KEBERHASILAN PARTAI RADIKAL KANAN POPULIS (PARTAI
DEMOKRAT SWEDIA) PADA PEMILU PARLEMEN RIKSDAG 2010
Citamia Ihsana, Nuri Soeseno
Departemen Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Indonesia
ABSTRAK
Skripsi ini membahas mengenai keberhasilan Partai Demokrat Swedia (PDS) melewati electoral threshold 4% dalam pemilu parlemen Riksdag tahun 2010. Untuk pertama kalinya dalam sejarah politik di Swedia, PDS berhasil melewatinya sehingga perolehan suaranya yaitu 5.7% suara pemilih dalam pemilu dihitung menjadi kursi di parlemen. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan melihat dua faktor besar dibalik keberhasilan pemenangan PDS, yaitu (1) faktor eksternal: politisasi masalah sosial dan ekonomi yang mencakup peningkatan jumlah imigran dan persoalan krisis ekonomi/keuangan tahun 2008, serta (2) faktor internal yaitu kemampuan kepemimpinan Jimmie Akesson dalam memperkuat partai dan berkomunikasi dengan masyarakat. Dengan menggunakan teori dari Patrick O. Kelly, Kitschlet, Betz, dan Jens Rydgren (faktor eksternal), serta teori dari David Art dan Cas Mudde (faktor internal), penelitian ini menemukan bahwa faktor internal sebagai faktor paling utama yang berperan dalam memenangkan PDS, sementara faktor eksternal menjadi faktor pendukung.
Kata Kunci: Pemilu Riksdag, Partai Politik, Partai Demokrat Swedia, PDS, imigran, krisis ekonomi.
ABSTRACT
This research tries to answer the question how the Sweden Democrat Party was able to get the the electoral threshold (4%) in the national parliamentary Riksdag election 2010 and acquire seats in the parliament after the 2010 national election. For the first time in Sweden’s political history, Sweden Democrat Party got into with 5.7% votes counted in the election into the seats in the Riksdag parliament. This qualitative research analyzes two main factors behind the successful of the Sweden Democrat Party, which consist of (1) the external factors: politicization of the social and economy problems; rising number of immigrants and economic financial crisis in 2008. And (2) the internal factors: leadership of Jimmie Akesson in strengthening the party internally and his ability to communicate with the people. Using Patrick O. Kelly theory, Kitschlet, Betz, and Jens Rydgren’s theories (external factors), also David Art and CasMudde theories (internal factors), this research finds that both factors give benefits to the party’s successful and internal factors are the main factors in it. However, the external factors are also important as supportive factors.
Keywords: Riksdag election, Political Party, Sweden Democrat Party, PDS, economy crisis, Immigrant.
Keberhasilan PDS (Partai Demokrat Swedia) pada pemilu parlemen Riksdag tahun 2010 merupakan fenomena baru yang sangat menarik diteliti. Di negara yang demokratis dan sangat menjunjung tinggi pluralisme dan nilai-nilai keterbukaan, persamaan, dan keadilan seperti Swedia kemunculan partai berideologi radikal kanan cukup mencengangkan. Tobias Hubinette dan Catrin Lundstrom, pengamat rasisme di Swedia mengatakan, Swedia adalah negara dengan mayoritas masyarakat kulit putih yang paling toleran, adil, dan liberal. Di Swedia bahkan terdapat gerakan anti-segregasi, anti-perbudakan serta penyiksaan yang cukup kuat. Swedia merupakan negara yang tidak membeda-bedakan rakyatnya dari warna kulitnya (colour-blind country).1 Sementara menurut data European Social Survey, Swedia merupakan negara dengan rakyat yang memiliki sikap anti-imigran terendah dibandingkan 22 negara Eropa lainnya.2 PDS merupakan partai yang bertentangan dengan gambaran diatas. Mencengangkan PDS, yang merupakan partai anti-imigran yang menginginkan 90% imigran (khususnya muslim) dipulangkan ke negara asalnya, bisa mendapatkan cukup suara untuk masuk dalam parlemen di Swedia dalam pemilu nasional 2010.
Pemilu parlemen Riksdag 2010 di Swedia memperlihatkan fenomena perubahan politik yang penting bagi Swedia. Di satu sisi, pemilu menegaskan popularitas partai-partai tengah-kanan dan partai tengah-kanan jauh (PDS) yang secara bertahap meningkat khususnya sejak tahun 2006. Melalui pemilu tahun 2006, untuk pertama kalinya setelah 16 tahun Partai Moderat yang dipimpin Fredrik Reinfeldt memimpin pemerintahan di Swedia. Lewat pemilu 2010 Reinfeld kembali dipercaya memimpin Swedia. Yang mengejutkan pada tahun 2010 untuk pertama kalinya PDS berhasil masuk ke parlemen. PDS menembus electoral thereshold 4%, dan mendapatkan 20 kursi atau 5.7% dari total suara pemilih.
Pada sisi lain, pemilu parlemen Riksdag 2010 menegaskan kemerosotan partai-partai tengah kiri di Swedia. Fenomena kemerosotan partai-partai tengah-kiri khususnya Partai Sosial Demokrat di Swedia sejak tahun 1990an sampai tahun 2010 sejalan dengan menurunnya ‘kesejahteraan’ dan keamanan rakyat Swedia. Salah satunya dapat dilihat dari persentase tingkat kemiskinan rakyat Swedia, yaitu akhir 1980an, jumlah rakyat Swedia yang miskin hanya 3%, sementara pada tahun 1994 menjadi 5% dan pada tahun 2008 menjadi 12%. Tingkat kemiskinan terlihat paling tinggi pada kelompok imigran yang baru datang dari negara asal.3 Selain itu 1 Hannah Ralph. Sweden and the Radical Right. UK: CERS Working Paper, 2012. Hlm. 3.
2Ibid., Hlm. 21.
tingkat kriminalitas juga meningkat. Pada tahun 2005 tercatat 1000 tindak kriminalitas dan pada tahun 2010 jumlahnya meningkat sampai 1300 tindak kriminalitas per tahun.4
Permasalahan hubungan antar etnis muncul dengan semakin meningkatnya imigran dari negara-negara non-Eropa. Pada tahun 1960 jumlah imigran di Swedia hanya 4 persen, pada tahun 2010 total jumlah seluruh imigran 11.5 persen; 5 persen dari total jumlah itu adalah imigran muslim. Para imigran muslim ini dianggap kurang dapat berintegrasi ke dalam budaya Swedia. Permasalahan ekonomi dan sosial sebagaimana dikemukakan diatas merupakan isu yang menguntungkan PDS sebagai satu-satunya partai anti-imigran yang ada di Swedia. Platfom PDS menginginkan kembalinya Swedia sebagai negara kesejahteraan yag kuat dan negara dengan satu budaya nasional seperti Swedia masa lalu. Dalam kaitan ini PDS salah satunya memperjuangkan isu mengenai peningkatan kesejahteraan melalui pengurangan jumlah imigran.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana PDS dapat berhasil melewati batas ambang (threshold) 4% untuk pertama kalinya pada pemilu parlemen Riksdag 2010. Penelitian ini mencoba menganalisis faktor-faktor yang memungkinan terpilihnya PDS masuk ke parlemen Riksdag tahun 2010 dengan perolehan suara 5.7%. Apa saja faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi keberhasilan tersebut dan faktor apa yang paling menentukan diantara kedua faktor tersebut.
