PERSEPSI PASIEN TENTANG PERILAKU
CARING
PERAWAT DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA
LANGSA
SKRIPSI
Oleh
Desi Darmawati 111121096
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
PRAKATA
Syukur alhamdulillah peneliti sampaikan kehadirat Allah S.W.T karena berkat rahmat dan hidayah-Nya serta sholawat dan salam tak lupa pula dihadiahkan kejunjungan Nabi besar Muhammmad SAW atas terselesaikannya skripsi ini yang disusun sebagai salah satu syarat bagi penulis untuk menyelesaikan pendidikan dan mencapai gelar sarjana di Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara Medan. Adapun judul skripsi ini adalah “Persepsi Pasien Tentang Perilaku Caring Perawat di Rumah Sakit Umum Daerah
Kota Langsa”.
Didalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini peneliti banyak mendapat bantuan, bimbingan, keterangan dan data-data baik secara tulis maupun secara lisan. Maka pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada :
1. dr. Dedi Ardinata, M. Kes selaku Dekan Fakultas Keperawatan USU, Ibu Erniyati, S.Kp, MNS selaku Pembantu Dekan I, Ibu Evi Karota Bukit, S.Kp, MNS selaku Pembantu Dekan II, Bapak Ikhsanuddin Ahmad Harahap, S.Kp, MNS selaku Pembantu Dekan III.
2. Bapak Setiawan, S.Kp., MNS., PhD selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, pengarahan, dan motivasi dalam menyelesaikan skripsi penelitian ini.
4. Teristimewanya bagi keluargaku yang kucintai, Ayahanda dan Ibunda atas do’a, motivasi, dukungan moril dan materil serta kasih sayangnya kepada penulis, serta abangku tersayang Marta Dinata dan M. Amri serta adik-adikku tersayang yang selalu memberikan dukungan dan do’a kepada penulis.
5. Sahabat-sahabat terbaikku, Nikmah, Lola Susanti, Junita Nurmala Sari, Beby Hermanti, Mastura kakanda Alfian Sani yang telah memberikan semangat dan dukungan, juga untuk teman-teman satu bimbingan skripsi yang telah sama-sama berjuang dalam penyelesaian skripsi serta teman-teman seperjuanganku angkatan 2011 yang telah memberikan motivasi, semangat, dan memberikan dukungan.
6. Seluruh Dosen & Staf administrasi di Fakultas Keperawatan USU yang telah menyumbangkan ilmu dan memberikan bantuan dalam kelancaran selama proses penelitian.
7. Direktur RSUD Kota Langsa yang telah memberikan izin Penelitian kepada peneliti untuk melakukan penelitian ini.
8. Ibu Liberta Lumbantoruan, S.Kp, M.Kep selaku pembimbing uji validitas kuisioner yang telah memberikan bimbingan dan masukan bagi penulis. 9. Direktur RSUD Karang Baru yang telah memberikan izin untuk uji
instrumen penelitian.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi yang disusun ini masih jauh dari kesempurnaan baik isi maupun penyusunannya, untuk itu dengan segala kerendahan hati penulis sangat mengharapkan saran-saran dan kritik yang bersifat membangun dari semua pihak demi kesempurnaan skripsi ini dan semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi peningkatan dan pengembangan profesi keperawatan selanjutnya.
Medan, Februari 2013 Penulis,
Desi Darmawati
DAFTAR ISI
2.2 Aplikasi Prilaku Caring dalam Praktek Keperawatan………. 14
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN……… 27
5.1 Hasil Penelitian……….. 27
5.1.1 Karakteristik Responden……… 27
5.1.2 Persepsi pasien tentang sepuluh faktor caratif Di Ruang Rawat Inap RSUDKotaLangsa… ……… 29
5.2 Pembahasan……… 32
BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI……… 38
6.1 Kesimpulan……… 38
6.2 Rekomendasi………. 38
6.2.1 Bagi institusi pelayanan kesehatan……… 38
6.2.2 Bagi pendidikan keperawatan………... 39
6.2.3 Bagi praktek keperawatan………. 39
6.2.4 Bagi penelitian keperawatan……….. 39
DAFTAR PUSTAKA
Lampiran-Lampiran
1. Inform consent 2. Instrumen Penelitian 3. Jadwal Tentative Penelitian 4. Taksasi Dana
DAFTAR TABEL
Tabel 5.1. Distribusi Frekuensi dan Presentase Karakteristik Responden di Ruang Rawat Inap RSUD Kota Langsa……… 28
Tabel 5.2. Distribusi Frekuensi dan Persentase pasien tentang faktor-faktor caratif caring Perawat di RSUD Kota Langsa ……… 30
Judul : Persepsi Pasien Tentang Perilaku Caring Perawat di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Langsa
Nama Mahasiswa : Desi Darmawati
Nim : 111121096
Jurusan : Sarjana Keperawatan (S.Kep) Tahun : 2013
Abstrak
Perilaku caring merupakan suatu sikap, rasa peduli, hormat dan menghargai orang lain, artinya memberikan perhatian yang lebih kepada seseorang dan bagaimana seseorang itu bertindak karena perilaku caring merupakan perpaduan perilaku manusia yang berguna dalam peningkatan derajat kesehatan dalam membantu pasien yang sakit. Perilaku caring sangat penting untuk mengembangkan, memperbaiki dan meningkatkan kondisi atau cara hidup manusia.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi Persepsi pasien tentang perilaku caring perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien yang di rawat di Ruang Rawat Inap RSUD Kota Langsa. Desain penelitian yang digunakan bersifat deskriptif. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Pengambilan data dimulai sejak tanggal 1 November sampai tanggal 30 November 2012. Instrumen yang digunakan yaitu kuesioner data demografi dan kuesioner perilaku caring perawat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas (80%) menyatakan bahwa perawat di ruang rawat inap sudah menunjukkan perilaku caring dalam melakukan asuhan keperawatan pada klien dan (20%) menyatakan bahwa perilaku perawat tidak caring. Berdasarkan 10 faktor caratif, faktor no. 5 metode pemecahan masalah merupakan faktor yang paling menonjol dilakukan oleh perawat (83,6%). Sedangkan faktor no. 6 merupakan faktor caring yang mempunyai nilai skor paling rendah (74,5%).
Berdasarkan hasil diatas penelitian ini merekomendasikan agar Rumah Sakit Langsa dapat menerapkan program model pengembangan perilaku caring perawat sebagai kinerja perawat dapat meningkat lebih jauh sehingga dapat meningkatkan citra Rumah Sakit Langsa secara keseluruhan.
Judul : Persepsi Pasien Tentang Perilaku Caring Perawat di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Langsa
Nama Mahasiswa : Desi Darmawati
Nim : 111121096
Jurusan : Sarjana Keperawatan (S.Kep) Tahun : 2013
Abstrak
Perilaku caring merupakan suatu sikap, rasa peduli, hormat dan menghargai orang lain, artinya memberikan perhatian yang lebih kepada seseorang dan bagaimana seseorang itu bertindak karena perilaku caring merupakan perpaduan perilaku manusia yang berguna dalam peningkatan derajat kesehatan dalam membantu pasien yang sakit. Perilaku caring sangat penting untuk mengembangkan, memperbaiki dan meningkatkan kondisi atau cara hidup manusia.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi Persepsi pasien tentang perilaku caring perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien yang di rawat di Ruang Rawat Inap RSUD Kota Langsa. Desain penelitian yang digunakan bersifat deskriptif. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Pengambilan data dimulai sejak tanggal 1 November sampai tanggal 30 November 2012. Instrumen yang digunakan yaitu kuesioner data demografi dan kuesioner perilaku caring perawat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas (80%) menyatakan bahwa perawat di ruang rawat inap sudah menunjukkan perilaku caring dalam melakukan asuhan keperawatan pada klien dan (20%) menyatakan bahwa perilaku perawat tidak caring. Berdasarkan 10 faktor caratif, faktor no. 5 metode pemecahan masalah merupakan faktor yang paling menonjol dilakukan oleh perawat (83,6%). Sedangkan faktor no. 6 merupakan faktor caring yang mempunyai nilai skor paling rendah (74,5%).
Berdasarkan hasil diatas penelitian ini merekomendasikan agar Rumah Sakit Langsa dapat menerapkan program model pengembangan perilaku caring perawat sebagai kinerja perawat dapat meningkat lebih jauh sehingga dapat meningkatkan citra Rumah Sakit Langsa secara keseluruhan.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Caring merupakan proses interpersonal yaitu hubungan yang terjadi antara perawat dengan klien yang merupakan bagian dari intervensi yang membantu dalam pemenuhan kebutuhan manusia dalam meningkatkan kesehatan, mengembalikan klien pada kondisi sehat dan mencegah kesakitan Watson (1979, dikutip dari Potter & Perry, 2005).
