PENGARUH RELIGIUSITAS DAN
FAMILY
SUPPORT
TERHADAP
HAPPINESS
PADA
LANSIA
DI PANTI WERDHA
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Psikologi untuk memenuhi syarat
mencapai gelar Sarjana Psikologi
Disusun Oleh : Inayah Mardiah
107070001499
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI SYARIF
HIDAYATULLAH
JAKARTA
PENGARUH RELIGIUSITAS DAN
FAMILY SUPPORT
TERHADAP
HAPPINESS
PADA LANSIA
DI PANTI WERDHA
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Psikologi untuk memenuhi syarat
mencapai gelar Sarjana Psikologi
Di bawah bimbingan :
Pembimbing I Pembimbing II
Dra. Netty Hartati, M.Si Nia Tresniasari, M. Si NIP: 19531002 198303 2001 NIP : 19841026 200912 2004
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
LEMBAR PENGESAHAN
Skripsi yang berjudul “PENGARUH RELIGIUSITAS DAN FAMILY
SUPPORT TERADAP HAPPINESS PADA LANSIA DI PANTI WERDHA”
telah diujikan dalam sidang munaqasyah Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 9 Desember 2011. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Program Strata 1 (S1) pada Fakultas Psikologi.
Jakarta, 9 Desember 2011
Sidang Munaqasyah
Dekan/Ketua Pembantu Dekan/Sekretaris
Jahja Umar, Ph.D Dra. Fadhilah Suralaga,M.Si NIP: 130 885 522 NIP: 19561223 198303 2 001
Anggota:
Yufi Adriani, M. Psi Dra. Netty Hartati, M.Si NIP: 19820918 200901 2006 NIP: 19531002 198303 2001
PERNYATAAN ORISINALITAS
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Inayah Mardiah
NIM : 107070001499
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “PENGARUH RELIGIUSITAS DAN FAMILY SUPPORT TERADAP HAPPINESS PADA LANSIA DI PANTI WERDHA”adalah benar merupakan karya saya sendiri dan tidak melakukan tindakan plagiat dalam penyusunan skripsi tersebut. Adapun kutipan-kutipan yang ada dalam penyusunan skripsi ini telah saya cantumkan sumber pengutipannya dalam daftar pustaka.
Saya bersedia untuk melakukan proses yang semestinya sesuai dengan undang-undang jika ternyata skripsi ini secara prinsip merupakan plagiat atau jiplakan dari karya orang lain.
Demikian pernyataan ini saya buat untuk dipergunakan sebaik-baiknya.
Jakarta, 1 Desember 2011
Inayah Mardiah .
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
MOTTO :
Dalam hidup ini janganlah terpaku hanya
dengan 1 hal saja, karena waktu terus
bergulir.
Jalanilah dan isilah hidup ini dengan hal-hal
yang bermakna.
PERSEMBAHAN:
ABSTRAK
(A) Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (B) November 2011
(C) Inayah Mardiah
(D) xvi + 84 halaman + lampiran
(E) Pengaruh Religiusitas danFamily Supportterhadap Happinesspada Lansia di Panti Werdha
(F) Ketika orang berada pada periode akhir (lansia), terjadi perubahan-perubahan baik secara fisik maupun psikis. Masalah-masalah psikologis pun dirasakan oleh para lansia pada periode ini yaitu tidak bisa menyesuaikan diri terhadap perubahan-perubahan yang terjadi disekitarnya. Di antaranya dikarenakan kurangnya perhatian atau ditinggalkan oleh keluarga dan kerabat terdekatnya, sehingga para lansia tersebut merasakan kesepian, stress, bahkan depresi yang pada akhirnya mereka tidak bisa merasakan kebahagiaan dalam hidup mereka. Dalam hal ini, religiusitas dan family support mempunyai pengaruh untuk menumbuhkan atau meningkatkan happiness terutama pada lansia di panti werdha.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh religiusitas dan family support terhadaphappinesslansia di PSTW Budi Mulia 3 Ciracas dan PSTW Budi Mulia 4 Margaguna. Adapun variabel dalam penelitian ini berjumlah sebelas variabel yaitu sepuluh independent variable (keyakinan, praktik agama, pengalaman, pengetahuan, konsekuensi, dukungan konkrit, dukungan emosional, dukungan informatif, dukungan penghargaan, dan jenis kelamin) dan satu dependent variable (happiness). Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini non-probability sampling dan jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 110 orang.
Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat pengaruh yang signifikan antara religiusitas, family support,dan jenis kelamin terhadap happinesspada lansia di panti werdha, dengan taraf signifikansi sebesar 0,000 atau sig < 0,05. Adapun R Square dari semua variabel yang diujikan sebesar 0,567 atau 56,7 %, yang berarti variasi dari happiness (DV) dijelaskan oleh 10 IV dalam penelitian ini sebesar 56,7 %, sisanya 43,3 % dipengaruhi oleh IV lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Dari kesepuluh IV yang diujikan hanya ada dua IV yang berpengaruh secara signifikan terhadap happiness yaitu variabel pengalaman dan konsekuensi dengan taraf signifikansi sebesar 0,015 (sig < 0,05). Dalam uji proporsi varians masing-masing IV, hanya enam IV yang berkontribusi secara signifikan yaitu variabel keyakinan (0,000), pengalaman (0,000), pengalaman (0,000), konsekuensi (0,010), dukungan konkrit (0,027), dan dukungan emosional (0,014).
keluarga lansia dengan lansia tetapi juga melibatkan pihak panti (petugas dan perawat).
KATA PENGANTAR
Puji syukur peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat, hidayah, dan kasih sayang yang diberikan-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul “PENGARUH RELIGIUSITAS DAN FAMILY SUPPORT TERHADAP HAPPINESS PADA LANSIA DI PANTI WERDHA”. Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada junjungan Nabi kita semua, Nabi Muhammad SAW, berikut para keluarga dan sahabatnya.
Terwujudnya skripsi ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, baik dalam bentuk sumbangan pikiran, materi, tenaga, dan waktu yang tidak terukur dalam menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada:
1. Bapak Jahja Umar, Ph.D, selaku Dekan Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Ibu Dra. Netty Hartati, M.Si., sebagai Dosen Pembimbing I, terima kasih atas bimbingan, sumbangan pikiran, dan telah meluangkan waktunya untuk peneliti dalam penulisan, serta saran demi kesempurnaan skripsi ini.
3. Ibu Nia Tresniasari, M.Si., sebagai Dosen Pembimbing II, terima kasih atas perhatiannya, bimbingan, saran, tempat berbagi cerita, dan telah meluangkan waktunya untuk memberikan materi setiap minggunya, serta motivasinya dalam penyelesaian skripsi ini.
4. Prof. Dr. Abdul Mujib, MA, selaku pembimbing seminar proposal. Terima kasih atas arahan dan bantuan bapak memberikan bahan-bahan materi hingga akhirnya peneliti bisa membawa judul seminar proposal ini menjadi skripsi hingga selesai sekarang ini.
5. Bapak Drs. Rachmat Mulyono, M. Si., Dosen Pembimbing Akademik, terima kasih atas bimbingannya dan semangatnya selama peneliti menjalani perkuliahan.
7. Seluruh karyawan Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah banyak membantu peneliti dalam menjalani perkuliahan.
8. Bapak Nuzul, pihak dari Dinas Sosial DKI Jakarta yang telah memberikan izin peneliti untuk mengambil data di panti werdha binaan Dinas Sosial DKI Jakarta wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur
9. Ibu Farah, pihak dari PSTW Budi Mulia 4 Margaguna dan Ibu Ira, pihak dari PSTW Budi Mulia 3 Ciracas yang telah membantu dan memberikan arahan pada peneliti selama pengambilan data di panti.
10. Kedua orangtuaku tercinta, Masrul Huda dan Haniah Hanafie yang merupakan sumber inspirasi bagi peneliti dan senantiasa memberikan doa yang selalu menyertai peneliti, kasih sayang, cinta, motivasi, bantuan dan materi yang tidak akan pernah bisa terganti dan terbayar oleh apapun.
11. Adikku tersayang, Saifudin Nur terima kasih telah menjadi tempat berbagi cerita, penghibur, dan menjadi adik yang sabar dalam menghadapi kakakmu yang cerewet ini.
12. Fitra Maulana, terima kasih telah menjadi orang yang paling sabar mendengarkan keluhan-keluhan peneliti dan memberikan semangat di saat peneliti merasa jenuh.
13. Terima kasih untuk sahabatku Puri yang telah mandampingi peneliti selama kurang lebih 4 tahun, memberikan semangat, berbagi cerita dan canda terutama selama pengerjaan skripsi ini.
14. Sahabat-sahabatku tersayang lainnya, Nuran, Icha, Iki, Siro, Linda, Nyun, Risna, Rifah, Weni dan Kamel. Terima kasih untuk semua persahabatan kita selama ini, untuk berbagi cerita, gosip-gosip ria,dan saling membantu satu sama lain dalam menyelesaikan masalah ataupun tugas kuliah.
15. Terima kasih kepada Kak Ndes yang telah memberikan saran-saran dan sebagai tempat konsultasi untuk judul skripsi ini.
17. Seluruh teman-teman kelas D angkatan 2007 yang unik dan membuat peneliti rindu akan kegaduhan kalian semua. Terima kasih untuk semua kebersamaan kita selama 4 tahun ini, untuk semua cerita, dan pengalaman yang luar biasa serta diskusi-diskusi yang menegangkan dan seru dalam menyelesaikan masalah kelas.
18. Seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu, terima kasih untuk segala doa, dukungan, dan bantuan yang telah diberikan untuk membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
Semoga seluruh bantuan yang telah diberikan dibalas berlipat ganda oleh Allah SWT. Peneliti menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan.
Jakarta, 1 Desember 2011
DAFTAR ISI
Lembar Pengesahan Pembimbing ... i
Lembar Pengesahan Panitia Ujian ... ii
Lembar Orisinalitas ... iii
Motto dan Persembahan ... iv
Abstrak ... vi
Kata Pengantar ... viii
Daftar Isi ... xi
Daftar Tabel ... xiv
Daftar Lampiran ... xv
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Batasan dan Rumusan Masalah ... 8
1.2.1. Batasan Masalah ... 8
1.2.2. Rumusan Masalah ... 10
1.3. Tujuan Penelitian ... 11
1.4. Manfaat Penelitian ... 11
1.4.1. Manfaat Teoritis ... 11
1.4.2. Manfaat Praktis ... 12
1.5. Sistematika Penulisan 12 BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Lansia ... 15
2.1.1. Pengertian Lansia ... 15
2.1.2. Perubahan-perubahan yang terjadi pada Lansia ... 16
2.1.3. Lansia di Panti Werdha ... 22
2.2. Happiness... 24
2.2.1. PengertianHappiness... 24
2.2.2. Aspek-aspekHappiness... 25
2.2.3. Faktor-faktor yang mempengaruhiHappiness... 29
2.2.4. PengukuranHappiness... 32
2.3.1. Pengertian Religiusitas ... 33
2.3.2. Aspek-aspek Religiusitas ... 34
2.3.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Religiusitas ... 36
2.3.4. Pengukuran Religuisitas ... 37
2.4. Family Support... 38
2.4.1. PengertianFamily Support... 38
2.4.2. Jenis-jenisFamily Support... 39
2.4.3. KualitasFamily Support... 41
2.4.4. PengukuranFamily Support... 42
2.5. Kerangka Berpikir ... 43
2.6. Hipotesis ... 47
BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel ... 49
3.1.1. Populasi Penelitian ... 49
3.1.2. Sampel Penelitian ... 50
3.1.3. Teknik Pengambilan Sampel ... 50
3.2. Variabel Penelitian ... 50
3.2.1. Identifikasi Variabel Penelitian ... 50
3.2.2. Definisi Operasional Variabel Penelitian ... 51
3.3. Pengumpulan Data ... 52
3.3.1. Teknik Pengumpulan Data ... 52
3.3.2. Instrumen Pengumpulan Data ... 53
3.4. Teknik Pengolahan dan Analisis Data ... 62
3.4.1. Teknik Pengolahan Data ... 62
3.4.2. Teknik Analisis Data ... 63
3.4.2.1. Uji Validitas ... 63
3.4.2.2. Uji Reliabilitas ... 64
BAB IV HASIL PENELITIAN
4.1. Gambaran Umum Subyek Penelitian ... 66
4.2. Uji Hipotesis Penelitian ... 67
4.2.1. Analisis Regresi Variabel Penelitian ... 67
4.2.2. Uji Koefisien Masing-masingIndependent Variable(IV) .... 68
4.2.3. Uji Proporsi Varians Masing-masingIndependent Variable..75
BAB V KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN 5.1. Kesimpulan ... 79
5.2. Diskusi ... 80
5.3. Saran ... 83
5.3.1. Saran Metodelogis ... 83
5.3.2. Saran Praktis ... 84
DAFTAR PUSTAKA... 86
[image:14.595.115.522.85.464.2]DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Skor Item Skala ... 48
Tabel 3.2 Blue Print Skala Religiusitas(Try Out)... 49
Tabel 3.3 Blue Print Skala Religiusitas(Field Test)... 50
Tabel 3.4 Blue Print SkalaFamily Support (Try Out)... 52
Tabel 3.5 Blue Print SkalaFamily Support (Field Test)... 53
Tabel 3.6 Blue Print SkalaHappiness (Try Out)... 54
Tabel 3.7 Blue Print SkalaHappiness (Field Test)... 56
Tabel 4.1 Subyek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin ... 61
Tabel 4.2 R Square Pengaruh Religiusitas danFamily Support terhadapHappiness... 62
Tabel 4.3 Signifikansi Religiusitas danFamily Support(IV) terhadapHappiness(DV) ... 63
Tabel 4.4 Koefisien Regresi Religiusitas danFamily Support(IV) terhadapHappiness(DV) ... 63
DAFTAR LAMPIRAN
Surat Izin Penelitian
Surat Persetujuan Penelitian dari Dinas Sosial DKI Jakarta
Skala Penelitian
Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Skala Religiusitas
Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas SkalaFamily Support
Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas SkalaHappiness
Subyek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin
R Square Pengaruh Religiusitas danFamily SupportterhadapHappiness
Signifikansi Religiusitas danFamily Support(IV) terhadapHappiness(DV)
Koefisien Regresi Religiusitas danFamily Support(IV) terhadapHappiness(DV)
BAB I
PENDAHULUAN
Pada bab ini berisi latar belakang mengapa perlu dilakukan penelitian
mengenai pengaruh religiusitas danfamily supportterhadaphappinesspada lansia
di panti werdha, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian,
manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.
1.1. Latar Belakang Masalah
Proses menjadi tua merupakan suatu kejadian yang alami dan setiap orang
akan mengalaminya, karena hal ini merupakan tahap akhir dalam sebuah
perjalanan hidup. Papalia (2008) membagi lanjut usia (lansia) menjadi tiga
kelompok yaitu lansia muda(young old)usia antara 65 - 74 tahun, lansia tua
(old-old)rentang usia 75 - 84 tahun, dan lansia tertua (oldest old)berusia 85 tahun ke
atas. Di Indonesia batasan usia untuk lansia berdasarkan Undang-Undang No. 13
tahun 1998 tentang kesejahteraan usia lanjut adalah di atas 60 tahun (Depsos,
1999). Pada periode ini akan terjadi perubahan fisik dan psikologis maupun
kondisi sosial yaitu dalam berhubungan dengan orang lain.
Perubahan fisik merupakan perubahan yang dapat dilihat secara langsung,
seperti adanya kerutan-kerutan di wajah, mulai terlihat bungkuk, sendi-sendi
pergelangan terasa linu, otot tangan dan kaki mulai cepat terasa pegal, sehingga
kemampuan untuk membawa barang-barang yang berat mulai berkurang, dan
lain-lain. Papalia (2008) juga menjelaskan bahwa perubahan-perubahan fisik yang
dikarenakan mengkerutnya lemak dan otot. Selain itu perubahan fisik lainnya
yaitu rambut menjadi putih dan semakin tipis, para lansia menjadi lebih pendek
dikarenakan melemahnya tulang vertebrae dan postur bungkuk menjadikan
mereka semakin kecil. (Papalia, 2008)
Permasalahan lain yang dialami lansia yaitu permasalahan psikologis.
Dimana para lansia tidak bisa menyesuaikan dirinya terhadap
perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya, salah satunya karena telah memasuki masa
pensiun. Adanya persepsi negatif dari masyarakat bahwa orang yang berusia
lanjut dianggap kurang berkontribusi, tidak produktif lagi, sakit-sakitan, dan
lain-lainnya. Menurut Kim dan Moen (dalam Papalia, 2008) orang-orang yang telah
pensiun merasakan kehilangan peran pekerjaannnya sehingga berpengaruh pada
identitas diri mereka. Hal tersebut menyebabkan kepercayaan dirinya menjadi
rendah dan dapat terjadi peningkatan gejala depresi terutama pada pria (Papalia,
2008).
Masalah lainnya yang terjadi pada lansia diantaranya kurang perhatian dari
orang-orang terdekatnya (keluarga), ditinggal oleh orang-orang terdekat seperti
suami, istri, orang tua, atau anak yang telah meninggal sebelumnya,bahkan
sengaja ditinggalkan oleh keluarganya karena tidak mampu mengurus anggota
keluarganya yang sudah lansia. Akibatnya para lansia tersebut merasa kesepian
karena tidak mempunyai teman untuk mengobrol. Akhirnya banyak lansia merasa
kurang nyaman, kesulitan dalam menjalani hidupnya, dan tidak bisa merasakan
kebahagiaan yang seharusnya mereka bisa merasakannya seperti orang lain pada
umumnya. Dikarenakan pada umumnya di Indonesia, orang yang sudah
Para lansia pun akhirnya tinggal di panti werdha dengan tujuan mereka
bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik dibandingkan kehidupan sebelum
mereka masuk panti. Untuk itulah, peneliti ingin meneliti happiness pada lansia
yang tinggal di panti werdha karena happiness yang dirasakan oleh lansia yang
tinggal di panti berbeda dengan happiness yang dirasakan oleh lansia yang tidak
tinggal di panti. Ditambah lagi dengan permasalahan, lansia yang tinggal di panti
werdha jauh dari keluarganya. Berdasarkan hasil penelitian O’Connor dan
Vallerand (Papalia, 2008), sekitar 129 penghuni yang tinggal di panti werdha
dengan tingkat perawatan cukup baik, merasa memiliki harga diri yang tinggi,
tingkat depresi lebih rendah, dan lebih puas akan kebermaknaan dalam hidup.
