• Tidak ada hasil yang ditemukan

Status Dan Peranan Perempuan Dalam Ajaran Gereja Katolik : Sebuah Analisis Perspektif Gender

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Status Dan Peranan Perempuan Dalam Ajaran Gereja Katolik : Sebuah Analisis Perspektif Gender"

Copied!
84
0
0

Teks penuh

(1)

STATUS DAN PERANAN PEREMPUAN

DALAM AJARAN GEREJA KATOLIK

(sebuah analisis perspektif gender)

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Theologi Islam (S. Th. I)

Oleh:

CHAERUNNISA NIM: 103032127684

JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

(2)

STATUS DAN PERANAN PEREMPUAN DALAM AJARAN GEREJA KATOLIK

(sebuah analisis perspektif gender)

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Theologi Islam (S. Th. I)

Oleh:

CHAERUNNISA NIM: 103032127684

Di Bawah Bimbingan

Dra. Ida Rosyidah, MA

NIP. 150 243 267

JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA

FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

(3)

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Mengawali segala hal dan paling awal dari segala ucapan adalah

pengungkapan kasih dan rasa syukur yang mendalam ke hadirat Ilahi Rabb al-Izzati

yang telah melimpahkan rahmat, karunia, taufik, serta kesehatan dan kekuatan

sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Shalawat serta salam tak lupa kita panjatkan kepada junjungan nabi kita

Muhammad SAW yang telah mengangkat derajat kita dari alam kegelapan dan

kejahiliyahan menuju alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan dan teknologi

seperti sekarang ini. Berkat perjuangan panjang beliau juga sampai saat ini kita masih

bisa berkelana dalam ilmu pengetahuan sambil merasakan manisnya iman dan

nikmatnya Islam.

Sebagaimana mestinya, bagi setiap mahasiswa yang akan menyelesaikan

perkuliahan dan mendapat gelar sarjana pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat,

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah diharuskan untuk menyusun sebuah

karya ilmiah dalam bentuk skripsi. Berkenaan dengan hal tersebut, penulis

mengangkat tema dalam skripsi ini adalah; Status dan Peranan Perempuan dalam Ajaran Gereja Katolik (sebuah analisis perspektif gender).

Dalam perjalanan panjang menyusun sebuah skripsi, penulis banyak

menemukan kendala, hambatan, dan rintangan, baik yang bersifat internal maupun

(4)

dapat merampungkan sebuah karya ilmiah dalam bentuk skripsi walaupun penulis

menyadari akan ketidaksempurnaan dalam penyusunan skripsi ini.

Dalam menyusun skripsi ini, penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai

pihak maka penulis berucap rasa terima kasih yang setulus-tulusnya kepada:

1. Bapak Dr. Amin Nurdin, MA, selaku Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat

2. Ibu. Dra. Ida Rosyidah, MA, selaku Ketua Program Studi Perbandingan

Agama sekaligus pembimbing skripsi yang telah meluangkan waktu untuk

memberikan bimbingan dalam menyelesaikan skripsi penulis.

3. Bapak Maulana, MA, selaku Sekretaris Program Studi Perbandingan Agama

yang telah meluangkan banyak waktu dan pikirannya untuk membantu

penulis dalam hal Akademis.

4. Para Dosen dan staf pengajar di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat.

5. Penulis juga banyak mengucapkan terima kasih kepada segenap pengurus

Perpustakaan Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, kepada Perpustakaan

Fakultas Ushuludin dan Filsafat, Perpustakaan STF DRIYARKARA,

Perpustakaan UNIKA ATMA JAYA, Perpumda DKI JAKARTA, Yayasan

Jurnal Perempuan, dan Pengurus dari Kapal Perempuan.

6. Selain itu, tak lupa penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada

Ayahanda dan Ibunda yang sangat penulis kagumi dan hormati, H. Abd.

Rokib (alm) dan Hj. Dumyati, karena cinta kasih, dan kesabarannya.

Mudah-mudahan Allah memberikan tempat yang istimewa buat kalian di Surga

(5)

senantiasa memberikan motivasi dan menyemangati penulis ketika merasa

pesimis dalam meyelesaikan skripsi ini yang selalu mengatakan “kapan

lulus”.

7. Buat Umi dan Aba terima kasih atas rasa sayang dan kasih yang diberikan

selayaknya orang tuaku sendiri. Mudah-mudahan Allah membalas segala

kebaikan kalian selama ini yang telah merawat dan menyayangi aku dari

kecil.

8. Buat para aktivis perempuan khususnya mba’Budhis Utami, mba’Endang,

mba’Yuli, dan mba’Ulfa teruskan perjuangan kalian aku sangat bangga telah

mengenal kalian. Terima kasih juga untuk kesusteran khususnya suster Yanti

yang telah bersedia memberikan banyak informasi mengenai skripsi penulis

dan pinjaman buku-bukunya.

9. Terima Kasih juga buat teman-teman seperjuangan di Perbandingan Agama

dan Fakultas Ushuluddin Angkatan 2003, khususnya buat friend’s aku Anul,

Maya, Teh Lany yang telah bersama-sama dalam kuliah dan kumpul-kumpul

di kosan. Thank’s for all. Kalian sahabat terbaik aku di kampus UIN Syarif

Hidayatullah.

Buat semua temen-teman yang tidak sempat penulis sebutkan namanya

satu-persatu, terima kasih atas segala bantuan baik moril maupun materil semoga menjadi

catatan baik di sisi Allah SWT dan mendapat balasan yang setimpal, AMIEN.

Jakarta, 22 september 2008

(6)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

KATA PENGANTAR... iii

DAFTAR ISI ... iv

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah... 5

C. Metode Pembahasan dan Tehnik Penulisan... 5

D. Sistematika Penulisan... 6

BAB II. KAJIAN TEORI ... 9

A. Pengertian Status dan Peran dalam Pendekatan Sosiologis ... 9

B. Pengertian Gender (teori nature dan teori nurture)... 12

b.1. Indikator Ketidakadilan Gender ... 15

a. Marginalisasi ... 15

b. Penempatan Perempuan Pada Subordinasi ... 17

c. Stereotipe... 18

d. Kekerasan ... 19

e. Beban Kerja (double burden) ... 20

(7)

a. Teori Psikoanalisis/Identifikasi ... 21

b. Teori Fungsionalis Struktural... 22

c. Teori Konflik ... 24

d. Teori Sosio-Biologis ... 26

C. Teori-teori Feminisme ... 27

a. Feminisme Liberal ... 27

b. Feminisme Marxis-Sosialis ... 29

c. Feminisme Radikal ... 30

BAB III. SEKILAS TENTANG AGAMA KATOLIK A. Sejarah Agama Katolik ... B. Pergerakan Perempuan dalam Agama Katolik di Barat ... C. Pergerakan Perempuan dalam Agama Katolik di Indonesia ... 33

BAB IV. STATUS DAN PERAN PEREMPUAN DALAM AGAMA KATOLIK DALAM PERDEBATAN... 38

A.Kesetaraan Gender dalam Perspektif Gereja Katolik ... 38

(8)

b.1.Status dan Peran Perempuan Dalam Kehidupan Keluarga

b.2. Status dan Peran Perempuan Dalam Kehidupan Publik

b.3. Status dan Peran Perempuan Dalam Kehidupan

SoSial keagamaan

D. Peran Teologi Feminis Katolik dalam Mensosialisasikan Ide tentang Status

dan Peran Perempuan dalam Perspektif Gender (sebuah analisis) ... 66

BAB V. PENUTUP... 71

Kesimpulan ... 71

(9)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Berawal dari Gerakan hak asasi semua warga (Civil Right Movement) pada

tahun tujuh puluhan di Amerika dimana seluruh lapisan masyarakat menuntut

persamaan hak antar manusia dalam seluruh aspek kehidupan. Disinilah muncul

teolog feminis sebagai satu gerakan yang mengkritik dan menuntut kedudukan

perempuan dalam agama dan Gereja. Hal ini disebabkan karena adanya ketidakadilan

sebagai wanita dari tradisi sosial-budaya yang telah diciptakan dan dipertahankan

oleh manusia itu sendiri untuk memperbudak sebagian sesama manusia khususnya

perempuan.

Setelah muncul semangat persamaan hak dan status dalam gereja bagi

perempuan, sebenarnya kesadaran feminis dalam teologi kristen dimulai oleh seorang

perempuan Mexico bernama Sorror Guana de la Cruz yang menulis teologinya,1

membaca tulisannya para uskup gereja marah dan membakar tulisannya bahkan

membunuh perempuan itu,2 namun catatan kecilnya berhasil diselamatkan dan

ditemukan hingga catatannya berkembang menjadi pencarian kebenaran otentik oleh

1

Penulis tidak menemukan tahun atau abad berapa beliau menulis teologinya.

2

(10)

para teolog feminis sekarang.