Caring merupakan bagian inti yang penting terutama dalam praktik keperawatan. Leinenger (1984) menyatakan care berasal dari dalam hati dan utama dalam keperawatan yang dimanifestasikan melalui caring yang merupakan ciri yang dominan, khusus, serta tidak terpisahkan dalam keperawatan. Leinenger mengatakan, tidak ada cure tanpa caring, tapi dapat ada caring tanpa curing. Ia menekankan bahwa human caring merupakan fenomena yang universal, memiliki ekspresi, proses dan pola yang berbeda antar budaya (Synder, 2011).
Konsep caring pun mengalami perkembangan yang pesat. Beberapa tokoh keperawatan seperti Watson (1979), Leininger (1984), Benner (1989), menempatkan caring sebagai dasar dalam praktek keperawatan, jika perawat sebagai suatu kelompok profesi yang bekerja selama 24 jam di rumah sakit lebih menekankan caring sebagai pusat dan aspek yang dominan maka perawat dapat membantu pasien meningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit dengan memandang klien secara komprehensif (Potter & Perry, 2005).
Watson (1979) juga menekankan dalam sikap caring ini harus tercermin sepuluh faktor caratif yang berasal dari perpaduan nilai-nilai humanistik dengan ilmu pengetahuan dasar. caring juga menekankan harga diri individu, artinya dalam melakukan praktik keperawatan, perawat senantiasa selalu menghargai klien dengan menerima kelebihan maupun kekurangan klien. Watson juga mengemukakan bahwa respon setiap individu terhadap suatu masalah kesehatan unik, artinya perawat harus mampu memahami setiap respon yang berbeda dari klien terhadap penderitaan yang dialaminya dan memberikan pelayanan kesehatan yang tepat dalam setiap respon yang berbeda Watson (1979, dikutip dari Sartika, 2011).
Caring menolong klien meningkatkan perubahan positif dalam aspek fisik, psikologis, spiritual, dan sosial (Tomey &Alligood, 2006). Dalam memberikan asuhan, perawat menggunakan kata-kata yang lemah lembut, sentuhan, memberikan harapan, selalu berada disamping klien, semangat caring harus tumbuh dalam diri setiap perawat dan berasal dari hati perawat yang terdalam. Cooper (1999 dikutip dari Dwiyanti, 2010).
Perilaku caring sangat penting karena akan memberikan kepuasan pada klien sehingga diharapkan setiap perawat memahami konsep caring dan mengaplikasikan dalam asuhan keperawatan. Selain itu perilaku caring dapat mempengaruhi kualitas layanan kesehatan dan kepuasan klien di rumah sakit, dimana kualitas pelayanan menjadi penentu citra institusi pelayanan yang dapat meningkatkan kepuasan pasien dan mutu pelayanan (Saputri, 2010).
Hasil penelitian yang dilakukan Ariani (2006) yang bertujuan mengidentifikasi perilaku caring perawat dalam melakukan askep pada klien di ruang rawat inap Rindu B2 RSUP H. Adam Malik Medan menunjukkan bahwa (88,6%) perawat sudah berperilaku caring dan (11,4%) perawat tidak berperilaku caring berdasarkan sepuluh faktor-faktor caratif yang diungkapkan oleh Watson faktor caratif yang banyak dilakukan perawat adalah menggunakan problem solving dalam pengambilan keputusan (80%) dan faktor yang paling sedikit dilakukan perawat adalah peningkatan belajar mengajar interpersonal (69,52%), berarti perawat telah menunjukkan perilaku caring dalam memberikan askep pada klien.
Namun penelitian oleh suwardi (2008) terhadap komunikasi terapeutik perawat di RSU Pandan Arang Boyolali yang dijumpai masih ada perawat yang cenderung emosi saat menerima keluhan dari klien, perawat yang hanya duduk-duduk di ruang perawat, perawat yang cenderung tidak tahu mengenai kondisi klien, dan perawat kurang memahami keluhan yang dirasakan klien ini menunjukkan bahwa masih ada perawat yang belum caring.
Berdasarkan uraian diatas, mengingat tugas dan peran perawat yang sangat hakiki sendiri maka peneliti ingin mengetahui dan meneliti bagaimana persepsi pasien tentang perilaku caring di tampilkan atau dipraktekkan oleh perawat di RSUD Kota Langsa.
1.2. Perumusan masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang diatas, maka masalah penelitian ini adalah bagaimana persepsi pasien tentang perilaku caring perawat di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Langsa.
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi persepsi pasien tentang perilaku caring perawat dalam melakukan asuhan keperawatan di Ruang Rawat Inap RSUD Kota Langsa.
1.4. Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian, diharapkan hasil penelitian bermanfaat untuk pendidikan keperawatan, praktek keperawatan, dan penelitian selanjutnya.
1.4.1 Bagi Pendidikan Keperawatan
Hasil penelitian ini akan memberikan potrait bagi mahasiswa tentang perilaku caring perawat di RSUD Kota Langsa dalam memberikan asuhan pada klien.
1.4.2 Bagi Praktek keperawatan
Hasil penelitian ini akan memberikan bukti empirik, yang dapat digunakan manajemen Rumah Sakit Langsa untuk dapat menyusun strategi dalam meningkatkan perilaku caring perawat.
1.4.3 Bagi Penelitian selanjutnya
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan acuan, masukan dan pertimbangan maupun perbandingan bagi penelitian selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
2.1 Konsep Caring
Caring merupakan fenomena universal yang berkaitan dengan cara seseorang berpikir, berperasaan dan bersikap ketika berhubungan dengan orang lain. Caring dalam keperawatan dipelajari dari berbagai macam filosofi dan perspektif etik (Dwiyanti, 2010).
Caring merupakan jantung dari keperawatan, caring sangat penting bagi semua orang dimana berfokus untuk pengembangan dan kesejahteraan antara lain ditunjukkan dengan aplikasi yang terarah dari pikiran, tubuh dan jiwa menuju hasil maksimal yang positif dalam diri seseorang yang di rawat. Caring cukup luas tidak terbatas pada kasih sayang, perhatian, kehadiran, perlindungan, kesejahteraan, memberikan sentuhan dan membina kedekatan dengan klien. Caring dalam keperawatan untuk membantu klien dalam memenuhi kebutuhannya sendiri jika pasien mampu atau memiliki kekuatan, kemauan dan pengetahuan sehingga klien dapat melakukan aktivitas sendiri dengan sesegera mungkin dalam pemenuhan kebutuhannya (Creasia & Parker, 2001).
Caring sebagai tindakan di sengaja membawa rasa aman baik fisik dan emosi serta keterikatan yang tulus dengan orang lain atau sekelompok orang. Caring memperjelas sisi kemanusiaan pemberi asuhan maupun penerima asuhan Miller (1995, dalam Synder, 2011).
Caring sebagai sebuah nilai professional dan personal, inti yang penting dalam menyediakan standar normative pada tindakan dan sikap perawat dengan klien (Carper (1979). Caring proses yang memberikan kesempatan pada perawat maupun klien untuk pertumbuhan pribadi, caring dapat mempengaruhi kehidupan seseorang dalam cara bermakna dan memicu eksistensi yang lebih memuaskan Mayehoff (1972, dalam Morisson, 2009).
Dengan demikian perasaan tersebut harus ada dalam diri setiap perawat supaya mereka bisa merawat klien Mayehoff (1988, dalam Dwiyanti, 2010).
Watson (1979) dan Leininger (1984) menempatkan asuhan sebagai jantung dari seni dan ilmu keperawatan. Keperawatan sebagai hubungan antar-manusia yang di sentuh dengan rasa kemanusiaan dari orang lain. Dalam menampilkan asuhan sebagai inti dari modelnya, menambahkan faktor caratif dengan tujuh asumsi utama berikut ini:
1. Caring hanya akan efektif bila diperlihatkan dan dipraktekkan secara interpersonal.
2. Caring terdiri dari faktor caratif yang berasal dari kepuasan dalam membantu memenuhi kebutuhan manusia atau klien.
3. Caring yang efektif dapat meningkatkan kesehatan individu dan keluarga. 4. Caring merupakan respon yang diterima oleh seseorang tidak hanya saat
itu saja namun juga mempengaruhi akan seperti apakah seseorang tersebut nantinya. Lingkungan yang penuh caring sangat potensial untuk mendukung perkembangan seseorang dan mempengaruhi seseorang dalam memilih tindakan yang terbaik untuk dirinya sendiri.
5. Caring lebih kompleks daripada curing, praktik caring memadukan antara pengetahuan biofisik dengan pengetahuan mengenai perilaku manusia yang berguna dalam peningkatan derajat kesehatan dan membantu klien yang sakit.
