SKRIPSI
PERBANDINGAN POSTUR MILITER INDONESIA-MALAYSIA DAN
IMPLIKASI PADA POTENSI KONFLIK
Disusun dan diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Strata-1
Jurusan Hubungan Internasional
Oleh :
Doni Irawansyah
(06260136)
JURUSAN HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
PERNYATAAN ORISINILITAS
Yang Bertanda Tangan dibawah ini :
Nama : Doni Irawansyah
Tempat Tanggal lahir : Lampung, 31 Maret 1986
Nim : 06260136
Jurusan : Hubungan Internasional
Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Menyatakan bahwa karya ilmiah (Skripsi) dengan judul :
PERBANDINGAN POSTUR MILITER INDONESIA-MALAYSIA DAN IMPLIKASI PADA POTENSI KONFLIK
Adalah bukan karya tulisan ilmiah (Skripsi) orang lain, baik sebagai ataupun seluruhnya, kecuali dalam bentuk kutipan yang telah saya sebutkan sumbernya denagn benar.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan apabila pernyataan ini tidak benar, saya bersedia mendapatkan sanksi dengan ketentuan yang berlaku.
Malang,
Yang menyatakan,
UCAPAN TERIMA KASIH
Alhamdulilah, serta puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan curahan rahmat dan karunia-Nya, Atas izin dan petunjuk-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi dengan judul “Perbandingan Postur Militer Indonesia-Malaysia Dan Implikasi Pada Potensi konflik” ini dapat
terselesaikan.
Penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat dalam mencapai gelar
sarjana Ilmu social dan Ilmu politik pada Universitas Muhammadiyah Malang.
Disamping itu juga peneliti mengharapkan penelitian ini bisa menjadi karya yang
bermanfaat dan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pengetahuan
Hubungan Internasional. Namun keterbatasan dan kelemahan penulislah yang
menyebabkan tugas akhir ini mungkin jauh dari kata sempurna.
Selama penyusunan tugas akhir sebagai seorang mahasiswa, penulis telah
banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak berupa sumbangan pemikiran dan
tenaga yang ikut ambil bagian didalamnya yang tak terhingga nilainya.pada
kesempatan ini penulis ingin mengucapkan rasa terhormat dan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada:
1. Kedua orang tua tercinta yang senantiasa memberikan kasih sayang,
motivasi dan nasihat yang tak ternilai harganya. Saya menyadari, tanpa
beliaulah mustahil saya bisaa menjadi sekarang. Begitu banyak
pengorbanan yang beliau berikan kepada saya, dari kecil hingga
dewasa saat ini. Juga kepada kakakku tercinta M. Neco Maulana, SE
dan adik-adikku Romi, Robi, Agung, Lisa dan Seven yang selalu
menjadi semangat dalam menyeselasikan skripsi ini.
2. Bapak Ruli Inayah Ramadhoan S, Sos, M.Si dan M. Syaprin Zahidi
M.A selaku Dosen pembimbing Skripsi. Hanya dengan petunjuk dan
kemudahan beliau berdua skripsi ini dapat diselesaikan. Dan kepada
seluruh dosen pengajar Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial
3. Seluruh pihak yang memberikan saya dukungan dan motivasi:
Anak-anak kontrakan A. Juhairi, S.IP, Audi Fadh, S.IP, M. Abu Bakar, S.IP,
Herwanto, S.IP, Jaya, Daus, Jhoni, Dayat, Fery, kinyong, Permadi,
Bimo dan semua pihak yang penulis tidak bisa sebutkan satu persatu.
Terima kasih buat canda tawa yang selama ini kawan, kalian semua
luar biasa..
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya
kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan, bimbingan serta memotivasi
selama penyusunan skripsi ini. Bila terdapat kekeliruan maupun kesalahan yang
peneliti lakukan baik disengaja maupun tidak disengaja, maka sepatutnyalah
peneliti mohon maaf yang sebesar-besarnya. Sebagai akhir kata penyusunan
skripsi yang jauh dari kata sempurna ini dapat bermanfaat bagi semua
pihak.Amien...
Motto : Masa depan anda tidak ditentukan oleh pendidikan tetapi ditentukan pada tekad anda.
