Perancangan Dan Pembuatan Gerbang Otomatis Menggunakan Limit Switch Berbasis Mikrokontroler AT89S51

69  39 

Teks penuh

(1)

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN GERBANG OTOMATIS

MENGGUNAKAN DENGAN LIMIT SWITCH

BERBASIS MIKROKONTROLER AT89S51

TUGAS AKHIR

Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat memperoleh gelar Ahli Madya

JHONRISDO.P.SAMOSIR

092408004

PROGRAM STUDI D3 FISIKA

DEPARTEMEN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

PENGHARGAAN

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan rahmatNya , sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan baik dan dalam waktu yang telah ditetapkan.

(3)

ABSTRAK

Seperti yang kita ketahui bahwa dalam kehidupan sehari hari banyak pekerjaaan yang dilakukan itu sangat rumit, pada zaman serba canggih ini merupakan bagian Yang sangat penting dalam kehidupan manusia untuk dapat berkembang secara maju yang merupakan tuntutan dibidang elektronika dan Instrumentasi dalam hal pengembangannya. Sebagai Mahasiswa D3 Fisika Universitas Sumatera Utara diharapkan dapat mengimplementasikan ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang berbekal duduk dibangku perkuliahan kedalam kehidupan nyata sehari – hari. Oleh sebab itu maka penulis merencanakan sebuah tugas akhir yang berjudul “PERANCANGAN DAN PEMBUATAN GERBANG OTOMATIS MENGGUNAKAN LIMIT SWITCH BERBASIS MIKROKONTROLER AT89S51” Tujuan dari perancangan dan pembuatan proyek ini adalah untuk mengaplikasikan Teori yang didapat penulis dari perkuliahan dengan membuat suatu alat. Dan tujuan dari pembuatan tugas akhir adalah sebagai salah satu syarat untuk tamat dan lulus program Diploma III. Dimana alat ini bisa digunakan pada Instansi -instansi Pemerintah dan Swasta maupun untuk keperluan peribadi/rumah untuk kepentingan efisiensi suatu pekerjaan.

(4)
(5)
(6)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Keamanan dan efektifitas merupakan suatu hal yang penting dalam kehidupan sehari hari. Misalnya keamanan rumah , Instansi/Perkantoran, maupun pabrik dari tindakan pencurian. Banyak cara yang dilakukan orang untuk mengamankan rumah, perkantoran atau pabriknya terebut. Salah satu cara yang paling umum digunakan adalah memagar rumah atau perkantoran tersebut dengan tembok atau besi. Sehingga untuk dapat memasuki rumah tersebut harus ada pintu gerbang. Biasanya pintu gerbang tersebut dijaga oleh seorang yang bertugas untuk membuka / menutup gerbang tersebut ketika ada yang masuk atau keluar melalui pintu gerbang tersebut. Ini berarti orang yang bertugas menjaga pintu gerbang tersebut harus selalu berada didekat pintu gerbang tersebut. Jika ada beberapa orang yang bertugas menjaga gerbang, mungkin ini tidak menjadi masalah , namun jika hanya ada satu orang penjaga, hal ini akan menjadi masalah.

(7)

diluar gerbang akan memasuki gerbang. Jika yang akan memasuki pintu gerbang adalah orang lain (tamu), mungkin tidak masalah, namun jika yang ingin masuk adalah orang yang juga tinggal dirumah tersebut tentunya ini akan sedikit merepotkan. Disatu sisi orang yang berada di dalam rumah tersebut harus keluar untuk membukakan pintu gerbang, disisi yang lain orang yang akan masuk harus menunggu sampai pintu gerbangnya ada yang membukakan. Inilah beberapa kekurangan yang terdapat pada pintu gerbang yang ada sekarang ini. untuk itu diperlukan pintu gerbang otomatis yang dapat mengatasi masalah tersebut.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian yang terdapat dalam latar belakang diatas, maka dalam Tugas Akhir ini akan dirancang sebuah gerbang otomatis yang dapat dibuka secara otomatis. Dengan memanfaatkan output berupa panggilan yang dihasilkan dari layar Telepon Selular/Handphone penerima sebagai penghantar kode untuk diteruskan ke LDR tersebut maka gerbang akan terbuka secara otomatis.

(8)

yang dikirimkan oleh LDR, maka diperlukan sebuah driver motor dan sebuah mikrokontroler untuk membandingkan nilai – nilai yang dikirimkan oleh LDR.

1.3 Tujuan Penulisan

1. Memanfaatkan output dari panggilan berupa cahaya yang dihasilkan dari layar handphone penerima untuk kemudian diteruskan ke LDR.

2. Merancang sebuah pintu gerbang yang dapat dibuka secara otomatis dengan Menggunakan bahasa assembly MCS-51 dengan perantara handphone

sebagai unit yang memberikan instruksi awal pada pengoperasiannya.

1.4 Batasan Masalah

Mengingat pembahasan dalam perencanaan alat yang dibuat dapat meluas, maka penulis mempunyai batasan sebagai berikut :

1. Alat yang dibuat berbasis Mikrokontroler

2. Mikrokontroler yang digunakan adalah AT89S51

3. Unit utama pemberi Instruksi dalam perancangan alat ini adalah Handphone sebagai unit pengirim instruksi.

(9)

1.5 Sistematika Penulisan

Untuk dapat mempermudah pembahasan dan pemahaman maka penulis membuat sistematika pembahasan sebagaimana sebenarnya prinsip kerja dari sebuah gerbang yang dapat dibuka secara otomatis dengan menggunakan bahasa assembly, maka penulis menulis laporan ini sebagai berikut :

BAB 1 PENDAHULUAN

Dalam bab ini berisikan mengenai latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, batasan masalah, serta sistematika penulisan.

BAB 2 LANDASAN TEORI

Dalam bab ini dijelaskan tentang teori pendukung yang digunakan untuk pembahasan dan cara kerja dari rangkaian.

BAB 3 PERANCANGAN ALAT DAN PROGRAM

(10)

BAB 4 PENGUJIAN ALAT DAN PROGRAM

Pada bab ini akan dibahas hasil analisa dari rangkaian dan sistem kerja alat, penjelasan mengenai rangkaian - rangkaian yang digunakan , penjelasan mengenai program yang diisikan ke mikrokontroler AT89S51.