2.1.1 Konsep Keperawatan Jean Watson
Jean Watson dalam memahami konsep keperawatan terkenal dengan teori pengetahuan manusia dan merawat manusia. Tolak ukur pandangan Watson didasari pada unsur teori kemanusiaan. Pandangan teori Watson memahami manusia memiliki empat cabang kebutuhan manusia yang saling berhubungan diantaranya kebutuhan dasar biofisikal (kebutuhan untuk hidup) berupa kebutuhan makanan dan cairan, kebutuhan eliminasi dan kebutuhan ventilasi, kebutuhan psikofisikal (kebutuhan fungsional) yang meliputi kebutuhan aktifitas dan istirahat, kebutuhan seksual, kebutuhan psikososial (kebutuhan untuk integrasi) yang meliputi kebutuhan untuk berprestasi, kebutuhan organisasi, dan kebutuhan intra dan interpersonal (kebutuhan untuk pengembangan) yaitu kebutuhan aktualisasi diri (Hidayat, 2007).
Berdasarkan empat kebutuhan tersebut, manusia adalah makhluk yang sempurna yang memiliki berbagai macam ragam perbedaan, sehingga dalam upaya mencapai kesehatan, manusia seharusnya dalam keadaan sejahtera baik fisik, mental dan spiritual karena sejahtera merupakan keharmonisan antara pikiran, badan dan jiwa sehingga untuk mencapai keadaan tersebut keperawatan harus berperan dan meningkatkan status kesehatan, mencegah terjadinya penyakit, mengobati berbagai penyakit dan penyembuhan kesehatan dan fokusnya pada peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit (Hidayat, 2007).
perawatan manusia membutuhkan perawat yang memahami prilaku dan respon manusia terhadap masalah yang aktual maupun potensial, kebutuhan manusia dan bagaimana berespon dengan orang lain dan memahami kelebihan dan kekurangan klien dan keluarganya, sekaligus pemahaman pada dirinya sendiri. Selain itu perawat juga memberikan kenyamanan, perhatian dan empati pada klien dan kelurganya. Asuhan keperawatan tergambar pada seluruh faktor-faktor yang digunakan dalam memberikan pelayanan pada klien. Aplikasi teori Watson membuat perubahan secara sadar dengan tujuan untuk meningkatkan interaksi dengan klien, interaksi caring-healing, menginspirasi klien untuk sembuh secara fisik, emosi dan spiritual, menggabungkan pengetahuan ilmiah dan filosofis, perlu banyak human care dalam masyarakat dan pelayanan kesehatan serta memilih untuk hidup sebagai makhluk yang caring dan penuh kasih sayang untuk meningkatkan asuhan keperawatan Watson (1987, dikutip dari Potter & Perry, 2005 ).
Jean Watson dalam memahami konsep keperawatan terkenal dengan “Theory of Human Caring” (Watson), mempertegas jenis hubungan dan transaksi yang diperlukan antara pemberi dan penerima asuhan untuk meningkatkan dan melindungi klien sebagai manusia yang mempengaruhi kesanggupan klien untuk sembuh (Sartika, 2011).
memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam hubungan interpersonal, psikologi, pertumbuhan dan perkembangan manusia, komunikasi, dan sosiologi serta pengetahuan tentang ilmu-ilmu dasar dan keterampilan keperawatan tertentu. Perawat adalah pemberi jalan dalam menyelesaikan masalah dan pembuat keputusan serta merumuskan gambaran tentang kebutuhan klien secara individual. (Potter & Perry, 2005).
2.1.2 Faktor-faktor Pembentuk Caring
Watson juga menekankan dalam sikap caring ini harus tercermin sepuluh faktor caratif yang berasal dari perpaduan nilai-nilai humanistik dengan ilmu pengetahuan dasar dalam memberikan asuhan. Oleh karena itu, perawat perlu mengembangkan filosofi humanistik dan nilai serta seni yang kuat, faktor caratif membantu perawat untuk menghargai manusia dari dimensi pekerjaan perawat, kehidupan, dan dari pengalaman nyata berinteraksi dengan orang lain sehingga tercapai kepuasan dalam melayani dan membantu klien. Dasar dalam praktek keperawatan menurut Watson (1979, dalam Asmadi, 2008). Dibangun dari Sepuluh faktor caratif tersebut adalah sebagai berikut :
1. Pembentukan faktor nilai humanistik dan altruistik.
2. Menanamkan keyakinan dan harapan (faith-hope).
Faktor ini menjelaskan tentang peran perawat dalam mengembangkan hubungan timbal balik perawat-klien yang efektif dan meningkatkan kesejahteraan dengan membantu klien mengadopsi prilaku hidup sehat. Perawat mendorong penerimaan klien terhadap pengobatan yang dilakukan kepadanya dan membantunya memahami alternatif terapi yang diberikan, memberikan keyakinan akan adanya kekuatan penyembuhan atau kekuatan spiritual dan penuh pengharapan. Dengan mengembangkan hubungan perawat-klien yang efektif, perawat memfasilitasi perasaan optimis, harapan dan rasa percaya.
3. Menanamkan sensitifitas terhadap diri sendiri dan orang lain.
Seorang perawat dituntut untuk mampu meningkatkan sensitifitas terhadap diri pribadi dan orang lain, dengan memiliki sensitifitas/kepekaan terhadap diri sendiri, maka perawat menjadi lebih apa adanya dan lebih lebih sensitif kepada orang lain dan menjadi lebih tulus dalam memberikan bantuan kepada orang lain. Perawat juga perlu memahami bahwa pikiran dan emosi seseorang merupakan jendela jiwanya.
dibuat-buat. Perawat menunjukkan sikap empati dengan berusaha merasakan apa yang dirasakan oleh klien dan sikap hangat dengan menerima orang lain secara positif.
5. Meningkatkan dan menerima ekspresi perasaan positif dan negatif
Perasaan mempengaruhi pikiran seseorang hal ini perlu menjadi pertimbangan dalam memelihara hubungan. Oleh sebab itu, perawat harus menerima perasaan orang lain serta memahami prilaku mereka dan juga perawat mendengarkan segala keluhan klien.
6. Menggunakan metode pemecahan masalah yang sistematis dalam pengambilan keputusan.
Perawat menerapkan proses keperawatan secara sistematis, praktek yang efektif adalah memecahkan masalah secara ilmiah dalam menyelenggarakan pelayanan berfokus klien. Proses keperawatan seperti halnya proses penelitian yaitu sistematis dan terstruktur, metode pemecahan masalah ilmiah merupakan metode yang memberi control dan prediksi serta memungkinkan koreksi diri sendiri.
7. Meningkatkan proses belajar mengajar interpersonal.
memahami persepsi klien dan meredakan situasi yang menegangkan agar proses belajar-mengajar ini berjalan lebih efektif.
8. Menyediakan lingkungan yang mendukung, melindungi,memperbaiki mental, sosiokultural dan spiritual.
Perawat harus menyadari bahwa lingkungan internal dan eksternal berpengaruh terhadap kesehatan dan kondisi penyakit klien. Konsep yang relevan dengan lingkungan internal meliputi kepercayaan, sosial budaya, mental dan spiritual klien. Lingkungan eksternal meliputi kenyamanan, privasi, keamanan, kebersihan, dan lingkungan yang estetik. Melalui pengkajian perawat dapat menentukan penilaian seseorang terhadap situasi dan dapat mengatasinya. Perawat dapat memberikan dukungan situasional, membantu individu mengembangkan persepsi yang lebih akurat dan memberikan informasi sehingga klien dapat mengatasi masalahnya.
9. Membantu dalam pemenuhan kebutuhan dasar manusia.
Dalam membantu memenuhi kebutuhan dasar klien, perawat harus melakukan dengan gembira. Hirarki kebutuhan dasar Watson hampir sama dengan Maslow, yakni kebutuhan untuk bertahan hidup, fungsional, integrasi, untuk tumbuh dan mencari bantuan ketika individu kesulitan memenuhi kebutuhan dasarnya.
10. Mengembangkan faktor kekuatan eksistensial-fenomologis.
Kesepuluh faktor caratif di atas perlu selalu dilakukan oleh perawat agar semua aspek dalam diri klien dapat ditangani dengan baik sehingga asuhan keperawatan professional dan bermutu dapat diwujudkan, melalui penerapan faktor caratif ini diharapkan perawat juga dapat belajar untuk lebih memahami diri sendiri sebelum memahami orang lain (Nurahmah, 2006).
