• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBANDINGAN POSTUR MILITER INDONESIA-MALAYSIA DAN IMPLIKASI PADA POTENSI KONFLIK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PERBANDINGAN POSTUR MILITER INDONESIA-MALAYSIA DAN IMPLIKASI PADA POTENSI KONFLIK"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

PERBANDINGAN POSTUR MILITER INDONESIA-MALAYSIA DAN

IMPLIKASI PADA POTENSI KONFLIK

Disusun dan diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Strata-1

Jurusan Hubungan Internasional

Oleh :

Doni Irawansyah

(06260136)

JURUSAN HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

(2)
(3)
(4)
(5)

PERNYATAAN ORISINILITAS

Yang Bertanda Tangan dibawah ini :

Nama : Doni Irawansyah

Tempat Tanggal lahir : Lampung, 31 Maret 1986

Nim : 06260136

Jurusan : Hubungan Internasional

Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Menyatakan bahwa karya ilmiah (Skripsi) dengan judul :

PERBANDINGAN POSTUR MILITER INDONESIA-MALAYSIA DAN IMPLIKASI PADA POTENSI KONFLIK

Adalah bukan karya tulisan ilmiah (Skripsi) orang lain, baik sebagai ataupun seluruhnya, kecuali dalam bentuk kutipan yang telah saya sebutkan sumbernya denagn benar.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan apabila pernyataan ini tidak benar, saya bersedia mendapatkan sanksi dengan ketentuan yang berlaku.

Malang,

Yang menyatakan,

(6)

UCAPAN TERIMA KASIH

Alhamdulilah, serta puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah

memberikan curahan rahmat dan karunia-Nya, Atas izin dan petunjuk-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi dengan judul “Perbandingan Postur Militer Indonesia-Malaysia Dan Implikasi Pada Potensi konflik” ini dapat

terselesaikan.

Penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat dalam mencapai gelar

sarjana Ilmu social dan Ilmu politik pada Universitas Muhammadiyah Malang.

Disamping itu juga peneliti mengharapkan penelitian ini bisa menjadi karya yang

bermanfaat dan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pengetahuan

Hubungan Internasional. Namun keterbatasan dan kelemahan penulislah yang

menyebabkan tugas akhir ini mungkin jauh dari kata sempurna.

Selama penyusunan tugas akhir sebagai seorang mahasiswa, penulis telah

banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak berupa sumbangan pemikiran dan

tenaga yang ikut ambil bagian didalamnya yang tak terhingga nilainya.pada

kesempatan ini penulis ingin mengucapkan rasa terhormat dan terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada:

1. Kedua orang tua tercinta yang senantiasa memberikan kasih sayang,

motivasi dan nasihat yang tak ternilai harganya. Saya menyadari, tanpa

beliaulah mustahil saya bisaa menjadi sekarang. Begitu banyak

pengorbanan yang beliau berikan kepada saya, dari kecil hingga

dewasa saat ini. Juga kepada kakakku tercinta M. Neco Maulana, SE

dan adik-adikku Romi, Robi, Agung, Lisa dan Seven yang selalu

menjadi semangat dalam menyeselasikan skripsi ini.

2. Bapak Ruli Inayah Ramadhoan S, Sos, M.Si dan M. Syaprin Zahidi

M.A selaku Dosen pembimbing Skripsi. Hanya dengan petunjuk dan

kemudahan beliau berdua skripsi ini dapat diselesaikan. Dan kepada

seluruh dosen pengajar Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial

(7)

3. Seluruh pihak yang memberikan saya dukungan dan motivasi:

Anak-anak kontrakan A. Juhairi, S.IP, Audi Fadh, S.IP, M. Abu Bakar, S.IP,

Herwanto, S.IP, Jaya, Daus, Jhoni, Dayat, Fery, kinyong, Permadi,

Bimo dan semua pihak yang penulis tidak bisa sebutkan satu persatu.

Terima kasih buat canda tawa yang selama ini kawan, kalian semua

luar biasa..

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya

kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan, bimbingan serta memotivasi

selama penyusunan skripsi ini. Bila terdapat kekeliruan maupun kesalahan yang

peneliti lakukan baik disengaja maupun tidak disengaja, maka sepatutnyalah

peneliti mohon maaf yang sebesar-besarnya. Sebagai akhir kata penyusunan

skripsi yang jauh dari kata sempurna ini dapat bermanfaat bagi semua

pihak.Amien...

Motto : Masa depan anda tidak ditentukan oleh pendidikan tetapi ditentukan pada tekad anda.

Malang,

(8)

DAFTRA ISI

Lembar Persetujuan Skripsi ... i

Lembar Pengesahan ... ii

Berita Acara Bimbingan Skripsi ... iii

Pernyataan Orisinalitas ... iv

Ucapan Terima Kasih ... v

Abstract ... vi

Abstaksi ... vii

Daftar Isi ... viii

Daftar Gambar ... xii

Daftar Tabel ... xiii

BAB I PENDAHULAUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Maslah ... 5

1.3 Tujuan Penelitian ... 6

1.4 Penelitian Terdahulu ... 6

1.5 Konsep dan Teori ... 8

1.5.1 Anarki Internasional ... 8

1.5.2 Security Dilemma ... 10

1.5.3 Konflik Perbatasan ... 13

1.6 Metode Penelitian ... 16

1.6.1 Tipe Penelitian ... 16

1.6.2 Teknik Pengumpulan Data ... 16

1.6.3 Ruang Lingkup (Batasan) Penelitian ... 17

1.6.4 Kriteria Dan Rasionalisasi Perbandingan ... 17

1.7 Hipotesa ... 18

(9)

