PENGARUH KOMPETENSI, REPUTASI AUDIT DAN
PROFESIONALISME AKUNTAN PUBLIK TERHADAP
KUALITAS AUDIT
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Ekonomi
Disusun Oleh
Aries Setianto Wibowo Nim: 109082000045
JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
v
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
I. IDENTITAS PRIBADI
1. Nama : Aries Setianto Wibowo
2. Tempattanggallahir : Tangerang, 17Oktober 1990
3. Alamat : Jl. Murai 2 Rt 006/02 No.35 Serua Indah
Ciputat Tangerang Selatan 15414
4. Telepon : 0812-1943-2526
5. Email : [email protected]
II. PENDIDIKAN
1. TK Islam Sabillusalam Tahun 1996-1997
2. SDN 1 Pondok Ranji Tahun 1997-2003
3. SMPN 2 Ciputat Tahun 2003-2006
4. SMAN 1Ciputat Tahun 2006-2009
5. S1 Ekonomi Akuntansi UIN Syarif Hidayatullah Tahun 2009-2014
III. PENDIDIKAN NON FORMAL
vi
IV. PENGALAMAN ORGANISASI
1. Anggota OSIS SMAN 1 Ciputat, 2006-2009
2. Anggota Basket SMAN 1 Ciputat, 2006-2007
3. Anggota Koperasi Maestro Pamulang, 2012
V. SEMINAR DAN WORKSHOP
1. Sukses dengan Jiwa Enterprenership Islami”, 11 September 2009.
2. Think Acct 2009
3. Company visit 2010 visit to Bursa Efek Indonesia & Museum Bank
Indonesia, 28 Desember 2010.
4. Kuliah Umum tentang CAFTA: Perandan Tantangan Ekonomi
Kerakyatan dalam Menghadapi Perekonomian Global, 10 Mei 2011.
vii
VI. LATAR BELAKANG KELUARGA
1. Ayah : Sumardi
2. Ibu : Roni Prihatin
viii
The Impacts of Competence, Audit Reputation and
Professionalism of Public Accountant on Audit Quality
ABSTRACT
The aim of this research are to examine the impacts of competence, audit reputation and professionalism of public accountant on audit quality. The Sample of this research are 113 auditors who work for the entirepublic accounting firmin Jakarta in accordance with the Public Accounting Firm Directory 2011 published by Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI). The selection of this sample uses purposive sampling method with a technique based onconsideration (judgment sampling). The analysis tool to test the hypothesis is multiple regression by using SPSS 19.0
These results indicate that the variable has the competence t value of 2.671 and a significance value of 0.009, so that the value is less than 0.05. Thus H1 is accepted, it means that the competence of a significant effect on audit quality. Test results for the variable has a reputation audit t value of 0.053 and 0.958 significance value indicates the value is greater than 0.05. Thus H2 is rejected, it means that the reputation of the audit did not significantly affect the quality of the audit, the results of testing for public accounting professionalism variables have t value of 3.191 and 0.002 significance of the figures shows the value is not greater than 0.05. Thus H3 is accepted, this means that the professionalism of public accounting a significant effect on audit quality and the calculated F value of 5.165 was obtained with a significant level of 0.002. Due to the significant level of less than 0.05, the H4 is accepted, so that it can be said that the competence, reputation and professionalism of public accounting audit simultaneously and significant impact on audit quality.
ix
Pengaruh Kompetensi, Reputasi Audit dan Profesionalisme
Akuntan Publik terhadap Kualitas Audit
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh kompetensi, reputasi audit dan profesionalisme akuntan publik terhadap kualitas audit. Sampel dalam penelitian ini yaitu 113 auditor yang bekerja pada seluruh Kantor Akuntan Publik yang ada di Jakarta sesuai dengan Directory Kantor Akuntan Publik 2011 yang diterbitkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI). Pemilihan sampel penelitian ini menggunakan metode purposive sampling dengan teknik berdasarkan pertimbangan (judgement sampling). Alat analisis yang digunakan untuk menguji hipotesis yaitu analisis regresi berganda dengan menggunakan program SPSS 19.0
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa variabel kompetensi mempunyai nilai t sebear 2,671 dan nilai signifikansi sebesar 0,009 sehingga nilai tersebut lebih kecil dari 0,05. Dengan demikian H1 diterima, hal ini berarti kompetensi berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit. Hasil pengujian untuk variabel reputasi audit mempunyai nilai t sebesar 0,053 dan nilai signifikansi 0,958 menunjukan nilai tersebut lebih besar dari 0,05. Dengan demikian H2 ditolak, hal ini berarti reputasi audit tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas audit, hasil pengujian untuk variabel profesionalisme akuntan publik mempunyai nilai t sebesar 3,191 dan angka signifikansi 0,002 menunjukan nilai tersebut tidak lebih besar dari 0,05. Dengan demikian H3 diterima, hal ini berarti profesionalisme akuntan publik berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas audit dan nilai F hitung diperoleh sebesar 5,165 dengan tingkat signifikan 0,002. Karena tingkat signifikan lebih kecil dari 0,05 maka H4 diterima, sehingga dapat dikatakan bahwa Kompetensi, Reputasi Audit dan Profesionalisme akuntan publik berpengaruh secara simultan dan signifikan terhadap Kualitas audit.
x
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi
ini dengan baik. Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana Ekonomi di Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
Pada kesempatan ini, dengan segala kerendahan hati peneliti
menyampaikan terimakasih atas bantuan, bimbingan, dukungan, semangat dan
doa, baik langsung maupun tidak langsung dalam penyelesaian skripsi ini, kepada:
1. Ayahanda Sumardi dan Ibu Roni dan Kakak-kakaku yang tercinta, yang tak
pernah berhenti mendukung dan mendoakan penulis disetiap waktu.
2. Omani dan Bu Nani Karyati dan semua keluarga yang tak pernah berhenti
mendukung dan mendoakan penulis disetiap waktu.
3. Ibu Dr. Rini, M.si.,Ak selaku Dosen Pembimbing Skripsi l yang telah
membimbing dan memberikan ilmu yang bermanfaat.
4. Ibu Erika Amelia, SE., M.Si selaku Dosen Pembimbing Skripsi II yang telah
membimbing dan memberikan ilmu yang bermanfaat.
5. Bapak Prof. Dr. Abdul Hamid, MS selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan
Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
6. Bapak Hepi Prayudiawan, SE., MM., Ak selaku Ketua Jurusan Akuntansi
xi
7. Seluruh dosen yang telah memberikan ilmu dan karyawan Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah yang telah memberikan bantuan kepada penulis.
8. Sahabat seperjuanganku, Dellia Eka Rizkiyana S.E, Tsaurah Fitria, Fahmi
Amaliah S.E, Nino Anggoro S.E, Diogi Akhira S.E, serta semua teman-teman
Akuntansi 2009 atas dukungan dan kasih sayang yang diberikan kepada
penulis.
9. Sahabatku Tri Elvira Agustina, Anistya Tinnaya, Chyvo Utami Putri, Rachal
Farhansyah, Nanda Wira, Mesha Noviar, Diyan Eka Putri dan Agustya Vika
yang telah memberikan semangat tiada henti kepada penulis saat mengerjakan
skripsi ini selalu memberikan semangat selalu dan kasih sayang kepada
penulis.
10.Sepupuku Desi Ayu dan Rizka Indah yang selalu memberikan motivasi dan
semangat untuk menyelesaikan skripsi ini tiada henti mereka memberikan
masukan dan motivasi kepada penulis untuk menyelesaikan cepat skrispi ini.
11.Sahabatku Maya Liawati yang selalu mendukung penulis untuk
menyelesaikan skripsi dengan cepat.
12.Ahmad Faisal yang selalu memberikan siraman rohani kepada penulis untuk
mengerjakan dan selalu memberikan semangat kepada penulis.
13.Mba Dian yang selalu mendukung penulis untuk cepat menyelesaikan skripsi
dan selalu mengingatkan penulis agar untuk cepat menyelesaikan skripsi.