Perempuan selama ini dianggap sebagai penggoda, pembuat dosa, dan dianggap sebagai sumber dosa didunia, hal ini berdasarkan pada tradisi gereja Katolik yang berkiblat pada kitab suci dan kitab suci perjanjian baru sangat dipengaruhi oleh tradisi Yahudi dimana secara teologis sangat bersifat patriakhal. Bahwa kitab suci dianalisa secara kritis karena naskah ini menggunakan simbol dan gagasan patrialkal seperti sapaan Allah sebagai Bapa.3

Bila melihat Bible, peran utama perempuan adalah sebagai ibu yang melahirkan anak.4 Konsep ini kemudian dilestarikan dalam tradisi gereja oleh para pemimpin-pemimpin gereja, seperti Agustinus.5 Salah satu gagasannya adalah tentang etika seks. Agustinus memandang perempuan hanya sebagai pendamping laki-laki. Pada waktu perempuan terpisah dari laki-laki karena dosa, maka perempuan tidak dapat mewujudkan citra Allah, kalau pun bisa itu karena dibawah pimpinan laki-laki (hal ini menentukan perkembangan teolog tentang Allah Tritunggal Agustinus; Bapa, Putra, dan Roh Kudus) semua beridentitas laki-laki, refleksi teologi Agustinus amat sangat bersifat Patriarkhi.

Namun gereja Katolik mempunyai tradisi lain yaitu mengadakan refleksi iman untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Dalam Konsili vatikan II di tahun 1960, Paus Yohanes XXIII mengumumkan bahwa gereja Katolik semakin terbuka. Ruang untuk berdebat tentang isu-isu perempuan mulai terbuka

3

A. Heuken SJ, Ensiklopedi Gereja (Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarata:1994), h. 365

4

Lembaga Alkitab Indonesia, Perjanjian Baru: 2002,Kitab Ulangan 26:5

5

(11)

8

yang dikhususkan pada ketidakadilan gender.6 Dari keterbukaan ini lah, masalah gender dalam agama diperhatikan, usaha gereja Katolik untuk mengangkat perempuan adalah memunculkan tafsiran-tafsiran yang menunjukkan bahwa bunda Maria berperan aktif dalam pewartaan kasih Allah. Maria dijadikan gambaran Rasul dan sebagai perempuan beriman.7

Gereja mengangkat Maria, ibu Yesus memasukkannya pada tradisi Katolik. Dogma Maria berkembang menjadi Mariologi dan banyak orang memuji padanya, banyak berkat do’a terkabul atas perantaraan Maria, hingga teologi ini mempunyai dua pokok pembahasan yaitu; jalan penembusan dan Maria sebagai mediator dari semua rahmat.8

Perempuan dipandang rendah karena kegiatannya terikat dengan siklus haid sehingga kegiatan mereka selalu mengulang-ulang hal yang sama. Bahkan, peristiwa melahirkan dipandang sebagai kecelakaan yang menyebabkan perempuan tidak dapat bekerja. Penyebab utama dari semua ketidakadilan itu adalah doktrin dosa asal (legend of the fall), yaitu kisah dramatis kejatuhan manusia pertama yaitu Adam dan Hawa. Kejatuhan ini disebabkan oleh pelanggaran yang mereka buat terhadap larangan Tuhan. Pelanggaran pertama kali dilakukan oleh perempuan Hawa yang tergoda Iblis untuk memetik buah “pengetahuan yang baik dan yang buruk”. Pelanggaran Hawa yang pertama ini sebagai penyebab timbulnya perbedaan laki-laki dan perempuan dengan

6

Nunuk, p. Murniati, Getar-getar Gender Perempuan Indonesia dalam perspektif Agama, Budaya, dan Keluarga, vol.I, h. 33

7

Lembaga Alkitab Indonesia, Perjanjian Baru, Lihat Gal 4:4, Uk 1:46, Luk 1:26-28

8

(12)

9

meletakkan perempuan pada posisi yang inferior. Perbedaan itu selanjutnya berlaku dalam tata peribadatan dan perilaku sehari-hari.

Adapun pengertian Gender yang dimaksud disini berasal dari bahasa Inggris yang padanan katanya tidak ada dalam kamus Indonesia. Dalam Webstre’s New World Dictionary, gender diartikan sebagai “perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku”. Di dalam Women’s Studies Encyclopedia dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep kultiral yang berupaya membuat pembedaan dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat. Gender secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi sosial budaya. Dari berbagai definisi diatas dapat disimpulkan bahwa gender adalah suatu konsep yang digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari segi sosial budaya. Gender dalam arti ini mendefinisikan laki-laki dan perempuan dari sudut non biologis.9

Mengenai teori-teori gender, dalam buku Argumen Kesetaraan Gender karangan DR.Nasaruddin Umar terdapat beberapa teori yaitu; Teori Psikoanalisis/ Identifikasi, diperkenalkan oleh Sigmund Freud; Teori Fungsionalis Struktural yang diperkenalkan oleh Hillary M. Lips dan S.A. Shield. Lebih condong ke persoalan sosiologis sedangkan fungsionalis lebih condong ke persoalan psikologis; dan yang ketiga Teori Konflik yang banyak mendapat pengaruh

9

(13)

10

dengan teori Marx didalamnya.10 Perbedaan Gender tidak disebabkan oleh faktor biologis melainkan karena perbedaan kelas yang berkuasa antara proletar dan borjuis.

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

Agar dalam pembahasan skripsi ini tidak terlalu melebar, maka penulis hanya membatasi pembahasan pada sekitar Status dan Peran Perempuan dalam Ajaran Agama Katolik. Maka perumusan yang muncul untuk mengangkat tema skripsi ini adalah:

1. Bagaimana status dan peran perempuan dalam agama Katolik serta analisis praksis dalam kehidupan sehari-hari ?

2. Serta Bagaimana status dan peran perempuan dalam ajaran agama Katolik menurut perspektif gender ?

C. Metode Pembahasan dan Tehnik Penulisan

Untuk mengkaji permasalahan ini, penulis melakukan penelitian kepustakaan (Library Research) dengan mengumpulkan bahan-bahan dan data melalui sumber ilmiah seperti buku-buku, ensiklopedi, artikel, majalah, diktat, dan data-data tertulis lainnya. Studi kepustakaan ini penulis tempuh mengingat banyaknya bahan tentang permasalahan-permasalahan yang menarik dalam status dan peran wanita Kristen Katolik yang berkaitan dengan kajian dan penulisan skripsi ini.

10

(14)

11

Dalam metode pembahasan penulis menggunakan metode analisis deskriftif tentang status dan peran perempuan dalam ajaran agama Katolik melalui buku-buku yang ditulis oleh penganut ajaran agama Katolik, agar penulis dapat memahami betul dengan materi pembahasan yang penulis inginkan.Hal ini diambil sebagai langkah awal yang sangat penting guna penelitian dan telaah selanjutnya.

Adapun mengenai tehnik penulisan skripsi ini, penulis menggunakan acuan pada buku pedoman yang dikeluarkan oleh UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Pedoman Penulisan Skripsi, dan Disertasi (Jakarta: IAIN Jakarta Press 2003).

D. Sistematika Penulisan

Guna memudahkan penulisan skripsi ini, maka pembahasan ini dibagi dalam beberapa bab dengan perincian sebagai berikut:

BAB I: Pendahuluan; meliputi Latar Belakang Masalah, Pembatasan dan Perumusan Masalah, Metode Pembahasan dan Tehnik Penulisan, serta Sistematika Penulisan.

(15)

12

meliputi; (a. feminisme liberal, b. feminisme marxis-sosialis, dan c. feminisme radikal).

BAB III: Sekilas Tentang Agama Katolik; meliputi; Sejarah Katolik, Pergerakan Perempuan dalam Agama Katolik di Barat, dan Pergerakan Perempuan Katolik di Indonesia.

BAB IV: Status dan Peran Perempuan dalam Agama Katolik Dalam Perdebatan; meliputi; Kesetaraan Gender dalam Perspektif Gereja Katolik (kesetaraan dalam penciptaan, kesetaraan dalam pengabdian terhadap tuhan dan rasul, dan kesetaraan dalam perwujudan tuhan), Ketidaksetaraan Gender Dalam Agama Katolik, Status dan Peranan Perempuan dalam Agama Katolik yang meliputi; (a. status dan peran perempuan dalam kehidupan keluarga, b. status dan peran perempuan dalam kehidupan publik dan c. status dan peran perempuan dalam kehidupan social keagamaan), dan Peran Teologi Feminis Katolik dalam Mensosialisasikan Ide tentang Status dan Peran Perempuan dalam Perspektif Gender (sebuah analisis).

(16)

13

BAB II

KAJIAN TEORI

A. Pengertian Status dan Peranan dalam Teori-teori Sosiologi

Di dalam pergaulan hidup seseorang senantiasa berhubungan dengan pihak lain, biasanya setiap individu mempunyai kumpulan peranan tertentu. Pentingnya peranan menjadi jelas dengan definisi bahwa peranan adalah petunjuk kelakuan yang diatur menurut norma-norma yang berlaku.11 Maka hubungan sosial yang ada dalam masyarakat merupakan hubungan antara peranan individu yang berasal dari pola-pola pergaulan setempat.

Pentingnya peranan ada tiga macam, mengatur cara pergaulan, mengendalikan anggota masyarakat dalam proses menyesuaikan diri dengan norma-norma yang pantas dan meramalkan perbuatan dari orang lain dan peranan diri sendiri pada masa depan.

