• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bahaya Komunitas Homoseksual Di Media Sosial (Studi Kasus: Interaksi Virtual Community Media Sosial Grindr)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Bahaya Komunitas Homoseksual Di Media Sosial (Studi Kasus: Interaksi Virtual Community Media Sosial Grindr)"

Copied!
120
0
0

Teks penuh

(1)

SOSIAL GRINDR)

Skripsi

Diajukan untuk memenuhi persyaratan memperoleh

gelar Sarjana Sosial (S.Sos)

Oleh:

NICKY FRANIDA NUGRAHANI

NIM: 1112051000107

KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

(2)
(3)
(4)
(5)

i

NIM: 1112051000107

Bahaya Komunitas Homoseksual di Media Sosial (Studi Kasus: Interaksi Virtual Community Media Sosial Grindr)

Media sosial memiliki keberagaman konten. Keberagaman konten ini sering kali disalahgunakan. Salah satu penyalahgunaan media sosial terjadi pada media sosial Grindr. Media sosial Grindr merupakan salah satu media sosial yang mampu menarik perhatian masyarakat, terutama oleh komunitas gay. Selain itu,

Grindr cenderung mempromosikan gaya hidup gay sebagai gaya hidup global. Di Indonesia, keberadaan gay masih menimbulkan permasalahan pada kerusakan nilai-nilai moral kehidupan. Sehingga, hal ini tentu menimbulkan kecemasan dan tantangan terberat bagi masyarakat dalam menghadapi LGBT.

Rumusan masalah pada penelitian ini yaitu, Bagaimana interaksi virtual community di media sosial Grindr? Mengapa pengguna memilih menggunakan

Grindr sebagai alat komunikasi? dan Apa efek sosial yang ditimbulkan dari interkasi virtual community Grindr?

Teori yang digunakan adalah Teori Community dan Internet menurut Lori Kendall. Teori ini membahas mengenai munculnya hubungan sosial yang di mediasi oleh komunikasi melalui internet. Hubungan sosial ini dapat dilihat melalui lima karakteristik desain online forum yang memfasilitasi virtual community diantaranya yaitu: Tujuan konten (Purpose of content), Tempat (extent of mediation), Sistem desain (Platform), Pola interaksi (pattern of interaction), dan Model keuntungan (Profit model). Selain itu, hubungan sosial ini juga melakukan negosiasi peran gender untuk mengasumsikan identitas yang mereka pilih sendiri dalam menciptakan realitas. Sehingga hubungan sosial ini dapat menimbulkan efek sosial. Asumsi ini dapat ditemukan melalui empat pembentukan community, diantaranya yaitu: conflict, cooperation, control, dan identity.

Interaksi virtual community itu di lakukan dengan tujuan mencari teman sesama gay untuk berkencan. Interaksi difasilitasi platform GPS, profile, general information dan chat. Dengan pola interaksi dari perkenalan melalui chat dan diakhiri dengan pertemuan untuk melakukan hubungan seksual. Tempat berinteraksi dilakukan berdasarkan keputusan kedua belah pihak dengan memanfaatkan keuntungan yang dimiliki Grindr yaitu GPS.

Adapun alasan pengguna berkomunikasi melalui Grindr yaitu, karena adanya konflik psikologis yang berkeinginan berinteraksi dan kerjasama dengan sesama gay untuk menjalankan realitas yang tidak dapat dilakukan pada realitas sebenernya. Kemudian adanya kebebasaan mengontrol dari pengguna untuk melakukan hal-hal yang diinginkan melalui Grindr, serta untuk melakukan penipuan identitas. Sehingga hal ini tentu aja merupakan interaksi yang berbahaya dan menimbulkan efek sosial pada masyarakat.

(6)

ii

AlhamdulillahiRabbil‟aalamiin segala puji dan syukur bagi Allah SWT

yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, serta shalawat dan salam

senantiasa dilimpahkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW. Sehingga

penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Bahaya Komunitas

Homoseksual di Media Sosial (Studi Kasus: Interaksi Virtual Community Media Sosial Grindr).

Sepenuhnya penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan skripsi ini

banyak mengalami kesulitan. hingga terkadang rasa putus asa selalu dirasakan.

Namun berkat bantuan, motivasi, bimbingan dan pengarahan yang sangat

berharga dari berbagi pihak menjadikan penulis semakin bersemangat untuk

menyelesaikan skripsi ini dan akhirnya skripsi dapat terselesaikan.

Oleh karena itu dengan segala ketulusan, perkenankan penulis untuk

menyampaikan rasa terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu

penulis. Karena dengan bimbingan, arahan serta semua kebaikan yang telah

diberikan kepada penulis, terutama kepada:

1. Dr. H. Arief Subhan. MA selaku Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu

Komunikasi, Suparto, M. Ed. Ph.D selaku Wakil Dekan I Bidang

Akademik, Dr. Hj. Roudhonah. M.Ag selaku Wakil Dekan II Bidang

Administrasi Umum, serta Dr. Suhaizni. M.Si selaku wakil Dekan Ill

Bidang Kemahasiswaan.

(7)

iii

Penyiaran Islam. Dan selaku Dosen Pembimbing yang telah bersedia

meluangkan waktu dikala padatnya jadwal mengajar dan meluangkan

pikiran untuk memberikan pengarahan dan inspirasinya kepada penulis

dikala berkonsultasi. Serta teramat sabar dalam membimbing dan

mengarahkan penulis.

4. Prof. Andi Faisal Bakti, MA, Ph. D selaku Dosen Pembimbing Akademik.

5. Seluruh Dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam

Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan ilmu dan

pengetahuannya kepada penulis selama penulis mengikuti perkuliahan.

6. Seluruh Staff dan Karyawan Perpustakaan Utama dan Perpustakaan

Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif

Hidayatullah Jakarta yang telah membantu penulis dalam hal peminjaman

buku-buku yang digunakan sebagai referensi dan memberikan pelayanan

dengan baik kepada penulis hingga penyusuanan skripsi ini selesai.

7. Kepada ayah saya Ragil Sartoto dan mama saya Nurjanah. Terima kasih atas

segala kesabarannya atas kendala-kendala yang dihadapi penulis selama

proses penulisan skripsi.

8. Kepada ke-tiga narasumber yaitu: Toro, Vidi, dan Galih yang telah

meluangkan waktunya untuk bertemu dan bersedia di wawancarai. Bersedia

dimintai banyak informasi meskipun hal-hal yang ditanyakan benar-benar

merupakan hal yang sensitif. Penulis sangat berterima kasih atas

(8)

iv

penulisan skripsi. Penulis sangat bahagia memiliki tante yang selalu

memberikan dukungan yang tulus dan bantuan tanpa henti ketika penulis

mengalami kesulitan.

10. Rally Ramdhani, yang telah banyak memberikan masukan, semangat dan

motivasi. Serta kesabarannya menampung segala keluh kesah penulis dalam

proses penulisan skripsi ini. Serta adik saya Vicky Carin Sahara yang telah

banyak memberikan semangat serta menghibur penulis di saat penulis

dilanda kejenuhan.

11. Sahabat-sahabatku, teman-teman seperjuangan selama kuliah Indah

Noviyanti, Dewi Muffarikhah, Nina nurlina, Mely ismi, Syifa maharani.

Terima kasih selalu memberikan semangat dan banyak informasi yang

sangat membantu penulis dalam penulisan skripsi.

12. KPI D, terima kasih atas kebersamaan yang menyimpan banyak kenangan.

Vina, Latif, Tasha, Muthia, Dinda, dan Noni terima kasih telah menjadi

bagian cerita semasa kuliah yang tidak akan terlupakan.

13. Terima kasih juga kepada Melqy yang telah banyak membantu dalam

mencari buku-buku refrensi yang tepat untuk penulisan skripsi ini. Serta

terima kasih kepada seluruh teman-teman angkatan KPI 2012 atas segala

kebersamaannya. Terima kasih selalu memberikan semangat dan banyak

(9)

v

mengurangi rasa hormat, yang telah membantu penulis. Saya ucapkan

terima kasih.

Akhir kata penulis hanya bisa berharap Allah SWT berkenan membalas

segala kebaikan dari seluruh pihak yang telah membantu. Penulis berharap skripsi

ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan khususnya bagi diri

penulis sendiri.