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

(11)

ABSTRAK

Seperti yang kita ketahui bahwa dalam kehidupan sehari hari banyak pekerjaaan yang dilakukan itu sangat rumit, pada zaman serba canggih ini merupakan bagian Yang sangat penting dalam kehidupan manusia untuk dapat berkembang secara maju yang merupakan tuntutan dibidang elektronika dan Instrumentasi dalam hal pengembangannya. Sebagai Mahasiswa D3 Fisika Universitas Sumatera Utara diharapkan dapat mengimplementasikan ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang berbekal duduk dibangku perkuliahan kedalam kehidupan nyata sehari – hari. Oleh sebab itu maka penulis merencanakan sebuah tugas akhir yang berjudul “PERANCANGAN DAN PEMBUATAN GERBANG OTOMATIS MENGGUNAKAN LIMIT SWITCH BERBASIS MIKROKONTROLER AT89S51” Tujuan dari perancangan dan pembuatan proyek ini adalah untuk mengaplikasikan Teori yang didapat penulis dari perkuliahan dengan membuat suatu alat. Dan tujuan dari pembuatan tugas akhir adalah sebagai salah satu syarat untuk tamat dan lulus program Diploma III. Dimana alat ini bisa digunakan pada Instansi -instansi Pemerintah dan Swasta maupun untuk keperluan peribadi/rumah untuk kepentingan efisiensi suatu pekerjaan.

(12)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Keamanan dan efektifitas merupakan suatu hal yang penting dalam kehidupan sehari hari. Misalnya keamanan rumah , Instansi/Perkantoran, maupun pabrik dari tindakan pencurian. Banyak cara yang dilakukan orang untuk mengamankan rumah, perkantoran atau pabriknya terebut. Salah satu cara yang paling umum digunakan adalah memagar rumah atau perkantoran tersebut dengan tembok atau besi. Sehingga untuk dapat memasuki rumah tersebut harus ada pintu gerbang. Biasanya pintu gerbang tersebut dijaga oleh seorang yang bertugas untuk membuka / menutup gerbang tersebut ketika ada yang masuk atau keluar melalui pintu gerbang tersebut. Ini berarti orang yang bertugas menjaga pintu gerbang tersebut harus selalu berada didekat pintu gerbang tersebut. Jika ada beberapa orang yang bertugas menjaga gerbang, mungkin ini tidak menjadi masalah , namun jika hanya ada satu orang penjaga, hal ini akan menjadi masalah.

(13)

diluar gerbang akan memasuki gerbang. Jika yang akan memasuki pintu gerbang adalah orang lain (tamu), mungkin tidak masalah, namun jika yang ingin masuk adalah orang yang juga tinggal dirumah tersebut tentunya ini akan sedikit merepotkan. Disatu sisi orang yang berada di dalam rumah tersebut harus keluar untuk membukakan pintu gerbang, disisi yang lain orang yang akan masuk harus menunggu sampai pintu gerbangnya ada yang membukakan. Inilah beberapa kekurangan yang terdapat pada pintu gerbang yang ada sekarang ini. untuk itu diperlukan pintu gerbang otomatis yang dapat mengatasi masalah tersebut.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian yang terdapat dalam latar belakang diatas, maka dalam Tugas Akhir ini akan dirancang sebuah gerbang otomatis yang dapat dibuka secara otomatis. Dengan memanfaatkan output berupa panggilan yang dihasilkan dari layar Telepon Selular/Handphone penerima sebagai penghantar kode untuk diteruskan ke LDR tersebut maka gerbang akan terbuka secara otomatis.

(14)

yang dikirimkan oleh LDR, maka diperlukan sebuah driver motor dan sebuah mikrokontroler untuk membandingkan nilai – nilai yang dikirimkan oleh LDR.

1.3 Tujuan Penulisan

1. Memanfaatkan output dari panggilan berupa cahaya yang dihasilkan dari layar handphone penerima untuk kemudian diteruskan ke LDR.

2. Merancang sebuah pintu gerbang yang dapat dibuka secara otomatis dengan Menggunakan bahasa assembly MCS-51 dengan perantara handphone

sebagai unit yang memberikan instruksi awal pada pengoperasiannya.

1.4 Batasan Masalah

Mengingat pembahasan dalam perencanaan alat yang dibuat dapat meluas, maka penulis mempunyai batasan sebagai berikut :

1. Alat yang dibuat berbasis Mikrokontroler

2. Mikrokontroler yang digunakan adalah AT89S51

3. Unit utama pemberi Instruksi dalam perancangan alat ini adalah Handphone sebagai unit pengirim instruksi.

(15)

1.5 Sistematika Penulisan

Untuk dapat mempermudah pembahasan dan pemahaman maka penulis membuat sistematika pembahasan sebagaimana sebenarnya prinsip kerja dari sebuah gerbang yang dapat dibuka secara otomatis dengan menggunakan bahasa assembly, maka penulis menulis laporan ini sebagai berikut :

BAB 1 PENDAHULUAN

Dalam bab ini berisikan mengenai latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, batasan masalah, serta sistematika penulisan.

BAB 2 LANDASAN TEORI

Dalam bab ini dijelaskan tentang teori pendukung yang digunakan untuk pembahasan dan cara kerja dari rangkaian.

BAB 3 PERANCANGAN ALAT DAN PROGRAM

(16)

BAB 4 PENGUJIAN ALAT DAN PROGRAM

Pada bab ini akan dibahas hasil analisa dari rangkaian dan sistem kerja alat, penjelasan mengenai rangkaian - rangkaian yang digunakan , penjelasan mengenai program yang diisikan ke mikrokontroler AT89S51.

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

(17)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Arsitektur Mikrokontroler AT89S51

Mikrokontroler, sebagai suatu terobosan teknologi mikrokontoler dan mikrokomputer, hadir memenuhi kebutuhan pasar ( market need ) dan teknologi baru. Sebagai teknologi baru, yaitu teknologi semikonduktor dengan kandungan transistor yang lebih banyak namun hanya membutuhkan ruang kecil serta dapat diproduksi secara missal (dalam jumlah banyak) sehingga harga menjadi lebih murah (dibandingkan mikroprosesor). Sebagai kebetuhan pasar, mikrokontroler hadir untuk memenuhi selera industri dan para konsumen akan kebutuhan dan keinginan alat - alat bantu dan mainan yang lebih canggih serta dalam bidang pendidikan.

(18)

Pada sistem komputer perbandingan RAM dan ROM- nya besar, artinya program – program pengguna disimpan dalam ruang RAM yang relatif besar, sedangkan rutin -rutin antarmuka perangkat keras disimpan dalam ruang ROM yang kecil. Sedangkan pada mikrokontroler, perbandingan ROM dan RAM- nya yang besar artinya program control disimpan dalam ROM (bisa Masked ROM atau Flash PEROM) yang ukurannya relatif lebih besar, sedangkan RAM digunakan sebagai tempat penyimpanan sementara, termasuk register-register yang digunakan pada mikrokontroler yang bersangkutan.

Mikrokontroler AT89S51 merupakan salah satu keluarga dari MCS-51 Keluaran Atmel.Mikrokontroler ini pada prinsipnya dapat digunakan untuk mengolah data per bit ataupun data 8 bit secara bersamaan.

Pada prinsipnya program pada mikrokontroler dijalankan bertahap, jadi pada program itu sendiri terdapat beberapa sel instruksi dan tiap instruksi itu dijalankan secara bertahap atau berurutan.