Malang,
DAFTRA ISI
Lembar Persetujuan Skripsi ... i
Lembar Pengesahan ... ii
Berita Acara Bimbingan Skripsi ... iii
Pernyataan Orisinalitas ... iv
Ucapan Terima Kasih ... v
Abstract ... vi
Abstaksi ... vii
Daftar Isi ... viii
Daftar Gambar ... xii
Daftar Tabel ... xiii
BAB I PENDAHULAUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Maslah ... 5
1.3 Tujuan Penelitian ... 6
1.4 Penelitian Terdahulu ... 6
1.5 Konsep dan Teori ... 8
1.5.1 Anarki Internasional ... 8
1.5.2 Security Dilemma ... 10
1.5.3 Konflik Perbatasan ... 13
1.6 Metode Penelitian ... 16
1.6.1 Tipe Penelitian ... 16
1.6.2 Teknik Pengumpulan Data ... 16
1.6.3 Ruang Lingkup (Batasan) Penelitian ... 17
1.6.4 Kriteria Dan Rasionalisasi Perbandingan ... 17
1.7 Hipotesa ... 18
BAB II DINAMIKA KAWASAN ASIA TENGGARA DAN KONFLIK BILATERAL INDONESIA-MALAYSIA
2.1 Dinamika Politik Dan Kawasan Asia Tenggara ... 20
2.1.1 Asia Tenggara dan Masalah Perbatasan ... 28
2.2 Gambaran Konflik Perbatasan Bilateral Indonesia-Malaysia ... 34
2.2.1 Konflik Sipadan-Ligitan ... 38
2.2.2 Konflik Blok Ambalat ... 40
2.2.3 Sengketa Karang Unarang ... 42
BAB III POSTUR MILITER INDONESIA-MALAYSIA 3.1 Postue Militer Negara ... 46
3.1.1 Klasifikasi Persenjataan ... 47
3.1.1.1 Klasifikasi Persenjataan Angkatan Darat ... 48
3.1.1.2 Klasifikasi Persenjataan Angkatan Laut ... 49
3.1.1.3 Klasifikasi Persenjataan Angkatan Udara ... 51
3.2 Postur Militer Indonesia ... 53
3.2.1 Personel (Tentara) ... 54
3.2.2 Alutsista ... 55
3.2.3 Budget ... 65
3.2.4 Military Concern Indonesia Tahun 1998 – 2014 ... 65
3.3 Postur Militer Malaysia ... 68
3.3.1 Personil (Tentara) ... 68
3.3.2 Alutsiata ... 69
3.3.3 Budget (Anggaran) ... 77
3.3.4 Military Concern Malaysia ... 77
BAB IV ANALISIS PERBANDINGAN POSTUR MILITER DAN POTENSI KONFLIK ANTARA INDONESIA-MALAYSIA 4.1 Similarity (Persamaan) Postur Militer Indonesia-Malaysia ... 79
4.1.1 Sumber Daya Militer (Military Resources) ... 79
4.2 Deferences (perbedaan) Postur Militer Indonesia-Malaysia ... 82
4.2.1 Sumber Daya Militer (Military Resources) ... 82
4.2.2 Military Concern ... 87
4.3 Analisis Potensi Konflik ... 88
BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan ... 100
5.2 Rekomendasi ... 102
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Skema Potensi Konflik ... 15
Gambar 1.2 Operasionalisasi Konsep ... 16
Gambar 2.1 Peta Kawasan Asia Tenggara ... 29
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Man Power Indonesia ... 54
Tabel 3.2 Sistem senjata Angkatan Udara Indonesia ... 56
Tabel 3.3 Sistem senjatan Angkatan Laut Indonesia ... 58
Tabel 3.4 Sistem senjata Angakatan Darat Indonesia ... 62
Tabel 3.5 Budgeting ... 65
Tabel 3.6 Man Power Malaysia ... 69
Tabel 3.7 Sitem senjata Angkatan Udara Malaysia ... 70
Table 3.8 Sitem senjata Angkatan Darat Malaysia ... 72
Tabel 3.9 Sistem senjata Angkatan Laut Malaysia ... 75
DAFTAR PUSTAKA Buku
Anissa, Khoridatul.. Malaysia Macan Asia, Yogyakarta, GARASI, 2009 dalam Barry Buzan, People, States, and Fear: The Nasional Security Problem in the Third World, dalam Azar dan Moon, ed. National Security
Acharya, Amitav. 2001. Constructinga Security Community in Southeast Asia : ASEAN and the
Problem of Regional Order. Routledge : London and New York
Booth, Ken & Nicholas J. Wheeler, 2008, The Security dilemma: Fear, Cooperation and Trust in World Politics, New York, Palgrave
Buzan, Barry and Eric Herring. 1998. The Arms Dynamic in World Politics. London: Lynne Reinner Publishers
Cipto, Bambang Dr. MA. Hubungan Internasional Di Asia Tenggara Teropong Terhadap Dinamika, Realitas, Dan Masa Depan. Pustaka Pelajar
Heryaman, Oman S.IP, M.Si. Postur Militer Negara-Negara Asia Tenggara Dinamika Persenjataan Dan Pergeseran Lingkung Stratrgis Internasional Dari Era Ke Pasca Perang Dingin Bagaimana Supremasi dan Postur Kekuatan Pertahanan Indonesia (TNI).
Jackson, Robert & Georg.Sorensen, 1999. “Pengantar Studi Hubungan Internasional”. Oxford University Press: New York
Jervis, Robert. 1976. The Spiral of International Insecurity, dalam Richard Little dan Michael Smith, Eds. 1980. Perspectives on World Politics. Third Edition, London dan New York.
Jones, Matthew. 2002.Conflict and Confrontation in South East Asia, 1961–1965: Britain, the United States and the Creation of Malaysia, Cambridge, Cambridge University Press
Kusumaatmadja, Mohtar. 1983. Politik Luar Negeri Indonesia dan Pelaksanaannya Dewasa Ini.Alumni: Bandung
Marbun, BN. S.H. 1996. Kamus Politik. Jakrata: Pustaka Sinar Harapan
Sulistyo, Iwan. 2012. Kebijakan Pertahanan Indonesia 1998-2010 dalam Merespon Dinamika Lingkungan Strategis di Asia Tenggara. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
Seokamto, Soedjono. 1990. Sosioligi: Suatu pengantar. Jakarta: Rajawali Press
Wallensteen, Peter. 2002. Understanding Conflict Resolution: War, Peace and the Global System. London: Sage Publication
Widjajanto, Andi, Edy Prasetyono, Makmur Kelit, 2012. Dinamika Persenjataan dan Revitalisasi Industri Pertahanan, Jakarta Universitas Indonesia (UI-Press).
Jurnal
Anggoro, Kusnanto. Strategi Pertahanan Kepulauan, Diplomasi Kelautan, dan Kekuatan Matra Laut Indonesia, dalam Jurnal Diplomasi. Vol. 1 No. 2, September, 2009
Butterfield, Herbert. 1950. The Tragic Element in Modern International Conflict, dalam The Review of Politics, Vol. 12, No.2, Cambridge University Press
Wulandari, B.Tjandra SH.,MH. Sengketa Wilayah Perbatasan Perairan Ambalat– Karang Unarang Pasca Kasus Sipadan dan Ligitan (Tinjauan Hukum Laut Internasional).