BAB II DINAMIKA KAWASAN ASIA TENGGARA DAN KONFLIK BILATERAL INDONESIA-MALAYSIA

2.1 Dinamika Politik Dan Kawasan Asia Tenggara ... 20

2.1.1 Asia Tenggara dan Masalah Perbatasan ... 28

2.2 Gambaran Konflik Perbatasan Bilateral Indonesia-Malaysia ... 34

2.2.1 Konflik Sipadan-Ligitan ... 38

2.2.2 Konflik Blok Ambalat ... 40

2.2.3 Sengketa Karang Unarang ... 42

BAB III POSTUR MILITER INDONESIA-MALAYSIA 3.1 Postue Militer Negara ... 46

3.1.1 Klasifikasi Persenjataan ... 47

3.1.1.1 Klasifikasi Persenjataan Angkatan Darat ... 48

3.1.1.2 Klasifikasi Persenjataan Angkatan Laut ... 49

3.1.1.3 Klasifikasi Persenjataan Angkatan Udara ... 51

3.2 Postur Militer Indonesia ... 53

3.2.1 Personel (Tentara) ... 54

3.2.2 Alutsista ... 55

3.2.3 Budget ... 65

3.2.4 Military Concern Indonesia Tahun 1998 – 2014 ... 65

3.3 Postur Militer Malaysia ... 68

3.3.1 Personil (Tentara) ... 68

3.3.2 Alutsiata ... 69

3.3.3 Budget (Anggaran) ... 77

3.3.4 Military Concern Malaysia ... 77

BAB IV ANALISIS PERBANDINGAN POSTUR MILITER DAN POTENSI KONFLIK ANTARA INDONESIA-MALAYSIA 4.1 Similarity (Persamaan) Postur Militer Indonesia-Malaysia ... 79

4.1.1 Sumber Daya Militer (Military Resources) ... 79

(10)

4.2 Deferences (perbedaan) Postur Militer Indonesia-Malaysia ... 82

4.2.1 Sumber Daya Militer (Military Resources) ... 82

4.2.2 Military Concern ... 87

4.3 Analisis Potensi Konflik ... 88

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan ... 100

5.2 Rekomendasi ... 102

(11)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Skema Potensi Konflik ... 15

Gambar 1.2 Operasionalisasi Konsep ... 16

Gambar 2.1 Peta Kawasan Asia Tenggara ... 29

(12)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Man Power Indonesia ... 54

Tabel 3.2 Sistem senjata Angkatan Udara Indonesia ... 56

Tabel 3.3 Sistem senjatan Angkatan Laut Indonesia ... 58

Tabel 3.4 Sistem senjata Angakatan Darat Indonesia ... 62

Tabel 3.5 Budgeting ... 65

Tabel 3.6 Man Power Malaysia ... 69

Tabel 3.7 Sitem senjata Angkatan Udara Malaysia ... 70

Table 3.8 Sitem senjata Angkatan Darat Malaysia ... 72

Tabel 3.9 Sistem senjata Angkatan Laut Malaysia ... 75

(13)

DAFTAR PUSTAKA Buku

Anissa, Khoridatul.. Malaysia Macan Asia, Yogyakarta, GARASI, 2009 dalam Barry Buzan, People, States, and Fear: The Nasional Security Problem in the Third World, dalam Azar dan Moon, ed. National Security

Acharya, Amitav. 2001. Constructinga Security Community in Southeast Asia : ASEAN and the

Problem of Regional Order. Routledge : London and New York

Booth, Ken & Nicholas J. Wheeler, 2008, The Security dilemma: Fear, Cooperation and Trust in World Politics, New York, Palgrave

Buzan, Barry and Eric Herring. 1998. The Arms Dynamic in World Politics. London: Lynne Reinner Publishers

Cipto, Bambang Dr. MA. Hubungan Internasional Di Asia Tenggara Teropong Terhadap Dinamika, Realitas, Dan Masa Depan. Pustaka Pelajar

Heryaman, Oman S.IP, M.Si. Postur Militer Negara-Negara Asia Tenggara Dinamika Persenjataan Dan Pergeseran Lingkung Stratrgis Internasional Dari Era Ke Pasca Perang Dingin Bagaimana Supremasi dan Postur Kekuatan Pertahanan Indonesia (TNI).

Jackson, Robert & Georg.Sorensen, 1999. “Pengantar Studi Hubungan Internasional”. Oxford University Press: New York

Jervis, Robert. 1976. The Spiral of International Insecurity, dalam Richard Little dan Michael Smith, Eds. 1980. Perspectives on World Politics. Third Edition, London dan New York.

Jones, Matthew. 2002.Conflict and Confrontation in South East Asia, 1961–1965: Britain, the United States and the Creation of Malaysia, Cambridge, Cambridge University Press

Kusumaatmadja, Mohtar. 1983. Politik Luar Negeri Indonesia dan Pelaksanaannya Dewasa Ini.Alumni: Bandung

Marbun, BN. S.H. 1996. Kamus Politik. Jakrata: Pustaka Sinar Harapan

Sulistyo, Iwan. 2012. Kebijakan Pertahanan Indonesia 1998-2010 dalam Merespon Dinamika Lingkungan Strategis di Asia Tenggara. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

(14)

Seokamto, Soedjono. 1990. Sosioligi: Suatu pengantar. Jakarta: Rajawali Press

Wallensteen, Peter. 2002. Understanding Conflict Resolution: War, Peace and the Global System. London: Sage Publication

Widjajanto, Andi, Edy Prasetyono, Makmur Kelit, 2012. Dinamika Persenjataan dan Revitalisasi Industri Pertahanan, Jakarta Universitas Indonesia (UI-Press).

Jurnal

Anggoro, Kusnanto. Strategi Pertahanan Kepulauan, Diplomasi Kelautan, dan Kekuatan Matra Laut Indonesia, dalam Jurnal Diplomasi. Vol. 1 No. 2, September, 2009

Butterfield, Herbert. 1950. The Tragic Element in Modern International Conflict, dalam The Review of Politics, Vol. 12, No.2, Cambridge University Press

Wulandari, B.Tjandra SH.,MH. Sengketa Wilayah Perbatasan Perairan Ambalat Karang Unarang Pasca Kasus Sipadan dan Ligitan (Tinjauan Hukum Laut Internasional).

Herz, John H. 1950. Idealist Internationalism and the Security dilemma, dalam World Politics, Vol. 2, No. 2, Cambridge University Press

ASEAN Selayang Pandang. Edisi-19, 2010: “Sejarah Berdirinya ASEAN

Diandra Megaputri Mengko, Media Indonesia.

