• Tidak ada hasil yang ditemukan

Respons pertumbuhan dan hasil sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench)terhadap jarak tanam dan waktu penyiangan gulma

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Respons pertumbuhan dan hasil sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench)terhadap jarak tanam dan waktu penyiangan gulma"

Copied!
79
0
0

Teks penuh

(1)

RESPONS PERTUMBUHAN DAN HASIL SORGUM (Sorghum bicolor (L.) Moench) TERHADAPJARAK TANAM DAN WAKTU PENYIANGAN GULMA

SKRIPSI

Oleh:

WIKA SIMANJUNTAK 100301084

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

(2)

RESPONS PERTUMBUHAN DAN HASIL SORGUM (Sorghum bicolor(L.) Moench) TERHADAPJARAK TANAM DAN WAKTU PENYIANGAN GULMA

SKRIPSI

Oleh:

WIKA SIMANJUNTAK

100301084/AGROEKOTEKNOLOGI

Skripsisebagaisalahsatusyaratuntukmemperoleh gelarsarjana di Fakultas Pertanian

Universitas Sumatra Utara

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

(3)

Judul Skripsi : Responspertumbuhandanhasilsorgum

(Sorghum bicolor (L.) Moench)terhadap jarak tanam dan waktu penyiangan gulma

Nama : Wika Simanjuntak

NIM : 100301084

Program Studi : Agroekoteknologi

Minat : Budidaya Pertanian dan Perkebunan

Disetujui oleh Komisi Pembimbing

Prof. Ir.Edison Purba, Ph. D Ir. T. Irmansyah, MP

Ketua Anggota

Mengetahui,

(4)

ABSTRAK

WIKA SIMANJUNTAK:ResponsPertumbuhandan Hasil Sorgum (Sorghum bicolor(L.) Moench) Terhadap Jarak Tanam dan Waktu Penyiangan Gulma. Dibimbing oleh EDISON PURBA dan T. IRMANSYAH.

Tujuan penelitian untuk melihat respons pertumbuhan dan hasil sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) terhadap jarak tanam dan waktu penyiangan gulma.Penelitian dilaksanakan di Jl. Tri Darma Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian25 meter di atas permukaan laut mulai dari bulan Desember2014 hingga April 2015, menggunakan rancangan petak terbagi dengan dua faktor yaitu jarak tanam (70x30, 70x20, 70x10) dan waktu penyiangan gulma (tanpa penyiangan, disiangi 2 MST, disiangi 4 MST, disiangi 6 MST, disiangi 8 MST, bebas gulma).

Parameter yang diamati tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, umur berbunga, berat basah malai per sampel, berat basah malai per plot, produksi biji per sampel, produksi biji per plot, bobot 1000 biji. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan jarak tanam berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 6 dan 8 MST berat basah malai per sampel. Waktu penyiangan gulma berpengaruh nyata pada tinggi tanaman 6 dan 8 MST, jumlah daun umur 4, 6 dan 8 MST, diameter batang 4,5,6,7 dan 8 MST, berat basah malai per sampel, berat basah malai per plot, produksi biji per sampel, produksi biji per plot, dan bobot 1000 biji.

(5)

ABSTRACT

WIKA SIMANJUNTAK: Response of growth and result sorghum (Sorghum bicolor (L.) Moench) with spacing and weeding time.

Supervised by EDISON PURBA and T. IRMANSYAH.

The aim of this research was to observe the response growth and result sorghum (Sorghum bicolor (L.) Moench) with spacing and weeding time. This research was conducted at Jl. Tri Darma Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medanwith altitude 25meter above sea level with 2 factor namely spacing (70x30, 70x20, 70x10) and weeding time (without weeding, 2 weeks after planting, 4 weeks after planting, 6 weeks after planting, 8 weeks after planting, clean weeding).

Observed paramaters were plant height, number of leaves, diameter of stem, days of flowering, wet weight of tassel per sample, wet weight of tessel per plot, sample seed production, plot seed production, weight of 1000 seed. This research showed the treatment of spacing had a significant effect against height of plant at 6 and 8 week after plant and wet weight of tassel per sample.Weeding time had a significant effect against plant height 6 and 8 after planting, number of leaves 4 6 and 8 after planting, diameter of stem 4, 5, 6, 7 and 8 weeks after planting, days of flowering, wet weight of tassel per sample, wet weight of tessel per plot, sample seed production, plot seed production, weight of 1000 seed.

(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis lahir pada tanggal 7 Mei 1991 di Sidikalang,penulismerupakananak kelima dari sembilan bersaudara, putra dari ayahanda Jannes Simanjuntak danibunda Warta Delina Sihombing.

Tahun 2010penulis lulus dari SMA Negeri 1 Sidikalang danpadatahun yang sama terdaftar sebagai mahasiswa di Fakultas Pertanian,Universitas Sumatera Utara, Program Studi Agroekoteknologi, Minat studi BudidayaPertaniandan Perkebunan melalui jalur Ujian Masuk Bersama (UMB).

(7)

KATA PENGANTAR

Pujidan Syukurpenulis ucapkan kepada Tuhan Yang MahaEsa, karenadenganberkatdanrahmat-Nyapenulisdapatmenyelesaikanskripsiini.

Juduldariskripsiiniadalah “Respons Pertumbuhan dan Hasil Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) terhadap Jarak Tanam dan Waktu Penyiangan Gulma”. Skripsiini merupakansalahsatusyaratuntukmendapatkangelar Sarjana di Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Pada kesempataninipenulismengucapkanterimakasih kepada Bapak Prof. Ir.Edison Purba, Ph. D., selaku Ketua Komisi

PembimbingdankepadaBapak Ir. T. Irmansyah, MP., selaku Anggota Komisi

Pembimbing yang telahbanyakmemberikanmasukandanbimbingankepadapenulisselama proses

penelitian, penulisandanpenyelesaianskripsiini.

Akhir kata

(8)

DAFTAR ISI

Hal.

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

RIWAYAT HIDUP ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... viii

PENDAHULUAN Latar belakang ... 1

Tujuan penelitian ... 3

Hipotesis penelitian ... 3

Kegunaan penelitian ... 3

TINJAUAN PUSTAKA Botani tanaman... 4

Syarat tumbuh ... 5

Iklim ... 5

Tanah ... 6

Jarak Tanam Sorgum... 6

Waktu Penyiangan Gulma... 8

BAHAN DAN METODE PENELITIAN Tempat dan waktu pelaksanaan penelitian ... 10

Bahan dan alat ... 10

Metode penelitian ... 10

PELAKSANAAN PENELITIAN Persiapan lahan... 12

Penanaman ... 12

Pemupukan ... 12

Penjarangan ... 13

(9)

Penyiraman ... 13

Penyiangan ... 13

Pengendalian Hama danPenyakit ... 13

Panen ... 13

Pengamatan parameter ... 14

Tinggi tanaman (cm)... 14

Jumlah daun(helai)... 14

Diameter Batang (mm) ... 14

Umur berbunga (hari) ... 15

Beratbasah malai per sampel (g)... 15

Beratbasah malai per plot (g) ... 15

Produksi per sampel (g) ... 15

Produksi per plot (g) ... 15

Bobot 1000 biji (g)... 15

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil ... 16

Tinggi tanaman (cm)... 16

Jumlah daun(helai)... 19

Diameter Batang (mm) ... 21

Umur berbunga (hari) ... 23

Beratbasah malai per sampel (g)... 24

Beratbasah malai per plot (g) ... 26

Produksi biji per sampel (g) ... 28

Produksi biji per plot (g) ... 31

Bobot 1000 biji (g)... 33

Pembahasan ... 34

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 40

Saran ... 40

DAFTAR PUSTAKA ... 41

(10)

DAFTAR TABEL

No. Judul Hal.

1. Rataan tinggitanamanterhadapjarak tanam dan waktu penyiangan gulmapadaumur2-8 MST(cm) ... 17 2. Rataan jumlah daun terhadapjarak tanam dan waktu penyiangan gulma

padaumur 2-8 MST (helai) ... 20

3. Rataan diameter batangterhadapjarak tanam dan waktu penyiangan gulma padaumur 2-8 MST (helai) ... 22 4. Rataan umurberbunga (hari) terhadapjarak tanam dan waktu penyiangan

gulma ... 23 5. Rataan berat basahmalai per sampel (g) terhadapjarak tanam dan

waktu penyiangan gulma ... 24

6. Rataan berat basahmalai per plot (g) terhadapjarak tanam dan waktu penyiangan gulma ... 27 7. Rataan produksi biji per sampel (g) terhadapjarak tanam dan waktu

penyiangan gulma ... 29 8. Rataan produksi biji per plot (g) terhadapjarak tanam dan waktu

penyiangan gulma ... 31

(11)

DAFTAR GAMBAR

No. Judul Hal.

1. Tinggitanamanterhadapjarak tanam padaumur2-8 MST(cm) ... 18

2. Tinggitanamanterhadapwaktu penyiangan gulmapadaumur2-8 MST(cm) ... 19

3. Berat basahmalai per sampel (g) terhadapjarak tanam ... 25

4. Berat basahmalai per sampel (g) terhadapwaktu penyiangan gulma ... 26

5. Berat basahmalai per plot (g) terhadapwaktu penyiangan gulma ... 28

6. Produksi biji per sampel (g) terhadapjarak tanam ... 30

7. Produksi biji per sampel (g) terhadapwaktu penyiangan gulma ... 30

8. Produksi biji per plot (g) terhadapwaktu penyiangan gulma ... 32

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Judul Hal.

