan Berbasis Arduino ... 17
Gambar 3.4 Flowchart Sistem Penghitung... 18
Gambar 4.1(a) Corong Tipe A ... 23
Tabel 4.1 Tabel Hasil Pengujian I Mimis dan Agar – Agar dengan Corong A ... 24
Tabel 4.2 Tabel Hasil Pengujian II Mimis dan Agar – Agar dengan Corong A ... 24
Tabel 4.3 Tabel Hasil Pengujian I Benih Ikan dengan Corong A ... 25
Tabel 4.4 Tabel Hasil Pengujian II Benih Ikan dengan Corong A ... 25
Tabel 4.5 Tabel Hasil Pengujian I Mimis dan Agar – Agar dengan Corong B ... 26
Tabel 4.6 Tabel Hasil Pengujian II Mimis dan Agar – Agar dengan Corong B ... 26
Tabel 4.7 Tabel Hasil Pengujian I Benih Ikan dengan Corong B ... 27