Bunnell, Frederick. No Title, The Journal of Asian Studies. 1974. Vol. 36, Nomor 01, tahun 1976, hal.186. Review 55 tentang Konfrontasi: The Indonesia–

Malaysia Dispute, 1963–1966, J.A.C. Mackie, Kuala Lumpur, Oxford

University Press

Surat Keputusan Menteri Pertahanan Nomor: SKEP/557/M/VII/2001 tentang Rencana Strategis Pembangunan Pertahanan Tahun 2000-2004.

Dwi Haryono, Indo, Konflik Perbatasan Negara Dikawasan Asia Pasific.

Indonesia Protes Kontrak Malaysia dengan Shell” dalam harian Kompas, diakses 26 Februari 2005.

Skripsi

(15)

Nadya Herdiani, Gita. 2012. Dinamika Persenjataan Indonesia dan Malaysia: Studi Tentang Peningkatan Kapabilitas Militer Indonesia Berkaitakn Dengan Konflik Ambalat, UI,

Internet

Andrea Sinar Harapan, Faustinus. ASEAN sebagai peredam konflik, Centre for Strategic and International Studies – Jakarta,16 June 2003. http://www.csis.or.id/Publications-OpinionsDetail.php?id=93 diakses 17-05-2013

Antara News, Korsel Sediakan Kerjasama Industri Pertahanan Integratif, di: http://www.antaranews.com/berita/372680/korsel-sediakan-kerja-sama-industri-pertahanan-integratif, diakses 3 Juni 2013

Boundary Dispute”

di:http://wiki.answers.com/Q/What_is_the_definition_for_Boundary_disp utes_also_definitional locational_perational_and_allocational, diakses pada 4 Juni 2012

Balitbang Kemhan, Strategi Sistem Pertahanan dan Sistem Menajemen

Pertempuran, di:

http://www.balitbang.kemhan.go.id/?q=content/strategi-perencanaan-sistem-pertahanan-dan-sistem-manajemen-pertempuran, diakses 11 Juni 2013

Centre For Maritime Security And Diplomacy (mima).malaysia’s and indonesia’s

naval development: a comparative analysis. Dalam

http://www.mima.gov.my/mima/wp-content/themes/twentyeleven/cms/uploads/presentation/135.Malaysian%2 0%20Indonesian%20Naval%20Development.pdf diakses tanggal 12-05-2013

Global Fire Power, Daftar Negara Terkuat di Bidang Militer 2013, di: http://www.globalfirepower.com/, diakses 3 Juni 2013

Helvas Ali, Alman. Pembangunan Angkatan Laut Malaysia: Implikasi dan

Respon Indonesia, di: http://www.fkpmaritim.org/?p=1099, diakses 11

Juni 2013

, Alman. Arsitektur Pertahanan Indonesia ke Depan: Mendukung

Strategi dengan Perencanaan Kekuatan, di:

http://www.fkpmaritim.org/?p=1102, diakses 11 Juni 2013

(16)

40/image-upload-478-739099.jpg&w=410&h=388&ei=P6yVUb-1BsaXrAfes4GwCw&zoom=1&ved=1t:3588,r:2,s:0,i:86&iact=rc&dur=8 &page=1&tbnh=183&tbnw=194&start=0&ndsp=12&tx=101&ty=73&biw =1024&bih=629, diakses 10-05-2013.

http://www.google.com/imgres?sa=X&hl=id&noj=1&biw=1024&bih=629&tbm= isch&tbnid=F5cPnrJGDzqkdM:&imgrefurl=http://filsufgaul.wordpress.co m/2012/03/04/&docid=Bi5tN8QsfbXTgM&imgurl=http://filsufgaul.files. wordpress.com/2012/03/petaasean.jpg&w=1200&h=750&ei=x6uVUeimG sytrAe_mIHgAg&zoom=1&iact=rc&dur=14&page=1&tbnh=177&tbnw= 284&start=0&ndsp=12&ved=1t:429,r:4,s:0&tx=205&ty=462, diakses 17-05-2013.

Indonesian Navy ships and equipment.Navy Recognition.Dalam

http://www.navyrecognition.com/index.php?option=com_content&task=vi ew&id=811, di akses tanggal 11-05-2013.

Indonésie forces terrestres. Army Recognition. Dalam

http://www.armyrecognition.com/indonesie_armee_indonesienne_forces_terrestre s_fr/indonesie_armee_indonesienne_forces_terrestres_equipements_milita ires_vehicules_blindes_information.html, diakses tanggal 09-05-2013.

Indomiliter, Meneropong Kekuatan Rudal Malaysia, di:

http://indomiliter.com/2013/01/17/meneropong-kekuatan-rudal-malaysia/, diakses 17 Januari 2013

Intelejen, Cina- Malaysia Perkuat Kerjasama Militer, di:

http://www.intelijen.co.id/warta/1637-cina-dan-malaysia-perkuat-kerjasama-militer, dikases 3 Juni 2013

Jaring News, Kerjasama Pertahanan Indonesia dengan China Ditingkatkan, di:

http://www.jaringnews.com/internasional/asia/36987/kerja-sama-pertahanan-indonesia-dengan-china-sedang-ditingkatkan, diakses 2 Juni 2013

Kompas, Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Sudan, di: http://www.tempo.co/read/news/2013/04/27/078476291/Indonesia-Kirim-Pasukan-Perdamaian-ke-Sudan, dikases 9 Juni 2013

Kesepakat an Soeharto-Mahathir Bawa Sipadan-Ligitan ke Mahkamah Internasional. http://www.hamline.edu. Diakses May 17, 2010.

Malaysian Air Force aircraft and equipment of Malaysia.Air Recognition. Dalam.

http://www.airrecognition.com/index.php/world-air-force-military-

(17)

aviation-equipment-intelligence-information-description-technical-data- sheet-identification-pictures-photos-video-defence-industry-military-technology-.html, diakses tanggal 02-05-3013.