1. Bagan penelitian ... 42

2. Bagan penanaman pada plot ... 43

3. Deskripsi tanaman sorgum varietas Kawali ... 44

4. Jadwal kegiatan penelitian ... 45

5. Data pengamatan tinggi tanaman 2 MST (cm) ... 46

6. Daftar sidik ragam tinggi tanaman 2 MST ... 46

7. Data pengamatan tinggi tanaman 4 MST (cm) ... 47

8. Daftar sidik ragam tinggi tanaman 4 MST ... 47

9. Data pengamatan tinggi tanaman 6 MST (cm) ... 48

10. Daftar sidik ragam tinggi tanaman 6 MST... 48

11. Data pengamatan tinggi tanaman 8 MST (cm) ... 49

12. Daftar sidik ragam tinggi tanaman 8 MST... 49

13. Data pengamatan jumlahdaun 2 MST (helai) ... 50

14. Daftar sidik ragam jumlahdaun 2 MST ... 50

15. Data pengamatan jumlahdaun 4 MST (helai) ... 51

16. Daftar sidik ragam jumlahdaun 4 MST ... 51

17. Data pengamatan jumlahdaun 6 MST (helai) ... 52

18. Daftar sidik ragam jumlahdaun 6 MST ... 52

19. Data pengamatan jumlahdaun8 MST (helai) ... 53

20. Daftar sidik ragam jumlahdaun 8 MST ... 53

21. Data pengamatan diameter batang 2 MST (helai) ... 54

(13)

23. Data pengamatan diameter batang 3 MST (helai) ... 55

24. Daftar sidik ragam diameter batang 3 MST ... 55

25. Data pengamatan diameter batang 4 MST (helai) ... 56

26. Daftar sidik ragam diameter batang 4 MST ... 56

27. Data pengamatan diameter batang 5 MST (helai) ... 57

28. Daftar sidik ragam diameter batang 5 MST ... 57

29. Data pengamatan diameter batang 6 MST (helai) ... 58

30. Daftar sidik ragam diameter batang 6 MST ... 58

31. Data pengamatan diameter batang7 MST (helai) ... 59

32. Daftar sidik ragam diameter batang 7 MST ... 59

33. Data pengamatan diameter batang8 MST (helai) ... 60

34. Daftar sidik ragam diameter batang 8 MST ... 60

35. Data pengamatan umur berbunga (hari)... 61

36. Daftarsidikragamumurberbunga ... 61

37. Data pengamatan beratbasahmalai per sampel (g) ... 62

38. Daftarsidikragamberatbijimalai per sampel ... 62

39. Data pengamatan beratbasahmalai per plot (g) ... 63

40. Daftarsidikragamberatbijimalai per plot ... 63

41. Data pengamatan produksi biji per sampel (g) ... 64

42. Daftar sidik ragam produksi biji per sampel ... 64

43. Data pengamatan produksi biji per plot (g) ... 65

44. Daftar sidik ragam produksi biji per plot (g) ... 65

45. Data pengamatanbobot 1000 biji (g) ... 66

(14)
(15)

ABSTRAK

WIKA SIMANJUNTAK:ResponsPertumbuhandan Hasil Sorgum (Sorghum bicolor(L.) Moench) Terhadap Jarak Tanam dan Waktu Penyiangan Gulma. Dibimbing oleh EDISON PURBA dan T. IRMANSYAH.

Tujuan penelitian untuk melihat respons pertumbuhan dan hasil sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) terhadap jarak tanam dan waktu penyiangan gulma.Penelitian dilaksanakan di Jl. Tri Darma Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian25 meter di atas permukaan laut mulai dari bulan Desember2014 hingga April 2015, menggunakan rancangan petak terbagi dengan dua faktor yaitu jarak tanam (70x30, 70x20, 70x10) dan waktu penyiangan gulma (tanpa penyiangan, disiangi 2 MST, disiangi 4 MST, disiangi 6 MST, disiangi 8 MST, bebas gulma).

Parameter yang diamati tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, umur berbunga, berat basah malai per sampel, berat basah malai per plot, produksi biji per sampel, produksi biji per plot, bobot 1000 biji. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan jarak tanam berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 6 dan 8 MST berat basah malai per sampel. Waktu penyiangan gulma berpengaruh nyata pada tinggi tanaman 6 dan 8 MST, jumlah daun umur 4, 6 dan 8 MST, diameter batang 4,5,6,7 dan 8 MST, berat basah malai per sampel, berat basah malai per plot, produksi biji per sampel, produksi biji per plot, dan bobot 1000 biji.

(16)

ABSTRACT

WIKA SIMANJUNTAK: Response of growth and result sorghum (Sorghum bicolor (L.) Moench) with spacing and weeding time.

Supervised by EDISON PURBA and T. IRMANSYAH.

The aim of this research was to observe the response growth and result sorghum (Sorghum bicolor (L.) Moench) with spacing and weeding time. This research was conducted at Jl. Tri Darma Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medanwith altitude 25meter above sea level with 2 factor namely spacing (70x30, 70x20, 70x10) and weeding time (without weeding, 2 weeks after planting, 4 weeks after planting, 6 weeks after planting, 8 weeks after planting, clean weeding).

Observed paramaters were plant height, number of leaves, diameter of stem, days of flowering, wet weight of tassel per sample, wet weight of tessel per plot, sample seed production, plot seed production, weight of 1000 seed. This research showed the treatment of spacing had a significant effect against height of plant at 6 and 8 week after plant and wet weight of tassel per sample.Weeding time had a significant effect against plant height 6 and 8 after planting, number of leaves 4 6 and 8 after planting, diameter of stem 4, 5, 6, 7 and 8 weeks after planting, days of flowering, wet weight of tassel per sample, wet weight of tessel per plot, sample seed production, plot seed production, weight of 1000 seed.

(17)

PENDAHULUAN Latar Belakang

Usaha peningkatan produksi bahan pangan terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan terutama makanan pokok terus meningkat sejalan

dengan laju pembangunan dan pertambahan penduduk. Usaha ini tidak terbatas pada tanaman pangan utama melainkan penganekaraman (diversifikasi)

dengan mengembangkan tanaman pangan alternatif seperti sorgum (Sorghum bicolor (L). Moench). Sorgum merupakan komoditas pangan alternatif yang

memiliki potensi cukup besar untuk dikembangkan di Indonesia (Mudjishono dan Damardjati, 1987).

Sebagai bahan pangan, kandungan gizi pada sorgum sangat bersaing dengan beras dan jagung, bahkan kandungan protein dan kalsium lebih tinggi. Kandungan protein dan kalsium pada sorgum mencapai 11,0 g dan 28,0 mg, pada beras 6,8 g dan 6,0 mg, sedangkan pada jagung 8,7 g dan 9,0 mg per 100 gram bagian dapat dimakan. Selain itu, sorgum juga mengandung zat besi, fosfor, dan vitamin B1 yang lebih tinggi dibandingkan beras. Kandungan besi, fosfor, dan vitamin B1 pada sorgum berturut-turut 4.4 mg, 287 mg, dan 0.38 mg sedangkan pada beras kandungan ketiga zat tersebut hanya 0.8 mg, 140 mg, dan 0.12 mg (Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI, 1992).

(18)

membuat tanaman lebih efisien dalam absorpsi dan pemanfaatan air (laju evapotranspirasi sangat rendah).

Salah satu aspek budidaya pada tanaman sorgum yang penting adalah waktu penyiangan yang tepat. Karena pada awal pertumbuhan sorgum kurang dapat bersaing dengan gulma, karena itu harus diusahakan agar areal tanaman

pada saat tanaman masih muda harus bersih dari gulma (Balai Informasi pertanian, 1990).

Selain itu, populasi tanaman dan jarak tanam merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hasil produksi. Peningkatan tingkat kerapatan tanam persatuan luas sampai batas tertentu dapat meningkatkan hasil biji, akan tetapi penambahan jumlah tanam akan menurunkan hasil karena terjadinya persaingan hara, air, radiasi matahari, dan ruang tumbuh sehingga akan mengurangi jumlah biji pertanaman (Irfan, 1999).

Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik melakukan penelitian guna mengetahui respon pertumbuhan dan hasil sorgum terhadap jarak tanam dan waktu penyiangan gulma.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh jarak tanam dan waktu

penyiangan gulma terhadap pertumbuhan dan hasil sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench).

Hipotesis Penelitian

(19)

Kegunaan Penelitian

(20)

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman

Sorgum dapat diklasifikasikan sebagai berikut Kingdom: Plantae, Divisio: Spermatophyta, Subdivisio: Angiospermae, Class: Monocotyledonae, Ordo: Poales, Family: Graminaceae, Genus: Sorghum, Species: Sorghum bicolor L. (Duljapar, 2000).

Sorgum mempunyai batang berbentuk silinder, beruas-ruas (internodes) dan berbuku-buku (nodes). Setiap ruas memiliki alur yang berselang-seling. Diameter dan tinggi batang bervariasi. Ukuran diameter pangkal batang berkisar 0,5-5,0 cm dan tingginya berkisar 0,5-4,0 m tergantung varietasnya. Tinggi batang sorgum yang dikembangkan di China dapat mencapai 5 m sehingga sangat ideal dikembangkan untuk pakan ternak dan penghasil gula (FAO, 2002).

Daun-daun biasanya terdapat secara berselang dalam dua baris pada sisi-sisi batang yang berlawanan dan masing-masing terdiri atas satu pelepah dan helaian. Pelepah daun membungkus batang dan melekat pada suatu buku. Daun-daun yang dewasa (helaian) dapat mencapai panjang 300 mm sampai 1350 mm dan dapat bervariasi lebarnya dari 15 sampai 150 mm pada bagian ya ng paling lebar. Pada spesies-spesies liar, daun dapat sepanjang 300 sampai 750 mm tetapi biasanya sangat sempit (Goldsworthy dan Fisher, 1985).

(21)

tegak atau melengkung, berukuran panjang atau pendek dan berbentuk kompak sampai terbuka (Kirihio, 2013)

Warna dari biji sorgum bervariasi tergantung kultivar dan jenisnya ada yang berwarna putih hingga berwarna kekuningan dari merah hingga berwarna coklat gelap. Warna pigmen dari biji berasal dari pericarp atau testa bukan dari endosperm. Endosperm pada sorgum berwarna putih sama seperti yang terdapat pada jagung putih. Ukuran biji bervariasi tergantung varietas dan jenis dengan ukuran biji kira-kira 12.000-60.000 biji/pound (Metcalfe dan Elkins, 1980).

Syarat Tumbuh Iklim

Sorgum merupakan tanaman pangan yang adaptif dan sesuai dikembangkan di wilayah tropis. Suhu optimum untuk pertumbuhan sorgum berkisar antara 21-35° C dengan kisaran suhu tanah antara 15-18° C. Kebutuhan air per musim adalah 4.000 m3 (Dajue dan Guangwei, 2000).

Tanaman sorgum dapat berproduksi walaupun dibudidayakan di lahan kurang subur, air yang terbatas dan masukan (input) yang rendah, bahkan di lahan berpasir sorgum dapat dibudidayakan. Namun apabila ditanam pada daerah yang berketinggian diatas 500 m dpl tanaman sorgum akan terhambat pertumbuhannya dan memiliki umur yang panjang (Distan, 2011).