(19)

6. Empat buah Programmable port I/O yang masing - masing terdiri dari delapan buah jalur I/O.

7. Sebuah port serial dengan kontrol serial full duplex UART. 8. Kemampuan untuk melaksnakan operasi aritmatika dan operasi logika. 9. Kecepatan dalam melaksanakan instruksi persiklus 1 mikrodetik pada frekuensi 12 MHz.

10. Interrupt Recovery dari Power Modes.

2.1.1 Konstruksi AT89S51

Mikrokontroler AT89S51 hanya memerlukan tambahan 3 kapasitor, 1 resistor dan 1 kristal serta catu daya 5Volt. Kapasitor 10 mikro-Farad dan resistor 10 Kilo Ohm dipakai untuk membentuk rangkaian reset. Dengan adanya rangkaian reset ini AT89S51 otomatis direset begitu rangkaian menerima catu daya. Kristal dengan frekuensi maksimum 24 MHz dan kapasitor 30 piko-Farad dipakai untuk melengkapi rangkaian oscillator pembentuk clock yang menentukan kecepatan kerja suatu mikrokontroler.

Memori merupakan bagian yang sangat penting pada mikrokontroler. Mikrokontroler memiliki dua macam memori yang sifatnya berbeda.

(20)

Random Access Memori (RAM) isinya akan sirna begitu IC kehilangan catu daya, dipakai untuk menyimpan data pada saat progam bekerja. RAM yang dipakai untuk menyimpan data ini disebut sebagai memori data.

Ada berbagai jenis ROM. Untuk mikrokontroler dengan progam yang sudah baku dan diproduksi secara masal, progam diisikan ke dalam ROM pada saat IC mikrokontroler dicetak di pabrik IC. Untuk keperluan tertentu mikrokontroler menggunakan ROM yang dapat diisi ulang atau Programble – Eraseable ROM yang disingkat menjadi PEROM atau PROM. Dulu banyak dipakai UV-EPROM (Ultra Violet Eraseable Progamble ROM) yang kemudian dinilai mahal da ditinggalkan setelah ada flash PEROM yang harganya jauh lebih murah.

(21)

2.1.2 Pin – pin pada Mikrokontroler AT89S51

(22)

mempunyai internal pull up dan berfungsi sebagai input dengan memberikan logika 1. Sebagai output, port ini dapat memberikan output sink keempat buah input TTL.

5. Port 3 (Pin 10 – pin 17)

Port 3 merupakan 8 bit port I/O dua arah dengan internal pull up. Port 3 Juga mempunyai fungsi pin masing – masing, yaitu sebagai berikut :

Tabel 2.1 Fungsi Masing – masing Pin pada Port 3 Mikrokontroler

Nama Pin Fungsi P3.0 (Pin 10) RXD (Port input serial)

P3.1 (Pin 11) TXD (Port output serial) P3.2 (Pin 12) INTO (interrupt 0 eksternal) P3.3 (Pin 13) INT 1 (interrupt 1 eksternal) P3.4 (Pin 14) T0 (input eksternal timer 0) P3.5 (Pin 15) T1 (input eksternal timer 1)

P3.6 (Pin 16) WR (menulis untuk eksternal data memori) P3.7 (Pin 17) RD (untuk membaca eksternal data memori)

6. RST (pin 9)

(23)

7. ALE/PROG (Pin 30)

Address Latch Enable adalah pulsa output untuk me-latch byte bawah dari alamat selama mengakses memori eksternal. Selain itu sebagai pulsa input program (PROG) selama memprogram Flash.

8. PSEN (pin 29)

Program store enable digunakan untuk mengakses memori progam eksternal.

9. EA (Pin 31)

Pada kondisi low, pin ini akan berfungsi sebagai EA yaitu mikrokontroler akan menjalankan program yang ada pada memori eksternal setelah sistem direset. Jika kondisi high, pin ini akan berfungsi untuk menjalankan program yang ada pada memori internal. Pada saat flash programming, pin ini akan mendapat tegangan 12 Volt.

10. XTAL 1 (Pin 19)

Input untuk clock internal.

(24)

Gambar 2.1 IC Mikrokontroler AT89S51

2.2 Motor DC

Motor listrik merupakan perangkat elektromagnetis yang mengubah energi listrik Menjadi energi mekanik. Energi mekanik ini digunakan untuk, misalnya memutar

(25)

Motor listrik kadangkala disebut “kuda kerja” nya industri sebab diperkirakan bahwa motor motor menggunakan sekitar 70% beban listrik total di industri.

Motor DC memerlukan suplai tegangan yang searah pada kumparan medan untuk diubah menjadi energi mekanik. Kumparan medan pada motor dc disebut stator (bagian yang tidak berputar) dan kumparan jangkar disebut rotor (bagian yang berputar). Jika terjadi putaran pada kumparan jangkar dalam pada medan magnet, maka akan timbul tegangan (GGL) yang berubah-ubah arah pada setiap setengah putaran, sehingga merupakan tegangan bolak-balik. Prinsip kerja dari arus searah adalah membalik phasa tegangan dari gelombang yang mempunyai nilai positif dengan menggunakan komutator, dengan demikian arus yang berbalik arah dengan kumparan jangkar yang berputar dalammedan magnet. Bentuk motor paling sederhana memiliki kumparan satu lilitan yang bisa berputar bebas di antara kutub-kutub magnet permanen.

(26)

2.3 Komponen- Komponen Pendukung

2.3.1 Resistor

Resistor komponen pasif elektronika yang berfungsi untuk membatasi arus listrik Yang mengalir. Berdasarkan kelasnya resitor dibagi menjadi 2 yaitu : Fixed Resistor dan Variable Resistor pada umumnya terbuat dari carbon film atau metal Film tetapi tidak menutup kemungkinan untuk dibuat dari material yang lain.

Pada dasarnya semua bahan memliki sifat resistif namun beberapa bahan Tembaga perak dan emas dan bahan metal umumnya memiliki resistansi yang Yang sangat kecil. Bahan bahan tersebut menghantar arus listrik dengan baik, Sehingga dinamakan konduktor. Kebalikan dari bahan yang konduktif, bahan Bahan material seperti karet ,gelas, karbon memilki resistansi yang lebih besar Menahan aliran elektron dan disebut sebagai isolator.

2.3.2 Fixed Resistor

Resistor adalah komponen dasar elektronika yang digunakan untuk membatasi jumlah arus yang mengalir dalam suatu rangkaian. Sesuai dengan namanya resistor bersifat resistif dan umumnya terbuat dari bahan karbon.