Malaisie forces terrestres. Army Recognition. Dalam

http://www.armyrecognition.com/malaisie_armee_malaisienne_forces_terr estres_fr/malaisie_armee_malaisienne_forces_terrestres_equipements_mili taires_vehicules_blindes_information_fr.html, diakses tanggal 03-05-2013.

Military Strength Comparison Results

http://www.globalfirepower.com/countries-comparison.asp, diakses 24 febuari 2013

Official Website of TNI, TNI dan ABDB Lanjutkan Kerjasama Militer,di: http://www.tni.mil.id/view-46379-tni-dan-abdb-lanjutkan-kerjasama-militer.html, diakses 3 Juni 2013

PDIP Jatim, Sejarah Konflik Indonesia-Malaysia, di:

http://www.pdiperjuangan-jatim.org/v03/index.php?mod=berita&id=3605, diakses 31 Agustus 2010

Territorial Dispute.” di: http://en.wikipedia.org/wiki/Territorial_dispute. diakses pada 4 Juni 2012.

Wazirudin bin Mahfot, Mej. DasarPertahanan Negara: Semasa Era Insurgensi

dan Selepas,

http://www.mafsc.edu.my/administrator/uploads/publications/1318394687 226985_LINK_DASAR_PERTAHANAN_NEGARA_SEMASA_ERA_I NSURGENSI_DAN_SELEPAS.pdf, dikases 9 Juni 2013,

(18)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Kepemilikan kekuatan militer yang kuat sangat diperlukan oleh setiap

negara di dunia. Kekuatan militer ini tidak hanya diperlukan untuk menjaga

stabilitas domestik sebuah negara, tapi juga dibutuhkan untuk meningkatkan nilai

tawar politik negara tersebut dalam percaturan politik global. Kenyataan sejarah

pun telah membuktikan, negara-negara yang mampu mengontrol politik dunia

yang cenderung anarki adalah negara-negara yang memiliki kekuatan militer.

Sejak zaman raja-raja sampai kelahiran negara modern, militer telah

menunjukkan kemanfaatannya bagi sebuah kerajaan atau negara untuk

mengontrol politik dunia. Misalnya saja, Kerajaan Romawi, Persia, maupun

Majapahit di Nusantara. Ketiga kerajaan ini merupakan contoh kecil sejarah yang

telah membuktikan bahwa dengan kekuatan militer yang mereka miliki, kontrol

politik dunia berada di bawah kekuasaannya. Begitu pula pada era Perang Dunia I

dan II, negara-negara yang telibat di dalamnya adalah negara-negara yang

memiliki kekuatan militer. Kemudian, pada masa Perang Dingin, Uni Soviet dan

Amerika Serikat adalah dua negara dengan kekuatan militer yang luar biasa.

Bahkan, pada masa kontemporer ini, keberadaan militer masih sangat signifikan

bagi keberadaan sebuah negara.

Indonesia sebagai negara wilayah geografis yang sangat luas, terbagi

(19)

2 menjamin keutuhan wilayahnya dari ancaman negara-negara lain. Kenyataan ini

memberikan konsekuensi logis bagi Indonesia untuk terus memajukan dan

meningkatkan kekuatan militernya. Apalagi sejak runtuhnya Orde Baru, sebagai

konsekuensi dari penghapusan peran militer dalam politik, institusi militer

Indonesia telah dikembalikan perannya sebagai satu-satunya institusi yang

menjamin keutuhan wilayah dan negara.

Fungsi militer sebagai penjaga kedaulatan negara tentu tidak dapat

dilepaskan dengan kenyataan bahwa potensi konflik. Menurut Kusnanto

Anggoro,1 Peneliti pada Institute of Defence and Security Studies (IODAS), negara yang wilayahnya berupa geografis maritim seperti Indonesia akan

dihadapkan pada lima potensi konflik. Pertama, sengketa perbatasan, baik yang

terjadi karena sengketa perbatasan darat maupun karena tumpang tindih yurisdiksi

maritim; kedua, merebaknya nasionalisme sumber daya (resource nationalism);

ketiga, ancaman-ancaman non-konvensional (misal, perampokan dan terorisme

maritim) yang secara langsung menebar maut pada kewibawaan negara, meskipun

jarang terjadi, merupakan ancaman terhadap keutuhan wilayah negara; keempat,

perusakan lingkungan; kelima, potensi ancaman lain sebagai konsekuensi (baca:

kekhawatiran) negara-negara luar kawasan atas stabilitas dan keamanan wilayah

maritim Asia Tenggara.

Potensi-potensi konflik tersebut mengharuskan Indonesia untuk terus

memajukan dan meningkatkan kapasitas kekuatan militernya. Apalagi, kekuatan

militer Indonesia masih jauh dari negara-negara Asia Tenggara lainnya. Misalnya,

1

(20)

3 pada tahun 2010, personel milter aktif Indonesia berjumlah 302.000 personel,

lebih rendah dibanding Thailand dengan 305.860 personel, Myanmar 406.000

personel, dan Vietnam 455.000 personel.2 Kemudian, dari segi persenjataan, artileri Indonesia berjumlah 1.010 unit, lebih rendah dibandingkan Vietnam

dengan 3.040 unit dan Thailand 2.473 unit.3 Indonesia bahkan kalah dengan Malaysia dalam kepemilikan persenjataan ACV (Apple Cider Vinegar), sejenis

kendaraan tempur infantri. Malaysia memiliki 1.193 unit ACV, sedangkan

Indonesia hanya 509 unit ACV.4 Kenyataan ini sangat mengkhawatirkan, apabila mengingat status Indonesia sebagai negara terluas di Asia Tenggara yang tentunya

sangat rawan bagi terjadinya konflik bilateral, khususnya dengan Malaysia.