Faktor Eksternal: Problema Sosial dan Ekonomi dan Faktor Internal: Transformasi Partai
Dalam penelitian ini penulis menggunakan beberapa teori. Teori pertama adalah dari Jens Rydgren. Persoalan integrasi dalam masyarakat multikultur menjadi kompleks ketika dikaitkan dengan permasalahan sosial seperti kriminalitas. Menurut Jens Rydgren, peningkatan kriminalitas berkorelasi positif dengan peningkatan imigran.5 Peningkatan imigran Non-Eropa muslim menimbulkan kekhawatiran masyarakat karena mereka paling sering terlibat kriminalitas. Kebijakan integrasi gagal dilakukan di wilayah yang jumlah imigran Non-Eropa muslim tinggi. Nilai-nilai budsaya imigran muslim kurang dapat menyatu dengan budaya nasional Swedia. Mereka terkesan mensegregasi budayanya dengan berbicara bahasa dan busana yang berbeda.
Sweden: Socialstyrelsen Social Report, 2010. 20 April 2014 http: //www2 sofi.su.se/~cmo/docs/ Poverty_in_Sweden.pdf
4 Johan Fritzell, Jennie Bacchus Hertzman, Olof Bäckman, et al,. Gini Research in Sweden. Sweden: Country Report of Sweden, 2010. Hlm. 60. 20 April 2013 http://gini-research.org/system/uploads/ 451/ original/ Sweden.pdf? 1370090633
Partai radikal kanan populis tidak setuju multikulturalisme dan berpendapat seharusnya hanya ada satu budaya nasional di suatu negara.
Penulis juga menggunakan teori dari Herbert Kitschlet. Menurut Kitschelt, pengangguran dan ketidakpastian ekonomi meningkat di era globalisasi. Kemampuan partai radikal kanan populis meraih simpatik dan dukungan dari kelas the loser of modernization (mereka yang telah kalah dalam persaingan ekonomi) dapat menaikkan dukungan partai radikal kanan populis. Kelompok the loser of modernization frustasi dengan keadaan ekonominya dan kehilangan kepercayaan pada pemerintah (political distrust). Oleh karena itu, mereka memilih partai non-mainstream dengan harapan perubahan. Menurut Kitschet, terdapat korelasi positif antara jumlah pengangguran dengan meningkatnya jumlah pendukung partai radikal kanan populis. Kitschelt menyimpulkan, perasaan anti-imigran, xenophobia, dan rasis bukanlah faktor utama masyarakat memilih partai radikal kanan, melainkan faktor ekonomi lebih menentukan. Pendukung partai radikal kanan populis adalah kelompok muda, berpendidikan rendah, berjenis kelamin laki-laki, dan unskilled worker.6
Teori lainnya adalah berasal dari Betz. Betz sebaliknya mengatakan bahwa ada korelasi positif meningkatnya jumlah imigran, khususnya imigran non-Eropa dengan meningkatnya dukungan partai radikal kanan. Mereka yang mendukung partai tersebut memiliki perasaan anti-imigran. Menurut Rydgren, dukungan untuk partai radikal kanan populis lebih signifikan di negara dengan jumlah imigran tinggi. Berlangsungnya ethnic competition antara penduduk asli dengan penduduk imigran oleh karena penduduk asli merasa tersaingi dengan keberadaan imigran. Kedua kelompok ini cenderung memiliki kesamaan latar belakang ekonomi dan latar belakang pekerjaan.7 Menurut Betz perasaan Xenophobia dan anti-imigran terus dipolitisasi oleh partai-partai radikal kanan populis dan dijadikan alat untuk memenangkan partainya dalam pemilu. Partai ini menyalahkan imigran (khususnya imigran muslim) atas permasalahan ekonomi yang ada.
Dalam menganalisis faktor internal keterpilihan PDS dalam pemilu parlemen Riksdag 2010 penulis menggunakan teori dari David Art. Art berpendapat faktor internal keterpilihan partai radikal kanan populis Eropa merupakan faktor paling penting sebab ketika fakor internal dianalisis hasilnya dapat berlainan pada setiap negara. Faktor internal itu adalah (1)
6 Terri E. Givens. Voting Radical Right in Western Europe. United Kingdom: Cambridge University Press, 2005. Hlm. 14-15.
kepemimpinan (leadership) partai, (2) latar belakang dan kompetensi anggota partai, (3) sejarah partai, (4) tipe anggota dan kohesi partai, (5) legitimasi, serta (6) fleksibilitas partai.8
Menurut Cas Mudde ada dua tipe kepemimpinan: internal dan eksternal. Kepemimpinan eksternal adalah kemampuan karismatik ketua partai dalam meraih simpatik rakyat. Sementara kepemimpinan internal adalah kemampuan ketua partai menjadikan struktur partai kuat dan kokoh (well-organized). Kepemimpinan eksternal/kepemimpinan karismatis diperlukan dalam menyampaikan pesan partai melalui pemberitaan positif media massa seperti televisi, media cetak yang akan berdampak pada peningkatan keterpilihan partai. Mudde juga menegaskan “Any publicity is good publicity”, sebab dapat menngkatkan popularita partai9
Latar belakang anggota partai radikal kanan populis menurut Art dibagi menjadi tiga yaitu professional, teknisian, dan pertanian. Partai yang memiliki mayoritas anggota profesional akan mampu meraih simpatik rakyat. Sementara tipe keanggotaan partai dapat dibedakan menjadi tiga.
Pertama, ekstrimis, yaitu mereka yang tidak setuju demokrasi. Mereka menggunakan cara revolusi dalam membentuk rezim otoriter. Kedua, moderat, yang menyetujui dan menawarkan sistem alternatif demokrasi yang lebih direct dan etnopluralis yang berbeda dengan konservatif (rasis). Kelompok moderat tidak secara frontal menentang keragaman etnik, melainkan perlunya penguatan masyarakat asli (native) dengan menjauhkan diri dari budaya imigran. Mereka tidak setuju cara-cara kekerasan dan tidak mau diidentifikasikan sebagai penerus Nazi/Fasis. Ketiga, adalah oportunis, yaitu mereka yang hanya memanfaatkan situasi yang ada. Keingginan membentuk keserasian (kohesi) partai akan menjadi sulit jika terdapat banyak anggota ekstrimis. Permasalahannya adalah ketika terjadi perbedaan pendapat (faksionalisasi) maka seringkali jalan keluarnya adalah keluar dari partai dan mendirikan partai baru, yang akan berdampak pada popularitas partai dalam pemilu.