2.2 Aplikasi Prilaku Caring dalam Praktek Keperawatan
Lynda Hall mengemukakan sebagai seorang perawat, kemampuan care, core, dan cure harus dipadukan secara seimbang sehingga menghasilkan asuhan keperawatan yang optimal untuk klien. Lydia Hall mengemukakan perpaduan tiga aspek tersebut dalam teorinya. Core merupakan dasar dari ilmu sosial yang terdiri dari kemampuan terapeutik, dan kemampuan bekerja sama dengan tenaga kesehatan lain. Sedangkan cure merupakan dasar dari ilmu patologi dan terapeutik. Dalam memberikan asuhan keperawatan secara total kepada klien, maka ketiga unsur ini harus dipadukan Julia (1995, dalam Sartika, 2011). Care merupakan komponen penting yang berasal dari naluri seorang ibu. Care mendasari kejujuran, autonomi dan keadilan serta etik dan moral yang penting sekali bagi keperawatan (Basford & Slevin, 2006)
Dalam melakukan askep yang harus dilakukan mencakup: sikap caring, hubungan perawat klien yang terapeutik, kolaborasi dengan anggota tim kesehatan lain, kemampuan dalam memenuhi kebutuhan klien, kegiatan jaminan mutu pelayanan.
mengkaji lebih lanjut keinginan klien, menyakinkan klien bahwa perawat akan membantu klien dalam memberikan askep, memenuhi kebutuhan dasar klien dengan ikhlas, menjelaskan setiap tindakan yang akan dilakukan (inform Consent), mendengarkan dengan penuh perhatian, bersikap jujur, bersikap empati, dapat mengendalikan perasaan, selalu mendahulukan kepentingan klien, tidak menerima uang dari klien, memberi waktu dan perhatian, bekerja dengan trampil, dan cermat berdasarkan ilmu, kompeten dalam melakukan tindakan keperawatan, berespon dengan cepat dan tanggap, mengidentifikasi secara dini perubahan status kesehatan klien, serta memberikan rasa aman dan nyaman. ( Kozier, 2007)
2.2.1 Menumbuhkan Prilaku Caring Perawat
Setiap perawat harus memahami caring, tulus dan berusaha memahami apa yang dirasakan klien berbeda-beda sehingga perawat dapat memberikan asuhan keperawatan bermutu yang diberikan perawat dapat dicapai apabila perawat dapat memperlihatkan sikap caring kepada klien berupa memberikan kenyamanan, kasih sayang, kepedulian, empati, memfasilitasi, minat, keterlibatan, tindakan konsultasi kesehatan, tindakan instruksi kesehatan, tindakan pemeliharaan kesehatan, perilaku menolong, cinta, kehadiran, perilaku protektif, berbagi, perilaku stimulasi, penurunan stress, bantuan, dukungan, surveilands, kelembutan, sentuhan dan kepercayaan Leininger (1988 dalam Creasia & Parker, 2001)
2.2.2 Pentingnya Aplikasi Caring
kegiatan-kegiatan dalam memberikan asuhan keperawatan seperti mengatur pemberian obat, prosedur-prosedur keperawatan, membantu memenuhi kebutuhan dasar klien seperti membantu dalam pemberian makanan. "Caring about" berkaitan dengan kegiatan-kegiatan sharing atau membagi pengalaman-pengalaman seseorang dan keberadaannya.
Perawat perlu menampilkan sikap empati, jujur dan tulus dalam melakukan caring about. Kegiatan perawat harus ekspresif dan merupakan cerminan aktivitas yang menciptakan hubungan dengan klien. Sifat-sifat aktivitas ini menimbulkan keterlibatan hubungan saling percaya ( Kozier, 2007).
Caring mempuyai manfaat yang begitu besar dalam keperawatan dan seharusnya tercermin dalam setiap interaksi perawat dengan klien, bukan dianggap sebagai sesuatu yang sulit diwujudkan dengan alasan beban kerja yang tinggi, atau pengaturan manajemen asuhan keperawatan ruangan yang kurang baik. Pelaksanaan caring akan meningkatkan mutu asuhan keperawatan, memperbaiki image perawat di masyarakat dan membuat profesi keperawatan memiliki tempat khusus di mata para pengguna jasa pelayanan kesehatan (Sartika, 2011).
2.2.3 Pengukuran Prilaku Caring
meningkatkan dan menerima ekspresi perasaan positif dan negatif, menggunakan metode pemecahan masalah yang sistematis dalam pengambilan keputusan, meningkatkan proses belajar mengajar interpersonal, menyediakan lingkungan yang mendukung, melindungi,memperbaiki mental, sosiokultural dan spiritual, membantu dalam pemenuhan kebutuhan dasar manusia dan mengembangkan faktor kekuatan eksistensial-fenomologis (Asmadi, 2008).
BAB III
KERANGKA PENELITIAN
3.1 Kerangka konsep
Kerangka konsep pada penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang persepsi pasien tentang perilaku caring dan faktor caratif perawat di RSUD Kota Langsa.
3.2 Kerangka Penelitian
Perilaku caring perawat
Faktor Caratif menurut Watson 1. Nilai humanistik-altruistik 2. Faith-hope
3. Sensitifitas 4. Helping-trust
5. Ekspresi perasaan positif dan negative
6. Pemecahan masalah yang sistematis
7. Proses belajar mengajar interpersonal
8. Lingkungan yang mendukung 9. Pemenuhan kebutuhan dasar
manusia
10.Eksistensi-fenomenologi
3.3 Definisi operasional
Tabel 1. Definisi Operasional
Variabel Definisi Operasional Alat ukur Hasil Skala Perilaku
caring perawat
Perilaku caring perawat adalah perilaku yang ditunjukkan perawat dalam memberikan asuhan
keperawatan kepada klien yang harus meliputi dalam sepuluh faktor caratif yaitu: membentuk nilai
humanistik-altruistik, Faith-hope, Sensitifitas, Helping-trust, Ekspresi perasaan positif dan negative, Pemecahan masalah yang sistematis, Proses belajar mengajar interpersonal, Lingkungan yang mendukung, Membantu dalam pemenuhan
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Desain Penelitian
Jenis penelitian menggunakan desain penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengidentifikasi persepsi klien tentang perilaku caring perawat di ruang rawat inap RSUD Kota Langsa.
4.2 Populasi dan Sampel
4.2.1 Populasi
Populasi adalah seluruh kasus yang memenuhi seperangkat kriteria yang dirancang dalam penelitian (Polit & Hungler 1999). Populasi dalam penelitian ini adalah klien yang dirawat diruang rawat inap IA – Seulanga, IB – Jambe, IIB – Sikicek, RPBA, RPBB, III Pria dan III Wanita. jumlah populasi pasien yang dirawat di Ruang Rawat Inap RSUD Kota Langsa berjumlah 300 responden selama 1 bulan.
4.2.2 Sampel
Sampel adalah mengacu pada proses memilih sebagian dari populasi untuk mewakili seluruh populasi (Polit & Hungler 1999). Rumus sampel untuk populasi kecil atau kurang dari 10.000 (Setiadi, 2007).
Ket : n = Besar sampel yang dibutuhkan N = Total populasi
d = Tingkat kepercayaan atau ketepatan yang diinginkan (0,05)
n = N 1 + N (d2)
= 300 = 300 = 300 = 300 = 171 1 + 300 (0,052) 1 + 300 ( 0,0025) 1 + 0,75 1,75
Kemudian teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik “purposive sampling” dimana pengambilan sampel secara purposive didasarkan pada suatu pertimbangan tertentu yang dibuat sendiri oleh peneliti berdasarkan ciri-ciri dan karakteristik tertentu dari populasi. (Polit & Hungler 1999). Adapun jumlah sampel yang didapatkan saat pengambilan data yaitu berjumlah 55 responden karena keterbatasan waktu pada saat pengumpulan data. Adapun kriteria yang telah ditetapkan yaitu:
1. Pasien yang dirawat diruang rawat inap IA, IB, IIB, RPBA, RPBB, III Pria dan III Wanita RSUD Kota Langsa.
2. Pasien berumur 21-50 tahun.
3. Pasien dapat menjawab pertanyaan sendiri. 4. Pasien telah dirawat minimal 2 hari rawatan.
4.3 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di RSUD Kota Langsa, dengan pertimbangan bahwa RSUD Kota Langsa merupakan rumah sakit umum terbesar dan pendidikan di kota Langsa serta menerima rujukan dari daerah kabupaten sekitarnya, yang memungkinkan peneliti mendapatkan jumlah sampel yang dibutuhkan untuk penelitian ini. Penelitian ini dimulai sejak tanggal 1 November sampai tanggal 30 November 2012
4.4 Pertimbangan Etik Penelitian
Penelitian dilakukan setelah peneliti mendapat izin dan rekomendasi dari Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara dan izin dari RSUD Kota Langsa. Sebelum melakukan pembagian kuesioner, peneliti terlebih dahulu menjelaskan maksud, tujuan dan prosedur kepada responden. Jika responden bersedia, maka terlebih dahulu harus menandatangani lembar persetujuan (informed consent) yang telah dipersiapkan oleh peneliti. Responden berhak menolak ataupun mengundurkan diri selama proses penelitian tanpa ada tekanan, dan peneliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati haknya sebagai responden.
Untuk menjaga kerahasiaan responden, peneliti tidak mencantumkan nama responden pada lembar pengumpulan data (kuesioner) yang diisi oleh responden, tetapi dengan memberi nomor kode pada masing-masing lembar tersebut. Kerahasiaan informasi yang diberikan oleh responden akan dijamin oleh peneliti dan hanya dipergunakan untuk kepentingan penelitian (Nursalam, 2003).