(27)

Kode warna tersebut adalah standar manufaktur yang dikeluarkan oleh ELA (Electronic Industries Association)

Gambar 2.3 Resistor karbon

(28)

Resistansi dibaca dari warna gelang yang paling depan kearah gelang toleransi berwarna coklat, emas, atau perak. Biasanya warna gelang toleransi ini berada Pada bahan resistor yang paling pojok atau jugadengan lebar yang lebih menonjol Sedangkan warna gelang yang keempat agak sedikir ke dalam. Dengan demikian Pemakai sudah langsung mengetahui berapa toleransi dari resistor tersebut.kalau Anda telah bisa menentukan mana gelang pertama selanjutnya adalah membaca Nilai resistansinya.

Biasanya resistor dengan toleransi 5%, 10% atau 20% memiliki gelang (tidak termasuk gelang toleransi). Tetapi resistor dengan toleransi 1% atau 2% (toleransi kecil) memiliki 4 gelang (tidak termasuk gelang toleransi). Gelang Pertama dan seterusnya berturut turut menunjukkan besar nilai satuan, dan gelang Terakhir adalah faktor pengalinya.

2.3.3 Variable Resistor

(29)

sampai 300 derajat putaran. Ada beberapa model variable resistor yang harus diputar berkali – kali untuk mendapatkan semua nilai resistor. Model ini dinamakan “Potentiometers” atau “Trimmer Potentiometers” .

Gambar 2.4 Potensiometer

Penggunaan alat bantu potensiometer banyak digunakan sebagai kontrol pengguna, dan dapat mengontrol berbagai fungsi yang sangat luas peralatannya. tetapi meluasnya dalam penggunaan potensiometer pada barang elektronik konsumen telah menurun pada 1990-an, dengan adanya kontrol digital yang sekarang lebih umum digunakan.

(30)

potensiometer linier (juga dikenal sebagai "fader") dan potensiometer putar (biasanya disebut tombol-tombol) secara teratur digunakan untuk mengatur kenyaringan, redaman frekuensi dan karakteristik lain dari sinyal audio dalam audio control.The 'pot log' potensiometer juga digunakan sebagai kontrol volume di amplifier audio, di mana ia juga disebut "lancip pot audio", karena respon amplitudo dari telinga manusia juga logaritma. Memastikan bahwa, pada kontrol volume ditandai 0 hingga 10, misalnya, pengaturan dari 5 suara setengah keras sebagai pengaturan 10. Ada juga sebuah pot anti-log atau lancip audio sebaliknya yang hanya kebalikan dari potensiometer logaritmik. Hal ini hampir selalu digunakan dalam konfigurasi mengeroyok dengan potensiometer logaritmik, misalnya, dalam kontrol keseimbangan audio.

Adapun fungsi potensiometer sebagai kontrol nada atau equalizer dalam penggunaan kombinasi dan jaringan filter, sebelumnya untuk televisi dipergunakan untuk mengontrol kecerahan gambar, kontras, dan respon warna. Sebuah potensiometer sering digunakan untuk mengatur "menahan vertikal", yang mempengaruhi sinkronisasi antara menyapu sirkuit internal penerima (kadang-kadang multivibrator).

(31)

menggunakan kartu perlawanan non-linear untuk memasok aproksimasi untuk fungsi trigonometri. Sebagai contoh, putaran poros mungkin mewakili sudut, dan rasio pembagian tegangan dapat dibuat sebanding dengan cosinus sudut.

2.4 Kapasitor

(32)

Dielektrik

Elektroda Elektroda

Gambar 2.5 Skema Kapasitor

Kapasitor merupakan komponen pasif elektronika yang sering dipakai di dalam merancang suatu sistem yang berfungsi untuk mengeblok arus DC Filter, dan penyimpan energi listrik. Diadalamnya 2 buah pelat elektroda yang Saling berhadapan dan dipisahkan oleh sebuah insulator. Sedangkan bahan yang Digunakan sebagai insulator dinamakan dielektrik. Ketika kapasitor diberikan Tegangan DC maka energi listrik disimpan pada tiap elektrodanya. Selama Kapasitor melakukan pengisian, arus mengalir. Aliran arus tersebut akan berhenti Bila kapasitor telah penuh. Yang membedakan tiap – tiap kapasitor adalah Dielektriknya. Berikut ini adalah jenis jenis kapasitor yang digunakan dalam

2.4.1 Electrolytic Capacitor (ELCO)

(33)

menggunakan elektrolisa sehingga terbentuk kutub positif anoda dan kutub negatif katoda.

Telah lama diketahui beberapa metal seperti tantalum, aluminium, magnesium, titanium, niobium, zirconium dan seng (zinc) permukaannya dapat dioksidasi sehingga membentuk lapisan metal-oksida (oxide film). Lapisan oksidasi ini terbentuk melalui proses elektrolisa, seperti pada proses penyepuhan emas. Elektroda metal yang dicelup ke dalam larutan elektrolit (sodium borate) lalu diberi tegangan positif (anoda) dan larutan electrolit diberi tegangan negatif (katoda). Oksigen pada larutan electrolyte terlepas dan mengoksidasi permukaan plat metal. Contohnya, jika digunakan Aluminium, maka akan terbentuk lapisan Aluminium-oksida (Al

2O3) pada permukaannya.

(34)

2.4.2 Ceramic Capasitor

Kapasitor menggunakan bahan titanium acid barium untuk dielektriknya. Karena tidak dikonstruksi seperti koil maka komponen ini dapat digunakan pada Rangkaian frekuensi tinggi. Biasanya digunakan untuk melewatkan sinyal Frekuensi tinggi menuju ground. Kapasitor ini tidak baik digunakan untuk Rangkaian analog, karena dapat mengubah bentuk sinyal. Jenis ini tidak Mempunyai polaritas dan hanya tersedia dengan nilai kapasitor yang sangat Kecil dibandingkan dengan kedua kapasitor diatas.

Gambar 2.7 Ceramic Capacitor

2.4.3 Nilai Kapasitor

(35)

Elektrolit memang mudah, karena nilai kapasitansinya telah tertera dengan jelas Pada tubuhnya. Sedangkan untuk kapasitor keramik dan beberapa jenis yang lain Nilainya dikodekan.

Biasanya kode tersebut terdiri dari 4 digit,dimana 3 digit pertama merupakan Angka dan digit terakhir berupa huruf yang menyatakan toleransinya. Untuk 3 Digit pertama angka yang terakhir berfungsi untuk menentukan 10n , nilai n Dapat dilihat pada tabel dibawah :

Tabel 2.3 Nilai Kapasitor

(36)

2.5 Transistor

Transistor adalah komponen elektronika yang mempunyai tiga buah terminal Terminal itu disebut emitor, basis, dan kolektor. transistor seakan akan dibentuk Dari penggabungan dua buah dioda. Dioda satu dengan yang lain saling Digabungkan dengan cara menyambungkan salah satu sisi dioda yang senama. Dengan cara penggabungan seperti dapat diperoleh dua buah dioda sehingga Menghasilkan transistor NPN.