Peneliti menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari
xii
peneliti. Oleh karena itu, peneliti mengharapkan segala bentuk saran serta
masukan bahkan kritik yang membangun dari berbagai pihak.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
Jakarta, November 2014
xiii
DAFTAR ISI
Lembar Pengesahan Skripsi ... i
Lembar Pernyataan Keaslian Karya Ilmiah ... ii Daftar Riwayat Hidup ... iii
Abstract ... vi
Abstrak ... vii
Kata Pengantar ... viii
Daftar Isi ... xii
Daftar Tabel ... xiv
Daftar Gambar ... xv
Daftar Lampiran ... xvi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 14
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 15
1. Tujuan Penelitian... 15
2. Manfaat Penelitian ... 15
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Literatur ... 17
1. Kompetensi ... 17
2. Reputasi Audit ... 18
3. Profesionalisme Audit... 20
xiv
B. Hasil Penelitian Terdahulu ... 31
C. Keterkaitan Antara Variabel dan Perumusan Hipotesis ... 46
1. Pengaruh Kompetensi dengan Kualitas Audit ... 46
2. Pengaruh Reputasi Audit dengan Kualitas Audit ... 47
3. Pengaruh Profesionalisme Akuntan Publik dengan Kualitas Audit ... 48
4. Pengaruh Kompetensi, Reputasi Audit dan Profesionalisme Akuntan Publik dengan Kualitas Audit ... 49
D. Kerangka Pemikiran ... 50
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Ruang Lingkup Penelitian ... 52
B. Metode Penentuan Sampel ... 52
C. Metode Pengumpulan Data ... 53
1. Studi Kepustakaan (library Research) ... 53
2. Studi Lapangan (Field Research) ... 53
D. Operasional Variabel Penelitian ... 54
E. Metode Analisis Data ... 59
1. Statistik Deskriptif ... 59
2. Uji Kualitas Data ... 60
3. Uji Asumsi Klasik ... 60
3.1 Uji Heteroskedastisitas ... 61
3.2 Uji Normalitas ... 61
3.3 Uji Multikolonieritas ... 61
xv
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Objek Penelitian ... 65
1. Tempat dan Waktu Penelitian ... 65
2. Karakteristik Profil Responden ... 66
B. Penemuan dan Pembahasan ... 68
1. Hasil Uji Statistik Deskriptif ... 68
2. Hasil Kualitas Data ... 69
a. Hasil Uji Validitas ... b. Hasil Uji Reabilitas ... 65
3. Hasil Uji Asumsi Klasik ... 66
a. Hasil Uji Multikolonieritas ... 66
b. Hasil Uji Normalitas ... 67
c. Hasil Uji Heteroskedastisitas ... 68
4. Hasil Uji Hipotesis ... 69
BAB V KESIMPULAN DAN IMPLIKASI A. Kesimpulan ... 81
B. Implikasi ... 83
C. Saran ... 83
DAFTAR PUSTAKA ... 85
xvi
DAFTAR TABEL
No. Keterangan Halaman
1.1 10 Skandal Akuntansi Dunia ... 4
2.1. Hasil-Hasil Penelitian Terdahulu ... 32
3.1 Operasional Variabel Penelitian ... 58
4.1 Data Distribusi Sampel Penelitian ... 65
4.2 Rincian Pembagian dan Pengumpulan Kuisioner ... 66
4.3 Karakteristik Profil Responden ... 67
4.4 Hasil Uji Statistik Deskriptif ... 68
4.5 Hasil Uji Validitas Kompetensi ... 69
4.6 Hasil Uji Validitas Profesionalisme akuntan publik ... 70
4.7 Hasil Uji Validitas Kualitas audit ... 71
4.8 Hasil Uji Reliabilitas ... 71
4.9 Hasil Uji Multikolonieritas ... 72
4.10 Hasil Uji Koefisien determinasi ... 76
4.11 Hasil Uji Parameter Individual ... 77
xvii
DAFTAR GAMBAR
No. Keterangan Halaman
2.1 Skema Kerangka Pemikiran ... 51
4.1 Grafik Normal P-Plot ... 73
4.2 Grafik Histogram ... 74
xviii
DAFTAR LAMPIRAN
No. Keterangan Halaman
1 Kuesioner ... 88
2 Data Mentahan SPSS ... 96
3 Hasil Output SPSS ... 114
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penelitian
Bermunculnya kasus perusahaan yang jatuh dan kegagalan bisnis
sering dikaitkan dengan kegagalan auditor. Hal ini mengancam kredibilitas
auditor sebagai pihak yang ditugasi untuk menambah kredibilitas laporan
keuangan. Ancaman ini selanjutnya mempengaruhi persepsi masyarakat,
khususnya pemakai laporan keuangan, atas kualitas audit. Kualitas audit ini
penting karena kualitas audit yang tinggi akan menghasilkan laporan
keuangan yang dapat dipercaya sebagai dasar pengambilan keputusan.
DeAngelo (1981) dalam Kusharyanti (2003) mendefinisikan kualitas
audit sebagai joint probability bahwa auditor akan menemukan dan
melaporkan penyimpangan dalam sistem akuntansi klien. Probabilitas auditor
menemukan salah saji tergantung pada kualitas pemahaman auditor
(kompetensi) sementara melaporkan salah saji tergantung independensi
auditor.
Berdasarkan definisi tersebut dapat dilihat bahwa kualitas audit
merupakan suatu konstruk laten yang sulit untuk diukur sehingga banyak
variabel atau cara yang digunakan untuk mengukurnya. Biasanya dengan cara
proksi, proksi tersebut antara lain, spesialisasi auditor,besaran KAP, afisliasi
2 Untuk melihat kredibilitas seorang auditor dalam menentukan kualitas
auditnya yaitu memeriksa laporan keuangan. Karena laporan keuangan
merupakan sarana untuk menyediakan berbagai informasi yang diperlukan
sebagai pengambilan keputusan baik oleh pihak internal maupun
eksternalperusahaan. Menurut Finacial Accounting Standard Board (FASB),
dua karakteristik terpenting yang harus ada dalam laporan keuangan adalah
relevan (relevance) dan dapat diandalkan (reliable). Kedua karakteritik
tersebut sangatlah sulit untuk diukur, sehingga para pemakai informasi
membutuhkan jasa pihak ketiga yaitu auditor independen untuk memberikan
jaminan bahwa laporan keuangan tersebut relevan dan dapat diandalkan,
sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan kepercayaan dari semua pihak
yangberkepentingandengan perusahaantersebut (Riski,2012).
Menurut Chow dan Rice dalam Elisha dan Icuk (2010), manajemen
perusahaan berusahamenghindari opini wajar dengan pengecualian karena
bisa mempengaruhi harga pasar saham perusahaan dan kompensasi yang
diperoleh manajer. Namun, laporan keuangan yang diaudit adalah hasil proses
negosiasi antara auditor dengan klien. Disinilah auditor berada dalam situasi
yang dilematis, di satu sisi auditor harus bersikap independen dalam
memberikan opini mengenai kewajaran laporan keuangan berkaitan dengan
banyak pihak, di sisi lain dia juga harus bisa memenuhi tuntutan yang
diinginkan oleh klien yang membayar fee atas jasanya agar klien puas dengan
3 Posisi yang unik seperti itulah yang menempatkan auditor pada situasi yang
dilematis sehingga dapat mempengaruhi kualitas auditnya (Riski, 2012).
Auditor adalah sebuah profesi, bukan sebagai pekerjaan sehingga ada
tuntutan moral yang mau tidak mau harus ditanggung oleh seorang akuntan
publik.Sesuai dengan namanya, akuntan bekerja kepada publik, bukan kepada
orang yang membayarnya. Kepercayaan yang besar dari pemakai laporan
keuangan auditan dan jasa lainnya yang diberikan oleh akuntan publik inilah
yang akhirnya mengharuskan akuntan publik memperhatikan kualitas audit
yang dihasilkannya. Kualitas audit ini penting karena dengan kualitas audit
yang tinggi maka akan dihasilkan laporan keuangan yang relevan (relevance)
dan dapat diandalkan (reliable) sebagai dasar pengambilan keputusan.
Adanya kekhawatiran dan merebaknya skandal keuangan, dapat mengikis
kepercayaan publik terhadap laporan keuangan auditan dan profesi akuntan
publik. Adapun pertanyaan dari masyarakat tentang kualitas audit yang
dihasilkan oleh akuntan publik semakin besar setelah terjadinya banyak kasus
yang melibatkan akuntan publik baik diluar negeri maupun didalam negeri
beberapa tahun terakhir. Yang menjadi pertanyaan besar dalam masyarakat
adalah mengapa justru semua kasus tersebut melibatkan akuntan publik
dimana seharusnya mereka sebagai pihak ketiga yang independen yang
memberikan jaminan atas relevansi dan keandalan sebuah laporan keuangan.