Jakarta, 22 Agustus 2016

(10)

vi

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 6

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 7

D. Metodologi Penelitian ... 8

1. Paradigma Penelitian ... 8

2. Pendekatan Penelitian ... 8

3. Jenis Penelitian ... 9

4. Metode penelitian ... 10

5. Subjek dan Objek Penelitian ... 10

6. Tempat dan Waktu Penelitian... 11

7. Teknik Pengumpulan Data ... 11

8. Teknik Analisis Data ... 12

E. Tinjauan Pustaka ... 13

F. Sistematika Penulisan ... 15

BAB II. KAJIAN TEORETIS A. Communityand Internet Lori Kendall theory 1. Defining the Undefinable... 17

2. Community versus Networked Individualism ... 19

3. Real Communities versus Pseudocommunities... 21

4. Virtual Community ... 22

5. Komunitas online dan offline ... 29

B. Media Sosial 1. Pengertian media sosial ... 30

2. Karakteristik media sosial ... 32

3. Jenis-jenis media sosial ... 37

4. Khalayak media sosial ... 39

(11)

vii

G. Profile Guidelines Grindr ... 58

BAB IV. TEMUAN DAN ANALISIS DATA A. Analisis interaksi Virtual Community di media sosial Grindr 1. Tujuan konten (Purpose of content) ... 61

2. Tempat (extent of mediation) ... 63

3. Sistem desain (Platform) ... 64

4. Pola interaksi (pattern of interaction) ... 67

5. Model keuntungan (Profit model) ... 69

B. Analisis pengguna media sosial menggunakan Grindr sebagai alat komunikasi 1. Conflict ... 72

2. Cooperation ... 73

3. Control ... 75

4. Identity ... 79

C. Analisis efek sosial yang ditimbulkan dari interaksi virtual community Grindr 1. Adzab ... 82

2. Penyakit kelamin ... 84

3. Ganguan interaksi sosial ... 84

4. Gangguan psikologis ... 85

(12)

viii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1 Logo Grindr...53

Gambar 3.2 Pendiri Grindr...54

Gambar 4.1 Platform Grindr...65

Gambar 4.2 Feature Grindr...68

Gambar 4.3 Bigger Photos Grindr Informan A...70

Gambar 4.4 Bigger Photos Grindr Informan C...70

Gambar 4.5 General Information Informan A...77

Gambar 4.6 General information Informan B...78

Gambar 4.7 General information Informan C...78

Gambar 4.8 Profile Informan A...80

Gambar 4.9 Profile Informan B...81

(13)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kehadiran internet memberikan pengaruh terhadap aktivitas

komunikasi. Internet telah mengambil andil dalam kehidupan manusia

baik secara positif maupun negatif. Setelah terhubung dengan internet

setiap orang dapat menikmati dampak positif dari internet. Diantaranya

ialah dengan tersedianya banyak informasi baik secara teks, suara, maupun

gambar yang dapat diakses kapanpun dan dimanapun.

Keberadaan internet juga memudahkan manusia untuk berinteraksi

dengan orang lain tanpa harus merasa terhalang oleh jarak. Menurut

Graham, “interaksi atau interactivity merupakan salah satu cara yang berjalan di antara pengguna dan mesin (teknologi) dengan memungkinan

para pengguna maupun perangkat saling terhubung secara interaktif.

Interaksi merupakan salah satu karakter media siber sebagai alat

komunikasi”.1

Melalui media siber setiap manusia dapat saling terhubung

dalam waktu yang bersamaan. Bahkan penggunaan media siber dapat

mewakili keterlibatan pola komunikasi, yang semula hanya dapat

berkomunikasi secara langsung atau face to face. Adapun jenis-jenis media siber diantaranya: Website, Email, Blog, Wiki, Broadcasting, Peer to peer, dan Media sosial.

1

(14)

Selain membawa perubahan dalam pola komunikasi, Internet juga

menghadirkan komunitas di dunia maya yang disebut sebagai virtual community. Menurut Rheingold (1995), virtual community merupakan agregasi sosial yang mengambil bentuk di dalam internet di mana semua

orang membawa persoalan untuk didiskusikan dalam waktu yang lama,

dan melibatkan perasaan atau pemikiran penggunanya dengan relasi yang

terbentuk di ruang siber.2

Virtual community merupakan komunitas yang terbentuk dari komunikasi yang termediasi oleh komputer (Communication Mediated Computer). Anggota komunitas dapat saling berbagi pengalaman serta menikmati konten yang disediakan pada media siber. Bila pada komunitas

di dunia nyata dibutuhkan pertemuan secara tatap muka untuk menjalin

komunikasi, namun di komunitas virtual tidaklah diperlukan pertemuan

secara tatap muka. Bahkan komunitas cenderung tidak perlu saling

mengenal satu sama lain untuk tergabung dalam komunitas.3

Seiring dengan semakin bervariasinya konten media dan

meningkatnya pengguna media siber. Semakin lama, internet cenderung

menjadi sebuah kebutuhan pokok. Internet sebagai penunjang media

komunikasi dan informasi yang banyak memberikan dampak positif,

namun tidak sedikit juga terjadi penyalahgunaan yang justru membawa

dampak negatif. Terutama penyalahgunaan yang dilakukan oleh virtual

2

Rulli Nasrullah, Media Sosial, (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2015), h. 108.

3

(15)

community homoseksual melalui media sosial. Diantaranya dengan munculnya akun twitter bernama @GayUGM yang kurang lebih mencapai

1.802 followers. Akun yang eksis sejak Januari 2013 ini, aktif menyuarakan LGBT melalui tweet dan berkomunikasi dengan akun-akun lainnya. Namun kini akun tersebut telah non-aktif. Banyak diberitakan di

internet, hal ini dikarenakan banyak menuai penolakan baik dikalangan

masyarakat maupun lingkungan Universitas Gajah Mada. Kemudian

betapa mengkhawatirkannya kemunculan akun twitter bernama

@gaykids_botplg yang secara terang-terangan mengumbar kata-kata

vulgar. Bahkan, mereka juga menampilkan foto dan video seksual yang

tak layak di lihat oleh anak-anak dibawah umur. Selanjutnya muncul

desakan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO)

kepada pengelola media-media sosial dan layanan pesan pendek. Agar

dihapuskannya emosikon (emoji) atau sticker gay dan lesbian untuk pasar Indonesia, karena hal ini jelas menghawatirkan untuk dikonsumsi

masyarakat.4

Mengingat media siber memiliki jenis-jenis media beragam yang

memfasilitasi untuk bertukar informasi baik berupa visual, maupun audio.5

Di tahun 2009 muncul media sosial Grindr dengan kecanggihan teknologi GPS (Global Positioning System) yang dapat mendeteksi keberadaan gay

4Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. “

Pemerintah Akan Panggil Manajemen WhatsApp Gara-gara Emoticon LGBT”, diakses pada 17 Februari 2016, dari

https://www.kominfo.go.id/content/detail/6824/pemerintah-akan-panggil-manajemen-whatsapp-gara-gara-emoticon-lgbt/0/sorotan_media/

5

(16)

terdekat melalui smartphone. Bahkan Aplikasi berbasis chatting ini populer di kalangan gay Indonesia. Berdasarkan website resmi Grindr

www.Grindr.com terdapat 10 peringkat negara terbesar pengguna Grindr, dan Indonesia mendapat urutan ke-9 sebagai negara pengguna Grindr

aktif.6

Sebuah layanan berbasis Internet, memudahkan pengguna untuk

membuat profil diri yang kemudian digunakan untuk saling menghubungi

dan dihubungi pengguna lain. Grindr sebagai Online dating, dianggap menarik karena adanya kontrol dari pengguna untuk mengatur sendiri apa

yang ingin mereka lakukan melalui media tersebut. Menurut Houran

(2009), ada tiga alasan utama kenapa begitu banyak pengguna internet

yang tertarik menggunakan aplikasi online dating semacam ini, yaitu keinginan untuk mencari pasangan yang bertujuan dan memiliki

ketertarikan yang sama, atau mencari pasangan yang memiliki ketertarikan

yang sama sekali berbeda, sambil berusaha memisahkan diri dari

orang-orang yang dianggap memiliki ketertarikan yang tidak menarik baginya

(deal breakers).7

Kini homoseksual cenderung memperkuat eksistensi kaum gay

melalui ruang siber. Berani mengkampanyekan hak-haknya, bahkan juga

tidak sungkan mempromosikan gaya hidup homoseksual sebagai gaya

hidup yang wajar dan bukan sebagai sebuah penyimpangan. Namun secara

6

Steve levin, “fact Sheet Grindr”, diakses pada Juni 2015, dari www.grindr.com/press/

7

(17)

pandangan syariat Islam, perilaku yang banyak dilakukan oleh kaum Nabi

Luth as ini merupakan dosa besar yang dilaknat oleh Allah SWT.Zina dan

perbuatan seks menyimpang lainnya seperti homoseks atau lesbian

dipandang bertentangan dengan martabat dan naluri manusia yang

beradab. Menurut Hamka Haq yang merujuk pada surat al-A‟raf ayat 81

inilah sebagai penyebab mengapa Allah Swt mengharamkan homoseks.8

Dalam Al Quran dan Terjemahannya surat Al-A‟raf ayat 81 sebagaimana dijelaskan:

sesungguhnya kamu menggauli laki-laki guna memuaskan nafsu,

selain wanita malah kamu adalah kamu adalah kaum yang melampaui

batas”.9

Grindr banyak dibicarakan sebagai sebuah transisi kehidupan. Kemunculan internet membawa peradaban baru yang mengubah banyak

aspek kehidupan dan memberikan tantangan terberat bagi kehidupan

dalam menghadapi LGBT.10 Perilaku homoseksual dalam kehidupan bertentangan dengan nilai-nilai agama maupun norma-norma susila.