Herz, John H. 1950. Idealist Internationalism and the Security dilemma, dalam World Politics, Vol. 2, No. 2, Cambridge University Press
ASEAN Selayang Pandang. Edisi-19, 2010: “Sejarah Berdirinya ASEAN
Diandra Megaputri Mengko, Media Indonesia.
Bunnell, Frederick. No Title, The Journal of Asian Studies. 1974. Vol. 36, Nomor 01, tahun 1976, hal.186. Review 55 tentang Konfrontasi: The Indonesia–
Malaysia Dispute, 1963–1966, J.A.C. Mackie, Kuala Lumpur, Oxford
University Press
Surat Keputusan Menteri Pertahanan Nomor: SKEP/557/M/VII/2001 tentang Rencana Strategis Pembangunan Pertahanan Tahun 2000-2004.
Dwi Haryono, Indo, Konflik Perbatasan Negara Dikawasan Asia Pasific.
Indonesia Protes Kontrak Malaysia dengan Shell” dalam harian Kompas, diakses 26 Februari 2005.
Skripsi
Nadya Herdiani, Gita. 2012. Dinamika Persenjataan Indonesia dan Malaysia: Studi Tentang Peningkatan Kapabilitas Militer Indonesia Berkaitakn Dengan Konflik Ambalat, UI,
Internet
Andrea Sinar Harapan, Faustinus. ASEAN sebagai peredam konflik, Centre for Strategic and International Studies – Jakarta,16 June 2003. http://www.csis.or.id/Publications-OpinionsDetail.php?id=93 diakses 17-05-2013
Antara News, Korsel Sediakan Kerjasama Industri Pertahanan Integratif, di: http://www.antaranews.com/berita/372680/korsel-sediakan-kerja-sama-industri-pertahanan-integratif, diakses 3 Juni 2013
Boundary Dispute”
di:http://wiki.answers.com/Q/What_is_the_definition_for_Boundary_disp utes_also_definitional locational_perational_and_allocational, diakses pada 4 Juni 2012
Balitbang Kemhan, Strategi Sistem Pertahanan dan Sistem Menajemen
Pertempuran, di:
http://www.balitbang.kemhan.go.id/?q=content/strategi-perencanaan-sistem-pertahanan-dan-sistem-manajemen-pertempuran, diakses 11 Juni 2013
Centre For Maritime Security And Diplomacy (mima).malaysia’s and indonesia’s
naval development: a comparative analysis. Dalam
http://www.mima.gov.my/mima/wp-content/themes/twentyeleven/cms/uploads/presentation/135.Malaysian%2 0%20Indonesian%20Naval%20Development.pdf diakses tanggal 12-05-2013
Global Fire Power, Daftar Negara Terkuat di Bidang Militer 2013, di: http://www.globalfirepower.com/, diakses 3 Juni 2013
Helvas Ali, Alman. Pembangunan Angkatan Laut Malaysia: Implikasi dan
Respon Indonesia, di: http://www.fkpmaritim.org/?p=1099, diakses 11
Juni 2013
, Alman. Arsitektur Pertahanan Indonesia ke Depan: Mendukung
Strategi dengan Perencanaan Kekuatan, di:
http://www.fkpmaritim.org/?p=1102, diakses 11 Juni 2013
40/image-upload-478-739099.jpg&w=410&h=388&ei=P6yVUb-1BsaXrAfes4GwCw&zoom=1&ved=1t:3588,r:2,s:0,i:86&iact=rc&dur=8 &page=1&tbnh=183&tbnw=194&start=0&ndsp=12&tx=101&ty=73&biw =1024&bih=629, diakses 10-05-2013.
http://www.google.com/imgres?sa=X&hl=id&noj=1&biw=1024&bih=629&tbm= isch&tbnid=F5cPnrJGDzqkdM:&imgrefurl=http://filsufgaul.wordpress.co m/2012/03/04/&docid=Bi5tN8QsfbXTgM&imgurl=http://filsufgaul.files. wordpress.com/2012/03/petaasean.jpg&w=1200&h=750&ei=x6uVUeimG sytrAe_mIHgAg&zoom=1&iact=rc&dur=14&page=1&tbnh=177&tbnw= 284&start=0&ndsp=12&ved=1t:429,r:4,s:0&tx=205&ty=462, diakses 17-05-2013.
Indonesian Navy ships and equipment.Navy Recognition.Dalam
http://www.navyrecognition.com/index.php?option=com_content&task=vi ew&id=811, di akses tanggal 11-05-2013.
Indonésie forces terrestres. Army Recognition. Dalam
http://www.armyrecognition.com/indonesie_armee_indonesienne_forces_terrestre s_fr/indonesie_armee_indonesienne_forces_terrestres_equipements_milita ires_vehicules_blindes_information.html, diakses tanggal 09-05-2013.
Indomiliter, Meneropong Kekuatan Rudal Malaysia, di:
http://indomiliter.com/2013/01/17/meneropong-kekuatan-rudal-malaysia/, diakses 17 Januari 2013
Intelejen, Cina- Malaysia Perkuat Kerjasama Militer, di:
http://www.intelijen.co.id/warta/1637-cina-dan-malaysia-perkuat-kerjasama-militer, dikases 3 Juni 2013
Jaring News, Kerjasama Pertahanan Indonesia dengan China Ditingkatkan, di:
http://www.jaringnews.com/internasional/asia/36987/kerja-sama-pertahanan-indonesia-dengan-china-sedang-ditingkatkan, diakses 2 Juni 2013
Kompas, Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Sudan, di: http://www.tempo.co/read/news/2013/04/27/078476291/Indonesia-Kirim-Pasukan-Perdamaian-ke-Sudan, dikases 9 Juni 2013
Kesepakat an Soeharto-Mahathir Bawa Sipadan-Ligitan ke Mahkamah Internasional. http://www.hamline.edu. Diakses May 17, 2010.