Pelanggaran yang melibatkan kantor akuntan publik dan akuntan publik yang
menyebabkan kantor akuntan publik dan akuntan publik dikenakan sanksi.
4
Tabel 1.1
10 Skandal Akuntansi Dunia
No. Nama Perusahaan Tuduhan Kasus Kecurangan
1. Bank of Credit and Commerce
International (BCCI)
Salah satu skandal terbesar dalam sejarah keuangan dengan kecurangan $20 miliar lebih. Labih dari $13 miliar dana unaccounted. Tuduhan lainnya termasuk penyuapan, mendukung terorisme, money laundry, penyeludupan, penjualan teknologi nuklir, dan lain-lain.
2. Enron Corporation Mendongkrak laba dan menyembunyikan hutang lebih dari $1 milyar dengan menggunakan perusahaan di luar pembukuan, memanipulasi pasar listrik di Texas, menyogok pejabat asing untuk memenangkan kontrak di luar Amerika, memanipulasi pasar energi di California.
3. WorldCom Cash flow didongkrak US$3,8 milyar dengan mencatat operating expenses dengan capital expenses.
4. Tyco International Mantan CEO (Dennis Kozlowski) dan mantan CFO (Mark H. Swartz) dituduh melakukan pencurian sebesar $600 juta dari perusahaan pada tahun 2002 5. Kanebo Limited Melambungkan keuntungan sebesar $2 miliar untuk
periode 5 tahun. 6. Waste Management,
Inc
Laba yang meningkat $17 miliar dengan menambah masa manfaat penyusutan untuk aset tetap pada tahun 2002
7. Parmalat Total hutang perusahaan lebih dua kali lipat yang tercatat di neraca. Pemalsuan dan kebangkrutan adalah tuduhan lainnya.
8. Health South Corporation
Pendapatan perusahaan overstated sebanyak 4700 persen dan $14 miliar dilambungkan untuk memenuhi harapan investor.
9. American
International Group (AIG)
Perusahaan mempertahankan perjanjian payoff menguntungkan. Melakukan permohonan penawaran kecurangan untuk kontrak asuransi dan melambungkan posisi keuangan sebesar $2,7 M pada tahun 2005
10. Satya
m Computer Services
Melambungkan saldo kas dan bank lebih dari $1 miliar, posisi debitor yang overstated sebesar 100 miliar dan kewajiban understated sebesar $250 juta yang diatur untuk kepentingan Ramalinga Raju (Pendiri Satyam Computer Services)
5 Sementara di Indonesia, kasus audit failure terjadi pada beberapa
perusahaan. Seperti Kasus KPMG-Siddharta & Harsono.September tahun
2001, KPMG-Siddharta Siddharta & Harsono harus menanggung
malu.Kantor akuntan publik ternama ini terbukti menyogok aparat pajak di
Indonesia sebesar US$ 75 ribu. Sebagai siasat, diterbitkan faktur palsu untuk
biaya jasa profesional KPMG yang harus dibayar kliennya PT Easman
Christensen, anak perusahaan Baker Hughes Inc. yang tercatat di bursa New
York. Berkat aksi sogok ini, kewajiban pajak Easman memang susut drastis.
Dari semula US$ 3,2 juta menjadi hanya US$ 270 ribu. Namun, Penasihat
Anti Suap Baker rupanya was-was dengan polah anak perusahaannya. Maka,
ketimbang menanggung risiko lebih besar, Baker melaporkan secara suka rela
kasus ini dan memecat eksekutifnya. Badan pengawas pasar modal AS,
Securities & Exchange Commission, menjeratnya dengan Foreign Corrupt
Practices Act, undang-undang anti korupsi buat perusahaan Amerika di luar
negeri. Akibatnya, hampir saja Baker dan KPMG terseret ke pengadilan
distrik Texas.Namun, karena Baker mohon ampun, kasus ini akhirnya
diselesaikan di luar pengadilan.KPMG pun terselamatan (Wahyu dan Lia,
2012).
Padakasus PT KimiaFarma di Indonesia terjadi pada tahun 2002
dimana kasus tersebut membuat kepercayaan publik pada laporan keuangan
yang telah diaudit menurun. Pada saat itu auditor dari kantor akuntan publik
yangmemeriksa PT Kimia Farma telah melakukan prosedur audit yang telah
6 proseduraudit, tetapi proses audit tersebut tidak berhasil mendeteksi
adanyapenggelembungan laba yang dilakukan oleh PT Kimia Farma,
sehinggaberdampak pada terlalu tingginya laba perusahaan. Dalam kasus ini
tidak terdapatunsur kesengajaan auditor untuk membantu manajemen PT
Kimia Farma, tetapikualitas hasil audit yang dihasilkan kurang baik (Ditha,
2013).
Selanjutnya pada kasus laba Bank Lippo terjadi pembukuan ganda
pada tahun 2002.ManajemenPT. Lippo Bank melaporkan keuangan ke publik
denggan aset 24 triliun dan laba bersih 98 milyar, tetapi ke BEJ dilaporkan
aset 22,8 triliun dengan rugi bersih 1,3 triliun. Akibatnya dana rekap
pemerintah milik masyarakat susut dari 6 triliun menjadi 600 milyar demikian
pula dengan investor lainnya (Wahyu dan Lia, 2012).
Kasus lain terjadi pada PT. Telkom dimana audit PT Telkom
dilakukan oleh KAP “Eddy Pianto & Rekan”. Dalam kasus ini laporan
keuangan auditan PT Telkom tidak diakui oleh SEC (pemegang otoritas pasar
modal di Amerika Serikat), dan atas peristiwa ini audit ulang diminta untuk
dilakukan oleh KAP yang lainnya. Hal tersebut bisa saja terkait dengan
kompetensi dan independensi yang dimiliki oleh auditor masih diragukan
oleh SEC, dimana kompetensi dan independensi merupakan dua karakteristik
sekaligus yang harus dimiliki oleh auditor yang berpengaruh terhadap kualitas
audit (Umi Masruroh, 2011).
Kasus selanjutnya adalah Kasus Mulyana W. Kusuma Kasus ini
7 diduga menyuap anggota BPK yang saat itu akan melakukan audit keuangan
berkaitan dengan pengadaan logistic pemilu. Logistic untuk pemilu yang
dimaksud yaitu kotak suara, surat suara, amplop suara, tinta, dan teknologi
informasi. Setelah dilakukan pemeriksaan, badan dan BPK meminta
dilakukan penyempurnaan laporan.Setelah dilakukan penyempurnaan
laporan, BPK sepakat bahwa laporan tersebut lebih baik daripada sebeumnya,
kecuali untuk teknologi informasi. Untuk itu, maka disepakati bahwa laporan
akan diperiksa kembali satu bulan setelahnya. Setelah lewat satu bulan,
ternyata laporan tersebut belum selesai dan disepakati pemberian waktu
tambahan.Di saat inilah terdengar kabar penangkapan Mulyana W Kusuma.
Mulyana ditangkap karena dituduh hendak melakukan penyuapan kepada
anggota tim auditor BPK, yakni Salman Khairiansyah. Dalam penangkapan
tersebut, tim intelijen KPK bekerjasama dengan auditor BPK. Menurut versi
Khairiansyah ia bekerja sama dengan KPK memerangkap upaya penyuapan
oleh saudara Mulyana dengan menggunakan alat perekam gambar pada dua
kali pertemuan mereka. Penangkapan ini menimbulkan pro dan kontra. Salah
satu pihak berpendapat auditor yang bersangkutan, yakni Salman telah
berjasa mengungkap kasus ini, sedangkan pihak lain berpendapat bahwa
Salman tidak seharusnya melakukan perbuatan tersebut karena hal tersebut
telah melanggar kode etik akuntan (Ditha, 2013).
