KRISIS EKONOMI
DAN
DISTORSI PASAR
Pada artikel "Prospek
Kiat Agribisnis di Tengah
Kondisi Krisis Moneter (Agrimedia,
Vol 4 No. saya menyoroti
Oleh:
Teguh
(Alumni MMA-IPB Angkatan I
bekerja sebagai Pasar Modal di salah satu Bank BUMN)
oleh penjual maupun pembeli
dan faktor produksi yang
tinggi (dapat bergerak
hambatan). Dengan kondisi seperti
akan dan
mengkombinasikan pemanfaatan
faktor produksinya sedemikian rupa sejumlah output
Dengan adanya krisis moneter
yang menyebabkan terdepresinya
uang Rupiah hingga 70%
akan mengakibatkan naiknya
komponen produk secara
signifikan, dan disisi yang
berlawanan akan mengakibatkan
naiknya permintaan produk-produk
peluang dan prospek yang
dari krisis ekonomi
terhadap sektor pertanian dalam
arti dan komprehensif yakni
Agribisnis. Hal saya
kemukakan di dasarkan
karakteristik dari produk
agribisnis yang memiliki
keterkaitan yang kuat baik
dan
linkage" dengan faktor-faktor produksi
domestik. Apalagi jika produk
agribisnis memiliki target
pemasaran ekspor. Perlu saya
bawahi bahwa pernyataan
didasarkan naif yang
membayangkan bahwa pasar
yang ada baik pasar input maupun
pasar output berjalan dasar pasar
persaingan sempurna. ciri-
ciri pokok bahwa harga yang terjadi
murni ditentukan interaksi
kekuatan penawaran dan
informasi bersifat baik
tertentu hingga tcrcapai kondisi biaya
marginal (MC) = penerimaan
marginal (MR), dimana penerimaan
marginal tidak lain
harga output produk di
pasar. Dalam ilmu ekonomi kondisi dikatakan sebagai kondisi
optimal. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa harga di pasar
adalah indikator pokok pemilihan
keputusan para dan
konsumen (termasuk para pemilik faktor produksi).
bcrorientasi ekspor (karena
harga semakin
kompetitif). Maka dapat
dibayangkan bahwa mekanisme
harga secara otomatis akan
mengindikasikan kepada
dan konsumen (lokal) ulang ',re- adjustment" dari komhinasi
faktor produksi pola
menjadi lebih
beroricntasi kcpada input dan
output lokal. Tetapi yang
terjadi dipasar tidak demikian
halnya, jeruk Pontianak tidak
otomatis menggantikan jeruk
Mandarin, demikian halnya, Malang ternyata tetap tidak mampu
menggeser New .
Celakanya lagi ini
mata disebabkan , oleh
konsumen yang sulit diubah
harga
yang ternyata masih terlihat cukup di pasar, mengapa ?.
Sementara dari sisi konsumen juga terlihat suatu fenomena yang
tidak menariknya, semenjak
saya SD (22 tahun yang lalu), saya
mengenal sebagai makanan
asli bangsa Indonesia, dan tidak jarang Bu Guru pernah menyebutkan
sindiran bangsa Indonesia sebagi
bangsa tempe. Melihat statistik yang
ada saya bahwa konsumen
terbesar tempe di dunia boleh jadi
adalah Indonesia. krisis
ekonomi berlangsung baru kita
tersentak bahwa tempe sebagai
produk lokal ternyata tidak kebal
terhadap naiknya kurs dolar,
disebabkan 80 lebih komponennya
(kedele) masih diimpor. Hal yang
sama terjadi pada fenomena "mie-instant". Tidak kurang
seminggu sekali rakyat
Indonesia mengkonsumsi mie
instant. Bahkan untuk
sekelompok
masyarakat mie instant
nienjadi makanan pokok untuk sarapan,
Setidaknya dari beberapa
contoh fenomena diatas masih
yang lain) bahwa telah terjadi
suatu distorsi pasar yang begitu
tinggi di sektor agribisnis yang
menyebabkan mekanisme harga yang
telah pada arah yang
salah, dimana faktor produksi yang
diimpor menjadi lebih murah
dibandingkan faktor produksi lokal.
Dan disisi lain yang
terjadi tidak mampu
diantisipasi atau disesuaikan oleh
dengan cepat (terjadi
kekakuan
pasar yang
dapat disebabkan oleh faktor-faktor
kemampuan produksi lokal.
Sementara dari hasil
penelitian ilmiah membuktikan
bahwa pada dasarnya faktor produksi
lokal tenaga modal,
dsb) memiliki kemampuan untuk
menggantikan komponen
tersebut.
Oleh karena reformasi dan
restrukturisasi disektor lainnya dan agar terjadi sinkronisasi. Upaya penghapusan tata niaga dan monopoli sejumlah komoditi baru mengatasi salah satu dari sekian keruwetan dan distorsi pasar
sektor agribisnis. Reformasi
restrukturisasi dilakukan
sesegera mungkin menuggu
tahun 2003) mengingat negara-negara
terbukti dengan
maraknya warung "indomie telor"
hampir disemua Kembali
dengan adanya krisis dewasa ini,
masyarakat melihat
harga instant yang
selama salah satu
tumpuan makanan yang murah
dan
disebabkan baku terigu masih
tergantung
Akibatnya timbul gejolakifenomena "Rush" sembako beberapa
yang lalu (termasuk instant) dan
disisi lain kerugian sebesar Rp trilyun yang dialami PT.
guna meng-cover valas
akibat besarnya komponen produksi yang masih harus diimpor.
pembentuk harga itu sendiri seperti
nilai rupiah, pajak
dan bunga dan
kebijakan yang bersifat kelembagaan
seperti penciptaan niaga dan
sebagainya. lain dukungan
yang
menyebabkan mobilitas
faktor-faktor produksi. Setidaknya
hampir selama 25 tahun lebih
instrument-instrumen telah
mendistorsi pasar agribisnis
scdemikian rupa sehingga pilihan
untuk jumlah produk
dan kombinasi yang digunakan
oleh tidak mencerminkan
nilai riilnya, demikian pula dcngan
keputusan konsumsi masyarakat,
hingga terbentuknya preferensi dan pola konsumsi yang tidak didasari
tetangga melakukan
sama. Mengingat pola produksi agribisnis yang
period" maka soal "timing" ini penting. Kita sudah mengalami kepahitan
ketertinggalan kita dibidang
kelapa dengan Malaysia,
buah-buahan dengan Thailand,
bahkan swasembada beras
dengan Vietnam. Maka mau tidak
mau kita harus mensiasati krisis yang terjadi secara lcbih bijak. Anggap saja bahwa krisis yang terjadi adalah suatu koreksi dari kekuatan pasar
internasional ketidak
efisiensiannya dan salah urus dari pasar kita. Sebagai penutup, apabila kita simak kata "krisis"
bahasa China maka terkandung
terkandung dua akar kata yakni
Wei-Chi". dimana masing-masing
akar kata mengandung yang
berbeda yakni "kondisi yang
bermuara pada kewaspadaan dan akar kata berikutnya mengandung
kesempatan atau peluang, dengan melihat perubahan-perubahan yang terjadi.