UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL ILMU POLITIK
STUDI KORELASI: PENGGUNAAN BAHASA DAERAH (KARO) DENGAN KATEGORI SOSIAL PADA KELUARGA JEMAAT
GBKP KLASIS MEDAN-KP. LALANG
SKRIPSI Diajukan Oleh:
ADRIAN JAN PUTRA TARIGAN 070901027
Departemen Sosiologi
Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Dalam Menyelesaikan Studi Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
ABSTRAK
Bahasa daerah adalah bahasa yang dipergunakan oleh penduduk di daerah geografis tertentu yang terbatas dalam wilayah suatu negara. Secara kuantitas jumlah penggunaan bahasa daerah di Indonesia semakin berkurang, khususnya pada jemaat GBKP Klasis Medan-Kp.Lalang. Kategori sosial dapat mempengaruhi penggunaan bahasa daerah Karo saat berkomunikasi dengan keluarga, berkomunikasi dengan sesama etnis Karo, dan juga pada saat berkomunikasi dengan berbeda etnis.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat, rahmat dan karuniaNya, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan semestinya. Penulisan skripsi ini merupakan karya ilmiah sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana dari Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara, dengan judul : ”Studi Korelasi: Penggunaan Bahasa Daerah (Karo) Dengan Kategori Sosial Pada Keluarga Jemaat GBKP Klasis Medan-Kp. Lalang”.
Skripsi ini khusus penulis persembahkan kepada orangtua tercinta dan tersayang penulis, Ayahanda Drs.Nelson Tarigan, M.Si dan Ibunda tercinta Sri Ulina br.Ginting, atas semua doa, dukungan, pengorbanan dan kasih sayangnya yang telah diberikan kepada penulis sampai saat ini. Penulis bisa berhasil sampai saat ini karena cara mendidik papa dan mama yang penuh kasih sayang dan rasa tanggungjawab untuk menghargai waktu, belajar dengan sungguh-sungguh, tekun dan giat serta selalu bersikap rendah hati. Tak lupa juga kepada abang dan adik penulis tersayang, Andrew Jonathan Tarigan, SH., Adefrid Juan Putra Tarigan. Terima kasih buat doa, dukungan dan kasih sayangnya. Penulis akan ingat selalu dengan pesan-pesan yang pernah abang dan kakak berikan. Sayang sama kalian semua.
Dalam kesempatan yang berbahagia ini, penulis menyampaikan banyak terima kasih kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Badaruddin, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu, Dra. Lina Sudarwati, MSi. Selaku Ketua Jurusan Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Prof. Rizabuana, M.Phil.,Ph.D selaku dosen pembimbing penulis yang selalu meluangkan waktunya ditengah-tengah kesibukan beliau serta sabar dalam membimbing penulis hingga penulisan skripsi ini selesai. Beliau merupakan inspirasi bagi penulis karena meskipun beliau memiliki gelar yang tinggi beliau tetap bisa membaur dengan rendah hati, menghargai dan tidak membedakan status para anak bimbingannya serta membimbing dengan tulus dan sungguh-sungguh. Kebaikan beliau dengan sangat sabar membimbing penulis hingga penulisan skripsi ini selesai tidak dapat penulis lupakan. Terimakasih Pak.
4. Bapak Drs. T. Ilham Saladin, M.Sc selaku Sekretaris Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik universitas Sumatera Utara.
5. Penguji I dan Penguji II yang akan menguji penulis dalam sidang meja hijau. 6. Kak Fenni Khairifa, S,Sos, M.Si, selaku Staf Administrasi di Departemen
Sosiologi. Terima kasih atas segala bantuannya.
8. Kepada seluruh Dosen Sosiologi dan Staff pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang telah memberikan berbagai materi kuliah selama penulis menjalani perkuliahan.
9. Untuk seluruh keluarga penulis mulai dari keluarga mama hingga keluarga papa dan sepupu-sepupu penulis yang selalu mendoakan dan memberikan motivasi kepada penulis yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Aku sayang kalian semua.
10. Buat teman-teman Stambuk 2007 yang sudah mendahului yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, teman-teman Stambuk 2007 : Ninda Ovtika Sinaga, Royan Prayudie, Lestari Nova Marbun, Emby Weimsky, Hady Syahputra, Ridwan Nasution, Aspipin sinulingga, Ngadino, Martinus Alfredo Munthe, Romaito Fitriana Siregar, Ester Novita, Sari Hati, Puteri Atikah, Desti Ariani, Suryani Tinendung, Ester Verawati Pasaribu, Ayu, Lonaria Sitepu, Dini syahputri, Bonny Sembiring dan teman-teman sewaktu PKL di desa Jago-Jago Sibolga : Agustina, Maya Lestari, Leo M. Purba, Nanda Purba, Fahruroziq, dan teman-teman lain yang sudah disebutkan diatas dan teman-teman lain yang tidak dapat disebutkan disini terima kasih buat kebersamaan dan semangatnya serta semoga kita menjadi orang yang berhasil dan berguna untuk masyarakat luas. Amin.
11. Buat Senior dan Junior penulis di Departemen Sosiologi, terima kasih buat doa dan dukungannya.
13. Buat semua pihak yang turut membantu yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu. Terima kasih buat bantuan dan kerjasamanya.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk menambah kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua.
Medan, Januari 2013 Penulis,
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAKSI ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... viii
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah ... 1
1.2. Perumusan Masalah ... 5
1.3. Tujuan Penelitian ... 6
1.4. Manfaat Penelitian ... 6
1.5. Hipotesis ... 7
1.6. Defenisi Konsep ... 7
1.7. Operasional Variabel ... 10
1.8. Bagan Operasional Variabel ... 11
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Hasil-hasil penelitian tentang Bahasa Daerah ... 12
BAB III ... METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian ... 27
3.3. Populasi dan Teknik Penarikan Sampel
3.3.1. Populasi ... 28
3.3.2. Sampel ... 28
3.3.3. Purposive Sampling ... 29
3.4. Teknik Pengumpulan Data ... 29
3.5. Teknik Analisis Data ... 30
3.6. Pengujian Realibiti ... 31
3.7. Keterbatasan Penelitian ... 32
BAB IV HASIL DAN ANALISA DATA PENELITIAN 4.1. Deskripsi Lokasi………33
4.2.Temuan Data dan Penyajian Data ... 35
4.2.1. Karakteristik Responden ... 36
4.2.2. Kategori Sosial ... 39
4.2.3. Penggunaan Bahasa Daerah ... 43
4.3.Analisa Tabel Silang ... 50
4.4.Tabel korelasi ... 73
BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan ... 81
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Komposisi Responden Berdasarkan Usia ... 36
Tabel 2 Komposisi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Terakhir ... 37
Tabel 3 Komposisi Responden Berdasarkan Pekerjaan ... 37
Tabel 4 Komposisi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 38
Tabel 5 Komposisi Responden Berdasarkan Jumlah Anak ... 38
Tabel 6 Komposisi Responden Berdasarkan Jumlah Pendapatan ... 39
Tabel 7 Komposisi Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga yang Tinggal di Rumah ... 40
Tabel 8 Pandangan Responden Tentang Pendapatan Perbulan dengan Pengeluaran Perbulan ... 40
Tabel 9 Komposisi Responden Berdasarkan Jumlah Etnis di Daerah Tempat Tinggal ... 41
Tabel 10 Komposisi Responden Berdasarkan Dengan Siapakah Lebih Sering Bergaul dan Berkomunikasi. ... 42
Tabel 11 Pandangan Responden Berdasarkan lingkungan Daerah Tempat Tinggal yang Nyaman. ... 42
Tabel 12 Komposisi Responden Berdasarkan Bahasa yang Digunakan Saat Berkomunikasi dengan suami/istri ... 43
Tabel 14 Komposisi Responden Berdasarkan Bahasa yang Digunakan Anak Saat Berkomunikasi Dengan Orang Tua ... 44 Tabel 15 Komposisi Responden Berdasarkan Bahasa yang Digunakan anak Saat Berkomunikasi Dengan abang/kakak/adik ... 45 Tabel 16 Komposisi Responden Berdasarkan Seberapa Sering Mengajarkan
Bahasa Daerah Kepada Anak ... 46 Tabel 17 Komposisi Responden Berdasarkan Bahasa yang Digunakan Saat Berkomunikasi dengan Sesama Anggota Jemaat GBKP ... 46 Tabel 18 Komposisi Responden Berdasarkan Bahasa yang Digunakan Saat
Berkomunikasi dengan Tetangga Sekitar Rumah yang Sesama Etnis Karo ... 47 Tabel 19 Komposisi Responden Berdasarkan Bahasa yang Digunakan Saat
Berkomunikasi dengan Keluarga Besar yang Sesama Etnis Karo ... 48 Tabel 20 Komposisi Responden Berdasarkan Bahasa yang Digunakan Saat
Berkomunikasi dengan Tetangga Sekitar Rumah yang Berbeda Etnis . 49 Tabel 21 Komposisi Responden Berdasarkan Bahasa yang Digunakan Saat
ABSTRAK
Bahasa daerah adalah bahasa yang dipergunakan oleh penduduk di daerah geografis tertentu yang terbatas dalam wilayah suatu negara. Secara kuantitas jumlah penggunaan bahasa daerah di Indonesia semakin berkurang, khususnya pada jemaat GBKP Klasis Medan-Kp.Lalang. Kategori sosial dapat mempengaruhi penggunaan bahasa daerah Karo saat berkomunikasi dengan keluarga, berkomunikasi dengan sesama etnis Karo, dan juga pada saat berkomunikasi dengan berbeda etnis.