Selain kasus-kasus di atas, salah satu kasus yang ramai diberitakan
adalah keterlibatan 10 KAP di Indonesia dalam praktik kecurangan
8 sebelum terjadinya krisis keuangan pada tahun 1997. Hasil audit
mengungkapkan bahwa laporan Keuangan bank-bank tersebut sehat. Saat
krisis menerpa Indonesia, bank-bank tersebut kolaps karena kinerja
keuangannya sangat buruk. Ternyata baru terungkap dalam investigasi yang
dilakukan pemerintah bahwa KAP-KAP tersebut terlibat dalam praktik
kecurangan akuntansi. 10 KAP yang dituduh melakukan praktik
kecurangan akuntansi adalah Hans Tuanakotta and Mustofa (Deloitte
Touche Tohmatsu's affiliate), Johan Malonda and Partners (NEXIA
International's affiliate), Hendrawinata and Partners (Grant Thornton
International's affiliate), Prasetyo Utomo and Partners (Arthur Andersen's
affiliate), RB Tanubrata and Partners, Salaki and Salaki, Andi Iskandar and
Partners, Hadi Sutanto (menyatakantidak bersalah), S. Darmawan and
Partners, Robert Yogi and Partners. Pemerintahpada waktu itu hanya
melakukan teguran tetapin tidak ada sanksi. Satu-satunya badan yang
berhak untuk menjatuhkan sanksi adalah BP2AP (Badan Peradilan
Profesi Akuntan Publik) yaitu lembaga non pemerintah yang dibentuk oleh
Ikatan Akuntan Indonesa (IAI). Setelah melalui investigasi BP2AP
menjatuhkan sanksi terhadap KAP-KAP tersebut, akan tetapi sanksi yang
dijatuhkan terlalu ringan yaitu BP2AP hanya melarang 3 KAP melakukan
audit terhadap klien dari bank-bank, sementara 7 KAP yang lain bebas
(Suryana, 2002).
Kasus-kasus tersebut sangat memprihatinkan karena dialami oleh
9 mengakibatkan perusahaan tersebut kehilangan kepercayaan public dan
reputasi akuntan public pun menurun.
Dari kasus tersebut diperlukan faktor-faktor yang mempengaruhi
kualitas audit agar tidak terjadi kesalahan. Profesionalisme seorang auditor
sangat menentukan bagaimana kinerja auditor di lapangan dan sangat
berpengaruh terhadap hasil audit yang dihasilkannya.Kualitas audit ini sering
dikaitkan dengan Kantor Akuntan Publik (KAP), KAP besar dan KAP kecil.
Becker et al.,yang dikutip dalam (Luhgiatno 2008:6) menemukan bahwa
unexpected accruals akan berkurang jika perusahaan yang telah mengalami
go public menggunakan KAP big five. Klien dari KAP di luar big five
melaporkan unexpected accruals yang lebih besar dibandingkan unexpected
accruals klien dari KAP kelompok big five. Penelitian Meutia tahun 2004
yang menyatakan bahwa tindakan manajemen laba terhadap hasil audit yang
dilakukan oleh KAP big four lebih rendah daripada KAP non big four. Dan
dari kasus tersebut berdampak kepada KAP yang Big Four ataupun KAP
biasa yang dilihat dari kualitas auditnya memburuk sedangkan di satu sisi
tidak semuanya KAP mempunyai kualitas auditnya rendah, berbeda dengan
KAP Big Four mungkin kualitas para auditnya sudah cukup ahli.
Auditor dengan kemampuan profesionalisme yang tinggi akan
melaksanakan audit secara benar dan cenderung menyelesaikan setiap
tahapan-tahapan proses audit secara lengkap dan mempertahankan sikap
skeptisme dalam mempertimbangkan bukti-bukti audit yang kurang memadai
10 yang baik (Ardhini, 2010). Kualitas audit yang baik dapat dicapai jika auditor
dapat menyelaikan pekerjaan secara profesional. Karena kualitas audit yang
baik merupakan hasil dari sikap profesionalisme yang tinggi, sehingga
laporan keuangan yang dihasilkan oleh klien dapat terpercaya sebagai dasar
pengambilan keputusan. Singgih dan Icuk (2010) mengungkapkan bahwa
kualitas audit dipengaruhi oleh independensi dan pengalaman. Sedangkan
kualitas audit menurut Christiawan (2002) ditentukan oleh kompetensi dan
independensi yang dimiliki oleh auditor.
Untuk menjadi seorang auditor tidak serta merta seperti seorang yang
mencari pekerjaaan.Ada banyak tahapan yang harus ditempuh agar seorang
dapat dinyatakan mampu mangemban profesi ini.Selain pendidikan formal,
seorang auditor juga harus memiliki karakter yang kuat dan tidak mudah
dipengaruhi.Auditor membutuhkan sebuah kompetensi, termasuk pelatihan
yang memadai dan pengalaman dalam semua aspek pekerjaan seorang
auditor.Lebih lanjut, saat ini profesi auditor juga telah menempatkan
peningkatan pada audit dan program pendidikan akuntansi profesional untuk
auditor untuk memastikan bahwa mereka tetap mengikuti ide-ide terbaru dan
teknik di bidang audit dan akuntansi (Nungky, 2011).
Sekalipun telah menempuh pendidikan formal yang disyaratkan dan
mendapat pelatihan khusus terlebih dengan pengalaman kerja yang tinggi,
tidak semua auditor dapat melakukan tugasnya dengan baik, dan masih ada
11 Guna menunjang profesionalismenya, auditor dalam melaksanakan
tugas auditnya harus berpedoman pada standar audit yang ditetapkan oleh
Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI), yakni standar umum, standar
pekerjaan lapangan dan standar pelaporan beserta interpretasinya. Standar
auditing merupakan pedoman audit atas laporan keuangan historis. Standar
auditing terdiri atas sepuluh standar dan dirinci dalam bentuk Pernyataan
Standar Auditing (PSA). PSA merupakan penjabaran lebih lanjut dari
masing-masing standar yang tercantum di dalam standar auditing. PSA berisi
ketentuan-ketentuan dan pedoman utama yang harus diikuti oleh Akuntan
Publik dalam melaksanakan penugasan audit. Kepatuhan terhadap PSA yang
diterbitkan oleh IAPI ini bersifat wajib bagi seluruh anggota IAPI. Termasuk
di dalam PSA adalah Interpretasi Pernyataan Standar Auditng (IPSA), yang
merupakan interpretasi resmi yang dikeluarkan oleh IAPI terhadap
ketentuan-ketentuan yang diterbitkan oleh IAPI dalam PSA. Dengan demikian, IPSA
memberikan jawaban atas pernyataan atau keraguan dalam penafsiran
ketentuan-ketentuan yang dimuat dalam PSA sehingga merupakan perlausan
lebih lanjut berbagai ketentuan dalam PSA. Tafsiran resmi ini bersifat
mengikat bagi seluruh anggota IAPI, sehingga pelaksanaannya bersifat wajib.
Standar umum merupakan cerminan kualitas pribadi yang harus dimiliki oleh
seorang auditor yang mengharuskan auditor untuk memiliki keahlian dan
pelatihan teknis yang cukup dalam melaksanakan prosedur audit. Standar
pekerjaan lapangan merupakan pemahaman memadai atas pengendalian
12 dan lingkup pengujian yang akan dilakukan. Standar pelaporan dari laporan
auditor harus sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di
Indonesia.
Kepercayaan yang besar dari pemakai laporan keuangan auditan yang
diberikan oleh akuntan publik inilah yang akhirnya mengharuskan auditor
memperhatikan kualitas audit yang dihasilkannya. Kualitas audit merupakan
segala kemungkinan (probability) dimana auditor pada saat mengaudit
laporan keuangan klien dapat menemukan pelanggaran yang terjadi dalam
sistem akuntansi klien dan melaporkannya dalam laporan keuangan auditan,
dimana dalam melaksanakan tugasnya tersebut auditor berpedoman pada
standar auditing dan kode etik akuntan publik yang relevan (Elfarini, 2007).