Partai perlu memiliki anggota dengan kompetensi tinggi. Apabila pendidikan rendah, aktivis partai sulit berkompetisi dengan aktivis partai lain. Pengetahuan mereka mengenai parlemen dan tugas-tugasnya cenderung rendah. Legitimasi partai radikal kanan populis sering dikatakan rendah karena pendidikan anggota partai rendah dan sering terlibat kasus-kasus kekerasan/kriminal. Faktor internal lain adalah fleksibilitas partai. Partai yang mampu mengubah
image dari partai ekstrim kanan (nazi/fasis) menjadi partai radikal kanan populis yang lebih
8 David Art. Inside the Radical Right: The Development of Anti-Immigrant Parties in Western Europe. New York: Cambridge University Press, 2011. Hlm. 4-53.
fleksibel cenderung lebih dipilih rakyat. Faktor sejarah (historical legacies) partai juga mempengaruhi daya tahan partai. Biasanya partai yang memiliki sejarah partai ekstrim dan berhasil merekrut orang-orang nasionalist-subcultures akan dapat bertahan lama dan dipilih rakyat. Pada akhirnya Art mengatakan partai radikal kanan populis dianggap berhasil pada pemilu parlemen jika menembus batas threshold 5 persen.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yaitu metode penelitian yang digunakan untuk menjawab dan memahami terjadinya sebuah fenomena.10 Sementara jenis penelitiannya adalah deskriptif analitis. Teknik pengumpulan data: studi kepustakaan dan wawancara (langsung dan tidak langsung). Studi kepustakaan menggunakan sumber data dokumen atau statistik seperti literatur yang berkaitan dengan tema penelitian, buku-buku ilmiah, jurnal ilmiah, artikel, ataupun karya tulis/ elektronik. Selain itu berbagai hasil penelitian yang sudah ada juga dijadikan tinjauan pustaka penelitian. Teknik pengumpulan data dengan mewawancarai narasumber, dipergunakan untuk mengumpulkan data primer. Data ini dikumpulkan dari : (1) anggota PDS Henrik Gustafsson, (2) Secretary of Political Affairs of Sweden Embassy Eddy Fonyodi. Anggota PDS dipilih sebagai narasumber untuk mendapatkan data mengenai keadaan PDS saat ini dan dinamik PDS sehingga berhasil masuk ke parlemen Sirkdag 2010. Sementara peneliti memilih narasumber
Secretary of Political Affairs of Sweden Embassy untuk mengetahui perspektif pemerintah Swedia atas kemunculan PDS di Parlemen Sirkdag 2010.
A. Permasalahan Sosial: Peningkatan Imigran, Dinamika Multikulturalisme Masyarakat Swedia, dan Dukungan atas PDS
Swedia adalah negara terbuka, salah satunya dilihat dari penerimaan imigran yang cukup tinggi setiap tahunnya. Jumlah imigran tahun 2010 mencapai 1.33 juta atau 14.3 persen dan tahun 2014 mencapai 20.5 persen. Pada tahun 2010 jumlah kelompok imigran yang berasal dari Non-EU adalah 859.000 atau 64.6 persen dan kelompok imigran yang berasal dari negara-negara
10 Steve Mann & Keith Richards. Research Methods: Introduction to Qualitative Research. 20 April 2014.
European Union adalah sebesar 477.000 atau 35.4 persen.11 Sebelum dikenal sebagai negara penerima imigran, Swedia adalah negara pengekspor imigran. Lalu Pada tahun 1975 pemerintah Swedia mendeklarasikan kebijakan multikultur. Sejak itu Swedia resmi menjadi negara yang memberikan pengakuan dan perlindungan pada budaya minoritas yang ditegaskan dalam salah satu pasal Konstitusi Swedia Baru yang menyatakan: “the right of ethnic, linguistic and religious minorities to preserve and develop their own cultural and religious life.”
Konfigurasi penduduk dan keberagaman budaya dapat dilihat dari perubahan mayoritas imigran dari sebelum tahun 1975 dan setelah tahun 1975 khususnya tahun 2008. Pada tahun 1975 kelompok imigran paling banyak masih berasal dari wilayah Eropa, yaitu Finlandia, Yugoslavia, Denmark, dan Norwegia. Hal ini berbeda sejak diberlakukannya kebijakan multikultur tahun 1975, kelompok imigran non-Eropa mulai masuk ke Swedia. Pada tahun 2008 jumlah kelompok imigran Non-Eropa semakin meningkat, khususnya dari Irak dan Iran. Populasi Muslim meningkat 60 tahun terakhir. Pada tahun 1980an hanya 100.000 yang beragama Islam, sementara tahun 2000 sudah 350.000 beragama Islam.12 Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah Swedia sehigga pemerintah Swedia memberlakukan kebijakan integrasi untuk mengurangi perbedaan kultur yang ada.
Basis Pemukiman Imigran Swedia dan Permasalahannya
Pada periode pertama masuknya labour immigrants tahun 1948-1970 pemerintah menempatkan mereka di kota-kota industri lama (non-metropolitan) di Sodermanland dan Vastmanland.13 Namun tahun 1970an-tahun 2000an imigran berada di wilayah metropolitan di
11 Katya Vasileva. “Population and social conditions.”Eurostat Statistics in focus 34/2014(2011): 3-7. Hlm. 2-6. 28 April 2014 http://epp.eurostat.ec.europa.eu/cache/ITY_OFFPUB/KS-SF-11-034/EN/KS-SF-11-034-EN.PDF
12Erik Dalarud. The Epitome of a Lost People’s Home: Sweden Democrats’ Discourse of Ontological Security And National Identity Formation. Sweden: Gothenburg University, Master’s thesis in Global Studies, 2013. Hlm. 26
13Daniel rauhut, Mats Johansson.”The Regional Settlement Patterns of Immigrants to Sweden 1967-2005 by Age.”Finnish Yearbook of Population Research XLVI(2011): 115-135. Hlm. 121-122. 29 April 2014http://vaestoliittofi
Stockholm, Gotenburg (Vastra Gotalands), dan Malmo (Skane), yang berada di bagian Tengah dan Selatan Swedia.14 Mereka kebanyakan menetap di pinggiran kota, seperti, di distrik
Husby-Stocholm wilayah Uppland dan Rosengard-Malmo di Kabupaten Skane. Tiga puluh persen masyarakat Malmo adalah imigran yang 20 persen dari jumlah total adalah imigran muslim. Malmo merupakan kota dengan jumlah imigran muslim tertinggi di Eropa, khususnya di distrik Rosengard dengan 86 persen penduduk imigran. Banyak dari mereka yang beragama muslim dan setengahnya adalah pengangguran. Situasi ini menimbulkan persoalan integrasi. Selain itu, The Swedish National Council for Crime Prevention Swedia mengungkap kelompok imigran banyak terlibat kriminalitas dan wilayah Tengah dan Selatan adalah wilayah yang cukup tinggi tingkat kriminalitasnya termasuk di Skane.15 Kekerasan/kriminalitas yang dilakukan imigran menimbulkan reaksi dari kelompok pendukung PDS. Press Secretary PDS, Henrik Gustafsson mengatakan 65 persen penghuni penjara berasal dari negara lain/kelompok imigran.16 Bukan tidak mungkin sebagian besar dari mereka adalah pelaku kriminalitas.
Menurut PDS kelompok imigran Muslim ancaman bagi penguatan identitas nasional Swedia. Multikulturalisme yang tinggi di bagian Selatan Swedia adalah wilayah dimana PDS memperoleh dukungan paling banyak pada pemilu parlemen 2010, misalnya di kota Landskrona 15.8 persen penduduknya mendukung PDS pada pemilu parlemen 2010. Kota ini adalah kota industri pinggiran old industry city dengan jumlah pengangguran cukup tinggi. Kota lainnya adalah Kota Bjuv dengan 19.2 persen,17 Kota Bromolla dengan 15.4 persen, distrik Lonngaten (distrik dengan mayoritas masyarakat working-class) dan distrik Almgarden yang merupakan salah satu distrik di Kota Malmo-Skane juga memiliki pendukung kuat PDS. Sebanyak 35 persen penduduk Almgraden atau sekitar satu dari tiga orang adalah pendukung PDS.18 Dalam hal ini Kota Malmo adalah kota dengan pendukung PDS yang cukup tinggi. Hal ini dapat dilihat dari hasil perolehan suara PDS yang menduduki peringkat terbesar ketiga di Malmo setelah Partai Sosial Demokrat dan Partai Liberal. Menurut data dari Beth Hollenbeck, pada tahun 2006 sebanyak 68,6 persen pendukung PDS di Malmo menganggap program multikultur bahasa
14Ibid.,
15Hal ini dapat dilihat dari 17 persen penduduk Skane pernah merasakan kriminalitas pencurian. Sebanyak 19 persen penduduk Skane merasa tidak aman ketika keluar dari rumah dan 29 persen penduduk Skane juga merasa khawatir tentang tindakan kriminalitas di lingkungannya.