Bahan mentah yang digunakan untuk menghasilkan bahan N dan Bahan P adalah silicon dan germanium. Oleh karena itu, dikatakan :

1. Transistor Germanium PNP 2. Transistor Silikon NPN 3. Transistor Silikon PNP 4. Transistor Germanium NPN

Semua komponen didalam rangkaian transistor dengan simbol. Anak Panah yang terdapat didalam simbol menunjukkan arah yang melalui transistor.

(37)

Keterangan :

C = Kolektor E = Emitor B = Basis

Didalam pemakaiannya, transistor dipakai sebagai komponen saklar (switching) dengan memanfaatkan daerah penjenuhan (saturasi) dan daerah Penyumbatan (cut off) yang ada pada karakteristik transistor.

Pada daerah penjenuhan nilai resistansi persambungan kolektor emitor Secara ideal sama dengan nol atau kolektor dan emitor terhubung langsung (short). Keadaan ini menyebabkan tegangan kolektor emitor (VCE) = 0 Volt pada Keadaan ideal, tetapi pada kenyataannya VCE bernilai 0 sampai 0,3 Volt. Dengan Menganalogikan transistor sebagai saklar, transistor tersebut dalam keadaaan on

(38)

Pada daerah penyumbatan, nilai resistansi persambungan kolektor emitor secara ideal sama dengan tak terhitung atau terminal kolektor dan emitor terbuka (open). Keadaan ini menyebabkan tegangan (Vcb) sama dengan tegangan sumber (Vcc). Tetapi pada kenyataannya Vcc pada saat ini kurang dari Vcc karena Terdapat arus bocor dari kolektor ke emitor. Dengan menganalogikan transistor Sebagai saklar, transistor tersebut dalam keadaan off seperti pada gambar dibawah ini :

(39)

2.6 Dioda

Dioda adalah merupakan jenis komponen pasif. Dioda memiliki dua kaki/kutub yaitu kaki anoda dan kaki katoda . Dioda terbuat dari bahan semi konduktor tipe P dan semi konduktor tipe N yang di sambungkan.

Semi konduktor tipe P berfungsi sebagai Anoda dan semi konduktor tipe N berfungsi sebagai katoda. Pada daerah sambungan 2 jenis semi konduktor yang berlawanan ini akan muncul daerah deplesi yang akan membentuk gaya barier.Gaya barier ini dapat ditembus dengan tegangan + sebesar 0.7 volt yang dinamakan sebagai break down voltage, yaitu tegangan minimum dimana dioda akan bersifat sebagai konduktor/penghantar arus listrik.

Dioda bersifat menghantarkan arus listrik hanya pada satu arah saja, yaitu jika kutub anoda kita hubungkan pada tegangan + dan kutub katoda kita hubungkan dengan tegangan – (kita beri bias maju dengan tegangan yang lebih besar dari 0.7 volt) maka akan mengalir arus listrik dari anoda ke katoda (bersifat konduktor). Jika polaritasnya kita balik (kita beri bias mundur) maka arus yang mengalir hampir nol atau dioda akan bersifat sebagai isulator.

(40)

2.6.1 Karakteristik Dioda

Sifat umum diode adalah hanya dapat menghantarkan arus listrik ke satu arah saja. Oleh karena itu bila pemasangan dioda terbalik maka dioda tidak akan dapat Menghantarkan arus listrik. Prinsip ini biasanya digunakan sebagai pengaman alat Untuk menunjukkan benar atau salah penyambungan catu daya.

(41)

N P

A K

- +

= 0

b. Bias Mundur (Biased Forward)

Gambar 2.11 Sifat Dioda Bias Maju dan Bias Mundur

Pada Saat diberi bias forward, dioda dapat dialiri arus dengan resistansi yang cukup kecil,yang dikenal dengan nama resistansi maju (forward).sebaliknya Jika dioda diberi bias reverse, maka arus listrik akan mengalami resistansi yang Amat sangat besar dan disebut resistansi reverse.

Dioda dapat dianggap suatu voltage sensitive electronic switch, dimana dioda Akan menutup atau dalam kondisi ON jika anoda lebih positif dari katoda dan Akan terbuka jika kondisi sebaliknya.Macam – macam dioda yang harus diketahui Adalah :

1. Dioda Penyearah (Rectifier) 2. Dioda Zener

(42)

2.6.2 Dioda Penyearah (Rectifier)

Dioda ini biasanya digunakan pada power supply, namun digunakan juga pada Rangkaian radio sebagai detector, dan lain lain. Prinsip kerja dari dioda penyearah Adalah sebagai berikut :

Gmabr 2.12 Dioda Penyearah Yang Diberi Arus Bolak Balik (AC)

(43)

2.6.3 Dioda Zener

Dioda zener merupakan dioda yang banyak sekali digunakan setelah dioda penyearah. Lambing dari dioda zener dapat dilihat pada gambar 2.13.

Gambar 2.13 Simbol Dioda Zener

2.6.4 Dioda Cahaya (LED = Light Emiting Diode)

LED merupakan salah satu jenis dioda yang mengubah energi perpindahan Elektron elektron yang jatuh dari pita konduksi ke pita valensi menjadi cahaya Berwarna warninya cahaya yang dipancarkan ini, dikarenakan jenis bahan yang digunakan berbeda beda. Bahan bahannya anatara lain gallium, arsen, dan fosfor. Penggunaan LED biasanya berhubungan dengan segala hal yang dilihat oleh Manusia, seperti untuk mesin hitung,jam digital, dan lain lain.

(44)

2.7 IC Regulator 7805

Sebuah rangkaian elektronik tidak dapat bekerja tanpa Power Supply (sumber tegangan). Power Supply tersebut dapat berupa sumber tegangan AC atau sumber tegangan DC. Tegangan AC adalah tegangan bolak - balik (Alternate Current) seperti tegangan listrik yang berasal dari PLN atau tegangan output dari sebuah Transformator. Tegangan DC adalah tegangan searah (Direct Current) seperti tegangan yang berasal dari sebuah Accu, Battery, atau Adaptor.

Sumber tegangan untuk sebuah rangkaian elektronika harus stabil dengan daya yang harus disesuaikan kebutuhan. Contoh, sebuah IC TTL (Transitor Transistor Logic) membutuhkan tegangan DC stabil 5 Volt, IC CMOS membutuhkan tegangan DC stabil 12 Volt, Z80 membutuhkan tegangan DC stabil 5 Volt, dan sebagainya.

Sumber tegangan AC dapat diperoleh di antaranya dari:

1. Listrik PLN yang telah diturunkan dengan Trafo Step-down 2. Motor Generator

3. Turbin Angin

Sumber tegangan DC dapat diperoleh di antaranya dari:

1. Battery (Accu)

2. Adaptor atau Power Supply dengan sumber awal dari PLN yang telah diturunkan oleh Trafo dan disearahkan oleh Dioda

(45)

Salah satu metode agar dapat menghasilkan tegangan output DC stabil adalah dengan menggunakan IC 78XX untuk tegangan positif dan IC 79XX untuk tegangan negatif dalam sistem Regulator Tegangan.Di bawah ini adalah besarnya tegangan output yang dapat dihasilkan IC regulator 78XX dan 79XX dimana XX adalah angka yang menunjukan besar tegangan output stabil.