Beberapa tahun belakangan ini, Malaysia sendiri telah melakukan

modernisasi alutsistanya. Salah satu contoh, pengadaan jet tempur MiG-29

N/NUB dari Rusia tahun 1995, dilanjutkan dengan pengadaan F/A-18D Hornet

pada tahun 1997. Saat itu, boleh dibilang jet tempur Malaysia sudah lebih unggul

dari Indonesia. Seolah mengikuti jejak TNI AU yang membeli Sukhoi, maka

TUDM (Tentara Udara Diraja Malaysia) juga membeli 18 unit Sukhoi

Su-30MKMs yang sudah datang sejak 2007 silam. Sedangkan dari aspek laut, TLDM

(Tentara Laut Diraja Malaysia) membangun armada kapal selam sejak tahun

2002.5 Tindakan Malaysia ini tentunya tidak dapat dilepaskan dengan realitas

2

Iwan Sulistyo, 2012, Kebijakan Pertahanan Indonesia 1998-2010 dalam Merespon Dinamika Lingkungan Strategis di Asia Tenggara, Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada, hal. 109-110 3

Ibid, hal. 110-111 4

Ibid, hal. 110 5

Indomiliter, Meneropong Kekuatan Rudal Malaysia, di:

(21)

4 sejarah yang pernah dialami, terutama dengan negara tetangganya, khususnya

Indonesia.

Sejarah hubungan bilateral Indonesia dan Malaysia seringkali dihadapkan

pada kondisi yang tidak harmonis. Kedekatan kultural sebagai bangsa melayu

ternyata bukanlah jaminan kedua negara yang bertetangga ini dapat hidup dalam

kedamian. Sejak Indonesia merdeka di tahun 1945, sejarah mencatat berbagai

peristiwa konfliktual antara Indonesia dan Malaysia telah melengkapi perjalanan

hubungan bilateral kedua negera. Kenyataan geografis bahwa keduanya

bertetangga, tidak menjamin kehidupan yang harmonis.

Panasnya hubungan kedua negara yang telah terjadi selama

berpuluh-puluh tahun tersebut tak kunjung usai, bahkan pemerintah Malaysia seakan tidak

bergeming saat menghadapi gelombang protes dari Indonesia. Beberapa kejadian

konflik yang berkepanjangan tersebut, menjadi catatan sejarah perjalanan kedua

bangsa yang memiliki akar suku bangsa melayu tersebut. Pada tanggal 27 Juli

1963, Bung Karno mencanangkan gerakan Ganyang Malaysia.6 Sejak saat itulah, era konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia dimulai.

Sikap konfrontasi dipicu oleh pandangan Soekarno bahwa keberadaan

Malaysia merupakan simbol imperialism yang dapat mengancam keutuhan

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sikap tersebut bertambah parah

ketika pada tanggal 16 September 1963, atas dukungan Inggris, Federasi Malaysia

resmi dibentuk.7 Konflik konfrontatif ini baru mereda pada era kepemimpinan

6

PDIP Jatim, Sejarah Konflik Indonesia-Malaysia, di:

http://www.pdiperjuangan-jatim.org/v03/index.php?mod=berita&id=3605, diakses 31 Agustus 2010

(22)

5 Soeharto. Pasca kepemimpinan Soeharto, hubungan Indonesia dan Malaysia tidak

otomatis menjadi harmonis. Keduanya kemudian dihadapkan pada konflik

perbatasan, seperti Sipadan-Ligitan dan Ambalat yang mengharuskan perluanya

kesiagaan militer walaupun pada akhirnya tidak juga berakibat pada terjadinya

konflik terbuka.

Terkait dengan konflik perbatasan Indonesia dan Malaysia ini, Kusnanto

Anggoro mengatakan, di masa mendatang tidak tertutup kemungkinan persoalan

yang sama akan terjadi.8 Pernyataan ini mengindikasikan bahwa potensi konflik kedua negara di masa depan tidak akan hilang dengan selesainya persoalan

Ambalat, Sipidan dan Ligitan. Kerena itulah, apabila kita berbicara dalam konteks

pontesi konflik dengan penggunaan kekuatan militer, bukan sesuatu yang

mustahil.

Namun, sampai detik ini konflik secara terbuka itu belum juga terjadi.

Kenyataan ini sangat menarik bagi peneliti untuk meneliti lebih jauh tentang

perbandingan militer Indonesia dan Malaysia. Sebab, perbedaan postur kekuatan

militer yang berbeda dapat berpotensi terjadinya konflik antara kedua negara.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari pertanyaan ini adalah bagaimana perbandingan

postur militer Indonesia dan Malaysia? dan sejauhmana implikaisnya pada potensi

terjadinya konflik bilateral antara Indonesia dan Malaysia?

8

(23)

6 1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui

postur kekuatan militer Indonesia dan Malaysia. Serta, implikaisnya pada potensi

terjadinya konflik bilateral antara Indonesia dan Malaysia.

1.4 Penelitian Terdahulu

(24)
(25)

8

Realisme memiliki pandangan bahwa pada dasarnya manusia itu agresif,

melakukan apapun demi memuaskan keinginan, egois, mau menang sendiri,

serta homo homini lupus (manusia itu serigala bagi manusia lain). Hal-hal

semacam inilah yang menimbulkan konfliktual yang terjadi diantara manusia.

Bisa dibayangkan jika manusia saja sangat berpotensi untuk berkonflik dengan

manusia lain, apalagi negara-negara. Potensi antar negara untuk saling berkonflik

(26)

9 nasionalnya sendiri berarti bahwa negara dan pemerintahan lainnya tidak akan

pernah diharapkan sepenuhnya.9

Ada beberapa asumsi dasar dari kaum realis: Pertama adalah Hubungan

Internasional bersifat “anarchic”. Apa yang dimaksud dengan anarchic disini

adalah tidak adanya kekuasaan yang lebih tinggi dari negara; Kedua adalah negara

merupakan kesatuan dan bersifat rasional. Dalam kata lain adalah prudence, yang

artinya adalah negara akan berhati-hati tidak akan bertindak di luar

kemampuannya karena tanggung jawab negara adalah untuk melindungi rakyat

dari negara tersebut. Ketiga adalah negara sebagai aktor yang utama yang

melakukan hubungan dengan negara lain dengan berbagai tendensi seperti untuk

memperoleh kepentingan atau interest-nya; Keempat adalah konsentrasi utama

sebuah negara yaitu survival, yang dimaksud dengan survival adalah kemampuan

negara untuk mempertahankan apa yang menjadi hak-haknya dan untuk

mempertahankan eksistensinya; Kelima adalah moralitas yang dianggap oleh

kaum realis memiliki tempat terbatas atau tidak penting dalam politik

Internasional. Disini terjadi perdebatan antara kaum realis dengan kaum neorealis

yang masih memiliki pandangan bahwa moral itu penting dalam Hubungan

Internasional termasuk politik Internasional. Keenam adalah kemenangan relatif

diatas kemenangan mutlak. Realis berpendapat bahwa tidak ada yang absolut; dan

Ketujuh adalah politik Internasional yang lebih penting dari pada politik domestik,

sehingga permasalahan pribadi negara tidak dapat menjadi concern kaum realis.

