22 6 - 21 RAMADLAN 1431 H
S
alah satu upaya keras untuk menentukan arah kiblat bagi umat Islam yang tidak dapat melihat Kakbah secara langsung ada-lah dengan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Da-lam hal ini, sekurang-kurangnya, ada dua disiplin ilmu pengetahuan yang dapat membantu terpenuhinya keha-rusan tersebut. Ilmu yang dimaksud adalah ilmu falak (astronomi) dan geografi. Karena pemanfaatan dua disiplin ilmu tersebut dapat membantu terpenuhinya suatu kewajiban, maka penggunaan dua atau salah satu disi-plin ilmu tersebut, untuk mendapat-kan arah kiblat yang benar, adalah suatu yang niscaya. Hal ini sejalan dengan kaidah:“Sesuatu yang dapat menjadikan suatu kewajiban dapat dikerjakan secara sempurna, maka penggunaan sesuatu itu menjadi suatu ke-harusan”.
Sebagaimana telah diketahui, bahwa Fatwa Majelis Ulama Indo-nesia (MUI) nomor 03 Tahun 2010 pada 16 Shafar1431 H bertepatan de-ngan 01 Februari 2010 M, menegas-kan bahwa, pertama, Kiblat bagi orang yang shalat dan dapat melihat Kakbah adalah menghadap ke bangunan Ka’bah (‘ainul Kakbah).
Kedua, Kiblat bagi orang yang shalat dan tidak dapat melihat Kakbah ada-lah arah Kakbah (jihat al-Kakbah).
Ketiga, letak geografis Indonesia
yang berada di bagian timur Kakbah/ Makkah, maka kiblat umat Islam In-donesia adalah menghadap ke arah barat.
Poin pertama yang menegaskan, bahwa kiblat bagi orang yang shalat dan dapat melihat Kakbah adalah menghadap ke bangunan Kakbah, sejalan dengan pandangan Muham-madiyah. Begitu juga poin kedua, ki-blat bagi orang yang shalat dan tidak dapat melihat Kakbah adalah arah Kakbah, juga sejalan dengan pan-dangan Muhammadiyah. Namun, poin ketiga yang menegaskan, letak geografis Indonesia berada di bagian timur Kakbah/Makkah, maka kiblat umat Islam Indonesia adalah meng-hadap ke arah barat, tidak sejalan de-ngan pandade-ngan Muhammadiyah.
Poin ketiga lebih didasarkan pada pemahaman sempit terhadap sebuah Hadits tanpa didukung dengan upaya keras untuk mendapatkan arah Kiblat yang sebenarnya. Sepanjang mampu, upaya keras mendapatkan arah Kiblat yang sebenarnya adalah wajib. Untuk era sekarang ini, mendapatkan arah Kiblat yang benar, bukan pekerjaan yang sulit dilakukan. Sebaliknya, banyak kemudahan yang didapatkan umat Islam ketika bersedia berusaha keras mendapatkan arah kiblat yang sebenarnya. Ilmu pengetahuan ma-nusia sudah cukup untuk membantu mendapatkan arah kiblat yang sebe-narnya bagi orang yang akan menu-naikan shalat.
Fatwa MUI tentang arah Kiblat, khususnya diktum ketiga, agaknya
KH AHMAD DAHLAN
DAN PERJUANGAN MELURUSKAN
ARAH KIBLAT (3)
didasarkan pada analogi (qiyas) terhadap Hadits Nabi yang berkenaan dengan kiblat penduduk yang tinggal di sebelah utara Kakbah, yaitu warga Madinah dan sekitarnya. Dalam Hadits sahih riwayat Imam al-Tirmidzi, Nabi saw bersabda:
“Arah mana saja antara timur dan barat adalah Kiblat” (HR. Tirmidzi) Bagi warga Madinah dan sekitar-nya yang berada di utara Kakbah, arah antara timur dan barat itu adalah se-latan. Secara astronomis, arah kiblat bagi warga Madinah dan sekitarnya memang ke arah selatan. Jika sebuah fatwa menetapkan, arah kiblat orang Indonesia ke arah barat dengan meng-qiyaskan kepada warga Madinah dan sekitarnya karena adanya ‘illat sama-sama tidak melihat Kakbah, agaknya masih perlu dikaji ulang. Hadits yang menegaskan bahwa “Arah mana saja antara timur dan barat adalah Kiblat”, sesungguhnya masih koma, belum titik. Karena Hadits serupa riwayat Imam Malik dari Umar ibn Khaththab memuat tambahan:
“Apabila menghadap ke arah Kakbah”
Jika dibaca secara sempurna, ma-ka Hadits tersebut sebenarnya mene-gaskan, “Antara timur dan barat ada-lah Kiblat apabila arahnya adaada-lah menghadap ke arah Kakbah.” Dalam hadits riwayat Bukhari, Nabi saw
KI AGENG AF. WIBISONO
23 SUARA MUHAMMADIYAH 16 / 95 | 16 - 31 AGUSTUS 2010
menegaskan keharusan menghadap ke Kakbah dalam shalat dan bukan sekadar menghadap antara timur dan barat, antara selatan dan utara dan seterusnya, tanpa upaya sungguh-sungguh menghadap ke arah Kak-bah. Kewajiban menghadap ke arah Kakbah, agaknya, belum tertunaikan bila seseorang sekedar menghadap ke barat, timur, selatan, utara, dan seterusnya, tanpa kepastian bahwa arah tersebut menuju ke arah kiblat.
7. Catatan Penutup
Sebagai catatan penutup dapat
dikemukakan bahwa umat Islam In-donesia yang berada jauh dari kota Makkah dan tidak melihat langsung bangunan Kakbah, arah kiblat cukup ke arah Kakbah (jihat al-Kakbah). Pandangan seperti inilah yang telah digagas KH Ahmad Dahlan pada tah-un 1897 atau setahtah-un pasca ia me-nyandang gelar Khatib Amin. Peris-tiwa pelurusan arah kiblat Masjid Besar Yogyakarta pada tahun 1897 merupakan gagasan brilian yang lahir dalam tradisi Muhammadiyah.
KH Ahmad Dahlan, pendiri
Mu-hammadiyah, memiliki pandangan, bahwa bagi yang mempunyai ke-mampuan dan kesempatan, berupaya keras untuk mendapatkan arah Kak-bah yang sebenarnya adalah meru-pakan suatu kewajiban. KH Ahmad Dahlan memang menguasai ilmu falak dan geografi yang ia peroleh selama belajar di Semarang (RH Dahlan) dan Bukittinggi (Syaikh Jamil Jambek). Dua disiplin ilmu ini dapat membantu upaya keras menentukan arah kiblat yang sebenarnya dalam shalat.
Wallahu A’lam bi al-Shawab!l
Ralat :
Iklan di Majalah SM No. 14/Th. 95 edisi 1-15 Agustus 2010, tertulis ucapan Selamat atas terpilihnya Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2010-2105 yang benar 2010-2015.