Perilaku ini dapat membahayakan baik dari segi psikologis, moral dan

8

Hamka Haq, Islam Rahmah Untuk bangsa, (Jakarta: Baitul Muslimin Indonesia, 2015), h. 188.

9

Departemen Agama RI, Al Quran dan Terjemahannya, (Semarang: CV. ASY SYIFA, 2001), h.426.

10

(18)

kesehatan. Oleh karena itulah, masyarakat pada umumnya memandang

homoseksual merupakan praktik seksual yang menyimpang dan dinilai

tidak baik.11 Berdasarkan Latar belakang di atas, maka penulis memilih

judul “Bahaya Komunitas Homoseksual di Media Sosial (Studi Kasus

Interaksi Virtual Community Media Sosial Grindr)”

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

1. Pembatasan Masalah

Agar terfokus kepada permasalahan yang diteliti, maka penulis

membatasi masalah dalam penelitian ini yaitu, terhadap interaksi

virtual community yang dilakukan melalui media sosial Grindr. Interaksi ini dilakukan oleh pengguna Grindr aktif yang mengakses media sosial Grindr lebih dari 54 menit dalam sehari. Selain itu, terhadap pengguna Grindr di wilayah Ciputat, Bintaro, dan Pondok Indah

Alasan pemilihan kriteria pengguna Grindr dikarenakan kebutuhan informasi mendalam yang hanya diapatkan melalui pengguna Grindr

Aktif. Serta dijelaskan oleh pihak perusahaan Grindr bahwa pengguna aktif Grindr mengakses kurang lebih 54 menit dalam sehari. Selain itu, Kehadiran Grindr juga merubah hubungan sosial penggunanya, serta menimbulkan kerusakan pada nilai-nilai moral kehidupan.

2. Perumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

11

(19)

a. Bagaimana interaksi virtual community di media sosial Grindr? b. Mengapa pengguna memilih menggunakan Grindr sebagai alat

komunikasi?

c. Apa efek sosial yang ditimbulkan dari interkasi virtual community Grindr?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

a. Untuk mengetahui interaksi virtual community yang dilakukan homoseksual melalui media sosial Grindr.

b. Untuk mengetahui alasan pengguna Grindr menggunakan Grindr

sebagai alat komunikasi.

c. Untuk mengetahui efek sosial yang ditimbulkan dari interaksi

virtual community Grindr. 2. Manfaat Penelitian

Sedangkan, adanya manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Manfaat Akademis, penelitian ini diharapkan mampu memberikan

sumbangan pengetahuan bagi ilmu komunikasi. Dan diharapkan

mampu meninterpretasikan pola interaksi virtual community di era sekarang ini yang terus berubah-ubah, karena di pengaruhi

oleh ketersediaan media siber yang terus berinovasi.

b. Manfaat Praktis, penelitian ini diharapkan mampu

(20)

luas, agar lebih cermat lagi memilih dan menggunakan konten

media sosial.

D. Metodologi Penelitian

1. Paradigma Penelitian

Penulis menggunakan paradigma konstruktivis. Paradigma

konstruktivis menekankan bahwa relitas merupakan konstruksi

sosial. Kebenarann suatu realitas bersifat relative, berlaku sesuai

konteks spesifik yang dinilai oleh pelaku sosial, pemahaman suatu

realitas, atau temuan suatu penelitian merupakan produk interaksi

peneliti dengan yang diteliti. Nilai etika dan pilihan moral

merupakan bagian tak terpisahkan dari penelitian. Tujuan penelitian

adalah untuk rekontruksi realitas sosial secara dialektik antara

peneliti dan objek penelitian”.12

Penulis menggunakan paradigma konstruktivis karena ingin

melihat realitas komunitas homoseksual pada media sosial Grindr, melalui dialektik antara penulis dengan objek penelitian.

2. Pendekatan Penelitian

Penulis menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Creswell

(2008) mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai suatu pendekatan

atau penelusuran untuk mengeksplorasi dan memahami suatu gejala

sentral. Untuk mengerti gejala sentral tersebut peneliti

mewawancarai peserta penelitian atau partisipan dengan mengajukan

12

(21)

pertanyaan yang umum dan agak luas. Informasi yang disampaikan

oleh partisipan kemudian dikumpulkan kemudian dianalisis.13

Melalui pendekatan penelitian kualitatif, penulis melakukan

wawancara langsung kepada informan, baik terhadap pengguna

media sosial Grindr maupun pihak perusahaan Grindr. Agar mendapatkan informasi secara mendalam mengenai interaksi virtual communityGrindr.

3. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif, dimana

pendekatan ini bertujuan untuk mendeskripsikan atau

menggambarkan secara sistematis, faktual dan akurat, mengenai

faktor-faktor, sifat, serta hubungan antara fenomena yang diteliti.14 Penulis dapat menggambarkan fenomena atau permasalahan yang

diangkat dalam penelitian ini dari informasi yang telah didapatkan,

yakni mengenai interaksi virtual community Grindr, alasan pengguna berkomunikasi melalui Grindr, serta efek sosial yang ditimbulkan dari interaksi virtual community Grindr.

13

J. R. Raco, Metode Penelitian Kualitatif: Jenis, Karakteristik, dan Kegunaannya,

(Jakarta: Grasindo, 2010), h.7.

14

(22)

4. Metode penelitian

Penulis menggunakan metode penelitian studi kasus intrinsik.

Fokus penelitian terletak pada kasus itu sendiri karena keunikannya.

Keberadaan kasus merupakan penyebab diperlukannya penelitian.15

A case study is an exploration of a „bounded system’ or a case

(or multiple cases) over time through detailed, in-depth data collection involving multiple sources of information rich in context”.16 Creswell menjelaskan studi kasus merupakan eksplorasi dari sistem yang dibatasi, atau eksplorasi dari kasus tunggal maupun

multi-kasus dari waktu ke waktu secara rinci. Serta melakukan

pengumpulan data secara mendalam dengan melibatkan berbagai

sumber informasi yang kaya dalam konteks penelitian. Yaitu

diantaranya dengan melakukan observations, indept interview, mengumpulkan documents dan audio-visual materials.

Penulis mengumpulkan data melalui objek penelitian yang telah

ditentukan, untuk kemudian ditinjau kembali hasil temuan agar

mendapatkan sebuah kesimpulan dari permasalahan penelitian.

5. Subjek dan Objek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah media sosial Grindr, sedangkan yang menjadi objek penelitian ini adalah pengguna Grindr aktif.

15

Jhon. W. Creswell, Qualitative inquiry and research design: Choosing among five traditions, (California: SAGE 1998), Hal 62

16

(23)

6. Tempat dan Waktu Penelitian

Waktu penelitian dilakukan pada Maret 2016 hingga agustus 2016.

Adapun tempat penelitian dilakukan pada wilayah Bintaro, Ciputat

dan Pondok Indah.

7. Teknik Pengumpulan Data

Untuk mengumpulkan data-data dan informasi sesuai dengan

permasalahan penelitian ini, penulis melakukan beberapa cara sebagai

berikut:

a. Observations

Penulis melakukan observasi secara tidak langsung atau

observasi non partisipant. Penulis melakukan observasi kepada tiga orang pengguna Grindr melalui akunnya, untuk melihat interaksi yang dilakukan pengguna melalui media sosial Grindr. Namun penulis tidak ikut berinteraksi kepada pengguna Grindr lainnya.

b. Indept Interview

Penulis melakukan wawancara secara mendalam kepada

tiga orang pengguna Grindr aktif yaitu, Toro, Vidi dan Galih. Penulis mewawancarai tiga informan sebagai objek yang dianggap

memiliki infomasi dan dapat memberikan data yang dibutuhkan

dalam penelitian ini.