9

(27)

10 Politik domestik menjadi penting bagi kaum realis ketika memiliki hubungan

dengan politik Internasional.

1.5.2 Security Dilemma

Konsep security dilemma pertama kali dikemukakan oleh John Herz dalam

jurnal world politics.10 Herz berargumen bahwa negara yang hidup dalam sebuah

sistem yang anarki harus memperhatikan masalah keamanannya, baik dari

serangan ataupun dominasi negara lain. Oleh karena itu, negara tersebut akan

berusaha untuk meningkatkan kekuatannya agar bisa terhindar dari ancaman

kekuatan negara lain. Hal ini akan menyebabkan negara lain menjadi tidak aman

dan berasumsi mengenai kemungkinan yang terburuk. Karena tidak ada yang bisa

merasa aman sepenuhnya dalam dunia yang penuh dengan kompetisi ini, maka

akhirnya muncullah vicious circle of security (lingkaran setan keamanan) dan

upaya peningkatan kekuatan yang sebesar-besarnya.11

Vicious circle of security merupakan gambaran bahwa dalam sistem

Internasional negara-negara terjebak dalam situasi kekhawatiran antara satu sama

lain ketika dihadapkan dengan masalah keamanan. Setiap negara selalu merasa

terancam apabila terjadi peningkatan kekuatan pada negara lainnya dan selalu

merespon dengan peningkatan kekuatan juga. Argumen Herz tersebut juga

memperlihatkan pada kita bahwa rasa tidak aman yang disebabkan oleh

10

John H Herz, 1950, Idealist Internationalism and the Security dilemma, dalam World Politics, Vol. 2, No. 2, Cambridge University Press.

11

(28)

11 ketidakpastian atas tujuan dari tindakan negara lain merupakan penyebab

terjadinya kondisi tersebut.12

Sementara itu Herbert Butterfield menggambarkan adanya rasa tidak

percaya yang berkembang di antara dua aktor sehingga menyebabkan security

dilemma. Hal ini dapat kita temukan dalam pernyataanya:

“For you know that you yourself mean him no harm, and you want nothing from him save guarantees your own safety; and it is never possible for you to realize or remember properly that since he cannot see the inside of your mind, he can never have the same assurance of your intentions that you have. As this operates on both sides the Chinese puzzle is complete in all its interlockings–and neither party sees the nature of the predicament he is in, for each only imagines that the other party is being hostile and unreasonable. It is even possible for each to feel that the other is wilfully withholding the guarantees that would have enabled him tohave a sense of security.”13

Dalam hal ini, melalui pernyataannya tersebut Butterfield memandang

bahwa aktor-aktor dalam sistem Internasional diliputi oleh rasa tidak percaya satu

sama lainnya. Seorang aktor tidak akan bisa memahami maksud dari tindakan

aktor lainnya. Oleh karena itu, masing-masing aktor akan berasumsi bahwa aktor

lain berniat jahat dan akan berusaha untuk meningkatkan keamanan. Skema yang

digambarkan oleh Butterfield dalam narasinya juga merupakan sebuah pola

kontinuitas aksi dan reaksi yang kemudian juga akan berakhir pada konflik.

Pengembangan konsep security dilemma ini terlihat dari karya Robert

Jervis.14 Jervis menggambarkan jika sebuah negara meningkatkan kemampuan

untuk mempertahankan diri, maka peningkatan itu bisa terlalu banyak dan terlalu

12

Booth dan Wheeler menyebutnya sebagai security paradox.Baca Ken Booth dan Nicholas J. Wheeler, 2008, The Security dilemma: Fear, Cooperation and Trust in World Politics, New York, Palgrave, hal. 22

13

Herbert Butterfield, 1950, The Tragic Element in Modern International Conflict, dalam The Review of Politics, Vol. 12, No.2, Cambridge University Press, hal. 154-155.

14

(29)

12 sedikit, terlalu banyak karena kemampuan tersebut juga bisa digunakan untuk

menyerang negara lain, terlalu sedikit karena negara lain yang merasa terancam

akan meningkatkan kemampuannya juga dan akan membuat negara pertama

menjadi tidak aman.15 Akibatnya akan terjadi fenomena aksi-reaksi dalam

peningkatan kualitas dan kuantitas persenjataan.

Barry Buzan dan Eric Herring dalam tulisannya The Arms Dynamic in

World Politics, menjelaskan mengenai aksi-reaksi yang menyatakan bahwa:

“The basic proposition of the action-reaction model is that states strengthen their armaments because of the threats the states perceive from other state. States will arm themselves either to seek security against the threats posed by others or increase their power to achieve political objectives through use of force, implicit or explicit threats, or symbolism. Balances (including balances in political status as well as balances of military power) will emerge at higher or lower levels of armament, depending on how willing states are to drive up the price of achieving their objectives.16

Penjelasan diatas memberikan pemahaman bahwa proposisi dasar dari

model aksi-reaksi adalah suatu negara memperkuat persenjataannya karena

adanya ancaman yang datang dari negara lain. Kerangka pemikiran ini

memberikan keleluasaan dalam melihat penggunaan kekuatan militer untuk

mencapai tujuan politik dengan menggunakan kekerasan, ancaman implisit atau

eksplisit, atau simbolisme, yang disertai adanya campuran motif kekuasaan dan

keamanan dalam perilaku negara.