Selain profesionalisme, kompetensi seorang auditor juga sangat
diperlukan karena apalah artinya seorang auditor yang profesional dengan
pendidikan formalnya dan bermoral dengan etikanya namun tingkat
keahliannya masih dpertanyakan. Peran penting lainnya bagi peningkatan
keahlian auditor, yaitu dalam upaya perkembangan tingkah laku dan sikap
seorang auditor. Sebagaimana dikemukakan oleh ahli psikologis, bahwa
perkembangan adalah bertambahnya potensi untuk bertingkah laku. Mereka
juga mengemukakan, bahwa suatu perkembangan dapat dilukiskan sebagai
suatu proses yang membawa seseorang kepada suatu pola tingkah laku yang
lebih tinggi (Knoers & Haditono,1999 dalam Asih, 2006). Dalam hal ini
pengembangan pengalaman yang diperoleh auditor berdasarkan teori tersebut
13 diwujudkan melalui keahlian yang dimiliki untuk lebih mempunyai
kecakapan yang matang.
Secara umum reputasi audit menurut Efraim (2010) menyatakan
bahwa KAP bereputasi menjelaskan adanya sikap independen auditor dalam
melaksanakan tugas audit. KAP besar identikdengan KAP bereputasi tinggi
dalam hal ini menunjukkan kemampuan auditoruntuk bersikap independen
dalam melaksanakan audit secara professional, sebabKAP menjadi kurang
tergantung secara ekonomi kepada klien. Klien juga kurangdapat
mempengaruhi opini auditor. Penyebab dari hal tersebut adalah
kelebihanyang dimiliki oleh KAP besar yaitu besarnya jumlah dan ragam
klien yang ditangani KAP, banyaknya ragam jasa yang ditawarkan, adanya
afiliasiinternasional, dan banyaknya jumlah staf audit dalam suatu KAP.
Pengalaman-pengalaman yang didapat auditor, memungkinkan
berkembangnya potensi yang dimiliki oleh auditor melalui proses yang dapat
dipelajari selama menjadi seorang auditor. Perlu disadari bahwa kualitas audit
sangat penting, namun permasalahanyang ada sampai saat ini adalah
menentukan tinggi rendahnya kualitas audit, yakni menemukan metode yang
handal untuk mengukur kualitas audit secara akurat (Wibowo dan Rossieta,
2009).
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya
penelititertarik untuk meneliti kembali mengenai kualitas audit dengan
14 mengenai pengaruh kompetensi dan independensi terhadap kualitas audit
dengan etika auditor sebagai variabel moderasi.
Dalam penelitian ini, peneliti mengganti satu variabel independen dan
menambahkan satu variabel independen dan tidak menambahkan variabel
moderasi.Oleh karena itu peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian
mengenai “Pengaruh Kompetensi, Reputasi Audit dan Profesionalisme
Akuntan Publik terhadap Kualitas Audit (Studi Empiris Pada Kantor
Akuntan Publik (KAP) di Jakarta)”.
B.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan permasalahan yang
hendak diteliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Apakah kompetensi berpengaruh positif dan signifikan secara parsial
terhadap kualitas audit?
2. Apakah reputasi audit berpengaruh positif dan signifikan secara parsial
terhadap kualitas audit?
3. Apakah profesionalisme akuntan publik berpengaruh positif dan signifikan
secara parsial terhadap kualitas audit?
4. Apakah kompetensi, reputasi audit dan profesionalisme akuntan publik
berpengaruh positif dan siginifikan secara simultan terhadap kualitas
15
C.Tujuan dan Manfaat Penelitian
a. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah, penelitian ini bertujuan untuk
mengumpulkan bukti empiris mengenai :
a. Menguji pengaruh kompetensi audit terhadap kualitas audit.
b. Menguji pengaruh reputasi audit terhadap kualitas audit.
c. Menguji pengaruh profesionalisme akuntan publik terhadap kualitas
audit.
d. Menguji pengaruh kompetensi, reputasi audit dan profesionalisme
akuntan publik terhadap kualitas audit
b. Manfaat Penelitian
a. Kontribusi Teoritis
1) Mahasiswa Jurusan Akuntansi, penelitian ini bermanfaat sebagai
bahan referensi penelitian selanjutnya dan pembanding untuk
menambah ilmu pengetahuan.
2) Masyarakat, sebagai sarana informasi tentang kualitas audit serta
menambah pengetahuan akuntansi khususnya auditing dan
akuntansi keprilakuan dengan memberikan bukti empiris tentang
pengaruh kompetensi, reputasi audit dan profesionalisme akuntan
publik terhadap kualitas audit.
3) Peneliti berikutnya, Sebagai bahan referensi bagi pihak-pihak yang
16 4) Penulis, sebagai sarana untuk memperluas wawasan serta
menambah referensi mengenai auditing, terutama tentang kinerja
auditor eksternal sehingga diharapkan dapat bermanfaat bagi
penulis di masa yang akan datang.
b. Kontribusi Praktis
1) Auditor dan Kantor Akuntan Publik (KAP), sebagai tinjauan yang
diharapkan dapat dijadikan informasi untuk meningkatkan
mengetahui lebih dalam mengenai kualitas audit
2) Perusahaan atau User dari jasa KAP, diharapkan dapat bermanfaat
dalam menilai hal-hal apa saja yang mempengaruhi kualitas audit.
3) Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), penelitian ini diharapkan dapat
17
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Literatur
1. Kompetensi
Menurut Kamus Kompetensi LOMA (1998) dalam Lasmahadi
(2002) kompetensi didefinisikan sebagai aspek-aspek pribadi dari seorang
pekerja yang memungkinkan dia untuk mencapai kinerja superior.
Aspek-aspek pribadi ini mencakup sifat, motif-motif, sistem nilai, sikap,
pengetahuan dan ketrampilan dimana kompetensi akan mengarahkan
tingkah laku, sedangkan tingkah laku akan menghasilkan kinerja. Susanto
(2000) definisi tentang kompetensi yang sering dipakai adalah
karakteristik-karakteristk yang mendasari individu untuk mencapai kinerja
superior.Kompetensi juga merupakan pengetahuan, ketrampilan, dan
kemampuan yang berhubungan dengan pekerjaan, serta kemampuan yang
dibutuhkan untuk pekerjaan-pekerjaan non-rutin.Definisi kompetensi
dalam bidang auditing pun sering diukur dengan pengalaman (Mayangsari,
2003).
Ashton (1991) menunjukkan bahwa dalam literatur psikologi,
pengetahuan spesifik dan lama pengalaman bekerja sebagai faktor penting
untuk meningkatkan kompetensi. Ashton juga menjelaskan bahwa ukuran
kompetensi tidak cukup hanya pengalaman tetapi diperlukan
18 karena pada dasarnya manusia memiliki sejumlah unsur lain di selain
pengalaman. Pendapat ini didukung oleh Schmidt et al. (1988) yang
memberikan bukti empiris bahwa terdapat hubungan antara pengalaman
bekerja dengan kinerja dimoderasi dengan lama pengalaman dan
kompleksitas tugas.Selain itu, penelitian yang dilakukan Bonner (1990)
menunjukkan bahwa pengetahuan mengenai spesifik tugas dapat
meningkatkan kinerja auditor berpengalaman, walaupun hanya dalam
penetapan risiko analitis. Hal ini menunjukkan bahwa pendapat auditor
yang baik akan tergantung pada kompetensi dan prosedur audit yang
dilakukan oleh auditor (Hogarth, 1991).
2. Reputasi Audit
Salah satu faktor yang diduga mempengaruhi kualitas audit adalah
reputasi auditor, dalam penelitian ini seorang auditor di proksi daengan
berdasarkan kantor akuntan besar (big four) memiliki kualitas yang lebih
tinggi dalam pelatihan dan pengakuan internasional, sehingga akan
mempertinggi skala kantor akuntan tersebut dibandingkan dengan kantor
akuntan non big four (Margaretta, 2003 dalam Januarti dan Fitrianasari,
2005)
Reputasi auditor sangat erat kaitannya dengan kepercayaan dari
masyarakat, semakin tinggi kepercayaan masyarakat terhadap auditor
(KAP) tersebut hal itu akan meningkatkan reoutasi auditor (KAP) tersebut
19 (KAP) tersebut kecil maka reputasinya pun akan rendah karena akan
sedikit auditee yang akan meminta laporan keuangannya untuk diaudit.