(24)

Pengamatan dan wawancara juga dilengkapi dengan

dokumentasi. Penulis mengambil data-data dari catatan maupun

dokumentasi yang sesuai dengan masalah yang diteliti diantaranya

yaitu, transkip wawancara, fact sheet Grindr, dan dokumentasi dengan informan. Serta hal-hal lain yang berkaitan dengan

penelitian untuk memperkuat data tentang Bahaya Komunitas

Homoseksual di Media Sosial (Studi Kasus Interaksi Virtual Community di Media Sosial Grindr).

8. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data pada metode penelitian studi kasus kualitatif

adalah:

a. Description

Fenomena kemunculan media sosial Grindr yang dikhususkan untuk pengguna gay atau homoseksual. Namun media sosial Grindr

ini mudah di download dan di akses oleh siapa pun atau pengguna umum melalui smartphone.

b. Theme

Kemunculan media sosial ini menimbulkan kekhawatiran.

Fenomena kemunculan Grindr ini mengarah pada kerusakan nilai-nilai moral kehidupan, karena interaksi dari media Grindr ini hingga pada tindakan perzinahan.

(25)

Karena media Grindr ini mewadahi untuk tindakan diluar nilai-nilai moral kehidupan. Maka diperlukannya pembinaan dan

penanaman moral secara lebih intensif kepada kerabat terdekat atau

lingkungan. Serta diperlukannya himbauan agar cerdas dalam

memilih dan menggunakan media sosial.

E. Tinjauan Pustaka

Penulis telah melakukan tinjauan pada beberapa hasil penelitian

terdahulu yang memiliki keterkaitan dengan penelitian yang akan

dilakukan penulis. Pertama penelitian yang dilakukan oleh Syifa Awaliyah

mahasiswi Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Islam

Negri Syarif Hidayatullah Jakarta, dengan judul penelitian “Perilaku

Berbohong di Facebook (Studi Kasus Ibu Rumah Tangga di Kampung

Rawa Domba Duren Sawit Jakarta Timur).17 Persamaan penelitian ini

adalah sama-sama meneliti tentang media internet di kalangan masyarakat

luas. Sedangkan perbedaan terletak pada teori yang digunakan serta objek

penelitiannya.

Penelitian berikutnya dilakukan oleh Fitri handayani, dengan judul

penelitian “Media Online dan Ruang Publik Virtual (Studi Terhadap

Kolom Komentar dari Kompas.com)” mahasiswi Jurusan Komunikasi dan

Penyiaran Islam Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Persamaan pada penelitian ini adalah sama-sama meneliti tentang media

17

(26)

internet.18 Kemudian, penelitian yang dilakukan oleh Ari Mukti Wibowo

mahasiswa Mercu Buana Jakarta, dengan judul penelitian “Pola

Komunikasi Antarpribadi Komunitas Homoseksual dalam

Mempertahankan Solidaritas (Studi Terhadap Komunitas Love Story di

Jakarta”. Persamaan penelitian terletak pada objek penelitian yang terfokus

dengan komunitas homoseksual.19

Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Dewi Savitri mahasiswi

Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama). Dengan judul penelitian

“Manajemen Kesan Kaum Gay Melalui Media Sosial Grindr”, penelitian

ini memiliki subjek yang sama dengan penulis, namun objek penelitian

dan teori yang digunakannya berbeda. Hasil penelitian pada skripsi ini

yaitu, pengguna Grindr melakukan pengelolaan kesan dalam akunnya. Mereka melakukan pengelolaan kesan dengan cara yang berbeda-beda

namun memiliki tujuan yang sama yakni menarik perhatian pengguna

lainnya melalui profile foto, yang kemudian dilanjutkan melalui proses

chatting. Pengelolaan kesan dengan cara yang berbeda-beda ini dikategorikan dalam peta konsep diri Johari Window yaitu, open self, hidden self, blind self, dan unknown self.20

18

Fitri Handayani,” Media Online dan Ruang Publik Virtual (Studi Terhadap Kolom Komentar dari Kompas.com)”, Skripsi pada Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2013. Tidak dipublikasikan.

19

Ari Mukti Wibowo,” Pola Komunikasi Antarpribadi Komunitas Homoseksual dalam

Mempertahankan Solidaritas (Studi Terhadap Komunitas Love Story di Jakarta”, Skripsi pada Universitas Mercu Buana, 2015. Tidak dipublikasikan.

20

Dewi Savitri, “Manajemen Kesan Kaum Gay Melalui Media Sosial Grindr”, Skripsi

(27)

F. Sistematika Penulisan

Pada sistematika penulisan, penulis menyusunnya ke dalam lima

bab. Dimana setiap bab diuraikan lagi menjadi sub-sub bab, namun pada

akhirnya selalu ditemui keterkaitan antar bab.

Di mulai dari Bab I Pendahuluan. Pada bab pertama ini

mencangkup latar belakang masalah penelitian yang berkaitan dengan,

komunitas homoseksual di media sosial terhadap interaksi virtual community. Dan pada bab ini, penulis menjabarkan secara singkat gambaran dari keseluruhan skripsi.

Selanjutnya Bab II Kajian Teoritis. Dalam bab kedua membahas

landasan teori untuk menguraikan beberapa hal yang menyangkut

pembahasan dalam penelitian ini, yaitu Teori Community dan Internet

menurut Lori Kendall yang membahas mengenai munculnya hubungan

sosial yang di mediasi oleh komunikasi melalui internet. Hubungan sosial

ini juga melakukan negosiasi peran gender pada forum online, untuk mengasumsikan identitas yang mereka pilih sendiri dalam menciptakan

realitas. Asumsi ini dapat menimbulkan efek sosial. Penelitian ini juga

menjelaskan mengenai media sosial, yaitu: pengertian media sosial,

karakteristik media soaial, jenis-jenis media sosial, dan khalayak media

sosial. Selanjutnya penjelasan mengenai homoseksual. Baik homoseksual

dalam pandangan psikologis maupun dalam padangan Islam.

Bab III Gambaran Umum. Pada bab ketiga ini membahas

(28)

Grindr, logo Grindr, misi Grindr, struktur organisasi Grindr, privacy policy Grindr, serta profile guidelines Grindr.

Bab IV Temuan dan Analisis Data Penelitian. Pada bab keempat

ini membahas analisa hasil temuan data dengan landasan teori yang

berkaitan dengan rumusan masalah, yakni mengenai interaksi virtual community Grindr. Selanjutnya alasan pengguna berkomunikasi melalui

Grindr, serta efek sosial yang ditimbulkan dari interaksi virtual community Grindr.

Bab V Penutup. Pada bab kelima, peneliti memberikan kesimpulan

terhadap hasil penelitian, serta memberikan saran-saran dan beberapa

(29)

17

BAB II

KAJIAN TEORETIS

A. Community and Internet Lori Kendall theory

1. Defining the Undefinable (Mendefinisikan yang tidak terdefinisikan)

Dengan ketidakjelasan konsep komunitas, dalam studi

komunitas dan internet mengharuskan penulis menghadapi definisi

ruang lingkup komunitas. Adapun definisi virtual community

menurut Porter (2004), yaitu:21

a. Bagian dari individual (an aggregation of individuals) b. Berinteraksi dengan sekitarnya (interact around)

c. Berbagi ketertarikan (shared interest)

Definisi inilah yang biasanya digunakan untuk mengungkap ruang

lingkup komunitas. Terutama yang berlaku pada booming dot.com

di akhir 1990-an, yang ketika itu kegiatan bisnis tertarik dengan

komunitas online sebagai potensi alat pemasaran. Dan dipahami sebagai komunitas yang sedikit lebih besar dari kelompok

konsumen, yang dapat menimbulkan rasa ketertarikan lebih pada

produk tertentu.22

21

Mia Consalvo dan Charless Ess, The Handbook of Internet studies, (United Kingdom: Wiley-Blacwell, 2011), p. 309.