Malaysian Air Force aircraft and equipment of Malaysia.Air Recognition. Dalam.
http://www.airrecognition.com/index.php/world-air-force-military-
aviation-equipment-intelligence-information-description-technical-data- sheet-identification-pictures-photos-video-defence-industry-military-technology-.html, diakses tanggal 02-05-3013.
Malaisie forces terrestres. Army Recognition. Dalam
http://www.armyrecognition.com/malaisie_armee_malaisienne_forces_terr estres_fr/malaisie_armee_malaisienne_forces_terrestres_equipements_mili taires_vehicules_blindes_information_fr.html, diakses tanggal 03-05-2013.
Military Strength Comparison Results
http://www.globalfirepower.com/countries-comparison.asp, diakses 24 febuari 2013
Official Website of TNI, TNI dan ABDB Lanjutkan Kerjasama Militer,di: http://www.tni.mil.id/view-46379-tni-dan-abdb-lanjutkan-kerjasama-militer.html, diakses 3 Juni 2013
PDIP Jatim, Sejarah Konflik Indonesia-Malaysia, di:
http://www.pdiperjuangan-jatim.org/v03/index.php?mod=berita&id=3605, diakses 31 Agustus 2010
Territorial Dispute.” di: http://en.wikipedia.org/wiki/Territorial_dispute. diakses pada 4 Juni 2012.
Wazirudin bin Mahfot, Mej. DasarPertahanan Negara: Semasa Era Insurgensi
dan Selepas,
http://www.mafsc.edu.my/administrator/uploads/publications/1318394687 226985_LINK_DASAR_PERTAHANAN_NEGARA_SEMASA_ERA_I NSURGENSI_DAN_SELEPAS.pdf, dikases 9 Juni 2013,
1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Kepemilikan kekuatan militer yang kuat sangat diperlukan oleh setiap
negara di dunia. Kekuatan militer ini tidak hanya diperlukan untuk menjaga
stabilitas domestik sebuah negara, tapi juga dibutuhkan untuk meningkatkan nilai
tawar politik negara tersebut dalam percaturan politik global. Kenyataan sejarah
pun telah membuktikan, negara-negara yang mampu mengontrol politik dunia
yang cenderung anarki adalah negara-negara yang memiliki kekuatan militer.
Sejak zaman raja-raja sampai kelahiran negara modern, militer telah
menunjukkan kemanfaatannya bagi sebuah kerajaan atau negara untuk
mengontrol politik dunia. Misalnya saja, Kerajaan Romawi, Persia, maupun
Majapahit di Nusantara. Ketiga kerajaan ini merupakan contoh kecil sejarah yang
telah membuktikan bahwa dengan kekuatan militer yang mereka miliki, kontrol
politik dunia berada di bawah kekuasaannya. Begitu pula pada era Perang Dunia I
dan II, negara-negara yang telibat di dalamnya adalah negara-negara yang
memiliki kekuatan militer. Kemudian, pada masa Perang Dingin, Uni Soviet dan
Amerika Serikat adalah dua negara dengan kekuatan militer yang luar biasa.
Bahkan, pada masa kontemporer ini, keberadaan militer masih sangat signifikan
bagi keberadaan sebuah negara.
Indonesia sebagai negara wilayah geografis yang sangat luas, terbagi
2 menjamin keutuhan wilayahnya dari ancaman negara-negara lain. Kenyataan ini
memberikan konsekuensi logis bagi Indonesia untuk terus memajukan dan
meningkatkan kekuatan militernya. Apalagi sejak runtuhnya Orde Baru, sebagai
konsekuensi dari penghapusan peran militer dalam politik, institusi militer
Indonesia telah dikembalikan perannya sebagai satu-satunya institusi yang
menjamin keutuhan wilayah dan negara.
Fungsi militer sebagai penjaga kedaulatan negara tentu tidak dapat
dilepaskan dengan kenyataan bahwa potensi konflik. Menurut Kusnanto
Anggoro,1 Peneliti pada Institute of Defence and Security Studies (IODAS), negara yang wilayahnya berupa geografis maritim seperti Indonesia akan
dihadapkan pada lima potensi konflik. Pertama, sengketa perbatasan, baik yang
terjadi karena sengketa perbatasan darat maupun karena tumpang tindih yurisdiksi
maritim; kedua, merebaknya nasionalisme sumber daya (resource nationalism);
ketiga, ancaman-ancaman non-konvensional (misal, perampokan dan terorisme
maritim) yang secara langsung menebar maut pada kewibawaan negara, meskipun
jarang terjadi, merupakan ancaman terhadap keutuhan wilayah negara; keempat,
perusakan lingkungan; kelima, potensi ancaman lain sebagai konsekuensi (baca:
kekhawatiran) negara-negara luar kawasan atas stabilitas dan keamanan wilayah
maritim Asia Tenggara.
Potensi-potensi konflik tersebut mengharuskan Indonesia untuk terus
memajukan dan meningkatkan kapasitas kekuatan militernya. Apalagi, kekuatan
militer Indonesia masih jauh dari negara-negara Asia Tenggara lainnya. Misalnya,
1
3 pada tahun 2010, personel milter aktif Indonesia berjumlah 302.000 personel,
lebih rendah dibanding Thailand dengan 305.860 personel, Myanmar 406.000
personel, dan Vietnam 455.000 personel.2 Kemudian, dari segi persenjataan, artileri Indonesia berjumlah 1.010 unit, lebih rendah dibandingkan Vietnam
dengan 3.040 unit dan Thailand 2.473 unit.3 Indonesia bahkan kalah dengan Malaysia dalam kepemilikan persenjataan ACV (Apple Cider Vinegar), sejenis
kendaraan tempur infantri. Malaysia memiliki 1.193 unit ACV, sedangkan
Indonesia hanya 509 unit ACV.4 Kenyataan ini sangat mengkhawatirkan, apabila mengingat status Indonesia sebagai negara terluas di Asia Tenggara yang tentunya
sangat rawan bagi terjadinya konflik bilateral, khususnya dengan Malaysia.