Sehingga mendapatkan motivasi yang berasal dari keluarga merupakan
salah satu hal yang penting bagi para lansia untuk tetap bersemangat dan tidak
mudah putus asa dalam menghadapi masalah walaupun mereka tidak tinggal
bersama. Selain itu, cara lainnya yaitu dengan lebih mendekatkan diri kepada
Tuhan dengan mengikuti pengajian, aktif mengikuti kegiatan sosial yang di
lingkungan mereka dan mengembangkan hobi yang dimiliki seperti menjahit,
merajut, berkebun, dan lain-lain. Kegiatan-kegiatan ini juga dapat mengurangi
rasa kesepian atau kekosongan, putus asa, stress, dapat menambah harapan, tujuan
hidup, kebermaknaan dan kepuasan hidup, sehingga para lansia dapat merasakan
happiness.
Happiness adalah suatu keadaan pikiran maupun perasaan yang ditandai
dengan adanya kesenangan, kenikmatan, kebermakanaan, dan kepuasan dalam
menjalani hidup. Menurut Seligman (2002) happiness ialah kondisi dan
dan sekarang. Bagian-bagian darihappinessitu sendiri adalah kepuasan masa lalu,
kebahagiaan pada masa sekarang dan optimis masa depan. Menurut Seligman
(2002), faktor-faktor yang mempengaruhihappinessialah uang, kehidupan sosial,
emosi negatif, perkawinan, jenis kelamin, kesehatan, usia, dan agama.
Happinessdapat mempengaruhi diri seseorang untuk ke arah yang positif,
baik secara kognitif maupun tingkah laku. Sebagaimana Gloaguen dan
kawan-kawan (dalam Lyubomirsky, 2005) menjelaskan bahwa manfaat dari happiness
secara kognitif dan tingkah laku dapat mengatasi perasaan-perasaan negatif dan
depresi. Selain itu, rasa optimis juga merupakan salah satu bagian terpenting bagi
para lansia dalam menjalani hidup ini seperti bisa menerima dengan ikhlas dan
mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan-perubahan yang ada, sehingga
dapat menjalani hidupnya dengan tenang dan merasakan kenyamanan dalam
menjalani aktivitas sehari-harinya. Sebagaimana yang dijelaskan Charles dan
kawan-kawan (dalam Lyubomirsky, 2005) bahwa orang tua yang memiliki rasa
optimis akan lebih bahagia dalam menjalani hidupnya.
Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh para lansia untuk mendapatkan
happiness serta mengatasi masalah-masalah psikologis dalam hidupnya melalui
keberagamaan (religiusitas) yaitu mendekatkan diri kepada Tuhan. Selain itu,
religiusitas dapat memenuhi beberapa kebutuhan psikologis yang penting pada
lansia dalam hal menghadapi kematian, menemukan dan mempertahankan
perasaan berharga akan pentingnya kehidupan, dan menerima kekurangan di masa
tua (Daaleman, Perera, & Studenski, 2004; Fry, 1999; Koenig & Larson, 1998
Glock dan Stark (1968) mengartikan religiusitas yang berasal dari kata
religi yaitu sistem simbol, sistem keyakinan, sistem nilai, dan sistem perilaku
yang terlembagakan, yang semuanya berpusat pada persoalan-persoalan yang
dihayati sebagai sesuatu yang paling maknawi. Aspek-aspek religiusitas menurut
Glock dan Stark (1968) ialah keyakinan (the belief), peribadatan atau praktik
agama (religious practice), pengalaman (the experience), pengetahuan agama (the
knowledge), konsekuensi (the consequences).
Khalek (2006) menjelaskan bahwa tingkat religiusitas dan kebahagian
yang dimiliki antara pria dan wanita berbeda. Dimana pria merasa lebih bahagia
dan kesehatannya secara mental lebih baik dibandingkan wanita, sedangkan untuk
tingkat religiusitas lebih tinggi wanita dibandingkan pria. Koenig (dalam Khalek,
2006) juga menyatakan bahwa seseorang yang beriman serta tulus dalam
menjalankan ibadahnya sesuai dengan aturan agamanya maka ia akan lebih
menikmati dan kesehatannnya secara fisik dan psikis lebih baik.
Manfaat dari religiusitas secara psikologis bagi lansia adalah memberikan
keyakinan dan pikiran positif. Contohnya yaitu para lansia bisa menentukan
keputusan yang tepat bagi dirinya, mengontrol dirinya untuk berperilaku, mampu
memilih dengan baik apa yang seharusnya dilakukan, dapat mengalihkan stress ke
hal yang positif, dan lain-lain. Seperti yang dijelaskan David dan kawan-kawan
(2009) bahwa seseorang yang percaya pada Tuhan dapat mengurangi tingkat
keputusasaan, depresi, stress, kecemasan, serta bisa meningkatkan happiness,
kepuasan hidup, dan kesejahteraan pada dirinya.
Selain dengan agama, para lansia juga bisa mendapatkan happiness
ini melalui family support. Family support yang akan diteliti terdiri dari dari dua
macam yaitu dukungan yang berasal dari keluarga dan dari orang-orang terdekat,
dalam hal ini orang-orang terdekat yang dimaksud adalah petugas, perawat,
dokter, dan sesama lansia yang berada di panti dan sudah sudah dianggap seperti
keluarga sendiri oleh lansia tersebut. Pengertian family support itu sendiri
menurut Thompson (2006) adalah pemberian bantuan yang merupakan suatu
kewajiban untuk membantu anggota keluarga yang mengalami suatu masalah
yang bersifat sukarela dan sosial. Jenis-jenis family support menurut Thompson
(2006) adalah dukungan konkrit (concrete support), dukungan emosional
(emotional support), dukungan informatif (advice support), dukungan
penghargaan (esteem support).
Family support merupakan salah satu cara untuk menjaga hidup tetap
sehat dan bahagia khususnya para lansia. Selain itu, dengan adanyafamily support
bagi lansia membuat mereka lebih termotivasi dalam menjalani kehidupan
sehari-harinya, menghadapi suatu masalah, lebih optimis dan percaya diri dalam
melakukan kegiatan sehari-hari karena adanya perhatian dari anggota
keluarganya. Menurut Taylor (dalam Sharma, 2010), seseorang yang
mendapatkan dukungan dari keluarga dan teman-temannya lebih berani untuk
mengatasi stress yang mereka alami.
Bagi para lansia yang tinggal di panti werdha, family support yang
dibutuhkan adalah dukungan yang berasal dari orang-orang terdekatnya (perawat,
petugas sosial, dokter, dan antar lansia) terutama yang berada di panti. Dimana
mereka saling memberikan saran, nasehat, dan berbagi cerita satu sama lain.
dan tidak tinggal bersama. Adanya kunjungan dari keluarga untuk menjenguk
para lansia atau sekedar berkomunikasi lewat telepon merupakan bentuk perhatian
yang dapat memberikan kebahagiaan tersendiri bagi para lansia.
Family support dapat menciptakan suatu komunikasi yang lebih baik
antara satu sama lain, saling membantu dalam memmecahkan masalah dan
berbagi cerita antara satu sama lain. Menurut Boyles (2008), seseorang merasa
bahagia dikarenakan adanya family support dibandingkan dengan pendapatan
yang mereka dapatkan tiap tahunnya, karena dengan adanyafamily support dapat
membuat kualitas hubungan keluarga menjadi lebih baik.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik mengadakan penelitian di panti
werdha karena banyak lansia yang tinggal di sana dengan permasalahan yang
tidak dapat diselesaikan dengan baik sehingga menjadi stress, putus asa, depresi,
dan lain-lain. Selain itu, para lansia yang tinggal di panti jauh dari keluarganya,
karena mereka tidak sanggup mengurus, dan keadaan di panti jauh berbeda
dengan keadaan tempat tinggal mereka sebelumnya.
Berdasarkan fenomena-fenomena dan hasil penelitian yang telah
dipaparkan sebelumnya, peneliti ingin melihat lebih jauh bagaimana religiusitas
danfamily support dapat berpengaruh terhadap happinesskhususnya pada lansia
di panti werdha. Untuk itu, peneliti tertarik melakukan suatu penelitian yang
berjudul ”Pengaruh Religiusitas dan Family Support terhadap Happiness pada
1.2. Batasan dan Rumusan Masalah 1.2.1. Batasan Masalah
Untuk menghindari kesalahan persepsi dan lebih terarahnya pembahasan, maka penulis membatasi masalah yang akan diteliti yaitu sebagai berikut :
1. Happiness (kebahagiaan) yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kondisi dan kemampuan seseorang untuk merasakan emosi positif di masa lalu, masa
depan, dan sekarang. Aspek dari happiness itu sendiri kepuasan masa lalu,
kebahagiaan pada masa sekarang, dan optimis masa depan. Faktor-faktor yang
mempengaruhi happiness ialah uang, kehidupan sosial, emosi negatif,
perkawinan, jenis kelamin, kesehatan, usia, dan agama. (Seligman, 2002).