Status dan peranan merupakan satu kata yang saling berkaitan satu sama lain. Status mempunyai arti keadaan atau kedudukan seseorang atau suatu wadah bagi hak dan kewajiban serta posisi dari suatu hirarki dalam hubungannya dengan masyarakat sekitarnya.12

Jadi status adalah suatu posisi atau jabatan yang dimiliki seseorang untuk menunjukkan eksisitensinya, sehingga kiprah dan tindakannya selalu dikaitkan dengan kedudukan yang dimilikinya. Seseorang yang berstatus berarti orang yang

11

Soerjono Soekanto, Kamus Sosiologi (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1993),h. 318

12

(17)

berkedudukan. Baik dalam keluarga, lingkungan masyarakat, ataupun agama. Status itu sendiri erat sekali hubungannya dengan hak dan kewajiban tersebut yang merupakan konsekuensi dari status itu sendiri.13

Sementara peranan adalah ikut terlibat dalam persoalan-persoalan atau kegiatan dalam komunitas sosial yang ada pada lingkungan sekitarnya berdasarkan kapasitas yang dimiliki.14 Dalam kamus bahasa Indonesia, peranan bermakna seperangkat tingkat yang diharapkan dimiliki oleh yang berkedudukan dalam masyarakat. Peranan juga mempunyai arti melibatkan diri dalam perjuangan untuk mendapatkan status atau kedudukan tertentu.15 Tentunya dengan mengerjakan tugas yang harus dilaksanakan. Status dan peranan tidak hanya terbatas pada persoalan jenis kelamin, kedudukan, dan ras seseorang tetapi juga pada kedudukan hirarki seseorang. Para sosiolog lebih suka menggunakan istilah posisi dari pada status.

Kedudukan (status) juga bisa diartikan sebagai tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial yang berhubungan dengan orang lain dalam suatu kelompok sosial yang lebih besar lagi. Dalam buku M. Amin Nurdin yang berjudul mengerti sosiologi, status berarti posisi sosial seseorang pada kedudukan tertentu yang mendapat pengakuan sosial.16 Kedudukan dapat dibagi menjadi dua macam:17

13

Dr. M. Amin Nurdin dan Ahmad Abrori, Mengerti Sosiologi: pengantar untuk memahami konsep-konsep dasar (Jakarta: UIN Jakarta Press, cet.I, 2006), h.46

14

Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar (Jakarta: Rajawali Press, 1987), h.221

15

Zain Badudu, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996)

16

Dr. M. Amin Nurdin dan Ahmad Abrori, Mengerti Sosiologi: pengantar untuk memahami konsep-konsep dasar, h.46

17

Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, h. 222

(18)

I. Ascribed Status, yaitu kedudukan seseorang dalam masyarakat tanpa memperhatikan perbedaan rohaniah dan kemampuan. Dengan kata lain, suatu kedudukan tersebut diperoleh karena kelahiran atau yang diterima di luar kehendak dirinya, tidak ada kesempatan menerima atau menolak, dan tidak ada kesempatan memilih untuk status yang dianggapnya lebih baik. Misalnya seorang anak lahir dari bangsa India maka ia termasuk dalam keluarga India karena ayahnya keturunan India.18

II. Achieved Status, yaitu kedudukan yang dicapai seseorang dengan melakukan usaha-usaha yang disengaja dan status itu menjadi ukuran kemampuan dan pilihan hidup dirinya. Kedudukan ini tidak didasari oleh kelahiran tetapi bersifat terbuka dan mempunyai kemampuan untuk mengejar dan mencapai tujuannya.19

Ada satu macam kedudukan lagi yaitu assigned status yang artinya kedudukan yang diberikan, memberikan kedudukan yang lebih tinggi kepada seseorang yang berjasa, yang telah memperjuangkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan masyarakat. Biasanya kedudukan tersebut diberikan kepada seseorang yang telah lama menduduki suatu jabatan.20

Sedangkan peranan (role) merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan (status). Apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya maka dia menjalankan suatu peranan. Status dan peranan

18

Paul.B.Horton dan Chester.L.Hunt, Sociology, h. 118

19

Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar ,h. 224

20

David Berry, Pokok-pokok Pikiran Dalam Sosiologi (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1995),h. 99

(19)

merupakan satu kata yang tidak dapat dipisahkan, tidak ada peranan tanpa status atau status tanpa peranan. Suatu peranan paling tidak mencakup 3 hal; pertama, peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat. Kedua, peranan adalah suatu konsep perihal apa yang dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi. Ketiga, perenan juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat.21Bila individu mencapai kedudukan tertentu maka mereka merasa bahwa kedudukan menimbulkan harapan tertentu dari orang-orang disekitarnya. Dalam peranan seseorang diharapkan menjalankan segala kewajiban yang berhubungan dengan peranan yang dipegangnya. Jadi peranan adalah seperangkat harapan yang dikenakan pada individu yang menempati kedudukan sosial tertentu

B. Pengertian Gender

Kata gender berasal dari bahasa Inggris “Gender” yang padanan katanya tidak ada di kamus Indonesia. Dalam Webster’s New World Dictionary, gender diartikan sebagai “perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku. Di dalam Women’s Studies Encyclopedia dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep kultural yang berupaya membuat pembedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat.22

21

Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar , h.223

22

Untuk mengetahui perbedaan peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional, akan digunakan beberapa contoh sifat sebagai berikut:

(20)

Menurut bahasa, gender juga dapat diartikan kelompok kata yang mempunyai sifat maskulin, feminin, atau tidak keduanya, netral.23

Beberapa contoh perbedaan yang menonjol pada laki-laki dan perempuan ditunjukkan dalam table berikut:24

NO Perbedaan yang menonjol dalam hal:

Laki-laki Perempuan

1. Peran sosial Lebih maskulin Publik

Pusat Studi Wanita UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Pengantar Kajian Gender , h.61

(21)

Gender diartikan sebagai interpretasi mental dan kultural terhadap perbedaan kelamin yakni laki-laki dan perempuan. Gender biasanya digunakan untuk menunjukkan pembagian kerja yang dianggap tepat bagi laki-laki dan perempuan. Kenyataan biologis yang membedakan dua jenis kelamin ini telah melahirkan dua teori besar yaitu teori nature dan teori nurture.25

Teori nature menganggap perbedaan peranan laki-laki dan perempuan bersifat kodrati (nature). Anatomi biologi laki-laki yang berbeda dengan perempuan menjadi faktor utama dalam penentuan peran sosial kedua jenis kelamin ini. Laki-laki memerankan peran utama di dalam masyarakat karena dianggap lebih potensial, lebih kuat, dan lebih produktif. Organ reproduksi dinilai membatasi ruang gerak perempuan seperti hamil, melahirkan, dan menyusui sementara laki-laki tidak mempunyai fungsi reproduksi tersebut.

Teori nurture beranggapan bahwa perbedaan relasi gender laki-laki dan perempuan tidak ditentukan oleh faktor biologis melainkan konstruksi masyarakat. Menurut penganut faham nurture, sesungguhnya bukanlah kehendak Tuhan dan tidak juga sebagai produk determinasi biologis melainkan sebagai produk konstruksi sosial (sosial construction). Banyak nilai-nilai bias gender yang terjadi di dalam masyarakat dianggap disebabkan oleh faktor biologis tetapi sesungguhnya tidak lain adalah konstruksi budaya.

Dalam kaitannya dengan jenis kelamin, masih terjadi perdebatan tentang perbedaan psikologis antara perempuan dan laki-laki. Penganut teori nature yang ekstrem beranggapan bahwa perbedaan psikologis antara dua insan tersebut

25

Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an, cet.II, h. xxi

(22)

disebabkan perbedaan biologis saja. Sedangkan pengikut teori nurture beranggapan, perbedaan psikologis antara perempuan dan laki-laki disebabkan oleh proses belajar dari lingkungan.26

Gender secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi sosial-budaya. gender lebih banyak berkonsentrasi kepada aspek sosial, psikologis, dan aspek-aspek non biologis lainnya. Penggunaan istilah gender dalam arti tersebut sebenarnya belum terlalu lama. Menurut Showalter wacana gender mulai ramai di awal tahun 1977, ketika sekelompok feminis di London tidak lagi memakai isu-isu lama seperti patriarchal atau sexist, tetapi menggantinya dengan wacana gender (gender discourse).27 1. Indikator ketidakadilan gender.

Adanya ketidakadilan gender menurut Mansour Fakih disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:28

a. Marginalisasi

Manusia diciptakan sebagai laki-laki dan perempuan dan sejauh yang kita ketahui, bahwa kaum laki-laki menentukan pola masyarakat dan kaum perempuan dinomorduakan. Ada saat kekuasaan laki-laki tampak menonjol dan ada pula saat laki-laki menjadi lembut namun kekuasaannya senantiasa terasa. Dominasi kaum laki-laki atas kaum perempuan pada umumnya dibenarkan oleh paham kodrat. Menurut paham ini, kodrat

26

Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an, cet.II, h.xxi

27

Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an, cet.II, h.34

28

Dr. Mansour Fakih, Analisis Gender dan Transformasi Sosial (Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 1996), h. 13

(23)

laki adalah kuat, pemberani, rasional, produktif, menghasilkan kekayaan, dan menciptakan budaya. Sedangkan kodrat perempuan adalah lemah lembut penakut, perasa, reproduktif, dan meneruskan keterampilan lama dan suka dipimpin. Dengan demikian, kaum laki-laki bertugas dalam masyarakat luas sementara kaum perempuan bertugas di rumah dan sekitarnya. Kodrat ini merupakan naluri sesuai dengan penerapan Ilahi.29 Proses marginalisasi mengakibatkan kemiskinan, yang tidak hanya menimpa laki-laki tapi juga perempuan yang disebabkan oleh bencana alam, penggusuran, dan proses eksploitasi.30 Namun ada satu bentuk kemiskinan yang mengatasnamakan gender dalam hal ini yang dirugikan adalah perempuan, misalnya dalam kebijakan pemerintah, keyakinan, tafsiran agama, keyakinan tradisi, dan kebiasaan bahkan ilmu pengetahuan. Sebagai contoh, apabila terjadi perceraian dari pihak wanita maka wanitalah yang harus membayar.