(22)

Tanah

Suhu optimum untuk pertumbuhan sorgum berkisar antara 23-30° C dengan kelembaban relatif 20-40 %. Pada daerah-daerah dengan ketinggian 800 m dan permukaan laut dimana suhunya kurang dari 20° C, pertumbuhan tanaman akan terhambat. Selama pertumbuhan tanaman, curah hujan yang diperlukan adalah berkisar antara 375-425 mm (Laimeheriwa, 1990).

Tanaman sorgum dapat berproduksi walaupun dibudidayakan dilahan kurang subur, air yang terbatas dan masukan (input) yang rendah, bahkan di lahan berpasirpun sorgum dapat dibudidayakan. Namun apabila ditanam pada daerah yang berketinggian diatas 500 m dpl tanaman sorgum akan terhambat pertumbuhannya dan memiliki umur yang panjang (Distan, 2011).

Jarak Tanam Sorgum

Salah satu cara pengembangan teknologi budidaya sorgum yang dapat diterapkan yaitu upaya untuk mengatur kerapatan atau populasi sorgum, sehingga peningkatan produktivitas sorgum masih dapat dilakukan dengan mengatur jarak tanam optimalnya. Dengan adanya ketersediaan air terutama di musim kemarau yang cenderung kurang dapat memenuhi kebutuhan tanaman, maka hal ini membuka peluang bagi pengembangan sorgum yang lebih tahan kondisi lingkungan yang kering (Puspitasari et al, 2012).

(23)

sehingga mudah dalam melakukan pengelolaan tanaman selanjutnya (Widyastuti, dkk.,2007).

Bila ditanam secara monokultur populasi tanaman per/hektar sekitar 100.000 - 150.000 tanaman. Jarak tanam yang dianjurkan adalah 75 X 25 Cm atau 75 X 20 Cm dengan masing-masing 2 tanaman per lubang. Menurut hasil penelitian, peningkatan populasi di atas 150.000 tanaman/hektar, masih cenderung meningkat hasil walaupun tidak begitu besar (BIP, 1990).

Berbagai keuntungan bertanam dengan jarak tanam yang teratur. Pertanaman tampak rapi, arah barisan dapat diatur. Memudahkan dalam pemeliharaannya, misalnya dalam pemberian pupuk, penyiangan, pengendalian hama dan penyakit dan sebagainya. Dengan Jarak tanam yang teratur dapat ditentukan jumlah populasi tanaman tiap luas lahan sehingga kebutuhan benihnya dapat ditentukan sebelumnya (Widyastuti, dkk., 2007).

Jarak tanam akan mempengaruhi kerapatan tanaman atau jumlah populasi per unit area. Populasi tanaman mempengaruhi pertumbuhan relatif dan hasil bersih fotosintesis. Hal ini berhubungan erat dengan penangkapan energi cahaya, dan ketersediaan hara dan air dalam tanah. Dengan demikian kerapatan tanaman akan menentukan produksi tanaman (Widyastuti, dkk., 2007).

(24)

yang tepat ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu kesuburan tanah dan jenis tanamannya (Anonimous, 2006).

Kerapatan tanaman juga mempengaruhi hormon auksin yang berperan dalam pertumbuhan untuk memacu proses pemanjangan sel. Hormon auksin dihasilkan pada bagian koleoptil (titik tumbuh). Jika terkena cahaya matahari, auksin menjadi tidak aktif. Kondisi fisiologis ini mengakibatkan bagian yang tidak terkena cahaya matahari akan tumbuh lebih cepat dari bagian yang terkena cahaya matahari. Akibatnya, tumbuhan akan memmbengkok ke arah cahaya matahri. (Salisburry dan Ross, 1992).

Waktu Penyiangan Gulma

Persaingan (kompetisi) timbul dari tiga reaksi tanaman pada faktor fisik dan pengaruh faktor yang dimodifikasikan pada pesaing - pesaingnya. Dua tanaman meskipun tumbuh berdekatan, tidak akan saling bersaing bila bahan yang diperebutkan jumlahnya berlebihan. Bila salah satu bahan tersebut berkurang maka persaingan akan timbul, sehingga istilah persaingan menerangkan kejadian yang menjurus pada hambatan pertumbuhan tanaman yang timbul dari asosiasi lebih dari satu tanaman dan tumbuhan lain (Moenandir, 1993).

Tanaman memerlukan penyiangan sempurna untuk mencegah pertumbuhan gulma. Penyiangan yang tepat dilakukan sebelum tajuk gulma menghentikan penyerapan zat-zat makanan dari tanah. Kondisi iklim sangat menentukan praktek penyiangan di lapangan. (Sukman dan Yakup, 1995).

(25)

Kehadiran gulma di sekitar tanaman budidaya tidak dapat di elakkan, terutama bila lahan pertanaman tersebut tidak dikendalikan. Sebagai tumbuhan, gulma juga memerlukan persyaratan tumbuh seperti halnya tanaman lain, membutuhkan cahaya, nutrisi, air, gas CO2 dan gas lainnya dan ruang. Persyaratan tumbuh yang sama atau hampir sama bagi gulma dan tanaman dapat mengakibatkan terjadinya asosiasi gulma di sekitar tanaman budidaya. Gulma yang berasosiasi akan saling memperebutkan bahan-bahan yang dibutuhkannya, bila jumlahnya sangat terbatas bagi kedua tanaman (Moenandir, 1993).

(26)

BAHAN DAN METODE PENELITIAN Tempat dan waktu

Penelitian dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, dengan ketinggian tempat ± 25 m diatas permukaan laut. Penelitian dilaksanakan dari bulan Desember 2014 sampai dengan April 2015. Bahan dan alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah benih sorgum varietas Kawali, Nitrogen (urea), Posfor (SP-36), Kalium (KCL), dan fungisida (Dithane

M-45). Alat yang digunakan adalah cangkul, meteran dan timbangan analitik.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan Rancangan Petak Terpisah faktorial (RPT) dengan dua faktor perlakuan, yaitu :

Faktor I : Jarak Tanam sebagai main plot dengan 3 taraf yaitu : T0 = 70 cm x 30cm

T1 = 70 cm x 20cm T2 = 70 cm x 10cm

Faktor II : Waktu Penyiangan Gulma sebagai sub plot dengan 6 perlakuan,yaitu : P0 = Tanpa Penyiangan Gulma (Kontrol)

P1 = Disiangi 2 minggu setelah tanam (MST) P2 = Disiangi 4 minggu setelah tanam (MST) P3 = Disiangi 6 minggu setelah tanam (MST) P4 = Disiangi 8 minggu setelah tanam (MST)

(27)

Diperoleh kombinasi perlakuan sebanyak 18 kombinasi. Jumlah ulangan (Blok) : 3 ulangan

Jumlahplot utama : 9 plot Jumlah sub plot : 54 plot

Ukuranplot utama : 300 cm x 1650 cm Ukuran sub plot : 300 cm x 200 cm Jarak antar plot utama : 50 cm

Jarakantar sub plot : 50 cm Jarak antar blok : 100 cm Jumlahsampel per plot : 8 tanaman Jumlah benih per lubang tanam : 3 tanaman

Data hasilpenelitiandianalisisdenganmenggunakansidikragamdenganmodel linear aditifsebagaiberikut :

Yi j k = μ + αi +βj + (αβ) i j + δi k + εi j k

Yi j k = nilai pengamatan pada taraf ke i faktor A, taraf ke j faktor B,

dan ulangan ke k.

μ = nilai tengah umum

αi = pengaruh taraf ke i dari faktor A

βj = pengaruh taraf ke j dari faktor B

(αβ)i j = pengaruh interaksi taraf ke i faktor A dengan taraf ke j faktor B δi k = pengaruh acak untuk petak utama

ε i j k = pengaruh acak untuk anak petak

(28)

PELAKSANAAN PENELITIAN Persiapan lahan

Lahan yang telah diukur diolah dengan menggunakan cangkul dengan kedalaman 15-20 cm. Setelah satu minggu setelah dioleh lahan dibersihkan dari gulma dan sisa tanaman yang terdapat pada lahan percobaan. Pengolahan dilakukan 3 kali hingga tanah menjadi gembur kemudian dibuat plot percobaan sesuai dengan perlakuan dan membuat parit antar blok seluas 100 cm yang berguna sebagai saluran drainase.

Penanaman

Penanaman dilakukan dengan menugal sedalam ± 3 cm sebanyak 3 benih per lubang tanam yang sebelumnya telah direndam air selama 1 jam, guna mempercepat perkecambahan lalu menutup lubang dengan tanah secukupnya. Jarak tanam yang digunakan sesuai perlakuan yaitu 70 x 10, 70 x 20, dan 70 x 30. Pemupukan

Berdasarkan rekomendasi pemupukan dari Deptan (2013), Pupuk yang diberikan yaitu 90 Kg N/ha, 45 Kg P2O5 /ha dan 30 Kg K2O/ha. Dosis pemupukan

(29)

Penjarangan

Penjarangan dilakukan pada saat tanaman berumur 14 hari setelah tanam dengan cara memotong tanaman menggunakan pisau cutter dan meninggalkan satu tanaman yang sehat.

Pemeliharaan Tanaman Penyiraman

Penyiraman dilakukan pada awal pertumbuhan tanaman sampai berumur 4 minggu setelah tanam (MST), yaitu pada awal tanam air hujan kurang sehingga dilakukan penyiraman pada sore hari.

Penyiangan

Penyiangan dilakukan sesuai dengan perlakuan, yaitu; tanpa penyiangan, penyiangan 2 minggu setelah tanam, penyiangan 4 minggu setelah tanam, penyiangan 6 minggu setelah tanam, penyiangan 8 minggu setelah tanam, dan penyiangan sampai panen. Gulma yang disiangi dibuang dari areal pertanaman. Pengendalian Penyakit

Pengendalian penyakit dilakukan dengan menggunakan fungisida Dithane M-45 dengan dosis 2 g/liter air. Pengendalian penyakit dilakukan dua kali pada saat tanaman berumur 4 dan 6 minggu setelah tanam dengan menggunakan knapsack dan disemprotkan ke daun dan batang tanaman secara merata.

Panen

(30)

pemungutan biji yang jatuh di areal pertanaman sesuai dengan plot. Kemudian dijemur di bawah sinar matahari selama 3 minggu dan kemudian dirontokkan untuk mengambil biji nya.