1. IC 7805 untuk menstabilkan tegangan DC +5 Volt 2. IC 7809 untuk menstabilkan tegangan DC +9 Volt 3. IC 7812 untuk menstabilkan tegangan DC +12 Volt 4. IC 7824 untuk menstabilkan tegangan DC +24 Volt 5. IC 7905 untuk menstabilkan tegangan DC -5 Volt 6. IC 7909 untuk menstabilkan tegangan DC -9 Volt 7. IC 7912 untuk menstabilkan tegangan DC -12 Volt 8. IC 7924 untuk menstabilkan tegangan DC -24 Volt

(46)

2.8 IC Jembatan H l293D

L293D adalah sebuah Integrated Circuit (IC) merupakan IC yang Berdasarkan jembatan- H. L293D terdiri dari 4 channel (kanal) yang dirancang untuk menerima DTL (Diode Transistor Logic) standar atau tingkat logika TTL (Transistor Transistor Logic) dan pengendali beban induktif pada solenoides, relai, motor DC, motor stepper dan lain-lain.

Gambar 2.16 Konfigurasi Pin L293D

(47)

2.9. Bahasa Assembly MCS - 51

Secara fisik, kerja dari sebuah mikrokontroler dapat dijelaskan sebagai siklus pembacaan instruksi yang tersimpan di dalam memori. Mikrokontroler menentukan alamat dari memori program yang akan dibaca, dan melakukan proses baca data di memori. Data yang dibaca diinterprestasikan sebagai instruksi. Alamat instruksi disimpan oleh mikrokontroler di register, yang dikenal sebagai program counter. Instruksi ini misalnya program aritmatika yang melibatkan 2 register. Sarana yang ada dalam program assembly sangat minim, tidak seperti dalam bahasa pemrograman tingkat atas (high level language programming) semuanya sudah siap pakai. Penulis program assembly harus menentukan segalanya, menentukan letak program yang ditulisnya dalam memori-program, membuat data konstan dan tablel konstan dalam memori-memori-program, membuat variabel yang dipakai kerja dalam memori – data dan lain sebagainya.

Program sumber assembly

(48)

sebagainya, tergantung pada program Assembler yang akan dipakai untuk mengolah program-sumber assembly tersebut.

Setiap baris-perintah merupakan sebuah perintah yang utuh, artinya sebuah perintah tidak mungkin dipecah menjadi lebih dari satu baris. Satu baris perintah bisa terdiri atas 4 bagian, bagian pertama dikenali sebagai label atau sering juga disebut sebagai simbol, bagian kedua dikenali sebagai kode operasi, bagian ketiga adalah operand dan bagian terakhir adalah komentar.

Antara bagian-bagian tersebut dipisahkan dengan sebuah spasi atau tabulator.

Bagian label

Label dipakai untuk memberi nama pada sebuah baris-perintah, agar bisa mudah menyebitnya dalam penulisan program. Label bisa ditulis apa saja asalkan diawali dengan huruf, biasa panjangnya tidak lebih dari 16 huruf. Huruf-huruf berikutnya boleh merupakan angka atau tanda titik dan tanda garis bawah. Kalau sebuah baris-perintah tidak memiliki bagian label, maka bagian ini boleh tidak ditulis namun spasi atau tabulator sebagai pemisah antara label dan bagian berikutnya mutlak tetap harus ditulis.

(49)

Bagian label sering disebut juga sebagai bagian symbol, hal ini terjadi kalau label tersebut tidak dipakai untuk menandai bagian program, melainkan dipakai untuk menandai bagian data.

Bagian kode operasi

Kode operasi (operation code atau sering disingkat sebagai OpCode) merupakan bagian perintah yang harus dikerjakan. Dalam hal ini dikenal dua macam kode operasi, yang pertama adalah kode-operasi untuk mengatur kerja mikroprosesor / mikrokontroler. Jenis kedua dipakai untuk mengatur kerja program assembler, sering dinamakan sebagai assembler directive.

Kode-operasi ditulis dalam bentuk mnemonic, yakni bentuk singkatan-singkatan yang relatip mudah diingat, misalnya adalah MOV, ACALL, RET dan lain sebagainya. Kode - operasi ini ditentukan oleh pabrik pembuat mikroprosesor / mikrokontroler, dengan demikian setiap prosesor mempunyai kode-operasi yang berlainan.

(50)

program yang dibentuk dari kode - operasi kode - biner, yang dikenali oleh mikroprosesor/mikrokontroler.

Tugas penerjemahan tersebut dilakukan oleh program yang dinamakan sebagai Program Assembler. Di luar kode - operasi yang ditentukan pabrik pembuat mikroprosesor / mikrokontroler, ada pula kode-operasi untuk mengatur kerja dari program assembler, misalnya dipakai untuk menentukan letak program dalam memori (ORG), dipakai untuk membentuk variabel (DS), membentuk tabel dan data konstan (DB, DW) dan lain sebagainya.

Bagian operand

Operand merupakan pelengkap bagian kode operasi, namun tidak semua kode operasi memerlukan operand, dengan demikian bisa terjadi sebuah baris perintah hanya terdiri dari kode operasi tanpa operand. Sebaliknya ada pula kode operasi yang perlu lebih dari satu operand, dalam hal ini antara operand satu dengan yang lain dipisahkan dengan tanda koma.

(51)

kode-operasi. Untuk membedakan operand yang berupa nomor-memori atau operand yang berupa data yang siap di-operasi-kan, dipakai tanda-tanda khusus atau cara penulisan yang berlainan.

Di samping itu operand bisa berupa persamaan matematis sederhana atau persamaan Boolean, dalam hal semacam ini program Assembler akan menghitung nilai dari persamaan – persamaan dalam operand, selanjutnya merubah hasil perhitungan tersebut ke kode biner yang dimengerti oleh prosessor. Jadi perhitungan di dalam operand dilakukan oleh program assembler bukan oleh prosesor.