22

(30)

Kemudian, penulis juga harus menghadapi desain dari online forum yang dapat memfasilitasi virtual community. Porter (2004), menunjukan lima karakteristik virtual community, diantaranya meliputi:23

a. Tujuan konten (Purpose of content) b. Tempat (extent of mediation) c. Sistem desain (Platform)

d. Pola interaksi (pattern of interaction)

e. Model keuntungan (Profit model)

Sementara itu, dari sulitnya mendefinisikan komunitas hingga

merancang desain komunitas sebenarnya mengandung asumsi

penting. Asumsi itu mengenai untuk apa komunitas itu sendiri.

Namun terlepas dari itu, banyak peneliti lain yang menyarankan

untuk meninggalkan dari konsep komunitas. Ditegaskan oleh

Fernback (2007) bahwa,

“Concept of online community has become increasingly

hollow as it evolves into a pastiche of elements that ostensibly signify community”.24

Atau yang bisa diartikan dengan konsep komunitas online telah menjadi hampa karena berevolusi menjadi campuran dari

unsur-unsur yang seolah-olah menandakan komunitas. Fernback

mengambil pendekatan interaksionis simbolik dengan

23

Mia Consalvo dan Charless Ess, The Handbook of Internet studies, p. 310. 24

(31)

mewawancarai pengguna tentang konsepsi mereka sendiri dari

interaksi kelompok online mereka, untuk menggambarkan konsep

komunitas. Fernback menemukan bahwa peserta di kelompok

online memiliki karakter unik pada hubungan sosial online. Disamping merespon, komunitas online juga bertindak untuk mengekspresikan rasa persatuan dan dukungan yang mereka

alami dalam kelompok online mereka. Fernback juga

menunjukkan bahwa aspek yang lebih penting dan sulit dipahami

ialah komitmen.25

2. Community versus Networked Individualism (Komunitas dan individual jaringan)

Menurut Wellman (2002), setidaknya proses di negara-negara

maju yang meninggalkan komunitas di dukung oleh internet untuk

mendukung jaringan individual. Dalam situasi jaringan individual,

orang-orang tetap terhubung tetapi sebagai individu. Setiap

individu dapat melakukan komunikasi secara berulang dengan

jaringan sosial mereka. Dan secara terpisah mengoperasikan

jaringan untuk mendapatkan informasi, kolaborasi, perintah,

dukungan, sosialisasi, dan rasa memiliki. Dalam model Wellman

ini, jaringan individual merupakan satu-satunya penggerak dari

25

(32)

jaringan itu sendiri. Wellman menggunakan pendekatan jaringan

sosial untuk menganalisa individu, jaringan dan kelompok.26

Hodkinson dan Kendall (2007), membutikan secara empiris

karakteristik Wellman yang berkaitan dengan Interaksi online. Mereka menemukan bahwa pengguna LiveJournal dengan diary

pribadi seperti Blog saling terkait. Lebih mengikuti pola interaksi individual, mayoritas interaksi berlangsung pada wilayah yang

diawali oleh pribadi satu orang, berpusat di sekitar dan di atur oleh

individu. Kendall juga menjelaskan,

“LiveJournal participants seek connection with others.

LiveJournal theoretically provides several tools that facilitate such connections. But its structure as a linked set of individually controlled journals mitigates against the kinds of connection

and feedback people seek”.27

Atau yang bisa diartikan dengan, peserta LiveJournal mencari hubungan dengan orang lain. LiveJournal secara teoritis menyediakan beberapa alat yang memfasilitasi hubungan. Tapi

strukturnya sebagai Jurnal yang dikontrol secara Individu,

memudahkan dalam mencari umpan balik dari seseorang.

Pengguna LiveJournal juga mengungkapkan dua keinginan yang bertentangan. Di satu sisi mereka mencari kontrol di ruang

jaringan individu mereka sendiri, di sisi lain mereka juga masih

26

Mia Consalvo dan Charless Ess, The Handbook of Internet studies, p. 311.

27

(33)

menginginkan hubungan interpersonal yang hanya didapatkan dari

orang lain. Serta keinginan dalam kebebasan berkontribusi dalam

dialog kelompok. Di dalam jaringan individu seutuhnya, hal inilah

dialog bisa terjadi.28

3. Real Communities versus Pseudocommunities

Dengan banyaknya anggapan mengenai konsekuensinya dalam

menggunakan internet, maka peneliti komunitas internet terdahulu

memiliki dua tanggapan mengenai hal tersebut. Yakni pertama “the internet will restore to us, the community we have lost”. Rheingold

(1993) menggambarkan “hunger for community” diciptakan oleh

hilangnya ruang publik informal yang mengendalikan orang untuk

menciptakan virtual community.29

Tanggapan kedua menyatakan, bahwa internet hanya

meneruskan proses sebelumnya dalam meningkatkan “isolation and anomie” menyendiri dan tak dikenal atau bahkan membuatnya

lebih buruk.30 Barney (2004) berpendapat bahwa, teknologi digital

memiskinkan daripada memperkaya realitas bersama. Boogerman

(2004) juga menyatakan bahwa, internet tidak dapat menumbuhkan

apa yang disebut “final communities” yaitu komunitas yang

bertindak tidak seperti pada artinya sebagai komunitas. Dan

merupakan kelompok dari orang-orang yang menemukan atau

28

Ibid., p. 312.

29

Mia Consalvo dan Charless Ess, The Handbook of Internet studies, p. 313. 30

(34)

bekerja diluar alasan seseorang untuk hidup.31 Hal ini dikarenakan

Internet adalah komodifikasi budaya berdasarkan sifatnya.

Argumen Boogerman ini mirip dengan konsep internet yang

tidaklah benar-benar berinteraksi sosial. Bias budaya bersosialisasi

secara online dapat terus bertahan, meskipun terus meningkatnya orang-orang yang berpatisipasi dalam interaksi online. Seseorang di kehidupan online secara aktif tetap berusaha menghindarkan diri

dari apa yang disebut “the stereotype of introverted internet user

atau pengguna internet yang tertutup.32

Selain itu, penelitian virtual community juga dihadapkan dengan kemungkinan ketika offline, tidak semua yang kelihatan sebagai anggota komunitas merupakan anggota komunitas. Menurut Jones

(1995), konsep dari pseudocommunity diartikan sebagai kurangnya ketulusan dan komitmen.33 Diutarakan juga oleh sosiolog Bellah

dan rekan (1985) yang membedakan antara “communities and lifestyle enclaves” dimana individu disatukan oleh kepentingan

ketertarikan dibandingkan saling ketergantungan yang kompleks.34

4. Virtual Community

Ketika hampir semua komunikasi melalui internet berbasis teks.

Secara keseluruhan, penelitian pada virtual community terfokus pada beberapa isu kunci. Hal ini termasuk mengenai pembentukan

Mia Consalvo dan Charless Ess, The Handbook of Internet studies, p. 314.

34

(35)

dan kematian virtual community, kemungkinan penipuan identitas

online, serta hubungan antara identitas sosial offline dengan interaksi secara online. Virtual community sering kali terbentuk pada reaksi masyarakat lain yang tersedia, dengan membedakan

identitas dan nilai yang ada. Kejadian internal juga menjadi rasa

penting sebagai bagian dari komunitas. Namun virtual community

cenderung lebih rentan terhadap gangguan pembubaran dari offline. Maka untuk mendorong anggota baru diperlukannya partisipasi

secara aktif.35

Secara keseluruhan peneliti pada virtual community terfokus pada beberapa asumsi kunci yang termasuk dalam pembentukan

serta kematian virtual community itu sendiri. Diantaranya:36

1. Conflict

Pada teori community dan Internet menurut Lori Kendall, salah satu asumsi kunci dalam pembentukan virtual community

ialah konflik. Dengan adanya konflik dapat menghancurkan

atau bahkan justru dapat menumbuhkan sebuah komunitas.

Konflik ini bisa diakibatkan karena adanya konflik internal

maupun eksternal komunitas. Virtual community khususnya sangat rentan terhadap gangguan orang diluar kelompok

maupun orang di dalam kelompok yang merasa kurang puas.

Stone (1992) menggambarkan kesulitan dialami oleh

35

Mia Consalvo dan Charless Ess, The Handbook of Internet studies, p. 314-316.

36

(36)

Communitree di tahun 1982, Communitree menderita masuknya anak laki-laki yang macet sistem melalui

scatological pesan (pesan tidak pantas), dan menemukan cara untuk merusak sistem perintah. Permasalahan tersebut semakin

parah oleh kebijakan privasi yang menghalangi pengelola untuk

melihat pesan mereka yang masuk. Dalam beberapa bulan,

Communitree menjadi tidak dapat digunakan. Oleh karena itu, dalam praktiknya pengawasan dan kontrol tambahan terbukti

diperlukan untuk menjaga ketertiban virtual community.37

2. Cooperation

Dijelaskan oleh Rheingold dan Dibbell (1993), konflik

justru bisa menumbuhkan komunitas. Konflik dapat

mempromosikan, serta merefleksikan pertumbuhan komunitas.