Pemilihan auditor yang memiliki reputasi yang baik akan
meyakinkan shareholder atas kewajaran para serta penemuan salah saji
yang material atas laporan keuangan yang diterbitkan. Pemilihan auditor
yang yang lebih besar memang memberikan sinyal positif terhadap klien
yang diauditnya, tetapi beberapa hasil penelitian juga menemukan bahwa
ternyata hasil tersebut juga negatif (Yunita Lilis Utami, 2013)
Jadi reputasi adalah penilaian yang diberikan baik oleh pihak
internal yang dalam hal ini para karyawan dan pihak eksternal organisasi,
dimana pihak internal inilah yang merupakan identitas dari organisasi.
Reputasi akan menghasilkan nama baik yang bersumber dari kepercayaan
para kliennya. Bila sudah dipercaya maka nama baikpun dapat dengan
mudah kita miliki dan harus dijaga dengan baik.
Efraim (2010) menyatakan KAP besar identik dengan KAP
bereputasitinggi. Ukuran KAP juga menunjukkan kemampuan auditor
untuk bersikapindependen dan melaksanakan audit secara profesional,
sebab KAP menjadikurang tergantung secara ekonomi kepada klien. Klien
juga kurang dapatmempengaruhi opini auditor.
Arie (2009) menyebutkan dibandingkan dengan KAP kecil, KAP
besarmempunyai kemampuan yang lebih baik dalam melakukan audit,
20
3. Profesionalisme Audit
Profesionalisme menurut Arens (2010 : 78) didefinisikan sebagai
suatu tanggung jawab untuk berperilaku lebih dari sekedar memenuhi
tanggung jawab yang dibebankan kepadanya, dan lebih dari sekedar
memenuhi Undang-Undang dan peraturan masyarakat. Maksudnya adalah
sebagai seorang akuntan publik yang professional, auditor harus
mempunyai tanggung jawab terhadap masyarakat, klien dan terhadap
rekan seprofesi, termasuk untuk berperilaku yang terhormat, sekalipun
menimbulkan pengorbanan pribadi.
Profesionalisme menurut Hidayat Nur Wahid dalam Sukrisno Agoes
dan I Cenik Ardana (2009:122), “Profesionalisme adalah semangat,
paradigma, spirit, tingkah laku, ideologi, pemikiran, gairah untuk terus
menerus secara dewasa (mature), secara intelek meningkatkan kualitas
profesi mereka”, sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
(2005:897) “Profesionalisme adalah mutu, kualitas dan tindak tanduk yang
merupakan ciri suatu profesi atau orang yang profesional”.Sikap
profesional tercermin pada pelaksanaan kualitas yang merupakan
karakteristik atau tanda suatu profesi atau seorang profesional.Sikap dan
tindakan profesional merupakan tuntutan di berbagai bidang profesi, tidak
terkecuali profesi sebagai auditor.
Profesi dan profesionalisme dapat dibedakan secara
konseptual.”profesi merupakan jenis pekerjaan yang memenuhi beberapa
21 yang penting tanpa melihat suatu pekerjaan merupakan suatu profesi atau
tidak” (Kalbers dan Fogarty, 1995).Sebagai profesional, akuntan publik
mengakui tanggung jawabnya terhadap masyarakat, klien dan rekan
seprofesi, termasuk untuk berprilaku yang terhormat, sekalipun ini
merupakan pengorbanan pribadi. Seorang auditor bisa dikatakan
profesional apabila telah memenuhi dan mematuhi prinsip dasar etika
profesi yang telah ditetapkan oleh IAPI, antara lain:
a. Prinsip integritas.
Setiap Praktisi harus tegas dan jujur dalam menjalin hubungan
profesional dan hubungan bisnis dalam melaksanakan pekerjaannya.
b. Prinsip objektivitas.
Setiap Praktisi tidak boleh membiarkan subjektivitas, benturan
kepentingan, atau pengaruh yang tidak layak (undue influence) dari
pihak-pihak lain memengaruhi pertimbangan profesional atau
pertimbangan bisnisnya.
c. Prinsip kompetensi serta sikap kecermatan dan kehati-hatian
profesional (professional competence and due care).
Setiap Praktisi wajib memelihara pengetahuan dan keahlian
profesionalnya pada suatu tingkatan yang dipersyaratkan secara
berkesinambungan, sehingga klien atau pemberi kerja dapat menerima
jasa profesional yang diberikan secara kompeten berdasarkan
perkembangan terkini dalam praktik, perundang-undangan, dan metode
22 profesional dan sesuai dengan standar profesi dan kode etik profesi
yang berlaku dalam memberikan jasa profesionalnya.
d. Prinsip kerahasiaan.
Setiap Praktisi wajib menjaga kerahasiaan informasi yang diperoleh
sebagai hasil dari hubungan profesional dan hubungan bisnisnya, serta
tidak boleh mengungkapkan informasi tersebut kepada pihak ketiga
tanpa persetujuan dari klien atau pemberi kerja, kecuali jika terdapat
kewajiban untuk mengungkapkan sesuai dengan ketentuan hukum atau
peraturan lainnya yang berlaku. Informasi rahasia yang diperoleh dari
hubungan profesional dan hubungan bisnis tidak boleh digunakan oleh
Praktisi untuk keuntungan pribadinya atau pihak ketiga.
e. Prinsip perilaku profesional.
Setiap Praktisi wajib mematuhi hukum dan peraturan yang berlaku dan
harus menghindari semua tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi.
Konsep Profesionalisme
Menurut Hall (1968) terdapat lima dimensi profesionalisme, yaitu:
a. Pengabdian pada profesi
Pengabdian pada profesi di cerminkan dari dedikasi
profesionalisme dengan pmenggunakan pengetahuandan kecakapan
yang dimiliki.Keteguhan untuk tetap melaksanakan pekerjaan meskipun
imbalan ekstrinsik kurang. Sikap ini adalah ekspresi dari pencurahan
diri yang total terhadap pekerjaan. Pekerjaan didefinisikan sebagai
23 kompensasi utama yang diharapkan dari pekerjaan adalah kepuasaan
rohani, baru kemudian materi.
b. Kewajiban sosial
Kewajiban sosial adalah pandangan tentang pentingnya peranan
profesi dan manfaat yang diperoleh baik masyarakat maupun
profesional karena adanya pekerjaan tersebut.
c. Kemandirian
Kemandirian dimaksudkan sebagai suatu pandangan seseorang
yang profesional harus mampu membuat keputusan sendiri tanpa
adanya intervensi maupun tekanan dari pihak lain (pemerintah, klien,
dan bukan anggota profesi).Setiap ada campur tangan dari luar
dianggap sebagai hambatan kemandirian secara profesional.
d. Keyakinan terhadap parturan profesi
Keyakinan terhadap profesi adalah suatu keyakinan bahwa
paling berwenang menilai pekerjaan profesional adalah rekan sesama
profesi, bukan orang luar yang tidak mempunyai kompetensi dalam
bidang ilmu dan pekerjaan mereka.
e. Hubungan dengan sesama profesi
Hubungan dengan sesama profesi adalah menggunakan ikatan
profesi sebagai acuan, termasuk didalamnya organisasi formal dan
kelompok kolega informal sebagai ide utama dalam pekerjaan.Melalui
ikatan profesi ini para profesional membangun kesadaran profesional.
24 aturan yang harus dipatuhi oleh seluruh anggota termasuk setiap kantor
akuntan publik lain yang beroperasi sebagai auditor independen.
Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya bahwa didalam standar
auditing ini yang telah ditetapkan Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI)
terdapat 10 standar auditing yang terbagi menjadi standar umum, standar
pekerjaan lapangan dan standar pelaporan. Standar auditing berbeda dengan
prosedur auditing yang mana berkaitan dengan tindakan yang harus
dilaksanakan, sedangkan standar berkaitan dengan suatu kriteria ukuran
mutu kinerja tindakan tersebut. isi dari ke sepuluh standar tersebut adalah:
a. Standar Umum
1) Proses audit harus dilaksanakan oleh seseorang yang memiliki
keahlian dan pelatihan teknis sebagai auditor.
2) Seorang Auditor harus mempertahankan dan mengedepankan sesuatu
yang berhubungan dengan Independensi dan Perikatan.
3) Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib
menggunakan kemahiran ilmuya secara profesional dengan cermat
dan seksama.
b. Standar pekerjaan lapangan
1) Pekerjaan mengaudit harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika
digunakan asisten harus disupervisi dengan semestinya.