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Bahasa daerah adalah bahasa yang dipergunakan oleh penduduk di daerah geografis tertentu yang terbatas dalam wilayah suatu negara. Penelitian dan pendokumentasian bahasa yang dilaporkan oleh Summer Institute of Linguistics (Grimes, 1996) menyebutkan bahwa ada 6703 bahasa di dunia. Dilihat dari lima wilayah persebarannya (Asia, Eropa, Amerika, Afrika, dan Pasifik), kawasan Asia merupakan tempat beradanya 2.165 bahasa (33%). Sementara kawasan Eropa hanya mempunyai 225 bahasa (3%). Di kawasan Pasifik ditemukan 1.302 bahasa (19%), di Amerika ada 1000 bahasa (15%), dan di benua hitam Afrika tercatat 2.011 bahasa (30%).
Dalam Ethnologue: Language Of The World (2005) dikemukakan bahwa di Indonesia terdapat 742 bahasa, dimana 737 diantaranya masih digunakan oleh penuturnya. Beberapa bahasa yang masih hidup tersebut terancam punah. Hal tersebut disebabkan oleh penuturnya yang semakin berkurang dan ada juga yang terdesak oleh pengaruh bahasa daerah lain. Arief Rachman (2007) memetakan kepunahan bahasa daerah di Indonesia sebagai berikut, ada lebih dari 50 bahasa daerah di Kalimantan, satu di antaranya terancam punah. Di Sumatera, dari 13 bahasa daerah yang ada, 2 di antaranya terancam punah dan 1 lainnya sudah punah. Namun, di Jawa tidak ada bahasa daerah yang terancam punah. Sedangkan di Sulawesi dari 110 bahasa yang ada, 36 bahasa terancam punah dan 1 sudah punah, di Maluku dari 80 bahasa yang ada 22 terancam punah dan 11 sudah punah, di daerah Timor, Flores, Bima dan Sumba dari 50 bahasa yang ada, 8 bahasa terancam punah. Di daerah Papua dan Halmahera dari 271 bahasa, 56 bahasa terancam punah. Dikatakan lebih lanjut bahwa data yang diberikan oleh Frans Rumbrawer dari Universitas Cendrawasih pada tahun 2006 lebih mengejutkan lagi, yaitu pada kasus tanah Papua, 9 bahasa dinyatakan telah punah, 32 bahasa segera punah, dan 208 bahasa terancam punah.
(Coulmas, 1997:276). Namun pewarisan bahasa daerah kepada kaum muda merupakan hal yang tetap untuk dilakukan agar bahasa daerah tetap bertahan.
Bahasa daerah selain digunakan untuk berkomunikasi pada suatu suku bangsa yang ada, namun juga diyakini dapat mempererat solidaritas antar mereka. Sehingga bahasa daerah tersebut merupakan hal yang sangat penting untuk dapat dilestarikan dan di sosialisasikan oleh masing-masing suku bangsa tersebut kepada generasi penerusnya. Pada lembaga keluarga terdapat berbagai macam fungsi keluarga yang salah satu adalah sosialisasi. Dalam proses sosialisasi bahasa kepada anak, keluarga merupakan lembaga pertama yang melakukan sosialisasi dan pengenalan bahasa kepada anak, baik bahasa resmi yaitu Bahasa Indonesia dan juga bahasa daerah. Kecenderungan anak yang tinggal di daerah perkotaan justru dilakukan pengenalan bahasa asing dibandingkan dengan pengenalan terhadap bahasa daerah yang notabene merupakan bahasa yang mayoritas digunakan oleh keluarga besar mereka. (Budhiono, 2009). Hasil survai Gunarwan (1993) atas 126 orang subyek dari Jakarta, Bandung, dan Palangkaraya mengungkapkan angka rata-rata penilaian subyek atas 11 ciri-ciri penutur bahasa Indonesia dan penutur bahasa Inggris secara keseluruhan menempatkan bahasa Inggris lebih tinggi daripada bahasa Indonesia.
daerah sehingga mendorong mereka mencintai bahasa daerah. Tujuan akhir dari sosialisasi bahasa daerah ini adalah mempersiapkan dan membuat individu memahami tentang bahasa daerah dan hal tersebut harus dipertahankan. Perkembangan pengetahuan terhadap bahasa daerah tidak terlepas dari bagaimana sosialisasi yang diberikan orang tua kepada anak sampai mereka beranjak remaja dan menjadi dewasa.
Remaja adalah salah satu generasi yang memegang peranan penting dalam pelestarian bahasa daerah yang seharusnya mendapatkan bimbingan dan arahan dari orang tua mengenai pentingnya bahasa daerah. Berkembang atau punahnya bahasa daerah itu tergantung bagimana remaja sadar dan tahu pentingnya bahasa daerah dan pentingnya pelestarian budaya, yang merupakan kekayaan bangsa. Namun, sekarang ini remaja mengacuhkan keberadaan bahasa daerah mereka dan hanya sedikit yang peduli terhadap bahasa daerah. Disebabkan, karena adanya anggapan jika berbahasa daerah dianggap tidak modern dan kampungan. Keadaan seperti inilah yang menyebabkan semakin tertinggalnya bahasa daerah di masa sekarang ini. Bahasa daerah semakin tertinggal dengan adanya les tambahan bahasa Inggris yang diberikan kepada anaknya. Namun lebih parahnya lagi, adanya anggapan bahwa bahasa daerah adalah bahasanya masyarakat miskin dan tidak berpendidikan. Dikarenakan bahasa Inggrislah yang dimasukkan dalam mata pelajaran sekolah, bukannya bahasa daerah. Sehingga munculah streotipe bahwa bahasa kaum kaya adalah bahasa Inggris dan bukannya bahasa daerah.
daerah dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu: pertama, remaja yang tidak tahu berbahasa daerah sama sekali. Kedua, remaja yang hanya mengerti apa yang dikatakan oleh orang lain yang berbahasa daerah, tetapi kurang mampu dalam berkata-kata dalam bahasa daerah. Ketiga, remaja yang fasih dalam berbahasa daerah. Dari keadaan tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai peran dan penggunaan bahasa daerah di dalam keluarga.
Di GBKP Klasis Medan-Kp.Lalang para jemaat merupakan masyarakat yang homogen, karena mereka terdiri dari satu kebudayaan dan suku bangsa yaitu suku bangsa karo. Selain suku bangsa yang homogen, GBKP Klasis Medan-Kp.Lalang secara tidak langsung juga memberikan pengajaran bahasa daerah terlihat dari kuantitas kebaktian tiap bulannya. Dalam sebulan terdapat empat kali kebaktian yang diselenggarakan oleh GBKP Klasis Medan-Kp.Lalang, kebaktian dengan bahasa daerah (Karo) sebanyak tiga kali dan kebaktian dengan bahasa Indonesia sebanyak satu kali. Hal tersebut mengakibatkan betapa perlunya kemampuan dalam berbahasa daerah pada remaja, karena mereka merupakan pelestari bahasa daerah agar kedepannya bahasa daerah tidak hilang seiiring berkembangnya waktu. Berdasarkan keadaan di atas tentang keberadaan bahasa daerah di tengah-tengah keluarga, maka peneliti memilih penelitian di atas.
1.2. Perumusan Masalah
jelas bagi peneliti dari mana harus mulai, ke mana harus pergi dan dengan apa (Arikunto, 2006:24).
Adapun perumusan masalah berdasarkan latar belakang diatas adalah:
1. Bagaimana penggunaan bahasa daerah (Karo) pada keluarga GBKP Klasis Medan-Kp.Lalang berdasarkan kategori sosial?
2. Hubungan diantara berbagai kategori sosial dalam pengunaan bahasa daerah (Karo) pada keluarga GBKP Klasis Medan-Kp.Lalang?
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah, maka tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Untuk Mengetahui penggunaan bahasa daerah (Karo) di dalam keluarga
berdasarkan kategori sosial.
2. Untuk Mengetahui apakah ada korelasi antara kategori sosial dengan penggunaan bahasa daerah (Karo) dalam keluarga.
1.4. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah : 1.4.1. Manfaat Teoritis
1.4.2. Manfaat Praktis
Memberikan sumbangan pengetahuan dalam bentuk bacaan untuk memperkaya wawasan setiap individu yang membaca hasil penelitian ini dan menjadi bahan evaluasi diri keluarga dan masyarakat tentang pentingnya bahasa daerah. 1.5. Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah dalil atau prinsip yang logis yang dapat diterima secara rasional mempercayainya sebagai kebenaran sebelum diuji atau disesuaikan dengan fakta-fakta atau kenyataan-kenyataan yang mendukung atau menolak kebenarannya (Nawawi; 1995).
Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa hipotesis dalam suatu penelitian harus diuji. Oleh karena itu, perumusan hipotesa yang baik adalah hipotesa yang dapat diuji kebenarannya atau ketidakbenarannya. Berdasarkan penjelasan di atas, maka hipotesa yang dapat dibuat dalam penelitian ini adalah:
H0 : Tidak terdapat hubungan pengaruh yang signifikan antara Kategori Sosial terhadap Bahasa Daerah (Karo).
H1 : Terdapat hubungan pengaruh yang signifikan antara Kategori Sosial terhadap Bahasa Daerah (Karo).
1.6. Definisi Konsep
Kategori sosial
Berangkat dari pendapat Koentjaraningrat yang menjelaskan bahwa kategori sosial merupakan kesatuan manusia yang terwujud karena adanya suatu ciri khas atau suatu kompleks ciri-ciri objektif yang dapat dikenakan kepada manusia-manusia itu. Ciri khas tersebut dilakukan dengan maksud untuk memudahkan penggolongan dalam suatu tujuan dan biasanya dikenakan oleh pihak luar tanpa disadari oleh pihak yang bersangkutan.