4.5 Instrumen Penelitian
Insrumen penelitian terdiri dari 2 bagian yaitu data demografi dan kuisioner perilaku caring perawat.
a.Data Demografi
Data demografi digunakan untuk mengetahui karakteristik pasien yang dirawat diruang rawat inap yang meliputi umur, jenis kelamin, Suku, Pendidikan terakhir, Pekerjaan, Lama dirawat.
b. Kuisioner Perilaku Caring Perawat
Instrumen perilaku caring bertujuan untuk mengidentifikasi perilaku caring perawat diruang rawat inap. Kuisiner ini dibuat sesuai dengan teori caring dan dengan bimbingan saat konsul dengan penguji validitas yang ahli di bidangnya. Kuesioner perilaku caring ini terdiri dari 40 pertanyaan yang terbagi menjadi 2 pertanyaan positif sebanyak 28 item dan pertanyaan negatif sebanyak 12 item terdapat pada pertanyaan nomor 3,6,9,12,15,18,21,24,27,30,33,36. Kuisiner Perilaku Caring Perawat yang meliputi sepuluh faktor caratif yaitu membentuk nilai humanistik-altruistik terdapat pada pertanyaan no 1 sampai 4 , Faith-hope terdapat pada pertanyaan no 5 sampai 8, Sensitifitas terdapat pada pertanyaan no 9 sampai 12, Helping-trust terdapat pada pertanyaan no 13 sampai 16, Ekspresi perasaan positif dan negative terdapat pada pertanyaan no 17 sampai 20, Pemecahan masalah yang sistematis terdapat pada pertanyaan no 21 sampai 24, Proses belajar mengajar interpersonal terdapat pada pertanyaan no 25 sampai 28, Lingkungan yang mendukung, melindungi, memperbaiki mental dan sosiokultural terdapat pada pertanyaan no 29 sampai 32, Membantu dalam pemenuhan kebutuhan dasar manusia terdapat pada pertanyaan no 33 sampai 36, Eksistensi-fenomenologi terdapat pada pertanyaan no 37 sampai 40. Nilai terendah yang dijawab 4 dan nilai tertingginya adalah 16. Berdasarkan rumus statistik Sudjana (1992 dalam Simarmata, 2010), P= rentang atau banyak kelas dimana P merupakan panjang kelas dengan rentang (nilai tertinggi dikurang nilai terendah) yaitu sebesar 12, dan banyak kelas dibagi atas dua kategori kelas untuk sepuluh faktor caratif caring perawat maka akan diperoleh panjang kelas sebesar
6. Dengan p=6 dan nilai terendah 4 sebagai batas bawah kelas pertama, maka sepuluh faktor caratif caring perawat di ruang rawat inap RSUD Kota Langsa sebagai berikut:
4-10 = tidak baik 11-16 = baik
Alat ukur dalam penelitian ini dengan menggunakan model skala Likert, pertanyaan positif menggunakan empat alternatif jawaban yaitu tidak pernah (bernilai 1), kadang-kadang (bernilai 2), sering (bernilai 3), dan selalu (bernilai 4). Pertanyaan negatif dengan empat pilihan jawaban tidak pernah (bernilai 4), kadang-kadang (bernilai 3), sering (bernilai 2), dan selalu (bernilai 1). Nilai terendah yang dicapai adalah 40 dan nilai tertingginya adalah 160. Berdasarkan rumus statistik Sudjana (1992 dalam Simarmata, 2010), P= rentang atau banyak kelas dimana P merupakan panjang kelas dengan rentang (nilai tertinggi dikurang nilai terendah) yaitu sebesar 120, dan banyak kelas dibagi atas dua kategori kelas untuk perilaku caring maka akan diperoleh panjang kelas sebesar 60. Dengan p=60 dan nilai terendah 40 sebagai batas bawah kelas pertama, maka perilaku caring perawat di ruang rawat inap RSUD Kota Langsa sebagai berikut:
40-100 = tidak caring 101-160 = caring
Instrumen yang baik harus memenuhi dua persyaratan ini yaitu harus valid dan reliabel.
4.6 Uji validitas dan reliabilitas
a. Uji validitas
Uji validitas insrumen perilaku caring di uji oleh yang ahli di bidangnya dengan jumlah Content validity indeks 400.
b. Uji reliabilitas
Instrumen yang reliabel akan dapat menghasilkan data yang dapat dipercaya atau benar sesuai kenyataannya (Polit & Hungler 1999). Instrumen diujikan kepada 30 orang responden di tempat yang berbeda di RSUD Karang Baru dan dilakukan hanya sekali pemberian instrumen. Penghitungan uji realibilitas dilakukan dengan menggunakan analisa cronbach alfa yaitu menunjukkan hasil 0,773. Menurut (Polit & Hungler 1999) suatu instrument dinyatakan reliabel jika memiliki nilai reliabilitas lebih dari 0,70.
4.7 Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan setelah mendapat izin dari direktur RSUD Kota Langsa, kemudian peneliti ke ruangan rawat inap meminta izin kepada Karu untuk melakukan penelitian dengan menjelaskan maksud dan tujuan penelitian, setelah di beri izin kemudian meminjam buku laporan pasien untuk melihat jumlah pasien dan penyakit maupun kondisinya dan melakukan pencatatan, setelah itu menuju ke setiap ruangan pasien dengan melihat secara langsung apakah kondisi pasien memungkinkan untuk menjadi responden dan bisa menjawab setiap pertanyaan yang ada pada kuisioner, apabila kondisi pasien memungkinkan maksudnya pasien sadar, bukan pada kondisi yang tidak
memungkinkan misal tidak sesak, nyeri dan batuk serta dapat berkomunikasi dan bisa menjawab pertanyaan dan minimal telah di rawat selama 2 hari, kemudian melakukan bina trust dengan menjelaskan maksud dan tujuan penelitian setelah pasien paham dan mau menjadi responden sebelumnya menandatangani informconsent, setelah itu pengisian kuisioner dilakukan oleh peneliti karena pasien ingin di tanya secara langsung dan tidak mau mengisi kuisioner sendiri dan di karenakan juga keadaan pasien yang di infus dan kondisi pasien yang masih sakit kemudian peneliti menanyakan langsung setiap pertanyaan yang ada pada kuisioner sehingga jawaban yang diberikan oleh pasien dapat dimengerti dengan setiap alasan yang dijelaskan oleh pasien.
4.8 Analisa Data
Setelah semua data dikumpulkan, maka dilakukan analisa data melalui beberapa tahapan. Pertama memeriksa kelengkapan data dan memastikan bahwa semua jawaban telah diisi sesuai dengan petunjuk. Kemudian peneliti membuat nomor untuk menyusun dan mengelompokkan data, selanjutnya memasukkan data dari kuisioner ke dalam program komputer untuk menganalisa dan menginterpretasi data harus membuat 1 set nomor yang masuk diakal secara logis sehingga mudah dipahami.
Data diolah secara statistik dengan menggunakan teknik komputerisasi dan dianalisa secara statistik deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi kemudian di narasikan.
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Dalam bab ini akan diuraikan data hasil penelitian serta pembahasan mengenai gambaran persepsi pasien tentang perilaku caring perawat di RSUD Kota Langsa.
5.1. Hasil Penelitian
Sesuai dengan tujuan penelitian, maka data hasil penelitian ini akan menguraikan gambaran persepsi pasien tentang perilaku caring dan faktor caratif perawat di RSUD Kota Langsa. Pengumpulan data 1 bulan dimulai sejak tanggal 1 November sampai tanggal 30 November 2012 setelah pengumpulan data jumlah sampel 55 responden.
5.1.1. Karakteristik Responden
Adapun karakteristik responden yang dipaparkan mencakup umur,, jenis kelamin, suku, pendidikan terakhir, pekerjaan, dan lama klien di rawat di ruang rawat inap.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden lebih banyak berjenis kelamin laki-laki (56,4%), berada pada kelompok usia 31-40 dan 41-50 sama-sama (34,5%). Responden lebih banyak bersuku jawa (34,5%) dan aceh (30,9%) dengan mayoritas pendidikan terakhir SMP (45,5%). Mayoritas pekerjaan responden lain-lain meliputi mahasiswa, petani, bakti, bangunan (40%) dengan mayoritas lamanya klien dirawat 2-4 hari (78,2%) ringkasan karakteristik dapat di lihat pada table 5.1.
Tabel 5.1.
Distribusi Frekuensi Dan Persentase Karakteristik Responden di ruang rawat inap RSUD Kota Langsa (n = 55).