Smith (1999) juga berpendapat bahwa, virtual community harus memiliki keragaman dalam meningkatkan komunitas jika ingin

berkembang. Dari hasil keragaman konflik, untuk bertahan

hidup virtual community harus melindungi sumber utama mereka. Dan oleh karena itu komunitas harus bisa mengelola

konflik sebelum meningkat sedemikian rupa, supaya tidak

merugikan komunitas secara keseluruhan.38 Namun yang paling sulit ialah memberlakukan sanksi karena ketidakmampuan

untuk menghadapi pemberontak secara tatap muka, serta

37

Mia Consalvo dan Charless Ess, The Handbook of Internet studies, p. 316. 38

(37)

sulitnya menjaga batasan pelanggaran. Sementara masih

memungkinkan bagi masuknya peserta baru.39

Dalam diskusinya mengenai manajemen konflik pada

virtual community, Smith menggambarkan berbagai konflik di

Micromuse. Micromuse adalah komunitas online yang dibangun untuk tujuan pendidikan sains bagi anak-anak, tapi

diizinkan pengunjung umum juga. Smith menceritakan

beberapa kejadian di mana peserta yang berkomitmen dilarang

melakukan pelanggaran keras, serta sanksi tersedia bagi virtual community. Seperti dalam kasus CommuniTree, tindakan dari pelanggar tersebut mengancam operasi lanjutan dari software

serta mengganggu pekerjaan orang lain, namun yang

memungkinkan komunitas menjadi eksis. Dan meskipun

dilarang serta adanya sanki, yang melampaui batas mampu

untuk kembali melalui celah teknis dalam perangkat lunak.40

3. Control

Mengingat konflik dapat merefleksikan pertumbuhan

kelompok. Hal ini dapat melibatkan lebih jelas lagi mengenai

norma dan aturan untuk perilaku bagi anggota komunitas.

Selain itu konflik juga dapat menghasilkan mekanisme baru

bagi pengendalian sosial. Untuk alasan ini, konflik

39

Ibid., p. 317 40

(38)

menyediakan informasi mengenai nilai-nilai yang berlaku

dalam komunitas.

Namun karena tidak semua virtual community mengalami konflik yang sama, dan konflik belum tentu diperlukan untuk

pembentukan ikatan komunitas secara erat. Baym (2000),

menjelaskan cara di mana r.a.t.s. peserta aktif membangun

r.a.t.s. sebagai komunitas di mana keramahan adalah inti nilai dan perilaku yang diharapkan. Mereka melakukan beberapa

strategi percakapan, diantaranya: (1) kualifikasi

ketidaksepakatan, (2) menyelaraskan diri dengan peserta lain

melalui perjanjian kesepakatan, dan (3) menghindari

percapakan perselisihan dan kembali ke kegiatan inti dari grup

yaitu soap operas (realitas semu).41

4. Identity

Dalam studi virtual community, para peneliti terdahulu telah membahas identitas dalam beberapa cara yang berbeda.

Pandangan pertama, menyangkut kemampuan peserta virtual community untuk menutupi identitas mereka. Pandangan selanjutnya, menyangkut penyimpangan berbagai aspek

identitas sosial yang berkaitan dengan ras dan jender serta

norma-norma dan nilai-nilai yang ada dalam virtual community.

41

(39)

Donath (1999) menjelaskan, mengetahui identitas orang

lain atau dengan siapa Anda berkomunikasi sangatlah penting

untuk memahami dan mengevaluasi interaksi. Namun di dunia

maya yang berbasis teks dan grafis, lebih memungkinkan untuk

menutupi identitas atau bahkan sengaja menipu identitas

dibandingan dengan pertemuan tatap wajah. Sebab sejak

identitas online didefinisikan oleh media, seseorang mungkin juga hadir dengan merasa dirinya terwakili seperti dirinya yang

sebenernya. Karena di dunia maya hal ini tidak terlalu

dievaluasi oleh lawan bicara mereka.42

Luasnya penipuan identitas online juga mustahil untuk diukur. Namun para peneliti komunitas online menemukan bahwa, pada kebanyakan komunitas yang ada sejak lama

penipuan identitas dapat diminimalkan. Pembentukan

komunitas tergantung pada identitas yang konsisten. Peserta

datang untuk mengenal satu sama lain, bahkan jika hanya

melalui nama samaran tetapi sering berusaha untuk

menghubungkan secara offline maupun online.43

Selain itu, tidak semua ketidakjelasan identitas online

sengaja diproduksi. Ini hanya karena keterbatasan forum

komunikasi online yang sulit dalam memastikan identitas semua peserta. Baym (1995) mengatakan,”people never know

42

Mia Consalvo dan Charless Ess, The Handbook of Internet studies, p. 318.

43

(40)

who all the readers of their messages are.”Baym menjelaskan mengenai partisipasi newsgroup yang tidak akan pernah tahu siapa semua pembaca pesan mereka.44 Kendall (2002) juga

menambahkan mengenai kebingunan identitas, karena

seseorang yang mereka ketahui, dapat mereka temui di forum

lain dengan nama lain. Hal ini terkadang menyebabkan orang

untuk mencoba dijabarkan identitasnya oleh orang lain.45 Meski demikian, kebanyakan orang dalam virtual community ingin mewakili diri dengan cara yang konsisten dan realistis. Dan setiap orang tentu dapat melakukanya dengan

konsisten. Ini menunjukan bahwa aspek identitas seperti ras,

kelas dan jender berharap tidak akan menjadi signifikan secara

online, namun tetap menonjol. Susan Herring dan rekan-rekannya telah menganalisis berbagai aspek dari komunikasi

gender online. Diantaranya mengenai bahasa online pria di tahun 1992, perbedaan gender dalam nilai-nilai yang mengarah

dengan gaya percakapan online yang berbeda di tahun 1996, harapan pria tentang reaksi partisipasi secara online perempuan di tahun 1995, serta pelecehan perempuan secara online pada tahun 1999. Dan karya awal ini menjelaskan bahwa gender

44

Mia Consalvo dan Charless Ess, The Handbook of Internet studies, p. 319.

45

(41)

tidak hilang secara online hanya karena orang berkomunikasi melalui teks dan tidak bisa melihat tubuh masing-masing.46

Kendall (2002) juga menemukan hasil penelitian pada

BlueSky. peserta BlueSky membawa pemahaman dan harapan mengenai gender secara offline dapat dilakukan dengan interaksi secara online. Peserta BlueSky juga berlaku dan dibangun identitas gendernya melalui interaksi online mereka.47

5. Komunitas online dan offline

Sebagian besar masyarakat terhubung melalui internet, yang

melibatkan baik secara online maupun offline. Pada virtual community yang terutama adalah online, namun peserta juga sering berusaha untuk memenuhi pertemuan dengan peserta lain secara

tatap wajah. Sementara itu, bagi pengunjung kelompok juga

banyak yang berusaha untuk meningkatkan hubungan melalui

partisipasi secara online. Penelitian tentang komunitas dan Internet ini, penekanannya bergeser dari Studi etnografi menjadi komunitas

virtual. Yakni untuk studi pencampuran masyarakat offline dan

online contacts. Sebuah pertanyaan kunci dalam penelitian ini adalah apakah partisipasi online membantu atau merugikan komunitas offline.48

46

Ibid.

47

Mia Consalvo dan Charless Ess, The Handbook of Internet studies, p. 320.

48

(42)

Dan yang perlu diingat, penelitian pada studi virtual community

ini tidak bisa melihat jangka panjang komunitas online dan beberapa studi hanya bisa melihat jangka panjang bagi pengguna.

Namun penelitian ini bisa menentukan apakah mereka itu

merupakan pengguna kurang berpengalaman yang terlibat dalam

berbagai aktivitas online.49

B. Media Sosial

1. Pengertian media sosial

Pada dasarnya media sosial merupakan hasil dari

perkembangan teknologi baru yang ada di internet dimana para

penggunanya bisa dengan mudah untuk berkomunikasi,

berpartisipasi, berbagi, dan membentuk sebuah jaringan di dunia

virtual, sehingga para pengguna bisa menyebarluaskan konten

mereka sendiri.50

Media sosial adalah medium di internet yang

memungkinkan pengguna merepresentasikan dirinya maupun

berinteraksi, bekerja sama, berbagi, berkomunikasi dengan

pengguna lain dan membentuk ikatan sosial secaravirtual.51

Media sosial merupakan sekelompok aplikasi berbasis

internet pada teknologi web 2.0, yang memungkinkan penciptaan

49

Mia Consalvo dan Charless Ess, The Handbook of Internet studies, p. 321-323.