Seperti yang peneliti akan lakukan terhadap kehidupan keluarga GBKP Klasis Medan-Kp.Lalang yang perlu dilakukan penggolongan untuk memudahkan penelitian, walupun pihak yang diteliti tidak menyadari hal tersebut. Kategori Sosial yang dibuat oleh peneliti adalah sebagai berikut:
1. Tingkat Ekonomi
Namun pengklasifikasian yang digunakan peneliti adalah berdasarkan pendapatan keluarga dan hal tersebut didukung oleh UMR (Upah Minimum Regional) didukung lagi oleh klasifikasi yang ditentukan oleh peneliti. Pengklasifikasian jumlah pendapatan di tujukan agar dari setiap pendapatn keluarga terwakili. Dari pendapatan rendah, menengah sampai dengan pendapatan yang besar. sehingga terjadi keaneka-ragaman jumlah pendapatan. Pengklasifikasian akan dilakukan berdasarkan jumlah pendapatan sebagai berikut:
Pendapatan keluarga > Rp. 4.000.000.
Pendapatan keluarga < Rp. 3.900.000 – Rp. 2.000.000. Pendapatan keluarga < Rp. 1.900.000.
2. Daerah Tempat Tinggal
Daerah tempat tinggal diklasifikasikan berdasarkan daerah tempat bermukim responden yang mempunyai etnis yang sama ataupun berbeda-beda. Baik minoritas, mayoritas ataupun dengan jumlah yang hampir sama antar etnisnya. Pengklasifikasian berdasarkan daerah tempat tinggal dimaksudkan untuk melihat seberapa jauh pengaruh daerah tempat tinggal mempengaruhi penggunaan bahasa daerah. Hal tersebut menjadi alasan peneliti mengklasifikasikan daerah tempat tinggal berdasarkan:
Bahasa Daerah
Bahasa daerah yang dimaksud dalam penelitian ini adalah tentang penggunaan bahasa daerah (karo) pada keluarga, sesama etnis, dan juga berbeda etnis.
1. Keluarga
Pada keluarga yang menjadi batasan peneliti adalah melihat bagaimana komunikasi ataupun penggunaan bahasa daerah (karo) didalam keluarga. Dalam hal ini peneliti melihat komunikasi antara orang tua-anak, orang tua, anak-abang/kakak/adik.
2. Sesama Etnis
Sesama etnis yaitu komunikasi ataupun penggunaan bahasa daerah (karo) pada sesama anggota jemaat GBKP, pada tetangga yang berada disekitar daerah tempat tinggal, dan juga pada keluarga besar yang sesama etnis.
3. Berbeda Etnis
Berbeda etnis yaitu komunikasi ataupun penggunaan bahasa pada tetangga yang berada disekitar daerah tempat tinggal, dan pada keluarga besar yang berbeda etnis.
1.7. Operasional Variabel
tempat tinggal, sedangkan variabel terikat (Bahasa Daerah) melihat penggunaan bahasa daerah antara keluarga (orang tua-istri/suami, orang tua-anak, anak-orang tua, anak-saudara), sesama etnis (sesama anggota jemaat GBKP Klasis Medan-Kp.Lalang, tetangga, keluarga besar), berbeda etnis (tetangga, keluarga besar).
Kedua variabel tersebut ingin dilihat bagaimana hubungan yang ada antara satu variabel dengan variabel lainnya.
1.8. Bagan Operasional Variabel
Untuk lebih jelasnya di bawah ini ditunjukkan dalam bentuk skemanya : Variabel Bebas (X) Variabel Terikat (Y)
Kategori Sosial Status Ekonomi Lingkungan daerah
tempat tinggal
Bahasa Daerah (Karo)
Keluarga
Sesama Etnis
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Hasil-hasil penelitian tentang Bahasa Daerah
Pentingnya bahasa daerah dan kebertahanannya sebagai warisan budaya, membuat banyaknya penelitian tentang bahasa daerah. Penelitian-penelitian tersebut diantaranya membahas tentang peluang dan tantangan bahasa daerah, faktor-faktor penyebab kepunahan bahasa daerah, revitalisasi bahasa daerah, potensi kepunahan bahasa daerah, sampai penelitian tentang pengajaran bahasa daerah yang dimasukkan dalalm muatan lokal dan penelitian mengenai penggunan bahasa daerah pada murid SD.
Seperti halnya di daerah Makasar, dari segi jumlah penutur baik Bahasa Bugis maupun Bahasa Makasar, dua-duanya masih tergolong bahasa yang safe, yaitu bahasa yang masih aman, artinya tidak berada dalam keadaan ancaman kepunahan karena memiliki penutur yang sangat banyak dan secara resmi didukung oleh pemerintah (Krauss, 1992). Walaupun demikian, Tantangan yang dihadapi adalah kedua bahasa tersebut sudah tidak diperoleh dan dipelajari oleh semua anak dan usia dewasa dalam kelompok etnik masing masing sebagaimana disyaratkan oleh Grimes (2000:8). Hal tersebut mengisyaratkan bahwa Bahasa Bugis dan Bahasa Makasar sudah mulai terdesak pertumbuhannya. Anak-anak dari kedua suku ini banyak yang bermukim di perkotaan sehingga pertumbuhannya semakin lambat. Di perkotaan dijumpai tiga alasan utama terjadinya pergeseran dari bahasa daerah ke bahasa Indonesia dalam penentuan bahasa pertama bagi anak-anak di rumah tangga. (1) lingkungan pergaulan yang majemuk bahasa (suku). (2) medan tugas yang relatif tidak tetap. (3) orang tua berlainan suku (Darwis 1985). Dalam hal ini yang masih setia berbahasa daerah hanya usia lanjut sedangkan generasi muda dan anak-anak akan cenderung beralih ke penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa asing yang berstatus bahasa internasional dan hal ini bermula sejak penetapan bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama dalam kehidupan rumah tangga yang menyebabkan sebuah keluarga harus menggunakan bahasa Indonesia ataupun bahasa asing jika mau taraf hidup mereka meningkat.
oleh penutur usia muda, (4) usaha merawat identitas etnik tanpa menggunakan bahasa ibu, (5) penutur generasi terakhir sudah tidak cakap lagi menggunakan bahasa ibu, artinya tersisa penguasaan pasif , dan (6) punahnya dialek-dialek suatu bahasa.
Menurut Tondo (2009) dalam jurnalnya, terdapat 9 faktor penyebab punahnya bahasa daerah, yaitu (1) Pengaruh bahasa mayoritas dimana bahasa daerah itu digunakan, (2) Kondisi masyarakat yang penuturnya yang bilingual atau bahkan multilingual, (3) Faktor Globalisasi, (4) Faktor migrasi, (5) Perkawinan antar etnik, (6) Bencana alam dan musibah, (7) Kurangnya penghargaan terhadap bahasa etnik sendiri, (8) Kurangnya intensitas komunikasi berbahasa daerah dalam keluarga, (9) Faktor ekonomi, (10) Faktor bahasa Indonesia.
kecenderungan menyusutnya fungsi bahasa daerah dan terbatas pada ajang keluarga, informal, dan hiburan sehingga daya tahan dan daya saingnya menjadi semakin rapuh dan tidak mungkin mengimbangi bahasa nasional atau asing apalagi mengalahkannya (Yadana, 2009). Mengikuti pandangan Fishman (1985) hubungan bahasa dengan budaya bisa dilihat dalam tiga perspektif, yakni (1) sebagai bagian dari budaya, (2) sebagai indeks budaya, dan (3) sebagai simbol budaya. Sebagai bagian dari budaya, Misalnya upacara, ritual, nyanyian, cerita, doa merupakan bahasa merupakan tindak tutur atau peristiwa wicara. Dari pandangan ini munculah wacana atau rasionalisasi bahwa pergeseran budaya atau hilangnya bahasa yang sangat dekat dengan kebudayaan merupakan pertanda terjadinya perubahan yang luar biasa.
digunakan dalam lingkup minoritas dan bahkan di sekolah; taraf 4, situasi di mana bahasa minoritas diharuskan pada pendidikan sekolah dasar, taraf 3 bahasa daerah digunakan di tempat kerja oleh para pekerja dalam lingkungan kerja khusus; taraf 2 bahasa daerah digunakan dalam pemerintah setempat (lokal) dan media massa dari komunitas minoritas, dan taraf 1, bahasa daerah tersebut digunakan dalam tataran pemerintahan yang lebih tinggi dan pendidikan tinggi. Persaingan bahasa asing, nasional dan daerah memang sedang berlangsung dan berdampak pada sikap/prilaku berbahasa masyarakat kita. Dalam era persaingan bebas, penguasaan informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan prasarat bagi kelangsungan hidup bangsa. Sebagai negara yang sedang berkembang, Indonesia masih harus meningkatkan sumber daya manusia secara kuantitas dan kualitas sehingga ketergantungan akan sumber informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi dari luar sangat terasa. Untuk menjembatani interaksi dan komunikasi lintas bahasa dan budaya, penguasaan bahasa asing (khususnya bahasa Inggris) menjadi suatu kebutuhan utama (Yadnya, 2009).
wacana politik tetapi juga wacana linguistik. Sebagai ilustrasi kita bisa mengadakan introspeksi terhadap kebertahanan bahasa Bali (Darwis 2009).
Pada kenyataannya eksistensi bahasa Bali terutama di daerah perkotaan semakin mengkhawatirkan kalaupun belum bisa dikatakan telah terpinggirkan (marginal). Gejala linguistik seperti ini juga dirasakan oleh Jendra (2002:48) yang mensinyalir pemakaian bahasa Bali di dalam sejumlah kehidupan rumah tangga telah menyusut dan telah tersaingi oleh pemakaian bahasa Indonesia. Di dalam situasi kontekstual yang masih berbau tradisional juga bahasa Bali telah banyak didesak oleh pemakaian bahasa Indonesia. Kecenderungan ke arah keterpinggiran bahasa Bali tersebut diakibatkan paling sedikit oleh 3 hal yakni (1) status bahasa Bali, (2) loyalitas masyarakat penutur, dan (3) strategi pembinaan dan pengembangan bahasa Bali.