Bagian komentar

(52)

Assembly Listing

(53)

BAB 3

PERANCANGAN ALAT

3.1 Diagram Blok

Secara garis besar, diagram blok rangkaian dari gerbang otomatis ditunjukkan pada gambar dibawah ini :

Gambar 3.1 Diagram Blok Rangkaian

(54)

Hp pengirim berfungsi sebagai pemberi instruksi awal pada saat sistem akan melaksanakan perrintah buka atau tutup gerbang.Sedangkan Hp penerima berfungsi menyampaikan instruksi dari pengirim dengan output berupa sinar LCD.bila pada instruksi buka tutup pintu gerbang, maka Hp pengirim akan memanggil/calling ke Hp penerima dengan ouput sinar LCD dan pada kondisi ini posisi Hp penerima berada diatas LDR. Pada saat seberkas cahaya tampak,maka resistansi LDR akan berubah ubah dan akan mengirimkan instruksi Ke mikrokontroler AT89S51. Limit switch buka pintu disini berfungsi untuk mengetahui batas maksimum terbukanya gerbang, sehingga ketika gerbang terbuka kemudian gerbang menyentuh limit switch ini, maka limit switch akan mengirimkan sinyal ke mikrokontroler untuk menghentikan perputaran motor, sehingga motor berhenti (tidak membuka lebih lebar lagi). Limit ini terhubung ke P2.0 mikrokontroler AT89S51. Limit switch tutup pintu berfungsi untuk menegtahui batas maksimum tertutupnya pintu, yang menandakan bahwa gerbang telah tertutup rapat, sehingga ketika gerbang tertutup kemudian gerbang menyentuh limit ini, maka limit akan mengirimkan sinyal ke mikrokontroler untuk menhentikan perputaran motor, sehingga motor berhenti. Rangkaian limit ini terhubung ke P2.1 mikrokontroler AT89S51.

(55)

Dan dihubungkan ke port P1.0 dan P1.1 sehingga dengan memberikan program tertentu, pergerakan menutup / membuka pintu sudah dapat dikendalikan oleh program yang diberikan ke mikrokontroler AT89S51.

3.1.1. Fungsi Tiap Blok a. Handphone Pemanggil

Berfungsi sebagai pemberi instruksi kepada handphone penerima. b. Handphone Penerima

Berfungsi sebagai penerima instruksi yang akan meneruskannya ke LDR(pintu terbuka atau tertutup.

c. LDR ( Light Dependent Resistor)

Berfungsi sebagai sensor intensitas cahaya.apabila cahaya mengenai resistor ini,maka nilai resistansinya akan berubah ubah dan akan mendeteksi logika 1 d. Mikrokontroler AT89S51

Berfungsi sebagai pengendali dari system penggerak /pengendali dan pemberi insttruksi kepada motor DC untuk menggerakkan gerbang.

e. Driver

Berfungsi sebagai penguat arus. Dalam hal ini penulis menggunakan IC jembatan H dimana merupakan rangkaian yang dapat membolak balikkan arus ke motor.

f. Limit Switch

(56)

3.2. Rangkaian Mikrokontroler AT89S51

Sistem minimum mikrokontroler adalah sistem elektronika yang terdiri dari komponen-komponen dasar yang dibutuhkan oleh suatu mikrokontroler untuk dapat berfungsi dengan baik.Pada umumnya, suatu mikrokontoler membutuhkan dua elemen (selain power supply) untuk berfungsi: Kristal Oscillator (XTAL), dan Rangkaian RESET. Analogi fungsi Kristal Oscillator adalah jantung pada tubuh manusia.Perbedaannya,jantung memompadarah dan seluruh kandungannya, sedangkan XTAL memompa data. Dan fungsi rangkaian RESET adalah untuk membuat mikrokontroler memulai kembali pembacaan program, hal tersebut dibutuhkan pada saat mikrokontroler mengalami gangguan dalam meng-eksekusi program.

(57)

Gambar 3.2 Sistem Minimum Mikrokontroler AT89S51

3.3 Rangkaian Limit Switch Buka Pintu dan Tutup Pintu

Ketika LDR mendeteksi cahaya, maka pintu gerbang akan terbuka. Untuk mengetahui bahwa pintu terbuka secara penuh, maka dibutuhkan sebuah limit untuk mengetahuinya. Limit ini berfungsi memastikan bahwa pintu telah terbuka secara penuh (terbuka lebar). Jadi ketika LDR mendeteksi cahaya, maka mikrokontroler akan memerintahkan motor DC untuk berputar membuka pintu gerbang. Ketika pintu menyrntuh limit buka pintu, yang berarti pintu gerbang sudah terbuka lebar, maka limit akan mengirimkan sinyal low ke mikrokontroler,yang merupakan perintah kepada mikrokontroler untuk menhentikan putaran motor DC untuk berhenti berputar, dan pintu telah terbuka lebar.

(58)

berarti pintu sudah tertutup rapat, maka limit akan mengirimkan sinyal low ke mikrokontroler, yang merupakan perintah kepada mikrokontroler untuk menhentikan putaran motor DC. Mikrokontroler yang menerima sinyal ini akan langsung memerintahkan motor DC untuk berhenti berputar, dan pintu telah tertutup rapat.

ke P2. 3 ke P2. 2

Gambar 3.3 Rangkaian Limit Switch untuk Buka dan Tutup Pintu

3.4 Perancangan Rangkaian Driver Motor DC

(59)
(60)

3.5 Perancangan Rangkaian Catu Daya

Rangkaian ini berfungsi untuk mensupplay tegangan ke seluruh rangkaian yang ada. Rangkaian catu daya yang dibuat terdiri dari 2 buah kapasitor dan sebuah IC regulator 7805. Fungsi IC regulator disini adalah menstabilkan tegangan 5 Volt sehingga tegangan keluaran IC tersebut stabil dan konstan. Sedangkan fungsi dari kapasitor disini adalah berfungsi sebagai perata tegangan dari adaptor berupa riak riak yang muncul akibat gelombang arus bolak balik (AC). Selain itu kapasitor juga berfungsi sebagai penyimpan tegangan (muatan listrik sementara).

Out + 5V 7805

GND

Ke Adaptor

Ke Adaptor

(61)

BAB 4

PENGUJIAN RANGKAIAN

4.1 Pengujian Rangkaian Mikrokontroler AT89S51

Untuk mengetahui apakah rangkaian mikrokontroller AT89S51 telah bekerja dengan baik, maka dilakukan pengujian. Pengujian bagian ini dilakukan dengan memberikan program sederhana pada mikrokontroler AT89S51 untuk metode on/off pada pengaturan motor DC.dalam metoda ini kita tinggal mengalirkan arus kepda kedua terminal motor DCdengan beda tegangan sesuai spesifikasi tegangan motor DC.. Programnya adalah sebagai berikut:

(62)

RET

Pengujian limit switch bertujuan untuk mengetahui kondisi dari limit switch yang akan digunakan. Pengujian ini sangat penting karena limit switch mempunyai peranan yang sangat penting yang menyangkut pergerakan dari sistem secara keseluruhan. Pengujian limit switch ini juga dilakukan untuk mencegah pemasangan limit switch yang rusak pada sistem secara keseluran. Pengujian ini juga bertujuan untuk mengetahui hubungan-hubungan dari kaki-kaki limit switch

untuk menentukan penggunaan normally open (NO) dan normally close (NC) limit switch.