Marginalisasi perempuan tidak saja terjadi ditempat pekerjaan, juga terjadi dalam rumah tangga, masyarakat, kebudayaan, bahkan Negara. Marginalisasi terhadap perempuan sudah terjadi sejak di rumahtangga dalam bentuk diskriminasi atas anggota keluarga baik laki-laki maupun perempuan.

Marginalisasi juga terdapat dalam tarsiran agama dan adat istiadat. Misalnya banyak diantara suku-suku di Indonesia yang tidak memberikan

29

Marie Claire Barth, Hati Allah Bagaikan Hati Seorang Ibu: pengantar teologi feminis (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), h.3

30

(24)

hak kepada kaum perempuan untuk mendapatkan hak waris sedangkan tafsiran agama juga memberi hak waris setengah pada perempuan dari pada laki-laki yang mendapatkan hak waris penuh.

Pandangan ini dibenarkan oleh filsafat klasik baik di Barat maupun di Timur. Demikian Aristoteles menulis: Alangkah layak dan tepat bahwa tubuh dipimpin oleh jiwa dan perasaan oleh pemikiran yang berakal;31 seandainya keduanya sejajar bahkan jika tatanannya terbalik maka pasti akan menimbulkan kecelakaan. Menyangkut kelamin pun laki-laki lebih tinggi secara naluri dan perempuan lebih rendah; laki-laki memerintah dan perempuan diperintah. Demikian pula dengan filsafat Tionghoa, Yang (maskulin) dihubungkan dengan dunia atas dan Yin (feminin) dengan dunia bawah. Dengan demikian laki-laki memerintah perempuan dan tatanan ini ditekankan dalam ajaran Konghucu.

b. Penempatan Perempuan Pada Subordinasi.

Dalil bahwa manusia sejati adalah laki-laki menyebabkan munculnya kecenderungan untuk menilai perempuan dari sudut pandang laki-laki dengan menekankan kekurangan-kekurangannya dibandingkan dengan laki-laki. Akibatnya hanya laki-laki saja yang dianggap sebagai manusia sejati sementara perempuan hanyalah pelengkap.32

Dalam pandangannya tentang gender, perempuan mengalami subordinasi. Perempuan dianggap irrasional atau mudah marah, sehingga perempuan tidak bias untuk memimpin yang mengakibatkan perempuan ditempatkan pada posisi yang

31

Marie Claire Barth, Hati Allah Bagaikan Hati Seorang Ibu: pengantar teologi feminis, h.4

32

Marie Claire Barth, Hati Allah Bagaikan Hati Seorang Ibu: pengantar teologi feminis, h.6

(25)

tidak penting. Subordinasi gender terjadi dalam segala bentuk yang berbeda dari tempat ke tempat dan dari waktu ke waktu.

Misalnya pada perempuan Jawa, mereka tidak boleh bersekolah sampai tinggi-tinggi karena ada anggapan bahwa perempuan seharusnya berada didapur untuk mengurusi segala keperluan rumah tangga tidak perlu bekerja di luar rumah. Istri yang hendak tugas belajar ke luar negeri harus seizin suami, dan apabila keuangan keluarga kurang memadai maka yang menjadi prioritas untuk bersekolah adalah anak laki-laki. Praktek seperti itu sesungguhnya berangkat dari kesadaran gender yang tidak adil.

c. Stereotipe.

Stereotipe dapat diartikan sebagai suatu pelebelan atau penandaan terhadap suatu kelompok tertentu. Stereotipe itu sangat merugikan dan tidak jarang banyak menimbulkan ketidakadilan. Stereotipe juga banyak diberikan kepada suku bangsa tertentu, misalnya pada Yahudi di Barat, dan Cina di Asia yang telah merugikan suku bangasa tersebut.

Stereotipe yang terjadi atas pandangan mengenai gender yaitu perbedaan atas jenis kelamin tertentu. Pada umumnya terjadi pada perempuan melalui penandaan atau pelebelan yang dilekatkan kepada mereka. Misalnya anggapan bahwa perempuan suka bersolek dalam rangka memancing perhatian lawan jenisnya, maka setiap ada kasus kekerasan atau pelecehan seksual selalu dikaitkan dengan stereotipe semacam ini.

Kasus pemerkosaan yang banyak terjadi pada perempuan maka perempuanlah yang dinggap menjadi peyebabnya. Stereotipe terhadap kaum

(26)

perempuan terjadi dimana-mana. Banyak peraturan pemerintah, aturan agama, budaya, dan kebiasaan masyarakat yang berkembang berdasarkan stereotipe semacam ini.

d. Kekerasan.

Kekerasan atau violence adalah serangan atau invasi terhadap fisik maupun mental psikologis seseorang. Kekerasan terhadap manusia biasanya berasal dari berbagai sumber, salah satunya yang disebabkan oleh perbedaan jenis kelamin.

Bentuk kekerasan yang terjadi dalam masyarakat diantaranya;

1. Pemerkosaan terhadap perempuan, termasuk pemerkosaan dalam perkawinan. Perkosaan terjadi jika seseorang melakukan paksaan untuk mendapatkan pelayanan seksual tanpa kerelaan yang bersangkutan.

2. Tindakan pemukulan dan serangan fisik yang terjadi dalam rumah tangga termasuk penyiksaan terhadap anak-anak.

3. Bentuk penyiksaan yang mengarah kepada organ kelamin. Misalnya penyunatan terhadap anak perempuan.

4. Kekerasan dalam bentuk pelacuran (prostitusi). Seorang pelacur dianggap rendah oleh masyarakat tetapi tempat pusat kegiatan mereka selalu ramai dikunjungi orang.

5. Kekerasan dalam bentuk pornografi. Pelecehan terhadap kaum perempuan dimana tubuh perempuan dijadikan obyek demi keuntungan seseorang. 6. Kekerasan dalam bentuk sterilisasi Keluarga Berencana. Perempuan

(27)

tidak saja pada perempuan tetapi berasal dari kaum laki-laki juga. Sterilisasi membahayakan bagi perempuan baik fisik maupun jiwa mereka. 7. Kekerasan dalam bentuk yang terselubung (Molestation). Kekerasan dengan cara memegang atau menyentuh bagian tertentu dari tubuh perempuan dengan berbagai cara dan kesempatan tanpa kerelaan si pemilik tubuh. Biasanya terjadi di tempat pekerjaan ataupun di tempat umum seperti di dalam bus.33

e. Beban Ganda (double burden).

Pada dasarnya kaum perempuan memiliki sifat memelihara dan rajin, sehingga dianggap tidak cocok untuk menjadi kepala rumah tangga. Segala pekerjaan domestik menjadi tanggung jawab perempuan.

Perbedaan gender juga berakibat pada beban kerja yang dipikul oleh kaum perempuan. Masyarakat memandang bahwa semua pekerjaan domestik sebagai jenis pekerjaan perempuan dianggap dan dinilai lebih rendah dibandingkan dengan pekerjaan yang dianggap sebagai jenis pekerjaan laki-laki, dan dikategorikan sebagai bukan produktif sehingga tidak diperhitungkan dalam statistic ekonomi Negara.

Bagi golongan kelas menengah dan orang kaya beban kerja domestik dalam rumah tangga selalu dilimpahkan kepada pembantu rumah tangga “domestic workers”. Mereka telah menjadi korban bias gender di masyarakat. Rumah tangga juga menjadi tempat kritis dalam mensosialisasikan ketidakadilan gender.

33

Dr. Mansour Fakih, Analisis Gender dan Transformasi Sosial, h.17

(28)

Yang paling akhir dan sulit dirubah adalah ketidakadilan gender tersebut telah mengakar didalam keyakinan dan menjadi ideologi kaum perempuan maupun laki-laki.

2. Berbagai Pendekatan Dalam Teori Gender.

Untuk lebih membahas persoalan mengenai persamaan dan perbedaan peran gender dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan, antara lain;

1. Teori Psikoanalisis/Identifikasi

Tokoh utama dari teori ini adalah Sigmund Freud antara tahun 1856-1939. Teori ini menjelaskan bahwa perilaku dan kepribadian laki-laki dan perempuan sejak awal ditentukan oleh perkembangan seksualitas. Menurut Freud, kepribadian seseorang tersusun atas tiga tingkatan yaitu Id, Ego, dan Superego.34

Pertama Id, yang berarti pembawaan sifat fisik-biologis seseorang sejak lahir termasuk nafsu seksual, dan insting yang selalu cenderung agresif, diluar sistem rasional dan senantiasa mencari kesenangan dan kepuasan biologis. Kedua Ego, yang berarti menjinakkan keinginan agresif dari id. Ego senantiasa mengatur hubungan antara antara keinginan subjektif individual dengan tuntutan objektif realitas sosial. Dengan kata lain, ego merupakan suara hati yang menuntut seseorang untuk memilih mana yangbterbaik untuk dirinya, penyeimbang antara keinginan dengan realitas yang ada. Ketiga Superego, yang berarti aspek moral dalam kepribadian seseorang, superego berupaya untuk mewujudkan kesempurnaan dalam hidup seseorang, ia bukan sekedar mencari kepuasan dan kesenangan hidup tetapi ia juga meingatkan ego agar selalu menjalankan

34

Dr. Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an, cet.II, h. 46

(29)

fungsinya mengontrol id.