Karakteristik responden Frekuensi (f) Persentase (%)
5.1.2 Persepsi pasien tentang sepuluh faktor caratif di Ruang Rawat Inap RSUD Kota Langsa
Hasil penelitian perilaku caring perawat berdasarkan sepuluh faktor-faktor caratif yang diungkapkan oleh Watson (1979) yaitu membentuk nilai humanistik-altruistik mayoritas menjawab dengan nilai baik sebanyak (72,7%). Menanamkan Keyakinan dan harapan mayoritas menjawab dengan nilai baik (54,5%). Sensitifitas mayoritas menjawab dengan nilai baik (72,7%). Membina hubungan saling percaya dan saling membantu mayoritas menjawab dengan nilai baik (72,7%). Meningkatkan dan menerima ekspresi perasaan positif dan negative mayoritas menjawab dengan nilai baik (76,4%).
Menggunakan metode pemecahan masalah yang sistematis mayoritas menjawab dengan nilai baik (83,6%). Meningkatkan proses belajar mengajar interpersonal mayoritas menjawab dengan nilai tidak baik (74,5%). Menyediakan lingkungan yang mendukung, melindungi memperbaiki mental dan sosiokultural mayoritas menjawab dengan nilai tidak baik (61,8%). Membantu dalam pemenuhan kebutuhan dasar manusia mayoritas menjawab dengan nilai tidak baik (52,7%). Dan Mengembangkan faktor kekuatan eksistensi-fenomenologi mayoritas menjawab dengan nilai baik (67,3%). Ringkasan ini dapat dilihat pada (Tabel 5.2).
Tabel 5.2
Distribusi Frekuensi dan Persentase Pasien Tentang sepuluh faktor caratif caring Perawat di RSUD Kota Langsa (n = 55).
faktor-faktor caratif caring Frekuensi (f) Persentase (%)
membentuk nilai humanistik-Keyakinan dan harapan
- Tidak baik Percaya dan saling membantu
- Tidak baik Ekspresi perasaan positif dan
negative Pemecahan masalah yang
sistematis Proses belajar mengajar
Lingkungan yang mendukung, melindungi memperbaiki mental dan sosiokultural Membantu dalam pemenuhan
kebutuhan dasar manusia - Tidak baik
Hasil penelitian perilaku caring perawat berdasarkan sepuluh faktor-faktor caratif yang diungkapkan oleh Watson (1979) mayoritas pelaksanaan caratif caring yang telah dilakukan dengan baik oleh perawat menggunakan metode pemecahan masalah yang sistematis mayoritas menjawab dengan nilai baik (83,6%). Dan masih rendahnya pelaksanaan dalam Meningkatkan proses belajar mengajar (edukasi) interpersonal mayoritas menjawab dengan nilai tidak baik (74,5%) dengan rendahnya menjawab dengan nilai baik (16,4%). Aspek proses belajar mengajar (edukasi) salah satunya adalah memberikan pendidikan kesehatan kepada pasien. Pasien dijelaskan cara bagaimana perawatan yang diberikan serta menjalani pengobatan yang diberikan di Rumah Sakit. Apabila informasi jelas dan pasien memahami pengobatan terhadap dirinya hal ini tentu saja memberikan aspek positif terhadap kesembuhan pasien.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas (80%) menyatakan bahwa perawat di ruang rawat inap telah menunjukkan perilaku caring dalam melakukan
asuhan keperawatan pada pasien dan (20%) menyatakan bahwa perawat tidak menunjukkan perilaku caring ringkasan inidapat dilihat pada (Tabel 5.3).
(Tabel 5.3.)
Distribusi Frekuensi dan Persentase Persepsi Pasien Tentang Perilaku Caring Perawat di RSUD Kota Langsa (n = 55).
Perilaku caring perawat Frekuensi Persentase 1. Caring
2. Tidak Caring
44
1
80
20
Total 55 100
5.2 Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas perawat telah menunjukkan perilaku caring dalam melakukan asuhan keperawatan. ini berarti sesuai teori Watson (1985) yang meyakini praktek caring sebagai inti keperawatan, yang menggambarkan dasar dalam kesatuan nilai-nilai kemanusiaan yang universal ( kebaikan, kepedulian dan cinta terhadap diri sendiri dan orang lain) caring digambarkan sebagai moral ideal keperawatan. Hal ini meliput i keinginan untuk merawat, dengan tulus yang meliputi komunikasi, tanggapan positif, dukungan atau intervensi fisik oleh perawat (Synder, 2011). Teori Watson (1979, dalam Asmadi, 2008) telah dilakukan oleh sebagian besar perawat (80%) telah melakukan asuhan keperawatan dengan baik dan peduli Sehingga dalam penelitian ini persepsi pasien yang di rawat di ruang rawat inap tentang perawat telah menunjukkan perilaku caring di RSUD Kota Langsa.
Caring sebagai tindakan di sengaja membawa rasa aman baik fisik dan emosi serta keterikatan yang tulus dengan orang lain atau sekelompok orang. Caring memperjelas sisi kemanusiaan pemberi asuhan maupun penerima asuhan Miller (1995, dalam Synder, 2011).
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Ariani (2006) yang bertujuan mengidentifikasi perilaku caring perawat dalam melakukan askep pada klien di ruang rawat inap Rindu B2 RSUP H. Adam Malik Medan menunjukkan bahwa perawat sudah berperilaku caring (88,6%) dan (11,4%) perawat tidak berperilaku caring dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien, jadi mayoritas perawat telah menunjukkan perilaku caring.
Valentine (1997) juga menyatakan bahwa perilaku caring perawat adalah bagian dari praktik keperawatan professional yang holistik. Di dalam penelitiannya ia mengemukakan bahwa pilihan klien dalam mencari pusat pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh pengalaman positif terhadap perilaku caring perawat (Valentine, 1997, dalam Wolf, Miller, & Devine, 2003). Felgen (2003) juga menyatakan bahwa klien mengharapkan perawat memiliki perilaku caring dalam memberikan pelayanan kesehatan.
Sebaliknya hasil penelitian Malini (2009) yang bertujuan mengidentifikasi perilaku caring perawat di RS Dr. Djamil didapati perawat masih kurang ramah dalam melayani pertanyaan dari klien, berperilaku tidak bersahabat dan jarang tersenyum ini berarti masih didapati perawat yang belum menunjukkan perilaku caring dalam memberikan asuhan keperawatan. Begitu juga dengan hasil pengamatan suwardi (2008) terhadap komunikasi terapeutik perawat di RSU
Pandan Arang Boyolali yang dijumpai masih ada perawat yang cenderung emosi saat menerima keluhan dari klien, perawat yang hanya duduk-duduk di ruang perawat, perawat yang cenderung tidak tahu mengenai kondisi klien, dan perawat kurang memahami keluhan yang dirasakan klien. Ini berarti perilaku caring masih kurang ditunjukkan oleh perawat yang bekerja di rumah sakit.
Watson (1979) juga menekankan dalam sikap caring ini harus tercermin sepuluh faktor caratif yang berasal dari perpaduan nilai-nilai humanistik dengan ilmu pengetahuan dasar dalam memberikan asuhan. Oleh karena itu, perawat perlu mengembangkan filosofi humanistik dan nilai serta seni yang kuat, faktor caratif membantu perawat untuk menghargai manusia dari dimensi pekerjaan perawat, kehidupan, dan dari pengalaman nyata berinteraksi dengan orang lain sehingga tercapai kepuasan dalam melayani dan membantu klien. Dasar dalam praktek keperawatan menurut Watson (1979, dalam Asmadi, 2008).
Pengukuran perilaku caring dengan mengacu pada pengembangan dari faktor caratif (Watson, 1979) yang mencakup pembentukan nilai humanistik dan altruistik, menanamkan sikap penuh harapan, menanamkan sensitifitas terhadap diri sendiri dan orang lain, hubungan saling percaya dan saling membantu, meningkatkan dan menerima ekspresi perasaan positif dan negatif, menggunakan metode pemecahan masalah yang sistematis dalam pengambilan keputusan, meningkatkan proses belajar mengajar interpersonal, menyediakan lingkungan yang mendukung, melindungi,memperbaiki mental, sosiokultural dan spiritual, membantu dalam pemenuhan kebutuhan dasar manusia dan mengembangkan faktor kekuatan eksistensial-fenomologis. (Asmadi, 2008).
Berdasarkan hasil penelitian dari sepuluh faktor-faktor caratif yang dinyatakan oleh Watson (1979, dalam Asmadi, 2008) mayoritas pelaksanaan caratif caring yang telah dilakukan dengan baik menggunakan metode pemecahan masalah yang sistematis mayoritas menjawab dengan nilai baik (83,6%) menggunakan metode pemecahan masalah yang sistematis merupakan penerapan proses keperawatan yang telah dilakukan oleh perawat sehingga persepsi pasien tentang perilaku caring perawat yang di rawat di ruang rawat inap RSUD Kota Langsa sesuai jawaban pasien kadang-kadang (54,5%) menanyakan masalah pribadi saya yang tidak berkaitan dengan keadaan penyakit saya, sering (72,7%) pelayanan perawat membuat keluhan saya berkurang, sering (80%) perawat memberikan bantuan kepada saya dalam mencari pertolongan kesehatan, dan kadang-kadang (56,4%) perawat membiarkan saya dalam menyelesaikan masalah kesehatan yang saya rasakan.