2) Pemahaman mengenai pengendalian intern harus diperoleh untuk
merencanakan audit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian
25 3) Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi,
pengamatan, permintaan keterangan, dan konfirmasi sebagai dasar
untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit.
c. Standar pelaporan
1) Laporan auditor harus menyatakan apakah laporan keuangan telah
disusun sesuai dengan prinsip akuntansi di Indonesia yang berlaku
umum
2) Laporan auditor harus menunjukkan jika ada ketidakkonsistenan
penerapan prinsip akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan
periode berjalan dibandingkan dengan penerapan prinsip akuntansi
tersebut dalam periode sebelumnya.
3) Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus dipandang
memadai, kecuali dinyatakan lain dalam laporan auditor.
4) Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenai
laporan keuangan secara keseluruhan atau suatu asersi bahwa
pernyataan demikian tidak dapat diberikan. Jika pendapat secara
keseluruhan tidak dapat diberikan, maka alasannya harus dinyatakan.
4. Kualitas Audit
De Angelo (1981) mendefinisikan kualitas audit sebagai
probabilitas dimana seorang auditor menemukan dan melaporkan tentang
adanya suatu pelanggaran dalam sistem akuntansi kliennya. Hasil
26 menyajikan kualitas audit yang lebih besar dibandingkan dengan KAP
yang kecil.
Deis dan Giroux (1992) melakukan penelitian tentang empat hal
dianggap mempunyai hubungan dengan kualitas audit yaitu (1) lama
waktu auditor telah melakukan pemeriksaan terhadap suatu perusahaan
(tenure), semakin lama seorang auditor telah melakukan audit pada klien
yang sama maka kualitas audit yang dihasilkan akan semakin rendah, (2)
jumlah klien, semakin banyak jumlah klien maka kualitas audit akan
semakin baik karena auditor dengan jumlah klien yang banyak akan
berusaha menjaga reputasinya, (3) kesehatan keuangan klien, semakin
sehat kondisi keuangan klien maka akan ada kecenderungan klien tersebut
untuk menekan auditor agar tidak mengikuti standar, dan (4) review oleh
pihak ketiga, kualitas audit akan meningkat jika auditor tersebut
mengetahui bahwa hasil pekerjaannya akan direview oleh pihak ketiga.
Penelitian yang dilakukan oleh Mayangsari (2003) menguji
pengaruh independensi kualitas audit terhadap intergritas laporan
keuangan. Hasil penelitian ini mendukung hipotesa bahwa spesialisasi
auditor berpengaruh positif terhadap integritas laporan keuangan. Selain
itu, mekanisme corporate governance berpengaruh secara statisti secara
signifikan terhadap integritas laporan keuangan meskipun tidak sesuai
dengan tanda yang diajukan dalam hipotesa.
Terdapat dua belas atribut kualitas audit menurut Behn dalam
27 a. Pengalaman melakukan audit (client experience)
Pengalaman merupakan atribut yang penting yang harus dimiliki oleh
auditor. Hal ini terbukti dengan tingkat kesalahan yang dibuat oleh
auditor yang tidak berpengalaman lebih banyak daripada auditor
berpengalaman.
b. Memahami industry klien (industry expertise)
Auditor juga harus mempertimbangkan hal-hal yang mempengaruhi
industry tempat operasi suatu usaha seperti kondisi ekonomi, peraturan
pemerintah serta perubahan teknologi yang berpengaruh terhadap
auditnya.
c. Responif atas kebutuhan klien (responsiveness)
Atribut yang membuat klien memutuskan pilihannya terhadap suatu
KAP adalah kesungguhan KAP tersebut memperhatikan kebutuhan
kliennya.
d. Taat pada standar umum (technical competence)
Kredibilitas auditor tergantung kepada kemungkinan auditor
mendeteksi kesalahan yang material dan kesalahan penyajian serta
kemungkinan auditor akan melaporkan apa yang ditemukannya. Kedua
hal tersebut mencerminkan terlaksananya standar umum.
e. Independensi (independence)
Independensi adalah sikap yang diharapkan dari seorang akuntan public
28 tugasnya, yang bertentangan dengan prinsip integritas dan obektivitas.
Bersikap independen artinya tidak mudah dipengaruhi.
f. Sikap hati-hati (due care)
Auditor yang bekerja dengan sikap kehati-hatian akan bekerja dengan
cermat dan teliti sehingga menghasilkan audit yang baik, dapat
mendeteksi dan melaporkan kekeliruan serta ketidakberesan.
g. Komitmen yang kuat terhadap kualitas audit (quality commitment)
IAI sebagai induk organisasi akuntan public di Indonesia mewajibkan
para anggotanya untuk mengikuti program pendidikan profesi
berkelanjutan dan untuk menjadi anggota baru harus mengikuti program
profesi akuntan (PPA) agar kerja auditnya berkualitas hal ini
menunjukkan komitmen yang kuat dari IAI dan para anggotanya.
h. Keterlibatan pimpinan KAP
Pemimpin yang baik perlu menjadi vocal paint yang mampu
memberikan perspektif dan visi luas atas kegiatan perbaikan serta
mampu memotivasi, mengakui dan menghargai upaya dan prestasi
perorangan maupun kelompok.
i. Melakukan pekerjaan lapangan dengan tepat (field work conduct)
Dalam perencanaan audit, auditor harus mempertimbangkan sifat, luas
dan saat pekerjaan yang harus dilaksanakan dan membuat suatu
program audit secara tertulis, dengan tepat dan matang akan membuat
29 j. Keterlibatan komite audit
Komite audit diperlukan dalam suatu organisasi bisnis dikarenakan
mengawasi proses audit dan memungkinkan terwujudnya kejujuran
pelaporan keuangan.
k. Standar etika yang tinggi (ethical standard)
Dalam usaha untuk meningkatkan akuntabilitasnya, seorang auditor
harus menegakkan etika professional yang tinggi agar timbul
kepercayaan dari masyarakat.
l. Tidak mudah percaya
Auditor tidak boleh menganggap manajemen sebagai orang yang tidak
jujur, tetapi juga tidak boleh menganggap bahwa manajer adalah orang
yang tidak diragukan lagi kejujurannya, adanya sikap tersebut akan
memberikan hasil audit yang bermutu dan akan memberikan kepuasan
klien.
Akuntan publik atau auditor independen dalam menjalankan
tugasnya harus memegang prinsip-prinsip profesi. Menurut Simamora
(2002) ada 8 prinsip yang harus dipatuhi akuntan publik yaitu:
a. Tanggung jawab Profesi
Setiap anggota harus menggunakan pertimbangan moral dan
30 b. Kepentingan publik
Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam rangka
pelayanan kepada publik, menghormati kepercayaan publik dan
menunjukkan komitmen atas profesionalisme.
c. Integritas
Setiap anggota harus memenuhi tanggung jawab profesionalisnya
dengan integritas setinggi mungkin.
d. Objektivitas
Setiap anggota harus menjaga objektivitasnya dan bebas dari benturan
kepentingan dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya.
e. Kompetensi dan kehati-hatian profesionalnya
Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan
hati-hati.Kompetensi dan ketekunan serta mempunyai kewajiban untuk
mempertahankan pengetahuan dan ketrampilan profesional.
f. Kerahasiaan
Setiap anggota harus menghormati kerahasiaan informasi yang
diperoleh selama melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai
atau melakukan jasa professional dan tidak boleh memeakai atau
mengungkapkan informasi tersebut tanpa persetujuan.
g. Perilaku professional
Setiap anggota harus berprilaku yang konsisten dengan reputasi profesi
31 h. Standar teknis
Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesinya dengan standar
teknis dan standar profesional yang relevan.
B. Hasil-Hasil Penelitian Terdahulu
Adapun hasil-hasil sebelumnya dari penelitian-penelitian terdahulu
mengenai topik yang berkaitan dengan penelitian ini dapat dilihat dalam tabel
32
Table 2.1
Hasil-Hasil Penelitian Terdahulu
No Judul dan Peneliti Metodelogi
Penelitian
Persamaan Perbedaan Hasil Penelitian
1. Pengaruh
menggunakan data primer
Membahas variabel lain yaitu:
pengalaman
Perhitungan analisis determinasi parsial digunakan untuk mengetahui besar pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen secara parsial dan dapat diketahui bahwa nilai koefisien determinasi pengalaman auditor terhadap kualitas audit sebesar 19,62% oleh pengalaman auditor dan sisanya 80,38% di pengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti: Kompetensi, Independensi, Ukuran KAP, dsb. Pengujian hipotesis ini adalah pengaruh pengalaman auditor terhadap kualitas audit. Diduga bahwa pengalaman auditor akan berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit pada Kantor Akuntan Publik (KAP).