Beberapa tahun belakangan ini, Malaysia sendiri telah melakukan
modernisasi alutsistanya. Salah satu contoh, pengadaan jet tempur MiG-29
N/NUB dari Rusia tahun 1995, dilanjutkan dengan pengadaan F/A-18D Hornet
pada tahun 1997. Saat itu, boleh dibilang jet tempur Malaysia sudah lebih unggul
dari Indonesia. Seolah mengikuti jejak TNI AU yang membeli Sukhoi, maka
TUDM (Tentara Udara Diraja Malaysia) juga membeli 18 unit Sukhoi
Su-30MKMs yang sudah datang sejak 2007 silam. Sedangkan dari aspek laut, TLDM
(Tentara Laut Diraja Malaysia) membangun armada kapal selam sejak tahun
2002.5 Tindakan Malaysia ini tentunya tidak dapat dilepaskan dengan realitas
2
Iwan Sulistyo, 2012, Kebijakan Pertahanan Indonesia 1998-2010 dalam Merespon Dinamika Lingkungan Strategis di Asia Tenggara, Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada, hal. 109-110 3
Ibid, hal. 110-111 4
Ibid, hal. 110 5
Indomiliter, Meneropong Kekuatan Rudal Malaysia, di:
4 sejarah yang pernah dialami, terutama dengan negara tetangganya, khususnya
Indonesia.
Sejarah hubungan bilateral Indonesia dan Malaysia seringkali dihadapkan
pada kondisi yang tidak harmonis. Kedekatan kultural sebagai bangsa melayu
ternyata bukanlah jaminan kedua negara yang bertetangga ini dapat hidup dalam
kedamian. Sejak Indonesia merdeka di tahun 1945, sejarah mencatat berbagai
peristiwa konfliktual antara Indonesia dan Malaysia telah melengkapi perjalanan
hubungan bilateral kedua negera. Kenyataan geografis bahwa keduanya
bertetangga, tidak menjamin kehidupan yang harmonis.
Panasnya hubungan kedua negara yang telah terjadi selama
berpuluh-puluh tahun tersebut tak kunjung usai, bahkan pemerintah Malaysia seakan tidak
bergeming saat menghadapi gelombang protes dari Indonesia. Beberapa kejadian
konflik yang berkepanjangan tersebut, menjadi catatan sejarah perjalanan kedua
bangsa yang memiliki akar suku bangsa melayu tersebut. Pada tanggal 27 Juli
1963, Bung Karno mencanangkan gerakan Ganyang Malaysia.6 Sejak saat itulah, era konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia dimulai.
Sikap konfrontasi dipicu oleh pandangan Soekarno bahwa keberadaan
Malaysia merupakan simbol imperialism yang dapat mengancam keutuhan
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sikap tersebut bertambah parah
ketika pada tanggal 16 September 1963, atas dukungan Inggris, Federasi Malaysia
resmi dibentuk.7 Konflik konfrontatif ini baru mereda pada era kepemimpinan
6
PDIP Jatim, Sejarah Konflik Indonesia-Malaysia, di:
http://www.pdiperjuangan-jatim.org/v03/index.php?mod=berita&id=3605, diakses 31 Agustus 2010
5 Soeharto. Pasca kepemimpinan Soeharto, hubungan Indonesia dan Malaysia tidak
otomatis menjadi harmonis. Keduanya kemudian dihadapkan pada konflik
perbatasan, seperti Sipadan-Ligitan dan Ambalat yang mengharuskan perluanya
kesiagaan militer walaupun pada akhirnya tidak juga berakibat pada terjadinya
konflik terbuka.
Terkait dengan konflik perbatasan Indonesia dan Malaysia ini, Kusnanto
Anggoro mengatakan, di masa mendatang tidak tertutup kemungkinan persoalan
yang sama akan terjadi.8 Pernyataan ini mengindikasikan bahwa potensi konflik kedua negara di masa depan tidak akan hilang dengan selesainya persoalan
Ambalat, Sipidan dan Ligitan. Kerena itulah, apabila kita berbicara dalam konteks
pontesi konflik dengan penggunaan kekuatan militer, bukan sesuatu yang
mustahil.
Namun, sampai detik ini konflik secara terbuka itu belum juga terjadi.
Kenyataan ini sangat menarik bagi peneliti untuk meneliti lebih jauh tentang
perbandingan militer Indonesia dan Malaysia. Sebab, perbedaan postur kekuatan
militer yang berbeda dapat berpotensi terjadinya konflik antara kedua negara.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari pertanyaan ini adalah bagaimana perbandingan
postur militer Indonesia dan Malaysia? dan sejauhmana implikaisnya pada potensi
terjadinya konflik bilateral antara Indonesia dan Malaysia?
8
6 1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui
postur kekuatan militer Indonesia dan Malaysia. Serta, implikaisnya pada potensi
terjadinya konflik bilateral antara Indonesia dan Malaysia.
1.4 Penelitian Terdahulu
8
Realisme memiliki pandangan bahwa pada dasarnya manusia itu agresif,
melakukan apapun demi memuaskan keinginan, egois, mau menang sendiri,
serta homo homini lupus (manusia itu serigala bagi manusia lain). Hal-hal
semacam inilah yang menimbulkan konfliktual yang terjadi diantara manusia.