50

Dan Zarella, The Sosial Media Marketing Book, (Canada: O‟Reilly Media, 2010), h. 2 -3.

51

(43)

serta pertukaran isi pesan diantara pengguna.52 Berdasarkan

teori-teori yang telah dikembangkan oleh Durkheim, Tonnies maupun

Marx, untuk memahami hubungan antara pengguna dengan

medianya dapat dipahami melalui “Karakteristik kerja komputer

dalam web 1.0 berdasarkan pengenalan individu terhadap individu

lain yang berada dalam sebuah sistem jaringan (human cognition). Sedangkan web 2.0 berdasarkan bagaimana individu

berkomunikasi dalam jaringan antar individu (human communication). Dalam web 3.0 karaktersitik teknologi dan relasi yang terjadi terlihat dari bagaimana (users) bekerja sama (human co-operation).53

Pada umumnya, kita memandang media hanya sebagai

perantara pesan. Namun sebenarnya kita dapat memandang media

dalam tiga hal, yang menurut Meyrowitz diantaranya ialah:

a. Medium sebagai saluran pesan (medium-as-vessel/conduit). b. Medium adalah Bahasa (medium-as-languange). Media dapat

mengekspresikan dan mengandung pesan tertentu.

c. Medium sebagai lingkungan (medium-as-environment). Media merupakan suatu pilihan konten yang dapat dibedakan dari

medium yang lain.

Menurutnya, medium ini juga selanjutnya bisa mengandung

nilai-nilai yang tidak sekadar menjadi sarana dalam penyampain pesan.

52Anderas M. Kaplan dan Michael Haenlein. “

User of the World, Unite! The Challenges and The Opportunities of Social Media”, 2010, h. 59-68.

53

(44)

Tetapi memberikan pengaruh pada segi sosial, budaya, politik,

bahkan ekonomi.54

Keberadaan media sosial juga merupakan bentuk dari tiga

makna bersosial yakni (1) pengenalan, (2) komunikasi, dan (3)

kerjasama. Pengenalan merupakan dasar untuk berkomunikasi, dan

komunikasi merupakan dasar untuk melakukan kerjasama. Didalam

web atau jaringan internet ada sebuah sistem hubungan antar

pengguna yang bekerja berdasarkan teknologi komputer yang

saling terhubung. Bentuk-bentuk itu merupakan dasar untuk

membentuk lapisan lain. Semacam jaringan layaknya dimasyarakat

offline yang membentuk tatanan, nilai, struktur hingga realitas sosial.55

2. Karakteristik media sosial

Adapun karakteristik media sosial ialah sebagai berikut:56 a. Jaringan (network).

Media sosial membentuk jaringan di antara penggunanya.

Terlepas dari saling mengenal atau tidaknya pengguna di

kehidupan nyata (offline). Jaringan inilah yang pada akhirnya membentuk komunitas atau masyarakat yang secara sadar

54

Rulli Nasrullah, Media Sosial, h. 4-5.

55

Rulli Nasrullah, Media Sosial, h.10. 56

(45)

maupun tidak, akan menghadirkan nilai-nilai dalam

masyarakat virtual hingga pada struktur sosial secara online.57 b. Informasi

Informasi dijadikan komoditas antar pengguna. Pengguna

media sosial dapat mengkreasikan representasi identitasnya,

memproduksi konten, dan melakukan interaksi berdasarkan

informasi. Informasi tersebut pada dasarnya merupakan

komoditas yang diproduksi dan didistribusikan oleh pengguna

itu sendiri.58 c. Arsip (archive)

Karakteristik arsip menjelaskan bahwa informasi telah

tersimpan, informasi tidak hilang begitu saja dan mudah

diakses kapanpun dan dimanapun. Dengan kemunculan

teknologi komunikasi, arsip pada media sosial memberikan

kemampuan pada penggunanya untuk mengakses dan

mengubahnya sendiri. Dijelaskan oleh Appadurai “the nature

and distributions of its users”.59 Arsip di dunia maya tidak

hanya dipandang sebagai dokumen resmi semata yang

tersimpan. Arsip di internet tidak pernah benar-benar

tersimpan, informasi selalu berada dalam jaringan, terdistribusi

57

Rulli Nasrullah, Media Sosial, h. 17 58

Rulli Nasrullah, Media Sosial, h. 19. 59

(46)

sebagai sebuah informasi dan menjadi mediasi antara

manusia-mesin dan juga sebaliknya.60 d. Interaksi

Menurut Lev Manovich (2001) dua tipologi untuk

mendekati kata interaksi dalam perspektif media baru, yakni

tipe terbuka (open) dan tipe tertutup (closed). Dalam tipe terbuka, pengguna memiliki kebebasan untuk menentukan

bagaimana jaringan ini akan dibentuk dan bagaimana interaksi

itu bisa terjadi. Sementara dalam tipe tertutup, menempatkan

khalayak ketika mengakses media baru untuk memilih secara

bebas pilihan-pilihan yang diberikan sesuai denngan yang di

inginkan. Melihat dari dua tipe interaksi ini, dijelaskan bahwa

khalayak memiliki kebebasan dalam membentuk jaringan, dan

medium memberikan sarana kepada khalayak pengguna untuk

saling berinterkasi.61 e. Simulasi sosial

Kata simulacra atau simulasi digunakan untuk mengungkapkan gagasan bahwa kesadaran akan yang nyata di

benak khalayak semakin berkurang dan tergantikan dengan

realitas semu. Baudrillard menyebutnya “a copy of a copy with no original”.62 Simulasi di dalam media social menurut Bell

60

Rulli Nasrullah, Media Sosial, h. 22-23. 61

Rulli Nasrullah, Media Sosial, h. 27. 62

(47)

ialah proses dimana simulasi itu terjadi, perkembangan

teknologi komunikasi serta kemunculan media baru

menyebabkan individu semakin menjauhi realitas,

menciptakan sebuah dunia baru, yaitu dunia virtual.63

Tim Jordan (1999) menggambarkan konsep simulacra

yakni, pertama Pengguna harus melakukan koneksi untuk

berada diruang siber. Yakni melakukan log in atau masuk ke dalam media sosial dengan menuliskan nama pengguna

(username) serta kata kunci (password). Kemudian, Ketika berada di dalam media, pengguna melibatkan keterbukaan

identitas sekaligus mengidentifikasi atau mengkontruk dirinya

di dunia virtual.64

f. Konten oleh pengguna (User generated content)

Dalam media sosial konten sepenuhnya milik dan

berdasarkan kontribusi pengguna atau pemilik akun. Menurut

Lister (2003), UGC (user generated content) merupakan relasi simbiosis dalam budaya media baru yang memberikan

kesempatan dan keleluasaan pengguna untuk berpartisipasi.65

Dilengkapi oleh Jordan user generated content ini sebagai penanda bahwa di media sosial khalayak tidak hanya

memproduksi konten namun juga mengkonsumi konten yang

63

Rulli Nasrullah, Media Sosial, h. 29. 64

Rulli Nasrullah, Media Sosial, h. 29-30. 65

(48)

diproduksi oleh pengguna lain. Hal ini menjelaskan bahwa

konten oleh pengguna ini merupakan format baru dari budaya

interaksi (interactive culture) dimana para pengguna dalam waktu bersamaan bisa berlaku sebagai produser, dan sisi lain

sebagai konsumen dari konten yang dihasilkan diruang

online.66

g. Penyebaran (share/sharing)

Benkler menjelaskan bahwa media tidak hanya

menghasilkan konten yang dibangun dari dan dikonsumsi oleh

penggunanya, tetapi juga di distribusikan sekaligus

dikembangkan oleh penggunanya.67 Sehingga pada praktiknya, ada semacam kesadaran bahwa konten yang disebar itu patut

atau layak diketahui pengguna lain dengan harapan ada

konsekuensi yang muncul dimasyarakat. Hal ini dapat

diperhatikan melalui:68

a. Pengembangan dan penyebaran konten dilihat sebagai

bentuk dari upaya individu sebagai pengguna media sosial

dan anggota masyarakat offline.

b. Penyebaran melalui perangkat bisa dilihat sebagai fasilitas

untuk memperluas jangkauan konten.