Dan didapatkan dari persepsi klien tentang perilaku caring perawat masih rendahnya pelaksanaan dalam Meningkatkan proses belajar mengajar (edukasi) interpersonal mayoritas menjawab dengan nilai tidak baik (74,5%) dengan masih rendahnya menjawab dengan nilai baik (16,4%). Aspek proses belajar mengajar (edukasi) salah satunya adalah memberikan pendidikan kesehatan kepada pasien. Pasien dijelaskan cara bagaimana perawatan yang diberikan serta menjalani pengobatan yang diberikan di Rumah Sakit. Apabila informasi jelas dan pasien memahami pengobatan terhadap dirinya hal ini tentu saja memberikan aspek positif terhadap kesembuhan pasien. Persepsi pasien tentang perilaku caring perawat sesuai jawaban kuisioner perawat sering (41,8%) menjelaskan setiap
keluhan saya secara jelas (rasional) sesuai dengan tingkat pemahaman saya dan cara mengatasinya, perawat kadang-kadang (41,8%) membantu saya untuk melakukan tindakan dengan mempratekkannya kembali (mendemonstrasikan bersama perawat), perawat tidak pernah (60%) kurang terampil dalam melakukan perawatan dan saya tidak merasa nyaman terhadap asuhan keperawatan yang telah diberikan, perawat tidak pernah (80%) menyusun rencana kegiatan untuk saya sesuai dengan kemampuan saya.
Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Ariani (2006) yang bertujuan mengidentifikasi perilaku caring perawat dalam melakukan askep pada klien di ruang rawat inap Rindu B2 RSUP H. Adam Malik Medan berdasarkan sepuluh faktor-faktor caratif yang diungkapkan oleh Watson faktor caratif yang banyak dilakukan perawat adalah menggunakan problem solving dalam pengambilan keputusan (80%) dan faktor yang paling sedikit dilakukan perawat adalah peningkatan belajar mengajar interpersonal (69,52%), berarti perawat telah menunjukkan perilaku caring dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien.
Karena apabila klien merasa puas mereka akan terus melakukan pemakaian terhadap jasa pilihannya.Tetapi jika klien merasa tidak puas mereka akan memberitahukan dua kali lebih hebat kepada orang lain tentang pengalaman buruknya. Suatu rumah sakit harus menerapkan dan mengelola suatu tim yang mempunyai kemampuan mempertahankan klien. Tim yang dikelola tersebut merupakan perawat yang ahli baik secara ilmu maupun pengalaman klinis dilapangan. Pengalaman klinik menunjukkan bahwa banyak perawat yang tidak
mampu memperlihatkan perilaku merawat dengan konsep caring (Hamid,2001). Kepuasan klien juga erat hubungannya dengan asuhan keperawatan yang dilakukan oleh perawat dengan perilaku caring. Anjaswarni (2002) pada hasil penelitiannya menegaskan bahwa didapatkan secara keseluruhan rata-rata tingkat kepuasan klien tinggi terhadap perilaku caring oleh perawat di RSUD Dr.Saiful Anwar Malang. Berdasarkan pencapaian rata-rata tingkat kepuasan ini dapat diketahui bahwa pencapaian tingkat kepuasan klien terhadap perilaku caring (82,25%) yang berarti klien cenderung merasa puas. Hasil penelitian Ismar,A tahun 2002 di Rumah Sakit Muhammad Hoesin Palembang menunjukkan hampir sebagian perawat yang diteliti dinilai tidak caring (48,3%) dan sebagian besar klien tidak puas terhadap perilaku caring perawat (79,2%). Dari data tersebut ada perawat yang yang sudah mempunyai perilaku caring dan masih ada perawat yang belum berperilaku caring sehingga mempengaruhi kualitas asuhan keperawatan yang selanjutnya berdampak terhadap kepuasan klien akan pelayanan rumah sakit secara keseluruhan.
Perilaku caring sangat penting dalam mempengaruhi kualitas pelayanan dan kepuasan pasien terutama di rumah sakit, karena kualitas pelayanan menjadi penentu citra institusi pelayanan yang nantinya akan dapat meningkatkan kepuasan pasien dan mutu pelayanan (Saputri, 2010).
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil analisa dan pembahasan dapat diambil kesimpulan dan rekomendasi mengenai persepsi pasien tentang perilaku caring perawat di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Langsa.
6.1. Kesimpulan
Hasil penelitian persepsi pasien tentang perilaku caring perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah Kota Langsa diperoleh (80%) perawat telah menunjukkan perilaku caring, dan (20%) belum menunjukkan perilaku caring. Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah Kota Langsa telah menunjukkan perilaku caring dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien.
6.2. Rekomendasi
6.2.1. Bagi institusi pelayanan kesehatan
Agar Rumah Sakit Langsa dapat menerapkan program model pengembangan perilaku caring perawat sebagai kinerja perawat dapat meningkat lebih jauh sehingga dapat meningkatkan citra Rumah Sakit Langsa secara keseluruhan.
6.2.2. Bagi Pendidikan Keperawatan
Hasil penelitian ini akan memberikan potrait bagi mahasiswa mengenai persepsi pasien tentang perilaku caring perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Kota Langsa dalam memberikan asuhan pada pasien.
6.2.3 Bagi Praktek keperawatan
a. Hasil penelitian ini akan memberikan bukti empirik, yang dapat digunakan manajemen Rumah Sakit Langsa untuk dapat menyusun strategi dalam meningkatkan perilaku caring perawat.
b. Hasil penelitian ini juga dapat memperluas pandangan perawat manajer maupun perawat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan terkait asuhan keperawatan khususnya caring sebagai inti dan fokus dalam praktik keperawatan professional di Indonesia guna mengangkat citra profesi keperawatan.
6.2.4. Untuk penelitian keperawatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan, acuan dan pertimbangan maupun perbandingan serta sebagai informasi tambahan bagi penelitian keperawatan dan bagi pengembangan penelitian selanjutnya dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain yang mempengaruhi perilaku caring perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien.
DAFTAR PUSTAKA
Anjaswarni,T. (2002). Analisis tingkat kepuasan klien terhadap perilaku caring perawat di Ruang rawat instalasi rawat inap RSUD Saiful Anwar Malang. Jakarta : FIKUI.
Asmadi. (2008). Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: EGC.
Ariani. (2006). Perilaku caring perawat dalam melakukan asuhan keperawatan pada klien di ruang Rawat Inap Rindu B2 RSUP H. Adam Malik Medan: Perpustakaan USU.
Creasia, J.L. & Parker, B. (2001). Conceptual foundation : the Bridge to professional nursing practice, St Louis : Mosby, Inc.
Dwiyanti. (2010). Konsep Caring. Diakses tanggal 10 April 2012. http://staff.undip.ac.id/psikfk/meidiana/2010/06/04/konsep-caring/ Hamid. (2001). Legislasi dan etika praktek profesi keperawatan di Indonesia :
makalah seminar, Malang.
Hidayat, A.A. (2007). Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Ismar, A. (2002). Perilaku caring perawat dan hubungannya dengan kepuasan klien diinstalasi Rawat inap bedah dewasa Rumah Sakit dokterMohammad Hoesin. Jakarta. FIKUI.
Kozier, dkk. (2007). Praktek keperawatan professional Konsep dan perspektif Jakarta: EGC.
Malini, dkk. (2009). Hubungan kecerdasan spiritual dengan perilaku caring perawat di RS DR. M. Djamil Padang. Journal Penelitian Universitas Andalas. Diakses tanggal 17 April 2012 Dari http://repositoryunand.blogdetik.com/2011/04/08/hubungan-kecerdasan-spiritual-dengan-perilaku-caring-perawat-di-rs-drmdjamil-padang-2009/ Morrison, P. (2009). Caring communicating: hubungan interpersonal dalam
keperawatan, Jakarta: EGC.
Nurachmah, E. (2006). Asuhan Keperawatan Bermutu di Rumah Sakit. Disajikan pada seminar keperawatan RS. Islam Cempaka Putih Jakarta. Di buka pada situs :www. Pdpersi.co.id/show=article&starnews
Nursalam (2003). Konsep & Penerapan Metodologi Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika
Polit & Hungler . (1999). Nursing Research Principle and Methods. USA: Lippincott.
Potter & Perry. (2005). Volume 1 Buku Ajar Fundamental Keperawatan Konsep, Proses, dan Praktik Edisi 4. Jakarta: EGC.
Sartika, N. (2011) . Konsep caring menurut Jean Watson. Diakses tanggal 13 April 2012 dari http://www.pedomannews.com/opini/berita-opini/ekonomi/1920-konsep-caring-menurut-jean-watson.