2. Religiusitas yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sistem simbol, sistem
keyakinan, sistem nilai, dan sistem perilaku yang terlembagakan, yang
semuanya berpusat pada persoalan-persoalan yang dihayati sebagai sesuatu
yang paling maknawi. Aspek-aspeknya ialah keyakinan (the belief),
peribadatan atau praktik agama (religious practice), pengalaman (the
experience), pengetahuan agama (the knowledge), konsekuensi (the
consequences) (Glock & Stark, 1968).
3. Family support yang dimaksud dalam penelitian ini adalah dukungan yang
berasal dari orang-orang terdekatnya (perawat, petugas sosial, dokter, dan antar
lansia di panti) terutama yang berada di panti. Dimana mereka saling
memberikan saran, nasehat, dan berbagi cerita satu sama lain. Dukungan dari
anggota keluarga juga dibutuhkan oleh para lansia walaupun keluarga mereka
menjenguk para lansia atau sekedar berkomunikasi lewat telepon merupakan
bentuk perhatian yang dapat memberikan kebahagiaan tersendiri bagi para
lansia. Jenis-jenis dukungan yang dapat diberikan berupa dukungan konkrit
(concrete support) yaitu menjaganya dan merawat para lansia ketika sakit,
memberikan bantuan materi berupa uang atau barang untuk kebutuhan
sehari-hari, menemaninya jika ingin pergi, dan lain-lain. Dukungan emosional
(emotional support) berupa empati maupun simpati ketika para lansia
menghadapi masalah, dukungan informatif (advice support)berupa saran atau
nasehat yang diberikan sebagai solusi dari suatu permasalahan. Dukungan
penghargaan (esteem support) dapat berupa rasa hormat atau menghargai atas
kemampuan atau jasa yang dilakukan oleh para lansia, melalui pujian maupun
tingkah laku. (Thompson, 2006).
4. Sampel dalam penelitian ini adalah lansia yang sehat berumur 60-75 tahun
(sesuai Undang-Undang No. 13 tahun 1998 mengenai kesejahteraan usia lanjut
bahwa batasan usia lansia di atas 60 tahun) baik pria maupun wanita (Khalek,
2006) yang tinggal di panti werdha binaan Dinas Sosial DKI Jakarta wilayah
Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.
1.2.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya, maka
rumusan
1. Apakah ada pengaruh keyakinan (the belief) religiusitas terhadap happiness
pada lansia di panti werdha binaan Dinas Sosial DKI Jakarta ?
2. Apakah ada pengaruh peribadatan atau praktik agama (religious practice)
religiusitas terhadaphappinesspada lansia di panti werdha binaan Dinas Sosial
DKI Jakarta ?
3. Apakah ada pengaruh pengalaman (the experience) religiusitas terhadap
happinesspada lansia di panti werdha binaan Dinas Sosial DKI Jakarta ?
4. Apakah ada pengaruh pengetahuan agama(the knowledge)religiusitas terhadap
happinesspada lansia di panti werdha binaan Dinas Sosial DKI Jakarta ?
5. Apakah ada pengaruh konsekuensi (the consequences) religiusitas terhadap
happinesspada lansia di panti werdha binaan Dinas Sosial DKI Jakarta ?
6. Apakah ada pengaruh dukungan konkrit (concrete support) family support
terhadap happiness pada lansia di panti werdha binaan Dinas Sosial DKI
Jakarta ?
7. Apakah ada pengaruh dukungan emosional (emotional support) family support
terhadap happiness pada lansia di panti werdha binaan Dinas Sosial DKI
Jakarta ?
8. Apakah ada pengaruh dukungan informatif (advice support) family support
terhadap happiness pada lansia di panti werdha binaan Dinas Sosial DKI
Jakarta ?
9. Apakah ada pengaruh dukungan penghargaan (esteem support) family support
terhadap happiness pada lansia di panti werdha binaan Dinas Sosial DKI
10. Apakah ada pengaruh jenis kelamin terhadap happiness pada lansia di panti
werdha binaan Dinas Sosial DKI Jakarta ?
1.3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah memperoleh gambaran pengaruh
religiusitas danfamily support terhadaphappinesspada lansia yang ada di
panti werdha binaan Dinas Sosial DKI Jakarta wilayah Jakarta Selatan dan
Jakarta Timur.
1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan yang berarti untuk
pengembangan ilmu psikologi terutama dalam bidang Psikologi Klinis dan
Psikologi Perkembangan. Dalam penelitian ini juga terdapat nuansa
keagamaan yaitu religiusitas yang ada pada lansia di panti werdha
sehingga dapat mengetahui seberapa jauh perkembangan keagamaan pada
lansia khususnya di panti werdha.
1.4.2. Manfaat Praktis
Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan untuk perencanaan
penyuluhan, seminar, dan informasi lainnya. Selain itu, menambah
informasi mengenai pentingnya religiusitas dan family support terhadap
happiness pada lansia, serta dapat memberikan saran bagi orang-orang
yang memerlukan bantuan terhadap keluarganya yang telah memasuki
periode dewasa akhir (lansia).
1.5. Sistematika Penulisan
Bab I : Pendahuluan
Menguraikan tentang latar belakang dilakukannya penelitian mengenai
pengaruh religiusitas danfamily supportterhadaphappinesspada lansia di
panti werdha, batasan masalah, perumusan masalah, tujuan dari penelitian
ini, manfaat penelitian, serta sistematika penulisan.
Bab II : Kajian Teori
Menguraikan dan menjelaskan beberapa teori yang digunakan dalam
penelitian ini diantaranya ialah penjelasan mengenai lansia, penjelasan
mengenai pengertian, aspek-aspek, serta faktor-faktor yang mempengaruhi
happiness. Pengertian, jenis-jenis, dan kualitas dari family support itu
sendiri. Pengertian, aspek-aspek serta faktor-faktor religiusitas, kerangka
berpikir, dan gambar bagannya serta hipotesis dari penelitian ini.
Bab III : Metode Penelitian
Pada bab ini berisi mengenai penguraian mengenai variabel-variabel
penelitian, pendekatan dan jenis penelitian yang digunakan, populasi,
penelitian, pengumpulan data, instrument pengumpulan data, serta teknik
pengolahan dan analisis data.
Bab IV : Analisa Data
Pada bab ini menguraikan mengenai pengolahan data yang terkumpul dari
penelitian ini. Data yang terkumpul meliputi gambaran umum subyek
penelitian, pengaruh religiusitas danfamily supportterhadaphappiness.
Bab V : Kesimpulan, Diskusi, dan Saran
Pada bagian kesimpulan berisi jawaban dari permasalahan yang
dikemukakan dalam penelitian ini. Kesimpulan dibuat berdasarkan analisis
dan interpretasi data yang telah dijabarkan pada bab sebelumnya. Pada
bagian diskusi akan dibahas hasil penelitian, selain itu juga akan diberikan
pembahasan mengapa suatu hipotesis penelitian ditolak atau diterima,
serta keterbatasan-keterbatasan penelitian. Bagian saran berisi saran-saran
teoritis untuk keperluan penelitian dan saran-saran praktis sesuai dengan
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Lansia
2.1.2. Pengertian Lansia
Lansia merupakan masa dewasa akhir yang dimulai pada usia 60-an
hingga 120-an, memiliki rentang kehidupan yang paling panjang dalam periode
perkembangan (Santrock, 2002). Menurut Papalia (2008) pada masa ini terjadi
penuaan primer yaitu proses kemunduran tubuh yang bersifat gradual dan tidak
terhindarkan sepanjang rentang usia. Selain itu juga terjadi penuaan sekunder
yaitu proses penuaan yang terjadi akibat penyakit atau tidak menjaga tubuh
dengan baik, yang sebenarnya dapat dicegah sebelum terjadi. (Busse, 1987; dalam
Papalia, 2008)
Di Indonesia batasan usia lansia menurut Undang-Undang No. 13 tahun
1998 tentang kesejahteraan lansia adalah 60 tahun ke atas. Sedangkan Santrock
(2002) membagi masa dewasa akhir dibagi menjadi 2 sub-periode yaituorang tua
muda (usia tua)dari 65-74 tahun danorang tua yang tua (usia tua akhir)75 tahun
ke atas.
Papalia (2008) membagi kelompok lansia menjadi 3 kelompok yaitu lansia
muda (young old) antara 65-74 tahun, lansia tua (old-old) berusia antara 75-84
tahun, sedangkan lansia tertua (oldest old) berusia 85 tahun ke atas. Akan tetapi
dilihat secara usia fungsional Papalia (2008) membedakannya menjadi 2 yaitu
Sedangkan lansia tua (old-old) dan lansia tertua (oldest old) adalah lansia yang
cenderung lemah, tidak bugar serta memiliki kesulitan dalam mengelola aktivitas
sehari-hari.
Dari penjelasan di atas, batasan usia lansia yang digunakan dalam
penelitian ini adalah lansia yang sehat berumur 60-75 tahun (sesuai
Undang-Undang No. 13 tahun 1998 mengenai kesejahteraan usia lanjut bahwa batasan usia
lansia di atas 60 tahun) baik pria maupun wanita, yang tinggal di panti werdha
binaan Kementerian Sosial wilayah Jakarta Selatan.
2.1.2. Perubahan-perubahan yang terjadi pada Lansia
Menurut Papalia (2008) perubahan-perubahan yang terjadi pada lansia
diantaranya ialah :
1. Perubahan Fisik
Perubahan fisik yang bisa dapat dilihat secara langsung adalah bagian luar
tubuh. Salah satunya kulit yang sudah menua terlihat memucat dan kurang
elastis, seiring dengan mengkerutnya lemak dan otot kulit tersebut dapat
menjadi mengkerut. Selain itu, rambut menjadi putih dan semakin tipis
disertai dengan rambut-rambut pada bagian tubuh lainnya makin jarang.