Pada umumnya instrumen militer dapat digunakan untuk melakukan

penyerangan yang bertujuan defensif. Sulit bagi setiap negara untuk membedakan

antara negara-negara lain dalam mengambil tindakan untuk membela diri mereka

15

Robert Jervis, Ibid, hal. 55 16

(30)

13 sendiri dan tindakan mereka dalam meningkatkan kemampuan mereka yang

bertujuan agresi. Oleh sebab itulah, diperlukan adanya penyesuaian yang dilihat

oleh beberapa negara lain sebagai kemungkinan ancaman, bahkan suatu sistem di

mana semua negara hanya mencari pertahanan mereka sendiri, sehingga

menghasilkan akumulasi kompetitif kekuatan militer.

Arm race atau biasa disebut perlombaan senjata, dalam Ilmu politik

Internasional adalah sebagai bentuk konkrit dari security dilemma. Sebagaimana

menurut Barry Buzan, perlombaan senjata adalah “..self simulating military

rivalry between states, in which their efforts to defend them selves military cause

them toenchance the treaths they pose to each other..”17

untuk menjelaskan arm

race ini harus menganalisa bagimana suatu perlombaan senjata bisa terjadi

dimana adanya dinamika yang terjadi antara 2 atau lebih negara yang berinteraksi.

1.5.3 Konflik Perbatasan

Konflik secara konseptual yaitu dengan konflik dimaksudkan perwujudan

dan/atau pelaksanaan beraneka pertentangan antara dua pihak, yang dapat

merupakan dua orang atau bahkan golongan besar seperti negara. Kadang-kadang

konflik digunakan untuk menyebut pertentangan antara pandangan dan perasaan

seseorang (psikologis; percecokan; bentrokan).18 Sedangkan penyebab terjadinya

konflik disebutkan oleh Steven L. Spiegel yaitu : Conflik is produced by a clash of

Culture, a disharmony of Interest, a disparity of perception, all of which result

17Barry Buzan, “

An Introductionto Strategic studies: Military Technology and Internasional Relations” dalam Dedik Fitra Suhermanto, 2012, Pengaruh Intensitas

Konflik Perbatasan Maritim Terhadap Potensi Perlombaan Senjata di Asia Tenggara, hal 23. 18

(31)

14 mobility of the parties to accept separately and together the evironment they line

in.19

Soerjono Soekanto menyatakan sebab-sebab timbulnya konflik dapat

dibedakan sebagai berikut:20 Pertama, perbedaan antara individu–individu,

Perbedaan pendirian sikap dan perasaan mungkin melahirkan bentrokkan antar

mereka. Kedua, perbedaan kebudayaan, Setiap kelompok masyarakat tidak lepas

dari pola-pola yang menjadi latar belakang pembentuk serta perkembangan

kebudayaan kelompok yang bersangkutan. Perbedaan itu baik disebabkan oleh

perbedaan fisik maupun lingkungan sosial budayanya. Ketiga, perbedaan

kepentingan, Perbedaan kepentingan ini menyangkut kepentingan ekonomi,

politik dan sebagainya. Keempat, perubahan sosial, Perubahan sosial yang begitu

pesat apalagi di era-globalisasi ini secara langsung akan berpengaruh juga

terhadap nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Sebagian kelompok masyarakat

tersebut ada yang siap menerima perubahan namun ada pula yang tidak siap

menerima perubahan. Akibat ketidaksiapan itu dapat saja memicu konflik dalam

masyarakat. Istilah konflik biasanya mengacu pada kondisi dimana suatu

kelompok manusia (baik etnis, bahasa, budaya, agama, sosial, ekonomi, politik

dan sebagainya) terlibat dalam pertentangan secara sadar dan atau lebih kelompok

manusia lainnya karena kelompok ini mengejar atau mempunyai perbedaan

sasaran.

Conflict as a social situation in which in minimum two actors (parties)

strive to acquire at the same moment in time an available set of scarce

19

Steven l. Spiegel and Kenneth N. Walst, 1997, Conflict in World Politic, Winthrop Publisher Inc, Massachusetts, hal. 4.

20

(32)

15

source.21“A territorial dispute is a disagreement over the possession/control of

land between two or more state or over the possession or control of land by a new

state and occupying power after it has conquered the land from a former state no

longer currently recognized by the new state.”22

Konflik perbatasan dapat

diartikan juga sebagai “Boundary dispute is over all states arguing over their

boundaries or how they function.”23 Jadi, konflik perbatasan atau konflik atas

klaim suatu wilayah merupakan ketidaksepakatan atas kepemilikan dan kontrol

atas suatu wilayah yang disengketakan oleh dua negara atau lebih. Adapun potensi

konflik bilateral yang dapat terjadi dapat diperjelas dalam skema berikut.

Gambar 1.1 Skema Potensi Konflik

21“Territorial Dispute.”

di: http://en.wikipedia.org/wiki/Territorial_dispute. diakses pada 4 Juni 2012.

22“Boundary Dispute”

di:http://wiki.answers.com/Q/What_is_the_definition_for_Boundary_disputes_also_definitional

locational_perational_and_allocational, diakses pada 4 Juni 2012. 23

Peter Wallensteen. Understanding Conflict Resolution: War, Peace and the Global System. 2002. London: Sage Publication. hal. 95-96.

Security Dilemma

Anarki

Aksi–Reaksi/arm race Ancaman

Peningkatan Kapabilitas Militer

Intensitas Konflik perbatasan

(33)

16 1.6 Metode Penelitian

1.6.1 Tipe Penelitian

Tipe penelitian ini adalah Analisis-Komperatif. Artinya, dalam penelitian

ini, peneliti akan melakukan perbandingan kekuatan militer antara Indonesia dan

Malaysia dalam bentuk diskripsi. Kemudian, setelah peneliti mengetahui postur

kekuatan militer masing-masing negara, peneliti akan mencoba meninjau lebih

jauh mengenai potensi konflik bilateral yang dapat terjadi.