Saputri. (2010). Persepsi Pasien Tentang Perilaku Caring Perawat Dalam Pelayanan Keperawatan diruang Maranatha. Diakses pada tanggal 14 April 2012 dari
Slevin, O & Basford L. (2006) Teori & Praktek Keperawatan Pendekatan Integral pada Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC.
Synder, K. E. B. (2011), Buku Ajar Fundamental Keperawatan Konsep, Proses & Praktek Edisi 7 Volume 1. EGC.
Suwardi. (2008). Hubungan Antara Kecerdasan Emosi dengan Kemampuan Komunikasi Terapeutik Perawat di Rumah Sakit Umum Pandan Arang Boyolali. Di akses pada tanggal 16 April 2012 dari http://etd.eprints.ums.ac.id.
Swanburg, R. C. (1999). Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan. Jakarta. EGC.
Setiadi. (2007). Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan. Yogyakarta : Graha Ilmu
Tomey & Alligood. (2006). Nursing theorists and their wok, St.Louis : Mosby Wahyuni. A.S. (2008) . Hubungan pelaksanaan caratif caring pada perawat
dengan kepuasan pasien rawat inap RS Haji adam malik Medan. Diakses tanggal 16 April 2012 dari
Wolf, Z.R. M. (2003). Relationship Between Nurse Carring and Patient Satifiction in patient Undergoing Hospilazation. Diakses tanggal 16 April 2012 dari
Lampiran I
LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI
RESPONDEN PENELITIAN
Judul : Persepsi Pasien Tentang Perilaku Caring Perawat di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Langsa
Peneliti : Desi Darmawati Nim : 111121096
Saya mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara Medan, akan melakukan penelitian tentang ” Persepsi Pasien Tentang Perilaku Caring Perawat Di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Langsa. Penelitian ini merupakan salah satu kegiatan dalam menyelesaikan tugas akhir di Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
Saya berharap jawaban yang diberikan sesuai dengan pendapat sendiri tanpa dipengaruhi oleh orang lain. Saya akan menjamin kerahasiaan identitas dan jawaban yang saudara berikan. Informasi yang saya peroleh hanya akan digunakan untuk pengembangan ilmu keperawatan dan tidak akan digunakan untuk maksud- maksud lain.
Partisipasi saudara dalam penelitian ini bersifat suka rela. Saudara mempunyai hak bebas untuk berpartisipasi atau menolak menjadi responden dan jika saudara tidak bersedia menjadi responden maka saya akan tetap menghargai dan tidak akan mempengaruhi terhadap proses penelitian ini. Dan jika saudara bersedia, mohon untuk menandatangani lembaran persetujuan ini.
Jika saudara mempunyai pertanyaan mengenai penelitian ini, maka saya dengan senang hati akan memberikan penjelasan.
Tanda tangan : Tanggal: No Responden :
Kuisioner 2: Faktor Caratif Caring Perawat Di Rumah Sakit Umum Daerah
No Pernyataan
TP KD SR SL
1 Perawat mengenal dan memanggil nama saya dengan benar.
2 Perawat memperlakukan saya secara wajar.
3 Perawat tidak memperhatikan saya jika perawat sedang sibuk.
4 Perawat lebih mementingkan kepentingan saya daripada kepentingan pribadi perawat.
5 Perawat membantu saya dalam menghadapi apapun kondisi penyakit saya.
6 Perawat tidak bertanya kepada saya untuk menentukan pilihan (misalnya menanyakan kepada saya apakah ingin di suntik di sebelah kiri atau kanan).
7 Perawat memberi semangat kepada saya saat saya merasa putus asa. 8 Perawat menanamkan kepercayaan
dan harapan kepada saya akan keberhasilan program pengobatan.
9 Perawat kurang sensitif dan tanggap setiap keluhan yang saya rasakan. 10 Perawat memahami dan mengerti
perasaan dan kesulitan yang saya alami ketika saya membutuhkan bantuan.
11 Perawat berusaha menjaga rahasia pribadi (privasi) saya saat melakukan tindakan.
12 Perawat tidak memberikan perhatian penuh kepada saya dan kurang merasakan apa yang saya rasakan. 13 Perawat memperkenalkan diri kepada
saya saat pertama bertemu dan selama perawatan.
14 Perawat bicara dengan sopan dan suara yang lembut.
15 Perawat bersikap biasa saja, tidak hangat dan bersahabat setiap melakukan tindakan.
16 Perawat menjelaskan terlebih dahulu setiap tindakan yang akan dilakukan kepada saya.
17 Perawat berbicara dengan saya menunjukkan ekspresi ramah dan sopan.
18 Perawat tidak mendengar keluhan saya dan melihat kearah lain saat saya berbicara.
19 Perawat menegur saya dengan sopan apabila melanggar anjuran program pengobatan.
20 Perawat memberikan pujian kepada saya berkaitan dengan proses penyembuhan.
21 Perawat menanyakan masalah pribadi saya yang tidak berkaitan dengan keadaan penyakit saya. 22 Pelayanan perawat membuat keluhan
saya berkurang.
23 Perawat memberikan bantuan kepada saya dalam mencari pertolongan kesehatan.
24 Perawat membiarkan saya dalam menyelesaikan masalah kesehatan yang saya rasakan.
25 Perawat menjelaskan setiap keluhan saya secara jelas (rasional) sesuai dengan tingkat pemahaman saya dan cara mengatasinya.
26 Perawat membantu saya untuk melakukan tindakan dengan mempratekkannya kembali (mendemonstrasikan bersama perawat).
27 Perawat kurang terampil dalam melakukan perawatan dan saya tidak merasa nyaman terhadap asuhan keperawatan yang telah diberikan. 28 Perawat menyusun rencana kegiatan
untuk saya sesuai dengan kemampuan saya.
29 Perawat menjaga agar kondisi ruang rawat lingkungan tetap tenang/tidak ribut.
30 kondisi ruangan rawat inap kurang bersih.
31 Perawat memfasilitasi saya untuk
beradaptasi dengan lingkungan(tempat dan orang).
32 Perawat membantu saya untuk dapat memenuhi kebutuhan spiritual. 33 Perawat biasanya tidak menanyakan
keluhan saya.
34 Perawat membantu saya dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari (misalnya makan, minum, BAK, BAB, dan lain-lain).
35 Perawat membantu saya dalam memahami kekurangan dan kelebihan saya.
36 Perawat berusaha melakukan yang biasa saja bukan yang terbaik .
37 Perawat memberikan kebebasan pada saya untuk beribadah.
38 Perawat memberikan salam saat bertemu dan berpisah.
39 Perawat membantu saya menerima kenyataan yang terjadi mengenai kondisi saya.
40 Perawat mampu menyiapkan saya ketika menghadapi kemungkinan yang akan terjadi.
Terimakasih Bapak/iBu, semoga Lekas semBuh...
GET
FILE='E:\Plasdish desy\print skripsi 2\desi spss.sav'. DATASET NAME DataSet1 WINDOW=FRONT.
FREQUENCIES
VARIABLES=UMUR JK Suku PT Pekerjaan LR PR /STATISTICS=STDDEV MEAN MEDIAN
/ORDER= ANALYSIS .
Frequencies
[DataSet1] E:\Plasdish desy\print skripsi 2\desi spss.sav
Statistics
Umur
Jenis
Kelamin Suku
Pendidikan
Terakhir Pekerjaan Lama Rawat
FREQUENCIES
/STATISTICS=STDDEV MEAN MEDIAN /ORDER= ANALYSIS .
Frequencies
[DataSet2] E:\Plasdish desy\print skripsi 2\desi spss.sav
C40
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Tidak pernah 4 7,3 7,3 7,3
Kadang-kadang 25 45,5 45,5 52,7
Sering 25 45,5 45,5 98,2
Selalu 1 1,8 1,8 100,0
Total 55 100,0 100,0
Perilaku caring
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid caring 11 20,0 20,0 20,0
tidak caring 44 80,0 80,0 100,0
Total 55 100,0 100,0
GET
FILE='E:\Plasdish desy\print skripsi 2\desi total caring spss.sav'.
DATASET NAME DataSet1 WINDOW=FRONT. FREQUENCIES
VARIABLES=Total1 Karkteristk Total2 Karkteristk2 Total3 Karkteristk3
Total4 Karkteristk4 Total5 Karkteristk5 Total6 Karkteristk6 Total7
Karkteristk7 Total8 Karkteristk8 Total9 Karkteristk9 Total10 Karkteristk10
Total PR
/STATISTICS=STDDEV MEAN MEDIAN /ORDER= ANALYSIS .
Frequencies
[DataSet1] E:\Plasdish desy\print skripsi 2\desi total caring spss.sav
faktor caratif 1
Total 2
faktor caratif 2
Frequency Percent Valid Percent
faktor caratif 3
Total 4
faktor caratif 4
faktor caratif 5
faktor caratif 6
faktor caratif 7
faktor caratif 8
faktor caratif 9
faktor caratif 10
Frequency Percent Valid Percent
perilaku caring perawat