16Interview dengan Henrik Gustafsson melalui email pada tanggal 6 Mei 2014.
17The Far Right Watch. The Far Right in Sweden: The Arrival of Sweden Democrat. 19 April 2014.
http://www.thefirstpint.co.uk/2011/02/19/far-right-watch-sweden/.
18Liz Fekete. Malmo and the Fault Lines of Swedish Racism. Institute of Race Relation, 2010. 20 April 2014.
sebagai pembangunan yang negatif dan 94.2 persen menganggap program multikultur religius
(agama) membawa dampak negatif bagi wilayah Malmo. Sembilan puluh tujuh persen dari mereka setuju atas kebijakan pengurangan imigran.19 Menurut pendukung PDS, program multikultur bahasa dan agama cenderung membuat kelompok imigran hanya dapat berbicara bahasannya asal negaranya saja dan tidak mempelajari budaya lain. Hal ini nampak dalam kehidupan imigran di distrik Rosengard-Malmo.
Meningkatnya dukungan untuk PDS di selatan Swedia, khususnya di wilayah Skane dapat dikatakan dampak dari dinamika kebijakan multikultural Swedia. Politik identitas dimainkan oleh partai ini untuk meraih simpatik rakyat. Tingginya kriminalitas imigran di Skane-Malmo, dan meningkatnya dukungan terhadap PDS pada pemilu parlemen 2010 memperlihatkan adanya korelasi positif antara tingginya tingkat kriminalitas, tingginya jumlah imigran dan meningkatnya dukungan terhadap partai. Hal ini sejalan dengan teori dari Jens Rydgren. Selain itu teori Betz yang menyatakan terdapat korelasi positif meningkatnya jumlah imigran, khususnya jumlah imigran non-Eropa muslim dengan meningkatnya dukungan untuk partai radikal kanan populis juga dapat dibuktikan. Pada tahun 2000 jumlah muslim di Swedia hanya 3 persen yang meningkat menjadi 5 persen tahun 2008. Pendiri Anti-Islamic Fund, Kent Ekeroth, yang adalah anggota parlemen asal PDS, mengatakan “Rakyat Swedia lelah merasa seperti berada di negara Arab ketika sedang berjalan di wilayah tempat tinggalnya”.20
Permasalahan Ekonomi: Krisis Ekonomi tahun 2008 dan Dukungan atas PDS
Peningkatan pengaruh dan menguatnya PDS berjalan bersamaan dengan menurunnya kesejahteraan masyarakat Swedia. Hingga memasuki tahun 1980an Swedia bersama dengan negara-negara Skandinavia lainnya dikenal memiliki masyarakat paling equal atau setara dan sejahtera. Kondisi ini mengalami perubahan setelah Swedia mengalami krisis ekonomi tahun 1991 dan khususnya krisis keuangan tahun 2008, ditandai antara lain oleh meningkatnya
19Ibid.,
pengangguran dari 6.1 persen menjadi 8.3 persen tahun 2009.21 Krisis ini merupakan imbas dari krisis ekonomi dunia yang berawal di Amerika tahun 2008 yang berimbas ke Eropa dan Asia.
Krisis ekonomi dan keuangan tahun 2008 menyebabkan kelompok pekerja bawah dan sedang semakin tertinggal jauh dan kompetisi etnik antara kelompok imigran dan kelompok warga asli pun terjadi. Kompetisi etnik terjadi karena memperebutkan peluang pekerjaan yang semakin berkurang saat dan pasca krisis ekonomi keuangan. Wilayah padat penduduk, memiliki banyak sektor industri dan wilayah metropolitan merupakan wilayah dengan tingkat penganggurannya tinggi, seperti Stockholm, Skane (Malmo), dan Goteborg (Vastra Gotaland). Mereka yang pengangguran umumnya tinggal di wilayah Rosengard dan Almgarden di Malmo (Selatan Swedia) dan Husby di bagian barat Stockholm. Almgarden terkenal wilayah basis pekerja blue collars. Penduduk Malmo yang pengangguran 48,2 persen dan mayoritasnya imigran. Di kota ini pulalah terdapat paling banyak pendukung PDS. Press Secretary PDS, Henrik Gustafsson mengatakan secara geografis, Skane dan Blekinge adalah wilayah terkuat PDS. PDS juga kuat di kelompok pekerja biru dan kelompok muda berumur sekitar 25 tahun.22
Beberapa wilayah di Tengah sampai Utara Swedia juga memiliki persentase pengangguran kelompok muda cukup tinggi.23 Gavleborg yang berada di timur tengah Swedia, Dalarna dan Varmland di Tengah Swedia merupakan tiga wilayah yang terrmasuk kedalamnya. Dalarna saat ini memiliki 14.5 persen pengangguran.24 Sementara tingkat pengangguran muda di Varmland pada tahun 2008 mencapai 16.6 persen; jumlah ini meningkat menjadi 23.7 persen pada tahun 2009. Perlu diketahui bahwa ketiga wilayah ini tidak memiliki penduduk imigran yang tinggi tetapi persentase dukungan untuk PDS cukup tinggi yaitu 8.1 persen, lebih rendah 2 persen dari total keseluruhan dukungan untuk PDS di Blekinge dan Skane (kecuali Malmo) yaitu 10 persen.25
21 Krisis ekenomi juga menyebabkan berpindahnya industri internasional ke negara-negara berkembang, juga dialami sebagian industri besar Swedia. Contoh kasus pada perusahaan Saab, sebuah perusahaan industri mobil di kota Trollhattan di Gothenburg yang merupakan turunan perusahaan Motor Co. Perusahaan Saab akhirnya dijual kepada Belanda. Hal ini berdampak langsung pada perekonomian regional di wilayah Vastra Gotaland. Jumlah pengangguran meningkat di wilayah ini. Menurut the Swedish Agency for Economic and Regional Growth dampak pemindahan perusahaan Saab meningkatkan pengangguran baru di wilayah Vastra Gotaland. Pabrik Saab telah merekrut 20.000 pekerja di Swedia. Jumlah pengangguran di Kabupaten Vastra Gotaland pada periode tahun 2008-2009 meningkat 3.21 persen.
22 Interview dengan Henrik Gustafsson melalui email pada tanggal 6 Mei 2014.
23Jimie Akesson. The Key is to Reduce Immigration. 20 April 2104.
http://sverigedemokraterna.se/2013/05/23/akesson-det-avgorande-ar-att-minska-invandringen/.
24European Commission. Regional Policy. 20 April 2014.