Gambar 1.2 Operasionalisasi konsep

1.6.2 Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini bersifat studi kepustakaan. Maka, dalam kegiatan

pengumpulan data peneliti menggunakan dokumen-dokumen yang sudah ada,

seperti buku, majalah dan karya-karya ilmiah yang lain. Di lain hal, peneliti juga

memanfaatkan data-data yang terdapat dalam media cetak dan elektronik, yaitu:

koran dan internet. Artinya, data-data yang digunakan merupakan data-data

sekunder.

Postur militer Indonesia

Postur militer Malaysia

Security dilemma

Menimbulkan: 1. Ancaman

2. Aksi reaksi/arm race

konflik perbatasan:

(34)

17 1.6.3 Ruang Lingkup (Batasan) Penelitian

Penelitian ini mencakup dua hal, yaitu, batasan materi dan batasan waktu.

Batasan materi penelitian menfokuskan pada postur militer Indonesia dan

Malaysia dan intensitas potensi konflik antara kedua negara dengan kekuatan

militer yang dimilikinya tersebut. Sedangkan batasan waktunya adalah dari Tahun

1998-2014.

Batasan waktu tersebut didasarkan pada kenyataan bahwa pada kedua

periode itu, tuntutan demokratisasi semakin menguat di masing-masing negara.

Sehingga, dengan sendirinya hal akan berakibat pada posisi militer. Sebagaimana

kita ketahui, demokrasi tidak menghendaki intervensi militer dalam politik

pemerintahan.

1.6.4 Kriteria dan Rasionalisasi Perbandingan

Kriteria perbandingan postur militer Indonesia dan Malaysia meliputi dua

hal, yaitu: sumber daya militer (military resource) dan fokus perhatian penguatan

keamanan negara (military concern). Sumber daya militer terdiri dari jumlah

personel (Tentara), Budget (anggaran belanja militer) dan alutsista (alat utama

sistem persenjataan). Sedangkan military concern merupakan fokus

pengembangan militer pada era 1998-2014.

Selain itu, peneliti juga merumuskan rasonalisasi perbandingannya. Dalam

hal ini, negara yang memiliki wilayah geografis lebih luas memiliki kebutuhan

jumlah personel yang lebih banyak dibandingkan dengan negara dengan geografis

lebih kecil dalam menjamin keamanan nasionalnya. Sebagai negara bergeografis

(35)

18 negara bergeografis kecil. Begitu juga dengan budget negara untuk

membelanjakan kebutuhan militernya.

1.7 Hipotesa

Dengan adanya perbandingan postur kekuatan militer antara

Indonesia-Malaysia, Dan juga diwarnai dengan konflik-konflik bilateral salah satunya

konflik perbatasan. Maka kedua Negara tersebut merasa terancam sehingga

menimbulkan peningkatan kapabilitas kekuatan militernya, dan potensi konflik

sangatlah mungkin terjadi antara Indonesia dan Malaysia.

1.8 Struktur Penulisan

Struktur penulisan dalam kegiatan penelitian ini terbagi ke dalam 5 (lima)

bab, sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Bab yang pertama ini meliputi beberapa hal, diantaranya: latar belakang

masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan atau manfaat penelitian,

kerangka pemikiran, metode penelitian, hipotesa dan struktur penelitian.

BAB II DINAMIKA KAWASAN ASIA TENGGARA DAN KONFLIK BILATERAL INDONESIA-MALAYSIA

Pada bab ini, penulis akan menggambarkan mengenai dinamika kawasan

Asia Tenggara dan konflik bilateral antara Indonesia-Malaysia mengenai masalah

(36)

19 BAB III POSTUR MILITER INDONESIA-MALAYSIA

Pada bab ini penulis selanjutnya memfokuskan pada kajian postur militer

Indonesia dan Malaysia. Bab ini kami dibagi lagi kedalam beberapa sub-bab.

BAB IV ANALISIS PERBANDINGAN POSTUR MILITER DAN POTENSI KONFLIK INDONESIA-MALAYSIA

Bab IV ini menfokuskan pada kajian analitis mengenai postur militer

Indonesia-Malaysia dan potensi konflik Indonesia dan Malaysia yang peneliti

kaitkan dengan realitas kekuatan militer kedua negara yang terdapat dalam Bab II

dan Bab III.

BAB V PENUTUP

Bab ini merupakan bab terakhir dalam penulisan ataupun pelaporan

kegiatan penelitian. Bab terakhir ini terdiri dari kesimpulan dan beberapa

Gambar

Gambar 1.1 Skema Potensi Konflik
Gambar 1.2

Referensi

Dokumen terkait

1. Instrumen moneter dalam mekanisme transmisi kebijakan moneter untuk lebih efektif digunakan. Bank Indonesia sejak tahun 2005 sudah menggunakan suku bunga sebagai sasaran operasional

di Bursa Efek Indonesia, diambil dengan metode pemilihan sampel dimana informasinya diperoleh dengan menggunakan kriteria tertentu. Kriteria sampel dalam penelitian

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hipotesis alternatif diterima, yang berarti terdapat perbedaan signifikan antara kinerja portofolio optimal saham syariah Indonesia dan

Berdasarkan penjelasan pada bagian 1, telah di jelaskan mengapa dipilih negara Brunei Darussalam, Malaysia, dan Indonesia sebagai subjek penelitian dengan objek

saran yang dapat diajukan untuk peneliti selanjutnya adalah : (1) Bagi pihak perusahaan, penulis mengharapkan agar perbankan yang go publik di Indonesia dengan

Pada Bank Umum Syariah di Indonesia tahun 2020, perolehan IK41 tertinggi diraih oleh Bank Panin Dubai Syariah BPDS dengan nilai sebesar 0,0008 atau 0,08%.. Kemudian, pada Bank Umum

Hasil penelitian menunjukkan volatilitas harga saham Indonesia ISSI tidak lebih rendah jika dibandingkan dengan ketiga negara karena volatilitas Indonesia berada pada tingkat kedua dan