Bahasa Melayu Langkat di Stabat Sumatera Utara juga mengalami hal yang serupa. Fakta dan data yang ditemukan oleh adisaputera (2009) mengarah kepada munculnya pergeseran bahasa dari Bahasa Melayu ke Bahasa Indonesia. Hal ini ditandai oleh beberapa hal berikut ini:
1. Tingginya penggunaan Bahasa Indonesia dalam interaksi komunikasi sehari-hari (20%) walaupun pada wilayah yang dominan Melayu,
2. Hampir 50% responden (47,4%) menyatakan bahwa Bahasa Indonesia mereka bukanlah Bahasa Melayu,
3. Persentase responden yang tidak paham dan tidak lancar menggunaan Bahasa Melayu (64,8%) hampir dua kali persentase responden yang paham dan lancar menggunakan Bahasa Melayu (35,2%),
4. Tingginya persentase responden yang tidak paham dan tidak lancar menggunakan Bahasa Melayu pada kawasan yang etnisnya dominan Melayu dengan Bahasa Melayu(24,3%),
5. Dari 52,6% yang menguasai Bahasa Melayu sejak pandai berbahasa, hanya 33,9% yang memahami dan lancar menggunakannya.
Dalam penelitian tersebut juga menjelaskan bahwa ada tiga faktor yang menyebabkan tidak adanya pewaris dan regenerasi bahasa daerah. Faktor pertama, adalah faktor sosial, di Palangkaraya Bahasa Banjar cenderung diterima oleh semua kalangan sehingga prioritas pemakaian dan pewarisannya tinggi. Lain halnya dengan bahasa dayak yang lebih banyak digunakan dalam lingkungan tertentu dan terbatas sehingga orang tua enggan mewariskan bahasa daerah tersebut. Faktor kedua, adalah faktor ekonomi diamana bahasa banjar merupakan pelaku ekonomi terbesar di Palangkaraya khususnya, dan Kalimantan Tengah umumnya. Faktor ketiga, adalah faktor politik. Kebijakan bahasa nasional yang dulu dikenal dengan politik bahasa nasional sedikt banyak juga berpengaruh terhadap keterpinggiran bahasa daerah. Keputusan pemerintah memasukkan bahasa daerah dalam kurikulum pendidikan adalah langkah awal yang perlu ditindaklanjuti oleh berbagai pihak agar terlestarikannya bahasa daerah.
lain, (6) Terbukanya infrastruktur perhubungan, baik darat, laut maupun udara yang menyebabkan mobilitas penduduk yang berpindah dari tempat yang satu ke tempat yang lain yang sudah barang tentu akan menggunakan bahasa yang bukan Bahasa Gorontalo, (7) Sikap orang Gorontalo sendiri yang lebih suka menggunakan yang bukan Bahasa Gorontalo, (8) Bahasa Gorontalo belum mantap diajarkan, (9) Pemerintah daerah yang tidak peduli terhadap Bahasa Gorontalo, (10) Generasi muda yang tidak mau lagi menggunakan Bahasa Gorontalo (Pateda 1999:1).
Berdasarkan penjelasan Pateda pada Seminar Proposal Tesis Program Studi Pendidikan Bahasa Pascasarjana Universitas Negri Gorontalo yang berlangsung tanggal 9 Februari 2005 di Pascasarjana Universitas Negeri Gorontalo bahwa persoalan yang tertinggal dalam upaya pembinaan dan pengembangan Bahasa Gorontalo, yakni pengajarannya. Pengajaran Bahasa Gorontalo sebagai mata pelajaran muatan lokal sesungguhnya telah dimulai tahun 1995, meskipun pedoma Pelaksanaan Mulok sendiri telah dikeluarkan oleh Depdikbud (kini Diknas) pada tahun 1987. Persoalannya, yakni sampai sekarang belum diketahui bagaimanakah wujud pengajaran bahasa Gorontalo sebagai muatan lokal. Bahasa pengantar pengajarannya adalah bahasa Indonesia dengan pertimbangan peserta didik memahaminya, kalau diberikan dalam bahasa Gorontalo, peserta didik sulit memahaminya, dan guru juga mengalami kesulitan jika menggunakan bahasa Gorontalo.
memberikan gambaran bahwa suatu ketika bahasa Gorontalo tidak akan digunakan lagi sebagai bahasa pengantar bagi masyarakat Gorontalo. Seperti telah diketahui, jika hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peserta “tidak” menggunakan bahasa Gorontalo, maka dua hal yang dilaksanakan yaitu: mencari penyebab; dan menemukan upaya yang dapat dilaksanakan untuk membina dan mengembangkan bahasa Gorontalo. Setelah diadakan pembahasan, maka ditemukan 28 butir penyebab tidak digunakannya bahasa Gorontalo, serta ditemukan pula 29 butir yang berhubungan dengan upaya pembinaan dan pengembangan bahasa Gorontalo.
digunakan Bahasa Gorontalo, (16) Buku ilmu pengetahuan seperti fisika tidak menggunakan Bahasa Gorontalo, (17) Peserta didik menganggap tidak ada gunanya Bahasa Gorontalo, (18) Peserta didik tidak menggunakan Bahasa Gorontalo ketika bergaul, (19) Bahasa Gorontalo tidak digunakan di tempat ibadah, (20) Bahasa Gorontalo tidak digunakan ketika orang berada di atas kendaraan umum, (21) Bahasa Gorontalo tidak digunakan oleh peserta didik ketika berkonsultasi dengan dokter, (22) Peserta didik tidak menggunakan Bahasa Gorontalo ketika bermain, (23)Bahasa Gorontalo tidak digunakan oleh aparat pemerintah, (24) Bahasa Gorontalo tidak digunakan oleh mas media, (25) Bahasa Gorontalo tidak digunakan ketika antaretnik berkomunikasi, (26) Bahasa Gorontalo tidak digunakan di lembaga pendidikan, (27) Bahasa Gorontalo tidak digunakan oleh petinggi di daerah, (28) Bahasa Gorontalo sulit dipelajari.
berkomunikasi dengan masyarakat sekitar baik satu etnis atau beda etnis dan lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia (Palubuhu, 2007).
Hasil penelitian siregar dalam silalahi (2008), penggunaan bahasa daerah di kota-kota besar mengalami pergeseran dari bahasa daerah ke bahasa Indonesia. Penelitian dilakukan pada masyarakat bilingual di medan dan dikhususkan pada interaksi komunikasi intra kelompok dari 13 etnis dan penelitian tersebut dikhususkan pada keluarga. Dari penelitian tersebut disimpulkan pergeseran cenderung terjadi pada kelompok masyarakat yang belum berkeluarga dan pada anak-anak. Kajian terhadap pemertahanan bahasa dan pergeseran bahasa biasanya mengarah kepada hubungan antara perubahan atau kemantapan yang terjadi pada kebiasaan berbahasa dengan proses sosial, budaya, dan psikologi pada saat masyarakat bahasa yang berbeda berhubungan satu sama lain.
Sedangkan dalam penelitiannya Siahaan (2002) memilih 2 ranah yaitu keluarga dan persahabatan dengan alsan bahwa ranah tersebut member peluang terhadap kegiatan intrakelompok etnis batak toba. Dalam hal ini hubungan peran yang digunakan juga mengikuti ranah-ranah yang telah ditentukan. Ranah keluarga mencakup komunikasi antara suami-istri, orang tua-anak, anak-saudara, orang tua – saudara. Sedangkan persahabatan meliputi orang tua-teman, anak-teman. Dari hasil penelitian tersebut jelas terlihat bahwa bahasa yang paling sering digunakan anak pada setiap ranah adalah bahasa Indonesia (32,98%), sedangkan orang tua adalah campuran bahasa Indonesia dan bahasa Batak Toba (25%). Namun jika dilihat dari masing-masing ranah, pada ranah keluarga (rumah), anak lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia (47%), sedangkan orang tua menggunakan campuran bahasa Indonesia dan bahasa Batak Toba (28,80%), dan bahasa Batak Toba persentase penggunaan tertinggi ada pada arisan keluarga dan didominasi oleh orang tua. Pada ranah berikutnya yaitu ranah persahabatan (upacara adat) penggunaan bahasa Indonesia tertinggi adalah pada anak (47%), sedangkan orang tua menggunakan campuran bahasa Indonesia dan bahasa Batak Toba (25,60%) dan bahasa Batak Toba (21,40%). Dari data diatas kesimpulan daripenelitian tersebut adalah bahwa penggunaan bahasa daerah hanya didominasi oleh orang tua, sedangkan anak lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Metode Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah penelitian korelasi menggunakan pendekatan kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang digunakan untuk mendeteksi sejauh mana Variabel bebas mempengaruhi Variabel terikat. Penelitian ini menggunakan studi korelasi Spearman dikarenakan korelasi Spearman digunakan untuk mencari hubungan antar variabel yang mempunyai pengukuran sekurang-kurangnya tipe atau interval-rasio atau ordinal sehingga memungkinkan untuk dibuat peringkat atau ranking terhadap data tersebut. Dimana dengan metode tersebut diharapkan dapat melihat hubungan atau pengaruh kategori sosial dengan penggunaan bahasa daerah (Karo). Pada penelitian ini juga menggunakan penelitian deskriptif menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif dimaksudkan untuk mendapatkan data yang lebih akurat dan untuk mendukung data-data yang didapat dari penyebaran kuisioner. 3.2. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di GBKP Klassis Kampung Lalang, Sumatera Utara. Adapun yang menjadi alasan pemilihan lokasi tersebut di atas adalah :
1. Kurangnya perhatian terhadap bahasa daerah di GBKP Klasis Medan-Kp.Lalang.
3. Merupakan suatu komunitas suku yang homogen (suku karo).
4. Karena peneliti juga berada di kota yang sama dengan lokasi penelitian sehingga dapat memaksimalkan waktu yang ada.
3.3. Populasi dan Sampel 3.3.1. Populasi
Dalam metode penelitian kata populasi digunakan untuk menyebutkan sekelompok objek yang menjadi sasaran penelitian. Oleh karena itu, populasi penelitian merupakan keseluruhan dari objek penelitian (Burhan, 2005: 99). Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh keluarga yang terdaftar pada GBKP Klasis Medan-Kp.Lalang. Populasi dalam penelitian ini adalah sebanyak 4.294 KK, dengan demikian populasi dalam penelitian termasuk jenis populasi jumlah terhingga.