Individu yang normal menurut Freud, adalah ketika ketiga struktur tersebut bekerja secara proporsional. Kalau satu diantaranya lebih dominan maka pribadi yang bersangkutan mengalami masalah. Jika struktur id lebih menonjol maka diri yang bersangkutan cenderung hedonistis. Sebaliknya, jika superego lebih menonjol maka yang bersangkutan sulit mengalami perkembangan, karena selalu dibayangi rasa takut dan lebih banyak berhadapan dengan dirinya sendiri.35 II. Teori Fungsionalis Struktural

Tokoh utama teori ini belum diketahui tetapi teorinya menjelaskan bahwa suatu masyarakat terdiri dari beberapa bagian yang saling mempengaruhi, mencari unsur-unsur yang mendasar, serta mengidentifikasi fungsinya dari setiap unsur kemudian menerangkan kepada masyarakat fungi unsur-unsur tersebut.36

Beberapa ahli berbicara tentang teori ini, seperti Hillary M. Lips dan S.A. Shield mereka membedakan antara teori fungsionalis dengan teori strukturalis. Menurut mereka fungsionalis lebih condong kepada persoalan psikologis sedangkan strukturalis lebih condong kepada sosiologis.

Para penganut teori ini berpendapat bahwa teori struktural-fungsional tetap relevan diterapkan dalam masyarakat modern. Talcott Parsons dan Bales, dua tokoh yang sering dikaitkan dengan teori structural fungsional, mereka menilai bahwa pembagian peran secara seksual adalah sesuatu yang wajar. Teori fungsionalisme berupaya menjelaskan bagaimana sistem itu senantiasa berfungsi

35

Dr. Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an, cet.II, h.50

36

(30)

untuk mewujudkan keseimbangan di dalam suatu masyarakat. Keseimbangan itu dapat terwujud bila tradisi peran gender senantiasa mengacu pada posisi semula. Dengan kata lain kerancuan peran gender menjadi unsur penting dalam suatu perceraian.37

Berbicara mengenai gender, penganut aliran fungsionalis-struktural berpendapat bahwa pembagian peran dan fungsi masing-masing antara laki-laki dan perempuan secara adil untuk mewujudkan keharmonisan dua jenis kelamin yang berbeda. Ilmuwan yang berjasa mengembangkan teori ini adalah August Comte (1798-1857). Menurut Comte, altruisme38 yang melekat pada perempuan jauh lebih tinggi dari pada intelektual dan egoisme yang dimiliki laki-laki. Ia melihat fenomena ini dari sosok Bunda Maria.

Para sosiolog ternama seperti William F. Ogburn ia mengembangkan teori structural-fungsional dalam keluarga pada abad ke-20. Ia mengatakan keragaman peran dan fungsi dalam struktur keluarga, bermuara pada satu tujuan yang sama. Misalnya ayah berperan sebagai kepala keluarga dan berfungsi pencari nafkah sedangkan ibu sebagai manajer rumah tangga, dan berfungsi mengatur dan melaksanakan tugas-tugas kerumahtanggaan. Anak laki-laki mengikuti peran yang dekat dengan ayah sedangkan anak perempuan mencontoh aktivitas sosial ibu.39

Menurut teori Struktural-Fungsional pembagian peran seperti sangatlah penting agar semua stuktur dalam keluarga berfungsi menurut peran yang

37

Margareth M. Poloma, Sosiologi Kontemporer. Cet.4 (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1994), h.168

38

orang yang menyediakan diri untuk menolong orang lain tanpa mementingkan diri.

39

Robert M.Z.Lawang, Teori Sosiologi Klasik dan Modern. (Jakarta: PT Gramedia, 1988), h. 76

(31)

diembannya. Penyimpangan fungsi yang terjadi dalam struktur keluarga akan mengakibatkan kekacauan dalam rumah tangga.

III.Teori Konflik

Tokoh utama dari teori konflik40 adalah Friedrich Engels. Teori ini banyak mendapat pengaruh dari teori marx yang beranggapan bahwa dalam susunan suatu masyarakat terdapat bebarapa kelas yang saling memperebutkan pengaruh dan kekuasaan. Siapa yang memiliki dan menguasai sumber-sumber produksi dan distribusi merekalah yang memiliki peluang untuk memainkan peran utama di dalamnya.

Friedrich Engels mengemukakan suatu gagasan menarik bahwa perbedaan dan ketimpangan gender antara laki-laki dan perempuan, tidak disebabkan oleh perbedaan biologis, tetapi merupakan bagian dari penindasan dari kelas yang berkuasa dalam relasi produksi yang diterapkan dalam konsep keluarga. Hubungan suami-istri tidak ubahnya dengan hubungan proletar dan borjuis, hamba dan tuan, pemeras dan yang diperas. Dengan kata lain ketimpangan peran gender dalam masyarakat bukan karena faktor biologis atau pemberian Tuhan (divine creation), tetapi konstruksi masyarakat (sosial construction).

Menurut Marxisme dalam kapitalisme, penindasan perempuan diperlukan karena mendatangkan keuntungan. Pertama, eksploitasi perempuan di dalam rumahtangga akan membuat buruh laki-laki di pabrik lebih produktif. Kedua, perempuan juga berperan dalam reproduksi buruh murah, sehingga

40

Konflik tidak hanya terjadi karena perjuangan kelas dan ketegangan antara pemilik dan pekerja, tetapi juga disebabkan oleh beberapa factor lain, termasuk ketegangan orang tua dan anak, suami dengan istri, senior dengan yunior, laki-laki dan perempuan, dan sebagainya.

(32)

memungkinkan harga tenaga kerja lebih murah. Murahnya upah tenaga kerja menguntungkan kapitalisme. Ketiga, masuknya buruh perempuan sebagai buruh dengan upah lebih rendah menciptakan buruh cadangan. Melimpahnya buruh cadangan memperkuat posisi tawar-menawar para pemilik modal (kapitalis) dan mengancam solidaritas kaum buruh. Kesemuanya ini akan mempercepat akumulasi kapital bagi kapitalis.41

Tokoh yang mengembangkan teori-konflik salah satunya adalah Ralf Dahrendorf. Tetapi terdapat sedikit perbedaan antara Marx dan Dahrendorf. Marx meyakini bahwa sumber konflik adalah kepemilikan tetapi menurut Dahrendorf sumber konflik adalah perbedaan kekuasaan.

Menurut Dahrendorf, teori konflik yang dikembangkan dalam dunia ekonomi-publik memunculkan borjuis proletar. Oleh feminis Marxis model analisis ini ditarik dalam kehidupan rumah tangga. Suami dipandang sebagai kelompok borjuis sadangkan istri wakil dari kelompok proletar (buruh). Kepemilikan pribadi dan penguasaan suami atas istri dikenal sebagai pemilik sumber daya yang melegalkan budaya patriarkhi sedangkan istri tidak mempunyai posisi setara dengan suami yang berdampak pada ketidakadilan dalam keluarga.42

Menurut para feminis, beban istri berlipat mulai dari hamil, melahirkan, menyusui, dan mengasuh anak. Sedangkan secara ekonomi, istri tidak mempunyai akses yang sama dengan suami. Dengan demikian, satu-satunya cara untuk mewujudkan kesetaraan gender harus melalui perlawanan kelas.

41

Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an, cet.II, h. 61

42

Margareth M. Poloma, Sosiologi Kontemporer. Cet.4 (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1994), h.170

(33)

IV. Teori Sosio-Biologis

Teori ini dikembangkan oleh Pierre van den Berghe, Lionel Tiger dan Robin Fox dan intinya bahwa semua pengaturan peran jenis kelamin tercermin dari biogram dasar yang diwarisi manusia modern dari nenek moyang primat dan

hominid43 mereka. Intensitas keunggulan laki-laki tidak saja ditentukan oleh faktor biologis tetapi elaborasi kebudayaan atas biogram manusia. Teori ini disebut bio-sosial karena melibatkan faktor biologis dan sosial dalam menjelaskan relasi gender. Biologi manusia adalah suatu komponen yang penting dalam perilaku yang berbeda antara jenis-jenis kelamin.44 Faktor biologis dan sosial menyebabkan laki-laki lebih unggul dari perempuan. Fungsi reproduksi perempuan dianggap sebagai faktor penghambat untuk mengimbangi kekuatan dan peran laki-laki.