Fenomena diatas sesuai teori Kitschelt yang mengatakan mereka yang kalah dalam persaingan ekonomi, frustasi dan tidak lagi mempercayai pemerintah sehingga memilih partai
non-mainstream dengan harapan ada perubahan. Partai-partai radikal kanan populis meraih simpatik dari kelompok yang seperti itu. Keadaan ini nampak pada fenomena keberhasilan PDS pada pemilu parlemen 2010. Wilayah-wilayah yang jumlah penganggurannya tinggi pasca krisis ekonomi merupakan wilayah yang jumlah dukungannya cukup tinggi terhadap PDS. Wilayah-wilayah itu adalah Rosengard dan Almgarden di Malmo, Wilayah-wilayah Blekinge, Goteborg di Vstergotland, Dalarna, Gavleborg, dan Varmland. Wlayah Dalarna, Gavleborg, dan Varmland tidak memiliki penduduk imigran yang tinggi. Hal ini membuktikan hipotesis Kitschelt bahwa faktor ekonomi lebih signifikan dibandingkan dengan faktor peningkatan imigran. Menurut Kitschlet pengurangan subsidi kesejahteraan terjadi karena dampak dari krisis ekonomi itu sendiri bukan karena meningkatnya imigran yang menjadi pengangguran. Kelompok blue collars yang masih bekerja ataupun yang sudah tidak bekerja pasca krisis ekonomi kecewa (political distrust) dengan pemerintahan yang telah mengurangi subsidi kesejahteraan sosial. Subsidi kesejahteraan tersebut berdampak pada kenaikan harga perumahan. Perlu diketahui pemotongan subsidi kesejahteraan misalnya adalah pemotongan tunjangan pengangguran dan dana kesehatan.26
Sementara yang terjadi di Malmo, Blekinge, dan Goteborg berbeda. Ketiga wilayah tersebut merupakan wilayah yang cukup tinggi imigrannya sehingga fenomena ini bisa dikaitkan dengan teori Rydgren bahwa terdapat korelasi positif antara meningkanya jumlah imigran dengan meningkatnya dukungan untuk partai radikal kanan populis. Mereka yang mendukung memiliki perasaan anti-imigran. Malmo, Blekinge, dan Goteborg memiliki penduduk dari kelompok blue collars yang cukup tinggi, pengangguran yang tinggi, dan jumlah pendukung PDS yang cukup tinggi juga. Menurut Rydgren pada wilayah ini terjadi kompetisi entik antara kelompok penduduk asli dengan kelompok penduduk imigran. Kedua kelompok ini cenderung memiliki latar belakang pekerjaan yang sama. Selain itu teori Rydgren yang menyatakan bahwa meningkatnya jumlah kriminalitas sejalan dengan meningkatnya dukungan terhadap PDS dapat dibuktikan khususnya di wilayah Malmo (Skane). Menurut Press Secretary PDS, Henrik Gustaffson, imigran yang terus datang setiap tahunnya meningkatkn pengangguran. Mereka sulit mendapatkan pekerjaan dan butuh sekitar 10 tahun sampai mereka akhirnya mendapat pekerjaan.27
26Christian Ignatzi. Kerusuhan di Swedia dipicu Ketegangan Sosial.10 Mei 2014. www.dw.de/kerusuhan-di-swedia-dipicu-ketegangan-sosial/a-16839393.
B. Transformasi Kepemimpinan Partai dan Pengaruhnya Terhadap Peningkatan Elaktabilitas PDS Dalam Pemilu Riksdag 2010
Pembangunan Internal Partai
PDS dikenal sebagai kelanjutan dari partai Neo-Nazi Swedia yang berkembang pada tahun 1970an. Pemimpin pertama PDS adalah Anders Klarstrom. Selama kepemimpinan Kalstrom, PDS dianggap sebagai partai yang mengusung ide-ide yang sangat rasis. Hal ini karena Karlstrom berasal dari kalangan Neo-Nazi yang bernama Nordiska Rikspartiet. Pada tahun 1995 kepemimpinan Karlstom digantikan oleh Mikael Jannson. Pemimpin baru ini berupaya membenahi partai dengan mulai mengubah citra PDS. Upaya pembenahan ini dapat dilihat dari kebijakan internal partai tahun 1996 yang melarang penggunaan baju seragam partai seperti baju seragam gaya tentara Nazi.28
Latar belakang kehidupan Jannson yang tidak pernah terkait dengan perilaku ekstrim ataupun kriminalitas mempengaruhi cara Jannson membenahi partainya. Kelompok ‘moderat’ kemudian meningkat dan kelompok Neo-Nazi yang merupakan anggota partai yang ekstrim merasa terancam. Mereka masih selalu ingin memakai baju ‘militer Nazi’ pada setiap acara partai. Pada akhirnya tahun 2001 Anders Steen dan Tor Paulsson yang merupakan pelopor dari perlawanan kelompok Neo-Nazi terhadap Jonnson dikeluarkan dari partai. Setelah dikeluarkan dari partai mereka berdua kemudian mendirikan National Democrats Party.29
PDS mengalami perkembangan menarik selanjutnya setelah Jannson menyelesaikan masa jabatannya dan kepemimpinannya digantikan oleh Jimmie Akesson. PDS dipimpin oleh Jimmie Akesson sejak 7 Mei 2005. Akesson merupakan orang muda yang terpelajar, usianya sekitar 26 tahun ketika terpilih. Ia seorang yang berpendidikan tinggi, lulusan dari Lund University dan ia sama sekali tidak memiliki latar belakang kriminal. Akesson bersama-sama dengan Matthias Karlsson, Richard Jomshof, dan Bjorn Soder merupakan anggota-anggota PDS yang terpelajar (berpendidikan tinggi) dan bersih dari kriminalitas. Bjorn Soder kemudian ditunjuk menjadi sekretaris partai pada kemimpinan Akesson.30
28Jens Rydgren. From Tax to Ethnic Nationalism: Radical Right Wing Populism in Sweden. United States: Berghahn Books, 2006. Hlm. 108.10 April 2014 http://books.google.co.id/books?id=zJFaXe6I74MC&pg= PA108&lpg=PA108&dq=Mikael+Jansson+ sweden+democrat&source= bl&ots=W_pbiRXQ8O&sig= X95bPuRLGyriED7o6Q0gSyxhz-E&hl=en &sa=X&ei=ZERnU _CLF8Tl8A WT44L ID Q& redir_esc=y#v= onepage&q= Mikael%20Jansson%20swe den%20democrat&f=false
29David Art. Inside the Radical Right: The Development of Anti-Immigrant Parties in Western Europe. New York: Cambridge University Press, 2011. Hlm. 90.
Sebagaimana pemimpin sebelumnya, Akesson juga berusaha keras mengubah citra partai menjadi lebih baik lagi. Akesson meneruskan kebijakan Jannson sebagai partai yang moderat. Beberapa kebijakan Akesson untuk mengubah citra PDS dianggap strategis. Pada tahun 2006 lambang partai yang seperti lambang Nazi berubah menjadi lambang baru bunga berwarna biru yang lebih populis. Selain itu Akesson juga mengalihkan rujukan partai ini juga dari partai ekstrim kanan France National Front ke partai radikal kanan yang ada di Denmark yaitu Danish People’s Party.31 Akesson juga merekrut kelompok muda yang well educated dan tidak memiliki latar belakang kriminalitas ataupun sejarah ekstrim kanan. Dalam waktu yang tidak terlalu lama anggota partai yang intelek bertambah pada masa kepemimpinan Jimmie Akesson. Misalnya, Sten Andersson dan Michael Zand, mantan anggota Partai Moderat. Akesson mengeluarkan anggota-anggota partai yang ekstrim. Press Secretary PDS, Henrik Gustafsson mengatakan bahwa saat ini sepengetahuannya tidak ada anggota PDS yang memiliki latar belakang ekstrimis. Dan jika ternyata masih ada, mereka pasti akan PDS keluarkan secepatnya.32
PDS dengan keberhasilannya mengubah citra sebagai partai yang moderat mampu menambah pendukung dan jumlah anggotanya. Pada tahun 2010 PDS memiliki jumlah anggota sebanyak 4860 orang yang tersebar ke dalam 8 distrik. Jumlah ini meningkat dari tahun-tahun sebelumnya. Sementara organisasi muda partai yang bernama SDU pada tahun 2014 anggotanya berjumlah 3000 orang, mereka tersebar ke dalam 18 distrik di Swedia.33 Pada tahun 2010 dapat dikatakan bahwa 50 persen dari anggota PDS adalah mereka yang well educated (berpendidikan) dan juga kaum professional.34 Jumlah ini mengalami peningkatan sejak tahun 2007 yang pada waktu itu hanya berjumlah 20 persen dari seluruh anggota partai. Pada saat itu 40 persen anggota partai umumnya berasal dari kalangan petani dan buruh rendah.