3.3.2. Sampel
Sampel merupakan bagian dari populasi yang ingin diteliti. Oleh karena itu, sampel harus dilihat sebagai suatu pendugaan terhadap populasi dan bukan populasi itu sendiri (Bailey, 1994:83). Dalam penarikan sampel menggunakan stratified random sampling (teknik acak terlapis). Pada teknik pengambilan sampel ini terdiri
dari dua jenis yaitu: proporsional sampel, dan nonproporsional sampel (Prasetyo, 2006).
3.3.3. Purposive Sampling
Purposive sampling yaitu pemilihan sampel berdasarkan karakteristik tertentu yang dianggap mempunyai kaitan dengan karakteristik populasi yang diketahui sebelumnya. Tehnik sampling ini digunakan berdasarkan pengetahuan terhadap populasi, maka unit-unit populasi yang dianggap “kunci” diambil sebagai sampel penelitian (Bungin 2006:115).
Karakteristik sampel dalam penelitian ini adalah :
1. Keluarga yang aktif berkebaktian dan terdaftar di GBKP 2. Keluarga yang sudah menikah >6 tahun
3. Keluarga yang mempunyai anak minimal berumur >4 tahun 3.4. Teknik Pengumplan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah : 1. Observasi
Observasi yaitu pengamatan yang dilakukan secara langsung untuk memperoleh dan mengumpulkan data yang diperlukan. Dalam penelitian ini, peneliti hanya berperan mengamati objek dilapangan, meliputi Keluarga GBKP Klasis Medan-Kp.Lalang.
2. Kuisioner
3. Wawancara
Wawancara adalah salah satu teknik pengumpulan data yang dilakukan secara verbal dan mengajukan beberapa pertanyaan untuk mendukung hasil penelitian. 4. Studi Kepustakaan
Studi kepustakaan yaitu mengumpulkan data dan mengambil informasi dari buku-buku referensi, dokumen, majalah, jurnal, artikel dan dari internet yang dianggap relevan dengan masalah yang diteliti.
3.5. Analisis Data
Singarimbun dalam (Nanawi, 1994:263) mengatakan analisa data adalah proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan dipresentasikan. Data yang diperoleh dari hasil penelitian akan dianalisa dalam beberapa tahap analisa, yaitu dengan menggunakan beberapa analisis yaitu:
1. Analisis Tabel Tunggal
Analisa Tabel Tunggal merupakan suatu analisa yang dilakukan dengan membagi-bagikan variabel penelitian kedalam kategori-kategori yang dilakukan atas dasar frekuensi. Tabel tunggal merupakan langkah awal dalam menganalisa kolom yang merupakan sejumlah frekuensi dan persentasi untuk setiap kategori (Nanawi, 1994:266).
2. Analisis Tabel Silang
3. Uji Korelasi
Uji korelasi adalah untuk menguji hubungan diantara kedua variabel dan melihat apakah terdapat hubungan yang signifikan. Peneliti menggunakan program komputer SPSS 18 untuk mempermudah dalam pengolahan data dan mendapatkan hasil yang baik.
Untuk melihat tinggi rendahnya korelasi, digunakan skala Guilford (dalam Sugiyono, 1994:149) sebagai berikut.
0,00 – 0,199 : Hubungan rendah sekali; lemah sekali 0,20 – 0,399 : Hubungan rendah tapi pasti
0,40 – 0,599 : Hubungan yang cukup berarti 0,60 – 0,799 : Hubungan yang tinggi; kuat
0,80 – 1,000 : Hubungan yang sangat tinggi; kuat sekali. 3.6. Pengujian Realibiti
Pengujian realibitas digunakan untuk mengetahui ketepatan mengukur objek yang dikaji yaitu untuk menentukan sejauh mana alat ukur dapat dipertanggungjawabkan ataupun jika diulangi pengukurannya akan menghasilkan data yang tidak berbeda (Kelinger dan Lee, 2000).
Pengujian ini dilakukan dengan menghitung realibitas Alpha-Cronbach. Apabila suatu komponen di uji maka akan menunjukkan angka lebih dari 0,50 yang bermakna item-item yang diukur telah mempunyai realibitas yang cukup berarti (Nunaly, 1994).
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N of Items
Dari hasil pengujian di atas telihat angka 0.666 dimana hal tersebut bermakna bahwa alat ukur mempunyai realibitas yang cukup berarti sehingga dapat dipertanggung-jawabkan dan dapat menghasilkan data yang akurat.
3.7. Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan penelitian mencakup uraian tentang keterbatasan dan hambatan yang ditemui dalam penelitian, baik yang berkaitan dengan metode dan teknik penulisan yang digunakan, maupun keterbatasan peneliti sendiri.
1. Dalam penelitian ini dilakukan ke setiap runggun yaitu 32 runggun dan penelitian yang maksimal hanya bisa dilakukan di Hari Minggu karena pada hari tersebut semua responden berkumpul.
2. Kendala yang dihadapi lainnya adalah keterbatasan waktu responden sehingga kuisioner di bawa pulang oleh responden namun banyak kuisioner yang hilang dan tidak dibawa kembali. Hal tersebut menyebabkan peneliti harus mengulang penelitian dari awal lagi.
BAB IV
HASIL DAN ANALISA PENELITIAN
4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian
Tahun 1906 Pdt. G. Smith dan membuka Kweekschool (Sekolah Guru) di Berastagi. Sekolah ini kemudian dipindahkan dipindahkan ke Raya, tapi tahun 1920 sekolah tersebut ditutup. Guru-guru sekolah yang telah terdidik ditempatkan di desa-desa menjadi guru untuk mengabarkan Injil.
Prof. Dr. H. Kraemer meninjau ke tempat-tempat zending Karo pada tahun 1939 dan ia menekankan agar dalam waktu sesingkat-singkatnya Jemaat Karo dipersiapkan berdiri sendiri dengan pengiriman tenaga pribumi ke sekolah pendeta dan mengangkat majelis Jemaat yang sudah mampu untuk itu. Tahun 1940 dua Guru Injil Palem Sitepu dan Thomas Sibero dikirim ke sekolah pendeta di seminari HKBP, Sipoholon.
dikenal dengan hari jadi GBKP atau GBKP njayo. Sebagai catatan penting, sebelum GBKP terbentuk, penginjilan ke Masyarakat Karo yang dilakukan sejak tanggal 18 April 1890 di Buluh Awar sampai dengan tahun 1941 dilakukan oleh NZG.
Klasis Medan Kampung Lalang
Dalam tugas-tugas pelayanannya, Moderamen dibantu oleh 22 Klasis, salah satunya adalah Klasis Medan Kampung Lalang. Semua Klasis ini memiliki kedudukan, lembaga-lembaga dan tugas-tugas yang sama dalam GBKP, hanya saja daerah pelayanannya yang berbeda. Dengan demikian, keberadaan Klasis Medan Kampung Lalang adalah salah satu pendukung tugas pelayanan Moderamen GBKP.
Klasis Medan Kampung Lalang berkedudukan dan berkantor pusat di Jalan Setia Budi Gg. Kenanga Medan (di samping gedung GBKP Rg. Setia Budi Medan). Gedung kantor tersebut berdiri di atas sebidang tanah seluas 4200 m2, bersama-sama dengan berdirinya Jambur Diakonia, Rumah Pastori, dan gedung GBKP Rg. Setia Budi Medan.
Klasis Medan Kampung Lalang dibentuk melalui Keputusan Sidang Klasis tanggal 26 Oktober 1979 di GBKP Jalan Sei Batang Serangan Medan, yaitu dengan dilakukan pemekaran Klasis Medan menjadi 2 klasis, yaitu:
1. Klasis Medan Deli Tua, berkantor di Jalan Jamin Ginting Km. 4 (Komplek Pamen Medan)
Majelis jemaat yang termasuk dalam pelayanan Klasis Medan Kampung Lalang pada saat itu berjumlah 13 runggun dan saat ini jumlah runggun pada Klasis Medan-kp.lalang adalah berjumlah 32 runggun. Ketua Klasis Medan Kampung Lalang yang pertama adalah Pdt. T.H. Sidabutar, MTh. Saat ini Klasis Medan Kampung Lalang diketuai oleh Pdt. Fajar Alam Kaban. yang dipilih melalui Sidang Klasis tahun 2010. Dalam struktur organisasi Klasis Medan Kampung Lalang juga terdapat 4 lembaga Kategorial, yaitu Moria Klasis Medan Kampung Lalang, Mamre Klasis Medan Kampung Lalang, Permata Klasis Medan Kampung Lalang dan KA-KR Klasis Medan Kampung Lalang.