Banyak juga para lansia yang menjadi semakin kecil dan bungkuk
dikarenakan melemahnya tulangvertebrae.
Perubahan yang tidak terlalu tampak secara kasat mata yang terjadi pada
Otak dan Sistem Saraf
Setelah usia 30 tahun, otak akan kehilangan beratnya secara sedikit demi
sedikit, kemudian menjadi cepat. Pada usia 90 tahun, otak kehilangan 10
persen dari beratnya karena mengecilnya neuron (sel saraf) di cerebral
cortex. Ukuran neuron yang mengecil karena seiring bertambahnya usia
paling cepat terjadi pada frontal cortex, yang merupakan bagian penting
dari fungsi kognitif dan ingatan. Hal ini merupakan penyebab menurunnya
daya ingat pada lansia.
Fungsi Sensoris dan Psikomotoris
Kerusakan pada fungsi ini dan cenderung lebih parah terjadi pada
kelompok lansia tua (old-old). Kerusakan-kerusakan yang terjadinya
diantaranya adalah:
o Penglihatan menjadi terganggu dikarenakan hilangnya sensitivitas
penglihatanan sehingga menyebabkan kesulitan dalam membaca
sesuatu yang halus atau melihat cetakan yang amat halus. Selain itu,
dikarenakan berkurangnya cahaya yang masuk ke mata, lebih sensitif
terhadap kilauan, pemrosesan visual yang lambat sehingga reaksi dalam
melihat sesuatu menjadi lambat.
o Kerusakan lainnya terjadi pada pendengaran yang disebabkan oleh
presbycusis yaitu menurunnya kemampuan mendengar suara bernada
tinggi yang berkaitan dengan usia (O’Neil, 1999; dalam Papalia, 2008).
lain terutama jika ada suara lain yang berasal dari radio, televisi, atau
beberapa orang berbicara bersamaan. Penyebab lain menurunnya fungsi
pendengaran dikarenakan merokok, sebelumnya pernah terkena infeksi
telinga, keracunan bahan kimia dalam jangka waktu cukup lama, dan
lain-lain (Desai, 2001; dalam Papalia, 2008). Berkurangnya fungsi
pendengaran memberikan pengaruh secara psikologis pada lansia yaitu
adanya kesalahan persepsi sehingga mereka menjadi cepat marah,
mudah terganggu, absentminded (pelupa, linglung, melamun). Dalam
hal ini, pria lebih berpeluang besar menderita masalah pendengaran
dibandingkan wanita.
o Rasa dan bau, kehilangan kedua indra ini merupakan bagian normal
dari proses penuaan. Hal-hal lain yang dapat menyebabkan hilangnya
rasa dan bau adalah berbagai macam penyakit yang diderita,
obat-obatan, operasi bedah, atau keracunan materi-materi yang berada di
lingkungan sekitar. Ketika para lansia mengeluh mengenai makanan
mereka yang tidak terasa enak lagi biasanya terjadi karena ujung perasa
di lidah menjadi lebih sedikit atau penerima rasa di lidah tidak bekerja
dengan benar. Hal tersebut juga bisa disebabkan rusaknya struktur otak
di bagian olfactory bulb yaitu organ otak yang bertanggung jawab
terhadap penciuman dan bau (Schiffman, 1997; dalam Papalia, 2008).
Dalam hal ini, wanita lebih baik dalam mempertahankan indra perasa
dan pembaunya dibandingkan pria (Ship & Weiffenbach, 1993; dalam
o Kekuatan, daya tahan, dan keseimbangan. Kekuatan yang dimiliki
lansia sudah banyak jauh berkurang dibandingkan ketika mereka masih
muda. Sehingga kemampuannya terbatas dalam menjalani aktivitas
yang berkaitan dengan daya tahan tubuh dan untuk membawa beban
berat. Biasanya ketika mencapai usia 70 tahun, 10-20 % kekuatan akan
berkurang terutama pada otot tubuh bagian bawah. Hal tersebut
membuat para lansia cenderung lebih besar untuk jatuh dan patah
tulang. Selain itu, alasan lain mengapa lansia lebih rapuh dan mudah
jatuh, karena adanya penurunan sel reseptor yang memberikan
informasi kepada otak mengenai posisi tubuh dalam ruangan yang
dibutuhkan guna mempertahankan keseimbangan.
Fungsi Seksual
Perubahan seksual lebih terlihat pada pria, dimana pria membutuhkan
waktu lebih lama untuk ereksi dan ejakulasi serta membutuhkan stimulasi
manual yang lebih banyak. Bagi wanita sendiri, ketika memasuki usia
lanjut gairah seksual menjadi berkurang.
2. Kesehatan Fisik dan Mental
Ketika seseorang semakin tua, mereka cenderung atau berpotensi
mengalami masalah kesehatan yang berkaitan dengan ketidakberfungsian.
Dalam kasus lansia kondisi kronis (ketidakberdayaan fisik) dan kehilangan
kemampuan untuk menyembuhkan diri, sehingga penyakit atau cedera
yang mempengaruhi kesehatan fisik dan mental pada lansia, diantaranya
ialah :
Arthritis (Radang Sendi)
Arthritis atau paling sering disebut dengan radang sendi adalah kondisi
kesehatan kronis yang paling umum dialami oleh para lansia. Gangguan
ini menyebabkan rasa sakit dan ketidakmampuan untuk bergerak,
seringkali disertai dengan peradangan sendi. Bagian yang terparah dari
arthritis ini disebut dengan osteoarthritis atau penyakit degenaratif
sambungan sendi. Pada umumnya osteoarthritis mempengaruhi
sambungan weight bearingpada bagian pinggul dan lutut. Selain itu, juga
mempengaruhirheumatoid arthritis yang berakibat kesulitan bergerak dan
secara progresif menghancurkan jaringan sambungan.
Penyakit Alzheimer
Penyakit ini merupakan penyakit paling umum dan paling ditakuti di
kalangan lansia terutama di negara maju. Penyakit ini secara perlahan
merampas kecerdasan, kesadaran, bahkan kemampuan untuk
menggerakkan fungsi tubuh dan akhirnya membunuh si penderita.
Penyakit Alzheimer biasanya mulai pada usia 60-an dan risikonya
meningkat secara dramatis seiring dengan bertambahnya usia. Gejala awal
yang menonjol adalah ketidakmampuan mengingat peristiwa yang baru
saja terjadi atau menyerap informasi baru. Setelah itu, muncul
simtom-simtom seperti mudah marah, gelisah, depresi, delusi, delirium (gangguan
Akibatnya, memori jangka panjang, konsentrasi penilaian, orientasi, dan
kemampuan berbicara menjadi rusak. Selain itu, keterampilan yang
dimiliki hilang, tidak mengenali anggota keluarga, tidak dapat makan
kecuali dengan bantuan, tidak dapat mengontrol usus besar dan kandung
kemih, dan kehilangan kemampuan berjalan, duduk, serta menelan
makanan padat. Biasanya kematian akan muncul dalam delapan hingga
sepuluh tahun, setelah gejala penyakit tersebut muncul.
Depresi
Depresi yang maksud di sini adalah gangguan otak yang disebabkan
karena lansia merasa tertekan dan adanya penurunan baik secara fisik
maupun emosional. Depresi ini seringkali dianggap remeh karena
dianggap sebagai hal yang wajar dalam proses penuaan. Hal-hal lain yang
dapat memicu depresi yaitu kurangnya olahraga, terjadi peristiwa yang
membuat lansia menjadi tertekan, kesendirian, dan penggunaan
obat-obatan tertentu. Beberapa cara untuk mengatasi depresi ini dengan
dukungan yang kuat dari keluarga dan teman, psikoterapi perilaku
kognitif, terapi interpersonal, obat antiderpressant dapat mengembalikan
keseimbangan kimia dalam otak, dan terapielectroconvulsive(ECT) untuk
2.1.3. Lansia di Panti Werdha
Hampir di seluruh negara, para lansia yang tinggal di panti werdha(nursing
home) dari waktu ke waktu cenderung meningkat. Para lansia yang biasanya
tinggal di panti werdha dikarenakan mereka hidup sendirian, kurang berpartisipasi
di lingkungan sosialnya, ketidakmampuan fisik sehingga tidak bisa menjalani
aktivitas sehari-hari, dan lain-lainnya.
Banyak juga para lansia yang tinggal di panti werdha memiliki kehidupan
yang lebih baik dibandingkan sebelum tinggal di panti. Berdasarkan hasil
penelitian O’Connor dan Vallerand (dalam Papalia 2008), sekitar 129 penghuni
yang tinggal di panti werdha dengan tingkat perawatan cukup baik, merasa
memiliki harga diri yang tinggi, tingkat depresi lebih rendah, dan lebih puas akan
kebermaknaan dalam hidup .