Pengamatan Parameter Tinggi tanaman

Tanaman diukur mulai dari leher akar hingga ujung daun tertinggi dengan menggunakan meteran. Tanaman yang diukur tingginya adalah sampel tanaman sebanyak 8 tanaman per plot dengan memilih secara acak tanaman yang bukan tanaman pinggir. Pengukuran pertama dilakukan dua minggu setelah tanam dengan interval dua minggu sekali sampai sampel populasi Sorgum telah berbunga sebanyak 75%.

Jumlah Daun

Jumlah daun yang dihitung yaitu daun yang telah terbuka sempurna dan masih berwarna hijau. Penghitungan pertama dilakukan dua minggu setelah tanam dengan interval dua minggu sekali sampai populasi Sorgum telah berbunga sebanyak 75%.

Diameter Batang

(31)

Umur Berbunga

Umur berbunga ditentukan pada saat bunga setiap tanaman muncul. Dicatat umur berbunga setiap hari dimulai sejak bunga pertama keluar sampai dengan tanaman per plot berbunga sebanyak 100%.

Berat Basah Malai per Sampel

Berat biji malai per sampel diambil dengan cara menimbang biji beserta malai tiap sampel perlakuan. Berat biji malai per sampel ditimbang setelah tanaman dipanen.

Berat Basah Malai per Plot

Berat biji malai per plot diambil dengan cara menimbang biji beserta malai tiap plot perlakuan. Berat biji malai per plot ditimbang setelah tanaman dipanen. Produksi Biji Persampel

Produksi persampel di ambil dengan cara menimbang biji tiap sampel perlakuan setelah biji dipisahkan atau dirontokkan dari malai dan dibersihkan dari kotoran-kotoran . Ditimbang setelah tanaman dipanen.

Produksi Biji per Plot

Produksi per plot di ambil dengan cara menimbang biji tiap plot setelah biji dipisahkan atau dirontokkan dari malai dan dibersihkan dari kotoran-kotoran. Dalam hal ini semua tanaman yang berada di dalam plot (termasuk tanaman pinggir) diikutsertakan dan ditimbang setelah panen.

Bobot 1000 Biji

(32)

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

Berdasarkan data hasil pengamatan dan daftar sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan jarak tanam berpengaruh nyata pertumbuhan serta hasil yaitu pada tinggi tanaman pada umur 6 dan 8 minggu setelah tanam, berat basah malai per sampel dan produksi biji per sampel, tetapi berpengaruh tidak nyata terhadap parameter lainnya.

Daftar sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan waktu penyiangan gulma berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman 6 dan 8 minggu setelah tanam, jumlah daun pada umur 4, 6 dan 8 minggu setelah tanam, diameter batang pada umur 4, 5, 6, 7 dan 8 minggu setelah tanam, berat basah malai per sampel, berat basah malai per plot, produksi biji per sampel, produksi biji per plot dan bobot 1000 biji.

Tinggi Tanaman

Data hasil pengamatan tinggi tanaman beserta daftar sidik ragamnya dapat dilihat pada lampiran 5-12. Berdasarkan daftar sidik ragam diketahui bahwa perlakuan jarak tanam dan waktu penyiangan gulma berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman 6 dan 8 minggu setelah tanam. Interaksi jarak tanam dan waktu penyiangan gulma berpengaruh tidak nyata terhadap parameter tinggi tanaman.

Rataan tinggi tanaman terhadap jarak tanam dan waktu penyiangan gulma pada umur 2-8 minggu setelah tanam dapat dilihat pada Tabel 1.

(33)

jarak tanam 70 x 20 cm (112,45 cm) yang berbeda nyata terhadap jarak tanam 70 x 30 cm (108.64 cm) dan 70 x 10 cm (104.8 cm).

[image:33.595.85.541.275.561.2]

Pengamatan parameter umur 8 minggu setelah tanam perlakuan jarak tanam menunjukkan tinggi tanaman tertinggi yaitu jarak tanam 70 x 20 (150.25 cm) yang berbeda nyata terhadap jarak tanam 70 x 30 cm (145.93 cm) dan 70 x 10 cm (139.95 cm).

Tabel 1. Rataan tinggi tanaman terhadap jarak tanam dan waktu penyiangan gulma 2-8 minggu setelah tanam.

Umur (Minggu Setelah Tanam) Jarak Tanam

Waktu Penyiangan Gulma

Rataan Tanpa Penyiangan Disiangi 2 Minggu Setelah Tanam Disiangi 4 Minggu Setelah Tanam Disiangi 6 Minggu Setelah Tanam Disiangi 8 Minggu Setelah Tanam Disiangi Hingga Panen

70 x 30 24.95 21.98 25.69 22.99 23.68 24.47 23.96 2 70 x 20 23.35 22.58 24.05 22.52 23.73 24.47 23.45 70 x 10 26.47 25.43 23.24 23.65 20.09 24.03 23.82

Rataan 24.92 23.33 24.33 23.05 22.50 24.32

70 x 30 77.84 70.52 76.13 68.64 65.47 78.45 72.84 4 70 x 20 71.57 72.91 76.22 65.47 74.41 71.80 72.06 70 x 10 76.68 74.11 70.27 69.37 63.30 73.17 71.15

Rataan 75.36 72.51 74.20 67.83 67.72 74.47

70 x 30 105.30 108.54 111.38 106.59 100.81 119.22 108.64b 6 70 x 20 98 113.58 111.50 103.37 114.37 120.34 112.45a 70 x 10 99.43 105.56 107.83 100.14 98.79 117.38 104.85b Rataan 105.43c 109.23bc 110.24b 103.37c 104.66c 118.98a

70 x 30 134.90 145.64 153.95 136.69 136.43 167.94 145.93b 8 70 x 20 139.89 148.12 159.05 140.48 143.18 170.80 150.25a 70 x 10 130.21 142.02 135.88 137.56 135.67 158.35 139.95c Rataan 135.00d 145.26bc 149.63b 138.24d 138.43d 165.70a

Keterangan: Angka yang diikuti notasi yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5%

(34)

Pengamatan tinggi tanaman pada perlakuan waktu penyiangan gulma 8 minggu setalah tanam, data tertinggi terdapat pada perlakuan bebas gulma (165.70 cm) berbeda nyata terhadap perlakuan disiangi 2 minggu setelah tanam (145.26 cm), disiangi 4 minggu setelah tanam (149.63 cm), disiangi 6 minggu setalah tanam (138.24 cm), disiangi 8 minggu setelah tanam (138.43) dan tanpa penyiangan gulma (kontrol) (135.00 cm).

[image:34.595.160.436.318.503.2]

Hubungan jarak tanam terhadap tinggi tanaman umur 8 MST dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Tinggi tanaman sorgum pada jarak tanam berbeda umur 8 MST.

Gambar 1 menunjukkan hubungan jarak tanam terhadap tinggi tanaman umur 8 MST pada 3 jarak tanam yang berbeda bahwa tinggi tanaman tertinggi (150.25 cm) terdapat pada jarak tanam T1 (70 x 20) sedangkan tinggi tanaman terendah yaitu pada jarak tanam T2 (70 x 10) yaitu 139.95 cm.

Hubungan waktu penyiangan terhadap tinggi tanaman umur 8 MST dapat dilihat pada Gambar 2.

145,93

150,25

139,95

130 132 134 136 138 140 142 144 146 148 150 152

T0 T1 T2

T

in

ggi

T

an

am

an

(

cm

)

(35)

P0 = Tanpa penyiangan P1 = Disiangi 2 minggu setelah tanam

P2 = Disiangi 4 minggu setelah tanam P3 = Disiangi 6 minggu setelah tanam

[image:35.595.137.463.90.249.2]

P4 = Disiangi 8 minggu setelah tanam P5 = Disiangi hingga panen (Bebas gulma)

Gambar 2. Tinggi tanaman sorgum pada waktu penyiangan gulma yang berbeda umur 8 MST.

Gambar 2 menunjukkan hubungan antara tinggi tanaman umur 8 MST dengan perlakuan waktu penyiangan bahwa tinggi tanaman tertinggi (165.7 cm) terdapat pada perlakuan bebas gulma (P5) sedangkan tinggi tanaman terendah pada perlakuan tanpa penyiangan (P0) yaitu 135.00 cm.

Jumlah Daun

Hasil pengamatan jumlah daun beserta daftar sidik ragamnya dapat dilihat pada lampiran 13 - 20. Berdasarkan daftar sidik ragam diketahui bahwa perlakuan jarak tanam berpengaruh tidak nyata terhadap parameter jumlah daun, sedangkan waktu penyiangan gulma berpengaruh nyata dan meningkatkan pertumbuhan terhadap parameter jumlah daun 4, 6 dan 8 minggu setelah tanam. Interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata terhadap pengamatan parameter jumlah daun.

Rataan jumlah daun terhadap jarak tanam dan waktu penyiangan gulma pada umur 2 - 8 minggu setelah tanam dapat dilihat pada Tabel 2.

135,00

145,26 149,63

138,24 138,43

165,70

100 110 120 130 140 150 160 170 180

P0 P1 P2 P3 P4 P5

T

in

ggi

T

an

am

an

(

cm

)

(36)

Tabel 2. Rataan jumlah daun terhadap jarak tanam dan waktu penyiangan gulma pada umur 2-8 minggu setelah tanam

Umur (Minggu Setelah Tanam) Jarak Tanam

Waktu Penyiangan Gulma

Rataan Tanpa Penyiangan Disiangi 2 Minggu Setelah Tanam Disiangi 4 Minggu Setelah Tanam Disiangi 6 Minggu Setelah Tanam Disiangi 8 Minggu Setelah Tanam Disiangi Hingga Panen

70 x 30 4.29 4.00 4.46 3.96 4.08 4.17 4.16

2 70 x 20 4.13 4.08 4.00 4.00 4.13 4.33 4.11

70 x 10 4.17 4.33 4.13 3.96 3.67 4.29 4.09

Rataan 4.19 4.14 4.19 3.97 3.96 4.26

70 x 30 6.33 7.50 7.46 6.50 6.38 7.29 6.91

4 70 x 20 6.67 7.67 7.92 6.04 6.83 7.92 7.17

70 x 10 6.08 7.38 7.25 6.42 6.17 8.29 6.93

Rataan 6.36c 7.51bc 7.54b 6.32c 6.46c 7.83a

70 x 30 8.50 10.00 9.67 8.71 8.54 10.29 9.28

6 70 x 20 8.92 9.92 10.08 8.17 9.13 10.17 9.40

70 x 10 7.79 9.58 9.50 8.54 8.33 10.42 9.03

Rataan 8.40c 9.83b 9.75b 8.47c 8.67c 10.29a

70 x 30 10.04 11.75 11.00 10.38 10.29 11.63 10.85 8 70 x 20 10.54 11.42 11.67 10.08 10.92 11.29 10.99 70 x 10 9.38 11.08 11.13 10.63 10.38 12.13 10.78 Rataan 9.99c 11.42b 11.26bc 10.36c 10.53c 11.68a

Keterangan: Angka yang diikuti notasi yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5%

Pada pengamatan 4 minggu setelah tanam, perlakuan waktu penyiangan gulma berpengaruh nyata terhadap jumlah daun dengan data tertinggi terdapat pada perlakuan bebas gulma (7.83 cm) berbeda nyata terhadap perlakuan disiangi disiangi 2 minggu setelah tanam (7.51 helai), 4 minggu setelah tanam (7.54 helai), disiangi 6 minggu setelah tanam (6.32 helai), perlakuan disiangi 8 minggu setelah tanam (6.46 helai) dan tanpa penyiangan (7.54 cm).