4.2. Temuan Data dan Penyajian Data
Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada tahun 2012 di Gereja GBKP Klasis Medan-Kp.Lalang, maka informasi yang diperoleh merupakan hasil kuesioner yang telah disebarkan kepada jemaat GBKP Klasis Medan-Kp.Lalang. Hasil penelitian ini akan ditampilkan melalui tabel tunggal dan tabel silang dengan menggunakan SPSS yang disertai dengan analisis data. Didalam penyajian tabel tunggal, peneliti membagi kedalam bagian, yaitu :
1. 4.2.1. Membahas mengenai karakteristik responden. 2. 4.2.2. Membahas ruang tempat tinggal yang terbatas 3. 4.2.3 Membahas pola pengasuhan anak
Tabel Tunggal
berdasarkan daftar pertanyaan di kuesioner. Data-data yang lebih terperinci akan disajikan berikut ini:
4.2.1. Karakteristik Responden
Maksud dari penyajian data karakteristik responden adalah agar penulis lebih mengenal responden yang diteliti sehingga dapat lebih memudahkan menulis dalam melakukan penganalisaan data. Adapun karakteristik responden adalah sebagai berikut :
Tabel 1. Komposisi Responden Berdasarkan Usia
Sumber : Data Primer Penelitian Tahun 2012
Dari data di atas menunjukkan bahwa responden memiliki komposisi yang bervariasi agar responden mendapatkan data yang lebih lengkap dan mewakili semua karateristik umur. Dari hasil penelitian tersebut terlihat responden yang berusia 25-35 tahun memiliki frekuensi 50 responden dengan persentase 25 persen, usia 36-46 tahun memiliki frekuensi 88 responden dengan persentase 44 persen, usia 47-57 tahun memiliki frekuensi 42 responden dengan persentase 21 persen, dan usia 58-68 tahun memiliki frekuensi 20 responden dengan frekuensi 10 persen. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa responden dengan usia 36-46 tahun lebih banyak dibandingkan dengan responden lain berdasarkan usia. hal tersebut akan memberikan
No. Usia Frekuensi (F) Persentase (%)
1 25-35 Tahun 50 25
2 36-46 Tahun 88 44
3 47-57 Tahun 42 21
4 58-68 Tahun 20 10
pemahaman yang berbeda-beda terhadap pemahaman tentang pengajaran dan penggunaan bahasa daerah.
Tabel 2. Komposisi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Terakhir No. Pendidikan Terakhir Frekuensi (F) Persentase (%)
1 Tamatan S1 - S3 120 60
2 Tamatan SMP – SMA 80 40
3 Tamatan SD - Tidak Bersekolah 0 0
Jumlah 200 100.0
Sumber : Data Primer Penelitian Tahun 2012
Dari data di atas terlihat bahwa lebih banyak responden yang memiliki latar belakang pendidikan SMP-SMA. Dari hasil penelitian tersebut terlihat responden dengan latar belakang pendidikan S1-S3 memiliki frekuensi 80 responden dengan persentase 40 persen, responden dengan latar belakang pendidikan SMP-SMA memiliki frekuensi 120 responden dengan persentase 60 persen, Data diatas menunjukkan bahwa responden mempunyai latar belakang pendidikan yang cukup baik dan responden latar belakang berpendidikan S1-S3 juga cukup banyak, sehingga dapat mempengaruhi pola pikir masing-masing responden.
Tabel 3. Komposisi Responden Berdasarkan Pekerjaan
No. Pekerjaan Frekuensi (F) Persentase (%)
1 Pegawai negeri sipil 42 21
2 Pegawai swasta 46 23
3 Wiraswasta 85 42.5
4 Lainnya 27 13.5
Jumlah 200 100
Sumber : Data Primer Penelitian Tahun 2012
[image:51.612.108.538.521.620.2]pegawai negri sipil memiliki frekuensi 42 responden dengan persentase 21 persen, bekerja sebagai pegawai swasta memiliki frekuensi 46 responden dengan persentase 23 persen, bekerja sebagai wiraswasta memiliki frekuensi 85 responden dengan persentase 42.5 persen, dan yang bekerja lainnya memiliki frekuensi 27 responden dengan frekuensi 13.5 persen. Hal tersebut menunjukkan bahwa jemaat GBKP Klasis Medan-Kp.Lalang memiliki latar belakang pekerjaan yang berbeda-beda sehingga dapat mewakili semua karateristik pekerjaan.
Tabel 4. Komposisi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
No. Jenis Kelamin Frekuensi (F) Persentase (%)
1 Laki – Laki 123 61.5
2 Perempuan 77 38.5
Jumlah 200 100
Sumber : Data Primer Penelitian Tahun 2012
Dari data di atas menunjukkan bahwa komposisi responden jenis kelamin laki-laki lebih banyak dari responden jenis kelamin perempuan, yakni responden berjenis kelamin laki-laki mempunyai frekuensi 123 responden dengan persentase 61.5 persen, dan perempuan mempunyai frekuensi 77 responden dengan persentase 38.5 persen. Dari hasil penelitian tersebut terlihat responden laki-laki lebih sering dijumpai pada saat pulang gereja..
Tabel 5. Komposisi Responden Berdasarkan Jumlah Anak
No. Jumlah Anak Frekuensi (F) Persentase (%)
1 1-2 orang 95 47.5
2 3-4 orang 76 38
3 5-6 orang 27 13.5
4 Lainnya 2 1
Jumlah 200 100.0
[image:52.612.107.542.597.690.2]Dari data di atas terlihat bahwa responden lebih banyak memiliki komposisi jumlah anak antara 1-2 orang. Dari hasil penelitian tersebut terlihat responden yang mempunyai jumlah anak 1-2 orang memiliki frekuensi 95 responden dengan persentase 47.5 persen, responden yang mempunyai jumlah anak 3-4 orang memiliki frekuensi 76 responden dengan persentase 38 persen, responden yang mempunyai jumlah anak 5-6 orang memiliki frekuensi 27 responden dengan persentase 13.5 persen, dan responden yang mempunyai jumlah anak lebih dari 6 orang memiliki frekuensi 2 responden dengan frekuensi 1 persen. Data diatas menunjukkan bahwa responden mempunyai jumlah anak rata-rata adalah 1-4 orang, sehingga memunkinkan untuk memberikan pengajaran yang intensif kepada anak.
4.2.2. Kategori Sosial
[image:53.612.112.535.443.525.2]4.2.2.1. Frekuensi Responden Tentang Tingkat Ekonomi
Tabel 6. Komposisi Responden Berdasarkan Jumlah Pendapatan
No. Jumlah Anak Frekuensi (F) Persentase (%)
1 >Rp.4.000.000 37 18.5
2 Rp.3.900.000 - Rp.2.000.000 110 55
3 < Rp.1.900.000 53 26.5
Jumlah 200 100.0
Sumber : Data Primer Penelitian Tahun 2012
53 responden dengan persentase 26.5 persen. Data diatas menunjukkan bahwa responden tidak berada pada garis kemiskinan.
Tabel 7. Komposisi Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga yang Tinggal di Rumah
No. Jumlah Anggota Keluarga Frekuensi (F) Persentase (%)
1 > 6 orang 16 8
2 4-5 orang 119 59.5
3 < 3 orang 65 32.5
Jumlah 200 100.0
Sumber : Data Primer Penelitian Tahun 2012
Dari data di atas terlihat bahwa anggota keluarga yang tinggal di rumah responden rata-rata 4-5 orang. Dari hasil penelitian tersebut terlihat responden dengan jumlah anggota keluarga lebih dari 6 orang memiliki frekuensi 16 responden dengan persentase 8 persen, responden dengan jumlah anggota keluarga 4-5 orang memiliki frekuensi 119 responden dengan persentase 59.5 persen, dan responden dengan jumlah anggota keluarga kurang dari 3 orang memiliki frekuensi 65 responden dengan persentase 32.5 persen. Hal tersebut menunjukkan bahwa responden mempunyai tanggungan yang tidak terlalu banyak karena banyak responden dengan jumlah anggota keluarga 4-5 orang.
Tabel 8. Pandangan Responden Tentang Pendapatan Perbulan dengan Pengeluaran Perbulan
No. Jawaban Frekuensi (F) Persentase (%)
1 Lebih dari cukup 16 8
2 Cukup 138 69
3 Kurang 46 23
Jumlah 200 100.0
[image:54.612.108.538.572.658.2]Dari data di atas terlihat bahwa responden lebih banyak berpendapat bahwa pendapatan perbulan cukup untuk memenuhi pengeluaran perbulannya. Dari hasil penelitian tersebut terlihat responden dengan jawaban lebih dari cukup frekuensi 16 responden dengan persentase 8 persen, responden dengan jawaban cukup memiliki frekuensi 138 responden dengan persentase 69 persen, dan responden dengan jawaban kurang memiliki frekuensi 46 responden dengan persentase 23 persen. Data diatas menunjukkan bahwa banyak responden yang merasa cukup dengan pendapatan perbulannya, dan masih banyak juga responden yang merasa kurang dengan pendapatan perbulannya.
[image:55.612.110.532.433.508.2]4.2.2.2. Frekuensi Responden Tentang Lingkungan daerah Tempat Tinggal Tabel 9. Komposisi Responden Berdasarkan Jumlah Etnis di Daerah Tempat
Tinggal
No. Jawaban Frekuensi (F) Persentase (%)
1 Mayoritas Etnis Karo 64 32
2 Seimbang/Beragam Etnis 119 59.5
3 Minoritas Etnis Karo 17 8.5
Jumlah 200 100.0
Sumber : Data Primer Penelitian Tahun 2012
dengan persentase 8.5 persen. Data diatas menunjukkan bahwa responden bertempat tinggal di daerah yang beragam etnis yang akan mempengaruhi penggunaan bahasa daerah.