C. Teori-teori Feminisme

Untuk mengkaji persoalan tentang perbedaan laki-laki dan perempuan menurut pandangan para feminis, ada beberapa pandangan yang dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu:

I. Feminisme Liberal

Tokoh utama yang membawa aliran ini antara lain Margareth Fuller (1810-1850), Harriet Martineau (1802-1876), Anglina Grimke (1792-1873), dan

43

Manusia dari sejenis Homo sapiens. Mereka biasa dianggap sebagai salah satu spesies yang dapat bertahan hidupdalam genus Homo. Manusia biasanya menggunakan daya penggerak dua kaki yang sempurna.

44

Dr. Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an, cet.II, h.68

(34)

Susan Anthony (1820-1906).45

Mereka meinginkan agar semua manusia baik laki-laki maupun perempuan hidup berdampingan, serasi, dan seimbang agar tidak terjadi penindasan antara satu dengan yang lain. Perempuan mempunyai hak yang sama dengan laki-laki.46

Para feminis liberal meskipun menuntut persamaan hak antara laki-laki dengan perempuan tetapi mereka menolak persamaan secara menyeluruh terutama dalam hal fungsi reproduksi, aliran ini masih tetap memandang perlu adanya perbedaan antara laki-laki dengan perempuan.

Kelompok ini membenarkan bahwa perempuan harus bekerja bersama laki-laki, perempuan juga harus dilibatkan dalam semua peran termasuk bekerja diluar rumah tidak saja domestik tapi juga publik. Dengan demikian tidak ada lagi jenis kelamin yang lebih dominan. Bagi kalangan feminisme liberal, mereka mengharapkan sebuah Negara untuk melindungi kebebasan sipil, misalnya saja hak kepemilikan sipil, hak memilih, hak kebebasan untuk berbicara, kebebasan untuk beragama, dan kebebasan untuk bernegara.

Feminis liberal menerangkan bahwa keadilan gender menuntut kita untuk membuat aturan permainan yang adil dan memastikan tidak satu pun dari semua kebaikan bagi masyarakat dirugikan secara sistematis, keadilan gender tidak

45

Dr. Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an, cet.II, h.64

46

Rosemarie Putnam Tong, Feminist Thought (pengantar paling komprehensif kepada arus utama pemikiran feminis, cet.II, Jalasutra, Yogyakarta:1998), h.2

(35)

menuntut kita untuk memberikan argumen yang kalah ataupun yang menang.47 Feminis liberal mendapat pengaruh dari pemikiran Harriet Taylor dalam karyanya yang berjudul The Enfranchisement dan John Stuart Mill dalam karyanya yang berjudul The Subjection of Women (1869). Mill dalam teorinya membela hak pilih terhadap perempuan, hak perempuan sama dengan hak anak-anak mereka; persamaan dihadapan hukum, dan hak bagi perempuan menikah untuk mengontrol dan mengelola kekayaan mereka sendiri.48

Perjuangan yang dilakukan oleh feminisme liberal adalah membebaskan perempuan dari penindasan peranan gender, yaitu peranan yang diberikan kepada perempuan karena berdasarkan jenis kelaminnya.49 Sedangkan agenda dari kaum feminisme liberal adalah memperjuangkan hak-hak perempuan di bidang politik, pendidikan, kerja, dan ini ditempuh melalui jalur hukum dengan memperbaharui sistem yang ada. Agar perempuan teremansipasi dan terbebaskan dari keterkungkungan sosial, kalangan feminisme juga menganjurkan untuk mempraktekkan androgini di dalam diri perempuan dan laki-laki.

II. Feminisme Marxis-Sosialis

Aliran ini mulai berkembang pesat di Jerman dan di Rusia yang dipelopori oleh Clara Zetkin (1857-1933) dan Rosa Luxemburg (1871-1919).50

Para feminis meinginkan agar struktur kelas dalam masyarakat berdasarkan jenis kelamin dihilangkan, perbedaan peran antara laki-laki dan

47

Rosemarie Putnam Tong, Feminist Thought (pengantar paling komprehensif kepada arus utama pemikiran feminis, cet.II, h.3

48

Pusat Studi Wanita UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Pengantar Kajian Gender, h.96

49

Gadis, Arivia, Filsafat Berperspektif Feminis (Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan, 2003),h. 99

50

Dr. Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an, cet.II, h.65

(36)

perempuan lebih disebabkan oleh factor budaya alam. Aliran ini juga menolak anggapan tradisional yang mengatakan bahwa perbedaan antara laki-laki dan perempuan karena factor biologis dan latar belakang sejarah.

Feminis Marxis-sosialis beranggapan bahwa untuk mencapai kebebasan sejati dalam masyarakat ditentukan berdasarkan kelas. Semua aturan sosial dalam masyarakat yang lebih besar menguntungkan laki-laki dari pada perempuan. Feminis marxis berpendapat bahwa ketertinggalan perempuan bukan disebabkan oleh tindakan individu secara sengaja, tetapi akibat dari struktur sosial, politik, dan ekonomi, yang erat kaitannya dengan sistem kapitalisme. Menurut mereka, tidak mungkin perempuan dapat memperoleh kesempatan yang sama seperti laki-laki jika mereka masih tetap hidup dalam masyarakat berkelas.51

Hampir sama dengan teori konflik, kelompok ini menganggap bahwa posisi inferior perempuan berkaitan dengan struktur dan keluarga dalam masyarakat kapitalis. Istri mempunyai ketergantungan lebih tinggi pada suami dari pada sebaliknya. Perempuan senantiasa mencemaskan keamanan ekonominya karenanya mereka memberikan dukungan kekuasaan kepada suaminya.

Bedanya dengan teori konflik, teori ini tidak terlalu menekankan factor kepemilikan harta pribadi seperti halnya dalam teori konflik tetapi teori ini lebih menyoroti factor seksualitas dan gender dalam kerangka dasar ideologinya.

III. Feminisme Radikal

Aliran ini muncul di permulaan abad ke-19 dengan mengangkat isu besar yaitu menggugat semua lembaga patriarki yang dinilai merugikan perempuan dan

51

Dr. Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an, cet.II, h.66

(37)

jelas-jelas menguntungkan laki-laki. Pergerakan feminisme radikal juga memfokuskan diri pada akar permasalahan mengenai ketertindasan perempuan.

Mereka melihat bahwa walaupun sudah reformasi sistem melalui jalur hukum sudah diupayakan oleh kalangan feminis liberal, tetapi tetap saja perempuan masih tertindas. Kaum feminis radikal mencurigai akan adanya pemisahan antara ranah publik dan ranah privat yang menyebabkan perempuan mengalami ketertindasan karena mereka menganggap perempuan hanya di ranah privat (domestik) bukan publik.

Kaum feminis radikal tidak hanya menuntut persamaan hak antara laki-laki dan perempuan, mereka juga menuntut persamaan seks dalam arti kepuasan seksual yang bisa diperoleh dari sesama perempuan sehingga mentolerir praktek lesbian.52 Persamaan secara total pada akhirnya akan menempatkan dan merugikan perempuan itu sendiri, laki-laki yang tanpa beban organ reproduksi secara umum akan sulit diimbangi oleh perempuan.

Feminis radikal lebih ekstrim dari feminis liberal. Mereka beranggapan bahwa sistem patriarki ditandai dengan kuasa, dominasi, hirarki, dan kompetisi. Sistem patriarki harus dibentuk ulang, dicabut dari akar dan cabang-cabangnya guna memberikan jalan bagi pembebasan perempuan lewat lembaga sosial dan kultural terutama keluarga, gereja, dan akademis.

Feminis radikal dibagi menjadi dua aliran, yaitu;

a) Feminis radikal-libertarian, yang beranggapan bahwa feminis radikal berfokus pada seks, gender, dan reproduksi. Mereka lebih cenderung

52

Rosemarie Putnam Tong, Feminist Thought (pengantar paling komprehensif kepada arus utama pemikiran feminis, cet.II, h.4

(38)

pada androgini yang melegalkan semua jenis hubungan seks seperti; heteroseksual, lesbian, dsb, dan memandang teknologi pembantu reproduksi merupakan hal yang mutlak bagi perempuan. Mereka juga beranggapan bahwa setiap perempuan harus didorong untuk bereksperimen secara seksual dengan dirinya sendiri, dengan perempuan lain, dan juga dengan laki-laki. Ia harus merasa bebas untuk mengikuti apapun hasrat dirinya itu. Mereka mengklaim bahwa menjadi ibu biologis memeras perempuan baik secara fisik maupun psikologis.53

Menurut mereka, perempuan harus bebas untuk menggunakan teknologi lama pengendali reproduksi, dan juga teknologi baru pembantu reproduksi sesuai dengan keinginannya. Hal tersebut untuk mencegah atau menghentikan kehamilan yang tidak diinginkan atau sebaliknya untuk memungkinkan mereka memilki anak ketika mereka menginginkannya (sebelum atau sesuadah menopause), cara mereka menginginkannya (dalam rahim sendiri atau dalam rahim perempuan lain), dan dengan siapa mereka meinginkannya.

b) Feminis radikal-kultural, mereka menolak androgini yang mereka anggap sebagai sesuatu yang berbahaya bagi perempuan. Para feminis radikal kultural tidak setuju jika pornografi, prostitusi, pelecehan seksual, perkosaan, kekerasan terhadap perempuan, laki-laki mengendalikan seksualitas perempuan untuk kenikmatan laki-laki.