(37)

(9.75 helai), disiangi 6 minggu setelah tanam (8.47 helai), disiangi 8 minggu setelah tanam (8.67 helai) dan tanpa penyiangan (8.40 cm).

Pada pengamatan 8 minggu setelah tanam, perlakuan waktu penyiangan gulma berpengaruh nyata terhadap jumlah daun dengan data tertinggi terdapat pada perlakuan bebas gulma (11.68 cm) berbeda nyata terhadap perlakuan disiangi 2 minggu setelah tanam (11.42 helai), disiangi 4 minggu setelah tanam (11.26 helai), disiangi 6 minggu setelah tanam (10.36 helai), disiangi 8 minggu setelah tanam (10.53 helai) dan jumlah daun terendah perlakuan tanpa penyiangan gulma (kontrol) (9.99 cm).

Diameter Batang

Hasil pengamatan diameter batang beserta daftar sidik ragamnya dapat dilihat pada lampiran 21 - 34. Berdasarkan daftar sidik ragam diketahui bahwa perlakuan jarak tanam berpengaruh tidak nyata terhadap parameter diameter batang, sedangkan pada perlakuan waktu penyiangan gulma berpengaruh nyata terhadap parameter diameter batang 4, 5, 6 dan 8 minggu setelah tanam.

Rataan diameter batang terhadap jarak tanam dan waktu penyiangan gulma pada umur 2 - 8 minggu setelah tanam dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 menunjukkan bahwa pada pengamatan 4 minggu setelah tanam, perlakuan waktu penyiangan gulma berpengaruh nyata terhadap diameter batang dengan data tertinggi terdapat pada perlakuan bebas gulma (11.38 mm) dan terendah pada perlakuan tanpa penyiangan gulma (9.05 mm). Pada pengamatan 5

minggu setelah tanam, data tertinggi terdapat pada perlakuan bebas gulma (16.42 mm) dan terendah pada perlakuan disiangi 6 minggu setelah tanam (11.36).

(38)
[image:38.595.86.531.192.634.2]

gulma berpengaruh nyata terhadap diameter batang dengan data tertinggi terdapat pada perlakuan bebas gulma (disiangi hingga panen) yaitu 21.16 mm dan 23.59 mm, terendah pada perlakuan tanpa penyiangan yaitu 14.18 mm dan 15.76 mm. Tabel 3. Rataan diameter batang terhadap jarak tanam dan waktu penyiangan gulma pada umur 2-8 minggu setelah tanam

Keterangan: Angka yang diikuti notasi yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5%

Tabel 3 menunjukkan hasil pengamatan 8 minggu setelah tanam, perlakuan waktu penyiangan gulma berpengaruh nyata terhadap diameter batang dengan data tertinggi terdapat pada perlakuan bebas gulma (27.30 mm) berbeda Umur (Minggu Setelah Tanam) Jarak Tanam

Waktu Penyiangan Gulma

Rataan Tanpa Penyiangan Disiangi 2 Minggu Setelah Sanam Disiangi 4 Minggu Setelah Tanam Disiangi 6 Minggu Setelah Tanam Disiangi 8 Minggu Setelah Tanam Disiangi Hingga Panen

70 x 30 2.60 2.31 2.64 2.34 2.33 2.56 2.46

2 70 x 20 2.34 2.38 2.72 2.34 2.66 2.51 2.49

70 x 10 2.78 2.76 2.31 2.52 2.10 2.63 2.52

Rataan 2.57 2.48 2.56 2.40 2.37 2.56

70 x 30 5.70 5.21 5.91 4.89 5.14 5.99 5.48

3 70 x 20 5.17 5.29 6.20 4.73 5.75 5.85 5.50

70 x 10 5.80 6.25 5.30 5.28 4.29 5.88 5.47

Rataan 5.56 5.59 5.80 4.97 5.06 5.91

70 x 30 9.07 9.89 10.19 8.70 8.99 11.34 9.70 4 70 x 20 8.61 10.24 10.50 7.45 10.04 10.83 9.61 70 x 10 9.48 10.77 9.69 8.88 7.56 11.97 9.72 Rataan 9.05c 10.30b 10.13bc 8.35c 8.86c 11.38a

70 x 30 11.65 15.70 14.45 12.09 12.43 16.59 13.82 5 70 x 20 12.63 15.16 15.35 10.55 12.73 16.43 13.81 70 x 10 11.45 16.88 12.52 11.45 10.14 16.24 13.11 Rataan 11.91b 15.91bc 14.11d 11.36d 11.77d 16.42a

70 x 30 13.73 19.63 16.17 15.44 15.62 20.13 16.79 6 70 x 20 16.11 20.13 20.85 13.82 15.48 20.53 17.82 70 x 10 12.70 21.34 18.85 14.27 13.46 22.81 17.24 Rataan 14.18d 20.37b 18.62bc 14.51d 14.85d 21.16a

70 x 30 15.08 21.33 18.05 15.97 16.81 21.45 18.11 7 70 x 20 17.69 21.04 22.08 15.66 16.87 23.45 19.46 70 x 10 14.50 23.64 22.18 15.91 14.51 25.87 19.43 Rataan 15.76d 22.00b 20.77bc 15.85d 16.06d 23.59a

(39)

nyata terhadap perlakuan disiangi 2 minggu setelah tanam (26.53 mm), disiangi 4 minggu setelah tanam (25.54), disiangi 6 minggu setelah tanam (21.18), disiangi 8 minggu setelah tanam (21.67) dan terendah pada perlakuan tanpa penyiangan gulma (19.93 mm).

Umur berbunga (hari)

Hasil pengamatan umur berbunga beserta daftar sidik ragamnya dapat dilihat pada lampiran 35-36. Berdasarkan daftar sidik ragam diketahui bahwa perlakuan jarak tanam berpengaruh dan waktu penyiangan gulma berpengaruh tidak nyata terhadap pengamatan parameter umur berbunga.

[image:39.595.102.527.427.576.2]

Rataan umur berbunga (hari) terhadap jarak tanam dan waktu penyiangan gulma dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Rataan umur berbunga (hari) terhadap jarak tanam dan waktu penyiangan gulma

Jarak Tanam

Waktu Penyiangan Gulma

Rataan Tanpa Penyiangan Disiangi 2 Minggu Setelah Tanam Disiangi 4 Minggu Setelah Tanam Disiangi 6 Minggu Setelah Tanam Disiangi 8 Minggu Setelah Tanam Disiangi Hingga Panen

70 x 30 67.33 70.00 70.33 71.00 72.33 69.33 70.06

70 x 20 73.00 70.33 70.00 72.67 73.00 70.00 71.50

70 x 10 68.67 70.00 72.33 72.33 70.00 74.33 71.28

Rataan 69.67 70.17 70.17 71.83 72.67 69.67

(40)

Berat basah malai per sampel

Hasil pengamatan berat basah malai per sampel beserta daftar sidik ragamnya dapat dilihat pada lampiran 37-38. Berdasarkan daftar sidik ragam diketahui bahwa perlakuan jarak tanam berpengaruh nyata pada pengamatan parameter berat basah malai per sampel dan perlakuan waktu penyiangan gulma berpengaruh nyata terhadap parameter tersebut. Interaksi jarak tanam dan waktu penyiangan gulma menunjukkan pengaruh tidak nyata terhadap berat basah malai per sampel.

[image:40.595.101.528.389.539.2]

Rataan berat basah malai per sampel terhadap jarak tanam dan waktu penyiangan gulma dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Rataan berat basah malai per sampel terhadap jarak tanam dan waktu penyiangan gulma

Jarak Tanam

Waktu Penyiangan Gulma

Rataan Tanpa Penyiangan Disiangi 2 Minggu Setelah Tanam Disiangi 4 Minggu Setelah Tanam Disiangi 6 Minggu Setelah Tanam Disiangi 8 Minggu Setelah Tanam Disiangi Hingga Panen

70 x 30 99.62 137.61 173.66 144.76 107.08 167.49 138.37a 70 x 20 125.67 116.02 142.06 113.06 116.09 166.00 129.82b 70 x 10 61.62 91.85 92.72 76.60 73.91 111.34 84.67c

Rataan 95.64c 115.16bc 136.15b 111.47c 99.03c 148.28a

Keterangan: Angka yang diikuti notasi yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5%

Tabel 5 menunjukkan hasil pengamatan berat basah malai per sampel (g) tertinggi yaitu pada perlakuan jarak tanam yaitu 70 x 30 (138.37 g) berbeda nyata dengan jarak tanam 70 x 20 (129.82 g) dan jarak tanam terendah pada 70 x 10 (84.67 g).

(41)

hingga panen) (148.28 g) berbeda nyata terhadap perlakuan disiangi 2 minggu setelah tanam (115.16 g), disiangi 4 minggu setelah tanam (136.15 g), disiangi 6 minggu setelah tanam (111.47 g) dan disiangi 8 minggu setelah tanam (99.03 g) dan perlakuan tanpa penyiangan gulma (95.64 g) sebagai data terendah.

Tabel 5 menunjukkan bahwa interaksi antara jarak tanam dan waktu penyiangan gulma berpengaruh tidak nyata terhadap berat basah malai per sampel.