Bisa dibayangkan jika manusia saja sangat berpotensi untuk berkonflik dengan
manusia lain, apalagi negara-negara. Potensi antar negara untuk saling berkonflik
9 nasionalnya sendiri berarti bahwa negara dan pemerintahan lainnya tidak akan
pernah diharapkan sepenuhnya.9
Ada beberapa asumsi dasar dari kaum realis: Pertama adalah Hubungan
Internasional bersifat “anarchic”. Apa yang dimaksud dengan anarchic disini
adalah tidak adanya kekuasaan yang lebih tinggi dari negara; Kedua adalah negara
merupakan kesatuan dan bersifat rasional. Dalam kata lain adalah prudence, yang
artinya adalah negara akan berhati-hati tidak akan bertindak di luar
kemampuannya karena tanggung jawab negara adalah untuk melindungi rakyat
dari negara tersebut. Ketiga adalah negara sebagai aktor yang utama yang
melakukan hubungan dengan negara lain dengan berbagai tendensi seperti untuk
memperoleh kepentingan atau interest-nya; Keempat adalah konsentrasi utama
sebuah negara yaitu survival, yang dimaksud dengan survival adalah kemampuan
negara untuk mempertahankan apa yang menjadi hak-haknya dan untuk
mempertahankan eksistensinya; Kelima adalah moralitas yang dianggap oleh
kaum realis memiliki tempat terbatas atau tidak penting dalam politik
Internasional. Disini terjadi perdebatan antara kaum realis dengan kaum neorealis
yang masih memiliki pandangan bahwa moral itu penting dalam Hubungan
Internasional termasuk politik Internasional. Keenam adalah kemenangan relatif
diatas kemenangan mutlak. Realis berpendapat bahwa tidak ada yang absolut; dan
Ketujuh adalah politik Internasional yang lebih penting dari pada politik domestik,
sehingga permasalahan pribadi negara tidak dapat menjadi concern kaum realis.
9
10 Politik domestik menjadi penting bagi kaum realis ketika memiliki hubungan
dengan politik Internasional.
1.5.2 Security Dilemma
Konsep security dilemma pertama kali dikemukakan oleh John Herz dalam
jurnal world politics.10 Herz berargumen bahwa negara yang hidup dalam sebuah
sistem yang anarki harus memperhatikan masalah keamanannya, baik dari
serangan ataupun dominasi negara lain. Oleh karena itu, negara tersebut akan
berusaha untuk meningkatkan kekuatannya agar bisa terhindar dari ancaman
kekuatan negara lain. Hal ini akan menyebabkan negara lain menjadi tidak aman
dan berasumsi mengenai kemungkinan yang terburuk. Karena tidak ada yang bisa
merasa aman sepenuhnya dalam dunia yang penuh dengan kompetisi ini, maka
akhirnya muncullah vicious circle of security (lingkaran setan keamanan) dan
upaya peningkatan kekuatan yang sebesar-besarnya.11
Vicious circle of security merupakan gambaran bahwa dalam sistem
Internasional negara-negara terjebak dalam situasi kekhawatiran antara satu sama
lain ketika dihadapkan dengan masalah keamanan. Setiap negara selalu merasa
terancam apabila terjadi peningkatan kekuatan pada negara lainnya dan selalu
merespon dengan peningkatan kekuatan juga. Argumen Herz tersebut juga
memperlihatkan pada kita bahwa rasa tidak aman yang disebabkan oleh
10
John H Herz, 1950, Idealist Internationalism and the Security dilemma, dalam World Politics, Vol. 2, No. 2, Cambridge University Press.
11
11 ketidakpastian atas tujuan dari tindakan negara lain merupakan penyebab
terjadinya kondisi tersebut.12
Sementara itu Herbert Butterfield menggambarkan adanya rasa tidak
percaya yang berkembang di antara dua aktor sehingga menyebabkan security
dilemma. Hal ini dapat kita temukan dalam pernyataanya:
“For you know that you yourself mean him no harm, and you want nothing from him save guarantees your own safety; and it is never possible for you to realize or remember properly that since he cannot see the inside of your mind, he can never have the same assurance of your intentions that you have. As this operates on both sides the Chinese puzzle is complete in all its interlockings–and neither party sees the nature of the predicament he is in, for each only imagines that the other party is being hostile and unreasonable. It is even possible for each to feel that the other is wilfully withholding the guarantees that would have enabled him tohave a sense of security.”13
Dalam hal ini, melalui pernyataannya tersebut Butterfield memandang
bahwa aktor-aktor dalam sistem Internasional diliputi oleh rasa tidak percaya satu
sama lainnya. Seorang aktor tidak akan bisa memahami maksud dari tindakan
aktor lainnya. Oleh karena itu, masing-masing aktor akan berasumsi bahwa aktor
lain berniat jahat dan akan berusaha untuk meningkatkan keamanan. Skema yang
digambarkan oleh Butterfield dalam narasinya juga merupakan sebuah pola
kontinuitas aksi dan reaksi yang kemudian juga akan berakhir pada konflik.
Pengembangan konsep security dilemma ini terlihat dari karya Robert
Jervis.14 Jervis menggambarkan jika sebuah negara meningkatkan kemampuan
untuk mempertahankan diri, maka peningkatan itu bisa terlalu banyak dan terlalu
12
Booth dan Wheeler menyebutnya sebagai security paradox.Baca Ken Booth dan Nicholas J. Wheeler, 2008, The Security dilemma: Fear, Cooperation and Trust in World Politics, New York, Palgrave, hal. 22
13
Herbert Butterfield, 1950, The Tragic Element in Modern International Conflict, dalam The Review of Politics, Vol. 12, No.2, Cambridge University Press, hal. 154-155.
14
12 sedikit, terlalu banyak karena kemampuan tersebut juga bisa digunakan untuk
menyerang negara lain, terlalu sedikit karena negara lain yang merasa terancam
akan meningkatkan kemampuannya juga dan akan membuat negara pertama
menjadi tidak aman.15 Akibatnya akan terjadi fenomena aksi-reaksi dalam
peningkatan kualitas dan kuantitas persenjataan.