53

Rosemarie Putnam Tong, Feminist Thought (pengantar paling komprehensif kepada arus utama pemikiran feminis, cet.II, h.5

(39)

Untuk menjadi bebas perempuan harus melepaskan diri dari pembatasan heteroseksual dengan menciptakan seksualitas perempuan yang eksklusif melalui selibat, lesbianisme, sendiri atau bersama dengan perempuan lain, seorang perempuan dapat menemukan kenikmatan seksual yang sesungguhnya.54

Mereka mengklaim bahwa menjadi ibu biologis merupakan sumber kekuatan paripurna perempuan. Perempuan yang menentukan apakah suatu spesies akan hidup berlanjut atau tidak. Perempuan harus melindungi dan memberikan kekuatan hidup karena tanpa itu laki-laki tidak akan menghargai perempuan dan semakin tidak melihat manfaat perempuan seperti yang ada sekarang.

Perjuangan feminis radikal adalah memperjuangkan isu-isu kesehatan. Kalangan feminis radikal berupaya mempelopori argumentasi aborsi dan penggunaan alat kontrasepsi yang aman. “hak untuk memilih” adalah slogan yang dilontarkan untuk iso aborsi.55 Hak bagi setiap perempuan untuk menentukan apakah ia ingin mempunyai anak atau tidak. Salah usaha yang ingin disadarkan oleh kalangan feminis radikal adalah tubuh perempuan adalah milik perempuan. Menurut mereka, keputusan tersebut berada di tangan perempuan yang memiliki badannya sendiri, dan bukannya di tangan dokter, hakim atau rohaniawan.

Apabila kita berfikir tentang watak perempuan dalam diri Allah, pusat perhatian tidak hanya pada segi-segi melahirkan, mengasuh, dan berbelas kasih

54

Rosemarie Putnam Tong, Feminist Thought (pengantar paling komprehensif kepada arus utama pemikiran feminis, cet.II, h.6

55

Gadis Arivia, Filsafat Berperspektif Feminis, h. 101

(40)

tetapi juga pada daya kekuatan yang menciptakan dan menyelamatkan. Hal ini mungkin sesuai dengan beberapa refleksi dewasa ini tentang roh sebagai watak perempuan dalam diri Allah. Hal ini juga berkaitan dengan gagasan tentang roh sebagai yang imanen (intim) bila dibandingkan dengan Bapa sebagai yang transenden. Peranan roh dalam penjelmaan kuasa Allah yang meliputi Maria, kerapkali dilihat bersifat laki-laki. Berkenaan dengan Yesus, bagi perempuan yang menderita mengidentifikasikan Yesus sebagai yang menderita dan melihat penderitaan dan ketertindasan mereka banyak mempunyai nilai penebusan dalam persatuan dengan penderitaan Yesus. Beberapa orang memusatkan perhatian pada ketuhanan Yesus yang menaklukkan setiap bentuk dominasi, termasuk dominasi laki-laki. Beberapa orang lagi melihat sifat-sifat seperti asih-asuh dan belas kasih dalam hidup dan mukjizat-mukjizat Yesus. Dan beberapa orang yang lain lagi menggunakan bahasa yang lebih bersifat simbolis untuk melihat Yesus sebagai ibu atau terkasih.

(41)

BAB III

SEKILAS TENTANG AGAMA KATOLIK

A. Sejarah Katolik

Dalam Perjanjian Lama Allah memilih dan membentuk umatNya yang baru dengan perantaraan Kristus yang berarti yang diurapi; Almasih. Kerajaan Allah sudah datang dan ada diantara manusia dalam pribadi Jesus dan hari penyelesaiannya hanya diketahui Bapa di surga (Mk 2:19; 13:9). Maka Gereja merupakan sarananya dimana saja sampai akhir zaman. Perjamuannya untuk mengenang wafat Jesus dari semua orang itu harus diulangi dalam persaudaraan diantara muridNya sampai ia datang kembali (Lk 16:19; 1Kor 11:24). Perjamuan itu adalah Ekaristi yang merupakan pangkal tolak dan sekaligus puncak segala kegiatan Gereja (G:11).56

Gereja tumbuh dari pewartaan Injil dan pembaptisan. Gereja berakar dihidup, pewartaan dan peristiwa-peristiwa Paskah; yaitu wafat-kebangkitan Jesus-serta pangaturan Roh Kudus. Jadi pada Perjanjian Lama, Gereja adalah sarana untuk membangun kerajaan Allah untuk mengumpulkan semua orang dari segala pemjuru dunia.

Dalam Perjanjian Baru menggambarkan Gereja seperti tumbuh pada waktu itu, yang bersatu dalam pembaptisan dengan pengakuan iman yang sama, dalam perayaan Ekaristi dan agape dan dalam pimpinan yang dilantik Para Rasul (IKor 11:17,14:40;Ef;4:5).

56

(42)

68

Di Perjanjian Baru ini, Gereja tidak hanya disebut dengan kata ekklesia,

melainkan dengan sebutan lain yang sebagian diambil dari Perjanjian Lama yaitu

umat Allah (1Ptr 2:10), orang-orang yang beriman, orang-orang kudus, rumah Allah

kawanan domba, tubuh Kristus (1Kor 6:15). Bahasa gambaran yang kaya isinya dan

sulit mengungkapkan segala segi bahasa teologis yang jelas.57

Dari semua pernyataan diatas tentang Gereja, maka dapat dikatakan bahwa

Gereja adalah Katolik, karena Gereja mewartakan Injil Kristus dan terbuka bagi

segala bangsa dan kebudayaan ciri Katolik ini melarang umat membeda-bedakan

orang menurut jenis (Gal 3:28), kelas social atau kebangsaan. Jesus tidak menolak

perempuan pendosa yang mencuci kakiNya, karena ia datang untuk menyelamatkan

orang berdosa (Lk 7:37), maka Gereja pun tidak boleh menolak mereka (kaum

perempuan) dari keanggotaannya.

Pengertian Gereja58 dalam kata bahasa Indonesia berasal dari kata Portugis

igreja, juga berasal dari kata Yunani ekklesia yaitu mereka yang dipanggil; kaum

golongan kyriake; yang dimiliki Tuhan.

Pada Sinode istimewa uskup-uskup sedunia pada tahun 1985, diadakan

refleksi atas pandangan Konsili Vatikan II (1962-1965) tentang Gereja. Sinode itu

menekankan kembali hakikat Gereja sebagai misterium dan communion supaya

dimensi rohani Gereja semakin jelas. Pandangan berat sebelah yang memandang

Gereja terutama dari segi hierarki atau sebagai kenyataan sosiologis semata-mata

57

A. Heuken SJ, Ensiklopedia Gereja I,h. 342

58

(43)

69

(sebagaiperfect society) ditolak.59

B. Pergerakan Perempuan dalam Agama Katolik di Barat

Gerakan perempuan sudah muncul sejak akhir abad 19 dan awal abad

ke-20. gerakan yang sudah dimulai sejak abad itu menuntut persamaan hak antara

laki-laki dan perempuan dan Negara harus melindungi dan menjamin persamaan hak itu

secara normal.60

pada pertengahan abad ke-20 muncul beberapa gerakan kenabian, yakni

teologi pembebasan yang memihak pada kaum miskin yang ditindas oleh tatanan

ekonomi moderen, teologi feminis yang berusaha memikirkan kembali teologi

melalui sudut pandang perempuan yang tertekan dan ekoteologi yang memikirkan

pemeliharaan dunia ciptaan Allah. Ketiga aliran ini melawan dosa struktural, yaitu

tatanan yang menindas dan memiskinkan golongan tertentu. patriarkhi ditantang

karena meremehkan kaum perempuan, menggunakan alam sebagai sumber kekayaan

bagi manusia yang bermodal dan berilmu. Karena itu membahayakan kelangsungan

hidup generasi mendatang dan memusnahkan jenis makhluk hidup. Ketiga aliran itu

saling terkait.61

Teologi pembebasan berpijak pada kenyataan bahwa Allah memihak pada

orang-orang yang tertindas dan yang dikesampingkan. Ia membebaskan sekelompok

59

DOKPEN KWI, Dokumen Konsili Vatikan II (Jakarta: dokpen KWI, 1993),h. 350

60

Nunuk p. Murniati, Getar-getar Gender Perempuan Indonesia dalam Perspektif Agama, Budaya, dan Keluarga, vol.I (Magelang: Yayasan Indonesia Tera, 2004),h. xxviii

61

(44)

70

pekerja paksa dari “rumah perbudakan di Mesir”, menjadikan mereka umt-Nya, serta

mengikat perjanjian dengan mereka dan memberikan hokum kemerdekaan untuk

mengatur hidup bermasyarakat mereka. Teologi feminis mencari pembebasan dan

patriarkat dan menuju hubungan baru. Artinya pihak yang tadi berkuasa melepaskan

tuntutan dan kesombongannya, lalu membuka diri pada pihak yang lemah. Dengan

demikian dikembangkan suatu persekutuan baru diantara mitra yang sederajat sebagai

sesama makhluk Allah dan saudara Yesus. Ada tiga cara menganalisis kitab suci yang

ditawarkan oleh teolog perempuan Katrine Doob Sakenfeld: a) Menganalisis kitab

suci yang meremehkan perempuan, b) Menganalisis kitab suci secara keseluruhan dan

membahas pandangan kitab suci yang patriarkis, c) Menganalisis perikopa tentang

peranan perempuan dalam kitab suci yang hidup dalam kebudayaan patriarkhi.62

Sesudah paro pertama abad ke-20 sebagian besar aliran utama dalam Gereja

Protestan sudah mulai memutuskan untuk mendukung perempuan, bahkan banyak

gerakan perempuan muncul dari kalangan Gereja-gereja tersebut. Semenjak tahun

50-an Gereja Protest50-an mulai menerima tahbis50-an perempu50-an. Menjel50-ang akhir tahun

70-an, hampirr semua aliran besar dalam Gereja Protestan telah menahbiskan pendeta,

imam, bahkan rabbi perempuan.