Melihat kepada perkembangan internal partai mulai dari kepemimpinan Kalrstrom kemudian Jannson dan Akesson, nampak sekali adanya peningkatan dukungan signifikan dari rakyat kepada PDS. Upaya melakukan transformasi kepartaian yang dimulai dari kepemimpnan
31 Lisa Bjurwarld. From Boots to Suits: Sweden Democrats Extreme Roots. 10 April 2014. http:// euobserver.com/eu-elections/123316.
32Pada musim panas tahun 2010 berdasarkan data dari Ann-Cathrine Jungar dalam presentasinya di Sweden, Södertörn University, EUSA, Baltimore 9-11 May 2013 “Keeping the party together Party leadership and Cohesion in the True Finns and the Sweden Democrats.”, terdapat dua anggota partai Kent Ekeroth dan Erik Almqvist secara mengejutkan diberhentikan dari jabatan eksekutif di PDS karena telah membuat film dokumenter yang rasis dan melakukan tindakan rasis terhadap warga setempat.
33SDU.Sverigedemokratisk Ungdom. 16 April 2014. http://sdu.nu/ .
Jannson dan terus mengalami penyempurnaan pada masa Akesson memimpin partai membuahkan hasil. Pada masa Akesson transformasi paling gencar dilakukan. Jika dikaitkan dengan teori David Art, disini terlihat bahwa telah terjadi reformasi transformasi partai dari yang tadinya anggotanya dan pemimpinnya banyak yang berasal dari kalangan ekstrim menjadi lebih banyak dari kalangan intelek dan bersih dari tindak kriminalitas (moderat). Menurut Art, Partai radikal kanan populis yang memiliki anggota mayoritas berasal dari profesional adalah partai yang akan berhasil meraih simpatik rakyat dan sukses. Menurut Art terdapat tiga jenis/tipe keanggotaan partai, yaitu ekstrimis, moderat, dan oportunis. Sebelum tahun 1995 dan khususnya sebelum tahun 2005, mayoritas anggota PDS adalah kelompok ekstrimis. Art menambahkan bahwa partai yang masih memiliki banyak anggota ekstrim akan sering mengalami ketidak-kohesian. Biasanya karena tidak kohesif memunuculkan banyak faksi-faksi di dalam partai yang dapat melemahkan partai secara organisasi. Hal ini terbukti ketika pada tahun 2001 beberapa tokoh ekstrim keluar dari PDS dan mendirikan partai baru yaitu National Democrats Party. Perpecahan ini menurunkan perolehan suara PDS dalam Pemilu. Namun segi positifnya, sejak tahun 2005 sudah tidak ada lagi faksi-faksi di dalam PDS.
Pembangunan Citra Partai:PDS Mendekati dan Menangkap Harapan/Aspirasi Rakyat
Jimmie Akesson melihat pentingnya meningkatkan strategi komunikasi eksternal partai supaya partai dapat menjangkau masyarakat Swedia secara lebih luas. Akesson berpandangan masyarakat Swedia harus mengetahui bahwa PDS sudah berubah menjadi partai yang moderat dalam mencapai tujuan politiknya, tidak lagi ekstrim seperti dulu. Oleh karena itu sejak tahun 2005 Jimmie membuat strategi baru membuat kebijakan untuk menerbitkan koran SD-Kuriren secara umum dan dalam waktu singkat berhasil mencapai jumlah penerbitan sejumlah 28.000 eksemplar. Selain koran, PDS juga menyebarkan selebaran flyers, leaflet dan artikel. Sebanyak ribuan lembar flyers dikirim kerumah-rumah rakyat di Swedia. Hasil dari usaha Jimmie ini terlihat pada pemilu parlemen nasional 2006 ketika PDS berhasil mendapatkan perolehan suara sebesar 2.9 persen dan mendapat 282 kursi di seluruh parlemen lokal yang ada di Swedia. Perolehan suara ini adalah yang terbesar sejak partai terbentuk.35
Di samping itu perkembangan penting lainnya yang berdampak pada peningkatan dukungan kepada partai adalah media cetak seperti surat kabar koran, televisi, dan radio, menjadi
lebih sering menampilkan PDS sejak tahun 2006, masa kepemimpinan Akesson.36 Publik mengenal Akesson sebagai intellectual debater yang ulung dan memiliki pengetahuan luas sehingga menjadi nilai tambah tersendiri untuk PDS. Kepandaiannya dalam berdebat terlihat ketika Akesson menang dalam debat kandidat melawan ketua Partai Sosial Demokrat, Mona Sahlin pada tahun 2007. Kemunculan Akesson bersama Sahlin ini merupakan yang pertama kali. Selain menghadiri acara televisi, Akesson juga melakukan tour keliling kota-kota di wilayah Swedia untuk dapat mendekati dan berkomunikasi dengan rakyat secara langsung. Akesson melakukan perjalanan politik seperti ini yang umumnya tidak popular dikalangan pimpinan partai-partai mainstream (arus utama).37
Komunikasi eksternal melalui media dan turun langsung kepada rakyat yang mulai sering dilakukan sejak tahun 2006 membuat partai ini mampu memperlihatkan kepada masyarakat luas nilai-nilai ideologi yang diperjuangkannya. Sekaligus mampu memperlihatkan perbedaan ideologi PDS dibandingkan dengan partai-partai lainnya.38
Partai-partai mainstream/mayoritas/arus utama (Partai Moderat Baru dan Partai Sosial Demokrat) oleh masyarakat dianggap gagal dalam melaksanakan integrasi nasional dan menyelesaikan permasalahan ekonomi dan sosial yang ada. Sehingga PDS dianggap sebagai partai alternatif bagi mereka yang menyalahkan kelompok imigran sebagai sumber dari masalah ekonomi dan sosial mereka. Menurut pimpinan partai-partai mainstream, persoalan imigran bukanlah isu utama yang penting untuk dibahas (not a silent issue). Hal ini dilihat dari diantaranya sejak tahun 1981-2002 hanya 1.23 persen manifesto mereka yang berisi tentang imigran dan pada tahun 1984-2004 pembahasan mengenai isu imigran di parlemen tidak lebih dari 0.8 persen.39 Hal ini disetujui oleh Press Secretary dari PDS, Henrik Gustafsson yang mengatakan, terdapat sekelompok masyarakat Swedia yang melihat bahwa besarnya jumlah imigran yang masuk ke Swedia adalah masalah. Dan PDS adalah satu-satunya partai yang memiliki jawaban atas masalah tersebut. 40 Dapat dikatakan bahwa sebagian dari mereka yang kecewa dengan partai-partai mainstream dan khususnya kinerja pemerintah akan memilih PDS
36Akesson melakukan upaya mendekatkan diri pada media dengan cara misalnya, pada bulan Mei 2007 PDS mengadakan pertemuan yang dihadiri 50 jurnalis Swedia.