Barry Buzan dan Eric Herring dalam tulisannya The Arms Dynamic in
World Politics, menjelaskan mengenai aksi-reaksi yang menyatakan bahwa:
“The basic proposition of the action-reaction model is that states strengthen their armaments because of the threats the states perceive from other state. States will arm themselves either to seek security against the threats posed by others or increase their power to achieve political objectives through use of force, implicit or explicit threats, or symbolism. Balances (including balances in political status as well as balances of military power) will emerge at higher or lower levels of armament, depending on how willing states are to drive up the price of achieving their objectives.16
Penjelasan diatas memberikan pemahaman bahwa proposisi dasar dari
model aksi-reaksi adalah suatu negara memperkuat persenjataannya karena
adanya ancaman yang datang dari negara lain. Kerangka pemikiran ini
memberikan keleluasaan dalam melihat penggunaan kekuatan militer untuk
mencapai tujuan politik dengan menggunakan kekerasan, ancaman implisit atau
eksplisit, atau simbolisme, yang disertai adanya campuran motif kekuasaan dan
keamanan dalam perilaku negara.
Pada umumnya instrumen militer dapat digunakan untuk melakukan
penyerangan yang bertujuan defensif. Sulit bagi setiap negara untuk membedakan
antara negara-negara lain dalam mengambil tindakan untuk membela diri mereka
15
Robert Jervis, Ibid, hal. 55 16
13 sendiri dan tindakan mereka dalam meningkatkan kemampuan mereka yang
bertujuan agresi. Oleh sebab itulah, diperlukan adanya penyesuaian yang dilihat
oleh beberapa negara lain sebagai kemungkinan ancaman, bahkan suatu sistem di
mana semua negara hanya mencari pertahanan mereka sendiri, sehingga
menghasilkan akumulasi kompetitif kekuatan militer.
Arm race atau biasa disebut perlombaan senjata, dalam Ilmu politik
Internasional adalah sebagai bentuk konkrit dari security dilemma. Sebagaimana
menurut Barry Buzan, perlombaan senjata adalah “..self simulating military
rivalry between states, in which their efforts to defend them selves military cause
them toenchance the treaths they pose to each other..”17
untuk menjelaskan arm
race ini harus menganalisa bagimana suatu perlombaan senjata bisa terjadi
dimana adanya dinamika yang terjadi antara 2 atau lebih negara yang berinteraksi.
1.5.3 Konflik Perbatasan
Konflik secara konseptual yaitu dengan konflik dimaksudkan perwujudan
dan/atau pelaksanaan beraneka pertentangan antara dua pihak, yang dapat
merupakan dua orang atau bahkan golongan besar seperti negara. Kadang-kadang
konflik digunakan untuk menyebut pertentangan antara pandangan dan perasaan
seseorang (psikologis; percecokan; bentrokan).18 Sedangkan penyebab terjadinya
konflik disebutkan oleh Steven L. Spiegel yaitu : Conflik is produced by a clash of
Culture, a disharmony of Interest, a disparity of perception, all of which result
17Barry Buzan, “
An Introductionto Strategic studies: Military Technology and Internasional Relations” dalam Dedik Fitra Suhermanto, 2012, Pengaruh Intensitas
Konflik Perbatasan Maritim Terhadap Potensi Perlombaan Senjata di Asia Tenggara, hal 23. 18
14 mobility of the parties to accept separately and together the evironment they line
in.19
Soerjono Soekanto menyatakan sebab-sebab timbulnya konflik dapat
dibedakan sebagai berikut:20 Pertama, perbedaan antara individu–individu,
Perbedaan pendirian sikap dan perasaan mungkin melahirkan bentrokkan antar
mereka. Kedua, perbedaan kebudayaan, Setiap kelompok masyarakat tidak lepas
dari pola-pola yang menjadi latar belakang pembentuk serta perkembangan
kebudayaan kelompok yang bersangkutan. Perbedaan itu baik disebabkan oleh
perbedaan fisik maupun lingkungan sosial budayanya. Ketiga, perbedaan
kepentingan, Perbedaan kepentingan ini menyangkut kepentingan ekonomi,
politik dan sebagainya. Keempat, perubahan sosial, Perubahan sosial yang begitu
pesat apalagi di era-globalisasi ini secara langsung akan berpengaruh juga
terhadap nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Sebagian kelompok masyarakat
tersebut ada yang siap menerima perubahan namun ada pula yang tidak siap
menerima perubahan. Akibat ketidaksiapan itu dapat saja memicu konflik dalam
masyarakat. Istilah konflik biasanya mengacu pada kondisi dimana suatu
kelompok manusia (baik etnis, bahasa, budaya, agama, sosial, ekonomi, politik
dan sebagainya) terlibat dalam pertentangan secara sadar dan atau lebih kelompok
manusia lainnya karena kelompok ini mengejar atau mempunyai perbedaan
sasaran.
Conflict as a social situation in which in minimum two actors (parties)
strive to acquire at the same moment in time an available set of scarce
19
Steven l. Spiegel and Kenneth N. Walst, 1997, Conflict in World Politic, Winthrop Publisher Inc, Massachusetts, hal. 4.
20
15
source.21“A territorial dispute is a disagreement over the possession/control of
land between two or more state or over the possession or control of land by a new
state and occupying power after it has conquered the land from a former state no
longer currently recognized by the new state.”22
Konflik perbatasan dapat
diartikan juga sebagai “Boundary dispute is over all states arguing over their
boundaries or how they function.”23 Jadi, konflik perbatasan atau konflik atas
klaim suatu wilayah merupakan ketidaksepakatan atas kepemilikan dan kontrol
atas suatu wilayah yang disengketakan oleh dua negara atau lebih. Adapun potensi
konflik bilateral yang dapat terjadi dapat diperjelas dalam skema berikut.