66

Rulli Nasrullah, Media Sosial, h. 31-32. 67

Rulli Nasrullah, Media Sosial, h. 33. 68

(49)

c. Penyebaran ini tidak terbatas pada penyediaan teknologi

semata, tetapi juga menyediakan semacam budaya baru

yang ada di media sosial bagi pengguna.

3. Jenis-jenis media sosial

Adapun jenis-jenis media sosial diantaranya ialah:69

a. Social networking

Merupakan sarana yang bisa digunakan pengguna untuk

melakukan hubungan sosial di dunia virtual hingga dampak

yang ditimbulkan baik nilai-nilai etika dan moral. Karakter

utama dari jejaring social ialah pengguna membentuk jaringan

pertemanan baik terhadap yang sudah mengenal maupun

belum di dunia nyata (offline). Biasanya alasan membentuk pertemanan ialah atas dasar kesamaan. Misalnya kesamaan

hobi maupun kegemaran.70

b. Blog

Merupakan media sosial yang memfasilitasi pengguna

untuk berbagi aktivitas keseharian. Konten yang disediakan

oleh blog cenderung user experience atau pengalaman pengguna. Karakteristik blog ialah penggunanya adalah pribadi dan konten yang dipublikasikan juga terkait pengguna itu

69

Rulli Nasrullah, Media Sosial, h. 40-49. 70

(50)

sendiri. Namun seiring perkembangan media sosial ini

sekarang digunakan oleh institusi tertentu.71

c. Microblogging

Media sosial ini hampir mirip dengan Blog namun yang

membedakan ialah keutamaan mempublikasikan pendapat dari

pengguna. Media ini merujuk kepada twitter yang dapat menyebarkan informasi, mempromosikan pendapatnya, hingga

membahas isu terkini kepada pengguna lainnya.72

d. Media sharing

Keutaman media sosial ini ialah disediakannya konten

untuk berbagi dokumen, video, audio, gambar kepada sesama

kemudian pengguna akan diarahkan kepada sumber informasi

itu berada.74

f. Media konten bersama atau Wiki

Media sosial ini menyediakan informasi dari hasil

kolaborasi para penggunanya. Dengan keutaman konten mirip

71

Rulli Nasrullah, Media Sosial, h. 41-42. 72

Rulli Nasrullah, Media Sosial, h. 43. 73

Rulli Nasrullah, Media Sosial, h. 44. 74

(51)

kamus atau ensiklopedia. Media ini menghadirkan informasi

berupa pengertian, sejarah, makna kata, hingga rujukan buku

maupun referensi lain yang diungkapkan pengguna.75

4. Khalayak media sosial

Internet telah menciptakan ruang virtual dimana khalayak

sebagai individu dapat bertemu dengan individu lain dalam waktu

yang bersamaan, tetapi tidak berada dalam ruang atau lokasi yang

sama. Individu-individu ini pada dasarnya juga tidak memiliki

ikatan satu sama lain, selain dari tujuan mereka dalam mengakses

media. Meski sama-sama mengakses media, namun mereka

cenderung anonim dan tidak mengenal satu sama lain. Dalam

tradisi ilmu komunikasi, untuk mengetahui khalayak media maka

dapat dilihat dari hubungan khalayak dengan media yang

diaksesnya. Pertama, khalayak cenderung berbagai pengalaman

dan dipengaruhi oleh individu lain. kedua, dalam memilih media

dan penciptaan makna khalayak cenderung heterogen atau berasal

dan terdiri dari berbagai lapisan/kategori sosial. Dan ketiga, dengan

keberadaan khalayak yang tersebar di wilayah yang berbeda maka

dengan alasan itulah dapat mempertimbangkan jenis media atau

konten apa yang dibutuhkan.76

Dan apabila mengingat bahwa “media sosial merupakan

media web 2.0 dengan karakter media yang interaktif, terbuka

75

Rulli Nasrullah, Media Sosial, h. 46-47. 76

(52)

dalam mengkreasikan konten, serta memiliki jaringan yang luas.

Maka adapun kriteria dari pengguna media sosial:77 1. Khalayak tidak lagi pasif.

2. Khalayak bisa dilihat sebagai produser, media memberikan

kontrol sepenuhnya kepada khalayak untuk mengkreasikan

konten.

3. Khalayak memiliki kekuatan dalam pelibatan diri dari proses

memproduksi informasi.

C. Homoseksual

1. Homoseksual dalam pandangan psikologis

Secara sederhana, homoseksual diartikan sebagai seseorang

yang memiliki kecenderungan atau ketertarikan (orientasi) seksual

dengan sesama jenisnya. Orientasi seksual yang seperti ini tentu

saja bertentangan dengan orientasi seksual pada umumnya. Baik

pria maupun wanita, pada umumnya mereka memiliki ketertarikan

dengan lawan jenisnya. Wanita tertarik dengan pria, begitupun pria

memiliki ketertarikan dengan wanita. Homoseksual cenderung

melakukan hubungan seks dengan sesama jenis, yakni pria dengan

pria dan wanita dengan wanita.78

Gaya hidup homoseksual terkait dengan cara khas individu

untuk memilih berkumpul dengan kelompok orientasi seksual

77

Rulli Nasrullah, Media Sosial, h. 95-96.

78

(53)

tertentu. American Psychological Association (2008) mengatakan, orientasi seksual berbeda dengan perilaku seksual maupun jenis

kelamin ataupun gender. Meskipun sebenarnya individu mengekspresikan orientasi seksual melalui perilaku dengan orang

lain. Orientasi seksual merujuk kepada bentuk hubungan dengan

orang lain. Diantaranya seperti tindakan berpegangan tangan atau

berciuman. Dengan demikian, orientasi seksual erat kaitannya

dengan hubungan pribadi yang intim yang dapat memenuhi

kebutuhan akan cinta, keterikatan, dan kedekatan. Selain perilaku

seksual, ekspresi orientasi seksual memberikan afeksi non-seksual

antara pasangan, adanya nilai-nilai dan tujuan bersama, keinginan

untuk saling mendukung, dan komitmen berkelanjutan.79

Perilaku homoseksual dalam kehidupan bertentangan

dengan nilai-nilai agama dan norma-norma susila. Oleh karena

itulah, masyarakat pada umumnya memandang bahwa

homoseksual merupakan praktik seksual yang menyimpang dan

dinilai tidak baik. Adapun dampak dari perilaku homoseksual

diantaranya sebagai berikut:80

1. Perilaku homoseksual dapat mengakibatkan munculnya

sejumlah persoalan kesehatan (medis). Diantaranya yaitu:

Menularkan virus penyakit HIV/AIDS, Menimbulkan berbagai

79

American Psychological Association, Answers to your questions: for your better understanding of sexual orientation and homosexuality, (Washington: 2008), p. 1.

80

Gambar

gambar yang dapat diakses kapanpun dan dimanapun.
GAMBARAN UMUM GRINDR

Referensi

Dokumen terkait

Juga terlihat bahwa umumnya pertambahan tinggi tanaman tidak berbeda nyata pada perlakuan 0, 10 dan 15 hari waktu proteksi dari setiap isolat virus yang dicobakan.. Waktu

Sangatlah penting bagi para pengguna komputer, software di negara kita bervariasi, dari yang asli sampai yang palsu, dari yang bayar sampai yang gratis, beraneka macam

Penjualan berbasis e-commerce tidak lagi asing bagi sebuah perusahaan baik perusahaan dagang maupun perusahaan jasa. Hal ini disebabkan banyak perusahaan telah

Področje uporabe, opredelitev pojmov in omejitev dejavnosti Direktiva se uporablja za izdajatelje elektronskega denarja, ki je lahko podjetje ali katera druga pravna oseba, ki

Biaya pendidikan merupakan keseluruhan pengorbanan finansial yang dikeluarkan oleh mahasiswa untuk keperluan selama menempuh pendidikan dari awal sampai

Alhamdulillah degan mengucapkan rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang selau memberikan rahmat, hidayah dan nikmat-Nya sehingga peneliti dapat

Perdarahan yang banyak menyebabkan kematian ibu.Penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara tingkat anemia dengan kejadian abortus pada ibu hamil di wilayah kerja

Setiap rencana pembangunan Desa Keji merupakan atas usul masyarakat bukan berdasarkan apa yang di kehendaki oleh pemerintah, sehingga partisipasi masyarakat sudah baik