[image:41.595.167.470.314.493.2]

Hubungan jarak tanam terhadap berat basah malai per sampel dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Berat Basah Malai per sampel sorgum pada jarak tanam yang berbeda

Gambar 3 menunjukkan hubungan jarak tanam terhadap berat basah malai per sampel pada 3 jarak tanam yang berbeda bahwa data tertinggi yaitu (138.37 g) terdapat pada jarak tanam T0 (70 x 30) sedangkan data terendah yaitu pada jarak tanam T2 (70 x 10) yaitu 84.67 g.

Hubungan waktu penyiangan terhadap berat basah malai per sampel dapat dilihat pada Gambar 4.

138,37 129,82 84,67 50 60 70 80 90 100 110 120 130 140 150

T0 T1 T2

(42)

P0 = Tanpa penyiangan P1 = Disiangi 2 minggu setelah tanam

P2 = Disiangi 4 minggu setelah tanam P3 = Disiangi 6 minggu setelah tanam

[image:42.595.142.478.90.272.2]

P4 = Disiangi 8 minggu setelah tanam P5 = Disiangi hingga panen (Bebas gulma)

Gambar 4. Berat basah malai per sampel sorgum pada waktu penyiangan gulma yang berbeda.

Gambar 4 menunjukkan hubungan antara berat basah malai per sampel dengan perlakuan waktu penyiangan bahwa berat tertinggi (148.28 g) terdapat pada perlakuan bebas gulma (P5) sedangkan berat terendah pada perlakuan tanpa penyiangan (P0) yaitu 95.64 g.

Berat basah malai per plot

Hasil pengamatan berat basah malai per plot beserta daftar sidik ragamnya dapat dilihat pada lampiran 39-40. Berdasarkan daftar sidik ragam diketahui bahwa perlakuan jarak tanam berpengaruh tidak nyata pada pengamatan parameter berat basah malai per plot, sedangkan perlakuan waktu penyiangan gulma berpengaruh nyata terhadap parameter tersebut. Interaksi jarak tanam dan waktu penyiangan gulma menunjukkan pengaruh tidak nyata terhadap berat basah malai per plot.

95,64 115,16 136,15 111,47 99,03 148,28 80 90 100 110 120 130 140 150 160 170

P0 P1 P2 P3 P4 P5

(43)
[image:43.595.109.558.169.313.2]

Rataan berat basah malai per plot terhadap jarak tanam dan waktu penyiangan gulma dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Rataan berat basah malai per plot terhadap jarak tanam dan waktu penyiangan gulma

Jarak Tanam

Waktu Penyiangan Gulma

Rataan Tanpa

Penyiangan

Disiangi 2 Minggu Setelah Tanam

Disiangi 4 Minggu

Setelah Tanam

Disiangi 6 Minggu

Setelah Tanam

Disiangi 8 Minggu

Setelah Tanam

Disiangi Hingga

Panen

70 x 30 1320.17 2579.14 2961.70 1963.23 1912.73 3184.07 2320.17 70 x 20 2088.07 2009.52 2714.78 1845.27 1775.50 3170.13 2267.21 70 x 10 1417.61 2360.53 2368.23 1818.20 1614.24 2504.70 2013.92

Rataan 1608.61d 2316.40bc 2681.57b 1875.57cd 1767.49d 2952.97a

Keterangan: Angka yang diikuti notasi yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan berbeda

nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5%

Pada pengamatan berat basah malai per plot, berat data tertinggi terdapat pada perlakuan bebas gulma (2952.97 g) berbeda tidak nyata terhadap perlakuan disiangi 2 minggu setelah tanam (2316.40 g), disiangi 4 minggu setelah tanam (2681.57 g), disiangi 6 minggu setelah tanam (1875.57 g), disiangi 8 minggu setelah tanam (1767.49 g) dan perlakuan tanpa penyiangan sebagai data terendah (1608.61 g).

(44)

P0 = Tanpa penyiangan P1 = Disiangi 2 minggu setelah tanam

P2 = Disiangi 4 minggu setelah tanam P3 = Disiangi 6 minggu setelah tanam

[image:44.595.133.482.85.344.2]

P4 = Disiangi 8 minggu setelah tanam P5 = Disiangi hingga panen (Bebas gulma)

Gambar 5. Berat basah malai per sampel sorgum pada waktu penyiangan gulma yang berbeda.

Gambar 5 menunjukkan hubungan antara berat basah malai per plot dengan perlakuan waktu penyiangan bahwa berat tertinggi (2952.97 g) terdapat pada perlakuan bebas gulma (P5) sedangkan berat terendah pada perlakuan tanpa penyiangan (P0) yaitu 1608.61 g.

Produksi biji per sampel

Hasil pengamatan produksi biji per sampel beserta daftar sidik ragamnya dapat dilihat pada lampiran 41-42. Berdasarkan daftar sidik ragam diketahui bahwa perlakuan jarak tanam menunjukkan pengaruh yang tidak nyata terhadap pengamatan parameter produksi biji per sampel. Namun, perlakuan waktu penyiangan gulma berpengaruh nyata terhadap pengamatan parameter produksi biji per sampel. Interaksi jarak tanam dan waktu penyiangan gulma berpengaruh tidak nyata terhadap parameter produksi biji per sampel.

1608,61 2316,40 2681,57 1875,57 1767,49 2952,97 600 800 1000 1200 1400 1600 1800 2000 2200 2400 2600 2800 3000

P0 P1 P2 P3 P4 P5

(45)
[image:45.595.113.514.180.328.2]

Rataan produksi biji per sampel terhadap jarak tanam dan waktu penyiangan gulma dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Rataan produksi biji per sampel terhadap jarak tanam dan waktu penyiangan gulma

Jarak Tanam

Waktu Penyiangan Gulma

Rataan Tanpa

Penyiangan

Disiangi 2 Minggu Setelah Tanam

Disiangi 4 Minggu

Setelah Tanam

Disiangi 6 Minggu

Setelah Tanam

Disiangi 8 Minggu

Setelah Tanam

Disiangi Hingga

Panen

70 x 30 54.93 77.14 97.60 82.12 54.21 94.69 76.78a 70 x 20 71.04 66.44 80.43 64.00 65.44 92.88 73.37b 70 x 10 35.01 52.26 52.42 42.71 42.15 63.24 47.97c

Rataan 62.98c 71.79c 89.01b 73.06bc 59.82c 93.78a

Keterangan: Angka yang diikuti notasi yang berbeda pada baris dan kolom menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5%.

Produksi biji per sampel tertinggi pada perlakuan waktu penyiangan terdapat pada perlakuan bebas gulma (83.60 g) berbeda nyata terhadap perlakuan disiangi 2 minggu setelah tanam (65.28 g), disiangi 4 minggu setelah tanam, disiangi 6 minggu setelah tanam (62.94 g), disiangi 8 minggu setelah tanam dan tanpa penyiangan sebagai data terendah (53.66 g ).

Tabel 7 menunjukkan bahwa interaksi antara jarak tanam dan waktu penyiangan gulma berpengaruh tidak nyata terhadap produksi biji per sampel.

(46)
[image:46.595.154.472.96.272.2]

Gambar 6. Produksi Biji per sampel sorgum pada jarak tanam yang berbeda

Gambar 6 menunjukkan hubungan jarak tanam terhadap berat basah malai per sampel pada 3 jarak tanam yang berbeda bahwa data tertinggi yaitu (76.78 g) terdapat pada jarak tanam T0 (70 x 30cm) sedangkan data terendah yaitu pada jarak tanam T2 (70 x 10 cm) yaitu 47.97 g.Hubungan waktu penyiangan terhadap produksi biji per sampel dapat dilihat pada Gambar 7.

P0 = Tanpa penyiangan P1 = Disiangi 2 minggu setelah tanam

P2 = Disiangi 4 minggu setelah tanam P3 = Disiangi 6 minggu setelah tanam

[image:46.595.145.480.471.633.2]

P4 = Disiangi 8 minggu setelah tanam P5 = Disiangi hingga panen (Bebas gulma)

Gambar 7. Produksi biji per sampel sorgum pada waktu penyiangan gulma yang berbeda. 76,78 73,37 47,97 40 45 50 55 60 65 70 75 80

T0 T1 T2

P ro d u k si B ij i p e r sa m p e l Jarak Tanam 62,98 71,79 89,01 73,06 59,82 93,78 40 45 50 55 60 65 70 75 80 85 90 95 100

P0 P1 P2 P3 P4 P5

(47)

Gambar 7 menunjukkan hubungan antara berat basah malai per sampel dengan perlakuan waktu penyiangan bahwa berat tertinggi (3.78 g) terdapat pada perlakuan bebas gulma (P5) sedangkan berat terendah pada perlakuan tanpa penyiangan (P4) yaitu 59.82g.

Produksi biji per plot

Hasil pengamatan produksi biji per plot beserta daftar sidik ragamnya dapat dilihat pada lampiran 43-44. Berdasarkan daftar sidik ragam diketahui bahwa perlakuan jarak tanam berpengaruh tidak nyata pada pengamatan parameter produksi biji per plot, tetapi pada perlakuan waktu penyiangan gulma berpengaruh nyata terhadap produksi biji per plot. Namun, interaksi jarak tanam dan waktu penyiangan gulma berpengaruh tidak nyata terhadap produksi biji per plot.

[image:47.595.87.538.497.637.2]

Rataan produksi biji per plot terhadap jarak tanam dan waktu penyiangan gulma dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Rataan produksi biji per plot pada jarak tanam dan waktu penyiangan gulma

Jarak Tanam

Waktu Penyiangan Gulma

Rataan Tanpa Penyiangan Disiangi 2 Minggu Setelah Tanam Disiangi 4 Minggu Setelah Tanam Disiangi 6 Minggu Setelah Tanam Disiangi 8 Minggu Setelah Tanam Disiangi Hingga Panen

70 x 30 726.09 1470.11 1658.55 1197.57 1147.64 1878.60 1346.43 70 x 20 1169.32 1205.71 1628.87 1070.25 1047.55 1870.38 1332.01 70 x 10 850.57 1345.50 1326.21 1054.56 968.54 1502.82 1174.70 Rataan 915.33d 1340.44bc 1537.88b 1107.46cd 1054.58d 1750.60a

Keterangan: Angka yang diikuti notasi yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5%.

(48)

Pada tabel 8 hasil pengamatan produksi biji per plot pada perlakuan waktu penyiangan gulma tertinggi yaitu pada perlakuan bebas gulma (1750.60 g) yang berbeda nyata terhadap perlakuandisiangi 2 minggu setelah tanam (1340.44 g), disiangi 4 minggu setelah tanam (1537.88 g), 6 minggu setelah tanam (1107.46 g), perlakuan disiangi 8 minggu setelah tanam (1054.58 g) dan perlakuan tanpa penyiangan (915.33 g) sebagai data terendah.