Tabel 10. Komposisi Responden Berdasarkan Dengan Siapakah Lebih Sering Bergaul dan Berkomunikasi
No. Jawaban Frekuensi (F) Persentase (%)
1 Sesama Etnis Karo 55 27.5
2 Netral 125 62.5
3 Berbeda Etnis 20 10
Jumlah 200 100.0
Sumber : Data Primer Penelitian Tahun 2012
[image:56.612.108.540.208.286.2]Dari data di atas terlihat responden lebih sering bergaul dan berkomunikasi dengan semua etnis. Dari hasil penelitian tersebut terlihat responden dengan jawaban sesama Etnis Karo memiliki frekuensi 55 responden dengan persentase 27.5 persen, responden dengan jawaban netral memiliki frekuensi 125 responden dengan persentase 62.5 persen, dan responden dengan komposisi berbeda Etnis memiliki frekuensi 20 responden dengan persentase 10 persen. Data diatas menunjukkan jawaban bahwa responden lebih sering bergaul dengan semua etnis dan juga masih banyak responden yang menjawab lebig sering bergaul dengan sesama etnis karo saja sehingga mempengaruhi kuantitas penggunaan bahasa daerah.
Tabel 11. Pandangan Responden Berdasarkan lingkungan Daerah Tempat Tinggal yang Nyaman
No. Jawaban Frekuensi (F) Persentase (%)
1 Mayoritas Etnis Karo 60 30
2 Seimbang/Beragam Etnis 129 64.5
3 Minoritas Etnis Karo 11 5.5
Jumlah 200 100.0
Dari data di atas terlihat jawaban responden berdasarkan lingkungan daerah tempat tinggal yang nyaman adalah beragam etnis. Dari hasil penelitian tersebut terlihat responden dengan jawaban mayoritas Etnis Karo memiliki frekuensi 60 responden dengan persentase 30 persen, responden dengan jawaban seimbang dan beragam etnis memiliki frekuensi 129 responden dengan persentase 64.5 persen, dan responden dengan komposisi minoritas Etnis Karo memiliki frekuensi 11 responden dengan persentase 5.5 persen. Data diatas menunjukkan bahwa responden berpendapat bahwa daerah tempat tinggal yang nyaman adalah beragam etnis dan masih banyak responden yang menjawab lebih nyaman jika mayoritas etnis karo. 4.2.3. Penggunaan Bahasa Daerah
4.2.3.1. Frekuensi Responden Tentang Keluarga
Tabel 12. Komposisi Responden Berdasarkan Bahasa yang Digunakan Saat Berkomunikasi dengan suami/istri
No. Jawaban Frekuensi (F) Persentase (%)
1 Bahasa Daerah Karo 156 78
2 Seimbang 29 14.5
3 Bahasa Indonesia 15 7.5
Jumlah 200 100.0
Sumber : Data Primer Penelitian Tahun 2012
persentase 7.5 persen. Data diatas menunjukkan bahwa responden menggunakan bahasa daerah Karo, hal tersebut menunjukkan bahwa mereka telah ambil bagian dalam melestarikan bahasa daerah.
Tabel 13. Komposisi Responden Berdasarkan Bahasa yang Digunakan Saat Berkomunikasi Dengan Anak
No. Jawaban Frekuensi (F) Persentase (%)
1 Bahasa Daerah Karo 111 55.5
2 Seimbang 46 23
3 Bahasa Indonesia 43 21.5
Jumlah 200 100.0
Sumber : Data Primer Penelitian Tahun 2012
Dari data di atas terlihat jawaban responden berdasarkan bahasa yang digunakan saat berkomunikasi dengan anak adalah bahasa Karo. Dari hasil penelitian tersebut terlihat responden dengan jawaban bahasa daerah Karo memiliki frekuensi 111 responden dengan persentase 55.5 persen, responden dengan jawaban seimbang memiliki frekuensi 46 responden dengan persentase 23 persen, dan responden dengan jawaban bahasa Indonesia memiliki frekuensi 43 responden dengan persentase 21.5 persen. Data diatas menunjukkan bahwa responden lebih banyak menggunakan bahasa daerah Karo saat berkomunikasi kepada anak dikarenakan responden ingin mengajarkan bahasa daerah kepada anak dan menggunakannya dalam berkomunikasi. Tabel 14. Komposisi Responden Berdasarkan Bahasa yang Digunakan
Anak Saat Berkomunikasi Dengan Orang Tua
No. Jawaban Frekuensi (F) Persentase (%)
1 Bahasa Daerah Karo 27 13.5
2 Seimbang 65 32.5
3 Bahasa Indonesia 108 54
Jumlah 200 100.0
Dari data di atas terlihat jawaban responden berdasarkan bahasa yang digunakan anak saat berkomunikasi dengan orang tua adalah bahasa indonesia. Dari hasil penelitian tersebut terlihat responden dengan jawaban bahasa daerah Karo memiliki frekuensi 27 responden dengan persentase 13.5 persen, responden dengan jawaban seimbang memiliki frekuensi 65 responden dengan persentase 32.5 persen, dan responden dengan jawaban bahasa Indonesia memiliki frekuensi 108 responden dengan persentase 54 persen. Data diatas menunjukkan bahwa anak dari responden menggunakan bahasa indonesia, jika dilihat dari kuantitas orang tua yang menggunakan bahasa daerah Karo pada saat berkomunikasi dengan anak, hal tersebut menunjukkan bahwa anak paham dan mengerti dengan bahasa daerah karo namun tidak menggunakannya saat berkomunikasi dengan orang tua.
Tabel 15. Komposisi Responden Berdasarkan Bahasa yang Digunakan anak Saat Berkomunikasi Dengan abang/kakak/adik
No. Jawaban Frekuensi (F) Persentase (%)
1 Bahasa Daerah Karo 24 12
2 Seimbang 65 32.5
3 Bahasa Indonesia 111 55.5
Jumlah 200 100.0
Sumber : Data Primer Penelitian Tahun 2012
frekuensi 111 responden dengan persentase 55.5 persen. Data diatas menunjukkan bahwa anak lebih banyak yang menggunakan bahasa Indonesia dari pada bahasa daerah karo.
Tabel 16. Komposisi Responden Berdasarkan Seberapa Sering Mengajarkan Bahasa Daerah Kepada Anak
No. Jawaban Frekuensi (F) Persentase (%)
1 Sering 146 73
2 Jarang 54 27
3 Tidak Pernah 0 0
Jumlah 200 100.0
Sumber : Data Primer Penelitian Tahun 2012
Dari data di atas terlihat jawaban responden berdasarkan seberapa sering mengajarkan bahasa daerah kepada anak adalah sering. Dari hasil penelitian tersebut terlihat responden dengan jawaban sering memiliki frekuensi 146 responden dengan persentase 73 persen, dan responden dengan jawaban seimbang memiliki frekuensi 54 responden dengan persentase 27 persen. Data diatas menunjukkan bahwa responden sering mengajarkan bahasa daerah Karo kepada anak dengan harapan anak mereka dapat melestarikan bahasa daerah mereka juga.
4.2.3.2. Frekuensi Responden Tentang Sesama Etnis
Tabel 17. Komposisi Responden Berdasarkan Bahasa yang Digunakan Saat Berkomunikasi Dengan Sesama Anggota Jemaat GBKP
No. Jawaban Frekuensi (F) Persentase (%)
1 Bahasa Daerah Karo 180 90
2 Seimbang 19 9.5
3 Bahasa Indonesia 1 0.5
Jumlah 200 100.0
Dari data di atas terlihat jawaban responden berdasarkan bahasa yang digunakan saat berkomunikasi dengan sesama anggota jemaat GBKP adalah bahasa daerah Karo. Dari hasil penelitian tersebut terlihat responden dengan jawaban bahasa daerah Karo memiliki frekuensi 180 responden dengan persentase 90 persen, responden dengan jawaban seimbang memiliki frekuensi 19 responden dengan persentase 9.5 persen, dan responden dengan jawaban bahasa Indonesia memiliki frekuensi 1 responden dengan persentase 0.5 persen. Data diatas menunjukkan bahwa responden menggunakan bahasa daerah Karo untuk berkomunikasi dengan anggota GBKP yang keseluruhannya adalah etnis Karo.
Tabel 18. Komposisi Responden Berdasarkan Bahasa yang Digunakan Saat Berkomunikasi Dengan Tetangga Sekitar Rumah yang Sesama Etnis Karo
No. Jawaban Frekuensi (F) Persentase (%)
1 Bahasa Daerah Karo 155 77,5
2 Seimbang 23 11.5
3 Bahasa Indonesia 22 11
Jumlah 200 100.0
Sumber : Data Primer Penelitian Tahun 2012
menunjukkan bahwa responden menggunakan bahasa daerah Karo namun frekuen dan persentase responden yang menggunakan bahasa Indonesia juga masih banyak. Tabel 19. Komposisi Responden Berdasarkan Bahasa yang Digunakan Saat
Berkomunikasi Dengan Keluarga Besar yang Sesama Etnis Karo
No. Jawaban Frekuensi (F) Persentase (%)
1 Bahasa Daerah Karo 170 85
2 Seimbang 18 9
3 Bahasa Indonesia 12 6
Jumlah 200 100.0
Sumber : Data Primer Penelitian Tahun 2012
4.2.3.3. Frekuensi Responden Tentang Berbeda Etnis
Tabel 20. Komposisi Responden Berdasarkan Bahasa yang Digunakan Saat Berkomunikasi Dengan Tetangga Sekitar Rumah yang Berbeda Etnis
No. Jawaban Frekuensi (F) Persentase (%)
1 Bahasa Daerah Karo 0 0
2 Seimbang 10 5
3 Bahasa Indonesia 190 95
Jumlah 200 100.0
Sumber : Data Primer Penelitian Tahun 2012
Dari data di atas terlihat jawaban responden berdasarkan bahasa yang digunakan tetangga sekitar ruamah yang berbeda etnis adalah bahasa Indonesia. Dari hasil penelitian tersebut terlihat responden dengan jawaban seimbang memiliki frekuensi 10 responden dengan persentase 5 persen, dan responden dengan jawaban bahasa Indonesia memiliki frekuensi 190 responden dengan persentase 95 persen. Data diatas menunjukkan bahwa responden menggunakan bahasa daerah Indonesia, namun ada beberapa responden yang memberikan jawaban seimbang dengan kata lain responden berusaha memperkenalkan bahasa daerah Karo kepada rekan yang berbeda etnis.