Gambar 1.1 Skema Potensi Konflik
21“Territorial Dispute.”
di: http://en.wikipedia.org/wiki/Territorial_dispute. diakses pada 4 Juni 2012.
22“Boundary Dispute”
di:http://wiki.answers.com/Q/What_is_the_definition_for_Boundary_disputes_also_definitional
locational_perational_and_allocational, diakses pada 4 Juni 2012. 23
Peter Wallensteen. Understanding Conflict Resolution: War, Peace and the Global System. 2002. London: Sage Publication. hal. 95-96.
Security Dilemma
Anarki
Aksi–Reaksi/arm race AncamanPeningkatan Kapabilitas Militer
Intensitas Konflik perbatasan
16 1.6 Metode Penelitian
1.6.1 Tipe Penelitian
Tipe penelitian ini adalah Analisis-Komperatif. Artinya, dalam penelitian
ini, peneliti akan melakukan perbandingan kekuatan militer antara Indonesia dan
Malaysia dalam bentuk diskripsi. Kemudian, setelah peneliti mengetahui postur
kekuatan militer masing-masing negara, peneliti akan mencoba meninjau lebih
jauh mengenai potensi konflik bilateral yang dapat terjadi.
Gambar 1.2 Operasionalisasi konsep
1.6.2 Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini bersifat studi kepustakaan. Maka, dalam kegiatan
pengumpulan data peneliti menggunakan dokumen-dokumen yang sudah ada,
seperti buku, majalah dan karya-karya ilmiah yang lain. Di lain hal, peneliti juga
memanfaatkan data-data yang terdapat dalam media cetak dan elektronik, yaitu:
koran dan internet. Artinya, data-data yang digunakan merupakan data-data
sekunder.
Postur militer Indonesia
Postur militer Malaysia
Security dilemma
Menimbulkan: 1. Ancaman
2. Aksi reaksi/arm race
konflik perbatasan:
17 1.6.3 Ruang Lingkup (Batasan) Penelitian
Penelitian ini mencakup dua hal, yaitu, batasan materi dan batasan waktu.
Batasan materi penelitian menfokuskan pada postur militer Indonesia dan
Malaysia dan intensitas potensi konflik antara kedua negara dengan kekuatan
militer yang dimilikinya tersebut. Sedangkan batasan waktunya adalah dari Tahun
1998-2014.
Batasan waktu tersebut didasarkan pada kenyataan bahwa pada kedua
periode itu, tuntutan demokratisasi semakin menguat di masing-masing negara.
Sehingga, dengan sendirinya hal akan berakibat pada posisi militer. Sebagaimana
kita ketahui, demokrasi tidak menghendaki intervensi militer dalam politik
pemerintahan.
1.6.4 Kriteria dan Rasionalisasi Perbandingan
Kriteria perbandingan postur militer Indonesia dan Malaysia meliputi dua
hal, yaitu: sumber daya militer (military resource) dan fokus perhatian penguatan
keamanan negara (military concern). Sumber daya militer terdiri dari jumlah
personel (Tentara), Budget (anggaran belanja militer) dan alutsista (alat utama
sistem persenjataan). Sedangkan military concern merupakan fokus
pengembangan militer pada era 1998-2014.
Selain itu, peneliti juga merumuskan rasonalisasi perbandingannya. Dalam
hal ini, negara yang memiliki wilayah geografis lebih luas memiliki kebutuhan
jumlah personel yang lebih banyak dibandingkan dengan negara dengan geografis
lebih kecil dalam menjamin keamanan nasionalnya. Sebagai negara bergeografis
18 negara bergeografis kecil. Begitu juga dengan budget negara untuk
membelanjakan kebutuhan militernya.
1.7 Hipotesa
Dengan adanya perbandingan postur kekuatan militer antara
Indonesia-Malaysia, Dan juga diwarnai dengan konflik-konflik bilateral salah satunya
konflik perbatasan. Maka kedua Negara tersebut merasa terancam sehingga
menimbulkan peningkatan kapabilitas kekuatan militernya, dan potensi konflik
sangatlah mungkin terjadi antara Indonesia dan Malaysia.
1.8 Struktur Penulisan
Struktur penulisan dalam kegiatan penelitian ini terbagi ke dalam 5 (lima)
bab, sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Bab yang pertama ini meliputi beberapa hal, diantaranya: latar belakang
masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan atau manfaat penelitian,
kerangka pemikiran, metode penelitian, hipotesa dan struktur penelitian.
BAB II DINAMIKA KAWASAN ASIA TENGGARA DAN KONFLIK BILATERAL INDONESIA-MALAYSIA
Pada bab ini, penulis akan menggambarkan mengenai dinamika kawasan
Asia Tenggara dan konflik bilateral antara Indonesia-Malaysia mengenai masalah
19 BAB III POSTUR MILITER INDONESIA-MALAYSIA
Pada bab ini penulis selanjutnya memfokuskan pada kajian postur militer
Indonesia dan Malaysia. Bab ini kami dibagi lagi kedalam beberapa sub-bab.
BAB IV ANALISIS PERBANDINGAN POSTUR MILITER DAN POTENSI KONFLIK INDONESIA-MALAYSIA
Bab IV ini menfokuskan pada kajian analitis mengenai postur militer
Indonesia-Malaysia dan potensi konflik Indonesia dan Malaysia yang peneliti
kaitkan dengan realitas kekuatan militer kedua negara yang terdapat dalam Bab II
dan Bab III.
BAB V PENUTUP
Bab ini merupakan bab terakhir dalam penulisan ataupun pelaporan
kegiatan penelitian. Bab terakhir ini terdiri dari kesimpulan dan beberapa