Hubungan waktu penyiangan terhadap produksi biji per plot dapat dilihat pada Gambar 8.

P0 = Tanpa penyiangan P1 = Disiangi 2 minggu setelah tanam

P2 = Disiangi 4 minggu setelah tanam P3 = Disiangi 6 minggu setelah tanam

[image:48.595.141.481.306.494.2]

P4 = Disiangi 8 minggu setelah tanam P5 = Disiangi hingga panen (Bebas gulma)

Gambar 8. Produksi biji per plot sorgum pada waktu penyiangan gulma yang berbeda.

Gambar 8 menunjukkan hubungan antara berat basah malai per sampel dengan perlakuan waktu penyiangan bahwa berat tertinggi (1750.6 g) terdapat pada perlakuan bebas gulma (P5) sedangkan berat terendah pada perlakuan tanpa penyiangan (P0) yaitu 915.33 g.

915,33 1340,44 1537,88 1107,46 1054,58 1750,60 400 500 600 700 800 900 1000 1100 1200 1300 1400 1500 1600 1700 1800 1900

P0 P1 P2 P3 P4 P5

(49)

Bobot 1000 biji

Hasil pengamatan bobot 1000 biji beserta daftar sidik ragamnya dapat dilihat pada lampiran. Berdasarkan daftar sidik ragam diketahui bahwa perlakuan jarak tanam berpengaruh tidak nyata terhadap bobot 1000 biji, sedangkan perlakuan waktu penyiangan gulma berpengaruh nyata pada pengamatan parameter bobot 1000 biji. Interaksi jarak tanam dan waktu penyiangan menunjukkan pengaruh yang tidak nyata.

[image:49.595.112.539.358.525.2]

Rataan bobot 1000 biji terhadap jarak tanam dan waktu penyiangan gulma dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Rataan bobot 1000 biji terhadap jarak tanam dan waktu penyiangan gulma

Jarak Tanam

Waktu Penyiangan Gulma

Rataan Tanpa Penyiangan Disiangi 2 Minggu Setelah Tanam Disiangi 4 Minggu Setelah Tanam Disiangi 6 Minggu Setelah Tanam Disiangi 8 Minggu Setelah Tanam Disiangi Hingga Panen

70 x 30 25.35 27.70 30.37 26.83 26.64 29.12 27.67 70 x 20 26.92 27.48 31.15 28.20 26.69 29.34 28.29 70 x 10 25.29 28.34 30.37 28.94 26.04 29.94 28.15

Rataan 25.85e 27.84cd 30.63a 27.99c 26.46e 29.46b Keterangan: Angka yang diikuti notasi yang berbeda pada baris dan kolom yang sama

menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5%.

Bobot 1000 biji tertinggi pada perlakuan waktu penyiangan gulma terdapat pada perlakuan disiangi 4 minggu setelah tanam (30,63 g) yang berbeda nyata dengan tanpa penyiangan (25.85 g), disiangi 2 minggu setelah tanam (27.84 g), disiangi hingga panen (29.46g), disiangi 6 minggu setelah tanam (27.99g) dan disiangi 8 minggu setelah tanam (26.46 g).

(50)
[image:50.595.140.480.143.332.2]

Hubungan waktu penyiangan terhadap bobot 1000 biji dapat dilihat pada Gambar 9.

P0 = Tanpa penyiangan P1 = Disiangi 2 minggu setelah tanam

P2 = Disiangi 4 minggu setelah tanam P3 = Disiangi 6 minggu setelah tanam

P4 = Disiangi 8 minggu setelah tanam P5 = Disiangi hingga panen (Bebas gulma)

Gambar 9. Bobot 1000 biji sorgum pada waktu penyiangan gulma yang berbeda.

Gambar 9 menunjukkan hubungan antara bobot 1000 biji dengan perlakuan waktu penyiangan bahwa berat tertinggi (30.63 g) terdapat pada perlakuan bebas gulma (P2) sedangkan berat terendah pada perlakuan tanpa penyiangan (P0) yaitu 25.85 g.

Pembahasan

Respons pertumbuhan dan hasil sorgum terhadap jarak tanam

Dari daftar sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan jarak tanam berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 6 dan 8 minggu setelah tanam, berat basah malai per sampel dan produksi biji per sampel tetapi berpengaruh tidak nyata terhadap pengamatan parameter lainnya.

25,85

27,84

30,63

27,99

26,46

29,47

20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31

P0 P1 P2 P3 P4 P5

B

ob

ot

1000 B

ij

i

(51)

Jarak tanam sorgum berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi tanaman 6 dan 8 minggu setelah tanam. Data hasil pengamatan menunjukkan bahwa pengamatan parameter tinggi tanaman tertinggi pada perlakuan jarak tanam umur 6 minggu setelah tanam terdapat pada jarak tanam 70 x 20 cm (112,45 cm) dan yang terendah pada jarak tanam 70 x 10 cm (104.8 cm). Pengamatan parameter umur 8 minggu setelah tanam perlakuan jarak tanam menunjukkan data tertinggi yaitu jarak tanam 70 x 20 (150.25 cm). Dari hasil yang diperoleh jarak tanam 70 x 20 adalah jarak tanam yang optimum dan mendapatkan data hasil terbaik. Hal ini diduga karena jarak tanam sorgum mempengaruhi pertumbuhan sorgum pada kerapatan tanam tertentu. Jarak tanam memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan sorgum termasuk pada tinggi tanaman. Semakin rapatnya jarak tanam maka pertumbuhan sorgum akan berkurang akibat adanya persaingan hara, air, dan sinar matahari. Akan tetapi jarak tanam yang terlalu jauh juga tidak mendapatkan hasil yang terbaik. Hal itu disebabkan tanah menjadi kering terkena sinar matahari dan terjadi penguapan dipermukaan tanah lebih besar yang menyebabkan tanaman akan kekurangan air. Hal ini sesuai dengan pernyataan Widyastusi dkk (2007) yang menyatakan jarak tanam akan mempengaruhi kerapatan tanaman atau jumlah populasi per unit area. Hal ini berhubungan erat dengan penangkapan energi cahaya, dan ketersediaan hara dan air dalam tanah. Dengan demikian kerapatan tanaman akan menentukan produksi tanaman. Mengatur jarak tanam berarti memberi ruang lingkup hidup yang sama dan merata bagi setiap tanaman.

(52)

diperoleh jarak tanam 70 x 20 adalah jarak tanam yang optimum yang mendapatkan data hasil terbaik. Produksi biji per sampel terbaik diperoleh pada jarak tanam 70 x 30 (76.78 g) dan terendah pada perlakuan 70 x 10 (47.97 g). Hal ini diduga karena perlakuan jarak tanam yang terlalu rapat menyebabkan persaingan nutrisi dan cahaya matahari antar tanaman sehingga terganggunya pertumbuhan tanaman dan menyebabkan berat menurun sehingga dibutuhkan jarak tanam yang tepat atau efisien. Hal ini sesuai dengan literatur Puspitasari et al, (2012) yang menyatakan salah satu cara pengembangan teknologi budidaya Sorgum yang dapat diterapkan yaitu upaya untuk mengatur kerapatan atau populasi Sorgum, sehingga peningkatan produktivitas sorgum masih dapat dilakukan dengan mengatur jarak tanam optimalnya.

Respons pertumbuhan dan hasil sorgum terhadap waktu penyiangan gulma Berdasarkan daftar sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan waktu penyiangan gulma berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman 6 dan 8 minggu setelah tanam, jumlah daun pada umur 4, 6 dan 8 minggu setelah tanam, diameter batang pada umur 4, 5, 6, 7 dan 8 minggu setelah tanam, berat basah malai per plot, bobot 1000 biji, berat basah malai per sampel, produksi biji per plot dan produksi biji per sampel.

(53)

perlakuan penyiangan terbaik terdapat pada perlakuan disiangi 4 minggu setelah tanam (P2) yaitu 149.63 cm yang menurun sebesar 9.69 % dari perlakuan bebas gulma dan meningkatkan hasil sebesar 10.83 % dari kontrol (tanpa penyiangan gulma). Pada parameter jumlah daun perlakuan penyiangan terbaik terdapat pada perlakuan disiangi 2 minggu setelah tanam (11.42 helai) yang menurun 2.22 % dari perlakuan bebas gulma (11.68 helai) dan meningkat 16.91 % dari perlakuan tanpa penyiangan (9.99 helai). Pada parameter diameter batang penyiangan terbaik terdapat pada perlakuan disiangi 2 minggu setelah tanam (26.53) yang menurunkan hasil sebesar 2.82% dari perlakuan bebas gulma (27.30) dan meningkat 33.11% dari perlakuan tanpa penyiangan. Hal ini dapat diduga bahwa gulma sudah mempengaruhi pertumbuhan sorgum pada tinggi tanaman, jumlah daun dan diameter batang. Penyiangan gulma berpengaruh pada penampilan fisik sorgum karena terjadinya kompetisi antara gulma dengan sorgum. Menurut Moenandir (1993) tanaman budidaya dan gulma saling memperebutkan persyaratan tumbuh seperti cahaya, nutrisi, air gas CO2, dan gas lainnya bila

jumlahnya terbatas bagi kedua tanaman.

(54)

mengatakan bahwa kehadiran gulma di sepanjang siklus hidup tanaman tidak selalu berpengaruh negatif terhadap produksi tanaman. Terdapat fase dimana tanaman budidaya sensitif terhadap keberadaan gulma dan fase tersebut menurunkan hasil produksi secara nyata.

(55)
(56)

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

1. Jarak tanam berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman 6 – 8 MST, berat basah malai per sampel dan produksi biji per sampel dimana data tertinggi terdapat pada jarak tanam 70 x 20 cm.

2. Penyiangan terbaik pada parameter berat basah malai per sampel yaitu disiangi 4 MST (P2) yang meningkatkan hasil sebesar 42.35% dari perlakuan tanpa penyiangan (P0).

3. Penyiangan terbaik pada parameter berat basah malai per plot yaitu disiangi 4 MST (2681.57g) yang meningkatkan hasil sebesar 66.7% dari perlakuan tanpa penyiangan (P0).

4. Penyiangan terbaik pada parameter produksi biji per sampel yaitu disiangi 4 MST (89.01 g) yang mengalami peningkatan hasil sebesar 41.33 % dari perlakuan tanpa penyiangan (P0).