Santrock (2002) membagi 3 jenis pelayanan yang disediakan oleh panti
werdha, yang pertama fasilitas perawatan yang terampil (skilled) merupakan
perawatan yang diperiksa dan diawasi oleh pemerintah. Kedua, perawatan
menengah (intermediate) atau biasa (ordinary) yaitu perawatan fasilitasnya di
bawah perawatan yang terampil (skilled). Ketiga, perawatan di rumah
(residential)yaitu perawatan yang standar-standar kualifikasinya kurang ketat dan
biayanya pun lebih murah dibandingkan perawatan yang terampil dan perawatan
menengah.
Panti werdha yang baik adalah panti yang memiliki staf professional yang
berpengalaman, memiliki program asuransi pemerintah yang memadai,
pelayanan. Selain itu, pihak panti juga menawarkan aktivitas yang bisa
merangsang para lansia untuk melakukannya secara bersama-sama baik pria
maupun wanita semua usia. Panti werdha yang baik juga menyediakan ruangan
tersendiri bagi para penghuninya jika mereka sedang dikunjungi oleh keluarganya,
serta menyediakan juga pelayanan sosial, terapi, dan rehabilitasi. (Papalia, 2008)
Panti werdha yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah panti yang
memiliki fasilitas perawatan yang terampil (skilled) (Santrock, 2002). Dimana
fasilitas, perawatan-perawatan yang dilakukan hingga petugasnya berasal dari
pemerintah yaitu melalui Dinas Sosial DKI Jakarta. Fasilitas-fasilitas yang ada di
panti werdha binaan Dinas Sosial DKI Jakarta cukup lengkap.
Sarana fisik yang ada di panti ini diantaranya ada poliklinik, dapur umum,
mushola, aula terbuka, sarana olahraga, ruangan keterampilan, ruangan isolasi,
dan lain-lain. Sedangkan untuk program kegiatan yang ada pun cukup bervariasi
diantaranya bimbingan rohani bagi agama Islam dan Kristen, olahraga dan senam
lansia, bimbingan keterampilan, pelayanan kesehatan, kesenian, rekreasi, dan
lain-lain. Selain itu, petugas-petugas yang ada di panti ini dibantu oleh
perawat-perawat yang merupakan mahasiswa dari perguruan tinggi baik swasta maupun
negri yang sedang praktek di panti tersebut.
Sarana-sarana yang ada di panti werdha binaan Dinas Sosial DKI Jakarta
ini jauh lebih baik dibandingkan dengan tempat tinggal para lansia sebelumnya.
Selain itu, di panti ini setiap harinya ada petugas dan para perawat yang
mengontrol para lansia setiap saat, melayani mereka ketika makan, mengajak
kesepian, mengadakan kegiatan-kegiatan seperti keterampilan atau olahraga agar
mereka bersemangat dan tidak bosan menjalani kehidupannya setiap hari karena
ada kegiatan yang mereka kerjakan. Hal-hal ini yang dapat membuat para lansia
menjadi betah, nyaman, dan merasa bahagia sehingga dapat mengurangi stress
atau depresi yang mereka rasakan.
2.2.Happiness
2.2.1. PengertianHappiness
Menurut Seligman (2002) happiness ialah kondisi dan kemampuan
seseorang untuk merasakan emosi positif di masa lalu, masa depan, dan sekarang.
Sedangkan menurut Diener dan kawan-kawan (dalam Carr, 2004) happiness dan
subjective well-being sebagai gabungan dari perasaan positif dan kepuasan hidup.
Menurut Diener dan kawan-kawan (dalam Carr, 2004) kebahagiaan merupakan
evaluasi seseorang terhadap kehidupan yang mereka alami, lebih spesifik lagi
kebahagiaan meliputi pengalaman yang menyenangkan seseorang dan
apresiasinya terhadap kehidupan.
Carr (2004) mengartikan happiness dan subjective well-being mengarah
pada perasaan positif yaitu sebagai perasaan bahagia atau ketenangan maupun
keadaan positif. Carlson (1984, dalam Manz, 2003) mendefinisikan happiness
adalah perasaan yang dialami sebagai bagian dari pembawaan fungsi psikologis
Dari pengertian di atas mengenai definisi happiness, maka penulis
memilih pengertian happiness menurut Seligman (2002) yang mengartikan
happiness sebagai kondisi dan kemampuan seseorang untuk merasakan emosi
positif di masa lalu, masa depan, dan sekarang
2.2.2. Aspek-aspekHappiness
Seligman (2002) membagi aspek-aspek happiness menjadi tiga aspek
yaitu:
1. Kepuasan Masa Lalu
Macam-macam emosi dari masa lalu seperti kelegaan, kedamaian,
kebanggaan, kepuasan, rasa kesal yang tak pernah hilang atau rasa marah yang
penuh dendam pada seseorang semuanya dipendam dalam memori. Emosi yang
selalu timbul pada diri seseorang faktor pemicunya adalah kenangan masa lalu
yang tersimpan pada memori masing-masing. Suatu interpretasi, kenangan, atau
pemikiran dapat mengintervensi dan mengendalikan apa yang dihasilkan emosi.
Hal ini merupakan suatu kunci untuk memahami perasaan kita sendiri mengenai
masa lalu.
Bagaimana individu membuang kenangan masa lalu yang menyakitkan
dan emosi negatif pada dirinya menurut Seligman (2002) dengan cara bersyukur,
memaafkan, melupakan atau menekan kenangan buruk. Akan tetapi, hingga saat
ini belum ditemukan cara untuk meningkatkan secara langsung proses melupakan
dan menekan kenangan (memori) buruk tersebut. Jika seseorang melakukan
dengan cara yang salah, kemungkinan kenangan buruk tersebut tidak hilang
malah sebaliknya akan selalu terbayang-bayang dalam pikirannya.
Jadi upaya yang efektif agar seseorang bisa terbebas dari masa lalu yang
kelam yaitu dengan cara memaafkan dan bersyukur. Memaafkan menurut
Seligman adalah suatu strategi membiarkan memori-memori itu tetap utuh dan
menghilangkan rasa kepedihan yang ada pada memori tersebut. Sedangkan
bersyukur dapat menambah kepuasan hidup karena dapat menambah intensitas
kesan dari kenangan yang baik tentang masa lalu.
2. Kebahagiaan pada Masa Sekarang
Kebahagiaan masa sekarang terdiri dari dua hal yang sangat berbeda yaitu
kenikmatan (pleasure) dan gratifikasi (gratification). Pertama, kenikmatan
adalah kesenangan yang memiliki komponen inderawi yang jelas dan komponen
emosi yang kuat, yang disebut oleh para filosof sebagai “perasaan-perasaan
dasar”(raw feels)seperti : ekstase, gairah, orgasme, rasa senang, riang, ceria, dan
nyaman. Semua perasaan ini bersifat sementara dan sedikit yang melibatkan
dengan pikiran atau bahkan tidak melibatkan pikiran sama sekali.
Kenikmatan (pleasure) dibagi menjadi dua, yang pertama kenikmatan
ragawi(bodily pleasure).Kesenangan jenis ini datang segera, melalui indera, dan
bersifat sementara. Kesenangan ini tidak membutuhkan atau hanya butuh sedikit
interpretasi, disebabkan oleh evolusi, organ-organ pengindra menjadi terkait
langsung dengan emosi positif, seperti : meraba, mengecap, membaui,
menggerakkan tubuh, melihat, dan mendengar secara langsung yang dapat
air susu ibu bagi seorang anak bayi dimana ia merasakan sensasinya. Sama
seperti anak kecil yang menyukai es krim, rasa es krim vanilanya yang membuat
ia merasakan sensasi dan si anak tersebut merasakan kesenangan pada saat
memakannya. Kenikmatan ragawi ini dapat memudar dengan cepat karena
rangsangan eksternalnya menghilang (air susu dan es krim vanila) dan setelah itu
kita dengan cepat dapat merasa terbiasa terhadap rangsangan tersebut.
Kedua, kenikmatan yang lebih tinggi (high pleasures). Kenikmatan ini
memiliki banyak persamaan dengan kenikmatan ragawi yaitu memiliki “perasaan
dasar” yang positif, bersifat sementara, cepat memudar, dan mudah terbiasa.
Namun, pada kenikmatan ini memerlukan rangsangan eksternal yang lebih besar
dan cukup rumit. Kenikmatan ini juga bersifat kognitif dan lebih banyak
variasinya dibandingkan kenikmatan ragawi.
Faktor lain yang mempengaruhi kebahagiaan pada masa sekarang selain
kenikmatan adalah gratifikasi. Gratifikasi berasal dari kegiatan-kegiatan yang
sangat disukai, tetapi tidak disertai oleh “perasaan dasar”. Gratifikasi lebih
bertahan lama dibandingkan kenikmatan dan lebih banyak berhubungan dengan
pemikiran serta interpretasi.
3. Optimisme akan Masa Depan
Emosi positif mengenai masa depan mencakup keyakinan (faith),
kepastian (confidence), harapan dan optimisme. Menurut Seligman, optimisme
dan harapan memberikan daya tahan yang lebih baik dalam menghadapi depresi
kerja terutama pada tugas-tugas yang menantang, dan kesehatan fisik dapat
menjadi lebih baik dengan adanya kedua hal ini.
Dalam konsep optimisme terdapat 2 aspek, yaitu permanen dan pervasif.