Tabel 21. Komposisi Responden Berdasarkan Bahasa yang Digunakan Saat Berkomunikasi Dengan Keluarga Besar yang Berbeda Etnis
No. Jawaban Frekuensi (F) Persentase (%)
1 Bahasa Daerah Karo 3 1.5
2 Seimbang 27 13.5
3 Bahasa Indonesia 170 85
Jumlah 200 100.0
[image:63.612.105.534.168.255.2]Dari data di atas terlihat jawaban responden berdasarkan bahasa yang digunakan saat berkomunikasi dengan keluarga besar yang berbeda etnis adalah bahasa Indonesia. Dari hasil penelitian tersebut terlihat responden dengan jawaban bahasa daerah Karo memiliki frekuensi 3 responden dengan persentase 1.5 persen, responden dengan jawaban seimbang memiliki frekuensi 27 responden dengan persentase 13.5 persen, dan responden dengan jawaban bahasa Indonesia memiliki frekuensi 170 responden dengan persentase 85 persen. Data diatas menunjukkan bahwa responden menggunakan bahasa Indonesia namun ada beberapa responden yang menjawab seimbang, hal tersebut menunjukkan bahwa mereka memperkenalkan bahasa daerah Karo kepada mereka yang berbeda etnis di dalam keluarga besarnya. 4.3.Analisa Tabel Silang
Tabel 22. Hubungan antara tingkat ekonomi dengan Bahasa yang digunakan saat berkomunikasi dengan suami/istri
Tingkat Ekonomi
Bahasa yang digunakan saat berkomunikasi dengan suami/istri
BK CB BI Total
> Rp. 4.000.000 21 (56.7%) 10 (27%) 6 (16.2%) 37 (100%) Rp. 2.000.000 s.d.
Rp. 3.900.000 94 (85.4%) 11 (10%) 5 (4.5%) 110 (100%) < Rp. 1.900.000 41
(77.3%) 8 (15.1%) 4 (7.5%) 53 (100%) Keterangan: BK (Bahasa Karo), CB (Campur Bahasa), BI (Bahasa Indonesia)
persen. Responden dengan jumlah pendapatan Rp. 2.000.000 s.d. Rp. 3.900.000 memiliki frekuensi Bahasa Karo 94 responden dengan persentase 85.4 persen. Responden dengan pendapatan lebih dari Rp. 4.000.000 memiliki frekuensi Bahasa Karo 21 responden dengan persentase 56.7 persen. Dari data diatas mayoritas responden menggunakan bahasa daerah karo dan tingkat ekonomi tidak mempengaruhi penggunaan bahasa daerah karo pada saat berkomunikasi dengan suami ataupun istri.
Tabel 23. Hubungan antara tingkat ekonomi dengan bahasa yang digunakan saat berkomunikasi dengan anak
Tingkat Ekonomi Bahasa yang digunakan saat berkomunikasi dengan anak
BK CB BI Total
> Rp. 4.000.000 12 (32.4%) 12 (32.4%) 13 (35.1%) 37 (100%) Rp. 2.000.000 s.d.
Rp. 3.900.000 64 (58.2%) 24 (21.8%) 22 (20%) 110 (100%) < Rp. 1.900.000 35
(66%) 10 (18.9%) 8 (15.1%) 53 (100%) Keterangan: BK (Bahasa Karo), CB (Campur Bahasa), BI (Bahasa Indonesia)
diatas mayoritas responden menggunakan bahasa daerah karo adalah jumlah pendapatan Rp. 2.000.000 s.d. Rp. 3.900.000 dan kurang dari Rp. 1.900.000 sedangkan jumlah pendapatan lebih dari Rp. 4.000.000 memiliki frekuensi yang beragam. Mereka menggunakan Bahasa Karo saat berkomunikasi dengan anak adalah dengan tujuan untuk mengajarkan Bahasa Karo dan agar anak terbiasa mendengar Bahasa Karo di lingkungan keluarga. Berikut adalah kutipan wawancara kepada salah seorang jemaat GBKP Klasis Medan-Kp.Lalang:
“…Kami orang tua ini makek Bahasa Karo pas ngomong sama anak2 kami ya supaya orang itu terbiasa dengar Bahasa Karo, dah itu orang itu kan jadi nanya ke kami orang tua ini apa artinya yang kami bilang. Terkadang kami campur-campurlah Bahasanya. Nah dari situ lah mereka belajar Bahasa Karo..” 1
[image:66.612.105.536.453.586.2]Dari kutipan wawancara di atas terlihat mengapa orang tua menggunakan Bahasa Karo saat berkomunikasi dengan anak mereka.
Tabel 24. Hubungan antara tingkat ekonomi dengan bahasa yang digunakan anak saat berkomunikasi dengan orang tua
Tingkat Ekonomi
Bahasa yang digunakan anak saat berkomunikasi dengan orang tua
BK CB BI Total
> Rp. 4.000.000 0 (0%) 10 (27%) 27 (73%) 37 (100%) Rp. 2.000.000 s.d.
Rp. 3.900.000 18 (16.4%) 42 (38.2%) 50 (45.4%) 110 (100%) < Rp. 1.900.000 9
(17%) 13 (24.5%) 31 (58.5%) 53 (100%) Keterangan: BK (Bahasa Karo), CB (Campur Bahasa), BI (Bahasa Indonesia)
Berdasarkan tabel dapat dilihat hubungan antara tingkat ekonomi dengan bahasa apa yang digunakan anak responden saat berkomunikasi dengan orang tua. Dari data diatas responden yang memiliki pendapatan kurang dari Rp. 1.900.000
1
memiliki frekuensi Bahasa Indonesia 31 responden dengan persentase 58.5 persen, responden dengan jumlah pendapatan Rp. 2.000.000 s.d. Rp. 3.900.000 memiliki frekuensi Bahasa Indonesia 50 responden dengan persentase 45.4 persen, frekuensi campur bahasa 42 responden dengan persentase 38.2 persen, responden dengan pendapatan lebih dari Rp. 4.000.000 memiliki frekuensi Bahasa Indonesia 27 responden dengan persentase 73 persen. Dari data diatas mayoritas responden menggunakan Bahasa Indonesia. Hal tersebut berbanding terbalik dengan bahasa yang digunakan orang tua saat berkomunikasi dengan anaknya yaitu Bahasa Karo. Menurut orang tua, hal tersebut dikarenakan anak hanya mengerti apa yang dikatakan orang tua tetapi mereka tidak bisa dan tidak mau untuk menggunakan Bahasa Karo. Berikut adalah kutipan wawancara kepada salah seorang jemaat GBKP Klasis Medan-Kp.Lalang:
“…Terkadang anak-anak sekarang malu dia berbahasa Karo, ada juga yang memang gak ngerti bilangkannya ke Bahasa Karo tapi ngerti apa yang kita bilang, tapi ada juga yang memang sama sekali gak ngerti. Takut anak-anak itu dibilang karo kali, padahal itu memang adat budayanya kan kenapa mesti malu..” 2
Namun jika dilihat dari data di atas, tidak sedikit juga anak yang menggunakan kedua bahasa sekaligus dan bahkan ada yang menggunakan Bahasa Karo saat berkomunikasi dengan orang tua. Hal tersebut dikarenakan orang tua yang selalu menggunakan Bahasa Karo kepada anaknya, sehingga anak terbiasa mendengarkan Bahasa Karo saat berada di rumah.
2
Tabel 25. Hubungan antara tingkat ekonomi dengan bahasa yang digunakan anak anda saat berkomunikasi dengan abang/kakak/adik
Tingkat Ekonomi
Bahasa yang digunakan anak anda saat berkomunikasi dengan abang/kakak/adik
BK CB BI Total
> Rp. 4.000.000 1 (2.7%) 7 (18.9%) 29 (78.4%) 37 (100%) Rp. 2.000.000 s.d.
Rp. 3.900.000 11 (10%) 45 (40.9%) 54 (49.1%) 110 (100%) < Rp. 1.900.000 12
(22.6%) 13 (24.5%) 28 (52.8%) 53 (100%) Keterangan: BK (Bahasa Karo), CB (Campur Bahasa), BI (Bahasa Indonesia)
Berdasarkan tabel dapat dilihat hubungan antara tingkat ekonomi dengan bahasa yang digunakan anak saat berkomunikasi dengan abang, kakak, ataupun adik. Dari data di atas responden yang memiliki pendapatan kurang dari Rp. 1.900.000 memiliki frekuensi Bahasa Indonesia 28 responden dengan persentase 52.8 persen, frekuensi campur bahasa 13 responden dengan persentase 24.5 persen, dan frekuensi Bahasa Karo 12 responden dengan persentase 22.6 persen. Kemudian responden yang memiliki pendapatan Rp. 2.000.000 s.d. Rp. 3.900.000 memiliki frekuensi Bahasa Indonesia 54 responden dengan persentase 49.1 persen, frekuensi campur bahasa 45 responden dengan persentase 40.9 persen. Responden dengan pendapatan lebih dari Rp. 4.000.000 memiliki frekuensi Bahasa Indonesia 29 responden dengan persentase 78.4 persen, frekuensi Bahasa Karo 1 responden dengan persentase 2.7 persen.