37 Interview dengan Henrik Gustafsson melalui email pada tanggal 6 Mei 2014 38Expoidag. Election Analysis: Why Sweden Democrats made it to Parliament. 7 Mei
2014.http://expo.se/2010/election-analysis-why-the-sweden-democrats-made-it-to-parliament_3365.html. 39Hanna Ralph. Sweden and the Radical Right. UK: CERS Working Paper, 2012. Hlm. 23-24.
dan atau Golongan Putih (GolPut).41 Kekecawaan ini dinamakan political distrust. Seperti dalam teori Kitschlet bahwa faktor political distrust adalah salah satu faktor yang menyebabkan dukungan terhadap partai-partai radikal kanan populis meningkat di berbagai negara Eropa.
Menurut Akesson, partai penguasa sudah tidak lagi menjalankan tujuan utama dari terbentuknya negara sosialis yaitu negara sebagai “people’s home”. Konsep people’s home42 ini
dipelopori oleh pemimpin Partai Sosial Demokrat Per-Albin Hansson pada periode kepemimpinannya (1932-1946).Konsep People’s Home ini kemudian menjadi inspirasi Akesson dalam menjalankan kebijakan partainya dengan tujuan untuks meraih dukungan dari masyarakat. Akesson selalu mengatakan bahwa kelompok imigran khususnya imigran muslim adalah ancaman bagi people’s home nya rakyat Swedia. Pada tanggal 19 Oktober 2009 Akesson menulis sebuah artikel di salah satu surat kabar di Swedia dengan judul “Muslim is our Biggest Foreign Threat”. Mereka yang menganggap bahwa kelompok imigran khususnya imigran Muslim sebagai ancaman bagi keberlangsungan hidup mereka akan terpesona membaca artikel ini dan memilih untuk berpihak kepada PDS. Dan hal ini dibuktikan pada perolehan suara PDS pada pemilu parlemen 2010 yang mendapat 5.7 persen hampir dua kali lipat perolehan pada pemilu parlemen 2006, yaitu 2.9 persen. Media pun semakin tertarik dengan isu ini. Hal ini dibuktikan dengan artikel-artikel yang diterbitkan media meningkat pesat sejak tahun 2006 sampai tahun 2010, khususnya dari tahun 2009. Pada tahun 2006 hanya 100 media yang meliput PDS. Sementara pada tahun 2010 terdapat 400 media yang meliput PDS.43
PDS Sebagai Korban (underdog): We are the Democratic Victims
PDS merupakan satu-satunya partai yang tidak disukai oleh partai-partai mainstream. PDS sejak dahulu memiliki image negative dihadapan mereka dan masyarakat Swedia secara umum. Seperti yang sebelumnya sudah dijelaskan bahwa pemberitaan media mayoritas negatif. Selain dalam pemberitaan media, PDS juga kerap kali didemonstrasi dan dipersulit dalam menyelenggarakan acara-acara partai. Berikut pernyataan dari salah satu anggota partai : “If we put up an office, I guarantee it will be destroyed by left-wing activists within a week.”
Satu-41Lihat Bab II mengenai pergeseran pemilih. Pada tahun 2010, sebanyak 20% pemilih Swedia memilih GolPut.
42Hansson salah seorang pimpinan Partai Sosial Demokrat dalam pidatonya tahun 1928 mengatakan Negara People’s Home adalah bangsa sejahtera dengan komunitas nasional. Pada konteks dahulu masyarakat Swedia masih sangat homogen. Menurut Akesson bahwa kondisi saat ini harus dikembalikan pada kondisi dahulu ketika rakyat masih homogen dan komunitas nasional adalah komunitas Swedish people. Lihat dalam Anders Hellström and Tom Nilsson.“'We Are the Good Guys': Ideological positioning of the nationalist party Sverigedemokraterna in contemporary Swedish politics.”EthnicitiesSagepub Publications Vol 10(1) (2010): 57-76. Hlm. 62.
satunya tempat yang paling aman adalah di distrik Landskrona dimana PDS mendapatkan 22 persen suara pada pemilu parlemen 2006. Dalam mengatasi hal tersebut maka umumnya para anggota partai mengadakan pertemuan atau rapat-rapat di rumah pribadi salah satu anggota partai.44 Mengenai partai-partai mainstream yang tidak menyukai PDS dapat dilihat dari ketidakmauan mereka dalam bekerjasama dalam hal apapun dengan PDS.
Kerasnya realitas politik yang dihadapi partainya, Akesson sering tampilkan pada setiap pidato dan penampilannya di televisi. Akesson kerap menceritakan pengalaman partainya yang sulit mendapatkan akses ke informasi politik dari partai-partai lain. Selain itu Akesson menyatakan bahwa perwakilan PDS terdiskriminasi secara berulang-ulang dalam dunia pekerjaan dan politik. Dalam beberapa kali pertemuan partai, protes yang berujung pada kekerasan kerap terjadi, dan beberapa anggota partai terluka. Menurut Akesson pada pidatonya yang dimuat dalam artikel tahun 2007, PDS adalah the underdogs. The Underdogs dapat diartikan sebagai korban dari ketidakadilan sosial ataupun politik.45 Akesson menambahkan bahwa “we are the democratic
victims”. Didalam demokrasi, hak berdialog dan kebebasan berbicara adalah prinsip-prinsip dasarnya. Tetapi, dalam praktik politik di Swedia sering kali komunikasi antara PDS dengan partai-partai lainnya tidak menghasilkan solusi. Seringkali pandangan dan usulan-usulan kebijakan dari PDS tidak dihiraukan oleh partai-partai lainnya. Disinilah PDS memposisikan dirinya sebagai the underdog. Salah satu visi dari PDS adalah bahwa demokrasi seharusnya menjalankan the will of the all people.46
Dengan kemampuannya berbicara dan berdebat Akesson mampu mengeksploitasi isu mengenai ‘the underdog’ tadi sehingga menarik perhatian masyarakat dan pada gilirannya menimbulkan rasa simpatik rakyat. Akesson mengatakan bahwa dalam negara demokrasi seperti di Swedia masih ada diskriminasi terhadap partai tertentu (PDS) untuk hidup dan berkembang secara bebas seperti partai-partai lainnya. Upaya Akesson mengeksploitasi isu ini nampaknya memperoleh dukungan dari media, bahwa sejak tahun 2006 sampai tahun 2010 terjadi peningkatan signifikan jumlah artkel tentang PDS yang diterbitkan media Swedia.
Dari keseluruhan analisis bab ini maka dapat disimpulkan bahwa teori David Art dapat dibuktikan dalam kasus peningkatan elaktabilitas PDS pada pemilu Riksdag 2010. Teori Art
44Ibid., Hlm 92-94.