Pertama, permanen menjelaskan berapa lama seseorang terpengaruh terhadap
setiap kejadian yang mereka alami (masalah waktu). Pada aspek ini dibagi
menjadi dua bagian lagi yaitu tipe permanen (pesimistis) dan tipe temporer
(optimistis). Orang-orang yang termasuk ke dalam tipe permanen adalah
orang-orang yang percaya bahwa setiap kejadian yang mereka alami bersifat permanen
dan akan terus mempengaruhi sepanjang kehidupan mereka. Sedang orang-orang
dengan tipe temporer percaya bahwa setiap kejadian buruk yang terjadi baik sebab
akibatnya hanya bersifat sementara.
Kedua, pervasif yaitu mengenai masalah ruang, ruang disini maksudnya
ialah seberapa besar kondisi yang dialami oleh seseorang mempengaruhi
kehidupannya. Pada aspek ini sama seperti permanen dibagi menjadi dua bagian
pula yaitu universal dan spesifik. Seseorang dengan tipe universal ketika
mengalami suatu kejadian dalam hidupnya, hal tersebut akan mempengaruhinya
di segala aspek kehidupannya. Sedangkan seseorang dengan tipe spesifik pada
saat suatu masalah atau kejadian menimpa dirinya, hanya aspek tertentu saja yang
terpengaruh tidak keseluruhannya.
2.2.3. Faktor-faktor yang MempengaruhiHappiness
Faktor-faktor yang mempengaruhi happiness menurut Seligman (2002)
ialah :
Banyak data tentang pengaruh kekayaan dan kemiskinan terhadap
kebahagiaan. Pada tingkatan yang paling umum, terlihat uang
mempengaruhi kesejahteraan subjektif rata-rata orang yang tinggal di negara
kaya dengan orang-orang yang tinggal di negara miskin. Penilaian seseorang
terhadap uang akan mempengaruhi kebahagiaan dibandingkan uang itu
sendiri.
2. Perkawinan
Pusat Riset Opini Nasional Amerika Serikat mensurvei 35.000 warga
Amerika selama 30 tahun terakhir. Hasilnya, 40 % dari orang-orang yang
menikah mengatakan mereka “sangat bahagia” sedangkan hanya 24 % dari
orang yang tidak menikah, bercerai, berpisah, dan ditinggal mati
pasangannya yang mengatakan mereka bahagia. Kebahagiaan orang yang
menikah mempengaruhi panjangnya usia dan besarnya penghasilan, ini
berlaku baik pada pria maupun wanita.
3. Kehidupan Sosial
Orang yang sangat bahagia jauh berbeda dengan orang rata-rata dan orang
yang tidak bahagia, yaitu mereka menjalani kehidupan sosial yang kaya dan
memuaskan. Orang-orang yang sangat bahagia paling sedikit menghabiskan
waktu sendirian dan kebanyakan dari mereka bersosialisasi. Kemampuan
bersosialisasi meningkat pada orang yang sedang bahagia kemungkinan
sebenarnya merupakan temuan positif dari penyebab mengapa orang ingin
menikah.
Kegembiraan tertinggi terkadang datang setelah seseorang bebas dari
ketakutan terburuknya. Menurut Bradburn (dalam Seligman, 2002) orang
yang memiliki emosi negatif bukan berarti tidak memiliki kehidupan yang
bahagia. Sama halnya dengan seseorang yang memiliki emosi positif belum
tentu ia terhindar dari kesedihan. Wanita mengalami depresi dua kali lipat
dibandingkan pria dan umumnya mereka lebih banyak memiliki emosi
negatif. Tetapi, wanita juga cenderung lebih bahagia dan banyak mengalami
hal-hal yang bahagia dibandingkan pria. Hal ini menunjukkan bahwa emosi
negatif mempunyai kaitan dengan emosi positif, dalam hal ini adalah
kebahagiaan.
5. Usia
Kebahagiaan pada orang dewasa biasanya terdiri dari kepuasan hidup,
perasaan menyenangkan, dan perasaan tidak menyenangkan. Kepuasan
hidup sedikit meningkat sejalan dengan bertambahnya usia, perasaan
menyenangkan sedikit meningkat, dan perasaan negatif tidak berubah, yang
berubah ketika seseorang bertambah tua adalah intensitas emosinya.
Perasaan “mencapai puncak dunia” dan “terpuruk dalam keputusasaan”
menjadi berkurang seiring dengan bertambahnya usia dan pengalaman.
6. Kesehatan
Banyak orang yang mengira dengan kesehatan yang baik adalah salah satu
jalan menuju kebahagiaan karena kesehatan merupakan salah satu bagian
terpenting. Tetapi sebenarnya kesehatan yang objektif tidak terlalu berkaitan
kebahagiaan tergantung persepsi subjektif individu sendiri seberapa baik
(sehat) dirinya. Walaupun individu sedang mengalami sakit yang parah atau
kronis, tetapi jika persepsinya terhadap penyakit tersebut positif maka
kebahagiaan yang dirasakan tidak akan berkurang, mungkin sebaliknya akan
semakin bertingkat karena adanya penyakit tersebut.
7. Jenis Kelamin
Jenis kelamin memiliki hubungan yang mengherankan berkaitan dengan
suasana hati. Tingkat emosi pria dan wanita rata-rata tidak banyak berbeda,
yang membedakannya ialah wanita cenderung lebih bahagia, cepat merasa
sedih, dan lebih mudah terkena depresi dibandingkan dengan pria.
8. Agama
Menurut Seligman (2002), orang yang religius jelas lebih kecil
kemungkinannya untuk terlibat obat-obatan terlarang, melakukan kejahatan,
bercerai, dan bunuh diri. Mereka juga secara fisik lebih sehat dan berumur
panjang. Sebaliknya orang yang memiliki tingkat religiusitasnya rendah
takut terhadap perceraian, pengangguran, penyakit, dan kematian. Relevansi
langsung yang paling terlihat pada fakta bahwa data survei secara konsisten
menunjukkan bahwa orang-orang yang religius lebih bahagia dan lebih puas
terhadap kehidupan dibandingkan orang-orang yang tidak religius.
Hubungan yang kausal antara agama dan kebahagiaan yang lebih besar
terlihat dengan tingkat depresi yang rendah, dan kelenturan menghadapi
manusia dengan harapan akan masa depan dan menciptakan makna dalam
hidup.
2.2.4. PengukuranHappiness
Pengukuran happiness pada penelitian ini menggunakan teori Seligman
(2002) yang berdasarkan bukuAutentic Happiness. Aspek-aspekhappiness
yang diukur pada penelitian ini adalah kepuasan masa lalu, kebahagiaan
masa sekarang, dan optimis akan masa depan. Indikator yang digunakan
berdasarkan aspek-aspekhappinessyaitu :
Kepuasan masa lalu mencakup merasa puas terhadap suatu pencapaian, merasakan ketenangan dalam diri, mempunyai penilaian diri yang
positif, memaafkan kesalahan di masa lalu, dan mensyukuri apa yang
telah didapat.
Kebahagiaan masa sekarang mencakup menikmati kegiatan-kegiatan yang disukai dan merasakan kenikmatan inderawi.
Optimis akan masa depan mencakup percaya bahwa harapan akan tercapai, yakin bahwa setiap masalah baik masalah besar maupun kecil
dapat terselesaikan, mempunyai keyakinan bahwa hidup akan menjado
lebih baik, dan percaya diri terhadap kemampuan yang dimiliki.
2.3. Religiusitas
Anshori (1980) mengartikan religiusitas adalah aspek religi yang telah
dihayati seseorang dalam hati. Pengertian religiusitas menurut Nashori (2002)
adalah seberapa jauh pengetahuan, seberapa kokoh keyakinan, seberapa
pelaksanaan ibadah dan kaidah, seberapa dalam penghayatan atas agama yang
dianutnya.
Glock dan Stark (1968, dalam Nashori, 2002) mengartikan religiusitas
adalah sistem simbol, sistem keyakinan, sistem nilai, dan sistem perilaku yang
terlembagakan, yang semuanya berpusat pada persoalan-persoalan yang dihayati
sebagai sesuatu yang paling maknawi. Menurut Thouless (1995, dalam Jalaluddin,
2000) religius adalah sikap atau cara penyesuaian diri terhadap dunia yang
mencakup acuan yang menunjukan lingkungan yang lebih luas dari pada
lingkungan dunia fisik yang terkait ruang dan waktu.
Dari pengertian di atas, peneliti memilih pengertian religiusitas menurut
Glock dan Stark (1968, dalam Nashori, 2002) yang mengartikan religiusitas
adalah sistem simbol, sistem keyakinan, sistem nilai, dan sistem perilaku yang
terlembagakan, yang semuanya berpusat pada persoalan-persoalan yang dihayati
sebagai sesuatu yang paling maknawi.
Aspek-aspek religiusitas yang akan diukur dalam penelitian ini yaitu
menurut Glock dan Stark (1968). Aspek-aspek tersebut dibagi menjadi lima
aspek yaitu :
1. Keyakinan(the belief)
Keyakinan (the belief)adalah tingkatan sejauh mana seseorang berpegang
teguh, menerima, dan mengakui ajaran-ajaran dalam agamanya. Setiap
agama mempertahankan seperangkat kepercayaan di mana para penganut
diharapkan untuk taat.
2. Peribadatan atau praktik agama(religious belief)
Pada aspek ini melihat sejauh mana tingkatan seseorang dalam
menunaikan kewajiban-kewajiban ritual dalam agamanya. Aspek ini
mencakup perilaku pemujaan, ketaatan dalam menjalani kewajiban agama,
dan hal-hal yang menunjukkan komitmen terhadap agama yang dianutnya.