33
Table 2.1 (Lanjutan)
No Judul dan Peneliti Metodelogi
Penelitian
Persamaan Perbedaan Hasil Penelitian
Untuk uji hipotesis pengaruh antara pengalaman auditor terhadap kualitas audit diperoleh nilai signifikansi < 5% (0,034<0,05), maka Ho ditolak, artinya terdapat pengaruh yang signifikan antara pengalaman auditor terhadap kualitas audit. listed on the First and Second Sections of the Tokyo Stock Exchange (TSE) in February 2008, a total of 2,199 firms
Sama-sama membahas
mengenai reputasi dan kualitas audit
menggunakan data sekunder yaitu: all firms listed on the First
and Second
Sections of the
Tokyo Stock
Exchange (TSE) in February 2008
The results provide little evidence of any significant effect on most event dates. The coefficients on the event dummies are small and insignificant for ten of the eleven events. Consistent with the univariate results, the only exception is event 9, which shows a return of -0.88 percent (t = -3.56). When we combine the events, the coefficient on the overall event dummy is -0.15 percent (t = -1.94).
34
Table 2.1 (Lanjutan)
No Judul dan Peneliti Metodelogi
Penelitian
Persamaan Perbedaan Hasil Penelitian
This evidence offers at best modest support for the reputation argument. We also tested robustness of these results for a shorter window of time from June 1, 2004 to May 21, 2006
menggunakan data primer
Berdasarkan analisis penelitian
dapat disimpulkan bahwa
akuntabilitas dan kompetensi auditor berpengaruh positif terhadap kualitas audit. Sehingga motivasi
dan implementasi
pertanggungjawaban sosial dalam diri auditor yang lebih besar serta kompetensi yang baik dari akuntan maka akan membuat semakin baik kualitas audit yang dihasilkan auditor.
35
Table 2.1 (Lanjutan)
No Judul dan Peneliti Metodelogi
Penelitian
Persamaan Perbedaan Hasil Penelitian
4. Pengaruh
menggunakan data primer hipotesis ini menunjukkan bahwa kompetensi berpengaruh terhadap kualitas audit dilihat nilai sig. 0,048 (lebih kecil dari α = 0,05). Hal ini berarti bahwa kualitas audit dapat dicapai jika auditor memiliki kompetensi yang baik.
2. Hipotesis 2: Hasil pengujian hipotesis ini menunjukkan bahwa independensi tidak berpengaruh terhadap kualitas audit, dapat dilihat dari nilai sig. 0,118 (lebih besar dari α = 0,05). Hasil pengujian ini tidak sejalan dengan pendapat De Angelo bahwa kemungkinan di mana auditor akan melaporkan salah
saji tergantung pada
independensi auditor.
36
Table 2.1 (Lanjutan)
No Judul dan Peneliti Metodelogi
Penelitian
Persamaan Perbedaan Hasil Penelitian
3. Hipotesis 3: Hasil pengujian hipotesis ini menunjukkan bahwa kompetensi dan independensi mempunyai pengaruh terhadap kualitas audit, dapat dilihat dari
Samples for Phase 1 are based on Japan Company Handbook issued in spring 2004 and spring 2005. Samples for Phase 2 are based on Japan Company Handbook issued in summer and autumn 2006. Samples for Phase 3 are based on Japan Company Handbook
Similarly, differences between Misuzu and the other Big 4 auditors arestatistically significant for the mean and median of two variables (Foreign and Size) and for the mean of one variable (Emerging), while differences between Misuzu and Non-Big 4 auditors are significant different between firms choosing Misuzu and those choosing the other Big 4 auditors.
37
Table 2.1 (Lanjutan)
No Judul dan Peneliti Metodelogi
Penelitian
Persamaan Perbedaan Hasil Penelitian
In addition, the signs of differences indicate that firms concerned about reputationpreferred the other Big 4 auditors and Non-Big 4 auditors to search for the key Kelon events: China
vulnerability of Big 4 firms
We find that Deloitte’s clients have negative abnormal returns of 4.4% at events pertaining to Kelon, and there is a spillover to clients of other Big 4 audit firms (negative abnormal returns of 1.2%) though these negative market reactions are moderated by strong corporate governance. Deloitte loses clients to local audit firms, and all Big 4 firms lose marketshare in the IPO market. Our results support a reputation
38
Table 2.1 (Lanjutan)
No Judul dan Peneliti Metodelogi
Penelitian
Persamaan Perbedaan Hasil Penelitian
7. Pengaruh
menggunakan data primer
Hasil output regresi menunjukkan nilai koefisien regresi kompetensi sebesar 0,253 serta nilai t-hitung sebesar 2,708 dan nilai signifikansi sebesar 0,009 (ñ<0,05), sehingga menunjukkan bahwa auditor memiliki mutu personal yaitu mampu berpikir luas dan menangani ketidakpastian serta mampu bekerjasama dalam tim. Kemudian auditor memiliki pengetahuan tentang struktur organisasi untuk memahami organisasi dan auditor memiliki pengetahuan tentang akuntansi yang akan membantu dalam mengolah angka atau data. 8. Pengaruh tenur dan
memiliki variabel moderasi
Hasil Uji statistik F pada nilai F test sebesar 25,635 dan signifikan pada 0,000 yang berarti variabel independen tenur, komite audit, reputasi dan variabel interaksi tenur komite audit secara simultan mempengaruhi variabel akrual lancar.
39
Table 2.1 (Lanjutan)
No Judul dan Peneliti Metodelogi
Penelitian
Persamaan Perbedaan Hasil Penelitian
9. Pengaruh
menggunakan data primer signifikan 0,000, maka pengaruh variabel kompetensi,independensi dan akuntabilitas secara bersama-sama terhadap kualitas audit
adalahsignifikan.Hal ini
menunjukkan bahwa naik-turunnya kualitas audit ditentukan oleh gabungan daritingkat kompetensi, independensi serta akuntabilitas
auditor secara
bersama-sama.Seorang auditor yang memiliki kemampuan yang tinggi, tidak
mudah dipengaruhi
dalammelaksanakan pekerjaan serta mempunyai tanggungjawab yang tinggi atas semuatindakan dan keputusan yang diambil maka akan menghasilkan kualitas audit yang tinggi.
40
Table 2.1 (Lanjutan)
No Judul dan Peneliti Metodelogi
Penelitian
Persamaan Perbedaan Hasil Penelitian
10. Pengaruh
Hasil pengujian hipotesis menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara tingkat profesionalisme (lima dimensi) dan juga kualitas audit terhadap tingkat materialitas. Temuan tersebut menunjukkan jika profesionalisme auditor meningkat, maka tingkat materialitasnya juga cenderung
meningkat; tetapi jika
profesionalisme auditor menurun, maka tingkat materialitasnya juga cenderung menurun. Kualitas audit juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat materialitas. Hal ini menunjukkan jika kualitas audit meningkat, maka tingkat materialitasnya juga cenderung meningkat; tetapi jika Kualitas audit menurun, maka tingkat materialitasnya juga cenderung menurun.
41
Table 2.1 (Lanjutan)
No Judul dan Peneliti Metodelogi
Penelitian
Persamaan Perbedaan Hasil Penelitian
11. Pengaruh Tenur
Kantor Akuntan
menggunakan data primer
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa KAP berafiliasi dengan KAP Internasional berpengaruhpsoitif terhadap tingkat akrual lancar dan signifikan pada level kurang dari 10 persen. Hal riset inibermakna bahwa berafiliasi dengan KAP internasional lebih bertujuan pemasaran untuk menarik klien.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa KAP yang berafiliasi dengan KAP internasional memilikikemampuan memoderasi
pengaruh TENUR terhadap
KUALITAS AUDIT. Hasil ini ditunjukkan olehkoefisien variabel TENREPU yang secara statistik berpengaruh signifikan pada level kurang dari 1 persen. Dengan demikian ketikan tenur audit singkat, KAP berafiliasi kurang menaikkan kualitas audit.