45World English Dictioanry.8 April 2014.http://dictionary.reference.com/browse/underdog
mengatakan bahwa pembangunan internal partai melalui kepemimpinan internal partai sangat penting untuk dilakukan. Pembangunan internal partai dilihat dari jumlah dan aktifis partai, kohesi partai, kompetensi anggota partai, legitimasi partai, dan fleksibilitas partai. Sejak kepemimpinan Jansson dan khususnya kepemimpinan Akesson, PDS mulai membenahi dirinya. Aktifis partai jumlahnya terus bertambah khususnya pada kepemimpinan Akesson. Ketidak-kohesian partai masih terjadi di kepemimpinan Jansson ketika pada tahun 2001 kelompok ekstrim keluar dan mendirikan Partai Nasional Demokrat. Tetapi pada kepemimpinan Akesson kohesi nampak terlihat ketika tidak ada faksi-faksi didalam internal partai. Kompetensi anggota partai pada masa kepemimpinan Akesson nampak semakin baik dilihat dari semakin meningkatnya jumlah anggota partai yang intelek. Sebanyak 50 persen anggota PDS tahun 2010 adalah berasal dari kelompok intelek. Legitimasi partai kemudian terbangun dari image partai yang mulai berubah. Hal ini terlihat diantaranya pada tahun 2006, Akesson mengganti lambang partai yang tadinya terlihat seperti lambang Nazi menjadi lambang bunga berwarna biru yang lebih populis, juga anggota partai yang semakin terlihat moderat. Kemoderatan ini kemudian diartikan bahwa PDS lebih fleksibilitas. Tetapi menurut Mudde, kepemimpinan eksternal juga perlu dimiliki oleh pemimpin partai radikal kanan populis di Eropa. Kepemimpinan eksternal tersebut adalah kemampuan Akesson dalam mencitrakan partainya sebagai partai yang dapat menangkap aspirasi sebagian rakyat yang tidak menyukai keberadaan kelompok imigran di Swedia dan menjadikan partainya sebagai korban dari demokrasi (underdog). Akesson memiliki kemampuan debat yang sangat baik yang kerap dapat mengalahkan pesaing debatnya. Media disini berperan penting dalam menyampaikan pesan partai.
Kesimpulan
Berangkat dari pertanyaan penelitian mengenai bagaimana PDS yang sektarian, anti pluralis serta memperjuangkan pembatasan dan pemulangan para imigran ke negara asal mereka --yang bertentangan dengan nilai-nilai yang dipercaya sebagai nilai-nilai bangsa Swedia-- dapat berhasil berhasil memperoleh kursi dalam parlemen Riksdag 2010. Penelitian ini berusaha melihat faktor-faktor apa saja yang mendukung keberhasilannya.
mereka tidak berada di rumah sendiri. Perasaan ini diibaratkan oleh PDS sebagai hilangnya apa yang disebut sebagai ‘peoples home’. Ketidaknyamanan yang dirasakan penduduk lokal diperbesar oleh perbedaan nilai budaya dan agama para imigran (khususnya muslim) yang dianggap kurang punya keinginan berintegrasi dengan budaya lokal. PDS menangkap aspirasi dan harapan masyarakat ini; mereka mengusulkan kebijakan pengetatan dan pemulangan imigran. Isu ini meningkatkan dukungan terhadap Partai Demokrat Swedia.
Fenomena perpolitikan sedemikian sejalan dengan teori yang dikemukakan sejumlah ilmuwan politik yang mengkaji fenomena naiknya partai-partai kanan radikal populis di Eropa. Menurut Rydgren terdapat korelasi positif antara meningkatnya imigran dan meningkatnya kriminalitas dengan meningkatnya dukungan terhadap PDS pada pemilu Riksdag 2010. Hal ini dibuktikan dengan tingginya jumlah pendukung PDS di Malmo-Skane dan Gotenburg yang jumlah kelompok imigrannya dan tingkat kriminaltisnya tinggi (khususnya kelompok imigran muslim). Selain itu menurut Betz, terdapat korelasi positif antara meningkatnya jumlah imigran, non-Eropa khususnya muslim, dengan meningkatnya dukungan terhadap partai radikal kanan populis. Hipotesis ini juga terbukti di kedua wilayah tersebut khsususnya wilayah Malmo.
Jumlah pengangguran yang tinggi dan kelompok blue collars yang tinggi juga terdapat di wilayah Malmo-Skane dan Gotenburg. Disini pula terdapat jumlah imigran yang tinggi dan dukungan yang tinggi kepada PDS pada pemilu Riksdag 2010. Seperti diketahui bahwa mayoritas pendukung PDS adalah kelompok blue collar dan ada di usia muda. Oleh karena itu teori Rydgren mengenai kompetisi etnik dapat dibuktikan. Sementara teori Kitschelt dapat dibuktikan di wilayah Dalarna, Gavleborg, dan Varmland ketika tidak terdapat jumlah imigran yang banyak di wilayah-wilayah tersebut tetapi memiliki pendukung PDS yang mulai cukup signifikan. Kitshcelt mengatakan bahwa faktor kesejahteraan ekonomi lebih kuat mempengaruhi dukungan terhadap PDS daripada faktor anti-imigran/perasaan xenophobia.
Penulis menyimpulkan bahwa faktor eksternal yaitu permasalahan sosial dan ekonomi dan faktor internal yaitu kepemimpinan memiliki pengaruh positif atas keberhasilan PDS pemilu Riksdag 2010. Partai Demokrat Swedia tidak mungkin berhasil menembus ambang batas suara pemilih jika tidak ada kelompok-kelompok masyarakat yang lelah berhadapan dengan permasalahan ekonomi dan sosial. Meskipun demikian, PDS tidak mungkin berhasil jika kekuatan partai secara internal tidak dibangun. Transformasi internal partai merupakan sebuah faktor penting yang memungkinkan PDS mendapatkan 5.7 persen suara pemilih dan mengirimkan wakil-wakilnya ke parlemen Swedia.
Kepustakaan
Art, David. Inside the Radical Right: The Development of Anti-Immigrant Parties in Western Europe. New York: Cambridge University Press, 2011.
Dalarud, Erik. The Epitome of a Lost People’s Home: Sweden Democrats’ Discourse of Ontological Security And National Identity Formation. Sweden: Gothenburg University, Master’s thesis in Global Studies, 2013.
Fekete, Liz. Malmo and the Fault Lines of Swedish Racism. Institute of Race Relation, 2010. 20 April 2014. http://www.irr.org.uk/news/malmo-and-the-fault-lines-of-swedish-racism/.
Fritzell, Johan, Jennie Bacchus Hertzman, Olof Bäckman, et al,. Gini Research in Sweden.
Sweden:Country Report of Sweden, 2010. 20 April 2013 http://gini-research.org/system/uploads/ 451/ original/ Sweden.pdf? 1370090633
Givens, Terri E. Voting Radical Right in Western Europe. United Kingdom: Cambridge University Press, 2005.
Hellström, Andres & Nilsson, Tom. “'We Are the Good Guys': Ideological positioning of the nationalist party Sverigedemokraterna in contemporary Swedish politics.”Ethnicities Sagepub Publications Vol 10(1)(2010): 57-76.
Interview dengan Henrik Gustafsson melalui email pada tanggal 6 Mei 2014
Jonsson, Jan. 0, Mood, Carina, dan Erik Bihaen . The National Board of Helath and Welfare,
Poverty in Sweden 1991—2007 Change, dynamics, and intergenerational Transmission of Poverty during Economic Recession and Growth . Sweden: Socialstyrelsen Social Report, 2010. 20 April 2014 http: //www2 sofi.su.se/~cmo/docs/ Poverty_in_Sweden.pdf
Mudde, David. Populist Radical Right Parties in Europe. New York: Cambridge University Press. 2007. Hlm. 261-270.
Rydgren, Jens. “Voting for the Radical Right in Swedish Municipalities: Social Marginality and Ethnic Competition?.” Journal of Scandinavian Politics Studies Vol. 34 – No. 3 (2011): 202- 225.
The Far Right Watch. The Far Right in Sweden: The Arrival of Sweden Democrat. 19 April 2014. http://www.thefirstpint.co.uk/2011/02/19/far-right-watch-sweden/.