Peribadatan atau praktik agama terdiri dari dua hal yaitu ritual dan
ketaatan. Ritual mencakup kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan
agama, seperti menghadiri pengajian bagi umat Muslim, mengadakan
baptis dan sekolah minggu bagi umat Kristiani. Sedangkan ketaatan
mencakup hal-hal utama dan merupakan suatu kewajiban untuk
menjalankannya, seperti shalat, membaca Al-Qur’an atau alkitab,
menyanyikan puji-pujian, dan lain-lain.
Pengalaman (the experience) adalah perasaan keagamaan yang pernah
dialami dan dirasakan seperti merasa dekat dengan Tuhan, tenteram saat
berdoa, tersentuh mendengar atau membaca ayat-ayat kitab, merasa senang
doanya dikabulkan, dan lain-lain. Setiap agama memiliki penilaian yang
berbeda-beda dan biasanya bersifat subyektif dalam menilai feeling atau
penghayatan yang pernah dirasakan oleh tiap orang.
4. Pengetahuan agama(the knowledge)
Aspek ini melihat seberapa jauh seseorang mengetahui dan memahami
ajaran-ajaran agamanya yang terdiri dari dasar-dasar keyakinan, ritual atau
tradisi terutama yang ada dalam kitab suci, hadis, paritta, dan lain-lain.
5. Konsekuensi(the consequence)
Konsekuensi (the consequence) mengenai implikasi ajaran agama
mempengaruhi perilaku seseorang dalam kehidupan sosial. Selain itu,
mengacu pada identifikasi komitmen terhadap agama dari keyakinan
agama, praktik, pengalaman, dan pengetahuan yang dimiliki.
2.3.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Religiusitas
Thouless (1995) menyatakan ada 3 faktor yang mempengaruhi religiusitas,
diantaranya adalah :
1. Faktor Sosial
Faktor sosial berpengaruh terhadap keyakinan dan perilaku keagamaan,
berbagai macam pendapat hingga sikap dari orang-orang disekitar. Semua
hal tersebut mempengaruhi sikap keagamaan seseorang beserta dengan
tradisi yang diterimanya dari masa lampau. Hal ini terjadi, karena tidak ada
seorang pun yang dapat mengembangkan sikap-sikap keagamaan dengan
keadaan terisolasi dari lingkungan masyarakat.
2. Faktor Emosional
Setiap pemeluk agama memiliki pengalaman emosional dalam taraf tertentu
sesuai dengan agamanya. Namun ada beberapa orang yang pernah
merasakan pengalaman-pengalaman agama disertai dengan kekuatan dan
komitmen agama yang luar biasa sehingga berbeda dengan orang lain. Hal
ini terjadi karena beberapa orang menilai dirinya sendiri hanya terpengaruh
oleh persepsi yang bersifat visual sedangkan yang lainnya menganggap
hanya sebagai kesibukan biasa.
Pendapat orang-orang beragama umumnya membawa pengaruh penting bagi
kesadaran beragama, yaitu dorongan untuk taat sesuai dengan ajaran
agamanya, dan berperilaku baik terhadap sesama manusia. Nilai emosi dari
keagamaan itu sendiri harus dilihat dari keberhasilan seseorang dalam
mencapai tujuannya.
3. Faktor Intelektual
Faktor intelektual mencakup kemampuan berpikir dalam bentuk kata-kata
dan menggunakannya sebagai alat untuk membedakan mana yang benar atau
salah. Jika faktor intelektual berhasi digunakan sebagai alat tersebut, maka
keagamaan. Beberapa faktor seperti pengaruh lingkungan (sosial) dan
emosional tidak diverbalisasikan, namun keduanya dapat menjadi lebih kuat
jika menggunakan intelektual.
2.3.4. Pengukuran Religiusitas
Pengukuran religiusitas yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan
teori Glock dan Stark (1968) yang berdasarkan pada bukuAmerican Piety :
The Nature of Religious Commitment. Aspek-aspek yang diukur dalam
penelitian ada lima yaitu keyakinan (the belief), praktik agama (religious
practice), pengalaman (the experience), pengetahuan agama (the
knowledge), dan konsekuensi (the consequence). Untuk mengukur
religiusitas dibuat indikator-indikator berdasarkan kelima aspek di atas yaitu
:
Keyakinan (the belief) mencakup keyakinan terhadap Tuhan, mikjizat (keajaiban) dari Tuhan, kehidupan setelah kematian,
kepastian dan kepercayaan mengenai keyakinan.
Praktik agama (religious practice) mencakup menghadiri kegiatan agama, mengikuti siraman rohani dari media elektronik, ikut serta
dalam organisasi keagamaan, dan ibadah malam hari.
Pengetahuan(the knowledge)mencakup pengetahuan tentang ajaran dan dasar-dasar agama yang dianut dan pengetahuan terhadap isi
kitab suci.
Konsekuensi (the consequence) mencakup sabar, jujur, ikhlas, dan memaafkan.
2.4. Family Support
2.4.1. PengertianFamily Support
Family support merupakan unsur terpenting dalam membantu individu
menyelesaikan masalah. Apabila ada dukungan, rasa percaya diri akan bertambah
dan motivasi untuk menghadapi masalah yang terjadi akan meningkat (Tamher,
2009; dalam Furiyah, 2010). Menurut Friedman (1998, dalam Furiyah, 2010),
family support adalah pemberian bantuan berupa suatu perilaku, materi, atau
membina hubungan sosial yang baik (akrab) sehingga individu merasa
diperhatikan, bernilai, dan dicintai.
Sedangkan pengertian family support itu sendiri menurut Thompson
(2006) adalah pemberian bantuan yang merupakan suatu kewajiban untuk
membantu anggota keluarga yang mengalami suatu masalah yang bersifat
sukarela dan sosial. Gardner (2003, dalam Thompson, 2006) mengartikan family
support sebagai suatu pendekatan yang melibatkan dukungan dari anggota
Berdasarkan pengertian family supportdiatas, peneliti memilih pengertian
family support menurut Thompson (2006) yaitu pemberian bantuan yang
merupakan suatu kewajiban untuk membantu anggota keluarga yang mengalami
suatu masalah yang bersifat sukarela dan sosial. Dimana family support pada
penelitian ini tidak hanya mencakup anggota keluarga lansia saja tetapi juga
orang-orang panti (sesama lansia, petugas, perawat, dan dokter) yang merupakan
orang-orang terdekat lansia selama ada di panti.
2.4.2. Jenis-jenisFamily Support
Jenis-jenis family support yang akan diukur dalam penelitian ini yaitu
menurut Thompson (2006), yang membagi jenis-jenis family support menjadi
empat macam, yaitu :
Dukungan Konkrit(concrete support)
Bantuan yang terlihat secara real atau nyata yaitu berupa tingkah laku.
Bantuan ini dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja kepada anggota
keluarga yang membutuhkannya dukungan ini dapat berupa pemberian materi
yaitu uang untuk membantu memenuhi kehidupan lansia sehari-hari. Selain itu
dukungan konkrit yang dapat diberikan berupa dukungan non-materi yaitu
menjaga, merawat ketika sakit, menemai dan mengantar ketika akan keluar
rumah, dan lain-lain. Contohnya yang paling sering terjadi dalam kehidupan
sehari-hari, apabila ibu sedang pergi ke luar, maka kita sebagai kakak yang
berada di rumah yang menggantikan ibu untuk menjaga adik yang masih kecil
Dukungan Emosional(emotional support)
Dukungan yang berupa emosional untuk anggota keluarga yang
membutuhkannya. Dimana dukungan yang diberikan berupa empati atau
simpati pada anggota keluarga yang membutuhkannya yaitu dengan cara
selalu ada ketika mereka membutuhkannya. Jenis dukungan ini dapat
memberikan ketenangan dan kenyamanan, selain itu dukungan ini paling
mudah digunakan. Menurut Cutrana (1996, dalam Thompson, 2006)
dukungan ini juga merupakan salah satu alternatif yang baik, bermanfaat, dan
mempunyai pengaruh yang kuat.
Dukungan Informatif(advice support)
Dukungan ini berupa saran atau nasehat dan biasanya agak lebih rumit untuk
disampaikan kepada anggota keluarga yang membutuhkan. Jenis dukungan ini
dapat membuat seseorang akan merasa lebih nyaman dan merasa tenang
(Cotterell, 1996; dalam Thompson, 2006). Contohnya, jika ada salah satu
anggota keluarga yang terkena penyakit kanker, maka sebagai keluarganya
memberikan nasehat atau saran-saran positif yang dapat meyakinkan mereka
untuk tetap bertahan dan terus melakukan usaha yang terbaik. (Aymanns,
Sigrun and Klaur 1995; dalam Thompson, 2006)
Dukungan Penghargaan(esteem support)
Dukungan ini berupa pengakuan atas kemampuan atau keahlian yang dimiliki
oleh seseorang. Menurut Burleson (1990, dalam Thompson, 2006), bentuk
dukungan ini merupakan batu fondasi yang kuat dalam sebuah keluarga.
serta memotivasinya untuk menumbuhkan rasa percaya diri dan harga diri
dalam menghadapi masalahnya.
2.4.3. KualitasFamily Support
Menurut Thompson (2006), kualitas dalam family sup