Dalam kurun waktu yang sama, Gereja Katolik melalui Paus Yohanes XXIII

mulai membuka jendela Vatikan dan memecah kebekuan didalamnya. Gereja merasa

perlu merumuskan hubungannya dengan dunia; Gereja perlu berkomunikasi dengan

62

(45)

71

dunia tempat dimana ia hidup. Ketika Konsili Vatikan perempuan telah siap dengan

aspirasi yang ingin disampaikannya. Perempuan-perempuan Eropa mempersenjatai

diri dengan argumen-argumen untuk mendobrak sidang di Vatikan. Di Amerika

perempuan menikmati kebebasannya untuk menyuarakan perhatian mereka atas

eksistensi perempuan dalam Konsili Vatikan II, khususnya mempertanyakan posisi

perempuan dalam Gereja Katolik melalui media massa. Dua tokoh perempuan yang

saat itu berpengaruh yaitu Margareth Mouley (Ketua Dewan Nasional Perempuan

Katolik) dan Rosemary Goldie (Sekretaris Eksekutif, Komite Tetap untuk kongres

Apostolat Awam Internasional) di Roma. Keduanya mengkritisi Gereja Katolik yang

gagal mengenali bahwa perempuan adalah kekuatan inti dalam komunitas awam yang

siap untuk menyumbang lebih banyak bagi Gereja, jika mereka diberi kesempatan.

Akibat tekanan yang semakin gencar dari para perempuan dan teolog yang

berpikir progresif, akhirnya Kardinal Leo Suenens dari Malina, Brussel yang menjadi

salah satu moderator konsili dan bersimpati dengan masalah ini membuat ‘tekanan’

untuk menghadirkan perempuan dalam konsili. Uskup Agung George Hakim dari

Galilea juga mengungkap hal yang sama, mengkritisi Gereja yang telah

membungkam perempuan serta memberi kesan bahwa perempuan tidak eksis. Uskup

Agung George Hakim juga mengingatkan kemajuan yang dicapai Gereja sebagai

hasil dedikasi dan pelayanan para perempuan.

Gerakan perempuan Katolik semakin besar dengan dibentuknya berbagai

organisasi yang independen baik pada tingkat regional maupun internasional, seperti;

(46)

72

Women Ordination Conference (Amerika-1968), Australian Catholic Womens

Movement (Australia), DLL.63

Salah satu pendiri dari organisasi ini adalah Anne Brennan.64 Dia

mempercayakan keyakinannya pada Katolik dengan terbukti menjadi Anggota

Serikat Sosial Perempuan Katolik (St. Joan’s Alliance), pelajaran dan tulisannya yang

dipublikasikan adalah pekerja perempuan sosial dan pengganti horizon. Dialah yang

mendirikan komite anggota Serikat Kerja Sosial Perempuan Katolik pada tahun 1916.

Dia menjabat presiden dari 1918-1920. Ia bergabung dengan cabang utama dari

Persekutuan Internsional St. Joan’s, ia menjabat presiden di kantor tersebut dari tahun

1938-1945 dan berlanjut sampai 1948 kemudian ia meninggal di tahun 1962. Anna

dengan keyakinannya yang penuh ingin memajukan perempuan Katolik pada bidang

sosial karena menurutnya perempuan harus bisa bangkit dan tidak harus bekerja di

dalam rumah (domestik).65

The National Council of Catholic Women (1920) merupakan dewan Nasional

Perempuan Katolik yang terdiri dari lima ribu anggota yang disebut organisasi

63

Iswanti, Kodrat Yang Bergerak (gambar, peran, dan kedudukan perempuan dalam gereja Katolik, Yogyakarta: Kanisius, 2003), h.22

64

Anne Brennan merupakan anak ke-13 dari seorang ayah yang bernama Michael Brennan, ia seorang petani dan istrinya bernama Mary Nee Maher. Ia belajar ilmu kedokteran di universitas Melbourne pada tahun 1904 tapi ia tidak mendapat izin untuk melanjutkan karena ia gugup pada saat pebedahan. Dia memulai studinya lagi pada bidang hukum di tahun 1906, dan tamat pada 1909 di universitasnya ia menjadi anggota Princess Ida Club untuk pelajar perempuan.

65

(47)

73

perempuan Katolik di Nagara Kesatuan yang mewakili seratus dari seribu perempuan

Katolik.66

Dewan Nasional Perempuan Katolik berusaha memberikan semangat kepada

para anggotanya yang mayoritas perempuan, kekuatan, dan pendidikan spiritual

kepada semua perempuan Katolik, kepemimpinan, dan pelayanan. Program dewan

Nasional Katolik merespon nilai-nilai Injil yang dibutuhkan untuk perhimpunan dan

Gereja didunia moderen.

Australian Catholic Womens Movement (Australia) merupakan gerakan

perempuan internasional dimana mereka menggambarkan spiritual dalam diri,

kebudayaan, dan gerakan sosial dari perempuan di bawah agama Kristen dan komite

untuk tujuan transformasi dunia sampai masyarakat keseluruhan untuk keadilan dan

perdamaian. Didirikan di Sydney pada tahun 1937, awal kedatangannya pada tahun

1936 di Nazareth. Organisasi Internasional Perempuan Katolik dengan kantor pusat di

Netherlands.67

Mereka mencari arti peranan dari perempuan katolik di Gereja. Pada

pandangan Sally Kennedy, seorang penemu agama dan feminisme (Sydney 1985), ia

menggabungkan kekuatan perasaan dari dalam diri perempuan di Gereja katolik

dengan realitas perasaan perempuan yang kelihatan. Fokus utama dari konsep ini

adalah mengkhususkan latihan kepemimpinan muda. Fokus pendidikan perempuan

66

http://student britanica.com/comptons/article-9312647/National-Council-of-Catholic-Women. Diakses tanggal 7 september 2008

67

Selly Kennedy, Faith and Feminism: catholic women’s struggles for self-expression (Sydney: Studies in the Christian Movement; 1985). Diakses tanggal 7 september 2008.

(48)

74

dan pengembangan diri, sosial, dan analisis kebudayaan serta pengaturan aksi

terhadap kerja paksa di kalangan bawah (perempuan) yang berpusat di Sydney dan

Melbourne.

C. Pergerakan Perempuan dalam Agama Katolik di Indonesia

Pada dasarnya setiap agama megajarkan bahwa manusia diciptakan sama

derajatnya, baik laki-laki maupun perempuan. Kini muncul refleksi atas peran

perempuan menurut iman Kristen. Para teolog perempuan mengkritisi dari sudut

pembelokan antara yang Ilahi dan yang berangkat dari kebiasaan manusia. Teori ini

hendak menjadi bekal untuk pembaruan praktis dalam kehidupan gereja dan inilah

yang disebut teologi feminis. Teori ini tidak dibangun oleh kaum perempuan saja

tetapi juga oleh kaum laki-laki yang tidak rela memahami perempuan sebagai objek

kajian melainkan sebagai subjek sejarah yang sedang mencari jati dirinya sendiri dan

tatanan yang ditentukan oleh laki-laki atau paling tidak sedang membebaskan dirinya.

Dalam tradisi Kristen selalu terdapat dua aliran, yaitu pertama mementingkan

segi kelembagaan, ia berwujud hierarkis dan konserfativ, kedua bersifat nabiah, kritis

terhadap ketidakadilan dan penggunaan dan menghendaki hubungan yang adil dan

benar, maka gereja senantiasa terlibat dalam usaha membela manusia yang

tertindas.68

Gerakan Perempuan Katolik yang ada di Indonesia, antara lain; Jaringan Mitra

Perempuan berusaha menciptakan keselamatan yang terwujud dalam relasi

68

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Kedudukan buruh perempuan kerajinan tanduk kerbau dan sapi dalam keluarga adalah setara atau sama dengan laki-laki yang dapat dilihat

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan wacana mengenai isu-isu tentang peran perempuan baik dalam ranah domestik maupun publik yang direpresentasikan dalam

Kesetaraan Gender merupakan isu lama yang hingga saat ini konsisten diperjuangkan diseluruh dunia, perjuangan kaum feminis dalam memperjuangkan.. hak perempuan belum

1.3 Batasan Masalah Peneliti membatasi penelitian ini dengan melihat representasi citra tubuh perempuan gemuk dalam lagu “All About That Bass” dari Meghan Trainor dalam kajian budaya

Hasil kajian ini menunjukan bahwa pada zaman pra Islam dalam budaya masyarakat Arab Jahiliyyah, perempuan mendapat perlakuan yang tidak setara dengan laki-laki (tidak