Pengujian limit switch ini dilakukan dengan menggunakan multimeter, dimana kutup positif multimeter dengan dihubungkan dengan salah satu pin limit switch dan kutup negatif multimeter ke pin limit switch lainnya. Adapun data yang diperoleh dalam pengujian ini adalah sebagai berikut.

Tabel.4.2 Hasil Pengujian Limit switch

(63)

Dari data di atas diperoleh bahwabahwa limit switch berfungsi dengan baik dan dapat digunakan pada sistem parkiran. Data di atas diperoleh dari hasil pengujian yang dilakukan seperti yang ditunjukkan oleh gambar 4.2 di bawah.

Gambar 4.1 Pengujian Limit Switch

Bagian a pada gambar 4.2 diatas menunjukkan kondisi saat pengujian limit switch untuk keadaan Normally Close (NC) dimana bagian 1a menunjukkan saat

roller tidak ditekan dan 2a pada saat roller ditekan. Sedangkan untuk kondisi

Normally Open (NO) ditunjukkan oleh bagian b, dimana bagian 1b adalah konsisi pada saa ditekan dan 1b pada saat roller tidak ditekan.

4.3 Pengujian Rangkaian Driver Motor DC

Pada pengukuran motor DC tujuan dilakukannya pengujian adalah untuk

(64)

yang digunakan oleh motor tersebut. Dengan demikian setelah dilakukan pengukuran, maka didapat data sebagai berikut :

(65)

4.4 Dimensi Fisik dari Alat

• Panjang Rel Pintu gerbang = 36,3 cm

• Berat /massa pintu pagar = 914 gram

• Motor yang digunakan = DC Magnet Permanen

(66)

4.5 Diagram Alir (Flowchart)

Baca limit 1 buka Baca limit tutup

(67)

BAB 5

PENUTUP 5.1 Kesimpulan

Dari hasil pelaksanaan perancangan alat hingga pengujian dan pembahasan sistem maka penulis dapat menarik kesimpulan, antara lain:

a. Motor DC dapat digunakan sebagai pengendali sistem mekanika yang kompleks dan bersifat otomatis yang membutuhkan rangkaian driver sebagai sarana untuk mengendalikannya.

b. Memanfaatkan LDR sebagai pendeteksi sinyal yang masuk untuk proses membuka dan menutup pintu gerbang secara otomatis

c. LDR diletakkan ditempat yang sedemikian tertutup sehingga kesalahan dalam pembacaan dan pelaksanaan instruksi dapat diminimalisir.

d. Limit Switch diletakkan diantara kedua ujung rel gerbang sehingga apabila gerbang menyentuh limit ini maka motor akan menghentikan laju gerbang sehingga dapat dilaksanakan perintah buka atau tutup gerbang secara otomatis melalui sinar LCD Handphone yang masuk ke LDR.

(68)

5.2 Saran

Setelah melakukan penelitian ini diperoleh beberapa hal yang dapat dijadikan saran untuk dapat melakukan penelitian lebih lanjut, yaitu:

a. Pada penggunaan LDR, sebaiknya penempatan sensor ini lebih akurat agar terhindar dari salah baca dan salah instruksi pada sistem alat.

(69)

DAFTAR PUSTAKA

Budiharto, Widodo & Gamayel Rizal. 2007. Belajar Sendiri 12 Proyek Mikrokontroler Untuk Pemula. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia.

Budiharto, Widodo & Togu Jefri. 2007. 12 Proyek Sistem Akuisisi Data. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia.

Setiawan, Sulhan. 2006. Mudah dan Menyenangkan Belajar Mikrokontroler. Yogyakarta: ANDI.

Figur

Tabel 2.1  Fungsi Masing – masing Pin pada Port 3 Mikrokontroler
Tabel 2 1 Fungsi Masing masing Pin pada Port 3 Mikrokontroler . View in document p.22
Gambar 2.1    IC Mikrokontroler AT89S51
Gambar 2 1 IC Mikrokontroler AT89S51 . View in document p.24
Gambar 2.2  Motor DC Sederhana
Gambar 2 2 Motor DC Sederhana . View in document p.25
Tabel  2.2  Gelang Resistor
Tabel 2 2 Gelang Resistor . View in document p.27
Gambar  2.3  Resistor karbon
Gambar 2 3 Resistor karbon . View in document p.27
Gambar  2.4   Potensiometer
Gambar 2 4 Potensiometer . View in document p.29
Gambar 2.6    Kapasitor Elco
Gambar 2 6 Kapasitor Elco . View in document p.33
Gambar  2.7   Ceramic  Capacitor
Gambar 2 7 Ceramic Capacitor . View in document p.34
Tabel  2.3  Nilai Kapasitor
Tabel 2 3 Nilai Kapasitor . View in document p.35
Gambar  2.8   Simbol Tipe Transistor
Gambar 2 8 Simbol Tipe Transistor . View in document p.36
Gambar  2.9   Transistor Sebagai Saklar ON
Gambar 2 9 Transistor Sebagai Saklar ON . View in document p.37
Gambar 2.10   Transistor Sebagai Saklar OFF
Gambar 2 10 Transistor Sebagai Saklar OFF . View in document p.38
Gambar 2.11  Sifat Dioda Bias Maju dan Bias Mundur
Gambar 2 11 Sifat Dioda Bias Maju dan Bias Mundur . View in document p.41
Gambar  2.15   Skema Elektronik Rangkaian Catu daya IC 78XX
Gambar 2 15 Skema Elektronik Rangkaian Catu daya IC 78XX . View in document p.45
Gambar 2.16   Konfigurasi Pin L293D
Gambar 2 16 Konfigurasi Pin L293D . View in document p.46
Gambar  3.1   Diagram Blok Rangkaian
Gambar 3 1 Diagram Blok Rangkaian . View in document p.53
Gambar 3.2    Sistem Minimum Mikrokontroler AT89S51
Gambar 3 2 Sistem Minimum Mikrokontroler AT89S51 . View in document p.57
Gambar  3.3   Rangkaian Limit Switch untuk Buka dan Tutup Pintu
Gambar 3 3 Rangkaian Limit Switch untuk Buka dan Tutup Pintu . View in document p.58
Gambar  3.4    Rangkaian  Driver  Motor DC
Gambar 3 4 Rangkaian Driver Motor DC . View in document p.59
Gambar   3.5   Rangkaian  Catu  Daya
Gambar 3 5 Rangkaian Catu Daya . View in document p.60
Tabel.4.2 Hasil Pengujian Limit switch
Tabel 4 2 Hasil Pengujian Limit switch . View in document p.62
Gambar 4.1 Pengujian Limit Switch
Gambar 4 1 Pengujian Limit Switch . View in document p.63
Tabel  4.2   Pengambilan data  pada IC  L293D
Tabel 4 2 Pengambilan data pada IC L293D . View in document p.64
Gambar   4.1   Diagram  Alir (Flowchart)
Gambar 4 1 Diagram Alir Flowchart . View in document p.66

Referensi

Memperbarui...