5. Penyiangan terbaik pada parameter produksi biji per plot yaitu disiangi 4 MST (1537.88 g) mengalami peningkatan hasil sebesar 68.01% terhadap perlakuan tanpa penyiangan. (P0).

Saran

(57)

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous Balai Informasi Pertanian, 1990. Budidaya Tanaman Sorgum. Departemen

Pertanian. Irian Jay

Dajue, L dan S. Guangwei. 2000. Sweet sorghum a fine forage crop for the Beijing region, China. Paper Presented in FAO e-Conference on Tropical Silage, 1 Sept”15 Dec 1999 in FAO, 2000. Vol. 161:123”124.

Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI. 1992.Daftar Komposisi Bahan Makanan. Bhratara. Jakarta.

Dinas Pertanian, 2011. Teknologi Budidaya Sorgum.

Duljapar, K. 2000. Hermada. Budidaya dan Prospek bisnis. Penebar Swadaya. Jakarta.

FAO, Agricultural Department. 2002. Sweet Sorghum In China. World Food Summit, 10-13 June 20 2014].

Goldsworthy, P.R.dan Fisher, N.M., 1985.Fisiologi Tanaman Budidaya.. diterjemahkan oleh Tohari. Gadjah Mada University Press. Yogjakarta Irfan, M. 1999. Respon Tanaman Jagung (Zea Mays) Terhadap pengolahan tanah

dan kerapatan tanam pada tanah andisol dan ultisol. Tesis. Universitas Sumatera Utara. Hal 7,13.

Kirihio,S.S., 2013. Uji Daya hasil dan Adaptasi Dua Varietas dan Tiga Galur Harapan Sorgum (Sorghum bicolor(L.) Moench) di Manokwari. Universitas Negeri Papua, Manokwari.

Laimeheriwa, J. , 1990. Teknologi Budidaya Sorgum. Departemen Pertanian,

Balai Informasi Pertanian, Provinsi Irian Jaya

Metcalfe D.S and D.M. Elkins. 1980. Crop Productions. Principles and practices. Fourth Edition. Macmillan Publishing Co.,Inc. New York.

(58)

Mudjisihono, R., dan D. S. Damarjati. 1987. Prospek Kegunaan Sorghum Sebagai Sumber Pangan dan Pakan Ternak. J. Litbang Pertanian. 6(1): 1-4.

Puspitasari, G. N., D. Kastono, dan S. Waluyo. 2012. Pertumbuhan dan Hasil Sorgum manis (Sorghum bicolor (L.)Moench) Tanam Baru dan Ratoon pada Jarak Tanam Berbeda. Universitas Gadjah Mada. Jogjakarta. Vol. 1,No.4 (2012).

Salisbury, F. B. dan C.W. Ross. 1992. Fisiologi Tumbuhan. ITB Press, Bandung. Steel, R.G.D dan J.H. Torrie. 1995. Prinsip dan Prosedur Statistik. Gramedia,

Pustaka Utama, Jakarta.

Sukman, Y. dan Yakup, 1995. Gulma dan Tehnik Pengendaliannya. Raja Grafindo Persada, Jakarta. 157 hlm.

Tarigan, D. 2013. Pengaruh Penyiangan terhadap Pertumbuhan dan Produksi beberapa Varietas Sorgum (Shorgum bicolor (L) Moench.). Skripsi. Universitas Sumatera Utara. Medan.

(59)

Lampiran 6.Datapengamatantinggitanaman 2 MST

Perlakuan Blok

Total Rataan Jarak Tanam Penyiangan I II III

T0 P0 24.94 26.18 23.74 74.85 24.95 P1 24.80 23.11 18.02 65.93 21.98 P2 26.15 25.18 25.74 77.06 25.69 P3 22.39 21.84 24.75 68.98 22.99 P4 21.24 20.73 29.08 71.04 23.68 P5 23.03 23.98 26.41 73.41 24.47 T1 P0 20.13 19.80 30.11 70.04 23.35 P1 24.31 22.90 20.53 67.73 22.58 P2 20.83 26.25 25.08 72.15 24.05 P3 18.28 20.91 28.38 67.56 22.52 P4 25.53 22.66 23.01 71.20 23.73 P5 21.41 24.74 27.25 73.40 24.47 T2 P0 24.28 24.64 30.50 79.41 26.47 P1 19.29 26.30 30.70 76.29 25.43 P2 22.59 20.96 26.16 69.71 23.24 P3 22.74 26.24 21.96 70.94 23.65 P4 17.85 17.56 24.85 60.26 20.09 P5 20.96 24.89 26.23 72.08 24.03 Total 400.71 418.85 462.48 1282.04 427.35

Rataan 23.74

Lampiran 7. Sidik Ragam Tinggi Tanaman 2 MST (cm)

SK db JK KT Fhit.005 F.005 Ket

Blok/Ulangan 2 112.02 56.01 6.78 6.94 tn Jarak Tanam (a) 2 2.50 1.25 0.15 6.94 tn

Galat (a) 4 33.03 8.26

Penyiangan (b) 5 38.31 7.66 0.85 2.52 tn A x B 10 70.41 7.04 0.78 2.15 tn

Galat (b) 30 271.48 9.05

Total 53 527.76

FK 30437.47

(60)

Lampiran 8. Data pengamatantinggitanaman 4 MST

Perlakuan Blok

Total Rataan

Jarak Tanam Penyiangan I II III

T0 P0 74.85 88.92 69.73 233.50 77.84 P1 81.10 81.26 49.18 211.54 70.51 P2 71.25 81.88 75.23 228.36 76.12 P3 70.91 64.56 70.43 205.90 68.63 P4 74.03 52.88 69.48 196.39 65.46 P5 73.52 81.31 80.51 235.34 78.45 T1 P0 66.66 65.47 82.58 214.71 71.57 P1 75.46 79.26 64.00 218.72 72.91 P2 70.87 83.95 73.85 228.67 76.22 P3 59.37 68.70 68.35 196.42 65.47 P4 76.90 75.87 70.45 223.22 74.41 P5 64.41 76.73 74.26 215.40 71.80 T2 P0 70.02 79.03 80.97 230.02 76.67 P1 57.66 81.27 83.37 222.30 74.10 P2 66.76 70.087 73.96 210.81 70.27 P3 70.05 81.55 56.51 208.11 69.37 P4 57.75 62.39 69.76 189.90 63.30 P5 66.65 78.95 73.9125 219.51 73.17 Total 1248.22 1354.07 1286.53 3888.82 1296.27

Rataan 72.02

Lampiran 9. Sidik Ragam Tinggi Tanaman 4 MST (cm)

SK db JK KT

Fhit.00

5 F.005 Ket

Blok/Ulangan 2 319.12 159.56 2.14 6.94 tn Jarak Tanam (a) 2 25.70 12.85 0.17 6.94 tn

Galat (a) 4 298.38 74.59

Penyiangan (b) 5 524.02 104.80 1.45 2.52 tn A x B 10 438.26 43.83 0.61 2.15 tn Galat (b) 30 2163.50 72.12

Total 53 3768.98

FK

280054.0 2

(61)

Lampiran 10. Data pengamatantinggitanaman 6 MST

Perlakuan Blok

Total Rataan

Jarak Tanam Penyiangan I II III

T0 P0 105 101.22 109.67 315.89 105.30 P1 119.12 119.28 87.22 325.62 108.54 P2 106.47 117.19 110.47 334.13 111.38 P3 108.93 102.47 108.38 319.78 106.59 P4 109.26 88.31 104.85 302.42 100.81 P5 119.3 117.92 120.4388 357.66 119.22 T1 P0 106.6 105.41 122.52 334.53 111.51 P1 110.89 114.66 115.2 340.75 113.58 P2 106.38 119.2 108.93 334.51 111.50 P3 97.39 106.56 106.17 310.12 103.37 P4 116.75 115.86 110.5 343.11 114.37 P5 120.5 121.17 119.36 361.03 120.34 T2 P0 98.78 99.3 100.2 298.28 99.43

P1 101.3 102.29 113.08 316.67 105.56 P2 106.3 105.98 111.22 323.50 107.83 P3 98.9 102.31 99.21 300.42 100.14 P4 99.78 98 98.6 296.38 98.79 P5 119.2 117.7 115.23 352.13 117.38 Total 1950.85 1954.83 1961.25 5866.93 1955.64

Rataan 108.65

Lampiran 11. Sidik Ragam Tinggi Tanaman 6 MST (cm)

SK db JK

Gambar

Tabel 1. Rataan tinggi tanaman terhadap jarak tanam dan waktu penyiangan gulma 2-8 minggu setelah tanamUmur
Gambar 1. Tinggi tanaman sorgum pada jarak tanam berbeda umur 8 MST.
Gambar 2. Tinggi tanaman sorgum pada waktu penyiangan gulma yang  berbeda umur 8 MST.
Tabel 3. Rataan diameter batang terhadap jarak tanam dan waktu penyiangan gulma pada umur 2-8 minggu setelah tanam
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil perhitungan peran produktivitas faktor produksi dan peran tehnologi dalam membentuk tingkat pertumbuhan output industri manufaktur di Jawa Timur, maka strategi dan

Peraturan Kepala BKPM Nomor 14 Tahun 2015 tentang Pedoman dan Tata Cara Izin Prinsip Penanaman Modal.. Peraturan Kepala BKPM Nomor 15 Tahun 2015 tentang Pedoman dan Tata Cara

 Erosion Extension: processing of digital elevation models, soil maps and land use maps and the combination of geological data with information of the elevation model (see

Halaman X-Presi Riau Pos telah mendapat perhatian dari siswa MAN 1 Pekanbaru, maka proses selanjutnya adalah mengerti terhadap halaman X- Presi Riau Pos, berdasarkan

Hasil penulisan ini menyimpulkan bahwa eksekusi mati terhadap Rodrigo Gularte tetap dilaksanakan karena para hakim di Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung sama

Sebagai satu-satunya organisasi yang sah dalam mengeluarkan Standar Akuntansi Keuangan (SAK), Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) secara langsung maupun tidak langsung

Penelitian ini bertujuan untuk membantu para pengusaha dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah yang ingin membuat suatu sistem pencatatan akuntansi dan pelaporan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keefektifan metode permainan kata berantai terhadap hasil belajar bahasa Mandarin siswa kelas XI SMA Kebon Dalem Semarang..